Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Perbatasan merupakan kawasan batas atau daerah jalur pemisah antara unit unit politik (Negara), daerah dekat batas. Negara yang mengalami perbatasan selalu berkutat dengan masalah kemiskinan dan keterbelakangan, misalnya antara Negara Indonesia dengan Malaysia ,di Tanjung Datu yang secara tidak langsung terkait sengketa tumpang tindih. Pada daerah perbatasan ada beberapa kendala yang ditemui, misalnya kurangnya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Sehingga masyarakat disana merasa kurang diperhatikan oleh pemerintah, kemudian akan menimbulkan dampak yang membuat masyarakat yang ada di perbatasan lebih memilih untuk melakukan transaksi apapun di Negara tetangga. Dan akhirnya Negara tetangga akan mengakui bahwa mereka adalah warganya sehingga akan menimbulkan konflik antarnegara. Pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan warga masyarakat terutama yang ada di perbatasan. Selain itu, sebaiknya pemerintah mengadakan programprogram yang dapat mensejahterakan masyarakat terutama yang ada di perbatasan, misalnya melalui program pendidikan nonformal yang telah banyak menebar dana untuk memperdayakan masyarakat di perdesaan, seperti program kursus kewirausahaan desa, pendidikan hidup, desa vokasi, keaksaraan fungsional dan sejenisnya yang terkait langsung dengan upaya peningkatan kesejahteraan melalui usaha ekonomi produktif. Selain itu, masyarakat perbatasan juga memerlukan perhatian lebih dari pemerintah, terutama dibidang kesehatan. Karena pelayanan kesehatan sangat sedikit. di daerah perbatasan untuk sekarang ini masih

1.2 RUMUSAN MASALAH Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan hal-hal sebagai berikut 1. Bagaimana jenis jenis pelayanan di Indonesia ? 2. Apa saja permasalahan kesehatan di perbatasan ? 3. Bagaimana solusi mengatasi permasalahan pelayanan kesehatan di daerah perbatasan ? 4. Bagaimana peran mahasiswa, sebagai generasi muda, terhadap permasalahan kesehatan diperbatasan dalam usaha membela Negara ?

1.3 TUJUAN Tujuan pembuatan makalah ini adalah 1. Mahasiswa dapat mengetahui permasalahan kesehatan di daerah perbatasan. 2. Mahasiswa dapat memberikan solusi dari permasalahan tersebut. 3. Menumbuhkan semangat mahasiswa untuk menolong sesama dalam usaha bela Negara.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 PELAYANAN KESEHATAN Di Indonesia banyak pelayanan-pelayanan kesehatan yang telah diberikan oleh pemerintah. Pelayanan tersebut ditujukan kepada masyarakat Indonesia, terutama penduduk miskin. Begitu juga kepada penduduk didaerah perbatasan Negara yang masih dalam kawasan Indonesia. 2.1.1. ASKES Asuransi kesehatan merupakan cara mengatasi resiko dan ketidakpastian peristiwa sakit serta implikasi biaya-biaya yang

diakibatkannya. Asuransi kesehatan mengubah peristiwa tak pasti dan sulit diramalkan menjadi peristiwa yang pasti dan terencana. Asuransi membantu mengurangi resiko perorangan ke resiko sekolompok orang dengan cara perangkuman resiko (risk polling). Untuk merubah peristiwa yang tidak dapat diprediksi, anggota membayar sejumlah uang yang relative kecil namun teratur (disebut premi) kepada lembaga asuransi. 2.1.2. JAMKESMAS Jamkesmas adalah program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Program ini diselenggarakan secara nasional agar terjadi subsidi silang dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin. Pada hakekatnya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat

miskin menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan bersama oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pemerintah

Propinsi/Kabupaten/Kota berkewajiban memberikan kontribusi sehingga menghasilkan pelayanan yang optimal. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat miskin mengacu pada prinsip-prinsip:

1. Dana amanat dan nirlaba dengan pemanfaatan untuk semata-mata peningkatan derajat kesehatan masyarakat miskin. 2. Menyeluruh (komprehensif) sesuai dengan standar pelayanan medik yang cost effective dan rasional. 3. Pelayanan Terstruktur, berjenjang dengan Portabilitas dan ekuitas. 4. Transparan dan akuntabel. Tujuan dari Jamkesmas dibagi menjadi dua, yaitu : a. Tujuan umum yaitu

Terselenggaranya akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.

Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan sehinga tercapai derajat

Kesehatan yang optimal secara efektif dan efisien bagi seluruh peserta Jamkesmas

b. Tujuan khususnya yaitu

Memberikan kemudahan dan askes pelayanan kesehatan kepada peserta di seluruh jaringan PPK Jamkesmas

Mendorong peningkatan pelayanan kesehatan yang terstandar bagi peserta, tidak berlebihan sehingga terkendali mutu dan biayanya

Terselenggaranya akuntabel

pengelolaan

keuangan

yang

transparan

dan

Meningkatkan cakupan masyarakat dan tidak mampu yang mendapat pelayanan kesehatan di puskesmas serta jaringannya dan di Rumah Sakit,

Serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.

Sasaran program Jamkesmas ini adalah masyarakat miskin tidak mampu diseluruh Indonesia, termasuk daerah perbatasan, dan yang tidak termasuk sudah mempunyai jaminan kesehatan lainnya, masyarakat miskin dan tidak mampu yang ditetapkan oleh bupati/walikota sesuai kuota, gelandangan, pengemis, anak terlantar, peserta program keluarga harapan (PKH), masyarakat miskin penghuni lapas, panti sosial, rutan dan korban bencana alam pasca bencana . 2.2. PERMASALAHAN KESEHATAN DI PERBATASAN Pelayanan kesehatan yang telah diberikan pemerintah di daerah perbatasan dapat dikatakan kurang memadai. Terlebih lagi, penduduk di daerahdaerah ini juga merupakan masyarakat miskin yang tidak mempunyai ekonomi yang cukup. Masalah utama dalam pelayanan kesehatan di daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan antara lain kondisi geografis yang sulit dengan iklim yang sering berubah, status kesehatan masyarakat yang rendah, beban ganda penyakit, keterbatasan sumber daya manusia serta kurang tersedianya sarana dan prasarana pendukung. Seperti yang terjadi pada perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia yaitu Entikong, sebuah kecamatan di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Indonesia. Entikong memiliki jalur perbatasan darat dengan negara Malaysia, khususnya Serawak, sehingga jalur darat sering disebut jalur sutera, karena bisa dilewati langsung oleh bus baik dari Indonesia maupun dari Malaysia, tanpa harus menyebari sungai maupun laut. Tak heran jika jalur itu dipakai TKI yang berasal dari Jawa dan Sumatera, untuk masuk ke Malaysia. Luas Entikong 506,89 km2, dengan jumlah penduduk 13.346 jiwa, terdiri dari Suku Dayak, Melayu, Jawa, Batak, Padang, dan lain-lain. Mayoritas mereka memeluk agama Kristen Katolik, Kristen Protestan, Islam dan Konghuchu. Kondisi masyarakat di desa-desa dalam wilayah kecamatan Entikong sangat memprihatinkan. Selain sarana transportasi yang sulit, masalah kesehatan dan pendidikan, menjadi titik rawan yang mendesak untuk segera diatasi. Di dusun Palapasang, misalnya, kondisi sanitasi sangat buruk, ditambah tidak adanya

pelayanan kesehatan, akan menjadi faktor pemicu munculnya wabah penyakit, seperti muntaber (pernah terjadi pada tahun 1980, yang membunuh separuh penghuni desa), dan penyakit kulit akut. Kondisi di desa-desa lain, hampir sama buruknya. Di desa Palapasang, pernah berdiri semacam pusat kesehatan masyarakat, namun kemudian ditinggalkan oleh tenaga medis, bahkan bidan pun tidak bersedia mengisi pos kesehatan tersebut. Kondisi itu tentunya tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Pusat kesehatan masyarakat harus kembali dihidupkan, bahkan direhabilitasi secara menyeluruh. Medan yang sulit, dan sarana transportasi yang terbatas, serta jarak tempuh yang jauh, memang tidak mudah menarik investor untuk membangun semua sarana kesehatan tersebut. Bahkan, sangat sulit untuk membujuk tenaga medis agar bersedia bekerja secara tetap di desa terpencil itu. Di sinilah peran kerja sama pemerintah dan LSM/NPO sangat dibutuhkan. Masyarakat di dusun-dusun Kecamatan Entikong, mayoritas adalah petani, berladang, dan buruh perkebunan. Kondisi ekonomi mereka sangat lemah, dan diperparah dengan sarana jalan yang nyaris tak layak. Sebagian hanya bisa ditempuh lewat jalur air, dan sebagian lagi jalan kaki. Mereka sangat terisolir. Kondisi inilah yang memicu lemahnya pembangunan kesehatan masyarakat oleh pemerintah Republik Indonesia. 2.3. HUBUNGAN PELAYANAN KESEHATAN DENGAN USAHA BELA NEGARA Kesadaran bela negara hakikatnya adalah kesediaan berbakti pada negara dan kesediaan berkorban membela negara. Spektrum bela negara itu sangat luas, bentuk sikap batin yang bersifat abstrak dalam melindungi dan mempertahankan karena kecintaan kepada Negara dan Bangsa, juga berupa kegiatan-kegiatan berproduksi dalam meraih kesejahteraan bangsa agar mencapai Ketahanan Nasional yang tinggi, sampai pada bentuk mengangkat senjata dalam melindungi Kedaulatan Bangsa dan Negara. Oleh karena itu, Bela Negara tidaklah harus dalam bentuk Memanggul senjata saja , akan tetapi juga akan berupa kegiatan-kegiatan produktif di dalam semua profesi dan sektor kehidupan bangsa.

Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata. Namun peran warga negara dalam pembelaan negara memiliki tingkat kewajiban yang berbeda sesuai dengan kedudukan dan tugasnya masing-masing. Persoalan kita sekarang adalah bagaimana wujud penyelenggaraan keikutsertaan warga negara dalam usaha pembelaan negara? Menurut Pasal 9 Ayat (2) UU RI Nomor 3/2002 Tentang Pertahanan Negara, keikutsertaan warga negara dalam usaha pembelaan negara diselenggarakan melalui: a. Pendidikan Kewarganegaraan b. Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib c. Pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia secara suka rela atau secara wajib d. Pengabdian sesuai dengan profesi. Hubungan yang jelas terlihat terkait dengan masalah yang di sebutkan sebelumnya, yakni pembangunan pelayanan kesehatan yang memadai merupakan salah satu bentuk upaya bela negara. Upaya ini berupa pengabdian sesuai dengan profesi sebagai calon sarjana kesehatan masyarakat. Salah satu celah yang harus segera ditangani sebagai wujud bela negara tidak hanya persoalan korupsi, harga barang yang meroket, atau terorisme saja. Keterbatasan dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap daerah tertinggal menjadi suatu hal yang mengancam tegaknya NKRI dan eksistensi negara. Sementara itu, sudah menjadi kewajiban warga negara Indonesia untuk berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara, baik melalui pendidikan, moral, sosial maupun peningkatan kesejahteraan orang-orang yang menyusun bangsa tersebut. Seperti halnya ancaman, maka segala akibat yang timbul akibat kurangnya perhatian terhadap daerah perbatasan merupakan panggilan wajib yang harus dipenuhi oleh setiap warga negaranya. Terutama segenap warga negara yang memiliki peranan penting untuk menunaikan kewajiban dalam pembelaan negara sesuai kedudukan dan profesinya masing-masing. Unsur utamanya adalah

lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan sesuai bentuk dan sifat ancaman yang dihadapi dengan didukung oleh unsur-unsur lain dari kekuatan bangsa. Rakyat sebagai salah satu unsur mutlak suatu negara, memiliki peranan yang sangat penting dalam melaksanakan pembangunan berbagai aspek kehidupan. Untuk itu setiap warga negara memiliki jaminan hukum untuk melaksanakan hak dan kewajibannya yang diberikan negara. 2.4. SOLUSI PERMASALAHAN KESEHATAN DI PERBATASAN Semakin banyaknya penduduk didaerah perbatasan negara yang minim akan pelayanan kesehatan menyebabkan banyak penderita penyakit menular yang sangat membahayakan, baik untuk diri sendiri atau lingkungan disekitarnya. Banyak hal yang harus dilakukan agar pelayanan kesehatan di darah perbatasan Negara dapat berjalan dengan baik. Dimulai dari kesadaran pribadi hingga kebijakan pemerintah yang tidak memberatkan penduduknya. Pembangunan kesehatan masyarakat mutlak menjadi prioritas utama, sebelum melangkah pada pembangungan pendidikan, dan pembangunan ekonomi. Pembangunan kesehatan masyarakat dimulai dari membangun kesadaran masyarakat untuk hidup sehat. Untuk itu dibutuhkan tenaga-tenaga penyuluh kesehatan yang memiliki kemampuan pendekatan masyarakat dengan baik. Karena menyadarkan masyarakat untuk hidup sehat, setelah bertahun-tahun menggantungkan kesehatannya pada pengobatan tradisional, tidak mudah. Ditambah dengan memberikan penyuluhan tentang sanitasi, jika sarana sanitasinya ternyata belum memadai. Langkah selanjutnya adalah memperbaiki sarana sanitasi. Tidak hanya membangun sarana air bersih, serta WC Umum, tetapi juga merombak jamban rumah yang tak sehat, dan membangun kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan. Untuk itu, perlu dibangun tempat penampungan sampah sementara, dan selanjutnya adalah alat pengolahan sampah untuk dijadikan pupuk. Program pemberdayaan sampah menjadi pupuk akan menjadi salah satu solusi sulitnya memperoleh pupuk di dusun-dusun perbatasan.

Pembangunan kesehatan masyarakat ini, tentu membutuhkan waktu untuk mencapai target masyarakat sadar sehat, tanpa harus membebani mereka dengan aturan-aturan baku tentang kesehatan. Selain penyuluhan dan membangun kesadaran hidup sehat, langkahlangkah pemeriksaan kesehatan dan pengobatan juga menjadi bagian penting pada fase pembangunan kesehatan masyarakat ini. Sebab, pada langkah ini kepercayaan masyarakat pada tenaga medis yang sempat hilang, akan terbangun kembali. Implementasinya memang perlu kerja keras. Pemeriksaan kesehatan dan pengobatan keliling sangat menyita tenaga dan waktu, karena sarana dan prasarana yang tidak memadai. Namun, metode ini cukup efektif karena kesempatan berkomunikasi ini dapat dijadikan sarana penyuluhan, terutama menyangkut kesehatan balita. Dari makanan murah dan bergizi, pentingnya menjaga kesehatan gigi anak-anak, manfaat imunisasi bagi bayi, hingga kebersihan rumah. Sebagai upaya antisipasi dari meningkatnya masalah kesehatan dan penyakit, pemerintah perlu meningkatan kemampuan fasilitas kesehatan. Untuk itu, dukungan pemerintah pusat sangat diharapkan. Dengan upaya percepatan pembangunan sektor kesehatan di DTPK (daerah tertinggal perbatasan dan kepulauan), kemudian dilanjutkan dengan aksi peningkatan aksesibilitas dan kualitas pelayanan kesehatan dengan biaya dari alokasi APBD, APBN, hingga bantuan luar negeri. Dengan meningkatkan infrastruktur kesehatan seperti pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana kesehatan, pengadaan dan penempatan tenaga kesehatan terlatih, serta peningkatan pemberdayaan masyarakat, diharap membantu memperbaiki kondisi buruk tersebut Keterpaduan program yang sinergis antara program-program kesehatan dan dukungan lintas sektor termasuk pemerintah daerah perlu dikomunikasikan dan dikoordinasikan. Dinas kesehatan bersama LSM, saling membantu dalam penyediakan alat-alat ataupun obat-obatan yang diperlukan. Jika perlu TNI dan Polri membantu dalam pendistribusian obat-obatan pada keadaan darurat. Sehingga adanya kerjasama antara pemerintah dengan unsur-unsur keamanan
9

Republik Indonesia dalam menjalankan aktivitas didaerah perbatasan. Karena mereka yang harus bertanggung jawab atas keamanan dan kedaulatan masyarakat, terlebih di daerah perbatasan Negara. Dengan adanya pembangunan pusat kesehatan masyarakat sebagai pelayanan kesehatan terpadu, dari klinik gigi, mata, kebidanan, dan pelayanan kesehatan umum, menjadi titik utama perhatian. Ditunjang dengan adanya Pos Pelayanan Kesehatan Terpadu (Posyandu Plus) yang hadir di kampung-kampung setiap sebulan sekali, dan dilakukan secara berjadwal. Posyandu ini tidak hanya melayani pemeriksaan kesehatan, imunisasi, dan gizi anak-anak Balita serta ibu hamil saja, tetapi juga pelayanan kesehatan masyarakat umum, seperti pemeriksaan gigi, pengobatan penyakit ringan (influenza, gangguan pernapasan ringan, dan lain-lain). Untuk melaksanakan pelayanan kesehatan terpadu ini, tentu dibutuhkan tenaga-tenaga medis dan bantuan dokter yang memadai. Namun, karena medan di dusun-dusun perbatasan yang sulit dan jauh, sangat sulit mengharapkan efekifnya kerja para tim medis didaerah ini. Oleh karena itu, bagi para tenaga medis yang mau bekerja di perbatasan, diharapkan mendapatkan insentif yang menarik dari pihak pemerintah. Dari jaminan ijin praktek di kota terdekat bagi dokter, insentif pendapatan tambahan, serta jaminan karir yang menjanjikan bagi tenaga para medisnya. 2.5 PERAN GENERASI MUDA DALAM MENGATASI PERMASALAHAN Banyak organisasi kepemudaan yang turut berpartisipasi dan ikut serta dalam kegiatan yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Peran pemuda sangat strategis karena mayoritas penduduk Indonesia adalah kaum muda. Selain sebagai generasi penerus bangsa, kaum muda yang memiliki usia produktif memiliki semangat yang besar untuk melakukan perbaikan negaranya, terutama masalah kesehatan. Untuk menjadi sehat tidak cukup dilakukan lewat menjaga kesehatan diri sendiri saja, melainkan melibatkan berbagai pihak.

10

Dengan visi Masyarakat yang Mandiri untuk Hidup Sehat, diharapkan adanya kepedulian pemuda dalam mengatasi permasalahn kesehatan, terutama daerah perbatasan yang sangat rawan akan kenasionalismeannya. Sesuai dengan UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Dalam pasal 9 disebutkan bahwa pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat yang optimal. Oleh karena itu, masyarakat secara luas, termasuk kaum muda, tidak hanya sebagai objek melainkan subjek pembangunan kesehatan, terutama di daerah perbatasan tersebut. Sebagai pemuda generasi penerus bangsa berusaha untuk mengatasi permasalah pelayanan kesehatan didaerah perbatasan yang dimulai dengan mengetahui berbagai masalahnya. Dan diharapkan setiap elemen masyarakat, terutama kalangan pelajar dan mahasiswa, dapat mengatasinya. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan hal-hal yang berguna bagi penduduk didaerah tersebut. Kita dapat membantu pemerintah dan elemen terkait dalam meningkatkan pelayanan kesehatannya dengan melakukan penyuluhan langsung akan pentingnya kesehatan kepada penduduk setempat. Selain itu, para pemuda, sebagai tim relawan, dapat membantu tim medis dalam menjalankan pelayanan kesehatan yang memadai.

11

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Pelayanan kesehatan masyarakat di daerah perbatasan Negara masih belum cukup memadai, meskipun nyatanya pemerintah telah memberikan berbagai pelayanan kesehatan bagi masyarakat, terutama penduduk miskin. Hal ini disebabkan banyak faktor, yang salah satunya adalah sarana dan prasarana yang tidak mendukung pelaksanaannya. Sebagai generasi muda, mahasiswa diharapkan memiliki semangat tinggi untuk membantu pemerintah dan lembaga-lembaga terkait dalam memberikan pelayanan kesehatan yang baik di daerah perbatasan, seperti memberikan penyuluhan hingga ikut serta dalam pelaksanaanya 3.2 Saran Sebagai generasi muda yang memiliki semangat tinggi, diharapkan dapat berusaha untuk mengatasi permasalah pelayanan kesehatan didaerah perbatasan. Dari mengetahui berbagai masalahnya, mengatasinya, kemudian melakukan halhal yang berguna bagi penduduk didaerah tersebut.

12

DAFTAR PUSTAKA

http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/03/31/brk,20110331324141,id.html http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/12/13/72871 http://bataviase.co.id/node/142340 http://kampungtki.com/baca/10704 http://www.rricirebon.info/component/content/article/53-kesra/530-tigapermasalahan-dalam-penanganan-kesehatan-di-perbatasan-prop-jabar.html http://www.kalimantan-news.com/berita.php?idb=88 http://buk.depkes.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=188:pe rtemuan-forum-komunikasi-lintas-program-pelayanan-kesehatan-daerahtertinggal-perbatasan-dan-kepulauan-dtpk&catid=111:dasar&Itemid=136 http://www.indonesiango.org/en/national/special-reports/1521-potret-kemiskinandi-perbatasan-indonesia-malaysia http://giovani-wawan.blogspot.com/2009/05/isu-dan-permasalahan-daerahperbatasan.html http://kerockan.blogspot.com/2011/05/jenis-pelayanan-kesehatan-diindonesia.html

13