Anda di halaman 1dari 3

Executive Summary

Penelitian

Pembuatan instrumen kemampuan berpikir kritis mahasiswa program studi ilmu keperawatan fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan UIN Jakarta tahun 2010
Oleh : Ita Yuanita, SKp. M.Kep. Pelayanan kesehatan pada abad 21 ini semakin kompleks dan tuntutan masyarakat semakin tinggi. Kondisi ini dapat disebabkan oleh sistem informasi pasien yang semakin membaik dan terbuka, munculnya penyakit-penyakit baru, dan penerapan evidence base practice. Pelayanan kesehatan dapat berlangsung dengan baik jika adanya kerjasama yang baik antara profesi-profesi kesehatan. Perawat adalah salah satu profesi yang melayani pasien selama 24 jam di pelayanan kesehatan. Pelayanan keperawatan profesional memerlukan tanggung jawab & tanggung gugat serta komitmen belajar sepanjang waktu. Peran perawat adalah membantu individu sakit atau sehat dalam kinerja aktivitas yang menunjang pada kesehatan dan pemulihan pasien atau pada kematian yang tenang (International Council Nurses, 1973). Ketika diberi tanggung jawab untuk membantu individu dalam mencapai dan meningkatkan kesehatannya, perawat harus mampu untuk berpikir kritis dalam upaya menyelesaikan masalah dan menemukan jalan keluar yang terbaik bagi pasien. Kemampuan berpikir kritis dalam lingkungan keperawatan sangat esensial untuk pengembangan pikiran mandiri dan membantu perawat dalam memberikan pelayanan yang efektif (Brunt, 2005). Lembaga pendidikan keperawatan mempunyai peran dalam melahirkan perawat-perawat profesional. Setiap lembaga Pendidikan bertanggung jawab terhadap mutu calon-calon perawat profesional yang diluluskan. Salah satu komponen kompetensi mahasiswa pendidikan keperawatan S1 adalah mampu berpikir kritis dalam memberikan pelayanan keperawatan profesional. Berpikir kritis merupakan komponen yang bermakna dari pendidikan keperawatan dan terintegrasi pada semua disiplin ilmu keperawatan (Boychuk Duchscher 1999, Bowles 2000). Tidak ada standar khusus yang memfokuskan evaluasi pada berpikir kritis, namun lembaga pendidikan keperawatan perlu mengevaluasi komponen kompetensi dalam kurikulum keperawatan contohnya berpikir kritis (Stone A.C., Davidson J. L., Evans L. J., Hansen A. Mary; 2001). Dan menurut Daly (2001) bahwa saat ini berpikir kritis merupakan salah satu hasil pendidikan yang nilainya sangat tinggi. Evaluasi kemampuan berpikir kritis memerlukan instrument pengukuran yang dapat mengambarkan dengan tepat kondisi sebenarnya. Hasil studi literatur didapatkan beberapa instrumen untuk mengukur kemampuan berpikir kritis pada mahasiswa keperawatan yang masing-masing terdapat kontroversi. Instrumen-instrumen bersumber dari luar sehingga jika dipergunakan akan ditemukan kendala dalam menterjemahkan dengan tepat dan adanya perbedaan karakteristik populasi yang akan diteliti. California Critical Thinking Skill Test (CCTST) dan California Critical Thinking Disposition 1

Inventory (CCTDI)merupakan salah salah satu instrument yang dikembangkan oleh Facione sejak tahun 1990 yang diyakini tepat untuk mengukur kemampuan berpikir kritis mahasiswa keperawatan. Item-item pertanyaan pada CCST merefleksikan kemampuan berpikir kritis moderat dari perawat dn CCTDI tidak mempunyai hubungan dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa Stone A.C., Davidson J. L., Evans L. J., Hansen A. Mary; 2001). Berdasarkan hal tersebut dalam upaya memperbaiki kompetensi mahasiswa keperawatan UIN Syarif Hidayatullah maka perlu tindakan proaktif dalam menilai kemampuan berpikir kritis mahasiswa dengan membuat instrumen pengukuran kemampuan berpikir kritis yang tepat dan sesuai dengan kondisi serta tujuan program studi Ilmu Keperawatan UIN Syarif Hidayatullah. Oleh karena itu perlu adanya pembuatan instrumen pengukuran berpikir kritis mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sesuai dengan kondisi dan karakter program pendidikannya.

Hasil Penelitian Kualitatif 1. Tingkat kemampuan berpikir kritis yang ingin diukur adalah tingkat kompleks yaitu mahasiswa menggunakan autoritas dan analisa serta menguji alternatifalternatif lebih mandiri (evaluasi). Keterampilan / kompetensi yang diukur dalam kemmpuan berpikir kritis adalah : a. Pengkajian Pengkajian merupakan salah satu keterampilan berpikir kritis yang harus dimiliki oleh mahasiswa PSIK-FKIK UIN Jakarta yaitu keterampilan mengumpulkan dan merangkai data-data pasien secara mendalam dan focus. b. Interpretasi data , setelah mahasiswa mampu mengumpulkan data merangkai data, maka keterampilan berpikir berikutnya adalah menginterpretasikan datadata c. Penyelesaian masalah, penyelesaian masalah merupakan kemampuan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di keperawatan. Keefektifan penyelesaian masalah melibatkan analisa dan evaluasi dari solusi yang telah dibuat yang masih efektif. d. Membuat Keputusan/keputusan klinik Ketika seseorang dihadapkan pada masalah atau situasi dan harus memilih tindakan dari beberapa pilihan, maka orang tersebut harus membuat keputusan. Membuat keputusan adalah titik akhir dari berpikir kritis yang mengarah pada resolusi masalah.

2.

3. Metode pengukuran berpikir kritis yang digunakan dalam instrument ini adalah metode ujian tertulis essay dengan bentuk kasus. Sedangkan penilaian terhadap jawaban tersebut menggunakan skor rubrik, dimana masing-masing keterampilan yang diukur mempunyai kriteria yang berbeda.

4. Hasil uji coba instrumen pengukuran kemampuan berpikir kritis mahasiswa PSIKFKIK UIN Jakarta dilakukan sebanyak dua kali pada 34 orang mahasiswa semester 7 didapatkan cronchbach 0,866 dan validitas > 0,349

Keywords Berpikir kritis Keterampilan berpikir kritis Metode kasus Skor rubrik