Anda di halaman 1dari 72

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah kemiskinan memang telah lama ada sejak dahulu kala. Pada masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masakini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kemudahan - kemudahan lainnya yang tersedia pada jaman modern. Kemiskinan sebagai suatu penyakit sosial ekonomi tidak hanya dialami oleh negara-negara yang sedang berkembang, tetapi juga negara-negara maju, seperti Inggris dan Amerika Serikat. Negara Inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri yang muncul di Eropa. Pada masa itu kaum miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik yang sebelumnya sebagai petani yang mendapatkan upah rendah, sehingga kemampuan daya belinya juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan terhadap penyakit sosial lainnya, seperti prostitusi, kriminalitas, pengangguran. Amerika Serikat sebagai negara maju juga dihadapi masalah kemiskinan, terutama pada masa depresi dan resesi ekonomi tahun 1930-an. Pada tahun 1960-an Amerika Serikat tercatat sebagai negara adi daya dan terkaya di dunia. Sebagian besar penduduknya hidup dalam kecukupan. Bahkan Amerika Serikat telah banyak memberi bantuan kepada negaranegara lain. Namun, di balik keadaan itu tercatat sebanyak 32 juta orang atau seperenam dari jumlah penduduknya tergolong miskin.

Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alamnya mempunyai 49,5 juta jiwa penduduk yang tergolong miskin (Survai Sosial Ekonomi Nasional / Susenas, 1998). Jumlah penduduk miskin tersebut terdiri dari 17,6 juta jiwa di perkotaan dan 31,9 juta jiwa di perdesaan. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat banyaknya dibanding angka tahun 1996 (sebelum krisis ekonomi) yang hanya mencatat jumlah penduduk miskin sebanyak 7,2 juta jiwa di Perkotaan dan 15,3 juta jiwa perdesaan. Akibat krisis jumlah penduduk miskin diperkirakan makin bertambah. Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yakni kemiskinan alamiah dan karena buatan. Kemiskinan alamiah terjadi antara lain akibat sumber daya alam yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan "buatan" terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia, hingga mereka tetap miskin. Maka itulah sebabnya para pakar ekonomi sering mengkritik kebijakan pembangunan yang melulu terfokus pada pertumbuhan ketimbang pemerataan. Berbagai persoalan kemiskinan penduduk memang menarik untuk disimak dari berbagai aspek, sosial, ekonomi, psikologi dan politik. Aspek sosial terutama akibat terbatasnya interaksi sosial dan penguasaan informasi. Aspek ekonomi akan tampak pada terbatasnya pemilikan alat produksi, upah kecil, daya tawar rendah, tabungan nihil, lemah mengantisipasi peluang. Dari aspek psikologi terutama akibat rasa rendah diri, fatalisme, malas, dan rasa terisolir. Sedangkan, dari aspek politik berkaitan dengan kecilnya akses terhadap berbagai fasilitas dan kesempatan, diskriminatif, posisi lemah dalam proses pengambil keputusan.

Di Indonesia program-program penanggulangan kemiskinan sudah banyak pula dilaksanakan, seperti : pengembangan desa tertinggal, perbaikan kampung, gerakan terpadu pengentasan kemiskinan. Sekarang pemerintah menangani program tersebut secara menyeluruh, terutama sejak krisis moneter dan ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997, melalui programprogram Jaring Pengaman Sosial (JPS). Dalam JPS ini masyarakat sasaran ikut terlibat dalam berbagai kegiatan. Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah meningkatkan kinerja perekonomian agar mampu menciptakan lapangan kerja dan menata kehidupan yang layak bagi seluruh rakyat yang pada gilirannya akan mewujudkan kesejahteraan penduduk Indonesia. Salah satu sasaran pembangunan nasional adalah menurunkan tingkat kemiskinan. Kemiskinan merupakan salah satu penyakit dalam ekonomi, sehingga harus disembuhkan atau paling tidak dikurangi. Permasalahan kemiskinan memang merupakan permasalahan yang kompleks dan bersifat multidimensional. Oleh karena itu, upaya pengentasan kemiskinan harus dilakukan secara komprehensif, mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat, dan dilaksanakan secara terpadu (Nasir, dkk 2008). Istilah kemiskinan muncul ketika seseorang atau sekelompok orang tidak mampu mencukupi tingkat kemakmuran ekonomi yang dianggap sebagai kebutuhan minimal dari standar hidup tertentu. Dalam arti proper, kemiskinan dipahami sebagai keadaan kekurangan uang dan barang untuk menjamin kelangsungan hidup. Dalam arti luas, Chambers (dalam Chriswardani, 2005) mengatakan bahwa kemiskinan adalah suatu intergrated concept yang memiliki lima dimensi, yaitu: 1) kemiskinan (proper), 2) ketidakberdayaan (powerless), 3) kerentanan menghadapi situasi darurat (state of emergency), 4) ketergantungan

(dependence), dan 5) keterasingan (isolation) baik secara geografis maupun sosiologis. Menurut BPS (2010), seseorang masuk dalam kriteria miskin jika pendapatannya berada dibawah garis kemiskinan.

1.1.1Strategi Penanggulangan Kemiskinan


Strategi penanggulangan kemiskinan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di Jepang, solusi yang diterapkan adalah dengan menerapkan pajak langsung yang progresif atas tanah dan terbatas pada rumah tangga petani pada lapisan pendapatan yang tinggi, sedangkan Cina melakukannya melalui pembentukan kerangka kelembagaan perdesaan dengan kerja sama kelompok dan brigades di tingkat daerah yang paling rendah (communes). Di sisi lain, solusi pemberantasan kemiskinan di Taiwan melalui mobilisasi sumber daya dari sektor pertanian dengan mengandalkan mekanisme pasar. Selain strategi di atas, ada juga Model Pertumbuhan Berbasis Teknologi atau Rural-Led Development yang menyoroti potensi pesatnya pertumbuhan dalam sector pertanian yang dibuka dengan kemajuan teknologi dan

kemungkinan sektor pertanian menjadi sektor yang memimpin. Di Indonesia, salah satu strategi penanggulangan kemiskinan ditempuh melalui pemberdayaan partisipatif masyarakat melalui P2KP. Sasaran dari program ini adalah kaum miskin perkotaan yang sangat rentan terhadap krisis dibandingkan dengan masyarakat perdesaan. Menurut BPS (2011), seseorang masuk dalam kriteria miskin jika pendapatannya berada dibawah garis kemiskinan.

Grafik 1.1. Tingkat Kemiskinan di Sulawesi Selatan Tahun 1999-2010 (ribuan jiwa)

Tingkat Kemiskinan
1200 1112 1000 800 600 400 200 0 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 447.2 341.42 177.26176.95173.4 177.8 182 167.8 182 963.6 913.43

Sumber : BPS Sulawesi Selatan Tingkat kemiskinan di Sulawesi Selatan pada periode tahun 1999 hingga tahun 2001 mengalami kecenderungan yang menurun, seperti terlihat pada Grafik 1.1. Pada periode tahun 2001 sampai 2007 tingkat kemiskinan turun dari sebesar 177,2 ribu jiwa pada tahun 2001 menjadi 167,8 pada tahun 2007. Namun di tahun 2008 kenaikan tingkat kemiskinan sangat meningkat menjadi 1.1112 ribu jiwa yang dikarenakan harga barang-barang kebutuhan pokok selama periode tersebut naik tinggi serta faktor krisis di Amerika yang berdampak pada dunia salah termasuk Indonesia, yang digambarkan oleh inflasi umum sebesar 17,95 persen, akibatnya penduduk yang tergolong tidak miskin namun penghasilannya berada disekitar garis kemiskinan banyak yang bergeser posisinya menjadi miskin. Terjadi penurunan tingkat kemiskinan yang cukup pada periode tahun 2009 hingga 2010, dari 963,6 ribu jiwa menjadi 913,43 ribu jiwa persen di tahun 2010. (BPS, 2011). di tahun 2009

Usaha pemerintah dalam penanggulangan masalah kemiskinan sangatlah serius, bahkan merupakan salah satu program prioritas, termasuk bagi pemerintah provinsi Sulawesi Selatan. Upaya penanggulangan kemiskinan di Sulawesi Selatan dilaksanakan melalui lima pilar yang disebut Grand Strategy. Pertama, perluasan kesempatan kerja, ditujukan untuk menciptakan kondisi dan lingkungan ekonomi, politik, dan sosial yang memungkinkan masyarakat miskin dapat memperoleh kesempatan dalam pemenuhan hak-hak dasar dan peningkatan taraf hidup secara berkelanjutan. Kedua, pemberdayaan

masyarakat, dilakukan untuk mempercepat kelembagaan sosial, politik, ekonomi, dan budaya masyarakat dan memperluas partisipasi masyarakat miskin dalam pengambilan keputusan kebijakan publik yang menjamin kehormatan,

perlindungan, dan pemenuhan hak-hak dasar. Ketiga, peningkatan kapasitas, dilakukan untuk pengembangan kemampuan dasar dan kemampuan berusaha masyarakat miskin agar dapat memanfaatkan perkembangan lingkungan. Keempat, perlindungan sosial, dilakukan untuk memberikan perlindungan dan rasa aman bagi kelomnpok rentan dan masyarakat miskin baik laki-laki maupun perempuan yang disebabkan antara lain oleh bencana alam, dampak negatif krisis ekonomi, dan konflik sosial. Kelima, kemitraan regional, dilakukan untuk pengembangan dan menata ulang hubungan dan kerjasama lokal, regional, nasional, dan internasional guna mendukung pelaksanaan ke empat strategi diatas (Bappeda Sul-Sel, 2011). Proses pembangunan memerlukan pendapatan nasional yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Di banyak negara syarat utama bagi terciptanya penurunan kemiskinan yang tetap adalah pertumbuhan ekonomi . pertumbuhan ekonomi memang tidak cukup untuk mengentaskan kemiskinan

tetapi biasanya pertumbuhan ekonomi merupakan sesuatu yang dibutuhkan, walaupun begitu pertumbuhan ekonomi yang bagus pun menjadi tidak akan berarti bagi penurunan masyarakat miskin jika tidak diiringi dengan pemerataan pendapatan (Wongdesmiwati, 2009). Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator untuk melihat keberhasilan pembangunan dan merupakan syarat keharusan (necessary condition) bagi pengurangan tingkat kemiskinan. Adapun syarat kecukupannya ialah bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut efektif dalam mengurangi tingkat kemiskinan. Artinya, pertumbuhan tersebut hendaklah menyebar disetiap golongan

pendapatan, termasuk di golongan penduduk miskin. Secara langsung, hal ini berarti pertumbuhan itu perlu dipastikan terjadi di sektor-sektor dimana penduduk miskin bekerja yaitu sektor pertanian atau sektor yang padat karja. Adapun secara tidak langsung, diperlukan pemerintah yang yang cukup efektif mendistribusikan manfaat pertumbuhan yang mungkin didapatkan dari sektor modern seperti jasa yang padat modal (Siregar dan Wahyuniarti, 2008). Penelitian yang dilakukan Wongdesmiwati menemukan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat kemiskinan. Untuk menurunkan tingkat kemiskinan maka pertumbuhan ekonomi harus ditingkatkan. Kebijakan upah minimum juga berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan. Gagasan upah minimum yang sudah dimulai dan dikembangkan sejak awal tahun 1970-an bertujuan untuk mengusahakan agar dalam jangka panjang besarnya upah minimum paling sedikit dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum (KHM), sehingga diharapkan dapat menjamin tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup beserta keluarga dan sekaligus dapat mendorong peningkatan produktivitas kerja dan kesejahteraan buruh (Sumarsono, 2003).

Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor : Per-01/Men/1999, Upah minimum adalah upah bulanan terendah yang terdiri dari upah pokok termasuk tunjangan tetap. Yang dimaksud dengan tunjangan tetap adalah suatu jumlah imbalan yang diterima pekerja secara tetap dan teratur pembayarannya, yang tidak dikaitkan dengan kehadiran ataupun pencapaian prestasi tertentu. Kebijakan penetapan upah minimum oleh pemerintah adalah kebijakan yang diterapkan dengan tujuan sebagai jaring pengaman terhadap pekerja atau buruh agar tidak diekspolitasi dalam bekerja dan mendapat upah yang dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum (KHM). Jika kebutuhan hidaup minimum dapat terpenuhi, maka kesejahteraan pekerja meningkatkan dan terbebas dari masalah kemiskinan. Teori pertumbuhan baru menekankan pentingnya peranan pemerintah terutama dalam meningkatkan pembangunan modal manusia (human capital) dan mendorong penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan produktivitas manusia. Kenyataannya dapat dilihat dengan melakukan investasi pendidikan akan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang diperlihatkan dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka pengetahuan dan keahlian juga akan meningkat sehingga akan mendorong peningkatan produktivitas kerjanya. Perusahaan akan memperoleh hasil yang lebih banyak dengan

memperkerjakan tenaga kerja dengan produktivitas yang tinggi, sehingga perusahaan juga akan bersedia memberikan gaji yang lebih tinggi bagi yang bersangkutan. Di sektor informal seperti pertanian, peningkatan ketrampilan dan keahlian tenaga kerja akan mampu meningkatkan hasil pertanian, karena tenaga kerja yang terampil mampu bekerja lebih efisien. Pada akhirnya seseorang yang

memiliki produktivitas yang tinggi akan memperoleh kesejahteraan yang lebih baik, yang diperlihatkan melalui peningkatan pendapatan maupun konsumsinya. Rendahnya produktivitas kaum miskin dapat disebabkan oleh rendahnya akses mereka untuk memperoleh pendidikan (Sitepu dan Sinaga, 2004). Undang-Undang Dasar RI 1945 Pasal 31 ayat 2 menyebutkan bahwa setiap warga Negara wajib mengikuti pendidkan dasar dan pemerintah wajib membiayainya, dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah pusat dan daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, sedangkan dalam ayat 3 menyebutkan bahwa wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat. Konsekuensinya, pemerintah pusat dan daerah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) serta satuan pendidikan lain yang sederajat, agar mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Keterkaitan kemiskinan dan pendidikan sangat besar karena pendidikan memberikan kemampuan untuk berkembang lewat penguasaan ilmu dan keterampilan. Pendidikan juga menanamkan kesadaran akan pentingnya martabat manusia. Mendidik dan memberikan pengetahuan berarti menggapai masa depan. Hal tersebut harusnya menjadi semangat untuk terus melakukan upaya mencerdaskan bangsa (Suryawati, 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Hermanto Siregar dan Dwi Wahyuniarti menemukan bahwa pendidikan berpengaruh negatif terhadap tingkat

10

kemiskinan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan sangat penting dalam menurunkan tingkat kemiskinan. Pembangunan bidang pendidikan di Takalar selama ini telah dilakukan melalui upaya pengembangan dan relevansi pendidikan sesuai dengan tujuan perkembangan iptek dan kebutuhan pasar kerja, dengan memperhatikan sistem pendidikan nasional yang berjalan dan juga sasaran komitmen-komitmen Internasional di bidang pendidikan. Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan adalah pengangguran. Salah satu unsur yang menentukan kemakmuran suatu masyarakat adalah tingkat pendapatan. Pendapatan masyarakat mencapai maksimum apabila kondisi tingkat penggunaan tenaga kerja penuh (full employment) dapat terwujud. Pengangguran akan menimbulkan efek mengurangi pendapatan

masyarakat, dan itu akan mengurangi tingkat kemakmuran yang telah tercapai. Semakin turunya tingkat kemakmuran akan menimbulkan masalah lain yaitu kemiskinan (Sukirno, 2003). Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian serta membahas masalah tersebut melalui penelitian penulisan skripsi dengan judul penelitian : Analisis Faktor-Faktor

yang Mempengaruhi Tingkat Kemiskinan di Kab.Takalar 1999-2010".

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka masalah pokok yang dikemukakan adalah : 1. Seberapa besar pengaruh pendidikan, upah minimum, pertumbuhan

ekonomi terhadap tingkat kemiskinan di Takalar 1999-2010 secara langsung?

11

2. Seberapa besar pengaruh pendidikan, upah minimum, pertumbuhan


ekonomi terhadap tingkat kemiskinan di Takalar 1999-2010 secara tidak langsung melalui pengangguran? 3. Seberapa besar pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan?

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh pendidikan, upah, dan pertumbuhan ekonomi secara langsung maupun tidak langsung terhadap kemiskinan di Kabupaten Takalar 1999-2010 melalui pengangguran.

12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Konsep Kemiskinan


Untuk merumuskan suatu definisi tentang kemiskinan dari sejumlah pandangan dan pendekatan yang dinamis memang tidak mudah ,karena formulasi dari para ahli dan penelitian dipengaruhi oleh focus kajian masing masing. Specker (1993) menyatakan bahwa kemiskinan mencakup (1) kekurangan fasilitas fisik bagi kehidupan yang normal, (2) gangguan dan tingginya resiko kesehatan ,(3) resiko keamanan dan kerawanan kehidupan social ekonomi dan lingkungannya, (4) kekurangan pendapatan yang mengakibatkan tidak bisa hidup layak, dan (5) kekurangan dalam kehidupan social yang dapat ditunjukkan oleh ketersisihan social ,ketersisihan dalam proses politik, dan kualitas pendidik yang rendah (dalam Wikipedia ensiklopedia bebas, n.d.). Konferensi Dunia untuk pembangunan social telah mendefinisikan kemiskinan sebagai berikut: kemiskinan memiliki wujud yang majemuk, termasuk rendahnya tingkat pendapatan dan sumber daya produktif yang menjamin kehidupan berkesinambungan; kelaparan dan kekurangan gizi; rendahnya tingkat kesehatan; keterbatasan dan kurangnya akses kepada pendidikan dan layanan layanan pokok lainnya, kondisi tak wajar dan kematian akibat penyakit yang terus meningkat; kehidupan yang

bergelandang dan tempat tinggal yang tidak memadai; lingkungan yang tidak aman; serta diskriminasi dan keterasingan social. Kemiskinan juga dapat

13

dicirikan oleh rendahnya tingkat partisipasi dalam proses pengambilan keputusan dalam kehidupan sipil, social dan budaya. Maxwell (2007) menggunakan istilah kemiskinan untuk

menggambarkan keterbatasan pendapatan dan konsumsi ,keterbelakangan derajat dan martabat manusia, ketersingkiran social, keadaan yang menderita karena sakit ,kurangnya kemampuan dan ketidakberfungsian fisik untuk bekerja, kerentanan (dalam menghadapi perubahan politik dan ekonomi), tiadanya kelanjutan sumber kehidupan, tidak terpenuhinya kebutuhan dasar, dan adanya perampasan relative (relative deprivation) Agussalim menjelaskan (2000) dalam bukunya dapat mereduksi kemiskinan berdasarkan

bahwa

kemiskinan

diklasifikasikan

beberapa aspek, seperti tingkat keparahan dan penyebab. Berdasarkan tingkat keparahan kemiskinan dapat dibedakan atas kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Seseorang dikatakan miskin secara absolut apabila

tingkat pendapatannya lebih rendah daripada garis kemiskinan absolut. Dengan kata lain jumlah pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum yang dicerminkan oleh garis kemiskinan absolut tersebut. Hidup dalam kemiskinan bukan hanya hidup dalam kekurangan uang dan tingkat pendapatan rendah, tetapi juga banyak hal lain, seperti tingkat kesehatan dan pendidikan rendah, perlakuan tidak adil dalam hukum, kerentanan terhadap ancaman tindak kriminal, ketidak berdayaan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri (Suryawati, 2005). Kemiskinan dibagi dalam empat bentuk, yaitu:

14

a. Kemiskinan absolut, kondisi dimana seseorang memiliki pendapatan di bawah garis kemiskinan atau tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan, perumahan, dan pendidikan yang dibutuhkan untuk bisa hidup dan bekerja. b. Kemiskinan relatif, kondisi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum menjangkau seluruh masyarakat,

sehingga menyebabkan ketimpangan pada pendapatan. c. Kemiskinan kultural, mengacu pada persoalan sikap seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh faktor budaya, seperti tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupan, malas, pemboros, tidak kreatif meskipun ada bantuan dari pihak luar. d. Kemiskinan struktural, situasi miskin yang disebabkan oleh rendahnya akses terhadap sumber daya yang terjadi dalam suatu sistem sosial budaya dan sosial politik yang tidak mendukung pembebasan kemiskinan, tetapi seringkali menyebabkan suburnya kemiskinan. Kemiskinan juga dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu: a. Kemiskinan alamiah, berkaitan dengan kelangkaan sumber daya alam dan prasarana umum, serta keadaan tanah yang tandus. b. Kemiskinan buatan, lebih banyak diakibatkan oleh sistem modernisasi atau pembangunan yang membuat masyarakat tidak mendapat menguasai sumber daya, sarana, dan fasilitas ekonomi yang ada secara merata. Menurut Nasikun (dalam Suryawati 2005), beberapa sumber dan proses penyebab terjadinya kemiskinan, yaitu:

15

a. Policy induces processes, yaitu proses pemiskinan yang dilestarikan, direproduksi melalui pelaksanaan suatu kebijakan, diantaranya adalah kebijakan anti kemiskinan, tetapi relitanya justru melestarikan. b. Socio-economic dualism, negara bekas koloni mengalami kemiskinan karena poal produksi kolonial, yaitu petani menjadi marjinal karena tanah yang paling subur dikuasai petani sekala besar dan berorientasi ekspor. c. Population growth, prespektif yang didasari oleh teori Malthus , bahwa pertambahan penduduk seperti deret ukur sedangkan pertambahan pangan seperti deraet hitung. d. Resaurces management sumber and daya the environment, dan adalah unsur seperti

mismanagement manajemen produktivitas.

alam asal

lingkungan, akan

pertanian

yang

tebang

menurunkan

e. Natural cycle and processes, kemiskinan terjadi karena siklus alam. Misalnya tinggal dilahan kritis, dimana lahan itu jika turun hujan akan terjadi banjir, akan tetapi jika musim kemarau kekurangan air, sehingga tidak memungkinkan produktivitas yang maksimal dan terusmenerus. f. The marginalization of woman, peminggiran kaum perempuan karena masih dianggap sebagai golongan kelas kedua, sehingga akses dan penghargaan hasil kerja yang lebih rendah dari laki-laki. g. Cultural and ethnic factors, bekerjanya faktor budaya dan etnik yang memelihara kemiskinan. Misalnya pada pola konsumtif pda petani dan

16

nelayan ketika panenj raya, serta adat istiadat yang konsumtif saat upacara adat atau keagamaan. h. Exploatif inetrmediation, keberadaan penolong yang menjadi

penodong, seperti rentenir. i. Inetrnal political fragmentation and civil stratfe, suatu kebijakan yang diterapkan pada suatu daerah yang fragmentasi politiknya kuat, dapat menjadi penyebab kemiskinan.

j.

Interbational processe, bekerjanya sistem internasional (kolonialisme dan kapitalisme) membuat banyak negara menjadi miskin.

2.1.2 Ukuran Kemiskinan


Menurut BPS (Badan Pusat Statistik), tingkat kemiskinan didasarkan pada jumlah rupiah konsumsi berupa makanan yaitu 2100 kalori per orang per hari (dari 52 jenis komoditi yang dianggap mewakili pola konsumsi penduduk yang berada dilapisan bawah), dan konsumsi nonmakanan (dari 45 jenis komoditi makanan sesuai kesepakatan nasional dan tidak dibedakan antara wilayah pedesaan dan perkotaan). Patokan kecukupan 2100 kalori ini berlaku untuk semua umur, jenis kelamin, dan perkiraan tingkat kegiatan fisik, berat badan, serta perkiraan status fisiologis penduduk, ukuran ini sering disebut dengan garis kemiskinan. Penduduk yang memiliki pendapatan dibawah garis kemiskinan dikatakan dalam kondisi miskin. Menurut Salim (1984), orang miskin memiliki lima ciri. Pertama, mereka umumnya tidak mempunyai faktor produksi sendiri, seperti tanah yang cukup, modal maupun keterampilan, sehingga kemampuan memperoleh pendapatan menjadi sangat terbatas. Kedua, tidak memiliki kemungkinan memperoleh aset

17

produksi dengan kekuatan sendiri, kemungkinan untuk dapat digunakan sebagai agunan. Ketiga, tingkat pendidikan yang rendah karena waktunya habis dipakai untuk bekerja mencari penghasilan. Pada usia sekolah, mereka itu harus membantu orangtua disawah atau menjadi buruh tani. Keempat, kebanyakan tinggal dipedesaan yang serba terbatas fasilitasnya atau desa tempat tinggalnya terisolir. Kelima, mereka yang tinggal dikota tidak mempunyai tempat tinggal yang layak dan juga tidak memiliki keterampilan, sehingga bekerja apa adanya. Menurut Sayogyo, tingkat kemiskinan didasarkan jumlah rupiah

pengeluaran rumah tangga yang disetarakan dengan jumlah kilogram konsumsi beras per orang per tahun dan dibagi wilayah pedesaan dan perkotaan. Daerah pedesaan: a. Miskin, bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 320 kg nilai tukar beras per orang per tahun. b. Miskin sekali, bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 240 kg nilai tukar beras per orang per tahun. c. Paling miskin, bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 180 kg nilai tukar beras per orang per tahun. Daerah perkotaan: a. Miskin, bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 480 kg nilai tukar beras per orang per tahun. b. Miskin sekali: bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 380 kg nilai tukar beras per orang per tahun.

18

c. Paling miskin, bila pengeluaran keluarga lebih kecil daripada 270 kg nilai tukar beras per orang per tahun. Bank Dunia mengukur garis kemiskinan berdasarkan pada pendapatan seseorang. Seseorang yang memiliki pendapatan kurang dari US$ 1 per hari masuk dalam kategori miskin. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), mengukur kemiskinan berdasarkan dua kriteria (Suryawati, 2005), yaitu: a) Kriteria Keluarga Pra Sejahtera (Pra KS) yaitu keluarga yang tidak mempunyai kemampuan untuk menjalankan perintah agama dengan baik, minimum makan dua kali sehari, membeli lebih dari satu stel pakaian perorang per tahun, lantai rumah bersemen lebih dari 80%, dan berobat ke Puskesmas bila sakit. b) Kriteria Keluarga Sejahtera 1 (KS 1) yaitu keluarga yang tidak berkemampuan untuk melaksanakan perintah agama dengan baik, minimal satu kali per minggu makan daging/telor/ikan, membeli pakaian satu stel per tahun, rata-rata luas lantai rumah 8 meter per segi per anggota keluarga, tidak ada anggota keluarga umur 10 sampai 60 tahun yang buta huruf, semua anak berumur antara 5 sampai 15 tahun bersekolah, satu dari anggota keluarga mempunyai penghasilan rutin atau tetap, dan tidak ada yang sakit selama tiga bulan. Menurut Samuelson dan Nordhous (1997) bahwa penyebab dan terjadinya penduduk miskin dinegara yang berpenghasilan rendah adalah karena dua hal pokok yaitu rendahnya tingkat kesehatan dan gizi, dan lambatnya perbaikan mutu pendidikan.

19

2.2 Konsep Pertumbuhan Ekonomi


Pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya yang ditentukan oleh adanya kemajuan atau penyesuaianpenyesuaian teknologi, institusional (kelembagaan), dan ideologis terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada (Simon Kuznetz dalam Todaro, 2004). Menurut Harrod-Domar, setiap perekonomian dapat menyisihkan suatu proporsi tertentu dari pendapatan nasionalnya jika hanya untuk mengganti barang-barang modal (gedung-gedung, peralatan dan material) yang rusak. Namun untuk menumbuhkan perekonomian diperlukan investasi-investasi baru sebagai tambahan stok modal. Jika dianggap ada hubungan ekonomis secara langsung antara besarnya stok modal (K) dan output total (Y), maka setiap tambahan bersih terhadap stok modal akan mengakibatkan kenaikan output total sesuai dengan rasio output modal tersebut. Menurut teori pertumbuhan Solow-Swan, pertumbuhan ekonomi tergantung pada pertambahan penyediaan faktor-faktor produksi (penduduk, tenaga kerja, dan akumulasi modal) dan tingkat kemajuan teknologi. Menurut Tarigan (2004) pertumbuhan ekonomi wilayah adalah

pertambahan pendapatan masyarakat yang terjadi di suatu wilayah, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (value added) yang terjadi di wilayah tersebut. Menurut pandangan kaum historis, diantaranya Friedrich List dan Rostow, pertumbuhan ekonomi merupakan tahapan proses tumbuhnya perekonomian mulai dari perekonomian bersifat tradisional yang bergerak di sektor pertanian dimana produksi bersifat subsisten, hingga akhirnya menuju perekonomian modern yang didominasi oleh sektor industri manufaktur. Menurut pandangan

20

ekonom klasik, Adam Smith, David Ricardo, Thomas Robert Malthus dan John Straurt Mill, maupun ekonom neo klasik, Robert Solow dan Trevor Swan, mengemukakan bahwa pada dasarnya ada empat faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yaitu (1) jumlah penduduk, (2) jumlah stok barang modal, (3) luas tanah dan kekayaan alam, dan (4) tingkat teknologi yang digunakan. Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan atau berkembang apabila tingkat kegiatan ekonomi lebih tinggi dari pada apa yang dicapai pada masa sebelumnya (Kuncoro, 2003). Sedangkan menurut Schumpeter, faktor utama yang menyebabkan perkembangan ekonomi adalah proses inovasi, dan pelakunya adalah inovator atau wiraswasta (entrepreneur). Kemajuan ekonomi suatu masyarakat hanya bisa diterapkan dengan adanya inovasi oleh para entrepreneur. Menurut Boediono, pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan kenaikan output per kapita dimana ada dua sisi yang perlu diperhatikan, yaitu sisi output totalnya (GDP) dan sisi jumlah penduduknya. Output per kapita adalah output total dibagi dengan jumlah penduduk. Menurut Nafziger, pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan kenaikan produksi suatu negara atau kenaikan pendapatan per kapita suatu negara, sedangkan menurut Kuznets (Todaro, 2003), pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan atau dimungkinkan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian-penyesuaian teknologi, institusional (kelembagaan), dan ideologis terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada.

21

Menurut Todaro (2003), ada tiga faktor utama dalam pertumbuhan ekonomi, yaitu Akumulasi Modal, Pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja, Kemajuan Teknologi : 1. Akumulasi modal termasuk semua investasi baru yang berwujud tanah (lahan), peralatan fiskal, dan sumber daya manusia (human resources). Akumulasi modal akan terjadi jika ada sebagian dari pendapatan sekarang di tabung yang kemudian diinvestasikan kembali dengan tujuan untuk memperbesar output di masa-masa mendatang. Investasi juga harus disertai dengan investasi infrastruktur, yakni berupa jalan, listrik, air bersih, fasilitas sanitasi, fasilitas komunikasi, demi menunjang aktivitas ekonomi produktif. Investasi dalam pembinaan sumber daya manusia bermuara pada peningkatan kualitas modal manusia, yang pada akhirnya dapat berdampak positif terhadap angka produksi. 2. Pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja. Pertumbuhan penduduk dan hal-hal yang berhubungan dengan kenaikan jumlah angka kerja (labor force) secara tradisional telah dianggap sebagai faktor yang positif dalam merangsang pertumbuhan ekonomi. Artinya, semakin banyak angkatan kerja semakin produktif tenaga kerja, sedangkan semakin banyak penduduk akan meningkatkan potensi pasar domestiknya. 3. Kemajuan Teknologi. Kemajuan teknologi disebabkan oleh teknologi cara-cara baru dan cara-cara lama yang diperbaiki dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan tradisional. Ada 3 klasifikasi kemajuan teknologi, yakni Kemajuan teknologi yang bersifat netral, terjadi jika tingkat output yang dicapai lebih tinggi pada kuantitas dan kombinasi-kombinasi input yang sama, kemajuan teknologi yang bersifat hemat tenaga kerja (labor

22

saving) atau hemat modal (capital saving), yaitu tingkat output yang lebih tinggi bisa dicapai dengan jumlah tenaga kerja atau input modal yang sama, dan kemajuan teknologi yang meningkatkan modal, terjadi jika penggunaan teknologi tersebut memungkinkan kita memanfaatkan barang modal yang ada secara lebih produktif. Menurut Nugraheni, pengukuran akan kemajuan sebuah perekonomian memerlukan alat ukur yang tepat, beberapa alat pengukur pertumbuhan ekonomi antara lain yaitu : a. Produk Domestik Bruto (PDB) Produk Domestik Bruto (PDB), atau di tingkat regional disebut Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), merupakan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh suatu perekonomian dalam satu tahun dan dinyatakan dalam harga pasar. Baik PDB atau PDRB merupakan ukuran yang global sifatnya, dan bukan merupakan alat ukur pertumbuhan ekonomi yang tepat, karena belum dapat mencerminkan kesejahteraan penduduk yang sesungguhnya, padahal sesungguhnya kesejahteraan harus dinikmati oleh setiap penduduk di negara atau daerah yang bersangkutan. b. Produk Domestik Bruto Per kapita/Pendapatan Per kapita Produk domestik bruto per kapita atau produk domestik regional bruto per kapita pada skala daerah dapat digunakan sebagai pengukur pertumbuhan ekonomi yang lebih baik karena lebih tepat mencerminkan kesejahteraan penduduk suatu negara daripada nilai PDB atau PDRB saja. Produk domestic bruto per kapita baik di tingkat nasional maupun di daerah adalah jumlah PDB nasional atau PRDB suatu daerah dibagi dengan

23

jumlah penduduk di Negara maupun di daerah yang bersangkutan, atau dapat disebut juga sebagai PDB atau PDRB rata-rata. Bank Dunia menggunakan Produk Nasional Bruto (PNB), bukan PDB sebagai alat ukur perkembangan ekonomi suatu Negara yaitu dengan memperhitungkan pendapatan bersih dan faktor produksi milik orang asing. Walaupun PDB atau PNB per kapita merupakan alat pengukur yang lebih baik. namun tetap belum mencerminkan

kesejahteraan penduduk secara tepat, karena PDB rata-rata tidak mencerminkan kesejahteraan ekonomi yang sesungguhnya dirasakan oleh setiap orang di suatu negara. Dapat saja angka-angka rata-rata tersebut tinggi, namun

sesungguhnya ada penduduk atau sekolompok penduduk yang tidak menerima pendapatan sama sekali. Oleh sebab itu, perlu diperhatikan unsur distribusi pendapatan di antara penduduk suatu negara. Dengan memperhatikan unsur distribusi pendapatan itu, maka PDB atau PNB per kapita yang tinggi disertai distribusi pendapatan yang lebih merata akan mencerminkan kesejahteraan ekonomi yang lebih baik daripada bila pendapatan per kapitanya tinggi namun ada distribusi pendapatan yang tidak merata. Meskipun demikian, demi sederhananya pengukuran, pendapatan per kapita tetap merupakan alat pengukur yang unggul dibanding dengan alat-alat pengukur yang lain.

2.3 Konsep Upah


Upah pada dasarnya merupakan sumber utama penghasilan seseorang, oleh karenanya upah harus cukup untuk memenuhi kebutuhan pekerja dan

24

keluarganya dengan wajar. Sebagai imbalan terhadap tenaga dan pikiran yang diberikan pekerja kepada pengusaha, maka pengusaha akan memberikan kepada pekerja dalam bentuk upah. Upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha kepada karyawan untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau dilakukan dan dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang yang ditetapkan atas dasar suatu persetujuan atau peraturan perundang-undangan serta dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara pengusaha dengan karyawan termasuk tunjangan, baik untuk karyawan itu sendiri maupun untuk keluarganya. Jadi upah berfungsi sebagai imbalan atas usaha kerja yang diberikan seseorang tersebut kepada pengusaha. Upah dibayar oleh pengusaha sesuai atau sama dengan usaha kerja (produktivitas) yang diberikan kepada pengusaha (Sumarsono, 2003). Upah adalah sebuah kontrofersi , bagi yang mendukung kebijakan tersebut mengemukakan bahwa upah minimum diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pekerja agar sampai pada tingkat pendapatan "living wage", yang berarti bahwa orang yang bekerja akan mendapatkan pendapatan yang layak untuk hidupnya. Upah dapat mencegah pekerja dalam pasar monopsoni dari eksploitasi tenaga kerja terutama yang low skilled. Upah dapat meningkatkan produktifitas tenaga kerja dan mengurangi konsekuensi pengangguran seperti yang diperkirakan teori ekonomi konverisional (Kusnaini, 1998). Upah merupakan salah satu unsur untuk menentukan harga pokok dalam perusahaan, karena ketidaktepatan dalam menentukan besarnya upah akan sangat merugikan perusahaan. Oleh karenanya ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat upah yaitu sebagai berikut :

25

1. Penawaran dan Permintaan Tenaga Kerja Untuk pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tinggi dan jumlah tenaga kerjanya langka, maka upah cenderung tinggi, sedangkan untuk jabatan - jabatan yang mempunyai penawaran yang melimpah, upahnya cenderung turun. 2. Organisasi Buruh Ada tidaknya organisasi buruh serta kuat lemahnya organisasi buruh akan mempengaruhi tingkat upah. Adanya serikat buruh yang kuat akan meningkatkan tingkat upah demikian pula sebaliknya. 3. Kemampuan untuk Membayar Pemberian upah tergantung pada kemampuan membayar dari perusahaan. Bagi perusahaan, upah merupakan salah satu

komponen biaya produksi, tingginya upah akan mengakibatkan tingginya biaya produksi, yang pada akhirnya akan mengurangi keuntungan. 4. Produktivitas Kerja Upah sebenarnya merupakan imbalan atas prestasi kerja karyawan. Semakin tinggi prestasi kerja karyawan, maka semakin besar upah yang mereka terima. Prestasi kerja ini dinyatakan sebagai

produktivitas kerja. 5. Biaya Hidup Dikota besar dimana biaya hidup tinggi, upah kerja cenderung tinggi. Biaya hidup juga merupakan batas penerimaan upah dari karyawan. 6. Pemerintah

26

Pemerintah dengan peraturan-peraturannya mempengaruhi tinggi rendahnya upah. Peraturan tentang upah umumnya merupakan batas bawah dari tingkat upah yang harus dibayarkan. Dalam pasar tenaga kerja sangat penting untuk menetapkan besarnya upah yang harus dibayarkan perusahaan pada pekerjanya. Undang-undang upah minimum menetapkan harga terendah tenaga kerja yang harus dibayarkan (Mankiw, 2006). Menurut Kaufman (2000), tujuan utama ditetapkannya upah minimum adalah memenuhi standar hidup minimum seperti untuk kesehatan, efisiensi, dan kesejahteraan pekerja. Upah minimum adalah usaha untuk mengangkat derajat penduduk berpendapatan rendah, terutama pekerja miskin. Menurut Rachman (2005), Tujuan penetapan upah minimum dapat dibedakan secara mikro dan makro. Secara mikro tujuan penetapan upah minimum yaitu (a) sebagai jaring pengaman agar upah tidak merosot, (b) mengurangi kesenjangan antara upah terendah dan tertinggi di perusahaan, dan (c) meningkatkan penghasilan pekerja pada tingkat paling bawah. Sedangkan secara makro, penetapan upah minimum bertujuan untuk (a) pemerataan pendapatan, (b) peningkatan daya beli pekerja dan perluasan kesempatan kerja, (c) perubahan struktur biaya industri sektoral, (d) peningkatan produktivitas kerja nasional, (d) peningkatan etos dan disiplin kerja, dan (e) memperlancar komunikasi pekerja dan pengusaha dalam rangka hubungan bipartite. Pada awalnya upah minimum ditentukan secara terpusat oleh

Departemen Tenaga Kerja untuk region atau wilayah-wilayah di seluruh Indonesia. Dalam perkembangan otonomi daerah, kemudian mulai tahun 2001

27

upah minimum ditetapkan oleh masing-masing provinsi. Upah Minimum ini dapat dibedakan menjadi upah minimum regional dan upah minimum sektoral. 1. Upah Minimum Regional Upah Minimum Regional adalah upah bulanan terendah yang terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap bagi seorang pekerja tingkat paling bawah dan bermasa kerja kurang dari satu tahun yang berlaku di suatu daerah tertentu. 2. Upah Minimum Sektoral Upah minimum sektoral adalah upah yang berlaku dalam suatu provinsi berdasarkan kemampuan sektor.

2.4 Konsep Pendidikan


Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sisitem Pendidikan, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujutkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME,

berakhlakmulia, sehat berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jalur pendidikan: 1. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang tersetruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, menengah dan tinggi.jenjang pendidikan formal:

28

a. Pendidikan dasar, merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat. b. Pendidikan menengah, merupakan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA),

Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat. c. Pendidikan tinggi, merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doctor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi. Perguruan tinggi dapat berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas. 2. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara tersetruktur dan berjenjang. Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan ini meliputi

29

pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, dan lain-lain. 3. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluargadan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan formal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan setandar nasional pendidikan. Dalam upaya mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable development), sektor pendidikan memainkan peranan yang sangat strategis khususnya dalam mendorong akumulasi modal yang dapat

mendukung proses produksi dan aktivitas ekonomi lainnya. Secara definisi, seperti yang dilansir dalam World Commision on Environmental and Development, 1997 dalam McKeown (dalam Dian Satria, 2008), bahwa sustainable development adalah: Sustainable development is development that meets the needs of the present without comprimising the ability of future generations to meet their own needs. Dalam konteks ini, pendidikan dianggap sebagai alat untuk mencapai target yang berkelanjutan, karena dengan pendidikan aktivitas pembangunan dapat tercapai, sehingga peluang untuk meningkatkan kualitas hidup di masa depan akan lebih baik. Di sisi lain, dengan pendidikan, usaha pembangunan yang lebih hijau (greener

development) dengan memperhatikan aspek-aspek lingkungan juga mudah tercapai.

30

2.4.1Pembangunan Modal Manusia Melalui Pendidikan


Analisis atas investasi dalam bidang pendidikan menyatu dalam pendekatan modal manusia. Modal manusia (human capital) adalah istilah yang sering digunakan oleh para ekonom untuk pendidikan, kesehatan, dan kapasitas manusia yang lain yang dapat meningkatkan produktivitas jika hal-hal tersebut ditingkatkan. Pendidikan memainkan kunci dalam membentuk kemampuan sebuah negara untuk menyerap teknologi moderen dan untuk mengembangkan kapasitas agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan (Todaro, 2004). Pembangunan modal manusia diyakini tidak hanya dapat meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan, namun juga berperan sentral mempengaruhi distribusi pendapatan di suatu perekonomian. (Becker, 1964; Schultz, 1981 dalam Dian Satria, 2008). Logika ini jugalah yang mendorong strategi pengentasan kemiskinan yang bersentral pada pentingnya pembangunan modal manusia (human capital). Romer, 1986; Lucas, 1988 menjelaskan bahwa modal manusia tidak hanya diidentifikasi sebagai kontributor kunci dalam pertumbuhan dan pengurangan kemiskinan, namun juga mendorong tujuan pembangunan untuk meningkatkan human freedom secara umum. Selain itu, fokus perkembangan global saat ini yang dicatat dalam millennium development goals juga telah memposisikan perbaikkan kualitas modal manusia dalam prioritas yang utama.

2.5 Konsep Pengangguran


Pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja, yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah

31

tertentu, tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkan (Sukirno, 1999). Jenis-jenis pengangguran: 1) Jenis-Jenis Pengangguran Berdasarkan Penyebabnya: a. Pengangguran Alamiah Pengangguran yang berlaku pada tingkat kesempatan kerja penuh. Kesempatan kerja penuh adalah keadaan dimana sekitar 95 persen dari angkatan kerja dalam suatu waktu sepenuhnya bekerja. Pengangguran sebanyak lima persen inilah yang dinamakan sebagai pengangguran alamiah. b. Pengangguran Friksional Suatu jenis pengangguran yang disebabkan oleh tindakan seorang pekerja untuk meninggalkan pekerjaannya dan mencari kerja yang lebih baik atau lebih sesuai dengan keinginannya. c. Pengangguran Struktural Pengangguran yang diakibatkan oleh pertumbuhan ekonomi. Tiga sumber utama yang menjadi penyebab berlakunya pengangguran sturtural adalah: a) Perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi yang

semakin maju membuat permintaan barang dari industri yang memproduksi barang-barang yang kuno menurun dan akhirnya tutup dan pekerja di industri ini akan menganggur.

Pengangguran ini disebut juga sebagai pengangguran teknologi. b) Kemunduran yang disebabkan oleh adanya persaingan dari luar negeri atau daerah lain. Persaingan dari luar negeri yang mampu menghasilkan produk yang lebih baik dan lebih murah

32

akan membuat permintaan akan barang lokal menurun. Industri local yang tidak mampu bersaing akan bangkrut sehingga timbul pengangguran. c) Kemunduran perkembangan ekonomi suatu kawasan sebagai akibat dari pertumbuhan yang pesat dikawasan lain. d. Pengangguran Konjungtur Penganguran umumnya yang melebihi pengangguran berlaku alamiah. sebagai Pada akibat

pengguran

konjungtur

pengurangan dalam permintaan agregat. Penurunan permintaaan agregat mengakibatkan perusahaan mengurangi jumlah pekerja atau gulung tikar, sehingga muncul pengangguran konjungtur. 2) Jenis-Jenis Pengangguran Berdasarkan Cirinya: a. Pengangguran Terbuka Pengguran ini tercipta sebagai akibat penambahan pertumbuhan kesempatan kerja yang lebih rendah daripada pertumbuhan tenaga kerja, akibatnya banyak tenaga kerja yang tidak memperoleh pekerjaan. Menurut Badan Pusat Stsatistik (BPS), pengangguran terbuka adalah adalah penduduk yang telah masuk dalam angkatan kerja tetapi tidak memiliki pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, serta sudah memiliki pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. b. Pengangguran tersembunyi Keadaan dimana suatu jenis kegiatan ekonomi dijalankan oleh tenaga kerja yang jumlahnya melebihi dari yang diperlukan.

33

c. Pengangguran Musiman Keadaan pengangguran pada masa-masa tertentu dlam satu tahun. Penganguran ini biasanya terjadi di sektor pertanian. Petani akan mengganggur saat menunggu masa tanam dan saat jeda antara musim tanam dan musim panen. d. Setengah Menganggur Keadaan dimana seseorang bekerja dibawah jam kerja normal. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), di Indonesia jam kerja normal adalah 35 jam seminggu, jadi pekerja yang bekerja di bawah 35 jam seminggu masuk dalam golongan setengah menganggur.

2.5.1Dampak Pengangguran
Salah satu faktor penting yang mementukan kemakmuran suatu masyarakayat adalah tingkat pendapatan. Pendapatan masyarakat mencapai maksimum apabila tingkat penggunaan tenaga kerja penuh dapat tercapai. Penganguran berdampak mengurangi pendapatan masyarakat, sehingga akan menurunkan tingkat kemakmuran yang mereka capai. Ditinjau dari sudut individu, pengangguran menimbulkan berbagai masalah ekonomi dan sosial kepada yang mengalaminya. Keadaan pendapatan menyebabkan para penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya. Apabila pengangguran di suatu negara sangat buruk, kekacauan politik dan social selalu berlaku dan menimbulkan efek yang buruk bagi kepada kesejahteraan masyarakat dan prospek pembangunan ekonomi dalam jangka panjang Sukirno (2004).

34

2.6 Hubungan Antar Variable Secara Langsung 2.6.1 Pendidikan Terhadap Tingkat Kemiskinan
Menurut McKeown bahwa sustainable development adalah: Sustainable development is development that meets the needs of the present without comprimising the ability of future generations to meet their own needs. Dalam konteks ini, pendidikan dianggap sebagai alat untuk mencapai target yang berkelanjutan, karena dengan pendidikan aktivitas pembangunan dapat tercapai, sehingga peluang untuk meningkatkan kualitas hidup di masa depan akan lebih baik. Teori pertumbuhan baru menekankan pentingnya peranan pemerintah terutama dalam meningkatkan pembangunan modal manusia (human capital) dan mendorong penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan produktivitas manusia. Kenyataannya dapat dilihat dengan melakukan investasi pendidikan akan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang diperlihatkan dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka pengetahuan dan keahlian juga akan meningkat sehingga akan mendorong peningkatan produktivitas kerjanya. Perusahaan akan memperoleh hasil yang lebih banyak dengan

memperkerjakan tenaga kerja dengan produktivitas yang tinggi, sehingga perusahaan juga akan bersedia memberikan gaji yang lebih tinggi bagi yang bersangkutan. Di sector informal seperti pertanian, peningkatan ketrampilan dan keahlian tenaga kerja akan mampu meningkatkan hasil pertanian, karena tenaga kerja yang terampil mampu bekerja lebih efisien. Pada akhirnya seseorang yang memiliki produktivitas yang tinggi akan memperoleh kesejahteraan yang lebih baik, yang diperlihatkan melalui peningkatan pendapatan maupun konsumsinya.

35

Rendahnya produktivitas kaum miskin dapat disebabkan oleh rendahnya akses mereka untuk memperoleh pendidikan (Rasidin K dan Bonar M, 2004). Keterkaitan kemiskinan dan pendidikan sangat besar karena pendidikan memberikan kemampuan untuk berkembang lewat penguasaan ilmu dan keterampilan. Pendidikan juga menanamkan kesadaran akan pentingnya martabat manusia. Mendidik dan memberikan pengetahuan berarti menggapai masa depan. Hal tersebut harusnya menjadi semangat untuk terus melakukan upaya mencerdaskan bangsa. Siregar dan Wahyuniarti (2008), di dalam penelitiannya menemukan bahwa pendidikan yang diukur dengan jumlah penduduk yang lulus pendidikan SMP, SMA, dan diploma memiliki berpengaruh besar dan signifikan terhadap penurunan jumlah penduduk miskin. Ini mencerminkan bahwa pembangunan modal manusia (human capital) melalui pendidikan merupakan determinan penting untuk menurunkan jumlah penduduk miskin.

2.6.2 Upah Minimum Terhadap Tingkat Kemiskinan


Tujuan utama ditetapkannya upah minimum adalah memenuhi standar hidup minimum seperti untuk kesehatan, efisiensi, dan kesejahteraan pekerja. Upah minimum adalah usaha untuk mengangkat derajat penduduk

berpendapatan rendah, terutama pekerja miskin. Semakin meningkat tingkat upah minimum akan meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga

kesejahteraan juga meningkat dan sehingga terbebas dari kemiskinan (Kaufman 2000). Penetapan tingkat upah yang dilakukan pemerintah pada suatu negara akan memberikan pengaruh terhadap besarnya tingkat pengangguran yang ada.

36

Semakin tinggi besaran upah yang ditetapkan oleh pemerintah, maka hal tersebut akan berakibat pada penurunan jumlah orang yang bekerja pada negara tersebut (Kaufman dan Hotckiss, 1999).

2.6.3 Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Tingkat Kemiskinan


Mengenai hubungan antara pertumbuhan dan ketimpangan, awalnya dipicu oleh sebuah hipotesis yang dikemukakan oleh Kuznets (1955) - dikenal dengan Kuznets Hypothesis, yang menyatakan bahwa keterkaitan antara pertumbuhan dan ketimpangan seperti U-shaped terbalik: pada tahap awal pembangunan ekonomi, distribusi pendapatan cenderung buruk dan tidak akan meningkat sampai negara tersebut mencapai status berpendapatan menengah (middleincome). Namun sesudah fase tersebut, distribusi pendapatan akan terus membaik atau ketimpangan akan terus menurun. Implikasi lain dari temuan ini, menurut Adams (2003), adalah bahwa pada tahap awal proses pembangunan, tingkat kemiskinan cenderung meningkat, dan butuh waktu beberapa tahun untuk menjadi berkurang di negara-negara berkembang. Siregar (2006) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan syarat keharusan (necessary condition) bagi pengurangan kemiskinan. Adapun syarat kecukupannya (necessary condition) ialah bahwa pertumbuhan tersebut efektif dalam mengurangi kemiskinan. Artinya, pertumbuhan tersebut menyebar di setiap golongan pendapatan ,termasuk digolongan penduduk miskin (growth with equity). Kraay (2002) mengatakan bahwa pertumbuhan akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar bagi si-miskin jika pertumbuhan tersebut disertai dengan berbagai kebijakan seperti penegakan hukum, disiplin fiskal, keterbukaan dalam

37

perdagangan internasional, dan strategi pengentasan kemiskinan. Pendapat ini nampaknya mempertegas pendapat Bigsten dan Levin (2000) sebelumnya yang menyatakan bahwa negara-negara yang berhasil dalam pertumbuhan

kemungkinan besar juga akan berhasil dalam menurunkan kemiskinan, apalagi jika terdapat dukungan kebijakan dan lingkungan kelembagaan (institutional environment) yang tepat. Penelitian yang dilakukan Wongdesmiwati (2009), menemukan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat kemiskinan. Kenaikan pertumbuhan ekonomi akan menurunkan tingkat

kemiskinan. Hubungan ini menunjukkan pentingnya mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk menurunkan tingkat kemiskinan.

2.7 Hubungan Antar Variable Secara Tidak Langsung 2.7.1 Hubungan Pendidikan Terhadap Pengangguran
Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin besar harapannya pada jenis pekerjaan yang aman. Golongan ini menilai bahwa tingkat pekerjaan yang stabil daripada pekerjaan yang beresiko tinggi sehingga lebih suka bekerja pada perusahaan besar daripada membuka usaha sendiri. Gejala meningkatnya pengangguran tenaga kerja terdidik diantaranya disebabkan adanya keinginan memilih pekerjaan yang memiliki resiko terkecil atau aman. Dengan demikian angkatan kerja terdidiklah suka memilih menganggur daripada menerima pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka (Tobing, 2003). Asumsi dasar dalam teori human capital adalah bahwa seseorang dapat meningkatkan penghasilannya melalui peningkatan pendidikan. Hubungan pendidiakn dan produktivitas kerja dapat tercermin dalam tingkat penghasilan

38

yang diperoleh. Aspek lain adalah perbaikan gizi dan kesehatan yang dapat dilakukan dengan ketersiediaan makanan yang cukup bergizi sesuai dengan kebutuhan tubuh. Pendidikan dan kesehatan tersebut sangat penting dalam peningkatan produktivitas, yang akhirnya dapat meningkatkan penghasilan (Simanjuntak, 1985).

2.7.2 Hubungan Upah Terhadap Pengangguran


Menurut Robert Solow, membuktikan bahwa adanya hubungan negative antara laju pertumbuhan inflasi dan laju pertumbuhan pengangguran (Tingkat Pengangguran). Berdasarkan kurva philips juga menunjukkan hubungan negative antara persentase perubahan tingkat upah dan tingkat pengangguran dimana antara tingkat inflasi dan tingkat upah pekerja yang dibuktikan dengan kenaikan tingkat yang tinggi mengakibatkan menurunnya tingkat pengangguran begitupun sebaliknya tingkat pengangguran yang tinggi akan disertai dengan menurunnya tingkat upah. Hal ini menunjukkan adanya hal negative antara tingkat upah dan pengangguran (A.W Philips).

2.7.3 Hubungan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Pengangguran


Dengan menggunakan analisis lintas Negara menunjukkan bahwa

kemiskinan disuatu Negara akan semakin rendah jika laju pertumbuhan ekonominya pada tahun sebelum sebelumnya tinggi, dan semakin tinggi laju pertumbuhan ekonomi semakin cepat turunnya tingkat kemiskinan (Mills dan Perna, 1993).

39

2.8 Hubungan Pengangguran Dengan Tingkat Kemiskinan


Menurut Sukirno (2004), efek buruk dari pengangguran adalah mengurangi pendapatan masyarakat yang pada akhirnya mengurangi tingkat kemakmuran yang telah dicapai seseorang. Semakin turunnya kesejahteraan masyarakat karena menganggur tentunya akan meningkatkan peluang mereka terjebak dalam kemiskinan karena tidak memiliki pendapatan. Apabila pengangguran di suatu negara sangat buruk, kekacauan politik dan sosial selalu berlaku dan menimbulkan efek yang buruk bagi kepada kesejahteraan masyarakat dan prospek pembangunan ekonomi dalam jangka panjang. Menurut Lincolin Arsyad (1997) yang menyatakan bahwa salah jika beranggapan setiap orang yangtidak mempunyai pekerjaan adalah miskin, sedang yang bekerja secara penuhadalah orang kaya. Hal ini karena kadangkala ada pekerja di perkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. Mereka menolak pekerjaan yang merekarasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka.

2.9 Tinjauan Empiris


Wongdesmiwati (2009) dalam jurnal Pertumbuhan Ekonomi Dan

Pengentasan Kemiskinan Di Indonesia: Analisis Ekonometrika, menggunakan metode analisis regresi berganda dari tahun1990 hingga tahun 2004. Hasil dari penelitian ini adalah variabel jumlah penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah penduduk miskin.Variabel pertumbuhan ekonomi dan variabel angka melek huruf berpengaruh negatif dan signifikan terhadap jumlah penduduk

40

miskin. Variabel angka harapan hidup, penggunaan listrik, dan konsumsi makanan tidak signifikan berpengaruh terhadap penduduk miskin. Adit Agus Prastyo (2010), yang berjudul Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kemiskinan (Studi 35 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah) dimana variabel-variabel yang digunakan adalah pertumbuhan ekonomi, pendidikan dan pengangguran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah panel data dengan pendekatan efek tetap (fixed effect model), dan menggunakan jenis data sekunder. Variabel yang digunakan memiliki signifikansi sebesar 0.982677% terhadap kemiskinan yang ada di jawa tengah pada periode 2003-2007. Rasidin K. Sitepu dan Bonar M. Sinaga (2005), dalam junal Dampak Investasi Sumberdaya Manusia Terhadap Petumbuhan Ekonomi Dan

Kemiskinan Di Indonesia: Pendekatan Model Computable General Equilibrium, menggunakan metode Computable General Equilibrium (CGE), dan FosterGreer-Thorbecke method. Variabel yang digunakan adalah tingkat kemiskinan, petumbuhan ekonomi, investasi pendidikan, dan investasi kesehatan. Hasil dari penelitian ini adalah investasi sumberdaya manusia berdampak langsung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi. Investasi kesehatan dan investasi

pendidikan sama-sama dapat mengurangi kemiskinan, kesehatan memiliki persentase yang lebih besar.

namun investasi

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini tidak sepenuhnya sama dengan variabel yang digunakan dalam penelitian terdahulu. Variabel yang sama adalah variabel pertumbuhan ekonomi dan variabel pendidikan., sedangkan variabel upah minimum dan pengangguran diperoleh dari teori.

41

Variabel upah minimum dan pengangguran merupakan variabel baru yang tidak ada pada penelitian terdahulu. Pada penelitian terdahulu terdapat beberapa variabel yang berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan, tetapi tidak digunakan dalam penelitian ini dengan alasan keterbatasan data dan beberapa variabel sudah terwakili oleh variabel yang lain.

2.10 Kerangka Pikir


Untuk memudahkan kegiatan penelitian yang akan dilakukan serta untuk memperjelas akar pemikiran dalam penelitian ini, berikut ini gambar kerangka pemikiran yang skematis:

Pendidikan (-) (X1)

(-) (-)

Upah (X2)

(-) (-)

Pengangguran (Y)

(+)

Tingkat Kemiskinan (Z)

Pertumbuhan Ekonomi (X3)

(-)

Keterangan : : Secara Tidak Langsung, Melalui Pengangguran : Secara Langsung

Bahwa pertumbuhan ekonomi adalah indikator yang lazim digunakan untuk melihat keberhasilan pembangunan dan merupakan syarat bagi pengurangan

42

kemiskinan.

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas

perekonomian akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu. Tambahan pendapatan dari aktivitas ekonomi akan berpengaruh terhadap kemiskinan jika mampu menyebar di setiap golongan pendapatan, termasuk golongan miskin. Semakin banyak golongan miskin memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekonomi maka kesejahteraannya akan meningkat dan lepas dari kemiskinan. Tujuan utama penetapan upah minimum adalah meningkatkan kesejahteraan dan melindungi pekerja. Upah minimum mencerminkan pendapatan yang diterima pekerja, adanya kenaikan tingkat upah minimum akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Penetapan upah minimum yang pantas dan tepat diharapkan mendorong penduduk yang berada dibawah kemiskinan mampu hidup layak sehingga tingkat kemiskinan akan turun. Keterkaitan kemiskinan dan pendidikan sangat besar karena pendidikan memberikan kemampuan untuk berkembang lewat penguasaan ilmu dan keterampilan yang akan meningkatkan produktifitas. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka pengetahuan dan keahliannya akan meningkat, sehingga akan mendorong produktivitas kerjanya. Pada akhirnya seseorang yang memiliki produktivitas yang tinggi akan memperoleh kesejahteraan yang lebih baik, yang diperlihatkan melalui peningkatan pendapatan maupun konsumsinya. Pengangguran akan menimbulkan berbagai masalah ekonomi dan social kepada yang mengalaminya. Kondisi menganggur menyebabkan seseorang tidak memiliki pendapatan, akibatnya kesejahteraan yang telah dicapai akan semakin merosot. Semakin turunnya kesejahteraan masyarakat karena

menganggur tentunya akan meningkatkan peluang terjebak dalam kemiskinan.

43

2.11 Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara/kesimpulan yang diambil untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam suatu penelitian yang sebenarnya masih harus diuji secara empiris. Hipotesis yang dimaksud merupakan dugaan yang mungkin benar atau mengkin salah. Dengan mengacu pada dasar pemikiran yang bersifat teoritis dan berdasarkan studi empiris yang pernah dilakukan berkaitan dengan penelitian dibidang ini, maka akan diajukan hipotesis sebagai berikut : 1. Diduga secara langsung pendidikan, upah minimum dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif (-) terhadap kemiskinan di Kabupaten Takalar periode tahun 1999-2010. 2. Diduga secara tidak langsung upah, pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendidikan berpengaruh negatif (-) terhadap kemiskinan di Kabupaten Takalar periode tahun 1999-2010 melalui pengangguran. 3. Di duga secara langsung pengangguran berhubungan positif (+) terhadap kemiskinan di Kabupaten Takalar 1999-2010.

44

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian klausal, dimana desain klausal berguna untuk mengukur hubungan-hubungan antar variable riset atau berguna untuk menganalisis bagaimana satu variabel, mempengaruhi variabel lain (Umar, 2003). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi, upah minimum, pendidikan, tingkat pengangguran sebagai variabel bebas terhadap tingkat kemiskinan sebagai variabel terikat.

3.2 Jenis dan Sumber Data


Sumber Data yang dipergunakan dalam penelitian ini diperoleh bersumber dari : Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yaitu data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti, misalnya diambil dari Badan Statistik, dokumen - dokumen perusahaan atau organisasi, surat kabar dan majalah, ataupun publikasi lainnya (Marzuki, 2005). Contoh jenis data seperti Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Takalar, Tingkat

Pengangguran, Jumlah penduduk berumur 10 tahun keatas yang lulus pendidikan terakhir SMA keatas, Upah minimum dan Pertumbuhan ekonomi. Data sekunder yang digunakan adalah data deret waktu (time-series data) untuk kurun waktu tahun 1999 -2010. Secara umum data-data dalam penelitian ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik Takalar Dan Makassar (Sulawesi Selatan).

45

Informasi lain bersumber dari studi kepustakaan lain berupa jurnal ilmiah dan buku-buku teks.

3.3 Teknik Pengumpulan Data


Data yang diperoleh untuk penelitian ini diperoleh dari hasil studi pustaka dan teknik dokumentasi. Studi pustaka merupakan teknik analisa untuk mendapatkan informasi melalui catatan, literatur, dan lain-lain yang masih relevan, dan teknik dokumentasi dilakukan dengan menelusuri dan

mendokumentasikan data-data dan informasi yang berkaitan dengan obyek studi.

3.4 Metode Analisis Data


Adapun metode analisis yang digunakan untuk menguji adalah metode regresi 2SLS atau metode regresi dua tahap. Metode ini untuk mengetahui apakah variabel independen (pendidikan, upah, dan pertumbuhan ekonomi) secara individu berpengaruh terhadap variabel dependen (kemiskinan), namun melalui variabel perantara (pengangguran). Adapun Pengaruh variabel

independen (pendidikan, upah, dan pertumbuhan ekonomi) secara individu berpengaruh terhadap variabel perantara (pengangguran) dirumuskan sebagai berikut:

Y Y1 Y

= (X1, X2, X3) = 0 X11 X2 2 3x3 + 1 = Ln 0 + 1 Ln X1 + 2 Ln X2 + 3 X3 + 1 .(1)

46

Pengaruh langsung pertumbuhan ekonomi)

variabel

independen

(pendidikan,

upah,

dan

dan variable perantara (pengangguran) terhadap

variabel dependen (kemiskinan) dirumuskan sebagai berikut:

Z Z

= (Y, X1, X2, X3 ) = 0 X11 X22 3 X3 + 4 Y + 1

Ln Z = Ln 0 + 1 Ln X1 + 2 Ln X2 + 3 X3 + 4 Y +2 (2)
Untuk melihat pengaruh total Tingkat pendidikan ,Upah minimum ,dan pertumbuhan ekonomi melalui variable perantara (Pengangguran) terhadap Tingkat kemisikinan maka Subsitusi persamaan (1) ke dalam persamaan (2) sehingga persamaannya menjadi:

Ln Z = Ln 0 + 1 Ln X1 + 2 Ln X2 + 3 X3 + 4 (Ln 0 + 1 Ln X1 + 2 Ln X2 + 3 X3 + 1) + 2 = Ln 0 + 1 Ln X1 + 2 Ln X2 + 3 X3 + 4 Ln 0 + 4 1 Ln X1 + 4 2 Ln X2 + 43 X3 + 41 + 2 = Ln 0 + 4 Ln 0 + 1 Ln X1 + 4 1 Ln X1 + 2 Ln X2 + 4 2 Ln X2 + 3 X3 + 43 X3 + 41 + 2 = (Ln 0 + 4 Ln 0) + (1 + 4 1) Ln X1 + (2 + 4 2) Ln X2 + (3 + 4 3) X3 + (2 + 4 1) (3)


Maka dapat disederhanakan menjadi :

Ln Z = 0 + 1 Ln X1 + 2 Ln X2 + 3 X3 + 3 . (4)

47

dimana : Z Y X1 X2 X3 0 = Ln 0 + 4 Ln 0 1 = (1 + 4 1) = Kemiskinan = Pengangguran = Pendidikan = Upah = Pertumbuhan Ekonomi = Total konstanta = Total pengaruh pendidikan terhadap

kemiskinan secara langsung maupun tidak langsung melalui perngangguran 2 = (2 + 4 2) = Total pengaruh upah minimum terhadap kemiskinan secara langsung maupun tidak langsung melalui pengangguran. 3 = (3 + 4 3) = Total pengaruh pertumbuhan secara langsung ekonomi langsung melalui

terhadap maupun

kemiskinan tidak

pengangguran.

3.4.1 Analisis koefisien determinasi (R2)


Analisis ini dilakukan untuk mengetahui besarnya proporsi sumbangan pengaruh dari variable bebas terhadap variabel terikat. Semakin besar R2 maka semakin kuat pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat.

48

3.4.2 Analisis koefisien Korelasi (R)


Analisis koefisien Korelasi digunakan untuk menunjukkan keeratan hubungan antara variabel bebas terhadap dan terhadap variabel terikat (Pertumbuhan Ekonomi).

3.4.3 Uji Statistik t


Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel bebas secara sendiri-sendiri mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat. Dengan kata lain, untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen dapat menjelaskan perubahan yang terjadi pada variabel dependent secara nyata. Dimana jika thitung > ttabel Hi diterima (signifikan) dan jika thitung < ttabel Ho diterima (tidak signifikan). Uji t digunakan untuk membuat keputusan apakah hipotesis terbukti atau tidak, dimana tingkat signifikan yang digunakan yaitu 5%.

3.4.4 Uji Statistik F


Uji ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independent secara signifikan terhadap variabel dependen. Dimana jika Fhitung < Ftabel, maka Ho diterima atau variabel independen secara bersama-sama tidak memiliki pengaruh terhadap variabel dependen (tidak signifikan) dengan kata lain perubahan yang terjadi pada variabel terikat tidak dapat dijelaskan oleh perubahan variabel independen,dimana tingkat signifikansi yang digunakan yaitu 5 %.

49

3.4 Definisi Operasional Variabel


Untuk lebih mengarahkan dalam pembahasan, maka penulis memberikan batasan variabel yang meliputi: Z = Tingkat Kemiskinan Tingkat kemiskinan (K) adalah persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskian di kabupaten/kota di Takalar 1999 2010 (dalam satuan persen). Y = Pengangguran persentase penduduk dalam angkatan kerja yang tidak memiliki pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan di kabupaten/kota di Takalar 1999-2010 yang diukur dalam satuan persen. X1 = Pendidikan Dinyatakan sebagai jumlah penduduk berumur 10 tahun keatas yang lulus pendidikan terakhir SMA keatas di kabupaten/kota di Takalar 1999 - 2010, yang diukur dalam satuan jiwa. X2 = Upah Minimum Upah minimum yang berlaku di kabupaten/kota di Takalar 1999-2010 yang diukur dalam satuan rupiah. X3 = Pertumbuhan Ekonomi Dinyatakan sebagai perubahan PDRB atas dasar harga konstan di kabupaten/kota di Takalar 1999-2010 (dalam satuan persen).

50

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Tentang Kemiskinan Di Kabupaten Takalar


Kabupaten Takalar berada antara 5.3 - 5.33 derajat Lintang Selatan dan antara 119.22-118.39 derajat Bujur Timur. Kabupaten Takalar dengan ibukota Pattalasang terletak 29 km arah selatan dari Kota Makassar ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayah Kabupaten Takalar adalah sekitar 566,51 km2. Bagian Utara Kabupaten Takalar berbatasan dengan Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, bagian Timur berbatasan dengan Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Gowa, bagian Selatan dibatasi oleh Laut Flores, sementara bagian Barat dibatasi oleh Selat Makassar. Jumlah penduduk miskin di Takalar mengalami penurunan setiap tahunnya. Dalam lima tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Takalar mengklaim berhasil menurunkan persentase kemiskinan hingga empat persen. Namun, Badan Pusat Statistik Takalar punya data berbeda. Lembaga riset ini menyebutkan bahwa angka kemiskinan di Takalar terus meningkat dari tahun ke tahun. Versi Pemkab Takalar, dari 37.015 jiwa yang hidup dibawah garis kemiskinan atau sekira 14,48 persen pada tahun 2007 silam, hingga 2011 lalu angka kemiskinan menurun hingga 10,7 persen atau tersisa 29.118 jiwa. "Target penurunan angka kemiskinan sesuai dengan program pemerintah. Untuk tahun 2012, angka kemiskinan diharapkan dapat berkurang hingga di bawah sepuluh persen," kata Kasubid Litbang Bappeda Takalar, Jamaruddin.

51

Meski angka kemiskinan menurun, pemkab rupanya masih menyiapkan anggaran penanggulangan kemiskinan lebih banyak lagi untuk tahun ini. Tahun 2011 lalu, anggaran yang dialokasikan untuk penanggulangan kemiskinan di Takalar mencapai Rp209 miliar lebih. Tahun ini, estimasi anggaran mencapai Rp210 miliar lebih. Menurut Jamaruddin, anggaran tersebut tidak hanya berasal dari APBD Takalar. Ada tambahan dana dari APBD provinsi dan APBN. Selain itu, seluruh anggaran tersebut terbagi menjadi dua peruntukan, yakni penanggulangan kemiskinan secara langsung dan tidak langsung. Alokasi anggaran secara tidak langsung lebih banyak menyerap anggaran hingga 80 persen. Versi Badan Pusat Statistik (BPS) Takalar, angka kemiskinan di Takalar justru merangkak naik dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan banyaknya penduduk yang berdomisili di pesisir pantai menjalani kehidupan yang tergolong miskin. Pada tahun 2009, terdapat 28.333 jiwa atau sekira 11,06 persen. Tahun 2010 meningkat menjadi 30.100 jiwa atau 11,16 persen. Penduduk miskin naik 0,1 persen pada tahun 2010. "Data penduduk miskin pada 2011 belum rampung. Namun dari data yang ada setiap tahunnya, penduduk miskin dipastikan selalu bertambah," papar Kasi Statistik Sosial BPS Takalar, Abdul Kadir.

52

4.2 Deskripsi Data Tabel 4.1 Data Penelitian Tahun 1999 - 2010 (dalam Persen)

Tahun

Pendidikan (X1) 8.86 9.18 9.84 10.28 10.49 10.09 10.21 10.49 10.23 10.09 10.41 10.42

Upah (X2) 5.58 5.71 5.88 6.17 6.39 6.54 6.68 6.76 6.75 6.81 6.91 7.05

1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Pertumbuhan Ekonomi (X3) 4.57 5.07 5.09 5.13 5.32 5.44 5.58 5.91 6.04 6.19 6.58 6.85

Pengangguran (Y) 3.19 3.31 3.65 3.93 4.08 9.15 8.97 10.09 12.37 9.76 9.24 9.87

Kemiskinan (Z) 9.07 9.37 10.09 13.77 14.09 13.99 12.43 14.09 13.8 12.68 12.44 12.05

Pada tabel 4.1


Dapat dilihat perkembangan tingkat kemiskinan di Kabupaten Takalar (Z) dari tahun 2000 2003. Pada tahun 2000 sampai 2004 terus mengalami peningkatan yang signifikan dimana jumlah tingkat kemiskinan pada tahun 2000 sebesar 9.37 % dan mengalami peningkatan pada tahun 2003 sebesar 14,09 %. Pada tahun 2004 mengalami penurunan yang cukup signifikan dimana pada tahun 2004 turun menjadi 13,99 % dan pada tahun 2007 sebesar 13,8 %. Pada tahun 2008 sampai 2010 cenderung mengalami kestabilan sebesar 12.68 % dan pada tahun 2010 sebesar 12.05 %.

53

Perkembangan pengangguran dari tahun 2000 2007 mengalami peningkatan. Dimana pada tahun 2000 sebesar 3.11 % dan mengalami peningkatan yang sangat signifikan pada tahun 2007 sebesar 12.37 %, dan pada tahun 2008 2010 mengalami penurunan yang stabil pada tahun 2008 sebesar 9.76 % dan pada tahun 2010 sebesar 9.87 %. Perkembangan pendidikan dari tahun 2000 2010 mengalami

peningkatan yang signifikan ,hal itu disebabkan karena penduduk yang berada dukabupaten Takalar mulai menyadari pentingnya sebuah pendidikan untuk kepentingan mereka dimasa yang akan datang terbukti pada tahun 2000 sebesar 9.18 % dan mengalami peningkatan terus menerus sampai tahun 2010 sebesar 10.42 %. Perkembangan upah dari tahun 2000 2010 juga mengalami peningkatan dikarenakan pemerintah menyadari bahwa dengan pemberian upah yang sesuai dengan hasil kerja mereka akan meningkatkan kesejahteraan bagi mereka sendiri selain itu masyarakat juga akan lebih bertanggung jawab dengan pekerjaan yang mereka geluti terjadi pada tahun 2000 sebesar 5.71% dan

meningkat terus menerus sampai tahun 2010 sebesar 7.05 %. Perkembangan pertumbuhan ekonomi dari tahun 2000 2010 juga mengalami peningkatan yang signifikan hal ini bisa dilihat dari data yang diperoleh yaitu pada tahun 2000 sebesar 5.07 % dan mengalami peningkatan sampai tahun 2010 yaitu sebesar 6.85 %.

54

4.3 Analisis Data


Hasil penelitian dan pembahasan merupakan penggambaran tentang hasil yang diperoleh dalam penelitian yang terdiri atas variable Independen, variable Dependen dan variable Perantara. Pada Bab ini, akan membahas hasil pengujian model atau persamaan structural berdasarkan analisa secara statistic yang dilakukan dengan beberapa uji statistik untuk mengetahui signifikan variable persamaan, meliputi Uji F statistic dan Uji T statistic. Sedangkan analisa secara ekonomi yang secara langsung akan dilakukan dengan melihat konsistensi variable terikat terhadap variable bebas dan secara tidak langsung dengan melihat konsistensi variable terikat terhadap variable bebas melalui variable perantara. Analisis data yang dilakukan menggunakan metode TSLS (Two Stage Least Square) dengan menggunakan program bantuan EViews.

4.4 Pembahasan 4.4.1 Hasil Estimasi


Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa metode analisis yang digunakan untuk menguji hipotesa adalah metode regresi 2SLS atau metode regresi dua tahap. Metode ini untuk mengetahui apakah variabel independen (pendidikan, upah, dan pertumbuhan ekonomi) secara individu berpengaruh terhadap variabel dependen (kemiskinan), namun melalui variabel perantara (pengangguran). Pengolahan data dengan menggunakan software EViews versi 3. Melalui penggunaan software EViews dapat dilihat hasil yang menunjukkan hubungan secara langsung dan tidak langsung variabel independen terhadap

55

variabel dependen. Hasil estimasi berdasarkan data yang diolah pada penelitian ini dapat diketahui pada tabel berikut.
Dependent Variable: Z Method: Least Squares Date: 11/07/12 Time: 07:33 Sample: 1999 2010 Included observations: 12 Variable C Y X1 X2 X3 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -17.56468 0.174005 2.857588 2.098001 -2.408494 0.883705 0.817251 0.792612 4.397633 -11.00422 2.575605 Std. Error 6.167605 0.199179 1.189009 2.946233 1.029664 t-Statistic -2.847892 0.873611 2.403337 0.712096 -2.339106 Prob. 0.0248 0.4113 0.0472 0.4994 0.0519 12.32250 1.854097 2.667370 2.869415 13.29792 0.002195

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

Dependent Variable: Y Method: Least Squares Date: 11/07/12 Time: 07:34 Sample: 1999 2010 Included observations: 12 Variable C X1 X2 X3 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -19.12640 -3.894375 11.85700 -1.903009 0.872274 0.824376 1.406929 15.83559 -18.69138 1.858354 Std. Error 8.609743 1.599585 3.126729 1.699366 t-Statistic -2.221483 -2.434616 3.792144 -1.119835 Prob. 0.0570 0.0409 0.0053 0.2953 7.300833 3.357224 3.781897 3.943533 18.21128 0.000621

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

56

Dependent Variable: Z Method: Least Squares Date: 11/08/12 Time: 00:18 Sample(adjusted): 2000 2010 Included observations: 10 Excluded observations: 1 after adjusting endpoints Variable C Y R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -18.39498 4.620180 0.664860 0.622967 2.106809 35.50916 -20.52541 1.414878 Std. Error 6.504424 1.159744 t-Statistic -2.828073 3.983791 Prob. 0.0222 0.0040 7.381000 3.431117 4.505083 4.565600 15.87059 0.004040

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

Jadi berdasarkan hasil estimasi melalui program EViews maka dapat di lihat pengaruh total variable independen terhadap dependen melalui variable perantara dapat dirumuskan sebagai berikut : LnY = -19,126 3,894 LnX1 + 11,857 LnX2 1,903 X3...(1) LnZ = -17,564 + 2,857 LnX1 + 2,098 LnX2 2,408 X3 + 0,174 Y...(2)

Subtitusi persamaan 1 ke persamaan 2 : LnZ = -17,564 + 2,857 LnX1 + 2,098 LnX2 2,408 X3 + 0,174 (-19,126 3,894 LnX1 + 11,857 LnX2 1,903 X3) LnZ = -17,564 + 2,857 LnX1 + 2,098 LnX2 2,408X3 3,327 0,677 LnX1 + 2,063 LnX2 0,331 X3 LnZ = -20,891 + 2,181 LnX1 + 4,161 LnX2 2,739 X3 Secara tidak langsung variable fungsi Pendidikan (X1) dan Upah (X2) berpengaruh secara signifikan terhadap Pengangguran (Y), sedangkan variable

57

Pertumbuhan

Ekonomi

(X3)

tidak

berpengaruh

siginifikan

terhadap

Pengangguran (Y).

Sementara itu, secara langsung variabel independen yang berpengaruh secara signifikan terhadap Kemiskinan (Z) antara lain Pendidikan (X1) dan Pertumbuhan Ekonomi (X3). Sedangkan variable Upah (X2) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Kemiskinan (Z) melalui Pengangguran (Y).

Persamaan regresi untuk Estimasi secara tidak langsung sebagai berikut : LnY = -19,126 3,894 LnX1 + 11,857 LnX2 1,903 X3 t= R2 = (-19,126) 0,872 (-3,894) R = 0,824 (11,857) n = 12 (-1,903)

Berdasarkan hasil pengujian diatas nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.872 atau 87,2% artinya dalam model tersebut variable bebas pendidikan ,upah dan pertumbuhan ekonomi menjelaskan variable

pengangguran sebesar 87,2%. Nilai adjusted R-squared sebesar 0,824 menunjukkan bahwa semakin banyak variable independen yang dimasukkan kedalam persamaan, akan semakin memperkecil nilai R-squared sebesar 0,824. LnZ = -17,564 + 2,857 LnX1 + 2,098 LnX2 2,408 X3 + 0,174 Y t = R2 = (-17,564) 0.883 (2,857) (2,098) (-2,408) n = 12 (0,174)

R = 0,817

Berdasarkan hasil pengujian diatas nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.883 atau 88,3% artinya dalam model tersebut variable bebas

58

pendidikan

,upah

dan

pertumbuhan

ekonomi

menjelaskan

variable

pengangguran sebesar 88,3%. Nilai adjusted R-squared sebesar 0,817 menunjukkan bahwa semakin banyak variable independen yang dimasukkan kedalam persamaan, akan semakin memperkecil nilai R-squared sebesar 0,817.

4.4.2 Hubungan Pendidikan (X1) terhadap Kemiskinan (Z)

Variable Pendidikan (X1) dalam penelitian ini, secara langsung memilki efek langsung (direct effect) sebesar 2,857 dan effect tidak langsung (indirect effect) sebesar -3,894. Hal ini menunjukkan bahwa secara langsung pendidikan memiliki hubungan positif dan berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan. Berdasarkan hasil pengolahan data, nilai koefisien variable pendidikan sebesar 2,857 artinya apabila terjadi kenaikan terhadap pendidikan (apresiasi) sebesar 1 % maka akan mengakibatkan kemiskinan naik sebesar 2,857%.

Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis yang menyatakan secara langsung pendidikan berpengaruh positif terhadap kemiskinan. Dimana diketahui bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat di suatu daerah maka kemiskinan disuatu daerah akan semakin rendah. Hal ini disebabkan karena apabila tingkat pendidikan seseorang tinggi maka akan semakin besar pula peluang untuk memperoleh pekerjaan yang lebih layak yang akan mempengaruhi pendapatan orang tersebut sehingga apabila pendapatan meningkat maka dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keterkaitan kemiskinan dan pendidikan sangat besar karena pendidikan memberikan kemampuan untuk berkembang lewat

penguasaan ilmu dan keterampilan. Pendidikan juga menanamkan kesadaran akan pentingnya martabat manusia. Mendidik dan memberikan pengetahuan

59

berarti menggapai masa depan. Hal tersebut harusnya menjadi semangat untuk terus melakukan upaya mencerdaskan bangsa. (Siregar dan Wahyuniarti 2008)

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa secara langsung Pendidikan berhubungan positif dan signifikan terhadap Kemiskinan. Menurut penulis, hal ini terjadi karena sektor terbesar yang mendukung perekonomian dikabupaten Takalar adalah sektor pertanian, dimana pada sektor pertanian buruh yang bertugas untuk mengelolah persawahan tidak berpatok pada tingkat pendidikan karena pada umumnya justru buru yang bekerja disektor pertanian adalah mereka tidak mempunyai pendidikan yang tinggi bahkan ada buru yang sama sekali tidak pernah merasakan bangku sekolah, sehingga dapat diketahui bahwa berdasarkan penelitian diketahui bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin tinggi pula tingkat kemiskinan yang ada di Kabupaten Takalar.

Secara tidak langsung melalui variable pengangguran, pendidikan memiliki efek langsung (direct effect) sebesar 2,857 dan efek tidak langsung (indirect effect) -3,894. Hal ini menunjukan bahwa secara tidak langsung pendidikan memiliki hubungan yang negatif dan signifikan terhadap

pengangguran.

Berdasarkan hasil pengolahan data nilai koefisien variable pendidikan sebesar 3,894, apabila meningkat sebesar 1 % maka akan mengakibatkan kemiskinan turun sebesar 3,894%.

60

untuk variable pendidikan itu dimana diketahui apabila semakin tinggi pendidikan seseorang maka memberikan kemampuan untuk berkembang lewat penguasaan ilmu dan keterampilan.

Menurut penulis, hal ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa pendidikan berpengaruh negative dan signifikan terhadap pengangguran.

4.4.3 Hubungan Upah (X2) terhadap Kemiskinan (Z)

Variabel Upah dalam penelitian ini, secara langsung memiliki efek langsung (direct effect) sebesar 2,098 dan efek tidak langsung (indirect effect) sebesar 11,857. Hal ini menunjukkan bahwa secara langsung Upah memiliki hubungan positif dan berpengaruh tidak signifikan terhadap kemiskinan. Berdasarkan hasil pengolahan data, nilai koefisien variable upah sebesar 2,098 artinya apabila upah meningkat sebesar 1% maka akan mengakibatkan Kemiskinan naik sebesar 2,098%.

Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa secara langsung upah berpengaruh negative terhadap kemiskinan. Semakin meningkat tingkat upah minimum akan meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga kesejahteraan juga meningkat dan sehingga terbebas dari kemiskinan (Kaufman 2000).

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa secara langsung Upah berhubungan positif dan signifikan terhadap Kemiskinan. Menurut penulis, hal ini terjadi karena sektor terbesar yang mendukung perekonomian dikabupaten Takalar adalah sektor pertanian, dimana pada sektor pertanian pemberian upah minimum yang diperoleh oleh buru yang bertugas untuk mengelolah persawahan

61

tidak sesuai dengan upah minimum regional (UMR) karena pada umumnya masyarakat yang ada di kabupaten takalar berprofesi sebagai petani, sehingga dapat diketahui bahwa berdasarkan penelitian diketahui bahwa semakin tinggi tingkat upah maka akan semakin tinggi pula tingkat kemiskinan yang ada di Kabupaten Takalar.

Secara tidak langsung ke variable pengangguran, upah memiliki efek langsung (direct effect) sebesar 2,098 dan efek tidak langsung (indirect effect) 11,857. Hal ini menunjukan bahwa upah berpengaruh secara tidak langsung memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap pengangguran.

Berdasarkan hasil pengolahan data, nilai koofisien variable upah sebesar 11,857. Artinya, apabila tingkat upah naik sebesar 1% maka kemiskinan akan naik sebesar 11,857% ke variabel pengangguran. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa secara tidak langsung, upah berpengaruh negatif terhadap variabel pengangguran.

Menurut Penulis, hal ini bisa terjadi jika dilihat dari sisi penawaran terhadap tenaga kerja dimana upah memiliki hubungan yang kuat dengan kenaikan pada jumlah pengangguran yang ada, dimana hubungan searah ini disebabkan ketika pemerintah menaikkan upah minimum, maka kenaikan penawaran tenaga kerja pun meningkat, akan tetapi perusahaan lebih memilih mengurangi biaya produksi dengan mengurangi jumlah pekerja agar tidak terjadi kebangkrutan dan defisit anggaran, sehingga jumlah pengangguran pun meningkat seiring kenaikan upah yang ditetapkan oleh pemerintah, sehingga dapat diketahui bahwa secara tidak langsung upah berpengaruh positif dan signifika terhadap kemiskinan melalui variabel pengangguran.

62

4.4.4 Hubungan Pertumbuhan Ekonomi (X3) terhadap Kemiskinan (Z)

Variable Pertumbuhan Ekonomi (X3) dalam penelitian ini, secara langsung memilki efek langsung (direct effect) sebesar -2,408 dan effect tidak langsung (indirect effect) sebesar -1,903. Hal ini menunjukkan bahwa secara langsung pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan negatif dan signifikan terhadap kemiskinan. Berdasarkan hasil pengolahan data, nilai koefisien variable pertumbuhan ekonomi sebesar -2,408. Artinya apabila terjadi peningkatan terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 1% maka akan mengakibatkan kemiskinan menurun sebesar 2,408%. Hal ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa secara langsung pertumbuhan ekonomi berpengaruh negative dan signifikan terhadap kemiskinan.

Sesuai dengan Penelitian yang dilakukan Wongdesmiwati (2009), menemukan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat kemiskinan. Kenaikan pertumbuhan ekonomi akan menurunkan tingkat kemiskinan. Hubungan ini menunjukkan pentingnya mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk menurunkan tingkat kemiskinan.

Secara tidak langsung melalui variable pengangguran, pertumbuhan ekonomi memiliki efek langsung (direct effect) sebesar -2,408 dan efek tidak langsung (indirect effect) -1,903. Hal ini menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh secara tidak langsung memiliki hubungan yang negatif dan tidak signifikan terhadap variabel pengangguran.

Berdasarkan hasil pengolahan data, nilai koofisien variable pertumbuhan ekonomi sebesa -1,903 Artinya, apabila tingkat pertumbuhan ekonomi meningkat

63

1%

maka pengangguran

akan menurun sebesar 1,903% melalui variabel

pertumbuhan ekonomi. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis pada yang menyatakan bahwa secara tidak langsung, pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap variable pengangguran.

Berdasarkan

hasil

dari

penelitian

bahwa

pertumbuhan

ekonomi

berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap pengagguran yang ada di Kabupaten Takalar dimana diketahui bahwa semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi yang ada disuatu daerah atau wilayah maka akan semakin kecil tingkat pengangguran yang ada disuatu daerah tersebut.

4.4.5 Hubungan Pengangguran (Y) terhadap Kemiskinan (Z)

Variabel pengangguran dalam penelitian ini bertanda positif dan signifikan terhadap kemiskinan. Dengan efek langsung (direct effect) sebesar 4,620 dan efek tidak langsung (indirect effect) tidak ada. Dimana kenaikan tingkat pengangguran terbuka sebanyak 1% maka akan menaikkan tingkat kemiskinan sebesar 4,620%. Hasil tersebut sesuai dengan hipotesis yang menjadi menyatakan bahwa pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa pengangguran berpengaruh positif terhadap kemiskinan dimana sesuai dengan teori Menurut Sukirno (2004), efek buruk dari pengangguran adalah mengurangi pendapatan masyarakat yang pada akhirnya mengurangi tingkat kemakmuran yang telah dicapai seseorang. Semakin turunnya kesejahteraan masyarakat karena menganggur tentunya akan meningkatkan peluang mereka terjebak dalam kemiskinan karena tidak memiliki

64

pendapatan. Apabila pengangguran di suatu negara sangat buruk, kekacauan politik dan sosial selalu berlaku dan menimbulkan efek yang buruk bagi kepada kesejahteraan masyarakat dan prospek pembangunan ekonomi dalam jangka panjang.

4.5 Pengujian Hipotesis

4.5.1 Uji t- Statik

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini yaitu dengan pengujian satu sisi (one side) atau satu ujung (one tail), hal ini dilakukan karena pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat sudah ditetapkan. Tingkat keyakinan yang digunakan sebesar 95% atau residu sebesar 5% ( = 5%). Pengujian hipotesis dilakukan dengan criteria thitung > ttabel H0 ditolak dan H1 diterima. Hasil perhitungan Estimasi secara tidak langsung bahwa variabel pendidikan berpengaruh negative dan tidak signifikan, variable upah

berpengaruh positif dan signifikan serta variable pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap variable pengangguran.

Tabel 4.2 Pengujian T-Statistik Degree of freedom (Df* = (n k) 7 Significance Level 0,05 (5%) T-tabel 2,200985

Sumber: Damodar Gujarati, Basic Econometrics Berdasarkan tabel 4.2, hasil estimasi menunjukkan variabel independen pendidikan, upah dan pertumbuhan ekonomi dengan nilai thitung 2,221 > ttabel

65

2,200985 menunjukkan signifikansi antara variabel independen pendidikan, upah dan pertumbuhan ekonomi terhadap pengangguran. Hipotesis H0 diterima, H1 ditolak artinya secara parsial variabel bebas mempengaruhi variabel pembiayaan secara signifikan dengan tingkat

kepercayaan 95%. Hasil perhitungan Estimasi secara langsung bahwa variabel pendidikan berpengaruh positif dan signifikan, variable upah berpengaruh positif dan signifikan serta variable pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap variable kemiskinan.

Tabel 4.3 Pengujian T-Statistik Degree of freedom (Df* = (n k) 7 Significance Level 0,05 (5%) T-tabel 2,200985

Sumber: Damodar Gujarati, Basic Econometrics Berdasarkan tabel 4.2, hasil estimasi menunjukkan variabel independen pendidikan, upah dan pertumbuhan ekonomi dengan nilai thitung 374,77 > ttabel 2,200985 menunjukkan signifikansi antara variabel independen pendidikan, upah dan pertumbuhan ekonomi terhadap pengangguran. Hipotesis H0 ditolak, H1 diterima artinya secara parsial variabel bebas mempengaruhi variabel pembiayaan secara signifikan dengan tingkat

kepercayaan 95%.

66

4.5.2 Uji F-Statistik


Pengujian F-statistik digunakan untuk menguji signifikansi dari semua variabel bebas sebagai suatu kesatuan atau mengukur pengaruh variabel bebas secara bersama-sama. Dengan demikian hasil uji F yang signifikan akan menunjukkan bahwa variabel bebas secara bersama-sama memiliki pengaruh terhadap variabel tidak bebasnya. Uji F-stat ini merupakan uji signifikansi satu arah (one tail significance). Hipotesisnya adalah : Ho = Tidak ada pengaruh variabel X terhadap variabel Y H1 = Ada pengaruh variabel X terhadap variabel Y t-hit > t.tabel : Ho ditolak, H1 diterima t-hit < t-tabel : Ho diterima, H1 ditolak Pada hasil Estimasi persamaan secara tidak langsung didapat nilai F-Static sebagai berikut:

Tabel 4.4 Pengujian F-Statistik Df (k-1,n-k) = (5-1,12-5) F (4,7) Significance Level 0,05 (5%) F-tabel 4,12

Sumber: Damodar Gujarati, Basic Econometrics Dari hasil perhitungan diperoleh: Fhitung (18,211) > F-tabel (4,12)

67

Hipotesis H0 ditolak, H1 diterima artinya variabel bebas mempengaruhi variabel tidak bebasnya dengan tingkat kepercayaan (confidence level) 95%. Dengan kata lain, variabel pendidikan dan upah signifikan mempengaruhi

pengangguran pada tingkat kepercayaan 95%.

Pada hasil Estimasi persamaan secara langsung didapat nilai F-Static sebagai berikut:

Tabel 4.5 Pengujian F-Statistik Df (k-1,n-k) = (5-1,12-5)


F (4,7)

Significance Level
0,05 (5%)

F-tabel
4,12

Sumber: Damodar Gujarati, Basic Econometrics

Dari hasil perhitungan diperoleh: Fhitung (13,297) > F-tabel (4,12)

Hipotesis H0 ditolak, H1 diterima artinya variabel bebas mempengaruhi variabel tidak bebasnya dengan tingkat kepercayaan (confidence level) 95%. Dengan kata lain, variabel pendidikan dan pertumbuhan ekonomi signifikan

mempengaruhi kemiskinan pada tingkat kepercayaan 95%.

4.5.3 Koofisien Determinasi Majemuk (R2)


Perhitungan yang dilakukan untuk mengukur proporsi atau prosentase dari variasi total variabel dependen yang mampu dijelaskan oleh model regresi.
2

Dari hasil perhitungan Estimasi secara tidak langsung diperoleh nilai R sebesar 0,872 atau 87,2%, dimana terletak antara 0 dan 1. Ini berarti variabel

68

pengangguran dipengaruhi oleh variable pendidikan, upah dan pertumbuhan ekonomi dan sisanya 12,8 % dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Perhitungan yang dilakukan untuk mengukur proporsi atau prosentase dari variasi total variabel dependen yang mampu dijelaskan oleh model regresi.
2

Dari hasil perhitungan Estimasi secara langsung diperoleh nilai R sebesar 0,883 atau 88,3%, dimana terletak antara 0 dan 1. Ini berarti variabel kemiskinan dipengaruhi oleh variable pendidikan, upah dan pertumbuhan ekonomi dan sisanya 11,7 % dijelaskan oleh variabel lain di luar model.

69

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.

Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan software EViews, menunjukkan bahwa : a. Baik secara langsung, hanya variabel pendidikan dan pertumbuhan ekonomi yang berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan di

Kabupaten Takalar. b. Baik secara tidak langsung melalui variabel pengangguran, variabel pendidikan dan upah yang berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Takalar c. Baik secara langsung, hanya variabel upah yang berpengaruh tidak signifikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Takalar. d. Baik secara tidak langsung melalui variabel pengangguran, variabel

pertumbuhan ekonomi yang berpengaruh tidak signifikan terhadap kemiskinan di Kabupaten Takalar. e. Secara langsung pengangguran Kemiskinan. berpengaruh signifikan terhadap

2. Secara langsung maupun tidak langsung, dari ketiga variabel independen yaitu variabel pendidikan, upah dan pertumbuhan ekonomi terdapat dua

70

variabel independen yanitu variabel pendidikan dan upah berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data memiliki hasil yang tidak sesuai dengan hipotesis penulis.

71

5.2. Saran
Ada beberapa saran yang dapat diberikan sehubungan dengan penelitian ini, yaitu : 1. Berdarkan kesimpulan diketahui bahwa variabel pendidikan memiliki hasil yang tidak sesuai dengan hipotesis penulis namun untuk menurunkan tingkat kemiskinan yang ada di kabupaten Takalar sebaiknya pemerintah menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang layak bagi masyarakat disamping itu pemerintah juga sebaiknya memberikan kesempatan untuk masyarakat yang mempunyai pendidikan yang cukup tinggi untuk bisa memajukan sektor pertanian yang ada di daerah tersebut dengan memberikan semacam modal untuk mereka yang memiliki pendidikan dan wawasan yang lebih tinggi untuk mengelola dan menggunakan sumberdaya serta teknologi yang telah ada untuk meningkatkan hasil pertanian di daerah tersebut dimana sesuai dengan terapan ilmu yang pernah mereka dapatkan dibangku sekolah. 2. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan dari kesimpulan yang ada diketahui bahwa variabel pendidikan dan upah memiliki hasil yang tidak sesuai hipotesis penulis, namun untuk menurunkan tingkat kemiskinan yang ada didaerah tersebut , bahwa seharusnya dalam penentuan upah harus di musyawarahkan antara seseorang yang memiliki usaha dan pegawai atau buruh yang bekerja di ditempat tersebut. upah yang baik adalah di mana pekerja menerima upah yang lebih jika perusahaan mendapat keuntungan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, dengan meningkatnya kesejahteraan pekerja,

72

maka produktivitas pun akan meningkat, hal ini dapat meningkatkan produksi dan menguntungkan perusahaan. 3. Pertumbuhan ekonomi memiliki keterkaitan yang cukup kuat dengan pengangguran dan juga kemiskinan, maka untuk menekan angka pengangguran, pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Takalar seharusnya berorientasi pada padat karya, sektor-sektor yang dominan seperti sektor industri diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi, agar tenaga kerja dapat terserap banyak, sehingga angka pengangguran pun dapat berkurang dan angka kemiskinanpun juga akan mengalami penurunan.