Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG Sejumlah mekanisme trauma tumpul dan tajam wajah dapat menyebabkan laserasi kelopak mata. Bahkan benda tumpul yang tampaknya tidak berbahaya di tempat kerja dapat menyebabkan laserasi kelopak mata. Cedera yang melibatkan kelopak mata dan daerah periorbital umumnya terjadi setelah trauma tumpul atau penetrasi pada wajah. Luka tersebut dapat bervariasi dari lecet kulit sederhana sampai kasus yang lebih kompleks yang menyebabkan kehilangan jaringan yang luas serta fraktur tulang-tulang wajah. Pada saat awal pemeriksaan yang menjadi prioritas utama adalah memperhatikan faktor yang mengancam jiwa secara sistemik. Setelah kondisi yang dapat mengancam jiwa stabil, perhatian dapat diarahkan ke luka yang spesifik pada adnexa okular. Pada proses pengembalian struktur dan fungsi harus tetap mengarah pada prinsip-prinsip estetika dasar yang menjadi perhatian utama dari ahli bedah rekonstruksi. Kejadian cedera mata dalam trauma kraniofasial tinggi, berkisar antara 15 dan 60% dalam berbagai penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.ANATOMI 2.5.1. PALPEBRA Kelopak mata berfungsi sebagai pelindung yang menutupi mata. Palpebra superior sangat tipis sedangkan palpebra inferior sedikit lebih tebal. Muskulus orbicularis berfungsi sebagai sfingter pada kelopak mata. Muskulus ini diinervasi oleh cabang temporal dan zygomatic dari syaraf wajah. Otot ini dibagi menjadi tiga bagian: pretarsal, preseptal, dan preorbital.

Gambar 1.1 Palpebra potongan sagital

Septum orbita merupakan lembaran tipis yang merupakan jaringan ikat pada kedua kelopak mata atas dan bawah. Bagian ini berasal dari periosteum dari orbital rims. Pada palpebra superior, septum meluas ke inferior mencapai
2

aponeurosis levator tepat di atas perbatasan tarsal superior. Pada palpebra inferior, septum meluas ke superior untuk sampai ke perbatasan tarsal inferior. Septum berfungsi sebagai penghalang antara orbita dan kulit kelopak mata. Bagian anterior orbital fat terletak di profundus dari septum orbital. Pada palpebra superior, lemak preaponeurotic terletak antara septum dan aponeurosis levator. Aponeurosis levator pada palpebra superior merupakan tendon dari muskulus levator palpebrae superior. Levator ini berasal dari periorbita yang merupakan bagian posterior dari orbita dan berjalan di anterior superior dari muskulus rektus superior. Muskulus ini berubah menjadi tendon sekitar 15 mm di atas tarsal plate superior kemuadian serat dari muskulus ini berhubungan dengan serat dari orbicularis oculi membentuk lipatan palpebra superior. Serat juga meluas ke tarsus inferior untuk memungkinkan elevasi palpebra. Muller's sympathetic muscle muncul dari serat-serat levator dan masuk ke dalam perbatasan tarsal superior. Fascia capsulopalpebral pada palpebra inferior analog dengan

aponeurosis levator pada palpebra superior. Bagian ini berasal dari muskulus rektus inferior dan menempel ke perbatasan tarsal inferior. Muskulus tarsal inferior palpebra inferior sama dengan muskulus Muller pada palpebra superior. Fascia capsulopalpebral dan muskulus tarsal inferior disebut sebagai retraktor palpebra inferior. Mereka berfungsi untuk menarik palpebra lebih ke inferior dan posterior dengan melirik ke bawah. Tarsal plate terbuat dari jaringan berserat padat yang membentuk struktur dari kelopak mata. Ukuran tebalnya sekitar 1mm dan panjang horisontalnya 25mm. Secara vertikal, tarsus superior berukuran sekitar 10mm sedangkan tarsus inferior biasanya berukuran 5mm. Setiap tarsus mengandung sekitar 30 kelenjar Meibo. Konjungtiva palpebral adalah selaput lendir tipis transparan yang melapisi permukaan belakang masing-masing kelopak mata. Konjungtiva palpebral melekat pada Tarsal plate dan tidak memerlukan penjahitan jika tarsus tersebut diperbaiki. Margo palpebra dibagi menjadi bagian ciliary dan bagian lakrimal. Bagian ciliary merupakan bagian bantalan yang memanjang dari sudut kantus

lateral ke punctum lakrimal. Bagian lakrimal meluas dari punctum ke sudut kantus medial. Di bagian ciliary, bulu mata menonjol dari tepi anterior margin. Margo palpebra (dari depan ke belakang) terdiri dari: (1)Anterior Lid Margin; (2) Cilia; (3) Intermarginal space; (4) Gray line = peralihan antara kulit dan mukosa (penting untuk insisi); (5) Muara Glandula Meibom; (6) Posterior Lid Margin.

2.5.2. SISTEM LAKRIMALIS Kelenjar lakrimal terletak di kuadran superolateral anterior dari orbita di fosa lakrimalis. Air mata mencapai hidung karena adanya tarikan ke dalam punctum dari canaliculi oleh tekanan negatif. Tekanan ini dihasilkan oleh kontraksi otot-otot orbiculalis oculi preseptal saat berkedip. Sistem lakrimal ekskretoris terdiri dari canaliculi superior dan inferior, sakus lakrimalis, dan duktus nasolacrimalis. Canaliculi terdiri dari bagian vertikal yang pendek, bagian horizontal, dan area gabungan yang dikenal sebagai common canaliculus. Bagian vertikal yang pendek biasanya berukuran sekitar 2mm sedangkan bagian horizontal berukuran 6-8mm. Sakus lakrimalis dibagi menjadi fundus dan corpus. Fundus terletak bagian atas canaliculis (4mm) dan corpus terletak bagian bawah canaliculis (10mm). Duktus nasolacrimal berjalan di kanal tulang sepanjang 12-15mm ke arah inferior dan posterior sebelum bermuara ke meatus inferior.

Gambar 1.2 Sistem lakrimalis

2.2. BATASAN Berbagai mekanisme trauma seperti kecelakaan mobil, perkelahian, gigitan binatang, dan berbagai mekanisme lain dapat merusak kelopak mata dan sistem drainase air mata. Sedangakan yang disebut sebagai laserasi kelopak mata merupakan rudapaksa pada kelopak mata akibat benda tajam yang mengakibatkan luka robek/laserasi.

2.3. KLASIFIKASI Kerusakan pada kelopak mata diklasifikasikan berdasarkan ukuran dan lokasi: Untuk pasien muda (tight lids) o o o Small - 25-35% Medium - 35-45% Large - > 55%

Untuk pasien yang lebih tua (lax lids) o o o Small - 35-45% Medium - 45-55% Large - > 65%

Kerusakan khas mungkin melibatkan 50% dari bagian tengah kelopak mata atas. Keterlibatan margin kelopak mata harus diperhatikan. Jika margin kelopak mata terhindar, penutupan dengan flap lokal atau skin graft mungkin sudah cukup. Setelah margin terlibat, perbaikan bedah harus mengembalikan integritas dari margin kelopak mata.

2.4. PATOFISIOLOGI 2.5.1. TRAUMA TUMPUL Echimosis dan edema termasuk dalam manifestasi klinis trauma tumpul. Pasien membutuhkan evaluasi biomikroskopik dan pemeriksaan fundus dengan pupil yang dilebarkan untuk menyingkirkan permasalahan yang terkain kelainan intraokular. CT scan di perlukan untuk mengetahui adanya fraktur.

Gambar 1.3 Echimosis dan edema akibat trauma tumpul

2.5.2. TRAUMA BENDA TAJAM Pengetahuan yang mendetail tentang anatomi palpebra membantu dokter ahli bedah untuk memperbaiki trauma tajam palpebra. Secara umum, penanganan trauma tajam palpebra tergantung kedalaman dan lokasi cedera.

2.5.3. LASERASI YANG TIDAK MELIBATKAN MARGO PALPEBRA Laserasi pada palpebra superficial hanya terdapat pada kulit dan otot orbicularis biasanya hanya memerlukan jahitan pada kulitnya saja. Untuk menghindari sikatrik yang tidak di kehendaki, harus mengikuti prinsip dasar tindakan bedah plastik. Hal ini termasuk debridemant luka yang sifatnya konservatif, menggunakan benang dengan ukuran yang kecil. Menyatukan tepi luka sesegera mungkin dan melakukan pengangkatan jahitan. Adanya lemak orbita di dalam luka menyatakan bahwa septum orbita telah terkena. Bila terdapat benda asing di daerah superfisial harus dicari sebelum laserasi pada palbebra di jahit. Melakukan irigasi untuk menghilangkan kontaminasi material di dalam luka. Prolaps lemak orbita pada palpebra superior merupakan indikasi untuk melakukan eksplorasi, laserasi pada otot levator atau aponeurosis harus dengan hati-hati melakukan perbaikan untuk menghindari ptosis post operasi.

Gambar 1.4 Laserasi palpebra tanpa melibatkan margo palpebra

2.5.4. LASERASI PADA MARGO PALPEBRA Laserasi pada margo palpebra memerlukan jahitan untuk menghindari tepi luka yang tidak baik. Banyak teknik teknik sudah diperkenalkan tapi pada prinsip pentingnya adalah aproksimasi tarsal harus dibuat dalam garis lurus.

Gambar 1.5 Laserasi pada margo palpebra

2.5.5. TRAUMA PADA JARINGAN LUNAK KANTUS Trauma pada medial atau lateral kantus pada umumnya disebabkan oleh adanya tarikan horizontal pada palpebra menyebabkan avulsi dari palpebra pada titik lemah medius atau lateral dari tendon kantus. Avulsi dari tendon kantus medial harus dicurigai bila terjadi di sekitar medial tendon kantus dan telekantus. Harus diperhatikan juga posterior dari tendon sampai dengan posterior kelenjar lakrimalis. Penanganan avulsi dari tendon medial kantus tergantung pada jenis avulsinya. Jika pada bagian atas atau bagian bawah terjadi avulsi tetapi pada bagian posterior masih intake avulsi dapat di jahit. Jika terdapat avulsi pada posterior tetapi tidak ada fracture pada nasoorbital tendon yang mengalami avulsi harus di lakukan wirering melalui lubang kecil di dalam kelenjar lakrimal ipisi lateral posterior. Jika avulsi tendon disertai dengan fraktur nasoorbital, wirering transnasal atau platting diperlukan setelah reduksi dari fraktur. 2.5.6. GIGITAN ANJING DAN MANUSIA Robekan dan trauma remuk terjadi sekunder dari gigitan anjing atau manusia. Laserasi palpebra pada sebagian kulit luar dan kulit secara menyeluruh, avulsi kantus, laserasi kanalikulus paling sering terjadi. Trauma pada wajah dan intracranial mungkin dapat terjadi terutama pada bayi.
8

Irigasi dan penutupan luka secara dini harus segera dilakukan dan kemungkinan terjadinya tetanus dan rabies harus dipikirkan serta memerlukan observasi, direkomendasikan untuk pemberian antibiotik.

Gambar 1.6 Laserasi akibat gigitan anjing 2.5.7. LUKA BAKAR PADA PALPEBRA Pada umumnya luka bakar pada palpebra terjadi pada pasien-pasien yang mengalami luka bakar yang luas. Sering terjadi pada pasien dengan keadaan setengah sadar atau di bawah pengaruh sedatif yang berat dan memerlukan perlindungan pada mata untuk mencegah ekspose kornea, ulserasi dan infeksi. Pemberian antibiotik tetes dan salep serta pelembab. Evaluasi secara rutin pada palpebra merupakan penanganan dini pada pasien-pasien tersebut.

2.5. PENATALAKSANAAN 2.5.1. EVALUASI DIAGNOSTIK A. Stabilisasi Sistemik Evaluasi luka periorbital dimulai setelah pasien trauma telah stabil dan cedera yang mengancam hidup ditangani. Peran dokter mata dalam evaluasi dan manajemen adalah sangat penting - harus ada komunikasi yang baik antara tim trauma dan dokter mata. PREOPERATIVE DAN PENDEKATAN

B. Riwayat Penyakit Sebuah riwayat penyakit yang lengkap diperoleh untuk menentukan waktu kejadian dan mekanisme cedera. Untuk anak-anak, harus

dipertimbangkan kemungkinan adanya kekerasan pada anak sebagai penyebab cedera mata dan periorbital. Adanya anamnesa tentang partikel proyektil berkecepatan tinggi mungkin memerlukan studi pencitraan yang tepat untuk menentukan adanya benda asing intraokuler atau intraorbital. Gigitan hewan dan gigitan manusia harus diberi perhatian khusus dan dikelola sesuai dengan pemberian antibiotik yang tepat. Pada bagian yang cedera diperiksa dengan hatihati untuk setiap jaringan yang hilang, dan setiap jaringan yang teramputasi yang ditemukan di lokasi kejadian diawetkan dan ditempatkan pada es secepat mungkin. Dalam kebanyakan kasus jaringan ini dapat dijahit kembali ke lokasi anatomi yang tepat. C. Pemeriksaan Oftalmologi Penilaian ketajaman visual adalah wajib dan dilakukan sebelum setiap upaya rekonstruksi. Periksa keadaan pupil, jika didapatkan kerusakan relatif pada afferent pupillary, potensi hasil visual akan buruk dan harus didiskusikan dengan pasien sebelum dilakukan bedah rekonstruksi. Otot-otot luar mata dievaluasi dan jika didapatkan adanya diplopia harus tercatat sebelum operasi. Pemeriksaan eksternal meliputi penilaian lengkap tulang tulang wajah, dengan penekanan khusus pada wilayah periorbital. Palpasi yang jelas menunjukkan adanya krepitasi, atau Pengukuran baseline unstable bone memerlukan evaluasi radiologi. proyeksi bola mata didokumentasikan dengan

exophthalmometry Hertel karena enophthalmos merupakan sequela lambat yang umum terjadi pada trauma orbital. Posisi kelopak mata, fungsi otot orbicularis, dan setiap bukti lagophthalmos dicatat. Pengukuran jarak intercanthal dan evaluasi integritas dari tendon canthal juga dilakukan, karena dapat terjadi dehiscence tendon traumatis dan telecanthus. D. Evaluasi Laboratorium dan Radiografi Biasanya, evaluasi laboratorium yang tepat dilakukan oleh tim ruang gawat darurat. Hitung darah lengkap dan analisis kimia serum seringkali diperlukan untuk tujuan anestesi. Pemeriksaan faal hemostasis dapat membantu

10

dalam kasus-kasus tertentu, dan pemeriksaan kimia darah untuk alkohol dan zatzat beracun lainnya diperlukan dalam beberapa kasus. Ketika kecurigaan klinis patah tulang orbital tinggi, pencitraan yang sesuai dengan orbita, terutama computed tomography, harus diusulkan. Ultrasonografi bola mata, otot luar mata, saraf optik, dan orbita kadang-kadang bisa menjadi pemeriksaan tambahan yang penting. E. Profilaksis Infeksi Pencegahan infeksi merupakan hal yang utama. Data riwayat imunisasi tetanus lengkap harus diperoleh dan akan dilakukan manajemen yang tepat pada pasien tidak mendapat imunisasi atau tidak tahu tentang riwayat imunisasinya. Jika diketahui atau dicurigai adanya gigitan hewan, semua informasi tentang bagian yang cedera , pemilik hewan, dan setiap perilaku hewan yang abnormal harus diperoleh dan departemen perawatan hewan setempat diberitahu. Ikuti protokol standar rabies. Gigitan kucing, dan bahkan luka yang disebabkan oleh cakar kucing, merupakan resiko tinggi infeksi. Profilaksis yang sesuai termasuk penisilin VK (phenoxymethylpenicillin) 500mg sehari selama 5-7hari. Pada pasien alergi penisilin maka dapat diberikan tetrasiklin. Luka gigitan manusia memerlukan pemberian antibiotik yang tepat, seperti penisilin. F. Timing of Repair Waktu perbaikan ini ditentukan oleh beberapa faktor. Setiap upaya harus dilakukan untuk merekonstruksi jaringan terluka sesegera mungkin setelah pasien telah sepenuhnya dievaluasi dan data pemeriksaan penunjang tambahan telah diperoleh. Jika terpaksa dilakukan penundaan perbaikan, maka penting untuk selalu menjaga jaringan agar selalu dalam kondisi lembab. 2.5.2. ANESTESI Pemilihan anestesi untuk perbaikan luka adnexal tergantung pada beberapa faktor. Umur pasien sangat penting karena hampir semua anak memerlukan anestesi umum untuk mencapai hasil rekonstruksi terbaik. Luka besar dengan kerusakan jaringan lunak yang luas dan keterlibatan osseous terbaik jika dilakukan dengan anatesi umum. Meskipun dengan menggunakan anestesi umum, infiltrasi lokal epinefrin (adrenalin) sangat penting untuk

11

hemostasis. Mayoritas cedera dewasa dapat diperbaiki dengan anestesi infiltrasi atau regional lokal lidokain 1-2% (lignocaine) dengan 1:100000 epinefrin. Anestesi infiltrasi dapat menyebabkan distorsi jaringan yang signifikan; ini dapat diminimalkan dengan penggunaan asam hyaluronic (hyaluronidase), yang memfasilitasi penyebaran cairan anestesi. 2.5.3. TEKNIK UMUM Teknik-teknik rekonstruksi kelopak mata dan orbital setelah trauma sangat banyak dan beragam, yang digunakan sangat tergantung pada sejauh mana cedera dan struktur adnexal spesifik yang terlibat. Pendekatan yang umum adalah untuk mengatasi setiap struktur anatomi secara independen dan menghormati prioritas yang tepat, pertama sebagai pelindung mata, kemudian fungsinya, dan akhirnya kosmetik. Dalam banyak kasus, sejumlah teknik rekonstruksi digabungkan untuk mencapai hasil yang maksimal. Beberapa metode dapat dipergunakan untuk melakukan rekontruksi defek palpebra pilihan ahli bedah tergantung pada umur pasien,karakter palpebra, ukuran dan posisi defek serta pengalaman ahli bedah. Prioritas pada rekontruksi palpebra adalah : Pekembangan tepi palpebra yang stabil Lebar palpebra secara vertical yang adekuat Penutupan palpebra yang adekuat Halus dan terjadi epitelisasi pada permukaan internal palpebra Baik secara kosmetik dan simetris

Prinsip prinsip rekonstruksi palpebra : Rekonstruksi anterior atau posterior lamella palpebra dengan graft. Tegangan yang maksimum secara horizontal dan ketegangan yang minimum secara vertical. Mempertahankan bentuk anatomi dari kantus kemiripan jaringan defek yang sempit. Memilh teknik yang simple pada saat rekonstruksi. Jangan membuat defek bila tidak dapat di tutup. Mintalah konsultasi pada sub spesialis bila diperlukan.

12

Penatalaksanaan trauma palpebra termasuk : Menggali riwayat Mencatat ketajaman penglihatan Mengevaluasi bola mata Mengetahui secara detail tentang palpebra & anatomi mata. Memastikan posisi yang terbaik dalam penanganan

Linberg JV. Oculoplastic and Orbital Emergencies Norwalk, CT : Appleton & Lange,1990

2.5.4. TEKNIK SPESIFIK

A. Partial-Thickness Eyelid Injuries


Partial-thickness eyelid injuries, laserasi kelopak mata dangkal yang tidak melibatkan margin palpebra dan yang sejajar dengan garis kulit dapat distabilkan dengan skin tape. Laserasi yang lebih besar dan tegak lurus dengan garis kulit memerlukan pendekatan yang lebih hati-hati dan eversi ke tepi kulit. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan benang ukuran 6-0 atau 7-0 yang absorbable atau nonabsorbable. Jika ketebalan penuh dari otot orbicularis terlibat, harus diperbaiki secara terpisah. Penetrasi ke septum orbital dengan cedera pada aponeurosis levator, luka tersebut harus diperbaiki.

B. Eyelid Margin Lacerations


Jenis trauma adnexa membutuhkan pendekatan kelopak mata yang paling teliti, yang harus tepat untuk menghindari notching kelopak mata dan malposisi margin palpebra. Semua bagian tarsal yang iregular di tepi luka harus dibuang untuk memungkinkan pendekatan tarsal-ke-tarsal yang lebih baik pada margin palpebra yang diperbaiki. Hal ini dilakukan sepanjang ketinggian vertikal seluruh tarsus untuk mencegah tarsal buckling, meskipun laserasi primer mungkin hanya melibatkan tarsus marginal. Perbaikan dimulai dengan penempatan benang 6-0 pada bidang kelenjar meibom di margin palpebra, kirakira 2mm dari tepi luka dan dengan kedalaman 2mm. Dulunya, sering dilakukan penjahitan margin menggunakan benang nonabsorbable. Namun, Jeffrey P, George C dan Robert AG telah secara rutin menggunakan jahitan dengan

13

menggunakan benang absorbable dan belum mengalami komplikasi dari penyerapan jahitan yang prematur.

Gambar 1.7 Teknik penjahitan pada laserasi yang melibatkan margin palpebra

Pentupan margo palpebra dapat dilakukan dengan 2 atau 3 jahitan untuk mensejajarkan tepi luka. Untuk menghindari kerusakan pada epitel kornea jahitan tarsal tidak boleh meluas sampai dipermukaan konjungtiva, terutama pada palpebra superior. Penutupan tepi palpebra harus menghasilkan tepi luka yang baik.

14

A. Tepi dari palpebra, jahit dengan jahitan matras vertikal, benang melewati orificium kelenjar meibom. B. Jahitan plat tarsal dengan 2 atau 3 jahitan terputus. C. Jahitan pada tepi palpebra dengan matras vertical. D. Pentupan kulit

C. Eyelid Injuries with Tissue Loss


Luka kelopak mata yang mengakibatkan kehilangan jaringan memberikan tantangan rekonstruksi yang lebih sulit. Ini adalah kewajiban bagi ahli bedah untuk mengevaluasi pasien dengan trauma kelopak mata, untuk menentukan tidak hanya apakah dan berapa banyak dari kelopak mata yang hilang tetapi juga lapisan kelopak mata tidak ada. Dalam evaluasi pasien, sangat penting untuk mempertimbangkan kelopak mata sebagai struktur yang memiliki lamela anterior dan posterior, kulit dan muskulus orbicularis akan menjadi lamela anterior, sedangkan tarsus dan konjungtiva menjadi lamela posterior. Jika full-thickness loss of eyelid tissue mengarah ke lagophthalmos dan eksposur kornea, pelumasan agresif dengan salep antibiotik harus diberikan atau dilakukan tarsorrhaphy sementara sampai perbaikan pasti dapat dicapai.

15

D. Full-Thickness Eyelid Lacerations


Full-thickness lacerations yang tidak melibatkan margin kelopak mata mungkin terkait dengan kerusakan internal yang signifikan dari struktur palpebra dan perforasi bola mata. Pada penanganan cedera ini memerlukan pemeriksaan lapis demi lapis pada luka untuk menilai integritas dari septum orbita, otot levator dan aponeurosis levator, konjungtiva, otot rektus, dan bola mata. Jika lamela posterior kelopak mata terlibat dalam full-thickness eyelid injury tetapi dapat direapproximat tanpa menimbulakan ketegangan kulit yang tidak semestinya, maka langsung dapat diperbaiki. Tarsal alignment dapat dicapai melalui jahitan dalam. Jeffrey P, George C dan Robert AG lebih suka melakukan penjahitan menggunakan polyglactin (Vicryl) ukuran 6-0 atau 7-0, namun, Dexon, silk, dan kromik dapat pula digunakan untuk penutupan tarsal. E. Cedera pada Sistem Lakrimalis a. Kanalikulus Superior Cedera pada daerah ini jarang menimbulkan gejala bila fungsi kanalikuli inferior masih normal. Oleh karena itu cedera daerah ini tidak memerlukan metode khusus apapun untuk memperbaiki kanalikuli superior, karena potensi drainasinya lebih rendah jika dibandingkan dengan kanalikuli inferior. b. Kanalikulus Inferior Perbaikan cedera pada kanalikulus inferior masih dalam perdebatan. Bukan suatu hal yang sulit untuk menyatukan kembali dua sisi kanalikulus yang terputus, namun tidak mudah untuk memastikan patensi anastomosis kanalikulus ini setelah beberapa bulan kemudian. Berbagai jenis stent telah digunakan, namun pengunaan stent itu sendiri merangsang timbulnya fibrosis.

16

Gambar 1.8 Larerasi pada kanaliculus inferior

Gambar 1.9 Pemasangan stent dengan menggunakan silicone stent

Selama operasi sebuah silicone tube halus (stent) diletakkan di saluran lakrimalis untuk menjaga bukaan pada sistem drainase air mata. Stent ini kemudian akan dilepas. Jika operasi ini tidak sepenuhnya berhasil gejala dapat diselesaikan dengan menggunakan sebuah tabung Jones Lester.

Gambar 1.10 Penggunaan Lester Jones Tube


17

c. Common Canaliculus Jika terjadi cedera pada common canaliculus, maka harus dilakukan perbaikan atau dibuka sampai sakus lakrimalis, lakukan intubasi kanalikulus dan dakriosistorinostomi. d. Sakus Lakrimais Jika terjadi cedera pada sakus lakrimalis, maka dakriosistorinostomi harus dilakukan.

2.6. KOMPLIKASI A. Akibat kegagalan dalam memperbaiki laserasi khususnya jika melibatkan margin palpebra, dapat berupa:

Epifora kronis Konjungtivitis kronis, konjungtivitis bakterial Exposure keratitis Abrasi kornea berulang Entropion/ ektropion sikatrikal B. Akibat teknik pembedahan yang buruk, terutama dalam hal akurasi penutupan
luka, dapat berupa:

Jaringan parut Fibrosis Deformitas palpebra sikatrikal


C. Keadaan luka yang memburuk akibat adanya infeksi atau karena penutupan luka yang tertunda. D. Laserasi dekat canthus medial dapat merusak sistem nasolacrimal.

2.7. PROGNOSIS Prognosis sangat tergantung pada luasnya laserasi atau kerusakan palpebra serta lokasi dan ketebalan jaringan yang rusak.

18

BAB III PENUTUP

3.1. KESIMPULAN laserasi kelopak mata merupakan rudapaksa pada kelopak mata akibat benda tajam yang mengakibatkan luka robek/laserasi. Dapat disebabkan oleh trauma benda tumpul, trauma benda tajam, gigitan hewan atau manusia, luka bakar. Berdasarkan areanya laserasi terbagi menjadi laserasi yang tidak melibatkan margo palpebra, laserasi yang melibatkan margo palpebra, laserasi yang melibatkan jaringan lunak kantus. Dalam penatalaksanaannya harus diobservasi secara menyeluruh, dan diberikan profilaksis antibiotik pada kasus gigitan hewan ataupun manusia. Teknik rekonstruksi yang digunakan disesuaikan berdasrkan area laserasi. Kehati-hatian dalam melakukan rekonstruksi harus diperhatikan untuk mencegah berbagai macam komplikasi yang terjadi setelah operasi. Prognosa ditentukan oleh berbagai mavam faktor. 3.2. SARAN Mahasiswa diharapkan memahami secara benar apa yang harus dilakukan pada kasus laserasi palpebra.

19

DAFTAR PUSTAKA

1.

Edsel I. Laceration, Eyelid (serial online). Last update Apr 26, 2012. [cited Dec/20/2012,06.18]. Available from: URL:

http://emedicine.medscape.com/article/1212531-overview 2. Jeffrey P, George C, Robert AG. Eyelid Trauma and

Reconstruction Techniques (serial online). Last update Dec/29/2010. [cited Dec/20/2012,06.17]. Available from: URL:

http://medtextfree.wordpress.com/2010/12/29/chapter-94-eyelid-traumaand-reconstruction-techniques/ 3. Francis B, Quinn. Anatomy of the Ocular Adnexa and Orbit, In: Orbital Trauma (serial online). Last Available update Jun/03/1998. from: [cited URL:

Dec/24/2012,06.20].

http://www.utmb.edu/otoref/grnds/orbital-trauma.html 4. Robert G. Reconstructive [cited Surgery (serial online). Available Last from: update URL:

Marc/03/2008.

Dec/24/2012,06.20].

http://www.drfante.com/reconstructive_surgery.html 5. Rowena GH, Harijo W, Ratna,D. Laserasi Kelopak Mata, Dalam: Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu Penyakit Mata Edisi III. Surabaya: RSU DR. Soetomo; 2006. p.147 6. Mounir B. Eyelid Reconstruction, Upper Eyelid (serial online). Last update Nov 13, 2011. [cited Dec/26/2012,06.24]. Available from: URL: http://emedicine.medscape.com/article/1282054-overview 7. American Academy of Ophthalmology. Orbit, Eyelids, and Lacrimal System. San Fransisco: The Eye M.D Association; 2006. 8. Sharma V., Benger R., Martin P.A. Techniques of periocular

reconstruction. Indian: J Ophthalmol ; 2006. p.149-158. 9. J R O Collin. Repaired of Eyelid Injuries, In: A Manual of Systematic Eyelid Surgery. United States of Amarica: Churchill Livingstone; 1989. p.99-108

20

10.

Maria S. Watering eyes (serial online). Last update Jan/29/2010. [cited Dec/28/2012,01.26]. Available from: URL:

http://www.faceandeye.co.uk/eye/wateringeyes2.html 11. Graham M, Paul EM. Eyelid: Trauma Repair (serial online). Last update Jan/16/2010. [cited Jan/4/2013,02.24]. Available from: URL:

http://www.vetstream.com/equis/Content/Technique/teq00106 12. Vaughan, D.G. Oftalmologi Umum, Edisi 14, Cetakan I, Widya Medika, Jakarta, 200.,

21