Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN MATA KULIAH PERTANIAN BERLANJUT ASPEK TANAH SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (GIS)

Disusun Oleh : Carolina Eva Nita 105040200111147 Kelas : D

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

(a) Pemantauan Produksi Dibidang Pertanian, Gis dapat digunakan untuk memantau produksi pertanian. GIS dapat digunakan untuk membantu mengelola sumberdaya pertanian dan perkebunan seperti luas kawasan untuk tanaman, pepohonan, atau saluran air. GIS dapat digunakan untuk menetapkan masa panen, mengembangkan sistem rotasi tanam, dan melakukan perhitungan secara tahunan terhadap kerusakan tanah yang terjadi karena perbedaan pembibitan, penanaman, atau teknik yang digunakan dalam masa panen. Misalnya GIS membantu menginventarisasi data-data lahan perkebunan tebu menjadi lebih cepat dianalisis. Proses pengolahan tanah, proses pembibitan, proses penanaman, proses perlindungan dari hama dan penyakit tanaman dapat dikelola oleh manager kebun, bahkan dapat dipantau dari direksi. Informasi Statistik pertanian di Indonesia berasal dari perolehan data jangka panjang dan jangka pendek. Jangka panjang dilakukan melaui sensus pertanian dalam periode waktu 10-tahunan. Jangka pendek dilakukan dalam periode bulanan/ 4-bulanan dengan pendekatan pengukuran dan estimasi. Produktivitas (ton/ha) didasarkan pada system ubinan (cutting plot) yang jumlah sampel dan distribusinya ditetapkan oleh BPS secara acak-proporsif. Sistem ubinan didedikasikan untuk level propinsi, sehingga untuk data level Kabupaten masih berdasarkan estimasi. Sedangkan luas panen didasarkan pada estimasi yang dilakukan oleh MANTAN (Mantri Tani) sering dikenal dengan pendekatan Eye Estimate1) . Dengan berkembangnya teknologi remote sensing dan GIS yang sangat pesat didukung oleh perkembangan teknologi dan kapasitas memori komputer, sangat memungkinkan mengembangkan estimasi dan peramalan produksi pertanian dengan pendekatan Spasial Statistik. Rancangan Kerangka Sampel Areal untuk tanaman padi merupakan salah satu contoh spasial statistik pertama yang dikenalkan di Indonesia tahun 1999, melalui proyek SARI dengan sebutan Regional Inventory2).

(b) Penilaian Resiko Usaha Pertanian, Kejadian kebakaran hutan dan lahan termasuk di daerah kalimantan barat, secara umum disebabkan oleh aktivitas manusia dalam kegiatan penyiapan lahan

untuk berbagai bentuk usaha pertanian, perkebunan dan kehutanan. Aktivitas tahunan masyarakat berupa penyiapan lahan pertanian dengan mengguanakan metode tebas, tebang, dan bakar memberikan kontribusi kejadian kebakaran

hutan dan lahan. Cara ini masih dianggap efisien secara ekononomis, biaya maupun tenaga masyarakat petani. Begitu beasarnya pengaruh aktivitas manusian dan resiko kerugian yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan agar mendapatkan prioritas dalam menyelesaikan permasalahan. Hal ini dikarenakan, keberhasilan penanggulangan kebakaran hutan sangat bergantung pada upaya pencegahan kebakaran huta. Prinsip mencegah lebih baik dari pada memadamkan menggambarkan bahwa upaya pecegahan memilki implikasi biaya yang murah dibandingkan dampak yang ditimbulkan apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan pengalaman tersebut maka upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan haruslah dilakukan secara terpadu. Salah satunya adalah upaya untuk mendukung pencegahan yang efektif dan efisien adalah melalui penyediaan informsi bahaya kebakaran yang memanfaatkan data-data hotspot dan data-data pendukung lainya untuk diolah dan dianalisis menjadi suatu model spasial menggunkn teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) sehingga memudahkan pemantauan resiko kebakaran hutan dan lahan pada suatu daerah. Dalam pembangunan mode spasial diharapakan mampu menggambarkan sebaran tingkat kerawanan maupun resikoterjadinya kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Kalimantan Barat sehingga informasi tersebut dapat menjadi masukan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. (c) Pengendalian Hama Dan Penyakit, Serangan organisme pengganggu tanaman dapat menyebabkan target pertanian menurun. Kini prediksi serangan organisme pengganggu tanaman dapat diakses melalui Internet. Organisme pengganggu tanaman (OPT), seperti gulma, hama, dan mikroorganisme patogenik merupakan musuh bebuyutan para petani. Organisme-organisme itu dapat menyebabkan tanaman rentan terserang penyakit danmenurunkan kualitas tanaman. Oleh karena itu, untuk menghasilkan tanaman berkualitas, diperlukan upaya pengendalian OPT yang

menyeluruh. Menurut Edi Suwardiwijaya, fungsional pengendali OPT dari Balai Besar

Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BB-POPT)Departemen Pertanian, berbagai upaya pengendalian hama terpadu (PHT) untuk mencegah serangan OPT terus dikembangkan hingga saat ini. Secara operasional, penerapan PHTmencakup upaya preemtif dan responsif.Upaya preemtif ialah pengendalian hama berdasarkan informasi dan pengalaman status OPTwaktu sebelumnya. Upaya tersebut mencakup penentuan pola tanam, varietas, waktu tanam,keserentakan tanam, pemupukan, pengairan, jarak tanam, dan penyiangan. Tujuan upayapreemtif ialah membudidayakan tanaman sehat. Misalnya di bidang pertanian adalah digunakannya SIG untuk pengelolaan kebun kelapa sawit yang di dalamnya termasuk pengendalian hama dan penyakit tumbuhan. Berikut penyebarannya:

Gambar 1. Daerah penyebaran hama dan penyakit menggunakn SIG (d) Pemantuan Budidaya Pertanian Dalam upaya meningkatkan hasil pertanian, sudah banyak berbagai jenis pupuk dan obat-obatan yang diproduksi dengan tujuan untuk menyuburkan tanaman sehingga hasilnya sesuai dengan yang diharapkan petani. Namun demikian, seringkali tanaman terserang hama dan penyakit yang dapat menyebabkan berkurangnya hasil pertanian sehingga merugikan petani. Maka untuk itu diperlukan sebuah solusi yang dapat membantu industri pertanian dalam menanggulangi masalah tersebut. Salah satu aplikasi teknologi sistem informasi adalah Sistem Informasi Geografis (GIS) yang dapat

diterapkan dalam berbagai bidang, yaitu dalam

pengembangan ilmu

pengetahuan dan terutama dalam bidang bisnis yang telah terbukti sangat membantu dalam mengambil keputusan karena SIG ini merupakan bidang teknologi sistem informasi yang paling luas penerapannya, sehingga dalam industri pertanianpun dapat dikembangkan dalam membantu orang-orang yang bercocok tanam terutama kedelai.

(e) Presisi Pertanian, Pertanian Presisi (precision farming/PF) merupakan informasi dan teknologi pada sistem pengelolaan pertanian untuk mengidentifikasi, menganalisa, dan mengelola informasi keragaman spasial dan temporal di dalam lahan untuk mendapatkan keuntungan optimum, berkelanjutan, dan menjaga lingkungan. Tujuan dari PF adalah mencocokkan aplikasi sumber daya dan kegiatan budidaya pertanian dengan kondisi tanah dan keperluan tanaman berdasarkan karakteristik spesifik lokasi di dalam lahan. Hal tersebut berpotensi diperolehnya hasil yang lebih besar dengan tingkat masukan yang sama (pupuk, kapur, herbisida, insektisida, fungisida, bibit), hasil yang sama dengan pengurangan input, atau hasil lebih besar dengan pengurangan masukan dibanding sistem produksi pertanian yang lain. PF mempunyai banyak tantangan sebagai sistem produksi tanaman sehingga memerlukan banyak teknologi yang harus dikembangkan agar dapat diadopsi oleh

petani. PF merupakan revolusi dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis teknologi informasi. Pelaksanaan PF merupakan suatu siklus yang berkesinambungan dari tahap perencanaan (planning season), tahap pertumbuhan (growing season), dan tahap pemanenan (harvesting season) seperti disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2 Siklus proses dalam pertanian presisi

(f) Pengelolaan Sumberdaya Air Banyak banjir di atas bumi, merupakan suatu akibat pesatnya perluasan perkotaan atau alih fungsi lahan. Perubahan alih fungsi lahan ini seringkali juga tidak diimbangi dengan usaha-usaha pencegahan banjir. Penyusutan lahan penutupan vegetasi dan tampungan alami mempengaruhi keseimbangan hidrologi daerah aliran sungai. Semakin banyak penyusutan lahan vegetasi ini terjadi, maka akan menyebabkan semakin besarnya limpasan permukaan (runoff) yang akan terjadi, yang akan menyebabkan banjir. Suatu model hidrologi, memungkinkan prediksi proses hidrologi tersebut pada Daerah Aliran Sungai (DAS). Tetapi model hidrologi ini memiliki keterbatasan untuk mengakomodasi perubahanperubahan keruangan dalam DAS, sedangkan masalah hidrologi juga merupakan masalah keruangan. Dilain pihak, ada sistem informasi geografis (SIG), yang merupakan sistem berbasis komputer untuk pengelolaan data keruangan. Dalam sistem informasi geografis, dimungkinkan untuk melakukan analisis data secara keruangan, antara lain pada analisis perubahan tata guna lahan, yang sangat menentukan terjadinya proses hidrologi berupa limpasan permukaan (runoff) yang terjadi. Karenanya, merupakan satu tantangan pada aplikasi sistem informasi geografis dalam model hidrologi adalah bagaimana perubahan keruangan dapat disimulasikan secara interaktif, mudah, cepat dengan hasil yang akurat, sehingga dapat digunakan baik untuk penelitian maupun untuk

pengambilan keputusan. Hal ini diperlukan suatu usaha pengintegrasian antara model hidrologi dan SIG, sehingga mampu menjawab tantangan di atas.

(g) Kajian Biodiversitas Bentang Lahan Untuk Kegiatan Pertanian Berlanjut Pertambahan jumlah penduduk di pulau Jawa menyebabkan pertambahan akan sandang, pangan, papan juga meningkat. Pertambahan jumlah penduduk mengakibatkan kebutuhan lahan juga meningkat sehingga banyak terjadi konversi kawasan hutan menjadi kawasan pemukiman atau budidaya. Peningkatan konversi kawasan hutan ini menyebabkan bencana ekologis berupa penurunan biodiversitas pada flora dan fauna. Kebanyakan kawasan konservasi terfragmentasi oleh lahan bukan hutan dan pemukiman. Dari situasi tersebut tindakan-tindakan konservasi perlu segera dilaksanakan baik di dalam kawasan konservasi maupun kawasan non konservasi. Perhatian tersebut juga perlu pada kawasan budidaya yang kemungkinan ada beberapa spesies penting ada disana. Konsep HCVs merupakan suatu gagasan untuk mempromosikan pengelolaan lestari pada kawasan non konservasi. Konsep HCVAs dimulai dari identifikasi dan pemetaaan kawasan HCVs. (3) (penjelasan aplikasi tersebut terkait dengan dimana kegiatan tersebut dilakukan, pada sistem pertanian yang bagaimana penerapkan GIS tersebut dilakukan, macam data spatial apa saja yang dibutuhkan dalam menyusun contoh tersebut, bagaimana manfaat penerapan GIS tersebut dalam menjalankan sistem pertanian) Dalam hal ini, kegiatan untuk pengaplikasian SIG tersebut berada di Kebun Kertowono bagian Kajaran Perkebunan PTPN XII Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur . Sampling area berada di Lahan basah-Gumuk Winong afdeling Bedengan dan hutan Sumur Windu, hutan Danyang, dan Bestik di afdeling Kaliwelang. Sistem pertanian yang digunakan untuk penerapan GIS ini yaitu pada Pemetaan High Conservation Value Area`S (Hcva`S) atau pemetaan penutupan lahan kebun Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis di Kebun

Kertowono bagian Kajaran Timur.

PTPN XII Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa

Data yang dapat diolah dalam SIG merupakan fakta fakta data di permukaan bumi yang memiliki referensi keruangan baik referensi secara relatif maupun referensi secara absolut, dan disajikan dalam sebuah format yang bernama peta. SIG dapat mengumpulkan dan menyimpan data dan informasi yang diperlukan baik secara tidak langsung dengan cara meng-import-nya dari perangkat perangkat lunak SIG yang lain maupun secara langsung dengan cara mendigitasi data spasialnya dari peta dan memasukkan data atributnya dari tabel tabel dan laporan dengan menggunakan keyboard (Gistut 1994 dalam Prahasta 2001). Komponen terakhir yang tidak terelakkan dari SIG adalah sumberdaya manusia yang terlatih. Peranan sumberdaya manusia ini adalah untuk menjalankan sistem yang meliputi pengoperasian perangkat keras dan perangkat lunak, serta menangani data geografis dengan kedua perangkat tersebut. Sumberdaya manusia juga merupakan sistem analisis yang menterjemahkan permasalahan riil di permukaan bumi dengan bahasa SIG, sehingga permasalahan tersebut bisa teridentifikasi dan memilliki pemecahannya. Data spasial yang dibutuhkan unuk menyusun progam tersebut agar dapat dilaksanakan yaitu: 1. Data Primer, berupa : a. Data Spasial Citra Satelite Landsat 7 ETM+ tahun 2004 dari PPLH IPB. Peta Rupa Bumi Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Skala 1 : 250.000 yang diperoleh dari BAPPEDA Tingkat II Lumajang. Peta Digital Geologi yang diperoleh dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat ( PUSLITTANAK ) Bogor. Peta Kontur yang bersumber dari Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) ukuran pixel 90 meter.

Peta Jenis Tanah daerah Kabupaten Lumajang Jawa Timur dengan skala 1 : 250.000 yang diperoleh dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat ( PUSLITTANAK ) Bogor.

b. Foto-foto tipe penutupan lahan dengan pemotretan menggunakan kamera digital. c. Data yang menyatakan posisi keberadaan sesuatu di permukaan bumi dalam bentuk koordinat yang disebut Grand Control Point ( GCP ). Data ini didapatkan dengan melakukan cek langsung di lapangan. Data GCP ini selanjutnya dijadikan acuan dalam interpretasi citra satelite landsat 7ETM+ dengan klasifikasi terbimbing untuk membuat peta penutupan lahan. d. Data satwaliar dan vegetasi. Data ini dieroleh dari pengumpulan atau survei di lapang 2. Data Sekunder, berupa data kondisi umum lokasi penelitian dan pustaka melalui studi literatur yang berasal dari instansi terkait. Manfaat yang dapat diterapkan pada pertanian yaitu dapat dijadikan pedoman pengelolaan kawasan perkebunan di kebun Kertowono bagian Kajaran PTPN XII Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur. Selain itu juga, rusaknya penutupan lahan yang bervegetasi pohon akan berdampak bagi kelangsungan hidup burung. Jenis burung yang biasa memanfaatkan struktur vegetasi dan ruang tajuk akan kehilangan tempat untuk beraktivitas seperti makan istirahat dan bermain. Hernowo (1985) menyatakan bahwa terdapatnya jenis burung disuatu habitat terkait dengan kondisi habitat, jenis burung, dan besarnya gangguan di tempat tersebut. Kondisi habitat tersebut adalah tersedianya makanan, istirahat, berlindung, tidur dan bersarang. Perlindungan keanekaragaman hayati di luar kawasan konservasi merupakan tindakan penting dalam suatu strategi konservasi. Ketergantungan mutlak pada kawasan konservasi merupakan hal yang berbahaya, dimana perlindungan, perhatian dan pengelolaan hanya akan terfokus pada spesies dan komunitas pada kawasan tersebut, sementara keanekaragaman hayati di luar

kawasan tersebut dimanfaatkan dengan tidak terkendali sehingga dalam hal ini perkebunan juga mempunyai peranan penting dalam tindakan-tindakan konservasi. Pendanaan dalam pengembangan konservasi bisa berasal dari pemerintah muapun pihak swasta (dalam negeri maupun luar negeri) sehingga pihak pengelola tidak perlu mengkhawatirkan dengan pendanaan dalam perlindungan keanekaragaman hayati yang berada di kawasannya. Sehingga sistem informasi geografis sangat bermanfaat bagi bidang pertanian mulai dari pemantauan produksi pertanian, meminimalkan resiko bagi pertanian , mengelola sumber mata air dan sebagainya. Sedangkan pada sistem ini, yaitu pemetaan penutupan lahan di kebun kertowono dapat memberikan informasi secara khusus kepada masyarakat bagaimana cara untuk melestarikan flora dan fauna dengan menggunakan sistem informasi geografis tersebut.

Gambar 2. Hasil pemetaan penutupan lahan di kebun Kertowono (4) Uraian Bagaimana Peluang Masing-Masing Contoh Tersebut Diterapkan Di Salah Satu Sistem Pertanian Di Indonesia Menuju Penerapan Pertanian Berlanjut. Sistem Informasi Geografis memiliki tiga fungsi utama; pertama, berfungsi menyimpan, mengatur, dan mengintegrasikan sejumlah besar data spasial yang telah diambil; kedua, mengartikan dan menganalisis data komponen geografis yang berhubungan secara khusus; ketiga, mengorganisasikan dan

memanajemen sejumlah besar data dengan berbagai cara hingga informasi dapat diperoleh dengan mudah oleh pengguna. Sehingga dari fungsi tersebut, SIG sangat memberikan peluang bagi keberlanjutan pertanian di Indonesia. Salah satunya yaitu proses perbaikan hutan di semua aliran DAS. Sangat memungkinkan saat ini untuk membangun strategi manajemen spasial dengan menerapkan teknik operational research seperti optimisasi, simulasi untuk memanipulasi pola spasial dengan cara pendugaan target pola lanskap dari waktu ke waktu di Indonesia karena memberikan peluang besar bagi kehutanan dan pertanian. Dengan menguji adanya perubahan pola lanskap sebagai suatu aktivitas yang terencana maupun intervensi manusia dan atau kejadian alam, maka dinamika lanskap akan mudah dipahami. Penerapan GIS dikombinasikan dengan teknik penghitungan komputer lainnya seperti artificial intellegence dan remote sensing data ataupun analisis citra serta hasil inventarisasi memudahkan untuk mengelola jumlah data yang berlimpah. Di samping itu, proses pengambilan keputusan akan menjadi semakin berkualitas. Keadaan ini yang diinginkan bahwa manajemen lanskap akan menjadi operasional. Strategi kebijakan untuk mempertahankan keberadaan hutan, memperluas peranannya serta memperkuat kerentanannya terhadap perubahan iklim dapat dilakukan dengan cara menyusun model optimasi luas hutan dan mengintegrasikannya ke dalam perencanaan penggunaan hutan dalam suatu wilayah DAS. Kerangka konseptual yang disusun tersebut perlu dikomunikasikan ke berbagai lokasi penelitian yang terpilih. Komunikasi tersebut diperlukan untuk verifikasi jenis data yang diperlukan serta penyusunan rencana pengendalian penelitian di lapangan, termasuk monitoring data dan pelaporan progres penelitian. Sehubungan dengan itu maka kegiatan pengumpulan data lapangan sudah mulai dilakukan di awal tahun penelitian. Termasuk pengumpulan data untuk kegiatan. Kajian Lanskap hutan pada berbagai kondisi DAS dan Analisis persepsi multipihak terhadap lanskap hutan. Kegiatan penelitian Integrasi multistrategi ke dalam multi-level manajemen lanskap dilakukan pada tahun ke 2 setelah tersedia data awal dari penelitian yang lain. Sistem Informasi berlanjut karena Geografis memiliki peluang besar dalam pertanian teknologi di Indonesia semakin pesat

perkembangan

memungkinkan peningkatan produksi dalam bidang pertanian. GIS dapat digunakan untuk merancang, mengelola dan memantau sistem pertanian sehingga memudahkan bagi pengguna untuk mengaplikasikannya. Indonesia akan menerapkan pertanian berlanjut untuk menjaga lingkungan sekitar agar tetap sehat. Dengan demikian, GIS akan membantu para petani untuk memonitoring dalam jarak jauh sehingga tidak terlalu membutuhkan tenaga jika dilakukan secara manual. GIS dapat digunakan dalam pengendalian hama dan penyakit, memantau produksi pertanian dalam negri, menilai resiko dalam bidang pertanian secara keberlanjutan secara berlanjut dan pemakaian bahan anorganik dapat di minimalkan.

(5) Pembahasan Umum dan Kesimpulan. Pertanian merupakan salah satu sektor utama di Indonesia yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Namun, pada kenyataanya sampai saat ini masih banyak petani yang masuk golongan miskin di Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah bukan saja kurang memberdayakan petani tetapi juga kurang memperhatikan sektor pertanian keseluruhan. Terdapat faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan dalam bidang pertanian. Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah kurangnya pengetahuan pihak Dinas Pertanian untuk memberikan informasi kepada petani dalam mengetahui keadaan tanah yang diolahnya, sehingga cenderung melakukan penanaman jenis tanaman berdasarkan

pengalaman leluhur terdahulu. Pada saat ini, para petani belum mengenal dan mengetahui syarat utama penanaman jenis tanaman yang sesuai untuk lahannya. Mengacu pada permasalahan di atas, Diajukan solusi berupa pembuatan aplikasi GIS untuk informasi kecocokan tanam pertanian. Aplikasi ini ditujukan bagi pemerintah daerah khususnya bidang pertanian dan perkebunan guna

menginformasikan kondisi tanah sehingga dapat mengurangi risiko gagal panen dikarenakan ketidakcocokan kondisi tanah atau lahan, pemantauan tentang tanaman budidaya pertanian, informasi tentang produksi atau hasil panen serta informasi tentang pengendalian hama dan penyakit tanaman sert penyebaranya.

Itulah sebabnya aplikasi GIS sangat bermanfaat bagi pertanian dan sektor non pertanian. Namun dalam hal tersebut, banyak kendala yang harus dihadapi unuk peningkatan penggunaan GIS dalam sektor pertanian. salah satunya adalah keterbatasan Ilmu pengetahuan teknologi tentang GIS yang diperoleh masyarakat khususnya petani di Indonesia. Dan bagaimana cara pengoperasian masingmasing sistem sehingga membutuhkan peran penyuluh pertanian untuk membantu proses pengenalan ataupun dalam proses penggunaan sistem tersebut. Kesimpulan yang dapat diambil dari keteragan diatas adalah sistem informasi geografis sangat bermanfaat untuk diterapkan pada pertanian berlanjut yaitu mempermudah pemantauan budidaya pertanian jarak jauh, pengendalian hama dan penyakit tanaman, mengetahui resiko yang disebabkan oleh manusia seperti kebakaran hutan. Dengan demikian, peningkatan progam atau sistem GIS di Indoesia dapat terus ditingkatkan dan dikembangkan.

Daftar Pustaka Diunduh dari http://www.hariankomentar.com/arsip/arsip_2007/may_10/opini01.html Pemetaan High Conservation Value Area`S (Hcva`S) Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis. Diakses pada tanggal 18 oktober 2012

Diunduh dari http://eprints.undip.ac.id/35833/ Pemetaan High Conservation Value Area`S (Hcva`S) Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis. . Diakses pada tanggal 18 oktober 2012 Diunduh dari http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/49827 Penelitian Integratif . Diakses pada tanggal 18 oktober 2012 Rencana

Diunduh dari http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/20681/ Aplikasi Sig Untuk Penetapan Kesesuaian Wilayah Penerapan Mekanisasi Pertanian Tanaman Pangan. Diakses pada tanggal 18 oktober 2012