Anda di halaman 1dari 4

ENVIRO 5 (1): 60-63, Maret 2005, ISSN: 1411-4402

 2005 PPLH-LPPM UNS Surakarta.

Leucobryum dan Potensi Pemanfaatannya; Study Kasus Masyarakat


Lokal di Sekitar Cagar Alam Mandor Kalimantan Barat dan Hutan Wisata
Alam Bukit Bangkirai Kalimantan Timur

Leucobryum and its potentially uses: Case study of indigenous people in Mandor
Nature Reserve, West Kalimantan and Nature Recreation Forest of Bukit Bangkirai,
East Kalimantan

FLORENTINA INDAH WINDADRI♥, SITI SUSIARTI


"Herbarium Bogoriense", Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bogor 16122

Diterima: 12 Januari 2005. Disetujui: 11 Pebruari 2005.

ABSTRACT Exodictyon, Exostratum, Leucophanes, Schistomitrium


(Bartram, 1939). Dari ketujuh marga tersebut, marga
Leucobryum was one of the genera from Leucobryaceae Leucobryum merupakan salah satu marga yang anggota
family. It had an interesting colour that is yellowish green or jenisnya banyak ditemukan di kawasan Malesia. Menurut
whitish green, the leaves were strong enough, hard to be Eddy (1990) marga Leucobryum terdiri atas 60 jenis yang
broken and the growing make a cushion. The cushion form
tersebar di seluruh dunia. Di Kawasan Malesiana hanya
has capability on the water absorbtion. Based on its
characters, it was used as media on the orchid and fern terdapat 10 jenis, satu di antaranya yaitu Leucobryum
planting or ornamental plants by nurseries at Bukit Bangkirai papuense merupakan jenis yang endemik di New Guinea
public forest, East Kalimantan. The ethnic people in West Richardson (1981) melaporkan bahwa beberapa jenis
Kalimantan (Dayak Kendayan) has been used this mosses as anggota dari marga Polytrichum, Rhizogonium, Mnium,
pillows material. The data was collected by field survey and Leucobryum, Brachythecium, dan Bazzania dimanfaatkan
interview with local people. Based on the herbarium untuk mempercantik taman di sekitar pura Saihoji di kaki
collections at the Herbarium Bogoriense and data field we got Gunung Koinzan di sebelah barat Kyoto. Jenis-jenis dari
two species of Leucobryum have been used by local peoples
marga-marga tersebut dipilih karena mempunyai
in those places. They were Leucobryum sanctum Hampe and
Leucobryum juniperoideum (Brid.) C. Mull. pertumbuhan yang mengelompok dan membentuk seperti
karpet tebal serta mempunyai warna menarik. Di Cina
Keywords: mosses, Leucobryum juniperoideum, Leucobryum dilaporkan bahwa Vesicularia dubyana dan Glossadelphus
sanctum, uses, Kalimantan. zollingeri yang ditanam dalam akuarium dapat
dimanfaatkan sebagai sumber oksigen. Sedangkan
Rhodobryum giganteum dapat dimanfaatkan sebagai obat
PENDAHULUAN kejang-kejang (Wou, 1982). Selain itu Glime dan Keen
(1984) melaporkan bahwa penggunaan lumut (bryophyta)
Lumut atau bryophyta merupakan salah satu kelompok untuk memonitor pencemaran udara sama baiknya dengan
tumbuhan rendah yang dapat dibedakan menjadi tiga kelompok lumut kerak (“lichens”) yang sudah dikenal
kelompok besar, yaitu kelompok lumut hati (liverwort), lumut sebagai pendeteksi polutan. Dilaporkan pula bahwa
hati berdaun (leafy-liverwort) dan lumut daun (mosses). Sphagnum recurvum merupakan salah satu jenis lumut
Lumut daun dikelompokkan menjadi beberapa suku, salah yang tahan pada konsentrasi SO2 tinggi (Ferguson, et al,
satu di antaranya adalah suku Leucobryaceae yang tumbuh 1978). Selain sebagai pendeteksi pencemaran lingkungan
mengelompok dan membentuk suatu bantalan. Anggota Sphagnum kering juga pernah dimanfaatkan sebagai bahan
suku ini banyak tumbuh di hutan hujan daerah tropis dan pembuatan pakaian di Jepang (Theiret, 1956) atau sebagai
subtropis terutama pada tanah-tanah yang asam, serasah, bahan bakar (Richardson, 1981). Pemanfaatan lumut di
kayu-kayu lapuk, dan akar papan. Di hutan-hutan yang Indonesia belum banyak terungkap atau bahkan belum
basah lumut daun dapat tumbuh pada ranting dan cabang- diketahui sama sekali. Oleh karena itu perlu dilakukan
cabang pohon. Jenis-jenis lumut yang hidup mengelompok penelitian terutama pada masyarakat lokal atau penduduk
dan membentuk bantalan biasanya tumbuh bersama-sama asli yang tinggal berdekatan dengan hutan dan sering
dengan tumbuhan epifit (anggrek atau paku-pakuan). memanfaatkan hasil hutan yang ada disekitarnya untuk
Tempat-tempat teduh dengan penyinaran yang cukup memenuhi kebutuhan hidupnya.
merupakan kondisi lingkungan yang cocok untuk
kehidupannya. Suku Leucobryaceae dapat ditemukan di
daerah dataran rendah hingga mencapai ketinggian sampai BAHAN DAN METODE
3000 m diatas permukaan laut. Suku ini terdiri atas 7 marga
yaitu marga Leucobryum, Arthrocormus, Cladopodanthus, Lokasi penelitian dilakukan di Cagar Alam Mandor,
Kalimantan Barat dan sekitarnya serta di kawasan Hutan
Wisata Alam Bukit Bangkirai, Kalimantan Timur. Waktu
♥ Alamat korespondensi: pelaksanaan penelitian dilakukan pada tahun 2000-2002.
Jl. Ir. H. Juanda 22, Bogor 16122. Semua jenis lumut yang termasuk dalam marga
Tel.: +62-251-322035. Fax.: +62-251-336538.
e-mail: herbogor@indo.net.id; windadri@telkom.net Leucobryum dikoleksi dengan metode penjelajahan di area
WINDADRI dan SUSIARTI – Leucobryum dan potensi pemanfaatannya 61

penelitian kemudian dibuat herbariumnya untuk keperluan sebagai pengisi bantalan kasur atau kursi setelah lumut
identifikasi dan penambahan koleksi spesimen di tersebut dijemur di bawah sinar matahari. Di alam, kedua
Herbarium Bogoriense. Pengumpulan data pemanfaatan jenis lumut ini ditemukan tumbuh melimpah di lantai hutan
diperoleh dengan cara wawancara langsung kepada dan membentuk bantalan pada lantai-lantai hutan dengan
penduduk setempat dan para penangkar anggrek atau lingkungan yang agak terbuka, lembab, dan teduh. Dasar
paku-pakuan di lokasi penelitian. Di samping itu juga pemikiran pemakaian tumbuhan ini sebagai pengganti
dilakukan pengamatan sebanyak 196 nomor koleksi marga kapuk karena bentuk kehidupannya yang mengelompok,
Leucobryum yang tersimpan di Herbarium Bogoriense rapat, tebal, melimpah, dan mudah didapatkan di alam.
(Tabel 1.) dan penelusuran pustaka. Untuk mengetahui Selain masyarakat Dayak Kendayan di Kalimantan Barat,
daerah persebarannya dibuat pemetaan menggunakan berdasarkan pengamatan koleksi spesimen herbarium yang
program “Kort” (Hansen, 1993). tersimpan di Herbarium Bogoriense terdata bahwa
masyarakat lokal di New Guinea juga telah memanfaatkan
jenis L. juniperoideum dengan cara yang sama.
HASIL DAN PEMBAHASAN Marga Leucobryum terutama L. juniperoideum dan
Leucobryum santum ternyata memiliki banyak manfaat
Leucobryum merupakan salah satu marga dari suku dalam kehidupan manusia maka untuk dapat
Leucobryaceae yang berwarna hijau kekuningan atau hijau memperolehnya di alam baik untuk perbanyakan maupun
keputih-putihan pada keadaan segar dan berubah keputih- penelitian perlu kiranya dikenal secara baik ciri-ciri
putihan pada saat kering. Lumut ini biasanya tumbuh morfologi maupun ekologi dan persebarannya. Berdasarkan
mengelompok dan membentuk bantalan yang tebal. penelusuran pustaka (Yamaguchi, 1993; Eddy, 1990), ciri-
Daunnya tersusun spiral, rapat dan padat, tampak ciri morfologi, ekologi dan persebaran kedua jenis tersebut
melengkung jika kering (Yamaguchi, 1993; Eddy, 1990). adalah sebagai berikut:
Apabila diamati lebih jauh sel-sel penyusun daunnya maka Leucobryum juniperoideum (Brid.) C. Mull.
akan tampak bahwa sebagian besar daun tersebut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Tumbuhan berukuran
didominasi oleh kosta, sedangkan bagian laminanya terdiri menengah , berwarna keputih-putihan dan menjadi coklat
dari dua lapisan yaitu lapisan leukosis dan lapisan klorosis. jika kering, tumbuh dalam kelompok yang kompak, panjang
Lapisan leukosis biasanya mempunyai lubang eksternal mencapai 4 cm. Daun dalam kumpulan yang tertutup, padat
pada bagian permukaan abaxial dari sel-sel bagian ujung berdesakan, menyebar tegak, agak kaku, melonjong, 4-6
dan daerah basal. Struktur leukosis yang demikian efektif mm panjangnya, ujung meruncing atau diakhiri oleh kosta
dalam penyerapan dan penyimpanan air pada keadaan air yang menonjol keluar, perlahan-lahan meramping atau
yang sangat kurang (Yamaguchi, 1993). Pengamatan yang agak menabung kearah pangkal, pangkal membundar;
dilakukan di kawasan Hutan Wisata Alam Bukit Bangkirai lamina terdiri dari 5-12 deret sel-sel persegi mendekati
terdata tiga jenis Leucobryum yaitu Leucobryum aduncum pangkal, 2-3 deret sel-sel persegi panjang mulai bagian
Dozy & Molk. dengan tiga varietas (L aduncum Dozy & tengah daun ke arah ujung, tepinya mempunyai pembatas
Molk. var aduncum, L. aduncum var. scalare (C. Mull. ex terdiri dari 2-3 deret sel-sel memanjang ; pada penampang
Fl.) A. Eddy, L. aduncum var teysmannianum (Dozy & lintang dekat pangkal daun terdapat sel-sel leukosis yang
Molk.) T. Yamaguchi), Leucobryum chlorophyllosum C. terdiri dari 2-4 lapisan di bagian atas (dorsal) dan 3-4 lapis
Mull., dan Leucobryum sanctum (Brid.) Hampe. di bagian bawah (ventral) yang tampak tebal. Sporofit
Jenis yang paling banyak ditemukan dan dimanfaatkan jarang ditemukan, jika ada panjangnya 1,0-1,8 kali panjang
dalam penangkaran tanaman hias di kawasan ini adalah L. daun utama, kapsul tidak simetris, merunduk, membulat
sanctum. Lumut marga ini ditemukan tumbuh melimpah telur atau melonjong, ujung gigi peristomnya terbelah. Jenis
pada kayu-kayu lapuk, lantai hutan, dan di tepi-tepi jalan ini biasanya ditemukan tumbuh di tanah, batuan dan
setapak. Lumut ini kadang-kadang tumbuh tercampur cabang-cabang pohon pada ketinggian mencapai 1800 m di
dengan tumbuhan epifit lainnya seperti anggrek dan paku- atas permukaan laut. Daerah persebarannya meliputi:
pakuan, sehingga para penangkar tanaman hias di Sumatra, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, New Guinea, Eropa,
kawasan Hutan Wisata Alam Bukit Bangkirai di Kalimantan Macronesia, Madagascar, Turki, Caucasus, Jepang, Korea,
Timur memanfaatkannya sebagai media penangkaran Taiwan, Cina, Himalaya, India, Sri Lanka, Myanmar,
tanaman anggrek alam dan tumbuhan paku hias terutama Thailand, Filipina. Pemetaan daerah persebaran jenis ini di
yang berasal dari hutan di sekitarnya. Lumut tersebut Indonesia yang didasarkan pada data spesimen koleksi di
mampu menahan air yang cukup dan penguapannya relatif Herbarium Bogoriense, data lapangan dan pustaka
lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan batang disajikan pada Gambar 1, sedang perawakan jenis ini
pakis yang hingga saat ini semakin susah untuk disajikan dalam Gambar 3.
didapatkan. Biaya pengadaan lumut relatif lebih mudah dan Leucobryum sanctum (Brid.) Hampe. Jenis ini
murah dibandingkan pengadaan batang pakis. Meskipun dicirikan dengan kehidupannya yang mengelompok
dasar pemikiran mereka untuk menggunakan lumut sebagai membentuk bantalan tetapi lepas-lepas, berwarna keputih-
mulsa tanaman hias cukup sederhana tetapi hal ini dapat putihan dan menjadi coklat jika kering, batang mencapai 7
dibenarkan dengan dukungan sifat dari lumut marga ini cm panjangnya. Daun tersebar melebar, kadang-kadang
seperti yang disebutkan di atas. Namun demikian perlu tersebar menyudut, melonjong, kearah ujung ramping
diperhatikan bahwa di dalam menggunakan lumut ini menabung, ujungnya meruncing atau diakhiri oleh kosta
sebagai mulsa sebaiknya dalam keadaan kering sehingga yang menonjol keluar, berpapila merata dari ujung hingga
pada saat dilakukan pemupukan terhadap tanaman yang 1/10 panjang daun pada sisi abaksial; lamina dan
ditangkarkan tidak terjadi persaingan dalam mendapatkan pembatasnya terdiri dari 2-4 deret sel-sel melonjong atau
makanannya. persegi panjang meramping, perbedaan antara sel lamina
Masyarakat Dayak Kendayan yang tinggal disekitar dan sel pembatas tidak nyata, sel-sel alar tampak jelas
Cagar Alam Mandor, kecamatan Mandor, kabupaten pada cuping daun terdiri dari satu lapis sel leukosis; pada
Pontianak, Kalimantan Barat telah memanfaatkan L. penampang lintang daun mendekati pangkalnya sel-sel
sanctum dan Leucobryum juniperoideum (Brid.) C. Mull. klorosis tampak nyata dibagian tengah, 2 lapis sel-sel
62 ENVIRO 5 (1): 60-63, Maret 2005

leukosis pada sisi adaksial dan selapis pada sisi abaksial atas permukaan laut. Daerah persebarannya secara umum
pada bagian yang paling tebal. Sporofit dengan seta 25-30 adalah: Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan
mm panjangnya; posisi kapsul mendatar, melonjong, Sunda Kelapa, Seram, New Guinea, India, Thailand,
kadang-kadang melengkung dan tidak setangkup. Jenis ini Kamboja, Malay Peninsula, Filipina, Pulau Caroline, Fiji.
biasanya ditemukan tumbuh di tanah, serasah, batu- Pemetaan daerah persebarannya di Indonesia yang
batuan, dan kayu mati. Di hutan pegunungan didasarkan pada data spesimen koleksi di Herbarium
pertumbuhannya tampak jarang dan merupakan epifit yang Bogoriense, data lapangan dan pustaka disajikan pada
terurai bercampur dengan lumut hati berbentuk daun atau Gambar 2, sedang perawakan jenis ini disajikan dalam
lumut-lumut yang tumbuhnya menjalar. Umumnya jenis ini Gambar 4.
ditemukan melimpah pada ketinggian mencapai 1500 m di

Gambar 1. Peta persebaran L. juniperoideum di Indonesia. Gambar 2. Peta persebaran L. sanctum di Indonesia.

Gambar 3. L. juniperoideum Gambar 4. L. sanctum


WINDADRI dan SUSIARTI – Leucobryum dan potensi pemanfaatannya 63

Tabel 1. Jenis-jenis Leucobryum di Indonesia yang tersimpan di Herbarium Bogoriense.

Nama Jenis Kolektor dan nomor koleksi

Leucobryum aduncum Dozy & Molk. Jacobson 5336; Usman 10; de Leeuw 23, sn, ; Asemian 44; H.V. Rempang 28; FIW 325,
675; Kostermans 6162; O. Posthumus sn.; P.Y. Eyma 1007, 3014, 3027, 3690, 4022, sn.;
Fleischer 53, 151, sn; Noerta & Soekar 50/890B, 50/1044B, 50/1056B, 50/1025B; Noerta &
Dadi 50/ 59B, sn; H.St.John & F.R. Fosberg 15727; Verdoorn 20; Luitingh Z.S. 11/1, sn.;
Sukmadiningrat 103; U.Hapid 1,7; Buwalda 4178, 4545; Boerlage 686; Haerida 222, 224,
227, 238, 246, 263, 284, 292, 304, 322; Korthals sn.; Polak 200, 1883; W. Meijer 63a, B.
1342a, B.1345, B.1395a; Native coll. 1202; Kadir A2747a; Robinson 2268; I.Ketut Ngurah
Rai R.60; EAW 1047; A. Touw & M. Snoek 22442, 22482, 22800, V. Rlellendoorn sn.; Haim
463; Mahyar,Church, FIW, Ismail, Hamzah #1227; Ham sn.; Van Steenis 16513; A. Sauliere
4; Fosberg 11733; M.T.L. Ruma 98a; Leg ign. Sn.
Leucobryum arfakianum C. Mull. ex Geh. Mahyar,Church, FIW, Ismail, Hamzah # 923
Leucobryum browringii Mitt. A. Touw & M. Snoek 24410, 24633, 24676; Boerlage 686; Fleischer 152.
Leucobryum candidum (P.Beauv.) Wils. A. Touw & M. Snoek 6890, 6897, 22453, 34365; Buwalda 6002
Leucobryum chlorophyllosum C. Mull. Mahyar,Church, FIW, Ismail, Hamzah # 1108, A. Touw & M. Snoek 22604, 24518; C.E. Carr
12059; W. Meijer B. 1129, B.1136; J.A.J. Verheijen 5331; Buwalda 4545; Zollinger 3370
Leucobryum holleanum Dozy & Molk. var. Fleischer 6
fragilifolium
Leucobryum cf. javanicum W. Meijer B. 1045, B. 1113, B. 2139
Leucobryum javense (Brid.) Mitt. Hallier 1990; Sudjatmiko 121; Endert 1623, 4519; O. Posthumus sn; H.S. Clemens 11226; A.
Touw & M. Snoek 24523, 24532, 22460, 24634; Kjellberg 77; Fleischer 54, sn.; Leg ign.
1188; Verdoorn 20; Iwamasa 4622; Dadi & Noerta 50/40B, 50/78B, 50/194B; FIW 465, 613;
Van steenis 6916, sn.; Winckel 1592B; Bakh v/d brink 2466; Fleischer 4; Sukmadiningrat
118; I. Ketut Ngurah Rai R10; M. Sarip 329; Boerlage 346; de Kock 8; Theunissen sn.; H.
Esche sn.; Sjamsoeddin sn.; Koorders 22294 B; Anta sn.; Kerling sn.; Staal S60; Lorzing
11600; Azemian 46; Jacobson sn.; F.W. Rappard 99; Buwalda 7075
Leucobryum Juniperoideum (Brid.) C. Mull. Mahyar,Church, FIW, Ismail, Hamzah # 717; A. Touw & M. Snoek 24661; Fleischer 52; I.
Ketut Ngurah Rai R 53; Djamhari 521; main 463; Aet & Idjan 480; Buwalda 6262, 7615; Leg
ign. sn.
Leucobryum Molle (C.Mull.) Mitt. Buwalda 5727
Leucobryum papuense Par. Iboet 279
Leucobryum sanctum (Brid.) Hampe Djamhari 629; Rlellendoorn sn.; Main 415; Grashoff 585; Kostermans 6142, 6154, 6158, sn.;
Endert 4863; Hallier 1989B; Bunnemeijer 2302; Sjarief 20; Meijer sn.; FIW 383;412;429;448;
Buwalda 5921, 6000; Saprin 85; Robinson 2267, 2328; Wismaniah 87; Rachmant 681; Atje
262; SP 664; Kjellberg 28, 50; Mahyar,Church, FIW, Ismail, Hamzah # 1106, # 1224, # 1288;
Nieuwenhuis 451; TP 563; Korthals sn.; A. Villamil 301; Native collection 1207; Sudjatmiko
41,122; Yamaguchi 207; Haerida 233, 234, 253, 254, 272, 287, 291, 307, 317, 354; Leg ign
sn.

KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

Dua jenis dari marga Leucobryum yaitu L. Bartram, E.B. 1939. Mosses of the Philippines. The Philippines Journal of
Science 68 (1-4): 1- 437.
juniperoideum dan L. sanctum diketahui telah dimanfaatkan Eddy, A. 1990. A Handbook of Malesian Mosses Volume 2. London: Natural
sebagai pengisi bantalan atau kasur untuk menggantikan History Museum Publications, Cromwell Road.
kapuk. Namun saat ini L. sanctum juga telah dimanfaatkan Ferguson, P.. J.A. Lee, and J.N.B. Bell. 1978. Effect of Sulphur Pollutants on
sebagai media pada penangkaran anggrek atau paku- the Growth of Sphagnum Species. Environmental Pollution 16: 151-162.
Hansen, B. 1993. KORT Mapping Program, Version 1.6.
pakuan di kawasan Hutan Wisata Alam Bukit Bangkirai, Glime, M.J. and R.E. Keen. 1984. The Importance of Bryophyte in A Man-
Kalimantan Timur. Persebaran kedua jenis lumut tersebut di Centered World. Journal of the Hattori Botanical Laboratory 55: 133-146.
Indonesia cukup luas, kecuali Maluku dan kepulauan Sunda Richardson, D.H.S.1981. The Biology of Mosses. Oxford: Blackwell Scientific
Publications.
kecil untuk jenis L. juniperoideum dan Irian untuk jenis L. Theiret, J.W. 1956. Bryophyte as economic plant. Economic Botany 10: 75-91.
sanctum. Wou, P.C. 1982. Some uses of mosses in China. Bryol. Times 13:5
Yamaguchi, T. 1993. A revision of the genus Leucobryum (Musci) in Asia.
Journal of the Hattori Botanical Laboratory 73: 1-123.