Anda di halaman 1dari 5

Bahan ajar JIGSAW BIOTERORISME

1.

Definisi Bioterorisme

Bioterorisme berarti pemakaian mikroba sebagai sarana dalam terorisme. Mikroba yang digunakan pada bioterorisme lebih populer di media massa dengan sebutan senjata biologis (biological weapons atau bioweapons). Perang yang melibatkan senjata biologis/mikroba disebut perang kuman (germ warfare) atau biological warfare (Nester dkk., 2007 ; Tortora dkk., 2007). Menurut Cinti dan Hanna (2007), Bioterorisme adalah penggunaan bakteri jahat, virus, atau racun terhadap manusia, hewan, atau tanaman dalam upaya untuk menyebabkan kerusakan dan menciptakan rasa takut. Bioterorisme menggunakan produk mikroba atau mikroba. Jadi, Bioterorisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan penggunaan sabotase atau penyerangan dengan bahan-bahan biologis atau racun biologis dengan tujuan menimbulkan kerusakan dan biasanya berhubungan dengan ancaman yang menimbulkan kepanikan publik. Agen biologi yang dipergunakan umumnya mikroorganisme dan racunracunnya yang dapat menimbulkan penyakit bahkan kematian. 2. Sejarah Bioterorisme Pada tahun 1346 terdapat pasukan kelompok Tartar yang pertama kali memanfaatkan bioterorisme dengan cara menempatkan penderita pes di bagian belakang pertahanan lawan.

3.

Penggolongan Bioterorisme

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan mikrobiologi, persenjataan biologis makin mendapat perhatian besar karena menjadi lebih canggih dan menakutkan. Hal ini karena kemampuan membunuhnya lebih efektif daripada bentuk persenjataan api atau nuklir. Dikatakan lebih efektif karena senjata biologis bersifat membunuh dan mematikan manusia dan makhluk hidup lainnya, bukan sekedar merusak sarana fisik, serta penyebarannya yang relatif lebih mudah dan dapat bersifat mewabah dalam jangka panjang. Dalam peperangan hayati, bakteri patogen dan virus sangat bermanfaat karena banyak anggotanya sangat mudah untuk dikembangbiakkan dan disebarluaskan. Kuman diperoleh

secara alamiah, namun kuman-kuman tersebut dapat dirubah sehingga kemampuannya untuk menyebabkan penyakit dapat ditingkatkan, yang membuat kuman-kuman tersebut akan kebal atau resisten terhadap pengobatan yang telah ada, ataupun kemampuannya untuk menyebar kesekitarnya menjadi bertambah hebat, baik melalui udara, air ataupun makanan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menggolongkan bioterorisme atas beberapa golongan berdasarkan risiko yang ditimbulkannya terhadap manusia oleh karena kemudahan menyebar, beratnya kesakitan maupun kematian yang ditimbulkannya, yaitu : Golongan A: kumpulan kuman-kuman yang mempunyai risiko yang sangat tinggi yang membahayakan keamanan suatu negara, yang secara mudah dapat menyebar dari manusia kemanusia, menimbulkan angka kematian yang sangat tinggi, menyebabkan kepanikan dan kekacauan sosial dan diperlukan tindakan khusus bagi kesehatan masyarakat. Contoh penyakit yang disebabkan oleh kuman anthrax, virus cacar dan demam berdarah, kuman penyebab penyakit pes dan klostridium botulinum (penyebab keracunan makanan). Golongan B: kumpulan kuman yang mempunyai risiko tinggi walaupun lebih rendah dari golongan A, cukup mudah menyebar, menyebabkan angka kesakitan cukup tinggi walaupun angka kematian rendah. Contoh bakteri penyebab brucellosis, salmonela, sigela, e.coli, cholera, virus alfa dan penyebab infeksi otak, zat-zat racun (toksin) dan lain-lain. Golongan C: kuman-kuman yang mempunyai risiko paling rendah, berupa kumankuman yang dapat direkayasa untuk disebarkan dimasa mendatang, karena mudah didapatkan, mudah diproduksi, disebarkan dan mempunyai potensi untuk berdampak terhadap kesehatan yang utama serta berpotensi untuk menyebabkan angka kematian dan kesakitan yang tinggi. Menurut WHO lingkup bioterorisme dibagi menjadi tiga kelompok yaitu: Pertama, kecemasan yang ditimbulkan karena penyalahgunaan langsung bahan hayati (biological agents) untuk menyerang manusia, misalnya penggunaan bakteri Anthrax seperti yang terjadi di AS tahun 2001. Kemkes saat ini mencatat sedikitnya ada sembilan penyakit menular yang potensial digunakan sebagai senjata biologi; yaitu Antraks, Poliomyelitis, Kholera, Demam Tifoid, Tuberkulosis, Flu burung, SARS, Pes paru, dan Cacar (Balitbangkes, 2008).

Kedua, penggunaan bahan hayati untuk menyerang hewan dan tumbuhan. Walaupun yang diserang adalah hewan atau tanaman namun kerugian ekonomi yang ditimbulkan dapat jauh melebihi serangan kepada manusia. Serangan hama wereng misalnya, telah menimbulkan kerugian yang sangat besar. Ketiga, gabungan dari keduanya, yaitu menyerang hewan dan manusia, misalnya flu burung. 4. Dampak Bioterorisme #Ekonomi Salah satu kasus populer yang diperkirakan merupakan hasil dari kegiatan bioterorisme adalah kasus tersebarnya virus flu burung di Indonesia, yang sempat menyebabkan perekonomian anjlok akibat tingkat penjualan produk unggas menurun drastis. #Kesehatan secara umum menyebabkan kesakitan dan kematian Yang sering digunakan untuk bioterorisme adalah kuman-kuman yang termasuk dalam golongan A, yaitu : *Anthrax penyebab bakteri spora, yaitu Bacillus anthracis. Spora kuman: sangat stabil, bertahan hidup bertahun-tahun di dalam tanah dan air, sehingga cocok digunakan untuk bioterorisme. Dapat terjangkit melalui kulit yang tercemar produk binatang seperti bulu dan daging, terhirup sporany atau melalui makanan (daging mengandung kuman anthrax tanpa pengolahan yang lama). Gejala mirip influenza, berupa demam, menggigil, nyeri otot beberapa hari setelah menghirup spora kuman ini, kemudian keadaannya cepat memburuk (Lew, 2000). *Kuman Pes Penyebab: Yersinia pestis, menimbulkan infeksi paru (pneumonia) menyebar dari manusia ke manusia lain. Setelah beberapa hari, gejala: demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot dan dada, batuk yang mungkin berdarah dan sesak. Penularan penyakit ini melalui kutu dan kuman yg menginfeksi tikus ketika kutu tadi mengisap darah tikus. Normally kutu ini tidak menggigit manusia tetapi jika tikus mati karena infeksi tadi maka kutu akan menjadi lapar dan dapat menggigit manusia. *Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) infeksi pernafasan disebabkan berbagai virus. Sifat virus: unik, kemampuannya untuk memindahkan informasi genetik antar virus dan digunakan sebagai senjata biologik. Gejala: demam, infeksi paru (pneumonia) dan akhirnya gagal nafas.

*Botulisme disebabkan kuman klostridium botulinum melalui terhirupnya spora kuman, yang dapat meracuni saraf dan menimbulkan kelumpuhan otot-otot rangka dan otot-otot pernafasan. Kuman: tidak berwarna dan tidak berbau, dalam takaran yang kecil dapat mematikan. timbulnya penyakit ini dalam 24 jam sampai beberapa hari setelah berkontak dengan kuman ini. *Virus cacar terinfeksi kuman, gejala: demam tinggi, nyeri kepala, mual muntah dan lain-lain. Yang lebih berbahaya lagi jika timbul berupa perdarahan kulit yang dapat menyebabkan kematian. *Zat-zat kimia Selain kuman-kuman, beberapa zat kimia yang dihirup dapat digunakan sebagai bioterorisme, seperti khlorin dan fosgen. Kedua zat ini sangat berbahaya dan telah digunakan dalam skala besar sejak perang dunia pertama. Pada paru dapat menyebabkan penyempitan saluran nafas dan gagal nafas, sedangkan zat lain seperti sulfur jika terhirup dapat menyebabkan kerusakan saluran nafas sampai ke bahagian yang paling kecil dari saluran nafas (alveoli).

5.

Pihak yang terlibat dalam upaya menghadapi bioterorisme

Pihak keamanan, TNI/POLRI memiliki peran sangat penting dalam mengendalikan dan memelihara keamanan umum, agar tidak terjadi gejolak yang tidak diinginkan. Pihak kesehatan memegang peran penting dalam penanganan penderita dan pengendalian bahan biologik yang bersangkutan agar tidak menyebar luas. Tidak terkecuali peran perawat dalam menentukan asuhan keperawatan yang tepat bagi penderita. Pihak laboratorium, misal LIPI diperlukan kemampuannya untuk membantu mendeteksi, mengidentifikasi dan menelusuri asal muasal bahan biologik yang dipergunakan. Karena sifatnya penuh kedaruratan, maka kegiatan-kegiatan diatas memerlukan payung hukum khusus, agar dapat dilaksanakan dengan baik. Kerjasama antar instansi terkait merupakan suatu keharusan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Penanggulangan dan pencegahan bioterorisme lebih dititikberatkan pada analisis terhadap kemungkinan ancaman dan kerawanan yang ditimbulkan.

PBB pada tahun 1972 telah menerbitkan konvensi pelarangan penyalahgunaan bahanbahan hayati atau yang dikenal dengan Konvensi Senjata Biologi atau Biological Weapons Convention (BWC) dan Indonesia telah meratifikasinya melalui Keppres nomor 58/1991. Secara eksplisit ancaman bioterorisme sebenarnya telah terwadahi dalam pasal-10 dan pasal12 UU 15/2003 tentang Terorisme namun aturan hukum ini belum sepenuhnya diimplementasikan untuk bioterorisme.

Referensi Balitbangkes, 2008. Pengaruh Ancaman Agensia Biologi terhadap Kesehatan Masyarakat, disampaikan pada Seminar Biodefence, Dephan, 21 Nopember 2008. Cinti SK, Hanna PC. Biological Agents of Warfare and Terrorism. Dalam : Engleberg NC, DiRita V, Dermody TS, penyunting. Schaechters Mechanisms of Microbial Disease. Edisi ke-4. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins, 2007. h. 541 552. Lew DP. Bacillus anthracis (Anthrax). Dalam : Mandell GL, Bennett JE, Dolin R, penyunting. Mandell, Douglas, and Bennetts Principles and Practice of Infectious Diseases. Volume 2. Edisi ke-5. Philadelphia : Churchill Livingstone ; 2000. h. 2215 2220. Nester EW, Anderson DG, Roberts Jr. CE, Nester MT. Microbiology A Human Perspective. Edisi ke-5. Boston : McGrawHill Higher Education, 2007. h. 490 491. Tortora GJ, Funke BR, Case CL. Microbiology An Introduction. Edisi ke-9. San Francisco : Pearson Benjamin Cummings, 2007. h. 680 681.