Anda di halaman 1dari 27

I. PERCOBAAN TEKUK (BUCKLING) A.

Tujuan : Tujuan percobaan tekuk adalah untuk mengetagui / menunjukan peristiwa buckling dan kebenaran rumus euler. Dalam percobaan ini, benda uji ditempatkan pada suatu instalasi pengujian dengan ujung benda uji dibuat engsel-engsel, jepit-engsel, atau jepit-jepit A. Teori Mekanika Teknik Suatu batang (benda uji) yang dibebani oleh sebuah gaya tertentu sulit sekali menjaga agar resultan gaya tepat berada pada sumbu batang. Selain bahayanya tidak homogen disepanjang batang juga kemungkinan pembagian muatan yang terbagi rata sangat kecil. Oleh karena itu pada batang selain timbul tegangan tekanan juga terjadi lengkungan. Pada batang yang lebih panjang kemungkinan terjadinya tekukan semakin besar, dengan kata lain apabila perbandingan antara panjang dan luas penampang batang semakin besar, kemudian tekukannya semakin besar. Pengujian tekuk dilakukan dengan melakukan pembebanan terhadap suatu benda oleh sebuah gaya terhadap suatu benda oleh suatu gaya pada kondisi benda vertikal dimana pada ujung (atas bawah) ditumpu oleh sebuah mekanisme tumpuan. Pasda pelaksanaannya pada pengujian tekuk terhadap 4 macam type tumpuan yang dikenal pada kolom elastis yang mendapat gaya tekan aksial, yaitu : 1. Tumpuan engsel pada kedua ujungnya

2.

Tumpuan jepit pada kedua ujungnya

3.

Tumpuan engsel pada suatu ujung dan jepit pada ujung lainnya

4.

Tumpuan jepit pada suatu ujung dan bebas pada ujung lainnya

B. Penerapan Rumus Euler Untuk Kolom Ujung Engsel Pada ujung beban kritis, kolom yang mempunyai penampang konstan dapat menekuk pada setiap arah. Dalam keadaan yang lebih batang tekan tidak mempunyai kekakuan lentur yang sama untuk segala arah. Adapun besaran tekanan kritis (Pcr) secara teoritis diperoleh dari rumus euler, yaitu : 5. Untuk tumpuan jepit - jepit ; Pcr = 4 2 .E.I L2

6. Untuk tumpuan engsel - jepit ; Pcr = 2,05 2 .E.I L2 4 2 .E.I L2

7. Untuk tumpuan engsel - engsel Pcr = Dimana : Pcr E L I : Beban Kritis / gaya buckling (Kg) : Modulus Elastisitas bahan : 2,1 x 106 kg/cm2 : Panjang Kolom (benda uji) (cm) : Momen Inersia (cm4) I=

. D4..cm4 64

D = Diameter Benda Uji C. Penerapan persamaan untuk menentukan hasil pengujian secara eksperimen adalah sebagai berikut : Pcr (eks) = Diaman : D = Diameter Silinder Hidroulic Load Cell F = Besarnya angka pressure gauge {kg/cm2)

D4.F 64

D. Spesifikasi Alat Uji Benada uji : ST 37 Hidroulic Load Cell Type : Mid Sized Acm Series Diameter Silinder : 20 cm Pressure Gauge : Monometer Gauge : Kg/cm2 lb / in2 Type Skala

Komponen-komponen utama dari peralatan pengujian buckling adalah sebagai berikut : 8. Benda Uji 9. Landasan Atas 10. Landasan Bawah 11. Kolom Pengarah 12. Kolom Penahan 13. Spindel Penekan 14. Ulir Penggerak 15. Plat Penahan 16. Plat Pengarah 17. Lengan Penjepit 18. Poros Penekan 19. Bushing 20. Tumpuan Engsel atau Jepit 21. Lengan Penggerak 22. Hidroulik Load Cell 23. Pressure Gauge 24. Pemegang Pressure Gauge

E. Prosedur Pengujian 1. Periksa dan praktikan bahwa instalasi pengujian sudah terpasang dengan baik. 2. Periksa benda uji (kolom), pastikan bahwa tidak ada cacat pada kolom (benda ujji) tersebut sehingga benda dalam kondisi yang homogen. 3. Pastikan benda uji (kolom) terpasang pada tumpuan dengan baik. 4. Lakukan pengujian dengan memutar pemutar beban (loading spindel) diputar berlawanan dengan arah putaran jaru jam. 5. Perhatikan dan catat data-data yang ditunjukan oleh instrumen pengukuran (bengkoknya benda uji, tekanan yang ditunjukan oleh pressure gauge). 6. Hentikan pemutaran loading spindle apabila pengukuran angka pada pressure gauge dalam keadaan tetap (tidak berubah atau setelah pressure gauge menunjukan angka tertinggi dan kemudian turun kembali). 7. Perhatikan skala angka pengukuran yang ditunjukan oleh pressure gauge. 8. Lepaskan benda uji setelah selesai mendapatkan data pengujian dengan memutar loading spindle dan membuka tumpuan. 9. Lakukan pengujian dengan memasang tumpuan yang berbeda dan atau dengan panjang dan diameter benda yang berbeda pula. F. Tugas dan Pertanyaan 1. Buatlah Tabel untuk pengujian yang telah dilakukan a. Tumpuan Jepit-jepit Data Pengujian Pcr (Kg) Pcr (Kg) Eksperimen Teoritis 251.200 460,11 502.400 460,11 628 400 460,11 188.400 460,11 Deviasi (%) 0,183 0,091 0,073 0,244 Pressure Gauge 2 4 5 1,5

No 1 2 3 4

Diameter benda uji 8 mm 8 mm 8 mm 8 mm

Panjang benda uji 60 60 60 60

b. Tumpuan engsel-jepit

No 1 2 3 4

Diameter benda uji 8 mm 8 mm 8 mm 8 mm

Panjang benda uji 60 60 60 60

Data Pengujian Pcr (Kg) Pcr (Kg) Eksperimen Teoritis 188.400 75,09 314.000 75,09 251.200 75,09 62.800 75,09

Deviasi (%) 0,039 0,023 0,029 0,119

Pressure Gauge 1,5 2,5 2 0,5

c. Tumpuan engsel-engsel No 1 2 3 4 25. Diameter benda uji 8 mm 8 mm 8 mm 8 mm Panjang benda uji 60 60 60 60 Data Pengujian Pcr (Kg) Pcr (Kg) Eksperimen Teoritis 100.480 36,33 125.600 36,33 62.800 36,33 0 36,33 Deviasi (%) 0,036 0,028 0,057 0 Pressure Gauge 0,8 1 0,5 0

Lakukan analisa data untuk mengetahui deviasi atau penyimpangan

yang terjadi antara hasil pengujian ( eksperimen ) dengan hasil perhitungan teori mekanika 26. Contoh perhitungan dengan mengambil data dari hasil pengujian ! Putaran Kritis Beban ditengah tengah Teoritis Tumpuan Jepit jepit: Pcr = = 4 2 .E.I L2

4 . 3,14 2 . (2,1 x 10 6 ) 0,020 3600 = 460,11 Tumpuan Engsel Jepit: Pcr = = 2,05 . . E . I L2 2,05 . 3,14 2 . (2,1 x 10 6 ) 0,020 3600 6

= 75,09

Tumpuan Engsel engsel:

2 .E.I Pcr = L2
3,14 2 . (2,1 x 10 6 ) 0,020 = 3600 = 36,33 Experimen: Tumpuan Jepit Jepit: Pcr = =

4 .D .F 4

3,14 . 20 4 . 2 4 = 0, 0785 x 160.000 x 2 = 251.200 kg Pcr = =

4 .D .F 4

3,14 . 20 4 . 4 4 = 0, 0785 x 160.000 x 4 = 502.400 kg Pcr = =

4 .D .F 4

3,14 . 20 4 . 5 4 = 0, 0785 x 160.000 x 5 = 628.000 kg Pcr =

4 .D .F 4

3,14 . 20 4 .1,5 4 = 0, 0785 x 160.000 x 1,5 = 188.400 kg = Engsel Jepit: Pcr = =

4 .D .F 4

3,14 . 20 4 .1,5 4 = 0, 0785 x 160.000 x 1,5 = 188.400 kg Pcr = =

4 .D .F 4

3,14 . 20 4 . 2,5 4 = 0, 0785 x 160.000 x 2,5 = 314.000 kg Pcr = =

4 .D .F 4

3,14 . 20 4 . 2 4 = 0, 0785 x 160.000 x 2 = 251.200 kg Pcr = =

4 .D .F 4

3,14 . 20 4 . 0,5 4 = 0, 0785 x 160.000 x 0,5 = 62.800 kg Engsel engsel: Pcr =

4 .D .F 4

3,14 . 20 4 . 0,8 4 = 0, 0785 x 160.000 x 0,8 = 100.480 kg = Pcr = =

4 .D .F 4

3,14 . 20 4 .1 4 = 0, 0785 x 160.000 x 1 = 125.600 kg Pcr =

4 .D .F 4
3,14 . 20 4 . 0,5 4 = 0, 0785 x 160.000 x 0,5 = 62.800 kg =

Pcr = =

4 .D .F 4

3,14 . 20 4 . 0 4 = 0, 0785 x 160.000 x 0 = 0 kg

27.

Buatlah tabel dan grafik antara :

Diameter benda uji vs Pcr (untuk masing-masing tumpuan yang berbeda )

Grafik Pengujian Buckling (Diameter Benda Uji 8mm)


600 500 400 300 200 100 0 -100 0

Pcr. Eksperimen

Jepit - Jepit Engsel - Jepit Engsel - Engsel

Frekwensi Pengujian

5. Kesimpulan Berdasarkan data yang diperoleh selama pengujian, maka dapat disimpulkan bahwa pengujian tekuk dengan tumpuan jepit jepit memiliki beban kritis / gaya buckling secara teoritis dan eksperimen lebih besar dibanding dengan pengujian tumpuan yang lain.

II. PENGUJIAN PUTARAN KRITIS

10

1.

Dasar Teori Ketika suatu poros diberi putaran maka selalu akan terjadi fonomena

whirling, yakni poros akan mengalami defleksi yang besar akibat gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh eksentrisitas massa poros yang kecil. Fonomena whirling ini terlihat sebagai poros yang berputar pada sumbunya dan pada saat yang sama poros yang berdefleksi juga berputar relatif mengelilingi sumbu poros. Hal ini akan selalu terjadi bahkan pada sistem yang sudah seimbang (pada sistem yang sudah seimbang hal ini mungkin disebabkan oleh defleksi statik atau gaya magnetik yang tidak merata pada mesin-mesin elektrik. Defleksi awal ini membuat poros berputar dalam keadaan bengkok. Gaya sentrifugal yang terjadi akan terus membuat defleksi terjadi sampai keadaan seimbang yangbberkaitan dengan kekakuan poros tercapai. Poros yang melewati putaran kritisnyya lalu akan mencapai keadaan seimbang. 2. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Pengujian Instalasi Motor penggerak poros (motor listrik) Bantalan (bearing) Kopling fleksibel Tachometer Emulator Poros uji Rumah bantalan Rangka Beban untuk pengujian Mesin uji putaran kritis terdiri dari bebrapa komponen yaitu sebagai berikut :

1. Percobaan I :

Prosedur Pengujian 1. Menentukan panjang batang

11

2. Memasang beban dengan massa ditengah batang 3. Menaikan kecepatan dari putaran poros dan mengamati kecepatan kritis ketika gejala whirling terjadi 4. Mencatat pengukuran kritis (Nc) dan panjang batang (L) 5. Mengulangi langkah 1,2,3 dan 4 untuk panjang batang (L) yang berbeda 6. Menaikan kecepatan sampai melampaui kecepatan kritis untuk mengamati keadaan steady yang akan terjadi pada setiap percobaan 2. b. tengah Nc = 1.103 c. Nc =
1 2.

Persamaan-persamaan yang digunakan Putaran kritis dengan penempatan beban ditengah

E.I .rps m.L3 Putaran kritis dengan penempatan beban berubah-ubah E.I .rps m.L3

Dimana Nc E I = Putarran kritis (rps) = Modulus elastisitas bahan (2,1 x 106 kg / cm2 ) = Momen Inersia poros I= D L a b m

. D4..cm4 64

= Diameter poros 9m) = Panjang poros (m) = Jarak benda uji ketumpuan poros = Jarak benda uji ketumpuan poros = Massa benda uji (kg)

1. 11.

Tugas dan Pertannyaan Buatlah tabel untuk pengujian yang telah dilakukan

12

a. tengah Diameter benda uji 8 mm 8 mm 8 mm 8 mm 8 mm b. Diameter benda uji 8 mm 8 mm 8 mm 8 mm 8 mm

Putaran kritis dengan penempatan beban ditengah Data Pengujian Putaran Poros Putaran (aktual) kritis (teoritis) 500 500 500 500 500 416,21 592,61 884,60 1404,72 2427,35

No 1 2 3 4 5

Jarak benda uji (cm) A 45 40 35 30 25 B 45 40 35 30 25

Panjang Poros (m) 0,9 0,8 0,7 0,6 0,5

Putaran kritis dengan penempatan beban berubah-ubah Jarak benda uji (cm) A 20 30 30 10 20 B 70 50 40 50 30 Panjang Poros (m) 0,9 0,8 0,7 0,6 0,5 Data Pengujian Putaran Poros Putaran (aktual) kritis (teoritis) 500 500 500 500 500 0,0481 0,0367 0,0430 0,0955 0,0726

No 1 2 3 4 5

12.

Buatlah grafik antara : Nc (teoriti) vs Panjang poros

Putaran Kritis Beban di tengah

13

G rafik Nc
Panjang Poros 100 80 60 40 20 0 0 2 90

T eoritis

vs Panjang Poros

80

70

60

50

Putaran kritis

N Teoritis c

Putaran Kritis Beban Berubah - ubah


Grafik Nc
Panjang Poros 100 80 60 40 20 0 0 2 N Teoritis c 4 6 90
T eoritis

vs Panjang Poros

80

70

60

50

Putaran Kritis

13.

Buat lah contoh perhitungan untuk masing masing panjang poros

yang berbeda Putaran Kritis Beban ditengah tengah E.I 1) Nc = 1,103 m.l 3

14

= > I= = 1,103

.D 4 = 0,020cm 2 64
(2,1.10 6 ).0,020 0,745.0,9 3

= 416,21 rpm 2) Nc = 1,103 = 1,103 E.I m.l 3 (2,1.10 6 ).0,020 0,745.0,8 3

= 592,61 rpm 3) Nc = 1,103 = 1,103 E.I m.l 3 (2,1.10 6 ).0,020 0,745.0,7 3

= 884,60 rpm 4) Nc = 1,103 = 1,103 E.I m.l 3 (2,1.10 6 ).0.020 0,745.0,6 3

= 1404,72 rpm 5) Nc = 1,103 = 1,103 E.I m.l 3 (2,1.10 6 ).0,020 0,745.0,5 3

= 2427,35 rpm Putaran Kritis Beban diubah Nc = 1 2. 3(2,1.10 6 ).0,020 x 0,9 0,745 x 20 2 x70 2

= 0,0418 rpm

15

1 Nc = 2.

3(2,1.10 6 ).0,020 x 0,7 0,745 x30 2 x 40 2

= 0,0430 rpm

Nc =

1 2.

3(2,1.10 6 ).0,020 x 0,6 0,745 x10 2 x50 2

= 0,0955 rpm

Nc =

1 2.

3(2,1.10 6 ).0,020 x 0,5 0,745 x 20 2 x30 2

= 0,0726 rpm 14. Kesimpulan dari pengujian yang telah dilakukan Berdasarkan data yang didapat selama pengujian maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pada pengujian I, dengan panjang batang yang berbeda, beban dengan massa berada ditengah-tengah batang dan dengan menaikan kecepatan putaran poros, defleksi yang terjadi pada batang cenderung tetap. Berbeda pada pengujian II, dengan jarak yang berubah ubah berubah ubah. defleksi yang terjadi juga

III. PENGUJIAN TEGANGAN - REGANGAN

16

A. Dasar Teori Dalam mekanika fluida, bahan terdiri darai atas dua keadaan yaitu fluida dan zat padat. Secara teknis perbedaan terletak pada reaksi kedua zat teerhadap kedua tegangan geser dabn deformasi statik, sedangkan fluida adalah zat yang merubah bentuk secara kontinue ( terus menerus), bila terkena tegangan geser. Gaya greser adalah komponen yang menyinggung permukaan, dan gaya ini yang dibagi luas permukaan tesebut adalah tegangan geser rata-rata pada permukaan itu. Tegangan geser pada suatu titik adalah nilai batas perbandingan gaya gesere terhadap luas dengan berkurangnya luas sehingga menjadi titik tersebut. B. Sifat Mekanik Material 1. Material Tegangan adalah suatu ukuran intensitas pembebanan yang dianyatakan oleh gaya dan dibagi oleh luas tempat gaya tersebut bekerja. Komponen tegangan pada sudut yang tegak lurus pada bidang ditempat kerjanya benda gaya tersebut bekerja disebut tegangan normal, dan merupakan tegangan tarik atau tensile stress (positif) atau tegangan tekan kompressive stress (negatif). Suatu batang jika mendapat gaya normal, maka pada batang tersebut akan terjadi suatu tegangan tarik atau tekan tergangtung dari arah gaya yang diterimanya. Jika suatu batang (seperti gamabar dibawah) mendapat suatu gaya yang saling berlawanan maka tegangan yang terjadi pada batang adalah sebesar gaya normal yang diterima untuk setiapa luasan penampangnya. F F

F Bila diasumsikan suatu batang menerima gaya tarik atau tekan sejajar

dengan sumbu batangnya serta tegak lurus dengan penamapang dari batang tersebut maka tgegangan yang dialami oleh batang dapat ditentukan dengan persamaan :

17

F (N/mm2) A

Dimana : = Tegangan tarik / tekan (N/mm2) F = Gaya yang bekerja tarik / tekan (N) A Luas penampang (N/mm2) 2. Regangan Regangan adalah suatu bentuk tanpa dimensi untuk menyatakan perubahan bentuk (deformasi). Suatu tegangan normala akan menghasilkan suatu regangan, yang dinyakana oleh persamaan : =

Dimana : = Regangan yang terjadi = Perubahan panjang (mm) L = Panjang bahan (mm) Jika suatu bahan mengalami tarikan, maka tegangan yang akan terjadi disebut dengan tarik (tensile strain) yang menyatakan suatu perpanjangan atau tarikan dari bahan, proses perpanjangan dapat dilihat seperti gambar dibawah ini. Dan bila batangnya mengalami tekan, maka regangan yang terjadi adalah suatu regangan tekan (kompressive strain) dan panjangnya memendek. Regangan tarik dinotasikan positif dan regangan tekan dinotasikan negative

F 18

3. Hubungan tegangan dan regangan Tegangan serta regangan senantiasa selaluberhubungan pada setiap bahan. Untuk kebanyakan bahan serta kondisi perilalku tesebut (untuk tegangan dibawah tingkat kritis), memenuhi hukum hooke yang menyatakan bahwa deformasi adalah berbanding lurus terhadap beban yang dikenakannya atau memyebabkan terjadinya deformasi itu, atau dengan kata lain tegangan adalah sebandingdengan regangan. Perubahan tegangan langsung dibagi oleh regangan langsung. Merupakan suatu konstanta yang dinamakan modulus elastis (E) atau modulus young.

Pada gambar diatas tegangan digambar pada sumbu vertikal dan regangan pada sumbu horizontal. Dari titik nol hingga A pada gambar. Menerangkan bahwa tegangan berbading lurus dengan regangan, titik AO disebut titik sebanding (proportion limits) batas proporsial ini sangat pentiing mennyangkut sifat elastis bahan yang didasrkan pada kesbandingan tegangan dengan regangan.

19

Batas ini menunjukan batas tertinggi tegangan untuk bahan yang digunakan. Setelah melewati titik A hubungan tegangan dan regangan tidak lagi berlaku, yaitu dengan memberi tambahan beban, maka regangan akan bertambah lebih cepat, akhirnya kurva tegangan-regangan memiliki kemiringan (slop), hingga pada titik B terjadi pemanjangan yang sangat besar tanpa tambahan gaya tarik ( dari titik B hingga C) gejala ini dinamakan lelehan (yealding) bahan, dan tegangan pada titik B disebut tegangan leleh (yield stress) atau titik leleh (yield poin), pada titik B ke C bahannya menjadi plastis sempurna yang berarti dapat berubah bentuk tanpa adanya suatu tambahan beban yang dikenakan. Setelah mengalami regangan besar yang terjadi setelah pelelehan dalam titik BC, maka bahan mulai menguat regangan, selama pengguatan ini bahannya mengalami perubahan dalam struktur atom dan kristalnya, yang menghasilkan bertambahnya tahanan terhadap dewformasi selanjutnya. Jadi, tambahan pemanjangan membutuhkan tambahan beban tarik, dan diagram tegangan regangan demikian memiliki kemiringan positif dari titik C hingga D. akhirnya pembebanan mencapai harga maksimumnya, dan tegangan ini disebut regangan batas (ultimate stress). Penarikan bahan selanjutnya sebenarnya diikiuti dengan pengurangan beban, dan akhirnya putus (failure) pada titik E dalam diagram. 4. Tegangan Tangensial (circumferential) Pada silinder atau bejana berisi fluida yang bertekanan akan mendapatkan beban statis yang menyebabkan terjadinya tegangan pada struktur bahan. Terjadinya tegangan tangensial (hop stress) dimana tegangan bekerja menyinggung permukaan silinder dapat dinyatakan dengan persamaan berikut : p.d 2.t

t =

Dimana :

t
d t

= Tegangan tangensial (N/mm2)


= Diameter silinder (bejana) (mm) = Tebal silinder (mm) 20

= Tekanan silinder (Mpa)

Gambar. Tegangan tangensial pada bejana tekan (vessel tank) 5. Tegangan Longitudinal Dalam bejana tekan silinder tertutup bila diberi tekanan statis akan timbul tegangan longitudinal (tegangan memanjang) yang terjadi karena pada ujung bejana. Tegangan didistribusikan secara merata sepanjang ketebalan dinding dan sejajar pada sumbu longitudinal silinder dapat dinyatakan dengan persamaan: p.d 4.t

t =

Dimana :

t
d t p

= Tegangan tangensial (N/mm2)


= Diameter silinder (bejana) (mm) = Tebal silinder (mm) = Tekanan silinder (Mpa)

21

Gambar. Tegangan longitudinal pada bejana tekan (Vessel tank) 6. Regangan Akibat dari proses tegangan yang terjadi pada material , terjadi pula regangan yang disebabkan oleh adanya deformasi. Rasio regangan dalam arah melintang terhadap regangan dalam arah sumbu (aksial) didefinisikan dengan poissons ratio. Besarnya poison ratio ini tergantung pada kondisi bahan yang dimaksud. Hubungan poissons ratio dengan regangan yang terjadi: a. Regangan Tangensial Diberikan oleh persamaan: t = p.d 1 1 2.t.E 2.m = Regangan Tangensial Yang terjadi = Tekanan yang terjadi pada bejana (Kg/cm2) = Diameter Bejana (34,5 cm) (3 mm)

Dimana: t P d t E m

= Tebal dinding bejana

= Modulus elastisitas bahan (2.1 x 106 Kg/cm2) = poissons ratio (0,3)

b. Regangan Longitudinal Diberikan oleh persamaan: t = p.d 1 1 2.t.E 2 m

Dimana:

22

t P d t E m

= Regangan Tangensial Yang terjadi = Tekanan yang terjadi pada bejana (Kg/cm2) = Diameter Bejana (34,5 cm) (3 mm)

= Tebal dinding bejana

= Modulus elastisitas bahan (2.1 x 106 Kg/cm2) = poissons ratio (0,3)

7. Spesifikasi Alat Uji a. Bejana Panjang Diameter b. Pompa : 96 cm : 34,5 cm : Jenis Hidrostatik : Alat ukur bourdon]

c. Pressure Gauge

Skala Ukur : 0 16 Bar d. Strain Gauge Type : FLA 6 11 :2.11

Gauge Factor Lot Not

: A513711

Skala Ukur : mikro strain (m) Fluida : Air

8. Tahapan Pengujian a. Instalasi pengujian

23

b. Prosedur pengujian 1. Pastikan air yang berada pada bejana dalam keadaan penuh. 2. Pastikan air yang ada pada pompa Hidrostatik dalam keadaan penuh. 3. Hubungan kabel listrik masukan pada panel indicator. 4. Pastikan kabel strain gauge terhubung ke input kondisi sinyal. 5. Tentukan tombol On pada panel indicator dan tunggu 5 menit sampai digital indicator stabil. 6. Jika penunjukan indicator tidak nol, putaran tombol zero. 7. Penunjukan digital indikator mikro m// (). 8. Buka katup K2 jang menuju bejana. 9. Tutup katup K1 yang menuju ke reservoir. 10. Lakukan pengujian dengan memompa pluida (air) dengan pompa hidrostatik sampai tekanan yang ditunjukan oleh pressure gaugepada bejana menunjukan peningkatan tekanan. 11. Catat angka yang menunjukanoleh digital indicator. 12. Jika telah mendapatkan hasil yang diharapkan, turunkan tekanan bejana dengan membuka katup keluaran yang menuju reservoir secara bertahap. 10. Tugas dan Pertanyan 1. Tabel data data hasil perolehan pengujian No. Tek Bejana (kg/cm2) Teg Longitudinal (N/mm2) Teg Tangensial (N/mm2) Indicator Reg Longitudinal () Indicator Reg Tangensial ()

24

1 1 2.82 5.64 2 2 5.64 11.28 3 4 1.105 22.56 4 6 16.92 33.83 5 7 19.74 39.47 2. Contoh perhitungan untuk masing-masing data 1 kg/cm2 = 98066,5 Pa (N/m2)

15 14 92 130 190

35 108 227 338 400

1 kg 2,205 lb 2,205 10 4 lb lb lb = 2,205 2 = = 2,205 10 4 = = 2.048.445 ft 2 2 2 4 2 2 cm cm 1 / 10.000 m cm 1 / 9,29 10 ft = 98066,5 Pa/N/cm2 Tegangan Longitudinal 1 kg / cm 2 34,5 cm 34,5 kg / cm 2 p.d = = = 28,75 kg / cm 2 1) t = 4 0,3 cm 1,2 4.t = 2819411,875 N/m2 = 2,82 N/mm2 2) t = p.d 4.t = 2 kg / cm 2 34,5 cm 69 kg / cm 2 = = 57,5 kg / cm 2 4 0,3 cm 1,2 = 5658823,75 N/m2 = 5,64 N/mm2 4 kg / cm 2 34,5 cm 138 kg / cm 2 p.d = = =115 kg / cm 2 3) t = 4 0,3 cm 1,2 4.t = 11277647,5 N/m2 = 1,105 N/mm2 6 kg / cm 2 34,5 cm 207 kg / cm 2 p.d = = = 172,5 kg / cm 2 4) t = 4 0,3 cm 1,2 4.t = 16916471,25 N/m2 = 16,92 N/mm2 p.d 7 kg / cm 2 34,5 cm 241,5 kg / cm 2 = = = 201,25 kg / cm 2 5) t = 4 0,3 cm 1,2 4.t = 19735883,13 N/m2 = 19,74 N/mm2

25

Tegangan Tangensial 1) t = 1 kg / cm 2 34,5 cm 34,5 kg / cm 2 p.d = = = 57,5 kg / cm 2 2 0,3 cm 0,6 2.t = 5638823,75 N/m2 = 5,64 N/mm2 2) t = p.d 2.t = 2kg / cm 2 34,5 cm 69 kg / cm 2 = =115 kg / cm 2 2 0,3 cm 0,6 =11277647,5 N / m 2 =11,28 N / mm 2 p.d 3) t = 2.t 4kg / cm 2 34,5 cm 138kg / cm 2 = = = 230kg / cm 2 2 0,3 cm 0,6 = 2255595 N / m 2 = 22,56 N / mm 2 p.d 4) t = 2.t 6kg / cm 2 34,5 cm 207 kg / cm 2 = = = 345kg / cm 2 2 0,3 cm 0,6 = 3383294255 N / m 2 = 33,83 N / mm 2 5) t = p.d 7kg / cm 2 34,5 cm 241,5kg / cm 2 = = = 402,5kg / cm 2 2 0,3 cm 0,6 2.t = 39471766,25 N / m 2 = 39,47 N / mm 2

3. Grafik tekanan bejana vs Tegangan Longitudinal


tek anan bejana vs tekanan logitudinal
8 7 tekanan bejanan 6 5 4 3 2 1 0 0 5 1 0 1 5 tegangan 26 longitudinal 2 0 25

Tekakan Bejana vs Teganagan tangensial


8 Tekanan bejana 7 6 5 4 3 2 1 0 0 10 20 30 40 50 Tegangan tangens ial 5.64, 1 11.28, 2 22.56, 4 33.83, 6 39.47, 7

Tegangan v regangan (longitudinal) s


Reg. longitudinal 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 0 1 2 3 Teg. longitudinal 4 5 6

T g n a v re a g n(ta g n ia eagn s gna n e s l)


Reg. tangensial 40 5 40 0 30 5 30 0 20 5 20 0 10 5 10 0 5 0 0 0 1 2 3 4 5 6 T . ta g sia eg n en l

4. Keimpulan Berdasarkan data yang didapat selama pengujian, dapat disimpulkan bahwa besarnya tekanan berbanding lurus dengan tegangan serta regangan. Artinya bila tekanan yang terjadi dalam bejana semakin besar maka tegangan dan regangan yang terjadi pada dinding bejana juga akan semakin besar.

27