Anda di halaman 1dari 58

Dasar-Dasar Geologi

BAB I GEOLOGI
1.1. Pengertian Geologi Secara Etimologis Geologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Geo yang artinya bumi dan Logos yang artinya ilmu, Jadi Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi. Secara umum Geologi adalah ilmu yang mempelajari planet Bumi, termasuk Komposisi, keterbentukan, dan sejarahnya. Karena Bumi tersusun oleh batuan, pengetahuan mengenai komposisi, pembentukan, dan sejarahnya merupakan hal utama dalam memahami sejarah bumi. Dengan kata lain batuan merupakan objek utama yang dipelajari dalam geologi. 1.2. Ruang Lingkup Geologi Secara keseluruhan bumi ini terdiri dari beberapa lapisan yaitu : 1. Atmosfer, yaitu lapisan udara yang menyelubungi Bumi 2. Hidrosfer, yaitu lapisan air yang berada di permukaan Bumi 3. Biosfer, yaitu Lapisan tempat makhluk hidup 4. Lithosfer, yaitu lapisan batuan penyusun Bumi Ruang lingkup pembelajaran geologi yaitu lithosfer yang merupakan lapisan batuan penyusun bumi dari permukaan sampai inti bumi. Geologi juga mempelajari benda-benda luar angkasa, dan bukan tak mugkin suatu saat nanti kita dapat mengetahui keadaan geologi bulan atau planet lainnya misalnya Cabang-cabang ilmu geologi : Kajian geologi memiliki ruang lingkup yang luas, di dalamnya terdapat kajian-kajian yang kemudian berkembang menjadi ilmu yang berdiri sendiri walaupun sebenarnya ilmu-ilmu tersebut tidak dapat dipisahkan dan saling menunjang satu sama lain. ilmu-ilmu tersebut yaitu : 1. Mineralogi, yaitu ilmu yang mempelajari mineral, berupa pendeskripsian mineral yang meliputi warna, kilap, goresan, belahan, pecahan dan sifat lainnya. 2. Petrologi, yaitu ilmu yang mempelajari batuan, didalamnya termasuk deskripsi, klasifikasi dan originnya. 3. Sedimentologi, yaitu ilmu yang mempelajari batuan sediment, meliputi deskripsi, klasifikasi dan proses pembentukan batuan sediment. 4. Stratigrafi, yaitu ilmu tentang urut-urutan perlapisan batuan, pemeriannya dan proses pembentukannya. 5. Geologi Struktur, adalah ilmu yang mempelajari arsitektur kerak bumi dan proses pembentukannya. 6. Palentologi, yaitu ilmu yang mempelajari aspek kehidupan masa lalu yang berupa fosil. Paleontology berguna untuk penentuan umur dan geologi sejarah.

Dasar-Dasar Geologi 7. Geomorfologi, yaitu ilmu yang mempelajari bentuk bentang alam dan proses-proses pembentukan bentang alam tersebut. Ilmu ini berguna dalam menentukan struktur geologi dan batuan penyusun suatu daerah. 8. Geologi Terapan, merupakan ilmu-ilmu yang dikembangkan dari geologi yang digunakan untuk kepentingan umat manusia, diantaranya Geologi Migas, Geologi Batubara, Geohidrologi, Geologi Teknik, Geofisila, Geothermal dan sebagainya.

Dasar-Dasar Geologi

BAB II KOMPAS GEOLOGI


2.1. Kompas Geologi dan Kegunaannya Bagian-bagian kompas geologi terdiri dari : Jarum Magnet Ujung jarum bagian utama selalu mengarah kekutub utara magnit bumi. Dalam hal ini arah utara sebenarnya harus dikoreksi terhadap deklinasi dan iklinasi yang harganya tergantung posisi kutub magnet bumi di daerah mana kompas tersebut tersebut digunakan. Lingkaran Pembagian Derajat Dikenal 2 macam jenis kompas yaitu kompas Azimut, dengan pembagian derajat dimulai 00 arah utara ( N ) sampai 3600, dan kompas Kwadran, dengan pembagian derajat dimulai 00 pada arah utara (N) dan selatan (S), sampai 90 0 pada arah timur (E) dan barat (W). Klinometer Yaitu bagian alat untuk mengukur besarnya kecondongan atau kemiringan. Pengatur horisontal (Level) Penunjuk arah (Sighting arm)

Gambar 2.1. Kompas geologi dan bagian-bagiannya

Dasar-Dasar Geologi 2.2. Cara Pembacaan dan Penulisan Dikenal dua jenis kompas, yaitu kompas Azimuth dan kompas Kwadran. Pada kompas Azimuth (pembagian lingkaran 3600 ), selalu dibaca jarum utara, dan kemudian diamati angka yang ditunjuknya. Biasanya jarum Utara dibedakan dengan jarum Selatan dengan diberi tanda putih atau merah pada ujungnya. Untuk menyatakan arah, dibaca : N 2300 E (Gambar, b) ( pembacaan selalu melalui arah E ) Pada kompas Kwadran (pembagian lingkaran kwadran ), dibaca jarum Utara, disebutkan angka yang ditunjuk, dan didalam kwadran mana jarum tersebut berada. Untuk menyatakan arah dibaca : N 450 W atau S 450 E (Gambar, a) ( Pembacaan dimulai dari N atau S )

Gambar 2.2. Jenis Kompas a. Kwadran b. Azimut

Dasar-Dasar Geologi 2.3. Cara Penggunaan Kompas Sebelum kompas digunakan di lapangan, hendaknya diperiksa terlebih dahulu apakah inklinasi dan deklinasi nya telah disesuaikan dengan keadaan tempat pekerjaan. Inklinasi Inklinasi adalah kecondongan jarum kompas yang disebabkan oleh perbedaan letak suatu daerah terhadap kutub bumi. Bila kompas tersebut dibuat disesuaikan dengan suatu tempat, dan akan digunakan ditempat lain yang cukup jauh dan berbeda posisinya maka jarum kompas kedudukkannya tidak horisontal. Untuk menanganinya, bisa digunakan beban (biasanya ada) yang bisa digeser sepanjang jarum kompas. Deklinasi Deklinasi adalah sudut yang dibentuk oleh arah Utara jarum kompas dan arah Utara sebenarnya (Utara Geografi). Karena jarum Utara kompas selalu menunjuk ke arah utara magnetik, dan kedudukan Utara magnetik tidak berimpit dengan Utara georafi, maka sudut yang dibentuk pada lokasi yang berlainan akan berbeda. Besaran deklinasi umumnya disebutkan pada peta dasar topografi. Untuk menyesuaikan agar kompas yang akan dipakai akan menunjukkan arah Utara sebenarnya, lingkaran derajat digeser dengan memutar ajusting srew sebesar deklinasi yang disebutkan. Contoh : Deklinasi di suatu daerah adalah 15 0 west. Artinya, Utara magnetik berada 150 sebelah Barat dari Utara sebenarnya. Dalam hal ini lingkaran derajat harus diputar, sehingga index akan menunjuk pada angka 150 Barat titik 00. a. Cara menentukan arah Yang dimaksud disini adalah arah yang dituju dari suatu titik ke titik yang lainnya. Untuk mendapatkan hasil pembacaan yang baik, dianjurkan mengikuti prosedur sebagai berikut : 1. Kompas dipegang dengan tangan kiri setinggi pinggang atau dada. 2. Kompas dibuat level dan dipertahankan demikian selama pengamatan. 3. Cermin diatur, terbuka kurang lebih 1350 menghadap ke depan dan sighting arm dibuka horisontal dengan peep sight ditegakkan. 4. Kompas diputar sedemikian rupa sehingga titik atau benda yang dimaksud tampak pada cermin dan berimpit dengan ujung sighting arm dan garis tengah pada cermin. 5. Baca jarum Utara kompas, setelah jarum tidak bergerak. Hasil bacaan adalah arah yang dimaksud.

Dasar-Dasar Geologi

Gambar 2.3. Menentukan Arah b. Cara mengukur besaran lereng Besar sudut suatu lereng dapat diukur dengan cara membaca klinometer. Pelaksanaannya adalah sebagai berikut : 1. Tutup kompas dibuka kurang lebih 450, sighting arm dibuka dan ujungnya ditekuk 900. 2. Kompas dipegang dengan tangan yang ditekuk dan pada posisi vertikal. 3. Melalui lubang peep sight dan sighting window dibidik titik yang dituju. Titik tersebut diusahakan mempunyai ketinggian yang sama dengan mata pembidik, dengan memutar kedudukkan kompas. 4. Klinometer kemudian diatur dengan jalan memutar pengatur yang ada dibagian belakang kompas, sehingga gelembung udara dalam clinometer level berada tepat ditengah. Pengamatan bisa diliat pada cermin. 5. Angka yang terbaca pada klinometer merupakan besaran lereng

Gambar 2.4. Cara Pembidikan besaran lereng

Dasar-Dasar Geologi c. Cara menentukkan ketinggian Cara mengukur lereng tersebut di atas, dapat juga dipakai untuk menentukkan beda tinggi antara titik tempat pembidikkan dan titik yang dibidik, dengan mengukur jaraknya. Pengukuran juga bisa dilakukan dengan tahapan ketinggian sampai batas pengamat. Dalam hal ini pembidikkan diarahkan horisontal (dengan mengukur klinometer pada 00 ), kemudian dilanjutkan lagi dimulai dari titik yang telah dibidik. Untuk mendapatkan hasil yang lebih teliti dalam pengukuran arah dan sudut lereng, dapat digunakan kaki tiga (Tripod) seperti pada Gambar 2.5

Gambar 2.5. Cara menentukan Ketinggian 7

Dasar-Dasar Geologi d. Cara pengukuran kedudukkan unsur struktur Di dalam mengukur kedudukkaan unsur struktur, dilakukan pengukuran arah dan besarnya kemiringan. Prinsip pembacaan sama dengan pada pengukuran arah dan sudut lereng. Untuk mengukur kedudukkan kedudukkan struktur bidang (perlapisan, kekar, sesar, dan sebagainya), dilakukan cara sebagai berikut : 1. Bagian sisi kompas (umumnya bagian E), ditempelkan pada bidang yang diukur. Pada waktu kedudukkan kompas horisontal (dengan mengukur kedudukkan gelembung udara di tengah), harga yang ditunjukkan jarum kompas adalah harga jurus (Strike) 2. Pengukuran kemiringan didapat dengan menempelkan bagian sisi kompas (umumnya bagian W), pada bidang dengan posisi tegak lurus jurus yang telah diukur. Klinometer diatur sehingga gelembung udara terletak di tengah. Harga yang terbaca merupakan besarnya kemiringan Pada beberapa kompas yang tidak dilengkapi level pada klinometer, besar kemiringan dibaca pada saat pengukuran. (Dip) 3. Untuk mengukur arah kemiringan, sisi bagian selatan (S) ditempelkan pada bidang yang diukur dan arahnya dibaca pada saat posisi kompas horisontal (Gambar 2.8 c) dan besarnya kemiringan diukur seperti cara b. Untuk mengukur kedudukkan garis (sumbu lipatan, lineasi mineral dan sebagainya), digunakan cara seperti pada c, dan besaran kemiringan seperti pada b.

Gambar 2.6. Cara menentukan unsur struktur

Dasar-Dasar Geologi

BAB III STRUKTUR BUMI


3.1. Kedudukan Bumi dalam jagat Raya Sampai saat ini bumi merupakan satu-satunya planet yang dapat mendukung kelangsungan hidup seluruh makhluk, diantara planet-planet anggota tata-surya lainnya. Oleh karenanya pengetahuan mengenai bumi dianggap sangat vital guna kelangsungan hidup penghuninya termasuk manusia. Bumi merupakan anggota tata-surya bersama 8 planet lainnya yang sama sama mengelilingi matahari dengan waktu tempuh yang berbeda-beda sesuai dengan jari-jari lintasannya. Bumi berjarak rata-rata 150 juta km terhadap Matahari dan mengelilingi Matahari selama 365 hari, yang dijadikan dasar system kalender. Anggota tata-surya secara lengkap secara berturut turut yaitu: Matahari sebagai pusat, Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto. Tata-surya merupakan bagian dari suatu galaksi yang dinamakan galaksi bima sakti (Milky Way). Diameter galaksi bima sakti sekitar 80.000-100.000 tahun cahaya. Di jagat raya ini masih banyak galaksi yang belum diketahui yang jaraknya kemungkinan bisa jutaan tahun cahaya. Dari data-data ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ruang lingkup ilmu kita masih sangat kecil bila dibandingkan dengan luasnya jagat raya. 3.2. Struktur dan Komposisi Bumi Berdasarkan gelombang seismic struktur internal bumi dapat dibedakan menjadi tiga komponen utama, yaitu inti (core), mantel (mantle) dan kerak (crust).

Gambar 3.1 Struktur Inti bumi (core)

Dasar-Dasar Geologi Dipusat bumi terdapat inti yang berkedalaman 2900-6371 km. Terbagi menjadi dua macam yaitu inti luar dan inti dalam. Inti luar berupa zat cair yang memiliki kedalaman 2900-5100 km dan inti dalam berupa zat padat yang berkedalaman 5100-6371 km. Inti luar dan inti dalam dipisahkan oleh Lehman Discontinuity. Dari data Geofisika material inti bumi memiliki berat jenis yang sama dengan berat jenis meteorit logam yang terdiri dari besi dan nikel. Atas dasar ini para ahli percaya bahwa inti bumi tersusun oleh senyawa besi dan nikel. Mantel bumi (mantle) Inti bumi dibungkus oleh mantel yang berkomposisi kaya magnesium. Inti dan mantel dibatasi oleh Gutenberg Discontinuity. Mantel bumi terbagi menjadi dua yaitu mantel atas yang bersifat plastis sampai semiplastis memiliki kedalaman sampai 400 km. Mantel bawah bersifat padat dan memiliki kedalaman sampai 2900 km. Mantel atas bagian atas yang mengalasi kerak bersifat padat dan bersama dengan kerak membentuk satu kesatuan yang dinamakan litosfer. Mantel atas bagian bawah yang bersifat plastis atau semiplastis disebut sebagi asthenosfer. Kerak bumi (crust) Kerak bumi merupakan bagian terluar lapisan bumi dan memiliki ketebalan 5-80 km. kerak dengan mantel dibatasi oleh Mohorovivic Discontinuity. Kerak bumi dominan tersusun oleh feldsfar dan mineral silikat lainnya. Kerak bumi dibedakan menjadi dua jenis yaitu : Kerak samudra, tersusun oleh mineral yang kaya akan Si, Fe, Mg yang disebut sima. Ketebalan kerak samudra berkisar antara 5-15 km (Condie, 1982)dengan berat jenis rata-rata 3 gm/cc. Kerak samudra biasanya disebut lapisan basaltis karena batuan penyusunnya terutama berkomposisi basalt. Kerak benua, tersusun oleh mineral yang kaya akan Si dan Al, oleh karenanya di sebut sial. Ketebalan kerak benua berkisar antara 30-80 km (Condie !982) rata-rata 35 km dengan berat jenis rata-rata sekitar 2,85 gm/cc. kerak benua biasanya disebut sebagai lapisan granitis karena batuan penyusunya terutama terdiri dari batuan yang berkomposisi granit.

10

Dasar-Dasar Geologi

Gambar 3.2. Susunan dari kerak bumi Disamping perbedaan ketebalan dan berat jenis, umur kerak benua biasanya lebih tua dari kerak samudra. Batuan kerak benua yang diketahui sekitar 200 juta tahun atau Jura. Umur ini sangat muda bila dibandingkan dengan kerak benua yang tertua yaitu sekitar 3800 juta tahun.

11

Dasar-Dasar Geologi

BAB IV TEORI TEKTONIK LEMPENG


4.1. Sejarah Teori Tektonik Lempeng 1. Continental drift (Wegener, 1912) 2. Convection current of mantle (Holmes, 1931) 3. Sea-floor mapping (Heezen, Tharp, Ewing, 1959-1965) 4. Sea-floor spreading (Dietz, Hess, 1961-1962) 5. Symmetric magnetic stripping across mid-oceanic ridge (Vine and Matthews, 1963) 6. Transform fault (Wilson, 1965) 7. Global seismic zones (Lynn and Sykes, 1968) 8. Global mountain belts (Dewey and Bird, 1970) 9. New Global Tectonic - Plate Tectonic Theory (late 1967-early 1970) 4.2. Lempeng (Plates) Telah dijelaskan sebelumnya bahwa bagian terluar dari lapisan bumi adalah kerak bumi yang terbagi menjadi kerak samudra dan kerak benua. Dibawah kerak terdapat lapisan yang disebut mantel, zona pemisah antara kerak dengan mantel disebut Mohorovivic discontinuity. Lapisan mantel atas bagian atas merupakan bagian yang padat, akan tetapi pada kedalaman sekitar 70-80 km terjadi penurunan kecepatan gelombang seismic (low velocity zone), hal ini membuktikan bahwa lapisan ini merupakan lapisan yang cair liat. Kerak bumi beserta mantel atas bagian atas yang padat menjadi satu kesatuan yang disebut litosfer, sedangkan lapisan cair liat dibawahnya disebut sebagai astenosfer. Litosfer tersebut mengapung diatas lapisan astenosfer dan terpotong potong menjadi beberapa keratan yang disebut lempeng (plates). Lempeng lempeng tersebut bergerak satu sama lain dengan kecepatan yang berbeda-beda dan terjadi interaksi yang menyebabkan terjadinya kejadian-kejadian geologi seperti pembentukan gunung api, gempa bumi, pembentukan struktur geologi, pembentukan batuan dan kejadian geologi lainnya. Walaupun kecepatan rata-rata lempeng tersebut hanya sekitar 7cm/tahun dan kita tidak bisa merasakannya, tetapi dengan waktu berjuta-juta tahun akan menyebabkan kejadian yang berarti seperti kejadian geologi yang disebutkan sebelumnya. Misalkan kecepatan lempeng 5cm/tahun dan waktunya 50 juta tahun maka lempeng tersebut akan bergerak sejauh 2500 km. Dalam kejadian-kejadian geologi waktu yang diperlukan cukup panjang yaitu dengan satuan juta tahun. waktu ini disusun dalam skala waktu geologi.

12

Dasar-Dasar Geologi

Gambar 4.1 Skala waktu geologi Contoh lempeng-lempeng yang besar diantaranya, lempeng Pasifik, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara, lempeng Amerika Selatan, Lempeng Indo Australia dan Lempeng Afrika.

13

Dasar-Dasar Geologi

Gambar 4.2 Lempeng-lempeng di Bumi Penyebab Gerakan Lempeng


Arus konveksi memindahkan panas melalui zat cair atau gas. Gambar poci kopi menunjukkan dua arus konveksi dalam zat cair. Perhatikan, air yang dekat dengan api akan naik, saat dingin di permukaan air kembali turun. Para ilmuwan menduga arus konveksi dalam selubung itulah yang membuat lempeng-lempeng bergerak. Karena suhu selubung amat panas, bagian-bagian di selubung bisa mengalir seperti cairan yang tipis. Lempeng-lempeng itu bergerak seperti ban berjalan berukuran besar.

Gambar 4.3. Ilustrasi pergerakan lempeng 14

Dasar-Dasar Geologi Batas lempeng Sudah disebutkan bahwa antara satu lempeng dengan lempeng lainnya yang berdampingan akan terjadi interaksi pada batas lempengnya, jenis interaksi yang terjadi yaitu : Batas Divergen Batas Divergen adalah batas dimana dua buah lempeng atau lebih saling menjauh, gaya yang bekerja pada batas ini adalah gaya tarikan (tensional). Hal ini mengakibatkan lempeng saling menjauh dan mengakibatkan naiknya magma dari astenosfer dan terjadilah pembentukan kerak baru dalam hal ini kerak samudra. Jika kejadian ini berlangsung tanpa adanya penunjaman kembali lempeng di sisi yang lain maka dapat dibayangkan bumi ini akan terus membesar. Contoh batas divergen yaitu Mid Atlantic Ridge.

Gambar 4.4. Gerakan Lempeng Batas Konvergen Batas Konvergen yaitu batas dimana dua buah lempeng saling mendekat, hal ini mengakibatkan terjadinya subduksi atau kolisi. Gaya yang timbul pada interaksi ini yaitu gaya kompresional. Subduksi Bila lempeng samudra dengan lempeng benua terjadi interaksi jenis ini maka lempeng samudra akan menunjam kebawah lempeng benua. Hal ini terjadi karena berat jenis dari lempeng samudra lebih berat dari lempeng benua sehingga lempeng benua seperti menunggangi lempeng samudra.. Hal inilah yang menyebabkan batuan di kerak benua umurnya lebih tua dari umur batuan di kerak samudra. Akibat kejadian ini akan terjadi kejadian kejadian geologi seperti pembentukan jalur gunung api pada kerak yang menunggangi dalam hal ini kerak benua, yang diakibatkan 15

Dasar-Dasar Geologi peleburan kerak samudra yang menunjam sehingga memicu pembentukan magma yang kemudian naik dan membentuk gunung api. Selain itu akan terjadi berbagai macam struktur geologi seperti sesar dan lipatan yang diakibatkan gaya kompresional dari interaksi tersebut. Contoh interaksi ini yaitu bagian Barat Sumatera dan Selatan Jawa. Bila lempeng samudra dengan lempeng samudra terjadi interaksi konvergen maka salah satu lempeng akan menunjam. Hal ini akan mengakibatkan pembentukan jalur kepulauan gunungapi (island arc) pada lempeng yang menunggangi. Contoh interaksi ini yaitu Kepulauan Jepang.

Gambar 4.5. Subdaksi Kolisi Apabila lempeng benua bertemu dengan lempeng benua maka lempeng tersebut tidak ada yang tertunjam karena keduanya sama-sama ringan, hal ini mengakibatkan pembentukan pegunungan lipatan yang biasanya sangat tinggi. Contoh yang paling nyata yaitu pegunungan himalaya yang diakibatkan interaksi antara lempeng Eurasia dengan India. Sesar Transform Yaitu batas antara lempeng yang saling berpapasan, biasanya batas ini terjadi karena batas konvergen yang tidak lurus.

16

Dasar-Dasar Geologi

BAB V BATUAN
5.1. Pengertian Batuan Batuan adalah agregat padat dari mineral, atau kumpulan yang terbentuk secara alami yang tersusun oleh butiran mineral, gelas, material organik yang terubah, atau kombinasi semua komponen tersebut. Mineral adalah zat padat anorganik yang mempunyai komposisi kimia tertentu dengan susunan atom yang teratur, yang terjadi tidak dengan perantara manusia dan tidak berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan, dan dibentuk oleh alam (Warsito Kusumoyudo, 1986). Kristal adalah zat padat yang mempunyai bentuk bangun yang beraturan yang terdiri dari atam-atom dengan susunan yang teratur. Berzelius mengklasifikasikan mineral menjadi 8 golongan, yaitu : 1. Elemen native, contohnya emas, perak, tembaga dan intan 2. Sulfida, contohnya Galena, pirit 3. Oksida dan Hidroksida, contohnya korondum 4. Halida, contohnya Halite 5. Karbonat, Nitrat, Borat, Lodat, contohnya Kalsit 6. Sulfat, Khromat, Molibdenat, dan Tungstat, contohnya Barit 7. Fosfat, Arenat dan Vanadat, contohnya Apatit 8. Silikat, contohnya kuarsa, Feldspar, Piroksen. Mineral memiliki sifat-sifat khusus yang dapat kita jadikan sebagai penciri mineral tertentu. Sifat-sifat mineral diantaranya : 1. Warna, 2. Goresan, 3. Kilap, 4. Belahan, 5. Pecahan 6. Kekerasan. Kekerasan Mineral 1. Talk 2. Gipsum 3. Kalsit 4. Fluorit 5. Apatit 6. Ortoklas 7. Kuarsa 8. Topas 9. Korondum 10. Intan

17

Dasar-Dasar Geologi 5.2. Pembagian Batuan Berdasarkan pembentukannya batuan dibedakan menjadi tiga yaitu batuan beku, sedimen, dan metamorf. Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari kristalisasi (pembekuan) magma. Batuan beku (Igneous Rock) adalah batuan yang terbentuk dari kristalisasi atau pembekuan dari magma. Pembekuan ini dapat berlangsung di permukaan atau jauh di bawah permukaan. Batuan sedimen terbentuk dibawah kondisi permukaan dan terdiri dari kumpulan (1) presipitasi kimia dan biokimia; (2) fragmen atau butiran batuan, mineral dan fosil; (3) kombinasi material-material tersebut. Batuan metamorf adalah batuan yang asalnya adalah batuan beku, sediment atau metamorf yang berubah secara mineralogy, tekstur atau keduanya tanpa mengalami peleburan yang diakibatkan oleh panas, tekanan, atau cairan kimia aktif. Panas dan tekanan disini berbeda dengan kondisi dipermukaan.

T : Tekanan S : Suhu W : Waktu

Gambar 5.1 Siklus Batuan

18

Dasar-Dasar Geologi 5.3. Penyebaran Batuan di Bumi Bumi adalah tubuh padat, kecuali pada inti luar, dan beberapa tempat yang relative kecil didalam mantel atas dan kerak, yang cair. Kebanyakan dari material yang padat merupakan batuan metamorf, ini dikarenakan batuan di inti dalam, mantel dan kerak telah terubah dikarenakan tekanan dan temperature yang tinggi. Magma yang terbentuk pada mantel atas naik ke level yang lebih tinggi didalam kerak dan mengalami kristalisasi. Batuan sediment terbentuk di permukaan atau dekat permukaan. Di daratan, batuan sediment menutupi sekitar 66 % dari total batuan yang tersingkap (Blatt dan Jones, 1975). Sisanya sekitar 34 % adalah batuan kristalin yang berupa batuan beku dan metamorf. Di bawah samudra kebanyakan ditutupi oleh material sediment atau batuan sediment yang tipis. Dibawah tutupan sediment, didominasi oleh batuan beku dan metamorf. 5.4. Batuan Beku 5.4.1. Pengertian Batuan Beku Batuan beku (Igneous Rock) adalah batuan yang terbentuk dari kristalisasi atau pembekuan dari magma. Pembekuan ini dapat berlangsung di permukaan atau jauh di bawah permukaan. Perbedaan tempat pembentukan ini pada ahirnya akan digunakan dalam klasifikasi dan mempengaruhi sifat-sifat batuan yang terbentuk.Batuan beku yang terbentuk di permukaan disebut batuan volkanik (ekstrusif) dan yang terbentu di jauh di bawah permukaan bumu disebut batuan plutonik (intrusif). 5.4.2 Magma dan Deret Bowen Magma adalah cairan silikat yang sangat panas, mengandung oksida, sulfide serta volatile. Volatile ini terutama terdiri dari CO2, Sulfur (S), Chlorine (Cl), Fluorine (F) dan Boron (B) yang dikeluarkan ketika magma membeku. Temperatur magma berkisar antara 6000 C ( magma asam) sampai 12500 C (magma basa), dimana kedua jenis magma ini merupakan induk batuan beku. Temperatur magma turun hingga mencapai titik jenuhnya, maka magma akan mulai mengkristal. Umumnya unsur-unsur yang sukar larut akan mengkristal terlebih dulu seperti apatit, zircon, ilmenit, magnetit, rutile, titanit, chromit. Sementara mineral yang mudah larut mengkristal kemudian dan terjebak di sekitar kristal yang terbentuk terlebih dahulu. Mineral utama pembentuk batuan juga mengalami hal yang serupa, yang mula-mula mengkristal dan selanjutnya yaitu olivin, piroksen, amfibol, dan selanjutnya seperti yang dikemukakan oleh Bowen (1922). Bowen menggambarkannya berupa chart yang disebut Deret Bowen (Bowens Series).

19

Dasar-Dasar Geologi

Gambar 5.2. Deret Bowen Urutan pembekuan magma berdasarkan temperaturnya dapat dibedakan menjadi beberapa tahap pembekuan yaitu : 1. Tahap Orthomagmatik, yaitu pembekuan magma yang pertama kali dengan temperatur > 8000C 2. Tahap Pegmatitik, yaitu pembekuan magma pada temperatur antara 6000C 8000C 3. Tahap Pneumatolitik, yaitu pembekuan magma pada temperatur antara 4000C 6000C serta kaya akan gas 4. Tahap Hydrothermal, yaitu pembekuan magama berkisar antara 1000C 4000C. Berupa larutan sisa yang kaya akan gas dan larutan/cairan. Dalam perjalanannya magma mengalami perubahan yang terdiri dari tiga proses utama, yaitu :

20

Dasar-Dasar Geologi 1. Differensiasi magma, yaitu suatu proses yang menyebabkan magma yang asalnya relatif homogen terpecah-pecah menjadi beberapa bagian atau fraksi dengan komposisi yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh migrasi ion atau molekul dalam larutan magma karena adanya perubahan temperatur dan tekanan. Ketika magma mengalami penurunan tekanan dan temperatur, maka mineral yang memiliki titik lebur yang tinggi mulai mengkristal, sedangkan cairan yang belum membeku akan terus naik dan akhirnya keseluruhan cairan magma itu membeku. 2. Assimilasi. Ketika magma naik menuju ke permukaan, magma tersebut tentunya melewati batuan samping, hal ini akan menyebabkan terjadinya interaksi antara magma dan batuan samping. Interaksi yang terjadi yaitu meleburnya batuan samping, terjadi reaksi dengan batuan samping dan pelarutan batuan samping, dengan demikian magma akan mengalami perubahan komposisi. Tingkat perubahan komposisi pada magma tergantung pada jenis magma, jenis batuan samping, dan jauh dekatnya jarak yang ditempuh oleh magma. 3. Pencampuran magma. Dalam perjalanannya magma dapat bertemu dengan magma dengan komposisi yang berbeda, hal ini tentunya akan merubah komposisi magma. Tubuh-tubuh batuan beku : 1. 2. 3. 4. Batholik (dapur magma) : Sumber magma primer yang tidak memiliki batas bawah Roof Pendent (atap dapur) Apophyse : Trobosan kecil seperti urat di Roof Pendent Lacolith : Struktur tubuh intrusi dimana bagian bawah datar dan bagian atas cembung, dijumpai diatas Batholit. 5. Lapolit : Kebalikan dari Lacolith. 6. Dike (Instrusi Discordant) : Instrusi yang memotong bidang perlapisan. 7. Sill (Instrusi Concordan) : Instrusi magma yang mengikuti bidang perlapisan 8. Stock : Merupakan instrusi discordant yang berukuran besar dekat dengan batholik. 9. Ekstrusi : Batuan beku yang membeku diluar baik dipermukaan atau dibawah permukaan laut. 10. Efusip : Hasil dari erupsi (letusan) berupa material yang membeku diudara 11. Vent : Mulut gunung api. 12. Vulkanic Dome : Suatu mulut api yang tersumbat akibat pembekuan magma.

21

Dasar-Dasar Geologi

10 11, 12

9 6

7 5 3

8 1 2

Gambar 5.3. Sketsa Tubuh-tubuh batuan beku 5.4.3 Pengolongan Batuan Beku Pengolongan batuan beku berdasarkan kepada tiga patokan utama, yaitu : 1. Berdasarkan Genetik Batuan 2. Berdasarkan senyawa kimia yang terkandung 3. Berdasarkan susunan mineraloginya Pengolongan batuan beku berdasarkan genetik (tempat terjadinya) 1. Batuan beku plutonik (batuan beku dalam) Adalah batuan beku yang terbentuk didalam bumi 2. Batuan beku gang (Hypoabisal/Hypoabisik) Adalah batuan beku yang terbentuk didalam gang (korok) 3. Batuan beku vulkanik (batuan beku luar) Adalah batuan beku yang terbentuk pada permukaan bumi atau dekat dengan permukaan bumi. Pengolongan berdasarkan senyawa kimia yang terkandung Penggolongan Batuan Beku berdasarkan Senyawa Kandungan Kimia SiO2 dapat dibagi empat golongan : 1. Batuan Beku Asam Apabila kandungan SiO2 66% Contoh : Granit, Rhyolit, Syenit 22

Dasar-Dasar Geologi 2. Batuan Beku Intermediate Apabila Kandungan SiO2 52% - 66% Contoh : Diorit, Andesit Batuan Beku Basa Apabila Kandungan SiO2 45% - 52% Contoh : Gabro, Basalt Batuan Beku Ultra Basa Apabila Kandungan SiO2 45% Contoh : Peridotit, Dunit

3.

4.

Penggolongan Batuan Beku berdasarkan Susunan Mineraloginya Dalam klasifikasi ini Index Warna akan menunjukkan perbandingan Mineral Mafic (Gelap) dengan Mineral Felsic (Terang). (S.J. Shand, 1943) membagi empat macam batuan : 1. Leococratic Rock Apabila mengandung 30 % mineral Mafic 2. Mesocratic Rock Apabila mengandung mineral mafic 30 % - 60 % 3. Melanocratic Rock Apabila mengandung mineral mafic 60 % - 90 % 4. Hipermelatic Rock Apabila mengandung mineral mafic 90 % Mineral Pembentuk Batuan (Rock Forming Minerals) - Olivin - Piroksin - Horblende - Orthoklas - Kwarsa - Plagioklas - Kalsit - Muscovit

KOMPOSISI MINERAL Menurut W.T .Huang, 1962, Komposisi Mineral dikelompokkan tiga kelompok mineral yaitu : A. Mineal Utama (Mineral Primer) Mineal Utama adalah : Mineral yang terbentuk langsung dari pembekuan magma . Dan kehadirannya sangat menentukan dalam penamaan batuan. Berdasarkan Warna dan Densitas dikelompokkan menjadi dua yaitu : 1. Mineral Felsic (Mineral terang, densitas rata rata 2,5 2,7) Contoh mineral felsic antara lain : - Kuarsa (SiO2) - Felspar terdiri dari : Felspar Alkali (K,Na) AlSi3O8 - Sanidin - Mikrolin - Anorthoklas - Orthoklas - Adularia 23

Dasar-Dasar Geologi : Plagioklas (Na, Ca) Al2Si2O8 - Albit -Anorthit - Oligoklas - Bitownit - Andesin - Labradorit - Feldspathoid (Na, K Alumina Silikat), terdiri dari : - Navelin - Sodalit - Leusit 2. Mineral Mafic (Gelap dan Densitas 3,0 3,6) yaitu : - Olivin (Mg, Fe)2 SiO4 Terdiri dari : - Fayalit - Forsterit - Piroksin (Ca, Mg, fe) SiO4 Terdiri dari : - Enstatit - Hiperstin - Augit - Diopsit - Pigionit - Mika K (Fe, Mg)3 (AlSi3O10) (OH)2 Terdiri dari : - Biotit - Muscovit - Plogopit - Amphibol NaCa2 (Mg, Fe)4 Al (Al2Si6O22) Terdiri dari : - Antholit - Cumingtonit - Horblende - Riberkit - Tremolit - Gluokopan B. Mineal Sekunder Mineral Sekunder adalah : Mineral yang terbentuk setelah proses pembentukkan magga. Atau merupakan mineral ubahan dari mineral utama, bisa dari hasil pelapukkan, reaksi hidrotermal, maupun hasil metamorfisme terhadap mineral utama, (Non Pirogenik) Mineral ini terdiri dari : - Kalsit (Ca, Mg, Fe) CO3 Hasil ubahan dari mineral plagioklas Terdiri dari : Kalsit, Dolomit, Siderit - Serpentin (Mg6Si4O10) (OH8) Hasil ubahan dari Mineral Mafic (Olivin, Piroksin) Terdiri dari : Antegorit, Krisotil - Klorit (Mg, Al (Si, Al) O10 (OH)8)

24

Dasar-Dasar Geologi Hasil ubahan dari mineral plagioklas Terdiri dari : Talk, Penin, Roklor. - Kaolin (AL 2 O3) (SiO2) H20 Hasil pelapukkan batuan beku C. Mineral Tambahan (Accesory Minerals) Mineral mineral yang terbentuk pada kristalisasi magma umumnya dalam jumlah sedikit, dan tidak berperan dalam penamaan batuan. Termasuk dalam golongan ini : Hemati, Kromit, Spene, Rutil, Zeolit, Apatit dan lain lain. 5.4.4. Struktur Batuan Beku Struktur batuan beku adalah : bentuk dalam skala besar, seperti lava bantal yang terbentuk di lingkungan air (laut), lava bongkah, struktur aliran dan lain-lainnya. Bentuk struktur sangat erat kaitannya dengan waktu pembentukannya, macam-macam struktur batuan beku adalah : 1. Masif, adalah struktur yang memperlihatkan masa batuan yang terlihat seragam. atau tidak menunjukan adanya suatu sifat aliran atau pragmen batuan lain yang tertanam. 2. Pillaw Lava atau lava bantal, struktur yang berbentuk seperti bantal, khas pada vulkanik bawah laut. 3. Join, dibagi menjadi Columnar Jointing, apabila kekar-kekar berbentuk seperti tiang-tiang. Ini terjadi akibat proses pendinginan, sehingga magma mengkerut dan terjadi gaya tarik kedalam mengakibatkan timbulnya bidang-bidang poligonal. Arah tiang-tiang itu tegak lurus kearah permukaan pendinginan. Sheeting Joint, Apabila kekear-kekar berbentuk seperti lembaran-lembaran. Terbentuk akibat hilangnya beban pada saat lava mengalir, memberikan kesan seperti lembaran-lembaran. Contoh di wates, yogya.

4. Vesikuler, Apabila struktur tersebut memperlihatkan lubang-lubang bekas keluarnya gas, (lubang-lubang teratur) 5. Skoria, merupakan struktur yang memperlihatkan lubang-lubang, namun arahnya tidak beraturan. 6. Amigdaloidal, juga berlubang-lubang tetapi lubang-lubang itu terisi mineralmineral sekunder. Contoh : Mineral Silika, karbonat. 7. Xenolit, struktur yang memperlihatkan fragmen batuan yang tertanam kedalam massa batuan. Ini akibat peleburan tidak sempurna dari batuan samping didalam magma yang mengintrusi. 8. Autobreccia, Struktur yang memperlihatkan adanya fragmen-fragmen lava yang tertanam pada lava.

25

Dasar-Dasar Geologi Tekstur Batuan Beku Magma merupakan larutan yang kompleks. Karena terjadi penurunan temperatur, perubahan tekanan dan perubahan dalam komposisi, larutan magma ini mengalami kristalisasi. Perbedaan kombinasi hal-hal tersebut pada saat pembekuan magma mengakibatkan terbentuknya batuan yang memilki tekstur yang berbeda. Ketika batuan beku membeku pada keadaan temperatur dan tekanan yang tinggi di bawah permukaan dengan waktu pembekuan cukup lama maka mineral-mineral penyusunya memiliki waktu untuk membentuk sistem kristal tertentu dengan ukuran mineral yang relatif besar. Sedangkan pada kondisi pembekuan dengan temperatur dan tekanan permukaan yang rendah, mineral-mineral penyusun batuan beku tidak sempat membentuk sistem kristal tertentu, sehingga terbentuklah gelas (obsidian) yang tidak memiliki sistem kristal, dan mineral yang terbentuk biasanya berukuran relatif kecil. Tekstur batuan beku adalah : Hubungan antara mineral penyusun batuan, atau hubungan antar mineral dengan massa gelas penyusun batuan. Tekstur sangat ditentukan oleh kecepatan dan orde kristalisasi. Kecepatan dan orde kristalisasi tergantung atas : temperatur, komposisi, kandungan gas, viskositas magma dan tekanan. Tekstur dapat digunakan merekonstruksi sejarah pembentukan batuan beku. Tekstur batuan menyangkut : Derajat Kristalisasi (degree of crystallinity) Ukuran Butir (grain size/granularitas) Kemas (febrik)

Derajat Kristalisasi Perbandingan antara kristal dengan gelas, dibagi atas tiga bagian : a. Holokristalin b. Hipokristalin c. Holohialin : apabila batuan tersusun semua oleh kristal : Apabila batuan tersusun oleh kristal dan gelas : Apabila batuan tersusun semua oleh gelas.

Ukuran Butir/Granularistas Merupakan ukuran butir dalam batuan beku, dibagi atas dua bagian : a. Afanitik : Ukuran butir kristal sangat halus tidak dapat dibedakan dengan mata telanjang, dibagi dua yaitu : Mikrokristalin : dapat dilihat dengan mikroskop Kriptokristalin : tidak dapat dilihat dengan mikroskop Halus : 1 mm Sedang : 1 mm 5 mm Kasar : 5 mm 30 mm Sangat Kasar : 30 mm

b. Fanerik : Ukuran butir kristal dapat dilihat atau dibedakan dengan mata, dibagi atas :

26

Dasar-Dasar Geologi Kemas (Febrik) Kemas meliputi Bentuk Butir dan Susunan Hubungan Antar Butir Kristal dalam suatu batuan. a. Bentuk Butir, ditinjau dari pandangan dua dimensi, dikenal ada tiga macam yaitu : - Euhedral : Bentuk kristal sempurna (teratur) - Subhedral : Bentuk kristal sebagian sempurna dans ebagian lagi tidak sempurna (gabungan) - Anhedral : Bemtuk Kristal tidak teratur (kacau)

Gambar 5.4. Bentuk butir dalam batuan beku b. Relasi (Hubungan antar butir), merupakan hubungan antar kristal satu dengan yang lain dalam suatu batuan, dibagi dalam 3 (tiga) kelompok yaitu : 1. Granular / Equigranular Apabila kristal memiliki ukuran yang hampir sama. Dibagi atas : Panadiomorfik Granular, yaitu sebagian besar kristal berukuran sama dan euhedral Hipidiomorfik Granular, yaitu sebagian besar kristal berukuran hampir sama dan subhedral Allotiomorfik Granular, yaitu sebagian besar kristal berukuran hampir sama dan anhedral. 2. Inequigranular (ukuran butir tidak sama) Dibagi atas : Porfiritik : kristal besar tertanam (fenikris) dalam masa dasar yang lebih halus Vitroferik : fenikris tertanam dalam masa dasar gelas. 27

Dasar-Dasar Geologi Porfiri Afatik : fenokris tertanam dalam masa dasar afanitik Felsoferik : fenokris tertanam dalam masa dasar dan berupa pertumbuhan bersama (intergrowth) antara felspar dengan kwarsa. 3. Tekstur Khusus. Tekstur ini hanya dapat dilihat secara megaskopis. Terbagi atas : Diabasik : plagioklas intergrowth dan piroksen. Plagioklas radier terhadap piroksen. Trakhitik : fenokris (berukuran mikro) menunjukkan pola sejajar. Intergranular : ruang antar kristal diisi oleh piroksen, olivin, bijih besi. Intersentral : ruang kristal antar plagioklas diisi masa gelas atau mineral sekunder. Ofitik : plagioklas intergrowth dengan piroksen, dan butir piroksen lebih besar. Hialopilitik : sama dengan trakhitik namun ruang antar plagioklas diisi masa gelas. Poikilitik : mineral besar diinklusi mineral yang kecil. Pertite : alkali felspar intergrowth dengan plagiokal alkali felspar lebih besar. Antipertite : sama dengan pertite tetapi plagioklas yang lebih besar. Grafik : alkali felspar intergrowth dengan kwarsa. Kwarsa runcing runcing. 5.5. Batuan Sedimen (Sedimentary Rock) Pengertian umum mengenai batuan sedimen adalah : batuan yang terbentuk akibat lithifikasi bahan rombakan batuan asal, maupun denudasi atau dari hasil reaksi kimia maupun hasil kegiatan organisme. Atau bisa juga dengan batuan yang tersusun dari agrerasi (mono, poly) dari detrial batuan lain yang sudah ada. Batuan sedimen banyak sekali jenisnya dan tersebar luas sekali dengan ketebalan dari beberapa cm hingga beberapa Km. Juga ukuran butirnya dari sangat halus hingga sangat besar dan beberapa proses yang penting lagi yang masuk ke dalam batuan sedimen. Komposisi batuan sedimen dari yang terbanyak sampai yang terkecil sebagai berikut : batu lempung 80 %, batu pasir 5 %, batu gamping (karbonat) 5 % dan lainnya 10 % termasuk di dalamnya anhidrit, phosfat, batubara dan lain lain. 5.5.1. Penggolongan dan Penamaan Berbagai penggolongan dan penamaan batuan sedimen telah dikemukakan oleh para ahli, baik berdasarkan genetic maupun diskriptif. Secara genetic dapat dibagi dua : a. Batuan Sedimen Klastik Batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan kembali pengendapan kembali detritus atau pecahan batuan asal.Batuan asal dapat berupa batuan beku, batuan metamorf atau batuan sedimen. Fragmentasi batuan asal bermula dari pelapukan mekanis (disintegrasi)

28

Dasar-Dasar Geologi maupun secara kimiawi (dekomposisi) kemudian tertransportasi ke suatu cekungan pengendapan. Setelah pengendapan berlangsung sedimen mulai mengalami diagnesa, yakni proses perubahan perubahan yang berlangsung pada suhu yang rendah di dalam suatu sedimen, selama dan sesudah lithifikasi terjadi. Lithifikasi ini yang mengubah suatu sedimen menjadi batuan keras. (W.T.Huang, 1962) Proses diagnesa antara lain : Kompaksi sedimen ; yakni termampatnya butir sedimen satu terhadap yang lain akibat tekanan dari beban di atasnya. Disini volume sedimen berkurang dan hubungan antar butir yang satu dengan yang lain menjadi rapat. Sementasi ; yakni turunnya material material di ruang antar butir sedimen dan secara kimiawi, mengikat butir butir sedimen satu dengan yang lain. Sementasi makin efektif bila derajat kelurisan larutan (permeabilitas relatif) pada ruang antar butir makin besar. Rekristalisasi ; yakni pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan kimia yang berasal dari pelarutan material sedimen selama diagnesa atau jauh sebelumnya. Rekristalisasi sangat umum terjadi pembentukkan batuan karbonat. Antigenesis ; yakni terbentuknya mineral baru di lingkungan diaknetik, sehingga adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dalam suatu sedimen. Mineral autigenik ini yang umum diketahui sebagai berikut : karbonat, silika, klorit, illit, gipsum dan lain lain. Metasomatisme ; yakni pergantian mineral autigenik, tanpa pengurangan volume asal. Contohnya : dolomitisasi, sehingga dapat merusak bentuk suatu batuan karbonat atau fosil. b. Batuan Sedimen Non - Klastik Batuan sedimen yang terbentuk dari hasil reaksi kimia atau bisa juga dari hasil kegiatan organisme. Reaksi kimia yang dimaksud adalah : kristalisasi langsung atau reaksi oranik (penggaraman unsur unsur laut, pertumbuhan kristal dari agrerat kristal yang yang teresipitasi dan reflacement). Lihat juga klasifikasi deskriptif oleh Pettijohn, 1975, Folk 1954, Shefard, 1954. Penggolongan lain oleh R.P. Koesoemadinata, 1980, mengemukakan ada enam golongan utama batuan sedimen, yaitu : 1. Golongan Detritus Kasar. Batuan ini diendapkan dengan proses mekanis, termasuk dalam golongan ini antara lain : breksi, konglomerat, dan batu pasir. Lingkungan tempat pengendapan batuan ini dapat di lingkungan sungai, danau atau laut. 2. Golongan Detritus Halus Batuan yang termasuk dalam golongan ini pada umumnya diendapkan pada lingkungan laut, dari laut dangkal sampai laut dalam. Termasuk batuan ini antara lain : batu lanau, serpih, batu lempung dan napal.

29

Dasar-Dasar Geologi 3. Golongan Karhonat. Batuan ini umum sekali terbentuk di kumpulan cangkang molusca, algae, foraminifera, atau lainnya yang bercangkang kapur. Jenis batuan karbonat ini banyak sekali jenisnya terantung dari material penyusunnya, misal : batu gamping terumbu. 4. Golongan Evaporit Pada umumnya batuan ini terbentuk di lingkungan danau atau laut yang tertutup, dan untuk terjadinya batuan ini harus ada air yang memiliki larutan kimia yang cukup pekat. Yang termasuk golongan ini : Gipsum, Anhidrit, Batugaram. 5. Golongan Batubara Batuan ini termasuk dari unsur unsur organik tumbuh tumbuhan, dimana sewaktu tumbuh tumbuhan itu mati dengan cepat tertimbun oleh suatu lapisan yang tebal di atasnya sehingga tidak memungkinkan terjadinya pelapukkan. Lingkungan yang memungkinkan terjadinya batu bara sangat khusus sekali. Perbedaan batuan sedimen klastik dengan sedimen non klastik Sedimen Klastik Terjadi dari hasil hancuran batuan lain yang sudah ada terlebih dahulu Tekstur klastik Berasal dari pelapukkan batuan asal Ukuran butir bisa seragam bisa juga tidak Terjadi transportasi Terjadi dari hasil reaksi kimia atau hasil biologi Tekstur non klastik Brasal dari koloid yang mengalami lithifikasi Ukuran butir seragam Tidak ada transportasi

Sedimen Non Klastik

5.5.2. Pemerian Batuan Sedimen Klastik 5.5.2.1 Tekstur Sedimen Klastik Ukuran Butir Nama Butir Bongkah (Boulder) Brangkal (Couble) Krakal (Pebble) Kerikil (Granule) Pasir Sangat Kasar (Very Double Sand) Pasir Kasar (Couble Sand) Besar Butir (mm) 256 256 - 64 64 - 4 4-2 21 1

30

Dasar-Dasar Geologi Pasir Sedang (Medium Sand) Pasir Halus (Fine Sand) Pemilahan ( Sorting) Pemilahan adalah : keseragaman dari ukuran besar butir penyusun batuan sedimen, artinya bila semakin seragam ukuran butirnya dan besar butirannya dan besar butirnya, maka pemilahan semakin baik. Dalam pemilahan dipakai batasan batasan : Pemilahan baik (well sorted) Pemilahan sedang ( moderate sorted) Pemilahan buruk ( poorly sorted) - - 1 /8

A = Pemilahan Baik B = Pemilahan Sedang C = Pemilahan Buruk Gambar 5.5. Derajat Pemilahan Batuan Sedimen Klastik Kebundaran (roundness) Kebundaran adalah : nilai membulat atau meruncingnya butiran dimana sifat ini hanya terdapat pada batuan sedimen. Kebundaran hanya dapat dilihat dari bentuk batuan yang terdapat dalam batuan tersebut. Tentunya terdapat banyak sekali variasi dari bentuk batuan, akan tetapi untuk mudahnya dipakai perbandingan sebagai berikut : Wellrounded (sangat membundar), semua permukaan konveksi hampir equidimensional, sferoidal. Rounded (membundar), pada umumnya permukaan bundar, ujung ujung dan tepi tepi butiran bundar. Subrounded (membundar tanggung), pada umumnya permukaan datar dengan ujung ujung yang membundar.

31

Dasar-Dasar Geologi Subangular (menyudut tanggung), permukaan pada umumnya datar dengan ujung ujung yang tajam. Angular (menyudut) permukaan konkaf dengan ujungnya tajam.

A B C D E

= = = = =

Sangat Membundar Membundar Membundar tanggung Menyudut tanggung Menyudut

Gambar 5.6. Derajat Kebundaran Batuan Sedimen Klastik 5.5.2.2. Struktur Batuan Sedimen Klastik Masif, bila tidak menunjukkan stuktur dalam (Pettijhon & Potter, 1964), atau ketebalan lebih dari 120 Cm (Mc. Kee & Weir, 1953) Pelapisan Sejajar, bidang perlapisan saling. Laminasi, perlapisan sejajar yang ukurannya / kebebalannya kurang dari 1 Cm. Terbentuk dari suspensi tanpa energi mekanis. Perlapisan pilihan, bila perlapisan disusun atas butiran yang berubah teratur dari halus ke kasar pada arah vertikal, terbentuk dari arus pekat. Perlapisan silang siur, perlapisan yang membentuk sudut terhadap lapisan di atasnya atau dibawahnya dan dipisahkan oleh bidang erosi, terbentuk akibat intensitas arus yang berubah ubah. Struktur pada bidang perlapisan Terbentuknya dapat oleh akibat pengerusan, pembebanan atau oleh penguapan. Macam macamnya ; Gelembung gelombang, terbentuknya sebagai akibat pergerakkan air atau angin. Rekah kerut, rekahan pada bidang perlapisan sebagai akibat proses penguapan. Cetak suling, cetakkan sebagai akibat penggerusan media terhadap batuan dasar. Cetak beban, cetakkan beban akibat pembebanan pada sedimen yang masih plastis.

32

Dasar-Dasar Geologi 5.5.2.3. Komposisi mineral Komposisi mineral dari batuan sedimen klastik dapat dibedakan sebagai berikut : 1. Fragmen Fragmen adalah : bagian butiran yang ukuran paling besar dan dapat berupa pecahan pecahan batuan, mineral dan cangkang cangkang fosil atau zat organik lainnya. 2. Matrik Matrik adalah : bagian butiran yang ukurannya lebih kecil dari fragmen dan terletak diantara fragmen dapat berupa batuan, mineral atau fosil. 3. Semen Semen adalah : semen bukan butir tetapi material pengisi rongga antar butir dan bahan pengikat antar fragmen dan matrik. Biasanya dalam bentuk amorf dan kristalin. Bahan bahan semen yang lazim adalah : Semen karbonat (kalsit, dolomit) Semen silika (kalsidon, kwarsa) Semen oksida besi (limonit, hematit, siderit)

Gambar 5.7. Komposisi Mineral Batuan Sedimen Klastik 5.5.3. Pemerian batuan sedimen non klastik 5.5.3.1. Tekstur non klastik Tekstur dibedakan menjadi dua : 1. Tekstur dari kristal kristal yang interlocking, yaitu : kristal kristalnya saling mengunci satu sama lain. 2. Tekstur Amorf terdiri dari mineral yang tidak membentuk kristal kristal atau amorf (non kristalin).

33

Dasar-Dasar Geologi 5.5.3.2. Struktur non Klastik Struktur batuan sedimen non klasik terbentuk dari proses reaksi kimia ataupun kegiatan organik. Macam macam struktur yang penting : Fossillifercous, struktur yang dicirikan oleh adanya fosil atau komposisi terdiri dari fosil (sedimen organik) Oolitik, struktur dimana fragmen klastik diselubungi oleh mineral non klastik, bersifat konsentris dengan diameter berukuran lebih kecil dari 2 mm. Pisolitik, sama dengan oolitik tetapi ukurannya lebih besar dari 2 mm Konkresi, kenampakkan struktur ini sama dengan struktur oolitik tetapi tidak menunjukkan adanya sifat konsentris Cone in cone, struktur pada batu gamping kristalin yang menunjukkan pertumbuhan kerucut per kerucut. Rioherm, tersusun oleh organisme murni dan bersifat insite Piostrome, seperti bioherm tetapi bersifat klastik. Bioherm dan biostrome merupakan struktur luar yang hanya tampak di lapangan. Sepatrin, sejenis konkreksi tetapi mempunyai komposisi lempungan. Ciri khasnya adanya rekahan rekahan yang tidak teratur sebagai akibat penyusutan bahan lempungan tersebut karena proses dehidrasi yang kemudian celah celah yang terbentuk, terisi oleh kristal kristal karbonat yang kasar. Geode, banyak dijumpai pada batuan gamping, berupa rongga rongga yang terisi oleh kristal kristal yang tumbuh ke arah pusat rongga tersebut. Kristal berupa kalsit atau kwarsa. Styolit , merupakan hubungan antar butir yang berigi. 5.5.3.3. Komposisi mineral batuan sedimen non klastik Komposisi mineral batuan sedimen non klastik cukup penting dan menentukan penamaan batuan. Pada batuan sedimen jenis non klastik biasanya komposisi mineralnya sederhana yaitu biasa terdiri dari satu jenis atau dua mineral saja. Sebagai contoh : Batu gamping Chert Cipsum Anhidrit : kalsit, dolomit : kalsidon : mineral gipsum : mineral anhidrit

34

Dasar-Dasar Geologi 5.6. Batuan Metamorf Metamorfosa (perubahan bentuk) adalah proses rekristalisasi di kedalaman kerak bumi (3 20 Km) yang keseluruhannya atau sebagian besar terjadi dalam keadaan padat, yakni tanpa melalui fasa cair, sehingga terbentuk struktur dan minerologi baru akibat dari pengaruh temperatur (T) (2(X)0 - 6500 C ) dan tekanan (P) yang tinggi. Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan induk, bisa batuan sedimen, maupun metamorf sendiri yang mengalami metamorfosa. Menurut H.G.F. WINKLER, 1967. Metamorfisme adalah proses proses yang mengubah mineral suatu batuan pada fasa padat karena pengaruh atau response terhadap kondisi fisika dan kimia tersebut tidak termasuk pelapukkan dan diagnesa. 5.6.1. Tipe-Tipe Metamorfosa Tipe metamorfosa berdasarkan kejadiannya dan sejarah pembentukkannya banyak dibahas oleh para ahli sehingga banyak pula macam macam nama metamorfosa , tetapi pada dasarnya dapat digolongkan menjadi : A. Tipe Metamorfosa Lokal Disebut lokal karena penyebaran dari metamorfosa ini sangat terbatas sekali (hanya beberapa kilometer saja). Tipe metemorfosa ini meliputi : 1. Metamorfosa Kontak atau Thermal Metamorfosa kontak disebabkan oleh adanya kenaikan temperatur pada batuan tertentu. Panas tubuh batuan intrusi yang diteruskan pada batuan sekitarnya mengakibatkan metamorfosa kontak. Zona metamorfosa kontak di sekiar tubuh batuan tersebut dinamakan daerah kontak (contact aureule) yang efeknya terutama terlihat pada batuan sekitarnya. Lebar daerah penyebaran panas tersebut berkisar dari beberapa centimeter sampai beberapa kilometer. Pada metamorfosa kontak batuan sekitarnya berubah menjadi hornfels (batu tanduk) yang susunannya tergantung pada batuan sedimen asalnya. 2. Metamorfosa Dislokasi / Kataklastik / Dinamo Batuan metamorf ini dijumpai pada daerah yang mengalami dislokasi, misal pada daerah sesar besar, proses metamorfosanya terjadi pada lokasi dimana batuan ini mengalami proses penggerusan secara mekanik yang disebabkan oleh faktor penekanan secara kompresional baik tegak maupun mendatar. Batuan metamorf kataklistik adalah khusus dijumpai di jalur jalur orogenesa dimana proses pengangkatan diikuti oleh fase perlipatan dan pematangan batuan. B. Tipe Metamorfosa Regional Tipe metamorfosa ini meliputi : 1. Metamorfosa ini terjadi pada kulit bumi bagian dalam dan faktor yang berpengaruh adalah temperatur dan tekanan yang sangat tinggi. Secara geografis dan genetik penyebaran batuan metamorf ini sangat erat kaitannya dengan aktifitas orogenesa 35

Dasar-Dasar Geologi atau proses pembentukkan pegunungan lipatan gunung api, meliputi daerah yang luas dan selalu dalam bentuk sabuk pegunungan yakni dalam daerah geosinklin. Dengan demikian erat hubungannya dengan tumbukan dua buah lempeng tektonik khususnya antara kerak samudra dan kerak benua membentuk suatu jalur penunjaman (subduction zone). Batuan ini dicirikan oleh suatu struktur foliasi (penjajaran mineral mineral pipih) serta berasosiasi dengan lingkungan tektonik. 2. Metamorfosa Beban / Burial Batuan metamorfosa ini terbentuk oleh proses pembebanan oleh suatu massa sedimentasi yang sangat tebal pada suatu cekungan yang sangat luas atau dikenal dengan sebutan cekunan geosiklin. Proses kejadiannya hampir tidak berkaitan sama sekali dengan aktifitas orogenesa maupun instrusi tetapi lebih merupakan suatu proses yang bersifat regional dibandingkan dengan metamorfosa dinmotermal atau lebih dikenal dengan proses epirogenesa. 5.6.2. Struktur Batuan Metamorfosa Struktur pada batuan metamorf terbagi atas 2 golongan besar yaitu : A. Struktur Foliasi Yaitu struktur pada batuan metamorf yang ditunjukkan oleh adanya penjajaran mineral mineral penyusun batuan metamorf. Struktur ini meliputi : 1. Struktur Slatyeleavage Peralihan dari sedimen yang berubah ke metamorf, merupakan derajat metamorf rendah dari lempung. Mineral mineral berukuran dan kesan kesejajarannya halus sekali, memperlihatkan belahan belahan yang rapat dimana mulai terdapat daun daun mica halus 2. Struktur Phylitic Struktur ini hampir mirip dengan struktur slatyeleavage hanya mineral dan kesejajarannya sudah mulai agak kasar. Derajat metamorfosa lebih tinggi dari pada slate (batusabak), dimana daun daun mica dan chlorite sudah cukup besar, berkilap sutra pada pecahan pecahan. 3. Struktur Skistosa (Schistose) Adalah suatu struktur dimana mineral pipih (biotit, muscovit,feldspat) lebih dominan dibanding mineral butiran. Struktur ini biasanya dihasilkan oleh proses metamorfosa regional, sangat khas adalah kepingan kepingan yang jelas dari mineral mineral pipih seperti mica, talk, chlorite, dan mineral mineral yang bersifat serabut. Derajat metamorfosa lebih tinggi dari phyllit, karena mulai adanya mineral mineral lain disamping mika. 4. Struktur Gneisik (Gneissic) Struktur dimana jumlah mineral yang granular relatif lebih banyak dari mineral pipih, mempunyai sifat bendit dan mewakili metamorfosa regional derajat tinggi.

36

Dasar-Dasar Geologi Terdiri dari mineral mineral yang mengingatkan kepada batuan beku seperti kwarsa, feldspar dan mafic mineral.

Gambar 5.8. Struktur Batuan Metamorf (Struktur Foliasi) B. Struktur Non Foliasi Adalah struktur yang tidak memperlihatkan adanya penjajaran mineral penyusun batuan metamorf. Yang termasuk dalam struktur ini adalah : 1. Struktur Hornfelsik Dicirikan adanya butiran butiran yang seragam, terbentuk pada bagian dalam daerah kontak sekitar tubuh batuan beku. Pada umumnya merupakan rekristalisasi batuan asal, tidak ada foliasi tetapi batuan halus dan padat. 2. Struktur Milonitik Struktur yang berkembang oleh adanya penghancuran terhadap batuan asal yang mengalami metamorfosa dinamo, batuan berbutir halus dan liniasinya ditunjukkan oleh adanya orientasi mineral yang berbentuk rentikuler terkadang masih menyimpan lensa batuan asalnya. 3. Struktur Kataklastik Struktur ini hampir sama dengan struktur milonit hanya butirannya lebih kasar. 4. Struktur Pilonitik Struktur ini merupai milonit tetapi butirnya relatif lebih kasar dan strukturnya mendekati struktur pada tipe pilit 5. Struktur Flaser Seperti struktur kataklistik dimana struktur batuan asal berbentuk lensa yang tertanam pada massa dasar milonit. 6. Struktur Augen Seperti struktur flaser, hanya lensa lensanya terdiri dari butir butir feldspar dalam massa dasar yang lebih halus. 7. Struktur Granulose Struktur ini hampir sama dengan hornfelsik, hanya butirannya mempunyai yang tidak sama besar. 37

Dasar-Dasar Geologi 8. Struktur Liniasi Struktur yang yang diperlihatkan oleh adanya kumpulan mineral yang berbentuk seperti jarum (fibrous). Keterangan : Nomor 3 sampai dengan 6 paling baik diamati di lapangan. 5.6.3. Tekstur Batuan Metamorf Tekstur pada batuan metamorf digolongkan menjadi : A. Tekstur Kristaloblastik Tekstur yang terjadi pada saat tumbuhnya mineral dalam suasana padat (tekstur batuan asalnya tidak nampak lagi) dan bukan mengkristal dalam suasana cair. Karena itu kristal yang terjadi disebut blastos. 1. Lepidoblastik Tekstur batuan metamorf yang didominasi oleh mineral mineral pipih yang memperlihatkan orientasi sejajar, seperti mineral mineral biotit, muscovit, dan sebagainya. 2. Granoblastik Tekstur batuan metamorf yang terdiri dari mineral mineral yang membentuk butir butir yang seragam, seperti kwarsa, kalsit, garnet, dan lain lain. 3. Nemanoblastik Terdiri dari mineral mineral berbentuk prismatik menjarum yang memperlihatkan orientasi sejajar, seperti mineral amphibol, silimanit, piroksen, dan lain lain. 4. Idioblastik Tekstur pada batuan metamorf dimana bentuk mineral mineral penyusunnya berbentuk anhedral. B. Tekstur Palimpset Merupakan tekstur sisa dari batuan asal yang dijumpai pada batuan metamorf. Tekstur ini meliputi : 1. Blastoporfiritik Suatu tekstur sisa dari batuan asal yang bertekstur porfiritik. 2. Blastopsefit Suatu tekstur sisa dari batuan sedimen yang ukuran butirannya lebih besar dari pasir (psephite). 3. Balstopsansit Sama dengan blastopsefit, hanya saja disini ukuran butirnya sama dengan pasir (psamite). 38

Dasar-Dasar Geologi 4. Blastopellite Tekstur sisa dari batuan sedimen yang berukuran butir lempung (pellite) 5.6.4. Komposisi Mineral Batuan Metamorf Secara megaskopis sulit untuk mendiskripsi atau menentukan kompisisi mineral batuan, namun demikian tetap dituntut untuk dapat menentukan komposisi mineralnya yang dapat dipelajari dari buku ini atau petunjuk langsung di laboratorium. Pada hakekatnya komposisi batuan metamorf dapat dibagi dalam 2 golongan yaitu : A. Mineral Stress Adalah suatu mineral yang stabil dalam kondisi tekanan dimana mineral ini dapat berbentuk pipih atau tabular, prismatik, maka mineral tersebut akan tumbuh tegak lurus terhadap arah gaya. Sebagai contoh : Mika Tremolit Actinolit Hornblende Serpentin Silimanit Kyanit B. Mineral Anti Stress Adalah suatu mineral yang terbentuk bukan dalam kondisi tekanan dimana biasanya berbentuk equidimensional. Sebagai contoh adalah : Kwarsa Feldspar Garnet Selain mineral stress dan anti stress ada juga mineral yang khas dijumpai pada batuan metamorf antara lain : 1. Mineral khas dari metamorfosa regional : Silimanit Andasaulit Talk 2. Mineral khas dari metamorfosa termal : Garnet Corundum Grafit Kyanit Staurolit Kalsit Kordierit Seloite Glaukopan Claurite Epidore Staurolit Antropilit

39

Dasar-Dasar Geologi 3. Mineral khas yang dihasilkan dari efek larutan kimia : Epidot Chlorite H.G.F. WINKLER. 1965, menemukan beberapa mineral khas yang dihasilkan oleh metamorfosa regional, yang didasarkan atas derajat metamorfosanya yaitu : Derajat Metamorfosa : a. Derajat Rendah b. Derajat Menengah c. Derajat Tinggi 5.6.5. Dasar Klasifikasi Batuan Metamorf A. Berdasarkan komposisi kimia Klasifikasi ini ditinjau dari unsur unsur kimia yang terkandung dalam batuan metamorf yang akan mencirikan batuan asalnya, terbagi menjadi 5 kelompok yaitu : 1. Calcic Metantorphic Rock Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan yang bersifat kaya unsur Al, umumnya terdiri atas batu lempung dan serpih. Sebagai contoh : batusabak, filit. 2. Quartz Feldspathic Rock Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan yang kaya akan unsur kwarsa dan feldspar. Batuan asal umumnya terdiri dari batu pasir, batuan beku basa dan lain lain. Sebagai contoh : gneiss. 3. Calcareous Metamorfic Rock Adalah batuan metamorf yang berasal dari batugamping dan dolomit sebagai contoh : Marmer 4. Basic Metamorphic Rock Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan beku basa, semi basa dan menengah, serta tuffa atau batuan sedimen yang bersifat napalan dengan kandungan unsur-unsur K, Al, Fe, Mg. 5. Magnesia Metamorphic Rock Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan yang kaya akan unsur Mg, sebagai contoh : Serpentin, Skiss Klorit. B. Berdasarkan Komposisi Mineral Didasarkan pada fasies metamorfosa, sehingga setiap batuan metamorf akan mempunyai komposisi mineral yang spesifik. Hal ini disebabkan karena bila batuan asal mempunyai komposisi mineral yang khas, maka akan menghasilkan batuan metamorf dengan komposisi yang khas pula. 40 : kalsit, biotit : almandin, kyanit : silimanit Wolostonit

Dasar-Dasar Geologi C. Berdasarkan Struktur dan Tekstur Struktur dan tekstur batuan metamorf seperti yang telah dibicarakan sebelumnya. 5.6.6. Petunjuk praktis untuk menentukan nama batuan metamorf pada praktikum. 1. Pertama ditinjau dahulu batuan metamorf tersebut, apakah termasuk dalam struktur foliasi atau non foliasi 2. Untuk membedakan struktur foliasi diperlihatkan adanya penjajaran mineral, sedangkan untuk struktur non foliasi tidak terdapat adanya penjajaran mineral dalam batuan. 3. Berdasarkan struktur seperti diatas maka penamaan batuan untuk yang berstruktur foliasi sebagai berikut : - Struktur skistosa - Struktur gneisik - Struktur Slatyeleavage nama batuan Sekis nama batuan Gneis nama batuan Slate

4. Bila terdapat komposisi mineral tertentu dalam jumlah yang cukup banyak maka mineral yang hadir ini dapat dipakai sebagai sifat dalam penamaan batuan, sebagai contoh : banyak mineral mika maka dapat dinamakan batuan sekis mika. 5. Untuk yang berstruktur non foliasi komposisi mineral memegang peranan penting dalam penamaan batuan. Disini ditinjau dari komposisi mineral yang dominan, sebagai contoh : - Bila dominan kwarsa - Bila dominan kalsit - Batuan berstruktur hornfelsik - Batuan berstruktur liniasi nama batuan kwarsit nama batuan marmer nama batuan hornfels nama batuan asbes dan serpentinit.

6. Pengaruh struktur non foliasi terhadap penamaan batuan :

41

Dasar-Dasar Geologi

BAB VI STRUKTUR GEOLOGI


Geologi Struktur adalah cabang ilmu geologi yang membahas mengenai bentuk arsitektur kulit bumi. Kenampakan struktur geologi dapat dilihat secara langsung atau dapat secara tidak langsung. Pengenalan struktur geologi secara tidak langsung dapat dilakukan melalui cara sebagai berikut : 1. Pemetaan geologi, dengan mengukur dip dan strike. 2. Interpretasi peta topografi, yaitu dari kenampakan gejala pelurusan sungai, pelurusan morfologi, garis kontur dan pola garis kontur. 3. Foto udara 4. Pemboran 5. Geofisika, didasarkan sifat-sifat fisik yang dimiliki olah batuan, yaitu dengan metoda Gravity Geolistrik Seismik Magnetik Tension (gaya tarik) - Compression (Gaya Tekan)

Gaya-gaya Pembentuk struktur geologi terdiri dari :

Couple

- Torsion (Gaya Puntiran)

Lithostatis (segala arah)

Gambar 6.1. Gaya-gaya pembentuk struktur

42

Dasar-Dasar Geologi Batuan bila mengalami gaya atau stress akan berubah atau mengalami perubahan, dalam geologi struktur disebut Deformsi dengan kata lain deformsi yang terjadi karena adanya stress atau disebut strain Secara umum struktur batuan dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu : a. Struktur Syngenetik ( Struktur Primer) b. Struktur Spigenetik (Struktur Sekunder) Apa itu struktur primer?

Struktur yang terbentuk pada saat proses pengendapan atau pada saat batuan terbentuk. Contohnya: perlapisan, Laminasi, greded bedding, ripple mark dll.. Struktur primer penting sebagai penentu kedudukan atau orientasi asal sesuatu batuan, terutama dalam batuan sedimen. Struktur yang terbentuk setelah batuan yang bersangkutan terbentuk. Contoh : Perlipatan, magma yang menerobos lapisan batuan (lacolith, dike dsb), kekar sesar dll. Struktur Sekunder penting untuk mengetahui bentuk-bentuk dari permukaan bumi yang dihasilkan oleh gerak-gerak yang ada dari dalam bumi.

Apa kepentingannya?

Apa itu struktur sekunder?


Apa kepentingannya?

6.1. Kekar Kekar adalah suatu retakan pada batuan yang belum mengalami pergeseran. Kekar dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa klasifikasi, yaitu : - Secara Genetik - Secara geometris - Secara Bentuknya - Berdasarkan ukurannya - Berdasarkan kemiringan bidang sesar terhadap bidang horisontal. Secara Genetik Menurut Billings (1974) kekar berdasarkan genetiknya dapat dibedakan sebagai berikut : a. Kekar Gerus (Shear Joint) kekar yang terbentuk akibat adanya gaya tekan dan terbentuk menyudut terhadap datangnya arah gaya utama dan biasanya terdiri dari sepasang arah, besarnya sudut terhadap datangnya arah gaya tergantung dari pada kemiringan gesekan material, pada umumnya lebih kecil dari 45 0 dan mendekati 300.

Gambar 6.2 Sketsa kekar gerus 43

Dasar-Dasar Geologi b. Kekar tegangan ( Tension joint) kekar yang terbentuk akibat gaya tarik (tension). Kekar ini dibedakan menjadi : 1. Extensioan Joins : yaitu kekar yang terbentuk sejajar terhadap datangnya arah gaya tekan. 2. Release Joint : yaitu kekar yang terbentuk tegak lurus terhadap datangnya arah gaya tekan. Secara Geometris, bedasarkan atas kedudukan kekar terhadap lapisan batuan yang disilanginya, maka kekar dapat dipisahkan menjadi 4 kelompok yaitu : 1. Kekar jurus (Strike Joint) kekar yang jurusnya sejajar terhadap jurus bidang perlapisan.

Gambar 6.3. Sketsa kekar jurus 2. Kekar Kemiringan (Dip Joint) kekar yang jurusnya sejajar terhadap arah kemiringan bidang perlapisan batuan

Gambar 6.4. Sketsa kekar kemiringan 3. Kekar Silang (Oblique Joint) atau disebut juga kekar diagonal : kekar yang arah jurusnya terletak diantara arah kemiringan dan arah jurus bidang perlapisan batuan yang disilanginya.

Gambar 6.5. Sketsa kekar silang 4. Kekar Perlapisan (Bedding Joint) kekar yang bidangnya sejajar terhadap bidang perlapisan batuan.

Gambar 6.6. Sketsa kekar perlapisan 44

Dasar-Dasar Geologi Berdasarkan atas bentuk, maka kekar dapat dipisahkan menjadi dua kelompok, yaitu : 1. Kekar yang sistematik : sekelompok kekar yang mempunyai arah jurus yang serba sejajar atau hampir sejajar.

Gambar 6.7. Kekar sistematik 2. Kekar yang tidak sistematik : kekar yang tidak teratur, melengkung dan tidak sejajar.

Gambar 6.8. Kekar tidak sistematik Berdasarkan atas ukurannya, maka kekar dapat dipisahkan menjadi 4 macam, yaitu : 1. Master Joint : Kekar yang dapat memotong melalui sejumlah lapisan atau satuan batuan dan dapat diikuti sepanjang puluhan atau ratusan kaki. 2. Major Joint : Kekar yang ukurannya lebih kecil dari Master Joint, akan tetapi masih dapat menentukan struktur. 3. Minor Joint : kekar yang berukuran lebih kecil lagi dan sama sekali tidak penting 4. Minor Join : kekar yang ukurannya kurang dari 1 inchi. Berdasarkan besarnya keniringan bidang kekar terhadap bidang horisontal, maka kekar dikelompokan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu : 1. Kekar dengan kemiringan besar (high angle joint) yaitu kekar yang mempunyai kemiringan bidang kekar terhadap bidang horisontal besarnya antara 90 0 700. 2. kekar dengan kemiringan kecil (low angle joint) yaitu kekar yang mempunyai kemiringan bidang kekar terhadap bidang horisontal besarnya antara 690 00. 3. Kekar horisontal yaitu kekar dengan kemiringan bidang kekar terhadap bidang horisontal besarnya 00. Selain kekar-kekar akibat tektonik diatas, terdapat kekar yang terbentuk bukan oleh tektonik atau akibat pendinginan magma, dikenal ada 3 (tiga) macam yaitu : 1. Kekar Tiang (Columnar Joint) Kekar tiang (columnar joint) terjadi karena pada waktu pembekuan magma ada gaya tarik. Bentuk segi enam dan dikontrol oleh posisi sumbu kekar yang tegak lurus gaya tarik (tension). Kekar tiang terjadi pada batuan beku, peperti basalt dan andesit.

45

Dasar-Dasar Geologi 2. Mud Crack (Rekah Kerut) Mud Crack merupakan kekar yang terjadi karena aktifitas eksogen (akibat panas matahari) pada umumnya terjadi pada lumpur. 3. Sheeting Joint (kekar lembar) Kekar lembar atau shetting joint terjadi karena adanya kehilangan beban secara tibatiba atau karena adanya tegangan sewaktu terjadi pembekuannya. Biasa terjadi pada magma yang mendekati permukaan bumi, umumnya membentuk batuan beku granit atau andesit. Bentuk kekar seperti lembar atau lempeng.

Gambar 6.9. Kekar-kekar bukan akibat tektonik

Gambar 6.10. Kenampakan Kekar berpasangan (kekar sistematik) di lapangan

46

Dasar-Dasar Geologi 6.2. Sesar Sesar/patahan adalah suatu rekahan yang terjadi pada batuan yang disertai dengan pergeseran pada bidang rekahan tersebut. Berdasarkan gerak relatif antara hanging wall dan foot wall sesar dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu : 1. Normal Fault (sesar turun) bila hanging wall bergerak relatif turun terhadap foor wall, dengan syarat besarnya sudut harus lebih besar dari 45 0.

Gambar 6.11. Sketsa sesar turun (normal fault) 2. Trust Fault (Sesar Naik) sesar ini mempunyai hanging wallnya relatif bergerak keatas terhadap foot wallnya, dengan syarat besarnya sudut kurang dari 450.

Gambar 6.12. Sketsa sesar Naik (Trust Fault) 3. Strike Slip Fault/sesar geser jurus : sesar ini arahnya sejajar atau hampir sejajar dengan jurus bidang sesar, untuk jenis sesar ini dipisahkan menjadi 2 (dua) macam yaitu : a. Sinistral/left handed strike slip fault, adalah jika pengamat melihat kearah sesar dan blok di sebelah kiri mengarah ke pengamat (mendekati). b. Dextral/right handed strike slip fault, adalah jika pengamat berdiri dan mengamati sepasang sesar dan jika blok sebelah kiri menjauhi pengamat.

47

Dasar-Dasar Geologi

Gambar 6.13. Sketsa Sesar Geser Jurus Strike Slip Fault (Sesar Geser Jurus) disebut juga Wrench Fault atau Transcurent Fault 6.3. Tanda Tanda Sesar di Lapangan a. b. c. d. e. f. g. Adanya struktur yang terpotong dengan tiba-tiba Adanya perulangan lapisan yang sama Adanya penjajaran mata air pada arah tertentu Adanya air terjun Adanya sesar-sesar minor dan rekahan-rekahan sepanjang zona sesar. Adanya persentuhan antara batuan yang tua dengan muda dengan tiba-tiba Adanya perlapisan yang relatif tegak

Gambar 6.14. Kenampakan sesar minor sebagai tanda-tanda adanya sesar di lapangan

48

Dasar-Dasar Geologi

Gambar 6.15. Kenampakan mikrofault dan Lapisan Tegak sebagai tanda adanya sesar di lapangan. 6.4. Lipatan (Fold) Lipatan adalah struktur pada batuan yang tampak seperti bergelombang atau terlipat-lipat, terjadi akibat gaya-gaya pada kulit bumi (tektonik). Penamaan Lipatan (Fold) a. b. c. d. Antiklin Synklin Monoklin Terace

Gambar 6.16. Penamaan Lipatan

49

Dasar-Dasar Geologi Jenis-Jenis Lipatan 1. Berdasarkan Posisi Sumbu a. Lipatan simetri (Symmetrical fold) suatu lipatan dimana mempunyai sumbu yang vertikal dan kedua sayapnya mempunyai kemiringan yang sama besar

Gambar 6.17. Lipatan simetri b. Lipatan asimetri (asymmetrical fold) suatu lipatan dimana bidang sumbu tak vertikal dan kemiringan sayapnya mempunyai sudut yang berlainan.

Gambar 6.18. Lipatan asimetri c. Lipatan Mengantung (overtunen fold) suatu lipatan dimana bidang sumbu miring, arah kedua sayapnya sama dengan sudut kemiringan sayap berbeda.

Gambar 6.19. Lipatan Mengantung d. Lipatan Rebah (recumbent fold) posisi sumbu horizontal, sayapnya mempunyai arah yang sama dan kemiringannya tidak perlu sama

Gambar 6.20. Lipatan Rebah

50

Dasar-Dasar Geologi 2. Berdasarkan besarnya kemiringan sayap e. Lipatan Isoklin (isoclinal fold) lipatan di mana kedua sayapnya mempunyai sudut kemiringan yang sama dan arahnya juga sama

Gambar 6.21. Isoklinal vertikal 3. Berdasarkan bentuk puncak f. Chevron Fold : Lipatan yang mempunyai bentuk lancip pada puncaknya. Keadaan bisa simetri dan asimetri, sumbu bisa vertikal miring atau horizontal

Gambar 6.22. Chevron Fold g. Fan Fold (diapirik fold) lipatan yang berbentuk seperti kipas dan sayap-sayapnya mengalami pembalikan yang arahnya berlawanan satu sama lain dan sudut tidak perlu sama.

h.

Gambar 6.23. Fan Fold Box Fold : mempunyai puncak seperti balok, sumbu bisa miring, vertikal maupun horizontal.

Gambar 6.24. Box Fold

51

Dasar-Dasar Geologi i. Monoklin (Monocline) lipatan yang mempunyai kemiringan tunggal ke satu arah. Kemiringan berkisar 00 900.

Gambar 6.25. Monoklin j. Perlipatan Homoklin : perlipatan yang sayapnya/lapisannya mempunyai kemiringan yang sama dalam keadaan yang sejajar

Gambar 6.26. Perlipatan Homoklin k. Perlipatan teras (terrace structure) : lipatan yang mempunyai undak-undak

Gambar 6.27. Perlipatan Teras 3. Berdasarkan intensitasnya l. Perlapisan terbuka (open fold) : lipatan dimana tebal lapisan relatif sama dan tidak akan menutup

Gambar 6.28. Perlipatan terbuka

52

Dasar-Dasar Geologi m. Perlipatan Tertutup (closed fold) : perlipatan dimana dibagian puncak seolaholah menutup bagian bawahnya. Dan dibagian sayap lapisan menitis dan dibagian puncak menebal.

Gambar 6.29. Perlipatan Tertutup n. Perlipatan Seretan (Drag fold) perlapisan yang diakibatkan oleh gaya pada dua lapisan yang competan yang berlawanan arah sehingga lapisan incompeten mengalami seretan.

Gambar 6.30. Perlipatan Seretan o. Semilar Fold : Suatu lapisan yang terlipat di mana mempunyai bentuk yang sama juga tebal maupun letaknya sama.

Gambar 6.31. Semilar Fold p. Pararel Fold : Suatu perlapisan dimana lapisan satu dengan yang lain sejajar

Gambar 6.32. Pararel Fold

53

Dasar-Dasar Geologi 6.5. Ketidak selarasan (Unconformity) Ketidakselarasan adalah suatu bidang erosi, dimana pada waktu terjadi erosi tersebut tidak atau belum terjadi deposisi (pengendapan) Jenis-jenis ketidakselarasan. 1. Ketidakselarasan bersudut (angular Unconformity) : Batuan di bawah bidang unconformity membuat sudut terhadap batuan diatas bidang unconformity

Gambar 6.33. Angular Unconformity 2. Pararel Unconformity (Disconformity) Batuan diatas dan dibawah bidang unconformity adalah sejajar

Gambar 6.34. Discompormity 3. Nonconformity (Heterolitic Unconformity) : Ketidakselarasan antara batuan beku dan batuan sedimen atau batuan yang berlainan jenis.

Gambar 6.35. Noncompormity

54

Dasar-Dasar Geologi 4. Paraconformity : Ketidakselarasan antara batuan-batuan yang sama yang tidak menimbulkan perbedaan yang mencolok, bisa dibedakan dengan kisaran fosil.

Gambar 6.36. Paraconformity

55

Dasar-Dasar Geologi

BAB VII BEBERAPA SIMBOL LITOLOGI YANG PENTING

56

Dasar-Dasar Geologi

SIMBOL-SIMBOL UNTUK PETA GEOLOGI

57

Dasar-Dasar Geologi

58