Anda di halaman 1dari 13

MATERI 3

ETOLOGI
Kompetensi Dasar : 1. Mengidentifikasi pola perilaku hewan dan menjelaskan kemungkinan penyebabnya 2. Menelaa arti penting perilaku hewan terhadap keberlangsungan hidupnya Indikator : Melalui telaah referensi, observasi langsung di laboratorium atau di lingkungan alam kemudian mendiskusikannya secara bersama-sama, diharapkan dapat memiliki kemampuan dalam : 1. Mendeterminasi perilaku alami dan perilaku belajar pada hewan 2. Menafsirkan faktor-faktor pembentuk perilaku hewan 3. Menafsirkan peranan penting perilaku hewan bagi keberlangsungan hidupnya Tujuan : 1. Memperdalam pemahaman tentang konsep etologi hewan, pola, penyebab dan konsekuensinya 2. Meningkatkan kemampuan untuk mendeterminasi pola perilaku alami dan perilaku belajar pada hewan melalui observasi UraianMateri : Makhluk hidup akan melakukan interaksi dengan lingkungan sejak pertama kali dilahirkan. Agar tetap ada, setiap makhluk hidup harus beradaptasi pada berbagai strata kehidupan (populasi, komunitas, ekosistem dan biosfer) yang dapat teramati dalam wujud perilaku (behaviour). Pemahaman terhadap perilaku akan memberikan informasi penting tentang kemampuan yang dimiliki oleh suatu organisme dalam menghadapai tekanan seleksi alam (fitness). Tingkah laku merupakan akibat dari efek genetik dan faktor lingkungan (proses belajar) yang bekerja secara bersamaan. Pola perilaku sering teramati sebagai innate, insting, dan pola aksi tetap atau FAPs (Fixed Action Patterns). Innate merupakan serta bagaimana perilaku dapat meningkatkan kebugarannya

46

perilaku bawaan yang murni disebabkan oleh faktor genetik, sedangkan insting juga sering kali berpadu dengan pengalaman. Perilaku yang tidak secara spontan dimiliki oleh makhluk hidup (hewan) merupakan perilaku yang harus diperoleh dari proses belajar. Tipe pembelajarannya meliputi habituasi, imprinting, asosiasi, imitasi, dan inovasi. Habituasi paling sederhana, yang terjadi bila stimulus yang tidak berbahaya didapat oleh organisme secara berulang-ulang sehingga responnya terhadap stimulus tersebut akan hilang. Imprinting merupakan proses peniruan terhadap suatu pembelajaran pada periode kritis dari rentang kehidupan organisme (hewan). Asosiasi terkait erat dengan mekanisme hukuman dan hadiah (clasical conditioning) dan upaya coba-coba (trial and eror). Imitasi muncul akibat adanya proses peniruan terhadap individu lain tetapi bukan hanya pada periode kritis saja, sedangkan inovasi muncul sebagai respon terhadap keadaan baru, tanpa coba-coba dikenal juga sebagai problem solving. Jenis Jenis Perilaku Alami (1). Innate : merupakan perilaku yang telah ada di dalam individu sebagai bawaan lahir dan berkembang secara tetap/ pasti. Perilaku ini tidak memerlukan proses belajar, sering kali terjadi pada saat baru lahir dan bersifat genetic (dapat diturunkan). Dalam perilaku ini dikenal adanya istilah insting terutama berupa insting dasar yang menjadikan suatu hewan dapat melakukan sesuatu atau bertindak dalam kondisi tertentu. Contoh perilaku ini adalah sang anak yang baru lahir dapat menemukan sendiri kelenjar susu induknya untuk dapat memperoleh makanan dari air susu. Perilaku Planaria yang menghindar dari cahaya juga merupakan contoh dari perilaku insting. (2). Pola Aksi Tetap (Fixed Action Patterns/ FAPs): merupakan perilaku stereotipik yang merupakan serangkaian aktivitas oleh adanya stimulus spesifik. Contoh perilaku ini adalah ketika seekor anak burung baru menetas, ia akan dengan spontan membuka mulutnya dan kemudian induknya akan menaruh makanan di mulutnya tersebut. Contoh lainnya adalah ritual kawin pada beberapa jenis burung seperti burung merak atau burung kuau.Ritme cycardian (jam biologis) juga dimasukkan kedalam jenis perilaku pola aksi tetap misalnya kelelawar insektivora yang hanya aktif di malam hari.

47

(3). Perilaku Agonistik : perilaku agresif yang pada dasarnya dilakukan untuk dapat bertahan hidup (survival) atau memperoleh pengakuan dalam kelompok tertentu. Tujuan spesifik dari terjadinya agonistic sangat beragam, dan dapat terjadi intraspesies atau interspesies.Kadang kala perilaku ini bisa menyebabkan kematian tetapi terkadang hanya berupa ritual semata. (4). Perilaku Teritorial : merupakan perilaku mempertahankan suatu area tertentu (home range) dari kehadiran spesies atau individu pesaing sehingga suatu hewan dapat memiliki sumber makanan, tempat bereproduksi atau beraktivitas dan memelihara anak dan keturunannya dengan pesaing yang minimal atau bahkan tanpa adanya pesaing. Bentuk-bentuk teritrorialnya beragam, dapat berupa adanya penanda (urine, kotoran, bekas cakaran) di berbagai tempat dalam kawasan tertentu atau dengan adanya perlawanan ketika ada individu atau spesies lain mencoba masuk ke dalam kawasan. Perilaku teritori ini contohnya pada perilaku Harimau, Singa, dan hewan-hewan buas lainnya yang memiliki kawasan tertentu sebagai tempat mencari makanannya. (5). Perilaku Alturistik : merupakan perilaku social non egois pada hewan yang berkoloni dimana salah satu individu mengorbankan diri sendiri untuk menyelamatkan anggota lain yang lebih banyak dalam koloni tersebut. Perilaku ini akan merugikan bagi sang individu altruist karena dia dapat mati oleh ancaman tetapi anggota yang lebih banyak akan selamat atas tindakan penyelamatan yang ia lakukan. Contoh perilaku alturis adalah perilaku kera yang memberi alaram kepada koloninya bahwa terdapat predator yang akan menyerang, sehingga anggota koloni dapat segera menyelamatkan diri sedangkan dirinya mungkin saja terbunuh karena dapat dideteksi dari suara alarm yang ia berikan kepada anggota koloninya. Jenis-Jenis Perilaku Belajar (1) Perilaku Habituasi (Habituation) : merupakan jenis perilaku hewan yang mengabaikan suatu stimulus yang berulang-ulang dan tidak membahayakan dirinya. Perilaku ini dapat juga dikatakan sebagai bentuk kehilangan respons hewan terhadap jenis stimulus tertentu yang berdasarkan pengalamannya sebelumnya bahwa stimulus yang ia rasakan tidak pernah menimbulkan ancaman atau bahaya bagi dirinya sendiri. Contoh perilaku habituasi adalah anjing atau kucing yang saat awal dipelihara akan segera menyerang pemiliknya jika ditepuk punggungnya tetapi setelah sekian lama

48

kebiasaan menepuk punggung tersebut ternyata tidak menimbulkan rasa sakit atau cidera maka anjing atau kucing akan mengabaikan saja tindakan itu yang pada akhirnya ia tidak akan merespon apapun ketika punggungnya ditepuk berulang kali. (2). Imprinting : merupakan suatu perilaku berupa pengenalan atau persepsi terhadap suatu objek seperti induk yang berlangsung pada periode kritis setelah lahir (periode kritis ini berbeda masing-masing hewan). Sebagian besar unggas biasanya memperlihatkan perilaku ini ketika baru lahir, salah satunya adalah sekelompok angsa yang baru menetas lalu langsung anda beri makan, maka angsa-angsa tersebut akan menganggap itu sebagai induknya sehingga ia akan mengikuti kemana saja anda pergi. Walaupun anak-anak angsa tersebut kemudian melihat induk aslinya, tetap saja ia akan mengabaikan karena sudah ada persepsi dasar yang ia temukan saat pertama kali lahir. Perilaku ini dapat bersifat permanen namun dapat juga hilang seiring bertambahnya usia dan terlewatinya periode kritis. (3). Perilaku Asosiasi Pengkondisian Klasik (Clasical Conditioning): merupakan perilaku dimana hewan akan terbiasa untuk melakukan tindakan tertentu karena adanya orientasi hadiah (reward) yang akan dia peroleh jika hal tersebut ia lakukan dan adanya hukuman (punishment) jika ia tidak melaksanakannya. Ini biasanya dikondisikan selama proses pembelajaran yang sebagian besar dilakukan oleh manusia sebagai pendidiknya (contoh di dunia sirkus). Persepsi tentang hadia dan hukuman yang berasosiasi langsung dengan stimulus tertentu ini akan menjadi permanen sehingga kendati kemudian tidak ada hadia atau hukuman setelah respon yang ia lakukan, respon tersebut akan tetap ia lakukan pada periode berikutnya ketika ada stimulus serupa. Contohnya adalah perilaku lumba-lumba yang biasanya akan diberi makan jika ia bisa melintasi lingkaran api di atas kolam atau juga perilaku anjing yang segera menjulurkan lidah dan saliva yang menetes saat dibunyikan garputala (karena saat ia diajari pada periode seblumnya, stimulus suara berupa garputala selalu berasosiasi dengan akan adanya makanan yang dia peroleh dari tuannya). (4). Perilaku Asosiasi Pengkondisian Operan (Operant Conditioning) : merupakan perialu yang diperoleh dari tindakan coba-coba atau trial and error. Semakin dekat individu mendapatkan respon dengan adanya stimulus positif maka akan semakin mudah baginya mengulang keberhasilan respon tersebut. Dapat juga terjadi kepada hewan yang semakin lama semakin sedikit mengeluarkan energi untuk memperoleh

49

makanan. Atau dapat juga berupa perilaku jerah setelah suatu pengalaman buruk tertentu yang ia peroleh ketika melakukan suatu tindakan. (5). Imitasi : merupakan perilaku hewan yang diperolehnya dengan mengamati perilaku hewan lain lalu menirukannya tetapi peniruan ini terjadi setelah melewati periode kritis perkembangannya. Banyak contoh hewan seperti anjing, kucing atau serigala yang belajar teknik tertentu dalam berburu mangsa dengan meniru induknya. (6). Perilaku Inovasi (Insight Learning atau Reasoning) : merupakan perilaku paling cerdas dimana suatu hewan dapat merespon sesuatu stimulus pada kondisi tertentu dalam memecahkan permasalahannya secara cepat dan spontan kendati tidak ada pembelajaran yang identik dengan kondisi tersebut sebelumnya. Subjek dari inovasi adalah penyelesaian masalah (problem solving). Contohnya adalah seekor kera yang dikurung dalam ruang tertutup dimana di langit-langit ruangan digantungkan pisang yang tidak akan dapat diraihnya jika tanpa bantuan alat tertentu. Maka dengan serta merta kera tersebut akan segera menyusun kotak-kotak kayu yang ada dalam ruangan membentuk tangga untuk mencapai pisang yang tinggi tersebut.

Gambar 3. 1. Contoh Perilaku Alami (Mating Dance Pada Burung Kuau) (Champbellet al., 2005)

50

Gambar 3. 2. Contoh Perilaku Belajar (Clasical Conditioning Pada Anjing-Percobaan Anjing Pavlov) (Jhonson, 2005)

Gambar 3. 3. Contoh Perilaku Inovasi (Insight Learning) pada kera (Jhonson, 2005) Telaah Khsusus :Tingkah laku Ikan Sepat Siam Dalam kehidupan sosialnya, organisme (hewan) juga mengekspresikan suatu perilaku sesuai dengan kondisi lingkungan dan lawan yang dihadapinya. Perilaku ini dikenal dengan perilaku sosial yang terjadi baik secara intraspesifik maupun interspesifik. Bentuk perilaku sosial dapat berupa agonistik, teritorial dan alturistik. Agonistik adalah perilaku agresif yang dilakukan untuk lulus hidup (survival), dapat bersifat mematikan atau tidak, berguna pula untuk memperebutkan pasangan (misalnya pada bangsa aves). 51

Teritori adalah perilaku pertahanan terhadap daerah jelajah pribadi (baik kelompok maupun individu) guna menpertahankan tersedianya sumber makanan, tempat kawin dan pengasuhan anak yang menguntungkan. Adapun alturistik dikenal juga sebagai perilaku non egois yang terdapat pada koloni yang berupa pengorbanan demi ketahanan kelompok walau kepentingan pribadinya terabaikan. Ikan sepat siam menunjukkan tingkah laku agresif terhadap sesamanya (tingkah laku intraspesifik). Tingkah laku ini sering ditunjukkan kepada sesamanya dengan menampilkan gerakan membelokkan sisi tubuh ke lawan. Jenis tingkah laku ini termasuk gerakan sirip pelvis, pukulan ekor dan cambukan ekor. Setelah melakukan gerakan ini ikan akan menampilkan gerakan berhadapan. Tingkah laku yang menyertai antara lain adalah mendirikan operkulum (tutup insang) lalu tingkah laku menyerang seperti merendahkan kepala, sedikit membengkokkan bagian belakang dan menggigit lawan. Dalam melakukan praktikum ini, jangan menguji beberapa fotokopi ikan yang berwarna sekaligus karena akan tidak diketahui warna mana yang akan menyebabkan munculnya tingkah laku tersebut. Telaa Khusus :Tingkah Laku Planaria Ketika berinteraksi dengan lingkungannya yang terekspresi dalam bentuk tingkah laku, hewan melibatkan sistem indera yang terkoordinasi dengan sistem saraf yang spesifik dan kompleks. Sistem saraf biasanya terhubung dengan reseptor stimulus yang beragam sesuai dengan jenis atau sumber rangsangan. Invertebrata seperti Planaria memiliki fotoreseptor yang spesifik berupa mangkuk mata (eye cup) yang memberikan informasi tentang intensitas dan arah cahaya tanpa membentuk bayangan sesungguhnya. Planaria akan menghindar dari cahaya sebagai upaya untuk menyelamatkan diri dari pemangsa. Perilaku ini juga merupakan upaya adaptasi guna mempertahankan daya lulus hidup. Hewan-hewan juga memiliki kemoreseptor spesifik terhadap senyawa penting seperti glukosa, oksigen, karbondioksida, dan asam amino. Selain itu, reseptor hewan juga sensitif terhadap perubahan osmolaritas dan asam-basa larutan. Bentuk respon yang dilakukan oleh hewan dapat bersifat positif (mendekat) atau negatif (menghindar), tergantung kepada jenis senyawa yang dideteksi.

52

Kegiatan 1. Tingkah Laku Innate Planaria


Alat & Bahan Alat dan bahan yang diperlukan adalah petridish, loupe, kertas karbon hitam, pipet tetes, senter kecil, aquadest, planaria, larutan NaCl dan sukrosa. Prosedur Kerja Perilaku Innate Fotopobia Planaria :Sediahkan sebuah petridish berukuran sedang yang berisi aquadest lalu masukkan Planaria dua ekor di dalamnya. Tutup sebagian permukaan petridish dengan kertas karbon sehingga menjadi gelap, sedangkan satu sisi menjadi terang.Selanjutnya berikan sinar dengan lampu senter pada sisi terang secara tegak lurus dengan permukaan air.Amati respon Planaria terhadap kondisi terang dan gelap tersebut.Catat kemana arah geraknya, cenderung ke tempat gelap atau tempat yang terang. Perilaku Innate Kemotaksis Planaria : Sediahkan dua petridish yang diisi dengan aquadest secukupnya. Masukkan masing-masing satu ekor Planaria kedalam petridish di satu sisi (agak ke tepi). Selanjutnya teteskan satu tetes larutan NaCl pada petridish pertama pada posisi dekat dengan Planaria, dan satu tetes sukrosa pada petridish kedua pada posisi yang dekat juga dengan Planaria. Catat bagaimana respon dari hewan tersebut, mendekat atau menghindar.Analisis hasil pengamatan dan interpretasikan kemungkinan-kemungkinan penyebabnya.

Kegiatan 2 . Perilaku Clasical Conditioning Ikan Komet


Alat & Bahan Alat dan bahan yang diperlukan adalah dua unit aquarium beraerasi dan berisi air, ikan komet yang sudah lama dipelihara di dalam aquarium dan terbiasa diberi pakan setiap hari, ikan komet yang baru saja dipelihara yang belum terbiasa diberi pakan. Prosedur Kerja Masukkan masing-masing ikan komet pada aquarium yang berbeda, ikan yang sudah terbiasa diberi pakan diletakkan pada aquarium pertama, dan ikan yang baru dipelihara pada aquarium kedua.Biarkan ikan berada dalam aquarium selama satu malam dan jangan diberi pakan apa-apa.Selanjutnya, lakukan peengamatan perilaku berupa responnya ketika kita mendekati aquarium dan menjulurkan jemari ke permukaan air di

53

dalam aquarium.Bandingkan respon ikan pada kedua aquarium tersebut.Catat dan interpretasikan hasil praktikum pada lembar kerja. Lembaran Kerja : a. Perilaku Innate Planaria No. Jenis Perilaku 1. Innate fotopobia 2. Innate kemotaksis NaCl : Sukrosa : Respon Planaria (Perilaku)

Analisis : . b. Perilaku Clasical Conditioning Ikan Komet Respon Ikan Komet Yang Sudah lama dipelihara Yang baru dipelihara

Ketika jemari didekatkan ke permukaan air dalam aquarium

Analisis : .

Evaluasi :
Soal Objektif Pendalaman Materi Teoritis: 1. Diantara bentuk proses belajar yang menghasilkan jenis perilaku, kecuali... a. Imitasi b. Asosiasi c. Habituasi d. Diferensiasi 2. Perilaku dapat didefinisikan sebagai.... a. Adaptasi evolusi yang menyebabkan terjadinya suatu kelulushidupan dan kesuksesan reproduksi b. Ritme biologi waktu dan kebiasan-kebiasaan yang sering diperbuat oleh suatu organisme

54

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

c. Suatu respon terhadap kondisi-kondisi tertentu yang ditimbulkan karena adanya stimulus d. Respon pengenalan terhadap suatu objek atau peristiwa Anak burung yang baru menetas selalu membuka mulutnya sebagai bentuk respon terhadap induknya yang akan menaruh makanan dalam mulutnya. Perilaku tersebut dapat dikelompokkan ke dalam.. a. Innate clasic b. Streotifik c. Habituasi d. Clasical-conditioning Perilaku suatu hewan terjadi karena ...... a. Evolusinya dan lingkungan b. Genetis dan proses belajar c. Pengalaman dan proses belajar d. Genetis dan evolusi Efek perilaku pada dasarnya dapat meningkatkan kebugaran (fitness). Dalam hal ini, perilaku akan bersifat... a. Meningkatkan daya adaptasi b. Menurunkan daya adaptasi c. Mengurangi resiko terhadap pemangsa d. Mencegah degradasi anggota populasi Yang manakah diantara pernyataan berikut yang tidak benar mengenai perilaku agonistik? a. Perilaku agonistik paling umum pada anggota spesies yang sama b. Perilaku agonistik pada dasarnya dilakukan untuk dapat tetap hidup (survival) c. Perilaku agonistik terjadi untuk menarik pasangan kawin d. Perilaku agonistik tidak melibatkan konflik simbolik dan seringkali tidak menyebabkan bahaya yang serius baik bagi pemenang atau yang kalah dalam perkelahian atau pertemuan tersebut Kontroversi nature versuse nurture berpusat pada.. a. Peranan gen dalam pembelajaran b. Perbedaan antara penyebab proksimat dan ultimat perilaku c. Sejauh mana perilaku seekor hewan bersifat bawaan atau dipelajari d. Apakah hewan memiliki perasaan atau kesadaran Seekor burung merpati secara tidak sengaja menemukan seekor ulat di bawah sarangnya. Istilah yang tepat untuk menjelaskan perilaku burung tersebut adalah... a. Pengembangan pencarian makanan secara insting b. Pengemangan suatu pencarian citra c. Agonistik terhadap makanan d. Insting Respon suatu organisme terhadap suatu stimulus yang diberikan akan melahirkan pola tingkah laku seperti... a. Kinestesis b. Kinesis c. Ritme cicardian d. Insight learnin

55

10. Seekor srigala diserang oleh landak sehingga menyebabkan tubuh dan wajahnya terluka oleh duri landak yang menancap. Setelah kejadian itu, serigala mendapatkan pengalaman untuk tidak menyerang landak. Perilaku ini lebih tepat dikelompokkan ke dalam a. Agonisitik b. Egois c. Trial d. Trial and eror Soal Objektif Untuk Pendalaman Materi Praktikum: 1. Perilaku yang diperlihatkan oleh ikan komet yang sudah lama dipelihara termasuk kedalam kelompok perilaku a. Perilaku alami b. Perilaku belajar c. Perilaku semi alami d. Perilaku kompleks 2. Jika replika ikan berwarna dihadapkan kepada ikan sepat siam lebih dari 5 menit, maka yang terjadi adalah.. a. Ikan memperlihatkan perilaku menyerang b. Ikan tidak lagi merespon c. Ikan sesekali merespon d. Ikan sudah mengenali kertas replika sehingga tidak lagi mengacuhkan 3. Diantara perilaku agresif yang menyertai ikan sepat siam dalam praktikum adalah... a. Merendahkan kepala, membengkokkan ekor lalu menyerang b. Berputar-putar, membengkokkan sirip, lalu menyerang tak tentu arah c. Berenang tak tentu arah sambil membuka operculumnya d. Menggerakkan ekor lalu menyerang bertubi-tubi 4. Replika ikan berwarna dengan motif yang sama dengan ikan sepat siam akan menyebabkan ikan tersebut berperilaku... a. Agresif menyerang b. Diam c. Egois d. Mendekat dan merespon 5. Menurut anda apa yang akan terjadi jika ikan sepat siam ditempatkan dalam wadah bersama ikan jenis lain? a. Tidak mengacuhkan b. Menyerang c. Meniru tingkah laku ikan tersebut d. Hanya mengamati saja 6. Hubungan antara perilaku menghidari cahaya dari planaria dengan adaptasinya adalah... a. Menghidari cahaya sama artinya dengan menghidari datangnya mangsa b. Menghindari cahaya akan mempercepat mekanisme reproduksinya

56

c. Menghidari cahaya akan mempermudah mengidentifikasi makanan d. Menghidari cahaya akan memperbesar laju pertumbuhan 7. Respon planaria terhadap senyawa glukosa adalah... a. Bersifat positif (mendekat) b. Bersifat negatif (menjauh) c. Tidak berespon d. Mati 8. Pada dasarnya reaksi planaria terhadap cahaya hanya didasari pada reseptor yang mendeteksi ....... a. Intensitas dan bayangan yang terbentuk b. Intensitas cahaya dan arah cahaya c. Terbentuknya bayangan d. Interval penyinaran 9. Respon planaria terhadap jenis senyawa yang dideteksinya tergantung kepada... a. Sensitifitas perubahan osmolaritas dan asam basa larutan b. Adaptasinya dalam mempertahan daya lulus hidup c. Ada tidaknya gangguan pada stimulus yang mempengaruhi ritme biologi internal d. A, B, dan C benar 10. Pergerakan planaria yang terjadi karena kondisi lingkungan cahaya yang tidak sesuai dikelompokkan ke dalam jenis perilaku.. a. Mekanisme kinesis random b. Taksis random c. Chemokinesis communication d. Habituasi Soal Essay : 1. Warna apa yang menimbulkan respon agresif pada ikan sepat siam ? 2. Apa hubungan warna dengan intensitas respon ikan tersebut ? 3. Mengapa ikan sepat siam cenderung berperilaku agresif ? Adakah hubungannya dengan adaptasi ? 4. Stimulan apa yang menimbulkan respon pada planaria ? 5. Stimulan mana yang menimbulkan respon positif dan stimulan mana yang menimbulkan respon negatif? Mengapa demikian ? 6. Apa yang dimaksud dengan tingkah laku ? 7. Komponen-komponen apa saja yang terlibat dalam membentuk suatu pola tingkah laku ? 8. Apa saja jenis pola perilaku pada hewan ? 9. Bagaimana perbedaan pola perilaku pada hewan invertebrata dan vertebrata ? 10. Dapatkah suatu perilaku hewan mengalami perubahan ? Jelaskan ! Essay :

57

Daftar Bacaan : 1. Jhonson, R. 2005. Biology Sixth Edition. Wiley and Sons. New York. 2. Sanlon, V. C., T. Sanders. 2007. Essentials of Anatomy and Physiology Fith Edition. Davis Company. Philadelpia. 3. Solomon, E. P., L. R. Ber, D. W. Martin, and C. Villee. 1996. Biology 4th Ed. Saunders College Pub. ***

58