Anda di halaman 1dari 3

Dasar Teori

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya hayati perairan baik jenis maupun jumlah yang sangat melimpah. Salah satu sumber daya hayati tersebut adalah mikroalga. Mikroalga merupakan tumbuhan tingkat rendah yang memiliki potensi sebagai penghasil bahan baku biodisel. Berdasarkan beberapa penelitian, mikroalga mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk menghasilkan minyak alami (lipid), lebih kurang 60% dari berat kering, pertumbuhan yang relatif cepat dan tidak memerlukan lahan yang luas untuk menghasilkan biomassa dan lipid (Chisti, 2007). Mikroalga merupakan kelompok tumbuhan berukuran renik yang termasuk dalam kelas alga, diameternya antara 3-30 m, baik sel tunggal maupun koloni yang hidup di seluruh wilayah perairan tawar maupun laut, yang lazim disebut fitoplankton. Di dunia mikrobia, mikroalga termasuk eukariotik, umumnya bersifat fotosintetik dengan pigmen fotosintetik hijau (klorofil), coklat (fikosantin), biru kehijauan (fikobilin), dan merah (fikoeritrin). Morfologi mikroalga berbentuk uniseluler atau multiseluler tetapi belum ada pembagian tugas yang jelas pada sel-sel komponennya. Hal itulah yang membedakan mikroalga dari tumbuhan tingkat tinggi. Sebagian besar mikroalgae bersifat fotosintetik, mempunyai khlorofil untuk menangkap energi matahari dan karbon dioksida menjadi karbon organik yang berguna sebagai sumber energi bagi kehidupan konsumer seperti kopepoda, larva moluska, udang dan lain-lain. Selain perannya sebagai produser primer, hasil sampingan fotosintesa mikroalgae yaitu oksigen juga berperan bagi respirasi biota sekitarnya (Sheehan et al. 1998). Menurut (Hariyati R, 1994) dalam bukunya menyatakan bahwa terdapat empat kelompok mikroalga antara lain : diatom (Bacillariophyceae), alga hijau (Chlorophyceae), alga emas (Chrysophyceae) dan alga biru (Cyanophyceae). Penyebaran habitat mikroalga biasanya di air tawar (limpoplankton) dan air laut (haloplankton), sedangkan sebaran berdasarkan distribusi vertikal di perairan meliputi : plankton yang hidup di zona euphotik (ephiplankton), hidup di zona disphotik (mesoplankton), hidup di zona aphotik (bathyplankton) dan yang hidup di dasar perairan / bentik (hypoplankton). Taksonomi mikroorganisme selama ini lebih banyak menggunakan karakteristik morfologi (morphological characteristics) berdasarkan bentuk, warna, ukuran sel dan lainlain. Misalnya, taksonomi dari plankton Anabaena sp.pada saat ini sebagian besar didasarkan pada karakteristik morfologi seperti bentuk akinetes, ukuran sel dan posisi relatif akinetes

terhadap heterocysts. Beberapa kriteria secara morfologi tersebut bisa berbeda-beda antara peneliti yang satu dengan peneliti yang lain. Lebih jauh lagi, karakter-karakter taksonomi seperti wujud filamen dan sel akinete bersifat meragukan karena akinetes adakalanya tidak ada dan wujud filamen mungkin bisa berubah karena kondisi kultur (Watanabe, 2001) Kandungan vitamin dari beberapa mikroalgae dan hati sapi serta bayam. Alga hijau (ChIorophyceae) seperti Chlorella pyrenoidosa dan Scenedesmus serta ganggang biru (Cyanobakteria) Spirulina adalah sumber protein sel tunggal yang baik. Bila diproses dengan baik, dapat dicernadengan baik oleh mamalia dan nilainya lebih tinggi dari protein nabati, yaitu sebesar 80% casein. Makanan dari ganggang hijau dan biru tersebut gizinya lebih baik dari sayuran hijau karena mengandung vitamin B12. Sayuran hijau biasanya tidak mengandung vitamin B12. Vitamin ini sebenarnya juga tidak disintesa oleh alga hijau. Alga tersebut menyerap vitamin B12 yang dikeluarkan oleh bakteri di perairan. Spirulina termasuk ganggang biru atau cyanobakteri, sifat-sifatnya lebih mendekati bakteri dan dapat mensintesa vitamin B12 (Becker, 1994). Mikroalgae yang termasuk ganggang merah mengeluarkan lendir ekstraselular yang mengandung polisaccharida yang larut dalam air. Polisakharida dari Porphyridium cruentum dan P. aerugineum mengandung D-xylosa, Dglucosa, D-dan L-galactosa. 3-Omethylxylosa, 3-O-methylgalactosa dan Dglumonic acid. Pada jenis yang kedua Masih ada karbohidrat yang lain pada P. cruentum, yaitu 2-O-methylheksosa (0,13) dan 2-Omethylglucuronic acid (0,2) dan pada P.aerugineum yaitu 2,4-di-O-methylgalactosa (0,5). Polisakharida pada P. aerugineum dapat dipisahkan dengan metoda pengendapan oleh cetylpyridium khlorida, kemudian ditambah ethanol untuk membentuk garam kalsium (Percival & Foyle,1979). Beberapa keuntungan penggunaan alga dalam proses pengolahan limbah cair dalam industri antara lain, prinsip proses pengolahannya berjalan alami seperti prinsip ekosistem alam sehingga sangat ramah lingkungan dan tidak menghasilkan limbah sekunder. Keunggulan lainnya adalah pada proses ini daur ulang nutrien berjalan sangat efisien dan menghasilkan biomass yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan.Sebaliknya, kelemahan dari pengunaan alga adalah prosesnya memakan waktu yang relatif lama, memerlukan cahaya dan beberapa fisiologi alga yang belum diketahui secara jelas (De la noue et al., 1992 ).

Becker, E.W. 1992. Microalgae for human and animal consumption. In : Microalgal Biotechnology (borowitzka, m.a. & l. borowitzka eds.). Cambridge Univ. Press : 222-256. Chisti Y. 2007. Research review paper biodiesel from microalgae. J Biotechnology Advances. Vol: 25. Hal: 294306 De la noue J., G. Laliberte and D. Proulx.1992. Algae and waste water. J. of Appl. Phycol., Vol:4 Hal:247-254. Hariyati R.1994. Kelimpahan dan keanekaragaman mikroalga di sumber air panas Gonoharjo Kendal. Majalah Penelitian Lembaga Penelitian. UNDIP. Vol:2 Hal 23-24 Percival, E. and R.A.J. Foyle 1979. The extra cellular polysaccharides of Porphyridium cruentum and Porphyridium aerugineum. Carbohydrate Research. Vol: 72, Hal : 165 - 176. Panggabean L.M.G. 2007. Koleksi kultur mikroalgae. Oseana Journal, Vol: 2 No: 32. Hal 11-20 Sheehan J, Dunahay T, Benemann J, Roessler P. 1998. A Look Back at the U.S. Department of Energys Aquatic Species ProgramBiodiesel from Algae. The National Renewable Energy Laboratory, A national laboratory of the U.S. Department of Energy. Watanabe, M.M. And F. Kasai 2001. NIES Collection List of Strains First Edition 1985 Microalgae. National Institute for Environmental Studies.

BWT NENG! MAAF CUMA SGINI yahhhh! Rapihin lg tkut g rapihh. G ush byk2 yg penting ngena! Hehehehe . . jgn dulu tidurrr!! Tmnenin fahmi . . .