Anda di halaman 1dari 31

1

1. Nama Alat: Echo Sounder

Fungsi

Echosounder adalah alat untuk mengukur kedalaman air dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air. Adapun kegunaan dasar dari echosounder yaitu menentukan kedalaman suatu perairan dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air. Data tampilan juga dapat dikombinasikan dengan koordinat global berdasarkan sinyal dari satelit GPS yang ada dengan memasang antena GPS (jika fitur GPS pada echosounder ada).

Prinsip Kerja : Prinsip kerjanya, yaitu pada transmiter terdapat tranduser yang berfungsi untuk merubah energi listrik menjadi suara. Kemudian suara yang dihasilkan dipancarkan dengan frekuensi tertentu. Suara ini dipancarkan melalui medium air yang mempunyai kecepatan rambat sebesar, v=1500 m/s. Ketika suara ini mengenai objek, misalnya ikan maka suara ini akan dipantulkan. Sesuai dengan sifat gelombang yaitu gelombang ketika mengenai suatu penghalang dapat dipantulkan, diserap dan dibiaskan, maka hal yang sama pun terjadi pada gelombang ini.

Gambar 2. Prinsip Echosounder

Ketika gelombang mengenai objek maka sebagian enarginya ada yang dipantulkan, dibiaskan ataupun diserap. Untuk gelombang yang dipantulkan energinya akan diterima oleh receiver. Besarnya energi yang diterima akan diolah dangan suatu program, kemudian akan diperoleh keluaran (output) dari program tersebut. Hasil yang diterima berasal dari pengolahan data yang diperoleh dari penentuan selang waktu antara pulsa yang dipancarkan dan pulsa yang diterima. Dari hasil ini dapat diketahui jarak dari suatu objek yang deteksi. Cara Pemakaian : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Memasang alat dan cek keadaan alat sebelum memulai pengambilan data. Pastikan kabel single beam dan display sudah terpasang. Pasang antena, jika diperlukan input satelit GPS. Masukkan single beam kedalam air. Set Skala kedalaman yang ditampilkan display. Set frekuensi yang akan digunakan 200 Hz untuk laut dangkal atau 50 Hz untuk laut dalam atau dual untuk menggunakan keduanya. 7. 8. 9. Set input data air yaitu salinitas, temperatur dan tekanan air. Pengambilan data. Pemrosesan data.

Pengolahan Data : Perhitungan kedalaman diperoleh dari setengah waktu pemantulan signal dari echosounder memantul ke dasar laut kemudian kembali ke echosounder. Nilai waktu yang diperoleh di konversikan dengan kecepatan gelombang suara di dalam air.

Untuk data kedalaman yang lebih tepat, dimasukkan pula data-data temperatur air, salinitas air dan tekanan air. Hal ini diperlukan untuk memperoleh konversi yang tepat pada cepat rambat suara di dalam air.

Berikut adalah perhitungannya : c = 1448.6 + 4.618T2 0.0523 + 1.25 * (S 35) + 0.017D c = kecepatan suara (m/s) D = kedalaman S = salinitas (pro mille) T = temperatur (degrees Celsius)

dimana : 2. Nama Alat : Side Scan sonar (SSS)

Fungsi

Side Scan Sonar (SSS) adalah sebuah sistem peralatan survey kelautan yang menggunakan teknologi akustik. Peralatan ini digunakan untuk memetakan dasar laut yang juga dapat digunakan untuk mempelajari kehidupan di dasar laut. Sistem peralatan ini merupakan strategi penginderaan untuk merekam kondisi dasar laut dengan memanfaatkan sifat media dasar laut yang mampu memancarkan, memantulkan dan/atau menyerap gelombang suara.

Gelombang suara yang digunakan dalam teknologi side scan sonar biasanya mempunyai frekuensi antara 100 dan 500 KHz. Pulsa gelombang dipancarkan dalam pola sudut yang lebar mengarah ke dasar laut, dan gemanya diterima kembali oleh receiver dalam hitungan detik.

Side scan sonar mampu membuat liputan perekaman dasar laut dari kedua sisi lintasan survey. Dalam kondisi laut yang tenang dan haluan kapal yang lurus, sonogram dapat memberikan gambar atau image yang sangat tajam dan rinci seperti layaknya sebuah foto.

Side Scan Sonar mempunyai kemampuan menggandakan (menduplikasikan) beam yang diarahkan pada satu sisi ke sisi lainnya. Sehingga kita bias melihat ke kedua sisi, memetakan semua area penelitian secara efektif dan menghemat waktu penelitian. SSS menggunakan Narrow beam pada bidang horizontal untuk mendapatkan resolusi tinggi di sepanjang lintasan dasar laut

Prinsip

SSS menggunakan prinsip backscatter akustik dalam mengindikasikan atau membedakan kenampakan bentuk dasar laut atau objek di dasar laut (Russel, 2001 dalam Edi, 2009).

Prinsip kerja Side Scan Sonar pada dasarnya menggunakan gelombang akuistik, mirip dengan prinsip kerja echosounder. Namun pada peralatan ini ditekankan pada penyapuan pada permukaan dari obyek baik ke kanan ataupun ke kiri, sehingga peralatan side scan sonar mempunyai kemampuan untuk mendeteksi obyek yang berada dipermukaan dasar laut baik itu yang berada di kiri kapal survei maupun di sebelah kanannya. Biasanya peralatan ini menggunakan frekuensi 100KHz (Low) dan 500 Khz (High). Secara umum peralatan ini terdiri dari transducer yang berupa towfish yang ditarik dibelakang kapal, trans-receiver dan recorder seperi terlihat pada Gambar

Gambar. Prinsip Dasar Side Scan Sonar

Transducer berfungsi memantulkan gelombang akuistik yang akan dikirim ke permukaan dasar laut kemudian hasil pantulan dari gelombang akuistik yang mengenai objek atau dasar laut akan diterima oleh receiver yang kemudian akan ditampilkan oleh recorder dalam bentuk citra yang menggambarkan kondisi permukaan dasar laut.

Gambar. Sistem Peralatan Side Scan Sonar Prinsip pendeteksian dan interpretasi Pengolahan data SSS terdiri dari dua tahapan, yakni real time processing dan post processing. Tujuan real time processing adalah untuk memberikan koreksi selama pencitraan berlangsung sedangkan tujuan post processing adalah meningkatkan pemahaman akan suatu objek melalui interprestasi (Mahyuddin, 2008 dalam Edi, 2009). Penelitian yang dilakukan ini, pengolahan datanya adalah post processing. Interpretasi pada post processing dapat dilakukan secara kulaitatif maupun kuantitatif. Interprestai secara kualitatif dilakukan untuk mendapatkan sifat fisik material dan bentuk objek, baik dengan mengetahui derajat kehitaman (hue saturation), bentuk (shape) maupun ukuran (size) dari objek atau target.Secara umum, berdasarkan bentuk eksternalnya, target dapat dibedakan menjadi buatan manusia (man made targets) atau objek alam (natural targets). Pada umunya, objek buatan manusia memiliki bentuk yang tidak beraturan (Klien Associates Inc, 1985). Interprestasi secara kuantitatif bertujuan untuk mendefinisikan hubungan antara posisi kapal, posisi towfish dan posisi objek sehingga diperoleh besaran horisontal dan besaran vertikal. Besaran horisontal meliputi nilai posisi objek ketika lintasan towfish sejajar dengan lintasan kapal maupun ketika lintasan dengan towfish membentuk sudut. Besaran vertikal meliputi tinggi objek dari asar laut serta kedalaman objek (Mahyuddin, 2008). Survey Side Scan Sonar Survei investigasi bawah air (side scan sonar) dimaksudkan untuk mendapatkan kenampakan dasar laut, termasuk lokasi dan luasan obyek-obyek yang mungkin membahayakan. Dual-channel Side Scan Sonar System dengan kemampuan cakupan jarak minimal hingga 75m

digunakan untuk mendapatkan data kenampakan dasar-laut (seabed features) di sepanjang koridor yang sama dengan survei Batimetri. Skala penyapuan yang digunakan diatur sedemikian rupa sehingga terjadi overlap minimal 50% untuk area survei yang direncanakan. Lajur-lajur survei side scan sonar dapat dijalankan bersamaan dengan pelaksanaan survei Batimetri dan/atau disesuaikan dengan kedalaman laut sehingga cakupan minimal tersebut dapat terpenuhi. Apabila menggunakan towfish yang ditarik, panjang kabel towfish tersedia cukup agar tinggi towfish di atas dasar laut dapat dijaga kira-kira 10% dari lebar cakupan/ penyapuan yang dipilih. Towfish sebaiknya dioperasikan dari winch bermotor lengkap dengan electrical slip rings. Rekaman data sonar dikoreksi untuk tow fish lay back dan slant range. Apabila menggunakan towfish yang dipasang pada lambung kapal (vessel-mounted), sistim dilengkapi dengan heave compensator untuk mereduksi pengaruh gelombang. Sistem yang digunakan mampu menghasilkan clear record dari keadaan dasar laut, identifikasi adanya wrecks, obstacles, debris, sand waves, rock outcrops, mud flows atau slides dan sedimen. Kemungkinan adanya bahaya atau keadaan dasar laut yang perlu mendapatkan perhatian khusus dilakukan investigasi untuk memperjelas jenis dan ukuran bahaya tersebut. Investigasi tersebut dapat dilaksanakan dengan menjalankan lajur yang lebih rapat pada arah yang berbeda dengan lajur umum yang telah dijalankan sebelumnya. Penentuan posisi menggunakan jarak atau waktu tertentu ditandai pada rekaman sonar. Data jarak antara towfish dan antena GPS, termasuk setiap perubahan jarak ini, harus dicatat secara tertib pada Operators Log selama survei berlangsung untuk keperluan pengolahan data lebih lanjut.

Keterangan pada gambar 3 adalah ebaga berikut. (1) nilai kedalaman dari lintasan akustik, (2) sudut beam vertikal, (3) jarak akustik maksimum, (4) lebar sapuan lintasan dasar laut, (5) jarak SSS dengan permukaan air, (6) jarak pemisah antara port channel dan starboard channel, (7) lebar beam horizontal, (8) panjang bayangan akustik yang disesuaikan dengan tinggi target, (A) area sebelum pengambilan first bottom (pada daerah ini tidak ada suara yang dihamburkan dan ditandai dengan warna hitam), (B) dan (F) tekstur dasar laut, (C) sudut objek yang bersifat sangat memantulkan dengan intensitas yang paling terang, (D) objek yang memantulkan dan (E) bayangan dari target akustik (tidak ada pantulan disini).

Gambar Ilustrasi (a) pendektesian objek oleh SSS, (b) pembentukan objek dan bayangan pada SSS (Tritech International Limited, 2008) Survei side scan sonar ini akan menghasilkan peta yang berisi gambaran atau citra dasar laut yang akan menampilkan objek-objek dasar laut yang berhasil dideteksi. Objek-objek tersebut berupa benda-benda yang terdapat di permukaan dasar laut, seperti pipa, batu-batu karang, kapal karam, bekas garukan jaring nelayan, dll.

Gambar. Ilustrasi Survei Side Scan Sonar Towfish side scan sonar (SSS) dapat dipasang pada badan kapal atau ditarik di belakang kapal. Ilustrasi pemasangan SSS menggunakan towed body dapat dilihat pada Gambar di atas. Dalam pengambilan data, ada kemungkinan terjadi distorsi, baik distorsi geometrik maupun distorsi akibat deviasi dari hubungan linear antara intensitas citra dan kekuatan pantulan objek dasar laut. Oleh karena itu, beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat pengambilan data untuk mengurangi distorsi adalah sebagai berikut:

a. Panjang Layback Layback atau stepback adalah jarak horizontal antara antena receiver GPS dengan titik penghela ditambah jarak horisontal antara titik penghela dengan fish. Pada saat kabel penghela digunakan untuk menarik fish di dalam air, kabel penghela tidak akan terentang lurus, tetapi membentuk suatu lengkungan (gambar)

Gambar. Layback dan Kelengkungan Kabel Towing

a. Jarak Objek terhadap fish

Gambar. Jarak objek terhadap fish Semakin jauh jarak yang ditempuh oleh pulsa gelombang akustik pada arah x dalam perambatannya di medium air laut, maka ukuran cakupan pulsa bertambah besar, sehingga objek-objek yang tersaji pada citra seolah-olah diregangkan dalam arah penyapuan. Dengan besar peregangan semakin besar ke arah tepi citra. a. Tinggi fish dari dasar laut Hasil panjang suatu ukuran pada citra akan selalu lebih pendek dari ukuran sebenarnya di lapangan. Sehingga penampakannya pada citra seolah-olah ditekan sejajar arah lintasan fish. Besarnya derajat penekanan semakin kecil dengan semakin rendahnya tinggi fish dasi dasar laut.

Tabel. Hubungan Antara Jangkauan Pencitraan Sonar Dengan Tinggi Towfish Jangkauan pencitraan Tinggi fish (m) 7.5 10 15 20 30 Jangkauan pada citra (m) 74..5 99.5 149.5 199 298.5 pencitraan

teoritis di lapangan (m) 75 100 150 200 300

Oleh karena itu agar diperoleh hasil pencitraan yang relatif baik, towfish ditarik dengan ketinggian 1/10 dari jangkauan pencitraan di lapangan.

10

3. Nama Alat : CTD (Conductivity Temperature Depth)

Fungsi

CTD (Conductivity Temperature Depth) adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur karakteristik air seperti suhu, salinitas, tekanan, kedalaman, dan densitas.. Secara umum, sistem CTD terdiri dari unit masukan data, sistem pengolahan, dan unit luaran.

Unit masukan data terdiri dari sensor CTD, rosette, botol sampel, kabel koneksi dll. Sensor berfungsi untuk mengukur parameter karakteristik fisik air laut yang terdiri dari sensor tekanan, temperatur, dan konduktivitas.

Unit pengolah terdiri dari sebuah unit pengontrol CTDS (CTD Sensor) dan komputer yang dilengkapi perangkat lunak. Unit pengontrol berfungsi sebagai pengolah sinyal CTD, penampil hasil pengukuran serta pengubah sinyal analog ke digital. CTD mengontrol setiap kegiatan akusisi dan pengambilan sampel serta kalibrasi. Setiap penekanan tombol fungsi sesuai pada menu, maka printer akan mencetak posisi, kedalaman, salinitas, konduktifitas dan temperatur sehingga kronologis kegiatan pengoprasian CTD dapat terekam.

CTD memiliki tiga sensor utama, yakni sensor tekanan, sensor temperatur, dan sensor untuk mengetahui daya hantar listrik air laut (konduktivitas). a. Sensor Tekanan. Sensor tekanan merupakan sensor yang memanfaatkan hubungan langsung antara tekanan dan kedalaman. Sensor ini terdirai dari tahanan yang berbentuk seperti jembatan wheatsrone kemudian dinamakan strain gauge. Strain gauge merupakan alat resistansi yang berubah ketika

11

mendapat tekanan, Tahanan ini akanmemegang peranan ketika mendapat gaya dalam bentuk fisika seperti tekanan, beban (berat), arus dll. (Herunadi, 1998).

b. Sensor Temperatur. Sensor temperatur adalah sensor yang berpengaruh terhadap suatu hambatan, dalam bentuk termistor. Termistor (tahanan termal) merupakan alat semikonduktor yang berperan sebagai tahanan dengan besar koefisien tehanan temperatur yang tinggi dan biasanya bernilai negative. Alatini terbuat dari campuran Oksida-Oksida logam yang diendapkan seperti mangan, nikel, kobalt dll.

c. Sensor Konduktifitas. Sensor konduktofitas merupakan sensor yang mendeteksi adanya nilai daya hantar listrik di suatu perairan. Sensor ini merupakan sensor yang terdiri dari tabung berongga danempet buah terminal elektroda platina-rhodium di belakang sisinya. Sebagai sensor yang melewati nilai konduktifitas maka rata-rata hasil proses dalam pengukuran akan melewati nilai rendah (low pass fliter). Sensor ini akan mulai mengukur ketika alat telah bergerak masuk kedalam air sampai pada posisi yang diinginkan. Sebenarnya sensor ini mengukur nilai konduktifitas untuk mengetahui nilai salinitas atau kadar garam di sebuah perairan sacara tidak langsung.

Prinsip Kerja

Pada Prinsipnya teknik pengukuran pada CTD ini adalah untuk mengarahkan sinyal dan mendapatkan sinyal dari sensor yang menditeksi suatu besaran, kemudian mendapatkan data dari metode multiplexer dan pengkodean (decode), kemudian memecah data dengan metode enkoder untuk di transfer ke serial data stream dengan dikirimkan ke kontrolunit via cabel.

CTD diturunkan ke kolom perairan dengan menggunakan winch disertai seperangkat kabel elektrik secara perlahan hingga ke lapisan dekat dasar kemudian ditarik kembali ke permukaan. CTD memiliki tiga sensor utama, yakni sensor tekanan, sensor temperatur, dan sensor untuk mengetahui daya hantar listrik air laut (konduktivitas). Pengukuran tekanan pada CTD menggunakan strain gauge pressure monitor atau quartz crystal.

12

Tekanan akan dicatat dalam desibar kemudian tekanan dikonversi menjadi kedalaman dalam meter. Sensor temperatur yang terdapat pada CTD menggunakan thermistor, termometer platinum atau kombinasi keduanya. Sel induktif yang terdapat dalam CTD digunakan sebagai sensor salinitas. Pengukuran data tercatat dalam bentuk data digital. Data tersebut tersimpan dalam CTD dan ditransfer ke komputer setelah CTD diangkat dari perairan atau transfer data dapat dilakukan secara kontinu selama perangkat perantara (interface) dari CTD ke komputer tersambung.

13

4. Nama alat : Tranducer

Fungsi : Sebuah alat yang mengubah satu bentuk daya menjadi bentuk daya lainnya untuk berbagai tujuan termasuk pengubahan ukuran atau informasi (misalnya,sensor tekanan). Transduser bisa berupa peralatan listrik, elektronik, elektromekanik, elektromagnetik, fotonik. Dalam pengertian yang lebih luas, transduser kadang kadang juga didefinisikan sebagai suatu peralatan yang mengubah suatu bentuk sinyal menjadi bentuk sinyal lainnya. Prinsip Kerja : Pada echosounder, transduser yang terdapat di dalam multibeam sonar terdiri dari serangkaian element transduser yang memancarkan pulsa suara dalam sudut yang berbeda. Biasanya hanya satu beam yang ditransmisikan tetapi menghasilkan banyak pantulan energi dari masing-masing pulsa suara yang ditransmisikan. Kemampuan setiap element menerima kembali pulsa suara yang dipantulkan tergantung kepada metode kalibrasi terhadap gerak kapal yang diterapkan Sedangkan penggunaan transduser pada GPS , posisi transduser ditentukan melalui hasil pengukuran yang dilakukan oleh sensor antena GPS terhadap transduser yang diikatkan di kapal. Berdasarkan sistem koordinat yang digunakan, maka gerak kapal dinyatakan sebagai gerak rotasi begitu juga dengan titik-titik kedalaman yang diperoleh dari hasil pengukuran instrumen MBES.

14

15

5. Nama alat : GPS C-Nav ( DGPS method )

Fungsi

RTDGPS merupakan sistem penentuan posisi real time secara differential menggunakan data pseudorange. Untuk merealisasikan data yang real time maka monitor stasiun mengirimkan koreksi differensial ke kapal secara real time menggunakan sistem komunikasi data (Poerbandono dan Djunarsjah, 2005). Sistem koordinat pada kapal digambarkan menggunakan sistem tegak lurus yang dibentuk oleh sumbu X, Y dan Z Prinsip Kerja : DGPS memiliki kepanjangan Differential Global Positioning System. Jadi konsepnya hampir sama seperti GPS CORS. Pada DGPS, GPS yang dijadikan sebagai base station, tersebar di berbagai kota diantaranya Singapura, Balikpapan, Australia, dll. Nah GPS C-Nav yang dibawa kapal berfungsi sebagai Rover dan menerima koreksi dari setiap base station di kota terdekat. (misal : Singapura). Ketelitian bisa sampai level desimeter. Sistem penentuan posisi kapal menggunakan DGPS (Differential Global Positioning System) dengan metode Real Time Differential GPS (RTDGPS) yang digunakan untuk objek yang bergerak.

16

(Gambar 8) Gambar 8. Sistem koordinat Kartesian Kapal-Sistem Koordinat Referensi (Hydrographic Survey, 2004 dalam Sasmita, 2008) Untuk membuat sistem koordinat transduser relatif terhadap posisi kapal, pusat sistem

koordinat kapal adalah salib sumbu antara arah kapal (heading) sebagai sumbu X, serta arah tegak lurus ke arah dasar laut sebagai sumbu Z

Gambar 9. Diagram Kapal (Kongsberg, 2006) Posisi transduser ditentukan melalui hasil pengukuran yang dilakukan oleh sensor antena GPS terhadap transduser yang diikatkan di kapal. Berdasarkan sistem koordinat yang digunakan, maka gerak kapal dinyatakan sebagai gerak rotasi begitu juga dengan titik-titik kedalaman yang diperoleh dari hasil pengukuran instrumen MBES.

17

6. Nama alat : Gyro Compass ( Gyroscope )

Fungsi

Alat ini hampir memiliki fungsi yang sama dengan kompas yaitu menunjukkan arah utara. Hanya saja arah utara yang ditunjukkan oleh Gyro Compass adalah arah utara Geografis ( arah utara sebenarnya ), namun kelemahannya, alat ini baru dapat menunjukkan arah utara setelah 3 jam. Prinsip Kerja : Gyroscope terdiri atas sebuah benda yang dapat berputar sangat cepat (6000 rpm) mengelilingi sebuah poros dan dapat berputar bebas pada 3 buah arah yang saling tegak lurus satu sama lainnya. Jika dalam kedudukan mendatar maka gyro akan berputar-putar keliling poros b,d dan f. Gyro/Gasing (Tree degrees of freedom) SYARAT-SYARAT SEBUAH GYROSCOPE 1. 2. 3. Resultante semua gaya harus bertumpu pada titik berat Gyro Ketika poros (axis) harus berdiri satu dengan yang lain Ketiga poros saling memotong di titik berat Gyro/Gasing

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEDOMAN GYRO BILA DIBANDINGKAN DENGAN PEDOMAN MAGNET

18

1. 2. 3.

Penunjukan selalu dalam arah sejati (haluan,baringan dll.) Kesamaan pembacaan lebih baik,karena cara Pemasangan Gyro repeater di tempat-tempat yang diperlukan,meliputi seluruh cakrawala

4. 5.

Bila kapal mengoleng Juru mudi lebih mudah melihat perobahan haluan Penentuan kesalahan pedoman tidak sulit.

KEUNTUNGAN MENURUT KONSTRUKSINYA 1. Pengaruh pedoman gyro berapa ratus kali lebih besar dari pada pengarah pedoman magnet 2. 3. 4. Lebih peka terhadap ganguan luar Tidak terpengaruh oleh magnet kemungkinan dilengkapi dengan alat tambahan (course recorder, auto gyro pilot)

KEKURANGAN GYRO COMPASS 1. 2. Instalasinya yang lengkap,harga mahal Susunannya rumit,bila terjadi gangguan listrik mengakibatkan penunjukan tidak benar (Pemberian voltage harus tetap) 3. Jika terjadi kerusakan sulit diperbaiki memerlukan seorang tenaga ahli

TYPE PEDOMAN GYRO DIKAPAL 1. 2. 3. SPERRY (usa) BROWN (Inggris) ANSCHUTZ (German)

19

7. Nama Alat

: Tide Gauge

Fungsi

Mengukur perubahan muka laut secara mekanik dan otomatis. Dengan alat ini pasang surut air laut bisa terukur maka jika terjadi gempa atau tsunami bisa diketahui dengan cepat. Prinsip Kerja :

Peralatan ini dilengkapi dengan sensor radar, pressure, dan jika kondisi perairan memungkinkan (gelombang dan kecepatan arus tidak terlalu besar) ditambah dengan sensor pelampung. Data pengamatan yang dihasilkan oleh ketiga sensor tersebut disimpan dalam sebuah mesin pencatat data yang tersimpan dalam box panel bersama sistem operasi ketiga sensor. Data hasil pengamatan akan diterima oleh Bakosurtanal dan BMG secara tepat waktu dengan menggunakan satelit komunikasi VSAT.

20

8. Nama Alat

: Tidemaster Valeport

Fungsi

Mengukur perubahan muka laut secara a digital.Dengan alat ini pasang surut air laut bisa terukur maka jika terjadi gempa atau tsunami bisa diketahui dengan cepat.

Prinsip Kerja :
Dlengkapi data logger jadi data bisa tersimpan secara otomatis dan bisa di download ke komputer. Dilengkapi dengan sensor cuaca, tekanan udara dan radio telemetry sehingga data bisa langsung dikirim via gsm.

21

9. Nama Alat

: Tide Staff

Fungsi

Biasanya digunakan pada pengukuran pasang surut di lapangan. Tide Staff (papan Pasut) merupakan alat pengukur pasut paling sederhana yang umumnya digunakan untuk mengamati ketinggian muka laut atau tinggi gelombang air laut.

Prinsip Kerja :
Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu, alumunium atau bahan lain yang di cat anti karat. Syarat pemasangan papan pasut adalah : 1. Saat pasang tertinggi tidak terendam air dan pada surut terendah masih tergenang oleh air 2. Jangan dipasang pada gelombang pecah karena akan bias atau pada daerah aliran sungai (aliran debit air). 3. Jangan dipasang didaerah dekat kapal bersandar atau aktivitas yang menyebabkan air bergerak secara tidak teratur 4. Dipasang pada daerah yang terlindung dan pada tempat yang mudah untuk diamati dan dipasang tegak lurus 5. Cari tempat yang mudah untuk pemasangan misalnya dermaga sehingga papan mudah dikaitkan 6. Dekat dengan bench mark atau titik referensi lain yang ada sehingga data pasang surut mudah untuk diikatkan terhadap titik referensi 7. Tanah dan dasar laut atau sungai tempat didirikannya papan harus stabil 8. Tempat didirikannya papan harus dibuat pengaman dari arus dan sampah

22

23

10. Nama Alat

: Current Meter

Fungsi

Mengukur arah dan kecepatan arus laut

Prinsip Kerja: Dengan metode Euler. Pengukuran arus yang dilakukan pada satu titik tetap pada kurun waktu tertentu. Current Meter dilengkapi dengan sensor suhu, conductivitas untuk mengukur salinitas, rotor untuk kecepatan dan kompas magnetik untuk menentukan arah.

24

11. Nama Alat

: ADCP (Acoustic Doppler Current Profiler)

Fungsi

Penentuan profil kecepatan arus laut menggunakan sonar

Prinsip Kerja: ADCP memancarkan bunyi pada frekuensi tertentu dan menangkapnya kembali dalam bentuk echo dari bunyi yang terhambur dalam air. Penghambur bunyi adalah partikelpartikel kecil atau plankton yang dapat memantulkan bunyi kembali ke ADCP. Bunyi tersebut terhambur ke segala arah. Bunyi yang terhambur ini mengalami pergeseran frekuensi yang disebut pergeseran Doppler. Besarnya pergeseran Doppler ini sebanding dengan kecepatan partikel. karena partikel-partikel bergerak dengan kecepatan yang sama dan dalam arah yang sama, maka kecepatan air sama dengan kecepatan partikel. Dan dengan mengetahui kecepatan ini, maka dapat ditentukanprofil kecepatan arus untuk fungsi kedalaman.

25

12. Nama Alat

: SATELIT ALTIMETRI

Fungsi

mengukur arus laut

Prinsip Kerja: mentransmisikan gelombang dengan panjang tertentu, kemudian dicatat waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak dari satelit ke permukaan laut dan kembali ke reciever di satelit, sehingga jarak dari lintasa satelit ke muka laut diketahui. Jarak yang lebih dekat saat muka laut lebih tinggi akan membutuhkan waktu yang lebih pendek bila dibandingkan dengan saat muka laut lebih rendah.

26

13. Nama Alat

: Hand Anemometer

Fungsi : PENGUKUR METEOROLOGI/ATM

Prinsip Kerja :
Hand anemometer. Putaran tiga cangkir pada Hand An Kelebihannya, mudah dibawa karena bersifat portable. Ketelitian alat ini juga relatif tinggi. Pengamatan dan penghitungan hasilnya juga mudah. Kekurangannya, hanya mampu mengamati kecepatan angin sesaat sehingga pengamatan skala harus cepat. Hand Anemometer menggunakan skala Beauford yaitu skala yang diduga dari gejala alam

27

14. Nama Alat

: Barometer Aneroid

Fungsi : PENGUKUR TEKANAN

PrinsipKerja: Barometer aneroid atau barometer logam, merupakan barometer tanpa cairan. Barometer ini terdiri dari tabung Vidi yang berbentuk bulat dan pipih bersusun terbuat dari logam yang ruangnya hampa udara. Jarak dinding tabung Vidi yang berhadapan akan berubah bila ada perubahan tekanan udara disekelilingnya. Apabila tekanan udara naik, maka tabung Vidi makin pipih, dimana jarak dinding yang berhadapan makin dekat. Sebaliknya apabila tekanan udara turun, maka tabung Vidi menjadi mekar (mengembang). Dinding luar tabung Vidi dihubungkan dengan jarum penunjuk, dimana pada saat kembang kempisnya tabung vidi, jarum akan menunjuk skala dari nilai tekanan udara. Barometer ini menggunakan prinsip perubahan bentuk tabung/ kapsul logam akibat adanya perubahan tekanan udara. Sedikitnya ada 2 jenis barometer aneroid, yaitu: 1. Jenis Bourdon : Terdiri dari sebuah pipa besi/ baja yang melengkung, berbentuk oval. Gaya pegas pipa ini sama dengan tekanan udara. Perubahan tekanan udara menyebabkan perubahan bentuk ke-oval-an dari pipa, sehingga jarum penunjuk akan bergerak. Pergerakan jarum tersebut kemudian dikonversi dalam skala

28

tekanan udara. 2. Jenis Vidi : Bagian terpenting ialah kapsul/ cell dari besi/baja, isinya dikosongkan/ hampa udara, permukaan atas dan bawah bergelombang. Kapsul/ cell ini biasanya terdiri dari 7 atau 8 lapisan. Jika tekanan udara naik, maka kapsul/ cell ini tertekan dan menarik sebagian dari tuas (lever) ke bawah, bagian lainnya akan naik menggerakkan jarum penunjuk. Jika tekanan turun, akan terjadi sebaliknya. Pergerakan kapsul/ cell aneroid ini kemudian dihubungkan denga pena/ jarum yang akan menunjukan pergeseran/ simpangan. Besarnya simpangan yang terjadi selanjutnya dikonversi ke dalam skala tekanan udara (mb).

29

15. ALTIMETER

Altimeter adalah alat untuk mengetahui ketinggian suatu tempat terhadap MSL (mean sea level = 1013,25 mb = 0 mdpl). Altimetersebenarnya adalah barometer aneroid yang skala penunjukkannya telah dikonversi terhadap ketinggian. Sebagaimana kita ketahui bahwa 1 mb sebanding dengan 30 feet (9 meter) atau dapat dicari dengan pendekatan rumus:

H = 221.15 Tm log (Po / P)

16. PSYCHROMETER PUTAR (WHIRLING)

Disebut juga sebagai Psychrometer Sling/ Whirling. Alat ini terdiri dari 2 Thermometer yang dipasang pada kerangka yang dapat diputar melalui sumbu yang tegak lurus pada panjangnya. Sebelum pemutaran bola basah dibasahi dengan air murni. Psychrometer diputar cepat-cepat (3 putaran/ detik). Selama + 2 menit, dihentikan dan dibaca cepat-cepat. Kemudian diputar lagi, dihentikan dan dibaca seterusnya sampai diperoleh 3 data. Data yang diambil adalah suhu bola basah terendah. Jika ada 2 suhu bola basah terendah yang diambil suhu bola kering.

Keuntungan : bentuknya yang portable dan kemurahan harganya dibandingkan dengan Psychrometer Assmann.

Kerugian :

30

a.

Karena harus diputar diluar sangkar, kedua Thermometernya dipengaruhi radiasi

dan dari badan si pengamat. b. c. Waktu hujan tetesan air hujan bias melekat sehingga merendahkan pembacaan. Kecepatan udara (ventilasi) mungkin terlalu kecil

17.

Magnetometer

adalah alat ukur medan magnet yang banyak digunakan orang untuk berbagai keperluan, antara lain untuk penelitian bahan-bahan magnetik, keamanan penerbangan ( mendektesi barang bawaan), pemetaan medan magnet bumi, pengetesan kebocoran medan magnet dari suatu alatpenghasil lainnya. Melalui penelitian ini kami bermaksud membuat alat magnettometer digital yang cukup presisi agar dapat digunakan untuk berbagai keperluan. secara prinsip magnetometer yang dibuat terdiri dari sensor magnetik flugate,rangkaian elektronik pengkondisi dan pengolah sinyal analog, pengubah analog ke gital, mikroprosesor,LCD displai, serta port antarmuka seri. Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahun, dengan perincian sebagai berikut: pada tahun pertama akan dilakukan penelitian tentang elemen sensor, dan pada tahun ke dua dilakukan penelitian tentang sistem rangkaian pengolah sinyal digital berbasis mikroprosesor, yang dilengkapi dengan LCD displai dan port antarmuka seri. Sistem ini selanjutnya akan digabung menjadi satu kesatuan sistem sensor magnetik flugate untuk mengukur medan magnet satu dimensi.

31