Anda di halaman 1dari 20

ANAMNESA & PEMERIKSAAN OBSTETRI Keluhan utama yang pada umumnya menyebabkan ibu hamil mengunjungi sarana pelayanan

kesehatan IBU dan ANAK adalah: 1. Berhubungan dengan masalah kehamilan 1. Memastikan adanya dugaan kehamilan. 2. Ingin mengetahui usia kehamilan. 3. Mual, muntah dan atau nyeri kepala. 4. Perdarahan pervaginam. 5. Keluar cairan pervaginam (air ketuban, leukorea?) 6. Merasakan gerakan anak yang kurang atau bahkan tidak bergerak. 7. Merasa akan melahirkan (inpartu). 2. Berhubungan dengan penyakit yang menyertai kehamilan 1. Penyakit infeksi. 2. Penyakit sistemik atau penyakit kronis yang sudah dirasakan sebelum kehamilan ini. Berdasarkan atas keluhan utama diatas, dokter harus dapat mengembangkan anamnesa dan pemeriksaan fisik lanjutan untuk menentukan status kesehatan penderita dalam rangka perencanaan pengelolaan kasus lebih lanjut. Sebelum memberikan pelayanan, klien harus dimintai persetujuannya ( informed consent ) untuk mencegah terjadinya konflik masalah etik pada kemudian hari. Pelayanan antenatal bertujuan untuk mengetahui status kesehatan ibu hamil, konseling persiapan persalinan, penyuluhan kesehatan, pengambilan keputusan dalam rujukan dan membimbing usaha untuk membangun keluarga sejahtera. Kunjungan pertama merupakan kesempatan untuk menumbuhkan rasa percaya ibu sehingga dia merasa nyaman untuk membicarakan masalah dirinya kepada dokter. Rasa nyaman dapat ditumbuhkan pada diri pasien bila :

1. Pemeriksaan dilakukan ditempat yang tertutup, bersifat pribadi dengan kerahasiaan yang terjaga dengan baik. 2. Apa yang dikatakan oleh ibu didengar dan diperhatikan secara baik. 3. Pasien diperlakukan dengan penuh rasa hormat. 1. ANAMNESA 1. Identitas pasien 1. Nama , alamat dan usia pasien dan suami pasien. 2. Pendidikan dan pekerjaan pasien dan suami pasien. 3. Agama, suku bangsa pasien dan suami pasien. 2. Anamnesa obstetri 1. Kehamilan yang ke .. 2. Hari pertama haid terakhir-HPHT ( last menstrual periode-LMP ) 3. Riwayat obstetri: 1. Usia kehamilan : ( abortus, preterm, aterm, postterm ). 2. Proses persalinan ( spontan, tindakan, penolong persalinan ). 3. Keadaan pasca persalinan, masa nifas dan laktasi. 4. Keadaan bayi ( jenis kelamin, berat badan lahir, usia anak saat ini ). 4. Pada primigravida : 1. Lama kawin, pernikahan yang ke . 2. Perkawinan terakhir ini sudah berlangsung . Tahun. 3. Anamnesa tambahan:
o

Anamnesa mengenai keluhan utama yang dikembangkan sesuai dengan hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan (kebiasaan buang air kecil / buang air besar, kebiasaan merokok, hewan piaraan, konsumsi obat-obat tertentu sebelum dan selama kehamilan).

2. PEMERIKSAAN FISIK

1. Pemeriksaan fisik umum 1. Kesan umum (nampak sakit berat, sedang), anemia konjungtiva, ikterus, kesadaran, komunikasi personal. 2. Tinggi dan berat badan. 3. Tekanan darah, nadi, frekuensi pernafasan, suhu tubuh. 4. Pemeriksaan fisik lain yang dipandang perlu. 2. Pemeriksaan khusus obstetri 1. Inspeksi : 1. Chloasma gravidarum. 2. Keadaan kelenjar thyroid. 3. Dinding abdomen ( varises, jaringan parut, gerakan janin). 4. Keadaan vulva dan perineum. 2. Palpasi 1. Maksud untuk melakukan palpasi adalah untuk : 1. Memperkirakan adanya kehamilan. 2. Memperkirakan usia kehamilan. 3. Presentasi - posisi dan taksiran berat badan janin. 4. Mengikuti proses penurunan kepala pada persalinan. 5. Mencari penyulit kehamilan atau persalinan. PALPASI ABDOMEN PADA KEHAMILAN Tehnik : 1. Jelaskan maksud dan tujuan serta cara pemeriksaan palpasi yang akan saudara lakukan pada ibu. 2. Ibu dipersilahkan berbaring telentang dengan sendi lutut semi fleksi untuk mengurangi kontraksi otot dinding abdomen. 3. Leopold I s/d III, pemeriksa melakukan pemeriksaan dengan berdiri disamping kanan ibu dengan menghadap kearah muka ibu ; pada pemeriksaan Leopold IV, pemeriksa berbalik arah sehingga menghadap kearah kaki ibu.

Leopold I 1. Leopold I :
o o o

Kedua telapak tangan pemeriksa diletakkan pada puncak fundus uteri. Tentukan tinggi fundus uteri untuk menentukan usia kehamilan. Rasakan bagian janin yang berada pada bagian fundus ( bokong atau kepala atau kosong ).

Leopold II 1. Leopold II :
o

Kedua telapak tangan pemeriksa bergeser turun kebawah sampai disamping kiri dan kanan umbilikus. Tentukan bagian punggung janin untuk menentukan lokasi auskultasi denyut jantung janin nantinya.

Tentukan bagian-bagian kecil janin.

Pemeriksa merubah posisinya sehingga menghadap ke arah kaki pasien. Kedua telapak tangan ditempatkan disisi kiri dan kanan bagian terendah janin. Digunakan untuk menentukan sampai berapa jauh derajat desensus janin.

LEOPOLD I

Leopold III 1. Leopold III :


o

Pemeriksaan ini dilakukan dengan hati-hati oleh karena dapat menyebabkan perasaan tak nyaman bagi pasien. Bagian terendah janin dicekap diantara ibu jari dan telunjuk tangan kanan. Ditentukan apa yang menjadi bagian terendah janin dan ditentukan apakah sudah mengalami engagemen atau belum.

Pemeriksa berdiri di kanan pasien dan menghadap ke arah muka pasien Kedua telapak tangan ditempatkan pada fundus uteri Ditentukan tinggi fundus uteri dan ditentukan bagian janin yang berada di fundus uteri LEOPOLD II

Leopold IV 1. Leopold IV :

Pemeriksa berdiri dikanan dan menghadap ke arah muka pasien Kedua telapak tangan ditempatkan pada sisi kiri dan kanan uterus setinggi umbilikus

Ditentukan lokasi bagian punggung janin dan bagian-bagian kecil janin LEOPOLD III

Pemeriksaan Leopold Pada Ibu Hamil


08:32 Noerma Ismayucha S.ST Pemeriksaan Leopold I untuk menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin yang berada dalam fundus uteri. Petunjuk cara pemeriksaan :

Pemeriksaan ini dilakukan dengan perlahan oleh karena dapat menyebabkan perasaan tak nyaman bagi pasien Pemeriksan berdiri dikanan dan menghadap ke arah muka pasien Bagian terendah janin dipegang diantara ibu jari dan telunjuk tangan kanan Ditentukan apa yang menjadi bagian terendah janin dan sudah mengalami engagemen atau belum LEOPOLD IV

Pemeriksa berdiri dikanan dan menghadap ke arah kaki pasien Kedua telapak tangan ditempatkan disisi kiri dan kanan bagian terendah janin Digunakan untuk menentukan sampai berapa jauh derajat desensus janin

Atur posisi pemeriksa sehingga menghadap ke bagian kepala ibu. letakkan sisi lateral telunjuk kiri pada puncak fundus uteri untuk menentukan tinggi fundus. Perhatikan agar jari tersebut tidak mendorong uterus ke bawah (jika diperlukan, fiksasi terus bawah dengan meletakkan ibu jari dan telunjuk tangan kanan dibagian lateral depan kanan dan kiri setinggi atas simfisis) Angkat jari telunjuk kiri (dan jari-jari yang memfiksasi uterus bawah). Letakkan ujung telapak tangan kiri dan kanan pada fundus uteri dan rasakan bagian bayi yang ada pada bagian fundus dengan jalan menekan secara lembut dan menggeser telapak tangan kiri dan kanan secara bergantian. Konsistensi uterus.

Pemeriksaan Leopold II Untuk menentukan bagian janin yang berada pada kedua sisi uterus, pada letak lintang tentukan di mana kepala janin. Petunjuk pemeriksaan :

Atur posisi pemeriksa pada sisi kanan dan menghadap ke bagian kaki ibu.
Atur posisi lutut ibu dalam posisi fleksi,

Menghadap ke kepala pasien, letakkan tepakan tangan kiri pada dinding perut lateral kanan dan telapak tangan kanan pada dinding perut lateral kiri ibu secara sejajar dan pada ketinggian yang sama. Mulai dari bagian atas tekan secra bergantian atau bersamaan (simultan) telapak tangan tangan kiri dan kanan kemudian geser ke arah bawah dan rasakan adanya bagian yang rata dan memanjang (punggung) atau bagian-bagian kecil (ekstremitas).

Letakkan ujung telapak tangan kiri pada dinding lateral kiri bawah, telapak tangan kanan bawah perut ibu. Tekan secara lembut dan bersamaan/bergantian untuk mentukan bagian terbawah bayi (bagian keras,bulat dan hampir homogen adalah kepala sedangkan tonjolan yang lunak dan kurang simetris adalah bokong) Gunakan tangan kanan dengan ibu jari dan keempat jari lainnya kemudian goyang bagian terbawah janin.

Pemeriksaan Leopold IV Untuk menentukan presentasi dan engangement. Petunjuk dan cara memeriksa :

Pemeriksaan Leopold III Untuk menentukan bagian janin apa yang berada pada bagian bawah dan apakah sudah masuk atau masih goyang. Petunjuk cara memeriksa :

Letakkan ujung telapak tangan kiri dan kanan pada lateral kiri dan kanan uterus bawah, ujung-ujung jari tangan kiri dan kanan berada pada tepi atas simfisis. Temukan kedua ibu jari kiri dan kanan kemudian rapatkan semua jari-jari tangan yang meraba dinding bawah uterus. Perhatikan sudut yang terbentuk oleh jarijari konvergen atau divergen. Setelah itu pindahkan ibu jari dan telunjuk tangan kiri pada bagian terbawah bayi (bila presentasi kepala upayakan memegang bagian kepala di dekat leher dan bila presentasi bokong upayakan untuk memegang pinggang bayi). Fiksasikan bagian tersebut ke arah pintu atas panggul kemudian letakkan jari-jari tangan

kanan diantara tangan kiri dan simfisis untuk menilai seberapa jauh bagian terbawah telah memasuki pintu atas panggul.

Dapat dilakukan dimanapun Dilakukan oleh setiap wanita yang memiliki payudara

Selanjutnya adalah tahap persiapan, dan yang harus

SARARI
Banyak yang telah mengenal istilah SARARI yang merupakan kependekan dari PemerikSAan PayudaRA SendiRI. Akan tetapi tidak sedikit pula yang mengetahui tata cara pelaksanaan dar SARARI itu sendiri. Sebelumnya kita sendiri perlu tahu mengenai apakah itu SARARI, tujuan apa yang hendak dicapai dengan pelaksanaan SARARI dan yang paling penting adalah step by step pelaksanaan SARARI itu sendiri.
Apa : Pemeriksaan payudara yang dilakukan diri sendiri Tujuan : Untuk mengevaluasi apakah ada perubahan dini yang mencurigakan ke arah kanker, dimana Keganasan peringkat ke menyebabkan di Indonesia, rahim payudara menempati dua terbanyak yang kematian pada wanita setelah kanker leher

dipersiapkan antara lain :


Ruangan tertutup Penerangan yang cukup Cermin yang memperlihatkan leher sampai pinggang Pakaian diatas pinggang dilepaskan Kertas dan ballpoint mencatat hasil pemeriksaan untuk

Setelah semua persiapan sudah siap SARARI siap dilakukan


1. Pertama adalah inspeksi payudara dengan bantuan cermin

a.

b. c.

Semakin awal kelainan diketahui, hasil pengobatan semakin baik Payudara kita tidak diperiksa secara rutin oleh dokter

d. Tanpa biaya Rutin dilakukan tiap bulan pada hari ke 7 dari hari pertama menstruasi atau rutin tiap bulan pada tanggal yang sama bagi yang sudah menopause

Posisi tubuh berdiri tegak dengan kedua tangan menggantung bebas di samping tubuh. Periksa kedua payudara dan area sekitarnya Bandingkan payudara kanan dan kiri, (normal ada sedikit perbedaan ukuran). Perbedaan ukuran ini bersifat menetap. Payudara yang menyusui umumnya sedikit lebih besar. Perhatikan apakah tampak ada benjolan Perhatikan perubahan pada kulit seperti Bengkak Kulit yang berbintik seperti kulit jeruk

1)

2)

Kemerahan Kulit yang tertarik, berlekuk atau terdapat gambaran atau cetakan pembuluh darah

Luka Perhatikan perubahan pada areola (area kemerahan di sekitar puting susu) dan puting susu 1. Posisi areola dan puting susu kedua payudara, apakah sama tinggi? Posisi areola dan puting susu, apakah tertarik ke arah tertentu atau tertarik ke dalam? Mengeluarkan atau darah? cairan

3)
A. Inpeksi Payudara pada cermin dengan posisi lengan menggantung bebas di samping tubuh 1) Inpeksi Payudara pada cermin dengan lengan menggantung bebas di samping tubuh dari arah depan

2.

3.

4. 2)

Luka

Inpeksi Payudara kanan pada cermin dengan lengan menggantung bebas di samping tubuh dari arah samping kiri Mengevaluasi Inspeksi payudara sebelah kanan. Dengan cara tetap berdiri tegak dengan kedua tangan tergantung di samping badan, putar badan 90 derajat ke kiri. Perhatikan sisi samping kanan payudara apakah terdapat kelainan seperti yang telah dijelaskan di atas

1)

3)

Inpeksi Payudara kiri pada cermin dengan lengan menggantung bebas di samping tubuh dari arah samping kanan

2)
Mengevaluasi Inspeksi payudara sebelah kiri. Dengan cara tetap berdiri tegak dengan kedua tangan tergantung di samping badan, putar badan 90 derajat ke kanan. Perhatikan sisi samping kiri payudara apakah terdapat kelainan seperti yang telah dijelaskan di atas

B.

Inpeksi Payudara pada cermin dengan posisi kedua lengan diangkat ke atas kepala

3)
1) Inpeksi Payudara kiri pada cermin dengan posisi kedua lengan diangkat ke atas dari arah depan Perhatikan saat menggerakkan kedua lengan ke atas, apakah kedua payudara ikut bergerak

terangkat secara bersamaan atau salah satu tertinggal. Perhatikan apakah ada kelainan pada payudara seperti telah dijelaskan pada point A, terutama bagian payudara bawah Tetap angkat kedua tangan ke atas kepala, putar badan 90 derajat ke kiri dan ke kanan, kemudian perhatikan sisi kanan dan kiri payudara serta area ketiak apakah terdapat kelainan seperti telah dijelaskan pada point A. C. Inspeksi Payudara pada cermin dengan posisi kedua tangan berkacak pinggang

2)

Inpeksi Payudara kiri pada cermin dengan lengan menggantung bebas di samping tubuh dari arah samping kanan Tetap angkat kedua tangan ke atas kepala, putar badan 90 derajat ke kiri, kemudian perhatikan sisi kanan payudara serta area ketiak apakah terdapat kelainan seperti telah dijelaskan pada point A.

1)

3)

Inpeksi Payudara kiri pada cermin dengan lengan menggantung bebas di samping tubuh dari arah samping kanan Tetap angkat kedua tangan ke atas kepala, putar badan 90 derajat ke kanan, kemudian perhatikan sisi kiri payudara serta area ketiak apakah terdapat kelainan seperti telah dijelaskan pada point A.

2)
1)

3)
Inspeksi payudara pada cermin dari arah depan

dengan posisi kedua tangan berkacak pinggang dan dengan dada yang dibusungkan Perhatikan apakah tampak tonjolan masa/ benjolan pada payudara.

2)

Inspeksi payudara pada cermin dari arah samping kanan dengan posisi kedua tangan berkacak pinggang dan dengan dada yang dibusungkan Tetap dengan posisi tangan pada pinggang dengan dada yang dibusungkan, putar badan 90 derajat ke kiri, kemudian perhatikan apakah apakah tampak tonjolan masa/ benjolan pada payudara A.

1)

2)

Palpasi ketiak kanan menggunakan tangan kiri Periksa ketiak Periksa ketiak kanan. Posisikan tangan kanan menggantung bebas di samping tubuh. Kemudian dengan menggunakan ujung jari ke dua, tiga dan empat tangan kiri telusuri ketiak dan lengan kanan bagian dalam dari tepi lengan hingga ke puncak ketiak. Perhatikan apakah ada benjolan pada area tersebut.

3)

Inspeksi payudara pada cermin dari arah samping kiri dengan posisi kedua tangan berkacak pinggang dan dengan dada yang dibusungkan Tetap dengan posisi tangan pada pinggang dengan dada yang dibusungkan, putar badan 90 derajat ke ke kanan, kemudian perhatikan apakah apakah tampak tonjolan masa/ benjolan pada payudara

B.

Palpasi ketiak kiri menggunakan tangan kanan Periksa ketiak Periksa ketiak kiri. Posisikan tangan kiri menggantung bebas di samping tubuh. Kemudian dengan menggunakan ujung jari ke dua, tiga dan empat tangan kanan telusuri ketiak dan lengan kiri bagian dalam dari tepi lengan hingga ke puncak ketiak. Perhatikan apakah ada benjolan pada area tersebut.

2.

Kedua adalah palpasi ketiak

3.

Ketiga adalah memencet puting susu menggunakan kedua tangan

a.

Keluar cairan atau darah

b. Warna cairan c. 4. Lubang tempat keluarnya cairan payudara

Keempat adalah palpasi dengan posisi berbaring

1)
A.

2)

1)

Memencet puting susu kanan dengan kedua tangan Periksa apakah puting mengeluarkan cairan susu

Dengan kedua tangan lakukan gerakan mengurut payudara dari pangkal sampai ujung (puting susu) Perhatikan a. Keluar cairan atau darah

2)
A. Palpasi payudara kanan dengan posisi berbaring menggunakan tangan kiri Ambil posisi berbaring Periksa payudara kanan dengan meletakkan bantal kecil di bawah punggung kanan dan mengangkat lengan kanan ke atas. Menggunakan telapak jari ke dua, tiga dan empat tangan kiri, raba payudara dengan sedikit tekanan dan gerakan memutar. Periksa seluruh permukaan payudara dari dalam (dari ujung puting) ke arah luar Perhatikan apakah teraba benjolan atau massa, kemudian perhatikan:

b. Warna cairan c. B. Lubang tempat keluarnya cairan

Memencet puting kiri dengan kedua tangan Periksa apakah mengeluarkan cairan puting

Dengan kedua tangan lakukan gerakan mengurut payudara dari pangkal sampai ujung (puting susu) Perhatikan

1) Letak 2) 3) 4) 5) 6) Ukuran panjang dan lebar serta ketebalan Permukaan rata atau tidak (berdungkul) Konsistensi padat/kenyal/lunak Batas dengan jaringan di sekitarnya tegas atau tidak

3) 4) 5) 6)

Permukaan rata atau tidak (berdungkul) Konsistensi padat/kenyal/lunak Batas dengan jaringan di sekitarnya tegas atau tidak Dapat digerakkan atau melekat pada jaringan di sekitarnya Nyeri tekan area sekitar benjolan

7) Dapat digerakkan atau melekat pada jaringan di sekitarnya Nyeri tekan area sekitar benjolan

7)

Mari Membaca Rontgen


Rontgen sebagai suatu sarana diagnostik penting untuk kita ketahui, terutama bagi praktisi kesehatan layaknya seorang dokter. Saya jujur saja juga seringkali mengalami kesulitan saat menemui rontgen-rontgen yang hitam putih itu, kebanyakan gambarnya sama dan mirip-mirip. Alhasil yang saya lakukan hanyalah menebak-menebak sambil bingung sendiri (gak pake garuk-garuk kepala ya^^). saya kan juga masih belajar itu tuh alasannya. heheee Tapi, mau tidak mau yah kita mesti berusaha untuk manjadi familiar dengan si mr. rontgen ini, harus bisa githu meski dikit-dikit aja.. Nah, oleh karena disebabkan oleh itulah, saya berusaha menyusun cara sistematik buat membaca rontgen, ringkasnya gini.. PERTAMA Sebelum lebih jauh membaca dan mentelaah suatu foto rontgen, kita harus memastikan terlebih dahulu kelengkapan IDENTITAS foto rontgennya. Nama, umur, jenis kelamin, nomor foto, tanggal foto dan klinisnya. Harus dipastikan supaya tidak tertukar. Setelah lengkap dan jelas barulah kita memusingkan kepala kita dengan menerawang lalu membacanya. okeh ! KEDUA

B.

Palpasi Payudara kiri dengan posisi berbaring menggunakan tangan kanan Masih dengan posisi berbaring Periksa payudara kiri dengan meletakkan bantal kecil di bawah punggung kiri dan mengangkat lengan kiri ke atas. Menggunakan telapak jari ke dua, tiga dan empat tangan kanan, raba payudara dengan sedikit tekanan dan gerakan memutar. Periksa seluruh permukaan payudara dari dalam (dari ujung puting) ke arah luar Perhatikan apakah teraba benjolan atau massa, kemudian perhatikan: 1) Letak 2) Ukuran panjang dan lebar serta ketebalan

tapi.. sebelum kita baca (lagi-lagi) pastikan dulu, foto tersebut LAYAK BACA atau tidak. Beberapa foto dengan kualitas yang tidak baik sebaiknya tidak kita baca untuk menghindari misinterpretasi. Seperti misalnya, foto yang terlalu keras, yang terpotong, posisinya tidak baik, inspirasi kurang (inspirasi cukup jika costa 6 memotong hemidiafragma di tengah) dll. Untuk menghindari kesalahan pembacaan, kita bisa minta ulang fotonya. KETIGA Mari Membaca. Untuk tulisan ini, kita fokuskan pada foto rontgen thorak saja Tentukan posisi foto terlebih dahulu. Yang penting pada foto thorak adalah apakah posisi pengambilan foto adalah AnteroPosterior (AP) atau PosteroAnterior (PA). Karena posisi foto akan sangat mempengaruhi pembacaannya. Foto AP berarti sinar X berasal dari bagian depan tubuh dan film berada di belakang. Sementara foto PA berarti sinar X ada di belakang dan film berada di bagian depan tubuh. Hal ini penting, karena semakin jauh letak organ dari film maka gambaran foto yang didapat akan termagnifikasi (diperbesar) sehingga tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. So yang lebih mendekati keadaan organ yang sebenarnya adalah foto PA (jika kita menilai jantung dan paru, karena lebih dekat ke film). Nah, bagaimana membedakan foto AP atau PA? Pada foto AP clavicula akan tampak mendatar, scapula berada di dalam lapangan paru, dan yang tampak depan adalah costae anterior. Sedangkan pada foto PA yang tampak depan adalah costae posterior, clavicula menjungkit, dan scapula berada di luar lapangan paru. Selanjutnya. KEEMPAT Untuk membaca foto rontgen prinsipnya adalah membandingkan keadaan kiri dan kanan, jadi jika kita melihat suatu keadaan di bagian kanan maka bandingkan dengan bagian kirinya. Selanjutnya untuk pembacaan dapat dilakukan dari dalam ke luar atau dari luar ke dalam (saya sih lebih suka dari

luar ke dalam ><). Tulisan ini dari pembacaan dibuat luar ke dalam yah,,, Pertama perhatikan soft tissuenya terlebih dahulu, apakah terdapat soft tissue swelling atau tidak. Soft tissue swelling bisa terjadi misalnya pada trauma, tumor, dll. Kemudian nilai tulang-tulang, intak atau tidak. Apakah ada kelainan, fraktur, destruksi, dan lainnya. Fraktur bisa kita lihat dari putusnya kontinuitas jaringan tulang. Dari gambaran rontgen ini dapat pula kita nilai jenis frakturnya. Destruksi bisa terjadi misal akibat metastasis tumor ganas ke tulang sehingga tulang menjadi tidak utuh bahkan bisa hilang. Gambaran metastasis yang ada dapat berupa gambaran radiolusen (hitam) atau radioopaque (putih) yang abnormal pada gambaran tulang. Kelainan, misalnya lordosis, kifosis, atau scoliosis pada vertebrae yang juga bisa kita nilai lewat foto rontgen. Mediastinum dinilai normal atau tidak, apakah terdapat pembesaran atau tidak. Misal, adanya tumor pada mediastinum akan menampakkan gambaran mediastinum yang melebar atau tampak adanya massa pada mediastinum. Trakea juga dapat kita nilai. Trakea yang normalnya berada di tengah, bisa mengalami pergeseran akibat desakan atau proses-proses lain. Pleura, bagaimana sudut costofrenikusnya, lancip atau tumpul, normalnya lancip. Sudut costofrenikus yang tumpul dapat menandakan suatu efusi pleura. Bisa juga berupa suatu perselubungan atau massa yang belum bisa ditentukan. Sehingga untuk lebih jelasnya kita bisa melihat foto lateralnya. Jelasnya, lokasi sudut costofrenikus lihat di gambar di bawah ini,,,

menghitung CTR (Cardio Thoracic Ratio), normalnya pada orang dewasa adalah 48%-50%, sedangkan pada anak-anak sebesar 52%-53%. Cara menghitungnya adalah a + b : c. Jelasnya lihat gambar

Sketsa Thorak Normal

Kemudian nilai juga parenkim paru, keadaan hilus, corakan bronkovaskuler, dan apakah terdapat lesi atau tidak. Hilus merupakan tempat keluar masuknya arteri dan vena pulmonalis, bronkus, dan juga saluran limfe. Normalnya diameter hilus sama dengan diameter trakea. Pada foto rontgen, hilus memberikan gambaran yang padat. Untuk corakan bronkovaskuler, normalnya hanya terdapat pada 1/3 lapangan paru dari central pada dewasa, sedangkan pada anak hanya 1/4 dari lapangan paru. Corakan bronkovaskuler yang meningkat dapat menjadi suatu tanda suatu proses perandangan paru misalnya pada bronkitis, pneumonia, dll. Kemudian lesi pada parenkim paru. Terdapat banyak gambaran lesi yang mungkin terjadi. Misal pada Tuberkulosis (TB) bisa terdapat gambaran infiltrat, fibrotik, kavitas, dan lain-lain. Proses TB aktif ditandai dengan adanya lesi kavitas atau infiltat. Sementara bekas TB lama atau yang sudah tidak aktif lagi bisa tampak gambaran fibrotik berupa garis-garis radioopaque dengan batas yang tegas. Bisa juga tampak gambaran metastasis pada parenkim paru dengan adanya bentukan-bentukan lesi yang noduler, milier, koin, cannon ball, dll (masalah lesi pada parenkim paru buanyakkk sangat,,, lengkapnya silahkan browsing lebih lanjut, okeh ! ) Selanjutnya jantung, nilai besar dan ukurannya, normal atau tidak. Ukuran bisa kita nilai dengan

CTR Selanjtnya, diafragma, apakah terdapat elevasi, bagaimana bentuknya, dan permukaannya licin atau tidak. Diaframga letak tinggi misalnya bisa disebabkan oleh desakan massa dari bawah, paralisis m. diafragmatika atau lumpuhnya n. phrenicus

KASUS-KASUS DIPRESENTASIKAN OLEH : Dr. ADI PURBANTO SpRad. (KASUS 16-20)


Rabu, 9 Maret 2011 10:24:01 - Penulis : admin KASUS 16 Penderita laki-laki umur 30 tahun dengan batuk-batuk, sesak nafas disertai demam tinggi, nyeri pada dada kanan dan sputum berdarah. Dilakukan foto rontgen thorax. Hasil pembacaan : Jantung tidak ada kelainan ; Paru-paru menunjukkan perselubungan homogeny kanan atas dan penumpulan sinus costophrenicus kiri.

Kesimpulan : Pnemonia Dextra dan pleural effusion kiri

Anak laki-laki berumur 4 tahun, dengan keluhan batuk-batuk, sesak, panas tinggi, dimintakan foto thorax dan lab darah lengkap. Dilakukan foto rontgen dada AP. Hasil pembacaan : Jantung tidak ada kelainan Pada paru-paru ada perselubungan suprahiler kanan Kesimpulan : Pnemonia dextra.

KASUS 17 Penderita laki-laki umur 40 tahun, cachextic, dengan keluhan batuk-batuk kronis, sputum berdarah, nyeri dada, sesak nafas. Dilakukan pemeriksaan foto rontgen dada . Hasil pembacaan : Jantung tidak ada kelainan - Paru-paru menunjukkan proses fibroindurasi kanan atas disertai cavitas besar, di paru-paru kiri atas ada fibroinfiltratif proses ringan. Kesimpulan : KP Duplex

KASUS 19 kencing berupa dysuri, demam, leukositosis. Dilakukan pemeriksaan Intravenous Pyelografi. Hasil Pembacaan : Nampak kedua system pelviocalyceal melebar Kesimpulan : Bilateral PUJ obstruction akibat strictures.

KASUS 18

Empat Manuver Leopold (Pemeriksaan ANC Kehamilan)


by: beritaberita.net - March 22nd, 2011 Add Comment

Apabila kepala janin teraba di bagian fundus, yang akan teraba adalah keras,bundar dan melenting (seperti mudah digerakkan). Apabila bokong janin teraba di bagian fundus, yang akan terasa adalah lunak, kurang bundar, dan kurang melenting. Fundus kosong apabila posisi janin melintang pada rahim.

Menentukan usia kehamilan


Salah satu pemeriksaan yang dilakukan saat Ante Natal Care adalah pemeriksaan Leopold. Pemeriksaan ini terdiri dari 4 tindakan yang masingmasing dilakukan untuk mengetahui presentasi (kedudukan) bagian tubuh janin dalam uterus (rahim). Empat pemeriksaan Leopold tersebut adalah: Leopold I Bertujuan untuk menentukan usia kehamilan dan juga untuk mengetahui bagian janin apa yang terdapat di fundus uteri (bagian atas perut ibu). Teknik pemeriksaan

Pada usia kehamilan 12 minggu, fundus dapat teraba 1-2 jari di atas simpisis. Pada usia kehamilan 16 minggu, fundus dapat teraba di antara simpisis dan pusat. Pada usia kehamilan 20 minggu, fundus dapat teraba 3 jari di bawah pusat. Pada usia kehamilan 24 minggu, fundus dapat teraba tepat di pusat. Pada usia kehamilan 28 minggu, fundus dapat teraba 3 jari di atas pusat. Pada usia kehamilan 32 minggu, fundus dapat teraba di pertengahan antara prosesus xipoideus dan pusat. Pada usia kehamilan 36 minggu, fundus dapat teraba 3 jari di bawah prosesus xipoideus. Pada usia kehamilan 40 minggu, fundus dapat teraba di pertengahan antara prosesus xipoideus dan pusat. (Lakukan konfirmasi dengan wawancara dengan pasien untuk membedakan dengan usia kehamilan 32 minggu).

Leopold II Bertujuan untuk menentukan di mana letak punggung ataupun kaki janin pada kedua sisi perut ibu. Teknik pemeriksaan

Pemeriksa menghadap ke kepala pasien, gunakan ujung jari kedua tangan untuk meraba fundus.

menghadap ke kepala pasien, letakkan kedua tangan pada kedua sisi perut ibu, raba (palpasi) kedua bagian sisi perut ibu.

Mengetahui bagian janin apa yang terdapat di fundus uteri

Menentukan di mana letak punggung ataupun kaki janin pada kedua sisi perut ibu

bagian punggung akan teraba jelas, rata, cembung, kaku/tidak dapat digerakkan. bagian-bagian kecil (tangan dan kaki) akan teraba kecil, bentuk/posisi tidak jelas dan menonjol, kemungkinan teraba gerakan kaki janin secara aktif maupun pasif.

Pemeriksaan Darah Lengkap


Oleh drdjebrut 3 Komentar Kategori: Pemeriksaan Tags: darah, darah lengkap, tes Mumpung lagi nganggur, sehari posting dua kali aja,hehehe..Kali ini tentang pemeriksaan Darah Lengkap, biasa disingkat DL, atau dalam bahasa inggris Complete Blood Count (CBC) Sebagian besar dari kita, terutama yang pernah opname, menunggu keluarga yang sedang sakit di rumah sakit, atau check up di laboratorium klinis pasti pernah mendengar tentang darah lengkap. Tapi apakah semuanya mengetahui apakah itu pemeriksaan darah lengkap, tujuan, dan apa saja yang diperiksa?Mari kita coba sedikit membahasnya. Pemeriksaan darah lengkap (selanjutnya ditulis DL) adalah suatu tes darah yang diminta oleh dokter untuk mengetahui sel darah pasien. Terdapat beberapa tujuan dari DL, di antaranya adalah sebagai pemeriksaaan penyaring untuk menunjang diagnosa, untuk melihat bagaimana respon tubuh terhadap suatu penyakit dan untuk melihat kemajuan atau respon terapi. Bagaimana cara pemeriksaannya? Darah kita diambil dengan menggunakan spuit (suntik) sekitar 2 cc, dimasukkan ke dalam tabung yang telah berisi antikoagulan (EDTA atau sitrat), kemudian dibawa ke laboratorium.

Leopold III Bertujuan untuk menentukan bagian janin apa (kepala atau bokong) yang terdapat di bagian bawah perut ibu, serta apakah bagian janin tersebut sudah menyentuh pintu atas panggul. Teknik pemeriksaan

Pemeriksa hanya menggunakan satu tangan. (Lihat gambar!) Bagian yang teraba, bisa kepala, bisa juga bokong (Lihat Leopold I!) Cobalah apakah bagian yang teraba itu masih dapat digerakkan atau tidak. Apabila tidak dapat digoyangkan, maka janin sudah menyentuh pintu atas panggul.

Leopold IV Bertujuan untuk mengkonfirmasi ulang bagian janin apa yang terdapat di bagian bawah perut ibu, serta untuk mengetahui seberapa jauh bagian bawah janin telah memasuki pintu atas panggul. Teknik pemeriksaan

pemeriksa menghadap kaki pasien dengan kedua tangan ditentukan bagian janin apa (bokongkah atau kepalakah?) yang terletak di bagian bawah perut ibu.

Mengetahui seberapa jauh bagian bawah janin telah memasuki pintu atas panggul

Apabila konvergen (jari-jari kedua tangan bertemu), berarti baru sedikit janin memasuki pintu atas panggul. Apabila divergen (jarak antara kedua jari pemeriksa jauh), janin (kepala janin) telah banyak memasuki pintu atas panggul).

Yang perlu diingat adalah pemeriksaan ini adalah penunjang dari anamnesa dan pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter. Jadi diagnosis tidak semata-mata dari hasil laboratorium, tapi yang paling utama adalah dari keadaan klinis dari si sakit.

Jantung di foto Rontgen ???


apa saja sih gambaran jantung yang bisa kita baca di foto rontgen thorak? >< apa saja informasi yang bisa kita dapatkan mengenai jantung dari foto rontgen thorak?>< memangnya kita bisa tahu keadaan jantung ya dari foto hitam-putih ala mr.rontgen? >< Apa saja yang diperiksa? Yang diperiksa adalah beberapa komponen darah yaitu eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (keeping darah). Pada lembar hasil DL, yang umum tercatat adalah kadar hemoglobin, jumlah trombosit, jumlah leukosit, dan hematokrit (perbandingan antara sel darah merah dan jumlah plasma darah.). Kadang juga dicantumkan LED (Laju Endap Darah) dan hitung jenis leukosit. Hasil DL yang normal adalah (hasil ini bervariasi, tergantung di laboratorium mana kita periksa) : 1. 2. 3. 4. 5. Kadar Hb : 12-14 (wanita), 13-16 (pria) g/dl Jumlah leukosit : 5000 10.000 /l Jumlah trombosit : 150.000 400.000 /l Hematokrit : 35 45 % LED : 0 10 mm/jam (pria), 0 20 mm/jam (wanita)

nah nah nah begini ni, ni ada beberapa informasi mengenai jantung yang ternyata bisa kita ketahui lewat foto rontgen thoraks,, dimana sesuai fungsinya, rontgen yang merupakan media intip kita tuk tahu kondisi dalam tubuh tanpa harus buka-bukaan organ secara langsung bisa kita manfaatkan, termasuk jika kita ingin mengintip kondisi jantung seseorang. Informasi jantung apa saja yang kita bisa baca dari foto rontgen thorak??? yang pertama, BENTUKnya kebanyakan penyakit jantung akan memberikan gambaran khas pada bentuk si jantung itu sendiri, minimal jika penyakit jantungnya sudah cukup lumayan parah, si jantung akan mengkompensasinya dengan berhipertrofi, yang bentuk pembesarannya ini bisa kita lihat di foto rontgen. Contohnya lagi, pada suatu keadaan dimana terdapatnya cairan berlebih pada rongga perikardium (kerennya pericardial effusion), maka jantung akan menjadi seperti berbentuk botol (bottle shape). Terus misalnya lagi pada pada penyakit jantung kongestif (congestif heart failure) jantung bisa menjadi berbentuk boot shape. Jadi, kita bisa memperkirakan keadaan atau malah penyakit yang ada pada jantung juga dari bentuk jantung itu sendiri.

Hasil normal laboratorium lengkap bisa dilihat di tulisan saya sebelumnya Hasil Lab Normal Beberapa contoh interpretasi dari hasil DL secara sederhana antara lain bila kadar Hb turun menandakan anemia, leukositnya meningkat melebihi normal mungkin menandakan terjadinya infeksi, trombositnya turun mungkin saja menandakan terjadi infeksi virus, dan lain sebagainya.

bottle shape heart

CTR

Selanjutnya kita bisa baca gambaran lain pada jantungnya. Keadaan aorta misalnya normal atau tidak. Apakah terdapat gambaran kalsifikasi (gambaran radioopak pada aorta) yang bisa menjadi suatu tanda adanya Aorta Sclerotic Heart Disease (ASHD). Apakah ada elongasi (perpanjangan) aorta atau tidak dan lain-lain Nilai juga pinggang jantungnya apakah normal, dalam, atau malah menghilang. Pinggang jantung yang hilang bisa terdapat pada hipetrofi jantung. Kemudian pada mitral stenosis juga bisa didapatkan gambaran double countur yang khas.. boot shape heart Kemudian mari kita identifikasi BESAR jantung tersebut. Pada foto thorak kita bisa mengukur apakah besar jantung yang ada pada foto tersebut normal atau tidak dengan menghitung Cardio Thoracik Rationya (CTR). Namun, penghitungan ini harus memenuhi syarat terlebih dahulu. Syaratnya, foto harus PA dan inspirasi harus cukup (mengapa?,, silahkan baca tulisan sebelumnya ^^V), barulah kita bisa menghitung CTRnya. Rumusnya a+b:c x 100%. Normalnya pada orang dewasa 4850% sedangkan pada bayi 52-53%, jika lebih dari itu maka jantung berarti mengalami pembesaran karena suatu sebab.

Aorta Calcification

Kelainan jantung bawaan dengan corakan bronkovaskuler menurun dengan sianosis antara lain : total pulmonary venous return (TPVR), trunkus arteriosus persisten, dan transposisi pembuluh darah besar. Kelainan jantung bawaan dengan corakan bronkovaskuler menurun tanpa sianosis antara lain : Ventrikel Septal Defect (VSD), Atrial Septal Defect (ASD), Patent Ductus Arteriosus (PDA), Endocardial Cushion Defect (ECD), dan Partial Pulmonary Venous Return (PPVR). Sedangkan kelainan jantung bawaan dengan corakan bronkovaskuler meningkat dengan sianosis antara lain : Tetralogy of Fallot, Atresia Pulmonal, Atresia Trikuspidalis, dan Ebstein Anomaly. Kelainan jantung bawaan dengan corakan bronkovaskuler meningkat tanpa sianosis antara lain Stenosis Pulmonal Murni.

Double Countur Tak lupa pula, ternyata kita bisa menilai jantung dari keadaan paru-paru {,??? lho yap, betul, bisa kita nilai karena gangguan pada jantung juga bisa menyebabkan perubahan pada paru-paru. Misalnya, CHF yang menimbulkan edema paru, dimana gambaran edema paru akibat CHF ini bisa kita lihat pada foto. Edema paru akut akan tampak sebagai kesuraman di peri-hillier kanan dan kiri, sehingga membentuk gambaran seperti kupu-kupu di rongga thorak. Sedangkan edem paru kronis akan menyebabkan kesuraman yang lebih menyeluruh pada lapangan paru. Nah, selain kesuraman-kesuraman ini, tanda lain dari adanya edema paru adalah adanya Garis Kerley A dan B pada lapangan paru. Garis Kerley ini muncul akibat terbendungnya aliran limfe karena edema intraalveolar. Garis Kerley merupakan garis mendatar dari dinding thorak ke medial kira-kira 3-4 cm. Jika berada pada lapangan tengah paru dinamakan Garis Kerley A dan Garis Kerley B pada lapangan bawah paru. Ada lagi,, untuk penyakit jantung bawaan maka pembacaan foto rontgen thorak akan sangat dipengaruhi oleh keadaan klinis sang pasien. Yaitu,, apakah terdapat sianosis atau tidak. Karena kelainan jantung bawaan pada foto rontgen thorak dikelompokkan berdasarkan oleh 2 hal yaitu ada tidaknya sianosis dan bagaimana corakan bronkovaskulernya.,