Anda di halaman 1dari 22

KONSEP STRES

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Setiap individu tentunya pernah mengalami stress. Walaupun stress terlihat sebagai suatu hal yang negatif, tapi sebenarnya stress juga bisa menjadi hal yang positif. Hal ini bergantung dari jenis stressnya. Beberapa orang mengalami stres yang berat yang mungkin menguras tenaga dan membuat fisik seseorang tersebut lemah sehingga orang tersebut mudah jatuh sakit. Apabila kondisi sudah sangat ekstrem maka mungkin seseorang terseut bisa mengalami sakit jiwa. Tapi beberapa orang juga mampu menghadapi stresor yang dihadapinya dan meningkatkan performanya. Dapat dilihat, bahwa stress memiliki efek yang berbeda kepada setiap individu. Oleh karena itu konsep stress penting untuk dipahami secara mendalam sehingga stress yang terjadi tidak akan merugikan individu tersebut.

B. Tujuan Penulisan a. Menjelaskan definisi stress b. Menjelaskan sumber stress c. Menjelaskan jenis stress d. Menjelaskan anatomi dan fisiologi respon tubuh terhadap stress e. Menjelaskan indikator stress C. Rumusan Masalah a. Apa saja definisi stress? b. Apa saja yang bisa menjadi sumber stress? c. Apa saja jenis stress? d. Bagaimana anatomi dan fisiologi respon tubuh terhadap stress? e. Bagaimana indikator stress?

KONSEP STRES

D. Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode kajian pustaka yaitu metode dengan menggunakan literatur seperti buku. Buku tersebut digunakan sebagai sumber ide untuk menggali sebuah pemikiran maupun gagasan baru yang akan dituangkan dalam setiap bab pada makalah. Selain buku penulis juga menggunakan referensi yang berasal dari internet yang menyediakan website terpercaya sebagai sumber sebagai sumber pengetahuan terbaru, sehingga dapat melengkapi dan membangun kerangka teori baru yang dapat dikembangkan. E. Sistematika Penulisan Dalam penulisannya, makalah ini dibagi ke dalam empat bab. Bab I pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan, rumusan masalah, metode penulisan dan sistematika penulisan. Kemudian Bab II tinjauan pustaka yang menjelaskan mengenai konsep stress.. Kemudian Bab IV penutup yang meliputi kesimpulan dan saran.

KONSEP STRES

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Stress 1. Soeharto Heerdjan (1987) berpendapat stress adalah suatu keadaan yang mendesak atau mencekam yang menimbulkan suatu ketegangan dalam diri seseorang. 2. Maramis (1999) berpendapat stress adalah segala maasalah atau tuntutan penyesuaian diri terhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi dan lain lain. 3. Vincent Cornelli berpendapat bahwa stress adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan, yang dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan individu. 4. Chapplin (1999) berpendapat stres juga adalah suatu keadaan

tertekan, baik secara fisik maupun psikologis


5. Lazarus & Folkman (1986) berpendapat stres adalah keadaan

internal yang dapat diakibatkan oleh tuntutan fisik dari tubuh atau kondisi lingkungan dan sosial yang dinilai potensial membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu untuk

mengatasinya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa stress adalah tekanan yang terjadi pada diri individu karena adanya perubahan eksternal maupun internal yang menjadi sebuah ancaman dan mengganggu ketenangan individu.

B. Sumber Stress Sumber stress atau sesuatu yang dapat menyebabkan stress disebut sebagai stresor. Berdasarkan penyebabnya, stresor dibagi menjadi 3 jenis yaitu fisik, psikologis, dan sosial. Stressor fisik merupakan stresor eksternal, berasal dari luar diri individu seperti kebisingan suara, polusi udara, zat kimia, dan

KONSEP STRES

lain lain. Sedangkan stresor psikologis merupakan stres yang berasal dari dalam diri individu, seperti frustasi, rasa bersalah dan kecemasan yang berlebihan, rasa rendah diri, cemburu, dan lain lain. Kemudian stresor sosial merupakan jenis stres yang disebabkan karena adanya tekanan dari luar yang disebabkan oleh interaksi individu dan lingkungannya, contohnya adalah kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, masalah keuangan dan lain lain. C. Anatomi dan Fisiologi Stres Sebuah persepsi awam sering menyamakan stres dengan sakit gila, padahal keduanya itu berbeda. Normalnya, stres diperlukan oleh tubuh karena dapat memberikan stimulus terhadap pertumbuhan dan perubahan. Dalam hal tersebut, stres bersifat positif. Namun, stres juga dapat bersifat negatif jika terlalu lama dan banyak. Biasanya hal tersebut berpengaruh pada penyakit fisik dan ketidakmampuan koping. Jika sudah seperti itu, pola pikir seseorang terhadap masalah, pola hubungan dengan orang lain, pandangan terhadap hidup, bahkan status kesehatan dapat terganggu. Stres muncul dan terlihat dari luar fisik manusia sebagai suatu perubahan akibat adanya sebuah stimulus, yaitu stresor. Stres adalah segala situasi di mana tuntutan non spesifik mengharuskan seorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan. (Selye, 1976 dalam Potter & Perry, 2005). Perubahan yang tampak dari luar tersebut mengindikasi adanya suatu mekanisme yang berbeda pula dari dalam diri seseorang ketika terjadi stres. Hal tersebut berkaitan dengan adaptasi fisiologis yang selalu mempertahankan homeostatis tubuh. Oleh sebab itu, akan dibahas lebih lanjut mengenai anatomi dan fisiologi respon stres pada manusia. Mekanisme fisiologis akan memantau organ tubuh dan mengontrol fungsi tubuh. Ketika stres, sebagian besar mekanisme tersebut dikontrol oleh sistem saraf dan endokrin.

KONSEP STRES

Penyesuaian pada frekuensi jantung, frekuensi pernapasan, suhu tubuh, tekanan darah, sekresi hormon, keseimbangan cairan, maupun tingkat kesadaran pun dilakukan. Ketiga dari mekanisme utama yang digunakan dalam mengadaptasi stresor dikontrol oleh madula oblongata, formasi retikular, dan kelenjar hipofisis. (Potter&Perry, 2005:477).

1. Medula oblongata Organ ini mengontrol fungsi vital tubuh, seperti frekuensi jantung, frekuensi pernapasan, dan tekanan darah.

2. Formasi retikular Formasi ini merupakan kelompok kecil neuron dalam batang otak dan medula spinalis. Formasi retikular ini juga mengontrol fungsi vital dan memantau status fisiologis tubuh dengan tersambung pada traktus sensorik dan motorik.

KONSEP STRES

3. Kelenjar hipofisis Kelenjar ini melekat pada hipotalamus. Hormon-hormon yang mengontrol fungsi vital tubuh dan digunakan untuk beradaptasi terhadap stres diproduksi di kelenjar ini. Ketika stres terjadi, hipotalamus akan menerima rangsang stres dari korteks serebral. Hipotalamus membuat medula adrenal simpatik merespon stres dengan menskresi CRH (Corticotrophin Releasing Hormone). CRH menstmulasi sel di hipofisis anterior untuk mensekresi ACTH

(Adrenocorticotropic Hormone). ACTH menstimulasi sekresi kortisol dari korteks adrenal bersamaan dan sekresi ephinephrine dari medula adrenal. Kortisol akan meningkatkan glukosa, asam amino, dan asam lemak dalam darah untuk mengatasi stres. Sedangkan ephinephrine akan mengefektifkan stimulasi saraf simpatis selama merespon stres.

Mekanisme respons stress secara lengkap sebagai berikut: Stress fisik atau emosional mengaktivasi amygdala yang merupakan bagian dari sistem limbik yang berhubungan dengan komponen emosional dari otak. Respon emosional yang timbul ditahan oleh input dari pusat yang lebih tinggi di forebrain. Respon neurologis dari amygdala ditransmisikan dan menstimulasi respon hormonal dari hipotalamus. Hipotalamus akan melepaskan hormon CRF (corticotropinreleasing factor) yang

menstimulasi hipofisis untuk melepaskan hormon lain yaitu ACTH (adrenocorticotropic hormone) ke dalam darah. ACTH sebagai gantinya

KONSEP STRES

menstimulasi kelenjar adrenal, suatu kelenjar kecil yang berada di atas ginjal. Kelenjar adrenal berisi dua daerah yang berbeda, bagian dalam atau medulla yang mensekresi adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin

(norepinefrin) dan lapisan luar atau korteks yang mensekresi kortikosteroid mineral (aldosteron) dan glukokortikoid (kortisol). Secara simultan, hipotalamus bekerja secara langsung pada sistem otonom untuk merangsang respon yang segera terhadap stress. Sistem otonom sendiri diperlukan dalam menjaga keseimbangan tubuh. Sistem otonom terbagi dua yaitu sistem simpatis dan parasimpatis. Sistem simpatis bertanggung jawab terhadap adanya stimulasi atau stress. Reaksi yang timbul berupa peningkatan denyut jantung, napas yang cepat, penurunan aktivitas gastrointestinal. Sementara sistem parasimpatis membuat tubuh kembali ke keadaan istirahat melalui penurunan denyut jantung, perlambatan pernapasan, meningkatkan aktivitas gastrointestinal. Perangsangan yang berkelanjutan terhadap sistem simpatis menimbulkan respon stress yang berulang-ulang dan menempatkan sistem otonom pada ketidakseimbangan. Keseimbangan antara kedua sistem ini sangat penting bagi kesehatan tubuh. Dengan demikian tubuh dipersiapkan untuk melawan atau reaksi menghindar melalui satu mekanisme rangkap: satu respon saraf, jangka pendek, dan satu respon hormonal yang bersifat lebih lama. Seseorang yang mengalami stres juga menampilkan perubahan pada kondisi fisiknya, beberapa dapat dicontohkan sebagai berikut: 1. perubahan warna rambut menjadi kusam, kecoklatan, memutih sebelum waktunya, bahkan kerontokan rambut; 2. 3. 4. 5. ketajaman mata terganggu; timbul suara berdenging (tinitis) pada telinga; kemampuan berpikir, konsentrasi, dan mengingat menurun; wajah tegang, dahi berkerut, mimik serius, sukar senyum, dan kulit muka kedutan (tic facialis); 6. mulut kering dan susah menelan;

KONSEP STRES

7.

kulit panas atau dingin, keringat berlebih, gatal-gatal, timbul jerawat berlebihan;

8.

sistem pernapasan terganggu (penyempitan saluran napas, otot-otot rongga dada kurang elastis);

9.

sistem kardiovaskular terganggu (jantung berdebar-debar, pembuluh darah melebar atau menyempit, wajah merah atau pucat);

10. sistem pencernaan terganggu (lambung kembung, mual, dan perih); 11. sistem perkemihan terganggu (frekuensi air seni bertambah); 12. sistem otot dan tulang terganggu (otot sakit, pegal, dan tegang); 13. sistem endokrin terganggu (kadar gula tinggi, menstruasi tidak teratur dan sakit); serta 14. libido menurun atau meningkat dari biasanya. Biasanya, manusia terkena stres berkepanjangan akibat dari tekanan pekerjaan, ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup, ataupun masalah social. Akan tetapi, mekanisme adaptasi fisiologis ini hanya dapat memberikan kontrol jangka pendek. Oleh karena itu, stres yang berkepanjangan dapat menurunkan kapasitas adaptif yang

menyebabkan stres semakin memburuk. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya penyimpangan dan penurunan fungsi tubuh.

D. Jenis Stres Dinamika kehidupan seringkali membuat manusia menjadi budah goyah dalam berpikir dan bertindak. Seringkali manusia mempunyai mimpi atau harapan yang tidak sesuai atau jauh sekali darikenyataan seolah-olah terdapat jurang pemisah antara mimpi atau harapan tersebut dengankenyataan, sehingga mimpi atau harapan tersebut tidak tercapai. Contohnya adalah mimpi atau harapan menjadi pengusaha yang kaya raya dan terkenal, namun pada kenyataannya adalah hanya sebagai Office Boy di sebuah perusahaan. Contoh tersebut merupakan contoh yang menunjukkan suatu harapan yang tidak sesuai atau didasari pada kenyataan. Ketika kenyataan tersebut tidak sesuai dengan mimpi atau harapan, maka muncullah stress.

KONSEP STRES

Seyle dalam Green (2002) menyatakan jenis stress berdasarkan sifatnya antara lain: 1. Eustress Eustress merupakan stress yang positif, yang mana eustress ini merupakan bentuk stress yang memberikan efek positif kepada seseorang, yaitu biasanya memberikan tenaga kepada seseorang tanpa disadari, dan orang-orang menggunakan stress ini untuk keberuntungan. Contohnya adalah seorang anak kecil yang berlatih sepeda namun mengalami kegagalan terus menerus. Tetapi, dia melihat teman-temannya hamper semua mahir mengendarai sepeda, akhirnya karena melihat hal itu, dia terpacu untuk bisa mengendarai sepeda. Pada contoh tersebut, sebenarnya anak kecil tersebut mengalami stress yaitu karena kegagalannya dalam berlatih, namun ketika itu muncullah motivasi yang memacunya untuk terus berusaha berlatih sampai dia benar-benar mahir mengendarai sepeda seperti teman-temannya. 2. Distress Distress merupakan kebalikan dari Eustress yaitu stress yang bersifat negative. Inilah stress yang dimaksudkan oleh sebagian orang ketika mereka menggunakan kata stress. Pada distress ini, lebih mengacu pada hal-hal yang negative, menggunakan emosi-emosi negative seperti marah, kesal, dendam, dan sebagainya daripada menggunakan akal sehat untuk berpikir. Seseorang yang mengalami distress, cenderung mengasihani diri sendiri, mudah lelah dan tidak dapat berpikir dengan jernih. 3. Hyperstress Hyperstress merupakan kondisi dimana seseorang mengalami stress yang berlebihan, dan stress ini sangat merugikan bagi seseorang yang tidak bisa mengendalikan stress ini. Bila jumlah stressnya masih bisa dikendalikan, maka orang yang mengalami stress ini dapat belajar untuk menghindari distress, bahkan jika mampu maka dapat mengubahnya menjadi eustress.

KONSEP STRES

10

Akan tetapi, bila jumlahnya berada pada tingkat hyperstres, maka mengurangi stress lebih penting daripada mengelola stress. American Psichology Association menyatakan ada tiga jenis stress, yaitu: 1. Stress akut Stress akut disebabkan oleh sesuatu yang mengecewakan atau membuat khawatir pada masa lalu dan membuat tekanan atau kekhawatiran di masa depan. Contohnya, peserta lomba akan lebih bersemangat saap melihat peserta lain. Hal ini menyebabkan mereka mengalami stress akut yang akan memicu produksi adrenalin dan mendorong untuk menghasilkan energy lebih banyak demi hasil akhir yang terbaik. Namun, stress ini dalam jangka pendek dan akan menyebabkan kelelahan. Gejala akibat stress akut meliputi distress emosi (mudah marah, depresi dan kecemasan), rasa sakit dan nyeri pada otot (ketegangan otot, sakit kepala, punggung dan rahang), masalah pada perut dan usus seperti konstipasi, diare, perut kembung, irritable bowel syndrome, mual dan mulas). Situasi stress saat ini dapat mengarah pada naiknya detak jantung, migraine, telapak tangan berkeringat dan nyeri dada. 2. Stress Akut Episodik Stress ini disebabkan karena kekhawatiran yang terjadi secara terus menerus dan menilai segala sesuatu dengan negative. Akhirnya yang mengalami stress ini akan merasa tegang, cemas tanpa alasan jelas. Gejalanya berupa sakit kepala yang menetap, migraine, hipertensi, dan jantungan. Terkadang banyak orang dalam kondisi ini merasa hubungan interpersonal, pekerjaan mereka dan rumah menjadi hal yang sangat menegangkan. Seseorang dengan kondisi ini cenderung bereaksi berlebihan, mudah marah, emosi, mudah tersingggung, dan tegang. Orang yang mengalami kondisi seperti ini beranggapan bahwa hal ini adalah normal. Hal ini akan menjadi kebiasaan, kepribadian, dan gaya hidup mereka padahal seharusnya mereka segera membuat perubahan positif pada dirinya.

KONSEP STRES

11

3. Stress Kronis Jenis stress ini kaan meningkat sewaktu-waktu dan dapat menghasilkan efek jangka panjang. Sebagian besar stress kronis disebabkan oleh trauma yang mereka temukan sulit untuk dilupakan sehingga terus mengganggu kehidupan sehari-hari. Penyebab lain yang memicu terjadinya stress ini karena kemiskinan, disfungsional kehidupan keluarga, hubungan yang tidak bahagia dan perasaan tertipu. Stress kronis berasal dari perasaan putus asa dan menyerah atau trauma dimasa kecil yang mempengaruhi sisa hidupnya. Hal paling buruk dan stress kronin ini adalah orang menjadi terbiasa dan berpikir bahwa perilaku itu normal. Stress kronik ini dapat melemahkan mental dan fisik serta membutuhkan komitmen ditambah dengan kerja keras serta waktu untuk pulih kembali. Stress ini dapat diobatidengan bantuan aktif pemeriksaan diri dan bantuan professional. Menurut Heyle, Rosenmeh dan Chesney dalam Sunaryo (2002) meninjau jenis stress berdasarkan tipe kepribadian individu yaitu, Tipe A (vulnerable) dan Tipe B (immune). 1. Tipe A Tipe A ini merupakan tipe yang rentan/vurnerable, coro-cirinya a. Cita-cita tinggi (ambisius) b. Suka menyerang, bersaing tapi tidak sehat c. Banyak jabatan rangkap d. Cakap memimpin dalam berorganisasi e. Mudah empati tetapi i. Mudah tersinggung j. Kurang ramah f. Suka bekerja sendiri ketika ada tantangan g. Emosional h. Terlalu percaya diri

mudah musuhan

KONSEP STRES

12

k. Sulit dipengaruhi l. m. n. 2. Tipe B Berusaha kear Self control kuat Terlalu waspada

o. p. q. r.

Disiplin waktu ketat Kurang rileks Tidak mudah bergaul Sifatnya kaku

Tipe B ini merupakan tipe yang kebal/immune, cirri kepribadiannya: a. Cita-cita yang wajar, berkompetisi secara sehat, tidak memaksakan diri, emosi terkendali b. Self confident wajar c. Cara bicara tenang d. Ada keseimbangan waktu dan istirahat e. Tidak merasa paling benar f. Bertindak tenang pada waktu yang tepat g. Mudah bekerjasama dan bergaul h. Sikap memimpin akomodatif dan manusiawi i. Melepaskan masalah pekerjaan saat libur j. Mampu bertahan k. Mampu mengendalikan diri E. Indikator Stres Selain jenis-jenis stress, terdapat pula indicator stress yang dapat diperhatikan ketika mengkaji seseorang yang sedang mengalami stress atau stress yang berkepanjangan. Adapun beberapa indicator stress yang dimaksud ialah sebagai berikut (Potter dan Perry, 2005).

KONSEP STRES

13

1. Indikator Fisologis Indikator ini timbul dari berbagai system, tiap individu memiliki indicator fisiologis berbeda-beda. Selama tahap, misalnya terdapat keluhan fisik seperti mual, muntah, diare, sakit kepala, penampilan fisik berubah, postur tubuh menjadi tidak tegap, gaya berpakaian dan berdandan berubah. Hal ini menunjukkan hubungan antara stress berkepanjangan dengan penyakit kardiovaskuler dan gastrointentinal. Beberapa kasus kanker, gangguan imunologis juga sakit kepala (migraine), kepenatan dan mudah tersinggung berkaitan dengan stressor berkepanjangan dan tidak terselesaikan. 2. Indikator Perkembangan Stress berkepanjangan dapat mempengaruhi kemampuan untuk

menyelesaikan tugas perkembangan. Dalam bentuk yang ekstrim, stress yang berkepanjangan dapat mengarah pada krisis pendewasaan. a. Bayi atau Anak Kecil 1) Jika diasuh dalam lingkungan yang responsive dan empati, maka kehidupan mereka mampu mengembangkan harga diri, rendah hati, mengembangkan rasa percaya, beradaptasi dengan lingkungan dan akhirnya belajar respon koping adaptif yang sehat. 2) Jika orang tua atau lingkungan menghambat anak untuk

mengembangkan rasa otonom. Anak dapat mengalami stress yang ditandai dengan ketergantungan terhadap orang lain dan inaktif pasif perilakunya. b. Anak-Anak Usia Sekolah Mereka menyadari akumulasi dari pengetahuan dan penugasan keterampilan dapat membantu mereka mencapai tujuan dan harga diri melalui hubungan. Pada tahap ini, adanya stress ditunjukkan dengan ketidakmampuan atau ketidakinginan untuk berteman.

KONSEP STRES

14

c. Remaja Biasanya berusaha mengembangkan rasa identitas yang kuat dan penerimaan dikalangan teman sebaya. Tahap ini memiliki banyak stressor, seperti konflik dorongan seksual, dan standar perilaku yang diharapkan. Konflik yang berkepanjangan ini dikarenakan sebagai ketidaktegasan, kebingungan, pemberontakan, depresi atau ansietas. d. Dewasa Muda Tahap ini mengharuskan mereka menyiapkan diri untuk karir, harus hidup mandiri, memulai hidup untuk berkeluarga. Stressor yang berkembang antara soal tanggungjawab pekerjaan dan keluarga. Stressor mencakup konflik antara harapan dan realitas. e. Usia Setengah Baya Mampu membangun keluarga, menciptakan karir yang stabil, merawat orang tua mereka, dapat mengontrol keinginanm stressor yang dialami, mereka sering mengeluh karena adanya keletihan tubuh, penyakit ringan (influenza), depresi, ketidakpuasan interaksi keluarga. f. Usia Lanjut Mereka harus berusaha beradaptasi terhadap perubahan dalam keluarga dan kemungkinan terhadap kematian dari pasangan/teman hidup. Usia dewasa tua, harus menyesuaikan diri terhadap perubahan penampilan fisik dengan fungsi fisiologis. Hal ini tentu akan meneganggkan dapat memperburuk kesehatan yang ada, ditambah lagi dengan masalah emosional ketika dipindahkan ke panti jompo. 3. Indikator Perilaku Emosional Kepribadian individual mencakup hubungan yang kompleks diantara banyak faktor, maka reaksi terhadap stress yang berkepanjangan dilakukan dengan memeriksa gaya hidup, stressor klien, pengalaman terdahulu dengan stressor, mekanisme koping yang berhasil di masa lalu, fungsi peran dan

KONSEP STRES

15

konsep diri. Indikatornya dapat dilihat dari rasa control terhadap peristiwa kehidupan, komitmen terhadap aktivitas yang berhasil, dan antisipasi dari tantangan sebagai suatu kesempatan untuk pertumbuhan. 4. Indikator Intelektual Indikator yang diamati melalui kemampuan kognitif/pengetahuan dan keterampilan. Penilaian kognitif individu terhadap situasi juga memungkinkan menjadi tidak akurat. Stress dapat menghambat komunikasi antara klien dengan orang lain, sehingga terjadi peningkatan ketergantungan dengan orang lain. 5. Indikator Sosial Stressor pada keluarga dapat menimbulkan efek disfungsi yang mempengaruhi klien dan keluarga secara keseluruhan, misalnya suku Afrika-Amerika lebih memilih untuk mendapat dukungan social dari anggota keluarga dibandingkan dengan bantuan professional. 6. Indikator Spiritual Stress yang dapat menimbulkan kemarahan pada Tuhan atau individu menganggap bahwa stressor yang muncul adalah bagian dari hukuman. Stressor seperti penyakit akut atau kematian orang-orang tersayang dapat mengganggu makna hidup seseorang dan menyebabkan depresi. Hal yang terpenting dalam ndikator ini adalah terjadi perubahan antara nilai dan keyakinan. F. Respon Stres Individu secara keseluruhan terlibat dalam merespons dan mengadaptasi stress. Namun demikian, sebagian besar dari riset tentang stress berfokus pada respons psikologis atau emosional dan fisiologis, meski dimensi ini saling tumpang tindih dan berinteraksi dengan dimensi lain.

KONSEP STRES

16

1. Respon Fisiologis Riset klasik yang dilakukan oleh Selye (1946, 1976) telah mengidentifikasi dua respons fisiologis terhadap stress yaitu local adaptation syndrome (LAS) dan general adaptation syndrome (GAS) (Potter & Perry, 2005). LAS adalah respon dari jaringan, organ, atau bagian tubuh lainnya terhadap stres karena trauma, penyakit, atau perubahan fisiologis lainnya. Sedangkan GAS adalah respon pertahanan dari keseluruhan tubuh terhadap stres. Berikut penjelasan lebih mendetail mengenai LAS dan GAS.

a. LAS LAS memiliki karakter yaitu hanya terjadi setempat,

adaptif/diperlukan stresor untuk menstimulasi, berjangka pendek, serta restoratif/membantu memulihkan homeostatis region. Dua respons setempat, yaitu respons refleks nyeri dan respons inflamasi merupakan bagian dari LAS. Respons Refleks Nyeri adalah respon setempat dari sistem saraf pusat nyeri (Potter & Perry, 2005). Respon ini bersifat adaptif dan melindungi jaringan dari kerusakan lebih lanjut. Respon ini melibatkan reseptor sensoris, saraf sensoris yang menjalar ke medulla spinalis, neuron penghubung dalam medulla spinalis, saraf motorik yang menjalar dari medulla spinalis, serta otot efektor. Contoh respon refleks nyeri yaitu refleks tangan dari permukaan panas dan keram otot. Respons Inflamasi. Respons inflamasi distimulasi oleh trauma dan infeksi dimana respon ini menghambat penyebaran inflamasi dan meningkatkan penyembuhan dengan tanda-tanda kalor, tumor, rubor, dan dolor. Respon inflamasi terjadi dalam tiga fase yaitu perubahan dalam sel dan sistem sirkulasi. Pada awalnya, penyempitan pembuluh darah terjadi pada tempat cedera untuk mengendalikan perdarahan. Hampir secara bersamaan dilepaskan kinin untuk meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga memungkinkan masuknya protein, cairan, dan leukosit ke tempat yang mengalami cedera. Pada titik ini

KONSEP STRES

17

aliran darah setempat menurun, menjaga leukosit di tempat cedera untuk melawan infeksi. Fase kedua ditandai oleh pelepasan eksudat dari luka. Eksudat adalah kombinasi cairan, sel-sel, dan bahan lainnya yang dihasilkan di tempat cedera. Eksudat biasanya dilepaskan di tempat cedera, yang mungkin luka terpotong, lecet, atau insisi bedah. Fase terakhir adalah perbaikan jaringan oleh regenerasi dan pembentukan jaringan parut. Regenerasi menggantikan sel-sel yang rusak dengan sel-sel identis atau sel-sel serupa. Selama adaptasi, respon inflamasi melindungi tubuh dari infeksi dan meningkatkan penyembuhan.

b. GAS GAS melibatkan sistem tubuh seperti sistem saraf otonom dan sistem endokrin. GAS dikenal sebagai respon neuroendokrin. GAS terdiri dari tiga tahap yaitu: 1) Reaksi alarm/reaksi peringatan Reaksi alarm melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran untuk menghadapi stresor. Secara fisiologi, respon stres adalah pola reaksi saraf dan hormon yang bersifat menyeluruh dan tidak spesifik terhadap setiap situasi apapun yang mengancam homeostatis (Sherwood, 2001). Terjadi peningkatan hormonal yang luas dalam reaksi ini sehingga cenderung pada respon melawan dan menghindar, seperti curah jantung, ambilan oksigen, dan frekuensi pernapasan meningkat, pupil mata berdilatasi untuk menghasilkan bidang visual yang lebih besar, dan frekuensi jantung meningkat untuk menghasilkan energi lebih banyak. Namun, jika stresor terus menetap setelah reaksi alarm makan individu tersebut akan masuk pada tahap resisten. 2) Tahap resisten Dalam tahap ini tubuh kembali stabil, kadar hormon, frekuensi jantung, tekanan darah, dan curah jantung kembali ke tingkat normal. Individu terus berupaya untuk menghadapi stresor dan

KONSEP STRES

18

memperbaiki kerusakan. Akan tetapi jika stresor terus menetap seperti pada kehilangan darah terus menerus, penyakit

melumpuhkan, penyakit mental parah jangka panjang, dan ketidakberhasilan mengadaptasi maka individu masuk ke tahap kehabisan energi. 3) Tahap kehabisan tenaga Tahap kehabisan tenaga terjadi ketika tubuh tidak dapat lagi melawan stres dan ketika energi yang diperlukan untuk mepertahankan adaptasi sudah habis (Potter & Perry, 2005). Jika tubuh tidak mampu untuk mempertahankan dirinya terhadap dampak stresor, regulasi fisiologis menghilang, dan stres tahap berlanjut, maka akan terjadi kematian.

Tabel. Perubahan Hormon Utama selama Respon Stres (Sherwood, 2001) Hormon Epinefrin Naik Perubahan Tujuan Memperkuat sistem saraf simpatis untuk mempersiapkan tubuh fught in flight Memobilisasi simpanan karbohidrat dan lemak; meningkatkan kadar glukosa dan asam lemak darah CRH-ACTH-kortisol Naik Memobilisasi simpanan energi dan bahan pembangun metabolik untuk digunakan jika

KONSEP STRES

19

diperlukan; meningkatkan glukosa, asam amino darah, dan asam lemak darah ACTH; mempermudah proses belajar dan perilaku Glukogen Naik Bekerja bersama untuk meningkatkan gkukosa darah dan asam lemak darah Insulin Renin angiotensin aldosteron Turun Naik Menahan Garam dan H2O untuk meningkatkan volume plasma; membantu mempertahankan tekanan darah jika terjadi pengeluaran akut plasma Vasopresin Naik Vasopresin dan angostensin II menyebabkan vasokontriksi arteriol untuk meningkatkan tekanan darah; Vasopresin membantu proses belajar

2. Respon Psikologis Gangguan atau ancaman, baik yang actual atau yang dicerap, menimbulkan frustasi, ansietas, dan ketegangan (Kline-Leidy, 1990). Perilaku adaptif psikologis individu membantu kemampuan seseorang untuk menghadapi stressor. Perilaku ini diarahkan pada penatalaksanaan stress dan didapatkan melalui pembelajaran dan pengalaman sejalan

KONSEP STRES

20

dengan individu mengidentifikasi perilaku yang dapat diterima dan berhasil.

Perilaku adaptif psikologis dapat konstruktif atau desdruktif. Perilaku konstruktif membantu individu menerima tantangan untuk menyelesaikan konflik. Bahkan ansieta dapat konstruktif; misalnya, ansietas dapat menjadi tanda bahwa terdapat ancaman sehingga seseorang dapat melakukan tindakan untuk mengurangi keparahannya.

Perilaku destruktif mempengaruhi orientasi realitas, kemampuan pemecahan masalah, kepribadian, dan situasi yang sangat berat, kemampuan untuk berfungsi. Ansietas dapat juga bersifat desdruktif (misalnya jika seseorang tidak mampu bertindak melepaskan diri dari stressor). Sama halnya, penyalahgunaan alcohol atau obat-obatan dapat dipandang sebagai perilaku adaptif; dalam kenyataanya, hal ini malah meningkatkan stress dan bukan menurunkan stress.

KONSEP STRES

21

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Stres adalah segala situasi dengan tuntutan non specific yang mengharuskan individu untuk berespon atau melakukan tindakan. Stresor adalah stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan. Stresor menunjukkan suatu kebutuhan yang tidak terpenuhi dan kebutuhan tersebut bisa kebutuhan fisiologis, psikologis, sosial, lingkungan, perkembangan dan kebutuhan kultural. Stresor secara umum dapat diklasifikasikan sebagai internal atau eksternal. Stresor internal berasal dari dalam diri seseorang, sedangkan stresor eksternal berasal dari luar diri seseorang. Setiap makhluk hidup pernah mengalami stres dalam hidupnya. Stimulus yang diberikan oleh stres ikut berperan dalam perubahan dan pertumbuhan individu. Manusia merupakan makhluk yang selalu berespon dan beradaptasi terhadap stres. Respon stres bersifat adaptif dan protektif. Respon stres yang melibatkan respon anatomi dan fisiologis perlu dipelajari lebih mendalam karena pada saat memberikan asuhan keperawatan seorang perawat tidak hanya memandang stres sebagai bagian dari respon psikologis, sosial, dan spiritual namun juga respon biologis, yaitu mencakup respon anatomi dan fisiologis.

B. Saran Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang berperan dalam meningkatkan kualitas status kesehatan klien dengan memperhatikan aspek biopsikososial klien. Penting bagi perawat untuk mengetahui stresor yang menjadi pencetus perubahan bagi klien. Selain itu perawat harus memperhatikan respon stres yang ditunjukkan oleh klien yang melibatkan respon anatomi dan fisiologis, dan membantu klien untuk mengatasi stresor tersebut.

KONSEP STRES

22

REFERENSI Crisp, Jackie. (2001). Potter and Perrys Fundamental of Nursing. Sydney: Mosby Harcourt Health Science Company Potter, P.A. & Perry, A.G. (2007). Basic Nursing Essentials for Practice 6th ed. St louis, Missouri: Mosby Elsevier Sunaryo ( 2002). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC Montague, S.E., Watson, R., and Herbert, R.A. (2005). Physiology for Nursing Practice, 3rd edition. Philadelphia: Elsevier. Potter, P.A., dan Perry, A.G. (2005). Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice, 4th edition, diterjemahkan oleh Yamin Asih. Jakarta: EGC. Rhoades, R.A., and Tanner, G,A. (1995). Human Physiology. United States of America: Little, Brown, and Company. Seeley, R.R., Stephens, T.D., and Tate, P. (2002). Essentials of Anatomy and Physiology, 4th edition. New York: McGraw-Hill Higher Education. Sherwood, L. (2001). Human Physiology: from Cell to Systems, 2nd edition, diterjemahkan oleh Brahm U. Pendit. Jakarta: EGC. Shier, D., Butler, J., and Lewis, R. (2000). Holes Essentials of Human Anatomy and Physiology, 7th edition. New York: McGraw-Hill Higher Education. Utama, H., dkk. (2010). Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.