Anda di halaman 1dari 10

7D.

Memesahkan Analit dari Campuran

Ketika suatu metode menunjukan selektifitas yang tinggi untuk suatu analit maka, pekerjaan dalam menganalisis kualitatif, kuantitatif dan karakterisasi akan lebih mudah. Sebagai contoh, menganalisis gula dalam madu secara kualitatif akan lebih mudah terpisah jika metode untuk memiliki slektifitas untuk glukosa, meskipun presentasi gula cukup besar seperti fruktosa. Tetapi, suatu metoda analisis jarang memiliki selektifitas terhadap suatu spesis. Dengan tidak adanya campuran lain, hubungan antara sampel (Ssamp) dan konsentrasi analit (CA) yaitu Ssamp = kACA 7.9

Dimana kA adalah sensitifitas analit. Jika analit merupakan sebuah campuran maka, persamaan 7.9 menjadi Ssamp = kACA + kICI 7.10

Dimana kI dan CI adalah sensifitas campuran dan konsentrasinya. Sebuah metode selektifitas ditentukan oleh perbedaan relatif dalam sensitifitasnya terhadap analit dan campuran. Jika kA lebih besar dari KI, maka metode ini lebih selektif untuk analiat murni. Namun jika metode ini akan lebih selektif untuk campuran jika kI lebih besar dari kA. Bahkan untuk suatu campuran, bila metode yang digunakan lebih selektif maka dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu analit jika konstribusi campuran untuk Ssamp tidak signifikan. Koefisien selektifitas (KA,I) telah dijelaskan pada bab 3 sebagai cara untuk mengkarakterisasi selektifitas dalam suatu metode. KA,I = kI kA Untuk menyelesaikan persamaan 7.11 kI disubtitusikan ke dalam persamaan 7.10 dan disederhanakan, maka menjadi Ssamp = kA(CA + KA,I CI) 7.12 7.11

Oleh karena itu, suatu campuran tidak akan mempengaruhi hasil maka, analisis yang tepat harus dimulai dengan memisahkan analit dan campuran.

7E.

TEORI UMUM EFESIENSI PEMISAHAN


Reparasi Fraksi analit atau interferent tersisa setelah
pemisahan (R).

Tujuan dari pemisahan analitik yaitu untuk memisahkan suatu analit atau campuran dari suatu sampel. Utuk melakukan pemisahan, setidaknya harus ada satu perbedaan sifat fisik atau sifat kimia diantara analitndan campuran. jika didasari oleh sifat fisik dan sifat kimia, tetap saja menimbulkan suatu masalah mendasar, dimana pemishan juga dipengaruhi oleh selektifitas. Sebuah pemisahan yang tepat akan menhgilangkan campuran dan dapat mengakibatkan hilangnya sebagian analit. Untuk meminimalkan analit, maka campuran tidak semuanya dihilangkan. Efisiensi sebuah pemisahan dipengaruhi oleh banyaknya analit yang tersisa dan banyaknya campuran yang dihilangkan. R A analit didefinisikan sebagai RA = CA (CA)0 Dimana CA adalah konsentrasi analit yang tersisa setelah pemisahan, dan (CA)0 adalah konsentrasi awal analit tersebut. Jika RA bernilai 1,00 berarti tak ada analit yang hilang selama pemisahan. RI, campuran didefinisikan sebagai RI = CI (CI)0 7.13

Dimana CI adalah konsentrasi campuran yang tersisa setekah pemisahan, dan (CI)0 adalah konsentasi awal campuran tersebut. Tingkatan pemisahan ditunjukan oleh faktor pemisahan SI,A yang mana dipengaruhi oleh rasio campuran terhadap analit.11
* Dalam persamaan 7.9 dan persamaan yang mengikutinya, konsentrasi analit CA, dapat diganyikan oleh mol analit (nA) ketika mempertimbanhkan suatu teknik analisis total.

Faktor Pemisahan Perhitungan efektifitas pemisahan dalam memisahkan analit dari campuran

Contoh 7.10 Analisis dilakukan untuk menentukan konsentrasi Cu di industri plating dengan menggunakan Zn sebagai campuran. Ketika sebuah sampel yang mengandung 128,66ppm Cu, dilakukan pemisahan untuk menghilangkan Zn sehingga konsentrasi Cu yang tersisa adalah 127,2ppm. Konsentrasi awal Zn yaitu 1 34,9ppm, setelah proses pemisahan konsentrasinya menjadi 4, 3ppm. Hitung nilai R untuk Cu dan Zn dan Faktor pemisahannya ? SOLUSI Nilai R untuk analit dan campuran yaitu Rcu = 127,2 ppm = 0,9891 atau 98,91% 128,6 ppm

RZn = 4, 3 ppm = 0.032 atau 3,2% 134,9 ppm Faktor pemisahannya adalah SZn,Cu = RZn = Rcu 0.032 0,9891 = 0.032

Dalam pemisahan yang ideal nilai RA = 1, RI = 0 dan SI,A = 0. Secara umum, faktor pemisahan harus bernilai sekirat 10-7 untuk analisis kualitatif dari analit dengan sebuah campuran makro, dan 10-3 ketika analit dan campuran memiliki jumlah yang kiara-kira sama. Hasil banding konsentrasi dan faktor pemisahan adalah cara yang tepat untuk mengefaluasi efektivitas dari suatu pemiasahan. Meskipun, hal tersebut tidak memberikan indikasi secara langsung dari kesalahan relatif dengan tidak menghilangkan semua gangguan atau tidak biasa untuk memperoleh semua analit. Keslahan relatif pemisahan dilambangkan dengan E, yang didefinisikan sebagai E = Ssamp S*samp S*samp 7.14

Dimana Ssamp adalah suatu cara yang diharapkan dapat melakukan pemisahan ideal dimana semua analit dapat dipisahkan S*samp = kA(CA)0 7.15

Subtitusi persamaan 7.12 dan 7.15 kedalam persamaan 7.14 sehinnga diperoleh E = kA (CA + KA,I CI) kA(CA)0 kA(CA)0 Jika disederhakan akan menjadi E = CA + KA,I CI (CA)0 (CA)0 E = CA _ (CA)0 (CA)0 (CA)0
+

KA,I CI (CA)0 7.16

E = (RA - 1) + KA,I CI (CA)0

Suatu persamaan yang sering digunakan utuk menghitung kesalahan relatif diperoleh dari penyelesaian persamaan 7.13 untuk Cidan disubtitusikan kedala persamaan 7.16

E = (RA 1) + KA,I (CI)0 RI (CA)

7.17

Persamaan 7.17 digunakan untuk analit yang tidak utuh, dan digunakan untuk perhitungan yang tidak dapat menghilangkan campuran. Contoh 7.11 Pada pemisahan soal 7.10, dilakukan analisis konsentrasi Cu pada suatu industri logam. Perbandingan konsentrasi Cu terhadap Zn dalam logam yaitu 7:1. Analisis dari suatu larutan standar yang mengandung Cu atau Zn yang menunjukan persamaan standarisasi Scu = 1250 (ppm Cu) SZn = 2310 (ppm Zn) (a) Kesalahan apa yang terjadi jika dalam analisis Cu tidak dilakukan penghilangan Zn ? (b) Berapa besar kesalahan yang terjadi jika pemisahan antara Zn dan Cu dilakukan ? (c) Berapa nilai maksimum untuk RZn jika seluruh Cu tersisa dan kesalahn pemisahan tidak lebih besar dari 0,10% ? SOLUSI (a) Jika analisis dilakukan tanpa diawali dengan pemisahan maka RCu dan RZn bernilai 1 dan persamaan 7.17 dapat di sederhanakan menjadi E = KCu,Zn (ppm Zn)0 (ppm Cu)0 Dari persamaan 7.11 koefisien selektifitas menjadi K Cu,Zn = kZn = 2310 = 1.85 kCu 1250 Meskipun kita tidak mengetahui konsentrasi yang sebenarnya dari Zn dan Cu dalam sampel, tetapi kita mengetahui perbandingan konsentrasi (ppm Zn)0 / (ppm Cu)0 adalah 1:7. E = (1.85) (1) = 0,264 atau 26,4% (7) (b) Untuk menghitung kesalahan , kita subtitusi perhitungan perbandingan pada contoh 7.10 kedalam persamaan 7.17 E = (0,9891 1) + (1,85)(1) 0,032 (7) E = (-0,0109) + (0,0085)

E = -0,0024 atau -0.24% Perlu diingat kesalahan neganif menandakan bahwa kegagalan dalam mengumpulkan analit dan kesalahan dalam menghilangkan campuran. (c) Untuk menghitung nilai maksimum RZn kita subtitusi kedalam persamaan 7.17. 0,0010 = (1 - 1) + (1.85)(1) RZn (7) Sehingga diperoleh nilai RZn sebesar 0,0038 atau 0,38%. Sehinnga banyaknya Zn yang dihilangkan yaitu sebesar 99,62%.

7F.

KLASIFIKASI TEKNIK PEMISAHAN

Suatu analait dan campuran dapat dipiasahkan jika memiliki perbedaan yang signifikan dari sifat kimia ataupun sifat fisiknya. Tabel 7.4 menujukan sebagian dari teknik pemisahan yang diklasifikasi berdasarkan sifat fisik dan sifat kimia. Tabel 7.4 Klasifikasi Teknik Pemisahan Dasar Pemisahan Teknik Pemisahan Filtrasi Dialisis Kromatografi size ekslusi Berdasarkan Massa dan Massa jenis Bersadarkan Pembentukan Kompleks Sentrifugasi Masking Destilasi Berdasarkan Perubahan Sifat Fisik Sublimasi Rekristalisasi Pertukaran Ion Elektrodeposisi Berdasarkan Perubahan Sifat Kimia Volatilisasi Pengendapan Ekstraksi Berdasarkan Partisi Diantara 2 fasa Kromatografi

Berdasrkan Ukuran

7F.1

Pemisahan Berdasarka Pada Ukuran

Sifat fisik dapat digunakan untuk pemisahan berdasarkan ukuran. Pemisahan dilakukan dengan menggunakan corong berpori yang dapat meliliskan analit atau campuran. Teknik penyaringan merupakan salah satu teknik pemisahan berdasarkan pada ukuran. Campuran dapat dipisahkan dari larutan analit dengan cara disaring dengan menggunakan filter yang pori-porinya dapat menahan campuran. Teknik pemisahan sangat penting dalam melakukan analisis air murni,yang mana padatan yang tertinggal dapat mengganggu proses analisis. Panyaringan juga dapat digunakan untuk mengisolasi analit yang ada sebagai padan dari ion terlarut dalam sampel. Sebagai contoh, tahapan ini penting dalam analisis gravimetri yang analitnya diisolasi sebagai padatan.
Gambar 7.11 Ilustrasi dari membran dialisis. Dalam gambar (a) larutan sampelditempatkan dalam tabung dialisis dan dan dimasukan kedalam pelarut. (b) partikel yang lebih kecil dapat melewati membran, sedangkan partikelyang besar tetap berada dalam tabung dialisis.

(a)

(b)
Dialisis Suatu metode pemisahan Yang menggunakan membran semipermiabel

Contoh pemisahan lain yang berdasarkan pada ukuran yaitu dialisis, dimana selaput semipermiable didunakan untuk memisahkan anata analit dan campuran. Membran dialisis biasanya terbuat dari selulosa, dengan ukuran piro sebesar 1-5 nm. Sampel ditempatkan didalam sebuah kantung yang terbuat dari membran. Membran dialisis dan sampel kemudian ditempatkan pada wadah yang yang telah diisi dengan pelarut yang memiliki komposisi yang berbeda dengan sampel. Jika konsentrasi partikel tidak sama pada kedua sisi membran, peredaan konsentrasi akan memberikan suatu dorongan sehingga terjadi difusi diseluruh membran. Meskipun partikel yang kecil dapat melewati membran, partikel yang besar tidak dapat melewati membran (gambar 7.11). Dialisis sering digunakan untuk memurnikan protein, hormon dan enzim. Selama proses dilisis ginjal, produk sisa metabolisme seperti urea, asam uart, dan kreatin dikeluarkan dari darah dengan melewatkannya pada membran dialisis.

Kromatografi size eksklusi, yang disebut juga permeasi gel atau kromatografi eksklusi molekul adalah contoh ketiga dari teknik pemisahan berdasarkan pada ukuran. Dalam teknik ini kolom dikemas menjadi kecil, yaitu sekitar 10 m, dengan pori-pori partkel yang terbentuk dari ikatan silang oleh dekstrin atau poliakrilamida. Ukuran poli partikel dikendalikan oleh tingkat silang, dengan tingkat silang yang lebih besar dapat mengahasilkan ukuran pori yang lebih kecil. Sampel yang akan dipisahkan ditempatkan pada suatu aliran pelarut yang dipompa melalui kolom dengan alaju alir tetap. Partikel yang terlalu basar akan melewati kolom pada tinggkat yang sama sebagai pelarut partikel. Partikel yang masuk kedalam struktur pori akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dapat melewati kolom. Semakin kecil ukuran partikel yang masuk kedalam pori, akan membutuhkan waktu yang lama untuk melewati kolom. Kromatografi size eksklusi banyak digunakan dalam analisis polimer dan biokimia, dimana digunakan untuk pemisahan protein. 7F.2 Pemisahan Berdasarka Massa atau Massa Jenis

Kromatografi size eksklusi Suatu metoda pemisahan yang campuranya melewati pori-pori partikel dengan partikelterkecilnya melewati dasar permukaan karena kemampuannya berpindah kedalam struktur pori.

Jika adanya perbedaan pada massa atau massa jenis dari suatu analit dan campuran, maka pemisahan dilakukan dengan cara sentrifugasi. Sampel, sebagai suspensi ditempatkan dalam tabung sentrifugasi dan disentrifuse dengan kecepatan yang tinggi dan sudut yang besar (Banyaknya jumlah putaran per menit, rpm). Partikel yang mengalami gaya sentirfugal lebih besar akan memiliki tingkat sedimentasi lebih cepat dan akan tertarik ke arah bagian bawah tabung sentrifug. Utuk partikel yang memili massa jenis yang sama maka teknik pemisahan didasrkan oleh massa, partikel yang lebih berat memilki tinggat sedimentasi yang lebih besar. Ketika partikel memiliki massa yang sama, maka partikel yang memiliki massa jenis yang besar akan memiliki tinggakt sedimentasi yang besar. Tabel 7.5 Kondisi Komponen Untuk Pemisahan Secara Sentrifugasi. Waktu (menit) Sel eukarotik 5 Membran sel 10 Mitokokndria, sel bakteri 20 Lisosom, membran bakteri 30 Ribosom 180 Sumber: Diadaptasi dari Zubay G, Biokimia, 2nd ed, Macmillan: New York, 1988, p,120 . Sentrifugasi partikel merupakan teknik pemisahan yang penting dalam biokimia. Seperti yang terlihat pada tabel 7.5, komponen seluler dapat dipisahkan dengan cara sentrifugasi.12 Misalnya, lisosom dapat dipisahkan dari komponen seluler lainya dengan sentrifugasi diferensial berulang, dimana sampel dibagi menjadi residu padat dan larutan yang disebut supernatan. Komponen Gaya Sentrifugal (g) 1000 4000 15.000 30.000 100.000

Setelah merusak membran sel, larutan di sentrifuse pada 15.000 g (kekuatan bidang sentrifugal yang 15.000 kali dari medan gravitasi bumi) selama 20 menit, sehingga meninggalkan residu membran sel dan mitokondria. Supernatan diisolasi dengan decating dari residu dan disentrifugasi pada 30.000 g selama 30 menit, sehinnga meninggalkan residu dari lisosom. Pendekatan alternatif untuk sentrifugasi diferensial adalah keseimbangan massa jenis dengan kemiringan sentrifugasi. Sampel ditempatkan dalam suatu larutan, ketika disentrifugasi akan terbentuk perbedaan massa jenis. Misalnya, perbedaab massa jenis dapat dibentuk dengan larutan dari sukrosa atau CsCl. Selama sentrifugasi, komponen sampel yang mengalami sedimentasi pada tingkat yang ditentukan oleh gaya sentifugal. Karena kepadan pelarut meningkatkan tekanan ke bagian bawah tabung sentrifug, sehinnga tingkat sedimentasi untuk setiap komponen menurun ketika bergerak ke bagian bawah sentrifug. Jika suatu komponen mencapai sutu posisi dimana massa jenis sama dengan massa jenis pelarut, maka gaya sentrifugal turun menjadi nol dan proses sedimentasi pun berhenti. Meskipun masing-masing komponen terisolasi tetapi Massa jenis komponen sama dengan massa jenis pelarut. Misalnya campuran protein, RNA dan DNA dapat dipisahkan dengancara ini karena massa jenis meraka berbada. Massa jenis 1,65 g/cm3 menjadi 1,80 g/cm3 dengan menggunakan CsCl. Protein memiliki massa jenis kurang dari 1,3 g/cm3 dan tidak tersedimentasi, sedangkan RNA, dengan massa jenis lebih besar dari 1,8 g/cm3 dapat membentuk residu di dasar tabung sentrifug. DNA yang memiliki massa jenis sekitar 1,7 g/cm3 terdapat di bagian tengah dari tabung sentrifug (gambar 7.12).

Gambar 7.12 Ilustrasi menunjukan pemisahan dengan kesetimbangan massa jenis sentrifugasi. Campuran homogen dalam (a) memisahkan menjadi tiga bagian (b) setelah pemisahan.

Protein DNA RNA (a) (b)

Masking Sebuah metode pemisahan semu diamana spesis campuran dibentuk menjadi kompleks

7F.2

Pemisahan Berdasarka Pembentukan Reaksi Kompleks (Masking)

Salah satu teknik yang sering dugunakan untuk menghilangkan campuran yaitu mengikat campuran menjadi kompleks terlarut, sehingga dapt memisahkannnya dari analit. Proses ini disebut dengan teknik masking. Secara teknis, masking bukan merupakan suatu teknik pemisahan karena analit dan campuran tidak pernah secara spesifik terpisah satu sama lain. Meskipun begitu teknik masking dapat disebut sebagai teknik pemisahan. Berbagai ion dan molekul telah digunakan sebagai agen masking (Tabel 7.6). Tabel 7.6 Ion yang dapt digunakan sebagai agen masking Agen Masking CNSCNNH3 FS2O32Tartrat Oksalat Thioglycolic acid Spesi yang dapt dibentuk kompleks Ag, Au, Cd, Co, Cu, Fe, Hg, Mn, Ni, Pd, Pt, Zn Ag, Cd, Co, Cu, Fe, Ni, Pd, Pt, Zn Ag, Co, Cu, Fe, Pd,Pt Al, Co, Cr, Mg, Mn, Sn, Zn Au, Cd, Co, Cu, Fe, Pb, Pd, Pt, Sb Al, Ba, Bi, Ca, Ce, Co, Cr, Cu, Fe, Hg, Mn, Pb, Pd, Pt, Sb, Sn, Zn Al, Fe, Mg, Mn, Sn Cu, Fe, Sn

Sumber: Diadaptasi dari Meites, L Handbook Of Chemistry, McGraw-Hill: Ney York, 196 3.

Contoh 7.12 Berikan saran untuk Agen masking dalam menganalisis Al yang mengandung Fe. Ulangi untuk analisi untuk Fe jaika Al sebagai campurannya. Penyelesaian Untuk Menetukan agen masking yang cocok, kita dapat mencari suatu spesis yang mengikat campuran tetapi tidak mengikat analit. Oksalat misalnya, merupakan pilihan yang tepat karena okaslat mengikat Al dan Fe. Dari tabel 7.6 kita dapat mengetahui bahwa asam thioglycolic adalah agen yang selktif untuk masking Fe dalam analisis Al dan F- adalah agen masking selektif untuk Al dalam analisis Fe. Seperti yang ditunjukan Pada contoh 7.1 3, efektifitas agen masking dapat ditentukan dengan mempertimbangkan konstanta kesetimbangan untuk analitik dan reaksi masking.
Agen Making Reagen yang digunakan untuk mengikat spesis yang akan dimasking pada sebuah kompleks tidak relafif

Contoh 7.1 3 Tunjukan bahwa CN- adalah agen masking yang sesuai untuk Ni2+ dalam metode dimana kompleks nikel dengan EDTA adalah suatu gangguan. Penyelesaian Reaksi kesetimbangan dari lampiran 3C Ni2+ + Y4Ni2+ + 4CN`NiY2Ni(CN)42Kf = 4,2 1018 = 1,7 1030

Dimana Y4- adalah singkatan dari EDTA. Sianida adalah agen masking yang tepat karena formasi yang tepat Ni(CN)42- lebih besar dari kompleks Ni-EDTA. Pada kenyataanya kesetimbangan utuk reaksi dimana EDTA ditempatkan pada masking agen. Ni(CN)42- + Y4- NiY2- + 4CNK = Kf = 4,2 1018 = 1,7 1030 = 2,5 10-12

Hal tersebut menandakan bahwa Ni(CN)42- adalah yang mudah terbentuk dibanding dengan EDTA.