Anda di halaman 1dari 3

ANALISIS PEMBERIAN GRASI KEPADA TERPIDANA NARKOBA CORBY

Disusun oleh : Yanuar Dwi Anggara NIM Kelas : E0010356 :E

ANALISIS PEMBERIAN GRASI KEPADA TERPIDANA NARKOBA CORBY

Kebijakan presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan grasi kepad scepelle leigh corby warga negara Australia menimbulkan kontroversi sebagian rakyat Indonesia. Sebab ditengah aksi pemberantasan melawan narkoba justru SBY memberikan grasi kepada terpidana narkoba. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani pengurangan masa hukuman sebanyak lima tahun terhadap schepele leigh corby terpidana kasus narkotika yang dihukum di pengadilan negeri denpasar Bali dengan vonis 20 tahun penjara. Pemberian grasi oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap corby dapat dikaji dalam berbagai aspek hukum, yang tertuang dalam pasal 14 UUD 1945 pascaamademen tentang permohonan grasi bahwa atas hukuman yang dijatuhkan pengadilan sipil maupun militer yang tidak bisa diubah lagi, orang yang dihukum dapat mengajukan grasi kepada presiden. dalam hal ini secara legal presiden yudhoyono dapat dikatakan sah secara konstitusi dalam sistem peradilan di Idonesia dalam pemberian grasi kepad Corby tersebut. Hal ini disebabkan UUD telah memberikan hak progretif kepada presiden. Namun dilain sisi tentang pemberian grasi tersebut dapat dikatakan presiden Yudhoyono memberikan keringanan kepada terpidana narkoba. Terutama dalam upaya untuk pemberantasan narkoba tersebut baik pengguna, pengedar, maupun bandar narkoba karena dapat berakibat pada kehancuran generasi muda yang akan datang.Secara empiris pemberian grasi kepada terpidana narkoba tersebut dirasa sangat melukai perasaan warga masyrarakat indonesia dalam upaya untuk pemberantasan narkoba. Dugaan muncul pemberian grasi terhadap Corby barangkali atas desakan pemerintahan Australia yang sejak awal menuntut adanya peringanan bahkan embebasan terhadap Corby. Kemungkinan lain adalah pemberian grasi tersebut merupakan upaya barter dengan perkara lain dalam hal ini nelayan-nelayan indonesia yang ditahan di Australia. Keganjilan lain tampak dari adanya informasi bahwa terpidan Corby tidak pernah melakukan upaya hukum termasuk grasi, akan tetapi pemerintah indoesia memberikan grasi lima tahun dengan hukum 20 tahun yang dialaminya. Grasis memang merupakan hak progretif presiden yang lega dan sah didalam UUD 1945. Namum perlu dijelaskan apa dasar pemberian grasi yang dikeluakan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap terpidana narkoba Corby warga negara Australia tersebut. Sehingga tidak menimbulkan keganjilan dalam masyarakat Indonsesia. Sebab masyarakat perlu tahu apalagi dengan semangat dalam upaya pemberantasan suatu tindak kejahatan berat termasuk pemberantasan narkoba. Narkoba tidak hanya

merugikan negara secara material, namun lebih buruk lagi dapat merusak generasi-generasi muda penerus perjuangan bangsa. Jika pemerintah tidak hati-hati, masyarakat akan berpendapat bahwa pemberian grasi tersebut hanyalah suatu upaya yang dilakukan oleh pemerintah yang hanya berdasarkan atas kepentingan pribadi atau sekelompok golongan tertentu. Yang tentusaja akan merusak citra pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dimata masyarakat serta menghambat proses pemberantasan narkoba ke depannya yang tidak memberikan efek jera bagi setiap pengedar, maupun pengguna narkoba. Grasi memang merupakan hak prerogetif presiden sebagaimana diatur dalam konstitusi, namun alangkah baiknya pengunaan itu digunakan dalam situasi yang sangat diperlukan adanya pemerian grasi. Sehingga presiden tidak semena-mena dalam menggunakan hak prerogatifnya tersebut.