Anda di halaman 1dari 26

Resume Kasus IV FG II Annisa Rahmawati Arista Citra R.

Aslinda Nurul Tamala Ayyu Zahara Cahya Novita Sari Faiqa Himma E. Vanny Lestari

FISIOLOGI TUBUH IBU MASA POSTPARTUM


Nifas dinyatakan sebagai masa 6 minggu setelah melahirkan dan merupakan metode penyesuaian setelah kehamilan yang memungkinkan ibu untuk menyusui dan tubuh ibu dapat kembali ke keadaan sebelum hamil (Benson & Pernoll, 1994). Adapun penyesuaian fisiologi tubuh ibu pada masa postpartum adalah: 1. Kardiovaskular dan darah Curah jantung mencapai puncaknya segera setelah persalinan, yang pada sebagian pasien normal mencapai 80% di atas nilai sebelum persalinan. Keadaan ini disertai dengan peningkatan tekanan vena dan volume sekuncup. Setelah itu, terjadi perubahan cepat ke arah nilai normal wanita yang tidak hamil, terutama selama minggu pertama, dengan penurunan bertahap selama 3-4 minggu berikutnya hingga mencapai nilai normal sebelum hamil (Benson & Pernoll, 1994). Hematokrit meningkat kira-kira 5% di atas nilai sebelum persalinan pada pasienpasien dengan persalinan per vaginam tanpa komplikasi (Benson & Pernoll, 1994. Keadaan ini diakibatkan oleh perdarahan yang terjadi selama proses persalinan. Selama 72 jam pertama setelah bayi lahir, volume plasma yang hilang lebih besar daripada sel darah yang hilang. Peningkatan ini terjadi umunya pada hari ketiga sampai pada hari ketujuh masa postpartum (Bobak 2004). Meningkatnya hematokrit dapat mengakibatkan viskositas darah menjadi tinggi. Selanjutnya keadaan hiperkoagulasi ringan yang normal terjadi pada masa kehamilan semakin meningkat pada masa postpartum, oleh karena itu ibu cendrung mengalami trombosis yang tentu saja mengakibatkan trombosit si ibu meningkat. Dan juga sel

darah putih atau leukosit dapat meningkat, terutama pada proses persalinan yang berlangsung lama (Benson & Pernoll, 1994). 2. Kandung kemih Kesulitan miksi mungkin terjadi pada 24 jam setelah melahirkan karena refleks penekanan aktivitas detrusor atau pun saluran ureter akibat penekanan kepala bayi selama persalinan (Bahiyatun, 2008). Selain itu, rasa nyeri yang mungkin dirasakan akibat bekas jahitan bisa jadi menjadi salah satu faktor kenapa ibu takut untuk buang air kecil. Ibu mungkin akan merasa kurang nyaman saat diuresis terjadi setelah melahirkan. Kehamilan menyebabkan dilatasi dan peregangan pelvis renalis dan ureter, tetapi akan kembali normal pada minggu keempat. 3. Defekasi Masalah defekasi yang tidak lancar mungkin saja dialami oleh ibu pada masa postpartum. Hal tersebut dapat terjadi karena ketakutan akan kesakitan akibat defekasi yang akan dilakukan, kerja usus yang cendrung melambat setelah persalinan dan diet yang kurang serat atau air (Suhermi. 2009). 4. Perineum Setelah melahirkan per vaginam, vagina meregang dan membentuk lorong berdinding lunak dan luas yang ukurannya secara perlahan mengecil, tapi jarang kembali ke bentuk semula seperti sebelum melahirkan. Apabila peregangan sulit terjadi, maka mungkin bagian perineum ini dapat digunting (episiotomy) yang pada dasarnya bertujuan untuk mencegah robekan. Robekan paksa yang mungkin saja terjadi apabila regangan tidak efektif untuk janin, maka akan terjadi rupture perineum. Macam-macam rupture perineum berdasarkan luas robekkannya (Leveno, Kenneth J, et al. (2003):

a. Derajat satu yaitu robekan hanya terjadi pada mukosa vagina, vulva bagian depan dan kulit perineum.

b. Derajat dua yaitu robekan terjadi pada mukosa vagina, vulva bagian depan, kulit dan otot perineum. c. Derajat tiga yaitu robekan terjadi pada mukosa vagina, vulva bagian depan, kulit dan otot perineum serta sfingterani eksternal. d. Derajat empat yaitu robekan terjadi pada keseluruhan perineum, sfingterani eksternal serta meluas ke mukosa rectum. Jahitan yang dilakukan kembali setelah adanya robekan akibat jalan lahirnya janin ini dapat mengakibatkan rasa nyeri pada ibu. Hal tersebut pula yang merupakan salah satu faktor kenapa seorang ibu masa postpartum takut untuk miksi dan buang air besar. 5. Involusi uterus (Leveno, Kenneth J, et al. (2003) Setelah kehamilan, kaliber pembuluh ekstrauterus berkurang hingga hampir mencapai keadaan prahamil. Lubang serviks berkontraksi secara perlahan, dan selama beberapa hari setelah persalinan lubang ini masih mudah untuk dimasuki oleh dua jari. Pada akhir minggu pertama, serviks menebal, dan kanalis terbentuk kembali. Setelah 2 hari pertama, uterus mulai menciut sehingga dalam 2 minggu uterus telah turun ke dalam rongga panggul. Jadi involusi uterus adalah pengerutan uterus untuk kembali ke kondisi normal seperti sebelum kehamilan. Tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut involusi uterus: Involusi Bayi lahir Uri lahir 1 minggu 2 minggu 6 minggu 8 minggu Tinggi Fundus Uterus Setinggi pusar 2 jari di bawah pusar Pertengahan simphisis dan pusar Tidak teraba di atas simphibis Bertambah kecil Sebesar normal Berat Uterus 1000 gr 750 gr 500 gr 350 gr 50 gr 30 gr

Sumber: Mochtar, 1998

Afterpains Pada multipara, uterus sering berkontraksi dengan kuat pada interval-interval tertentu dan menimbulkan afterpains. Afterpains biasanya terjadi pada saat bayi menyusu karena pelepasan oksitosin. Kadang-kadang rasa nyerinya sangat parah yang mengakibatkan sebagian ibu memerlukan analgesic, tapi nyeri umumnya berkurang pada sat 3 hari postpartum.

Lokia Pada awal masa nifas peluruhan jaringan desidua mengakibatkan pengeluaran rabas vagina dengan jumlah bervariasi; rabas ini disebut lokia. Beberapa macam lokia pada postpartum: Lokia Rubra Waktu 1-3 hari Warna Merah kehitaman Ciri-ciri Terdiri verniks dari caseosa, desidua, rambut

lanugo, sisa mekoneum dan sisa darah Sanguilenta 3-7 hari Putih bercampur merah Sisa lender Serosa 7-14 hari Kekuningan/kecoklatan Lebih sedikit darah dan darah bercampur

lebih banyak serum, juga terdiri dari leukosit dan robekan laserasi plasenta Alba >14 hari putih Mengandung leukosit,

selaput lender serviks dan serabut jaringan mati. Sumber: Manuaba, 1998 Subinvolusi Kata ini menerangkan penghentian involusi, proses saat uterus secara normal pulih ke ukurannya semula. Hal ini disertai oleh pendarahan uterus yang ireguler. 6. Peritoneum dan dinding abdomen Ligamentum latum (terletak pada kiri kanan uterus dan meluas ke dinding panggul serta dasar panggul) dan teres memerlukan waktu cukup lama untuk pulih dari peregangan dan pelonggaran yang terjadi selama kehamilan. Dinding abdomen tetap lunak dan lembek akibat rupture serat elastic di kulit. Pemulihan struktur ini ke normal memerlukan waktu beberapa minggu (Leveno, Kenneth J, et al. (2003) 7. Penurunan berat badan Penurunan berat badan terjadi akibat evakuasi uterus dan pengeluaran darah normal sekitar 5 sampai 6 kg. selain itu biasanya terjadi penurunan lebih lanjut sekitar 2 sampai 3 kg yang disebabkan oleh diuresis yang terjadi (Leveno, Kenneth J, et al. (2003). 8. Payudara Dalam fisiologi, laktasi prolaktin suatu hormon yang disekresi oleh glandula pituitari anterior, penting untuk produksi air susu, tetapi walupun kadar hormon ini terdapat di dalam sirkulasi maternal selama kehamilan, kerja hormone ini dihambat oleh hormone plasenta. Dengan lepas atau keluarnya plasenta setelah persalinan, maka kadar esterogen dan progesteron berangsur-angsur turun sampai tingkat dapat dilepaskannya dan diaktifkannya prolaktin (Verralls, Sylvia. 1993). Terjadi peningkatan suplai darah yang beredar lewat payudara dan dapat diekstraksi bahan penting untuk pembentukan ASI. Globulin, lemak dan molekul-molekul protein dari dasar-dasar sel-sel sekretoris akan membengkakkan acini dan mendorongnya menuju ke tubuli laktifer (Verralls, Sylvia. 1993). Tekanan globuli yang terdapat di dalam sel akan mendorong globuli tersebut ke dalam tubuli laktifer dan pengisapan

bayi akan memacu ASI lebih banyak. Apabila bayi disusui, maka gerakan mengisap akan menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat di dalam glandula pituitari posterior. Akibat langsung refleks ini adalah dikeluarkannya oksitoksin dari pituitari posterior. Hal ini akan mengakibatkan sel-sel mioepitel di sekitar alveoli akan berkontraksi dan mendorong air susu masuk ke dalam duktus laktifer, dan dengan demikian lebih banyak air susu yang mengalir ke ampula. Air susu yang tidak dikeluarkan dapat mengakibatkan laktasi tertekan karena pembengkakan alveoli dan sel mioepitel tidak dapat berkontraksi. Perasaan penuh atau bengkak pada payudara disebabkan oleh tidak keluarnya air susu bersamaan dengan tidak bisanya air susu tersebut kembali ke dalam duktus laktifer.

ADAPTASI PSIKOLOGIS IBU MASA POSTPARTUM


Periode postpartum menyebabkan stress emosional terhadap ibu baru, bahkan lebih menyulitkan bila terjadi perubahan fisik yang hebat. Faktor-faktor yang mempengaruhi suksesnya masa transisi ke masa menjadi orang tua pada masa postpartum, yaitu: 1. Respons dan dukungan dari keluarga dan teman 2. Hubungan antara pengalaman melahirkan dan harapan serta aspirasi 3. Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lain 4. Pengaruh budaya Satu atau dua hari postpartum, ibu cenderung pasif dan tergantung. Ia hanya menuruti nasihat, ragu-ragu dalam membuat keputusan, masih berfokus untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, masih menggebu membicarakan pengalaman persalinan. Periode ini diuraikan oleh Rubin terjadi dalam tiga tahap: 1. Taking In Terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan. Pada umumnya pasif dan tergantung., khawatir pada tubuhnya. Ibu mengulang-ngulang pengalamannya saat melahirkan Tidur tanpa gangguan sangat penting untuk mencegah gangguan tidur Nafsu makan bertambah. Nafsu makan yang kurang menandakan proses pengembalian kondisi ibu yang tidak normal 2. Taking Hold Berlangsung 2-4 hari postpartum. Ibu perhatian pada kemampuan menjadi orang tua yang sukses dan meningkatkan tanggung jawab terhadap janin

Perhatian pada fungsi tubuh ibu, misal: eliminasi Berusaha keras menguasai keterampilan untuk merawat bayi, misal menggendong dan menyusui. Ibu agak sensitive, sehingga cenderung menerima nasihat dari bidan karena terbuka untuk menerima pengetahuan dan kritikan yang bersifat pribadi

3. Letting go terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarga. ibu mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi. Ia harus beradaptasi dengan kebutuhan bayi yang sangat tergantung, sehingga menyebabkan berkurangnya hak ibu dalam kebebasan berhubungan sosial. Pada periode ini ibu mendapatkan depresi postpartum.

Depresi Postpartum Banyak ibu mengalami perasaan let down setelah melahirkan sehubungan dengan seriusnya pengalaman waktu melahirkan dan keraguan akan kemampuan mengatasi secara efektif dalam membesarkan anak. Umumnya, depresi ini sedang dan mudah berubah dimulai sekitar 2-3 hari setelah melahirkan dan dapat diatasi 1-2 minggu kemudian. Baby Blues Kondisi periode emosional stress yang terjadi antara hari ke 3 dan ke 10 setelah persalinan yang terjadi 80 % pada ibu postpartum. Karakteristiknya adalah iritabilitas meningkat, perubahan mood, cemas, pusing, serta perasaan sedih dan sendiri. Faktor-faktor penyebabnya adalah: Perubahan kadar hormon yang terjadi secara cepat Ketidaknyamanan yang tidak diharapkan (payudara bengkak, nyeri persalinan) Kecemasan setelah pulang dari rumah sakit atau tempat bersalin Menyusui ASI Perubahan pola tidur

Perawatan yang dibutuhkan adalah melalui empati dan dukungan keluarga serta staf kesehatan. Jika gejala tetap ada lebih dari 2 minggu diperlukan bantuan professional. Kesedihan dan Duka Cita Proses kehilangan menurut Klaus dan Kennell (1982) meliputi tahapan: 1. Shock (lupa peristiwa)

2. Denial (menolak, apakah ini bayiku?, ini bayi orang lain) 3. Depresi (menangis, sedih, kenapa saya?) 4. Equilibrium acceptance (penurunan reaksi emosional, kadang menjadi kesedihan yang kronis) 5. Reorganization (dukungan mutual antar orang tua) Respon terhadap bayi cacat yang mungkin muncul, antara lain: 1. Fantasi anak normal vs kenyataan 2. Shock, tidak percaya, menolak 3. Frustasi, marah 4. Menarik diri Penatalaksanaan untuk keadaan ini meliputi: 1. Jelaskan apa yang terjadi 2. Dukungan orang tua pada pertama kali melihat bayi 3. Sebelumnya, perawat harus melihat bayi terlebih dahulu 4. Menemani dan menyediakan kursi 5. Sampaikan kelebihan bayi 6. Ulangi penjelasan karena orang tua sulit berkonsentrasi dan mengingat 7. Ciptakan lingkungan yang aman dan meyakinkan 8. Ciptakan hubungan saling percaya Bila bayi meninggal: 1. Biarkan orang tua bersama bayinya selama mungkin 2. Temani orang tua, jangan diisolasi 3. Berikan dukungan 4. Dengarkan, jangan terlalu banyak penjelasan 5. Berikan penjelasan yang akurat 6. Biarkan orang tua melalui proses kehilangan 7. Bantu persiapan pulang 8. Menciptakan memori dengan pemberian informasi, mengambil foto, cap kaki, name band, member nama, melihat bayinya (memandikan, memakai baju), menulis di buku kenagan, pemakaman.

PENGAKAJIAN MASA POSTPARTUM DAN MANAJEMEN LAKTASI


Pengkajian Postpartum Proses kelahiran yang cukup berat, terutama bagi ibu yang baru merasakan kelahiran pertama kali, mengharuskan pihak medis melakukan suatu proses penting untuk menjaga kestabilan kesehatan serta kesadaran ibu paska melahirkan. Perawat sebagai salah satu anggota tim medis dalam membantu proses kelahiran ibu, perlu melakukan proses asuhan keperawatan berupa pengkajian pada ibu paska melahirkan postpartum. Pengkajian post-partum digunakan untuk mengkaji serta mengobservasi adanya kemungkinan-kemungkinan berupa perdarahan maupun infeksi yang terjadi pada ibu postpartum. Pengkajian yang dilakukan oleh perawat pada ibu postpartum meliputi: 1. Keadaan umum Kaji kondisi ibu secara keseluruhan. Tanyakan atau observasi tanda-tanda kelelahan. Hal ini mempengaruhi penerimaan ibu terhadap bayi serta kemampuan ibu dalam menyusui serta mengasuh bayi. 2. Tanda-tanda vital a. Kaji tanda-tanda vital, berupa tekanan darah, nadi, pernafasan, dan suhu tubuh. Lakukan pemeriksaan TTV setiap 15 menit selama 1 jam pertama setelah melahirkan atau sampai ibu stabil. Kemudian lakukan pemeriksaan setiap 30 menit pada jam-jam berikutnya. b. Berat badan Ibu postpartum akan kehilangan berat badan sekitar 5 kg pada saat melahirkan. Kehilangan ini berhubungan dengan berat bayi, plasenta dan cairan ketuban. Pada minggu pertama post partum seorang wanita akan kehilangan berat badannya sebesar 2 kg akibat kehilangan cairan (Varney, 2004) c. Nadi dan suhu di atas normal dapat menunjukkan adanya kemungkinan infeksi. Kenaikan suhu sekitar 38 derajat menandakan dehidrasi yang disebabkan oleh kehilangan banyak darah saat melahirkan. Temperatur ini akan normal setelah beberapa jam setelah pergantian cairan. Kenaikan lebih dari 38 derajat diatas 24 jam baru dikatakan adanya indikasi infeksi

d. Tekanan darah mungkin akan sedikit meningkat sebagai upaya kompensasi adanya darah yang banyak keluar paska melahirkan serta adanya keletihan. Pada kasus tekanan darah ibu cenderung normal e. Tekanan darah yang menurun secara pasti perlu diwaspadai akan adanya perdarahan pasca persalinan f. Denyut nadi Perubahan volume darah dan curah jantung setelah melahirkan, dapat terjadi bradikardi secara relative. Rata rata pulse dari 50-70 bpm, namun dapat stabil kembali dalam waktu 10 hari. Indikasi takikardi disebabkan karena cemas, bahagia, kelelahan, nyeri, kehilangan banyak darah, infeksi atau masalah lain. Pada kasus nadi ibu normal (76 bpm). g. Pernapasan: normal range ibu postpartum 16-20 kali per menit. Perubahan RR diluar normal waspada indikasi edema paru, ateletaksis, emboli paru. Paru paru harus jelas ketika diauskultasi. h. Nyeri: periksa tanda tanda nyeri skala 0-10. Cek tanda nyeri dari lokasi dan keparahannya. Nyeri postpartum dapat dinamakan nyeri bagian abnominal bawah afterpain. Nyeri dapat disebabkan karena episiotomy, laserasi perineal. 3. Kepala dan wajah a. Mata Konjungtiva yang anemis menunjukkan adanya anemia karena adanya perdarahan pasca persalinan b. Hidung Kaji dan tanyakan pada bulin (ibu bersalin), apakah ibu menderita gangguan sistem pernapasan atas seperti flu atau sinusitis. Infeksi sistem pernapasan pada ibu postpartum akan meningkatkan kebutuhan energi bulin. c. Telinga d. Mulut dan gigi Tanyakan kepada bulin apakah bulin memiliki gigi yang berlubang. Gigi yang berlubang dapat menjadi pintu masuk bagi mikroorganisme dan dapat menginfeksi ke daerah tubuh lainnya karena mikroorganisme bisa beredar secara sistemik. e. Leher

Kaji apakah ada pembesaran kelenjar limfe dan pembesaran kelenjar tiroid. Kelenjar limfe yang membesar dapat menunjukkan adanya infeksi. hal ini dapat ditunjang dengan beberapa data infeksi seperti hipertermi, nyeri dan bengkak. 4. Payudara

a. Payudara Ukuran dan bentuk payudara Ukuran dan bentuk payudara sebenarnya tidak mempengaruhi produksi ASI, namun yang perlu diperhatikan adalah apakah ada kelainan-kelainan pada payudara bulin seperti pembesaran yang masif, gerakan-gerakan yang tidak simetris pada perubahan posisi Kontur dan permukaan Kaji kondisi permukaan yang tidak merata seperti adanya depresi, retraksi atau adanya luka pada kulit payudara. Perlu dipikirkan juga adanya kemungkinan tumor Warna kulit Kaji adanya kemerahan pada kulit yang dapat menunjukkan adanya peradangan b. Kalang payudara/aerola mammae Kaji ukuran dan bentuk, simetris atau tidak. Biasanya akan meluas saat pubertas dan selama kehamilan

Kaji permukaan aerola. Kondisinya dapat licin atau berkerut. Bila ada sisik putih, maka perlu dipikirkan adanya penyakit kulit Warna Pigmentasi yang meningkat pada saat kehamilan menyebabkan warna kulit pada aerola mammae menjadi lebih gelap dibanding sebelum hamil

c. Papilla mammae

Ukuran dan bentuk Kaji ukuran dan bentuk, ukuran sangat bervariasi dan tidak memiliki arti khusus. Bentuk puting susu ada beberapa macam. Seperti datar, normal, panjang dan tenggelam

Permukaan dan warna Kaji permukaan dan warna. Permukaan papilla mammae biasanya tidak beraturan, sehingga perlu dilakukan pengkajian terhadap sisik, luka, atau lecet. Warna biasanya akan terjadi hiperpigmentasi pada saat hamil.

d. Palpasi payudara Konsistensi Kaji konsistensi payudara, pada ibu postpartum, konsistensi lebih keras karena laktasi Massa Puting susu Kaji puting susu. Pemeriksaan puting susu merupakan hal penting dalam mempersiapkan ibu menyusui e. Pengeluaran ASI oleh payudara:

Air susu yang tidak dikeluarkan dapat mengakibatkan laktasi tertekan karena pembengkakan alveoli dan sel mioepitel tidak dapat berkontraksi. Perasaan penuh atau bengkak pada payudara disebabkan oleh tidak keluarnya air susu. Laktasi dimulai sekitar 48-72 jam setelah melahirkan. Namun bayi dapat mulai menyusu hampir segera setelah lahir karena kolostrum sudah tersedia. 5. Abdomen

a. Keadaan Kaji adakah strie dan linia alba. Kaji keadaan abdomen. Apakah lembek atau keras. Abdomen yang keras menunjukkan kontraksi uterus bagus, sehingga perdarahan dapat diminimalkan. Abdomen yang lembek menunjukkan hal sebaliknya dan dapat dipijat untuk merangsang adanya kontraksi b. Kondisi luka Luka pada kelahiran sectio caesar maka harus dikaji apakah terdapat tanda-tanda infeksi. jika ada maka hal ini harus segera dilaporkan segera guna mendapatkan penanganan lebih lanjut. c. Diastasis rektus abdominis

Diastasis rektus abdominis merupakan regangan pada otot rektus abdominis akibat pembesaran uterus. Jika dipalpasi, regangan ini menyerupai celah memanjang dari

processus xipoideus ke umbilikus sehingga dapat diukur panjang dan lebarnya. Diastasis ini tidak dapat menyatu kembali seperti sebelum hamil, tetapi dapat mendekat dengan memotivasi ibu untuk melakukan senam nifas. Cara memeriksa diastasis rektus abdominis: Minta ibu untuk tidur terlentang tanpa bantal dan mengangkat kepala tanpa diganjal. Kemudian palpasi abdomen dari bawah processus xipoideus ke umbilikus. Kemudian ukur panjang dan lebar diastasis f. Fundus uteri Palpasi fundus uteri dari arah umbilikus ke bawah. Tentukan tinggi fundus uteri (TUF). Kaji posisi fundus, apakah sentral atau lateral. Posisi lateral biasanya terdorong oleh bladder yang penuh. Kontraksi juga harus diperiksa, kontraksi lemah atau perut yang teraba lunak menunjukkan kontraksi uterus kurang maksimal sehingga memungkinkan terjadinya perdarahan. Uterus setelah melahirkan maka akan berkontraksi dengan kuat, sehingga uterus mengecil lebih dari separuh ukuran semula. 1- 2 jam setelah melahirkan: TFU diantara umbilicus dan simfisis pubis 2- 6-12 jam setelah melahirkan: TFU berada setinggi umbilicus 3- Menurut Cunningham, 2005. Hari pertaman postpartum, TFU berada di 1 cm dibawah umbilicus (U-1). Hari kedua postpartum TFU 2 cm dibawah umbilicus (U-2) Curigai adanya distensi kandung kemih jika fundus uterus tidak tepat di garis tengah. Distensi kandung kenih dapat menghalangi turunnya uterus karena terdorong ke atas atau mungkin ke samping g. Kandung kemih Kaji kandung kemih dengan palpasi kandungan urin di kandung kemih. Kandung kemih yang bulat dan lembut menunjukkan jumlah urin yang tertampung banyak dan hal ini dapat mengganggu involusi uteri, sehingga urin harus dikeluarkan. h. Defekasi Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa postpartum, ibu biasanya merasakan nyeri diperinium akibat episiotomi, laserasi, atau hemoroid. Kebiasaan buang air besar yang teratur perlu dicapai kembali setelah tonus usus kembali normal. 6. Lokhea/darah nifas

Kaji jumlah, warna, konsistensi, dan bau lokhea pada ibu postpartum. Lokhea setelah melahirkan umumnya berwarna merah gelap atau merah kehitaman. Perubahan warna harus sesuai. Misalnya ibu postpartum hari ke-7, seharusnya memiliki lokhea yang berwarna merah muda atau keputihan. Jika warna lokhea masih merah, maka ibu mengalami komplikasi postpartum. Lokhea yang berbau busuk menunjukkan adanya infeksi saluran reproduksi dan harus segera ditangani. 7. Perineum Kaji kondisi perineum apakah masih utuh, atau terdapat lika episitomi atau ruptur. Kaji juga adanya tanda-tanda REEDA (Redness, Edema, Ekimosis, Discharge, dan Approximation). Kebersihan perineum menunjunag penyembuhan luka. Serta kaji pula adanya hemoroid derajat 1 yang normal untuk ibu hamil dan pasca bersalin. 8. Ekstremitas Kaji apakah ada varises dan tanda homan. Tanda homan positif menunjukkan adanya tromboflebitis sehingga dapat menghambat sirkulasi ke organ distal. Cara memeriksa tanda homan: Posisikan ibu terlentang dengan tungkai ekstensi, kemudian di dorsofleksikan dan tanyakan apakah ibu mengalami nyeri pada betis, jika nyeri maka tanda homan positif dan ibu harus dimotivasi untuk mobilisasi dini agar sirkulasi lancar

Manajemen Laktasi Setiap kali bayi menghisap payudara ibu, maka hal ini akan merangsang ujung saraf sensoris disekitar payudara yang kemudian akan merangsang kelenjar hipofisis bagian depan untuk menghasilkan prolaktin. Prolaktin ini kemudian akan masuk ke peredaran darah, kemudian ke payudara yang akan menyebabkan sel sekretori di alveolus untuk menghasilkan ASI. Prolaktin akan berada di peredaran darah selama 30 menit setelah dihisap. Sehingga prolaktin dapat merangsang payudara ibu untuk menghasilkan ASI untuk diminum berikutnya. Sedangkan untuk minum yang sekarang, maka bayi mengambil ASI yang sudah ada. Makin banyak ASI yang dikeluarkan dari sinus laktiferus, maka akan semakin banyak pula ASI yang diproduksi. Sehingga semakin sering bayi menyusu, maka semakin banyak pula ASI yang dihasilkan, begitu pula sebaliknya. Hormon oksitosin diproduksi oleh bagian belakang kelenjar hipofisis. Hormon tersebut dihasilkan bila ujung syaraf disekitar payudara dirangsang oleh hisapan. Oksitosin akan dialirkan melalui darah menuju ke payudara yang akan merangsang kontraksi otot di

sekeliling alveoli dan memeras ASI keluar dari pabrik ke gudang ASI. Oksitosin dibentuk lebih cepat dibanding prolaktin. Keadaan ini menyebabkan ASI di payudara akan mengalir untuk dihisap. Oksitosin sudah mulai bekerja saat ibu berkeinginan menyusui. Jika refleks oksitosin ini tidak bekerja dengan baik, maka bayi akan kesulitan dalam menghisap ASI. Namun, payudara tetap menghasilkan ASI tetapi tidak dikeluarkan. Oksitosin juga menyebabkan uterus berkontraksi setelah melahirkan, sehingga hal ini akan membantu mengurangi perdarahan. Hal-hal yang dapat meningkatkan hormon oksitosin:
1. 2. 3.

Perasaan dan curahan kasih sayang terhadap bayinya. Celotehan atau tangisan bayi Dukungan ayah dalam pengasuhan bayi, seperti menggendong bayi ke ibu saat akan disusui atau disendawakan, mengganti popok dan memandikan bayi, bermain, mendendangkan bayi dan membantu pekerjaan rumah tangga

4.

Pijat bayi

Hal-hal yang mengurangi produksi hormon oksitosin:


1. 2.

Rasa cemas, sedih, marah, kesal atau bingung Rasa cemas terhadap perubahan bentuk pada payudara dan bentuk tubuhnya, meninggalkan bayi karena harus bekerja dan ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi.

3.

Rasa sakit terutama saat menyusui

Hal-hal yang membantu keberhasilan ibu untuk menyusui: 1. Biarkan bayi menyusu sesegera mungkin setelah bayi lahir terutama dalam 1 jam pertama (inisiasi dini), karena bayi baru lahir sangat aktif dan tanggap dalam 1 jam pertama dan setelah itu akan mengantuk dan tertidur. Bayi mempunyai refleks menghisap (sucking reflex) sangat kuat pada saat itu. Jika ibu melahirkan dengan operasi sesar juga dapat melakukan hal ini (bila kondisi ibu sadar, atau bila ibu telah bebas dari efek anestesi umum). Proses menyusui dimulai segera setelah lahir dengan membiarkan bayi diletakkan di dada ibu sehingga terjadi kontak kulit kulit. Bayi akan mulai merangkak untuk mencari puting ibu dan menghisapnya. Kontak kulit dengan kulit ini akan merangsang aliran ASI, membantu ikatan batin (bonding) ibu dan bayi serta perkembangan bayi. 2. Yakinkan bahwa hanya ASI makanan pertama dan satu-satunya bagi bayi. Tidak ada makanan atau cairan lain (seperti gula, air, susu formula) yang diberikan, karena akan menghambat keberhasilan proses menyusui. Makanan atau cairan lain akan

mengganggu produksi dan suplai ASI, menciptakan bingung puting, serta meningkatkan risiko infeksi 3. Menyusui bayi sesuai kebutuhan sampai puas. Bila bayi puas, maka bayi akan melepaskan puting dengan sendirinya. Posisi tubuh ibu saat menyusui:
1. 2. 3.

Posisi muka bayi menghadap ke payudara (chin to breast) Perut/dada bayi menempel pada perut/dada ibu (chest to chest) Seluruh badan bayi menghadap ke badan ibu hingga telinga bayi membentuk garis lurus dengan lengan bayi dan leher bayi

4. 5. 6. 7.

Seluruh punggung bayi tersanggah dengan baik Ada kontak mata antara ibu dengan bayi Pegang belakang bahu jangan kepala bayi Kepala terletak dilengan bukan didaerah siku

Sedangkan posisi menyusui yang tidak benar adalah sebagai berikut:


1. 2. 3. 4. 5. 6.

Leher bayi terputar dan cenderung kedepan Badan bayi menjauh badan ibu Badan bayi tidak menghadap ke badan ibu Hanya leher dan kepala tersanggah Tidak ada kontak mata antara ibu dan bayi C-hold tetap dipertahankan

Cara perlekatan antara bayi dan ibu yang baik:


1. 2. 3. 4. 5.

Dagu menyentuh payudara Mulut terbuka lebar Bibir bawah terputar keluar Lebih banyak areola bagian atas yang terlihat dibanding bagian bawah Tidak menimbulkan rasa sakit pada puting susu Jika bayi tidak melekat dengan baik maka akan menimbulkan luka dan nyeri pada

puting susu dan payudara akan membengkak karena ASI tidak dapat dikeluarkan secara efektif. Bayi merasa tidak puas dan ia ingin menyusu sering dan lama. Bayi akan mendapat ASI sangat sedikit dan berat badan bayi tidak naik dan lambat laun ASI akan mengering. Tanda perlekatan ibu dan bayi yang tidak baik:
1. 2. 3.

Dagu tidak menempel pada payudara Mulut bayi tidak terbuka lebar-bibir mencucu/monyong Bibir bawah terlipat ke dalam sehingga menghalangi pengeluaran ASI oleh lidah

4. 5.

Lebih banyak areola bagian bawah yang terlihat Terasa sakit pada puting

Perlekatan yang benar adalah kunci keberhasilan menyusui


1. 2. 3. 4. 5.

Bayi datang dari arah bawah payudara Hidung bayi berhadapan dengan puting susu Dagu bayi merupakan bagian pertama yang melekat pada payudara (titik pertemuan) Puting diarahkan ke atas ke langit-langit bayi Telusuri langit-langit bayi dengan putting sampai didaerah yang tidak ada tulangnya, diantara uvula (tekak) dengan pangkal lidah yang lembut Putting susu hanya 1/3 atau dari bagian dot panjang yang terbentuk dari jaringan payudara Rata-rata bayi menyusu selama 5-15 menit, walaupun terkadang lebih. Bayi dapat

6.

mengukur sendiri kebutuhannya. Bila proses menyusu berlangsung sangat lama (lebih dari 30 menit) atau sangat cepat (kurang dari 5 menit) mungkin ada masalah. Pada hari-hari pertama atau pada bayi berat lahir rendah (kurang dari 2500 gram), proses menyusu terkadang sangat lama dan hal ini merupakan hal yang wajar. Sebaiknya bayi menyusu pada satu payudara sampai selesai baru kemudian bila bayi masih menginginkan dapat diberikan pada payudara yang satu lagi sehingga kedua payudara mendapat stimulasi yang sama untuk menghasilkan ASI. Mengukur kecukupan ASI 1. Asi akan cukup bila posisi dan perlekatan benar 2. Bila buang air kecil lebih dari 6 kali sehari dengan warna urine yang tidak pekat dan bau tidak menyengat 3. Berat badan naik lebih dari 500 gram dalam sebulan dan telah melebihi berat lahir pada usia 2 minggu 4. Bayi akan relaks dan puas setelah menyusu dan melepas sendiri dari payudara ibu

DIAGNOSA, INTERVENSI DAN EVALUASI MASA POSTPARTUM


Seorang perempuan, umur 23 tahun, melahirkan anak pertamanya 5 jam yang lalu. Ia terlihat pucat, kelelahan, menahan nyeri, dan malas bicara dengan orang lain. Dari hasil pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 76 x/mnt, pernapasan 20 x/mnt, suhu 38C. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan,

konjunctiva mata agak pucat, payudara belum memproduksi ASI, fundus uteri 1 jari di atas pusat dengan posisi sedikit ke kanan, kontraksi (+), lochia merah gelap disertai gumpalan-gumpalan. Bayi klien tidur pulas di box bayi di samping tempat tidur ibunya. Sejak melahirkan bayinya, klien belum beranjak dari tempat tidurnya, ia belum buang air kecil dan belum menyentuh bayinya. Ia mengeluh mulas dan nyeri di daerah
perineumnya. Data objektif: 1. Klien terlihat pucat, kelelahan, menahan nyeri dan malas bicara dengan orang lain 2. Konjuntiva mata agak pucat, payudara belum memproduksi ASI, fundus uteri 1 jari di

atas pusat dengan posisi sedikit ke kanan, kontraksi (+), lochia merah gelap disertai gumpalan-gumpalan.
3. Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 76 x/mnt, pernapasan 20 x/mnt, suhu 38C 4. Belum buang air kecil dan belum menyentuh bayinya

Data subjektif: 1. Mulas dan nyeri di daerah perineum

Diagnosa Kurangnya volume cairan berhubungan pendarahan pada dengan postpartum uterus

Intervensi

Evaluasi

1. Monitor tinggi dan Pendarahan berkurang menjadi posisi fundal uterus lokia rubra setelah 12 jam

2. Monitor jumlah dan perberian asuhan keperawatan. warna lokia 3. Observasi Pengkajian kembali dilakukan tanda- untuk mencegah pendarahan

tonus

(Littleston, Lynna Y. & Engebretson, 2005) Joan.C,

tanda vital, apabila yang terjadi di beberapa sisi. ada perubahan tanda vital, segera hubungi dokter 4. Pastikan jalan IV

yang adekuat 5. Intervensi selain

keperawatan (seperti farmakologik) kemungkinan perlu

dilakukan 6. Pastikan hemoglobin hematokrit bahwa dan berada

dalam rentang yang seharusnya

Perubahan eliminasi urin: Resiko tinggi rentensi

1. Cek distensi bladder, berikan untuk mengosongkan bladder, dan dorongan

1. Pengosongan

bladder

selama 4-8 jam setelah pemberian asuhan 2. Tidak bladder 3. Pengosongan lebih dari 200 ml pada dua ada distensi

urin berhubungan dengan trauma perineal

(Mattson, Susan & Smith, Judy.E, 2000)

gunakan kateter jika diindikasikan untuk kateter. 2. Dorong segera untuk ambulasi 3. Pastikan asupan perlu

menggunkan

pengosongan pertama 4. Tidak ada nyeri atau tidak nyaman pada saat pengosongan

cairan yang adekuat 4. Beri pilihan untuk melakukan warm sitz bath, jika diperlukan

Perubahan kenyamanan: Nyeri akibat episiotomi, hemoroid cesarean atau insisi section

1. Inspeksi perineum 2. Berikan perineum

kondidisi

1. Melaporkan ketidaknyamanan yang

perawatan yang

masih bisa ditoleransi 2. Tidak menunjukkan

(Mattson, Susan & Smith, Judy.E, 2000)

dingin atau panas 3. Berikan analgesik aturan 4. Monitor luka insisi obat sesuai

tanda-tanda ketidaknyamanan 3. Mengkomunikasikan kebutuhan meringankan nyeri untuk

akibat sesar 5. Jelaskan penyebab

nyeri dan seberapa lama nyeri akan

berakhir 6. Eksplor metode nonfarmakologi untuk meringankan berbagai

rasa nyeri, seperti teknik relaksasi atau lainnya

DIAGNOSA, INTERVENSI DAN EVALUASI MASA LAKTASI


Pada hari kedua pospartum, perawat melakukan kunjungan ke rumah klien. Klien mengeluh nyeri pada payudaranya terutama saat disentuh. Bayi klien tidak mau mengisap ASI. Klien dan suaminya terlihat bingung karena bayinya tidak berhenti menangis. Dari hasil pemeriksaan fisik terlihat payudara besar dan tegang, payudara teraba keras dan hangat serta mengeluarkan ASI saat dipijat. Tinggi fundus uteri 3 jari di bawah pusat, lochia berwarna merah. Klien mengatakan bahwa ia belum BAB sejak melahirkan bayinya. Data objektif: 1. Payudara membesar dan tegang 2. Payudara teraba keras dan hangat serta mengeluarkan ASI saat dipijat 3. TFU 3 jari di bawah pusat 4. Lokhea berwarna merah Data subjektif: 1. Ibu mengeluh nyeri pada payudara saat disentuh 2. Bayi tidak berhenti menangis 3. Belum BAB sejak melahirkan

Diagnosa Menyusui tidak efektif dengan

Intervensi a. Letakkan es di payudara b. Setelah 15 menit diberi es, ibu harus memakai pompa listrik, kemudian ibu menggunakan menyusui, es,

Evaluasi a. Bayi dapat menangkap areola dengan mulut. b. Payudara ibu menjadi lunak. c. Pembengkakan payudara berkurang

berhubungan

pembengkakan payudara

pompa, dan menyusui kembali sampai

payudara menjadi lunak. c. Apabila ibu menyadari bahwa mengalami pembengkakan mandi membuat mengalir, air dan hangat ia sedang

air susunya maka

pemberian panas dapat membantu mengurangi

pembengkakan.

Menyusui

tidak

efektif dengan yang

a. Kaji posisi bayi sewaktu menyusui. b. Evaluasi isapan bayi

a. Ibu dapat mengetahui kebiasaan/posisi saat menyusui. b. Isapan bayi dapat bayi

berhubungan adanya luka/nyeri. puting

sewaktu menyusui. c. Biarkan puting susu

diektahui. c. Puting susu dalam

terpapar udara. d. Gunakan sebuah lampu pemanas mengeringkan untuk puting

kondisi kering. d. Puting susu dalam

kondisi kering. e. Nyeri berkurang.

susu setelah menyusui. e. Apabila timbul nyeri,

gunakan payudara di sisi yang tidak terlalu nyeri terlebih dahulu ketika bayi akan menghisap

POSTER MENYUSUI EFEKTIF

Daftar Pustaka: Bahiyatun. (2008). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC Benson, Ralph C., and Pernoll, Martin L. (1994). Benson & Pernolls Handbook of Obstetrics and Gynecology 9th Edition. USA: McgGraw-Hill Companies, Inc. Bobak, Lowdermilk, Jensen. (2004). Buku Ajar Keperawatan Maternitas (Edisi 4), Alih Bahasa Maria A. Wijayati, Peter I. Anugerah. Jakarta: EGC.

Klossener, N. J. (2006). Introductory Maternity Nursing. Vol 1. Philadelphia: Lippincott William & Wilkins Leveno, Kenneth J, et al. (2003). Williams Manual of Obstetrics 21st Edition. USA: McgGraw-Hill Companies, Inc. Littleston, Lynna Y. & Engebretson, Joan C. (2005). Maternity Nursing Care. Clifton Park: Cencage Learning, Inc Manuaba, I. B. G. (1998) Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, Jakarta: EGC. Mattson, Susan & Smith, Judy. E. (2000). Core Curriculum for Maternal-Newborn Nursing 2nd Edition. Philadelphia: WB Saunders Company Mochtar, R. (1998). Sinopsis Obstetric, Jakarta: EGC Ricci, S. S., Kyle, T. (2009). Maternity and Pediatric Nursing. Philadelphia: Lippincot William & Wilkins Suhermi. (2009). Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya Verralls, Sylvia. (1993). Anatomy and Physiology Applied to Obstetrics 3rd Edition. London: Churchill Livingstone Wiknjosastro, H. (2005). Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta: YBPSP pada jurnal di http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/103/jtptunimus-gdl-perbedaanp-5102-3bab2.pdf http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/115/jtptunimus-gdl-tissaanggi-5737-2-babiita.pdf http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/2d3keperawatan/207301054/bab2.pdf

Rahayu, Tutik. Pengkajian Postpartum. http://fik.unissula.ac.id/download/PENGKAJIAN%20POSTPARTUM.ppt diakses pada 24 Febuari 2013 pukul 10.55 Roesli, Utami dan Yohmi, Elizabeth. Buku Bedah ASI IDAI. Diakses dari http://www.idai.or.id/asi/artikel.asp?q=2009818145351 25 Febuari 2013 pukul 11.39