Anda di halaman 1dari 5

Skenario Lukisan Penuh Hikmah

Selam 6 tahun sudah aku menyelesaikan sekolah dasar ,akupun melanjutkan kejenjang berikutnya ,pilihan demi pilihan sekolah menyelinap di benakku,mulai dari SMP NEGRI favorit,hingga SMP SWASTA favorit,namun itu semua di tantang oleh kedua orang tuaku,mereka lebih mengnginkan aku mengenyam ilmu di pondok pesantren saja,karena mereka ingin sang anak mendalami ilmu agama,akupun tak dapat berkila dan membantah, bagiku restu orang tua adalah restu illahi,maka dari itu aku bertekad lebih mendengarkan dan mengikuti semua saran orang tua. Sebuah pesantren yang terletak di kabupaten Kampar ,kota bangkinang itulah yang menjadi pilihan mereka, akupun mendaftar di pesantren tersebut,beberapa lama menjalani test ,pengumumanpun tertera di mading,di antara ribuan pendaftar namaku terselip di antaranya, akhirnya akupun resmi terdaftar sebagai santri di pondok pesantren tersebut. Menuntut ilmu di pondok pesantren,itu berarti aku harus menginap di sana ,segala aturan dan peraturan harus aku patuhi dan taati, menjelang keberangkatanku ke pondok pesantren itu akupun bernaustalgia bersama keluarga tercinta, seminggu lagi saja aku akan meninggalkan istanaku ini, keluarga yang sangat ku sayang,ayah dan ibu

tempat ku menopa,adik dan kakak tempatku berbagi cinta, mereka semua akan ku tinggalkan untuk sementara waktu. Ransel telah sedia,koper telah tertata,aku akan pergi menuju pesantren idaman orang tuaku itu dengan berat hati,dengan rasa kurang percaya diri,aku langkahkan niat ini dengan belajar untuk ikhlas,ini adalah yang terbaik bagi orang tuaku,maka ini pulalah yang terbaik bagiku. Dengan langkah kaki yang pasti ayah mengoyongku ,mengantarkan ku ke pondok pesantren itu,dengan telah terdaftarnya aku sebagai santri di pondok pesantren ini, maka kini aku hanya tinggal mencari asrama tempatku tinggal.ayahpun pulang setelah selesai mengurus semua keperluan dan kebutuhan ku di pondok, kini tinggal lah aku sendiri merasakan suasana yang serba baru itu.

Seminggu berlalu aku menjadi santri di pondok pesantren ini,aku merasakan perubahan yang amat drastis pada diriku,mulai dari cuci pakaian sendiri,semua serba sendiri,hingga bangunpun haruslah subuh buta,semua ku jalani dengan penuh rasa syukur,tapikesemuanya itu tidak bertahan lama,semuanya itu ku jalani hanya dalam kurun waktu 2 tahun saja. Terkekang,terikat oleh peraturan-peraturan yang ada,itulah yang membuatku tak betah bertahan lama di sini,aku ingin pergi jauh dari semua ini,aku ingin hindari peraturan-peraturan itu,aku ingin kabur meninggalkan peraturan yang mengikatkan itu.

Fikiran labil,pergaulan yang tak menentu ,itulah yang menyelimuti di perasaanku, hingga akhirnya aku putuskan untuk mencari sensasi baru ,aku langkahkan kakiku menuju keluar pondok untuk mencari

tempat tinggal baru,aku ingin terbang bebas di luar sana,aku ingin mati suri dari peraturan yang ada. Lama berjalan akhirnya aku menemukan tempat berteduhku,tempat menghindar dari kekangan itu,sebuah rumah yang tak jauh dari pondok itulah yang menarik hatiku ibu upik nama pemilik rumah tersebut, sosok ibu yang ramah,baik,apa adanya dan telateh dalam bertindak,rumahnya lah yang menjadi sandaranku sementara.

Kelas 3 sudah aku duduki saat ini,aku memantapkan pilihan untuk meninggalkan asrama dan ngekost di kediaman ibu upik, makan,tidur dan bergaul dengan keluarganya aku alami . Di sinilah mulainya rona kemungkiran dari ridho allah,aku menantang scenario allah,aku acuhakan arahan orang tuaku,namun apalah dayaku,yang hanya sebagai manusia penuh khilaf,aku bergelut di rana bebas pergaulan aku merasakan dunia yang penuh warna warni dengan gemerlapnya dunia malam. Semua kegiatan pondok aku abaikan aku sibuk dengan

diriku sendiri,bermain,berhura,dan berleha yang lebih penting olehku alhasil surat panggilan demi surat panggilan meluncur ketangan orang tuaku, aku memang anak yang tidak tau binaan. Kini ujian nasional (UN) telah di depan mata,mau tidak mau aku akan melaksanakan ujian tersebut, untungnya, dewi fortuna masih berpihak padaku aku lulus pada ujian tersebut,dan orang tuakupun berniat ingin memindahkanku kesekolah lain saja,berhubung tingkahku yang semakin menjadi, akupun kembali pada usulan orang tuaku.

Akupun hengkang dari pondok pesantren yang mengagungkan nilai keislaman itu,tadinya aku ingin langsung bekerja saja,lantaran orang tua berkeinginan menyekolahkan ku hingga setinggi mungkin.aku hijrah dari kota serambi makkah itu ke salah satu sekolah

menengah atas di pangkalan baru kecamatan siak hulu, aku bersekolah di sana dan belajar bak siswa teladan yang berperangai budiman!.. Apa yang kini ada di fikirankuaku memang tak menginginkan ekolah pesantren dulunya ,tapi kini setelah aku bersekolah di tempat yang aku inginkan,aku tetap merasa belum puas, aku ingin mencari kegiatan baru di luar sekolah,aku ingin mencari kesibukan di sela-sela sekolahku. Beberapa lama bertahap, akupun mulai berfikir luwes ,dan mengerti akan kehidupan yang fana ini,beranjak dari fikiran dewasa,langkah yang positif aku bertekad untuk mengambil keputusan yang amat memantapkan hati. Di sela-sela studiku aku ingin mencari warna baru di dalam diriku,aku mencoba untuk menggerakkan tanganku pada seuntai kegiatan.Bang rizal menawarkan kegiatan ringan kepadaku,tentu saja tawaran itu aku terima dengan senang hati ,meskipun dengan upah secukupnya, tapi aku berusaha bergiat mengembangkan kegiatan tersebut, tentu saja kegiatan ini tidak mengganggu sekolahku. Pundi-pundi rupiahpun aku dapatkan aku menabung uang tersebut ,meskipun tak seberapa besar, aku berusaha untuk meringankan beban orang tua, syukur Alhamdulillah semua menuaikan hasil .orang tua pun bangga dengan keadaan ku kini, aku kini menjadi apa yang ku inginkan,meski belum apa-apa, tapi aku berusaha menjadi manusia serba guna,dengan hidup yang sekarang ini ,aku bertekad menjadi pejuang keluarga yang berbakti,pergaulanpun yang baik-baik saja. Aku yakin semua yang terjadi memang ada hikmahnya roda yang selama ini berputar akan tetap dan selalu berputar, aku sudah cukup memahami sisi luar dari kehidupan yang fana ini. Orang tua ku sayang aku takkan lagi bantah keinginan kalian, aku akan selalu menjadi anak yang berbakti pada kalian, dan terus menjadi anak yang soleh serta merta tak buat sensasi yang meradang restu kalian lagi// . . .

16 november 2012,Zukri akmal