Anda di halaman 1dari 7

2.

5 Tokoh-tokoh Wayang Kulit Wayang Golek

Wayang Golek adalah boneka kayu yang dimainkan berdasarkan karakter tertentu dalam suatu cerita pewayangan. Dimainkan oleh seorang Dalang, yang menguasai berbagai karakter maupun suara tokoh yang dimainkan. Lazimnya wayang golek dipergelarkan pada malam hari sampai dini hari.

Petruk Kantong Bolong

Lahir dengan nama Bambang Penyukilan, seorang ksatria sakti yang hidup pada jaman Dunia Wayang masih bergema kejayaan negri Maespati, ratusan warsa sebelum kejayaan Prabu Rama dari negri Ayodya. Tidak begitu jelas asal usul Bambang Penyukilan. Ada yang mengatakan dia adalah keturunan bangsa Raksasa, anak seorang pertapa sakti Begawan Salantara. Tapi yang paling

banyak dipercaya orang, dia adalah seorang keturunan raja Jin, Prabu WelGeduwelBeh dan permaisuri daribangsa Gandarwa. (3836 klik)

Gatotkaca, Kesendirian Seorang Panglima

Putra kedua Bima dengan seorang putri bangsa Raksasa dari negri Pringgandani. Kelahirannya dianggap sebagai buah dari sebuah rekayasa bangsa Dewa. Demi wibawa bangsa Dewa, Bima dijodohkan dengan Arimbi, dengan sebuah pamrih akan melahirkan seorang bayi yang kuat dan berani seperti bangsa Raksasa, serta pandai dan cerdas seperti seorang bangsa Manusia.

Bangsa Dewa yang kala itu mendapat rongrongan wibawa dari Prabu Kalapracona, raja negri Gilingwesi. Gatotkaca pun dibuat cepat dewasa, agar segera bisa menjadi jago bangsa Dewa menghadapi serangan bangsa Gilingwesi. Gatotkaca juga diberi kesaktian yang luar-biasa. Kecepatan terbang yang jauh diatas rata-rata kecepatan terbang ksatria pada umumnya. Kulit dan badannya sekeras baja. Tak ada senjata tajam yang mampu melukainya. (4146 klik)

Karna, Nyawanya Sebagai Tumbal Lenyapnya Angkaramurka

Didapati Karna seorang raja negri Awangga, meskipun raja tetapi raja kecil. Raja yang masih diperintah raja lain (Ratu rehrehan Jawa).

Istrinya Karna itu bernama Dewi Surtikanti, putri Mandaraka, putra Prabu Salyapati. Anak Adipati Karna kalau dalam pewayangan adalah dua orang, lelaki dan perempuan, bernama Warsakusuma dan Dewi Suryawati. Patihnya Karna itu bernama Patih Hadimanggala. Banyak para pejabat atau tokoh masyarakat yang mengagumi tokoh Karna, termasuk guru saya. Ki Narto Sabdo. Bahkan juga Presiden I Bung Karno juga mengagumi tokoh Karna, sebab sejarah serta perjalanan hidup Karna itu agak aneh atau unik. (4126 klik)

Antareja, sang Hanantareja

Raden Hanantareja, yang berarti memiliki kuasa yang tinggi, yang dalam pedalangan cukup dipanggil Antareja, mempunyai nama lain Wasianantareja, Anantarareja. Ia adalah putra raden Werkudara dengan Dewi nagagini, putri Batara Antaboga, di kahyangan Saptapretala. Antareja kawin dengan Dewi GAnggi, putri Prabu Ganggapranawa raja ular di kerajaan Tawingnarmada. Dari perkawinan ini lahirlah Arya Danurwenda yang kemudian diangkat menjadi patih luar (patih njaba) negara Yawastina pada masa pemerintahan Prabu parikesit. (4461 klik) Antasena, Jalan Manusia Sufi

Anda tak akan menemukan tokoh ini pada versi Mahabarata aslinya, versi India. Karena tokoh Antasena hanya ada di kisah wayang gubahan Jawa. Pun hanya ada di Yogyakarta. Pada wayang Surakarta, nama Antasena juga ada, tapi Antasena di sini, hanya nama lain dari tokoh Antareja. Sedang di Yogyakarta, Antasena dan Antareja dikisahkan sebagai dua karakter yang berbeda, walaupun keduanya sepertinya sama-sama diciptakan sebagai sosok 'pencari' makna kehidupan sejati, tapi nuansa tingkah-laku mereka sangat berbeda. (5972 klik)

Jatidiri dan Sifat Kepemimpinan Kresna

Orang mempelajari cerita pewayangan kebanyakan perhatiannya tertuju kepada judul cerita dan isi pokok ceritanya. Tetapi orang sering ingin mempelajari lebih dalam, ingin mengetahui unsur-unsur cerita yang membentuk struktur ceritanya, unsur yang menjadi perhatian mereka antara lain tema dan tokoh. Bila mengkaji cerita pewayangan, terutama mengenai tokoh-tokoh, amat banyak jumlah tokoh yang diperolehnya. Secara garis besar tokoh cerita pewayangan terdiri dari tokoh dewa dan tokoh bukan dewa. Tokoh dewa dibedakan jenis pria yang disebut dewa atau dewata, dan mendapat sebutan Hyang, Sang Hyang atau Bathara. Jenis wanita, disebut bidadari dan mendapat sebutan Dewi atau Bathari. Tokoh bukan dewa terdiri dari manusia atau yang diindetikkan dengan manussia, raksasa, jin dan setan yang sering disebut lelembut dan hewan, tetapi bukan hewan sembarangan, melainkan hewan jelmaan dewa atau tokoh hewan yang mempunyai kelahiran dan kehidupan luar biasa. (12415 klik)

Tokoh Kresna

Tokoh Kresna dikenal dalam cerita India, kemudian datang ke Indonesia dan dikembangkan melalui sastra Jawa kuna dan sastra Jawa baru. Dalam mitologi India diceritakan Kresna sebagai awatara dewa Wisnu, kehadirannya di dunia sebagai jelmaan dewa Wisnu yang kedelapan. (Dowson, 1957: 160). Y.E.van Lohuizen dalam penelitannya menyimpulkan, Kresna merupakan awatara Wisnu yang ke duapuluh. Wisnu berturut-turut berawatara menjadi Purusa, Wariha, Narada, Nara dan Narayana, Kapila, Dattatreya, Yajna, Rsabha, Prthu, Matsya, Kurma, Dattwantari (dua kali) Narasingha, Wamana, Parasurama, Wedawyasa, Rama, Balarama, Kresna, Buddha dan Kalkin (Lohuizen, 1976 : 31)

Wong168, Tokoh wayang kulit Kuno, http://wong168.wordpress.com/2009/10/05/tokoh-wayang-kulit-kuno/ accessed on 04 September 2011. PitoyoArith,Petruk Kantong, http://pitoyo.com/duniawayang/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=3 9 accessed on 06 September 2011.

http://wayang.files.wordpress.com/2010/03/krisna25.jpg accessed on 08September 2011. Kristik Eyang Semar , http://indokristik.blogspot.com/2009/02/pola-kristik-gratistokoh-wayang-kulit.html accessed on 10 September.