Anda di halaman 1dari 8

DAMPAK KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PERILAKU AGRESIF ANAK

Nataliya Mudjiarti Istiana Kuswardani Universitas Setia Budi

Abstract The objective of this study is to determine the background of victim, and actor of sexual abuse, the psychological impact towards victim of sexual abuse and various aggressive behavior elicited as the impact sexual abuse towards victim. Sexual abuse as defined as any behavior was done to other to force sexual se which cause physical and psychological injured. Sexual abuse toward childrencan cause sudden, changes on behavior for instance, hapynes to depression or hostility, exstrims behavior, reggresive behavior, avoidance behavior withdrawl, depression without specific cause, excessive anxiety genital injured. Subject of this study is a two year a girl, how is victim of sexual abuse. Supporting subject of this study are a ten year old boy, which is the actor of sexual abuse, the mother of the actor of sexual abuse, and the mother of the victim. Qualitative chase study approach was used in the study. The result of the study shows that the actor of sexual abuse cames from less harmony family (broken home), authoritarian child-rearing practices, and previous experiences as victim of sexual abuse. Victim of sexual abuse cames from family with lack of attention and the control toward children. Sexual abuse influences the development of children psychologically (emotionally, and social), sexual abuse physical aggressive behavior.

Keyword: Sexual abuse, aggressive behavior, child.

Pendahuluan Anak merupakan harapan bangsa, sebagai penerus bangsa dan harta yang tidak bernilai harganya, yang merupakan titipan Tuhan, dan merupakan penerus keluarga. Anak memiliki potensi bekal, kemampuan dan bakat, juga memiliki cita-cita yang harus diwujudkan oleh keluarga, anak memiliki hak-hak yang dilindungi seperti: 1. Hak untuk kelangsungan hidup dan berkembang 2. Hak untuk mendapat nama 3. Hak untuk mendapat kewarganegaraan 4. Hak untuk mendapat identitas 5. Hak untuk mendapat standar hidup layak 6. Hak untuk bebas berkumpul secara damai 7. Hak untuk hidup dengan orang tua 8. Hak untuk tetap berhubungan dengan orang tua bila dipisahkan orang tua dari satu orang tua (Konvensi hak anak, 2000). Namun tanpa disadari, banyak anak yang kurang beruntung karena mengalami kekerasan baik fisik maupun psikis. Berdasarkan laporan yang masuk dan pengaduan yang diterima hotline servise (HLS) Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) tahun 2005, menunjukkan bahwa kekerasan seksual pada anak lebih besar 'populasinya' dibandingkan kekerasan fisik. Sepanjang 2005 terjadi kasus kekerasan dengan kualifikasi: 121 kasus perkosaan anak (40%), 172 kasus percabulan (57%) dan 8 kasus bersetubuh sedarah (incest) (3%). Dari 301 kasus tersebut, 250 korbannya adalah anak perempuan (81,43%), dan 51 kasus (18,57%) korbannya anak lakilaki dalam bentuk kejahatan sodomi. Berdasarkan fenomena kekerasan seksual anak. Penulis ingin melakukan penulisan studi kasus, studi ini untuk menelusuri secara mendalam terhadap anak usia 2 tahun yang merupakan korban kekerasan seksual yang mengakibatkan munculnya perilaku agresif. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui latar belakang korban dan pelaku kekerasan seksual, dampak psikologis korban kekerasan seksual, dan bentu-bentuk perilaku agresif yang muncul pada korban kekerasan seksual. Penelitian ini nantinya dapat digunakan untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan psikologi khususnya psikologi perkembangan, dan psikologi klinis yang berkaitan dengan dampak kekerasan seksual terhadap perilaku agresif anak dan sebagai tambahan informasi bagi orang tua dan masyarakat tentang dampak kekerasan seksual terhadap perilaku agresif anak. Perilaku Agresif Anak Goleman (1977) menjelaskan bahwa yang disebut anak adalah individu yang merupakan awal untuk mengenal diri dan lingkungan sekitar. Pengalaman-pengalaman yang bersifat emosiomal akan sangat mempengaruhi bentuk struktur kepribadian dan perilaku.

Perilaku agresif anak adalah reaksi atau respon dari suatu aktivitas atau kegiatan dan ada hubungannya dengan apa yang dilakukan oleh anakanak seperti dengan melukai menyakiti dan menganiaya. Perilaku agresif bisa merupakan akibat dari usaha anak untuk menghilangkan stimulus agersif yang mengganggu sebagai serangan balik, selanjutnya perilaku agresif akan digunakan untuk menuntut perhatian, untuk menghentikan olok-olok, untuk menghilangkan rasa frustasi (Achenbach, 1982). Bentuk-bentuk perilaku agresif antara lain: menurut Byrne (1980), bentuk agresi ada 2 yaitu: perilaku agresif fisik yang dilakukan dengan melukai atau menyakiti badan, dan perilaku agresif verbal dilakukan dengan mengucapkan kata-kata kotor / kasar. Sama halnya dengan yang dikemukakan oleh Medinus (Koeswara, 1988) yang juga membagi bentuk-bentuk perilaku agresif menjadi 2 seperti: agresi yang dilakukan dengan serangan fisik dengan menggunakan alat atau benda-benda tertentu dan agresi yang dilakukan dengan kata-kata atau simbol. Kekerasan Seksual Kekerasan didefinisikan sebagai semua tindakan yang dilakukan terhadap orang lain yang mengakibatkan perasaan tidak nyaman bagi jiwa dan fisik orang tersebut. Kekerasan terhadap anak disebabkan oleh faktor internal yang berasal dari anak sendiri maupun faktor ekternal yang berasal dari kondisi keluarga atau masyarakat, seperti: anak mengalami cacat tubuh, retardasi mental, gangguan lemah, ketidaktahuan anak akan hak-haknya, anak terlalu bergantung pada orang dewasa, kemiskinan keluarga, orang tua

menganggur, penghasilan tidak cukup, anak banyak keluarga tunggal atau pecah (broken home), keluarga yang belum matang secara psikologis, ketidaktahuan mendidik anak, harapan orang tua yang tidak realistis, anak yang tidak diinginkan, penyakit parah, atau gangguan mental pada salah satu dari orang tua, sejarah penelantaran anak, kondisi lingkungan sosial yang buruk Suharto (dalam Huraerah, 2006). Cara mendidik anak yang otoriter dan menggunakan cara kekerasan sehingga menjadi model bagi anak dalam berperilaku Smith-Cannady (dalam Huraerah, 2006). Sofian, dkk (1999) memandang kekerasan seksual sebagai bentuk dari segala perilaku orang dewasa yang berorientasi pada seksual yang ditunjukkan pada anak-anak yang menimbulkan rasa sakit. Kekerasan seksual pada anak dapat diartikan sebagai penggunaan anak dan remaja yang masih dependen, belum matang tingkat perkembangannya dalam kegiatan yang tidak dipahami sepenuhnya oleh mereka, dimana mereka tidak mampu melakukan secara suka rela atau melanggar normal sosial dari peran keluarga (Ireland dalam Sofian, dkk. 1999). Akibat Kekerasan Seksual menurut Gelles (dalam Huraerah, 2006) bahwa dampak psikologi anak korban kekerasan dan penganiayaan bisa seumur hidup seperti rasa harga diri rendah, ketidakmampuan berhubungan dengan orang lain atau teman sebaya, masa perhatian tereduksi. Moore (dalam Huraerah, 2006), mengatakan dampak dari kekerasan yang dialami oleh anak adalah anak menjadi agresif, depresi, kecemasan yang berlebihan serta mudah frustrasi.

Kusuma (dalam Fitriyah, 2005) menyebutkan akibat dari kekerasan seksual berupa sakit secara fisik, psikis, dan sosial. Sakit secara fisik antara lain: adanya memar, rasa sakit didaerah genital, terjadi pendarahan. Sakit secara psikis antara lain: mempunyai

kecemasan, timbul rasa takut pada orang dewasa, timbul rasa malu, bersalah, minder. Sakit secara sosial seperti: timbul perilaku agresif, kehilangan kepercayaan diri, menarik diri dari lingkungan sosial.

Kerangka Penelitian

Kekerasan seksual tehadap anak

Dampak perilaku Psikologi

Perilaku Agresi

Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimana latar belakang perilaku dan korban kekerasan seksual? 2. Bagaimana dampak psikologi anak korban kekerasan seksual? 3. Bagaimana bentuk-bentuk perilaku agresif anak sebagai dampak kekerasan seksual yang dialami oleh anak? Metode Penelitian Fokus penelitian ini adalah dampak kekerasan seksual terhadap perilaku agresif anak. Kekerasan seksual adalah semua tindakan yang dilakukakan untuk berhubungan seksual yang mengakibatkan rasa sakit baik fisik maupun psikisnya. Perilaku agresif anak adalah suatu respon atau reaksi dari suatu aktivitas yang bersifat berbahaya yang dilakukan oleh anak-anak. Bentukbentuk dari perilaku agresif yaitu berupa agresifitas fisik yang mengharapkan perilaku agresif dengan menggunakan alat atau benda tertentu bertujuan untuk melukai. Perilaku agresif verbal yang

merupakan perilaku agresif dengan menggunakan kata-kata atau simbol bertujuan untuk menyakiti. Pendekatan penelitian untuk mengungkapkan dampak kekerasan seksual terhadap perilaku agresif anak adalah dengan pendekatan kualitatif denga studi kasus. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian studi kasus bersifat instrinsik, yaitu penelitian dilakukan karena ketertarikan atau kepedulian pada suatu kasus tersebut, tanpa harus dimaksudkan untuk menghasilkan konsep atau teori (Poerwandari, 2001). Subjek Penelitian Teknik pemilihan subjek disesuaikan dengan tujuan penelitian yaitu: 1. Proses pemilihan subjek penelitian dalam penelitian kualitatif menampilkan karakteristik, diarahkan bukan pada jumlah yang besar, melainkan pada kasus tipikal sesuai dengan kekhususan masalah penelitian.

2. Tidak ditentukan secara kaku subjek awal, tetapi dapat berubah dalam jumlah maupun karakteristik subjek penelitian, sesuai dengan pemahaman konseptual yang berkembang dalam penelitian. 3. Tidak diarahkan pada keterwakilan melainkan pada kecocokan konteks Sarantakos (Poerwandari, 2001). Dengan karakteristik seperti yang diuraikan diatas maka jumlah subjek penelitian dalam penelitian kualitatif tidak dapat ditentukan secara tegas diawal penelitian, namun peneliti membatasi jumlah subjek penelitian dalam penelitian ini. Kasus yang diteliti sangat spesifik dengan jumlah subjek yang tidak banyak, untuk proses penelitian ini ditemukan satu subjek (sesuai dengan laporan dari Poltabes Surakarta). Subjek yang usianya relatif belita, maka subjek lain yang di teliti adalah orang tua, keluarga terdekat subjek (significant others). Metode Pengumpulan Data Penelitian kualitatif studi kasus ini dalam mengumpulkan data dengan metode observasi dan wawanacara. Wawancara dilakukan bersifat terbuka dan tidak berstruktur, artinya responden mendapat kebebasan dan kesempatan untuk mengeluarkan buah pikiran, padangan, dan perasaannya tanpa diatur ketat oleh peneliti (Nasution, 2003). Wawancara dilakukan untuk mengungkap karakter kepribadian subjek, dan dampak psikologis yang disebabkan oleh kekerasan seksual yang dialaminya. Wawancara ini dilakukan

kepada orang tua, dan orang terdekat subjek sebagai informasi penelitian. Penelitian terhadap subjek menggunakan metode observasi, karena subjek masih balita. Langkah-langkah dalam menganalisa data antara lain: membuat transkripsi verbatim hasil wawancara dan laporan hasil observasi, melakukan koding dari transkripsi verbatim. Langkah koding dalam analisis data ini dengan menggunakan koding aksial. Selain itu melakukan analisis termatis, selanjutnya menemukan tema-tema besar sesuai pertanyaan penelitian, kemudian melakukan pembahasan. Pembahasan hasil penelitian dilakukan dengan cara melihat hasil penelitian secara kritis dengan teori yang relevan dan informasi-informasi aktual yang ditemukan dari lapangan. Analisis dan Pembahasan a. Latar belakang keluarga pelaku dan korban kekerasan Bahwa pelaku kekerasan seksual memiliki latar belakang keluarga yang kurang harmonis seperti orang tua pecah atau broken home, adanya pertengkaran orang tua dengan menggunakan kekerasan, dan pola asuh orang tua yang otoriter serta pelaku kekerasan juga pernah mengalami kekerasan seksual. Selain itu kesibukan orang tua korban kekerasan seksual yang terlalu padat sehingga kurang memperhatikan korban, dan lingkungan serta korban seperti: ketidakpedulian orang tua dengan pergaulan dan kegiatan korban seharihari.

Hal ini didukung oleh teori Suharto (dalam Huraerah 2006), yaitu bahwa kekerasan anak disebabkan oleh faktor internal yang berasal dari anak sendiri maupun faktor eksternal yang berasal dari kondisi keluarga dan masyarakat, anak mengalami cacat tubuh, retardasi mental, gangguan lemah, ketidaktahuan anak akan hakhaknya, anak terlalu bergantung pada orang dewasa, kemiskinan keluarga, orang tua menganggur, penghasil tidak cukup, banyak anak. Keluarga tunggal atau keluarga pecah (broken home), keluarga yang belum matang secara psikologis, harapan orang tua yang tidak realistis, anak yang tidak diinginkan, penyakit parah, atau gangguan mental pada salah satu dari orang tua, sejarah penelantaran anak, kondisi lingkungan sosial yang buruk. Cara mendidik anak yang otoriter dan menggunakan cara kekerasan sehingga menjadi model bagi anak dalam berperilaku Smith-Cannady (dalam Huraerah, 2006). b. Dampak psikologis anak korban kekerasan seksual Perilaku yang muncul pada diri subjek penelitian yang merupakan korban kekerasan seksual antara lain: sukar berhubungan dengan orang lain, sukar makan, sukar tidur, suka mengigau, mengompol, suka menangis, agresif seperti: melukai, merusak barang, dan pemarah. Hal ini seperti dengan teori Gelles (dalam Huraerah, 2006) bahwa dampak psikologi anak korban kekerasan dan penganiayaan bisa seumur hidup seperti rasa harga diri

rendah, ketidakmampuan berhubungan dengan orang lain atau teman sebaya, masa perhatian tereduksi, senada dengan Moore (dalam Huraerah, 2006) dampak dari kekerasan yang dialami oleh anak adalah anak menjadi lebih agresif, depresi, kecemasan yang berlebihan serta mudah frustasi. Kusuma (dalam Fitriyah, 2005) menyebutkan akibat dari kekerasan seksual berupa sakit secara fisik, psikis, dan sosial. Sakit secara fisik antara lain: adanya memar, rasa sakit didaerah genital, terjadi pendarahan. Sakit secara psikis antara lain: mempunyai kecemasan, timbul rasa takut pada orang dewasa, timbul rasa malu, bersalah, minder. Sakit secara sosial seperti: timbul perilaku agresif, kehilangan kepercayaan diri, menarik diri dari lingkungan sosial. c. Dampak kekerasan seksual terhadap bentuk-bentuk perilaku agresif anak Dalam penelitian ini perilaku agresif yang muncul pada diri subjek penelitian yaitu dalam bentuk agresif fisik seperti: subjek menjadi pemarah, suka melukai orang lain, merusak barang, memukul dan sukar berhubungan dengan orang lain disekitarnya. Hal ini seperti pendapat dari Achenbach (1982) bahwa perilaku agresif anak merupakan reaksi atau respon dari suatu aktivitas atau kegiatan, dan ada hubungannya dengan apa yang dilakukan oleh anak-anak seperti: dengan melukai, menyakiti, dan menganiaya.

Bentuk-bentuk perilaku agresif yang muncul dalam hal ini seperti pendapat Byrne (1997) menyatakan bentuk agresi ada 2 yaitu: perilaku agresi fisik yang dilakukan dengan melukai atau menyakiti badan, dan perilaku agresif verbal yang dilakukan dengan mengucap kata-kata kotor / kasar. Sama halnya dengan yang dikemukakan oleh Medinus (Koeswara, 1988) yang juga membagi bentukbentuk perilaku agresif menjadi 2 seperti: agresi yang dilakukan dengan serangan fisik dengan menggunakan alat atau benda-benda tertentu dan agresi yang dilakukan dengan kata-kata atau simbol. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan terhadap dampak psikologis kekerasan seksual terhadap perilaku agresif anak, menurut hasil studi kasus yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pelaku kekerasan seksual memiliki latar belakang keluarga yang kurang harmonis seperti: orang tua pecah atau broken home, adanya pertengkaran orang tua dengan menggunakan kekerasan, pola asuh orang tua yang otoriter dan pelaku kekerasan juga pernah mengalami kekerasan seksual. Korban kekerasan seksual memiliki latar belakang keluarga yang sibuk dengan urusan masing-masing,

sehingga kurang memperhatikan anak, orangtua kurang mengawasi dan mengontrol anaknya, dan adanya ketidakpedulian dari orang tua terhadap lingkungan pergaulan sehari-hari. Kekerasan seksual yang terjadi pada anak berdampak pada perkembangan psikologisnya seperti faktor emosi, dan faktor sosial. Kekerasan seksual yang terjadi pada anak memunculkan perilakuperilaku agresif dalam bentuk agresif fisik seperti: anak sukar mengontrol emosinya (contoh perilaku anak tersebut antara lain: sering marah, melempar barang, dan merusak barang yang ada disekitarnya), melukai, dan menganiaya orang lain dengan cara memukul dan mencakar. Saran Bagi pihak orang tua yang memiliki anak dengan usia 2-12 tahun: a. Agar lebih memperhatikan anak secara optimal, dengan siapa anak bergaul, dan apa saja yang dilakukan oleh anak sehari-hari. b. Hendaknya orang tua menghindarkan anak dari kekerasan dan perlakuan yang salah dalam mendidik anak. Bagi pihak masyarakat a. Hendaknya masyarakat lebih peduli pada kekerasan yang terjadi di sekitar mereka. b. Ikut membantu melindungi anak dari kekerasan yang terjadi di lingkungan mereka.

Daftar Pustaka Achenbeach, T. M., 1982. Development Psychology. New York: John W. and Sons, Inc Alsa, A. 2003. Pendekatan Kuantitatif Dan Kualitatif Serta Kombinasi Dalam Penelitian Psikologi. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.

Baron, R. A dan Byrne, 1997. Social Psychology. Understanding Human Interaction, Toront: Ally and Bacon inc. Fitriyah, N. 2005. Penyesuaian Sosial Pada Remaja Korban Kekerasan Seksual. Fakultas Psikologi UMS. Skripsi: (tidak diterbitkan). Surakarta. Goleman, D. 1997. Kecerdasan Emosional. Jakrta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Huraerah, A. 2006. Kekerasan terhadap anak. Badung: Nuansa. Koeswara, E. 1988. Agresi Manusia. Bandung: PT Eresco Nasution, S. 2003. Metodologi Penelitian NaturalistikKualitatif. Bandung: Tarsito.

Poerwandari, K. 2001. Pendekatan Kualitatif Untuk Penelitian Perilaku Manusia. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LKSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Sumiarni, E. Halim, C. 2000. Perlindungan Hukum Terhadap Anak di Bidang Kesejahteraan. Yogjakarta: Universitas Atma. Pikiran Rakyat. Com 2006. Korban Kekerasan Anak di sunter. Retreived januari 15, 2006. Jaya from http://www.Pikiranrakyat.org/ke kerasan-anak-di-sunter.html. Yin, R. 1997. Studi kasus (Desain dan Metode). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.