Anda di halaman 1dari 7

KESETIMBANGAN LARUTAN IODIN

A. Tujuan percobaan 1. Menentukan konstanta kesetimbangan distribusi iodin antara dua pelarut. 2. Menentukan konstanta kesetimbangan konsentrasi iodin, ion iodida, dan ion triiodida. B. Dasar teori 1. Kesetimbangan kimia Kesetimbangan kimia adalah keadaan dimana tidak ada perubahan menyeluruh yang dapat teramati (walaupun aktifitas yang berkesinambungan terus berlangsung dalam tingkat molekul). Suatu reaksi kimia dikatakan setimbang jika reaksi dapat berlangsung dalam dua arah (reversible), dengan catatan jumlah molekul-molekul yang terurai dari produk sama dengan jumlah molekul-molekul dari reaktan. Contohnya pada reaksi ionisasi berikut CH3COOH(aq) CH3COO-(aq) + H+(aq) (chang, 2004 : 92).

2. Konstanta kesetimbangan konsentrasi (Kc) Konstanta kesetimbangan kimia adalah persamaan yang menghubungkan konsentrasi reaktan dan produk pada kesetimbangan yanng dinyatakan dalam suatu kuantitas. Konstanta kesetimbangan dinyatakan sebagai hasil bagi antara konsentrasi-konsentrasi kesetimbangan produk, yang masing-masing dipangkatkan dengan koefisien stoikiometrinya dalam persamaan yang setara. Prosedur yang sama juga berlaku untuk konsentrasi-konsentrasi kesetimbangan reaktan untuk mendapatkan penyebutnya. Rumus ini hanya didasarkan pada bukti empiris (chang, 2004 : 68). Untuk mengetahui konsntanta kesetimbangan secara matematis, kita dapat menggeneralisasi pembahasan ini dengan memperhatikan reaksi reversible berikut : aA + bB cC + dD

dimana a,b,c, dan d adalah koefisien stoikiometri untuk spesi-spesi yang bereaksi A, B, C, dan D. konstanta reaksi kesetimbangan untuk pereaksi pada suhu tertentu adalah

Persamaan ini menghubungkan konsentrasi antara reaktan dan produk dalam proses kesetimbangan (chang, 2004 : 68).

3. Konstanta kesetimbangan distribusi Hukum disribusi atau partisi dapat dirumuskan bila suatu zat terlarut terdistribusi antara dua pelarut yang tidak dapat campur, maka pada suatu temperatur yang konstan untuk tiap spesi molekul terdapat angka banding distribusi yang konstan antara dua pelarut itu, dan angka banding distribusi ini tidak tergantung pada spesi molekul lain yang mungkin ada. Harga angka banding berubah dengan sifat dasar kedua pelarut, sifat dasar zat terlarut, dan temperatur (svehla, 1990 : 140). Distribusi iod antara air dan pelarut organik selalu berbanding lurus dengan temperatur. Penetapan perbandingannya yakni :

Angka banding antara C2 dan C1 hanya konstan apabila zat yang terlarut mempunyai massa molekul relatif yang sama untuk kedua pelarut itu. Tetapan K d dikenal sebagai koefisien distribusi atau partisi (svehla, 1990 : 140). 4. Ekstraksi cair-cair Ekstraksi cair-cair merupakan suatu teknik dimana satu larutan (dalam air) dibuat bersentuhan dengan suatu pelarut organik yang pada hakikatnya tidak tercampur dengan larutan yang pertama dan menimbulkan perpindahan satu atau lebih zat terlarut kedalam pelarut organik tadi. Pemisahan dapat dilakukan dengan sederhana, bersih, cepat, dan mudah. Dalam banyak kasus, pemisahan dilakukan dengan mengocok-ngocok larutan dalam corong pisah selama beberapa menit. Faktor-faktor yang mempengaruhi ekstraksi antara lain : a. Jenis pelarut Jenis pelarut mempengaruhi senyawa yang tersaring, jumlah solut yang terekstrak, dan kecepatan ekstraksi. b. Temperatur Kenaikkan temperatur akan mempengaruhi kelarutan zat terlarut dalam suatu pelarut. c. Rasio pelarut dan bahan baku Semakin besar rasio pelarut dan bahan baku, maka semakin besar pula jumlah senyawa yang terlarut. d. Ukuran partikel Semakin kecil ukuran partikel, maka semakin cepat pula laju ekstraksi (fessenden, 1986).

5. Reaksi iodin dengan natrium tiosulfat Reaksi yang terjadi dalam titrasi iodometri adalah : 2S2O32- + I2 S4O62- + 2I-

Iodium (I2) bukan suatu oksidator kuat dan harga E0nya = 0,54 volt. Dengan suatu zat reduktor, iodium akan tereduksi menjadi iodida sesuai dengan prases reduksi sebagai berikut : I2 + 2e2I-

Sehingga 1 grek I2 = 1 mol ( mudjiran, 1995 : 142). 6. Reaksi iodin dengan KI Iodium adalh suatu zat yang relatif sangat mudah menguap, sehingga larutannya dibuat dengan melarutkan kristal I2 dalam air kemudian kedalam larutan ditambahkan kalium iodida (KI) berlebih, sehingga larutan standar iodium sering dituliskan dengan notasi I3- sesuai dengan reaksi berikut : I2 + II3- (mudjiran, 1995 : 142).

7. Titrasi iodometri Titrasi iodometri adalah titrasi antara larutan iodium (I2) dengan larutan standar garam natrium tiosulfat (Na2S2O3) atau titrasi antara larutan natrium tiosulfat dengan larutan standar iodium menggunakan larutan amilum (mudjiran, 1995 : 142). Sebagai suatu zat reduktor, larutan standar tiosulfat dapat digunakan untuk menetralisir larutan beberapa jenis zat oksidator. Sebelum larutan oksidator dititrasi dengan larutan standar tiosulfat, terlebih dahulu ditambahkan garam kalium iodida (KI) berlebih. Kemudian iodium (I2) yang terjadi dari hasiloksidasi ion iodida dititrasi dengan larutan standar tiosulfat menggunakan indikator amilum (kanji) (mudjiran,1995 : 143).

Pembahasan Percobaan berjudul Kesetimbangan Larutan Iodin adalah percobaan yang bertujuan untuk menentukan konstanta kesetimbangan distribusi iodin antara dua pelarut, dan menentukan konstanta kesetimbangan konsentrasi iodin, ion iodida, dan ion triiodida. Pada percobaan ini digunakan pelarut kloroform dan air untuk menentukan konstanta kesetimbangan distribusi iodin. Langkah pertama dari percobaan ini adalah melakukan variasi massa kristal iodin dengan cara melarutkan kristal I2 dengan kloroform. Selanjutnya larutan diekstraksi, ekstraksi larutan bertujuan untuk mendapatkan senyawa iodin yang terdapat pada campuran kristal iodin dengan kloroform. Langkah selanjutnya adalah penambahan akuades, langkah ini bertujuan agar iodin terdistribusi kedalam kloroform. Pada saat ekstraksi dilakukan pengocokan, hal ini bertujuan untuk mempercepat homogennya larutan tersebut. Setelah ekstraksi larutan didiamkan beberapa saat kemudian akan terlihat larutan terpisah menjadi dua lapisan, lapisan atas adalah larutan iodin dalam air dan lapisan bawah adalah larutan iodin dalam kloroform. Perbedaan ini terjadi karena massa jenis kloroform lebih besar dari pada air, sehingga kloroform berada dibawah lapisan air. Selanjutnya dilakukan pemisahan terhadap larutan tersebut, dan akan terlihat lapisan iodin dalam kloroform berwarna ungu dan lapisan iodin dalam air berwarna merah bata. Jumlah larutan iodin dalam kloroform lebih banyak dari jumlah larutan iodin dalam air, ini terjadi karena iodin lebih mudah larut dengan pelarut nonpolar seperti kloroform daripada larutan polar seperti air. Selanjutnya dilakukan titrasi dengan natrium tiosulfat (N2S2O3), hingga larutan telah mencapai titik ekuivalen dengan ditandai perubahan warna larutan menjadi bening. Reaksi yang terjadi pada tahap ini adalah : 2S2O32- + I2 S4O62- + 2I-

dari hasil titrasi larutan dengan berbagai massa dapat ditentukan mol iodin dalam air dan mol iodin dalam kloroform, sehingga dapat dibuat grafik mol iodin dalam kloroform Vs mol iodin didalam air, dan didapatkan persamaan garis y = 29,917x + 0,005, dengan harga Kd sebesar 29,917. Langkah kedua adalah penentuan konstanta kesetimbangan konsentrasi (Kc) dari larutan iodin. Tahap pertama adalah dengan melarutkan kristal iodin dan larutan KI 0,1 M. selanjutnya adalah mengekstraksi larutan hingga sampai tanda. Selanjutnya larutan dikocok untuk mempercepat terjadinya reaksi pada campuran kemudian larutkan didiamkan beberapa saat hingga terbentuk dua lapisan larutan. Lapisan atas merupakan iodin dalam air dan lapisan bawah adalah iodin dalam kloroform. Reaksi yang terjadi adalah : I2 + II3-

Dari hasil perhitungan konsentrasi mol I2 total, didapatkan nilai Kc iodin, iodida, dan triiodida sebesar 5,449.

Kesimpulan 1. Nilai konstanta kesetimbangan distribusi iodin adalah sebesar 29,917 2. Nilai konstanta kesetimbangan konsentrasi iodin, iodida, dan triiodida adalah sebesar 5,449.

Daftar pustaka G, Svehla. 2004. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka.

Perhitungan 1. perhitungan kd a. Massa I2 = 0,5 gram Mol [I2,(CHCl3)] = = x V tiosulfat x M tiosulfat x 30,5.10-3 L x 0,25 M

= 3,8125.10-3 mol Mol [I2,(air)] = = x V tiosulfat x M tiosulfat x 1.10-3 L x 0,1 M

= 0,05.10-3 mol b. Massa I2 = 1 gram Mol [I2,(CHCl3)] = = x V tiosulfat x M tiosulfat x 70.10-3 L x 0,25 M

= 8,75.10-3 mol Mol [I2,(air)] = = x V tiosulfat x M tiosulfat x 2,5.10-3 L x 0,1 M

= 0,05.10-3 mol

c. Massa I2 = 1,5 gram Mol [I2,(CHCl3)] = = x V tiosulfat x M tiosulfat x 73,6.10-3 L x 0,25 M

= 9,2.10-3 mol Mol [I2,(air)] = = x V tiosulfat x M tiosulfat x 1.10-3 L x 0,1 M

= 0,05.10-3 mol Grafik 2. Perhitungan kc Massa I2 V S2O3 [I2] klor = 2 gram = 50 ml = = x V tiosulfat x M tiosulfat x 30,5.10-3 L x 0,25 M

= 3,8125.10-3 mol Mol total I2 = = = 7,87.10-3 mol

Mol I2 air =
=

= = 0,041.10-3

Mol I3-

= mol total I2 [mol I2 klor mol I2 air] = 7,87.10-3 mol [6,25.10-3 0,041.10-3] = 1,579.10-3 mol

Mol I- total = M KI x V KI = 0,1 M x 25.10-3 L = 2,5.10-3 mol Mol I= mol I- total mol I3= 2,5.10-3 mol 1,579.10-3 mol = 0,921.10-3 mol

KC =

[
=

] ][ ]

= 5,449