Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu proses untuk mengembangkan semua aspek kepribadian manusia, yang mencakup pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilannya. Pendidikan bertujuan untuk mencapai kepribadian suatu individu yang lebih baik. Pendidikan mengemban tugas untuk menghasilkan generasi yang lebih baik, manusia yang lebih berkebudayaan, dan manusia yang memiliki kepribadian yang lebih baik (Munib 2004 :29). Permasalahan pendidikan selalu muncul bersamaan dengan perkembangan peningkatan kemampuan siswa, situasi dan kondisi lingkungan yang ada, pengaruh informasi dan kebudayaan, serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, pemerintah selalu merevisi kurikulum yang sudah ada selaras dengan perkembangan jaman, demikian pula dengan model pembelajaran yang diterapkan selalu mengalami perkembangan.

Perkembangan pendidikan yang begitu cepat serta luasnya bahan peljaran yang harus dikuasai siswa mambuat beban belajar siswa semakin besar. Sementara dalam pendidikan telah banyak cara yang dilakukan oleh guru untuk membantu siswa dalam memecahkan cara belajar yang baik sehingga siswa dapat berkompetensi secara wajar sesuai dengan ketentuan dalam silabus pendidikan secara umum. Salah satu cara yang diterapkan adalah penggunaan peta konsep, secara umum pengertian peta konsep adalah merupakan diagram yang menunjukan hubungan antara konsep-konsep yang mewakili pembelajaran. Peta konsep juga diartikan tampilan dari sebuah gambar atau bagan tentang konsep-konsep materi yang tersusun sesuai dengan tabiat ilmu pengetahuan itu sendiri tanpa mengindahkan urutan atau konsekuensi topik bahasan yang diinginkan. Novak and Gowin (1995) menyatakan bahwa peta konsep adalah alat atau cara yang dapat digunakan guru untuk mengetahui apa yang telah diketahui oleh siswa. Pengamatan ini didasarkan pada teori belajar Ausabel. Ausabel sangat menekankan agar guru mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki oleh siswa supaya belajar bermakna dapat berlangsung. Dalam belajar bermakna pengetahuan baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif (otak) siswa. Bila dalam struktur kognitif tidak terdapat konsep-konsep relevan , pengetahuan baru yang telah dipelajari hanyalah hapalan semata.
Pelajaran ekonomi dirasakan siswa hanyalah mengulangi hal-hal yang sama dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat pendidikan menengah. Model serta teknik pengajarannya juga

kurang menarik. Apa yang terjadi di kelas, biasanya guru memulai pelajaran bercerita, atau bahkan membacakan apa yang tertulis dalam buku ajar dan akhirnya langsung me-nutup pelajaran begitu bel akhir pelajaran berbunyi. Tidak mengherankan di pihak guru sering timbul kesan bahwa mengajar ekonomi itu mudah. Akibatnya nilai-nilai yang terkandung dalam pelajaran ekonomi tidak dapat dipahami dan diamalkan peserta didik (Soewarso 2000:1-2). Hal serupa juga dikatakan Suharya (2007:1) dalam makalahnya yang ditulis pada (www.duniaguru.com), yang menyebutkan bahwa pelajaran IPS, khususnya ekonomi sering disebut sebagai pelajaran hafalan dan membosankan.

Model pembelajaran dalam pelajaran ekonomi secara teoritis sebenarnya dapat dipilih dari sekian banyak model pembelajaran yang tersedia. Para guru hendaknya mempunyai kemampuan di dalam memilih model yang tepat untuk setiap pokok bahasan. Selain itu pembelajaran ekonomi juga dapat menggunakan media peng-ajaran yang bermacam-macam diantaranya menampilkan gambar, film, grafik dan lainnya untuk menambah pemahaman terhadap data visual. Paradigma baru pelajaran ekonomi menghendaki dilakukan inovasi yang terintegrasi dan berkesinambungan. Salah satu wujudnya adalah inovasi yang dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Kebiasaan guru dalam mengumpulkan informasi mengenai tingkat pemahaman siswa melalui pertanyaan, observasi, pemberian tugas dan tes akan sangat bermanfaat dalam menentukan tingkat penguasaan siswa dan dalam evaluasi keefektifan proses pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat mewujudkan tujuan tersebut adalah model pembelajaran dengan menggunakan peta konsep. Dalam model pembelajaran ini

siswa dituntut untuk berpikir cerdas, kreatif, partisipatif, prospektif dan bertanggung jawab. Peta konsep merupakan salah satu bagian dari strategi pengorganisasian. Strategi pengorganisasian bertujuan membantu siswa meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan pelajaran untuk meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru, terutama dilakukan dengan mengenakan struktur-struktur pengorgani-sasian baru pada bahan-bahan tersebut. Strategi pengorganisasian dapat terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide atau istilah-istilah atau membagi ide-ide atau istilah-istilah itu menjadi subset yang lebih kecil. Strategi- strategi ini juga terdiri dari pengidentifikasian ideide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian di SMP Negeri 10 Bandar Lampung tepatnya pada siswa kelas VIII. Hal ini disebabkan karena rata-rata kelas siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS ekonomi dibawah setandar kompetensi yang ditetapkan bersama, untuk itu penulis bermaksud mengadakan penelitian yang berjudul Pengaruh penggunaan peta konsep terhadap hasil belajar bidang studi ekonomi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Bandar Lampung tahun pelajaran 2010/2011. Penelitian ini juga dimaksudkan sebagai penelitian bagaimana pengaruh penggunaan peta konsep sebagai upaya untuk peningkatan hasil belajar para peserta didik di SMP Negeri 10 Bandar Lampung, khususnya pada mata pelajaran IPS ekonomi.

1.2

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut: 1) Hasil belajar IPS Ekonomi yang masih rendah
2) Pembelajaran masih searah (teacher centered ), 3) Aktivitas antara guru dengan siswa dalam pembelajaran IPS Ekonomi masih

kurang,
4) Belajar dengan menggunakan peta konsep secara baik.

1.3

Pembatasan Masalah

Berdasarkan pada identifikasi masalah di atas maka penulis mengambil judul penulisan ini adalah: Pengaruh penggunaan peta konsep terhadap hasil belajar

bidang studi ekonomi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Bandar Lampung tahun pelajaran 2010/2011

1.4

Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut; Apakah ada peningkatan hasil belajar matapelajaran ekonomi dengan penerapan penggunaan peta konsep pada siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Bandar Lampung tahun pelajaran 2010/2011?

1.5 Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.5.1 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
5

1) Mengetahui peningkatan hasil belajar pelajaran ekonomi pada siswa kelas VIII

SMP Negeri 10 Bandar Lampung tahun pelajaran 2010/2011,


2) Rata-rata peningkatan hasil belajar pelajaran ekonomi lebih baik setelah

penggunaan peta konsep pada siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Bandar Lampung tahun pelajaran 2010/2011.
3) Mengetahui seberapa besar peningkatan hasil belajar dengan penggunaan peta

konsep terhadap hasil belajar pelajaran ekonomi siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Bandar Lampung tahun pelajaran 2010/2011. 1.5.2 Kegunaan Penelitian

1) Mendeskripsikan hasil belajar siswa sebelum penggunaan peta konsep kepada

pihak sekolah.
2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar pelajaran ekonomi dengan peng-

gunaan peta konsep terhadap hasil belajar pelajaran IPS ekonomi.


3) Mendeskripsikan perubahan hasil belajar pelajaran ekonomi siswa dengan peng-

gunaan peta konsep terhadap hasil belajar pelajaran IPS ekonomi.

1.6. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini meliputi: 1.6.1. Objek Penelitian Objek penelitian adalah: Pengaruh penggunaan peta konsep terhadap hasil belajar pelajaran ekonomi.

1.6.2. Subyek penelitian Siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Bandar Lampung tahun pelajaran 2010/2011. 1.6.3. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada masa belajar pada tahun pelajaran 2010/2011. 1.6.4. Tempat penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII SMP Negeri 10 Bandar Lampung.

BAB II TUNJAUAN PUSTAKA, KERANGAKA PIKIR, DAN HIPOTESIS

2.1

Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pengertian Followchart atau Peta Konsep Menurut Novak dan Gowin (1995) menyatakan bahwa peta konsep adalah alat atau cara yang dapat digunakan guru untuk mengetahui apa yang telah diketahui oleh siswa. Gagasan ini didasarkan pada teori belajar Ausabel. Teori belajar Ausabel sangat menekankan agar guru mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki oleh siswa supaya belajar bermakna dapat berlangsung. Dalam belajar bermakna pengetahuan baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif (otak) siswa. Bila dalam struktur kognitif tidak terdapat konsepkonsep relevan , pengetahuan baru yang telah dipelajari hanyalah hapalan semata. Jadi supaya belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsepkonsep yang ada dalam struktur kognitif siswa.

Menurut Dahar (1998) mengemukakan bahwa cara untuk mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki siswa, supaya belajar bermakna berlangsung dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep. Berdasarkan hal tersebut maka peta konsep dapat diuraikan sebagai berikut: a) Pengertian Konsep Konsep dapat didefenisikan dengan bermacam-macam rumusan. Salah satunya adalah defenisi yang dikemukakan Carrol dalam Kardi (1997: 2) bahwa konsep merupakan suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang didefinisikan sebagai suatu kelompok obyek atau kejadian. Abstraksi berarti suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan mengambil elemen-elemen tertentu, serta mengabaikan elemen yang lain. Tidak ada satu pun definisi yang dapat mengungkapkan arti yang kaya dari konsep atau berbagai macam konsep-konsep yang diperoleh para siswa. Oleh karena itu konsep-konsep itu merupakan penyajian internal dari sekelompok stimulus, konsepkonsep itu tidak dapat diamati, dan harus disimpulkan dari perilaku.

Menurut Dahar (1998) menyatakan bahwa konsep merupakan dasar untuk berpikir, untuk belajar aturan-aturan dan akhirnya untuk memecahkan masalah. Dengan demikian konsep itu sangat penting bagi manusia dalam berpikir dan belajar. Pemetaan konsep merupakan suatu alternatif selain outlining, dan dalam beberapa hal lebih efektif daripada outlining dalam mempelajari hal-hal yang lebih kompleks. Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep

dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi merupakan dua atau lebih konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik (Novak dalam Dahar 1998). Menurut G.Posner dan A.Rudnitsky dalam Nur (2003) menyatakan bahwa peta konsep mirip peta jalan, namun peta konsep menaruh perhatian pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan antar tempat. Peta konsep bukan hanya meggambarkan konsep-konsep yang penting melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Dalam menghubungkan konsep-konsep itu dapat digunakan dua prinsip, yaitu diferensiasi progresif dan penyesuaian integratif. Menurut Ausubel dalam Sutowijoyo (2002) diferensiasi progresif adalah suatu prinsip penyajian materi dari materi yang sulit dipahami. Sedang penyesuaian integratif adalah suatu prinsip pengintegrasian informasi baru dengan informasi lama yang telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu belajar bermakna lebih mudah berlangsung, jika konsep-konsep baru dikaitkan dengan konsep yang inklusif. Untuk membuat suatu peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu pola logis. Kadang-kadang peta konsep merupakan diagram hirarki, kadang peta konsep itu memfokus pada hubungan sebab akibat. Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas, maka Dahar (1998: 153) mengemukakan ciri-ciri peta konsep sebagai berikut: 1) Peta konsep (pemetaan konsep) adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsepkonsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika,

10

kimia, biologi, matematika dan lain-lain. Dengan membuat sendiri peta konsep siswa melihat bidang studi itu lebih jelas, dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna. 2) Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang studi atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang memperlihatkan hubunganhubungan proposisional antara konsep-konsep. Hal inilah yang membedakan belajar bermakna dari belajar dengan cara mencatat pelajaran tanpa memperlihatkan hubungan antara konsep-konsep. 3) Ciri yang ketiga adalah mengenai cara menyatakan hubungan antara konsepkonsep. Tidak semua konsep memiliki bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih inklusif dari pada konsep-konsep lain. 4) Ciri keempat adalah hirarki. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep tersebut. Peta konsep dapat menunjukkan secara visual berbagai jalan yang dapat ditempuh dalam menghubungkan pengertian konsep di dalam permasalahanya. Peta konsep yang dibuat murid dapat membantu guru untuk mengetahui miskonsepsi yang dimiliki siswa dan untuk memperkuat pemahaman konseptual guru sendiri dan disiplin ilmunya. Selain itu peta konsep merupakan suatu cara yang baik bagi siswa untuk memahami dan mengingat sejumlah informasi baru (Arends, 1998). b) Cara Menyusun Peta Konsep

11

Menurut Dahar (1998:154) peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna. Oleh karena itu siswa hendaknya pandai menyusun peta konsep untuk meyakinkan bahwa siswa telah belajar bermakna. Langkah-langkah berikut ini dapat diikuti untuk menciptakan suatu peta konsep. Langkah 1: mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep. Langkah 2: mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide utama Langkah 3: menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut Langkah 4: mengelompokkan ide-ide sekunder di sekeliling ide utama yang secara visual menunjukan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama. Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan langkah-langkah menyusun peta konsep sebagai berikut: 1) Memilih suatu bahan bacaan 2) Menentukan konsep-konsep yang relevan 3) Mengelompokkan (mengurutkan) konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif. 4) Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep-konsep yang paling inklusif diletakkan di bagian atas atau di pusat bagan tersebut. Dalam menghubungkan konsep-konsep tersebut dihubungkan dengan kata hubung. Misalnya merupakan, dengan, diperoleh, dan lain-lain. c) Peta Konsep sebagai Alat Ukur Alternatif Tes seperti pilihan ganda yang selama ini dipandang sebagai alat ukur (uji) keberhasilan siswa dalam menempuh jenjang pendidikan tertentu, bukanlah satu-satunya alat ukur untuk menentukan keberhasilan siswa. Tingkat keberhasilan siswa dalam menyerap pengetahuan sangat beragam, maka diperlukan alat ukur yang beragam. Peta konsep adalah salah satu bentuk penilaian kinerja yang dapat mengukur siswa

12

dari sisi yang berbeda. Penilaian kinerja adalah bentuk penilaian yang digunakan untuk menilai kemampuan dan keterampilan siswa berdasarkan pada pengamatan tingkah lakunya selama melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa selama kegiatan. Menurut Tukman (dalam Sutowijoyo ,2002) penilaian kinerja adalah penilaian yang meliputi hasil dan proses, yang biasanya menggunakan material atau suatu peralatan (equipment). Penilaian kinerja dapat digunakan terutama untuk meng-ukur tujuan pembelajaran yang tidak dapat diukur dengan baik bila menggunakan tes obyektif. Penilaian kinerja mengharuskan siswa secara aktif mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui. Yang paling penting, penilaian kinerja dapat memberi motivasi untuk meningkatkan pengajaran, pemahaman terhadap apa yang mereka perlu ketahui dan yang dapat mereka kerjakan. Berdasarkan teori belajar kognitif Ausubel, Novak dan Gowin (1984) dalam Dahar (1998) menawarkan skema penilaian yang terdiri atas: Struktur hirarki, perbedaan progresif, dan rekonsiliasi integratif. d) Jenis-jenis Peta Konsep Menurut Nur (2000) dalam Erman (2003: 24) peta konsep ada empat macam yaitu: pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map), dan peta konsep laba-laba (spider concept map). 1) Pohon Jaringan Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata lain dihubungkan oleh garis penghubung. Kata-kata pada garis penghubung memberikan hubungan antara konsep-konsep. Pada saat mengkonstruksi suatu pohon jaringan, tulislah topik

13

itu dan daftar konsep-konsep utama yang berkaitan dengan topik itu. Daftar dan mulailah dengan menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berikan hubungannya pada garis-garis itu (Nur dalam Erman 2003). Pohon jaringan cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal: - Menunjukan informasi sebab-akibat - Suatu hirarki - Prosedur yang bercabang 2) Rantai Kejadian Menurut Nur dalam Erman (2003) mengemukakan bahwa peta konsep rantai kejadian dapat digunakan untuk memerikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur, atau tahap-tahap dalam suatu proses. Misalnya dalam melakukan eksperimen. Rantai kejadian cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal: - Memerikan tahap-tahap suatu proses - Langkah-langkah dalam suatu prosedur - Suatu urutan kejadian 3) Peta Konsep Siklus Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil akhir. Kejadian akhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Seterusnya kejadian akhir itu menhubungkan kembali ke kejadian awal siklus itu berulang dengan sendirinya dan tidak ada akhirnya. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk

14

menunjukan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinteraksi untuk menghasilkan suatu kelompok hasil yang berulang-ulang. 4) Peta Konsep Laba-laba Peta konsep laba-laba dapat digunakan untuk curah pendapat. Dalam melakukan curah pendapat ide-ide berasal dari suatu ide sentral, sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide yang bercampur aduk. Banyak dari ide-ide tersebut berkaitan dengan ide sentral namun belum tentu jelas hubungannya satu sama lain. Kita dapat memulainya dengan memisah-misahkan dan mengelompokkan istilah-istilah menurut kaitan tertentu sehingga istilah itu menjadi lebih berguna dengan menuliskannya di luar konsep utama. Peta konsep laba-laba cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal: a) Tidak menurut hirarki, kecuali berada dalam suatu kategori b) Kategori yang tidak paralel c) Hasil curah pendapat. 2.1.2 Pengertian Hasil Hasil belajar adalah Bukti usaha yang dicapai. (Winkel, 1983 : 161). Pengertian prestasi adalah hasil belajar yang telah dicapai, dan prestasi adalah yang telah di ukur. (Poerwadarminta, 1984 : 768). Dari pendapat-pendapat diatas dapat diartikan bahwa hasil belajar adalah suatu bukti usaha yang dilakukan seseorang dalam melakukan suatu bidang tertentu.

15

Pengertian evaluasi lebih dipertegas menurut Nana Sudjana (dalam Djiwandono, 2002: 102) yaitu Dengan batasan sebagai proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Dari pengertian evaluasi maka dapat diketaui bahwa: Evaluasi hasil belajar merupakan proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui kegiatan penilaian dan pengukuran hasil belajar. Berdasarkan pengertian evaluasi hasil belajar maka dapat disimpulkan bahwa tujuan utamnya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran. Dimana tingkat keber-hasilan tersebut ditandai dengan skala nilai berupa huruf dan angka dengan diperoleh hasil belajar yang baik maka diartikan pula meningkatkanya prestasi belajar siswa. Menurut pendapat WS. Winkel dalam bukunya psikologi pendidikan dan evaluasi belajar, mengatakan Prestasia atau hasil belajar adalah bukti keberhasilan siswa yang telah dicapai. Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa: Prestasi atau hasil belajar berupa nilai yang diperoleh siswa melalui proses dan tahap tertentu dan biasanya dilambangkan dalam wujud angka atau hurf baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif, yang dimana setiap akhir proses pembelajaran di-adakan evaluasi. Menurut Hamalik, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah: 1. Faktor yang bersumber pada lingkungan sekolah,

16

2. 3. 4.

Faktor yang bersumber pada diri sendiri, Faktor yang bersumber dari lingkungan keluarga, dan Faktor yang bersumber dari lingkungan masyarakat. (Hamalik, 1983: 139)

Robert Gagne (dalam buku Djiwandono, 2002:219) meninjau hasil belajar yang harus dicapai oleh siswa dan juga meninjau proses belajar menuju kehasil belajar, sehingga mendefinisikan lima katagori hasil belajar yaitu: 1. 2. 3. 4. Informasi verbal Kemampuan intelektual Pengaturan kegiatan kognitif Sikap

5. Keterampilan motorik.

2.2

Kerangka Berpikir

Kerangka pikir adalah suatu konsep yang berisikan hubungan kausal antara dependen variabel dengan independen variabel dalam memberi jawaban sementara terhadap masalah yang akan diteliti. (Mujiman, 1981 : 33). Berdasarkan latar belakang masalah dan pandangan teoritis yang telah dikemukakan di atas, selanjutnya akan dijelaskan pengaruh variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas (X) adalah Penggunaan 1pPeta konsep dan variabel terikat (Y) adalah: hasil belajar pelajaran ekonomi, untuk lebih jelasnya maka kerangka pikir dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut

17

Gambar: Diagram Hubungan Variabel (X1), Variabel (X2) dan Variabel Y Penggunaan Peta Konsep (X1)

Hasil belajar pelajaran ekonomi (Y) Pembelalajaran konvensional (X2)

2.3

Hipotesis

Berdasarkan rumus masalah dan uraian di atas maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Ada pengaruh penggunaan peta konsep terhadap hasil belajar pelajaran ekonomi

dengan menggunaan peta konsep siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Bandar lampung tahun pelajaran 2010/2011.
2) Rata-rata hasil belajar pelajaran ekonomi siswa yang diajar dengan menggunaan

peta konsep lebih tinggi dari rata-rata hasil belajar yang tidak dengan menggunaan peta konsep pada siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Bandar Lampung tahun pelajaran 2010/2011.

18

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksprimen yakni dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
(1) Mengadakan tes awal untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan

soal-soal latihan sebelum menggunakan peta konsep. (2) Memeriksa hasil pekerjaan siswa dan mengelompokkannya sesuai dengan tingkat kemampuannya. (3) Menjelaskan kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa sesuai hasil tes awal.

19

(4) Menugasi siswa menyelesaikan tugas setelah diberi pembelajaran dengan meng-

gunaan peta konsep. (5) Memeriksa hasil pekerjaan siswa, dan mengelompokkannya. (6) Menjelaskan kembali kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa.

3.2

Variabel Penelitian

Variabel di dalam penelitian ini adalah: Pengaruh pembelajaran dengan menggunaan peta konsep terhadap peningkatan hasil belajar ekonomi.

3.2.1 Definisi Oprasional Variabel Memberikan kejelasan tentang variabel yang terdapat dalam penelitian, diperlukan adanya pengertian atau definisi secara oprasional mengenai variabel penelitian tersebut. Adanya definisi oprasional variabel penelitian adalah sebagai berikut:
1)

Variabel (X) yaitu penggunaan peta konsep dalam kegiatan pembelajaran ekonomi, dengan teknik-teknik pembelajaran dengan menggunaan atau peta konsep.

2)

Variabel (Y) yaitu hasil belajar ekonomi, hal ini dapat dilihat dari hasil hasil belajar siswa secara optimal.

3.2.2 Rencana Pengukuran Variabel Untuk mengetahui data yang diperoleh melalui alat pengumpulan data penelitian ini, maka dilakukan pengukuran variabel:
1)

Variabel Bebas (x): Pembelajaran dengan menggunaan peta konsep.

20

2)

Variabel Terikat (y): Hasil belajar ekonomi peserta didik.

Data yang akan diperoleh dalam penelitian ini, untuk mendapatkannya perlu di-buat rencana pengukuran variabel yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1 Memilih sampel penelitian dari populasi sebanyak dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. 2 Mengadakan kegiatan pembelajaran pada kelas eksperimen dengan menggunakan peta konsep. 3 Mengadakan tes pada kelas eksperimen dan kontrol. Adapun perangkat tes yang digunakan adalah pilihan ganda dan tes uraian. Dalam memberikan tes, jumlah soal mengikuti materi pelajaran yang telah diajarkan dengan pembelajaran yang menggunaan peta konsep dan pembelajaran cara konvensional. 4 Untuk mendapat nilai akhir digunakan rumus: N= Skor yang didapat x 100 Skor maksimal

3.3 Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling 3.3.1 Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Bandar Lampung tahun pelajaran 2010/2011 terdiri dari 7 kelas dengan jumlah siswa 259 siswa. Sebaran populasi pada tiap kelas tergambar pada tabel di bawah ini: Tabel 2 Daftar Jumlah Siswa Kelas VIII Negeri 10 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2010/2011 NO KELAS Pembagian siswa
21

Laki-laki Perempuan Jumlah 1 VIII A 18 19 37 2 VIII B 15 21 36 3 VIII C 17 20 37 4 VIII D 16 20 36 5 VIII E 18 19 37 6 VIII F 16 21 37 7 VIII G 18 19 37 TOTAL 118 139 259 Sumber: Data SMP Negeri 10 Bandar Lampung 3.3.2 Sampel

Sampel adalah Sebagian atau wakil populasi yang diteliti. (Suharsimi Arikunto, 2002: 109). Dalam penelitian ini diambil dari siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Bandar Lampung. Untuk melaksanakan penelitian, penulis menentukan sampel sebanyak 2 kelas yaitu kelas eksperimen, dan sebagai kelas kontrol. 1 Kelas eksperimen adalah kelas yang menggunaan peta konsep. 2 Kelas kontrol adalah kelas yang pembelajarannya dengan cara konvensional.

3.3.3 Teknik Sampling Teknik sampling adalah cara seorang penulis atau peneliti dalam mengambil sampel dari keseluruhan objek atau populasi. Berdasarkan sampel yang dipilih dalam penelitian ini, maka banyaknya sampel dapat ditentukan dengan menggunakan teknik cluster radom sampling artinya sampel terdiri dari populasi yang terdiri dari beberapa kelompok atau kelas. (Arikunto, 2002: 92)

22

Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan siswa dalam bidang studi ekonomi sebelum pokok bahasan tersebut diberikan, kemudian tes tersebut nilai rata-rata setiap kelas, maka nilai rata-rata yang sama dari tiap-tiap kelas tersebut dianggap homogen. Setelah pengambilan sampel selesai yang didasarkan pada tes awal, selanjutnya menentukan kelas yang akan diambil secara undian. Seperti yang dikemukakan oleh Kartini Kartono langkah-langkah undiannya adalah sebagai berikut: 1) Pada semua subjek penelitian kelompok yang akan menjadi anggota bagian dari populasi diberi kode berupa bilangan. 2) Kode-kode tersebut dituliskan pada kertas lembar kecil masing-masing di-gulung dangan baik lalu dimasukkan ke dalam satu tempat tertutup.
3)

Mengocok kotak dengan sebaik-baiknya lalu mengambil kertas gulung sebanyak jumlah sampel yang diperlukan.

Berdasarkan hasil diperoleh sampel yaitu kelas VIII A dan VIII B yang mendekati perhitungan persentase populasi dimana kelas tersebut akan menjadi kelas kontrol dan kelas eksperimen. (Arikunto, 2002: 98)

3.4 Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara pemberian tugas. Setiap siswa yang telah ditetapkan sebagai sampel ditugasi menyelesaikan tugas yang diberikan. Pemberian tugas ini dilakukan dua kali, pertama diberi menyelesaikan

23

tugas pelajaran ekonomi tanpa menggunaan peta konsep, dan kedua menyelesaikan tugas pelajaran ekonomi dengan menggunakan peta konsep. 3.4.1 Teknik Pokok Untuk menguji kebenaran dari hipotesis, maka penulis mengumpulkan data yang berbentuk angka-angka atau nilai dengan teknik tes yang berupa sejumlah soal yang harus di jawab oleh siswa guna mengetahui presentasinya. 3.4.2 Teknik Pelengkap Untuk melengkapi dan mendukung penelitian ini penulis melengkapinya dengan: 3.4.2.1 Literatur Metode untuk mendapatkan teori-teori yang berkaitan dan berhubungan dengan penelitian. 3.4.2.2 Observasi Penelitian langsung mengenai proses pembelajaran dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang obyek dalam penelitian. 3.4.2.3 Dokumentasi Metode untuk mendapatkan data-data tentang keadaan sekolah, siswa dan lainlainnya sebelum diadakan tes.

3.5 3.5.1

Metode Analisis Uji Instrumen Uji Realibilitas Alat Ukur

24

Untuk menguji realibilitas, digunakan tes essay sebagai berikut: 3.5.1.1 Tes Essay Tes essay menggunakan rumus alpha croncbach sebagai berikut: Rumus Alpha: Keterangan : r11 k
2 k b r11 = 1 t 2 k 1

= Reliabilitas instrumen = Banyaknya butir pertnyaan atau banyaknya soal

b2 = Jumlah varian butir b2 = Varian total.

Untuk varian total dan varian item digunakan rumus:

=
2 i

( x)
n n

t =
2

( x)
n n

Setelah diperoleh reliabilitas kemudian dikonsultasikan dengan kategori koefisien korelasi sebagai berikut:
-

Antara 0,800 sampai dengan 1,000 : sangat tinggi Antara 0,600 sampai dengan 0,800 : tinggi Antara 0,400 sampai dengan 0,600 : cukup Antara 0,200 sampai dengan 0,400 : rendah Antara 0,000 sampai dengan 0,200 : sangat rendah, (Arikunto, 2002 : 171 173)
25

3.5.2

Uji Validitas Ukur

Untuk menguji validitas ini tidak diadakan uji coba, mengingat faktor biaya dan waktu tidak memungkinkan, sehingga validitas dapat dilihat dari logical validity dengan cara judgmen yaitu mengkonsultasikan kepada beberapa orang ahli dalam bidang penelitian dan sebagai pengajar di STKIP-PGRI Bandar Lampung. 3.5.3 Tingkat Kesukaran dan Daya Pembeda

3.5.3.1 Tingkat Kesukaran Tes yang baik adalah tes yang memilih daya kesukaran yang memadai artinya tes tersebut tidak terlalu mudah dan tidak sukar untuk menghitung taraf kesukaran soal dari suatu tes dipergunakan rumus sebagai berikut:
P= B JS

Keterangan : P B JS = Indeks kessukaran = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan benar = Jumlah seluruh peserta tes

Klasifikasi kesukaran adalah sebagai berikut: 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah. ( Arikunto, 2003 : 208).

3.5.3.1 Daya Pembeda Soal

26

Yang dimaksud daya pembeda suatu soal tes adalah bagaimana, kemampuan soal itu untuk membedakan siswa-siswanya yang termasuk kelompok pandai dengan siswa -siswa yang termasuk kelompok kurang pandai. Untuk mengukurnya digunakan rumus:

D=

BA BB JA JB

= PA PB
Keterangan : JA JB BA BB PA PB = Banyaknya peserta kelompok atas = Banyaknya peserta kolompok bawah = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar = Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar = Proposi peserta kelompok atas yang menjawab benar = Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar.

Klasifikasi daya pembeda soal 3.6 0,00 sampai 0,20 : jelek 0,20 sampai 0,40 : cukup 0,40 sampai 0,70 : baik 0,70 sampai 1,00 : baik sekali. (Arikunto, 2003 : 213) Teknik Analisis Data

3.6.1. Uji Normalitas Data Untuk melakukan pengujian hipotesis, digunakan rumus statistik yang hanya berlaku jika data berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Oleh karena itu terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dengan langkah sebagai berikut: Rumus hipotesis
27

Ho : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal H1 : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal Rumus statistik yang digunakan:

=
2 hit i 1

( Oi Ei ) 2
E1

Keterangan : Oi = Frekuensi Pengamatan E1 = Frekuensi yang diharapkan. (Sujana, 1996 : 273). Untuk mencari Oi (frekuensi pengamatan) dan Ei (frekuensi yang diharapkan), dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: Menentukkan rentang kelas interval, Menetukan panjang kelas interval, Menghitung frekuensi pengamatan/frekuensi yang diharapkan. Kriteria Uji : Tolak Ho jika ,
2 hit (2 )( K 3 ) jika ternyata normal, maka dilanjutkan uji 1

kesamaan dua varians. 3.6.2 Uji Homogenitas Varian Rumus Hipotesisnya adalah : Ho :12 = 22 ( kedua sample mempunyai varian yang sama) Ho :12 22 ( kedua sample mempunyai varian yang berbeda) Statistika uji yang dilakukan adalah:
VarianTerb esar VarianTerk ecil
28

Fhit =

Kriteria Uji : Terima Ho jika F (1 ) (n1-1) < F < F (n1 1,n2-1) Tolak Ho, jika F F (v1,v2) Langkah-langkah dalam penelitian:
-

Menyampaikan standar kompetensi 2.2. Menerangkan Uang dalam Perdagangan. Memberi kan model pembelajaran dengan menggunaan followchart atau peta konsep pada kelas pertama,

Tanpa memberikan pembelajaran dengan menggunaan peta konsep pada kelas kedua,

- Melakukan tes formatif pada masing-masing kelas dengan soal yang sama, - Mengoreksi hasil tes siswa, - Mengumpulkan data penelitian dan mengolah data penelitian, - Menganalisis data, menguji hipotesis dan membuat kesimpulan. Untuk menganalisis data penelitian, penulis menggunakan analisis statistik maka data yang dikumpulkan adalah data kuantitatif atau data yang berupa angka-angka dalam rangka menganalisa data untuk menguji hipotesis: 1 Pengaruh pembelajaran dengan menggunaan peta konsep terhadap proses belajar ekonomi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Bandar Lampung tahun pelajaran 2010/2011.

29

Rata-rata hasil belajar ekonomi siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran dengan menggunaan peta konsep lebih tinggi dari rata-rata belajar ekonomi siswa yang tidak menggunakan menggunaan peta konsep pada siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Bandar Lampung tahun pelajaran 2010/2011.

Maka dalam penelitian ini rumus yang digunakan rumus t tes, yaitu:

t hit =

x1 x 2 1 1 S + n1 n2

dengan

S2 =

( n1 1) S12 + ( n2 1) S 22
n1 + n2 2

Keterangan :

x1 = Rata-rata proses belajar ekonomia siswa dengan pembelajaran dengan mengx2 =


n1 = n2 = S1 = S2 = S = gunakan peta konsep Rata-rata proses belajar ekonomi siswa dengan tanpa pembelajaran dengan menggunaan peta konsep dan pembelajaran dengan pembelajaran dengan menggunakan peta konsep Banyaknya siswa dengan pembelajaran dengan menggunaan peta konsep Banyaknya siswa tidak diajarkan dengan pembelajaran dengan menggunaan peta konsep Standar deviasi dari data pembelajaran dengan menggunaan peta konsep Standar deviasi dari data tidak dengan pembelajaran dengan menggunaan peta konsep Standar deviasi gabungan (. Sujana, 1996 : 239).

3.6.3 Uji Kesamaan Dua Rata-rata Untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini digunakan uji kesamaan dua rata-rata yang pasangan hipotesisnya sebagai berikut: H0 1. 1 = 2 (Tidak ada pengaruh pembelajaran dengan menggunaan peta konsep dengan terhadap hasil belajar ekonomi) Ha 1. 1 2 (Ada pengaruh pembelajaran pembelajaran dengan menggunaan peta konsep terhadap hasil belajar ekonomi).

30

Kriteria Uji: Terima Ho jika t 1- < t < t 1- , lain itu Ho ditolak t 1- = Nilai t dari distribusi student dengan peluang (1 ) dengan = taraf signifikan dan derajat kebebasan (db) = n1 + n2 2. (Sudjana, 1996: 239). 3.6.4 Uji Perbedaan Dua Rata-rata Untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini digunakan uji perbedaan dua rata-rata yang pasangan hipotesisnya sebagai berikut: H0 2. 1 2 (Rata-rata hasil belajar ekonomi siswa dengan pembelajaran dengan menggunaan peta konsep lebih rendah dari hasil belajar ekonomi siswa tidak dengan pembelajaran dengan menggunaan peta konsep). Ha 2. 1 > 2 (Rata-rata hasil belajar ekonomi siswa dengan pembelajaran dengan menggunaan peta konsep lebih tinggi dari hasil belajar ekonomi siswa tidak dengan pembelajaran dengan menggunaan peta konsep). Kriteria Uji: Terima H0, jika thit t
1

= nilai t dari daftar deviasi student dengan

peluang (1 ), = taraf sinifikan dengan derajat kebebasan (db) = n1 + n2 -1. (Sudjana, 1996; 235).

31