Anda di halaman 1dari 10

BERPIKIR ILMIAH

I. PENDAHULUAN Selain bergerak dan bernafas, berpikir merupakan ciri utama seorang manusia. Dengan kegiatan berpikir inilah seorang manusia dapat dibedakan dengan makhluk hidup yang lainnya. Dengan berpikir seorang manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh akal dapat

memikirkannya.

Melalui berpikir inilah manusia dapat menciptakan

kemajuan peradaban atau kebudayaan yang selalu berkembang, dan dengan berpikir itu pula manusia mampu beragama dan bertingkah laku susila. Berpikir disebut juga sebagai proses bekerjanya akal. Seorang manusia dapat berpikir karena memiliki akal. Dengan demikian, akal merupakan inti dari berpikir, atau dengan kata lain akal merupakan hakikatnya berpikir. Akal merupakan suatu unsur kejiwaan dari seorang manusia yang dapat digunakan untuk mencapai suatu kebenaran. Dengan akal seorang manusia dapat berpikir untuk mencari kebenaran yang hakiki. Menurut Fraenkel (1980), berpikir merupakan pembentukan ide, pembentukan semua pengalaman dan penyusunan maklumat dalam bentuk tertentu. Berpikir banyak sekali macamnya, namun secara garis besar berpikir dapat dibedakan menjadi berpikir alamiah dan berpikir ilmiah. Berpikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kebiasaan sehari-hari dari pengaruh alam sekitarnya, sedangkan berpikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat. Berpikir ilmiah akan dibahas pada makalah ini beserta dengan sarananya, yaitu sarana berpikir ilmiah. Sarana berpikir ilmiah merupakan alat berpikir yang sangat penting untuk menunjang kegiatan berpikir ilmiah. Untuk itu, bagi seorang ilmuwan penguasaan sarana berpikir ilmiah sangatlah penting agar dapat berpikir ilmiah.

II.

PEMBAHASAN a. Pengertian Berpikir Berikut ini beberapa pengertian berpikir menurut para ahli: 1. Menurut Drs. M. Ngalim, Mp (1990:43), berpikir adalah suatu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuaan yang terarah kepada suatu tujuan. 2. Menurut psikolog Gestalt, berpikir merupakan keaktifan psikis yang abstrak, yang prosesnya tidak dapat kita amati dengan alat indera. 3. Berpikir ialah kebolehan manusia untuk membentuk konsep, member sebab atau membuat penentuan (Beyer, 1984). 4. Berpikir merupakan pembentukan ide, pembentukan semua pengalaman dan penyusunan maklumat dalam bentuk

tertentu (Fraenkel, 1980). 5. Berpikir melibatkan pengelolaan operasi mental tertentu yang berlaku dalam pikiran atau sistem kognitif seseorang yang bertujuan menyelesaikan masalah (Mayer, 1977). 6. Berpikir ialah gejala jiwa yang dapat menetapkan hubunganhubungan antara pengetahuan-pengetahuan kita. Berpikir merupakan suatu proses dialektis, artinya selama kita berpikir, pikiran kita mengadakan tanya jawab pikiran kita. Untuk dapat meletakkan hubungan-hubungan antara pengetahuan kita dengan tepat. 7. Menurut Jujun S. Suriasumantri (1993), berpikir merupakan kegiatan (akal) untuk menemukan pengetahuan yang benar.

Berdasarkan beberapa pengertian tentang berpikir, maka dapat dirumuskan bahwa berpikir merupakan proses menggunakan pikiran untuk mencari makna dan pemahaman terhadap sesuatu, membuat masalah. pertimbangan dan keputusan atau menyelesaikan

b. Pengertian Berpikir Ilmiah Berpikir ilmiah adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan, mengembangkan dsb. secara ilmu pengetahuan (berdasarkan prinsip-prinsip ilmu

pengetahuan), atau menggunakan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Berpikir ilmiah adalah kegiatan (akal) yang menggabungkan pola berpikir (penalaran) deduktif dan induktif, dimana berpikir deduktif terkait dengan rasionalisme dan berpikir induktif berhubungan dengan empirism. Dengan kata lain, berpikir ilmiah adalah berpikir yang logis dan empiris. Logis berarti berpikir yang masuk akal, sedangkan empiris berarti berpikir secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Pola berpikir secara deduktif merupakan pola berpikir dari umum ke khusus, dimana penarikan kesimpulan diperoleh dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum. Penarikan

kesimpulan secara deduktif biasanya menggunakan pola yang disebut silogisme. Sedangkan pola berpikir secara induktif adalah pola berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat umum ditarik dari pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus.

c. Sarana Berpikir Ilmiah Berpikir ilmiah, dan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya yang lebih luas, bertujuan memperoleh pengetahuan yang benar atau pengetahuan ilmiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, kita manusia jelas memerlukan sarana atau alat berpikir ilmiah. Sarana ini bersifat mutlak, maka aktivitas keilmuan tidak akan maksimal tanpa sarana berpikir ilmiah tersebut. Seorang ilmuwan mutlak mempelajari dan menguasai sarana berpikir ilmiah, karena sarana berpikir ilmiah merupakan

alat

yang

membantu

untuk

mengembangkan

materi

pengetahuannya berdasarkan metode-metode ilmiah. Sarana berpikir ilmiah pada dasarnya ada tiga, yaitu: 1. Bahasa ilmiah 2. Logika dan Matematika 3. Logika dan Statistika

1. Bahasa Ilmiah Hasil dari proses bekerjanya akal atau berpikir tidak dapat diketahui oleh orang lain jika tidak dinyatakan dalam bentuk bahasa. Bahasa ialah merupakan pernyataan pikiran atau perasaan sebagai alat komunikasi manusia. Oleh karena itu, bahasa merupakan alat yang paling penting dalam hubungan antar manusia. Bahasa pada dasarnya terdiri dari kata-kata atau istilahistilah dan sintaksis. Kata atau istilah merupakan simbol dari arti sesuatu, dapat juga berupa benda-benda, kejadiankejadian, proses-proses, atau juga hubungan-hubungan, sedang sintaksis ialah cara untuk menyusun kata-kata atau istilah di dalam kalimat untuk menyatakan arti yang bermakna.

Penggolongan Bahasa Menurut penelaahannya, bahasa dibedakan menjadi dua, yaitu: a. Bahasa Alami Bahasa alami adalah bahasa sehari-hari yang biasa digunakan untuk menyatakan sesuatu, yang tumbuh atas dasar pengaruh alam sekelilingnya. Bahasa alami

dibedakan menjadi: 1. Bahasa Isyarat 2. Bahasa Biasa

b. Bahasa Buatan Bahasa buatan adalah bahasa yang disusun sedemikian rupa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan akal pikiran untuk maksud tertentu. Kata dalam bahasa buatan disebut istilah, sedang arti yang dikandung istilah itu disebut konsep. Bahasa buatan dibedakan menjadi dua macam, yaitu: 1. Bahasa Istilahi 2. Bahasa Artifisial

Fungsi Bahasa Pada dasarnya bahasa memiliki tiga fungsi, yaitu: (1) Fungsi ekspresif atau emotif Fungsi ini menyangkut fungsi bahasa untuk menunjukkan perasaan, seperti: persaan takut atau takjub akan sesuatu. (2) Fungsi afektif atau praktis Fungsi bahasa ini menimbulkan efek psikologis terhadap orang lain dan dapat mempengaruhi tindakan orang tersebut yang dapat menghasilkan kegiatan atau sikap tertentu. (3) Fungsi simbolik atau logik Fungsi bahasa yang dilambangkan melalui simbol-simbol untuk menyatakan fakta.

Untuk bahasa ilmiah, bahasa menduduki fungsi simbolik, karena komunikasi ilmiah bertujuan untuk menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan. Bahasa ilmiah juga harus terlepas dari fungsi bahasa emotif atau ekspresif.

2. Logika dan Matematika

Logika matematika mempunyai peran penting dalam berpikir deduktif. Bahasa yang digunakan dalam logika dan matematika adalah bahasa artificial, yaitu murni bahasa buatan. Ciri utama dari bahasa artifisial adalah bahasa ini tidak dipengaruhi oleh aspek emotif dan afektif dan jelas terlihat bentuk hubungannya. Dengan kata lain, logika dan matematika ini memenuhi fungsi bahasa yang bersifat logik atau simbolik, karena digunakan simbol-simbol untuk

menyatakan fakta. Kriteria kebenaran dari matematika adalah konsistensi dari berbagai postulat, definisi, dan berbagai aturan main lainnya. Oleh karena itu, matematika dan logika tidak bersifat tunggal, melainkan bersifat jamak. Logika dan matematika sebagai sarana berpikir deduktif menduduki peranan masing-masing. Logika berperan dalam penalaran yang sifatnya lebih sederhana. Sedangkan

matematika mengembangkan penalaran yang lebih terperinci. Tetapi hokum-hukum matematika masih dapat

disederhanakan ke dalam hukum-hukum logika.

3. Logika dan Statistika Logika statistika mempunyai peran penting dalam berpikir induktif, yaitu mencari konsep-konsep yang berlaku umum.

Penyebab dari pola pikir induktif adalah: 1. Pola Induksi Ilmiah Pola penalaran dalam pola berpikir induktif, yaitu: a. Observasi dan Eksperimen Langkah pertama adalah mengumpulkan fakta-fakta yang khusus. Metode yang digunakan untuk

mengumpulkan fakta-fakta tersebut adalah observai (pengamatan) dan eksperimen (uji-coba).

b. Hipotesis Ilmiah Langkah yang kedua adalah perumusan hipotesis. Hipotesi adalah dalil sementara yang diajukan

berdasarkan pengetahuan yang terkumpul sebagai petunjuk bagi penelitian lebih lanjut.

Syarat-syarat hipotesis ilmiah adalah sebagai berikut: (1) Hipotesis harus dapat diuji kebenarannya dengan cara membandingkan dengan fakta yang diamati. (2) Hipotesis harus terbuka dan dapat meramalkan bagi pengembangan konsekuensinya. (3) Hipotesis harus runtut dengan dalil-dalil atau prinsip-prinsip yang sudah dianggap benar. (4) Hipotesis harus dapat menjelaskan fakta-fakta yang dipersoalkan.

c. Verifikasi dan pengukuhan Langkah ketiga adalah mengadakan verifikasi.

Menverifikasi adalah membuktikan bahwa hipotesis ini adalah dalil yang sebenarnya. Verifikasi juga

mencakup generalisasi dari sebuah hipotesis menjadi sebuah teori.

d. Teori dan hukum ilmiah Langkah terakhir adalah sampai pada hukum ilmiah.

2. Penyimpulan Kausal

Penyimpulan kausal merupakan suatu hal yang penting karena digunakan untuk menentukan sesuatu hal yang terjadi itu disebabkan oleh apa, dan dengan penentuan sebab ini pula hukum ilmiah sebagai hasil akhir penalaran induktif dapat disusun dengan mudah. Ada lima macam metode dalam penyimpulan kausal, yaitu: a. Metode Persesuaian b. Metode Perbedaan c. Metode Perbedaan Tak Langsung d. Metode Sisa e. Metode Perubahan Seiring

III.

PENUTUPAN Kemampuan berpikir ilmiah yang baik sangat didukung oleh

penguasaan sarana berpikir dengan baik pula. Maka dalam proses berpikir ilmiah diharuskan untuk mengetahui dengan tepat peranan masing-masing sarana berpikir ilmiah tersebut. Sarana berpikir ilmiah memppunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuan. Sarana berpikir ilmiah meliputi bahasa ilmiah, logika matematika, dan logika statistika.

DAFTAR REFERENSI

Suriasumantri, Jujun S. 1993. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. ___________. 1996. Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Liberty. Yogyakarta.