Anda di halaman 1dari 52

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

BAB I METODE PENELITIAN

1. Pendekatan Ilmiah

a. Definisi Pendekatan Ilmiah Pendekatan ilmiah adalah upaya untuk memahami perilaku

manusia melalui prinsip-prinsip yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Weiten, 1992).

b. Karakteristik Pendekatan Ilmiah

Pendekatan ilmiah telah didefinisikan sebagai suatu pendekatan yang bersifat logis dan pendekatan ini menjadi suatu pendekatan yang paling baik untuk memperoleh pengetahuan dibandingkan dengan pendekatan-pendekatan lain karena memungkinkan untuk memperoleh pengetahuan yang bebas dari bias dan opini. Ada 3 karakteristik utama dari pendekatan ilmiah, yaitu (Hadi, dkk 2008):

Teknik kontrol : merupakan karakteristik terpenting dari metode ilmiah. Kegunaan kontrol dalam metode ilmiah adalah : 1) memungkinkan peneliti mengidentifikasi penyebab dari observasi mereka 2) memungkinkan peneliti memperoleh jawaban yang tidak ambigu terhadap penelitian mereka 3) mengontrol variabel pengganggu (extraneous variable) agar dapat dipastikan bahwa hanya variabel independen saja yang menyebabkan munculnya variabel dependen, terutama dalam setting penelitian eksperimen.

Definisi operasional : adalah langkah-langkah atau kegiatan yang dilaksanakan agar suatu konsep dapat diukur. Definisi operasional juga dijelaskan sebagai operasionalisasi dari

diukur. Definisi operasional juga dijelaskan sebagai operasionalisasi dari Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 1
diukur. Definisi operasional juga dijelaskan sebagai operasionalisasi dari Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 1

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

suatu konsep supaya tidak terjadi ambiguitas. Namun demikian ada beberapa kritik tentang definisi operasional, yaitu : 1) sifatnya terlalu kaku, 2) seringkali penelitian tentang suatu fenomena akan tertunda hanya untuk menjelaskan setiap langkah dengan detail serta penentuan langkah-langkah penjelasan dari suatu definisi operasional tidak mudah untuk dibuat 3) definisi operasional memberikan pemaknaan suatu istilah secara sangat spesifik. Perubahan langkah-langkah dalam pengukuran konsep akan membentuk konsep baru yang akan mendorong munculnya keserbaragaman konsep.

c. Tujuan Pendekatan Ilmiah Adapun tujuan pendekatan ilmiah adalah sebagai berikut :

Pengukuran dan penjelasan (Measurement and desecaraiption) Seorang peneliti dapat mengembangkan suatu alat ukur yang dapat digunakan untuk menjelaskan sebuah fenomena.

Memahami dan Memprediksikan (Understanding and Prediction) Seorang peneliti dapat memahami sebuah fenomena bila ia dapat menjelaskan faktor-faktor (variabel) yang terlibat dalam fenomena tersebut. Variabel adalah : kondisi, kejadian atau perilaku yang diamati dalam suatu penelitian

Memahami dan Memprediksikan (Understanding and Prediction) Setelah mampu memahami hubungan diantara beberapa variabel tersebut, maka seorang peneliti dapat memperkirakan fenomena tersebut di masa yang akan datang.

Penerapan dan Pengendalian (Application and Control)

yang akan datang. ∑ Penerapan dan Pengendalian ( Application and Control ) Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen
yang akan datang. ∑ Penerapan dan Pengendalian ( Application and Control ) Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

Informasi yang diperoleh melalui hasil penelitian akan

memberikan nilai praktis bagi pemecahan masalah.

d. Langkah-langkah Penelitian Ilmiah Seorang peneliti mengikuti langkah-langkah penelitian ilmiah saat

akan mendesain penelitiannya. Adapun langkah-langkah penelitian adalah sebagai berikut :

Membuat hipotesis yang akan diuji Hipotesis adalah pernyataan yang merupakan dugaan tentang hubungan antar variabel. Agar hipotesis dapat diuji, maka semua variabel harus didefinisikan secara operasional. Definisi operasional menjelaskan cara untuk mengukur suatu variabel. Contoh : Ada hubungan antara stres dan kemampuan menyesuaikan diri

Menentukan desain penelitian. terdapat beberapa metode penelitian yang dapat digunakan, yaitu eksperimen, studi kasus dan survey. Setelah itu, peneliti menentukan subyek yang akan dilibatkan dalam penelitian. Subyek adalah orang yang akan diteliti perilakunya dalam suatu penelitian. Co : hubungan antara stres dan penyesuian diri pada korban kekerasan dalam rumah tangga.

antara stres dan penyesuian diri pada korban kekerasan dalam rumah tangga. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 3
antara stres dan penyesuian diri pada korban kekerasan dalam rumah tangga. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 3

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

Mengumpulkan Data

Observasi / pengamatan

Pengamat yang sudah terlatih, mengamati dan mencatat perilaku secara objektif.

Kuisioner

Subjek diminta untuk mengisi beberapa pertanyaan/ pernyataan untuk menggali informasi tentang sikap, opini dan hal spesifik dari suatu perilaku

Wawancara/ Interview

Face to face dialogue yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang perilaku spesifik subyek.

Tes Psikologi

Menggunakan alat ukur yang sudah terstandar untuk mendapatkan sampel perilaku, terutama kemampuan mental dan kepribadian

Rekan data fisiologis

Menggunakan alat untuk merekam kondisi fisik seperti : tekanan darah, degup jantung, aktivitas otak

Data sekunder

Menggunakan data yang telah dimiliki oleh suatu institusi seperti, hasil sensus, data ekonomi, pendidikan, dll.

Menganalisis Data dan Membuat kesimpulan Bila data yang didapatkan berupa skor (angka), maka peneliti dapat menggunakan analisis statistik untuk menentukan apakah hipotesis penelitian terbukti. Co : menggunakan analisis korelasi untuk membuktikan hipotesis.

Mempublikasikan hasil penelitian Kemajuan perkembangan penelitian akan dapat dilakukan bila peneliti mempublikasikan hasil penelitian melalui media, seperti jurnal, majalah, koran, dll. Hal ini dilakukan agar peneliti mendapatkan tanggapan dari peneliti lain untuk kesempurnaan sebuah penelitian

e. Kelebihan Pendekatan Ilmiah

Kejelasan dan ketepatan : Pendekatan ilmiah dapat membantu peneliti untuk menjelaskan dengan tepat suatu fenomena berdasarkan teori yang digunakan

untuk menjelaskan dengan tepat suatu fenomena berdasarkan teori yang digunakan Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 4
untuk menjelaskan dengan tepat suatu fenomena berdasarkan teori yang digunakan Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 4

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

Relatif dapat meminimalkan kesalahan : dengan langkah penelitian yang hati-hati, maka informasi yang didapatkan lebih akurat sehingga lebih dapat dipercaya.

2. Jenis Penelitian

Hadi (2004 : 3-5) menjelaskan bahwa penggolongan penelitian sangat tergantung pada pedoman yang digunakan untuk melakukan penggolongan tersebut. Sampai saat ini belum ada kesepakatan atas

pedoman yang digunakan sebagai dasar tinjauan penggolongan. Secara umum, jenis-jenis penggolongan adalah sebagai berikut :

a. Penggolongan menurut bidang ilmunya : penelitian pendidikan, sejarah, psikologi, ekonomi dan sebagainya.

b. Penggolongan menurut tempatnya : penelitian laboratorium, perpustakaan dan penelitian lapangan (kancah). Penelitian laboratorium dilaksanakan di laboratorium biasanya bersifat eksperimen atau percobaan. Penelitian perpustakaan (Latipun :

2006 : 3) adalah penelitian yang dilaksanakan dengan literatur kepustakaan dan penelitian sebelumnya sebagai sumber data. Pustaka yang dimaksud diantaranya catatan-catatan seseorang, riwayat hidup, surat0surat tertulis atau informasi lainnya yang memungkinkan dapat mengungkap perilaku atau kondisi psikologis seseorang. Penelitian lapangan adalah penelitian yang dilakukan langsung di lapangan seperti penelitian sosial. Penelitian lapangan dapat menggunakan observasi, penelitian korelasi dan eksperimen.

c. Penggolongan menurut pemakaiannya : penelitian murni (pure research) yaitu dan penelitian terpakai (applied research).

murni (pure research) yaitu dan penelitian terpakai (applied research). Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 5
murni (pure research) yaitu dan penelitian terpakai (applied research). Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 5

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

Penelitian murni adalah penelitian yang mempunyai alasan intelektual, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan. Sedangkan penelitian terpakai adalah penelitian mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui; bertujuan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif dan efisien.

d. Penggolongan menurut tujuan umumnya : penelitian eksploratif, penelitian pengembangan dan verifikatif.

e. Penggolongan menurut tarafnya : penelitian deskriptif dan inferensial.

f. Penggolongan menurut pendekatannya : penelitian longitudinal dan cross sectional.

menurut pendekatannya : penelitian longitudinal dan cross sectional. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 6
menurut pendekatannya : penelitian longitudinal dan cross sectional. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 6

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

BAB II METODE EKSPERIMEN

1. Pengertian Penelitian Eksperimen

Penelitian yang dikembangkan untuk mempelajari fenomena dalam kerangka hubungan sebab akibat yang dilakukan dengan memberikan perlakuan oleh peneliti kepada subjek penelitian untuk kemudian dipelajari/diobservasi efek perlakuan tersebut dengan mengendalikan variabel yang dikehendaki ( Latipun, 2006). Supardi (2007) menjelaskan bahwa penelitian eksperimen

(Experimental Research) kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/tindakan/treatment pendidikan terhadap tingkah laku siswa ata menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu eksperimen dimaksudkan untuk menilai/membuktikan pengaruh perlakuan pendidikan (pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi belajar matematika pada siswa SMU atau untuk menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak terbatas pada mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan tetapi juga ingin

melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan tetapi juga ingin Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 7
melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan tetapi juga ingin Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 7

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda.

2.

Ciri Penelitian Eksperimen Adapun ciri-ciri penelitian eksperimen adalah sebagai berilut :

a.

Manipulasi (treatment) yang secara sengaja dilakukan oleh peneliti

b.

Memonitor akibat (efek) yang ditimbulkan dari maipulasi

c.

Pengendalian pengaruh variabel yang tidak dikehendaki.

3.

Tujuan Penelitian Eksperimen Penelitian eksperimen memiliki beberapa tujuan. Adapun tujuan

penelitian eksperimen adalah sebagai berikut :

a.

Menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab akibat antara perlakuan dengan efeknya.

b.

Memprediksi efek suatu perlakuan pada variabel yang diamati

c.

Mempelajari seberapa besar hubungan sebab akibat tersebut.

4.

Eksperimen Laboratorium

Eksperimen laboratorium merupakan salah satu bentuk studi penelitian eksperimental yang dilakukan di dalam lingkungan terkontrol yaitu laboratorium. Pada eksperimen laboratorium ini, semua variabel bebas tidak dibiarkan bebas mempengaruhi sebuah akibat. Terdapat langkah-langkah tertentu yang ditujukan untuk membatasi berbagai sebab tertentu saja yang menjadi sebab yang paling mungkin. Langkah ini biasanya disebut dengan kontrol variabel bebas. Inilah yang merupakan ciri khas dari eksperimen laboratorium bahwa hanya beberapa sebab saja

ciri khas dari eksperimen laboratorium bahwa hanya beberapa sebab saja Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 8
ciri khas dari eksperimen laboratorium bahwa hanya beberapa sebab saja Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 8

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

yang dibiarkan mempengaruhi akibat. Terdapat suatu langkah-langkah metodologik atas kontrol sebab ini. Hanya variabel bebas yang dikehendaki oleh peneliti untuk diuji secara ilmiah saja dibiarkan mempengaruhi akibat. Variabel bebas yang lain diupayakan sedemikian rupa untuk dibatasi bahkan dihambat agar tidak terlibat dalam mempengaruhi akibat.

5. Kelebihan dan Kekurangan Penelitian Eksperimen

Eksperimen laboratorium mempunyai kekuatan yaitu kemungkinannya untuk melakukan kontrol atas variabel bebas lain relatif sempurna. Sempurna peneliti yang hendak melakukan eksperimen laboratorium harus mempersiapkan beberapa hal terlebih dahulu, yaitu melakukan pemisahan situasi penelitian laboratorium dari kehidupan luar dengan cara mengeliminasi sebanyak mungkin pengaruh variabel lain (extraneous variable) yang dapat membawa akibat perubahan pada variabel bebas dan variabel terikat yang hendak diteliti. Ekseperimen laboratorium biasanya menggunakan pembagian kelompok secara acak dan dapat pula memanipulasi satu atau beberapa variabel bebas. Pada kebanyakan kasus, pembuat eksperimen dapat mencapai taraf spesifitas yang tinggi dalam pendefisian operasional variabel-variabelnya. Untuk menentukan seberapa sesuainya presisi dari eksperimen laboratorium ini sangat terkait dengan kekuatan dari definisi operasionalnya. Presisi berarti akurat, pasti dan tidak dapat dtafsirkan macam-macam. Biasanya laporan hasil penelitian yang menggunakan metode eksperimen laboratorium mengemukakan dengan jelas dan rinci jadual pelaksanaan dan manipulasi yang dilakukan serta berbagai

dan rinci jadual pelaksanaan dan manipulasi yang dilakukan serta berbagai Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 9
dan rinci jadual pelaksanaan dan manipulasi yang dilakukan serta berbagai Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 9

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

langkah serta sarana yang digunakan untuk mengontrol kondisi-kondisi lingkungan dalam pelaksanaan eksperimen itu. Kelemahan yang paling menonjol pada eksperimen laboratorium adalah kekuatan variabel bebas. Bagaimanapun juga situasi laboratorium adalah situasi yang dibuat untuk maksud-maksud khusus namun seringkali yang didapatkan adalah efek-efek dari manipulasi eksperimental justru cenderung lemah.

Kelemahan lain yang merupakan dampak dari kelemahan pertama adalah kesemuan (artifisial) situasi penelitian eksperimental. Artifisial pada satu sisi merupakan kelemahan eksperimen, namun pada sisi lain merupakan ciri khas dari situasi eksperimen laboratorium. Apabila eksperimen sengaja dibuat, dan untuk itu diupayakan menghilangkan banyaknya gangguan lingkungan, mungkin tidak masuk akal jika siatuasi itu disebut sebagai suatu keadaan alamiah dari hasil eksperimen yang memang dikehendaki. Cara tersebut digunakan untuk menguji perubahan dari variabel Y yang hanya karena satu-satunya (atau beberapa) variabel manipulasi X.

6. Kegunaan Eksperimen Laboratorium

Terdapat 3 kegunaan eksperimen laboratorium yang saling terkait antara satu dengan lainnya, yaitu :

Eksperimen laboratorium merupakan sarana untuk mengkaji adanya hubungan pengaruh dalam kondisi yang murni dan tidak rancu. Eksperimen laboratorium dilakukan untuk menguji ramalan atau prediksi yang berasal dari suatu teori terhadap teori yang lainnya. Berdasarkan hasil penelitian eksperimen laboratorium itu dapat

yang lainnya. Berdasarkan hasil penelitian eksperimen laboratorium itu dapat Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 10
yang lainnya. Berdasarkan hasil penelitian eksperimen laboratorium itu dapat Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 10

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

dibuat prediksi ke dalam situasi penelitian yang lain, yaitu dalam situasi alamiah riil. Eksperimen laboratorium dapat meneguhkan atau memperkuat teori dan hipotesis yang telah ada, hubungan hipotesis yang satu dengan hipotesis lain bahkan juga memperkokoh bangunan sistem teori.

7. Ekspermen Lapangan

Adalah eksperimen yang dilaksanakan di lapangan, artinya dilakukan dalam kehidupan nyata (realita) atau tidak di dalam situasi laboratorium. Pada eksperimen lapangan peneliti tidak melakukan kontrol sama sekali terhadap variabel bebas tertentu sebagaimana eksperimen laboratorium. Penelitian ini disebut juga dengan quasi experiment, yaitu eksperimen yang tidak memungkinkan peneliti mengontrol semua variabel extraneous atau variabel-variabel lain yang

turut berpengarih terhadap variabel terikat, selain variabel yang akan diteliti pengaruhnya. Sangat sulit untuk mengontrol semua variabel yang memiliki andil terhadap variabel terikat (dependent)

8. Kelebihan dan Kelemahan Eksperimen Lapangan

Dalam beberapa kasus, eksperimen lapangan sangat sesuai untuk masalah-masalah psikologi, sosial dan ilmu pendidikan. Hal ini disebabkan variabel-variabel bebasna dapat dimanipulais dan dapat dilakukan randomisasi serta dapat memenuhi kriteria kontrol. Akan tetapi kontrol dalam eksperimen lapangan tidaklah seketat dalam eksperimen laboratorium. Pada eksperimen lapangan, peneliti memang masih mampu melakukan manipulasi akan tetapi ada probabilitas yang besar atas keterlibatan variabel bebas yang tidak terkontrol untuk masuk dalam

atas keterlibatan variabel bebas yang tidak terkontrol untuk masuk dalam Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 11
atas keterlibatan variabel bebas yang tidak terkontrol untuk masuk dalam Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 11

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

manipulasi beberapa variabel bebas. Eksperimen lapangan memang berlangsung dalam situasi yang alami dan wajar. Jika situasi penelitian diupayakan rupa agar tetap ketat dalam mengontrol variabel-variabel lingkungan, maka eksperimen lapangan ini akan signifikan sekali karena dapat berakibat timbulnya keyakinan yang lebih besar bahwa hubungan yang dihipotesisikan memang benar-benar ada. Kesulitan pendekatan eksperimen lapangan adalah sulitnya melakukan randomisasi. Ketidakbersediaan subjek untuk dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok adalah contoh nyata dari kesulitan ini. Kesulitan kedua adalah pengaruh karakteristik peneliti dalam eksperimen lapangan. Sampai pada batas-batas tertentu, seorang peneliti lapangan harus mempunyai kemahiran sosial. Selain itu, terdapat suatu hambatan dalam penyusunan desain penelitian eksperimen yang baik dan hambatan ini seringkali tidak diperhatikan oleh peneliti. Hambatan tersebut adalah

sikap dari peneliti itu sendiri. Contohnya : seringkali muncul sikap negatif dari peneliti bahwa eksperimen tidak dapat dilakukan karena merasa pada pimpinan perusahaan tidak akan memperbolehkan penelitian

berlangsung.

Secara umum, penelitian eksperimen memiliki kelebihan sebagai

berikut :

a. Mampu mengendalikan secara ketat pada variabel ekstra

b. Efisiensi tinggi, dpt digunakan pd populasi terbatas

Namun demikian, penelitian eksperimen juga memiliki beberapa keterbatasan, yaitu :

a. Hasil penelitian tidak selalu sejalan dengan kenyataan

b. Penggunaan logika positivisme tidak tepat pd manusia

dengan kenyataan b. Penggunaan logika positivisme tidak tepat pd manusia Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 12
dengan kenyataan b. Penggunaan logika positivisme tidak tepat pd manusia Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 12

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

c. Terdapat beberapa variabel seperti moral, ekonomi yang tidak dapat dimanipulasi

d. Kesulitan untuk melakukan generalisasi thd situasi secara pasti dari hasil eksperimen

untuk melakukan generalisasi thd situasi secara pasti dari hasil eksperimen Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 13
untuk melakukan generalisasi thd situasi secara pasti dari hasil eksperimen Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 13

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

BAB III HUBUNGAN KAUSALITAS Untuk mengetahui sifat hubungan satu variabel dengan variabel lain tidaklah mudah karena gejala-gejala alam apalagi gejala psikologis, tampaknya memiliki pola yang tidak dapat dipastikan. Namun demikian hubungan-hubungan antar variabel tersebut sebenarnya dapat disederhanakan dalam pola-pola tertentu berdasarkan munculnya satu gejala atas gejala yang lain.

1. Pola Hubungan Antar Gejala

a. Necessity Condition : kondisi yang harus ada tapi tidak cukup untuk menimbulkan akibat tertentu. Misalnya alat tulis harus ada (necessity) sekalipun tidak cukup untuk menyusun buku, seorang anak dapat berkalan (Variabel Y) jika mencapai kematangan motorik (variabel X) namun demikian kematangan motorik ini saja tidak cukup, ada variabel lainnya yang harus menyertai seperti kesehatan anak dan pelatihan

b. Sufficient Condition : kondisi yang cukup memadai untuk menimbulkan kejadian tertentu namun kemunculan kejadian itu tidak mengharuskan adanya kondisi tersebut. Dengan kata lain, X merupakan sebab dari beberapa sebab uang secara independen menghasilkan Y. contohnya adalah latihan keterampilan sosial secara signifikan mempengaruhi perubahan perilaku pada anak hiperaktif. Hal ini memberi arti bahwa latihan keterampilan (variabel X) cukup memadai bagi perubahan perilaku desruptif pada anak hiperaktif.

c. Sufficient & Necessity Condition : kondisi yang cukup memadai dan harus ada untuk menghasilkan kejadian tertentu. Kejadian X

cukup memadai dan harus ada untuk menghasilkan kejadian tertentu. Kejadian X Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 14
cukup memadai dan harus ada untuk menghasilkan kejadian tertentu. Kejadian X Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 14

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

merupakan penyebab timbulnya Y dan Y terjadi jika ada kejadian X. Misalnya ketidaknormalan genetik yang spesifik seperti trysomi merupakan hubungan sufficient dan necessity untuk menghasilkan sindroma down.

d. Causative Condition : suatu unsur yang memberikan kontribusi bagi munculnya kejadian tertentu. Contohnya adalah perilaku anak merokok berhubungan dengan beberapa faktor diantaranya orang tua merokok, teman sebaya yang merokok, konsistensi penerapan disiplin orang tua dan usia anak.

sebaya yang merokok, konsistensi penerapan disiplin orang tua dan usia anak. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 15
sebaya yang merokok, konsistensi penerapan disiplin orang tua dan usia anak. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 15

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

BAB IV POPULASI DAN SAMPEL

1. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan individu atau objek yang diteliti yang memiliki karakteristik yang sama (aspek geografis, aspek subjek, aspek sosial). Suatu penelitian, termasuk eksperimen perlu menetapkan

target populasinya. Peneliti dapat menentukan target populasi sebelum penelitian dilakukan. Populasi seringkali memiliki variasi atau sebaran yang sangat luas. Untuk penelitian eksperimen dibutuhkan keadaan populasi yang relatif homogen. Homogenitas populasi ini sangat berguna bagi kemudahan dalam pengambilan sampel dan perlakuan yang hendak diberikan. Homogentias penelitian dapat dicapai dengan membatasi ciri-ciri populasinya, yang diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Aspek tempat/geografis, merupakan wilayah atau tempat subjek penelitian bertempat tinggal.

b. Aspek subjek : jenis kelamin, umur, rasial, pendidikan,

kepribadian, dan lain-lain.

c. Aspek sosial : kelas sosial, keluarga dan lingkungan sosial lainnya.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang dilibatkan dalam penelitian dengan alasan efisiensi, dan teknik pengambilannya berdasarkan syarat tertentu. Dengan meneliti sedikit subjek, hasilnya diharapkan dapat digunakan untuk menggambarkan seluruh populasi.

Oleh karena itu, syarat pengambilan sampel adalah sampel yang representatif populasinya.

itu, syarat pengambilan sampel adalah sampel yang representatif populasinya. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 16
itu, syarat pengambilan sampel adalah sampel yang representatif populasinya. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 16

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

Sampel yang representatif, dipengaruhi oleh:

a. Homogenitas populasi : bahwa semakin homogen distribusi atau keadaan karakter subjek dalam suatu populasi maka makin mudah mencapai sampel yang representatif.

b. Jumlah/besar sampel yang dipilih : makin banyak sampel yang digunakan dalam penelitian, makin tinggi tingkat kerepresentatifannya.

c. Banyaknya karakteristik subjek yang diteliti, yang secara praktis berarti semakin meningkatkan variabilitas subjek yang hendak diteliti, mengakibatkan keadaan populasi semakin kurang homogen.

d. Ketepatan teknik pemilihan sampel : pemilihan subjek yang sesuai

dengan keadaan populasinya lebih menunjukkan sampel yang representatif. Penentuan jumlah sampel seringkali menjadi permasalahan tersendiri bagi peneliti. Reaves (dalam Hadi, dkk., 2008) menyatakan bahwa jumlah sampel dapat ditentukan berdasarkan populasi penelitiannya. Berikut tabel jumlah sampel berdasarkan jumlah populasinnya.

Pop

 

Sig

Pop

 

Sig

Pop

 

Sig

0,05

0,03

0,01

0,05

0,03

0,01

0,05

0,03

0,01

50

45

48

49

95

79

89

95

180

126

155

177

55

50

53

55

100

79

93

99

190

130

165

187

60

53

57

59

110

900

100

108

200

135

168

197

65

59

63

65

120

93

110

118

210

139

180

206

70

59

67

69

130

99

116

128

220

140

184

216

75

64

72

75

140

106

125

138

230

150

191

226

80

68

76

79

150

110

133

148

240

150

199

236

85

71

82

85

160

117

140

157

250

155

204

246

90

75

84

89

170

119

150

167

260

159

214

253

90 75 84 89 170 119 150 167 260 159 214 253 Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen
90 75 84 89 170 119 150 167 260 159 214 253 Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

BAB V VARIABEL DAN PENGENDALIANNYA

1. Pengertian Konsep Dan Konstruk

Konsep menggambarkan suatu fenomena secara abstrak. Konsep dibentuk dengan jalan membuat generalisasi terhadap sesuatu yang khas. Contoh dari konsep adalah perilaku abnormal, intelegensi, prestasi, moral

dan memori Sedangkan konstruk adalah konsep yang diciptakan atau digunakan dengan kesengajaan dan kesadaran penuh, dengan suatu maksud ilmiah tertentu. CONTOH : Intelegensi adalah suatu konsep, sebuah abstraksi dari

observasi tentang ihwal yang dianggap atau diduga sebagai perilaku cerdas atau inteligen dan yang non inteligen. Akan tetapi sebagai suatu konstruk ilmiah, intelegensi mengandung arti yang lebih dari sekedar konsep. Ada dua jalan untuk menjelaskan intelegensi sebagai konstruk:

a. Istilah intelegensi dimasukkan dalam bagan teori dan dikaitkan dengan konsruk yang lain. Contoh :prestasi sekolah adalah fungsi dari intelegensi dan motivasi. b. Intelegensi dididefinisikan dan dispesifikkan dengan cara tertentu yang memungkinkan observasi dan pengukurannya.

2. Variabel

Variabel adalah setiap karakteristik atau sifat organisme, lingkungan atau situasi. Dapat juga diartikan sebagai simbol atau lambang yang padanya kita meletakkan bilanga atau nilai.

sebagai simbol atau lambang yang padanya kita meletakkan bilanga atau nilai. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 18
sebagai simbol atau lambang yang padanya kita meletakkan bilanga atau nilai. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 18

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

3. Jenis Variabel Eksperimen

a. Variabel bebas : adalah kondisi anteseden yang dimanipulasi oleh peneliti eksperimen. Dimanipulasi oleh peneliti dengan tujuan untuk memperoleh bukti dan prediksi yang dibuat akan hubungan sebab dan akibat antara variabel bebas dan terikat. Ada dua hal yang harus dperhatikan dalam membuat variabel bebas :

- Variasi : ada beberap acara untuk membuat variasi dalam variabel bebas, yaitu :

1. Kehadiran Vs Ketidakhadiran : Kelompok yang menerima perlakuan (kel eksperimen) dan kelompok yang tidak menerima perlakukan apapun (kel kontrol/placebo)

2. Jumlah variabel : dengan cara mengatur jumlah atau kadar variasi yang berbeda untuk tiap kelompok.

3. Tipe variabel : melakukan variasi pada tipe variabel penelitian. Contoh memberi label kelompok pendiam, proaktif dan pembuat masalah dan dilihat pengaruhnya dala penyelesaian masalah.

- Kontrol Variasi, ada dua cara mengontrol variasi dalam variabel bebas :

1. Kontrol terhadap manipulasi eksperimen : situasi dimana peneliti mengatur satu kontrol yang spesifik terhadap variabel bebas pada kelompok pertama dan mengatur kontrol yang berbeda pada variabel yang sama pada kelompok kedua. Contoh peneliti ingin tahu pengaruh strategi pembelajaran terhadap prestasi.Kelompok pertama diberi strategi diskusi dan kelompok kedua diberi strategi individual.

diberi strategi diskusi dan kelompok kedua diberi strategi individual. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 19
diberi strategi diskusi dan kelompok kedua diberi strategi individual. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 19

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

2. Kontrol terhadap pengukuran manipulasi : variabel bebas divariasikan dengan mengontrol pemilihan subjek berdasarkan kondisi internal yang dimiliki.Misalnya membagi kelompok berdasar tingkat kecemasan. Operasionalisasi Variabel Bebas Merupakan suatu cara untuk memaknai konsep-konsep abstrak secara konkrit sehingga dapat diterapkan dalam penelitian. Teknik yang dapat digunakan untuk mengoperasionalisasi variabel adalah dengan pemahaman variabel tersebut berdasarkan hasil beberapa penelitian.

b. Variabel terikat : adalah variabel yang diukur sebagai akibat dari variabel bebas. Kriteria utama dari variabel terikat adalah memiliki sensitivitas sebagai efek dari variabel bebas. Pada dasarnya tidak ada aturan atau hukum yang mengatur tentang bagaimana memilih variabel terikat yang baik. Terdapat 2 permasalahan yang seringkali timbul dalam penelitian tentang manusia, yaitu :

- Pengukuran yang harus digunakan untuk mengukur efek yang dihasilkan dari variabel bebas

- Peneliti harus meyakinkan agar subjek penelitian benar- benar merespon dengan jujur dan tidak berusaha untuk bekerja sama memanipulasi perilakunya supaya menolong penelitian.

untuk bekerja sama memanipulasi perilakunya supaya menolong penelitian. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 20
untuk bekerja sama memanipulasi perilakunya supaya menolong penelitian. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 20

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

BAB VI VALIDITAS EKSPERIMEN

1. Pendahuluan

Variabel terikat dalam suatu eksperimen bersifat dinamis dan banyak faktor yang mempengaruhinya, sehingga pertanyaannya adalah apakah variabel terikat itu benar-benar dipengaruhi oleh perlakuan dan

dapat digeneralisasi pada populasinya. Pertanyaan semacam ini sangat berkaitan erat dengan Validitas Eksperimen.

2. Validitas Eksperimen

Suatu eksperimen dianggap valid jika :

a. variabel perlakukan benar-benar mempengaruhi perilaku yang diamati (variabel terikat)

b. Dapat digeneralisasikan pada populasi lainnya yang berbeda subjek, tempat, dan ekologinya.

c. Terdapat dua macam : validitas internal dan eksternal.

3. Validitas Internal

Validitas internal adalah validitas penelitian yang berhubungan dengan pertanyaan sejauhmana perubahan yang diamati (Y) dalam suatu eksperimen benar-benar hanya terjadi karena X yaitu perlakuan yang diberikan dan bukan karena faktor yang lain. Gangguan validitas internal berupa sejarah, maturasi, pengujian,

instrumentasi, regresi statistik, bias dalam seleksi, subjek keluar, difusi/imitasi perlakuan, demoralisasi, interaksi kematangan dengan seleksi.

a. Sejarah berupa kejadian-kejadian (dalam lingkungan penelitian) di luar penelitian yang muncul selama penelitian

lingkungan penelitian) di luar penelitian yang muncul selama penelitian Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 21
lingkungan penelitian) di luar penelitian yang muncul selama penelitian Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 21

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

berlangsung. Co : perubahan dalam bidang sosial, politik,ekonomi, cuaca, dsb.

b. Maturasi adalah proses yang terjadi pada subyek sehingga menimbulkan perubahan. Maturasi mencakup fisik maupun psikologis. Co : lebih dewasa, lebih apatis, berpengalaman, terampil, dll.

c. Testing misalnya penelitian yang menggunakan pre dan posttes, memungkinkan terjadinya kenaikan skor. Makin dekat jarak antar testing makin tinggi pengaruhnya.

d. Instrumentasi berupa cara pengukuran yang tidak memenuhi syarat, sehingga menghasilkan skor variabel Y yang tidak akurat.

e. Regresi statistik yaitu hasil pengukuran variabel Y bergeser ke arah ‘mean’, karena subjek penelitian dipilih atas dasar nilai ekstrim. Perubahan skor hasil tes bukan karena perubahan yang sesungguhnya tapi karena efek regresi.

f. Bias dalam seleksi berupa sejumlah perbedaan sistematis yang terjadi antar kelompok sebelum pemberian perlakuan. sistematis yang terjadi antar kelompok sebelum pemberian perlakuan (subjek memiliki nilai variabel perlakuan yang berbeda).

g. Subjek keluar dari penelitian (drop out) akan mempengaruhi perbedaan hasil pengukuran.

h. Difusi atau imitasi perlakuan : terjadi interaksi antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

i. Demoralisasi : kelompok kontrol berusaha mempelajari perlakuan dari kelompok eksperimen.

: kelompok kontrol berusaha mempelajari perlakuan dari kelompok eksperimen. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 22
: kelompok kontrol berusaha mempelajari perlakuan dari kelompok eksperimen. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 22

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

j. Interaksi kematangan denga seleksi : terjadi dalam desain quasi experimental, dimana subjek tidak dipilih secara acak.

4. Meningkatkan Validitas Internal

Pengelompokan unit eksperimen dilakukan secara random

Penggunaan instrumen yang valid dan reliabel dan dilakukan dengan prosedur yang tepat.

Dihindari terjadinya proses pembelajaran antara kelompok selama penelitian.

Membuat suasana yang ajeg, khususnya lingkungan eksperimen.

5. Validitas Eksternal

Validitas eksternal yaitu validitas penelitian yang menyangkut pertanyaan sejauhmana hasil suatu penelitian dapat digeneralisasikan pada

populasi. Jenis validitas eksternal :

a. Validitas Populasi : populasi ekperimen (=populasi yang diakses dan sebagian unit populasinya terpilih sebagai sampel. Populasi sasaran (=populasi yang jauh lebih besar dan di luar subjek yang diteliti/ultimate population).

b. Validitas ekologi : generalisasi pada populasi yang memiliki kondisi sosial budaya dan karakteristik personal yang berbeda.

6. Pengganggu Validitas Eksternal :

a. Interaksi seleksi dan perlakuan : pengambilan sampel yang tidak tepat sehingga tidak mewakili populasinya.

b. Interaksi kondisi dan perlakuan : perbedaan kondisi tempat dan subjek penelitian dengan kondisi tempat dan subjek di luar penelitian yang menjadi target populasi. Semakin banyak perbedaan kondisi semakin rendah validitas eksternalnya.

Semakin banyak perbedaan kondisi semakin rendah validitas eksternalnya. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 23
Semakin banyak perbedaan kondisi semakin rendah validitas eksternalnya. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 23

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

c. Histori dan perlakuan : waktu penelitian yang terbatas menjadi sulit digeneralisasikan kepada populasi jangka yang lebih lama dan

waktu yang berbeda dengan saat penelitian.

7. Meningkatkan Validitas Eksternal :

a. Replikasi : pengulangan perlu dilakukan pada subjek dan kondisi yang berbeda sehingga diperoleh informasi tentang hasil eksperimen. Replikasi yang lebih banyak dan hasil reliabel akan mencerminkan validitas eksternal yang tinggi. b. Penentuan target populasi : semakin ketat melakukan pengendalian terhadap variabel ekstra, semakin sempit jangkauan populasinya.

VALIDITAS INTERNAL DAN EKSTERNAL SUATU EKSPERIMEN UTAMANYA MEMENUHI VALIDITAS INTERNAL SEDANGKAN VALIDITAS EKSTERNAL ADALAH PENGEMBANGAN BERIKUTNYA SEBAGAI HASIL DARI BERBAGAI KEGIATAN REPLIKASI BILA EKSPERIMEN TERSEBUT MEMENUHI VALIDITAS INTERNALNYA

KEGIATAN REPLIKASI BILA EKSPERIMEN TERSEBUT MEMENUHI VALIDITAS INTERNALNYA Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 24
KEGIATAN REPLIKASI BILA EKSPERIMEN TERSEBUT MEMENUHI VALIDITAS INTERNALNYA Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 24

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

BAB VII DASAR-DASAR DESAIN EKSPERIMEN

1. Desain Eksperimen Adalah semua proses yang diperlukan dalam merencanakan dan

melaksanakan suatu eksperimen. Manfaat :

a. Untuk memperoleh suatu keterangan yang maksimal menenai proses perencanaan dan pelaksanaan eksperimen yang dilakukan.

b. Peneliti dan orang lain dapat memahami bagaimana suatu

eksperimen disusun dan dilakukan dan dapat mengulangi dan mengevaluasi proses tersebut.

2. Jenis Desain Eksperimen

a. Praeksperimen : Eksperimen yang dilakukan tanpa ada kelompok kontrol.

b. Eksperimen murni : eksperimen yang dilakukan dengang pengendalian secara ketat variabel-variabel yang tidak dikehendaki pengaruhnya. Penentuan sampel secara random dan dilakukan dengan menggunakan keelompok kontrol sebagai pembanding kelompok perlakuan.

c. Eksperimen kuasi : eksperimen yang pengendaliannya tidak begitu ketat dan sampel tidak diperolej secara random. Dilakukan karena desain murni tidak mungkin dilaksanakan.

3. Prinsip Dasar Desain Eksperimen

a. Replikasi

- Frekuensi atau pengulangan perlakuan yang diberikan kepada unit-unit eskperimen yang berbeda dengan unit eksperimen yang dicobakan.

unit-unit eskperimen yang berbeda dengan unit eksperimen yang dicobakan. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 25
unit-unit eskperimen yang berbeda dengan unit eksperimen yang dicobakan. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 25

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

-

Pengulangan perlakukan yang diberikan pada kelompok /unit eksperimen yang sama atau berbeda dalam satu rangkaian eksperimen.

b.

Randomisasi

-

Penentuan anggota sampel secara acak dari populasi.

-

Tujuannya adalah untuk mengurangi bias yang disebabkan oleh kesalahan sistematis yang dilakukan secara sengaja oleh peneliti dalam menentukan subjek-subjek yang akan diteliti.

c.

Kontrol Internal

-

Adalah upaya pengendalian kondisi lapangan dari yang heterogen menjadi homogen.

-

Caranya adalah membagi unti-unit eksperimen ke dalam kelompok-kelompok, sehingga antar kelompok memiliki homogenitas dan perimbangan kecuali perlakuan yang harus dibuat secara berbeda.

-

Tujuannya adalah untuk membuat prosedur uji lebih kuat, efisien dan sensitif karena pengelompokan yang homogen dan perimbangan, kecuali perlakuan yang harus dibuat secaara berbeda.

-

Pengelompokan adalah membagi unti-unti eksperimen dalam beberapa kelompok, sehingga antar kelompok menjadi homogen.

-

Pengelompokan harus memperhatikan aspek keseimbagan yaitu adanya sejumlah unit eksperimen dalam setiap kelompok. Keseimbangan ini akan meningkatkan validitas internal

dalam setiap kelompok. Keseimbangan ini akan meningkatkan validitas internal Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 26
dalam setiap kelompok. Keseimbangan ini akan meningkatkan validitas internal Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 26

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

4. Perlakuan Dan Pembanding

a. Perlakuan terhadap subyek mutlak dilakukan dalam eksperimen. Untuk memahami bahwa suatu perlakuan telah memberi efek

tertentu pada subyek, maka diperlukam kelompok pembanding kelompok kontrol (beda dengan variabel kontrol).

b. Suatu eksperimen yang dilakukan tanpa kelompok komparasi akan sulit untuk disimpulkan bahwa akibat (Y) yang terjadi adalah hasil perlakuan.

c. Kondisi-kondisi subyek pada kelompok kontrol harus sama dengan kelompok eksperimen usia, jenis kelamin, kondisi kesehatan, tingkat pendidikan, dll yang signifikian mempengaruhi variabel yang diamati.

d. Kelompok kontrol dapat dilakukan dengan dua cara :

- kelompok kontrol merupakn kelompok mandiri dari kelompok eksperimen.

- kelompok kontrol merupakan kelompok yang sama dengan kelompok perlakuan.

e. Kelompok kontrol dalam eksperimen dapat berupa kelompok

yang:

- tidak memperoleh perlakuan

- memperoleh perlakuan dalam bentuk plasebo

- perlakuan yang secara konvensional diberikan kepada subyek.

- perlakuan yang kurang variatif.

f. Fungsi kelompk kontrol :

- membuat desain eksperimen menjadi lebih efisien - menghasilkan uji kemaknaan lebih sensitif

eksperimen menjadi lebih efisien - menghasilkan uji kemaknaan lebih sensitif Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 27
eksperimen menjadi lebih efisien - menghasilkan uji kemaknaan lebih sensitif Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 27

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

- mengurangi kesalahan eksperimental power tes.

5. Model Perlakuan

a. Perlakuan VS Tanpa Perlakuan

Kelompok perlakuan (X) mendapatkan intervensi dan kelompok kontrol (-) tidak memperoleh perlakuan. Perbedaan hasil pengukuran (O) pada kedua kelompok dianggap sebagai akibat dari perlakuan. Kel perlakuan : (X) O Kel kontrol : (-) O b. Perlakuan VS Perlakuan lain

Kelompok perlakuan (X) mendapatkan intervensi dan kelompok kontrol (Z) memperoleh perlakuan dalam bentuk intervensi lain. Perbedaan hasil pengukuran (O) pada kedua kelompok dianggap sebagai akibat dari perlakuan.

Kel perlakuan

: (X)

O

Kel kontrol : (Z)

O

c.

Perlakuan VS Plasebo

 

Kelompok perlakuan (X) mendapatkan intervensi dan kelompok kontrol (p) memperoleh perlakuan dalam bentuk plasebo. Perbedaan hasil pengukuran (O) pada kedua kelompok dianggap

sebagai akibat dari perlakuan.

 

Kel perlakuan

: (X)

O

Kel kontrol : (p) O

 

d.

Perlakuan VS Perlakuan dengan variasi

Kelompok perlakuan (XXX) mendapatkan intervensi yang lebih variatif dibandingkan kelompok kontrol (X). Perbedaan hasil

yang lebih variatif dibandingkan kelompok kontrol (X). Perbedaan hasil Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 28
yang lebih variatif dibandingkan kelompok kontrol (X). Perbedaan hasil Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 28

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

pengukuran (O) pada kedua kelompok dianggap sebagai akibat dari perlakuan.

Kel perlakuan

: (XXX)

O

Kel kontrol

: (X)

O

dari perlakuan. Kel perlakuan : (XXX) O Kel kontrol : (X) O Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen
dari perlakuan. Kel perlakuan : (XXX) O Kel kontrol : (X) O Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

BAB VIII DESAIN ESKPERIMEN KUASI DAN MURNI

1. Desain Eksperimen

DESAIN PRA EKSPERIMEN : Kegiatan penelitian sebenarnya belum dapat dilakukan karena beberapa hambatan yang dijumpai.

DESAIN EKSPERIMEN MURNI : dilakukan dengan randomisasi dan terdapat kelompok kontrol.

DESAIN EKSPERIMEN SEMU (KUASI) : dilakukan tanpa randomisasi namun msaih menggunakan kelompok kontrol.

2. Desain Eksperimen Kuasi

Disebut juga dengan eksperimen semu, merupakan eksperimen yang dilakukan tanpa randomisasi namun masih menggunakan kelompok kontrol.

Dilakukan karena pertimbangan praktis dan etis.

Bentuknya desain penelitian ulang non random, desain eksperimen seri, desain eksperimen seri ganda dan desain bergilir.

3. Desain Ekperimen Non Random (Non-Random Pretest-Posttes

Control Group Design)

Merupakan dilakukan dengan pretest sebelum perlakuan dan posttest setelah perlakuan, sekaligus pada kelompok perlakuan dan kontrol.

Skema :

nonR O1 (X) O2

nonR O3 (-) O4 Penentuan anggota sampel dipilih berdasarkan kelompok-kelompok yang sudah tersedia dengan perkiraan bahwa kedua kelompok homogen.

yang sudah tersedia dengan perkiraan bahwa kedua kelompok homogen. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 30
yang sudah tersedia dengan perkiraan bahwa kedua kelompok homogen. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 30

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

4. Desain Eksperimen Seri (Equivalent Time Sample Design)

Merupakan desain ekperimen yang dilakukan berdasarkan satu seri (beberapa) pengukuran variabel tergantung terhadap suatu kelompok subyek, yaitu O1, O2 dan O3 kemudian terhadap suatu kelompok tersebut dikenakan perlakuan. Selanjutnya dilakukan satu seri pengukuran ulang yaitu O4, O5 dan O6.

Skema :

nonR O1 O2 O3 (X) O4 O5 O6

Subyek perlakuan sekaligus sebagai kontrol.

Pengukuran ganda yang diberikan tersebut untuk mencegah terjadinya invaliditas karena faktor kematangan, pengujian, regresi statistik,

Kelemahan : terletak pada faktor historis, instrumentrasi, interaksi uji bukan pada perlakuan.

5. Desain Eksperimental Seri Ganda (Control Group Time Series

Experimental)

Pengembangan desain eksperimen seri dengan melibatkan kelompok kontrol. nonR O1 O2 O3 (X) O4 O5 O6 nonR O7 O8 O9 (-) O10 O11 O12

Cukup adekuat dalam mengendalikan sumber-sumber invaliditas.

Yang sulit dikendalikan : interaksi pretes dengan perlakuan, seleksi dengan perlakuan.

dikendalikan : interaksi pretes dengan perlakuan, seleksi dengan perlakuan. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 31
dikendalikan : interaksi pretes dengan perlakuan, seleksi dengan perlakuan. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 31

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

6. Desain Ekperimen Bergilir (Counterbalance Design)

Merupakan desain yang menghendaki subje diuji coba pada semua perlakuan, tp dalam rangkaian yang berbeda hanya menggunakan posttest berdasarkan kelompok, waktu dan perlakuan.

Skema : nonR X1O X2O X3O X4O nonR X2O X4O X1O X3O nonR X3O X1O X4O X2O nonR X4O X3O X2O X1O

Kelemahan : perlakuan ganda memungkinkan adanya pencemaran dan perlakuan yang lain.

Desain ini menjadi baik bila perlakuan yang satu tidak mempengaruhi perlakuan yang lain.

7. Desain Eksperimen Sampel Seri

Merupakan desain yang memberikan perlakuan pada subjek secara tidak terus menerus. Skema : nonR(X1 O) (X0 O) (X1 O) (X0 O)

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan dengan menghitung rata-rata hsail perlakuan dibandingkan dengan rata- rata hasail observasi tanpa perlakuan.

8. Desain Ekperimen Murni (True experimental design)

Merupakan desain eksperimen yang paling ideal untuk mempelajari mekanisme hubungan sebab akibat.

Ciri khas : pengelompokan subjek dilakukan dengan teknik random yang terdistribusi pada kelompok perlakuan dan kontrol.

dengan teknik random yang terdistribusi pada kelompok perlakuan dan kontrol. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 32
dengan teknik random yang terdistribusi pada kelompok perlakuan dan kontrol. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 32

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

9. Desain Eksperimen Sederhana

Disebut sebagai postttest only control group design. Merupakan

desin yang paling sederhana tp cukup kuat.

Skema : R (X) O1

R (-) O2

Uji statistik menggunakan uji-t atau anava

10. Desain Eksperimen Ulang

Pretest-Posttest Control Group Design. Merupakan desain

eksperimen yang dilakukan dengan melakukan pengukuran awal

sebelum perlakuan diberikan dan setelah perlakuan pada

kelompok eksperimen dan kontrol.

Skema :

(M) R O1 (X) O2 (M) R O3 (-) O4 O1 R (M) (X) O2 O3 R (M) (-) O4

Anava atau anakova (untuk perluasan)

11. Desain Eksperimen Solomon

Solomon four group design. Merupkan pengembangan dari dua

desain eksperimen sebelumnya.

Subjek dibagi menjadi 4 kelompok secara random. Kelompok

pertama dan kedua dilakukan uji awal, kelompok ketiga dan

keempat tidak diuji awal.

Skema :

R O1 (X) O2

R O3 (-) O4

R

(X) O5

R

(-) O6

Skema : R O1 (X) O2 R O3 (-) O4 R (X) O5 R (-) O6
Skema : R O1 (X) O2 R O3 (-) O4 R (X) O5 R (-) O6

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

BAB IX

ETIKA PENELITIAN

1. Definisi

Etika Penelitian adalah sejumlah petunjuk untuk membantu eksperimenter dalam membuat keputusan-keputusan yang sulit. Bidang etika dapat dibagi dalam tiga area dalam ilmu sosial, yaitu :

a.

Hubungan antara masyarakat dan pengetahuan : seharusnya adat dan nilai-nilai yang terdapat di masyarakat dapat mengarahkan investigasi ilmu yang dilakukan. Secara tradisional, ilmu pengetahuan mencoba mengungkap hukum-hukum alami di masyarakat yang diasumsikan bahwa seorang ilmuwan menguji gejala yang ada dengan cara berpikir objefktif dan tidak menimbulkan bias.

b.

Isu

profesional

bahwa

seorang

ilmuwan

seharusnya

objektif,

akurat dan jujur dalam melaporkan hasil penelitiannya.

c.

Perlakuan terhadap subjek adalah etika yang berkaitan dengan pelaksanaan penelitian yang melibatkan manusia akan memberikan dampak secara fisik maupun psikologis. Untuk itu diperlukan sejumlah prinsip yang tidak merugikan subjek penelitian.

2. Prinsp-prinsip Etika

American Psychological Association (APA) telah menyusun suatu standar yang dapat dijadikan acuan para psikolog dan peneliti ketika melakukan penelitian yang melibatkan manusia (Hadi,dkk., 2008). Adapun prinsip tersebut adalah sebagai berikut :

manusia (Hadi,dkk., 2008). Adapun prinsip tersebut adalah sebagai berikut : Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 34
manusia (Hadi,dkk., 2008). Adapun prinsip tersebut adalah sebagai berikut : Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 34

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

a. Seorang peneliti bertanggung jawab mengevaluasi penelitiannya untuk tetap mengikuti prinsip-prinsip etika penelitian.

b. Seorang peneliti harus menimbang antara resiko yang akan dialami subjek penelitian dengan hasil penelitian yang diperoleh.

c. Tanggung jawab terakhir pengambilan keputusan dilakukannya penelitian sepenuhnya berada pada seorang peneliti, meskipun peneliti sudah mendapatkan banyak saran dari berbagai sumber.

d. Seorang peneliti memiliki tanggung jawab etis untuk menginformasikan pada partisipan mengenai kewajiban dan tanggung jawabnya, mengenai semua aspek penelitian yang mungkin mempengaruhi motivasi untuk terlibat dan menjawab semua pertanyaan yang berkaitan dengan penelitian.

e. Seeorang peneliti wajib tidak menyembunyikan informasi bila terdapat prosedur alternatif yang akan dipergunakan untuk keperluan ilmu pengetahuan, pendidikan atau penerapan nilai dalam penelitian.

f. Seorang peneliti harus menghormati kebebasan individu untuk terlibat atau menarik diri dari keikutsertaa dalam penelitian.

g. Seorang peneliti wajib menjaga kenyamanan psikologis maupun fisik dari partisipan

h. Seorang peneliti berkewajiban memberikan informasi pada partisipan mengenai studi yang dilakukan dan berusaha menghindarkan salah pengertian yang mungkin terjadi.

i. Jika penelitian menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan bagi individu yang terlibat dalam penelitian, maka peneliti

tidak diinginkan bagi individu yang terlibat dalam penelitian, maka peneliti Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 35
tidak diinginkan bagi individu yang terlibat dalam penelitian, maka peneliti Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 35

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

bertanggung jawab untuk mendeteksi dan menghilangkan atau mengatasi konsekuensi tersebut termasuk efek-efek jangka panjang.

j. Seorang peneliti harus menjaga kerahasiaan informasi berkenaan dengan partisipan yang diperoleh selama penelitian, kecuali orang lain yang memiliki kemungkinan untuk mengetahui infomasi tersebut seijin dari partisipan dan harus dijelaskan sebagai bagian dari prosedur penelitian.

Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) juga memiliki aturan

mengenai penelitian yang tercantuk dalam Kode Etik Psikologi Indonesia

yaitu Bab IX tentang penelitian dan publikasi.

Pasal 45 Pedoman Umum Penelitian adalah suatu rangkaian proses secara sistematis berdasar pengetahuan yang bertujuan memperoleh fakta dan/atau menguji teori dan/atau menguji intervensi yang menggunakan metode ilmiah dengan cara mengumpulkan, mencatat dan menganalisis data.

(2) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dalam melaksanakan penelitian diawali dengan menyusun dan menuliskan rencana penelitian sedemikian rupa dalam proposal dan protokol penelitian sehingga dapat dipahami oleh pihak-pihak lain yang berkepentingan. Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi membuat desain penelitian, melaksanakan, melaporkan hasilnya yang disusun sesuai dengan standar atau kompetensi ilmiah dan etika penelitian.

(1)

sesuai dengan standar atau kompetensi ilmiah dan etika penelitian. (1) Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 36
sesuai dengan standar atau kompetensi ilmiah dan etika penelitian. (1) Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 36

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

Pasal 46 Batasan Kewenangan dan Tanggung Jawab (1) Batasan kewenangan

a) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi memahami batasan kemampuan dan kewenangan masing-masing anggota Tim yang terlibat dalam penelitian tersebut.

b) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dapat berkonsultasi dengan pihak-pihak yang lebih ahli di bidang penelitian yang sedang dilakukan sebagai bagian dari proses implementasi penelitian. Konsultasi yang dimaksud dapat meliputi yang berkaitan dengan kompetensi dan kewenangan misalnya badan-badan resmi pemerintah dan swasta, organisasi profesi lain, komite khusus, kelompok sejawat, kelompok seminat, atau melalui mekanisme lain. (2) Tanggung jawab

a) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi bertanggungjawab atas pelaksanaan dan hasil penelitian yang dilakukan.

b) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi memberi perlindungan terhadap hak dan kesejahteraan partisipan penelitian atau pihak- pihak lain terkait, termasuk kesejahteraan hewan yang digunakan dalam penelitian.

Pasal 47 Aturan dan Izin Penelitian (1) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi harus memenuhi aturan profesional dan ketentuan yang berlaku, baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan penulisan publikasi penelitian. Dalam hal ini termasuk izin penelitian dari instansi terkait dan dari pemangku wewenang dari wilayah dan badan setempat yang menjadi lokasi.

dari pemangku wewenang dari wilayah dan badan setempat yang menjadi lokasi. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 37
dari pemangku wewenang dari wilayah dan badan setempat yang menjadi lokasi. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 37

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

(2) Jika persetujuan lembaga, komite riset atau instansi lain terkait dibutuhkan, Psikolog dan/ atau Ilmuwan Psikologi harus memberikan informasi akurat mengenai rancangan penelitian sesuai dengan protokol penelitian dan memulai penelitian setelah memperoleh persetujuan.

Pasal 48 Partisipan Penelitian (1) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi mengambil langkah-langkah untuk melindungi perorangan atau kelompok yang akan menjadi partisipan penelitian dari konsekuensi yang tidak menyenangkan, baik dari keikutsertaan atau penarikan diri/pengunduran dari keikutsertaan. (2) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi berinteraksi dengan partisipan penelitian hanya di lokasi dan dalam hal-hal yang sesuai dengan rancangan penelitian, yang konsisten dengan perannya sebagai peneliti ilmiah. Pelanggaran terhadap hal ini dan adanya tindakan penyalahgunaan wewenang dapat dikenai butir pelanggaran seperti tercantum dalam pasal dan bagian-bagian lain dari Kode Etik ini (misalnya pelecehan seksual dan bentuk pelecehan lain). (3) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi harus memberi kesempatan adanya pilihan kegiatan lain kepada partisipan mahasiswa, peserta pendidikan, anak buah/bawahan, orang yang sedang menjalani pemeriksaan psikologi bila ingin tidak terlibat/mengundurkan diri dari keikutsertaan dalam penelitian yang menjadi bagian dari suatu proses yang diwajibkan dan dapat dipergunakan untuk memperoleh kredit tambahan.

yang diwajibkan dan dapat dipergunakan untuk memperoleh kredit tambahan. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 38
yang diwajibkan dan dapat dipergunakan untuk memperoleh kredit tambahan. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 38

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

Pasal 49 Informed Consent dalam Penelitian Sebelum pengambilan data penelitian Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi menjelaskan pada calon partisipan penelitian dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan istilah-istilah yang dipahami masyarakat umum tentang penelitian yang akan dilakukan. Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi menjelaskan kepada calon partisipan asas kesediaan sebagai partisipan penelitian yang menyatakan bahwa keikutsertaan dalam penelitian yang dilakukan bersifat sukarela, sehingga memungkinkan pengunduran diri atau penolakan untuk terlibat. Partisipan harus menyatakan kesediaannya seperti yang dijelaskan pada pasal yang mengatur tentang itu. (1) Informed consent Penelitian Dalam rangka mendapat persetujuan dari calon partisipan, Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi menjelaskan proses penelitian. Secara lebih terinci informasi yang penting untuk disampaikan adalah:

a) Tujuan penelitian, jangka waktu dan prosedur, antisipasi dari keikutsertaan, yang bila diketahui mungkin dapat mempengaruhi kesediaan untuk berpartisipasi, seperti risiko yang mungkin timbul, ketidaknyamanan, atau efek sebaliknya; keuntungan yang mungkin diperoleh dari penelitian; hak untuk menarik diri dari keikutsertaan dan mengundurkan diri dari penelitian setelah penelitian dimulai, konsekuensi yang mungkin timbul dari penarikan dan pengunduran diri; keterbatasan kerahasiaan; insentif untuk partisipan; dan siapa yang dapat dihubungi untuk memperoleh informasi lebih lanjut.

dan siapa yang dapat dihubungi untuk memperoleh informasi lebih lanjut. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 39
dan siapa yang dapat dihubungi untuk memperoleh informasi lebih lanjut. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 39

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

b) Jika partisipan penelitian tidak dapat membuat persetujuan karena keterbatasan atau kondisi khusus, Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi melakukan upaya memberikan penjelasan dan mendapatkan persetujuan dari pihak berwenang yang mewakili partisipan, atau melakukan upaya lain seperti diatur oleh aturan yang berlaku.

c) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi yang mengadakan penelitian intervensi dan/atau eksperimen, di awal penelitian menjelaskan pada partisipan tentang perlakuan yang akan dilaksanakan; pelayanan yang tersedia bagi partisipan; alternatif penanganan yang tersedia apabila individu menarik diri selama proses penelitian; dan kompensasi atau biaya keuangan untuk berpartisipasi; termasuk pengembalian uang dan halhal lain terkait bila memang ada ketika menawarkan kesediaan partisipan dalam penelitian.

d) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi berusaha menghindari

penggunaan segala bentuk pemaksaan termasuk daya tarik yang berlebihan agar partisipan ikut serta dalam penelitian. Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi menjelaskan sifat dari penelitian tersebut, berikut risiko, kewajiban dan keterbatasannya. (2) Informed Consent Perekaman Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi sebelum merekam suara atau gambar untuk pengumpulan data harus memperoleh izin tertulis dari partisipan penelitian. Persetujuan tidak diperlukan bila perekaman murni untuk kepentingan observasi alamiah di tempat umum dan diantisipasi tidak akan berimplikasi teridentifikasi atau terancamnya kesejahteraan atau keselamatan partisipan penelitian atau pihak-pihak terkait. Bila pada suatu penelitian dibutuhkan perekaman tersembunyi, Psikolog dan/atau

pada suatu penelitian dibutuhkan perekaman tersembunyi, Psikolog dan/atau Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 40
pada suatu penelitian dibutuhkan perekaman tersembunyi, Psikolog dan/atau Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 40

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

Ilmuwan Psikologi melakukan perekaman dengan tetap meminimalkan risiko yang diantisipasi dapat terjadi pada partisipan, dan penjelasan mengenai kepentingan perekaman disampaikan dalam debriefing. (3) Pengabaian informed consent Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tidak harus meminta persetujuan partisipan penelitian, hanya jika penelitian melibatkan individu secara anonim atau dengan kata lain tidak melibatkan individu secara pribadi dan diasumsikan tidak ada risiko gangguan pada kesejahteraan atau keselamatan, serta bahaya- bahaya lain yang mungkin timbul pada partisipan penelitian atau pihak-pihak terkait. Penelitian yang tidak harus memerlukan persetujuan partisipan antara lain adalah:

a) penyebaran kuesioner anonim;

b) observasi alamiah;

c) penelitian arsip; yang ke semuanya tidak akan menempatkan

partisipan dalam resiko pemberian tanggung jawab hukum atas tindakan kriminal atau perdata, resiko keuangan, kepegawaian atau reputasi nama baik dan kerahasiaan. Pasal 50 Pengelabuan/Manipulasi dalam Penelitian (1) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tidak diperkenankan menipu atau menutupi informasi yang mungkin dapat mempengaruhi calon niat partisipan untuk ikut serta, seperti kemungkinan mengalami cedera fisik, rasa tidak menyenangkan, atau pengalaman emosional yang negatif. Penjelasan harus diberikan sedini mungkin agar calon partisipan dapat mengambil keputusan yang terbaik untuk terlibat atau tidak dalam penelitian.

mengambil keputusan yang terbaik untuk terlibat atau tidak dalam penelitian. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 41
mengambil keputusan yang terbaik untuk terlibat atau tidak dalam penelitian. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 41

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

(2) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi boleh melakukan penelitian dengan pengelabuan, teknik pengelabuan hanya dibenarkan bila ada alasan ilmiah, untuk tujuan pendidikan atau bila topik sangat penting untuk diteliti demi pengembangan ilmu, sementara cara lain yang efektif tidak tersedia. Bila pengelabuan terpaksa dilakukan, Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi menjelaskan bentuk-bentuk pengelabuan yang merupakan bagian dari keseluruhan rancangan penelitian pada partisipan sesegera mungkin; sehingga memungkinkan partisipan menarik data mereka, bila partisipan menarik diri atau tidak bersedia terlibat lebih jauh. Pasal 51 Penjelasan Singkat/Debriefing (1) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi memberikan penjelasan singkat segera setelah selesai pengambilan data penelitian, dalam bahasa yang sederhana dan istilah-istilah yang dipahami masyarakat pada umumnya, agar partisipan memperoleh informasi yang tepat tentang sifat, hasil, dan kesimpulan penelitian; agar Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dapat mengambil langkah tepat untuk meluruskan persepsi atau konsepsi keliru yang mungkin dimiliki partisipan. (2) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengurangi resiko atau bahaya jika nilai-nilai ilmiah dan kemanusiaan menuntut penundaan atau penahanan informasi tersebut. (3) Debriefing dalam penelitian dapat ditiadakan jika pada saat awal penelitian telah dilakukan penjelasan tentang sifat, hasil, dan kesimpulan penelitian; agar Psikolog dan/atau Ilmuwan

sifat, hasil, dan kesimpulan penelitian; agar Psikolog dan/atau Ilmuwan Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 42
sifat, hasil, dan kesimpulan penelitian; agar Psikolog dan/atau Ilmuwan Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 42

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

Psikologi dapat mengambil langkah tepat untuk meluruskan persepsi atau konsepsi keliru yang mungkin dimiliki partisipan. (4) Jika Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi menemukan bahwa prosedur penelitian telah mencelakai partisipan; Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi mengambil langkah tepat untuk meminimalkan bahaya.

Pasal 52 Penggunaan Hewan untuk Penelitian Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi memperhatikan peraturan Negara dan standar profesional apabila menggunakan hewan sebagai objek penelitian. Standar profesional yang dimaksud diantaranya bekerjasama atau berkonsultasi dengan ahli yang kompeten. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah:

(1) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi yang melakukan penelitian dengan hewan harus terlatih dan dapat memperlakukan hewan tersebut dengan baik, mengikuti prosedur yang berlaku, bertanggung jawab untuk memastikan kenyamanan, kesehatan dan perlakuan yang berperikemanusiaan terhadap hewan tersebut. Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi yang sedang melakukan penelitian dengan hewan perlu memastikan bahwa semua orang yang terlibat dalam penelitiannya telah menerima petunjuk mengenai metode penelitian, perawatan dan penanganan hewan yang digunakan, sebatas keperluan penelitian, dan sesuai perannya. Prosedur yang jelas diperlukan sebagai panduan untuk menangani seberapa jauh hewan 'boleh' disakiti dan terhindar dari perlakuan semena-mena. (2) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dapat menggunakan prosedur yang menyebabkan rasa sakit, stres dan penderitaan pada hewan,

prosedur yang menyebabkan rasa sakit, stres dan penderitaan pada hewan, Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 43
prosedur yang menyebabkan rasa sakit, stres dan penderitaan pada hewan, Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 43

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

hanya jika prosedur alternatif tidak memungkinkan dan tujuannya dibenarkan secara ilmiah atau oleh nilai-nilai pendidikan dan terapan. (3) Apabila dalam penelitian diperlukan pembedahan, Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi menjalankan prosedur bedah dengan pembiusan yang memadai dan mengikuti teknik-teknik untuk mencegah infeksi dan meminimalkan rasa sakit selama, dan setelah pembedahan. (4) Apabila nyawa hewan perlu diakhiri, Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi melaksanakannya dengan segera, dengan usaha untuk meminimalkan rasa sakit dan sesuai dengan prosedur yang dapat diterima.

Pasal 53 Pelaporan dan Publikasi Hasil Penelitian Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi bersikap profesional, bijaksana, jujur dengan memperhatikan keterbatasan kompetensi dan kewenangan sesuai ketentuan yang berlaku dalam melakuan pelaporan/ pubikasi hasil penelitian. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari kekeliruan penafsiran serta menyesatkan masyarakat pengguna jasa layanan psikologi. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah:

(1) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tidak merekayasa data atau melakukan langkahlangkah lain yang tidak bertanggungjawab (misal :

terkait pengelabuan, plagiarisme dll). (2) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi jika menemukan kesalahan yang signifikan pada data yang dipublikasikan, mereka mengambil langkah untuk mengoreksi kesalahan tersebut dalam sebuah pembetulan (correction), penarikan kembali (retraction), catatan kesalahan tulis atau cetak (erratum) atau alat publikasi lain yang tepat.

kesalahan tulis atau cetak (erratum) atau alat publikasi lain yang tepat. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 44
kesalahan tulis atau cetak (erratum) atau alat publikasi lain yang tepat. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 44

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

(3) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tidak menerbitkan atau mempublikasikan dalam bentuk original dari data yang pernah dipublikasikan sebelumnya. Ketentuan ini tidak termasuk data yang dipublikasi ulang jika disertai dengan penjelasan yang memadai. Pasal 54 Berbagi Data untuk Kepentingan Profesional (1) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tidak menyembunyikan data yang mendasari kesimpulannya setelah hasil penelitian diterbitkan. (2) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dapat memberikan data dari hasil penelitian yang telah dipublikasikan bila ada sejawat atau profesional lain yang memiliki kompetensi sama, dan memerlukannya sebagai data tambahan untuk menguatkan pembuktiannya melalui analisis ulang, atau memakai data tersebut sebagai landasan pekerjaannya. (3) Ketentuan pada ayat (2) tersebut tidak berlaku jika hak hukum individu yang menyangkut kepemilikan data melarang penyebarluasannya. Untuk kepentingan ini, sejawat atau profesional lain yang memerlukan data tersebut wajib mengajukan persetujuan tertulis sebelumnya. (4) Profesional/sejawat lain yang memerlukan data penelitian tersebut wajib melindungi kerahasiaan partisipan penelitian, dan memperhatikan hak legal pemilik data. (5) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dapat meminta sejawat atau profesional lain yang memerlukan data tersebut untuk ikut bertanggung jawab atas biaya terkait dengan penyediaan informasi.

untuk ikut bertanggung jawab atas biaya terkait dengan penyediaan informasi. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 45
untuk ikut bertanggung jawab atas biaya terkait dengan penyediaan informasi. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 45

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

Pasal 55 Penghargaan dan Pemanfaatan Karya Cipta Pihak Lain (1) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi wajib menghargai karya cipta pihak lain sesuai dengan undang-undang, peraturan dan kaidah ilmiah yang berlaku umum. Karya cipta yang dimaksud dapat berbentuk penelitian, buku teks, alat tes atau bentuk lainnya harus dihargai dan dalam pemanfaatannya memperhatikan ketentuan perundangan mengenai hak cipta atau hak intelektual yang berlaku. (2) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tidak dibenarkan melakukan plagiarisme dalam berbagai bentuknya, seperti mengutip, menyadur, atau menggunakan hasil karya orang lain tanpa mencantumkan sumbernya secara jelas dan lengkap. Penyajian sebagian atau keseluruhan elemen substansial dari pekerjaan orang lain tidak dapat diklaim sebagai miliknya, termasuk bila pekerjaan atau sumber data lain itu sesekali disebutkan sebagai sumber. (3) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tidak dibenarkan menggandakan, memodifikasi, memproduksi, menggunakan baik sebagian maupun seluruh karya orang lain tanpa mendapatkan izin dari pemegang hak cipta. (4) Kredit publikasi yang diperoleh Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi harus dapat dipertanggungjawabkan, dan benar-benar mencerminkan kontribusi ilmiah atau profesional yang telah dilakukan atau di mana mereka ikut berpartisipasi. Kepemilikan atas posisi struktural institusional, misalnya kepala bagian atau pemimpin lembaga,

struktural institusional, misalnya kepala bagian atau pemimpin lembaga, Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 46
struktural institusional, misalnya kepala bagian atau pemimpin lembaga, Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 46

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

tidak membenarkan pencantuman nama yang bersangkutan bila ia memang tidak berkontribusi nyata dalam penelitian atau penulisan. (5) Kontribusi minor dalam penelitian dan penulisan yang dipublikasikan harus diakui dengan benar, hingga pada catatan kaki dan kata pengantar. Mahasiswa atau orang yang dibimbing tetap harus didaftar sebagai penulis atau anggota tim penulis bila publikasi tersebut merupakan karyanya. Artikel yang secara substansial disusun berdasarkan skripsi, tesis dan/atau disertasi mahasiswa tetap harus mencantumkan nama mahasiswa tersebut.

disertasi mahasiswa tetap harus mencantumkan nama mahasiswa tersebut. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 47
disertasi mahasiswa tetap harus mencantumkan nama mahasiswa tersebut. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 47

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

BAB X

PEDOMAN PRAKTIKUM

Penelitian yang dikembangkan untuk mempelajari fenomena dalam kerangka hubungan sebab akibat yang dilakukan dengan memberikan perlakuan oleh peneliti kepada subjek penelitian untuk kemudian dipelajari/diobservasi efek perlakuan tersebut dengan mengendalikan variabel yang dikehendaki ( Latipun, 2006). Supardi (2007) menjelaskan bahwa penelitian eksperimen (Experimental Research) kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/tindakan/treatment pendidikan terhadap tingkah laku siswa ata menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu eksperimen dimaksudkan untuk menilai/membuktikan pengaruh perlakuan pendidikan (pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi belajar matematika pada siswa SMU atau untuk menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak terbatas pada mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan tetapi juga ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan

ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 48
ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 48

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda.

A. Tujuan Praktikum Setelah melakukan praktikum diharapkan mahasiswa dapat

menerapkan metode-metode dalam merancang dan melaksanakan

penelitian eksperimen.

B. Manfaat Praktikum

Kegiatan praktikum ini dilakukan agar mahasiswa mempunyai

pengalaman dalam melakukan penelitian eksperimen

C. Tata Tertib Bagi Peserta Praktikum I

1. Mahasiswa harus menjaga nama baik universitas dengan

berperilaku sopan serta mentaati aturan-aturan yang ada di

perusahaan tempat praktek dilakukan.

2. Mahasiswa harus mengenakan pakaian yang sopan dan rapi saat

melaksanakan eksperimen di lapangan.

3. Menyiapkan kebutuhan administrattif secara mandiri.

4. Memperlakukan subyej dengan baik, sehingga yang bersangkutan

merasa nyaman dan mau bekerjasama dengan pelaksana

praktikum.

5. Mengumpulkan hasil eksperimen tepat waktu.

D. Prosedur Pelaksanaan

1. Mahasiswa membentuk kelompok yang terdiri dari minimal 4

orang,

2. Menentukan populasi yang akan dikenai eksperimen sesuai

dengan karakteristik yang telah ditentukan

akan dikenai eksperimen sesuai dengan karakteristik yang telah ditentukan Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 49
akan dikenai eksperimen sesuai dengan karakteristik yang telah ditentukan Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 49

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

3. Mahasiswa menghubungi pihak yang akan dituju dengan membawa surat permohonan dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember yang berisi tujuan untuk melakukan eksperimen. Surat permohonan dapat diperoleh di bagian pengajaran Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember dan surat tersebut dibuat atas sepengetahuan dari Dekan.

4. Setelah memperoleh persetujuan dari pihak yang dituju, mahasiswa dapat memulai pelaksanaan eksperimen sesuai waktu yang telah disepakati antara pihak yang dituju dan mahasiswa.

5. Mahasiswa melaporkan kemajuan eksperimen pada setiap pertemuan perkuliahan.

6. Setelah proses pengambilan data selesai, mahasiswa mulai menyusun laporan analisa jabatan. Masing-masing mahasiswa melaporkan hasil eksperimen.

E. Format Laporan

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.2. Rumusan Masalah

1.3. Tujuan dan Manfaat

BAB II. LANDASAN TEORI

1.1. VARIABEL Y

1.2. VARIABEL X

1.3. DINAMIKAN VARIABEL X DAN Y

1.4. HIPOTESIS

VARIABEL Y 1.2. VARIABEL X 1.3. DINAMIKAN VARIABEL X DAN Y 1.4. HIPOTESIS Modul Pembelajaran Psikologi
VARIABEL Y 1.2. VARIABEL X 1.3. DINAMIKAN VARIABEL X DAN Y 1.4. HIPOTESIS Modul Pembelajaran Psikologi

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

BAB III. METODE PENELITIAN

1.1. VARIABEL PENELITIAN

1.2. POPULASI DAN SAMPLING

1.3. DESIGN PENELITIAN

1.4. ANALISIS DATA

BAB IV. PELAKSANAAN PENELITIAN

1.1. LOKASI PENELITIAN

1.2. DESKRIPSI SUBYEK PENELITIAN

1.3. PROSES PENELITIAN

1.4. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

PENELITIAN 1.4. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 51
PENELITIAN 1.4. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 51

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember

Daftar Pustaka

Hadi, Cholichul. dkk., 2008. Psikologi Eksperimen. Unit Penelitian dan Penerbitan Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Hadi

,Sutrisno.

2004.

Metodologi

Research.

Jilid

1.

Penerbit

Andi.

Yogyakarta.

 

HIMPSI.,

 

Kode

Etik

Psikologi.,

http://himpsi.web.id.42421.masterweb.net/kode_etik.php.

Latipun. 2006. Psikologi Eksperimen. Edisi Kedua. Cetakan Ketiga. UMM Press. Malang

Supardi, 2007. Penelitian Eksperiman dalam Bidang Pendidikan.

Weiten, Wayne. 1992. Psychology : Themes and Variations. 2 nd edition. Brooks/Cole Publishing Company. Pasific Grove California.

2 n d edition. Brooks/Cole Publishing Company. Pasific Grove California. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 52
2 n d edition. Brooks/Cole Publishing Company. Pasific Grove California. Modul Pembelajaran Psikologi Eksperimen 52