Anda di halaman 1dari 13

Tugas Pengolahan Limbah Industri

Sumber dan Karakteristik Limbah Cair Industri Gula Tebu


PG Pesantren Baru, Kediri Jawa Timur

Disusun oleh : Siti Rohimah 091411027 3 A Teknik Kimia

2011 D3 TEKNIK KIMIA POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

Sumber dan KarakteristikLimbah Cair Industri Gula Tebu

I.

Limbah Cair

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water). Limbah cair bersumber dari pabrik yang biasanya banyak menggunakan air dalam sistem prosesnya. Di samping itu ada pula bahan baku mengandung air sehingga dalam proses pengolahannya air harus dibuang. Air terikut dalam proses pengolahan kemudian dibuang misalnya ketika dipergunakan untuk pencuci suatu bahan sebelum diproses lanjut. Air ditambah bahan kimia tertentu kemudian di-proses dan setelah itu dibuang,Semua jenis perlakuan ini mengakibatkan buangan air. Pada beberapa pabrik tertentu, misalnya pabrik pengolahan kawat, seng, besi baja sebagian besar air dipergunakan untuk pendinginan mesin ataupun dapur pengecoran. Air ini dipompa dari sumbernya lalu dilewatkan pada bagian-bagian yang membutuhkan pendinginan, kemudian dibuang.

II.

Sumber & Karakteristik Limbah Cair

A. Sumber Limbah Cair

Limbah cair domestik terdiri dari air limbah yang berasal dari perumahan dan pusat perdagangan maupun perkantoran, hotel, rumah sakit, tempat umum, lalu lintas, dll. BOD5 (biological oxygen dmand) Limbah Cair Industri adalah limbah yg berasal dari induatri. Sifat-sifat air limbah industri relative bervariasi tergantung dari bahan baku yg di gunakan, pemakaian air dalam proses, dan bahan aditif yang digunakan selama proses produksi. Limbah Cair Pertanian berasal dari buangan air irigasi yg disalurkan kembali ke saluran drainase atau meresap ke dalam tanah. Limbah ini akan mempengruhi tingkat kekeruhan BOD5, COD ,pH . tetapi juga kadar unsure N, P, dan pestisida, insektisida. Limbah Pertambangan berasal dari buangan pemrosesan yang terjadi diarea pertambangan misalnya tambang emas. Limbah ini akan mempengaruhi tingkat kekeruhan BOD5, COD, pH, tetapi juga kadar kimia yg digunakan dalam proses penambangan.

B. Karakteristik Limbah Cair


Karakteristik limbah cair dinyatakan dalam bentuk kualitas limbah cair dan jumlah aliran limbah cair yang dihasilkan. Kualitas limbah cair diukur terhadap kadar fisik, kimiawi dan biologis. Parameter yg diukur antara lain sebagai berikut:

1. Parameter fisik berupa padatan (partikel padat) yg ada dalam air (padatan total,padatan tersuspensi dan padatan terlarut) ;warna;bau dan temperature 2. Parameter kimia selain berupa kadar BOD5, COD, dan TOC yang menggambarkan kadar bahan organik dalam limbah, juga senyawa yg terkait dengan anomia bebas, nitrogen organik, nitrit, nitrat, fosfor organik dan fosforanorganik,sulfat,klorida,belerang,logam berat (Fe, Al, Mn dan Pb), dan gas (H2O, CO2, O2, dan CH4). 3. Parameter biologis juga merupakan hal penting karena ada beribu-ribu bakteri per millimeter dalam air limbah yg belum diolah. Jenis bakteri yg diukur adalah bakteri golongn Coli. Dampak Pencemaran Air terhadap Lingkungan Dampak pencemaran air terhadap kesehatan manusia. Limbah cair berdampak pada kesehatan manusia baik Pengaruh langsung terhadap kesehatan, umpamanya, tergantung sekali pada kualitas air yang terkontaminasi dalam hal ini berfungsi sebagai media penyalur ataupun penyebar penyakit. Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam : 1. 2. 3. 4. Air sebagai media untuk hidup mikroba patogen Air sebagai sarang insekta penyebar penyakit Jumlah air bersih yang tersedia tak cukup Air sebagai media untuk hidup vector penyebar penyakit

Dampak terhadap fungsi sungai. Adanya air limbah yang masuk ke dalam saluran drainase atau sungai akan mencemari air sungai tersebut. Pencemaran air mengakibatkan air sungai tidak lagi berfungsi sesuai peruntukkannya. akibat dari pencemaran air adalah: 1. air tidak dapat dimanfaatkan sesuai peruntukkannya, dan jika dimanfaatkan maka diperlukan pengolahan khusus yang menyebabkan peningkatan biaya pengoperasian & pemeliharaan sungai. 2. air menjadi penyebab timbulnya penyakit.

Dampak Pencemaran Air Terhadap Air Tanah. Dampak Pencemaran Air Terhadap Rantai Makanan. Rantai makanan dalam air akan terganggu akibat adanya pencemaran air. Dengan banyaknya zat pencemaran yang ada di dalam air, menyebabkan menurunnya kadar oksigen di dalam air tersebut. Beberapa jenis ikan maupun tumbuh-tumbuhan yang ada dalam air akan mati karena kekurangan oksigen. Demikian pula apabila zat pencemar tersebut beracun dan berbahaya, maupun terjadinya kenaikan suhu iar, beberapa jenis biota akan mati, sehingga keseimbangan rantai makanan terganggu. Disisi lain akibat matinya bakteri-bakteri, maka proses pembersihan diri secara alamiah yang seharusnya dapat terjadi menjadi terhambat, atau dengan kata lain daya pembersih diri sungai sangat kecil. Pengelolaan Limbah Cair Untuk Pengendalian Pencemaran Air

Pengendalian pencemaran air adalah upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air untuk menjamin agar sesuai dengan baku mutu air. Tujuan pengelolaan limbah cair adalah untuk mengendalikan agar tidak terjadi pencemaran air atau menghasilkan zero pollution. Pendekatan yang dilakukan dalam pengelolaan pencemaran air mencakup pendekatan non teknisdanpendekatan teknis.

1. Pendekatan non teknis yang dimaksud adalah penerbitan peraturan sekaligus sosialisasi peraturan yang digunakan sebagai landasan hukum bagi pengelola badan air maupun penghasil limbah dalam mengendalikan limbah maupun mengelola limbahnya. 2. Pendekatan teknis berupa penyediaan / pengadaan sarana dan prasarana penanganan limbah serta monitoring dan evaluasi.

III.

Sumber dan Karakteristik Limbah Cair di Industri Gula Tebu(PG Pesantren Baru, Kediri Jawa Timur)

Proses Produksi Industri Gula Tebu

Diagram alir proses pengolahan gula dari tebu Penjelasan proses : A. STASIUN PENGGILAN 1.Proses dimulai dari gambar kanan atas (truck pengangkut tebu), tebu dari Truck pengangkut di pindahkan ke meja tebu 2.Tebu Dari meja tebu dipindahkan Cane Cutter (Pemotong tebu), peralatan yang Sejenis dengan Cane Cutter adalah Unigrator . setelah sampai di alat ini tebu dipotong dan dihancurkan menjadi potongan kecil-kecil. 3.Potongan tebu yang sudah kecil tersebut di masukkan ke Gilingan(umumnya tersusun dalam 4 set gilingan, masing-masing set terdiri dari 3 silinder baja dengan diameter 1 meter. Potongan tebu dari Cane Cutter di masukan ke : a.Gilingan I potongan tebu diperas menghasilkan nira I dan ampas I b.Gilingan II ampas I diperas menghasilkan nira II dan ampas II (ampas I pada umumnya ditambahkan air imbibisi berupa air panas yang berfungsi untuk membantu pelarutan gula yang ada dalam ampas )

c.Gilingan III ampas II (ditambahkan air imbibisi) diperas menghasilkan nira III dan ampas III d.Gilingan IV ampas III (ditambahkan air imbibisi) diperas menghasilkan nira IV dan ampas IV karena kadar gula sudah kecil, biasanya ampas ini digunakan sebagai bahan bakar boiler/ketel atau dijual ke pabrik kertas sebagai bahan baku kertas) Perjalanan nira : a.Peti nira mentah: Nira I dan nira II di campur tangki (Peti nira mentah) Dihilangkan kotoran kasar seperti pasir (penyaring pasir) dilakukan penimbangan untuk mengendalikan kapasitas produksi ditampung dalam bak nira mentah sebagai nira mentah b.Pompa : Nira mentah dipompa ke Pan Pemanasan B. STASIUN PEMURNIAN Pada stasiun pemurnian nira mengalami proses melewati alat alat seperti Pan Pemanas, defikator,sulfitator, expander, door Clarifier, rotary vacuum filter dan lain lain. Proses yang dialami dapat ditampilkan sebagai berikut : 1.Pan Pemanas I Nira mentah dari stasiun gilingan dipanaskan pada suhu 70oC, dilanjutkan proses pemurnian. 2.Defikator Nira yang sudah dipanaskan + susu kapur (CaCO3, H2O)dimasukkan ke defikator(PH =9,5), untuk mengendapkan kotoran-kotoran dalam nira yang dapat membentuk endapan dengan Ca++ dan CO3-2 , nira diteruskan sulfitator. 3.Sulfitator Nira dari defikator di reaksikan dengan SO2, SO3 dalam sulfitator(PH = 7,0-7,2), untuk mengendapkan kotoran-kotoran yang dapat mengendap dengan dalam sulfat dan sulfit, nira diteruskan ke Pan pemanas II untuk mendapatkan suhu yang lebih tinggi. 4.Pan pemanas II Nira pada Pan Pemanas II dipanaskan sampai 100-105oC, nira dipompa ke atas sampai ke expander 5.Expander Pada expander ini nira ditambahkan flokulan untuk memperbesar endapan kotoran yang sudah bentuk, expander mencampur flokulan dan nira serta menyebarkannya ke door Clarifier.

6.Door Clarifier Kotoran nira yang masuk dalam door Clarifier membentuk gumpalan besar yang turun ke dasar door clarifier yang mulai terpisah dari nira bersih, karena perbedaan berat jenis dan gravitasi terjadi pemisahan campuran: a.Bagian endapan (gumpalan ) akan turun ke dasar Door Clarifier, selanjut endapan / gumpalan ini (nira kotor) di teruskan ke Rotary Vacum Filter. b.Bagian yang bersih berada di bagian atas, nira bersih ini langsung diteruskan ke stasiun penguapan 7.Rotary vacuum filter (DSM screen) Nira kotor dari door Clarifier di saring menghasilkan : a.Blotong, di endapan padat yang kadang masih dimanfaatkan petani sebagai pupuk b.nira bersih, dilanjutkan ke stasiun penguapan C. STASIUN PENGUAPAN Nira bersih (dari door Clarifier dan Rotary Vacum filter) mengalami prose sebagai berikut: a.Pan Penguapan dipekatkan /diuapkan airnya di Pan Penguapan (evaporator bertingkat ) yang dioperasikan pada kondisi vakum sampai nira hampir jenuh atau sering disebut nirkental. b.Pan Masak Nira kental dari pan penguapan dilanjutkan ke Pan masak (kristalisator) yang juga beroprasi dan kondidisi vakum sampai terjadi kristal , untuk membantu pembentukan Kristal yang sempurna dibantu dengan pendinginan menggunakan palung pendingin D. STASIUN PUTERAN (Centrifuge) Pada bagian akhir dari pengolahan gula ini terdiri dari beberapa tahap meliputi a.Centrifugasi, memisahkan Kristal gula dan tetes. Centrifugasi dapat digunakan yang otomatis maupun yang manual, namun sering kali dijumpai masih digunakan gabungan keduanya. Kristal gula dilanjutkan ke proses berikutnya sedangkan tetes yang dihasilkan masih laku untuk dijual sebagai bahan baku MSG (mono sodium glutamate, alcohol , kecap dan lain-lain) pengeringan b.Pengeringan, untuk menjaga kualias gula sangat diperlukan proses pengeringan ini , pada umumnya untuk pengeringan gula dari tebu ini menggunakan talang goyang c.Pengepakan, setelah gula kering siap dikemas dan dipasarkan LimbahCairHasil Proses ProduksiIndustriGulaTebu Berbagai industri saat ini, termasuk industri gula, banyak membuang limbah ke sungai tanpa ada pengolahan terlebih dahulu atau sudah dilakukan pengolahan tetapi masih belum memenuhi baku mutu limbah cair yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, dengan demikian limbah tersebut dapat menganggu lingkungan sekitarnya. Dalamprosesproduksi gula daritanamantebu yang diprosessampaimenjadi gula kasaratau gula murni hingga mempunyai nilai jual yang tinggi, memiliki hasil samping produk berupa limbah.

Limbah yang dihasilkan berupa limbah padat yaitu ampas tebu dari proses penggilingan dan penyaringan kotoran setelah dari proses pemerasan tebu, juga limbah cair yang berasaldari air pendingin kondensor baromatik, air pendingin, air proses dari pencucian pada penghilangan warna, pencucian endapan saringan tekan, dan air cuci peralatan pabrik. Sumber utama air limbah adalah air pendingin pada kondensor barometik, air proses dari pencucian pada penghilangan warna, pencucian endapan saringan tekan, dan air cuci lantai dan alat, mempunyai laju alir lebih rendah tetapi mempunyai nilai BOD yang tinggi (sampai 5000 mg/l) dan padatan tersuspensi yang kadar organiknya relatif rendah. Air limbah yang terkumpul mempunyai BOD yang berkisar dari 300 sampai 2000 mg/l dan TSS dari 200 sampai 800 mg/l, tergantung pada faktor proses produksi yang terjadi di dalam pabrik khususnya pada proses pemurnian gula. Limbah cair pabrik gula pada umumnya tidak mengandung limbah berbahaya atau beracun. Operasi pemurnian yang hanya menghasilkan gula cair membangkitkan laju alir separuhnya, akan tetapi kadar BOD dua kali pabrik gula kristal. Di Indonesia produksi gula bersifat musiman, yaitu 5 sampai 6 bulan dalam setahun. Adapun parameter utama untuk pabrik penggilingan tebu dan pemurnian gula, adalah BOD dan COD. Parameter sekunder adalah , TSS, dan pH, temperatur, nitrogen, minyak dan lemak, sulfida dan padatan keseluruhan. Analisis Biological Oxygen Demand (BOD) atau kebutuhan oksigen biologis adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses-proses mikrobiologis yang terjadi didalam air. Angka BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk mendegradasi hampir semua zat organik yang terlarut termasuk zat organik yang tersuspensi didalam air. Reaksi oksidasi yang dapat terjadi dituliskan sebagai berikut : CnHaObNc + (n + a/4 b/2 3c/4) O2 nCO2 + (a/2 3c/2)H2O + cNH3 ...... (1)

Reaksi tersebut memerlukan kira-kira 2 hari untuk 50% reaksi tercapai, 5 hari untuk 75% reaksi dan 20 hari untuk 100% reaksi . Untuk pemeriksaan angka BOD dilakukan pengukuran oksigen terlarut dalam sampel air sebelum inkubasi dan setelah 5 hari inkubasi pada suhu konstan 20C sebagai taksiran jumlah beban pencemar yang dikandung dalam air. BOD dihasilkan dari tumpahan tetes tebu dari proses pemurnian gula. Chemical Oxygen Demand (COD) atau kebutuhan oksigen kimia adalah jumlah oksigen (mg O2)yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam 1 liter sampel air, dimana pengoksidasian K2Cr2O7 digunakan sebagai sumber oksigen (Oxidizing agent). Angka COD merupakan ukuran bagi pencemar air oleh zat-zat organis secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air. COD dihasilkan dari penambahan senyawa kimia dalam proses sulfitasi atau pemurnian gula.

Langkah yang harus dilakukan untuk mengurangi pencemaran, khususnya pencemaran air adalah dengan mengolah air buangan tersebut sebelum di buang ke badan sungai, salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat pencemaran yaitu dengan penyerapan (adsorbsi) menggunakan zeolit maupun bahan pengendap (koagulan) tawas dan perlakuan menggunakan ozon (O3). Zeolit digunakan untuk mengikat koloid-koloid dalam limbah, tawas berfungsi mengendapkan koloid dan ozon untuk mereduksi senyawa organik, bau, warna dan menurunkan COD dan BOD. Sebelum dimanfaatkan sebagai adsorben, dilakukan proses aktivasi terhadap zeolit alam yang akan dipakai. Aktivasi terhadap zeolit dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara fisis dan secara kimiawi. Aktivasi secara fisis berupa pemanasan zeolit pada suhu dan waktu tertentu dengan tujuan untuk menguapkan air yang terperangkap dalam pori-pori kristal zeolit sehingga luas permukaan pori-pori bertambah, dan untuk mengaktifkan kembali zeolit yang sudah dipakai beberapa kali dapat pula dilakukan dengan mencuci zeolit dengan menggunakan HCl 0,1 N. Sedangkan aktivasi secara kimia dilakukan dengan larutan asam (H2SO4) atau dengan basa (NaOH), dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori-pori, membuang senyawa pengotor, dan menyusun kembali letak atom yang akan dipertukarkan. Untuk penelitian ini yang dipilih adalah perlakuan secara fisis, yaitu zeolit dipanaskan pada suku 300 oC selama 4 - 5 jam. Untuk ikut berperan aktif memecahkan problem nasional sesuai dengan kemampuan iptek yang dimiliki dalam pembuatan generator ozon dan aplikasinyamaka BATAN Yogyakarta bekerjasama dengan PTPN X Jawa Timur dan P3GI Pasuruan ikut berpartisipasi menyumbangkan kemampuannya dalam memecahkan problem daerah khususnya dalam teknologi pengolahan limbah cair pabrik gula, untuk disosialisasikan kepada masyarakat luas pada umumnya dan pada industri gula pada khususnya. Dalam hal ini teknologi pembuatan ozon yang digunakan adalah dengan metoda plasma lucutan terhalang dielektrik (dielectric barrier discharge) atau karena lucutannya yang nyaris tak terdengar maka metode ini sering dikatakan metode plasma lucutan senyap.Untuk mendukung penyempurnaan aplikasi, dengan metode ini akan dirancang bangun ozonizer dengan keluaran daya 1.000 1.500 watt. Keunggulan teknologi lucutan senyap dibanding dengan teknologi sinar UV adalah efisiensi ozon yang dihasilkan lebih besar.

Limbahcair yang dijadikan sampel adalah limbah cair keluaran proses kristalisasi gula dan keluaran unit pendingin. Proses yang dilakukan selama ini adalah limbah diendapkan dalam kolam dan dilakukan aerasi, setelah satu hari mengendap kemudian beningannya disirkulasi kembali lagi ke dalam pabrik untuk keperluan proses. Dari perlakuan semacam ini dimungkinkan BOD dan COD dalam air limbah semakin tinggi.Sehingga kurang efektif untuk digunakan dan juga dapat merusak alat-alat proses. Oleh karena itu diperlukan suatu tindakan untuk menurunkan nilai BOD dan COD, sehingga apabila air limbah tersebut digunakan kembali untuk tujuan proses akan menjadi lebih aman.

Lebih-lebih lagi bila air limbah tersebut langsung dibuang kesungai. Pengaruh penambahan zeolit, tawas dan kapur terhadap nilai BOD dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini.

800 700 600

BOD ( ppm )

500 400 300 200 100 0 0 Kontrol 2 Limbah+O 3 4 0,6%


Tawas

6 0,8%
Zeolit

8 1,0%
Kapur

10 1,2%

12

Pe nambahan Bahan ( % be rat )

Gambar 1.Pengaruhpenambahantawas, zeolitdankapurterhadapnilai BOD padalimbah, denganwaktuozonisasi 45 menit. Tawas merupakan bahan koagulan yang sering digunakan di pengolahan air minum ataupun pada air buangan domestik dan industri, ini disebabkan bahwa tawas dapat mengurangi konsentrasi warna, bau, kekeruhan. Sehingga nantinya diinginkan hasil akhir pengolahan air limbah yang cukup jernih. Dalam perlakuan limbah yang pertama ini digunakan koagulan tawas yang telah dihaluskan, sehingga dalam proses ozonisasi nantinya didapatkan hasil yang optimal karena semakin kecil ukuran butiran tawas maka daya penyerapannya semakin tinggi. Demikian juga untuk zeolit, dimaksudkan untuk menyerap koloid-koloid yang ada dalam limbah, akan tetapi harga zeolit lebih mahal dibandingkan harga tawas. Sedangkan pemakaian kapur tujuan utamanya adalah menaikkan pH limbah agar > 8,0. Hal ini dikarenakan ozon lebih efektif bekerja pada pH > 7,0 (ke arah basa) (5), seperti pada Gambar 2 berikut. Sehingga bila pH limbah dibuat > 7 akan mempercepat degradasi organik, yang pada akhirnya BOD limbah menjadi turun.

100 62

7,6

40 % ozon sisa

8,5

25

8,85

16

10

9,2 9,89

6,2 4,4

10,2 10,4
0 3

Waktu (menit) 6 9 12 15 18

Gambar 2.Hubunganantaraumurozon (menit) dengan pH larutan.(5) Dari Gambar 1 terlihat bahwa ozon memiliki peran besar dalam menurunkan BOD, karena ozon merupakan oksidator yang kuat yaitu dengan adanya unsure oksigen yang tidak stabil, sehingga sangat reaktif. Hal ini dapat diterangkan dalam reaksi berikut ini : O2 + radisi UV 2 O* ............ (2) O* + O2 O3 .................. (3)

Gambar 3. Reaksi pembentukan ozon (O3) O*ini bersifat radikal sehingga apabila bertumbukan dengan air akan membentuk ion hidroksil (OH-), membentuk OH-radikal, yang kemudian pada gilirannya akan berperan dalam merombak ikatan-ikatan dari persenyawaan kimia, baik organic maupun anorganik yang terdapat dalam limbah, sehingga mikroorganisme akan mengalami kekurangan bahan atau nutrisi yang akan diurai, dengan demikian akan mengurangi jumlah oksigen yang terkandung di dalam limbah tersebut. Hal ini terlihat dengan menurunnya BOD seperti terlihat pada Gambar 1, dimana BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh

mikroorganisme untuk memecah atau mengoksidasi bahan-bahan organik yang ada dalam air limbah.Penurunan nilai BOD ini cukup signifikanya itu dari 324 ppm menjadi 19 ppm. Sedangkan pengaruh penambahan tawas, zeolit dan kapur terhadap nilai COD, dapat dilihat pada Gambar 4 berikut. 900

800 700

COD ( ppm )

600 500 400 300 200 100 0


Kontrol 0

2 4 Limbah+O 3 0,6%
Tawas

6 0,8%
Zeolit

8 1,0%
Kapur

10 1,2%

12

Pe nambahan Bahan ( % be rat )


Gambar 4.Pengaruhpenambahantawas, zeolitdankapurterhadapnilai COD padalimbah, denganwaktuozonisasi 45 menit. COD atau kebutuhan oksigen kimia adalah jumlah oksigen (mg O2)yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam 1 liter sampel air, dimana pengoksidasian K2Cr2O7 digunakan sebagai sumber oksigen (Oxidizing agent). Angka COD merupakan ukuran bagi pencemar air oleh zat-zat organis secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air. Nilai COD yang tinggi dihasilkan dari penambahan senyawa kimia dalam proses sulfitasi atau pemurnian pada pabrik gula. Tetapi mengingat ozon merupakan oksidator yang sangat kuat, maka senyawa organik yang ada dalam limbah pabrik gula dapat dioksidasi menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Sehingga nilai COD dalam limbah menjadi turun. Penambahan bahan-bahan pembantu, seperti tawas, zeolit maupun kapur, sangat membantu kerja ozon. Karena tawas dan zeolit merupakan bahan koagulan dan absorben yang sangat efektif dan harganya murah, sehingga koloid-koloid yang ada dalam limbah diserap oleh bahan-bahan tersebut kemudian senyawa yang lain dioksidasi oleh ozon. Sedangkan kapur berfungsi menaikkan pH limbah menjadi lebih basa. Karena pada kondisi basa kerja ozon sangat efisien. Sehingga pada penambahan kapur nilai COD dapat turun sangat signifikan, yaitu dari 660 ppm menjadi 40 ppm.

Tabel. 1. Baku mutu limbah cair untuk industri gula. Kadar Maksimum (mg/l) BOD COD TSS Sulfida (H2S) Minyak PH 60 100 50 0,5 5 6,0 - 9,0 Beban Maksimum (kg/ton) 0,30 0,50 0,25 0,0025 0,025 Pencemar

Parameter

Volume limbah maksimum 5 m3/ton produk gula (Sumber :KeputusanGubenur DIY, No :281/KPTS/1998)(7)

KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan dimuka, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pemakaian bahan-bahan koagulan dan absorben tawas, zeolit dan kapur yang dikombinasikan dengan proses ozonisasi dapat menurunkan nilai BOD dan COD limbah cair industry gula dengan sangat signifikan, yaitu BOD dari 324 ppm menjadi 19 ppm dan COD dari 660 ppm menjadi 40 ppm. Sehingga dapat memenuhi baku mutu limbah yang dipersyaratkan.