Anda di halaman 1dari 2

HUKUM-HUKUM FISIKA YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERNAPASAN PARU-PARU 1.

HUKUM LAPLACE Tekanan di dalam alveolus berbanding lurus dengan besar tegangan permukaan, namun berbanding terbalik dengan besar jejari atau volume alveolus. Pernyataan ini dinyatakan Laplace dalam sebuah Hukum yang diringkas dalam sebauah persamaan, yaitu

Laplace juga menyatakan bahwa rahasia dibalik alveolus tetap terkembang tanpa meletus adalah adanya penyekat antar alveolus. Penyekat menjaga antar alveolus tidak saling berhubungan. Hal ini penting agar alvelolus tidak kolaps. Penyekat alveolus merupakan jaringan ikat yang menghasilkan gaya recoil, seperti otot. Gaya recoil tersebut menyebabkan paru memiliki elastisitas yang tinggi. Gaya recoil membatasi paru untuk terus mengembang saat inspirasi. Jaringan ikat penyekat paru umumnya tidak bertambah banyak, namun dapat berkurang oleh karena proses degenerasi (penuaan). Hal ini menyebabkan gaya recoil melemah sehingga paru kehilangan elastisitasnya dan molor saat inspirasi. Volume udara yang mengisi paru meningkat melebihi batas normal. Masalah muncul saat ekspirasi; volume udara yang besar dikeluarkan secara bersamaan melalui jalan napas yang mengecil saat ekspirasi sehingga munculah keluhan sesak. Gaya recoil dapat meningkat tanpa diikuti penambahan jumlah jaringan ikat penyekat alveolus. Penyebabnya adalah munculnya jaringan parut atau cicatrix yang memiliki kekuatan tarikan lebih besar dari jaringan ikat penyekat itu sendiri. Jaringan parut muncul sebagai hasil akhir proses keradangan paru, misalnya TB paru dan pneumonia. Alveolus tak mampu mengembang maksimal oleh karena tertahan gaya recoil yang besar sehingga sesak muncul saat inspirasi. 2. HUKUM OHM Aliran udara masuk dan keluar paru berlangsung dengan tidak mudah karena terdapat tananan atau resistensi sepanjang jalan napas. Resistensi berbanding lurus dengan besar tekanan udara di dalam jalan napas dan berbanding terbalik dengan kecepatan alir udara melewati jalan napas. Hal ini dinyatakan oleh Ohm melalui hukum yang diringkas dalam sebuah persamaan berikut

Sesak napas dapat disebabkan oleh peningkatan tekanan udara yang melalui jalan napas, seperti pada kondisi emfisema dimana begitu besar tekanan udara di dalam paru melalui saluran napas yang menyempit saat ekspirasi. Sebaliknya penurunan kecepatan alir udara insprasi menunjukan adanya resistensi yang besar terutama pada saluran napas atas. Kondisi ini menunjukan adanya obstruksi, baik yang bersifat parsial maupun total. Volume udara di dalam paru sulit dapat diketahui secara langsung. Sebagian ahli mencoba menampung udara respirasi ke dalam sebuah kantong yang ditemukan Douglas. Metode ini sangat membahayakan orang coba, sehingga pengukran volume udara respirasi dilakukan dengan cara tidak langsung, yaitu melalui alat yang disebut spirometer. Alat ini mencatat volume udara saat inspirasi maupun ekspirasi dalam bentuk grafik yang mengikuti gerakan napas. Kelemahan pengukuran menggunakan spirometer adalah tidak mampu mengukur volume residu dan volume paru yang diperoleh belum menggambarkan kondisi sebenarnya.

3. HUKUM BOYLE-GAY LUSSAC Untuk mendapatkan volume paru sebenarnya diperlukan konversi melalui aplikasi hukum Boyle Gay Lussac yang meyatakan bahwa hasil kali dari tekanan dan volume akan tetap selamanya konstan sehingga bila tekanan dan volume diukur pada dua kondisi berbeda, hasil kalinya tetap akan sama. Kondisi berbeda tersebut adalah tekanan,volume dan suhu alat spirometer serta tekanan, volume dan suhu tubuh.

P1 : Patm Palt pd suhu T1 (alt) T1 : suhu alat dalam K P2 : Patm Ptbh pd suhu T2 (tbh) T2 : suhu tubuh dalam K V1 : hasil pengukuran spirometer V2 : vol paru sesungguhnya

Anda mungkin juga menyukai