Anda di halaman 1dari 79

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Semua orang menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Aristoteles (dalam Bertens, 1993) menyebutkan bahwa kebahagiaan merupakan tujuan utama dari eksistensi manusia di dunia. Kebahagiaan itu sendiri dapat dicapai dengan terpenuhinya kebutuhan hidup dan ada banyak cara yang ditempuh oleh masingmasing individu. Orang bekerja untuk memperoleh penghasilan dan pencapaian karier. Orang berkeluarga untuk memenuhi kebutuhan akan cinta dan kasih sayang. Begitu pula orang belajar untuk memenuhi kebutuhan akan ilmu pengetahuan. Semua kegiatan tersebut dilakukan untuk memperoleh satu tujuan, yaitu kebahagiaan. Bagi masyarakat awam sendiri, kebahagiaan mempunyai arti yang berbeda bagi tiap individu dan seringkali menjadi tumpang tindih dengan kepuasan hidup dan kualitas hidup. Hal ini bisa terlihat bila kita mengetikkan kata kebahagian, kepuasan hidup dan kualitas hidup di berbagai forum internet. Hasilnya menunjukkan bahwa ternyata di masyarakat definisi ketiga istilah tersebut saling tumpang tindih satu sama lain. Bagi beberapa orang kebahagiaan mungkin berarti mempunyai kelimpahan materi atau mendapatkan semua yang diinginkan. Bagi mereka, kebahagiaan diukur dengan pencapaian materi yang seringkali menganggap orang yang kaya akan merasa lebih bahagia dibandingkan dengan orang yang hidup serba kekurangan. Namun bila ditanyakan lebih lanjut kepada orang yang kaya ternyata mereka pun belum tentu merasa bahagia dengan segala kelimpahan materi yang dimilikinya. Selanjutnya ada pula yang akan merasa bahagia bila bisa membuat orang lain bahagia atau memberikan manfaat kepada sesama manusia (http://www.kickandy.com /forum/viewtopic.php). Atau bagi sebagian orang dengan menikmati dan mensyukuri apa yang dimilikinya dapat membuatnya merasakan kebahagiaan (http://www.edo.web.id/wp / 2008/02/19/bahagia/). Pada pendapat terakhir terlihat bahwa kebahagiaan berkaitan dengan rasa puas terhadap hidup, yaitu dengan mensyukuri apa yang dimiliki atau dengan kata lain akan bahagia bila merasa puas dengan hidupnya.

Universitas Indonesia

Kepuasan hidup itu sendiri merupakan istilah yang sering dikaitkan dengan kebahagiaan dan kualitas hidup. Bagi sebagian orang kebahagiaan diukur dengan cara melihat kepuasan akan hidupnya. Bila mereka merasa puas maka mereka juga akan mengatakan dirinya bahagia. Sedangkan untuk menilai kepuasan hidup itu berbeda bagi tiap individu. Masing-masing individu mempunyai batasan ideal sendiri yang digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan hidupnya. Oleh karena itu kepuasan hidup pun menjadi sangat subjektif sesuai dengan batasan ideal yang dimiliki oleh masing-masing individu. Bila kita bicara mengenai kepuasan hidup maka tidak bisa dilepaskan dari bagaimana seseorang menilai kualitas hidupnya. Penilaian kualitas hidup biasanya dilihat dari kepuasan individu terhadap hidupnya begitu pula sebaliknya. Orang akan merasa puas bila kualitas hidupnya baik. Di lain pihak orang mempunyai kualitas hidup yang baik karena merasa puas akan pencapaian yang diraihnya dalam hidup. Tetapi pada kenyataannya dapat ditemui orang yang merasa puas dengan segala yang dimiliki dalam hidup, seperti materi, jabatan dan keluarga tetapi masih belum merasa bahagia dengan hidupnya. Ada juga yang merasa kualitas hidupnya buruk tetapi ternyata di dalam keterpurukannya itu masih bisa merasakan kebahagiaan. Maka dapat dikatakan bahwa bisa saja seseorang merasa puas tetapi tidak bahagia, merasa bahagia tetapi hidupnya buruk atau merasa bahagia walaupun tidak puas dengan hidupnya. Hal ini menjadi menarik untuk diteliti mengenai batasan dan hubungan antara kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup satu sama lain pada masyarakat. Perbedaan pengertian yang tumpang tindih di dalam masyarakat mengenai kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup bukanlah menjadi suatu hal yang mengherankan karena secara teoritis kedua hal tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan ahli. Kebahagiaan dapat diartikan sebagai sebuah penilaian menyeluruh tentang kehidupan secara lengkap, yang meliputi aspek kognitif dan afektif (Galati, Manzano & Sotgiu, 2006). Sedangkan yang dimaksud dengan kepuasan hidup adalah penilaian subjektif atas kualitas hidup seseorang (Sousa & Lyubomirsky, 2001). Lebih jauh lagi dapat diartikan sebagai kepuasan atau penerimaan seseorang atas peristiwa di dalam hidupnya atau pemenuhan keinginan dan kebutuhan seseorang di dalam kehidupannya secara menyeluruh.

Universitas Indonesia

Berdasarkan pengertian diatas saja terlihat bahwa antara kebahagiaan dan kepuasan hidup ternyata saling berkaitan. Satu istilah lain yang juga berkaitan dengan kebahagiaan dan kepuasan hidup adalah subjective well-being (SWB). Van Hoorn (2007) secara spesifik menyebutkan bahwa SWB terdiri dari dua komponen yang terpisah, yaitu bagian afektif yang merupakan evaluasi hedonis melalui emosi dan perasaan, serta bagian kognitif yang merupakan informasi berdasarkan penilaian seseorang akan harapannya terhadap kehidupan ideal. OConnor (1993) menyebutkan bahwa istilah kepuasan hidup dapat juga mengacu pada SWB yaitu merupakan penilaian individual akan kebahagiaan atau kepuasan yang menggambarkan penilaian global atas keseluruhan aspek dalam hidup seseorang. Galati, Manzano & Sotgiu (2006) menyatakan bahwa pada kenyataannya ketiga istilah di atas sering digunakan untuk menjelaskan jenis fenomena yang sama. Sebagai contoh, kebahagiaan dapat dilihat sebagai komponen dari subjective well-being (SWB) dan komponen lainya adalah kepuasan. Lebih lanjut diutarakan bahwa kebahagiaan dan kepuasan hidup berhubungan sangat erat tetapi tidak sama (Gundelach & Kreiner, 2004). Sedangkan Diener, et al (dalam Panggabean, 2006) menyebutkan bahwa kepuasan hidup merupakan satu faktor di dalam konstruk yang lebih umum, yaitu subjective well-being, yang terdiri dari tiga komponen yaitu dorongan afeksi positif, dorongan afeksi negatif, dan kepuasan hidup. Saat ini hubungan antara kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup secara menyeluruh masih menjadi perdebatan dan setiap tokoh memiliki pandangan yang berbeda mengenai istilah-istilah tersebut. Tidak hanya ketumpangtindihan definisi tetapi ternyata faktor-faktor yang mempengaruhi kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup pun nampaknya sama dan saling berkaitan. Salah satu faktor yang mempengaruhi ketiganya adalah kepribadian. Kepribadian orang berbeda-beda, maka penilaian hidup pun menjadi berbeda bagi tiap individu. Orang yang memiliki kepribadian ekstravert, optimis, harga diri tinggi dan locus of control internal dilaporkan memiliki tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup yang lebih tinggi (Carr, 2004; Sousa & Lybormirsky, 2001). Hal ini dapat terjadi karena ia menilai kualitas hidupnya lebih baik yang ditandai pada setiap peristiwa yang terjadi di dalam hidupnya.

Universitas Indonesia

Selain kerancuan tersebut, sebenarnya ada pula yang menyebutnya sebagai konsep yang berbeda. Berdasarkan Indonesian Happiness Index (IHI) pada tahun 2007 yang merupakan indikator tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat kota besar, Jakarta berada di urutan kelima dari enam kota besar yang diteliti. Tingkat kebahagiaan Jakarta lebih rendah bila dibandingkan dengan kota besar lainnya, yaitu Semarang pada urutan pertama dan diikuti oleh Makassar, Bandung, dan Surabaya (http://www.frontier.co.id/awardsdetail. php? id=10). Walaupun tingkat kebahagiaan masyarakat Jakarta lebih rendah dibanding kota besar lainnya, tetapi ternyata kualitas hidup penduduk Jakarta adalah yang tertinggi di Indonesia bila dilihat dari karakteristik pendidikan, kesehatan, perekonomian, dan keluarga. Lima wilayah yang memiliki ranking kualitas hidup terendah adalah Propinsi Nusa Tenggara Timur, Irian jaya, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara. Di propinsi DKI Jakarta sendiri, Jakarta Timur menduduki peringkat tertinggi dalam hal kualitas hidup (Fadjri dalam http://www.digilib.ui.ac.id/). Berdasarkan kedua data diatas menunjukkan bahwa Kota Jakarta memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dibandingkan kota lainnya namun ternyata malah menjadi kota dengan ranking kualitas hidup terbaik di Indonesia. Membandingkan kedua hal tersebut membuat peneliti ingin melakukan penelitian mengenai hubungan antara kebahagiaan dan kualitas hidup masyarakat suatu kota. Pada negara berkembang, kondisi perekonomian, kesehatan, keamanan dan aspek lainnya masih belum stabil dan masih mengandung persoalan seiring dengan pertumbuhan negara. Hal tersebut ternyata berhubungan dengan kepuasan hidup secara keseluruhan masyarakat di dalam negara tersebut. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Khizindar (2009) mengenai kualitas hidup di Saudi Arabia yang merupakan salah satu negara berkembang menyebutkan bahwa kepuasan hidup secara keseluruhan didapatkan melalui domain kebahagiaan materi, emosional, komunitas, kesehatan dan keamanan. Beberapa keadaan demografis juga berhubungan secara signifikan terhadap nilai kualitas hidup secara keseluruhan. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang juga tentunya

Universitas Indonesia

memiliki kondisi yang berbeda dengan negara berkembang lainnya, maka penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui pengaruh keadaan negara terhadap kepuasan hidup masyarakatnya. Sebagai kota metropolitan, Jakarta telah mengalami banyak sekali kemajuan dan perkembangan ini berjalan sangat cepat. Kita dapat membandingkan keadaan kota Jakarta kini dengan sepuluh tahun lalu. Dalam sepuluh tahun terakhir, pembangunan berjalan sangat cepat. Sekarang banyak mal, perumahan, sekolah hingga rumah sakit dan pekantoran yang baru dibangun di Jakarta. Pada tahun 2007, sebanyak 45 persen investasi dalam negeri ditempatkan di Jakarta sebagai pusat administratif, politis, ekonomi dan kebudayaan (Hadar, 2007). Maka tak heran bila banyak orang yang mencoba mengadu nasib di Jakarta karena kota ini menjanjikan segala macam fasilitas bagi masyarakatnya. Di Jakarta sendiri dapat ditemui masyarakat dengan bermacam-macam latar belakang, seperti agama, suku, pekerjaan, pendidikan, dll. Pembangunan yang pesat ini tentunya memberikan kemudahan dan kesenangan bagi masyarakatnya. Namun, selain mengalami kemajuan dalam pembangunan, ternyata kota Jakarta juga menyimpan banyak masalah yang masih harus dibenahi. Persoalan pelik pertama yang dihadapai Jakarta adalah masalah transportasi. Kemacetan sudah menjadi hal yang wajar di Jakarta, masyarakat Jakarta pun sudah terbiasa dengan macet yang terjadi setiap harinya di jalanan ibukota ditambah dengan sarana transportasi yang kurang memadai (Hadar, 2007). Kemiskinan dan pengangguran juga menjadi masalah yang terus dihadapi oleh masyarakat Jakarta. Pada tahun 2007 jumlah pengangguran di Jakarta mencapai 12,57 persen atau meningkat bila dibandingkan dengan level 10 tahun yang lalu (http://www.antara.co.id/). Banyaknya tenaga kerja tidak seimbang dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia. Hal ini menimbulkan banyaknya masyarakat yang mengalami kemiskinan. Di balik semua masalah dan pembangunan yang terjadi di Jakarta, tentunya akan mempengaruhi masyarakatnya yang tinggal di Jakarta. Dengan melihat penjelasan mengenai kota Jakarta, terlihat bahwa masyarakat yang tinggal di Jakarta akan dihadapkan pada sebuah kehidupan yang dilematis, yaitu antara pesatnya pembangunan yang terus terjadi dengan semakin

Universitas Indonesia

banyaknya masalah yang juga tetap menyertainya. Misalnya ada banyak pusat perbelanjaan yang terdapat di Jakarta tetapi untuk mencapainya orang harus melewati kemacetan lalu lintas yang selalu terjadi di jalan raya. Atau kemewahan harta yang malah mengundang orang untuk melakukan tindakan kriminalitas. Berdasarkan pada kenyataan tersebut munculah suatu pertanyaan yang menarik, yaitu bagaimana kualitas hidup masyarakat yang tinggal di Jakarta sesuai dengan dinamika perkembangan dan masalah yang dihadapi? Selanjutnya apakah masyarakat yang tinggal di Jakarta ini tetap mampu merasa bahagia dan puas akan kehidupannya seiring dengan perkembangan kota Jakarta serta persoalan yang juga menyertainya? Berdasarkan pemaparan diatas maka peneliti ingin melihat lebih dalam mengenai gambaran kebahagian dan kepuasan hidup yang dimiliki oleh masayarakat Jakarta. Lalu bagaimana hubungannya satu sama lain dan kaitannya terhadap kualitas hidup secara menyeluruh pada masyarakat Jakarta dan sekitarnya sebagai salah satu kota di negara berkembang yang tentunya memiliki banyak sisi yang menarik. Pada penelitian ini responden yang akan digunakan adalah masyarakat tingkat menengah kota Jakarta karena dianggap telah dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka sehingga dapat lebih menggambarkan kebahagiaan yang dimiliki terlepas dari masalah pemenuhan kebutuhan (Izawa, 2005). Selain masyarakat yang tinggal di Jakarta, peneliti juga mengambil sampel pada masayarakat yang tinggal di sekitar Jakarta yang sebenarnya

menggantungkan perekonomiannya di Jakarta tetapi karena terbatasnya lahan perumahan membuat mereka tinggal di daerah sekitar Jakarta, seperti Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang.

1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang diajukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana gambaran kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup masyarakat kelas menengah Jabodetabek?

Universitas Indonesia

2. Bagaimana hubungan antara kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup pada masyarakat kelas menengah Jabodetabek? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran nilai kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup serta hubungannya satu sama lain pada masyarakat kelas menengah kota Jakarta dan sekitarnya. 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah untuk memberikan pengetahuan baru yang diharapkan dapat menjelaskan lebih dalam mengenai hubungan antara kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup. Penelitian ini juga dapat memperkaya penelitian-penelitian sebelumnya yang juga membahas aliran psikologi positif yang berkembang pesat akhir-akhir ini. Selanjutnya hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu informasi untuk penelitian selanjutnya mengenai kualitas hidup. Secara praktis diharapkan hasil yang diperoleh dapat digunakan sebagai masukan bagi pemerintah Jabodetabek dalam membuat keputusan menyangkut kesejahteraan masyarakatnya. 1.5. Sitematika Penulisan Laporan penelitian ini terdiri dari enam bagian. Pada bagian pertama merupakan pendahuluan dan sistematika selanjutnya adalah sebagai berikut: Bab II: Bab II mengulas dasar-dasar teori yang digunakan untuk mendukung penelitian yang akan dilakukan, yaitu teori mengenai kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup yang merupakan variabel dalam penelitian ini. Bab III: Bab III menguraikan mengenai permasalahan, hipotesis, dan variabel penelitian, baik secara konseptual maupun operasional. Bab IV: Bab IV memberikan penjelasan mengenai metode penelitian yang digunakan, yang terdiri dari tipe dan desain penelitian, partisipan penelitian, teknik pengambilan sampel, instrumen penelitian, pengujian instrumen penelitian, dan prosedur pelaksanaan penelitian.

Universitas Indonesia

Bab V: Bab V merupakan bagian hasil dan analisis hasil dari data penelitian. Pada bagian ini dijelaskan mengenai gambaran umum kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup pada masyarakat kelas menengah Jabodetabek, serta hubungan menyeluruh antara ketiganya. Selain itu juga disertakan hasil tambahan yang didapatkan dari penelitian ini. Bab VI: Bab VI berisi kesimpulan yang menjawab permasalahan penelitian, diskusi yang memuat perbandingan dengan temuan-temuan sebelumnya serta keterbatasan penelitian, saran metodologis untuk mengembangkan penelitian, dan saran praktis yang dapat dilakukan berdasarkan hasil penelitian.

Universitas Indonesia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pada bagian ini akan dijelaskan tinjauan pustaka yang digunakan dan sebagai acuan teoritis dalam penelitian ini. Terdapat tiga tinjauan utama, yaitu mengenai kebahagiaan, kepuasan hidup, dan kualitas hidup. Penjelasan ini meliputi definisi, faktor-faktor yang mempengaruhi serta bagaimana cara pengukurannya. Kemudian juga dijelaskan mengenai gambaran masyarakat Jebodetabek. 2.1 Kebahagiaan 2.1.1 Definisi kebahagiaan Istilah happiness atau kebahagiaan seringkali dikaitkan dengan aliran baru di bidang psikologi, yaitu psikologi positif yang lebih menekankan pada aspek positif karakteristik yang dimiliki manusia. Hingga saat ini terdapat banyak pengertian mengenai kebahagiaan. Diener, Scollon dan Lucas (2003) menyebutkan bahwa kebahagiaan tidaklah bisa didefinisikan dalam satu bentuk cara saja. Kebahagiaan bisa berarti kesenangan, kepuasan hidup, emosi positif, kebermaknaan hidup atau rasa suka. Beberapa pengertian kebahagiaan adalah sebagai berikut: Galati, Manzano & Sotgiu (2006) mengartikan kebahagiaan adalah sebagai sebuah penilaian menyeluruh tentang kehidupan secara lengkap, yang meliputi aspek kognitif dan afektif. Veenhoven (2007) mendefinisikan kebahagiaan sebagai apresiasi keseluruhan tentang kehidupan seseorang sebagai suatu kesatuan. Kedua pengertian tersebut mendefinisikan kebahagiaan sebagai penilaian subjektif secara keseluruhan terhadap kehidupan masing-masing individu yang meliputi aspek kognitif dan afektif. Karena kebahagiaan sangatlah subjektif, maka para para peneliti memilih untuk lebih menggunakan istilah subjective well being (SWB) karena SWB lebih menekankan pada penilaian individu sendiri terhadap hidupnya dan bukan merupakan penilaian ahli. Kebahagiaan kadangkala digunakan sebagai sinonim dari SWB (Diener, Scollon dan Lucas, 2003). Carr

Universitas Indonesia

10

(2004) bahkan memberi definisi yang sama antara kebahagiaan dan SWB, yakni sebuah keadaan psikologis positif yang dikarakteristikan dengan tingginya tingkat kepuasan terhadap hidup, tingginya tingkat afek positif, dan rendahnya tingkat afek negatif. Menurut Diener, Scollon dan Lucas (2003) SWB itu sendiri memiliki beberapa komponen, yaitu afek positif, afek negatif, kepuasan hidup dan domain kepuasan. Berdasarkan beberapa definisi diatas maka peneliti menganggap bahwa kebahagiaan dianggap sinonim dari SWB mengacu pada Diener, Scollon dan Lucas (2003) serta definisi yang digunakan adalah penilaian individu terhadap kehidupannya sendiri yang meliputi afek positif, rendahnya afek negatif, kepuasan hidup secara umum dan domain kepuasan. Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai komponen-komponen Subjective Well Being. 2.1.1.1 Komponen Subjective Well Being Subjective well being (SWB) menggambarkan evaluasi yang menyeluruh mengenai kehidupan seseorang, namun secara lebih dalam dan tepat, SWB terdiri atas beberapa komponen, yaitu afek positif, afek negatif, kepuasan dan domain kepuasan yang cukup berkorelasi satu sama lain dan secara konseptual berhubungan (Diener, Scollon dan Lucas, 2003). Lebih jauh lagi penjelasan mengenai komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut: 1. Afek positif dan negatif Afek pleasant dan unpleasant merefleksikan pengalaman mendasar atas peristiwa yang sedang terjadi di dalam kehidupan seseorang. Maka banyak penelitian yang menyebutkan bahwa penilaian afektif ini merupakan bentuk utama dari penilaian SWB. Penilaian afektif dapat berbentuk emosi dan mood. Emosi merupakan reaksi singkat yang berdasarkan pada peristiwa khusus atau stimulus eksternal, sedangkan mood merupakan perasaan yang lebih panjang atau menetap dan tidak didasarkan pada peristiwa khusus. Penilaian afektif penting karena dengan mengetahui jenis afeksi yang dialami oleh individu maka peneliti bisa memahami cara

Universitas Indonesia

11

individu tersebut mengevaluasi kondisi dan pertistiwa yang terjadi di dalam hidupnya. 2. Kepuasan hidup Kepuasan hidup adalah penilaian individu terhadap kualitas kehidupannya secara global. Individu dapat menilai kondisi kehidupannya, menentukan kepentingan dari kondisi itu dan mengevaluasi kehidupannya pada skala yang berkisar dari tidak puas hingga puas. Kepuasan hidup menrupakan komponen kognitif dari SWB karena memerlukan proses kognitif, sedangkan afek positif dan negatif merupakan komponen afektif. 3. Domain kepuasan Domain kepuasan merefleksikan eveluasi seseorang mengenai aspek khusus dalam hidupnya. Domain kepuasan ini penting karena dengan mengukur kepentingan domain dari kehidupan seseorang, maka kita dapat mengkonstruk kembali penilaian kepuasan hidupnya secara global. Domain kepuasan ini dapat memberikan informasi mengenai bagaimana seseorang menyusun penilaian globalnya mengenai kebahagiaan dan juga memberikan informasi yang detil tentang aspek khusus kehidupan seseorang. 2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kebahagiaan Diener (dalam Carr, 2004) menyebutkan bahwa untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi pada kebahagiaan bukanlah merupakan hal yang mudah. Tetapi pada kebanyakan penelitian menyebutkan bahwa faktor kepribadian dan demografis merupakan faktor utama yang menyebabkan dan berhubungan dengan kebahgaiaan (Carr, 2004; Argyle, 1999). Berikut ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi kebahagiaan seseorang (Argyle, 1999; Carr, 2004; Eddington & Shuman, 2005): 1. Kepribadian Berdasarkan penelitian mengenai kebahagiaan menunjukkan bahwa orang yang bahagia dan tidak bahagia memiliki profil kepribadian yang berbeda (Diener dkk dalam Carr, 2004).

Universitas Indonesia

12

Hubungan antara trait kepribadian dan kebahagiaan tidak bersifat universal pada semua budaya. Pada budaya barat yang individualistik, orang yang bahagia adalah yang memiliki trait ekstraversi, optimis, harga diri yang tinggi dan locus of control internal. Sedangkan orang yang tidak bahagia adalah orang yang memiliki tingkat neurotik yang tinggi. Hal tersebut berbeda dengan orang-orang di budaya timur yang menganut budaya kolektivistik dimana faktor-faktor tersebut tidak berhubungan dengan kebahagiaan. Jadi nilai budaya menentukan trait kepribadian yang mempengaruhi kebahagiaan (Carr, 2004). Menurut Eddington & Shuman (2005) kepribadian menunjukkan peran yang lebih signifikan dibandingkan dengan peristiwa hidup spesifik lainnya dalam menentukan SWB. 2. Variabel demografis Faktor lain yang juga mempengaruhi kebahagiaan adalah variabel demografis dan lingkungan (Eddington & Shuman, 2005). Faktorfaktor demografis itu adalah: a. Jenis Kelamin Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jenis kelamin merupakan faktor yang sangat kecil dalam menentukan kebahagiaan dan kepuasan hidup seseorang (Inglehart & Michalos dalam Eddington & Shuman, 2005). b. Usia Pada banyak penelitian dan survey menunjukkan bahwa pengaruh usia terhadap kebahagiaan adalah kecil (Argyle, 1999). c. Pendidikan Hubungan antara pendidikan dan kebahagiaan adalah kecil tetapi signifikan (Campbell, Cantril, Diener et al dalam Eddington & Shuman, 2005). Namun hubungan antara pendidikan dan kebahagiaan merupakan hasil dari korelasi antara pendidikan dengan status pekerjaan dan pendapatan

Universitas Indonesia

13

(Campbell, Witter et al dalam Eddington & Shuman, 2005; Argyle, 1999). d. Pendapatan Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa pendapatan berhubungan dengan kebahagiaan Diener et al (1999). Secara umum, orang yang lebih kaya akan merasa lebih bahagia dibandingkan dengan orang yang lebih miskin (Eddington & Shuman, 2005). e. Perkawinan Orang yang menikah memiliki kebahagiaan lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak pernah menikah, bercerai, berpisah, atau janda (Eddington & Shuman, 2005). Pada beberapa negara, pasangan yang hidup bersama (kohabitasi) secara signifikan lebih bahagia dibandingkan dengan orang yang tinggal seorang diri (Kurdek, Mastekaasa dalam Eddington & Shuman, 2005). Perkawinan sering ditemukan menjadi salah satu fakrot terkuat yang berkorelasi dengan kebahagiaan (Glenn & Weaver dalam Argyle, 1999), f. Pekerjaan Orang yang bekerja akan lebih bahagia dibandingkan dengan orang yang tidak bekerja (Argyle, 1999; Eddington & Shuman, 2005). Orang yang tidak bekerja mempunyai tingkat stress yang lebih tinggi, kepuasan hidup yang lebih rendah dan kemungkinan bunuh diri yang lebih tinggi dibandinkan dengan orang yang bekerja (Eddington & Shuman, 2005). g. Kesehatan Hubungan yang kuat antara kesehatan dan kebahagiaan muncul pada pengukuran kesehatan melalui self-report, tidak pada penilaian secara objektif oleh ahli. Maka dapat disimpulkan bahwa persepsi akan kesehatan menjadi lebih penting daripada kesehatan secara objektif dalam mempengaruhi kebahagiaan (Eddington & Shuman, 2005).

Universitas Indonesia

14

h. Agama Banyak survey yang menunjukkan bahwa kebahagiaan berkorelasi secara signifikan dengan agama, hubungan seseorang dengan Tuhan, pengalaman doa dan partisipasi di dalam aspek keagamaan (Eddington & Shuman, 2005). i. Waktu luang Veenhoven et al (dalam Eddington & Shuman, 2005; Argyle, 1999) menunjukan bahwa kebahagiaan berkorelasi cukup tinggi dengan kepuasan waktu luang dan tingkatan aktivitas di waktu luang. Kegiatan yang dilakukan pada waktu luang dapat meningkatkan kebahagiaan, seperti aktivitas menyenangkan bersama teman, kegiatan olah raga, dan liburan. Sedangkan kegiatan menonton televisi di waktu luang terutama tontonan yang berat kurang dapat meningkatkan bahagia (Eddington & Shuman, 2005; Argyle, 1999). j. Etnis Etnis minoritas di suatu negara memiliki kebahagiaan yang lebih kecil karena berdasarkan pada rendahnya pendapatan, pendidikan, dan status pekerjaan yang diperoleh (Argyle, 1999). k. Peristiwa kehidupan Intensitas peristiwa positif yang terjadi tidak banyak mempengaruhi kebahagiaan sebagian karena jarang terjadi (Argyle, 1999 Eddington & Shuman, 2005). l. Kompetensi Penelitian menunjukkan bahwa korelasi antara kompetensi inteligensi dan kebahagiaan sangat kecil tetapi positif. Kebahagiaan juga berhubungan dengan kerja sama, kepemimpinan dan kemampuan heteroseksual (Argyle, 1999 Eddington & Shuman, 2005)

Universitas Indonesia

15

2.1.3 Cara mengukur kebahagiaan Pada penelitian tentang kebahagiaan telah digunakan berbagai macam teknik. Di banyak survey digunakan satu pertanyaan dengan pilihan jawaban menggnakna skala untuk mengukur kebahagiaan (Carr, 2004). Secara umum para peneliti lebih mengandalkan self-reports yang terkadang dilengkapi dengan data informasi, wawancara oleh petugas klinis yang terlatih, observasi ekspresi nonverbal dan pengukuran psikologis lainnya (Lepper &Lyubomirsky, 1997). Pada penelitian saat ini kebahagiaan atau SWB mengukur baik satu atau dua komponen (afektif atau kognitif) merupakan item tunggal penilaian global. Maka responden diminta untuk memberikan tingkatan dari afek positif dan negatif pada periode waktu tertentu atau memberikan penilaian atas kualitas hidup secara keseluruhan (Lepper &Lyubomirsky, 1997). Penelitian akhir-akhir ini lebih banyak menggunakan skala multi item yang memiliki nilai validitas dan reliabilitas baik. Alat ukur yang sering digunakan adalah 29-item Revised Axford Happiness Scale yang secara luas digunakan di Inggris, 5 item Satisfaction With Life Scale yang banyak digunakan di Amerika, dan 18 item well-being scale pada Personality Questionnaire. Selain itu juga sering digunakan skala afek positif dari Positive and Negative Affect Scales dan segi perasaan positif dari World Health Organisation Quality of Life Scale (Carr, 2004). 2.2 Kepuasan Hidup 2.2.1 Definisi Kepuasan Hidup Kepuasan hidup merupakan sebuah penilaian subjektif atas kualitas kehidupan seseorang (Sousa & Luybomirsky, 2001). Tak jauh beda, menurut Veenhoven (dalam Dockery, 1987) definisi kepuasan hidup (life satisfaction) adalah derajat dimana penilaian individual terhadap kualitas keseluruhan atas hidupnya. Kepuasan sendiri menyatakan sebuah kesenangan atau penerimaan seseorang atas peristiwa di dalam hidupnya atau pemenuhan keinginan dan kebutuhan seseorang di dalam kehidupannya secara menyeluruh (Sousa & Lyubomirsky, 2001). Karena kepuasan hidup merupakan evaluasi, maka penilaian kepuasan hidup mempunyai komponen kognitif yang besar.

Universitas Indonesia

16

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kebahagiaan atau SWB mempunyai dua komponen, yaitu afektif dan kognitif. (Diener et al dalam Sousa & Lybormirsky, 2001). Komponen afektif meliputi seberapa sering individu mengalami afek positif dan negatif sedangkan komponen kognitif meliputi kepuasan hidup. Komponen afektif meliputi seberapa sering individu mengalami afek positif dan negatif. Sedangkan kepuasan hidup dianggap sebagai komponen kognitif. Lebih jauh lagi bila dibandingkan dengan domain kepuasan, kepuasan hidup lebih luas karena meliputi penilaian individu secara lebih komprehensif atas hidupnya, dimana domain kepuasan hanya meliputi daerah khusus dalam kehidupan seseorang, misalnya pekerjaan, perkawinan, dan pendapatan. Berdasarkan pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kepuasan hidup adalah penilaian kognitif seseorang yang bersifat subjektif atas hidupnya secara menyeluruh dan merupakan aspek kognitif dari kebahagiaan. 2.2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan hidup Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kepuasan hidup tidak berubah pada komponen trait kepribadian dan trait lingkungan (Sousa & Lybormirsky, 2001). Kepuasan hidup akan tetap sepanjang waktu dan konsisten pada beberapa situasi. Namun pada penelitian terakhir menyebutkan bahwa kepribadian mempunyai peran yang signifikan pada wanita dalam menilai kepuasan hidupnya. Penelitian lainnya menyebutkan bahwa variabel kepribadian seperti resiliensi, asertivitas, empati, locus of control internal, ekstraversi, dan keterbukaan terhadap pengalaman berhubungan dengan kepuasan hidup. Bagaimanapun juga, faktor lingkungan dapat pula mempengaruhi penilaian kepuasan hidup pada jangka waktu yang singkat. Jadi dapat disimpulkan bahwa baik kepribadian dan lingkungan dapat mempengaruhi kepuasan hidup (Sousa & Lybormirsky, 2001). Berikut ini merupakan penjelasan mengenai variabel demografis yang mempengaruhi kepuasan hidup menurut Sousa & Lybormirsky (2001): 1. Budaya Kepuasan tampak sebagai term yang universal dan lintas budaya karena para peneliti dapat dengan mudah mengalihbahasakan ke

Universitas Indonesia

17

dalam berbagai macam bahasa. Kepuasan juga bukan merupakan konsep barat tetapi juga sering digunakan di budaya timur. Negara dengan budaya individualisme memiliki kepuasan yang lebih besar dibandingkan dengan budaya kolektivisme. Negara industri juga memiliki kepuasan keseluruhan yang sangat tinggai dibandingkan dengan negara miskin atau negara dunia ketiga. 2. Gender Secara teori wanita menunjukkan rata-rata depresi yang lebih tinggi dibanding pria, tapi secara bersamaan juga memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh Diener & Fujita (dalam Sousa & Lybormirsky, 2001) menunjukkan bahwa pria dan wanita memiliki kepuasan hidup yang hampir sama dan sebagian besar berdasarkan penilaian kognitif. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pria dan wanita memiliki kepuasan hidup yang hampir sama berdasarkan penilaian kognitif. Tingkat kepuasan pria dan wanita diperoleh dari sumber kepuasan hidup yang berbeda. 3. Usia Kepuasan hidup tidak menurun sejalannya usia dan secara umum tetap sepanjang kehidupan. Penelitian yang dilakukan oleh Diener & Suh (dalam Sousa & Lybormirsky, 2001) terhadap 6.000 partisipan pada 40 negara menunjukkan bahwa kepuasan hidup secara umum stabil sepanjang hidup dan hanya terjadi peningkatan tipis antara usia 20 dan 80 tahun.Penelitian menunjukkan hanya terjadi peningkatan tipis antara usia 20 hingga 80 tahun. 4. Hubungan sosial Tingkat dukungan sosial yang tinggi berhubungan kuta dengan tingkat kepuasan hidup yang tinggi pula. Pada negara barat, perkawinan lebih mempengaruhi kepuasan hidup dibandingkan hubungan pertemanan dan keluarga. Pasangan kohabitasi yang tidak menikah, khususnya yang berasal dari budaya kolektivisme, mempunyai kepuasan yang lebih sedikit dibandingkan dengan

Universitas Indonesia

18

pasangan menikah. Mempunyai anak tidak dapat meningkatkan kepuasan hidup seseorang. Namun hubungan orang tua dan anak berhubungan tinggi dengan tingkat kepuasan hidup secara keseluruhan. Kepuasan hidup akan menurun dengan meningkatnya jumlah anak yang dimiliki. 5. Pendapatan Secara umum individu yang lebih makmur memiliki kepuasan hidup yang lebih besar dibandingkan dengan individu yang miskin.

6. Pekerjaan Orang yang tidak bekerja secara signifikan tingkat kepuasannya berkurang dibandingkan dengan orang yang bekerja. Hubungan antara pekerjaan dan kepuasan hidup lebih besar pada pria dibanding wanita. 7. Pendidikan Korelasi antara pendidikan dan kepuasan hidup adalah kecil dan korelasi tersebut akan menghilang bila secara statistik pendapatan dan pekerjaan sudah terkontrol. Hubungan ini lebih kepada bahwa tingkat pendidikan yang tinggi akan berhubungan dengan pendapatan yang lebih tinggi pula. 2.2.3 Cara mengukur kepuasan hidup Para peneliti memilih untuk mengukur kepuasan hidup melalui self-report. Pengukuran melalui self-report ini meminta responden untuk mengindikasikan tingkat kepuasan kehidupan mereka dengan memilih simbol (angka atau ekspresi wajah) dalam sebuah skala biasanya berkisar 1-7. Peneliti mengasumsikan kepuasan hidup sebagai sebuah penilaian, maka metode self-report ini dipercaya sebagai metode yang paling akurat untuk mengukur kepuasan hidup tersebut (Sousa & Lybormirsky, 2001). Banyak self- report yang mengukur kepuasan hidup dan dapat berbentuk single-item atau multi-item. Namun secara keseluruhan para peneliti setuju bahwa

Universitas Indonesia

19

skala dengan multi-item lebih baik dibandingkan single-item dalam mengukur kepuasan hidup (Sousa & Lybormirsky, 2001). Sebagai tambahan, menurut Diener (dalam Sousa & Lybormirsky, 2001), skala dengan multi-item secara keseluruhan memiliki reabilitas dan validitas lebih besar dibandingkan dengan skala single-item. Skala yang paling banyak digunakan saat ini adalah Satisfaction With Life Scale (SWLS). Skala ini disusun oleh Ed Diener dkk yang berisi 5 item untuk mengukur kepuasan hidup secara global karena dalam skala ini hanya mengukur kepuasan hidup yang merupakan komponen kognitif dari kebahagiaan tanpa menyebut pada afeksi (Sousa & Lybormirsky, 2001). Sousa & Lybormirsky (2001) menjelaskan bahwa secara individual seseorang akan menilai kepuasan hidupnya berdasarkan pada apa yang diinginkan dan apa yang telah dimiliki atau secara konseptual berdasarkan realitas dan ideal. Terdapat dua prosedur mengenai bagaimana seseorang menentukan kepuasan hidupnya, yaitu melalui prosedur top-down atau bottom-up. Pada prosedur top-down seseorang akan merefleksikan nilai kehidupannya sebagai suatu kesatuan dengan menggunakan intuisi untuk mengetahui seberapa bahagia dan puas secara keseluruhan, kemudian menyimpulkan bahwa seharusnya ia memiliki hidup yang baik atau tidak. Misalnya seorang yang religious akan menilai hidupnya secara umum berdasarkan nilai-nilai religi yang dianutnya, kemudian ia akan menyimpulkan sendiri kehidupannya apakah ia sudah menjadi orang baik atu belum. Sedangkan pada prosedur bottom-up seseorang akan berpikir terlebih dahulu mengenai beberapa domain dalam hidupnya yang kemudian dapat menilai kepuasan hidupnya berdasarkan kepuasan rata-rata yang diperoleh pada tiap domainnya. Misalnya seorang ibu rumah tangga akan menilai terlebih dahulu beberapa domain dalam hidupnya seperti pernikahan, anak-anak, pekerjaan, dan pertemanan. Ia akan menilai terlebih dahulu masing-masing domain dan kemudian menentukan kepuasan hidupnya berdasarkan pada rata-rata nilai kepuasan yang diperolehnya dari tiap domain. 2.3 Kualitas hidup 2.3.1 Definisi kualitas hidup

Universitas Indonesia

20

Istilah kualitas hidup mempunyai banyak arti dan salah satunya mengacu pada keadaan material, seperti kualitas hidup yang baik ditunjukkan dengan baiknya kesehatan fisik, materi, keluarga dan teman-teman (OConnor, 1993). Goodinson & Singleton (dalam OConnor, 1993) menyatakan definisi kualitas hidup sebagai derajat tingkat kepuasan atas penerimaan kondisi kehidupan saat ini. Sedangkan Ontario Social Development Council (dalam Wardhani, 2006) mendefinisikan kualitas hidup sebagai respons personal mengenai perbedaan yang dirasakan antara kenyataan dan kegiatan yang diinginkan. Hal ini didukung pula oleh Bergner (dalam OConnor, 1993) yang menyatakan bahwa kualitas hidup dapat meningkat apabila jarak antara tujuan yang telah dicapai dengan tujuan yang ingin dicapai makin berkurang. Secara umum definisi kualitas hidup yang digunakan adalah penilaian subjektif seseorang akan kebahagiaanya yang diperoleh melalui pengalaman hidup secara keseluruhan (Donovan dkk dalam OConnor, 1993). Carr & Higginson (2001) mengatakan bahwa kualitas hidup ditentukan oleh beberapa hal, yaitu: seberapa jauh kesesuaian antara harapan dan ambisi dilihat dari pengalaman persepsi individu mengenai posisi mereka dalam hidup dilihat dari konteks budaya dan sistem nilai dimana mereka tinggal dan hubungannya dengna tujuan, harapan, standard, dan hal-hal lain yang menjadi perhatian individu tersebut. Penilaian mengenai keadaan seseorang bila dibandingkan dengan kondisi ideal tertentu Hal-hal yang dianggap penting dalam kehidupan seseorang Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan yang dimaksud dengan kualitas hidup adalah penilaian subjektif seseorang atas apa yang telah terjadi dengan apa yang diinginkan terjadi di dalam hidupnya yang diperoleh melalui pengalaman-pengalaman. 2.3.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup Goodinson dan Singleton (dalam OConnor, 1993) mengatakan ada berbagai aspek yang dapat mempengaruhi kualitas hidup yaitu keadaan

Universitas Indonesia

21

lingkungan fisik, lingkungan sosial, dan lingkungan personal individu. Kemudian Zhan (dalam Vallerand dkk, 1998) menjelaskan bahwa selain faktor tersebut, ternyata latar belakang kesehatan dan faktor budaya turut mempengaruhi kualitas hidup. OConnor (1993) menyebutkan bahwa beberapa faktor eksternal seperti pendapatan, kekuatan untuk bertahan dan kesehatan dapat mempengaruhi kualitas hidup. Lebih lanjut lagi, Oconnor juga menyebutkan bahwa faktor-faktor yang muncul dan dapaat mempengaruhi kualitas tersebut sebaiiaknya diidentifikasi dengan kondisi fisik saja.

2.3.3 Cara mengukur kualitas hidup Kualitas hidup sulitsah untuk dapat diukur karena bersifat personal dan subjektif., Pperbedaan persepsi atas pemuasan dan perbedaan individual mempengaruhi bagaimana mereka menilai tingkat kesejahteraannya pada periode waktu tertentu (Benbow, 2008). Untuk mengukur kualitas hidup masyarakat suatu negara digunakan beberapa indikator seperti yang diutarakan oleh Organization of Economic and Culture Development (OECD), yaitu pendapatan, perumahan, lingkungan, stabilitas sosial, kesehatan, pendidikan dan kesempatan kerja. Tiap pemerintahan negara seperti negara komunis dan nonkomunis memiliki standar kualitas hidup yang berbeda dan sesuai dengan perkembangan jaman perkembangan indikator mengarah pada indikator non fisik, misalnya kebahagiaan, kenyamanan, kepuasan, dll (Faturochman, 1990). Pengukuran lain terhadap kualitas hidup melihat persepsi subjektif individu terhadap kehidupannya. Pada kuesioner yang tradisional sudah melibatkan sistem nilai eksternal yang menjadi bagian dari kuesioner yang telah terstandardisasi namun semua instruments dalam kuesioner didasarkan pada respon rata-rata sampel dan tidak berdasar pandangan subjektif tiap individu (Browne dkk, 1997). Hickey dkk (1996) juga menambahkan mungkin pengukuran melalui kuesioner ini dapat mengukur secara reliabel, namun tidak relevan dengan situasi kehidupan secara individual. Oleh karena itu dikembangkan The Schedule for the Evaluation of Individual Quality of Life (SEIQoL) yang dapat mengevaluasi kualitas hidup secara individual berdasarkan perspektif masing-

Universitas Indonesia

22

masing individu. Dalam SEIQoL, individu memilih sendiri aspek-aspek yang ia pertimbangkan sebagai prioritas utama yang mempengaruhi kualitas hidupnya dan menggunakan sistem nilai mereka sendiri untuk mendeskripsikan status fungsional (kondisi/ posisinya saat ini dalam aspek kehidupan tersebut) dan derajat kepentingan relatif (sejauh mana ia menganggap aspek kehidupan tersebut penting baginya) dari masing-masing aspek-aspek yang ia pilih (Browne dkk, 1997). Dengan demikian, SEIQoL sebagai alat ukur memungkinkan pengukuran kualitas hidup yang didasarkan pada perspektif individual itu sendiri (Hickey dkk, 1996) dan mampu memberi gambaran mengenai persepsi individu mengenai kualitas hidup dan aspek-aspek kehidupan yang mempengaruhinya. 2.4 Gambaran Masyarakat Jabodetabek DKI Jakarta adalah ibukota Indonesia dan dapat pula digolongkan menjadi salah satu kota metropolitan. Kota metropolitan sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu kawasan yang merupakan aglomerasi dari beberapa kota yang berdekatan dan terkait dalam satu sistem kegiatan sosial ekonomi, termasuk prasarana dan sarana penunjangnya, dengan satu kota utama berperan sebagai inti dan kota-kota lainnya sebagai satelit (http://www.pu.go.id). Berdasarkan definisi tersebut dapat dikatakan Jakarta sebagai kota metropolitan dengan kota lainnya sebagai satelit, yaitu Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Bila dilihat secara demografis, kota metropolitan memiliki ciri berpenduduk besar dan mempunyai kepadatan tinggi (dikatakan tinggi bila mencapai 100 jiwa/km2) (http://www.pu.go.id). Jakarta bersama metropolitan Jabotabek dengan penduduk sekitar 23 juta jiwa merupakan wilayah metropolitan terbesar di Indonesia dan urutan keenam di dunia (http://www.kependudukancapil.go.id). Sebagai inti dari kota metropolitan Jabodetabek, kota Jakarta memiliki jumlah fasilitas yang banyak dan lengkap untuk memenuhi kebutuhan hidup penduduknya. Selain itu, pembangunan pun berpusat di Jakarta dengan adanya investasi dalam negeri sebesar 45% yang ditempatkan di Jakarta dan sekitarnya (Bodetabek) (Hadar dalam http://www.sinarharapan.co. id/berita/0706 / 23/opi01.html). Jakarta memiliki berbagai macam fasilitas, seperti fasilitas

Universitas Indonesia

23

pendidikan dari berbagai macam tingkatannya, badan usaha pemerintah maupun swasta, kesehatan, tempat peribadatan, hingga tempat hiburan. Lengkapnya dan banyaknya fasilitas yang dapat memenuhi segala kebutuhan masyarakat, telah mendorong banyak orang dari luar Jakarta berbondong-bondong mencari rezeki di ibu kota Indonesia ini. Hal ini membawa dampak pula bagi daerah-daerah di sekitar kota Jakarta yang kemudian menjadi daerah penunjang mengingat padatnya penduduk serta keterbatasan lahan yang dimiliki Jakarta. Maka pada Instruksi Presiden Nomor 13 Tahun 1976 ditetapkanlah kota Bogor, Tangerang, Bekasi sebagai kota satelit Jakarta (Yudhistira dalam http://megapolitan.kompas.com/read /xml/2009 /03/16 / 06484682). Oleh karena itu maka kehidupan masyarakat yang tinggal di kota-kota satelit tersebut pun tak jauh berbeda dengan masyarakat yang tinggal di Jakarta. Seiring dengan pembangunan yang terjadi dan jumlah penduduk serta kepadatan Jakarta yang tinggi, seringkali menimbulkan beberapa dampak sosial yang sangat sulit tertangani. Masalah sosial tersebut antara lain seperti masalah pengangguran, kemiskinan dan kriminalitas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta (http://www. datastatistik-indonesia.com), angka pengangguran dan penduduk miskin di Jakarta setiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada tahun 2008, jumlah penduduk Jakarta yang tidak memiliki pekerjaan (pengangguran) tercatat sejumlah 580.510 orang. Sedangkan angka penduduk miskin di Jakarta pada tahun 2007 mencapai 4,48% dari total penduduk Jakarta. Seperti angka pengangguran dan kemiskinan, angka kriminalitas juga semakin meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data pada Januari 2009, jumlah tindakan kriminal mengalami peningkatan sebesar 15,7% dari tahun sebelumnya. Masalah lain yang juga dialami oleh penduduk Jakarta adalah masalah transportasi yang kian meningkat jumlahnya hingga menimbulkan kemacetan, masalah ketersediaan air bersih, masalah sampah dan pencemaran udara (Hadar dalam http://www.sinarharapan.co.id/berita /0706/23/opi01.html). Masalah yang sama juga dihadapi oleh kota-kota penunjang Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Kota Depok yang mengalami perkembangan pesat dengan dipindahnya kegiatan akademis Universitas Indonesia pada tahun 1987 memiliki masalah yang berkaitan dengan lahan hijau,

Universitas Indonesia

24

sampah, air bersih, transportasi dan area pemukiman (http://www2.kompas.com/ kompas-cetak/0311/19/otonomi/694818.htm). Begitu pula yang terjadi dengan kota lainnya, masalah yang dihadapi antara lain mengenai pengangguran, kemiskinan, kriminalitas, transportasi, pendidikan, dan kesehatan (http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/03/16/06484682/).

2.5 Hubungan antara kebahagiaan, kepuasan hidup, dan kualitas hidup Kebahagiaan mempunyai arti yang abstrak bagi masing-masing individu dan ternyata hingga saat ini masih terdapat berbagai macam pandangan mengenai kebahagiaan. Secara umum kebahagiaan merupakan penilaian menyeluruh seseorang atas kehidupannya yang meliputi aspek afektif dan kognitif (Galati, Manzano & Sotgiu, 2006). Diener, Scollon, dan Lucas (2003) menyebut kebahagiaan identik dengan subjective well-being (SWB) dan lebih memilih untuk memakai istilah SWB karena lebih menekankan pada penilaian individu sendiri dan bukanlah hasil dari penilaian ahli. Menurut Diener, Scollon, dan Lucas (2003) SWB itu sendiri terdiri dari beberapa komponen penting, yaitu adanya afek positif, ketiadaannya afek negatif, kepuasan hidup dan domain kepuasan. Keempat komponen tersbut dapat digolongkan menjadi aspek afektif dan kognitif. Komponen afektif menyatakan seberapa sering individu merasakan afeksi positif dan negatif, sedangkan komponen kognitif merupakan penilaian individu atas hidupnya secara menyeluruh atau yang disebut sebagai kepuasan hidup. Bila dilihat dari pemaparan diatas maka terlihat bahwa kepuasan hidup adalah bagian dari kebahagiaan (SWB) yang merupakan komponen kognitif. Namun berdasarkan penelitain yang dilakukan oleh Gundelach & Kreiner, (2004) menyebutkan bahwa kepuasan dan kebahagiaan merupakan dua variabel yang berbeda. Dengan kata lain, kebahagiaan dan kepuasan tidak bisa diberlakukan secara identik. Hal ini terjadi karena kepuasan merupakan pengalaman kognitif atau penilaian sedangkan kebahagiaan mengacu pada pengalaman perasaan atau afeksi (Campbell dalam Gundelach & Kreiner, 2004). Sedangkan untuk kualitas hidup sendiri sangat dipengaruhi oleh tingkat kepuasan terhadap hidup karena kualitas hidup merupakan derajat tingkat

Universitas Indonesia

25

kepuasan atas penerimaan kondisi kehidupan saat ini (Goodinson & Singleton dalam OConnor, 1993). Lebih lanjut dikemukakan bahwa kualitas hidup dapat meningkat apabila jarak antara tujuan yang telah dicapai dengan tujuan yang ingin dicapai makin berkurang (Bergner dalam OConnor, 1993). Dengan kata lain bahwa seseorang akan mempunyai kualitas hidup yang lebih baik apabila ia merasa puas dengan hidupnya dan kepuasan itu sendiri merupakan bagian dari kebahagiaan yang merupakan komponen kognitif. Selanjutnya bila dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi ketiganya ternyata juga mempunyai kesamaan. Seperti tipe kepribadian seseorang ternyata dapat mempengaruhi tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidupnya. Kepribadian juga menentukan bagaimana orang tersebut memandang hidupnya dan menilai hidupnya secara subjektif yang berkaitan dengan kebahagiaan, kepuasan dan kualitas hidupnya secara menyeluruh. Kepribadian yang berbeda ternyata memberikan dampak yang berbeda pula dalam menilai kehidupannya. Misalnya pada orang yang berkepribadian ekstravert dilaporkan akan memiliki kebahagiaan yang lebih tinggi (Carr, 2004). Selain memiliki kebahagiaan yang tinggi, ternyata orang yang ekstravert memiliki tingkat kepuasan hidup yang tinggi pula (Sousa & Lybormirsky, 2001). Hal ini menunjukkan bahwa dalam menilai kehidupannya, faktor kepribadian juga turut mempengaruhi di mana pada orang ekstovert yang lebih terbuka akan memandang peristiwa dalam hidupnya lebih positif. Faktor lain yang juga turut mempengaruhi adalah faktor demografis, seperti jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, status perkawinan dan kesehatan. Faktor demografis berperan penting dalam mempengaruhi tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup. Sedangkan kondisi demografis juga menjadi aspek kehidupan yang juga dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang dalam hal pencapaiannya. Misalkan saja pendapatan, orang yang berpenghasilan tinggi dilaporkan akan lebih merasa bahagia dan cenderung puas akan kehidupannya serta akan menempatkan keuangan sebagai salah satu aspek yang penting di dalam kehidupannya.

Universitas Indonesia

26

BAB 3 PERMASALAHAN, HIPOTESIS dan VARIABEL PENELITIAN Bagian ini akan menjelaskan lebih lanjut mengenai permasalahan penelitian kemudian hipotesis penelitian yang dibuat berdasarkan permasalahan serta variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian. 3.1 Permasalahan Penelitian Permasalahan merupakan sebuah kalimat atau pernyatanyaan yang menanyakan hubungan yang terjadi antara dua variabel atu lebih (Kerlinger dan Lee, 2000). Lebih lanjut juga dikatakan terdapat tiga kriteria dalam membuat permasalahan yang baik, yakni permasalahan haruslah menunjukkan sebuah hubungan antara dua atau lebih variabel, permasalahan harus dinyatakan secara jelas dan tidak ambigu dalam bentuk kalimat tanya, serta memungkinkan diadakan pengujian secara empiris. Permasalahan yang muncul dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana Jabodetabek? 2. Bagaimana gambaran kepuasan hidup masyarakat kelas menengah Jabodetabek? 3. Bagaimana gambaran kualitas hidup masyarakat kelas menengah Jabodetabek? 4. Bagaimana hubungan antara kebahagiaan dan kepuasan hidup masyarakat kelas menengah Jabodetabek? 5. Bagaimana hubungan antara kebahagiaan dan kualitas hidup masyarakat kelas menengah Jabodetabek? 6. Bagaimana hubungan antara kualitas hidup dan kepuasan hidup masyarakat kelas menengah Jabodetabek? 3.2 Hipotesis Penelitian Sebuah hipotesis merupakan dugaan, asumsi, prasangka, pernyataan atau gagasan mengenai sebuah fenomena, hubungan, atau situasi kenyataan gambaran kebahagiaan masyarakat kelas menengah

Universitas Indonesia

27

berdasarkan pengetahuan yang dimiliki (Kumar, 1999). Kumar juga menyatakan bahwa hipotesis membawa kejelasan dan membuat peneliti menjadi fokus pada permasalahan penelitian karena dapat memberikan arahan yang khusus. Menurut Seniati, Yulianto & Setiadi (2005) terdapat dua jenis hipotesis, yaitu hipotesis ilmiah dan hipotesis statistik. Berikut ini merupakan penjabaran lebih lanjut mengenai hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini. 3.2.1 Hipotesis Ilmiah Berdasarkan permasalahan tersebut maka dapat dibuat beberapa hipotesis ilmiah, yaitu: H1: Terdapat korelasi antara kebahagiaan dan kepuasan hidup pada masyarakat kelas menengah Jabodetabek H2: Terdapat korelasi antara kebahagiaan dan kualitas hidup pada masyarakat kelas menengah Jabodetabek H3: Terdapat korelasi antara kualitas hidup dan kepuasan hidup pada masyarakat kelas menengah Jabodetabek 3.2.2 Hipotesis Statistik Hipotesis statistik merupakan pernyataan yang dapat diuji secara statistik mengenai hubungan antara dua atau lebih variabel penelitian (Seniati, Yulianto & Setiadi, 2005). Adapun hipotesis statistik memiliki dua bentuk, yaitu hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan adanya hubungan antar variabel dan hipotesis null (Ho) yang menyatakan tidak adanya hubungan antar variabel. Berdasarkan pemaparan tersebut maka untuk penelitian ini hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut. 1. Hipotesis alternative (Ha) Ha1: Terdapat korelasi yang signifikan antara skor total Subjective Happiness Scale dengan skor Satisfaction With Life Scale Ha2: Terdapat korelasi yang signifikan antara skor total Subjective Happiness Scale dengan skor Global SEIQoL-DW.

Universitas Indonesia

28

Ha3: Terdapat korelasi yang signifikan antara skor Global SEIQoL-DW dengan skor Satisfaction With Life Scale 2. Hipotesis Null (Ho) Ho1: Tidak terdapat korelasi yang signifikan antara skor total Subjective Happiness Scale dengan skor Satisfaction With Life Scale. Ho2: Tidak terdapat korelasi yang signifikan antara skor total Subjective Happiness Scale dengan skor Global SEIQoL-DW. Ho3: Tidak terdapat korelasi yang signifikan antara skor Global SEIQoL-DW dengan skor Satisfaction With Life Scale. 3.3 Variabel Penelitian Pada penelitian ini digunakan tiga variabel, yaitu kebahagiaan, kepuasan hidap dan kualitas hidup. Berikut ini merupakan penjelasan masing-masing variabel. 3.3.1 Variabel I: Kebahagiaan Definisi konseptual dari kebahagiaan adalah penilaian menyeluruh tentang kehidupan secara lengkap yang meliputi aspek kognitif dan afektif. Sedangkan untuk definisi operasional dari kebahagiaan adalah skor total dari alat ukur Subjective Happiness Scale yang sudah diadaptasi secara budaya. Hal ini didapat dari mencari rata-rata dari masing-masing skor item yang memiliki rentang 1-6. Skor total yang didapatkan pun memiliki rentang 1-6 Semakin besar skor, menunjukkan kebahagiaan yang semakin besar pula (Lyubomirsky dan Lepper, 1997). 3.3.2 Variabel II: Kepuasan Hidup Definisi konseptual dari kepuasan hidup adalah sebuah kesenangan atau penerimaan seseorang atas peristiwa di dalam hidupnya atau pemenuhan keinginan dan kebutuhan seseorang di dalam kehidupannya secara menyeluruh. Sedangkan definisi operasionalnya adalah skor total dari alat ukur Satisfaction With Life Scale (SWLS) yang sudah diadaptasi secara budaya. Skor dari masing-masing item memiliki rentang 1-6. Skor total didapatkannya dengan

Universitas Indonesia

29

menjumlahkan skor pada masing-masing item. Semakin besar skor menunjukkan semakin besar pula kepuasan hidup yang dimilikinya. 3.3.3 Variabel III: Kualitas Hidup Definisi konseptual kualitas hidup yang digunakan adalah penilaian/evaluasi individu terhadap aspek spesifik kehidupannya yang dianggap penting. Hal ini dilihat dengan cara melihat aspek-aspek apa yang dianggap penting oleh individu dan penilaian mengenai kondisi individu pada aspek-aspek tersebut. Sedangkan definisi operasionalnya adalah dengan cara melihat lima aspek kehidupan yang dianggap penting oleh individu. Kemudian individu tersebut diminta untuk menilai kondisi hidupnya dengan skala 0-100, di mana angka 0 menunjukkan bahwa kondisi individu pada aspek tertentu berada pada kemungkinan terburuk, sedangkan angka 100 menunjukkan bahwa kondisi individu pada aspek tertentu berada pada kemungkin terbaik. Setelah itu tingkat kepentingan diukur dengan melihat proporsi masing-masing aspek dengan pie chart sehingga bila dijumlahkan seluruh tingkat kepentingan masing-masing aspek adalah 100. Semakin besar skor menunjukkan semakin tinggi pula tingkat kualitas hidup.

Universitas Indonesia

30

BAB 4 METODE PENELITIAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai metode penelitian yang digunakan meliputi responden penelitian, desain penelitian, alat ukur, kemudian prosedur penelitian dan metode pengolahan data. 4.12. Desain Penelitian Kumar (1999) membagi desain penelitian berdasarkan tiga perspektif yang berbeda, yaitu number of contacts, reference of period, dan nature of investigation. Berdasarkan number of contacts, penelitian ini tergolong sebagai penelitian cross-sectional karena hanya dilakukan sekali pengambilan data. Desain penelitian ini digunakan ketika ingin melihat gambaran mengenai suatu fenomena di saat penelitian dilakukan. Sedangkan bila berdasarkan reference of period, penelitian ini tergolong sebagai penelitian retrospective karena penelitian ini ingin melihat fenomena yang terjadi masa lalu sehingga responden diminta untuk mengingat siatuasi yang telah terjadi. Data yang digunakan pun merupakan data yang tersedia hanya pada saat penelitian dilakukan. Berdasarkan nature of investigation, penelitian ini tergolong sebagai penelitian non-experimental, karena tidak adanya manipulasi perlakuan terhadap variabel yang digunakan untuk melihat pengaruh dari suatu variabel (Kumar, 1999). 4.2.1 Responden Penelitian 4.21.1 Populasi penelitian Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah masyarakat kelas menengah yang tinggal di Jabodetabek pada rentang usia dewasa. Seperti yang telah diutarakan pada bab sebelumnya bahwa kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup seseorang tidaklah dipengaruhi oleh faktor usia (Argyle, 1999; Carr, 2004; Eddington & Shuman, 2005). Oleh karena itu pada penelitian ini kriteria dewasa diambil karena dianggap sudah melewati konflik identity versus identity confusion sehingga dapat mengevaluasi diri secara lebih baik (Miller, 1993). Hal ini dipilih untuk memudahkan dalam pengisian kuesioner yang

Universitas Indonesia

31

berbentuk lapor diri (self report). Sedangkan kelas menengah dipilih karena pada kelas ekonomi ini diharapkan telah memenuhi kebutuhan dasar physiological dan safety pada teori hirarki kebutuhan Maslow. Ketika kebutuhan dasar tersebut belum terpenuhi, maka kebahagiaan individu cenderung dipengaruhi oleh hal-hal yang sifatnya materialistis, seperti uang untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan (Izawa, 2005). Selanjutnya populasi yang digunakan juga minimal berpendidikan SMU karena diharapkan sudah memiliki berbagai macam pemahaman yang diperoleh selama sekolah yang dapat membantu pengerjaan kuesioner yang digunakan. 4.12.2 Karakteristik Responden Berdasarkan pemikiran yang telah dijabarkan pada sub bab sebelumnya, maka karakteristik dari responden yang dapat mengikuti penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Pengeluaran keluarga lebih dari tiga juta rupiah perbulannya Pemilihan batasan ini berdasarkan pada kriteria kelas menengah dari AC Nielsen (dalam Harinowo, 2008). b. Berusia minimal 18 tahun Karakteristik ini dipilih sesuai dengan batasan umur dewasa karena dianggap telah melewati konflik identity versus identity confusion (Miller, 1993). c. Pendidikan minimal SMU d. Berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi 4.12.3 Teknik Pengambilan Sampel Sampling merupakan pengambilan porsi dari populasi sebagai perwakilan dari populasi (Kerlinger dan Lee, 2000). Teknik pengambilan sampel yang dilakukan termasuk dalam non-random/non-probability sampling di mana seluruh individu di dalam populasi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sampel (Kerlinger dan Lee, 2000). Menurut Kumar (1999) teknik ini digunakan bila jumlah di dalam populasi tidak diketahui atau tidak dapat diidentifikasi secara individual. Jenis non-random/probability sampling yang dipakai adalah accidental sampling, di mana pemilihan partisipan didasarkan pada ketersediaan

Universitas Indonesia

32

dan kemudahan dalam mengakses populasi partisipan penelitian (Kumar, 1999). Pada penelitian ini digunakan metode household survey dengan cara mendatangi rumah-rumah yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Metode ini digunakan untuk mempermudah pengambilan data pada wilayah yang besar karena mampu memperoleh jumlah partisipan yang banyak dalam satu rumah. 4.12.4 Jumlah Partisipan Kerlinger dan Lee (2000) mengatakan bahwa semakin besar jumlah sampel yang digunakan, maka kesalahan (error) statistik yang terjadi akan semakin kecil. Hal senada juga diutarakan oleh Kumar (1999), secara umum semakin besar jumlah sampel semakin tepat estimasi yang diberikan. Tetapi secara praktis, besarnya anggaran menentukan besarnya jumlah sampel. Pada penelitian ini sudah ditentukan dari awal bahwa sampel akan diambil dari 270 rumah yang tersebar di Jabodetabek. Masing-masing wilayah akan diambil sebanyak 30 rumah dan di tiap rumahnya diharapkan minimal terdapat satu orang yang menjadi responden sehingga memenuhi batas minimal sampel sebanyak 30 orang. Jumlah tersebut telah memenuhi batasan minimum dari tiga puluh orang sampel yang dapat mengakibatkan penyebaran data mendekati penyebaran distribusi normal (Guilford dan Fructher, 1981).

4.3. Metode Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai metode untuk mengumpulkan data. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang harus dijawab oleh subjek dengan menuliskan atau menandai jawaban yang dianggap tepat (Kumar, 1999). Peneliti memilih kuesioner sebagai alat pengumpul data karena biayanya relatif murah, tetapi dapat menjangkau subjek yang banyak dalam waktu singkat. Kuesioner juga memungkinkan peneliti untuk menjaga anonimitas subjek, karena tidak semua subjek merasa aman dan nyaman untuk membagi informasi yang mereka tulis di kuesioner tersebut. Selain itu, kuesioner dapat menghindari interviewer bias, seperti kualitas interviewer, kualitas interaksi, dan lain-lain (Kumar, 1999).

Universitas Indonesia

33

Kumar (1999) menyatakan bahwa kuesioner juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain: kuesioner hanya dapat diaplikasikan pada populasi yang dapat membaca dan menulis, respon pengembalian yang rendah terutama bila diberikan secara individual, subjek tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan klarifikasi dari pernyataan yang tidak dimengerti oleh mereka, subjek memiliki cukup banyak waktu untuk berefleksi sebelum memberikan jawaban, respon terhadap sebuah pertanyaan dapat dipengaruhi oleh respon terhadap pertanyaan lain, subjek memiliki kemungkinan untuk berkonsultasi dengan orang lain, jawaban yang diberikan oleh subjek tidak dapat ditambahkan dengan informasi lain (Kumar, 1999). 4.4. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan di dalam penelitian ini adalah tiga buah kuesioner alat ukur yang mengukur kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup. Di bawah ini merupakan penjelasan mengenai masing-masing kuesioner alat ukur tersebut. 4.4.1 Alat Ukur Subjective Happiness Scale Subjective Happiness Scale dikembangkan berdasarkan teori dari subjective well-being, bahwa kebahagiaan dinilai berdasarkan kriteria-kriteria subjektif yang dimiliki individu, sehingga dapat disimpulkan bahwa sumbersumber kebahagiaan bervariasi dari individu ke individu lain (Lyubomirsky dan Lepper, 1997). Pengembangan Subjective Happiness Scale ini dilakukan karena ketidakpuasan pembuat inventory pada alat ukur yang mengukur subjective wellbeing. Alat-alat ukur yang sudah ada, biasanya hanya melihat masing-masing komponen dari subjective well-being. Sedangkan alat ukur yang melihatnya secara global biasanya hanya terdiri dari satu item saja sehingga sulit untuk dilakukan pengujian properti psikometri. Oleh karena itu, pembuat inventory ini merasa diperlukan adanya alat ukur yang mengukur subjective well-being secara global dan terdiri dari beberapa item sehingga dapat diuji properti psikometrinya (Lyubomirsky dan Lepper, 1997). Salah satu item yang terdapat dalam alat ukur

Universitas Indonesia

34

tersebut adalah pernyataan Secara umum, saya menganggap diri saya yang kemudian responden diminta untuk menilai keadaan dirinya pada skala 1 (bukan orang yang sangat bahagia) hingga 6 (orang yang sangat bahagia). 4.4.1.1 Metode Skoring Alat ukur ini terdiri dari empat item dengan pilihan jawaban politomi yang memiliki rentang 1-7. Namun setelah dilakukan adaptasi budaya, maka yang digunakan pada penelitian ini adalah rentang 1-6. Item-item nomor 1, 2, dan 3 merupakan pernyataan positif, sedangkan pada nomor 4 merupakan pernyataan negatif. Maka untuk penyataan positf, skala 6 menunjukkan kondisi yang bahagia sedangkan untuk pernyataan negatif skala 6 menunjukkan kondisi tidak bahagia. Skor total didapat dengan acara mencari rata-rata nilai dari jumlah skor masingmasing item. Semakin besar skor, menunjukkan kebahagiaan yang semakin besar pula (Lyubomirsky dan Lepper, 1997). 4.4.2 Alat Ukur Satisfaction With Life Scale Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kepuasan hidup responden pada penelitian ini adalah Satisfaction With Life Scale (SWLS). SWLS dikembangkan untuk mengukur kepuasan hidup seseorang secara menyeluruh, yang merupakan komponen kognitif dari subjective well-being. Alat ukur ini tidak mengukur kepuasan terhadap domain kehidupan, seperti kesehatan atau keuangan, tetapi memberikan kesempatan pada responden untuk menggabungkan dan mengukur domain-domain tersebut dalam cara apapun yang ingin mereka pilih (Pavot & Diener, 1993). Skala yang mengukur kepuasan hidup secara umum sebenarnya sudah banyak dikembangkan sebelumnya. Sayangnya, mayoritas skala tersebut hanya terdiri dari satu item, sehingga memiliki banyak kekurangan. Selain itu, skalaskala yang ada tersebut dibuat dan hanya sesuai untuk populasi usia lanjut atau manula saja (Diener, Emmons, Larsen, & Griffin, 1985). Oleh karena itu, dibutuhkanlah skala multi-item untuk mengukur kepuasan hidup secara global.

Universitas Indonesia

35

4.4.2 .1 Metode Skoring SWLS terdiri dari lima buah item yang berupa pernyataan (Diener, Emmons, Larsen, & Griffin, 1985). Pada setiap item, responden diminta untuk memberikan persetujuan menggunakan skala 1-7. Namun setelah dilakukan adaptasi secara budaya, maka skala yang digunakan menjadi 1-6 dimana skala tersebut mengandung arti 1 = sangat tidak sesuai, 2 = tidak sesuai, 3 = agak tidak sesuai, 4 = agak sesuai, 5 = sesuai, 6 = sangat sesuai. Skor total diperoleh dengan menjumlahkan skor dari kelima item. Setiap item memiliki nilai dari 1 hingga 6. Skor total diperoleh dengan cara mencari jumlah total kelima item sehingga kisaran skor total yang diperoleh pada alat ukur ini adalah dari 5-30. Semakin besar skor menunjukkan semakin besar pula kepuasan hidup yang dimiliki (Pavot & Diener, 1993). Salah satu item yang terdapat pada alat ukur ini adalah pernyataan Dalam berbagai hal, hidup saya mendekati kehidupan yang saya inginkan. 4.4.3 Alat Ukur Schedule for Evaluation of Individual Quality of Life Direct Weighing Sebelum dikembangkannya SEIQoL, metode untuk mengevaluasi kualitas hidup seseorang hanya didasarkan pada sistem nilai eksternal. Komponenkomponen dari kuesioner pun biasanya terstandarisasi dan sudah baku. Walau pengukuran tersebut reliabel, relevansi kualitas hidup pada seorang individu mungkin saja tidak relevan. Hal ini terjadi karena tingkah laku yang sama belum tentu berarti sama pada orang lain. Untuk benar-benar mengukur kualitas hidup seseorang, diperlukan alat ukur yang dapat mengevaluasi aspek kehidupan yang penting bagi individu, di mana individu tersebut menilai sendiri kondisinya pada aspek kehidupan yang ia anggap penting, dan menilai sendiri aspek mana yang paling penting bagi dirinya pada waktu tertentu (Hickey, Bury, OBoyle, Bradley, OKelly, dan Shannon, 1996). SEIQoL dikembangkan untuk melihat kualitas hidup individu melalui perspektif orang itu sendiri. Alat ukur ini merupakan instrumen pengukuran

Universitas Indonesia

36

dengan dasar wawancara dengan menggunakan decision analysis technique yang dikenal dengan nama judgment analysis. Namun, penggunaannya dan pengolahan data yang didapat sangatlah kompleks sehingga dikembangkan versi pendek dari alat ukur tersebut dengan menggunakan teknik direct weighing. Alat ukur versi pendek dari SEIQoL tersebut, dikenal dengan nama SEIQoL-DW. Hasil yang diperoleh dari SEIQoL-DW telah dibandingkan dengan SEIQoL dan terbukti valid dan reliabel dalam mengukur domain kualitas hidup (Hickey, Bury, OBoyle, Bradley, OKelly, dan Shannon, 1996).

4.4.3 .1 Metode skoring Alat ukur ini terdiri dari 3 item yang saling berhubungan. Pada item pertama, subjek diminta untuk menyebutkan lima aspek kehidupan yang dianggap penting oleh individu. Kemudian pada item kedua, subjek diminta untuk menilai kondisi hidupnya dengan skala 0-100, di mana angka 0 menunjukkan bahwa kondisi subjek pada aspek tertentu berada pada kemungkinan terburuk, sedangkan angka 100 menunjukkan bahwa kondisi subjek pada aspek tertentu berada pada kemungkin terbaik. Setelah itu pada item ketiga, subjek diminta untuk menyebutkan tingkat kepentingan masing-masing aspek. Tingkat kepentingan ini diukur dengan melihat proporsi masing-masing aspek yang bila dijumlahkan seluruh tingkat kepentingan masing-masing aspek adalah 100. Skor total diperoleh dengan mengalikan penilaian individu tentang kondisinya saat ini dengan proporsi kepentingan pada masing-masing aspek, lalu menjumlahkan keseluruhan hasil kelima aspek tersebut. 4.4.4 Data Partisipan Selain ketiga alat ukur yang digunakan, yakni Subjective Happiness Scale (SHS), Satisfaction With Life Scale (SWLS), dan Schedule for Evaluation of Individual Quality of Life Direct Weighing (SEIQoL-DW), di dalam kuesioner pun disertakan pula Data Partisipan. Data partisipan memuat pertanyaan-

Universitas Indonesia

37

pertanyaan untuk mengontrol subjek penelitian berdasarkan karakteristik yang sudah ditetapkan sebelumnya dan diharapkan dapat memberikan gambaran karakteristik umum subjek penelitian secara jelas. Terdapat dua jenis Data Partisipan, yaitu data partisipan yang harus diisi oleh masing-masing respondendan data keluarga yang cukup diisi satu pada tiap rumah. Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada data partisipan individual meliputi berbagai hal yang berkaitan dengan variabel demografis, yaitu: usia, jenis kelamin, status pernikahan, usia pernikahan, kedudukan dalam keluarga, latar belakang pendidikan, status pekerjaan, penghasilan, pengeluaran, dan daerah tempat tinggal. Sedangkan untuk data keluarga meliputi jumlah anggota keluarga, sumber penghasilan keluarga, jumlah pengeluaran rutin perbulan, dan jumlah pengeluaran tidak rutin perbulan. Keseluruhan data tersebut digunakan untuk melihat kesesuaian karakteristik responden dengan karakteristik populasi yang diinginkan. 4.5. Prosedur Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian payung yang beranggotakan sembilan orang mahasiswa. Oleh karena itu semua prosedur penelitian ini dilaksanakan bersama-sama dengan semua peneliti lain. Rangkaian proses penelitian ini juga meliputi proses adaptasi alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian. Seluruh prosedur ini terbagi ke dalam empat tahapan, yaitu tahap persiapan, uji coba alat ukur, pelaksanaan dan tahap akhir. 4.5.1. Tahap Persiapan Hal-hal yang dilakukan dalam tahap persiapan antara lain : 1. Menentukan topik atau permasalahan yang akan diteliti 2. Mencari informasi lebih jauh mengenai fenomena yang akan diteliti, meliputi studi kepustakaan serta informasi lainnya melalui internet. 3. Merumuskan permasalahan penelitian 4. Membuat hipotesis penelitian 5. Menentukan populasi dan sampel penelitian yang akan digunakan dalam penelitian.

Universitas Indonesia

38

6. Melakukan adaptasi alat ukur Pada penelitian ini alat ukur yang digunakan adalah Subjective Happiness Scale, Satisfaction With Life Scale dan Schedule for Evaluation of Individual Quality of Life Direct Weighing (SEIQoL-DW). Ketiga alat ukur ini sering digunakan di luar negeri dan memiliki nilai validitas serta reliabilitas yang baik. Namun agar dapat digunakan di Indonesia, ketiga alat ukur ini perlu diadaptasi terlebih dahulu sesuai dengan budaya dan populasi yang dituju. Karena penelitian ini merupakan penelitian payung, maka proses pengadaptasian alat ukur ini dilakukan peneliti bersama dengan peneliti lain yang memang secara fokus membahas tentang pengadaptasian alat ukur. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam adaptasi ketiga alat ukur tersebut adalah: 1) Menerjemahkan bahasa yang digunakan alat ukur ke dalam bahasa Indonesia, sesuai dengan bahasa yang umum digunakan oleh responden penelitian 2) Melakukan back translate. Hal ini dilakukan untuk memeriksa apakah hasil terjemahan tidak mengubah maksud atau isi dari kalimat aslinya. 3) Melakukan uji keterbacaan terhadap alat ukur yang telah diterjemahkan. Hal ini dilakukan dengan menanyakan kejelasan isi alat ukur kepada 25 orang yang sesuai dengan karakteristik populasi penelitian. Subjek dibagi ke dalam beberapa kelompok focus group discussion agar dapat lebih menggali pendapat mereka. Pertanyaan yang diajukan antara lain adalah bagaimana bentuk pernyataan dalam alat ukur, apakah pernyataan yang diberikan cukup jelas atau membingungkan, adakah saran agar alat ukur lebih baik dimengerti. 4) Merevisi alat ukur berdasarkan hasil uji keterbacaan. Revisi yang dilakukan antara lain adalah mengubah skala pada alat ukur Subjective Happiness Scale dan Satisfaction With Life Scale. Dari skala 1-7 menjadi skala 1-6 untuk menghilangkan nilai netral yang dapat membingungkan responden. 5) Melakukan uji coba alat ukur. Uji coba ini dilakukan menggunakan responden yang lebih besar, yaitu 89 orang pada tanggal 4-15 Maret 2009.

Universitas Indonesia

39

6) Menguji reliabilitas, validitas, dan analisis item alat ukur 7) Melakukan revisi alat ukur berdasarkan hasil uji coba. 8) Melakukan latihan pengambilan data 7. Memperbanyak kuesioner yang berisi ketiga alat ukur tersebut dan data partisipan yang akan disebarkan kepada responden. 8. Memilih dan membeli reward yang akan diberikan kepada partisipan sebagai ucapan terima kasih. 9. Membuat dan mengurus surat perizinan dari pihak Fakultas yang dilanjutkan kepada pengurus RT/RW dari sembilan wilayah Jabodetabek untuk melakukan pengambilan data wilayah tersebut. 4.5.2 Tahap Uji Coba Alat Ukur Setelah seluruh item pada masing-masing alat ukur selesai diterjemahkan kemudian disusun menjadi kuesioner yang terdiri dari tiga bagian. Tim peneliti kemudian melakukan uji coba kuesioner tersebut terhadap sejumlah orang yang sesuai dengan karakteristik responden penelitian ini. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai proses uji coba alat ukur yang terdiri dari dua tahap, yaitu Expert judgment dan uji keterbacaan, serta Try Out Alat Ukur. 4.5.2.1 Expert judgment dan uji keterbacaan Expert judgment dilakukan kepada dosen pembimbing yang juga merupakan dosen bagian Psikologi Klinis. Kuesioner yang sudah jadi didiskusikan bersama antara tim peneliti dan dosen pembimbing. Sedangkan untuk uji keterbacaan dilakukan terhadap 30 orang yang sesuai karakteristik responden yang terbagi ke dalam lima kelompok focus group discussion. Hasil yang diperoleh untuk masing-masing alat ukur adalah sebagai berikut: a. Alat Ukur Happiness Scale (SHS) Hampir semua subjek mengalami kesulitan pada item nomor 3 dan 4 karena kalimat yang digunakan terlalu panjang sehingga menjadi sulit dimengerti. Oleh karena itu dilakukan revisi dengan mengganti kalimat menjadi kalimat yang lebih mudah dipahami oleh orang awam. Selain itu, ternyata skala 1-7 yang digunakan membuat subjek cenderung untuk

Universitas Indonesia

40

memilih skala 4 yang mengandung nilai netral. Untuk mengatasi hal tersebut, skalanya diubah menjadi 1-6 untuk menghilangkan skala yang bernilai netral. b. Alat Ukur Satisfaction With Life Scale (SWLS) Sama seperti pada alat ukur SHS, ternyata untuk alat ukur SWLS ini skala 1-7 membuat subjek menjadi bingung karena terdapat nilai netral. Oleh karena itu skala akhirnya diganti menjadi skala 1-6 dengan menghilangkan nilai netral. Selain itu keterangan skala juga diganti karena agak sulit dimengerti oleh subjek. Untuk item itu sendiri terdapat perubahan pada item nomor 1, yaitu kata ideal diganti menjadi yang saya inginkan agar dapat lebih mudah dimengerti responden. c. Alat Ukur Schedule for Evaluation of Individual Quality of Life Direct Weighing (SEIQoL-DW) Secara umum tidak terdapat kesulitan yang dialami subjek pada instruksi ketiga item alat ukur ini, tapi terdapat beberapa masukan. Untuk item pertama hampir semua subjek merasa kesulitan untuk mengerjakannya karena mereka tidak mengerti dengan konsep aspek kehidupan yang digunakan dalam item. Selain itu, mereka juga bingung menentukan aspek yang penting dalam hidupnya karena mereka tidak mempunyai contoh. Oleh karena itu disarankan untuk memberikan contoh atau daftar aspek kehidupan yang dapat memudahkan responden. Pada item ketiga peneliti memberikan dua bentuk alternatif. Kebanyakan subjek lebih memilih alternatif kedua, yaitu memberikan proporsi kepentingan secara langsung pada tiap aspek dibandingkan dengan alternatif pertama dengan cara menggambarkan proporsi. Setelah alat ukur direvisi sesuai dengan hasil uji keterbacaan kemudian dilakukan uji keterbacaan kembali terhadap sembilan orang subjek yang menguasai bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan baik, dan sesuai dengan karakteristik sampel penelitian. Hasil uji keterbacaan ini menunjukkan bahwa semua subjek merasakan bahwa baik alat ukur yang asli maupun adaptasi merupakan alat ukur yang sama dan tidak terjadi perubahan makan pada tiap item

Universitas Indonesia

41

alat ukur. Sehingga dapat dikatakan bahwa terjemahan yang digunakan sudah cukup baik. Maka tahapan selanjutnya adalah melakukan try out alat ukur. 4.5.2.2 Try Out Alat Ukur Try Out dilakukan terhadap 89 orang subjek yang memiliki karakteristik yang sama dengan responden penelitian. Uji coba ini dilakukan pada tanggal 4-15 Maret 2009. Berdasarkan hasil uji coba ini dilakukan perhitungan reliabilitas, validitas dan analisis item pada masing-masing alat ukur sehingga alat ukur tersebut dapat dianggap layak digunakan dalam penelitian ini. Oleh karena itu pada uji coba ini selain ketiga alat ukur yang digunakan disertakan pula alat ukur Inventori Karakteristik Aktualisasi Diri (IKAD) dan Back Depression Inventory (BDI) untuk uji validitas konvergen. Untuk pengujian reliabilitas, validitas dan analisis item ketiga alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini dihitung secara khusus oleh salah satu anggota payung penelitian yang memang mengkhususkan pada proses pengadaptasian alat ukur. Pengujian reliabilitas dibutuhkan untuk melihat konsistensi skor dari orang yang mengerjakan tes saat dites kembali dengan tes yang serupa atau dengan bentuk yang setara dari tes. (Anastasi dan Urbina, 1997). Cohen dan Swerdlik (2005) mengatakan bahwa reliabilitas mengacu pada konsistensi dalam pengukuran. Terdapat berbagai jenis pengujian reliabilitas. Pada penelitian ini untuk pengujian alat ukur subjective happiness scale dan satisfaction with life scale digunakan penghitungan keofisien alpha. Hal ini karena ingin melihat internal consistency dari kedua alat ukur tersebut. Alat ukur tersebut dikatakan reliabel apabila memiliki konsistensi internal yang tinggi yaitu bila item-itemnya secara konsisten mengukur satu konstruk yang sama. Selain pengujian reliabilitas, alat ukur yang baik juga perlu diuji validitasnya, yaitu apakah alat ukur tersebut benar-benar mengukut hal yang ingin diukur. Validitas adalah penilaian atau estimasi seberapa jauh suatu tes mengukur apa yang hendak di ukur dalam konteks tertentu (Cohen & Swerdlik, 2005). Sebuah konstruk dikatakan valid apabila hasil yang didapatkan dari alat ukur tertentu berkorelasi dengan variabel lain yang secara teoritis berkorelasi dengan konstruk tersebut (Anastasi dan Urbina, 1997). Secara teoritis, konstruk subjective

Universitas Indonesia

42

happiness berhubungan dengan teori hirarki kebutuhan dari Maslow (Izawa, 2004). Seseorang akan merasa lebih bahagia terhadap hidupnya bila kebutuhankebutuhannya terpenuhi (Izawa, 2004). Inventori Karakteristik Aktualisasi Diri (IKAD) ingin melihat karakteristik aktualisasi diri dari individu. Berdasarkan pemikiran tersebut, seseorang yang memiliki karakteristik aktualisasi diri merupakan individu yang dapat memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya. Selain itu, ketika seseorang telah memiliki karakteristik aktualisasi diri, berarti kebutuhan-kebutuhan yang lebih rendah dari aktualisasi diri pun lebih terpenuhi. Sehingga dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki karakteristik aktualisasi diri memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi. Lebih lanjut, gangguan depresi merupakan kelainan mengenai perasaan dasar (mood). Penilaian subjective happiness dipengaruhi oleh mood sesuai dengan mekanisme subjective well-being, sehingga terdapat hubungan secara teoritis antara subjective happiness dengan gangguan depresi. Hal ini berarti, semakin tinggi tingkat subjective happiness seharusnya diikuti dengan semakin rendahnya tingkat depresi. Oleh karena itu, pada penelitian ini pengujian validitas menggunakan alat ukur BDI dan IKAD yang digunakan sebagai kriteria eksternal. Kedua alat ukur tersebut sebelumnya sudah teruji validitas dan reliabilitasnya. Untuk IKAD memiliki internal konsistensi sebesar 0.911 sedangkan uji validitas dilakukan dengan melihat korelasi dengan skor total dari setiap dimensi dan melihat kecocokan hasil interpretasi dengan keadaan diri individu. Hasil korelaso signifikan pada los 0.01 dan hasil kecocokan antara interpretasi dengan keadaan diri memperoleh presentase sebesar 64,93-88,81% (Lesmana, Christia, Basri, Saraswati, 2006). Untuk alat ukur BDI uji validitas dilakukan dengan menggunakan teknik statistik Kolmogorov-Smirnov Two Independent Sample Test dan diperoleh hasil yang signifikan pada LoS 0.01 (Suwantara, Lubis dan Rusli, 2005). Selanjutnya pada sebuah alat ukur, item yang baik adalah item yang dapat membedakan individu dengan atribut yang tinggi dengan individu dengan atribut rendah (Cohen & Swerdlik, 2005). Dalam penghitungannya daya beda tersebut dapat dilihat dengan cara melihat corrected item-total correlation, yaitu merupakan korelasi antara item dalam alat ukur dengan skor total item tanpa

Universitas Indonesia

43

memasukkan skor item yang diperiksa tersebut. Item yang memiliki daya beda yang baik adalah item yang memiliki koefisien corrected item-total correlation di atas 0,2. Sedangkan item yang memiliki koefisien dibawah itu akan dieliminasi atau perlu direvisi. Berikut ini merupakan penjabaran hasil uji coba pada masing-masing alat ukur. a. Alat Ukur Happiness Scale (SHS) Alat ukur ini mengukur konstruk kebahagiaan yang merupakan konstruk unidimensional sehingga item-item yang terdapat dalam alat ukur ini merupakan item-item yang mengukur satu hal yang sama. Oleh karena itu, item-item dalam alat ukur ini merupakan item yang homogen yang diharapkan benar-benar secara konsisten mengukur satu konstruk yang sama. Penghitungan reliabilitas dengan menggunakan SPSS 17.0 didapatkan nilai koefisien alpha sebesar 0.640. Maka dapat dikatakan bahwa sebanyak 64% varians merupakan varians true score dan 36 % varians merupakan varians error. Menurut Aiken & Groth-Marnat (2006) nilai minimum reliabilitas adalah 0.6 sehingga nilai diatas 0.6 sudah dianggap baik. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa alat ukur SHS ini merupakan alat ukur yang reliabel. Sedangkan untuk pengujian validitas, skor SHS ini dikorelasikan dengan skor BDI dan diperoleh hasil yang signifikan pada los 0.05 (p=0.002) dengan koefisien korelasi sebesar -0.318. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kebahagiaan seseorang akan diikuti dengan semakin rendahnya tingkat depresi yang dimiliki. Selanjutnya skor SHS ini juga dikorelasikan dengan skor IKAD dan diperoleh hasil yang signifikan pada los 0.05 (p=0.003) dengan koefisien korelasi sebesar 0.310. Oleh karena itu dapat dikatakan bahawa dengan semakin tingginya tingkat kebahagiaan seseorang akan diikuti dengan semakin tinggi pula karakteristik aktualisasi diri. Berdasarkan kedua korelasi tersebut menunjukkan bahwa alat ukur SHS ini dapat secara tepat mengukur konstruk kebahagiaan.

Universitas Indonesia

44

Untuk pengujian analisis item keempat item yang terdapat pada alat ukur ini telah memenuhi persyaratan item yang baik, yaitu seluruh item mempunyai koefisien corrected item-total correlation di atas 0,2. Maka dapat dikatakan bahwa item-item yang terdapat pada alat ukur ini mampu membedakan individu yang mempunyai tingkat kebahagiaan tinggi dengan indvidu yang tingkat kebahagiaannya rendah. Berikut ini merupakan hasil penghitungan corrected item-total correlation dengan menggunakan SPSS 17.0: Tabel 4.1 Analisis Diskriminasi Item Subjective happiness scale Subject ive happiness scale 0.640) Item No. 1 Item No. 2 Item No. 3 Item No. 4 b. Alat Ukur Satisfaction With Life Scale (SWLS) Sama halnya dengan kebahagiaan, konstruk kepuasan hidup juga merupakan konstruk yang unidimensional sehingga item-item yang terdapat pada Satisfaction With Life Scale (SWLS) merupakan item-item yang mengukur satu konstruk yang sama. Oleh karena itu diharapkan lat ukur ini memiliki item-item yang homogen dan benar-benar secara konsisten mengukur satu konstruk yang sama. PBerdasarkan pada penghitungan reliabilitasyang menggunakan SPSS 17.0 didapatkan koefisien alpha sebesar 0.76640. Hal ini menunjukkan bahwa 64 % varians merupakan varians true score dan 36 % varians merupakan 0.225 0.781 0.459 0.547 0.554 0.490 0.601 0.481 ( = d Correcte Item-Total Correlation Alpha Coef. If Item Deleted

Universitas Indonesia

45

varians error. Aiken & Groth-Marnat (2006) menyebutkan bahwa batas reliabilitas yang dianggap baik adalah bila diatas 0.6. Maka dapat dikatakan bahwa alat ukur SWLS ini merupakan alat ukur yang reliabel. Untuk pengujian validitas SWLS juga sama seperti SHS yaitu dengan melakukan korelasi dengan skor BDI dan IKAD. Hasil koefisien korelasi antara skor SWLS dengan skor BDI diperoleh sebesar -0.399 yang signifikan pada los 0.05 (p=0.000). Hal ini berarti semakin besar tingkat kepuasan hidup seseorangan akan diikuti pula dengan semakin rendahnya tingkat depresi yang dimiliki. Selanjutnya untuk korelasi dengan skor IKAD diperoleh koefisien korelasi sebesar 0.368 yang signifikan pada los 0.05 (p=0.006). Menurut Aiken & Groth-Marnat (2006) nilai minimum reliabilitas adalah 0.6 sehingga nilai diatas 0.6 sudah dianggap baik. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa kedua alat ukur SHS dan SWLS ini merupakan alat ukur yang reliabel karena koefisien yang diperoleh lebih besar dari 0.6 dan dapat dikatakan bahwa item-item dalam alat ukur ini merupakan item yang homogen yang diharapkan benar-benar secara konsisten mengukur satu konstruk yang sama. Untuk pengujian validitas, kedua alat ukur ini memiliki korelasi positif yang signifikan pada los 0.05 terhadap nilai IKAD dan korelasi negatif yang signifikan pada los 0.05 dengan nilai BDI. Berdasarkan kedua korelasi tersebut menunjukkan bahwa alat ukur SHS dan SWLS merupakan alat ukur yang valid. Untuk pengujian analisis item kesemua item yang terdapat pada masing-masing alat ukur tersebut telah memenuhi persyaratan item yang baik, yaitu seluruh item mempunyai koefisien corrected item-total correlation di atas 0,2. hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kepuasan hidup seseorang akan diikuti pula dengan semakin tingginya karakteristik aktualisasi diri yang dimilikinya. Berdasarkan kedua korelasi tersebut dapat disimpulkan bahwa alat ukur SWLS ini dapat secara tepat mengukur konstruk kepuasan hidup.

Universitas Indonesia

46

Sedangkan untuk pengujian analisis item SWLS diperoleh hasil bahwa kelima item yang terdapat dalam alat ukur tersebut memiliki corrected item-total correlation di atas 0,2. Sehingga dapat dikatakan bahwa keseluruhan item merupakan item yang mempunyai daya beda yang baik dalam arti dapat membedakan antara individu yang tingkat kepuasan hidupnya tinggi dengan individu yang tingkat kepuasan hidupnya rendah. Berikut ini merupakan hasil perhitungan corrected item-total correlation dengan menggunakan SPSS 17.0:

Tabel 4.2 Analisis Diskriminasi Item Satisfaction With Life Scale Satisfaction With Life Scale ( = 0.760) Item No. 1 Item No. 2 Item No. 3 Item No. 4 Item No. 5 Corrected ItemTotal Correlation 0.631 0.518 0.567 0.615 0.428 Alpha Coef. If Item Deleted 0.690 0.725 0.705 0.688 0.787

c. Alat Ukur Schedule for Evaluation of Individual Quality of Life Direct Weighing (SEIQoL-DW) Alat ukur ini sebenarnya merupakan alat ukur yang dikembangkan dari wawancara berstruktur yang terdiri dari 3 pertanyaan yang saling berkaitan. Karena jenisnya yang berbeda pada tiap itemnya maka ketiga item tersebut tidak dapat diukur konsitensinya. Oleh karena itu, untuk pengujian ini peneliti hanya melakukan pengujian validitas, yaitu untuk melihat seberapa tepat tes mengukur apa yang hendak diukur (Anastasi & Urbina, 1997). Berdasarkan hasil penghitungan korelasi antara skor SEIQOL-DW dengan skor BDI didapatkan hasil yang signifikan pada los 0.05 (p=0.013) dengan koefisien korelasi sebesar -0.262. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kualitas hidup seseorang akan diikuti dengan semakin rendahnya tingkat depresi yang dimilikinya. Selanjutnya untuk korelasi antara skor SEIQOL-DW dengan skor IKAD diperoleh

Universitas Indonesia

47

hasil yang tidak signifikan pada los 0.05 (p=0.066) dengan koefisien korelasi sebesar 0.541. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi yang signifikan antara global quality of life dengan karakteristik aktualisasi diri. 4.5.3 Tahap Pelaksanaan Hal-hal yang dilakukan dalam tahap pelaksanaan antara lain : 1. Melakukan pengambilan data Pengambilan data dilakukan dengan metode survei, yaitu household survey. Peneliti memilih 30 rumah dari setiap daerah di Jakarta dan sekitarnya yang dilaksanakan pada tanggal 26 Maret 2009 17 April 2009. Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai proses pengambilan data yang dilakukan bersama-sama dalam payung penelitian ini: Pengambilan data dilakukan di kelima kotamadya di Jakarta dan juga di Bogor, Tangerang, Depok serta Bekasi. Pada tiap wilayahnya ditargetkan 30 rumah. Pemilihan sampel yang dilakukan tidaklah secara random tetapi berdasarkan pada lokasi tempat tinggal para peneliti berada. Pertama-tama peneliti meminta izin pada ketua RT sebagai pihak yang berwenang di daerah pengambilan data. Setelah memperoleh izin, pengambilan data dilakukan dengan mendatangi rumah-rumah. Peneliti tidak mengambil data di wilayah tempat tinggalnya sendiri melainkan dilakukan oleh peneliti payung lainnya. Di setiap rumah, data diambil dari seluruh anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut yang memenuhi karakteristik subjek penelitian, yaitu berusia 18 tahun ke atas dengan pendidikan minimal SMA, dan berada pada kelas sosial menengah ke atas. Pada saat memberikan kuesioner, peneliti menjelaskan cara pengisiannya terlebih dahulu kepada para responden. Apabila responden bersedia langsung mengisi kuesioner tersebut, maka peneliti akan menungguinya. Tetapi bila tidak, maka kuesioner

Universitas Indonesia

48

akan ditinggal dan diambil kembali keesokan harinya. Begitu pula yang terjadi bagi responden lainnya yang terdapat di dalam rumah tersebut namun pada saat peneliti datang sedang tidak berada di rumah. 2. Mengumpulkan dan menyiapkan data untuk diolah. Peneliti mengumpulkan kembali semua kuesioner yang telah disebar sebelumnya. Peneliti juga mengecek kelengkapan pengisian kuesioner. Bila ada yang kurang lengkap, peneliti mencoba menanyakan kembali kepada responden. Pada pengambilan data pada 291 keluraga berhasil diperoleh kuesioner sebanyak 583 buah, tetapi setelah dilakukan pengecekan hanya terdapat 578 kuesioner yang dapat digunakan. Bila berdasarkan rencana, maka hanya diambil 270 rumah, tetapi ternyata dalam proses pengambilannya pada beberapa wilayah melebihi target. Hal ini terjadi karena peneliti mengantisipasi pada beberapa keluarga yang kemungkinan pengembalian kuesionernya rendah, sehingga peneliti menyebarkan pada lebih dari 30 rumah. 4.5.4 Tahap Akhir Hal-hal yang dilakukan dalam tahap akhir antara lain : 1. Melakukan skoring terhadap data dari alat ukur. 2. Melakukan entry data dan melakukan pengecekan tiap data kelima dengan kuesioner aslinya untuk meminimalisir kesalahan pemasukan data. 3. Menginterpretasikan hasil analisis statistik berdasarkan teori dan kerangka berpikir yang telah disusun sebelumnya. 4. Melakukan analisa dan pembahasan berdasarkan data yang diperoleh. 5. Menarik kesimpulan. 6. Mengajukan saran tindak lanjut. 7. Menyusun dan melakukan perbaikan terhadap laporan penelitian.

4.6. Analisis Data

Universitas Indonesia

49

Pada penilitian ini digunakan penghitungan secara kuantitatif dengan menggunakan program SPSS for Windows 13.0. Metode pengolahan yang akan digunakan adalah: 1. Metode Analisis Deskriptif Statistik deskriptif merupakan prosedur statistik yang digunakan untuk merangkum, mengorganisasi, dan menyederhanakan data (Gravetter & Wallnau, 2007). Metode ini digunakan untuk melihat frekuensi, mean, median dan standard deviasi penyebaran hasil responden pada tiap variabel yang diukur. Statistik deskriptif juga digunakan untuk menggambarkan data demografis responden. 2. Korelasi Pearson Product Moment Korelasi Pearson Product Moment digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel. Pada penelitian ini, metode korelasi Pearson Product Moment digunakan untuk menjawab permasalahan utama penelitian ini, yakni mengetahui hubungan antar ketiga variabel penelitian, yakni antara kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup. 3. Multiple Regression Teknik perhitungan statistik Multiple Regression digunakan untuk melihat hubungan antara satu variabel terikat dengan data kontinu dengan sejumlah variabel bebas atau prediktor (Cohen&Cohen, 1983). Dengan Multiple Regression dapat diketahui sejauh mana sebuah variabel mampu memprediksi hasil tertentu dan juga berfungsi untuk mengetahui variabel mana yang memiliki pengaruh paling besar terhadap hasil. Dalam penelitian ini, metode Multiple Regression digunakan untuk melihat faktor demografis apa saja yang memiliki pengaruh paling besar dan yang paling mampu memprediksi skor kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup. 4. Analysis Of Variance (ANOVA) Perhitungan dengan menggunakan anova satu arah digunakan untuk melihat perbandingan skor nilai rata-rata (mean) diantara 2 kelompok atau lebih (Cohen, 1988). Perhitungan anova digunakan dalam penelitian ini untuk melihat perbandingan mean dari skor kebahagiaan, kepuasan hidup

Universitas Indonesia

50

dan kualitas hidup pada kelompok masyarakat Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Dari hasil perhitungan, peneliti melihat signifikansi (p) dari nilai F yang didapatkan, yang selanjutnya dapat diketahui apakah terdapat perbedaan mean dari kelompok-kelompok tersebut pada masingmasing variabel.

Universitas Indonesia

51

BAB 5 HASIL dan ANALISIS HASIL Pada bagian ini akan dijabarkan mengenai hasil penelitian yang telah dilakukan. Penjabaran hasil tersebut meliputi hasil utama penelitian, gambaran umum responden dan hasil tambahan yang diperoleh peneliti dalam penelitian ini. 5.1 Gambaran Umum Responden Pengambilan data dilakukan pada kelima wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi. Kuesioner disebar pada 291 keluarga dengan jumlah akhir 583 orang yang mengisi kuesioner. Namun hanya 578 kuesioner yang dapat diolah lebih lanjut; sedangkan 5 kuesioner tidak dapat digunakan karena ketidaklengkapan data. Berikut ini akan dijabarkan lebih lanjut mengenai gambaran umum responden yang akan didahului dengan gambaran keluarga. Tabel 5.1 Gambaran Deskriptif Keluarga Gambaran Keluarga Berdasarkan Wilayah Domisili Jakarta Utara Jakarta Timur Jakarta Selatan Jakarta Barat Jakarta Pusat Bogor Depok Tangerang Bekasi Rp 2.500.001,- s/d Rp 5.000.000,Rp 5.000.001,- s/d Rp 7.500.000,Rp 7.500.001,- s/d Rp 10.000.000,> Rp 10.000.000 Jakarta Utara Jakarta Timur Jakarta Selatan Jakarta Barat Jakarta Pusat Bogor 30 keluarga 30 keluarga 30 keluarga 30 keluarga 30 keluarga 35 keluarga 33 keluarga 37 keluarga 36 keluarga Gambaran Total Pengeluaran Keluarga per bulan 17 keluarga 62 keluarga 58 keluarga 154 keluarga 74 responden 53 responden 64 responden 59 responden 57 responden 41 responden 5.8 % 21.3 % 19.9 % 52.9 % 12.8 % 9.2 % 11.1 % 10.2 % 9.9 % 7.1 % 10.3 % 10.3 % 10.3 % 10.3 % 10.3 % 12 % 11.3 % 12.7 % 12.4 %

Jumlah Responden Per-Wilayah

Universitas Indonesia

52

Depok Tangerang Bekasi

70 responden 87 responden 72 responden

12.1 % 15.1 % 12.5 %

Bedasarkan tabel diatas terlihat bahwa penyebaran jumlah keluarga merata di kelima wilayah Jakarta, yaitu masing-masing wilayah diambil sampel 30 rumah. Sedangkan untuk daerah sekitar Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi jumlah sampel lebih dari 30 rumah dan paling banyak dari daerah Tangerang dengan jumlah 37 keluarga. Kemudian terlihat pula bahwa paling banyak responden berasal dari wilayah Tangerang dengan jumlah 87 orang responden dan paling sedikit berasal dari wilayah Bogor dengan jumlah 41 orang responden. Bila dibandingkan dengan jumlah keluarga, ternyata Tangerang dengan jumlah keluarga terbanyak, yaitu 37 keluarga, mampu memberikan jumlah responden yang banyak pula. Sebaliknya Bogor dengan jumlah 35 keluarga hanya dapat memberikan 41 orang responden. Selanjutnya dari tabel di atas juga terlihat bahwa lebih dari separuh responden mempunyai pengeluaran keluarga diatas 10 juta rupiah per bulan Pengeluaran ini termasuk di dalamnya pengeluaran rutin dan pengeluaran tidak rutin. Untuk gambaran responden yang diperoleh dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini yang digolongkan berdasarkan jenis kelamin, usia, status, pendidikan, pekerjaan dan penghasilan. Tabel 5.2 Gambaran Deskriptif Responden Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan < 20 tahun 21 tahun 40 tahun 41 tahun 65 tahun > 65 tahun Lajang Menikah 266 responden 312 responden Gambaran Responden Berdasarkan Usia 36 responden 276 responden 254 responden 11 responden 213 responden 348 responden 6.2 % 47.8 % 44.1 % 1.9 % 36.9 % 60.2 %
Universitas Indonesia

46 % 54 %

Gambaran Responden Berdasarkan Status

53

Janda/Duda karena meninggal Janda/Duda karena bercerai SMA D1 D3 S1 S2 S3 Pegawai Negeri Pegawai Swasta Pegawai BHMN Pegawai Kontrak/Honorer Wiraswasta Profesional Mahasiswa Pensiunan Ibu Rumah Tangga Tidak Bekerja Tidak Berpenghasilan < Rp 1.000.000,Rp 1.000.001,- s/d Rp 2.500.000,Rp 2.500.001,- s/d Rp 5.000.000,Rp 5.000.001,- s/d Rp 7.500.000,Rp 7.500.001,- s/d 10.000.000,> Rp 10.000.001,-

11 responden 6 responden 160 responden 7 responden 69 responden 268 responden 70 responden 4 responden

1.9 % 1% 27.7 % 1.2 % 11.9 % 46.4 % 12.1 % 0.7 % 10.4 % 29.1 % 4.7 % 2.1 % 10.6 % 1.7 % 16.8 % 5.9 % 15.2 % 3.6 % 23.4 % 10.6 % 14.9 % 21 % 11.3 % 7.6 % 11.3 %

Gambaran Responden Berdasarkan Pendidikan

Gambaran Responden Berdasarkan Pekerjaan 60 responden 168 responden 27 responden 12 responden 61 responden 10 responden 97 responden 34 responden 88 responden 21 responden 135 responden 61 responden 86 responden 121 responden 65 responden 44 responden 65 responden

Gambaran Responden Berdasarkan Penghasilan

Melalui tabel tersebut terlihat bahwa penyebaran responden laki-laki dan perempuan cukup merata dan tidak berbeda jauh. Jumlah responden laki-laki sebesar 46% sedangkan responden perempuan sebesar 54% dan paling banyak berasal dari kelompok umur 21 hingga 40 tahun sedangkan yang paling sedikit berasal dari kelompok usia diatas 65 tahun. Sehingga bisa dikatakan bahwa mayoritas responden berada pada usia yang produktif. Gambaran berikutnya adalah berdasarkan status pernikahan yang terlihat bahwa mayoritas responden telah menikah yaitu sebanyak 60.2% dan bila dikaitkan dengan usia maka dapat dikatakan bahwa sebagian besar yang sudah menikah merupakan keluarga muda karena berada dalam rentang usia 20-30 tahun.

Universitas Indonesia

54

Untuk pendidikannya terlihat bahwa mayoritas responden merupakan lulusan sarjana (S1) yaitu sebanyak 46.4%. Sedangkan untuk lulusan SMA berada di tingkat kedua. Namun, tidak semuanya yang tergolong SMA berarti hanya menempuh pendidikan sampai SMA saja. Apabila responden saat ini menjadi mahasiswa maka tergolong ke dalam SMA karena yang digunakan adalah pendidikan terakhir yaitu SMA. Selanjutnya bila dilihat melalui penyebaran berdasarkan pekerjaan maka mayoritas responden bekerja sebagai pegawai swasta yaitu sebesar 29.1% yang diikuti dengan mahasiswa sebesar 16.8%. Sedangkan bila berdasarkan penghasilan terlihat bahwa mayoritas responden tidak berpenghasilan, yaitu sebesar 23.4%. Hal ini dapat terjadi karena bila dikaitkan dengan jenis pekerjaan yang juga banyak adalah mahasiswa dan ibu rumah tangga dimana kedua jenis pekerjaan tersebut tidaklah berpenghasilan. Mayoritas kedua responden berpenghasilan antara Rp 2.500.001,- s/d Rp 5.000.000,- per bulan dengan jumlah 21%. 5.2 Gambaran Kebahagiaan Responden Tingkat kebahagiaan diperoleh dari skor kebahagiaan berdasarkan alat ukur Subjective Happiness Scale (SHS). Interpretasi skor SHS itu sendiri didapatkan dengan cara melihat skor total individu dan membandingkannya pada kontinum respon jawaban yang terentang dari (1) sangat tidak bahagia, sampai dengan (6) sangat bahagia. Berdasarkan penghitungan tersebut maka diperoleh interpretasi norma yang akan digunakan sebagai berikut. Tabel 5.3 Norma Subjective Happiness Scale Skor Total Subjective Happiness Scale 1 s/d 2 2.1 s/d 3 3.1 s/d 4 4.1 s/d 5 5.1 s/d 6 Interpretasi Sangat Tidak Bahagia Tidak Bahagia Netral Bahagia Sangat Bahagia

Berikut ini merupakan gambaran skor kebahagiaan yang diperoleh masyarakat Jabodetabek.

Universitas Indonesia

55

Tabel 5.4 Gambaran Tingkat Kebahagiaan Masyarakat Jabodetabek Skor Kebahagiaan Masyarakat Jabodetabek Mean Median Skor Minimum Skor Maximum Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa
4.73 4.75 1.75 6.00

rata-rata

masyarakat

Jabodetabek memiliki tingkat kebahagiaan sebesar 4.73 dengan standard deviasi sebesar 0.706. Bila disesuaikan dengan norma yang telah dibuat berdasarkan populasi penelitian ini, maka dapat digolongkan ke dalam kategori bahagia. Gambaran lebih lanjut mengenai persebaran skor kebahagiaan dengan mengacu pada norma yang telah dibuat dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 5.5 Persebaran Skor Kebahagiaan Masyarakat Jabodetabek Interpretasi Sangat tidak bahagia Tidak bahagia Netral Bahagia Sangat bahagia Jumlah Responden 2 9 92 314 161 Persentase 0.3% 1.5% 15.9% 54.5% 27.8%

Berdasarkan tabel di atas terlihat memang mayoritas masyarakat Jabodetabek menganggap dirinya bahagia, yakni sebesar 54.5%. Sedangkan yang menganggap dirinya sangat bahagia sebesar 27.8%. Sebaliknya responden yang menganggap dirinya sangat tidak bahagia hanya sebesar 0.3%. 5.3 Gambaran Kepuasan Hidup Responden Kepuasan hidup diukur dengan menggunakan alat ukur Satisfcation With Life Scale (SWLS) yang menggunakan pilihan jawaban berupa skala equalappearing interval, yaitu skor yang diperoleh individu memiliki arti interpretasi absolut dengan dasar nilai kontinum pada respon jawaban dalam alat ukur itu sendiri (Edwards, 1957). Interpretasi skor dibuat secara independen tanpa melihat distribusi skor dari sebuah kelompok tertentu. Dengan demikian, interpretasi

Universitas Indonesia

56

terhadap skor kepuasan hidup yang diperoleh dari alat ukur satisfaction with life scale yaitu dengan melihat penyebaran respon jawaban partisipan pada skala dari alat ukur kepuasan hidup, tanpa melihat distribusi skor dari kelompok partisipan. Berdasarkan hal tersebut maka diperoleh norma skor SWLS sebagai berikut. Tabel 5.6 Norma Satisfaction With Life Scale Rata-rata skor Satisfaction With Life Scale 1 s/d 2 2.1 s/d 3 3.1 s/d 4 4.1 s/d 5 5.1 s/d 6 Interpretasi Sangat Tidak Puas Tidak Puas Netral Puas Sangat Puas

Berikut ini merupakan gambaran skor kepuasan hidup yang diperoleh masyarakat Jabodetabek. Tabel 5.7 Gambaran Tingkat Kepuasan Hidup Masyarakat Jabodetabek Skor Kepuasan Hidup Masyarakat Jabodetabek Mean Median Skor Minimum Skor Maximum Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa
4.29 4.40 1.60 6.00

rata-rata

masyarakat standard

Jabodetabek memiliki tingkat kepuasan hidup sebesar 4.40 dengan

deviasi sebesar 0.753. Selanjutnya bila disesuaikan dengan norma yang telah dibuat berdasarkan populasi penelitian ini, maka masyarakat Jabodetabek dapat digolongkan ke dalam kriteria puas, yakni berada pada rentang skor 4.1 s/d 5. Gambaran lebih lanjut mengenai persebaran skor kepuasan hidup dengan mengacu pada tabel norma yang telah dibuat dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 5.8 Persebaran Skor Kepuasan Hidup Masyarakat Jabodetabek Interpretasi Sangat tidak puas Tidak puas Jumlah Responden 5 30 Persentase 0.9% 5.2%
Universitas Indonesia

57

Netral Puas Sangat puas

180 297 66

31.1% 51.4% 11.4%

Dari tabel di atas terlihat memang mayoritas masyarakat Jabodetabek menganggap dirinya puas dengan hidupnya, yakni sebesar 51.4%. Sedangkan yang menganggap hidupnya netral ada sebesar 27.8%. Sebaliknya responden yang merasa sangat tidak puas dengan hidupnya hanya sebesar 0.9%. 5.4 Gambaran Kualitas Hidup Responden Tingkat kualitas hidup diperoleh dari interpretasi skor total pada alat ukur Schedule for Evaluation of Individual Quality of Life Direct Weighing (SEIQoLDW). Interpretasi terhadap skor kualitas hidup adalah dengan melihat skor total dari individu dan membandingkannya pada kontinum respon jawaban yang memiliki rentang skor antara (0) Kualitas Hidup Sangat Buruk, sampai dengan (100) Kualitas Hidup Sangat Baik. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dibuat norma untuk skor kualitas hidup yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 5.9 Norma SEIQoL-DW Skor Total SEIQoL-DW 0 s/d 20 21 s/d 40 41 s/d 60 61 s/d 80 81 s/d 100 Interpretasi Kualitas Hidup Sangat Buruk Kualitas Hidup Buruk Kualitas Hidup Sedang Kualitas Hidup Baik Kualitas Hidup Sangat Baik

Berikut ini merupakan gambaran tingkat kualitas hidup yang diperoleh pada masyarakat Jabodetabek. Tabel 5.10 Gambaran Tingkat Kualitas Hidup Masyarakat Jabodetabek Skor Kualitas Hidup Masyarakat Jabodetabek Mean Median Skor Minimum Skor Maximum
76.87 79.5 18.25 100.00

Universitas Indonesia

58

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa rata-rata skor kualitas hidup masyarakat Jabodetabek adalah sebesar 76.87 (SD= 0.753) yang berada pada kriteria baik. Pengelompokkan kriteria berdasarkan norma yang telah dibuat sesuai dengan populasi yang digunakan dalam penelitian ini. Namun perlu dilihat pula persebarannya pada tiap kriteria yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 5.11 Persebaran Skor Kualitas Hidup Masyarakat Jabodetabek Interpretasi Sangat buruk Buruk Sedang Baik Sangat baik Jumlah Responden 2 22 41 266 247 Persentase 0.3% 3.8% 7.1% 46.1% 42.7%

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa memang mayoritas masyarakat Jabodetabek mempunyai kualitas hidup yang baik, yaitu sebesar 46.1%. Tak berbeda jauh, sebanyak 42.7% menganggap dirinya mempunyai kualitas hidup yang sangat baik. Sedangkan hanya 0.3% atau 2 orang responden yang menganggap kualitas hidupnya sangat buruk. Selain melihat skor total kepuasan kepuasan hidup, peneliti juga melihat peranan aspek-aspek kehidupan yang dianggap penting oleh responden. Aspek kehidupan ini diperoleh pada item pertama alat ukur SEIQoL-DW yang meminta responden untuk menyebutkan lima aspek kehidupan yang dianggap paling penting. Adapun gambaran penyebaran aspek-aspek itu dapat dilihat dari tabel di bawah ini. Tabel 5.12 Daftar Aspek Kehidupan Aspek kehidupan Spiritualitas Hobi Pernikahan Percintaan Diri sendiri Kesehatan Hubungan pertemanan Frekuensi 396 50 90 84 67 374 258 Persentase 14.50% 1.83% 3.29% 3.08% 2.54% 13.69% 9.45%
Universitas Indonesia

59

Karier Kemandirian Pendidikan Keluarga Keuangan Kekuasaan Penampilan Rekreasi

198 66 240 498 312 4 13 81

7.25% 2.42% 8.79% 18.24% 11.42% 0.15% 0.48% 2.97%

Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa lima aspek kehidupan yang dianggap paling penting oleh masyarakat Jabodetabek adalah keluarga (498), spiritualitas (396), kesehatan (374), keuangan (312) dan hubungan pertemanan (258). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat menganggap keluarga merupakan aspek yang penting yaitu sebesar 18.24%. Yang dimaksud keluarga disini adalah hubungan yang terjadi di dalam keluarga baik pada keluarga inti seperti ayah, ibu, dan anak tetapi juga keluarga besar. Sedangkan urutan kedua adalah aspek sprirtualitas sebesar 14.50%. Pengertian spiritualitas yang dimaksud disini mencakup hal-hal mengenai kerohanian, keagamaan atau Tuhan. Pada urutan ketiga adalah aspek kesehatan (13.69%) dengan kesehatan yang mencakup kesehatan secara fisik dan mental. Aspek terpenting yang keempat adalah keuangan sebesar 11.42%. Keuangan yang dimaksud di sini juga termasuk masalah perekonomian dan pemenuhan kebutuhan hidup. Aspek penting yang berada pada urutan lima adalah hubungan pertemanan yang juga mencakup hubungan sosial dengan orang lain. 5.5 Hubungan antara Kebahagiaan, Kepuasan Hidup dan Kualitas Hidup Untuk mengetahui hubungan antara kebahagiaan dan kepuasan hidup digunakan perhitungan dengan menggunakan teknik korelasi pearson product moment dengan program SPSS 13.0 diperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 5.13 Hasil Korelasi antara Kebahagiaan dan Kepuasan Hidup Koefisien Korelasi antara Nilai Signifikansi (p) Koefisien Kebahagiaan dan Determinasi (r2) Kepuasan Hidup (r) 0,512** 0,000 0.26
**Signifikan pada LoS 0.01 (2-tailed)

Universitas Indonesia

60

Tabel di atas menunjukkan bahwa berdasarkan hasil penghitungan korelasi antara skor Subjective Happiness Scale dengan skor Satisfaction With Life Scale didapatkan hasil yang signifikan pada LoS 0.01 dengan koefisien sebesar 0.512. Hasil tersebut menunjukkan semakin tinggi tingkat kebahagiaan seseorang maka akan diikuti pula dengan semakin tingginya tingkat kepuasan hidup yang dimilikinya. Selain itu koefisien determinasi (r2) sebesar 0.26 yang berarti 26 % proporsi varians kebahagiaan dapat dijelaskan oleh varians kepuasan hidup. Selanjutnya untuk mengetahui hubungan antara kebahagiaan dan kualitas hidup dapat diperoleh dengan melakukan korelasi antara skor Subjective Happiness Scale dengan skor total Evaluation of Individual Quality of Life Direct Weighing (SEIQoL-DW). Hasilnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 5.14 Hasil Korelasi antara Kebahagiaan dan Kualitas Hidup Koefisien Korelasi antara Nilai Signifikansi (p) Koefisien Kebahagiaan dan Kualitas Determinasi (r2) Hidup (r) 0,268** 0,000 0.07
**Signifikan pada LoS 0.01 (2-tailed)

Melalui tabel diatas dapat dilihat bahwa hasil korelasi tersebut adalah signifikan pada LoS 0.01 dengan koefisien sebesar 0.268. Hasil tersebut menunjukkan semakin tinggi tingkat kebahagiaan seseorang maka akan diikuti pula dengan semakin tingginya tingkat kualitas hidup yang dimilikinya. Selain itu koefisien determinasi (r2) sebesar 0.07 yang berarti hanya 7 % proprosi varians kebahagiaan dapat dijelaskan oleh varians kualitas hidup. Terakhir adalah hubungan antara kepuasan hidup dan kualitas hidup yang diperoleh dengan malakukan korelasi antara skor Satisfaction With Life Scale dengan skor Evaluation of Individual Quality of Life Direct Weighing (SEIQoLDW). Tabel 5.15 Hasil Korelasi antara Kepuasan Hidup dan Kualitas Hidup Koefisien Korelasi Nilai Signifikansi (p) Koefisien antara Kepuasan Hidup Determinasi (r2) dan Kualitas Hidup(r)

Universitas Indonesia

61

0,293** 0,000 **Signifikan pada LoS 0.01 (2-tailed)

0.07

Melalui tabel diatas dapat dilihat bahwa hasil korelasi tersebut adalah signifikan pada LoS 0.01 dengan koefisien sebesar 0.293. Hasil tersebut menunjukkan semakin tinggi tingkat kepuasan hidup seseorang maka akan diikuti pula dengan semakin tingginya tingkat kualitas hidup yang dimilikinya. Selain itu, koefisien determinasi (r2) sebesar 0.07 yang berarti hanya 7% proprosi varians kepuasan hidup yang dapat dijelaskan oleh varians kualitas hidup.

5.6 Hasil Tambahan 5.6.1 Faktor Demografi yang Berkontribusi terhadap Kebahagiaan, Kepuasan Hidup dan Kualitas Hidup Dalam penelitian ini tidak diperhitungkan mengenai pengaruh faktor demografis pada masing-masing variabel. Oleh karena itu pada analisis tambahan ini akan diperlihatkan pengaruh masing-masing faktor demografis dalam memprediksi tiap variabel. Untuk penghitungannya digunakan Multiple Regression dengan prediktor adalah pekerjaan, jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, penghasilan dan status pernikahan sedangkan dependent variabel yang digunakan adalah nilai kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup. Tabel 5.16 Hasil Perhitungan Multiple Regression R square Kebahagiaan Kepuasan Hidup Kualitas Hidup 0.051 0.034 0.023 df 6 6 6 FSignifikansi 5.0940.000* 3.3670.003* 2.2230.040*

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa pada masing-masing variabel didapatkan hasil yang signifikan pada los 0.05 antara faktor demografis (usia, jenis kelamin, status pernikahan, pendidikan, penghasilan dan pekerjaan) mempunyai hubungan terhadap ketiga variabel yang diteliti, yaitu kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup. Dari perhitungan pada masing-masing variabel didapatkan bahwa
Universitas Indonesia

62

faktor demografis (usia, jenis kelamin, status pernikahan, pendidikan, penghasilan dan pekerjaan) mempunyai hubungan yang signifikan terhadap ketiga variabel yang diteliti, yaitu kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup. Pada variabel kebahagiaan terdapat 5.1% dari varians skor yang dapat dijelaskan melalui varians demografis. Untuk nilai kepuasan hidup hanya 3.4% varians skor kepuasan hidup yang dapat dijelaskan melalui varians demografis dan pada kualitas hidup terdapat 2.3% skor kualitas hidup yang mampu dijelaskan oleh varians demografis. Selanjutnya akan dijabarkan lebih lanjut mengenai kontribusi masingmasing faktor demografis terhadap ketiga variabel yang diukur. Hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 5.17 Hasil Signifikansi Faktor Demografis Faktor Demografis Usia Jenis Kelamin Status Penikahan Pendidikan Penghasilan Pekerjaan
*Signifikan pada Los 0.05

Kebahagiaan 0.584 0.961 0.026* 0.315 0.010* 0.864

Nilai signifikansi Kepuasan Hidup 0.701 0.077 0.168 0.938 0.000* 0.062

Kualitas Hidup 0.483 0.051 0.674 0.151 0.054 0.038*

Melalui tabel diatas dapat terlihat bahwa pada nilai kebahagiaan hanyalah status pernikahan dan penghasilan yang signifikan secara statistik dalam berkontribusi terhadap persamaan regresi tersebut. Sedangkan untuk nilai kepuasan hidup hanyalah faktor penghasilan serta pada nilai kualitas hidup hanya faktor pekerjaan saja yang signifikan berkontribusi terhadap persamaan regresi itu.

Tabel 5.18 Hasil Faktor Demografis terhadap Kebahagiaan Standardized Coefficients Beta Status pernikahan Penghasilan 0.126 0.141 Nilai Part Correlation 0.091 0.106 Koefisien determinasi (r2) 0.00 0.01

Universitas Indonesia

63

Tabel 5.19 Hasil Faktor Demografis terhadap Kepuasan Hidup Standardized Coefficients Beta Penghasilan 0.196 Nilai Part Correlation 0.147 Koefisien determinasi (r2) 0.02

Tabel 5.20 Hasil Faktor Demografis terhadap Kualitas Hidup Standardized Coefficients Beta Pekerjaan 0.105 Nilai Part Correlation 0.086 Koefisien determinasi (r2) 0.00

Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat bahwa penghasilan merupakan faktor yang paling dapat memprediksi baik terhadap kebahagiaan dan kepuasan hidup dengan kontribusi yang besar. Sedangkan pada kualitas hidup kontribusi yang terbesar adalah pekerjaan. Untuk koefisien determinasi (r2) penghasilan terhadap kebahagiaan besarnya 0.01 yang artinya hanya 1% proprosi varians kebahagiaan yang dapat dijelaskan oleh varians penghasilan dan untuk kepuasan hidup besarnya (r2) penghasilan adalah 0.02 yang berarti terdapat 2% proporsi varians kepuasan hidup yang dapat dijelaskan oleh varians penghasilan. 5.6.2 Perbandingan Tingkat Kebahagiaan, Kepuasan Hidup dan Kualitas Hidup antar wilayah Hasil tambahan lain yang diperoleh pada penelitian ini adalah melihat perbandingan tingkat kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup pada masyarakat yang ada di Jakarta dan daerah sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Perhitungan yang digunakan adalah dengan ANOVA satu arah. Sebelumnya akan dijabarkan terlebih dahulu gambaran deskriptif tingkat kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup pada masing-masing wilayah. Hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 5.21 Hasil skor rata-rata tiap wilayah

Universitas Indonesia

64

Wilayah Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi

Kebahagiaan 4.6726 4.7622 4.9857 4.8276 4.6473

Kepuasan Hidup 4.3127 4.1268 4.4971 4.2644 4.1288

Kualitas Hidup 77.3821 75.5390 78.9207 75.5787 75.0856

Tabel 5.22 Hasil Perbandingan Berdasarkan Wilayah Variabel Kebahagiaan Kepuasan Hidup Kualitas Hidup F 3.535 2.759 0.895 Signifikansi 0.007* 0.027* 0.466

*Signifikan pada LoS 0.05

Pada

tiap

variabel

dilakukan

perhitungan

ANOVA

dengan

membandingkan skor variabel pada masing-masing kelompok wilayah. Pada nilai kebahagiaan diperoleh hasil yang signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0.007 (LoS 0.05) yang berarti terdapat perbedaan nilai kebahagiaan yang signifikan pada masing-masing kelompok wilayah. Begitu pula dengan nilai kepuasan hidup yang juga diperoleh hasil yang signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0.027 (LoS 0.05) yang artinya terdapat perbedaan nilai kepuasan hidup yang signifikan pada masing-masing kelompok wilayah. Sedangkan pada tingkat kualitas hidup tidak ada perbedaan yang signifikan pada tiap kelompok wilayah. Berikut ini akan dijabarkan lebih lanjut mengenai letak perbedaan pada masing-masing kelompok wilayah yang diperoleh melalui perhitungan post-hoc. Tabel 5.23 Hasil Post-Hoc nilai Kebahagiaan Jakarta Jakarta Bogor Depok Tangerang 0.939 0.007* 0.362 Bogor 0.939 0.483 0.988 Depok 0.007* 0.483 0.624 Tangerang 0.362 0.988 0.624 Bekasi 0.999 0.918 0.033* 0.483

Universitas Indonesia

65

Bekasi

0.999

0.918

0.033*

0.483

*Signifikan pada LoS 0.05

Untuk variabel kebahagiaan hasil yang diperoleh hanya dua perbandingan yang signifikan, yaitu: 1. Perbandingan nilai rata-rata (mean) kebahagiaan antara wilayah Jakarta dengan Depok signifikan pada LoS 0.05 (M = 0.31308, p= 0.007). Dari hasil ini didapatkan bahwa warga Depok (MDepok= 4.9857) lebih bahagia bila dibandingkan dengan warga Jakarta (MJakarta= 4.6726). Hasil signifikansi yang diperoleh sebesar 0.007. Nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari 0.05 yang berarti menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan antara skor kebahagiaan Jakarta dengan Depok. 2. Perbandingan nilai rata-rata (mean) kebahagiaan antara wilayah Bekasi dengan Depok signifikan pada LoS 0.05 (M = 0.33845, p= 0.033). Dari hasil ini didapatkan bahwa warga Depok (MDepok= 4.9857) lebih bahagia bila dibandingkan dengan warga Bekasi (MBekasi= 4.6473). Hasil signifikansi yang diperoleh sebesar 0.033. Nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari 0.05 yang berarti menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan antara skor kebahagiaan Bekasi dengan Depok. 3. Selain pada kedua perbandingan wilayah tersebut, perbandingan nilai rata-rata (mean) kebahagiaan menunjukkan hasil yang tidak signifikan pada LoS 0.05 yang berarti tidak ada perbedaan nilai kebahagiaan yang signifikan pada antar wilayah. Tabel 5.24 Hasil Post-Hoc nilai Kepuasan hidup Jakarta Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi 0.569 0.342 0.984 0.327 Bogor 0.569 0.090 0.869 1.000 Depok 0.342 0.090 0.301 0.028* Tangerang 0.984 0.869 0.301 0.786 Bekasi 0.327 1.000 0.028* 0.786

*Signifikan pada LoS 0.05

Universitas Indonesia

66

Untuk variabel kepuasan hidup hasil yang diperoleh hanya satu perbandingan yang signifikan, yaitu perbandingan nilai rata-rata (mean) kebahagiaan antara wilayah Bekasi dengan Depok signifikan pada LoS 0.05 (M = 0.36838, p= 0.028). Dari hasil ini didapatkan bahwa warga Depok (MDepok= 4.4971) lebih puas hidupnya bila dibandingkan dengan warga Bekasi (MBekasi= 4.1288). Hasil signifikansi yang diperoleh sebesar 0.028. Nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari 0.05 yang berarti menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan antara skor kepuasan hidup wilayah Bekasi dengan Depok. Untuk perbandingan pada wilayah lainnya menunjukkan hasil yang tidak signifikan pada LoS 0.05 yang berarti tidak terdapat perbedaan nilai kepuasan hidup yang signifikan pada masing-masing wilayah. Sedangkan untuk variabel kualitas hidup tidak dilakukan perhitungan Post-Hoc karena hasil ANOVA yang diperoleh tidaklah signifikan.

Universitas Indonesia

67

BAB 6 KESIMPULAN, DISKUSI dan SARAN Pada bagian ini akan dipaparkan mengenai kesimpulan yang akan menjawab permasalahan penelitian berdasarkan analisis data yang diperoleh. Selanjutnya juga akan dibahas mengenai diskusi yang meliputi diskusi hasil penelitian utama dan diskusi hasil penelitian tambahan. Setelah diskusi juga akan diberikan saran bagi untuk penelitian berikutnya. 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil yang diperoleh melalui penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa peniliti menolak ketiga Ho dan menerima ketiga Ha yang terdapat dalam penelitian ini. Sehingga dapat dikatakan kesimpulan yang diperoleh pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara kebahagiaan dengan kepuasan hidup; artinya semakin tinggi tingkat kebahagiaan seseorang akan diikuti dengan semakin tinggi pula tingkat kepuasan hidup yang dimiliki. 2. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara kebahagiaan dengan kualitas hidup; berarti semakin tinggi tingkat kebahagiaan seseorang akan diikuti dengan semakin tinggi pula tingkat kepuasan hidupnya. 3. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara kepuasan hidup dengan kualitas hidup; semakin tinggi tingkat kepuasan hidup seseorang akan diikuti dengan semakin tinggi pula tingkat kualitas hidup yang dimiliki. 4. Mayoritas masyarakat Jabodetabek memiliki tingkat kebahagiaan yang termasuk ke dalam kategori bahagia. 5. Masyarakat Jabodetabek memiliki tingkat kepuasan yang termasuk ke dalam kategori puas. 6. Masyarakat Jabodetabek memiliki tingkat kualitas hidup yang termasuk ke dalam kategori baik

Universitas Indonesia

68

7. Lima aspek kehidupan yang dianggap paling penting bagi masyarakat Jabodetabek, yaitu keluarga, spiritualitas, kesehatan, keuangan dan hubungan pertemanan. 8. Faktor penghasilan merupakan faktor yang paling berkontribusi dalam mempengaruhi kebahagiaan dan kepuasan hidup. 9. Perbandingan kebahagiaan dan kepuasan hidup antara masyarakat kota Jakarta dan wilayah sekitarnya menunjukkan hasil yang signifikan.Terdapat perbedaan nilai kebahagiaan dan kepuasan hidup yang signifikan antara masyarakat kota Jakarta dengan wilayah sekitarnya. 6.2 Diskusi Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian ini maka terdapat beberapa hal yang akan didiskusikan. Melalui penelitian ini terlihat bahwa sebenarnya masyarakat Jabodetabek merasa hidupnya bahagia dan baik serta puas dengan kehidupannya. Hal ini mungkin saja terjadi karena ternyata sampel yang digunakan pada penelitian ini berasal dari kelas ekonomi menengah ke atas. Sehingga kebutuhan dimiliki. Pada penelitian ini juga didapatkan ini hasil yangnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara kebahagiaan dan kepuasan hidup pada masyarakat Jabodetabek yang artinya dengan semakin bahagianya seseorang maka ia juga akan semakin merasa puas dengan hidupnya. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Diener, Scollon dan Lucas (2003) yang menyebutkan bahwa kepuasan hidup merupakan komponen kognitif dari Subjective Well Being (SWB) atau kebahagiaan. Oleh karena itu untuk mengukur kebahagiaan itu sendiri Diener et al (dalam Kurtz & Lybomirsly, 2008) menyebutkan terdapat tiga komponen utama, yaitu seringnya kemunculan afek positif, ketiadaan afek negatif dan tingginya tingkat kepuasan hidup. Eddington & Shuman (2005) juga menyebutkan bahwa individu mempunyai SWB tinggi apabila mereka puas akan kondisi kehidupannya. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut terlihat bahwa sebenarnya kepuasaan hidup berkorelasi positif dengan kebahagiaan dan hal itu hidup mereka sudah terpenuhi dan tentunya itu mempengaruhi tingkat kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup yang

Universitas Indonesia

69

pula yang didapatkan pada penelitian ini. Tetapi karena kebahagiaan itu sendiri sangatlah subjektif, maka hasil penelitian-penelitian di atas belum tentu berlaku pula di Indonesia. Namun melalui penelitian ini bisa terlihat bahwa ternyata pada masayarakat Indonesia, khususnya Jabodetabek, kebahagiaan masyarakat juga berhubungan positif dengan tingkat kepuasan hidup yang dimilikinya. Hal ini sejalan dengan penelitian lainnya dan secara teori berlaku pula di budaya Indonesia. Dengan begitu dapat dikatakan pula bahwa konstruk kebahagiaan merupakan kontrsuk yang bersifat universal dan bisa diterapkan pada berbagai budaya yang berbeda. Bila dilihat dari metode pengukuran pun sebenarnya antara kebahagiaan dan kepuasan hidup saling berhubungan dan tak jarang pula disamakan antar keduanya. Cara pengukuran kebahagiaan sering menggunakan term kepuasan hidup khususnya pada survey-survey yang hanya menggunakan satu pertanyaan tunggal untuk mengukur kebahagiaan (Carr, 2004), seperti Seberapa puas Anda dengan kehidupan Anda?. Hal ini menunjukkan bahwa dengan mengukur tingkat kepuasan individu terhadap hidupnya maka akan diperoleh pula gambaran mengenai kebahagiaan yang dimilikinya. Dengan kata lain bahwa semakin tinggi tingkat kepuasan hidup maka tingkat kebahagiaannya pun akan tinggi. Jika dibandingkan pada penelitian ini pada kedua alat ukur yang digunakan untuk mengukur kebahagiaan dan kepuasan hidup pun disusun berdasarkan landasan teori yang sama yang mengacu pada kebahagiaan subjektif. Maka hasilnya pun menunjukkan bahwa kedua berhubungan secara positif. Kemudian hasil kedua yang diperoleh adalah adanya hubungan yang positif antara kebahagiaan dengan kualitas hidup. Artinya adalah dengan semakin tinggi tingkat kebahagiaan seseorang akan diikuti pula dengan tingginya nilai kualitas hidupnya. Secara teoritis, kualitas hidup merupakan konstruk yang lebih luas dari kebahagiaan atau SWB (Carr, 2004). Kualitas hidup itu sendiri sebenarnya merupakan penilaian menyeluruh individu terhadap kondisi kehidupannya dan meliputi perasaan bahagia dan puas akan hidup (OConnor, 1993). Cara pengukuran kualitas hidup yang digunakan pada penelitian ini pun meminta individu untuk menyebutkan aspek kehidupan yang dianggap penting kemudian

Universitas Indonesia

70

memintanya untuk memberikan penilaian pada tiap aspeknya berdasarkan kondisinya saat ini. . Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa untuk mengukur kualitas hidup digunakan perasaan puas akan aspek kehidupannya yang dianggap penting. Maka semakin tinggi nilai kepuasannya akan makin tinggi pula nilai kualitas hidupnya. Bila dilihat dari sudut pandang kebahagiaan, salah satu faktor yang mempengaruhi kebahagiaan adalah bagaimana individu memandang dan memaknai peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya (Diener,1984; Heady et al, 1985; Heady & Wearing, 1989 dalam OConnor, 1993). Jadi dapat disimpulkan dikatakan bahwa kebahagiaan seseorang tercermin dari kualitas hidupnya yang tersusun melalui tiap peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Selanjutnya menurut Diener, Scollon dan Lucas (2003) kebahagiaan (SWB) itu sendiri dapat menggambarkan secara umum gambaran kualitas hidup seseorang. Hal ini sesuai dengan hasil yang diperoleh pada penelitian ini dimana didapatkan hasil hubungan yang positif antara kebahagiaan dan kualitas hidup pada masyarakat Jabodetabek. Selanjutnya hasil yang juga didapat adalah adanya hubungan yang positif antara kepuasan hidup dan kualitas hidup yang artinya semakin tingginya tingkat kepuasan hidup seseorang akan diikuti dengan makin tingginya pula nilai kualitas hidupnya. Bila mengacu definisi kualitas hidup menurut Goodinson (dalam OConnor, 1993) yang menyebutkan bahwa kualitas hidup merupakan tingkat kepuasan terhadap peristiwa-peristiwa yang dialami pada kehidupan saat ini. Melalui pengertian ini dapat dikatakan bahwa bila seseorang mempunyai tingkat kepuasan yang tinggi terhadap hidupnya maka akan memiliki kualitas hidup yang baik pula. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian ini yaitu dengan semakin tingginya tingkat kepuasan hidup seseorang maka kualitas hidupnya akan makin baik. . Kualitas hidup itu sendiri ditentukan oleh kepuasan karena seseorang akan menilai hidupnya baik apabila ia merasa puas dengan hidupnya. . Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian ini yaitu dengan semakin tingginya tingkat kepuasan hidup seseorang maka kualitas hidupnya akan makin baik. Pada penelitian ini pun melalui alat ukur kualitas hidup responden diminta untuk menilai kondisi hidupnya saat ini, bila ia merasa puas maka akan memberikan nilai yang tinggi dan nantinya akan menyumbangkan nilai yang tinggi pula terhadap kualitas hidupnya secara keseluruhan.

Universitas Indonesia

71

Berdasarkan hubungan ketiganya maka dapat disimpulkan antara kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup saling berhubungan satu sama lain dan hubungannya positif dimana bila seseorang mempunyai nilai kebahagiaan yang tinggi maka tingkat kepuasan hidup dan kualitas hidupnya juga tinggi. Hal ini dapat terjadi karena secara teoritis bila ditelaah lebih jauh ketiganya saling berkaitan satu sama lain dan saling mempengaruhi terutama dalam hal pengukurannya.. Untuk kualitas hidup itu sendiri pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa ternyata aspek yang paling dianggap penting bagi masyarakat Jabodetabek adalah aspek keluarga. Hal ini sesuai dengan budaya yang dianut oleh masyarakat Indonesia pada umumnya yaitu budaya kolektivistik. Pada budaya ini lebih menekankan kebersamaan daripada individualisme sehingga tak mengherankan bila pada masyarakat Jabodetabek menganggap keluarga sebagai aspek yang paling penting di dalam kehidupannya. Begitu pula dengan aspek terpenting kedua, yaitu spiritualitas. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh budaya yang kuat terutama unsur agama. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat kental unsur keagamaannya sehingga membuat spiritualitas menjadi aspek yang juga dianggap penting bagi masyarakat Jabodetabek. Pada hasil tambahan yang diperoleh pada penelitian ini yang menyebutkan bahwa faktor demografis yang paling dapat memprediksi tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup adalah faktor penghasilan. Hal ini sesuai dengan penelitianpenelitian lainnya pada negara berkembang yang menyebutkan bahwa kebahagiaan dan kepuasan hidup sangat berhubungan dengan penghasilan (Veenhoven dalam Oishi et al, 2008; Eddington & Shuman, 2005; Carr, 2004). Penghasilan merupakan faktor yang paling dapat memprediksi karena penghasilan mempengaruhi faktor-faktor lain seperti kesehatan, pemenuhan kebutuhan, rekreasi, dll. Dengan semakin tinggi penghasilan seseorang maka faktor-faktor lain tersebut akan semakin dapat tercukupi dengan layak sehingga tak mengherankan bila faktor penghasilan merupakan faktor yang paling kuat dapat mempengaruhi kebahagiaan dan kepuasaan hidup. Hal ini juga yang terjadi pada penelitian ini dimana mayoritas responden berasal dari kalangan menengah ke atas yang ternyata merasa bahagia dan puas terhadap hidupnya. Sedangkan untuk

Universitas Indonesia

72

faktor yang paling tidak dapat memprediksi adalah faktor jenis kelamin. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa jenis kelamin merupakan faktor yang sangat kecil dalam menentukan kebahagiaan dan kepuasan hidup (Inglehart & Michalos dalam Eddington & Shuman, 2005; Argyle, 1999; Sousa & Lyubormirsky, 2001). Selanjutnya bila dilihat perbandingan tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup pada masyarakat yang berada di Jakarta dan di daerah sekitarnya ternyata menunjukkan hasil yang signifikan terutama pada wilayah Depok, Jakarta dan Bekasi. Depok memang memiliki nilai kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup yang paling tinggi bila dibandingkan dengan wilayah lainnya. Salah satu penyebabnya mungkin saja karena Depok merupakan kota yang sedang mengalami perkembangan pesat. Banyak pembangunan yang terjadi di Depok dalam beberapa tahun belakangan ini, seperti pembangunan perumahan, sekolah, pusat perbelanjaan, akses jalan tol, dll. Pembangunan inilah yang nampaknya memberikan pengaruh terhadap tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup. Dengan semakin berkembangnya pembangunan kota Depok sebagai daerah penyangga membuat masyarakatnya merasa lebih puas dengan kehidupannya karena sudah terpenuhinya fasilitas-fasilitas yang baik. Sedangkan untuk Jakarta dan Bekasi yang sudah lebih dahulu berkembang membuat masyarakatnya merasakan masalah yang lebih kompleks, misalnya mengenai kemacetan, kebersihan, pengangguran, dll. Perbedaan kondisi masyarakat inilah yang kemudian mempengaruhi tingkat kebahagiaan dan kepuasaan hidup sehingga perbedaannya menjadi signifikan antara masyarakat yang tinggal di Depok dengan Jakarta dan Bekasi. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya yaitu Ppada hasil perhitungan faktor demografis yang mempengaruhi kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup diperoleh hasil bahwa hanya faktor penghasilan, pekerjaan dan status pernikahan yang mempunyai nilai signifikan. Sedangkan hasil yang diperoleh melalui alat ukur SEIQoL-DW menunjukkan bahwa aspek aspek yang paling banyak dipilih sebagai aspek terpenting adalah keluarga. Berdasarkan kedua data tersebut terlihat bahwa keluarga yang pada faktor demografis terlihat pada status pernikahan juga ternyata secara signifikan dapat mempengaruhi tingkat

Universitas Indonesia

73

kebahagiaan seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa memang benar bagi masyarakat Jabodetabek keluarga merupakan aspek yang dianggap penting sehingga dapat pula memprediksi tingkat kebahagiaannya. Begitu pula dengan penghasilan yang menjadi salah satu aspek terpenting juga ternyata secara signifikan dapat memprediksi tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup. Pada penelitian ini terdapat pula beberapa hal mengenai metodologis yang perlu didiskusikan. Untuk alat ukur yang digunakan, terutama pada SHS dan SWLS yang berbentuk skala, ternyata item-itemnya kemungkinan memiliki derajat social desirability tinggi. Orang akan cenderung menganggap hidupnya bahagia sehingga jawaban yang diberikan pun mempunyai kecenderungan berada pada salah satu kutub saja. Sedangkan untuk alat ukur SEIQoL-DW merupakan alat ukur yang berbasis wawancara sehingga idealnya dilakukan langsung oleh peneliti. Namun pada penelitian ini sebagian kuesioner dititipkan di tiap rumah untuk diisi oleh anggota keluarga lainnya. Walaupun sebelumnya telah dijelaskan mengenai maksud tiap item beserta aspek-aspeknya, tapi mungkin saja terjadi kesalahan ketika mengisi. Hal ini kemungkinan akan mempengaruhi hasil yang diperoleh tentang gambaran kualitas hidup subjek dalam penelitian ini sehingga hasil yang diperoleh bisa saja tidak benar-benar menggambarkan kualitas hidup yang sesungguhnya dimiliki oleh responden. Pada penelitian ini pengambilan sampel dilakukan secara non-random sehingga tidak semua orang dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi responden. Hal ini karena keterbatasan yang dimiliki peneliti. Oleh karena itu, hasil yang diperoleh pada penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan ke dalam keseluruhan populasi. Hasil penelitian ini hanya dapat menggambarkan kondisi dari responden yang menjadi sampel pada penelitian ini.

6.3 Saran 6.3.1 Saran Metodologis Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian ini yang berkaitan dengan metodologis penelitan agar berguna bagi penelitian selanjutnya antara lain:

Universitas Indonesia

74

1.

Mengambil sampel yang lebih banyak dan tersebar pada tiap

wilayah. Pada penelitian ini, tiap wilayah hanya diwakilkan oleh sekitar 30 rumah dan berasal dari satu lingkungan atau daerah yang sama. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya mengambil yang lebih banyak dari daerah yang berbeda-beda untuk tiap-tiap wilayah agar dapat lebih bervariasi sehingga dapat lebih menggambarkan masing-masing wilayah. 2. 3. Mengambil sampel dengan cara random sehingga hasil yang Melakukan rapport yang lebih baik sehingga dalam satu rumah diperoleh dari penelitian dapat digeneralisasikan. dapat diperoleh lebih banyak lagi responden yang bersedia mengisi kuesioner. 4. Dalam mengukur kualitas hidup, sebaiknya dilakukan pula wawancara (penelitian kualitatif) mengenai aspek-aspek kehidupan sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih kaya. 5. Untuk mendapat gambaran mengenai kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup masyarakat Jabodetabek yang lebih mendalam sebaiknya dilakukan penelitian sejenis pada kelas sosial lainnya. 6. Menyempurnakan alat ukur terutama dalam proses pengadaptasiannya agar sesuai dengan kondisi budaya dan sasaran karakteristik responden agar mereka tidak mengalami lagi kesulitan ketika mengisi kuesioner. 6.3.2 Saran Praktis Saran praktis yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian ini, yaitu: 1. Dapat dijadikan referensi tambahan bagi penelitian-penelitian di bidang psikologi positif khususnya yang membahas mengenai kebahagiaan, kepuasan hidup dan kualitas hidup terutama bagi penelitian di Indonesia. 2. Hasil penelitian ini hanya menggambarkan sampel pada penelitian ini saja dan tidak dapat digeneralisasikan pada masyarakat Jabodetabek sepenuhnya mengingat pengambilan sampel yang tidak random. 3. Bagi pemerintah Jabodetabek, dapat dijadikan masukan dalam membuat kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat..

Universitas Indonesia

75

4.

Universitas Indonesia

76

DAFTAR PUSTAKA
Aiken, L.R., dan Groth-Marnat, G. (2006). Psychological testing and assestment (12th ed.). Boston : Pearson Education Group Inc. Argyle, M. (1999). Causes and correlates of happiness. Dalam D. Kahneman, E. Diener, & N. Schwarz (Eds.). Well-being: The foundations of hedonic psychology (hal. 353-373). New York: Russell Sage Foundation. Bertens, K. (1993). Etika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka. Browne, John P., Boyle, Ciaran A., McGee, Hannah M., McDonald, Nicholas J., dan Joyce, C. R. B. (1997). Development of a Direct Weighting Procedure for Quality of Life Domains. Quality of Life Research, 6, 301-309, 1997 Carr, A. (2004). Positive psychology: The science of happiness and human strengths. New York: Brunner-Routledge. Carr, A.J & Higginson, I.J. (2001). Measuring duality of life: Are quality of life measures patient centred?. February 6, 2009. BMJ Cohen, Ronald Jay., dan Swerdlik, Mark E. (2005). Psychological Testing and Assessment: An Introduction to Tests and Measurements. New York: McGrawHill. Crocker, Linda M. & Algina, James. 1986. Introduction to Classical and Modern Test Theory. New York: Holt, Rinehart & Winston, Inc. Diener, E., Scollon, C.N., dan Lucas, R.E. (2003). The evolving concept of subjective well-being: The multifaceted nature of happiness. Advances in Cell Aging and Gerontology, vol. 15, 187219. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi DKI Jakarta. (2008). Jumlah Penduduk Provinsi DKI Jakarta. Diunduh pada 03 Mei 2009, diunduh dari http://www.kependudukancapil.go.id/index.php/component/content/4? task=view Eddington, N. & Shuman, R. (2005). Subjective well-being (happiness). http://www.texcpe.com/cpe/PDF/ca-happiness.pdf (diunduh pada tanggal 18 Maret 2009)

Universitas Indonesia

77

Fadjri, P.A. (n.d.). Analisa indikator kualitas hidup penduduk Indonesia menurut kabupaten/kotamadya. http://www.digilib.ui.ac.id/opac/hemes/libri2/detail .jsp?id=76338&lokasi=lokal. (diunduh pada tanggal 22 Februari 2009) Faturochman. (1990). Kualitas hidup sebagai sasaran pembangunan. Kompas. www. zudha/file/KORAN%2520.com. (diunduh pada tanggal 6 Februari 2009) Galati, D., Manzano, M., Sotgiu, I. (2006). The subjective components of happiness and their attainment: A cross-cultural comparison between Italy and Cuba. Social Science Information. 45, 4. Gravetter, F.J., dan Wallnau, L.B. (2007). Statistics for the behavioral sciences (7th ed.). Canada: Thomson Wadsworth. Guilford, J.P, & Fruchter, B. (1981). Fundamental statistics in psychology and education (6th ed). Singapore: McGraw-Hills. Gundelach, P., & Kreiner, S. (2004). Happiness and life satisfaction in advanced european countries. Cross-Cultural Research 2004; 38; 359., diunduh dari http://ccr.sagepub.com/cgi/content/ tanggal 7 September 2008) Hadar, I.A. (2007). Persoalan Jakarta di usia ke-480. http://www.sinarharapan. co.id/berita/0706/23/opi01.html. (diunduh pada tanggal 26 Februari 2009) Harinowo, S. (2008). Kebangkitan Kelas Menengah Indonesia. Ekonomi. http://blog-suwardi.blogspot.com/2008/10/kebangkitan-kelas-menengahindonesia.html (diunduh pada tanggal 13 Februari 2009). Hickey, A.M. et al. (1996). A new short form individual quality of life measure (SEIQoL-DW): Application in a cohort of individuals with HIV/AIDS. July, 6. BMJ Izawa, N. (2004). An Exploration of Subjective Well-Being: A Review of Empirical Factors and Paths for The Future. http://proquest.umi.com/pqdweb? index=2&did=765826931&SrchMode=1&sid=2&Fmt=6&VInst=PROD& VType=PQD&RQT=309&VName=PQD&TS=1242964017&clientId=456 25 (diunduh pada tanggal 18 Maret 2009) abstract/38/4/359. (diunduh pada

Universitas Indonesia

78

Khizindar, T.M. (2009). Quality of life in developing countries: An empirical investigation. Journal of American Academy of Business Vol 14. Kerlinger, F.N., dan Lee, H.B. (2000). Fundations of behavioral research (4th ed.). Orlando: Harcourt College Publishers. Kumar, R. (1999). Research methodology: A step-by-step guide for beginners. London: Sage Publications. Kurtz, J.L. & Lyubomirsky, S. (2008). Toward a Durable Happiness. (diunduh pada tanggal 13 Februari 2009). Lepper, H.S., Lyubomirsky, S. (1997). A measure of subjective happiness: Preliminary reliability and construct validation. Miller, P.H. (1983).Theories of developmental Psychology (3rd ed) .New York: Freeman company. OConnor, R. (1993). Issues in The Measurement of Health Related Quality of Life. Australia: Working Paper 30 July 1993. Oishi, S. et al (2008). Cross-cultural variations in predictors of life satisfaction: Perspective from needs and values. Panggabean, S.K. (2006). Gambaran subjective well being warga DKI Jakarta. Depok: Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia. Pavot, W. & Diener, E. (1993). Review of the satisfaction with life scale. (diunduh pada tanggal 13 Februari 2009). Seniati, L., Yulianto, A., dan Setiadi, B.N. (2005). Psikologi eksperimen. Jakarta: PT Indeks Gramedia. Sousa, L. & Lyubomirsky, S. (2001). Life satisfaction. Encylopedia of women and gender: Sex similarities and differences and the impact of society on gender (Vol. 2, pp. 667-676). . San Diego, CA:Academic Press. Vallerand, A. H. Breckendridge, D. M. & Hodgson, N. A. (1998). Theories and Conceptual Models to Guide Quality of Life Related Research. In C. R. King and P. S. Hinds (Eds.). Quality of Life from Nursing and Patient Perspectives (p. 37-54). Boston: Jones and Bartlett Publishers. Van Hoorn, A. (2007). A short introduction to subjective well-being: Its measurement, correlates and policy uses. January 28, 2009. ABI/INFORM Global (Proquest) database.
Universitas Indonesia

79

Wardhani, Vini. (2006). Gambaran Kualitas Hidup Dewasa Muda Berstatus Lajang melalui Adaptasi Instrumen WHOQOL-BREF dan SRPB. Depok: Pascasarjana Fakultas Psikologi UI. Tugas Akhir S2 Yudistira, C. (n.d.). Kota bekasi 12 tahun. Diunduh dari http://megapolitan. kompas.com/read/xml/2009/03/16/06484682/ (diunduh pada tanggal 19 Juni 2009). http://www.antara.co.id/arc/2008/. (diunduh pada tanggal 26 Februari 2009). http://www.frontier.co.id/awardsdetail.php?id=10. (diunduh pada tanggal 24 Februari 2009) http://www.kickandy.com/forum/viewtopic.php. Februari 2009). http://www.edo.web.id/wp/2008/02/19/bahagia/. Februari 2009). http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid . (diunduh pada tanggal 16 Februari 2009). (diunduh pada tanggal 16 (diunduh pada tanggal 16

Universitas Indonesia