Anda di halaman 1dari 13
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bungkil Jarak Pagar Biji jarak pagar mempunyai kulit keras dan berwarna

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bungkil Jarak Pagar

Biji jarak pagar mempunyai kulit keras dan berwarna hitam dan di dalamnya terdapat kernel atau daging biji yang berwarna putih. Proporsi kulit dan kernel antara 350 sampai 400 g per kg biji dan 600 sampai 650 g per kg biji. Bungkil biji merupakan produk samping dari ekstraksi minyak dengan proporsi 500-600 g per kg kernel (Makkar et al, 2008).

Selain menghasilkan minyak sebagai produk utamanya, pengolahan biji jarak pagar juga menghasilkan bungkil biji. Bungkil biji merupakan sisa daging biji setelah diambil minyaknya (straight jatropha oil). Bungkil ini mengandung protein hingga 60%. Apabila detoksifikasi pada bungkil jarak sudah bisa diterapkan, bungkil biji jarak sangat potensial sebagai sumber protein, terutama untuk pakan ternak (Priyanto, 2007). Selain itu, menurut Makkar dan Becker (1997), bungkil jarak pagar yang bersifat toksik juga dapat digunakan sebagai pupuk dan pestisida, substrat untuk produksi biogas dan sumber bahan bakar untuk generator. Bungkil jarak pagar juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan briket pengganti bahan bakar minyak tanah (Hambali dan Mujdalipah, 2006).

Di lahan yang sudah berproduksi, bungkil sisa pengepresan daging biji jarak setelah diambil minyaknya sangat baik digunakan untuk kompos. Bungkil daging biji banyak mengandung N (nitrogen), P (fosfor), dan K (kalium) (Nurcholis dan Sumarsih, 2007). Kandungan kimia bungkil biji jarak sisa pengepresan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan kimia bungkil biji jarak pagar

Jenis Unsur Hara

Kandungan (%)

C organik

55.2

N

4.1

C/N Ratio

13.5

P

0.5

K

1.2

Ca

0.3

Mg

0.4

Na

0.1

Sumber : Hening (2005) dalam Nurcholis dan Sumarsih (2007)

0.3 Mg 0.4 Na 0.1 Sumber : Hening (2005) dalam Nurcholis dan Sumarsih (2007) Gambar 1.

Gambar 1. Bungkil jarak pagar

2.2 Kompos Limbah tanaman jarak yang belum termanfaatkan berupa daun, dahan, ranting, kulit buah jarak,

2.2 Kompos

Limbah tanaman jarak yang belum termanfaatkan berupa daun, dahan, ranting, kulit buah jarak, dan bungkil dapat diolah menjadi kompos. Kompos adalah pupuk organik yang dibuat melalui proses pengomposan. Pengomposan didefinisikan sebagai penguraian dan pemantapan bahan-bahan organik secara biologis. Hasil akhirnya berupa produk yang stabil sehingga sangat baik digunakan untuk menggemburkan tanah, baik sebagai pupuk maupun conditioner tanah tanpa merugikan lingkungan (Hambali et al., 2007). Diagram alir pengomposan bungkil jarak pagar menjadi pupuk organik dapat dilihat pada Gambar 2.

Bungkil Kotoran ternak
Bungkil
Kotoran
ternak

Pencampuran

Limbah jarak Decomposer
Limbah jarak
Decomposer
Kotoran ternak Pencampuran Limbah jarak Decomposer Fermentasi Pengaturan aerasi dan kadar air Kompos matang

Fermentasi

ternak Pencampuran Limbah jarak Decomposer Fermentasi Pengaturan aerasi dan kadar air Kompos matang Pengeringan

Pengaturan aerasi dan kadar air

Kompos matang
Kompos matang

Pengeringan

Pengaturan aerasi dan kadar air Kompos matang Pengeringan Gambar 2. Penambahan beneficial soil mikroba/aditif

Gambar

2.

Penambahan beneficial soil mikroba/aditif

Gambar 2. Penambahan beneficial soil mikroba/aditif Pengayakan Pembentukan Pengemasan Slow released fertilizer

Pengayakan

2. Penambahan beneficial soil mikroba/aditif Pengayakan Pembentukan Pengemasan Slow released fertilizer Diagram

Pembentukan

beneficial soil mikroba/aditif Pengayakan Pembentukan Pengemasan Slow released fertilizer Diagram alir

Pengemasan

soil mikroba/aditif Pengayakan Pembentukan Pengemasan Slow released fertilizer Diagram alir pengomposan
Slow released fertilizer Diagram alir pengomposan bungkil jarak menjadi Mujdalipah, 2006)
Slow released fertilizer
Diagram
alir
pengomposan
bungkil
jarak
menjadi
Mujdalipah, 2006)

pupuk

organik

(Hambali

dan

Ketika dicampur dengan tanah, kompos meningkatkan kandungan bahan organik, memperbaiki sifat fisik tanah, menyediakan nutrisi essensial, dan meningkatkan kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Kompos juga dapat diaplikasikan ke permukaan tanah untuk mempertahankan kelembaban, mengendalikan pertumbuhan gulma, mengurangi erosi, memperbaiki tampilan tanah, dan menjaga tanah dari peningkatan atau kehilangan panas yang terlalu cepat (Bass et al., 1992).

Faktor-faktor yang dapat mempercepat proses pengomposan adalah nilai C/N bahan, ukuran bahan, kontak dengan bakteri,

Faktor-faktor yang dapat mempercepat proses pengomposan adalah nilai C/N bahan, ukuran bahan, kontak dengan bakteri, waktu pengomposan, jumlah mikroba dekomposer, kelembaban (kadar air), aerasi, suhu dan keasaman (pH) yang optimum (Hambali dan Mujdalipah, 2006). Menurut Bass et al. (1992) dekomposisi material organik di dalam gundukan kompos bergantung pada aktivitas mikroorganisme dekomposer. Setiap faktor yang menghambat atau menghentikan pertumbuhan mikroorganisme ini juga akan menghambat proses dekomposisi. Dekomposisi yang efisien terjadi ketika aerasi dan kelembaban cukup, partikel atau material limbah berukuran kecil, dan ketika pupuk dan perekat ditambahkan dalam jumlah yang cukup.

Terkait dengan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari kompos bungkil jarak pagar, keberadaan bungkil di udara terbuka dapat meningkatkan konsentrasi gas CH 4 , N 2 O, H 2 S, NH 3 , CO 2 dan komponen organik yang bersifat volatil (VOCs) melalui proses dekomposisi biomassa oleh berbagai jenis mikroorganisme. Strategi terbaik untuk permasalahan ini adalah dengan menjadikan bungkil sebagai sumber “biomassa”, tidak hanya membuangnya sebagai “limbah”. Dekomposisi bungkil secara anaerobik menghasilkan emisi gas (CH 4 , VOCs, H 2 S) yang lebih rendah (Chandra et al, 2006). Batjes dan Bridges (1992) dalam reviewnya menyatakan beberapa hasil penelitian menunjukkan penambahan bahan organik pada lahan sawah dapat meningkatkan emisi CH 4 . Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Dubey (2005) bahwa penambahan bahan organik pada lahan sawah dapat meningkatkan fluks CH 4 dengan menurunkan Eh tanah dan menyediakan karbon untuk metanogen. Bahan organik dapat merubah karakteristik tanah baik secara kualitatif maupun kuantitatif sehingga dapat mempengaruhi pembentukan CH 4 . Terkait dengan emisi N 2 O, menurut Pathak (1999) denitrifier sama halnya dengan nitrifier menggunakan C organik sebagai elektron donor untuk mendapatkan energi dan sintesis konstituen selnya sehingga penambahan bahan organik dapat meningkatkan emisi N 2 O. Rastogi et al. (2002) menyatakan aplikasi bahan organik ke dalam tanah dapat meningkatkan emisi CO 2 .

2.3 Gas Rumah Kaca

Rataan suhu permukaan bumi sekitar 288°K (15°C). Suhu tersebut dapat dipertahankan karena keberadaan sejumlah gas yang berkonsentrasi di atmosfer bumi. Sejumlah gas tersebut berperan seperti atap dan dinding kaca pada rumah kaca (“green house”) sehingga disebut gas rumah kaca (GRK). Dengan adanya GRK ini, memungkinkan cahaya matahari menembus “kaca” dan menghangatkan suhu bumi, inilah yang disebut dengan efek gas rumah kaca (efek GRK). Tanpa efek GRK suhu bumi akan sangat rendah sehingga tidak mampu mendukung kehidupan organisme secara normal (Suprihati, 2005).

Bertambahnya GRK di atmosfer akan menahan lebih banyak radiasi daripada yang dibutuhkan bumi sehingga akan ada kelebihan panas. Sebagai akibat kelebihan panas ini terjadilah gejala pemanasan global (global warming) yaitu naiknya suhu permukaan bumi. Gejala ini juga diikuti naiknya suhu air laut, perubahan pola iklim seperti naiknya curah hujan dan perubahan frekuensi dan intensitas badai, dan naiknya permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub. Perubahan iklim yang terjadi akan menyebabkan kerugian yang besar bagi kehidupan manusia (Irmansyah, 2004).

Kontribusi gas rumah kaca terhadap pemanasan global tergantung dari jenis gasnya. Gas rumah kaca yang penting kontribusinya terhadap pemanasan global adalah karbon dioksida (CO 2 ), metana (CH 4 ), dinitro-oksida (N 2 O), perfluorocarbon (PFC), hydrofluoro-carbon (HFC) dan sulphur hexafluoride (SF 6 ). Setiap gas rumah kaca mempunyai potensi pemanasan global (Global Warming

Potential / GWP) yang diukur secara relatif berdasarkan emisi CO 2 dengan nilai 1. Makin

Potential / GWP) yang diukur secara relatif berdasarkan emisi CO 2 dengan nilai 1. Makin besar nilai GWP makin bersifat merusak (Sugiyono, 2006).

Menurut Irmansyah (2004), di Indonesia kontribusi terbesar GRK berasal dari karbon dioksida, metana dan dinitrogen oksida. Karbon dioksida (CO 2 ) yang merupakan bagian terbesar dari emisi GRK ini dihasilkan oleh sektor kehutanan dan energi. Gas kedua terbesar dalam mempengaruhi pemanasan global adalah gas metana. Emisi metana terbesar berasal dari sektor pertanian (termasuk di dalamnya sektor peternakan). Pada tahun 1990 sektor kehutanan dan tata guna lahan menghasilkan 42.5% dari total emisi GRK, sementara dari sektor energi menghasilkan 40.9%, kemudian diikuti oleh emisi dari sektor pertanian (13.4%), industri (2.4%) dan limbah (0.8%).

Emisi GRK dari sektor pertanian sebagian besar dihasilkan dari proses respirasi yang terjadi di dalam tanah. Mosier et al. (2004) juga menyatakan lahan pertanian merupakan sumber utama emisi gas yang berasal dari kegiatan antropogenik. Gas rumah kaca yang dihasilkan di dalam tanah akan ditransportasikan ke atmosfer melalui lintasan difusi gas dan sebagian lain terlarut dalam air dan bergerak ke atmosfer melalui evapotranspirasi. Produksi dan transportasi GRK tersebut berkaitan erat dengan potensial redoks, pH, porositas serta aerasi yang secara praktikal dapat didekati dengan pengelolaan air (Suprihati, 2005). Berikut ini adalah penjelasan mengenai beberapa gas rumah kaca yang utama.

2.3.1 Karbondioksida (CO 2 )

Karbondioksida merupakan jenis emisi gas yang memiliki konsentrasi paling tinggi di udara jika dibandingkan dengan emisi gas yang lain. Menurut informasi dari World Meteorogical Organization/WMO (2007), CO 2 merupakan gas penyerap sinar inframerah yang utama, dihasilkan dari aktivitas antropogenik dan bertanggungjawab terhadap 63% dari total radiasi yang diterima bumi. CO 2 juga berkontribusi dalam meningkatkan radiasi sebanyak 87% selama dekade terakhir dan 91% selama lima tahun terakhir. Sebelum masa revolusi industri, kelimpahan CO 2 di atmosfer mendekati konstan pada angka ~280 ppm. Sejak akhir tahun 1700-an, konsentrasi CO 2 di amosfer meningkat sebanyak 36%. Peningkatan tersebut sebagian besar berasal dari emisi hasil pembakaran bahan bakar fosil (sekitar 8.4 Gt karbon per tahun) kemudian diikuti oleh adanya deforestasi (~1.5 Gt karbon per tahun). Secara keseluruhan, rata-rata kelimpahan CO 2 di atmosfer tahun 2006 mencapai 381.2 ppm.

Emisi CO 2 dapat berasal dari penggunaan bahan bakar fosil, seperti: batubara, minyak bumi dan gas bumi, serta dari industri semen dan konversi lahan. Penggunaan bahan bakar fosil merupakan sumber utama emisi CO 2 di dunia dan mencapai 74% dari total emisi. Konversi lahan mempunyai kontribusi sebesar 24% dan industri semen sebesar 3% (Sugiyono, 2006).

Terkait dengan emisi CO 2 yang berasal dari lahan pertanian, Setyanto (2008) menyatakan karbondioksida merupakan komponen terbesar yang diemisikan dari lahan pertanian. Meskipun emisi CO 2 sangat tinggi di lahan pertanian, tetapi gas ini akan kembali digunakan tanaman saat berlangsungnya proses fotosintesis dan akan dikonservasikan ke bentuk biomas tanaman. Produksi CO 2 dari tanah berasal dari hasil dekomposisi bahan organik secara aerobik, respirasi akar tanaman dan mikroba. Praktek pengelolaan lahan yang berpengaruh terhadap penyimpanan dan pelepasan CO 2 juga berkontribusi terhadap emisinya (Suprihati, 2005).

Karbon dioksida terbebaskan dari tanah ke atmosfer melalui proses respirasi. Respirasi tanah tersebut merupakan gabungan antara tiga proses biologi yaitu respirasi mikroorganisme, respirasi akar, dan respirasi hewan yang ada di permukaan tanah atau pada lapisan tanah atas dimana residu tanaman terkonsentrasi serta satu proses non-biologis, yaitu proses oksidasi kimia yang dapat terjadi pada suhu tinggi (Rastogi et al., 2002).

2.3.2

Metana (CH 4 )

2.3.2 Metana (CH 4 ) Data dari World Meteorologycal Organization /WMO (2007) menunjukkan metana (CH 4

Data dari World Meteorologycal Organization/WMO (2007) menunjukkan metana (CH 4 ) berkontribusi sebanyak 18.6% dari total radiasi yang diterima bumi. Metana secara tidak langsung dapat menimbulkan efek negatif pada iklim permukaan bumi dengan cara mempengaruhi ozon pada lapisan troposfer dan uap air pada lapisan stratosfer. Metana teremisikan ke atmosfer melalui proses alami (~40%, contoh : lahan basah dan rayap) dan sumber-sumber antropogenik (~60%, contoh :

eksploitasi bahan bakar fosil, lahan sawah, ruminansia, pembakaran biomassa, dan pengolahan tanah). Metana dapat dihilangkan dari atmosfer melalui reaksi dengan senyawa OH dan mampu bertahan di atmosfer selama ~9 tahun. Sebelum era industri, kelimpahan metana di atmosfer adalah ~700 ppb. Sedangkan pada tahun 2006 rata-rata secara keseluruhan kelimpahan metana di atmosfer mencapai 1782 ppb. Dengan demikian, semenjak era pra-industri sampai tahun 2006, konsentrasi metana di atmosfer meningkat sampai 155%. Selain waktu tinggalnya yang lama, CH 4 memiliki kemampuan mamancarkan panas 21 kali lebih tinggi dari CO 2 . Bakteri metanotrop pada lahan sawah adalah satu-satunya mikroorganisme yang dapat menggunakan CH 4 sebagai bagian proses metabolismenya untuk kemudian dirubah menjadi CO 2 . Dengan berat molekulnya yang ringan, gas CH 4 juga mampu menembus sampai lapisan ionosfir dimana terdapat senyawa radikal O 3 yang berfungsi sebagai pelindung bumi dari serangan radiasi gelombang pendek ultra violet (UV-B) (Setyanto, 2008). Produksi gas rumah kaca metana (CH 4 ) berasal dari dekomposisi bahan organik secara anaerob (Suprihati, 2005). Menurut Mosier et al. (2004), produksi metana hanya terjadi dalam kondisi anaerobik seperti yang terjadi di daerah rawa alami dan sawah dataran rendah. Proses utama yang terjadi di lahan tergenang dan merupakan sumber CH 4 adalah serangkaian reaksi reduksi-oksidasi (redoks) yang dimediasi oleh beberapa jenis mikoorganisme yang berbeda. Menurut Robertson dan Grace (2003), metana juga dikonsumsi di dalam tanah tetapi oleh bakteri dari kelas yang berbeda yaitu metanotrop. Konsumsi CH 4 tersebut ada dalam jumlah yang kecil. Proses produksi metana (metanogenesis) terjadi pada lapisan anaerobik tanah oleh bakteri pendekomposisi bahan organik. Proses tersebut terjadi setelah sejumlah ion yang berperan sebagai elektron akseptor dalam oksidasi bahan organik menjadi CO 2 , seperti O 2 , nitrat, mangan, besi dan sulfat direduksi (Dubey, 2005). Beberapa kemungkinan reaksi terbentuknya metana adalah sebagai berikut (Batjes, 1992) :

a. Reduksi H 2 terhadap CO 2 oleh metanogen kemoautotropik :

CO 2 + H 2 CH 4 + 2H 2 O

b. Beberapa strain metanogen juga dapat menggunakan HCOOH atau CO sebagai substrat untuk memproduksi metana, CO 2 dan H 2 :

4HCOOH CH 4 + 3CO 2 + 2H 2 O

4CO + 2H 2 O CH 4 + 3CO 2

c. Metana juga bisa diproduksi oleh metilotrof metanogen dengan menggunakan substrat yang mengandung kelompok metil seperti metanol, asam asetat dan trimetilamin

4CH 3 OH 3CH 4 + CO 2 + 2H 2 O

CH 3 COOH CH 4 +

CO 2

4(CH 3 ) 3- N + 6H 2 O 9CH 4 +

3CO 2 + 4NH 3

Menurut Dubey (2005), jumlah CH 4 yang teremisi dari tanah ke atmosfer merupakan hasil keseimbangan

Menurut Dubey (2005), jumlah CH 4 yang teremisi dari tanah ke atmosfer merupakan hasil keseimbangan dari dua proses yang saling berkebalikan, yaitu proses produksi dan oksidasi metana. Gas metana teremisikan dari tanah ke atmosfer melalui tiga jalur utama yaitu difusi, ebullition, dan transpor melalui tanaman (Gambar 3).

ebullition , dan transpor melalui tanaman (Gambar 3). Gambar 3. Bagan konsep produksi, oksidasi dan emisi

Gambar 3. Bagan konsep produksi, oksidasi dan emisi metana dari sawah (Dubey, 2005)

Proses difusi metana di dalam tanah berjalan lambat dan laju difusinya sangat rendah bila dibandingkan dengan dua jalur yang lain. Ebullition terjadi ketika CH 4 teremisikan ke atmosfer dalam bentuk gelembung-gelembung gas. Gelembung metana pada umumnya terbentuk pada lapisan yang jenuh dengan air. Terbebasnya gelembung metan ke lapisan aerobik yang dekat dengan permukaan tanah menunjukkan tidak ada konsumsi metan oleh metanotrof atau ada tapi dalam jumlah yang kecil (Couwenberg, 2009). Menurut Li (2000), ebullition hanya terjadi pada lapisan permukaan dan tingkatnya dikendalikan oleh konsentrasi CH 4 di dalam tanah, temperatur, porositas tanah dan aerencym tanaman.

Jalur distribusi emisi metana ke atmosfer yang dimediasi oleh tanaman terjadi melalui jaringan aerenchym. Menurut Couwenberg (2009), sebagian besar tanaman yang tumbuh di tanah yang basah/lembab memiliki jaringan aerenchym yang digunakan untuk mendistribusikan oksigen ke zona akar sebagai bentuk adaptasi sistem perakaran di tanah yang lembab. Keberadaan oksigen di zona perakaran memungkinkan terjadinya oksidasi metana di zona tersebut. Pada saat yang sama, metana yang ada di zona perakaran ditrasportasikan menuju atmosfer dengan melewati zona aerob melalui jaringan aerenchym.

2.3.3

Dinitro Oksida (N 2 O)

2.3.3 Dinitro Oksida (N 2 O) Dinitro oksida adalah gas rumah kaca yang berpotensi menimbulkan pemanasan

Dinitro oksida adalah gas rumah kaca yang berpotensi menimbulkan pemanasan global secara siginifikan dan berdampak negatif pada lingkungan. Dinitro oksida (N 2 O) berkontribusi sebesar 6.5% dari total radiasi yang diterima permukaan bumi. Kelimpahan N 2 O di atmosfer sebelum era industrialisasi adalah 270 ppb. Emisi N 2 O berasal dari berbagai sumber alami dan antropogenik termasuk laut, tanah, penggunaan bahan bakar, pembakaran biomassa, pemakaian pupuk, dan berbagai proses yang terjadi di industri. Dari berbagai sumber emisi tersebut, kegiatan antropogenik merupakan penyumbang emisi N 2 O terbesar yaitu 1/3 bagian dari total emisi N 2 O. N 2 O dapat dihilangkan dari atmosfer melalui proses fotokimia di lapisan stratosfer. Secara keseluruhan, rata-rata kelimpahan N 2 O selama tahun 2006 sebanyak 320.1 ppb, meningkat 0.8 ppb dari tahun sebelumnya. Jadi bila dibandingkan dengan sebelum era industrialisasi, emisi N 2 O di atmosfer pada tahun 2006 mengalami peningkatan sebesar 19% (World Meteorologycal Organization, 2007).

Menurut Robertson dan Grace (2004), secara umum hanya tiga GRK yang keberadaannya dipegaruhi oleh sektor pertanian : CO 2 , N 2 O dan CH 4 . Meskipun CH 4 dan khususnya N 2 O konsentrasinya di atmosfer jauh lebih kecil dari CO 2 , nilai GWP (Global Warming Potensial) dari kedua jenis GRK tersebut cukup tinggi sehingga adanya perubahan kecil tidak sebanding dengan dampak yang ditimbulkan terhadap radiasi yang diterima bumi. GWP dari N 2 O adalah 275, yang artinya satu molekul N 2 O yang terbebaskan ke atmosfer akan menyebabkan dampak radiasi 275 kali lebih besar dari dampak yang ditimbulkan CO 2 pada saat yang sama.

Menurut Mosier et al. (2004), sebagian besar N 2 O diproduksi dari proses nitrifikasi dan denitrifikasi di dalam tanah. Nitrifikasi merupakan reaksi oksidasi ammonia menjadi nitrit kemudian nitrat. Nitrosomonas dan Nitrosospira merupakan bakteri utama yang berperan dalam oksidasi ammonia menjadi nitrit sedangkan Nitrobacter mengoksidasi nitrit menjadi nitrat. Denitrifikasi merupakan proses reduksi nitrat atau nitrit menjadi nitrogen (N 2 ) dengan N 2 O sebagai produk antara. Bakteri yang berperan dalam denitrifikasi merupakan bakteri heterotrof fakultatif anaerob.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dinitro oksida terbentuk pada tanah melalui proses nitrifikasi dan denitrifikasi. Nitirifikasi merupakan proses biologis dimana NH 4 + diubah menjadi NO 3 - . Proses oksidasi ini terjadi dalam dua tahap (Batjes dan Bridges, 1992) :

a) NH 4 + 3/2O 2 NO 2 + 2H + + H 2 O + Energi

-

-

b) NO 2 +1/2 O 2 NO

-

3

+ energi

Di dalam tanah, oksidasi ammonium menjadi nitrit (tahap a) dilakukan oleh Nitrosomonas sedangkan oksidasi nitrit menjadi nitrat (tahap b) dilakukan oleh Nitrobacter. Hasil dari nitirifikasi berupa NO 3 kemudian akan diubah menjadi N 2 O melalui proses denitrifikasi.

Menurut Pathak (1999), denitrifikasi terjadi ketika nitrat tersedia pada kondisi lingkungan yang anaerobik dimana kebutuhan O 2 tinggi. Skema sederhana dari proses denitrifikasi adalah sebagai berikut :

-

NO 3

-

nitrat

denitrifikasi adalah sebagai berikut : - NO 3 - nitrat reduktase NO 2 - nitrit reduktase

reduktase

NO 2

-

nitrit

sebagai berikut : - NO 3 - nitrat reduktase NO 2 - nitrit reduktase NO Nitric

reduktase

NO

Nitric oxyde

- nitrat reduktase NO 2 - nitrit reduktase NO Nitric oxyde reduktase N 2 O Nitrous

reduktase

N 2 O

Nitrous oxyde

reduktase NO Nitric oxyde reduktase N 2 O Nitrous oxyde reduktase N 2 Dari skema tersebut

reduktase

N 2

Dari skema tersebut diketahui bahwa selain menghasilkan N 2 O, proses denitrifikasi di dalam tanah juga menggunakan N 2 O yaitu dalam proses reduksi N 2 O menjadi N 2 . Oleh karena itu, proses denitrifikasi dapat berperan sebagai sumber atau pengguna N 2 O.

2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Emisi Gas Rumah Kaca 2.4.1 Karbondioksida (CO 2 ) Menurut Rastogi

2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Emisi Gas Rumah Kaca

2.4.1 Karbondioksida (CO 2 )

Menurut Rastogi et al. (2002) beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya emisi CO 2 dari tanah adalah suhu, kelembaban, variasi pola diurnal, variasi musim dan ruang gerak, tekstur tanah, pH tanah, salinitas, tekanan atmosfer, aplikasi pupuk organik dan buatan, penggunaan inhibitor nitrifikasi, jenis tanaman budidaya, dan pengolahan lahan.

1)

Temperatur

Penelitian yang dilakukan di beberapa area perhutanan oleh Fang et al. (2010) mengindikasikan temperatur tanah menjadi penyebab 49-96% variasi pada fluks CO 2 , sedangkan kelembaban tanah sebesar 40-49%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa fluks CO 2 dari tanah terutama sangat dipengaruhi oleh temperatur tanah. Yunshe et al. (2000) juga menemukan adanya korelasi yang positif antara temperatur udara atau temperatur tanah dengan fluks CO 2 yang dihasilkan dari lahan padang rumput. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa temperatur merupakan faktor utama yang mengendalikan variasi fluks GRK harian dari padang rumput.

Peningkatan temperatur tanah menyebabkan fluks CO 2 dari tanah juga meningkat. Peningkatan temperatur tanah dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme dan akar tanaman tumbuh dengan sangat cepat selama musim panas yang pendek. Peningkatan aktivitas mikroorganisme dan pertumbuhan akar yang sangat cepat dapat meningkatkan dekomposisi C organik tanah dan pelepasan CO 2 dari tanaman yang merupakan hasil respirasi akar (Zheng et al., 2009; Fang et al., 2010). Akan tetapi, temperatur yang terlalu tinggi juga dapat menurunkan emisi CO 2 . Hal ini disebabkan pada temperatur tinggi terbentuk inhibitor respirasi mikroorganisme yang dapat meng-inaktivasi sistem oksidasi biologis (Rastogi, 2002).

2)

Kelembaban

Menurut Rastogi et al. (2002), secara umum peningkatan kelembaban tanah dapat meningkatkan evolusi CO 2 sampai pada tingkat optimum, setelah itu peningkatan kelembaban akan mengurangi evolusi CO 2 . Pengeringan dan penggenangan tanah secara periodik akan meningkatkan emisi CO 2 . Hal ini dikarenakan ketika dilakukan penggenangan kembali, aktivitas mikroorganisme yang awalnya berada dalam kondisi laten akan meningkat sehingga meningkatkan CO 2 yang dihasilkan.

3)

Variasi pola diurnal, musim dan ruang

Besarnya emisi CO 2 dari tanah sangat bervariasi selama periode yang berbeda pada waktu siang dan malam hari. Medina dan Zelwer (1972) diacu dalam Rastogi et al. (2002) menyatakan respirasi tanah pada malam hari selalu lebih besar dibandingkan siang hari karena kelembaban relatif (Rh) pada malam hari lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme pada awal malam hari, dan karena temperatur tanah yang tinggi menjelang malam.

4)

Tekstur tanah

Tekstur tanah berdampak pada penyebaran mikroorganisme dan pertumbuhan bakteri serta jamur yang lebih baik dengan adanya ketersediaan udara dan kelembaban, dan hal tersebut

berdampak pada pembentukan CO 2 . Tingkat infiltrasi air dan difusi gas juga sangat dipengaruhi

berdampak pada pembentukan CO 2 . Tingkat infiltrasi air dan difusi gas juga sangat dipengaruhi oleh tekstur tanah demikian halnya dengan produksi serta emisi CO 2 (Rastogi et al., 2002).

5)

pH tanah

Derajat keasaman (pH) tanah yang rendah berdampak negatif terhadap aktivitas mikroorganisme, yang menyebabkan tingkat respirasi rendah sehingga berdampak pada rendahnya CO 2 yang dihasilkan (Rastogi et al., 2002). Kowalenko and Ivarson (1978) diacu dalam Rastogi et al. (2002) melaporkan adanya peningkatan CO 2 seiring dengan meningkatnya pH. Akan tetapi, ketika pH tanah melebihi 7 berdampak sebaliknya pada emisi CO 2 . Pada pH 8.7, emisi CO 2 menurun 18% dibandingkan emisi pada pH 7 dan ketika pH meningkat sampai 10, tingkat reduksi emisi CO 2 mencapai 83%.

6)

Salinitas

Rastogi et al. (2002) menyatakan kelebihan jumlah garam mempunyai efek negatif terhadap proses fisik, kimia dan mikrobiologi yang terjadi di dalam tanah, termasuk mineralisasi C dan N serta aktivitas enzim yang sangat penting dalam proses dekomposisi bahan organik tanah. Pathak dan Rao (1998) melaporkan terdapat penurunan CO 2 seiring dengan peningkatan salinitas tanah. Penambahan pupuk organik dapat meningkatkan CO 2 yang dihasilkan secara biologis, kecuali pada tanah dengan salinitas yang sangat tinggi. Pada kondisi tersebut emisi CO 2 yang dihasilkan cenderung rendah.

7)

Tekanan atmosfer

Beberapa hasil penelitian menunjukkan tekanan atmosfer berbanding terbalik dengan emisi CO 2 . Hasil tersebut mengindikasikan bahwa penurunan tekanan atmosfer memicu keluarnya CO 2 yang tersimpan di dalam profil tanah (Rastogi et al., 2002).

8)

Aplikasi pupuk organik dan buatan

Menurut Rastogi et al. (2002), aplikasi pupuk nitrogen dapat menurunkan pembentukan CO 2 . Hal tersebut terjadi karena penambahan pupuk nitrogen dapat menurunan respirasi mikroorganisme melalui peningkatan keasaman (pH) tanah. Sementara itu, aplikasi pupuk organik mampu menyediakan C organik bagi mikroorganisme tanah sehingga penambahan pupuk dalam jumlah besar dapat meningkatkan emisi CO 2 secara signifikan.

2.4.2 Metana (CH 4 )

Menurut Dubey (2005), emisi metana dari sawah dikendalikan oleh parameter yang kompleks dan berhubungan dengan karakteristik fisik dan biologis tanah dengan praktek budidaya yang spesifik. Besarnya produksi metana bergantung pada kandungan dan kualitas karbon organik tanah, tekstur tanah, Eh, pH, kandungan Fe, kandungan sulfat dan salinitas serta penggunaan pupuk, dsb. Berikut ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi emisi CH 4 di persawahan.

1)

pH, Eh (potensial redoks), dan tekstur tanah

Produksi metana di lahan pertanian juga dipengaruhi oleh pH. Beberapa hasil penelitian di berbagai tempat menunjukkan emisi CH 4 mencapai optimum pada pH berkisar antara 6-7 (Batjes

and Bridges, 1992). pH tanah hingga < 5.75 menyebabkan bakteri metanogen tidak mampu hidup sehingga

and Bridges, 1992). pH tanah hingga < 5.75 menyebabkan bakteri metanogen tidak mampu hidup sehingga berpengaruh terhadap penurunan fluks CH 4 (Isminingsih, 2009).

Potensial redoks tanah merupakan estimasi dari aktivitas elektron dan digunakan untuk memprediksi stabilitas elektrokimia dari unsur-unsur yang sensitif terhadap reaksi redoks seperti oksida Fe (Vaughan et al., 2007). Proses pembentukan metana adalah akibat dekomposisi bahan organik pada kondisi anaerob. Organisme yang berperan dalam proses dekomposisi ini terutama bakteri metanogen tidak dapat berfungsi dengan baik apabila terdapat oksidan (electron acceptor). Sebelum oksidan-oksidan tanah tereduksi, metana tidak akan terbentuk (Riza, 2008). Skema dalam review Batjes and Bridges (1992) menunjukkan pada pH 7, oksidan yang pertama kali direduksi adalah O 2 pada Eh sekitar +350 mV diikuti oleh NO 3 - dan Mn 4 + pada 225 mV, Fe 3 pada +125 mV dan SO 4 2- pada -150 mV. Setelah mereduksi SO 4 2- , pembentukan CH 4 dimulai pada Eh sekitar -190 mV.

+

Tekstur suatu tanah dapat menjelaskan berbagai karakteristik fisik-kimia dari tanah tersebut. Oleh karena itu, tekstur dapat mempengaruhi produksi metana secara tidak langsung (Dubey, 2005). Jackel et al. (2001) diacu dalam (Dubey, 2005) menemukan bahwa produksi CH 4 meningkat ketika ukuran agregat tanah juga meningkat.

2)

Temperatur

Fang et al. (2010) menemukan bahwa untuk semua jenis area hutan yang diamati, fluks CH 4 yang dihasilkan dari tanah berkorelasi negatif dengan temperatur tanah ketika temperatur tanah lebih rendah dari nilai optimalnya. Sedangkan korelasi positif terjadi ketika temperatur tanah di atas nilai optimal. Temperatur optimum tersebut bervariasi untuk setiap lokasi.

3)

Periode Pertumbuhan

Isminingsih (2009) mengamati pada awal pertumbuhan tanaman padi, fluks CH 4 tidak berbeda nyata antar perlakuan. Bertambahnya jumlah anakan pada fase reproduktif mulai berpengaruh terhadap nilai fluks. Pada fase anakan maksimum (50-60 HST), fluks secara umum meningkat. Setelah memasuki fase pemasakan hingga panen, fluks cenderung menurun.

4)

Variasi diurnal dan musim

Tingkat emisi CH 4 secara umum meningkat dengan cepat setelah matahari terbit, mencapai puncak (nilai maksimum) pada awal sore kemudian menurun dengan cepat dan mencapai titik terendah ketika malam hari (Dubey, 2005). Sebaliknya, hasil penelitian Yunshe et al. (2000) menunjukkan fluks CH 4 pada malam hari lebih tinggi dibandingkan dengan siang hari. Perbedaan hasil tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan jenis lahan yang diamati dan perbedaan iklim di lokasi pengamatan (contoh : temperatur, curah hujan, dan intensitas sinar matahari).

5)

Kultivar tanaman, pupuk organik dan residu tanaman

dapat

meningkatkan produksi CH 4 . Bahan organik tersebut akan menurunkan Eh tanah dan

menyediakan sumber karbon untuk bakteri metanogen (Dubey, 2005).

Keberadaan

bahan

organik

(pupuk

kandang)

di

lahan

sawah

yang

tergenang

6)

Pupuk

6) Pupuk Dampak dari penggunaan pupuk terhadap emisi CH 4 tergantung pada tingkat, tipe dan metode

Dampak dari penggunaan pupuk terhadap emisi CH 4 tergantung pada tingkat, tipe dan metode aplikasi (penggunaan). Penggunaan pupuk urea meningkatkan fluks CH 4 selama musim pertumbuhan yang kemungkinan disebabkan oleh peningkatan pH tanah yang diikuti hidrolisis urea dan penurunan potensial redoks, yang dapat menstimulasi aktivitas metanogen Wang et al. (1993) diacu dalam Dubey (2005). Penggunaan pupuk urea tablet sebagai pengganti urea dapat mengurangi emisi metana dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, penggunaan pupuk sulfit ammonium ([NH 4 ] 2 SO 4 ) akan mengurangi emisi metana yang lebih banyak (Irmansyah, 2004).

2.4.3 Dinitro Oksida (N 2 O)

Batjes dan Bridges (1992) dalam reviewnya menyatakan terdapat beberapa faktor lingkungan dan faktor budidaya pertanian yang mempengaruhi proses biologis pada mikroorganisme tanah penghasil emisi N 2 O (Tabel 2). Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi emisi N 2 O dari tanah meliputi :

temperatur tanah, kelembaban tanah dan status aerasi tanah, struktur, tekstur, porositas dan presipitasi/irigasi, pH, kandungan bahan organik dan tipe tanah. Sedangkan faktor budidaya pertanian dan manajemen pengolahan yang dapat mempengaruhi emisi N 2 O dari tanah meliputi : pupuk (tipe, tingkat/dosis, teknik aplikasi, waktu), praktek penanaman/budidaya (pembajakan, irigasi, drainase) dan pemilahan tanaman. Semua faktor tersebut sangat bervariasi baik di tingkat lokal, regional maupun global karena faktor iklim dan kondisi tanah sangat bervariasi dalam waktu dan tempat.

Tabel 2. Faktor kunci yang mempengaruhi emisi N 2 O dari tanah

Manajemen pengolahan

Faktor Lingkungan

Tipe pupuk

Temperatur

Tingkat aplikasi

Presipitasi

Teknik aplikasi

Kelembaban tanah

Waktu aplikasi

Kandungan C organik

Praktek pembajakan

Ketersediaan oksigen

Penggunaan bahan kimia lain

Porositas

Rotasi tanaman

pH

Irigasi

Freeze and thaw cycle

Residu N dan C dari tanaman dan pupuk

Mikroorganisme

Sumber : Batjes dan Bridges (1992) diadaptasi setelah Eichner (1990)

Sementara itu, menurut Pathak (1999), beberapa faktor yang mempengaruhi emisi dinitro oksida dari tanah adalah :

1)

Kelembaban tanah

Kandungan air tanah dapat secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi proses denitrifikasi dengan cara : (1) menyediakan kondisi yang mendukung untuk pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme; (2) menghambat supply O 2 dengan cara memenuhi pori-pori tanah; (3) membebaskan substrat C dan N tersedia selama siklus pelembaban dan pengeringan; dan (4)

menyediakan media difusi dimana substrat dan produk dapat masuk dan keluar dari mikroorganisme tanah. (Aulakh

menyediakan media difusi dimana substrat dan produk dapat masuk dan keluar dari mikroorganisme tanah. (Aulakh et al., 1992 diacu dalam Pathak, 1999).

Secara umum, pembebasan N 2 O ke atmosfer dapat ditingkatkan melalui alternatif dry-wet cycles. Pembasahan (wetting) meningkatkan mineralisasi bahan organik dalam proses nitrifikasi, dan membentuk kondisi anaerobik yang dibutuhkan dalam proses denitrifikasi. Di bawah kondisi tersebut, produksi N 2 O kemungkinan melebihi reduksi N 2 O menjadi N 2 ; curah hujan yang terjadi berikutnya akan menurunkan peak N 2 O secara umum (Batjes dan Bridges, 1992).

2)

Oksigen

Beberapa hasil penelitian menunjukkan N 2 O yang dihasilkan dalam proses denitrifikasi berbanding terbalik dengan konsentrasi O 2 terlarut. Hal ini dikarenakan oksigen diperkirakan menjadi inhibitor dari enzim nitrat reduktase sehingga dapat menekan proses denitrifikasi oleh mikroorganisme (Batjes dan Bridges, 1992; Pathak, 1999).

3)

pH tanah

pH optimum untuk emisi N 2 O melalui denitrifikasi bervariasi menurut spesies dan umur organisme serta konsentrasi NO 3 , akan tetapi sebagian besar denitrifier mempunyai pH optimum untuk pertumbuhan diantara 6 dan 8. Keasaman tanah mempunyai kemungkinan mengatur emisi N 2 O melalui berbagai mekanisme (Pathak, 1999);

3.1) Peningkatan keasaman tanah dapat menurunkan tingkat dekomposisi bahan organik tanah sehingga ketersediaan N sebagai substrat dalam pembentukan N 2 O menurun. 3.2) Keasaman tanah yang tinggi secara langsung dapat mengurangi nitrifikasi dan denitrifikasi. 3.3) Pengasaman dapat menghambat N 2 O reduktase sehingga dalam proses denitrifikasi akan lebih banyak dihasilkan N 2 O dibandingkan N 2 . 3.4) Penurunan pH dapat mengurangi ketersediaan molybdenum yang dapat mengurangi sintesis NO 3 reduktanse, yaitu enzim molybdo-protein. 3.5) Dengan penurunan pH, pembentukan N 2 O melalui reduksi NO 3 akan menjadi toksik dan pelarutan alumunium atau mangan kemungkinan menyebabkan efek toksisitas.

4)

Tekstur tanah

Pengaruh tekstur tanah terhadap emisi gas N 2 O kemungkinan merupakan hasil dari variasi fisik antara proporsi udara dan air. Chaterpaul et al. (1980) diacu dalam Pathak (1999) melaporkan bahwa tingkat emisi N 2 O lebih besar pada tekstur tanah yang halus.

5)

Temperatur

Temperatur merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi proses emisi N 2 O. Hasil penelitian Yunshe et al. (2000) menunjukkan adanya peningkatan fluks N 2 O pada temperatur tanah yang lebih tinggi. Menurut Batjes dan Bridges (1992), pH dan aerasi tanah lebih mempengaruhi besarnya variasi emisi N 2 O dibandingkan temperatur.

6)

Aplikasi pemupukan

Produksi N 2 O dari tanah selama proses denitrifikasi dan nitrifikasi meningkat dengan adanya pemupukan N. Jenis pupuk N yang digunakan mempengaruhi besarnya emisi N 2 O yang

14

dihasilkan. Emisi N 2 O lebih banyak dengan adanya aplikasi urea, kemudian diikuti dengan pupuk

dihasilkan. Emisi N 2 O lebih banyak dengan adanya aplikasi urea, kemudian diikuti dengan pupuk ammonium sulfat dan nitrat (Bremner dan Blackmer, 1978; Mosier et al., 1986 diacu dalam Pathak, 1999).

7)

Pupuk organik

Denitrifier dan nitrifier menggunakan kandungan C organik sebagai elektron donor untuk energi dan sintesis dari konstituen sel. Residu tanaman, pupuk hijau dan pupuk pekarangan dilaporkan dapat meningkatkan denitrifikasi (Aulakh et al., 1992 diacu dalam Pathak, 1999).

8)

Tanaman

Tanaman berdampak pada emisi N 2 O dengan mempengaruhi kandungan nitrat dan karbon dalam tanah dan tekanan parsial oksigen. Dampak tidak langsung lainnya adalah kemampuan beberapa tanaman seperti padi, untuk menyediakan O 2 pada rhizospherenya, yang dapat meningkatkan kandungan nitrat melalui peningkatan nitrifikasi (Pathak, 1999).

15