Anda di halaman 1dari 3

Nama : Nurholis NRP : 08.03.111.

00014

Tugas : Sistem agribisnis Agribisnis yang berkoperasi Pengembangan agribisnis untuk meningkatkan nilai tambah produksi pertanian merupakan salah satu program Pemerintah dalam sektor pertanian. Namun dalam pengembangannya seringkali terjadi tumpang tindih pemanfaatan lahan, terutama pada lahan beririgasi yang biasa ditanami padi. Sehingga hal ini dikhawatirkan dapat mengganggu program pemerintah dalam mempertahankan swasembada pangan nasional. Pengembangan agribisnis pada lahan beririgasi pada prinsipnya masih bisa dilakukan dengan tetap menjaga kepentingan penanaman padi guna mempertahankan kebijaksanaan pemerintah dalam swasembada pangan. Pengintegrasian penanaman padi dengan tanaman yang bernuansa agribisnis, merupakan penerapan konsep diversifikasi pertanian di lahan beririgasi. Menurut Sugianto (Effendi Pasandaran, 1991:245), pelaksanaan diversifikasi pertanian di lahan beririgasi masih dimungkinkan tanpa perlu mengorbankan kepentingan pelestarian swasembada pangan. Pengembangan agribisnis di lahan beririgasi pada sisi lain juga merupakan upaya meningkatkan pemanfaatan air irigasi yang tersedia. Melalui pendekatan diversifikasi tanaman secara horizontal, air irigasi yang ada dapat dimanfaatkan untuk mengairi kombinasi jenis tanaman yang memberikan keuntungan paling tinggi bagi petani. Untuk mencapai sasaran pengembangan agribisnis perlu diperhatikan aspek kelembagaan yang terkait didalamnya. Hal ini disebabkan pengembangan agribisnis tidak dapat berdiri sendiri, akan tetapi terkait dalam satu sistim yang saling mempengaruhi. Kelembagaan yang dimaksud antara lain; kelompok tani, KUD, Bank, P3A, penangkar benih. Apabila kelembagaan tersebut berfungsi effektif dapat mendukung pengembangan agribisnis, tetapi apabila kelembagaan tersebut tidak berfungsi justru akan menjadi kendala. Menurut Wibowo dkk, (1994), Pengertian agribisnis mengacu kepada semua aktivitas mulai dari pengadaan, prosesing, penyaluran sampai pada pemasaran produk yang dihasilkan oleh suatu usaha tani atau agroindustri yang saling terkait satu sama lain. Dengan demikian agribisnis dapat dipandang sebagai suatu sistim pertanian yang memiliki beberapa komponen sub sistim yaitu, sub sistim usaha tani/yang memproduksi bahan baku; sub sistim pengolahan hasil pertanian, dan sub sistim pemasaran hasil pertanian.

Mengacu kepada uraian di atas maka, pengembangan agribisnis dengan memanfaatkan air irigasi yang tersedia akan memberikan beberapa keuntungan yaitu: pertama, memberi nilai tambah bagi petani dalam melakukan usaha taninya; kedua, mengoptimalkan pemanfaatan air yang ada; ketiga, mendorong dan memperkuat kemampuan petani untuk meningkatkan kinerja irigasinya; keempat, dapat mendorong dalam mengembangkan dan memperkuat organisasi petani; kelima, sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dan sekaligus dapat memenuhi kebutuhan bahan baku industri. Masalah yang di hadapi koperasi 1. Beberapa permasalahan dalam studi ini dapat diformulasikan sebagai berikut:bagaimanakah produktivitas usaha tani dalam pemanfaatan air irigasi. 2. faktor-faktor apa saja yang menjadi pendorong dan penghambat dalam pengembangan agribisnis.

3. jenis komoditi apa saja yang dapat dikembangkan dalam agribisnis di lahan beririgasi. 4. bagaimanakah peranan dan hubungan kerjasama kelembagaan petani di lokasi kegiatan dalam pengembangan agribisnis. Yang paling menonjol yaitu pada peranan dan hubungan kerjasama kelembagaan petani di lokasi kegiatan dalam pengembangan agribisnis,karena sangat ironis. Secara konstitusi, Indonesia memberikan tempat yang sangat besar pada gerakan koperasi. Seharusnya koperasi memainkan peran yang lebih baik dibandingkan di negara-negara kapitalis yang kita singgung tadi. Tapi realitanya tidak. Namun bila mundur ke masa orde lama, gerakan koperasi khususnya bidang pertanian, sangat kuat dan aktif. Masa itu pernah mencatat koperasi yang maju seperti koperasi karet, kopra, lada, pala, dan koperasi gula yang sudah go international. Hal itu disebabkan koperasi dipimpin oleh orang-orang berjiwa koperasi, campur tangan pemerintah sangat minim, dan fokus pada bidang yang memberi nilai tambah dan keuntungan besar bagi para anggotanya. Pada masa orde baru, koperasi tadi tumbang satu per satu. Pemerintah mengharuskan hanya satu koperasi pertanian, yaitu koperasi unit desa (KUD) yang multipurpose. Untuk mendorong gerakan koperasi ini, maka dibentuklah Departemen Koperasi. Secara tidak disadari gerakan koperasi beralih pada gerakan birokrasi dan kepentingan politik yang sangat kuat. Koperasi menjadi bisnis yang memanfaatkan inisiatif dan fasilitas pemerintah. Secara lambat laun koperasi menjadi sangat tergantung pada pemerintah dan partai politik. Sewaktu krisis melanda Indonesia, pemerintah mengalami kesulitan keuangan yang besar sehingga melakukan deregulasi dan derebirokratisasi gerakan koperasi.

Namun koperasi terlambat menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman sehingga mengalami krisis identitas yang luar biasa. KUD yang dulu kelihatan begitu rapi dan maju tiba-tiba berantakan, kehilangan orientasi, dan kehilangan peluang bisnis yang sebelumnya selalu disediakan pemerintah. Dan selama masa reformasi, gerakan koperasi semakin ketinggalan dibandingkan organisasi ekonomi yang lain.