Anda di halaman 1dari 2

Administrator membuat pilihan yang sulit pada pasien dengan status ekonomi rendah.

Keputusan perawatan yang berbelit-belit bagi penyakit yang tidak ada harapan kesembuhan, transplantasi, informed consent, merampas atau menyembunyikan dukungan sistem kehidupan, dan timbul hak pasien untuk menolak pengobatan dan wajib dihargai, didiskusikan, dan dilakukan tindakan.

Aplikasi Teknologi Teknologi adalah suatu komponen integral dalam critical care environtmen saat ini, dan teknologi berperan dalam kebanyakan dilemma etik terkait hak pasien. Pendekatan paternalistic dalam merawat pasien lebih banyak mendukung penggunaan teknologi dan dapat terjadi konflik dengan kebebasan/ autonomi pasien. Sebagai contoh, teknologi tentang alat bantu pernafasan (ventilasi) buatan / ventilator membuat pasien hidup lebih lama ketika sudah tidak ada lagi harapan untuk sembuh. Kasus ini terjadi pada Karen Quinlan pada tahun 1976, orang tuanya menggunakan ventilator dan kemudian dilepas karena tidak ada harapan kesembuhan dari coma nya. Pihak rumah sakit tidak harus meminta izin untuk melepaskan alat bantu kehidupan pasien pada waktu itu, jadi dalam kasus tersebut telah diambil hak dari orang tua Karen. Telah diputuskan oleh keluarga dengan lapang dada dan ventilator tersebut segera dilepas. Kasus Karen Quinlan menggambarkan konflik etik antara otonomi pasien vs paternalism. Paternalism dedefinisikan sebagai campur tangan terhadap autonomi seseorang dengan alasan semata-mata untuk keselamatan, kebaikan, kebahagiaan, kebutuhan, nilai-nilai dari seseorang dalam kondisi terdesak atau terpaksa dilakukan suatu tindakan. Pada kasus ini, Quinlan telah mencoba tidak melanjutkan terapi yang tidak ada gunanya lagi. Tindakan ventilator terpaksa dilakukan kepada pasien oleh pihak rumah sakit. Tergambar konflik internal dari staf perawat, menujukkan kewajiban perawat terhadap pasien, physician dan adminstrasi rumah sakit. Kasus Karen Quinlan tampak lebih kompleks karena ketidakmampuan mereka membuat keputusan sendiri. Pertanyaannya adalah siapa yang seharusnya membuat keputusan pelayanan kesehatan untuk kasus orang-orang yang tidak mampu ini, atau dalam kasus ini siapa yang

dikatakan tidak kompeten yang sekarang telah diputuskan oleh komisi etik. Pada beberapa kasus, physician harus menjadi wakil untuk membuat keputusan demi keselamatan pasien.

Menyumbangkan Organ, Usaha Mendapatkannya, dan Transplantasi Menyumbangkan organ, usaha mendapatkannya, dan transplantasi adalah area lain dalam dilema etik. Konsep dan definisi dari hidup dan mati telah mengalami perubahan pada zaman teknologi mutakhir. Sebagai contoh, setelah pasien dinyatakan mati otak, tubuhnya akan dipertahankan tetap hidup sampai didapatkan pendonor organ. Perawat mengalami konflik perasaan terhadap donor organ dengan memberikan dukungan dan kenyamanan pada keluarga mereka.

Critical care Nurse: Pusat untuk mengidentifikasi konflik etik. Critical care Nurse menangani beberapa dari pasien yang rentan di rumah sakit. Kerentanan ini menimbulkan hubungan yang unik antara perawat dan pasien. Dan hal ini adalah hubungan yang implisit yang menunjukkan dilema etik pada perawat. Haddad mengemukakan bahwa dilemma etik melibatkan konflik antara hak dan kewajiban dan membutuhkan pilihan antara dua atau lebih alternative. Pertanggungjawaban utama perawat adalah untuk menjamin keselamatan, perawatan yang berkualitas pada pasien. Ketika terjadi konflik pertanggungjawaban ini dengan pertanggungjawaban yang lain perawat harus memilih yang mana kewajiban yang harus dihormati. Konflik-konflik ini terjadi sebagai konflik internal, sebagai critical care nurse yang memiliki hati nurani, perawat harus menemui berbagai macam kebutuhan (antara lain: pasien, keluarga, dan physician, semua kepercayaan dan praktik etik yang mungkin berbeda), tetapi juga mengikuti peraturan intitusional. Kemungkinan ini melibatkan konflik kewajiban vs veracity.