Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Peran perawat kritis dalam hubungannya terhadap isu etik meningkat dengan kompleks. Sebuah model keperawatan yang original menempatkan isu-isu etik dikembangkan pada penelitian ini. Sebuah penelitian kasus mendemostrasikan konflik etik dengan menggunakan model ini. Perawat pelayanan kritis dalam menghadapi isu-isu membutuhkan pembuat keputusan etik dalam praktek kesehariannya. Sehubungan dengan peningkatan teknologi membuat kemapuan masyarakat untuk melakukan koping dengan dilemma yang ada, perawat dihadapi dengan konflik etik dalam perawatan pasien mereka. Konflik meningkat dalam pelayanan kritis karena beberapa alasan. Contohnya, dalam perawatan, penyakit pasien yang kritis diharapkan perawat critical care tetap melakukan perawatan untuk mempertahankan kehidupan pasien stelah jam-jam berikutnya, hari-hari berikut kepada pasien yang tidak berespon dan tidak mempunyai harapan untuk segera melakukan sesuatu, disamping itu, perawat yang sama harus mempunyai koping dengan situasi emosional yang membingungkan dan lebih tinggi yang mana secara konsisten disesuaikan, belum menerima dukungan dengan penuh. Bagian yang sulit dalam perawatan bagi harapan penyakit pasien adalah bahwa perawat menjamin peran mereka dalam menyelesaikan isu-isu etik. Pada akhirnya mereka meninggalkan pasien mereka, dibatasi dengandilema, tidak menjawab pertanyaan dan frustasi. Sebagai coordinator perawatan pasien, perawat critical care adalah posisi yang unik untuk bekerja dengan dokteranggota tim kesehatan lainnya dalam menyelesaikan isu-isu etik, dan menyediakan iklim yang mana hak pasien dilindungi dan isu etik diselesaikan.

2. Tujuan Mengidentifikasi penyelesaian masalah etik menurut model Woldy 1

BAB II TINJAUAN TEORITS

1. Dilema Etik Dilema etika adalah situasi yang dihadapi seseorang dimana keputusan mengenai perilaku yang layak harus di buat. (Arens dan Loebbecke, 1991: 77). Untuk itu diperlukan pengambilan keputusan untuk menghadapi dilema etika tersebut. Woldy adalah seorang direktur penjamin mutu keperawatan di veteranas administrator medical center, Los Angeles, California. Dia adalah seorang anggota komite etik AACN.

2. Mengidentifikasi konflik etik dalam pelayanan kritis Perawat critical care menghadapi peningkatan sejumlah dilemma etik dan medico-legal dalam praktek keperawatan kritis, termasuk kurangnya sumber yang adekuat, aplikasi teknologi yang canggih, dan tranplasntasi organ. Dalam hal ini perawat critical care bekerja di lingkungan yang sangat kompleks. Kemajuan ilmu dan teknologi, berpasangan dengan penyakit-penyakit baru seperti AIDS, peningkatan usia lanjut, perubahan sikap pelayanan kesehatan, dan upaya biaya penahanan, yang telah menimbulkan isu-isu yang tidak dapat diselesaikan yang berasal dari sumber tersebut. Sumber-sumber tersebut mempunyai efek pemaksaan pelayanan kesehatan yang professional dan administrator untuk membuat pilihan yang sulit dalam hal ekonomi. Keputusan melibatkan perawatan penyakit, tranplantasi, inform consent, system dukungan kehidupan yg sesuai, dan hak pasien untuk menolak perawatan lebih lanjut dan membutuhkan pengakuan, diskusi dan tindakan.

Aplikasi teknologi Teknologi sebagai komponen integral dari lingkungan perawatan kritis sekarang dan teknologi yang digunakan telah membiarkan berbagai dilemma etik yang berhubungan dengan hak pasien. Sebuah pendekatan paternalistic terhadap perawatan pasien mendukung penggunaan teknologi dan mungkin konflik dengan otonomi pasien. 2

Donasi organ dan tranplantasi Donasi organ dan transplantasi adalah arena lain yang mana dilemma etik sering menigkat. Konsep dan definisi kehidupan dan kematian dibawah perubahan lingkungan teknologi. Sebagai contoh setelah pasien mengalami kematian otak, tubuhnya tetap hidup (berfungsi) untuk perfusi organ yang didonornya sampai tidak bisa melakukan perfusi atau sampai nutrisi (oksigen) habis. Perawat mungkin mengalami konflik perasaan tentang donor organ dalam status ini dan p[erawat menyediakan dukungan dan kenyamana kepada keluarga pasien.

Perawat critical care: inti (sentral) seseorang untuk mengidentifikasi konflik etik Perawat critical care merawat beberapa pasien yang kritis di rumah sakit. Ini adalah sebuah hubungan yang unik antara perawat dan pasien. Hubungan yang implisit ini mencipatakan dilemma bagi perawat. Hadad menyatakan dilemma etik melibatkan konflik antara hak dan tanggung jawab dan meminta suatu pilihan antara dua atau lebih alternatif. Tanggung jawab utama perawat adalah menjamin keamanan, pelayanan berkualitas kepada pasien. Ketika terjadi konflik tanggung jawab ini dengan tanggung jawab yang lainnya, perawat harus memilih yang mana kewajiban yang paling baik (hormat) Konflik terjadi sebagai sebuah perjuangan internal, karena perawat critical care terpisah antara perasaan mereka harus menemukan kebutuhan multiple (kebutuhan pasien, keluarga, dan dokter, semua yang mempunyai perbedaan praktik dan kepercayaan etik), tetapi juga kebijakan institusi.Ini mungkin melibatkan konflik tugas versus veracity. Kewajiban untuk melakukan perawatan khusus dibandingkan jujur dan memberitahu keluarga bahwa hasil pasien adalah sia-sia. Perawat perawatan kritis seringkali harus mengurus atau menahan terapi pada hari-hari resusitasi cardio pulmonary dan mendukung laju jantung. Ini adalah perawat perawatan kritis yang peduli pasien yang putus asa yang sakit 24 jam sehari dan perawat tersebut ditekan oleh pihak keluarga untuk memberikan informasi. Sebagai perawat perawatan kritis menghadapi masalah ini dalam praktek sehari-hari, mereka akan memainkan peran yang lebih aktif dalam membantu pasien dan keluarga terjebak dalam dilema etika. Peran etika perawat perawatan kritis melibatkan identifikasi konflik, melindungi pasien dari bahaya, membantu dengan 3

klarifikasi masalah, memberikan dukungan untuk pasien dan keluarga dan memulai diskusi dengan dokter dan anggota lain dari tim perawatan kesehatan. Sebuah model keperawatan membantu perawat dalam kunci peran dalam menangani dilema etika.

Menggunakan Model Keperawatan Dalam lingkungan teknologi saat ini yang menimbulkan dilema etika, perawat perawatan kritis telah muncul sebagai tautan kepedulian. Individu perawat telah mengambil peran yang lebih luas sebagai advokat pasien. Dengan menggunakan model, perawat memasukkan peran-peran dalam praktek secara sistematis memeriksa dan menangani isu-isu etika yang muncul dalam pengaturan klinis. Model ini menyediakan perawat dengan metode yang konsisten menangani masalah (Gambar 1). Ada tiga komponenyang terdiri dari kerangka menguraikan peran perawat dalam menangani dilema etika. Mereka terkait dengan pasien, bukan dokter atau rumah sakit. Ketiga komponen diidentifikasi sebagai tiga bagian berikut: Pengkajian, Advokasi dan Tindakan. Sebagai perawat menggunakan teknik pemecahan masalah dalam kerangka ini, mereka mengembangkan peningkatan kesadaran nilai-nilai mereka dan kemampuan untuk mengatasi berbagai situasi etis. Gambar 1. Model for adressing ethical issue (1998, Ginger Schafer Wlody) WLOODY MODEL UNTUK MENANGANI MASALAH ETIK DALAM KEPERAWATAN PENGKAJIAN ADVOKASI TINDAKAN

Respon terhadap penyakit

Harga diri

Mendefinisikan masalah

Respon terhadappengambilan keputusan Informasi tentangdiagnosis prognosa konsekuensi kendala waktu sumber informasi keadaan emosional

Autonomi

Menentukan strategi

Perlindungan Pasien

Mengubah kebijakan perilaku lingkungan

Penggunaan prinsip Etik

hak pasien

Kompetensi

Faktor yang mempengaruhi masalah etika A. Pengkajian Taha penilaian terjadi terlebih dahulu. Perawat perlu menilai berbagai factor yang mempengaruhi masalah etika: menilai respon pasien terhadap penyakit, melihat kualitas kehidupan dari perspektif pasien, dan mengidentifikasi kualitas yang memungkinkan, mengharuskan terapi perubahan. Selain menilai respon pasien terhadap penyakitnya, kemampuan pasien untuk mengambil keputusan juga dipertimbangkan. Apakah pasien diberitahukan tentang penyakitnya/pilihan

pengobatan?Kompeten?Apakah pasien atau wakilnya memahami tentang diagnosis, prognosis, alternative untuk pengobatan, konsekuensi dari terapi, dan ketersediaan sumber informasi?Apakah prinsip-prinsip dari Kode Etik Asosiasi Perawat Amerika yang digunakan?. Prinsip-prinsip ini berfokus pada peran dan tanggung jawab perawat profesional dan dirangkum dalam Gambar2.

Gambar 2. Faktor yang memepengaruhi isu etik dan pengambilan keputusan etik pada fase pengkajian (1988, Ginger Schafer Wlody) FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASALAH ETIKA DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG ETIS Hak Kebutuhan Perasaan/Keinginan Masyarakat Proses Penyakit Tim Perawatan PASIEN Masalah Hukum/Kebijakan Instansi Keinginan Keluarga

Alokasi Sumber Informasi

Setelah menilai respon pasien terhadap penyakit dan kemampuan pengambilan keputusan, ada sejumlah factor lain yang perlu dipertimbangkan dalam Tahap Penilaian model. Ini termasuk kebutuhan pasien, proses penyakit, hak pasien, perasaan/keinginan pasien, keinginan keluarga, tujuan dari tim perawatan, dan pengaruh sosial. Kebutuhan Pasien. Apakah kebutuhan fisiologis terpenuhi, meskipun pasien memiliki penyakit terminal? Jalan napas harus jelas dijaga, umumnya makanan / cairan yang diberikan dan ia harus menerima obat nyeri dan perawatan dasar (tindakan kenyamanan dan kebersihan). Apakah ICU "dump" (yaitu, memindahkan) pasien dari unit segera setelah ia "Tanpa Tanda" atau "DNR"? Proses Penyakit. Proses penyakit mana yang mempengaruhi pasien? Apakah proses penyakit reversibel, terminal? Atau, apakah ditumpangkan pada proses, kronis ireversibel? Misalnya, apakah pasien memiliki multiple sclerosis dan pneumonia? Pengobatan Team. Tujuan dari tim perawatan perlu diartikulasikan. Apakah mereka cocok dengan gambaran keseluruhan? Sikap para anggota, komposisi tim dan spesialisasi tertentu yang terlibat pada semua pengaruh proses pengambilan keputusan. Hak Pasien. Hak-hak ini berkisar pada otonomi prinsip etika. Pasien harus berkonsultasi dan berpartisipasi dalam keputusan yang mempengaruhi perawatan mereka. Jika tidak kompeten, apakah keluarga terdekat atau wali memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan? Pasien juga memiliki hak untuk privasi, kompeten, dan diberitahukan mengenai prosedur khusus dan berbagai aspek terapi. RUU Hak Pasien diterbitkan oleh American Hospital Association menguraikan apa yang pasien dapat harapkan, dan termasuk hak untuk perawatan , pemberitahuan, penolakan perawatan, privasi, kerahasiaan, dan komponen lain perawatan. Perasaan dan keinginan pasien harus dipertimbangkan dan diikuti. Misalnya, jika pasien ingin memiliki kehendak hidup atau dianggap DNR (jika ia putus asa sakit), keinginan ini harus dihormati. Harapan Keluarga. Fokus utama dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi promosi pasien yang lebih besar dan partisipasi keluarga dalam pengambilan keputusan. Dalam kasus Karen Quinlan keluarga memutuskan dengan nasihat dan persetujuan dari individu medis bertanggung jawab untuk memutuskan Karen dari 6

respirator. Setelah Tahap Penilaian, kita beralih ke langkah kedua dari model, Advokasi.

B. Advokasi Advokasi didasarkan pada nilai-nilai martabat manusia, dan karenanya, otonomi. Ini berarti hak untuk privasi dan hak untuk menentukan nasib sendiri merupakan kepentingan terbaik seseorang. Pasien atau keluarga harus dilindungi dari informasi yang tidak memadai, satu sudut pandang, tergesa(atau delay), pemaksaan, kurangnya dukungan, intruksi yang tidak dibenarkan. Dan perawat belajar untuk dapat menjadi pelindung pasien yang berkemampuan, suatu saat mereka menyadari bahwa advokasi merupakan komponen yang penting dalam praktek keperawatan saat ini. Advokasi dapat dilihat dari beberapa cara, tetapi yang utama adalah model pengambilan keputusan perawat berdasarkan menolong nilai. pasiennya Cara padang advokasi ini

menggambarkan

dengan

berdiskusi

terkait

kebutuhannya dan membantu mereka membuat pihan yang sesuai dengan nilai yang dianutnya. Khonke memandang advokasi sebenarnya merupakan seseorang yang memberikan informasi kepada pasien dan mendukung pasiennya dalam membuat keputusan.Perawat diharapkan untuk melindungi pasiennya dari pembatasan kebebasan demikian juga membiarkan mereka untuk mengambil keputusan. Kode etik ANA mengharuskan perawat untuk melindungi klien dari: ketidakcakapan, ketidakpantasan dan atau opraktek ilegal. Peran perawat sebagai advokasi bagaimanapun bukan tanpa konflik atau kontroversi. Winslow menggambarkan 5 masalah dalam peran perawat advokasi, yaitu: a. Advokasi yang memerlukan klarifikasi b. Negara yang berpraktek undang-undang butuh direvisi c. Pasien sering tidak dipersiapkan untuk menerima perawat sebagai advokasi d. Advokasi itu sendiri seringkali dihubungkan dengan kontroversi e. Sebagai advokasi, perawat dibatasi pada satu waktu oleh perlawanan dan kesetiaan. Walaupun demikian dalam prakteknya, peran perawat advokasi terlihat sangat kuat.

Walaupun melindungi adalah komponen penting dari model wlody sebagai metode penyelesaian masalah etik, perawat butuh mengidentifikasi,

mempertimbangkan, dan menggunakan semua prinsip etik pada beberpa masalah tertentu. Sebagai contoh, konflik mungkin menggambarkan autonomy vs paternalism yang mengklaim mengutamakan manfaat daripada autonomi. Pada pendekatan patrenalisme seorang pekerja kesehatan membuat keputusan terhadap pasien dan berkata semua menurut kesenangan pasien. Tipe konflik ini adalah autonomy vs patrenalisme sering terjadi di area pembuat keputusan.

C. Action Perawat mengkaji masalah utama dan kemudian menentukan strategi. Stategi dan kegiatan terjadi pada konteks multidisiplin.Perawat mempertimbangkan siapa yang harus memulai aksinya, siapa yang dapat berkontribusi atas hak kekuasaan, siapa yang terlibat, dan siapa yang mampu rentan terhadap aksi. Sebagai contoh, dalam melindungi hak pasien, perawat harus merubah sebuah kebijakan. Pasien harus mampu merubah perilaku keluarga atau merubah perilaku stak keperawatan lain. Perawat administrasi mempunyai kewajiban yang spesial dikarenakan peran mereka dalam organisasi kesehatan.Perawat administrasi harus lebih terlibat dalam isu etika, lebih mementingkan hak pasien, dan terlibat dalam mengembangkan kebijakan yang berhubungan dengan masalah etik. Tindakan lain adalah mengubah lingkungan, yang terdiri dari perubahan fisik yang aktual atau mungkin mengubah lingkungan pasien menjadi yang lebih baik.

BAB III TINJAUAN KASUS Kasus I Kemajuan teknologi dalam ventilasi buatan yang hasilnya memperpanjang kehidupan ketika tidak ada harapan untuk disembuhkan. Ini nyata pada kasus Karen Quinlan tahun 1976, yang mana orang tuanya berjuang mempunyai ventilasi buatan yang dibuang karena tidak ada harapan untuk penyembuhan dari komanya. Dokter dan petugas rumah sakit tidak akan mengizinkan pembuangan bantuan hidup pada saat itu, sehingga kasus ini di bawa ke pengadilan oleh orang tua Karen. Pengadilan memutuskan dalam hal kebaikan keluarga dan ventilator dihapuskan. Kasus Karen Quinlan menggambarkan konflik etik otonomi pasien versus paternalism. Paternalism didefinisikan sebagai interferensi dengan otonomi seseorang yang dibenarkan dengan alas an kesejahteraan, kebaikan, kebahagian, kebutuhan, ketertarikan atau nilai-nilai seseorang. Pada kasus ini Quinlan bertindak pada kepentingan Karen dalam mencoba utnuk meutuskan terapi yang tidak beneficial (tidak menguntungkan). Perawatan ventilator terpaksa pada pasien oleh dokter/ rumah sakit.gambaran konflik yang paling dalam dari staf keperawatan antara tugas mereka ke pasien dan tugas mereka ke dokter dan administrasi rumah sakit. Kasus Karen Quinland dibuat lebih komplek karena ketidak mampuannya dalam mengambil keputusan terhadap masalah tersebut.pertanyaan yan gseharusny amembuat keputusan pelayanan kesehatan bagi siapa saja yang tidak bisa

membuatnya atau yang tidak berkompeten dalam menangani hal tersebut, dan akhirnya diputuskan oleh pengadilan. Keputusan Barber bahwa yang dapat dengan susai memutuskan keputusan bagi pasien yang tidak berkompeten.seperti kasus dokter yang harus mengidentifikasi sebuah pengganti yan gsesuai untuk membuat sebuah pertimbangan yang disubtitusi pada kepentingan pasien.

Kasus II Dalam menghadapi dilema etik perawat caring for critically ill.

Bagaimanapun dilema etik seringkali berpusat pada empat konflik etik yang utama yaitu: autonimi vs paternalisme, deontology vs teleology, justice vs utulitarisme, dan 9

veracity vs fidelity. Sebuah model digunakan ketika sebuah kasus dipaparkan dan teridentifikasinya konflik etik.

Permintaan pasien untuk tidak melanjutkan pengobatan Seorang wanita berusia 75 tahun, Ny. Farley menjadi pasien di ruangan ICU sejak beberapa waktu yang lalu.Dia telah menjalani multiple operasi untuk kanker hati, dan beberapa kali dia datang sesuai prosedur tanpa komplikasi.Dokter bedah telah memperpanjang hidupnya mengenai penyakitnya. Ibu Farley adalah seorang perawat pensiun dan selalu memiliki sikap positif terhadap penyakitnya. Prosedur paliatif yang lebih baru tidak berjalan dengan baik di samping infeksi luka parah pasca operasi, ia berkelanjutan suatu pneumotoraks, iatrogenik. Sekarang bahwa komplikasi ini menyelesaikan tim medis berencana untuk memulai sebuah resimen chemoterapy. Anda mengubah rias pasien sebagai dokter residen memulai diskusi dengan Miss Farley. Informasi diberikan kepada pasien menggambarkan diagnosis nya, perjalanan kemoterapi, prognosis, risiko, manfaat, dll dia mendengarkan, mengajukan pertanyaan penting namun dangkal dan tampaknya untuk menerima apa yang dokter telah memberitahu padanya. Selama beberapa jam berikutnya Ibu Farley menjadi semakin menarik diri dan menangis. Ia memberitahu Anda bahwa dia telah berubah pikiran dan bahwa dia tidak menginginkan operasi lebih lanjut, tidak ada kemoterapi, tidak ada antibiotic ,tidak TPN, tidak ada makanan, dan resusitasi tidak ada. Dia menyatakan bahwa ia telah "menjalani hidupyang indah dan bahagia". Dia mengakhiri percakapan dengan mengatakan "Kau seperti seorang perawat yang baik, aku tahu kau akan mengerti dan memberitahu dokter untuk saya". Ibu Farley tampaknya memohon perawat, mengatakan "Saya tahu bahwa Anda akan membantu saya". Anda mendiskusikan kasus ini dengan residen kepala yang merasa bahwa Miss Farley harus menerima terapi penuh, termasuk kemoterapi, TPN, antibiotic dan langkah-langkah yang luar biasa diperlukan. Anda, perawat, tidak setuju dengan pendekatannya"semua". Apa langkah selanjutnya Anda?

10

Tabel 2. Dilema Perawatan Pasien Dilema Perawatan Pasien Pemotongan pengobatan (yakni antibiotik) Kode vs tidak ada Kode Jenis Kasus Quadri plegia dengan masalah medis lainnya Jantung dengan PPOK berat, kebutuhan ventilator seumur hidup Pasien transplantasi DDD alat pacu jantung vs VVI Penarikan makanan dan cairan makan vs tabung Yang mendapatkan tempat tidur? DNR pasien? Ventrikel kiri Membantu perangkat pasien dijadwalkan untuk bilateral di atas lutut amputasi vs kematian

"Hak" untuk mati di rumah Teknologi vs biaya Gizi dilema

Alokasi sumber daya

Teknologi vs kualitas Keputusan hidup informi vs persetujuan

PPOK Penyakit paru obstruktif kronis Alat pacu jantung DDD mengacu o mondar-mandir chamberes ganda. DDD biasanya memiliki kemampuan mondar-mandir sekuensial AV dan lebih mahal daripada alat pacu jantung satu-bilik. Alat pacu jantung VVI mampu adalah hanya mondar-mandir ventrikel

Analisis Kasus Tahap penilaian pertama terjadi dalam model ini. Apa fakta-fakta medis /bedah kasus, diagnosis, prognosis, dan rencana tim pengobatan? Bagaimana pasien menanggapi penyakit yang dideritanya? Memiliki pneumo toraks baru-baru ini sementara menyebabkan depresi sementara? Apa ibu Farley benar-benar ingin? diskusi dengan pasien dapat memperoleh informasi lebih lanjut tentang apa jenis dukungan keluarga? Yang mereka kunjungi sering atau hidup 3000 mil jauhnya? atau mereka terasing dan tidak ada kontak? apakah ada orang lain yang signifikan? dia tinggal sendirian? Adakah masalah keuangan? Perawat perawatan kritis

11

mengumpulkan informasi, konsultasi dengan, lain dokter pasien anda selama fase penilaian dari model. Advokasi adalah fase kedua dari model. Apa yang bisa dilakukan perawat untuk bertindak dalam nama pasien? Apa prinsip-prinsip etis atau konflik disini? Mengapa perawat yang bersangkutan? adalah rasa sakit dan penderitaan pasien bertahan?konflik tampaknya menjadi salah satu otonomi (hak pasien untuk menentukan masa depannya, untuk membuat keputusan pengobatan, dan pada sisi jika manfaat dari terapi out weight beban) versus paternalisme. Dalam tampilan paternalistic keputusan dibuat untuk pasien tanpa pertimbangan otonomi mereka. Otonomi mengacu pada hak-hak pasien untuk menentukan nasib sendiri dan kebebasan memilih. Otonomi menegaskan bahwa manusia memiliki nilai yang berharga, rasa hormat survei, dan memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri. Jika seorang pasienyang kompeten membuat pernyataan yang jelas tentang keinginannya, maka keinginan mereka harus dihormati. paternalisme, di sisi lain mengklaim bahwa kebaikan (berbuat baik bagi orang lain) harus didahulukan menawarkan autonomi. Misalnya, dalam pendekatan paternalistik, seorang pekerja perawatan kesehatan membuat keputusan untuk pasien, mengatakan "itu kepentingan tempat tidur mereka, jenis terapi ini, Anda sebaiknya bicara dengan dia!" perawat dimulai dengan mendokumentasikan perasaan pasien dalam catatan, menggunakan kutipan langsung. Perawat perawatan kritis menggunakan informasi yang diperoleh diwajah pertama untuk merencanakan kegiatan strategis, misalnya, rencana konferensi keluarga atau tim yang melibatkan semua disciplines atau tindakan kita yang sederhana mungkin kita meminta pengambil keputusan pada tim medis/bedah untuk berbicara dengan pasien tentang rencana pengobatan dan pilihan. Perawat membantu memperjelas masalah dan membantu pasien dalam mengekspresikan diri mereka.

12

BAB IV KESIMPULAN

Model keperawatan untuk mengatasi masalah etika telah diusulkan untuk membantu perawat perawatan kritis dalam memenuhi tantangan peran ini berkembang. model dalam penggunaan prinsip-prinsip etika korporasi, adalah readely addapted untuk proses keperawatan, dan consits konsep dan kegiatan assistment, advocaty dan tindakan. perawat perawatan kritis, sebagai link peduli kepada pasien dalam lingkungan yang sangat Technologic, berada dalam posisi unik untuk memberikan iklim dimana hak-hak pasien dilindungi dan isu-isu etis ditangani.

13

DAFTAR PUSTAKA

Wlody, GS, Smith S. Ethical dillemas in critical care: A proposal for hospital ethics advisory committes. Focus on Critical Care 1985: 12: 41-46

Barber v Superior Court 147 Cal. App 3d 1006 (cal 1983)

Kohnke ME. The nurse as Advocate. American Journal of nursing 1980; 2038 - 2040

14