Anda di halaman 1dari 13

OPERASI TEKNIK KIMIA 1 (UNIT OPERASI) CARA KERJA FLOKULATOR (2206-U) PADA PUSRI II

Oleh : Kelompok : 1 Nama Mahasiswa Wiratama Hutasoit Raka Fajar Nugroho Eca Martissa Wulan Putri Desy Saputri Tantri Destiana Salsabilla Febia Kania Tizana Lorenza NIM 03091403025 03091403037 03091403001 03091403005 03091403008 03091403009 03091403016 03091403038

Asisten Pembimbing: 1. Anggrian Luckas E 2. Mutiara Alytsia Nabilla LABORATORIUM PROSES DAN OPERASI TEKNIK KIMIA JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK 2012

KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat Rahmad dan Hidayah-Nyalah, penulis diberikan kesehatan lahir dan bathin sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi Nilai Praktikum Laboratorium Unit Proses I. Makalah ini membahas tentang Cara Kerja Flokulator (2206-U) Pada Pusri II. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada Kakak Asisten, atas bimbingannyalah penulis dapat membuat dan menyusun makalah ini dengan baik dan benar. Penulis pun mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangan penulisan dalam penyusunan makalah ini, dan pada Tuhan penulis mohon ampun. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.

Palembang, Mei 2012

Penyusun

DAFTAR ISI Halaman Judul Kata Pengantar Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan 1.3 Manfaat 1.4 Batasan Masalah BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 2.2 2.3 2.4 BAB III PEMBAHASAN BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan 4.2 Saran DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Unit utilitas (offsite) pada PT PUSRI merupakan unit pendukung yang bertugas mempersiapkan kebutuhan operasional pabrik ammonia dan urea, khususnya yang berkaitan dengan penyediaan bahan baku dan bahan pembantu. Sumber bahan baku utilitas adalah udara, air dan gas bumi. Air diperoleh dari sungai Musi, sedangkan udara dari lingkungan sekitar pabrik dan gas bumi dari Pertamina. Pada sistem utilitas di PT PUSRI salah satu prosesnya yaitu water treatment. Water Treatment merupakan unit pengolahan air untuk mendapatkan air bersih (filter water) dengan bahan baku air Sungai Musi. Unit ini bertugas menyediakan kebutuhan air bersih untuk keperluan pabrik,kantor dan perumahan. Di kantor dan perumahan, produk yang berupa air bersih digunakan sebagai sanitasi sehari-hari, sedangkan di pabrik dipakai sebagai air pendingin, air umpan boiler bertekanan tinggi, bahan baku air demin dan air pemadam api. Pada proses water treatment terdiri dari beberapa proses seperti penyaringan zat padat yang terapung / filtrasin , penginjeksian zat zat kimia, flocculator (2206U), clarifier (2201-U), clear well (2204-F), sand filter (2202-UA sampai 2202-UE) , filtered water storage tank. Salah satu proses yang paling penting adalah proses di flokulator dimana proses ini menggunakan prinsip kerja dari fluid mixing. Flokulator merupakan indikator pertama baik atau tidaknya kualitas air yang akan dihasilkan. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa fungsi dan kegunaan dari flokulator sangatlah penting dalam pengolahan air. Oleh sebab itu, untuk mengetahui aplikasi dari fluid mixing yang diterapkan dalam dunia industri, pada makalah ini akan dibahas mengenai cara kerja dari flokulator (2206-U) yang ada di PUSRI II.

1.2 Tujuan 1. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pada flokulator. 2. Untuk mengetahui cara kerja flokulator pada Pusri II. 3. Untuk mengetahui water treatment pada Pusri II. 1.3 Manfaat 1. Mengetahui kelebihan dan kekurangan pada flokulator. 2. Mengetahui cara kerja flokulator pada Pusri II. 3. Mengetahui water treatment pada Pusri II. 1.4 Batasan Masalah Permasalahan yang ditinjau pada makalah ini adalah cara kerja dari flokulator (2206-U) pada Pusri II.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Pabrik PT PUSRI Pusat Produksi PT Pupuk Sriwidjaj a (PUSRI) adalah suatu kawasan industri petrokimia di Kota Palembang yang memproduksi ammonia dan pupuk urea prill. Pusat produksi tersebut memiliki empat unit pabrik. Kapasitas produksi total keempat unit pabrik sebesar 4.276 ton ammonia/hari dan 6.900 ton pupuk urea prill/hari. Di samping produk utama dihasilkan juga produk samping berupa tenaga listrik, air bersih dan air boiler (demineralized water), uap berbagai tekanan, gas-gas nitrogen, oksigen, karbon dioksida, dan gas-gas lainnya. Di dalam proses pengolahan air, sedimentasi diartikan sebagai

pemisahan material padat yang terkandung dalam limbah cair oleh gaya gravitasi. Pada umumnya proses sedimentasi dilakukan setelah proses k o a g u l a s i d a n f l o k u l a s i , b e r t u j u a n memperbesar ukuran partikel padatan sehingga menjadi lebih berat. Biasanya material padat yang dipisahkan mempunyai densitas lebih besar daripada air.

2.2 Water Treatment Water treatment menggambarkan proses-proses yang digunakan untuk membuat air lebih dapat diterima untuk penggunaan akhir yang diinginkan. Ini dapat termasuk digunakan sebagai air minum , proses industri, medis dan penggunaan lainnya. Tujuan dari semua proses pengolahan air adalah untuk menghapus yang ada kontaminan dalam air, atau mengurangi konsentrasi kontaminan tersebut sehingga air menjadi cocok untuk penggunaan akhir yang diinginkan-nya. Salah satu penggunaan tersebut adalah kembali air yang telah digunakan kembali ke lingkungan alam tanpa dampak ekologis yang merugikan.

Proses yang terlibat dalam pengolahan air minum untuk tujuan pemisahan padatan dapat menggunakan proses fisik seperti menetap dan penyaringan , dan proses kimia seperti desinfeksi dan koagulasi . Proses biologis juga digunakan dalam pengobatan air limbah dan proses-proses mungkin termasuk, misalnya, laguna aerasi , lumpur aktif atau filter pasir lambat . Dua proses utama pengolahan air industri boiler adalah pengolahan air dan pengolahan air pendingin. Kurangnya pengolahan air yang tepat dapat menyebabkan reaksi padatan dan bakteri dalam pekerjaan pipa dan perumahan boiler. Steam boiler bisa menderita skala atau korosi ketika diobati menyebabkan mesin lemah dan berbahaya, deposito skala dapat berarti bahan bakar tambahan diperlukan untuk memanaskan tingkat yang sama air karena turunnya efisiensi. Kualitas air kotor yang buruk dapat menjadi tempat berkembang biak bagi bakteri seperti Legionella menyebabkan risiko bagi kesehatan masyarakat. Dengan perawatan yang tepat, proporsi yang signifikan dari industri di lokasi air limbah mungkin dapat digunakan kembali. Hal ini dapat menghemat uang dalam tiga cara: biaya lebih rendah untuk konsumsi air lebih rendah, biaya rendah untuk volume yang lebih kecil dari air efluen yang dibuang dan biaya energi yang lebih rendah karena pemulihan panas dalam air limbah daur ulang. Korosi pada boiler tekanan rendah dapat disebabkan oleh oksigen terlarut, keasaman dan alkalinitas yang berlebihan. Pengolahan air sehingga harus menghapus oksigen terlarut dan memelihara air boiler dengan pH yang sesuai dan tingkat alkalinitas. Tanpa pengolahan air yang efektif, sistem air pendingin dapat mengalami korosi pembentukan kerak, dan fouling dan dapat menjadi tempat berkembang biak bagi bakteri berbahaya seperti yang menyebabkan Penyakit legiuner. Hal ini mengurangi efisiensi, kehidupan tanaman lebih pendek dan membuat operasi tidak dapat diandalkan dan tidak aman.

2.3 Flokulator Flokulator adalah alat yang digunakan untuk flokulasi. Pada hakekatnya flokulator adalah kombinasi anatara pencampuran dan pengadukan sehingga flokflok halus yang terbetuk pada bak pencampur cepat akan saling bertumbukan dengan paartikel-partikel kotoran atau flok-flok yang lain sehingga terjadi gumpalangumpalan flok yang dan stabil. Flokulasi adalah suatu proses penggabungan partikelpartikel menjadi satu sehingga ukurannya berubah menjadi besar, agar dapat disaring atau diendapkan. Fungsi flokulator adalah untuk pembentukan flok-flok agar menjadi besar dan stabil sehingga dapat diendapkan dengan mudah atau disaring. Untuk proses pengendapan dan penyaringan maka pertikel-partikel kotoran halus maupun koloid yang ada dalam air baku harus digumpalkan menjadi flok-flok yang cukup besar dan kuat untuk dapat diendapan dan disaring. Flokulator terbagi menjadi dua macam: 1) Paddle flocculator ini termasuk jenis untuk instalasi berkapasitas sangat besar dengan kualitas air permukaan yang fluktuatif. 2) Pipe flocculator ini termsuk jenis yang jarang digunakan di PDAM atau malah belum ada yang menerapkannya. Ada berbagai macam tipe flokulator yang sekarang digunakan. Pada paper ini akan dibahas empat tipe yaitu flokulator gravel, baffle, mekanik horizontal, dan mekanik vertical. Tipe gravel dan baffle biasanya digunakan untuk pabrik yang kecil sedangkan tipe mekanik digunakan pada pabrik yang besar. Pada instalasi kecil dan menengah (sampai 200 L/detik), tipe flokulator yang paling banyak digunakan di negara-negara berkembang adalah tipe flokulator baffle dan flokulator Alabama jet action. Flokulator Alabama diperkenalkan di Brazil selama perang dunia ke II. Untuk pabrik yang kecil, flokulator gravel adalah pilihan yang baik. Ukuran dan bentuk dari kolam flokulasi secara umum ditentukan oleh tipe flokulator yang dipilih dan tipe proses sedimentasi yang digunakan. Sebagai contoh, jika flokulator mekanik dipasangkan dengan kolam sedimentasi aliran horizontal

rectangular, maka lebar dan kedalaman kolam flokulasi harus sesuai dengan lebar dan kedalaman kolam sedimentasi. Pada semua kasus, ukuran kolam flokulasi ditentukan
oleh reaksi yang diperlukan atau waktu tahan (detention time), yang ditentukan melalui pengujian. Meskipun tidak ada hubungan teoritik antara area kolam dan kedalaman air untuk flokulasi yang optimal, tangki sebaiknya tidak lebih dalam dari 5 m. Kolam dengan kedalaman lebih besar dari 5 m sering terjadi pola aliran yang tidak stabil dan flokulasi yang buruk.

Kelebihan dan Kelemahan Kelemahan utama dari flokulator hidraulik antara lain: 1) fleksibilitas yang kecil dalam merespon perubahan mutu air baku 2) parameter hidraulik adalah fungsi dari aliran dan tidak dapat dirubah dalam proses, 3) head loss dapat berpengaruh nyata 4) pembersihan dapat menjadi sulit kecuali jika disain menyediakan cara pembersihan yang baik. Ada suatu paradoks untuk penggunaan dari tipe-tipe tersebut. Ketika tipe hidraulik yang lebih sederhana lebih disukai untuk penggunaan pada pabrik skala kecil dimana keterampilan operator tidak begitu baik, terdapat potensi head loss yang besar untuk aplikasi pada pabrik skala besar. Untuk Flokulator baffle: kekurangan fleksibilitas untuk intensitas

pengadukan; head loss tinggi jika baffle atas dan bawah digunakan; beberapa laju alir pabrik mungkin bervariasi pada selang 1:4 dalam satu hari proses sehingga pencapaian pencampuran yang baik pada aliran yang digunakan menjadi sulit. Flokulator mekanik vertical: banyak unit dibutuhkan pada pabrik besar; biaya capital yang tinggi untuk papan pereduksi kecepatan., Flokulator mekanik horizontal: instalasi dan pemeliharaan yang tepat sangat diperlukan; sulit untuk meningkatkan energi input; banyak masalah dengan penjajaran tangkai. Masalah utama dari

flokulator gravel adalah fouling, baik oleh intersepsi flok ataupun pertumbuhan biologis dari media.

Spesifikasi Atau Bagian-Bagian Dari Alat Flokulator Flokulator pada prinsipnya bertugas untuk melakukan pengadukan lambat agar jangan sampai mikro flok yang sudah menggumpal pecah kembali menjadi bentuk semula, maka perlu adanya desain khusus bentuk flokulator tersebut. Flokulator ada 3 macam bentuknya. Yang pertama yakni Flokulator secara pneumatic misalnya, dirancang dengan cara mensuplai udara ke dalam bak flokulasi, cara kerjanya sama seperti yang dilakukan pada aerasi, bedanya suplai udara yang diberikan ke bak flokulasi tidak sebesar pada bak aerasi. Jenis flokulator ini jarang sekali kita temukan saat ini, tetapi yang paling sering adalah flokulator secara mekanis. Yang kedua yaitu Flokulator secara mekanis paling banyak kita jumpai saat ini, bentuk serta desainnyapun bermacam-macam.Prinsip kerja jenis flokulator ini adalah dengan cara pengadukan (mixing), karena bentuknya yang bermacammacam inilah maka bentuk ini sangat familiar bagi seorang engineer. Bentuk yang terakhir adalah dengan Baffle, jika dibandingkan dengan 2 jenis flokulator di atas, maka jenis flokulator ini jarang atau bahkan tidak pernah kita jumpai sekarang ini, pasalnya sistem Baffle mempunyai tingkat velositas G dan GT sangat terbatas.

Cara kerja Alat Flokulator Cara pengadukan dalam proses flokulasi ada dua cara yaitu pengadukan berdasarkan energi yang ada dalam air itu sendiri dan pengadukan berdasarkan energy mekanik dari luar. Hal-hal yang perlu diperhatikan tentang susunan dan bentuk bak flokulator yakni antara lain: 1) Bak flokulator harus diletakkan di antara bak pencampur cepat dan bak pengendapan dan lebih baik lagi jika antara bak flokulator menyatu atau bergabung jadi satu. 2) Untuk bak flokulator yang standar (bentuk persegi pamjang), harus dilengkapi dengan peralatan pengadukan atau aliran dengan sekat (baffle flow) yang berfungsi untuk mendapatkan hasil yang optimal. 3) Kecepatan pengadukan harus dapat diatur atau dikontrol agar dapat disesuaikan dengan kondisi kualitas air bakunya. 4) Keccepatan pengadukan (kecepatan putar) untuk flokulator dengan pengadukan dari luar antara 15-18 cm/detik, sedangkan untuk flokulator tipe aliran dengan sekat, kecepatan rata-rata dalam bak antara 15-30 cm/detik. 5) Bentuk dan konstruksi bak flokulator harus sedemikian rupa agar terhindar terjadinya aliran singkat atau aliran stagnan (diam). 6) Baik flokulator harus dilengkapi dengan peralatan untuk penghilangan lumpur atau lebih atau buih yang mungkin terjadi. Berdasarkan cara kerjanya flokulator dibagi menjadi tiga yaitu: 1) Flokulator pneumatic yakni cara kerjanya sama seperti yang dilakukan pada aerasi, bedanya suplai udara yang diberikan ke bak flokulasi tidak sebesar pada bak aerasi. 2) Flokulator mekanis yakni cara kerjanya dengan cara pengadukan

(mixing), karena bentuknya yang bermacam-macam inilah maka bentuk ini sangat familiar bagi seorang engineer.

3) Flokulator baffle yakni cara kerjanya air limbah berjalan dengan cara mengitari sekat-sekat yang ada.

Berikut adalah tahap pemisahan flok dengan cairan flok yang terbentuk harus dipisahkan dengan cairannya, yaitu dengan cara pengendapan atau pengapungan. Bila flok yang terbentuk dipisahkan dengan cara pengendapan, maka dapat digunakan alat klarifier, sedangkan bila flok yang terjadi diapungkan dengan menggunakan gelembung udara, maka flok dapat diambil dengan menggunakan skimmer. Image Klarifier berfungsi sebagai tempat pemisahan flok dari cairannya. Dalam klarifier diharapkan lumpur benar-benar dapat diendapkan sehingga tidak terbawa oleh aliran air limbah yang keluar dari klarifier, untuk itu diperlukan perencanaan pembuatan klarifier yang akurat. Kedalaman klarifier dipengaruhi oleh diameter klarifier yang bersangkutan. Misalkan dibuat klarifier dengan diameter lebih kecil dari 12m, diperlukan kedalaman air dalam klarifirer minimal sebesar 3,0 m.

2.4 Flokulasi Tujuan flokulasi yaitu untuk menyiapkan peningkatan banyaknya kontak antara partikel-partikel koagulasi yang tersuspensi di dalam air dengan pengadukan yang cukup. Selama pengadukan, partikel-partikel bersatu, menghasilkan bentuk yang lebih besar dan lebih mudah untuk menghilangkan flok-floknya. Flokulasi limbah cair juga dapat dipertimbangkan untuk : 1) meningkatkan penghilangan padatan tersuspensi dan BOD di fasilitas pengendapan primer 2) mengkondisikan limbah cair yang mengandung limbah industri tertentu 3) meningkatkan kinerja tangki pengendapan sekunder melanjutkan proses sludge teraktivasi 4) sebagai langkah pretreatment untuk filtrasi effluent sekunder

Terdapat dua tipe flokulasi, mikroflokulasi dan makroflokulasi. Perbedaan dasar dari kedua tipe tersebut yaitu berdasarkan pada ukuran partikelnya. Mikroflokulasi (dikenal juga sebagai flokulasi perikinetik) adalah terminologi yang digunakan untuk agregasi partikel-partikel oleh adanya gerakan acak panas dari molekul-molekul fluida. Gerakan acak panas dari molekul-molekul fluida tersebut disebut sebagai gerakan brown (brownian motion) yang diperlihatkan pada Gambar 3. Mikroflokulasi signifikan untuk partikel-partikel yang berukuran dari 0.001 sampai 1 m. Makroflokulasi (dikenal juga sebagai flokulasi ortokinetik) adalah terminologi yang digunakan untuk agregasi partikel-partikel lebih besar dari 1 sampai 2 m. Makroflokulasi dapat terjadi dengan adanya gradien kecepatan dan pengendapan yangberbeda.
Flokulasi yang disebabkan oleh gradien kecepatan menjadi sia-sia sampai partikel koloid mencapai ukuran 1 atau 2 m melalui kontak-kontak yang dihasilkan oleh gerak brown. Sebagai contoh, makroflokulasi tidak dapat digunakan untuk mengagregasi virus yang ukurannya 0.1 m atau kurang dari itu, sampai mereka dimikroflokulasi atau diadsorpsi dalam flok yang lebih besar.