Anda di halaman 1dari 6

ALIRAN FILSAFAT ILMU: EMPIRISME

I. PENDAHULUAN Sebagai bagian dari bangunan besar filsafat, filsafat ilmu hilang dan tumbuh berganti dari mashab yang satu ke mashab yang lainnya. Ini karena pemikiran filsafat ilmu berasal dari pikiran manusia. Menurut Abu Yaqub al-kindi (dalam Hossein Nasr:1993), filsafat adalah pengetahuan atas realitas dalam kemungkingn-kemungkinan akal manusia, karena filsafat berakhir pada teori ilmu pengetahuan untuk memperoleh kebenaran dan bertindak di atas rel kebenaran yang sudah ditemukan. Makalah ini mengkaji tentang aliran empirisme yang berkembang dalam filsafat ilmu. Prinsip prinsip dari filsafat ilmu akan dijelaskan, cara pemerolehan ilmu dalam aliran tersebut akan dieksplorasi dan kontribusi masing-masing aliran dalam membangun pengetahuan akan didiskusikan.

II. PEMBAHASAN 2.1 Definisi Empirisme Empirisme secara etimologis berasal dari kata bahasa Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar dari bahasa Yunani, empeiria, yang berarti kepercayaan terhadap pengalaman. Menurut A.R. Lacey, Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa pengetahuan secara

keseluruhan atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera. Empirisme merupakan aliran filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan manusia berasal dari pengalaman manusia itu sendiri, khususnya pengalaman inderawi. Empirisme menolak anggapan bahwa pengetahuan manusia berawal dari pengetahuan bawaan (innate capacity) ketika dilahirkan. Dengan kata lain, empirisme menegaskan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan utama bagi seorang manusia dan meminimalisir fungsi akal atau otak. Kaum empiris

cukup puas dengan mengembangkan sebuah sistem pengetahuan yang mempunyai peluang besar untuk benar, meskipun kepastian mutlak tidak akan pernah dapat dijamin. Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh lewat pengalaman. Empirisme berpandangan bahwa pernyataan yang tidak dapat dibuktikan melalui pengalaman adalah tidak berarti atau tanpa arti. Ilmu harus dapat diuji melalui pengalaman. Dengan demikian, kebenaran yang diperoleh bersifat a posteriori yang berarti setelah pengalaman (post to experience).

Ajaran-ajaran pokok empirisme yaitu: 1. Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami. 2. Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio. 3. Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi. 4. Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika). 5. Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman. 6. Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.

2.2 Sejarah Lahirnya Aliran Empirisme Aliran empirisme pertama kali muncul di Inggris. Tiga tokoh dari aliran Empirisme ini adalah: David Hume, George Berkeley, dan John

Lockey. Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679). Francis Bacon telah meletakkan dasar-dasar empirisme dan menyarankan agar penemuan-penemuan dilakukan dengan metode induksi. Menurutnya ilmu akan berkembang melalui pengamatan dalam ekperimen serta menyusun fakta-fakta sebagai hasil eksperimen. Namun aliran ini juga mengalami sistematisasi pada dua tokoh berikutnya, John Locke dan David Hume.

a. John Locke (1632-1704) John Locke adalah filsuf Inggris yang banyak mempelajari Agama Kristen. Filsafat Locke dapat dikatakan anti metafisik. Ia menerima keraguan sementara yang diajarkan oleh Descartes, tetapi ia menolak intuisi yang digunakan oleh Descartes.

Buku Locke, Essay Concerming Human Understanding (1689 M), ditulis berdasarkan satu premis, yaitu semua pengetahuan datang dari pengalaman.Ini berarti tidak ada yang dapat dijadikan idea untuk konsep tentang sesuatu yang berada dibelakang

pengalaman, tidak ada idea yang diturunkan seperti yang diajarkan oleh Plato. Yang innate (bawaan) itu tidak ada. Berikut ini ada sejumlah argument dari John Locke: 1. Dari jalan masuknya pengetahuan kita mengetahui bahwa innate itu tidak ada. Memang agak umumorang beranggapan bahwa innate itu ada. 2. Persetujuan umum adalah argumen yang terkuat. 3. Persetujuan umum membuktikan tidak adanya innate idea. 4. Apa innate idea itu sebenarnya tidaklah mungkin diakui dan sekaligus juga tidak diakui adanya. 5. Tidak juga dicetakkan (distempelkan) pada jiwa sebab pada anak idiot, ide yang innate itu tidak ada padahal anak normal dan anak idiot sama-sama berpikir

b. David Hume Tokoh lain pada aliran empirisme adalah David Hume. David Hume lahir di Edinburg, Skotlandia pada 1711.Ia pun menempuh pendidikannya di sana. Hume mengajukan tiga argumen untuk menganalisis sesuatu, pertama, ada ide tentang sebab akibat (kausalitas). Kedua, karena kita percaya kausalitas dan

penerapannya secara universal, kita dapat memperkirakan masa lalu dan masa depan kejadian. Ketiga, dunia luar diri memang ada, yaitu dunia bebas dari pengalaman kita. Dari tiga dasar kepercayaan Hume tersebut, ia sebenarnya mengambil kausalitas sebagai pusat utama seluruh pemikirannya. Ia menolak prinsip kausalitas universal dan menolak prinsip induksi dengan

memperlihatkan bahwa tidak ada yang dipertahankan, baik itu relations of ideas dan matter of fact. Jadi, Hume menolak pengetahuan apriori, lalu ia juga menolak sebab-akibat, menolak pula induksi yang berdasarkan pengalaman. Segala macam cara memperoleh pengetahuan, semuanya ditolak. Inilah skeptis tingkat tinggi. Sehingga Solomon menyebut Hume sebagaiultimate skeptic. Dikarenakan sifat skeptisnya yang berlebihan Hume juga tidak mengakui adanya Tuhan.

III. PENUTUP Aliran empirisme memandang pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Menurut aliran empirisme, semua pengetahuan manusia berasal dari pengalaman manusia itu sendiri, khususnya pengalaman inderawi. Empirisme menolak anggapan bahwa pengetahuan manusia berawal dari pengetahuan bawaan (innate capacity) ketika dilahirkan.

DAFTAR REFERENSI

Suriasumantri, S. Jujun. 1993. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. ___________. 1996. Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Liberty. Yogyakarta.