Anda di halaman 1dari 19
  • A. Judul Praktikum

: Reaksi Oksidasi dan Reduksi

  • B. Hari/Tanggal Percobaan

: Senin, 16 Maret 2012 jam 10.00-12.30

  • C. Tujuan Percobaan

:

1.Mengetahui

reaksi

redoks

perubahan warna 2. Menentukan DGL listrik

berdasarkan

  • D. Tinjauan Pustaka

:

Pengertian Oksidasi dan Reduksi (Redoks)

Pengertian oksidasi dan reduksi disini lebih melihat dari segi transfer oksigen, hidrogen dan elektron. Disini akan juga dijelaskan mengenai zat pengoksidasi (oksidator) dan zat pereduksi (reduktor).

Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer oksigen

Dalam

hal

transfer

oksigen,

Oksidasi

berarti

mendapat

oksigen,

sedang

Reduksi adalah kehilangan oksigen. Sebagai contoh, reaksi dalam ekstraksi besi dari biji besi:

A. Judul Praktikum : Reaksi Oksidasi dan Reduksi B. Hari/Tanggal Percobaan : Senin, 16 Maret 2012

Karena reduksi dan oksidasi terjadi pada saat yang bersamaan, reaksi diatas disebut reaksi REDOKS.

Zat pengoksidasi dan zat pereduksi

Oksidator atau zat pengoksidasi adalah zat yang mengoksidasi zat lain. Pada contoh reaksi diatas, besi(III)oksida merupakan oksidator.

Reduktor atau zat pereduksi adalah zat yang mereduksi zat lain. Dari reaksi di atas, yang merupakan reduktor adalah karbon monooksida.

Jadi dapat disimpulkan:

oksidator adalah yang memberi oksigen kepada zat lain, reduktor adalah yang mengambil oksigen dari zat lain Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer hydrogen

Definisi oksidasi dan reduksi dalam hal transfer hidrogen ini sudah lama dan kini tidak banyak digunakan.

Oksidasi berarti kehilangan hidrogen, reduksi berarti mendapat hidrogen.

Perhatikan bahwa yang terjadi adalah kebalikan dari definisi pada transfer oksigen. Sebagai contoh, etanol dapat dioksidasi menjadi etanal:

Zat pengoksidasi dan zat pereduksi Oksidator atau zat pengoksidasi adalah zat yang mengoksidasi zat lain. Pada

Untuk memindahkan atau mengeluarkan hidrogen dari etanol diperlukan zat pengoksidasi (oksidator). Oksidator yang umum digunakan adalah larutan kalium dikromat(IV) yang diasamkan dengan asam sulfat encer.

Etanal juga dapat direduksi menjadi etanol kembali dengan menambahkan hidrogen. Reduktor yang bisa digunakan untuk reaksi reduksi ini adalah natrium tetrahidroborat, NaBH4. Secara sederhana, reaksi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Untuk memindahkan atau mengeluarkan hidrogen dari etanol diperlukan zat pengoksidasi (oksidator). Oksidator yang umum digunakan adalah

Zat pengoksidasi (oksidator) dan zat pereduksi (reduktor)

Zat pengoksidasi (oksidator) memberi oksigen kepada zat lain, atau memindahkan hidrogen dari zat lain.

Zat pereduksi (reduktor) memindahkan oksigen dari zat lain, atau memberi hidrogen kepada zat lain.

Oksidasi dan reduksi dalam hal transfer elektron Oksidasi berarti kehilangan elektron, dan reduksi berarti mendapat elektron.

Definisi ini sangat penting untuk diingat. Ada cara yang mudah untuk membantu anda mengingat definisi ini. Dalam hal transfer elektron:

Untuk memindahkan atau mengeluarkan hidrogen dari etanol diperlukan zat pengoksidasi (oksidator). Oksidator yang umum digunakan adalah

Contoh sederhana

Reaksi redoks dalam hal transfer elektron:

Reaksi redoks dalam hal transfer elektron: Tembaga(II)oksida dan magnesium oksida keduanya bersifat ion. Sedang dalam bentuk

Tembaga(II)oksida dan magnesium oksida keduanya bersifat ion. Sedang dalam bentuk logamnya tidak bersifat ion. Jika reaksi ini ditulis ulang sebagai persamaan reaksi ion, ternyata ion oksida merupakan ion spektator (ion penonton).

Reaksi redoks dalam hal transfer elektron: Tembaga(II)oksida dan magnesium oksida keduanya bersifat ion. Sedang dalam bentuk

Jika anda perhatikan persamaan reaksi di atas, magnesium mereduksi iom tembaga(II) dengan memberi elektron untuk menetralkan muatan tembaga(II).

Dapat

dikatakan:

magnesium

adalah

zat pereduksi (reduktor).

Sebaliknya,

ion

tembaga(II)

memindahkan elektron dari magnesium untuk

menghasilkan

ion

magnesium.

Jadi,

ion

tembaga(II)

beraksi

sebagai

zat

pengoksidasi (oksidator).

Memang agak membingungkan untuk mempelajari oksidasi dan reduksi dalam hal transfer elektron, sekaligus mempelajari definisi zat pengoksidasi dan pereduksi dalam hal transfer elektron.

Dapat disimpulkan sebagai berikut, apa peran pengoksidasi dalam transfer elektron:

Zat pengoksidasi mengoksidasi zat lain.

Oksidasi berarti kehilangan elektron (OIL RIG).

Itu berarti zat pengoksidasi mengambil elektron dari zat lain.

Jadi suatu zat pengoksidasi harus mendapat elektron

Atau dapat disimpulkan sebagai berikut:

Suatu zat pengoksidasi mengoksidasi zat lain.

Itu berarti zat pengoksidasi harus direduksi.

Reduksi berarti mendapat elektron (OIL RIG).

Jadi suatu zat pengoksidasi harus mendapat elektron.

Polarisasi Ikatan Kovalen

Ikatan Kovalen Polar dan Ikatan Kovalen Nonpolar

Berdasarkan pengetahuan keelektronegatifan yang telah diketahui maka salah satu akibat adanya perbedaan keelektronega-tifan antar dua atom unsur berbeda adalah terjadinya polarisasi ikatan kovalen. Adanya polarisasi menyebabkan ikatan kovalen dapat dibagi menjaadi ikatan kovalen polar dan ikatan kovalen nonpolar. Ikatan kovalen polar dapat dijumpai pada molekul hidrogen klorida sedangkan ikatan kovalen nonpolar dapat dilihat pada molekul hidrogen.

∑ Zat pengoksidasi mengoksidasi zat lain. ∑ Oksidasi berarti kehilangan elektron (OIL RIG). ∑ Itu berarti

Orbital H2 dan HCl, polarisasi ikatan kovalen

Pada hidrogen klorida terlihat bahwa pasangan elektron bersama lebih tertarik ke arah atom klorin karena elektronegatifitas atom klorin lebih besar dari pada elektronegatifitas atom hidrogen. Akibat hal ini adalah terjadinya polarisasi pada hidrogen klorida menuju atom klorin. Ikatan jenis ini disebut ikatan kovalen polar. Hal yang berbeda terlihat pada molekul hidrogen. Pada molekul hidrogen, pasangan elektron bersama berada ditempat yang berjarak sama diantara dua inti atom hidrogen (simetris). Ikatan yang demikian ini dikenal sebagai ikatan kovalen nonpolar.

Molekul Polar dan Molekul Nonpolar

Molekul yang berikatan secara kovalen nonpolar seperti H 2 , Cl 2 dan N 2 sudah tentu bersifat nonpolar. Akan tetapi molekul dengan ikatan kovalen polar dapat bersifat polar dan nonpolar yang bergantung pada bentuk geometri molekulnya. Molekul dapat bersifat nonpolar apabila molekul tersebut simetris walaupun ikatan yang digunakan adalah ikatan kovalen polar.

Orbital H2 dan HCl, polarisasi ikatan kovalen Pada hidrogen klorida terlihat bahwa pasangan elektron bersama lebih

Susunan ruang (VSEPR) BF3, H2O, NH3 dan BeCl2

Molekul H 2 O dan NH 3 bersifat polar karena ikatan O-H dan N-H bersifat polar. Sifat polar ini disebabkan adanya perbedaan keelektronegatifan dan bentuk molekul yang tidak simetris atau elektron tidak tersebar merata. Dalam H 2 O, pusat muatan negatif terletak pada atom oksigen sedangkan pusat muatan positif pada kedua atom hidrogen. Dalam molekul NH 3 , pusat muatan negatif pada atom nitogen dan pusat muatan positif pada ketiga atom hidrogen. Molekul BeCl 2 dan BF 3 bersifat polar karena molekul berbentuk

simetris dan elektron tersebar merata walupun juga terdapat perbedaan keelektronegatifan. Kepolaran suatu molekul dapat diduga dengan menggambarkan ikatan menggunakan suatu vektor dengan arah anak panah dari atom yang bermuatan positif menuju ke arah atom yang bermuatan negatif. Molekul dikatakan bersifat nonpolar apabila resultan vektor sama dengan nol. Sedangkan molekul bersifat polar apabila hal yang sebaliknya terjadi, resultan tidak sama dengan nol.

  • E. Rancangan Percobaan

:

1. Beberapa reaksi redoks

a. tabung 1 Tabung 2 0.5 ml larutan KI + 5 tetes larutan kanji 1 ml
a.
tabung 1
Tabung 2
0.5 ml larutan KI + 5
tetes larutan kanji
1 ml larutan KI 0.1 M
& 5 tets larutan kanji
Tidak berwarna
Tidak berwarna
Ditambah 0.5 ml
H 2 SO 4
2
M & 5 tetes H 2 O 2 30%
Ditambahkan 1 ml
H 2 SO 4 1
M
&
0.5
ml FeCl 3 0.1 M
Coklat kehitaman
Tabung 3
Coklat kehitaman
1 ml larutan KI 0.1 M + 5 tetes larutan kanji Tidak berwarna Ditambahkan tetes demi
1 ml larutan KI 0.1 M +
5 tetes larutan kanji
Tidak berwarna
Ditambahkan
tetes
demi
tetes
HNO
3
pekat
Coklat kehitaman
Pembanding
5 tetes I
2tetes I
2
2
Diencerkan
Diencerkan
Ditambahkan
2
tetes
Ditambahkan
5
tetes
larutan kanji
larutan kanji

1b.

H 2 SO 4 2 M
H 2 SO 4 2 M

Ditambahkan 2ml K 2 Cr 2 O 7 0,1 M tabung kiri

Dimasukkan kedalam tabung “U” sampai ± 3 cm dari mulut tabung

Ditambah 2ml Fe(SO 4 ) 2 jenuh

Ditambahkan 5 tetes KSCN 0.1 M pada tabung kanan

elektroda

karbon

Kuning - orange
Kuning - orange

Dicelupkan

jingga

 
   

Jingga kekuningan

Dicelupkan elektroda karbon sampai terendam setinggi ±2 cm

sampai terendam setinggi ±2 cm

Merah darah
Merah darah

Pembanding

2 ml FeCl 3
2 ml FeCl
3

Ditambahkan

tetesan

larutan

KSCN

0,1 M 15 ml CuSO 1 M 4 Coklat kemerahan
0,1 M
15 ml CuSO
1 M
4
Coklat kemerahan

Dicelupkan batang /kawat lempeng tembaga

2. penentuan gaya gerak listrik darisel kimia Gelas kimia I 100 ml

25 ml ZnSO 4 0,1 M

   

Dicelupkan batang/ lempeng seng

Dihubungkan kedua dengan voltmete
Dihubungkan
kedua
dengan voltmete

Gelas kimia II 100 ml

lempeng tersebut

Dibuat jembatan garam dari kertas tissue yang digulung & dicelupkan/ ditetesi NaCl

3. elektrolisis

Larutan KI 0,25 M Dimasukkan pada tabung “U” tabung Dicelupkan elektroda karbon pada mulut tabung terendam
Larutan KI 0,25 M
Dimasukkan pada tabung “U”
tabung
Dicelupkan elektroda karbon
pada mulut tabung terendam
± 2cm
Dihubungka
elektroda
karbon
dengan adaptor 6 V
F.
Gas I 2
Gas H
G.
2
 Diambil
2ml
larutan
hasil
elektrolisis dari ruang anoda

±

2cm dari mulut

Diceelupkan

elektroda

karbon pada mulut tabung

elektroda

terendam ± 2cm

Dihubungkan

karbon dengan adaptor 6 V

Diambil 2ml larrutan hasil

ruang

Putuskan aliran listrik setelah 5 menit

elektrolisis

dari

katoda  Ditambahkan 1ml larutan H. Terdapat CHCl sedikit warna  Ditambahkan PP 3 I. Tidak
katoda
 Ditambahkan 1ml
larutan
H.
Terdapat CHCl sedikit warna
 Ditambahkan PP
3
I.
Tidak ada perubahan warna
kuning
 Dikocok & diamati
Perubahan warna pink
Ditambahkan 2ml larutan
FeCl 3 0,1 M
Endapan warna pink tidak
bercampur dengan I 2
Coklat tua

J.Hasil Pengamatan

NO

PERCOBAAN

HASIL PERCOBAAN

KESIMPULAN

SEBELUM

SESUDAH

1.

Macam-macam

     

Reaksi Redoks

 

a.

Tabung 1

KI

Tabung 1

Ketiga tabung

   

tidak

Warna coklat

menunjukkan

berwarna

kehitaman

adanya oksidasi

Larut

Dan terdapat

I 2 yang ditandai

 

an kanji

endapan karbon

dengan adanya

 

Tabung 2

tidak

Tabung 2

warna coklat

berwarna

Warna coklat

kehitaman (I 2

H 2 SO

kehitaman

lebih banyak

4 tidak

daripada

 

Tabung 3

berwarna

Tabung 3

amilumnya)

H 2 O 2

Warna coklaat

30 % tidak

kehitaman

 

berwarna

 

Tabung 4

FeCl 3

Tabung 4

 

tidak

(Pembanding)

berwarna

Warna coklat

HNO 3

kehitaman

pekat tidak

 

Tabung 5

 

berwarna

Tabung 5

I 2

(Pembanding)

berwarna kuning Larutan CH 3 COOH tidak berwarna Larutan Asam borat tidak berwarna

 

Ungu

   

b.

 

H 2 SO 4 tidak

H 2 SO 4 + K 2 Cr 2 O 7 berwarna jingga

Warna merah darah

 

berwarna

setelah

menunjukkan

K2Cr2

dicelupkan

adanya oksidasi

 

O7

elektroda karbon

Fe2+ menjadi

 

kuning

berwarna jingga

Fe3+ dan warna

Fe(SO

kekuningan

jingga

4)2 hijau

H2SO4 +

kekuningan

kekuning

Fe (SO4)2

menunjukkan

 

an

jenuh + KSCN

adanya reduksi

 

KSCN

berwarna

dari Cr2O72- →

 

tidak

kuning-orange

2 Cr3+

 

berwarna

setelah dicelupkan elektroda karbon

       

berwarna

   

merah darah

2

Penentuan DGL dari sel kimia

     
 

Gelas Kimia 1

CuSO4

E sel

 

Dari

peercobaan

berwarna biru

menunjukkan

 

ini didapatkan E

 

Gelas Kimia 2

Zn SO4 tidak

angka 4 ,

sel sebesar

1

V

berwarna

maka E sel = 1 V

dengan

selisih

E sel =

0,1

V

dari

 
hipotesis yang

hipotesis

yang

ada

= 1 V

 

3.

Elektrolisis

     
 

Katoda

KI tidak

KI + elektroda Pada

 

katoda

berwarna

karbon

 

tebentuk gas H2

terbentuk

 

gas

yang

H2

tidak

menunjukkan

 

berwarna

adanya

reduksi

Ketika

 

hasil

sari

H2O

elektrolisis

dari

sehigga

larutan

katoda ditambah

menjadi

tidak

pp

terdapat

berwarna.

perubahan

 

Namun

pada

warna

pink

+

anoda

terjadi

FeCl3

berubah

oksidasi daari 2I

warna

menjadi

I2

dan

coklat tua

 

terbantuk

 
 

Anoda

KI

+

elektroda

gelembung

gas

karbon terbentuk

Ketika

hasil

I2

gas I2 berwarna kuning

Pada anoda hasil elektrolisis setelah ditambah

CHCl3

elektrolisis

dari

   

anoda

ditambah

terbentuk warna

CHCl3

terdapat

pink yang tidak

warna lembayung yang

bercampur dengan I2 Pada katoda hasil

tidak

bercampur

dengan I2

 

elektrolisis setelah ditambah pp terbentuk warna pink yang menunjukkan larutan tersebut bersifat basa CH 3 COOH berwarna merah

G.

Analisis Data

1. A.

Pertama, yaitu dimasukkan larutan KI 0,25 M yang tidak berwarna pada tabung U ± 2 cm dari mulut tabung. Kemudian, pada tabung U sebelah kanan dicelupkan elektroda karbon pada mulut tabung ± 2 cm dan dihubungkan dengan elektroda karbon dengan adaptor 6 V . Pada tabung U sebelah kiri juga dicelupkan elektroda karbon pada mulut tabung ± 2 cm dan dihubungkan dengan elektroda karbon dengan adaptor 6 V. Pada pengamatan, didapatkan bahwa di katoda terdapat gelembung-gelembung gas (++) H 2 yang tidak berwarna. Hal ini dikarenakan adanya reduksi dari 2H2O + 2 e → H2 + 2 OH-. Oleh karena K+ merupakan golongan IA, maka yang akan direduksi pada elektrolisis ini adalah H2O. Sedangkan di anoda didapatkan gelembung-gelembung gas (+) I2 dan larutan di anoda berubah menjadi kuning. Hal ini menandakan bahwa adanya oksidasi dari 2I- →I2 + 2e . Larutan yang berwarna kuning tersebut menandakan adanya I2 yang dihasilkan dari elektrolisis. Setelah mencapai waktu 5 menit, aliran listrik tersebut diputuskan dan diambil masing-masing 2 ml larutan hasil elektrolisis di katoda maupun di anoda. Pada katoda, 2 ml larutan hasil elektrolisis tersebut ditambahkan indicator pp. pada penambahan indicator pp warna larutan berubah menjadi pink. Hal ini menandakan bahwa adanya pembentukan OH- dari reduksi H2O ( sesuai dengan reaksi diatas ) sehingga indicator pp akan merubah warna larutan menjadi pink karena indicator pp termasuk indicator basa. Setelah terjadi perubahan warna menjadi pink, kemudian ditambahkan 2 ml FeCl3 0,1 M dan terjadi perubahan warna menjadi coklat tua dan terbentuk endapan Fe(OH)3. Sesuai dengan reaksi OH- + FeCl3 → Fe(OH)3↓ + Cl3- . Sedangkan pada anoda, 2 ml larutan hasil elektrolisis ditambahkan 1 ml larutan CHCl3 kemudian dikocok dan diamati. Pada anoda, setelah adanya penambahan CHCl3

terbentuk endapan pink dan tidak bercampur dengan larutan I2. Karena CHCl3 merupakan larutan yang bersifat polar sedangkan larutan I2 merupakan larutan yang bersifat non polar. Sesuai dengan konsep ‘like dissolve like’ bahwa larutan yang bersifat polar tidak akan larut pada larutan yang bersifat non polar.

H. Pembahasan

Pada tabung pertama, 0,5 ml KI ditambah 5 tetes larutan kanji. Larutan kanji ditambahkan sebagai indikator adanya oksidasi I - menjadi I 2 . Penambahan tersebut tidak menghasilkan perubahan warna. kemudian ditambah 0,5 ml H 2 SO 4 2M dan 5 tetes H 2 O 2 30% . Penambahan H 2 SO 4 berfungsi sebagai pemberi suasana asam pada larutan karena reaksi redoks dapat terjadi pada larutan asam atau basa. H 2 O 2 diteteskan karena H 2 O 2 sebagai oksidator agar terjadi reduksi H 2 O 2 menjadi H 2 O dan terdapat perubahan warna menjadi coklat kehitaman pada larutan yang menunjukkan bahwa larutan I 2 sudah teroksidasi. Pada percobaan ini dihasilkan endapan karbon yang berasal dari amilum (kanji). Reaksinya adalah sebagai berikut :

2 I - + H 2 O 2 + 2H → I 2 + H 2
2 I -
+
H 2 O 2
+
2H
I 2
+
H 2 O
terbentuk endapan pink dan tidak bercampur dengan larutan I2. Karena CHCl3 merupakan larutan yang bersifat polar
Coklat
Coklat

Pada tabung kedua, 1 ml KI 0,5 M ditambah 5 tetes larutan kanji. Penambaha larutan kanji pada larutan KI berfungsi sebagai indikator adanya oksidasi I - menjadi I 2 . setelah 0,5 KI ditambah 5 tetes larutan kanji, tidak didapatkan adanya perubahan warna. kemudian ditambah 1 ml H 2 SO 4 1M dan 0,5 ml FeCl 3 0,1 M . Penambahan H 2 SO 4 dilakukan sebagai pemberi suasana asam pada larutan karena reaksi redoks dapat terjadi peda larutan asam atau basa sehingga memudahkan terjadinya reaksi redoks.

FeCl 3 ditambahkan agar terjadi reduksi Fe 3+ menjadi Fe 2+ sehingga FeCl 3 sebagai oksidator dan didapatkan perubahan warna menjadi coklat kehitaman pada larutan yang menunjukkan bahwa larutan I 2 sudah teroksidasi.

Reaksinya adalah sebagai berikut :

2 I- + 2 FeCl3 + 3 H+ → Fe2+ + I2
2 I-
+
2 FeCl3
+ 3 H+
→ Fe2+
+ I2
FeCl ditambahkan agar terjadi reduksi Fe menjadi Fe sehingga FeCl sebagai oksidator dan didapatkan perubahan warna

+ 3 HCl

Coklat
Coklat

Pada tabung ketiga, 1 ml KI ditambah 5 tetes larutan kanji. setelah 1 ml KI ditambah 5 tetes larutan kanji, tidak didapatkan adanya perubahan warna. Penambahan larutan kanji pada larutan KI berfungsi sebagai indikator adanya oksidasi I - menjadi I 2 . Pada tabung 3 untuk mendeteksi terbentuknya I 2 , ditambahkan HNO 3 pekat tetes demi tetes sampai terjadi perubahan warna. HNO 3 pekat ditambahkan untuk memberikan suasana asam dan agar terjadi terjadi reduksi HNO 3 menjadi NO dan H 2 O. Setelah 20 tetes warna larutan tidak berubah karena HNO 3 yang kami lakukan sudah teroksidasi sebelumnya. Kemudian ditambahkan H 2 SO 4 pekat dan terjadi perubahan warna menjadi coklat kehitaman seperti pada tabung pembanding ( tabung 4 ). Reaksinya adalah sebagai berikut :

6 KI + 8 HNO3 → 6 KNO3 + 2 NO + 3 I2
6 KI
+
8 HNO3
→ 6 KNO3
+
2 NO +
3 I2
FeCl ditambahkan agar terjadi reduksi Fe menjadi Fe sehingga FeCl sebagai oksidator dan didapatkan perubahan warna

+ 4 H2O

Coklat
Coklat

Pada tabung keempat, 5 tetes I 2 diencerkan dan ditambahkan 2 tetes larutan kanji menghasilkan warna coklat kehitaman. Karena banyaknya tetesan I 2 daripada larutan kanji, maka warnanya akan berubah menjadi

coklat kehitaman. Tabung ini disimpan untuk digunakan sebagai pembanding. Pada tabung kelima, 2 tetes I 2 diencerkan dan ditambah 5 tetes larutan kanji menghasilkan perubahan warna ungu. Karena banyaknya tetesan larutan kanji daripada I 2 , maka warnanya akan berubah menjadi ungu. Tabung ini disimpan untuk digunakan sebagai pembanding.

B.

Pada percobaan ini H2SO4 tidak berwarna dimasukkan ke dalam tabung “U” sampai ± 3 cm dari mulut tabung. Pada tabung sisi kanan ditambah 2 ml Fe(SO4)2 jenuh yang berwarna hijau kekuningan dan 5 tetes KSCN 0,1 M yang tidak berwarna dan setelah penambahan terdapat perubahan warna menjadi kuning-orange. Warna kuning tersebut berasal dari Fe2+ yang tereduksi oleh 2SCN- kemudian setelah dicelupkan elektroda karbon terjadi perubahan warna menjadi merah darah. Warna merah darah menunjukkan adanya oksidasi Fe2+ menjadi Fe3+ sesuai dengan reaksi :

FeSO4 + 2 H+ → Fe3+ + H2SO4`

coklat kehitaman. Tabung ini disimpan untuk digunakan sebagai pembanding.  Pada tabung kelima, 2 tetes I
coklat kehitaman. Tabung ini disimpan untuk digunakan sebagai pembanding.  Pada tabung kelima, 2 tetes I

Fe3+ + 3SCN- → Fe(SCN)3 Fe2+ + 2 SCN - → Fe(SCN)2

coklat kehitaman. Tabung ini disimpan untuk digunakan sebagai pembanding.  Pada tabung kelima, 2 tetes I
coklat kehitaman. Tabung ini disimpan untuk digunakan sebagai pembanding.  Pada tabung kelima, 2 tetes I
coklat kehitaman. Tabung ini disimpan untuk digunakan sebagai pembanding.  Pada tabung kelima, 2 tetes I

Sementara pada tabung sisi kiri larutan H2SO4 ditambahkan 2 ml K2Cr2O7 0,1 M yang berwarna jingga. Kemudian dicelupkan elektroda karbon terjadi perubahan warna menjadi jingga kekuningan. Hal ini menunjukkan adanya reduksi dari Cr2O72- menjadi 2Cr3+ sesuai reaksi berikut ini:

Cr2O72- + 6H+ + 6e + SO42- → 2Cr3+ + 7H2O + SO24-

coklat kehitaman. Tabung ini disimpan untuk digunakan sebagai pembanding.  Pada tabung kelima, 2 tetes I
coklat kehitaman. Tabung ini disimpan untuk digunakan sebagai pembanding.  Pada tabung kelima, 2 tetes I
Jingga Kekuningan
Jingga
Kekuningan

Pada tabung reaksi lainnya dibuat larutan pembanding yaitu 2 ml FeCl3 ditambah tetesan larutan KSCN 0,1 M berwarna merah darah yang

menandakan adanya ion Fe3+. Tabung ini disimpan untuk digunakan sebagai pembanding.

  • 2. Pada percobaan kedua yaitu penentuan DGL dari sel kimia. 15 ml CuSO4 1M yang berwarna biru dimasukkan ke dalam gelas kimia pertama sedangkan 25 ml ZnSO4 0,1 M yang tidak berwarna dimasukkan kedalam gelas kimia yang kedua. Setelah itu, pada gelas kimia pertama dicelupkan lempeng Cu, sedangkan pada gelas kimia kedua dicelupkan lempeng Zn. Kemudian kedua lempeng tersebut dihubungkan dengan voltmeter dan dibuat jembatan garam dari kertas tisu yang digulung dan dicelupkan pada larutan NaCl. Fungsi dari jembatan garam ini adalah untuk

menyeimbangkan ion-ion dalam larutan. Elektron akan mengalir dari elektroda Zn ( elektroda negatif ) ke elektroda Cu ( elektroda positif ). Sehingga reaksinya adalah :

Anoda : Zn(s)

→ Zn2+ (aq) + 2e

E0 Zn

= 0,763 V

Katoda : Cu2+ + 2e → Cu(s) E0 Cu = 0,337 V

Anoda : Zn(s) → Zn2+ (aq) + 2e E0 Zn = 0,763 V Katoda : Cu2+

Zn + Cu2+

→ Zn2+ + Cu

E0 sel

= 1,10 V

Seng melarut menghasilkan ion seng Tembaga mengendap Dari hasil percobaan jarum dari voltmeter menunjukkan angka 4 dengan tegangan yang digunakan sebesar 2,5 V. setelah dilakukan perhitungan, didapatkan bahwa E sel sebesar 1 V.

  • I. Diskusi Pada percobaan pertama, yaitu pada tabung ke 1, didapatkan adanya endapan karbon. Hal ini tidak sesuai hipotesis bahwa pada tabung pertama, seharusnya tidak terdapat endapan karbon yang berwarna hitam. Endapan ini terbentuk karena H2O2 yang dipakai sebesar 30%. Ini tidak sesuai dengan panduan buku praktikum yang seharusnya memakai H2O2 hanya 3% saja. Oleh karena H2O2 yang dipakai sebesar 30% maka H2O2 tersebut bersifat oksidator kuat sehingga bisa memutuskan ikatan karbon yang terdapat pada amilum. Oleh sebab itulah terbentuk endapan karbon yang berwarna hitam.

  • J. Kesimpulan

  • K. Pertanyaan dan Jawaban

    • 1. Bagaimana cara pemilihan indikator yang benar? Jelaskan!

    • 2. Apa yang dimaksud dengan indikator universal?

    • 3. Apa yang dimaksud dengan indikator tunggal dan indikator campuran? Jelaskan perbedaan fungsinya dan berikan contohnya! Jawaban :

      • 1. Cara pemilihan indicator yang benar adalah dengan menyesuaikan indicator yang dipilih dengan jenis larutan yang dideteksi pH-nya. Misalnya, dengan menggunakan indicator PP, maka larutan yang hanya bersifat basa saja yang bisa dideteksi pH-nya yang ditandai

dengan berubahnya warna menjadi ungu, sementara pada larutan asam tidak terjadi perubahan warna.

  • 2. Indikator Universal adalah suatu pH indikator untuk menandai kadar keasaman atau kadar kebasaan suatu larutan. Indikator universal adalah gabungan dari beberapa indicator

  • 3. Indikator tunggal adalah indikator yang berdiri sendiri tanpa perlu indikator lain dan berfungsi untuk mendeteksi larutan bersifat asam atau basa tetapi tidak dapat mengetahui harga pH dan pOH. Contoh : indicator phenoptalein yang digunakan untuk mendeteksi larutan yang bersifat basa Indikator ganda adalah indikator yang tidak dapat berdiri sendiri atau memerlukan indikator lain

  • L. Daftar Pustaka

Tim kimia dasar.2011.Penuntun Praktikum Kimia Dasar Lanjut.Surabaya :

Unipres Tim Kimia Dasar.2010.Kimia Dasar II.Surabaya:Unipres 2010_anita. file:///E:/materi/praktikum%20indikator/trayek%20pH.htm. diakses pada 28 Maret 2012

r-asam-basa.html. diakses pada 28 Maret 2012

Lampiran Gambar percobaan

Lampiran Gambar percobaan
Lampiran Gambar percobaan