Anda di halaman 1dari 2

Fisiologi kesadaran : Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan,

tingkat kesadaran dibedakan mjadi : 1. Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.. 2. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh. 3. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal. 4. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal. 5. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri. 6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya). Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala. Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemiparese serebral atau sistem aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian). Memahami sistem saraf: S. Saraf adl salah 1 dr 2 sistem regulatorik utama tubuh; yg lainnya adl sistem endokrin. Sel-sel peka rangsang pada s.saraf dibentuk olh anyaman interaktif kompleks 3 tipe fungsional

dasar sel saraf neuron aferen, neuron eferen, dan antarneuron. SSP terdiri dari otak & medulla spinalis, yg menerima masukan mengenai lingkungan eksternal & internal dari neuron aferen. SSP menyortir & memproses masukan ini, memulai pengaktifan neuron2 eferen yg membawa instruksi ke kelenjar / otot utk melaksanakan respons yg diinginkan, contoh: sekresi / gerakan. Banyak dri aktivitas yg dikontrol oleh saraf ini ditujukan utk mempertahankan homeostasis. Secara umum sistem saraf bekerja melalui sinyal listrik (potensial aksi) utk mengontrol respons tubuh. Gangguan Kesadaran: P dimulai dg gangguan fungsi diensefalon, yg ditandai dg kebuntuan, kebingungan, letargi & akhirnya stupor ketika indvidu silit terjaga. Penurunan kesadaran yg berkelanjutan trjd pda disfungsi otak tengah & ditandai dg semakin dlmnya keadaan stupor. Akhirnya dpat terjadi disfungsi medulla & pons yg meny koma. Penurunan progresig kesadaran ini digambarkan sbgai perkembangan rostral-kaudal. D Perubahan respons pupil: pupil pinpoint yg tmpak overdosis opiate, dilatasi&fuksasi pupil bilateral pada overdosis barbiturate. Perubahan gerakan mata: gangguan pusat otak yg lebih tinggi menimbulkan gerakan mata refleksif, yg dsb dolls head movement. Buku Saku Patofisiologi Corwin Nyeri Kepala: Sakit kepala primer merujuk pd keadaan yg sesuai dg kriteria diagnosis utk salah 1 dr 3 kategori mayor sakit kepala; migraine, tipe tension, sakit kepala cluster. P MIGRAIN sblm sakit terdapat penurunan aliran darah (oligemia) & mengakibatkan depresi kortikal yg menyebar menyeberangi hemi-korteks dg kecepatan 2 mm 3 mm / menit. Mungkin/tidak berhubungan dg gejala aura meliputi scintillating scotoma, parestesia, pandangan kabur, / tanda neurologis fokal lainnya. Penurunan serotonin (tmpak penting dlm P migrain). Agonis serotonin menyb vasokonstriksi,

mengurangi inflamasi neurogenic, dan menurunkan transmisi nyeri melalui sistem trigeminus. TENSION diperkirakan adanya spasme otot perikranium, trdpt peningkatan aktivitas elektromiografi pd otot perikranium, penurunan aliran darah & iskemia otot. Kadar serotonin pd penderita T kronis berkurang & ada peningkatan oksida SSP CLUSTER disfungsi hipotalamus mengakibatkan perubahan respons kemoreseptor trhdp hipoksemia, gangguan autoregulasi, & disfungsi neuroendokrin. D M : sakit kepala unilateral (smpai 40%) yg berdenyut dg intensitas berat berhub dg mual, fotofobia, dan diperberat dg aktivitas fisik dr 4-72 jam. + riwayat keluarga T: Sakit kepala ringan-sedang tdk berdenyut episodic / kronik dg atau tanpa nyeri tekan otot perikranium leher, yg bilateral bila tdk diperberat dg aktivitas fisik rutin. Mual, fotophobia, fonofobia. C: sakit kepala peroprbital unilateral yg menyiksa disertai injeksi konjongtiva, lakrimasi, hidung tersumbat & pilek, wajah berkeringat, miosis, dan ptosis, tjd smpe 8x sehari (15-180 mnit), sering membangunkan pasien dr tidur; umum pda pria. Pencetus: alcohol, histamine, vasodilator Tatalaksana M: hindari faktor pencetus, modifiksi diet (-kafein, makanan kaya bumbu, coklat), jadwal tidur teratur, no alcohol, maks mekanisme koping stress, hindari kontrasepsi oral MIGRAIN AKUT: Triptan (sumatriptan, zolmitriptan, naratriptan, rizatriptan) cepat & efektif: sampai 80% respons ; Dihydroergotamine (DHE) injeksi intravena (IV) / intramuscular (IM) cepat&efektif: sampai 90% respons ; Ergotamine (umumnya di kombinasikan dg cafein) <50% respons, jg meny resiko spasme coroner yg bermakna ; Anti inflamasi non steroid (ibuprofen, ketorolac, dll) utk sakit kepala ringan-sedang ; Steroid: dexamethasone utk sakit kepala sangat berat ; Lain2: lidokain intranasal, klorpromazin / proklorperazin intravena, narkotika. Aplikasi Klinis Patofisiologi, EGC, ed. 2, 2008.