Anda di halaman 1dari 58

BENTUK PENYAJIAN TARI INDANG MANGUR DALAM ALEK NAGARI DI KENAGARIAN BATU KALANG KECAMATAN PADANG SAGO KABUPATEN

PADANG PARIAMAN

SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) di Jurusan Pendidikan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni

Oleh: Dwi Ayu Sisyani 83845/2007

JURUSAN PENDIDIKAN SENDRATASIK FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGRI PADANG 2011

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ................................................................. B. Identifikasi Masalah ...................................................................... C. Batasan Masalah............................................................................. D. Rumusan Masalah .......................................................................... E. Tujuan Penelitian ........................................................................... F. Manfaat Penelitian ......................................................................... BAB II KERANGKA TEORITIS A. Tinjauan Pustaka ........................................................................... B. Penelitian Yang Relevan ................................................................ C. Landasan Teori ............................................................................... 1. Pengertian Tari ......................................................................... 2. Tari Tradisi ............................................................................... 3. Bentuk Penyajian ...................................................................... D. Kerangka Konseptual .................................................................... BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ............................................................................... B. Objek Penelitian ............................................................................. C. Jenis Data ....................................................................................... D. Instrumen Penelitian....................................................................... E. Teknik Pengumpulan Data ............................................................. F. Teknik Analisa Data ....................................................................... BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Asal Usul/Legenda Nagari Batu Kalang 2. Letak Geografis 3. Adat dan Masyarakat

1 6 6 7 7 7

9 9 10 11 11 11 15

17 17 17 18 19 20

4. Mata Pencaharian 5. Agama 6. Pendidikan 7. Sistem Kesenian B. Asal Usul Tari Indang C. Prosesi Alek Nagari D. Bentuk Penyajian Tari Indang Mangur E. Deskripsi Gerak 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Gerak Iringan Musik Tari Indang Mangur Pola Lantai Tari Indang Mangur Tata Rias dan Busana Waktu dan Tempat Pertunjukan Property Tari Indang Mangur Penari

F. Pembahasan BAB V PENUTUP 1. 2. Kesimpulan Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Indonesia sangat beragam kesenian tradisionalnya, sebagaimana

beranekaragamnya suku-suku bangsa dan kebudayaan serta adat istiadatnya. Kesenian tradisional yang terdapat diseluruh Indonesia melambangkan ciri khas dari tiap-tiap daerah di Indonesia dan memiliki keunikan masing-masing. Sebagai salah satu unsur kebudayaan, kesenian tumbuh dan berkembang bersamaan dengan masyarakat pendukungnya. Kesenian merupakan wahana yang mampu dijadikan sebagai sarana pencetus, pengungkapan emosional masyarakat, kesenian tersebut dapat berupa bagian dari kehidupan profane, artinya kesenian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan duniawi, sedangkan sebagai sarana pengungkap emosional masyarakat kesenian juga merupakan bagian dari kehidupan sekuler , artinya kesenian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sekuler. Kayam (1981). Kesenian merupakan unsur dan ekspresi kebudayaan manusia yang timbul karena adanya proses dan budaya, didukung oleh masyarakat tertentu yang homogen atau pun heterogen. Ia dapat mewujudkan perkembangan budaya dan digunakan pada berbagai aktivitas sosial masyarakat pendukungnya. Sebagai salah satu unsur kebudayaan adalah kesenian. Sebab kesenian tersebut tidak lepas dari struktur tertentu sebagai satu kesatuan yang saling mendukung dan mempunyai makna sendiri.

Sebagai salah satu unsur kebudayaan kesenian mempunyai beberapa cabang. Diantaranya, seni musik, seni tari, seni lukis dan drama. Seni tari adalah salah satu unsur seni yang dituangkan melalui gerak yang dapat pula dilihat dari sisi tema, makna yang terkandung dalam setiap bentuk gerak dan segi penyajianya. Sebuah tari dapat mencrminkan identitas suatu bangsa dalam perwujudan estesis seperti yang diungkapkan Sedyawati dalam Dewi Permuni (2010:2), Dengan melihat tari tradisi kita dapat pula mengetahui dari mana tari itu berasal, oleh dengan tarian terungkap ciri-ciri tertentu khas daerah yang bersangkutan yang berbeda dengan daerah lainnya. Dengan ada cirri khas ini kita dapat karena tumbuh, hidup masyarakat yang bersangkutan. Sumatera Barat yang disebut Minangkabau, memiliki kesenian tradisional yang unik dan menarik. Kesenian merupakan aktivitas masyarakat yang bersifat terbuka dari rakyat untuk rakyat, sesuai dengan sistim masyarakat yang demokratis mendukung falsafah persamaan dan kesamaan antara manusia. Kesenian daerah Minangkabau bermacam bentuknya, ada yang berbentuk tarian, pencak silat, drama dan musik yang masih digunakan masyarakat pendukung dari kesenian tradisional tersebut. Sebagai bagian dari kesenian, tari memiliki halhal yang spesifik. Kekhasan, tari dapat dilihat dari beberapa indikator dalam penyajian tari. Spesifikasi tersebut sebagaimana dikemukakan dalam gerak, musik, kostum, pola lantai dan ruang tempat penyajiannya. Isi pokok dari tari memang memiliki kesamaan diberbagai daerah, akan tetapi dari segi gaya terdapat perbedaan sesuai dengan tempat keberadaan perkembangan tari tersebut.

Kesenian Tradisi dapat berfungsi sebagai alat komunikasi yang dapat digunakan oleh antar anggota masyarakat. Diantara beberapa jenis kesenian terdapat kesenian tari yang menjadi alat yang dapat digunakan anggota masyarakat sebagai sarana dalam melatih kepekaan jiwa manusia pada nilai-nilai keindahan (estetika) yang terdapat dilingkungan masyarakat tersebut. Tari tradisional merupakan satu bentuk tari rakyat, adapun ciriciri tari rakyat adalah: 1) Fungsi sosial, 2) Ditarikan secara bersama, 3) Menurut spontanitas / respon, 4) Bentuk geraknya sederhana, 5) Tata rias dan busana sederhana, 6) Irama iringan dinamis dan cenderung cepat, 7) Jarang membawa cerita / lakon, 8) Jangka waktu (durasi) pertunjukan tergantung gairah penari tergugah, 9) Sifat tari rakyat sering harmonistis, 10) Tempat pementasan berbentuk arena, 11) Bertemakan kehidupan masyarakat (Merurut Sedyawati, 1986: 169). Kesenian tradisional merupakan ungkapan batin yang dinyatakan dalam bentuk simbolis yang menggambarkan arti kehidupan masyarakat pendukungnya. Seperti peristiwa keadatan merupakan landasan eksistensi yang utama bagi pagelaran-pagelaran, pelaksaan-pelaksaan seni pertunjukan. Terutama yang berupa tari-tarian dengan iringan bunyi-bunyian, merupakan kekuatan magis yang diharapkan hadir, tetapi juga jarang merupakan semata-mata tanda syukur pada peristiwa-peristiwa tertentu. Seperti tari panen yang mengungkapkan rasa syukur terhadap hasil panen yang didapat. Maka dari itu nilai yang terkandung didalam kesenian tradisional adalah nilai kepribadian dan nilai pandangan hidup masyarakat pendukungnya. Kesenian tradisional akan mati dan punah jika

pandangan hidup serta nilai-nilai kehidupan masyarakat pendukungnya tergeser oleh nilai nilai baru. Kesenian sebagai bagian dari kebudayaan daerah juga berkembang di tengah kenagarian Batu Kalang, seperti : Tari Indang Mangur. Tari ini merupakan salah satu tari yang tumbuh dan berkembang di daerah Batu Kalang. Yang sampai saat ini masih bertahan. Dinamakan Tari Indang Mangur karena tari ini berasal dari Korong Mangur. Batu Kalang pada dahulunya terletak di Kecamatan VII Koto, tapi karna luasnya daerah dan padat nya penduduk akhirnya Kecamatan VII Koto ini dimekarkan menjadi tiga kecamatan yaitu: Kecamatan VII Koto, Kecamatan Patamuan dan Kecamatan Padang Sago, yang mana pada akhirnya Nagari Batu Kalang ini terletak di Kecamatan Padang Sago. Nagari Batu Kalang ini memiliki sistem kekeluaragaan, gotong royong dan musyawarah. Tari Indang dulunya dibawa oleh seorang pemuka islam yang berasal dari Aceh yaitu Abdul Kadir. Disetiap dakwak-dakwahnya dalam penyiaran agama islam, Beliau selalu menggunakan dendang-dendang syair pantun sebagai media untuk penyiaran agama islam. Dari Aceh Abdul Kadir menyebarkan tari Indang sampai ke Sumatera Barat yang tepatnya di kanagarian Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman. Tari Indang Mangur menjadi Kesenian asli bagi masyarakat setempat. Tari ini merupakan salah satu tari yang masih hidup dan bertahan. Tari ini tidak diketahui lagi siapa penciptanya dan tahun berapa terciptanya, karena tari ini diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya.

Tari ini menggunakan properti indang dengan jumlah penari ganjil, minimal 7 orang penari laki-laki tapi tari Indang Mangur ini lebih sering ditarikan oleh 11 penari laki-laki, penari yang berada ditangah adalah penari yang akan memberikan aba-aba untuk memulai tarian yang sering disebut dengan paningkah indang. Dibelakng penari biasanya duduk seorang pendendang yang bagi masyarakat setempat sering disebut dengan tukang zikia yang mana isi dendanganya adalah tentang sejarah-sejarah islam yang masuk kedaerahnya. Tari Indang Mangur ini berdurasi lebih kurang 15 menit. Dahulunya tari Indang berfungsi sebagai penyiaran agama Islam, namun seiring dengan perubahan zaman tari itu berubah fungsinya sebagai hiburan. Di Nagari Batu Kalang tari Indang biasanya ditampilkan pada Upacara Alek Nagari (pesta rakyat) seperti upacara pengangkatan penghulu, pesta perkawinan, dan lain sebagainya. Dalam upacara alek nagari tari Indang berfungsi sebagi tari hiburan, untuk memeriahkan Upacara Alek Nagari. Kalau tari ini ditampilkan dalam alek nagari , tari Indang ini dibagi atas dua kali penampilan. Penampilan pertama disebut dengan Indang naiak yang tampilanya berkisar sekitar jam 1 malam, dan penampilan kedua disebut dengan Indang Lambuang yang tampilannya berkisar sekitar jam 8 malam di keesokan harinya. Tari Indang Mangur ini merupakan salah satu tari tradisi yang harus dilestarikan, karna tari ini dahulunya sempat tidak diacuhkan lagi oleh masyarakat dan hampir saja tari ini hilang dari peredaran karna pengaruh modrenisasi, tapi sekarang semenjak adanya peraturan pemerintah yang menggalakan kembali

kanagari dengan tujuan menghidupkan kembali kesenian-kesenian tradisi yang ada didaerah, hal ini merupakan salah satu motivasi bagi masyarakat untuk tidak melupakan kesenian-kesenian tradisi yang sudah ada semenjak dahulu. Salah satu contohnya adalah Tari Indang Mangur yang ada di Batu Kalang ini mulai di bangkitkan lagi. Karena kurangnya pelestarian Tari Indang Mangur ini Penulis tertarik untuk menelitinya, agar tari ini bisa didiskripsikan dan didokumentaikan dalam bentuk vidio dan foto. Yang dalam tulisan ini akan penulis tinjau dalam Bentuk Penyajian Tari Indang Mangur di Kanagarian Batu Kalang Kecamatan Padang Sago kecamatan Padang Pariaman.

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut: 1. Asal usul Tari Indang 2. Fungsi Tari Indang 3. Bentuk Penyajian Tari Indang

C. Batasan Masalah Agar penelitian ini lebih terarah, maka penelitian ini dibatasi pada Bentuk Penyajian Tari Indang Mangur di Kenagarian Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman. Pilihan pada hal tersebut berdasarkan pengamatan (obvservasi) bahwa secara khusus mengenai bentuk penyajian tari Indang Mangur didalam alek nagari belum dikemukakan sebelumsebelumnya.

Rumusan Masalah Berdasarkan batasan masalah diatas dapat dirumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan yaitu : Bagaimana Bentuk Penyajian Tari Indang Mangur di Kenagarian Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman?.

D. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan Bentuk Penyajian Tari Indang Mangur di Kenagarian Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman.

E. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi: 1. Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Padang Pariaman, dapat menambah kekayaan seni budaya lokal, selain itu jika dikembangkan dengan baik melalui program wisata seni tradisional dapat menjadi salah satu sarana dalam menambah pendapatan asli daerah Kabupataen Padang Pariaman. 2. Untuk seniman pendukung tari Indang Mangur yang berminat

mengembangkan tari ini. 3. Departemen Pendidikan Nasioanal Daerah maupun Pusat sebagai masukan untuk mengembangkan tari Indang Mangur. 4. Jurusan Pendidikan Sendratasik Program Studi Pendidikan Seni Tari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang dalam upaya meningkatkan pembangunan seni tari.

5. Sebagai bahan pokok studi serta meningkatkan apresiasi dan kualitas mahasiswa dalam proses penataan tari. 6. Sebagai syarat untuk mengambil strata I di Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang.

BAB II KERANGKA TEORITIS

A. Tinjauan Pustaka Tari Indang Mangur merupakan tari tradisi yang berasal dari Nagari Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman. Tinjauan pustaka dilakukan untuk menghindari terjadinya tumpang tindih dengan peneliti sebelumnya. Disamping itu juga untuk melihat sejauh mana keterkaitan atau perbedaan kajian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu dengan peneltian yang dilakukan pada tulisan ini. Pada objek penelitian yang diteliti penulis mengenai Bentuk Penyajian Tari Indang Mangur dikenagarian Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman. Sampai saat ini penulis belum menemukan penulisan dalam bentuk lain baik ditulis dalam bentuk makalah, skripsi, maupun laporan penelitian. Dalam hal ini penulisan ini merupakan penulisan pertama mengenai Bentuk dan Isi Tari Indang Mangur dikenagarian Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman.

B. Penelitian yang Relevan Penelitian yang relevan dalam penelitian ini adalah : 1. Ediwar 2001, yang berjudul Kesenian Indang Pariaman di Kanagarian Toboh Gadang kecamatan Sintoga Kabupaten Padang Pariaman. Hasil penelitiannya adalah menguraikan tentang pertunjukan kesenian Indang yang dilaksankan pada suatu tempat yang disebut dengan laga-laga, struktur penyajian Indang naik, Indang Lambung, sajian sapangka alek duo dan alek satu. (skripsi) 9

10

2. Destriana 2009, yang berjudul Bentuk Penyajian Tari Kebar di dalam masyarakat Desa Sukajadi Kecamatan Dempo Tengah jota Pagaralam. Hasil penelitiannya adalah membahas tentang unsur-unsur yang terkait di dalam tari yaitu: gerak, nama gerak, pola lantai,penari, musik busana,tata rias dan tempat pertunjukan. (skripsi) Sedangkan penelitian yang penulis lakukan tidak persis sama dengan objek penelitian dari kedua penulis di atas, tetapi penelitian yang dilakukan adalah membahas tentang bagaimana Bentuk penyajian tari Indang Mangur dalam Alek Nagari di Kanagarian Batu Kalang

Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman.

C. Landasan Teori 1. Pengertian Tari Tari merupakan bagian dari kebudayaan yamg menggambarkan ekspresi dimana tari itu tumbuh dan berkembang. Soedarsono (1978:3) menyatakan bahwa tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diungkapan dengan gerak-gerak yang ritmis dan indah. Sedangkan Suzane K. lager dalam Soedarsono (1977:17) menyatakan bahwa tari adalah gerak-gerak yang dibentuk secara ekspresif (yang di stelir) yang diciptakan oleh manusia untuk dapat dinikmati dengan rasa. Rusliana dalam Melda Wahyuni Sy (2007:9), tari merupakan ungkapan gerak yang distilir yang berdasarkan pola yang telah ditentukan sesuai dengan kaidah-kaidah komposisi tari dengan tampak adanya nama tarian, tema tarian,

11

ciri-ciri komposisisnya, ciri iringannya, ciri kostum dan rias, serta cirri tersendiri dari unsur seni lain sebagai pendukungnya. Suryodiningrat yang dikutip Soedarsono dalam Melda Wahyuni Sy (2007 : 10), mengatakan bahwa tari gerakan tari-tari seluruh bagian tubuh manusia yang disusun selaras dengan irama musik, serta mempunyai maksud tertentu. 2. Tari Tradisi Setiap daerah memiliki cirri khas kesenian tersendiri. Ciri khas kesenian tersebut dapat dilihat pada gerak dan musik. Pada kesenian tradisi unsur yang terkait merupakan tradisi yang telah ditetapkan dan tidak berubah secara turun temurun. Menurut Soebadio (dalam Mursal, 1993 : 10) : tradisi memperlihatkan bagaimana anggota masyarakat bertingkah laku, baik dalam kehidupan yang bersifat duniawi maupun terhadap hal-hal yang bersifat gaib atau keagamaan. Ia berkembang menjadi suatu system, memiliki pola-pola dan norma-norma yang sekaligus juga mengatur penggunaan saksi dan ancaman terdaoat pelanggaran dan penyimpangan. Rusliana dalam Sri Suryani (2010:10) mengemukan tentang tari tradisi adalah sekelompok khazanah tari yang sudah cukup lama berkembang menjadi warisan leluhur yang pada umumnya telah memiliki prinsip-prinsip aturan yang sesuai dengan wilayah atau daerahnya (aturan yang sudah mentradisi).

3. Bentuk Penyajian Kata bentuk menurut kamus besar bahasa Indonesia (1997: 119) berarti: wajud yang ditampilkan (tampak). Bentuk memiliki unsur-unsur kesatuan, variasi, kontinutas, klimaks dan keutuhan yang harmonis dan dinamis.

12

Langger (1996 : 61) menyatakan bentuk merupakan suatu keutuhan struktur penyajian tari yang mencakup berbagai unsur dalam sebuah penampilan tari yang meliputi gerak, pola lantai, kostum, dan musik iringan tari. Sejalan dengan pendapat Djelantik dalam Elinda (2008 : 12) bentuk adalah unsur dasar dari susunan pertunjukan, unsur penunjang yang membantu bentukbentuk ini mencapai perwujudannya yang khas seperti gerak, penari, musik, pola lantai, kostum dan tata rias, serta tempat pertunjukan. Websters (1996) sebagimana yang telah dikutip smith dalm Suharto (1985 : 6) bentuk merupakan wujud dan struktur sesuatu yang dapat dibedakan dari materi yang di tata. Berdasrkan pendapat diatas, bentuk tari Indang Mangur meliputi unsur

pendukung seperti : penari, kostum, pola lantai, tata rias, serta tempat pertunjukan. Semua saling berhubungan dan saling berkaitan. Tanpa adanya semua unsur tersebut, maka tidak akan dapat dilihat bagaimana bentuk dan wujud dari Tari Indang Mangur tersebut. Sedangkan kata penyajian dalam kamus besar bahasa Indonesia (1997: 862) berarti: proses pembuatan atau penampilan (tentang pertunjukan sebagainya). Yang perlu dilihat dalam bentuk penyajian tari Indang Tuo Mangur ini diantaranya adalah: gerak, penari, pola lantai, musik pengiring, kostum serta property. Berkaitan dengan bentuk penyajian tari Indang Mangur dalam Alek Nagari di Kanagarian Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman maka tidak terlepas dari bentuk penyajian tari tersebut. Tari Indang Mangur di dalam upacara merupakan bentuk seni pertunjukan. Mengupas seni tari yang

13

bersangkutan maka akan lebih jelas bila melihat bentuk penyajiannya. Bentuk penyajian tari adalah penyajian tari secara keseluruhan dan melibatkan elemenelemen pokok komposisi tari. Elemen-elemen tersebut dapat di uarikan sebagai berikut: a. Gerak Tari Gerak merupakan substansi dasar tari. Akan tetapi, tidak semua gerak adalah tari. Tari adalah gerak yang sudah mengalami penggarapan, memiliki makna dan nilai estetis. Secara garis besar menurut bentuk gerakannya ada dua jenis gerak, yaitu gerak murni dan gerak maknawi. Gerak murni adalah gerak yang digarap untuk mendapatkan bentuk artistik dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan sesuatu (Soedarsono, 1978: 22-23). Gerak maknawi adalah gerak yang mengandung arti yang sudah jelas dan sudah mengalami stilirisasi. Gerak-gerak yang ada pada tari Indang Mangur ini ada gerak murni dan gerak maknawi yang mempunyai bentuk yang sederhana dan memiliki bentuk keindahan yang standar. Gerakannya diulang-ualng, mudah ditirukan, dan tidak memiliki patokan tari yang baku. b. Iringan Musik Musik dalam tari bukan hanya sekedar iringan tetapi musik adalah pasangan yang tidak bisa ditinggalkan (Soedarsono, 1978:26). Fungsi musik ada tiga: sebagai pengiring, memberi suasana, dan ilustrsi. Sebagai pengiring tari, berarti peranan musik hanya mengiringi atau menunjang penampilan tari. Fungsi musik sebagi pemberi suasana berarti

14

musik dipakai untuk membantu suasana adegan dalam tari. Fungsi musik ilustrasi hanya berfungsi sebagai pengiring. Tari tanpa musik dapat dilakukan dan dinikmati akan tetapi musik dapat menambah bobot keindahan suatu penyajian tari. Di dalam tari Indang Mangur menggunakan musik internal yaitu musik dari penari itu sendiri dan properti yang digunakan. c. Desain Lantai Yang dimaksud dengan desaian lantai adalah garis-garis di lantai yang dilalui oleh seorang penari atau garis-garis lantai yang dibuat oleh seorang penari atau garis-garis yang dibuat formasi penari kelompok. Secara garis besar ada dua pola garis dasar pada lantai,yaitu garis lurus dan garis lengkung (Soedarsono, 1978: 42). d. Tata Rias dan Busana Dalam suatu pertunjukan, rias tidak bisa lepas dengan busana. Kedua hal tersebut mempunyai satu kesatuan yang mendukung, rias dalam pertunjukan adalah untuk memperjelas garis-garis wajah dan membentuk katarkter penari. Busana tari pada prinsipnya harus enak dipakai dan menarik untuk dilihat. Busana kesenian daerah yang dipertahankan desain dan warna simbolis daerah tersebut. e. Tempat Pertunjukan Pada dasarnya bentuk tempat pertunjukan di Indonesia terdiri dari tiga macam yaitu bentuk arena, bentuk proscenium, dan bentuk campuran. Dalam hal ini tempat yang digunakan dalam pementasan tari Indang Mangur adalah arena yang dilalui tari pada prosesi alek nagari. Durasi tari ini adalah lebih kurang 60 menit.

15

f. Properti Properti merupakan suatu alat yang digunakan dalam sebuah pertunjukan yang tidak termasuk kostum dan perlengkapan panggung tetapi merupakan perlengkapan yang ikut ditarikan oleh penari (Soedarsono, 1978: 68). Dalam tari Indang Mangur properti yang digunakan adalah indang. D. Kerangka Konseptual Setiap daerah memiliki kesenian tradisi daerah masing-masing.

Masyarakat Nagari Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten padang pariaman memiliki kesenian tradisi yaitu tari Mangur yang merupakan hasil penggarapan berdasarkan cita rasa pendukungnya. Tari Indang biasanya ditampilkan pada acara alek nagari. Unsur-unsur yang terdapat adalah gerak, pertunjukan. Bentuk merupakan salah satu keutuhan struktur penyajian tari penari, musik, pola lantai, kostum, dan tempat

mencangkup sebagai unsur dan sebuah penampilan tari, dalam hal ini meliputi: gerak, penari, musik, pola lantai, kostum, tempat pertunjukan dan lainnya. Berdasarkan landasan teori diatas sebagaimana telah dijelaskan

sebelumnya, maka dapat dikembangkan penelitian ini dalam kerangka konseptual sebagai berikut :

16

Kerangka konseptual
Nagari Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman

Tari Indang Mangur

Bentuk Penyajian Tari Indang Mangur

Gerak

Penari

Musik

Pola lantai

Busana

Tempat pertunjukan

Hasil Penelitian

Gambar 1. Kerangka berfikir pada Bentuk Penyajian tari Indang Mangur di dalam Alek Nagari Kanagarian Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Di dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu suatu penelitian yang diteliti secara langsung ke tempat dan kepada sumber (objek) untuk menghasilkan data. Metode diskriptif digunakan untuk memenuhi dan mengungkapkan serta mendokumentasikan data dilapangan. Penelitian kualitatif selalu bersifat deskriptif, artinya data yang dianalisis dan hasil analisanya berbentuk diskriptif. Fenomena tidak berupa angkaangkaatau koofisien tentang hubungan antara variable data yang terkumpul berupa kata-kata atau gambaran, Moleong, (1981:2) Data yang diperoleh dari lapangan diolah secara diskriptif kualitatif. Analisa diskriptif kualitatif ini digunakan untuk mengetahui Bentuk Penyajian Tari Indang Mangur.

B. Objek Penelitian Objek penilitian adalah Tari Indang Mangur di kenagarian Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman. Adapun fokus yang dijadikan perhatian penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk Penyajian Tari Indang Mangur ini.

C. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini untuk melengkapi

kepentingan penelitian adalah jenis data primer dan sekunder yakni : 17

18

1. Data Primer Data primer adalah data utama yang berkaitan dengan penelitian yang diperoleh melalui observasi / pengamatan secara langsung kelapangan. Disini data-data yang diperoleh dengan hasil wawancara serta dokumentasi tentang tari Indang Mangur di Kanagarian Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman. 2. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang menunjang dan data yang relevan dengan kajian penelitian ini. Data sekunder diperoleh berupa teori-teori yang relevan dan ditemukan melalui buku sumber. Data sekunder merupakan hasil dari tinjauan kepustakaan. D. Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini instrument yang digunakan adalah penelitian sendiri yang dilengkapi dengan menggunakan alat bantu seperti : 1. Alat tulis Untuk mencatat data-data yang diperoleh dari informan dan nara sumber sesuai dengan pertanyaan yang diajukan dan sesuai dengan objek penelitian. 2. Kamera foto / video Untuk mendokumentasikan bagaimana bentuk gerak tari Indang Mangur. 3. Tape recorder dan kaset Untuk alat perekam dimana perekaman ini dilakukan untuk mendapatkan data yang akurat.

19

E. Teknik Pengumpulan Data Untuk pengumpulan data-data penelitian, hal-hal yang dilakukan penulis diantaranya: 1. Studi kepustakaan Studi kepustakaan dilakukan untuk mendapatkan ide-ide guna penelitian yang akan dilakukan dilapangan nantinya. Dan menjadikan bahan bacaan tersebut baik itu skripsi, makalah, maupun buku-buku yang relevan terkait judul yang dikaji sebagai titik tolak dan sebagai penguat data-data yang akan didapat dilapangan nantinya. 2. Observasi / pengamatan Untuk mendapatkan data yang akurat maka metode awal yang harus dilakukan adalah dengan teknik pengamatan. Peneliti melakuakan penelitian secara langsung kelapangan mengenai Bentuk Penyajian Tari Indang Mangur di Kanagarian Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman. 3. Wawancara Wawancara dalam suatu penelitian bertujuan untuk mengumpulkan keterangan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan objek yang akan diteliti. Wawancara adalah proses percakapan dengan maksud mengkontruksikan mengenai orang, kejadian, organisasi, motivasi, dan sebagainya. 4. Pemotretan Pemotretan dilakukan untuk mengambil foto atau gambar. Yang nantinya bisa djadikan sebagai bahan dokumentasi dan untuk menunjang penulisan ini nantinya.

20

5. Perekaman Perekaman atau pengambilan video tari ini dilakukan supaya mendapatkan hasil gambar yang lebih baik untuk mempermudah penulisan dalam medeskripsikan bentuk penyajian Tari Indang Mangur.

F. Teknik Analisa Data Tidak semua data yang didapat dilapangan diperlukan dalam penulisan ini. Data yang didapat akan dibatasi sesuai dengan tujuan penelitian. Untuk itu dalam tahap ini semua data yang diperoleh akan dianalisis secara akurat dan diseleksi sesuai dangan kebutuhan dan masalah yang diajukan, kemudian disusun secara sistematis dan deskiptif. Langkah selanjutnya adalah melakukan metode interprestasi dengan berbagai pertimbangan yang matang sehingga data tersebut dapat dicapai ke objektifitasnya dan juga dapat diperoleh kebenaranya. Sehingga masalah-masalah yang terdapat dalam penulisan ini dapat dibahas dan terselesaikan nantinya.

21

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Asal usul/legenda nagari Batu Kalang Tertulis/terdengar cerita di daerah Kanagrian yang subur, tumbuh yang menghijau, di atas tanah yang datar ditumbuhi pohon dan semak yang masih lebat, Nagari Batu Kalang orang menyebutnya hiduplah seorang raja. Yang mana raja ini berasal/turun dari Darek yang beristirahat di Nagari lebih kurang dalam satu bulan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan selang waktu dalam satu bulan itu, kemudian Raja itu setiap harinya pergi mandi ke sungai (Red:sekarang Batang Mangor) bersama putri dan istrinya dan juga pengikutpengikutnya. Pada waktu pergi mandi tersebut, Raja bersana putri didudukan diatas batu yang sangat besar, karna batu tersebut agak oleng maka dikalanglah batu itu supaya jangan sampai bergerak. Setelah sampai satu bulan mereka beristirahat, kemudian Raja tersebut berangkat menuju arah Utara Nagari ini, melalui medan/jalan yang menurun dan mendaki. Setelah sampai di bagian utara negeri ini, Raja kembali beristirahat di atas batu yang agak besar, di sela-sela angin sepoi-sepoi, cuaca yang penuh bersahabat di iringi udara yang cerah, dan batu itu bergerak kearah jurang yang sangat dalam. Supaya batu itu jangan sampai bergulir/jatuh ke jurang yang sangat dalam lalu batu itu di kalang. Oleh sebab itulah Negeri ini di beri nama Batu Kalang. Yang mana tempat kejadian dulunya yaitu di Dusun Batu Kalang Tuo yang bertempat sekarang di Korong Lima Hindu.

22

2. Letak geografis Batu kalang merupakan kenagarian yang terletak di Padang Pariaman,dengan luas wilayah 1240 Ha, dengan luas pemukiman 280 Ha, Kenagarian Batu kalang ini terdiri dari lima Korong yaitu; Korong Punco Ruyung, Korong Lima Hindu, Korong Mangur, Korong Lubuk Napa, Korong Kp. Piliang

Skala 1:1000 Sumber : Kantor Wali Nagari Batu Kalang Tahun 2011 Batas-batas wilayahnya adalah:

23 a. Utara berbatasan dengan Nagari Tandikat b. Selatan berbatasan dengan Nagari Koto Baru c. Barat berbatsan dengan Nagari Koto Dalam d. Timur berbatasan dengan Nagari Tandikat Wilayah kenagarian Batu Kalang beriklim tropis dengan temperatur udara berkisar 27 30 C. Curah hujan berada diatas rata-rata, lima tahun terakhir yakni sejumlah 3.000 mm/tahun dengan jumlah hari hujan sebanyak 176 hari atau rata-rata 15 hari/bulan dan rata-rata curah hujan 200 mm/bulan. Tabel 1. Kondisi Sosial Budaya Nagari No. Uraian Jumlah 1 Kependudukan A. Jumlah Penduduk (Jiwa) 2640 B. Jumlah KK 655 C. Jumlah laki-laki a. 0 15 tahun 415 b. 16 55 tahun 520 c. Diatas 55 tahun 270 D. Jumlah perempuan a. 0 15 tahun 493 b. 16 55 tahun 630 c. Diatas 55 tahun 312 2 Kesejahteraan Sosial A. Jumlah KK Prasejahtera 155 B. Jumlah KK Sejahtera 115 C. Jumlah KK Kaya 10 D. Jumlah KK Sedang 140 E. Jumlah KK Miskin 235 3 Tingkat Pendidikan A. Tidak tamat SD 245 B. SD 126 C. SLTP 160 D. SLTA 362 E. Diploma/Sarjana 65 Sumber : Kantor Wali Nagari Batu Kalang Tahun 2011 Keterangan

24

Dari tabel tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa : 1. Kependudukan. Jumlah usia produktif lebih banyak dibanding dengan usia anak-anak dan lansia. Perbandingan usia anak-anak, produktif, dan lansia adalah sebagai berikut: 34% : 44% : 22%. Dari 2.640 jumlah penduduk yang berada pada kategori usia produktif laki-laki dan perempuan jumlahnya hampir sama / seimbang. 2. Kesejahteraan Jumlah KK Miskin mendominasi yaitu 35,9% dari total KK. KK Pra Sejahtera 23,7 %, KK sejahtera 17,6 % KK Kaya 1,5 %. dan KK Sedang 21,4 %. 3. Tingkat Pendidikan Kesadaran tentang pentingnya pendidikan terutama tamatan SMA sederajat 9 tahun baru terjadi beberapa tahun ini sehingga jumlah lulusan SD dan SLTP mendominasi peringkat Pertama. 3. Adat dan Masyarakat Nagari Batu Kalang yang memiliki lebih kurang jumlah penduduk 2640 jiwa. Masyarakat tersebut sama halnya dengan masyarakat umum yang ada di Minangkabau yakni masyarakat yang memiliki budaya kehidupan adat istiadat sebagaiman dalam fatwa adat yang berbunyi adat basandi syarak, syarak basandi kikabullah, (adat mengacu pada agama, agama mengacu pada kitab [alquran]; agam yang mengatur atau menggariskan, adat yang menerapkan ). Fatwa budaya adat istiadat tersebut yang dianut dalam kehidupan sehari-hari, agar masyarakat hidup

25 dalam bentuk rukun dan dalam kebersamaan yang saling hormat menghormati, saling harga menghargai dan saling caya mempercayai dan lain sebagainya. Masyarakat nagari Batu Kalang dalam memahami adat untuk kehidupan sehari-hari dengan masyarakat Minagkabau umumnya tidak jauh berbeda, hanya sekitar pengalam dan penafsiran adat dan semua itu tidak terlalu menjolok. Walaupun terdapat perbedaan, namun masih menonjokan persamaan yang kental pada seluruh mayarakat Minangkabau yang berada di daerah Nagari Batu Kalang. Bentuk budaya dan adat lainnya yang dijalankan dalam kehidupan masyarakat Nagari Batu Kalang juga sama dengan bentuk dijalankan oleh masyarakt Minangkabau umumnya yaitu bentuk budaya dalam kehidupan sehari-hari adalah sistem martilinear (keturunan menurut garis keturunan ibu). Sistim martilinear ini masih tetap dijalani oleh Masyarakat Minangkabau, termasuk juga masyarakat di Nagari Batu Kalang. Dalam adat istiadat ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dari prinsip-prinsip yang terdapat dalam sistem tersebut sebagai berikut: a) Setiap orang Minagkabau memiliki suku. Jika ibu memiliki suku Tanjung, maka secara otomatis anak dari ibu baik yang laki-laki maupun yang perempuan juga bersuku Tanjung. b) Bagi ibu yang bijak dalam mendidik anak dan saudara-saudaranya, maka ibu dinobatkan sebagai Bundo kanduang. c) Para kaum laki-laki (dari garis keturunan ibu) yang dianggap mampu dalam memimpin, dia diangkat menjadi pemimpin kaum yang disebut dengan tungganai, untuk

menentukan menjadi pimpinan kaum perlu diperhatikan terlebih dahulu tentang gelar dari suku yang akan diberikankepada pimpinan kaum tersebut. Gelar yang diberika itu merupakan warisan gelar dan jabatan kepada kaum laki-laki yang akan memimpin.

26 Warisab gelar itu di namakan sako. Tujuan dari pengangkatan tumgganai ini adalh agar lembaga kesukuan/Korong tetep terjaga. d) Harta pusaka tinggi turun kepada ibu (perempuan), akan tetapi pengaturan penggunaan harta tersebut diawasi oleh mamak (daudara laki-laki ibu). System pengaturan tersebut bagi masyarakat Minangkabau mengacu pada fatwa adat alam takambang jadi guru bahwa kaum laki-laki memaklumi wanita itu harus dilindungi, karena dalam ajaran agama juga menerangkan bahwa perempuan itu dilindungi,dididik, dan dibimbing. Oleh sebab itu harta pusaka dikelola oleh kaum ibu namun dibawah pengawasan mamak. Tujuan dari pengawaan harta pusaka adalah; (a) agar pengelolaan dapat dilakukan secara adil, (b) harta tidak bisa dijual secara individu, (c) harta tidak milik individu. Mengkaji sistim matrilineal yang berlaku di Nagari Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman tentu tidak berbeda dengan sistem matrilineal yang berlaku secara umum di Minangkabau, saperti beberapa bentuk sistem yang diuraikan diatas, ini lah yang berlaku di masyarakat Minagkabau umumnya, masyarakat Nagari Batu Kalang khususnya. Dalam adat juga terdapat etka-etika pergaulan yang harusdipahami agar sesama kita tetep terjalin hubungan yang baik. Bentuk etika tersebut dalam fatwa kato malereang, kato mandaki, kato manurun, dan kato mandata ( kata malereng, kata mendaki, kata menurun, dan kata mendatar) maksud istilah tersebut adalah sebagi berikut; a) Kato malereang adalah ungkapan kata-kata kapada orang yang memegang jabatan didalam suku, seperti Niniak Mamak, dan Alim Ulama, Sumando (suami dai saudara perempuan).

27 b) Kato mandaki adalah ungkapan kata-kata kepada orang yang lebih besar dari kita seperti, orang tua, nenek, kakak. c) Kato manurun adalah ungkapan kata-kata kepada orang yang lebih muda seperti adik. d) Kato mandata adalah ungkapan kata-kata kepada orang yang yang sebaya dengan kita. 4. Mata Pencaharian Dilihat dari keadaan geografis dan iklim di nagari Batu Kalang, dimana dengan kontur daerah yang datar dan berbukit-bukit dan beriklim tropis dengan temperatur udara berkisar 27 30 C . Maka sebagian besar masyarakat Nagari Batu Kalang bermata pencaharian sebagai petani, industri, perdangangan dan jasa.

Meskipun secara umum mata pencaharian penduduk Nagari Batu Kalang disektor pertanian, industri, perdagangan, dan jasa, tetap saja mata pencaharian penduduk yang banyak di Nagari ini adalah adalah bertani atau disektor pertanian. Pertanian yang dikelola pada umumnya adalah padi, kopi, kelapa, sayur mayur, buah-buahan dan lain sebagainya. Persentase mata pencaharian penduduk Nagari Batu Kalang yang berada disektor pertanian cukup tinggi. Hamper 70% penduduk Nagari Batu Kalang adalah petani. Selebihnya berada di sektor industri, perdagangan dan jasa. Tabel 2. Mata pencaharian Penduduk No. Uraian 1. Mata Pencaharian A. Buruh Tani B. Petani C. Peternak D. Pedagang E. Tukang Kayu F. Tukang Batu Jumlah 460 487 55 84 85 78 Keterangan

28 G. Penjahit 25 H. PNS 76 I. Pensiunan 54 J. TNI/Polri 18 K. Perangkat Nagari 13 L. Pengrajin 75 Bordir, bantal M.Industri kecil 62 Pembuatan kerupuk, kue N. Buruh Industri 12 O. Lain-lain 98 Sumber : Kantor Wali Nagari Batu Kalang Tahun 2011

Dapat dilihat dari tabek di atas mayoritas mata pencaharian penduduk adalah petani dan buruh tani. hal ini juga disebabkan karena sudah turun temurun sejak dulu bahwa masyarakat Nagari Batu Kalang adalah petani. 5. Agama Pada umumnya masyarakat Nagari Batu Kalang Kabupaten Padang Pariaman menganut agama islam. Sebagaimana agama yang diwarisi dan dianut oleh nenek moyang mereka. Sebagai umat beragama mereka sangat taat menjalankan ibadah setiap waktu baik secara individual maupun secara bersama-sama. Begitu pula dengan masyarakat Nagari Batu Kalang yang

termasuk kedalam Kabupaten Padang Pariaman 100% menganut agama islam. Karena masyarakat didominasi penduduk asli Nagari Batu Kalang yang menganut agama islam yang diwarisi dari nenek moyang mereka terdahulu hingga sekarang. Akan tetapi sebelum agama islam masuk ke Minangkabau, masyarakat tersebut percaya kepada kekuatan-kekuatan gaib, hal ini adalah pengaruh animism dan dinamisme, sebab sebelum Islam masuk ke Minang kabau ada Agama Budha Sekte bairawa yang dibawa oleh Adhityawaraman ke Minangkabau ketika ia mendirikan kerajaan pagaruyung, agama tersebut

29 hanya berkembang terbatas dilingkungan kaum istana, oleh sebab itu Agama Budha tidak dokenal secara luas dalam kehidupan masyarakat Minangkabau (Mardjani Martamin, 1979: 31) 6. Pendidikan Masyarakat Nagari Batu Kalang sangat menyadari pentingnya pendidikan didalam kehidupan mereka, sebab tujuan pendidikan secara umum bagi manusia adalah untuk mencerdaskan manusia dan menjadikan manusiayang maju, adil dan makmur. Sehingga pada saat ini anak usia sekolah betul-betul duduk di sekolah sesuai usia anak. Bukti bahwa masyarakat tersebut menyadari bahwa pendidikan itu sangat penting, dengan demikian sarana pendidikan sudah ada di Nagari Batu Kalang. Tabel 3. Prasarana dan Sarana Nagari No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Jenis Prasarana dan Sarana Desa Kantor Nagari Gedung SLTA Gedung SLTP Gedung MTs Gedung Pondok Pesantren Gedung SD Gedung MI Gedung TK Masjid Musholla Pasar Nagari Polindes Panti PKK Jumlah 1 1 1 1 1 4 2 7 38 1 Perlu perbaikan. Keterangan Baru Pondasi

30 14 15 16 17 Poskamling Jembatan Jembatan Gantung Gedung TPQ 5 2 2 Perlu perbaikan.

Sumber : Kantor Wali Nagari Batu Kalang Tahun 2011 7. Sistem kesenian Seni dan budaya merupakan warisan dari nenek moyang bangasa Indonesia yang parlu dikembangkan dan dilestarikan. Berbagai seni dan budaya menunjukan bahwa kita memiliki kepribadian dan peradaban yang tinggi serta terhomat, maka dari itu wajib melestarikan, membina, mengembangkan, dan menumbuhkan kembali rasa kecintaan atas seni dan budaya itu sendiri. Kareana seni maerpakan sarana untuk semangat agar berjiwa besar dan juga membentuk kehalusan bunyi dengan penuh kasih sayang antar sesama manusia. Beragam bentuk kesenian yang terdapat dalam masyarakat Nagari Batu Kalang antara lain: a) Seni Tari : seni tari di Nagari Batu Kalang cukup banyak ragam dan bentuknya, yang merupakan budaya dari masing-masing daerah. namun berbagi bentuk seni tari tersebut, banyak pula yang sudah hampir hilang dan dilupakan dilingkungannya, untuk itu memang masih perlu penggalian yang mendalam. Tari yang masih ada diantaranya tari gelombang, silek Alu Ambek, tari Piring, tari Indang dan lain sebagainya. b) Seni rupa ialah : berupa anyaman-anyaman tikar, atap rumbia, ukiran yang terbuat dari kayu seperti lesung,dan lain sebagainya. c) Seni Musik : Seni musik Nagari Batu Kalang pada awalnya dikembangkan dengan alat musik tradisional Nagari Batu Kalang namun dalam perkembangannya sudah banyak

31 dipakai alat-alat musik modren. akan tetapi alat-alat musik tradisional masih tetap dipergunakan sampai sekarang, bahkan tetap diusahakan untuk tetap dilestarikan salah satu kesenian musik tradisioanl yang masih ada adalah batanbua. d) Seni teater : seni teater tradisioanl yang masih ada sampai saat ini adalah randai Simarampang dan randai Nan Tongga. B. Asal Usul Tari Indang Mangor Secara kontekstual penelusuran asal-usul keberadaan tari Indang didalam masyarakat Nagari Batu Kalang ini, metode yang digunakan adalah metode pengumpulan data baik melalui wawancara (,interview) langsung ke beberapa nara sumber / informan juga melalui riset kepustakaan (library reseach). Setelah data terkumpul atau terinventarisir, dilakukan pengkajian secara komperaitf (perbandingan). Dari hasil kajian itu didapatkan suatu kesimpulan yang merangkum data yang cukup rinci, kronologis dan tingkat relevansinya dapat di pertangung jawabkan secara ilmiah. Tari Indang Mangor adalah jenis tari tradisi yang berpungsi sebagai hiburan. Menurut Jamunar( wawancara 10 Mei 2011) tari Indang Mangor berasal dari Korong Mangor. tari Indang tumbuh dan berkembang di Nagari Batu Kalang dan sekitarnya sejak zaman dahulu jauh sebelum penjajahan belanda ada, yang merupakan tari kesenangan orang tua-tua terdahulu. Tari ini dahulunya merupakan salah satu tari yang digunakan untuk menyiarkan agama Islam, tapi sekarang tari Indang tidak lagi digunakan sebagai penyiaran Agam islam melainkan hanya untuk hiburan. Berdasarkan wawancara tanggal 10 mei 2011 dengan bapak Jafrijal menyatakan bahwa tari Indang Tari Indang dulunya dibawa oleh seorang pemuka islam yang berasal dari Aceh yaitu Abdul Kadir. Disetiap dakwak-dakwahnya dalam penyiaran agama islam, Beliau selalu

32 menggunakan dendang-dendang syair pantun sebagai media untuk penyiaran agama islam. Dari Aceh Abdul Kadir menyebarkan tari Indang sampai ke Sumatera Barat yang tepatnya di kanagarian Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman. Tari Indang Mangur menjadi Kesenian asli bagi masyarakat setempat. Tari ini merupakan salah satu tari yang masih hidup dan bertahan. Tari ini tidak diketahui lagi siapa penciptanya dan tahun berapa terciptanya, karena tari ini diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Dahulunya tari Indang berfungsi sebagai penyiaran agama Islam, namun seiring dengan perubahan zaman tari itu berubah fungsinya sebagai hiburan. Di Nagari Batu Kalang tari Indang biasanya ditampilkan pada Upacara Alek Nagari (pesta rakyat) seperti upacara pengangkatan penghulu, pesta perkawinan, dan lain sebagainya. Dalam upacara alek nagari tari Indang berfungsi sebagi tari hiburan, untuk memeriahkan Upacara Alek Nagari. C. Prosesi Alek Nagari Nagari Batu Kalang merupakan bagian dari Kabupaten Padang Pariaman, daerahnya diapit oleh perbukitan, oleh sebab itu masyarakat disana umumnya hidup bertani. Pada dasarnya kebudayaan di Padang Pariaman hampir sama dengan kebudayaan daerah Minangkabau lainnya, tetapi ada juga sedikit perbedaan yang salah satunya dapat dilihat dari tata cara alek nagari nya. Tradisi seni-budaya atau pamenan anak nagari di Minangkabau antara lain tumbuh dan berkembang dalam tradisi budaya yang ditopang dengan apa yang dinamakan Alek nagari. Alek nagari, yang merupakan suatu bentuk perayaan atau pesta budaya ini, dalam sejarah kebudayaan Minangkabau, memang memiliki peran dan fungsi yang penting dalam memelihara dan mengembangkan berbagai bentuk kesenian tradisi yang ada di setiap nagari secara otonom dan partisipatif. Dengan kata lain, Alek nagari bisa dianggap sebagai suatu institusi budaya yang

33 penting dalam masyarakat Minangkabau, karena bukan hanya sekedar wadah perayaan kesenian, tetapi juga sekaligus merupakan media pengikat silaturahmi antara anak nagari sendiri. Nagari sebagai suatu wilayah budaya, yang sekaligus menjadi basis kultural orang Minangkabau, memang memberikan ruang yang cukup menjamin untuk berlanjutnya suatu tradisi budaya anak nagari. Hal ini misalnya dapat dilihat dari persyaratan yang harus dimiliki oleh sebuah nagari, antara lain harus babalai bamusajik, batapian-bagalanggang dan seterusnya. Dari persyaratan ini, terlihat bahwa setiap nagari harus memiliki galanggang, atau sering juga disebut medan nan bapaneh atau, medan parmainan, yang dimanfaatkan untuk kegiatan seni budaya anak nagari. Artinya, di dalam setiap nagari sudah ada jaminan bahwa di dalam strukturnya sudah ada tempat yang jelas bagi tumbuh dan berkembangnya kesenian (budaya) anak nagari. Alek nagari ini dilaksanakan di suatu wilayah budaya di pedalaman Minangkabau, yaitu di Nagari Batu Kalang yang bertepatan di Dusun Lurah Parit, alek nagari ini diadakn selama 5 hari, yaitu dari tanggal 20-23 Mei 2011. Alek nagari ini bertujuan untuk: Mengembangkan kehidupan seni-budaya anak nagari dengan cara yang partisipatif, demokratis dan dinamis. Untuk menggairahkan kembali kehidupan seni-budaya anak-nagari di Minangkabau secara terlembaga pada masyarakat nagari-nagari di Sumatra Barat. Untuk mencanangkan alek nagari sebagai institusi budaya anak-nagari yang bersifat otonom serta menyambut proses kembali kepada Pemerintahan Nagari. Untuk mengembangkan solidaritas sosial antar anak-nagari dalam menggiatkan kehidupan seni-budaya dalam nagari. Acara seni budaya yang ditampilkan selama alek nagari:

34 1) Pada malam pertama pada tanggal 20 Mei 2011, sehabis magrib pembukaan acara alek nagari, yang mana acara ini dibuka oleh wali nagari Batu Kalang yaitu Bapak Mansyur Rokas, BA. Acara ini juga dihadiri oleh para tamu undangan dari Nagari tetangga, anak nagari dan masyarakat sekitar. Setelah acara pembukaan selesai, sekitar jam 21.00 WIB acara dilanjtkan dengan menampilkan Randai Simarantang. randai simarantang merupakan salah satu seni budaya dibidang teater daerah setempat yang sampai saat ini masih tetap berkembang dan dilestarikan di Nagari Batu Kalang.

Gambar 1. Randai Simarantang (Koleksi foto oleh: Dwi Ayu Sisyani, 20 Mei 2011)

2) Pada malam kedua setelah magrib masyarakat sekitar telah ramai berbondong-bondong mendatangi tempat alek nagari acara yang ditampilkan pada malam kedua ini adalah randai nan tongga selain dari penampilan randai acara ini juga dimeriahkan oleh orgen

35 tunggal, siapa saja hadirin yang hadir di acara alek nagari ini diperbolehkan manyumbangkan suara emasnya untuk memeriahkan acara alek nagari tersebut. Disamping itu di area tempat acara juga ramai dipadati oleh para pedagang kaki lima mulai dari menjual makanan ringan, nasi, mainan anak-anak dan lain sebaginya. Mereka berfikir sangat sayang sekali jika kesempatan ini dilewti begitu saja, selain bisa menikmati hiburan pemasukan mereka pun juga bertambah.

Gambar 2. Warung penjual nasi (Koleksi foto oleh: Dwi Ayu Sisyani, 21 Mei 2011)

3) Pada malam ketiga tanggal 22 Mei 2011 masih sama halnya dengan malam sebelumnya,masyarakat sekitar masih ramai mendatangi tempat acara alek nagari bukan hanya masyarakat dari Batu Kalang saja yang meramaikan tempat acara ini melainkan juga ada masyarakat dari Nagari tetengga contohnya dari Nagari Tandikat, Nagari Koto

36 Baru, Nagari Koto Dalam. Tidak ada batasan usia untuk mendatangi acara ini baik tua maupun muda. Bagi ibuk-ibuk tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak membawa anak mereka ke acara alek nagari ini karena acara ini hanya sekali-sekali diadakan ditambah pula disini juga ada hiburan dan permainan anak-anak seperti dunia balon, kereta api olala, boyan kaliang dan lain sebagainya. Di malam ketiga ini selain masih ada acara orgen yang pada malam ini dibintang tamui oleh Buset si penyanyi sekaligus pelawak, kesenian tradisi yang ditampilkan adalah indang tigo sandiang maksudnya dalam satu malam itu akan tampil tiga kelompok kesenian indang dari korong yang berbeda yaitu dari Korong Lurah Parit, Korong Tungka dan Korong Mangor. Penampilan indang ini dimulai jam 01.00 WIB dinihari. Sebelum memulai, masing-masing kelompok mengambil posisinya dengan membentuk segi tiga. Masing-masing kelompok duduk bersila dan berderet dengan jalan menghimpitkan paha kanan pada paha kiri temannya. Ketiga kelompok indang melakukan tanya-jawab atau sindir-menyindir berbagai persoalan yang terjadi saat pertunjukan berlangsung. Satu kali penampilan indang ketiga kelompok ini disebut sapanaiak. Disaat penmpilan dalam sapanaiak ini kostum yang digunakan penari hanya baju biasa dan kain sarung. Jumlah pemain indang setiap kelompok sekitar 11 orang. Satu orang tukang Dikie (zikir) dan lainnya yang berjumlah ganjil duduk berderet di depan tukang Dikie (zikir) itu. Dalam seni indang mereka ini disebut, tukang aliah, tukang apik, tukang pangga, dan tukang palang. Selain itu, ada pula tuo indang. Tuo indang bertugas menjaga keselamatan anggota pemain secara keseluruhan baik lahir maupun batin. Setiap penyajian indang selalu dimulai dengan basmalah berdoa untuk menyatukan diri menghadap Allah SWT.

37 Maka dengan itu pula, pemain indang harus mampu memaparkan dan sekaligus menjalankan ajaran Islam dengan benar.

Gambar 3. Boyan Kaliang (Koleksi foto oleh: Dwi Ayu Sisyani, 21 Mei 2011)

38

Gambar 4. Penampilan Indang Mangur di Saat Indang Naiak (Koleksi foto oleh: Dwi Ayu Sisyani, 22 Mei 2011) 4) Pada malam ke empat tanggal 24 Mei 2011 masyarakat semakin ramai mendatangi acara alek nagari karena malam kempat ini merupakan malam penutupan acara alek nagari. Tepat jam 9.15 WIB indang tigo sandiang pun dimulai penmpilan indang ini masih sama halnya dengan penmpilan indang tigo sandiang hari kemarin tiga kelompok kesenian indang dari korong yang berbeda yaitu dari Korong Lurah Parit, Korong Tungka dan Korong Mangor yang membedakanya adalah kostum yang dipakai penari adalah baju tari yaitu baju taluak balango, kain sarung, salempang dan destar. Penampilan ketiga indang ini disebut dengan indang lambuang.

39

Gambar 5. Penampilan Indang Mangur di Saat Indang Lambuang (Koleksi foto oleh: Dwi Ayu Sisyani, 23 Mei 2011) D. Bentuk Penyajian Tari Indang Mangur Penyajian merupakan proses pengaturan dalm penmpilan atau pertunjukan dari suatu tarian. Bentuk penyajian tari Indang Mangur adalah penampilan tari Indang yang disajikan kepada penonton. Tari Indang dalam penyajiannya mempunyai ciri khas yaitu menceritakan kegiatan yang erhubungan dengan penyiaran agam islam Bentuk penyajian tari Indang Mangur dalam kegiatan-kegiatan upacara adat seperti pesta perkawinan, dan bentuk acara hiburan lainnnya seperti psar malam, alek nagari, pentuk penyajian tari Indang Mangur adalah sama, tetepi pembedanya dalah tergantung pada upacara yang dilaksakan dan kapan tari Indang disajiakan. Untuk melihat bentuk penyajian tari Indang Mangur di Nagari Batu Kalang, berikut ini adalah penjelasan mengenai bentuk penyajian tari Indang Mangur.

40 a) Sebelum tari Indang Mangur disajikan diawali dengan segala bentuk persiapan yang berhubungan dengan tari Indang Mangur mulai dari memakai kostum dan persiapan lain yang dirasa perlu. b) Setelah semua penari selesai memakai kostum, tuo indang pun memberi sedikit nasehat dan pengarahan kepada para penari Indang dan kemudian dilanjutkan dengan balimau. c) Setelah semuanya selesai semua personil Indang pun berangkat ke lokasi acara.

Gambar 6. Persiapan Para Penari (Koleksi foto oleh: Dwi Ayu Sisyani, 23 Mei 2011) E. Deskripsi Tari Indang Mangur 1. Gerak Gerak merupakan substansi dasar tari, akan tetapi tidak semua gerak adalah tari. Tari adalah gerak yang sudah mengalami penggarapan atau penataan, memiliki makna dan nilai

41 estetis. Secara garis besar menurut bentuk artistik gerakannya ada 2 (dua) jenis gerak, yaitu gerak murni dan gerak maknawi. Gerak murni adalah gerak yang di garap untuk menggambarkan bentuk artistik dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan sesuatu. Gerak maknawi adalah gerak yang mengandung arti yang sudah jelas dan sudah mengalami stilisasi atau distori. Gerak-gerak yang ada pada tari Indang Mangur mempunyai bentuk yang sederhana dan memeliki bentuk keindahan yang standard. Gerakannya diulang-ulang, mudah di tarikan dan diitrukan serta tidak terlalu berpatokan pada tari yang baku. Meskipun demikian halnya tetap saja gerakan-gerakan tari Indang Mangur memiliki kekahasan ataupun keunikan gerak yang spesifik. Gerak tari Indang Mangur menggambarkan aktifitas atau kegiatan masyarakat setempat dalam penyiaran agama Islam yang telah distilirisasi dan dituangkan melalui gerakan yang sederhana dan berulang-ulang serta mudah ditiru. Adapun nama-nama gerak dalam tari Indang Mangur yaitu : a. Sambah b. Golong-golong c. Alihan lagu d. Alihan kanan berdasarkan ciri-ciri tari rakyat ( tradisi) maka tari Indang Mangur termasuk kedalam tari rakyat (tradisi) dengan ciri-ciri : 1.) Memiliki fungsi sosial (menggambarkan kegembiraan pemuda-pemudi) 2.) Bentuk gerak yang sederhana 3.) Sering melakukan perulangan gerakan 4.) Tata rias dan busana yang sederhana 5.) Irama pengiringya dinamis

42 6.) Ditarikan bersama 7.) Bertemakan kehidupan masyarakat 2. Iringan musik tari Indang Mangur Musik merupakan salah satu unsur penting dalam tari, tanpa adanya musik maka suatu tari tidak akan indah dan menarik dan akan terasa hambar. Karena antara tari dan musik saling berkaitan saling mendukung. Musik iringan tari yang digunakan pada penampilan tari Indang di Nagari Batu Kalang ini hanya meliputi musik internal saja. Musik internal yaitu suatu iringan musik yang muncul dari penari itu sendiri yang terdapat pada gerakan tepuk tangan yang merupakan salah-satu dari gerakan tari Indang dan musik yang bersumber dari properti yang dimainkan yaitu sebuah rapai. Selain dari itu musik juga bersumber dari vokal tukang dikia, tukang karang, dan para penari lainnya. Syair yang disampaikan merupakan pantun-pantun adat dan sindiran mengenai nagari. Bunyi itu berfungsi untuk membentuk suasana-suasana pada tari Indang Mangur da menghidupkan suasana pada tari Indang Mangur. Suasana-suasana yang ada pada tari Indang adalah suasana gembira. Syair pantun dalam Tari Indang Mangur Nan kato indang kadimulai RapaI sajo kami angkek Diidringi dengan assallamualikum Alek rang banyak tolonglah jawek Dengan bismillah dimulai Caro barundiang dalam rapek Kito agiah kaji bapangka Duya akhirek nak samo dapek Dek rang banyak tolong lah jawek Kami ucapkan salam agama

43 Sungguah pu kito main indang Akhirat usah sampai tingga Duya akhirek nak samo dapek Kito agiah kaji bapangka Dek kito usah sampai lupo dasar Negara pancasila Kok nak cadiak barani pakai Diateh kato dinan bana Pandai-pandai iduik didunia Undang nan tigo jan dilangga Nan partamo undang-undang adaik Nan kaduo undang-undang Negara Nan katigo undang-undang sarak Dalam nagari sudah kaka Undang nan tigo jan dilangga Tantu ado pakai pemimpin Usah dibuek sewenang-wenang Latakan paham dinan bathin Dalam nagari sudah kaka Tantu ado paki disiplin Kalau kito jadi rakyat Patuah-patuah pada pemimpin Dahulu indak sobaik pikia Alah kini mangko dibanakan Arok dek buruang tabang tinggi Punai ditangan balapehkan Kami lah tabang indak batantu Tak kama rajo ditanyokan Dituka bana jo yang lain Asiang bantuak balain roman Punai ditangan balapehkan Kini lah tabang kamahligai

44 Tadanga dalam sangkak ameh Tak juo raso kadicapai Asiang bantuak balain roman Ibaraik kunci ndk saroman Saketek indak bara sisiah Salelo indak saparangkai Dalam sabanyak bangso buruang Sitampuo bijak johari Basarang dikayu bapinjangek Kok tak dicangkiang nan baduri Ingek sabalum kanai Biapun andah dengan tinggi Kalau waktu ppadi masak Indak tagandiang dek kacidi Kok tak dicangkiang nan baduri Ingek-ingek sabalum kanai Cacaik saketek indk hilang Alun baranak lah babuai Indak tagandiang dek kacidi Sayang dek aka ndk manyampai Kok indak dikajuik tak nyo tabang Walau nak ampia dek palembai Sawaktu kami diparik mangoi Tanang dahulu duo pihak Dituju mamak rang di Tungka Nan kareh bumi tampek tagak Nan luruih kato kamo sabuik Takalo langkah kami kiak Manuju renah muduak padang Di kampuang kami tinggaan mamak

45 Dijujuak tali nan salasai Aia tatampuah jalan bariak Sungguh pun kito balain suku Anggap sajolah badunsanak Kami nan ketek mudo matah Medan nan jolong kami jajah Kok tasabuk kami dinan bukan Ka nan bana tolong diasuik

Sakaian dulu kaniniak mamaki Dituju nan kandunag duo jurai Kok buliah pintak urang Mangoi Dicari kato nan sasuai Usah bajimpang nan bak kunik Sarumpun nak nyo nan bak sarai Dinan janiah aia samo sauak Manjujuik tantang nan salasai Ibarat tali bapilin tigo Usah diagak tagang salai Dinan kurang tukuak manukuak Dinan senteng bilai mambilai Sungguah baitu kato kami Panonton rang tungka kamanilai Nak langsuang kami katujuan Supayo dimaksuik nak nyo sampai Bakukuak ayam lenggo geni Murai bakicau di bubuangan Pijar tabik timur lah bongkah Jaleh sagalo ragi aluan Pukua limo labiah lah dating Disinan indang diposekan Sagalo panonton lah abih pulang Inyo tamale kasiangan

46

Kami takuik kabadoso Kabagandiang dendang jo azan Sapakaik kito tigo sandiang Di sinan indang di posekan Kini indang kakito mulai Dek panitia lapiak lah bakambang Mako baitu kato parik mangoi Buliah mukasuik kadisampaika Terhadap dunsanak nan baduo Nan duduak kiri jo kanan Kato ndak mungkin kadijawek Sebab wakatu ndk maizinan Maaf dahulu kami pintak Kok ado kato tadorongan Nan samo tingga jo jarami Ibaraik garam dipairiahkan Sakian dulu ka na baduo Kapanonton nyo bakuliliang Sungguahpun kami dari Mangoi Usah disangko urang asiang Kabangkeh sagalo urang panggaleh Bia manggaleh gulai kambiang Rilakan sado nan tamakan Untuang manjadi darah daging 3. Pola lantai tari Indang Mangur Pola lantai adalah garis-garis yang dilalui oleh penari diatas pentas. Pola lantai terbagi menjadi dua pola garis dasar pada lantai yaitu garis lurus dan garis lengkung. Sehubungan dengan teori tersebut pola lantai tari Indang dalam alek nagari pada tanggal 20-23 Mei 2011 terdapat pola garis lurus saja. Selama penampilan tari Indang pola lantai yang digunakan garis

47 lurus dengan penari duduk bersila dari awal hingga akhir penampilan dengan kaki kanan diletakan diatas kaki kiri penari disebelah kita.

Keterangan : a. b.

: Penari laki-laki : Arah hadap

Penari : 1. Tukang kalang (penutup) 2. Pelengkap 3. Bungo salapan 4. Tukang pangga 5. Tukang lalu 6. Tukang karang 7. Tukang darak 8. Tukang lalu 9. Tukang pangga 10. Bungo salapan 11. Tukang kalang (penutup)

48 4. Tata rias dan busana Tak dapat dipungkiri bahwasanya dalam suatu pertunjukan (khususnya pertunjukan tari), tata rias dan busana tidak lepas berdiri sendiri, kedua unsur tersebut mempunyai satu kesatuan yang satu sama lainnya mendukung. Tata rias dalam pertunjukkan tari adalah untuk memperjelas garis-garis wajah dan membentuk karekter penari. Dengan tata rias akan di dapat membentuk karakter penari sesuai tema tari. Tata rias dapat membentuk karekter penari menjadi cantik (puteri), gagah, anggun, sakral, berwibawa, melankolis dan sebagainya. Soedarsono (1986:106) mengemukan pendapat tentang warna kostum tari, bahwa

merah adalah menarik, biru adalah menarik, hitam mengesankan kebijaksanaan, sedih, putih terkesan muda, suci, murni, kuning adalah penuh dengan kegembiraan(cerah). Dalam tari Indang Mangur tidak menggunakan riasan wajah karena penari tari Indang ini semuanya laki-laki. Pada tari Indang Mangur busana yang digunakan tidak beranjak dari busana tradisional, yang bentuk busananya yaitu baju taluak balango warnanya hijau (untuk tukang karang)selebihnya memakai baju taluak balango warna kuning, kain saruang, destar dan salempang sedangkan tukang dikia hanya memakai baju biasa. 5. Waktu dan tempat pertunjukan Di Indonesia, bentuk tempat pertunjukkan bagi seni tari, seni teater serta seni musik, pada dasarnya terdiri dari tiga macam bentuk tempat pertunjukan yaitu: bentuk arena, bentuk proscenium, dan bentuk campuran. Dalam hal ini tempat yang di gunakan dalam pementasan tari Indang Mangur adalah arena. Arena yang dimaksud adalah halaman suatu gedung atau rumah, lapangan terbuka hingga panggung terbuka. Disaat peneliti melakukan penelitian Tari Indang ini

49 ditarikan disebuah laga-laga yang sengaja dibuat untuk penampilan tari Indang di acara alek nagari ini. Durasi tarian lebih kurang selam 60 menit.

Gambar 7. Laga-laga tempat penampilan tari Indang (Koleksi foto oleh: Dwi Ayu Sisyani, 23 Mei 2011) 6. Properti tari Indang Mangur Properti merupakan suatu alat yang di gunakan dalam suatu pertunjukan yang tidak termasuk kostum / busana dan perlengkapan, akan tetapi merupakan perlengkapan yang ikut di tarikan oleh penari (soedarsono, 1987: 68). Pada tari Indang Mangur properti yang dipakai adalah rapai.

50

Gambar 8. Properti tari Indang yaitu Rapai (Koleksi foto oleh: Dwi Ayu Sisyani, 23 Mei 2011) 7. Penari Pertunjukan tari dapat dihayati melalui penari yang memiliki keterampilan dalam melakukan gerakan tari baik secara fisik maupun ekspresi. Keterampilan secara fisik dan ekspresi juga didukung oleh bakat dan daya ingat yang tinggi. Tari Indang Mangur ditarikan oleh 11 orang penari laki-laki yang memiliki keterampilan dalam melakukan gerakan. Tari Indang menggambarkan tentang penyiaran agama islam yang masuk ke Sumatera Barat umunya dan Nagari Batu Kalang khususnya. F. Pembahasan Tari Indang Mangor merupakan salah satu tari tradisional yang berada di Nagari Batu Kalang, tari Indang Mangur merupakan jenis tari tradisi yang berfungsi sebagai hiburan, tari Indang Mangor berasal dari Korong Mangor. tari Indang tumbuh dan berkembang di Nagari

51 Batu Kalang dan sekitarnya sejak zaman dahulu jauh sebelum penjajahan belanda ada, yang merupakan tari kesenangan orang tua-tua terdahulu. Tari ini dahulunya merupakan salah satu tari yang digunakan untuk menyiarkan agama Islam, tapi sekarang tari Indang tidak lagi digunakan sebagai penyiaran Agam islam melainkan hanya untuk hiburan. Pertunjukan tari Indang Mangur merupakan saran ekspresi masyarakat , mereka menampilkan kebolehan dalam berkesenian. Hal ini berarti masyarakat yang bergerak dalam kesenian ini telah melakukan upaya pelestarian terhadap budaya Minangkabau umumnya, tari Indang Mangur khususnya. Hal ini terbukti dengan diadakan latihan rutin setiap minggu yang dilakukan dilapangan terbuka yaitu di lapangan sepak bola yang ada di korong Mangur dan setiap ada acara alek nagari Indang Mangur ini pasti diundang untuk memeriahkan acara alek nagari tersebut. Gerak-gerak yang ada pada tari Indang Mangur mempunyai bentuk yang sederhana dan memeliki bentuk keindahan yang standard. Gerakannya diulang-ulang, mudah di tarikan dan diitrukan serta tidak terlalu berpatokan pada tari yang baku. Meskipun demikian halnya tetap saja gerakan-gerakan tari Indang Mangur memiliki kekahasan ataupun keunikan gerak yang spesifik. Gerak tari Indang Mangur menggambarkan aktifitas atau kegiatan masyarakat setempat dalam penyiaran agama Islam yang telah distilirisasi dan dituangkan melalui gerakan yang sederhana dan berulang-ulang serta mudah ditiru. Adapun nama-nama gerak dalam tari Indang Mangur yaitu : a. Sambah b. Golong-golong c. Alihan lagu d. Alihan kanan

52 Tari Indang diiringi oleh Musik yang digunakan dalam tari ini adalah musik internal, musik yang ditimbulkan dari gerakan para penari tersebut dalam memainkan proprti indang, yang mana musik berfungsi untuk menghidupkan suasana yang terdapat pada tari Indang Mangur yaitu suasana gembira. Didalam tari Indang ini hanya menggunakan pola lantai garis lurus yaitu dengan bersila membuat satu shaf barisan. Yang aman busana yang dipakai dalah baju taluak balango, salempang, destar dank ain saruang, yang dalam bentuk penyajiannya tari ini ditampilakan disebuah arena yang diseut laga-laga.

53 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Tari Indang Mangur merupakan kesenian tradisional yang ada di Nagari Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman. 2. Tari Indang Mangur di gunakan sebagai hiburan pad upacara adat dan pada acara hiburan lainnya. 3. Tari Indang di sajikan dalam bentuk tarian Indang tigo sandiang, dengan duakali penampilan yaitu Indang naiak dan Indang lambuag. 4. dalam tari Indang Mangur hanya menggunakan musik internal. 5. Jumlah penari 11 orang dan ditambah 1orang tukang dikia. 6. Kostum yang dipakai sewaktu indang naiak adalah baju biasa, sedangkan disaat indang lambuang baru menggunakan kostum tari. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah didapatkan penulis, mengingat pentingnya kesenian tradisional tari Indang Mangur bagi masyarakat Nagari Batu Kalang maka ada beberapa saran yang dapat diajukan penulis yaitu: 1. Agar tari Indang Mangur tetap berkembang dan terus dilestariakan di Nagari Batu Kalang Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman, diharapkan terhadap seniman daerah mampu mempelajari dan melatih generasi baru sebagai penerus daerah sendiri. 2. Tari Indang Mangur sebaiknya di teliti lebih dalam lagi dari berbagai aspek lainnya, sehingga dapat menambah pengetahuan.

54 3. Hendaknya generasi muda yang mempunyai bakat dan kemampuan di bidang seni agar terus melestarikan kesenian tradisi daerahnya, supaya pemerintah daerah dapat lebih memberikan perhatian pada kesenian tradisi yang ada didaerah seperti salah satunya adalah kesenian tari Indang Mangur. 4. Dan diharapkan pada guru seni budaya dan muatan lokal dapat memberikan pelajaran tradisional pada siswa sesuai dengan daerahnya, sehingga kesenian tradisi ini tetap tumbuh dan berkembang pada pendukungnya.