Anda di halaman 1dari 27

BAB III WAWASAN KEBANGSAAN

Perempuan, keutuhan rumah tangga dan masa depan bangsa harus diselamatkan secara bersama sama oleh kita semua sebagai warga bangsa. Kata pepatah, jika perempuan rusak, rumah tangga otomatis berantakan pula. Jika generasinya sudah rusak tentunya bangsa akan ikut menjadi lemah, selanjutnya tinggal menunggu masa kehancurannya. Karena kita patut bertanya ketika ada sebuah upaya pembuatan Undang Undang yang membela kehormatan perempuan justru penentangnya adalah aktifis perempuan sendiri. Apakah sebenarnya yang diperjuangkan aktifis perempuan? Kebebasan berekspresi dengan mengorbankan harga diri dan nilai kemanusiaan perempuan? Atau kepuasan mendapat pujian dengan

mengorbankan keutuhan rumah tangga, yang berakibat pada hancurnya generasi bangsa? Ataukah kepuasan meraup keuntungan materi yang nikmatnya sebatas tenggorokan dengan mengorbankan ketenangan jiwa para pelakunya? Haruslah jujur. Pornografi dan pornoaksi telah membuat manusia lupa pada martabat dan harga dirinya sebagai mahluk mulia yang ditempatkan oleh sang Maha Pencipta jauh berada di atas mahluk mahluk lainnya. Melalap semua yang datang dari Barat dan membeo mengikuti gaya hidup bangsa maju tanpa filter bukanlah cermin pemuda pemudi harapan masa depan bangsa. Kegandrungan meniru gaya apa saja yang sedang trend di negara maju, sekalipun gaya hidup tersebut bertentangan dengan nilai nilai luhur kemanusiaan dan dapat menjatuhkan martabat manusia ke derajat yang terhina, adalah gejala sebuah bangsa yang mulai kehilangan identitas diri. Gejala ini barangkali masih dapat ditolerir jikaitu terjadi sebatas tingkat remaja yang masih mencari identitas diri. Namun keprihatinan akan hilangnya

18

identitas diri semakin menguat ketika yang bergerak menggelar penolakan UU APP itu bukan para remaja. Tapi para aktifis perempuan dan bahkan dari kalangan tokoh pembesar negeri ini. Tidak ada bangsa di dunia ini yang dihargai, disegani dan dihormati karena melanggar nilai nilai moral. Tidak ada bangsa yang diperhitungkan dalam perca dunia karena menerjang norma norma susila. Satu hal yang perlu dicatat dan diingat bahwa Barat bukan maju karena kebebasan seksual yang nyaring diteriakan ke umat Islam, sebaliknya dalam moralitas seksual, Barat telah menjatuhkan martabat manusia sejajar bahkan lebih rendah dari mahluk tidak berakal. Bagaimanapun, melegalkan pornografi dan pornoaksi jelas bertentangan dengan sila ketuhanan dan kemanusiaan yang tercantum dalam dasar negara Pancasila. Kebebasan berekspresi yang merendahkan martabat manusia dan kini justru dibela sebagian aktifis perempuan, budayawan, praktisi hukum dan yang lainnya yang notabene adalah cemdekiawan yang turut menentukan sejarah perjalanan bangsa adalah gejala pemimpin yang kehilangan wawasan kebangsaannya.

MENATA ULANG KEBANGSAAN INDONESIA Berbagai pemahaman mengenai wawasan kebangsaan, pada hakikatnya adalah sama, yaitu tentang kesamaan cara pandang ke dalam (inward looking) dan cara pandang keluar (outward looking) sebuah bangsa terhadap berbagai permasalahannya di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Sejarah telah membuktikan, bahwa jatuh dan bangunnya sebuah bangsa sangat tergantung kepada konsep wawasan kebangsaan yang mereka anut (cita citakan) serta ideologi yang mendukungnya. Semua itu berkaitan dengan konsep sebuah bangsa dalam mensejahterakan rakyatnya, dan tergantung kepada kemampuannya dalam menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan yang selalu terjadi.

19

Berbagai teori mengenai wawasan kebangsaan pasti selalu berhubungan dengan kesamaan ras, etnis, agama, kekayaan alam, wilayah, tekad bersatu, dan ideologi yang dihayatinya. Namun sejarah menunjukan bahwa berbagai bangsa yang rakyatnya terdiri atas satu ras (etnis), satu wilayah daratan (pulau), bahkan satu agama, pada kenyataan bisa terpecah belah karena tidak memiliki kesamaan cita cita untuk bersatu atau tidak memiliki kesamaan ideologi yang mempersatukan, seperti yang terjadi kepada bangsa bangsa di jazirah Arab, Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Selatan. Sebagai contoh di Asia Selatan, negara India lama yang rakyatnya terdiri atas satu ras dan tinggal di sebuah wilayah yang sama (Asia Selatan) menjadi berantakan karena rakyatnya menggunakan agamanya masing masing sebagai wawasan kebangsaannya. India pecah menjadi tiga negara, Pakistan, Bangladesh, dan India yang baru. Banyak juga yang tidak mengerti, mengapa bangsa kolonial selalu menciptakan dan memelihara konflik untuk memecah sebuah kawasan menjadi beberapa negara dengan mendorong terkondisikannya wawasan kebangsaan berdasarkan kekayaan alamnya. Seperti yang terjadi dalam sejarah Irak dan Kuwait, Brunei dan Sabah/Serawak, dan sebagainya. Biasanya hal itu semata mata dikondisikan untuk menjaga kepentingan strategis bangsa kolonial itu agar setiap negara di kawsasan yang kaya itu tetap dapat dimanfaatkan dan tergantung kepada bekas penjajahnya. Kuwait dan Brunei yang kaya karena minyak bumi sengaja diisolir dari masyarakat etnisnya yang lebih besar, agar kekayaan alamnya tidak terbagi bagi ke seluruh masyarakat etnisnya yang lebih luas. Pemerintah yang didukung oleh kolonial di kedua negara kaya itu kemudian mendapatkan kerjasama keamanan dengan imbalan kerjasama ekonomi yang berkaitan dengan minyak bumi. Tetapi minyak bumi adalah sumber daya alam yang terbatas dan tidak bisa diperbarui, suatu saat nanti pasti akan habis karena dieksplorasi terus menerus, sehingga akhirnya bisa mengawali terjadinya krisis di negara negara itu. Namun krisis itu mungkin tidak akan memberatkan

20

bagi keluarga para memimpinnya, karena mereka telah kaya raya dan mampu hidup di luar negeri. Tetapi bagaimana nasib rakyatnya? Contoh selanjutnya tentang wawasan kebangsaan yang menggunakan kesamaan ras atau etnis, adalah Jepang, Malaysia atau Belanda. Sementara wawasan kebangsaan yang berdasarkan kesamaan ideologi adalah Amerika Serikat, Indonesia, Repubik Rakyat Tiongkok, Korea Utara, Kuba, dan Uni Soviet(sebelum terpecah belah). Sebagai contoh, penopang kokohnya wawasan kebangsaan Amerika Serikat adalah karena heterogonitas masyarakatnya tidak dirasakan sebagai sesuatu yang menghambat, bahkan dijadikan sebagai kebanggaan dan bisa diterima sebagai sesuatu yang memperkaya khasanah budaya bangsa Amerika. Selain itu ketahanan ideologis mereka telah mendukung

meningkatnya kesejahteraan, tingginya disiplin nasional, dan ketaan terhadap hukum. Itulah yang menyebabkan Amerika Serikat menjadi adidaya sampai sekarang ini. Wawasan kebangsaan yang berdasarkan kesatuan cita-cita dan tekad bersatu adalah Swiss. Bangsa Swiss yang terdiri dari tiga etnis, meskipun tidak memiliki ideologi, terkenal sebagai bangsa yang kokoh wawasan

kebangsaannya. Tekad bersatu ketiga etnis itu untuk menjadi bangsa Swiss ditopang oleh tingkat kesejahteraan mereka yang tinggi. Meskipun Uni Soviet memiliki ideologi komunis yang memberikan harapan bagi kaum miskin yang merupakan mayoritas rakyatnya, namun wawasan kebangsaan Uni Soviet pada akhirnya menjadi sangat rentan. Hal itu terkondisi karena kondisi masyarakatnya di semua negara bagian menjadi sangat homogen, akibat semua sistem yang diciptakan oleh ideologi komunis itu sendiri. Sehingga begitu dekat kesejahteraan mengalami krisis, yang

dilanjutkan dengan pasukan demokrasi, maka terpecahlah negara adidaya itu menjadi berbagai negara berdasarkan etnis. Akhirnya negara tidak lagi diperhitungkan sebagai adidaya.

21

Wawasan Kebangsaan Indonesia Sebagai bangsa, memang akar bangsa tidak tergambarkan dengan jelas dalam sejarah.Dan berbagai bacaan dn cerita yang empunya sejarah, negeri ini berasal dari berbagai kerajaan dan kelompok masyarakat seadat. Masingmasing memiliki wilayah dan aturan yang disepakati bersama, dan juga mempunyai pemimpin beberapa kerajaan itu diakui oloeh komunitas lain di dunia dengan adanya hubungan diantara mereka, antara lain berbagai hubungan penaklukan ataupun hubungan perdagangan antar msyarakat mereka. Dalam sejarah tertulis hubungan antara kerajaan jenggala dengan Tiongkok,di mana tercatat urusan (pasukan) dari Tiongkok yang pada awalnya dimanfaatkan untuk mendukung kudeta ,namun akhirnya dicederai(dilucuti). Atau kerajaan Sriwijaya yang menjalin hubungan dengan beberpa kerajaan di Asia Timur, Asia Tenggara sampai India. Mereka mempunyai sejarahnya sendiri-sendiri yang dibanggakan oleh pewarisnya. Kira-kira begitu pula yang terjadi terhadap pasang surutnya semua kerajaan Buddha sampai Hindu Majapahit, hingga kesultanan Islam di Zamrud Khatulistiwa Nusantara. Jadi secara tidak langsung catatan sejarah sengaja dihubung-hubungkan untuk menemukan bahwa wawasan kebangsaan Indonesia mulai bersemi sejak jaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Itu dikondisikan sebagai sebuah wawasan yang ideal dan tersemaikan secara alamiah serta tumbuh perlahan namun pasti, yang menjadikan berbagai masyarakat dengan segala

kemajemukan etnis, suku, agama, adat istiadat dan budaya yang berbeda itu berangsur-angsur bisa menyatu karena kondisi dan kepentingan yang sama, dan akhirnya secara tidak langsung dianggap menjadi sebuah bangsa.Hal itu juga terkondisikan secara geopolitik, yang diawali dengan interaksi antara ras Melayu,ras Polinesia,dan ras lainnya dalam sebuah gugusan pulau yang terletak diantara dua samudera dan dua benua,yang di kemudian hari menjadi Nusantara dan pada akhirnya Republik Indonesia.

22

Namun dalam perkembangan sejarah selanjutnya, perjalanan menuju kesatuan bangsa indonesia itu kerap kali menghadapi hambatan dan sering kandas. Salah satunya terjadi akibat penguasaan sebuah negara terhadap daerah-daerah di sekelilingnya selalu mengandalkan manajemen kekerasan. Selanjutnya kondisi itu juga di perparah oleh politik devide at impera atau penciptaan dan pemeliharaan konflik yang selalu dilakukan oleh penjajah bangsa eropa agar gugusan kepulauan nusantara ini tetap menjadi kerajaankerajaan kecil yang lemah sehingga mudah dikendalikan. Pelajaran sejarah inilah yang kemudian membangkitkan tekad pemuda dan intelektual bangsa pada awal abad ke-19 untuk merintis terwujudnya embrio wawasan kebangsaan indonesia yang baru. Kebangkitan Nasional 1908 dan Sumpah Pemuda 1928 pada hakikatnya merupakan cita-cita ingin bersatunya berbagai etnis, golongan, dan agama yang berbeda di Zamrud khatulistiwa dari sabang sampai merauke, menjadi satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa persatuan yaitu Indonesia! Perjuangan selanjutnya tidak lagi melalui organisasi pemuda seperti Yong Java, Yong Selebes, Yong Sumatera, Yong Islamic Bond dan sebagainya, karena hal itu sudah di anggap sebagai penyimpangan dari takdir ilahi bagi sebuah bangsa, yaitu karuma territory yang indah dan kaya dari tuhan untuk semua masyarakatnya. Semangat kebangsaan tidak lagi sekedar di dasari oleh kesamaan etnis, agama atau kesamaan penderitaan akibat penjajahan belanda saja, namun dilandasi juga oleh nilai-nilai yang lebih ideal, antara lain lima dasar filsafat, seperti yang ada dalam UUD 1945 serta pokokpokok pikiran yang tertuang dalam batang tubuhnya. Dengan kata lain wawasan kebangsaan indonesia yang berasal dari sumpah pemuda 1928 harus selalu didasari oleh rasa kebersamaan, tidak oleh kekerasan dan paksaan. Selanjutnya wawasan itu di harapkan bisa menyemaikan nilai-nilai luhur proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dalam bentuk watak dan jati diri bangsa Indionesia dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi.

23

Persatuan Bangsa Masih Rapuh Apa yang terjadi selanjutnya? Sejarah mengajarkan, bila menghadapi musuh bersama, tekad sebuah bangsa biasanya menjadi bermakna. Namun setelah musuh bersama tidak ada lagi, maka tekad itu langsung kehilangan arti, bahkan menjadi hambar. Sehingga siapa pun yang merasa kecewa karena kepentingnanya tidak terpenuhi, merasa berhak memaksakan kehendaknya sendiri terhadap masyarakat yang tidak sepaham, sehingga secara tidak langsung bisa mencerai beraikan persatuan. Di khawatirkan perkembangan seperti ini bisa menjadi benih awal hancurnya bangsa dan negara. Lihat saja pertikaian yang terjadi pada era kabinet parlementer tahun 1945-1959, kemudian pemberontakan yang terus terjasdi di seluruh negeri 1947-1965. Untuk itu, sejak awal tahun 1960 pemimpin negeri ini, Bung Karno merekayasa, terciptanya musuh bersama lagi, yaitu yang disebut Neo Nekolin (Neo Kolonialisme, kolonialisme, imperialisme). Pada waktu itu dimunculkan selogan perjuangan baru Inggris Dilinggis, Amerika Disetrika. Ternyata kondisi politik luar negeri dan kondisi dalam negeri tidak mampu mendukung perjuangan itu, maka terjadilah tragedi berdarah G-30 September 1965. Pada saat itu teked bersatu bangsa seakan tidak tampak sama sekali. Ternya persatuan bangsa ini masih rapuh. Pada saat Orde Baru berkuasa, masyarakat direkayasa dalam kotak-kotak dengan pengendalian yang ketat. Konflik SARA ditiupkan dan diperuncing lalu di gunakan sebagai rambu-rambu pengendalian terhadap konflik yang dengan sengaja telah di ciptakan dalam masyarakat untuk melestarikan kekuasaan. Namun karena moral yang lemah di semua lini kepemimpinan padaa saat itu, maka semua yang telah dirilis menjadi amburadul. Ibaratnya, bangunan megah yang selama ini kita bangun dan banggakan ternya hanya merupakan bangunan kardus yang sangat rapuh. Hampir sepuluh tahun setelah rezim Orde Baru jatuh karena reformasi, saat ini keadaan belum membaik dan masih jalan di tempat. Upaya untuk

24

Memperbaiki kondisi ekonomi yang terpuruk belum bisa dirasakan hasilnya dan secara umum daya beli masyarakat semakin lemah. Hal itu diperparah dengan visi kepempimpinan yang tidak bisa memenuhi harapan masyarakat, di mana kinerja pekemimpinan lebih sering digunakan untuk melanggengkan kekuasaan daripada berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan karena takut menghadapi resiko. Demikian pula paradigma lama masih digunakan dalam menjalankan birokrasi yang dirasakan kondisinya semakin parah. Akibat kegiatan

membocorkan keuangan negara masih saja tetap berlangsung. Begitu pula kegiatan politik kepentingan oleh kelompok yang segaja menciptakan konflik SARA terkesan sengaja diabaikan, bahkan sering dimanfatkan oleh pengendali kekuasaan yang machiavelis untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi secara politik dan ekonomi. Dari uraian singkat di atas terlihat bahwa wawasan kebangsan Indonesia yang bersumber pada semangat kebangkitan nasional 1908, Sumpah pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1944, serta lima filsafat dasar yang ideal, tanpa sadar telah mulai ditinggal oleh anak bangsanya sendiri karena masingmasing sudah merasa tidak satu lagi dan lebih mementingkan semangat primodialnya.

Ketahanan Nasional
Negara adalah tepat di mana sebuah bangsa dipersatukan, danjuga merupakan sebuah lembaga tertinggi yang menyediakan segala kebutuhan agar harkat masyarakat dapat terangkat sesuai perkembangan jaman. Oleh sebab itu apabila sebuah negara dalam kondisi rapuh, maka bangsa itu tidak dapat mewujudkan cita-cita dan nilai-nilai kehidupan sepwrti yang

diinginkannya. Sebaliknya sebuah negara yang tangguh ksrenna didukung oleh ketahanan nasionalnya (aspek ideologi, politik,ekonomi, budaya, serta hankam, maka Negara itu serta akan mampu mempertahankan dapat dalam kemerdekaandan mencapaitujuan

kedaulatannya,

dengan

mantap

25

nasionalnya. Dengan demikian apabila terjadi gangguan pada salah satu aspek dari ketahanan nasional seperti yang dialami bangsa Indonesia saat ini, misalkan adanya konflik berdasarkan SARA, maka ketangguhan negara itu dengan sendirinya akan menurun. Dengan kata lain, yang dimaksud dengan ketahanan Nasional Indonesia adalah kondisi dinamis dangsa indonesia, yaitu keuletannya, ketangguhannya, dan kemampuannya dalam mengembangkan kekuatan untuk menghadapi dan mengatasi segala bentuk ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang datang dari dalm maupn luar, yang secara langsung maupun tidak langsung dapat membahayakan integras, identitas, kelangsungan hidup, maupun perjuangan bangsa itu dalam mengejar tujuan nasionalnya.

Pembauran Masyarakat Tionghoa Dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional


Semenjak awal kemerdekaan RI sampai sekarang, masalah pembauran warga Negara Indonesia etnis tionghoa dan warga negara Indonesia lainnya masih menjadi salah satu masalah nasional yang belum dapat dipecahkan sepenuhnya. Terjadinya kerusuhan mei 1998 yang sangat diwarnai gerakan rasialis anti tionghoa merupakan indikator bahwa persatuan dan kesatuan bangsa indonesia, khususnya pembauran WNI etnis tionghoa dan WNI lainnya, masih belum mantap. Setiap kerusakan rasialis anti tionghoa mengakibatkan kerugian harta benda dan nyawa yang besar, merugikan citra bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya, serta perginya para insvestor beserta modalnya ke luar negri, dan sebagainya. Sesungguhnya para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia telah meletakkan landasan dan dasar yang kuat bagi persatuan bangsa Indonesia yang tertuang dalam UUD 1945, antara lain pada pasal 26 dan 27. Di samping telah adanya landasan dan dasar yang kuat tesebut, Bapak Bangsa Bung karno sangat mengajukan persatuan yang kokoh, dengan mencanangkn nation and character building, meskipun akhirnya

26

terbengakalai dengan adanya peristiwa politik tahun 1965 di mana salah satu organisasi massa Tionghoa,terseret di dalamnya selanjutnya dalam era Orge Baru juga telah dirancang Pembauran Bangsa sebagai salah satu kebijakan (policy) nasional dalm GBHN : Pembauran merupakan proses pembudayaan bangsa yang harus dipicu ke arah yang positif dan haruz dijiwai denga sikap mawas diri,tahu diri,tenggang rasa,solidaritas sosial ekonomi,rsa tanggung jawab yang tinggi terhadap kebersamaan,dan kesetiakawanan dalam upaya memajukan dan mensejahterakan kehidupan masyarakat,bangsa serta negara Indonesia. Presiden waktu itu mengatakan, Tingkatkan usaha-usaha pembaruan bangsa di berbagai kehidupan dalam rangka memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa,kembangkan sikap saling memerlukan dalam hubungan anta golongan masyarakat kita. Kepada seluruh rakyat kami seriakan agar tidak terjebak dalam kegiatan yang menjerumuskan ke rasialisme. Kita harus menarik garis yang jels antara orang China dan warga negara Indonesia keturunan China. Meskipun ia keturunan China, ia adalah WNI yang punya kedudukan,hak,dan kewajiban yang samadengan warga negara Indonesia asli. Kepada WNI keturunan China kami serukan untuk tidak menunda-nunda lagi berintegritasi dan berasimilasi dengan masyarakat Indonesia asli. Para pemikir pendahulu kita telah berhasil merumuskan Wawasan Kebangsaan dalam rangka menyamakan persepsi,visi dan motivasi bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan dan cita-cita nasional. Wawasan

Kebangsaan mengajarkan pentingnya mengutamakan persatuan,kesatuan,dan kebhinekaan,serta meletakkan kepentingan nasional diatas kepentingan pribadi,kelompok,golongan,suku dn etnis. Disamping harus selalu dibina juga telah dirumuskan Ketahanan Nasional yang harus sellu dibina secara komprehensif integral agar mampu mengatasi segala

tantangan,ancaman,hambatan,dan gangguan yang timbul dari dalam maupun luar negeri. Bila ditinjau dari landasan dan dasar,serta kebijakn nasional yang telah ada,terlihat sudah sangat baik,namun implementasinya oleh pemeritah dan

27

warga

masyarakat,masih

menyimpang

dari

kebijaksanaan

yang

telah

digariskan. Oleh karena itu perlu dikaji implementasi atau pelaksanaan pembauran bangsa sejak awal kemerdekaan hingga sekarang. Pelaksanaan kebijaksanaan pemerintah dan kegiatan masyarakat yang sudah baik perlu ditingkatkan dan dilanjutkan,sedangkan yang belum baik bahkan yang menyimpang dari kebijaksanaan pembauran perlu diatasi bersama oleh pemerintah dan masyarakat. Apabila ditelusuri lebih kebelakang dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia,dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) terdapat 5 anggota dari etnis Tionghoa,sedangkan dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) terdapat satu anggota dari etnis Tionghoa. Dalam rapat BPUPKI pada 11 Juli 1945, anggota Liem Koen Hian menyampaikan kepada forum pada saat menyusun UUD, hendaknya semua orang Tionghoa di Indonesia ditetapkan sebagai Warga Negara Indonesia. Dalam perang kemerdekaan ada Laksamana John Lie yang berjuang dan berhasil menembus blokade laut Belanda dalam rangka melengkapi persenjataan dan amunisi bagi pasukan gerilya RI. Disamping banyaknya orang Tionghoa yang turut berjuang dalam perang kemerdekaan,banyak pula yang tidak mendapat simpati, kurang waspada dan masuk dalam perangkap Belanda. Sepanjang tahun 1946-1947, terjadi aksi kekerasan diprovokasi oleh NICA (Nederlandsch Indie Civil Administration) yang ingin menjatuhkan reputasi Republik Indonesia di dunia Internasional. Akibat pembantaian, perampokan, dan penjarahan tersebut, sekelompok etnis Tionghoa pada tahun 1947 mendirikan organisasi untuk membela diri dan menjaga keamanan, yaitu Pao An Tui yang artinyabarisan penjaga keamanan. Dalam perkembangannya sebagian dari anggota Pao An Tui yang sakit hati dan dendam karena keluarganya menjadi korban dibujuk dan dipersenjatai Belanda untuk digunakan menghadapi pasukan Indonesia. Hal inilah yang menjadi stigma negatif pertama etnis Tionghoa dan menjadi salah satu bibit keraguan sebagaian masyarakat Indonesia akan kesetiaan WNI etnis Tionghoa kepada Republik Indonesia,yang selama puluhan tahun ditiup-tiupkan

28

sebagian

golongan

untuk

intendiskreditkan

etnis

Tionghoa

(meski

sesungguhnya fenomena yang sama juga sempat terjadi pada etnis lainnya). Dalam era Orde Lama, peristiwa G-30-S-PKI menyeret beberapa organisasi seperti PKI, Baperld, Partintla dan lain-lain dalam pertentangan politik dimana menambah benih-benih kecurigaan masyarakat awam terhadap WNI etnis Tionghoa. Perlu dimengerti disini bahwa banyak pula WNI etnis Tionghoa yang tidak Pro-RRT atau yang tidak menjadi anggota Baperki yang didukung PKI. Namun WNI diluar etnis Tionghoa sulit untuk mengerti atau membedakannya. Disinilah terjadi peristiwa yang fatal dan menyedihkan bagi WNI etnis Tionghoa kebanyakan yang tidak mengerti politik. Sebagian minoritas, mereka menjadi korban konflik SARA yang tidak berdaya. Selanjutnya dalam era Orde Baru, dengan strategi Trilogi

Pembangunannya, antara lain setelah stabilitas keamanan dapat dicapai,maka pertumbuhan ekonomi harus dipacu, diantaranya dengan memanfatkankan para penguaha Tionghoa. Karena moral dan etika kepemimpinan nasional yang buruk pada waktu itu, maka maraklah KKN yang akhirnya membangkrutkan negara dan memiskinkan rakyat disini banyak pengusaha Tionghoa dilibatkan dalam perilaku para pemimpin yang tidak terpuji itu. Akibatnya secara tidak langsung,terjadilah kesenjangan sosial ekonomi secara struktural, sektoral, dan spasial yang makin lama makin melebar, dan hal ini selanjutnya dimanfaatkan secara politis akan tumbuhnya bibit konflik rasial. Pada kerusuhan rasial Mei 1998, selain masyarakat bahwa yang menjadi korban, banyak WNI etnis Tionghoa justru terkena getah akibat perilaku pengusaha yang bersinergi dengan segelintir pengusaha dalam

membangkrutkan negara tadi. Lagi-lagi sentimen rasial selalu ditujukan kepada keseluruhan WNI etnis Tionghoa secara sepihak, yang selalu

dikambinghitamkan sebagai bagian dari penyebab krisis, yang akhirnya selalu berujung dangan kerusuhan masal, seperti yang terjadi berulang-ulang di berbagai kota pada tahun 1960-1980an. Semua konflik itu adalah penghambat

29

dalam upaya pembauran dan menata wawasan kebangsa,yang secara tidak langsung bermuara pada lemahnya Ketahanan Nasional. Oleh karena itu dalam rangka mengatassi krisis dan melanjutkan pembangunan nasional guna meningkatkan Ketahanan Nasional dan menata Ulang Kebangsaan Indonesia,maka masalah pembauran WNI etnis Tionghoa harus dapat dabangun secara berlanjut, secara kompresif integral,yang meliputi bidang politik,ekonomi,social budaya,dan pertahanan keamanan, dengan menghapuskan kebijaksanaan yang diskriminatif. Ketahanan Nasional harus diwujudkan bersama-sama oleh pemerintah dan seluruh masyarakatnya. Mengingat jumlah dan potensi WNI etnis tionghoa cukup besar, maka dapat diwujudkan sinergi antara pemerintah dengan seluruh masyarakat WNI etnis tionghoa, guna mengatasi salah satu penyebab krisis dalam rangka melanjutkan pembangunan nasional. Karena dalam era globalisasi ekonomi dan perdagangan nasional. Karena dalam era globalisasi ekonomi dan perdagangan, kita dituntut untuk membangun perekonomian yang mandiri guna menghasilkan prduk barang dan jasa yang berdaya asing. Beberapa hal yang berkaitan dengan masalah pembauran bangsa dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional dan menata ulang kebangsaan Indonesia antara lain sebagai berikut : DI BIDANG POLITIK, agar WNI etnis tionghoa memperoleh kesempatan yang sama dengan masyarakat lainnya dalam melaksanakan hak dan kewajiban untuk berkumpul, berserikat, dan menyampaikan pendapat yang dilandasi pancasila, wawasan kebangsaan, dan konsepsi ketahanan nasional. Dalam hal ini etnis tionghoa tidak harus menunggu diberi kesempatan, melainkan harus mampu berjuang untuk meraihnya. DI BIDANG EKONOMI, WNI etnis tionghoa dapat mewujudkan kiprhnya dalam menciptakan kemandirian perekonomian nasional, antara lain dengan mengutamakan pemberdayaan industry pengolahan bahan baku dari dalam negeri (resource base industry), untuk pasar dalam negeri maupun untuk

ekspor. Usaha yang didirikan agar menghayati pola kemitraan yang benar-

30

benar saling menguntungkan clan saling asah-asih-asuh dengan masyarakat sekitarnya, sehingga dapat menghindari terciptanya kesenjangan ekonomi yang lebar seperti yang terjadi pada waktu lalu. - DI BIDANG SOSIAL BUDAYA, WNI etnis Tionghoa diharapkan bisa menghindari kehidupan yang eksklusif, harus berani dan tidak perlu ragu atau cemas dalam menyatu di masyarakat. Rintis dan jadikan masyarakat di sekitar sebagai partner dan pelindung yang sebenarnya. Sejak dini anak anak agar dipersiapkan untuk berbaur, mulai dari level taman kanak kanak sampai perguruan tinggi dan seterusnya. Para tertua. Tionghoa hendaknya membantu memberikan kesadaran masyarakat untuk merasa satu dengan masyarakat lainnya dalam menjalani tugas tugas kehidupan di masyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia, menjunjung tinggi tegaknya hokum dan keadilan dalam membangun kemakmuran bersasna bagi seluruh rakyat Indonesia.

- DALAM BIDANG PERTAHANAN MASYARAKAT, WNI etnis Tionghoa agar memperjuangkan dan memanfaatkan hak untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam pembelaan Negara. Antara lain sanggup herprofesi sebagai anggota TNI, Polri, atau rakyat terlatih lainnya, dengan menunjukan disiplin, penuh rasa tanggung jawab, dan menjunjung tinggi kerhomatannya sebagai bayangkara Bangsa dan Negara Kesatujan Republik Indonesia. Rakyat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, etnis, adat istiadat, dan pemelik agama yang berbeda, berjuang untuk kemerdekaan Indonesia guna mewujudkan cita cita nasional yaitu Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Asal 26 ayat 1 menyatakan ; yang menjadi warga Negara ialah orang orang Indonesia asli dan orang orang bangsa lain yang disahkan dengan undang undang sebagai warga Negara. Pasal 127 ayat 1 menyatakan, segala warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintah dan wajib menjunjung hokum dan pemerintah itu dengan tidak ada kecualinya.

31

PEMBENTUKAN KARAKTER Karakter berbeda dengan temperamen.Temperamen merupakan corak reaksi seseorang terhadap berbagai rangsangan dari luar dan dari dalam.Ia berhubungan erat dengan kondisi biopsikologi seseorang,hingga sangat sulit d ubah karena ia dipengaruhi oleh unsur hormon yang bersifat biologis.Sedang karakter terbentuk melalui perjalanan hidup seseorang.Ia dibangun oleh pengetahuan,pengalaman,serta penilaian terhadap pengalaman itu.Kepribadian dan karakter yang baik merupakan interaksi seluruh totalitas manusia.Dalam bahasa islam,ia dinamairusyid.Ia bukan saja nalar,tetapi gabungan dari nalar,kesadaran moral,dan kesucian jiwa. Karakter terpuji merupakan hasil internalisasi nilai-nilai agama dan moral pada diri seseorang yang d tandai sikap dan perilaku positif. Karena itu,ia berkaitan sangat erat dengan kalbu.Bisa saja seseorang memiliki pengetahuan yang dalam, tetapi tidak memiliki karakter terpuji.Sesungguhnya dalam diri manusia ada suatu gumpalan kalau ia baik ,baiklah seluruh (kegiatan) jasad dan kalau buruk,buruk pula seluruh (kegiatan) jasad. Gumpalan itu adalah hati. Dalam konteks membangun moral bangsa,maka diperlukan nilai-nilai yang harus disepakati dan dihayati bersama. Disepakati karena kalau setiap orang diberi kebebasan untuk menentukan nilai itu, maka seorang perampok misalnya, akan menilai bahwa mengambil hak orang lain adalah tujuan dan bahwa kekuatan adalah tolak ukur hubungan antar masyarakat. Ini tentu saja akan merugikan masyarakat bahwa pada

akhirnya merugikan diri yang bersangkutan sendiri.Tetapi disisi lain, jika kita kita tidak memberi kesempatan kepada manusia untuk memilih, maka ketika itu kita telah menjadikannya bagaikan mesin bukan lagi manusia yang memiliki kehndak,tanggung jawab,dan cita-cita.Manusia harus memiliki pilihan,tetapi pilihan tersebut bukan pilihan orang perorang secara individu,tetapi pilihan mereka secara kolektif.Dari sini setiap masyarakat secara kolektif bebas memilih pandangan hidup,nilai-nilai dan tolak ukur moralnya dan hasil hasil pilihan itulah yang dinamai jati diri bangsa. Dengan demikian,jati diri bangsa

32

terkait erat dengan kesadaran kolektif yang terbentuk melalui proses yang panjang. Memang rumusnya dicetuskan oleh kearifan the founding fathers bangsa,tetapi itu mereka gali dari masyarakat dan karena itu pula maka masyarakat menyepakatinya. Jati diri bangsa Indonesia yang kita sepakati adalah Pancasila. Nilai nilai yang telah disepakati itu harus dihayati,karena hanya dengan penghayatan nilai dapat berfungsi dalam kehidupan ini.Hanya dengan penghayatan karakter dapat terbentuk.Tidak ada gunanya berteriak sekuat tenaga atau menulis panjang lebar tentang nilai-nilai dan keindahannya,jika hanya terbatas sampai disana.Ini bagaikan seseorang yang memuji-muji kehebatan obat,tetapi obat itu tidak ditelannya sehingga tidak tidak mengalir ke seluruh tubuhnya dan tidak menjadi bagian dari diri.Ia harus menelannya,lalu membiarkan darah mengalirkan obat itu ke seluruh tubuhnya,serta menyentuh dan mengobati bagian bagian dirinya yang sakit,bahkan lebih memprkuat lagi yang telah kuat. Selanjutnya, karena nilai-nilai yang dihayati membentuk karakter,maka nilai-nilai yang dihayati seseorang atau satu bangsa dapat diukur melalui karakternya.Perubahan yang terjadi pada karakter, bisa jadi karena perubahan nilai yang dianut atas dasar kesadaran mereka, dan bisa juga karena terperdaya atau lupa oleh satu dan lain sebab.Dari sini diperlukan nation and character building. Membangun kembali karakter bangsa mengandung arti upaya untuk memprkuat ingatan kita tentang nilai-nilai luhur yang telah kita sepakati bersama dan yang menjadi landasan pembentukan bangsa,dalam hal ini adalah Pancasila,disamping membuka diri untuk menerima nilai-nilai baru yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar pandangan bangsa.Inilah yang dapat menjamin keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,serta kelestarian Pancasila sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa. Semakin matang dan dewasa satu masyarakat,semakin mantap pula pengejewantahan nilai-nilai yang mereka anut dalam kehidupan

mereka.Masyarakat yang belum dewasa adalah yang belum berhasil dalam pengejewantahannya dan masyarakat yang sakit adalah yang mengabaikan

33

nilai-nilai tersebut.Penyakit bila berlangsung tanpa diobati akan mempercepat kematian masyarakat.Bila penyakit masyarakat berlangsung tanpa

pengobatan,maka kematian masyarakat tidak dapat terelakan. Bila terdapat hal-hal dalam diri anggota masyarakat yang bertentangan dengan jati diri dan tujuan itu,maka semestinya masyarakat meluruskan hal tersebut sehingga terjdi keharmonisan antara ego setiap individu dan kepentingan masyarakat.Sekali lagi terlihat disini betapa pentingnya melakukan apa yang diistilahkan dengan Character and Nation Building.Masyarakat melakukan hal tersebut melalui pendidkan.Disinilah terukur keberhasilan dan kegagalan pendidikan.Karena itu pula ukuran keberhasilan lembaga

pendidikan-khususnya perguruan tinggi-bukan saja melalui kedalaman ilmu dan ketajaman nalar seseorang untuk menggunakan pengetahuannya menuju kebaikan,yang pada gilirannya menghasilkan aneka buah segar yang bermanfaat bagi diri,masyarakat bahkan kemanusiaan seluruhnya. Pembentukan karakter bangsa harus bermula dari indinvidu anggotaanggota msyarakat bangsa,karena masyarakat adalah kumpulan individu yang hidup di suatu tempat dengan nilai-nilai yang merekat mereka.Masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu yang terbentuk berdasar tujuan yang hendak mereka capai.Ini karena setiap individu lahir dalam keadaan hampa budaya dan nilai-nilainya yang lahir dalam pilihan dan kesepakatan mereka. Membentuk karakter individu bermula dari pemahaman tentang diri sendiri sebagai manusia,potensi positif dan negatifnya serta tujuan kehadirannyadi pentas bumi ini.Selanjutnya karena masyarakat religius,ber-Ketuhanan Yang Maha Esa,maka tentu saja pemahaman tentang hal-hal tersebut harus bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa / ajaran agama. Untuk mewujudkan karakter yang dikehendaki diperlukan lingkungan yang kondusif, pelatihan dan pembiasaan, persepsi terhadap pengalaman hidup dan lain-lain. Disisi lain karakter yang baik harus terus diasah dan diasuh, karena ia adlah proses pendakian tanpa akhir. Dalam bahasa agama, penganugerahan hidayah Tuhan tidak terbatas, sebagaimana tidak bertepinya samudra ilmu

34

Tuhan menambah hidayatnyabagi orang yang telah memperoleh hidayat dan Tuhanpun memerintahkan manusia pilihannya untuk terus memohon tambahan pengetahuan. Praktek ibadah yang ditetapkan agama bukan saja cara untuk meraih karkter yang baik tetapi juga cara untuk memelihara karakter itu dari aneka pengaruh negatif yang bersumber dari dalam diri manusia dan dari lingkungan luarnya, sekaligus ia adalah cara untuk mendakimenuju karakter puncak terbaik, yang dalam ajaran islam adalah upaya untuk meneladani sifatsifat Tuhan yang tidak terbatas itu. Karena itu ibadah harus terus berlanjut hingga akhir hayat dan karena itu pula pembentukan karakter adalah suatu proses tanpa henti. Kalau merujuk kepada ajaran agama dan keberhasilan para nabi serta penganjur kebaikan maka ditemukan sekian banyak cara yang mereka tempuh yang akhirnya mengantar kepada keberhasilan mereka. Tentu tidak mudah hal itu dipaparkan secara utuh dalam kesempatan ini. Namun yang jelas, mereka tidak sekedar menyampaikan informasi tentang makna baik dan buruk. Memang ini diperlukan untuk mewujudkan pemahaman yang mengantar kepada perubahan positif tetapi jika tidak terbatas hanya sampai disana, maka ini hanya mengantar kepada pengetahuan yang menjadikan pemiliknya pandai berargumentasi tentang kebaikan sesuatu walau mereka tidak mengerjakannya atau mengkritik keburukan yang mereka jumpai walau mereka sendiri melakukannya. Hal serupa inilah yang kini tidak jarang terjadi dalam masyarakat kita. Pengetahuan tanpa penghayatan, tidak dapat menimbulkan apa yang diistilahkan oleh pakar-pkar agama (tasawuf) halah yakni kondisi psikologis yang mengantar seseorang berkeinginan kuat untuk berubah secara positif. Boleh jadi keinginan berubah itu tidak muncul karena yang bersangkutan telah puas dengan keadaannya buruk, yang dalam bahasa kitab suci Al-Quran telah diperindah (oleh setan) keburukan amal-amalnya sehingga memperturutkan nafsunya (Q.S. Muhammad [47]:14) dan dengan demikian jangankan menjadi climber dalam istilah sementara psikolog yakni pendaki ke puncak prestasi guna mengaktualisasikan diri, menjadi camper yakni berkemah pada

35

pertengahan anak tangga pendakianpun tidak mampu dilakukannya karena ia telah menjadi quiter berhenti bergerak menyerah kalah sebelum berusaha. Ini dalam bahasa Al-Quran dilukiskan dengan kalimat istahwaza alaihihim AsySyaithan (mereka telah dikuasai oleh setan menjadikan mereka lupa mengingat Tuhan) (Q.S. Al- Mujadalah [58]: 19). Para nabi dan penganjur kebaikan disamping menjelaskan dan

mengingatkan tentang baik dan buruk, mereka justru lebih banyak melakukan olah jiwa dan pembiasan dengan aneka pengalaman yang kalau perlu pada mulanya dibuat-buat bukan oleh dorongan kemunafikan tetapi agar menjadi kebiasaan dan watak. Mereka juga mengemukakan aneka pengalaman sejarah masyarakat dan tokoh-tokoh masa lampau. Disamping itu, mereka berusaha sekuat kemampuan untuk mengurangi sedapat mungkin pengaruh negatif lingkungan, karena melalui lingkungan, watak dapat berubah menjadi positif atau negatif. Hanya saja perlu dicatat bahwa pada umumnya pengaruh negatif lingkungan lebih mudah diserap daripada pengaruh positifnya. Sedang pendekatan yang mereka lakukan guna menciptakan watak masyarakat adalah pendekatan buttom up, yang mereka tularkan kepada keluarga, lalu sahabat dan handai tolan dalam lingkunngan kecil hingga mencakup seluruh masyarakat. Wallahu alamu bish-shawwab.

36

SOAL-SOAL DAN PEMBAHASANNYA

Mochamad Miftachul Arif (101910201024) A. Pilihan Ganda 1. Ideologi yang dianut oleh Negara RRC adalah ....... a. Komunis b. Liberal c. Pancasila Jawaban : A 2. Organisasi pemuda yang ada pada masa sebelum kemerdekaan adalah, kecuali.... a. Yong Selebes b. Yong Java c. Yong Sumatera Jawaban : D d. Karang taruna e. Yong Islamic Bond d. Sosialis e. Marxisme

B. Uraian 1. Pada pasal berapa landasan dan dasar yang kuat bagi persatuan bangsa Indonesia yang tertuang dalam UUD 1945? Jawab: WILAYAH NEGARA Pasal 25****) Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah dan batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang.** ) WARGA NEGARA DAN PENDUDUK Pasal 26 (1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undangundang sebagai warga negara.

37

(2) Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia.** ) (3) Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undangundang.**)

Intan Mawardah (1019102010) A. Soal Pilihan Ganda 1. Indonesia adalah negara yang tangguh karena di dukung oleh aspekaspek untuk ketahanan nasionalnya diantara lain.............. a. aspek ideologi, politik, ekonomi, budaya b. politik, ekonomi, budaya c. pertahanan, hukum, budaya d. aspek politik, ideologi, ekonomi, budaya serta hankam e. aspek politik dan pertahanan Jawaban: D 2. Yang di maksud kondisi dinamis bangsa indonesia adalah................ a. Kondisi ketahanan nasional indonesia yang tangguh b. Kondisi ketahan nasional indonesia yang ulet c. Kondisi ketahanan nasional indonesia yang mampu mengatasi gangguan dari dalam d. Kondisi ketahanan nasional indonesia yang mampu mengejar tujuan nasionalnya e. Sikap keuletan ketangguhan dan kemampuan bangsa indonesia dalam pengembangan kekuatan dalam menghadapi atau mengatasi segala bentuk ancaman dari dalam maupun luar secara langsung ataupun tidak membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa indonesia Jawaban: E

B. Uraian

38

3. Dalam era Orde Baru dicanangkan Pembauran Bangsa sebagai salah satu kebijakan nasional dalam GBHN. Apa yang dimaksud dengan pembauran? Jawab : Pembauran merupakan proses pembudayaan bangsa yang harus dipicu ke arah yang positif dan harus dijiwai dengan sikap mawas diri, tahu diri, tenggang rasa, solidaritas sosial ekonomi, rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap kebersamaan dan kesetiakawanan dalam upaya memajukan dan mensejahterakan kehidupan masyarakatbangsa serta negara Indonesia.

Jessica Sidauruk (101910201081) A. Soal Pilihan Ganda 1. Maraknya KKN yg menyebabkan bangkrutnya negara dan memiskinkan rakyat mempengaruhi pengusaha Tionghoa yng diakibtkn olehpemimpin yng tidak terpuji,sehingga terjadi kesenjangan soial yang menyebabkan tumbuhnya bibit konflik rasial. Kapankah kerusuhan rasial itu terjadi.... a. Peristiwa G-30-S-PKI b. Mei 1998 c. 1946-1947 d. 11 Juni 1945 e. Kebangkitan nasional 1908 Jawaban : B 2. Yang tidak termasuk dalam organisasi pemuda adalah........... a. Yong Java b. Yong Selebes c. Yong Sumatera d. Yong Jakarta e. Yong Islamic Bond Jawaban : D

39

3. Dalam pembentukan karakter,berbeda dengan temperamen. Jelaskan perbedaaan karakter dengan temperamen! Jawaban : Temperamen merupakan corak reaksi seseorang terhadap berbagai ransangan dari luar dan dari dalam,berhubungan erat dengan kondisi biopsikologi seseorang,sehingga sangat sulit diubah karena dipengaruhi oleh unsur hormon yang bersifar biologis. Sedangkan krakter terbentuk melalui perjalanan hidup seseorang, dibangun oleh pengetahuan, pengalaman, serta penilaian terhadap pengalaman itu.

Fathur Rahman Sidik (101910201073) A. Soal Pilihan Ganda 1. Siapa yang menciptakan musuh bersama lagi atau yang di sebut ( NEO NEKOLIM)............... a. Bung hatta b. Bung Karno c. Ki hajar dewantara d. KH. Agus salim e. Muh.Yasin Jawab: B 2. Anggota BPUPKI yang dari etnis Tionghoa yang menyampaikan kepada forum saat menyusun UUD hendaknya semua orang Tionghoa di Indonesia ditetapkan sebagai Warga Negara Indonesia adalah..... a. Takul Liu b. Andeso Lie c. Kim Zen Zen Jawab: D d. Liem Koen Hian e. Par Ma Chen

B. Soal Uraian 3. Mengapa amerika sekarang menjadi negara adidaya? Jawaban :

40

Karena heterogenitas masyarakatnya tidak dirasakan sebagai sesuatu yang menghambat, bahkan dijadikan sebagai kebanggan dan disa diterima sebagai sesuatu yang memperkaya khasanah budaya bangsa amerika. Selain itu ketahanan ideologis mereka telah mendukung meningkat nya kesejahteraan, tingginya disiplin nasional, dan ketaatan terhadap hukum.

Arif Syuhada (101910201034) A. Soal Pilihan Ganda 1. Negara yang wawasan kebangsaannya berdasarkan kesatuan cita-cita adalah.............. A. Swiss B. Amerika serikat C. Jepang D. Belanda E. Indonesia Jawaban : A 2. Contoh negara yang wawasan kebangsaannya menggunakan kesamaan etnis adalah.......................... A. Jepang B. Indonesia C. Amerika Serikat D. Kuba E. Mesir Jawaban: A

B. Soal Uraian 3. Apa yang dimaksud dengan politik devide at impera yang pernah diterapkan di Indonesia? Jawab : Suatu cara menciptakan atau memelihara konflik yang dilakukan oleh penjajah agar gugusan kepulauan Nusantara ini tetap menjadi kerajaankerajaan kecil yang lemah sehingga mudah dikendalikan.

41

Bhakti Darmawan (101910201055) A. Soal Pilihan Ganda 1. Beberapa hal berikut yang terkandung di dalam gagasan awal nation and character building, kecuali... a. Persatuan nasional b. Demokrasi c. Kemandirian d. Politik e. Martabat internasional Jawab: D 2. Dikalangan ilmu politik, salah satu dari 7 kriteria Robert Dahl, yaitu... a. Pengawasan atas kebijaksanaan pemerintah dilakukan secara konstitusional oleh wakil-wakil yang dipilih b. Sistem perekonomian saling berkaitan dan merupakan satu keterkaitan tentang pandangan hidup dan falsafah negara c. Sistem ekonomi memberikan dampak pada peningkatan pendapatan d. Wawasan kebangsaan dapat dipandang sebagai suatu falsafah hidup yang berada pada tataran sub-sistem budaya e. Kedaulatan rakyat sebagai ganti sistem kolonialis Jawab: a 3. Bagaimana latar belakang yang membuat stigma negatif terhadap etnis Tionghoa? Jawab: Akibat pembantaian, perampokan, dan penjarahan tersebut, sekelompok etnis Tionghoa pada tahun 1947 mendirikan organisasi untuk membela diri dan menjaga keamanan, yaitu Pao An Tui yang artinyabarisan penjaga keamanan. Dalam perkembangannya sebagian dari anggota Pao An Tui yang sakit hati dan dendam karena keluarganya menjadi korban dibujuk dan dipersenjatai Belanda untuk digunakan menghadapi pasukan Indonesia. Sehingga kesetiaan WNI etnis Tionghoa Kepada Republik Indonesia menjadi dipertanyakan.

Andes Pradesa (101910201010) A. Soal Pilihan Ganda 1. WNI etnis Tionghoa diharapkan bisa menghindari kehidupan yang eksklusif, harus berani dan tidak perlu ragu atau cemas dalam menyatu di masyarakat. Hal tersebut merupakan suatu usaha dari mewujudkan

42

Ketahanan Nasional dan Menata Ulang Kebangsaan Indonesia di bidang. a. Politik b. Ekonomi c. Sosial budaya d. Pertahanan keamanan e. Kesejahteraan umum Jawab : C 2. Manakah dari di bawah ini yang bukan merupakan sumber dari Wawasan Kebangsaan Nasional? a. Semangat Kebangkitan Nasional 1908 b. Proklamasi Kemerdekaan 1945 c. Sumpah Pemuda 1928 d. Lima Filsafat Dasar yang Ideal e. Surat Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR) Jawab : E B. Soal Uraian 3. Apa yang dimaksud dengan ketahanan nasional indonesia? Jawab: Ketahanan nasional Indonesia adalah kondisi dinamis bangsa Indonesia, yaitu keuletannya, ketangguhannya, dan kemampuannya dalam mengembangkan kekuatan untuk menghadapi dan mengatasi segala bentuk ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang datang dari dalam maupun luar, yang secara langsung maupun tidak langsung dapat membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup, maupun perjuangan bangsa dalam mengejar tujuan nasionalnya.

Yudha Bagus Priyoko(101910201103) A. Soal Pilihan Ganda 1. 2. Landasan yang mendasari semangat kebangsaan selain kesamaan etnis,agama,atau kesamaan penderitaan adalah...... a. lima dasar filsafat Negara seperti yand terkandung pada UUD1945

43

b. kesamaan bahasa c. perbedaaan cara pandang dalam bernegara d. perang antar suku yang terjadi e. kesamaan keyakinan dan kepercayaan Jawab: A B. Soal Uraian 3. Apa definisi dari masyarakat? Jawab: Masyarakat adalah kumpulan individu yang hidup di suatu tempat dengan nilai-nilai yang melekat pada diri mereka yang terbentuk berdasar tujuan yang hendak di capai.

44