Anda di halaman 1dari 71

Hipertensi gertasional adalah hipertensi yang muncul disaat kehamilan yang tidak disertai proteinuria.

Atau bisa juga hipertensi sembuh sesudah 3 bulan sesudah melahirkan atau kehamilan dengan gejala-gejala preeklampsia tetapi tidak dengan proteinuria. Hipertensi Gestasional dapat disebut juga dengan transient hypertension. Hipertensi pada saat kehamilan merupakan salah satu penyebab mortalitas dan morbiditas pada wanita yang melahirkan. Kelainan hipertensi pada kehamilan dapat menyebabkan kasus kematian pada janin dan ibu. Pada orang yang terkena hipertensi gestasional, meningkatnya tekanan dapah pada saat menginjak usia kehamilan 36 minggu dan tidak ada riwayat hipertensi sebelumnya sehingga merupakan hipertensi gentasional, dan dibutuhkan penanganan yang cepat berupa terminasi kehamilan dengan persalinan pervaginam.

Gejala Gejala Hipertensi Gestasional


Berikut ini adalah gejala- gejala hipertensi gestasinal atau tekanan darah tinggi pada saat kehamilan antara lain adalah : * Tekanan sistolik 140 mmHg atau tekanan distolik 90 mmHg. * Meningkatnya tekanan darah hingga 160/110 mmHg atau melebihi. * Proteinuria 2.0 g/24 dijam atau urine dipstick 2+ * Meningkatnya kretinin serum lebih besar dari 1.2 mg/dL kecuali pada sebelumnya sudah ada riwayat pada gangguan ginjal. * Trombosi kurang dari 100,000/L * Adanya anemia mikroangiopqti hemolisis meningkatnya LDH * Menngkatnya serum transaminase ALT or AST * Rasa sakit kepala dan mengalami gangguan visus * Rasa sakit epigastrik persisiten

Penyebab Hipertensi Gestasional


Walaupun penyebab utamanya dari hipertensi pada masa kehamilan, terjadi karena reaksi penolakan imonulogik ibu terhadap kehamilan dimana janin di anggap sebagai hostile tissue graff rection dimana reaksi penolakan imonulogik. Hal ini menyebabkan gangguan yang lebih banyak pada tubuh wanita yang sedang hamil dibandingkan akibat meningkatnya tekanan darah, yaitu perubahan kimia total pada reaksi yang tidak bisa diadaptasi yang bisa menyebabkan kejang dan kematian pada wanita hamil. Hipertensi gestasional bisa mengakibatkan antara lain : * Efek kerusakan yang terjadi pada pembuluh darah wanita hamil yang akan merusak vascularasi darah,sehingga dapat mengganggu bertukarnya oksigen dan nutrisi melalui placenta dari ibu ke janin. Ini dapat mengakibatkan premturitas placenta dengan akibat pertumbuhan janin yang tidak normal dalam rahim. * Hipertensi juga dapat menurunkan produksi jumlah seni janin sebelum lahir. Padahal air seni janin merupakan cairan yang paling penting untuk pembentukan amnion,sehingga bisa terjadi oligohydromnion atau minimnya jumlah air ketuban.

* Hipertensi yang terjadio pada wanita yang sedang hamil bisa mengganggu pertukaran nutrisi pada janin dan bisa menbahayakan ginjal pada janin.
http://darahtinggi.info/ www.ptaskes.com/uploads/artikel/HIPERTENSI.pdf

Tekanan darah tinggi


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari --114.79.0.28 23 Mei 2012 14.24 (UTC)--114.79.0.28 23 Mei 2012 14.24 (UTC) Wikipedia Indonesia tidak dapat bertanggung jawab dan tidak bisa menjamin bahwa informasi kedokteran yang diberikan di halaman ini adalah benar.
Mintalah pendapat dari tenaga medis yang profesional sebelum melakukan pengobatan.

Hipertensi
Klasifikasi dan bahan-bahan eksternal

Hasil pembacaan sphygmomanometer (alat ukur tekanan darah) menunjukkan gejala hpertensi dengan tekanan 158/99, dan denyut nadi 80 bpm

ICD-9 OMIM DiseasesDB MedlinePlus eMedicine MeSH

401.x 145500 6330 000468 med/1106 ped/1097 emerg/267 D006973

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor risiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis.

Tekanan darah
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal". Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu.

Klasifikasi
Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa menurut JNC VII [1] Kategori Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik Normal < 120 mmHg (dan) < 80 mmHg Pre-hipertensi 120-139 mmHg (atau) 80-89 mmHg Stadium 1 140-159 mmHg (atau) 90-99 mmHg Stadium 2 >= 160 mmHg (atau) >= 100 mmHg Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut. Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis. Dalam pasien dengan diabetes mellitus atau penyakit ginjal, penelitian telah menunjukkan bahwa tekanan darah di atas 130/80 mmHg harus dianggap sebagai faktor risiko dan sebaiknya diberikan perawatan.

Pengaturan tekanan darah


Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:

Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi "vasokonstriksi", yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di dalam darah. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.

Sebaliknya, jika:

Aktivitas memompa jantung berkurang Arteri mengalami pelebaran Banyak cairan keluar dari sirkulasi

Maka tekanan darah akan menurun atau menjadi lebih kecil.

Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis). Perubahan fungsi ginjal Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara:

Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan mengembalikan tekanan darah ke normal. Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke normal. Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensin, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron.

Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah; karena itu berbagai penyakit dan kelainan pda ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi. Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi. Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah. Sistem saraf otonom Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf otonom, yang untuk sementara waktu akan:

meningkatkan tekanan darah selama respon fight-or-flight (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar) meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung; juga mempersempit sebagian besar arteriola, tetapi memperlebar arteriola di daerah tertentu (misalnya otot rangka, yang memerlukan pasokan darah yang lebih banyak) mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga akan meningkatkan volume darah dalam tubuh melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin), yang merangsang jantung dan pembuluh darah.

Gejala
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:

sakit kepala kelelahan mual muntah sesak napas gelisah pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal.

Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.

Penyebab hipertensi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis : 1. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi). 2. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari adanya penyakit lain. Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB). Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin). Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan. Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal. Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:

1. Penyakit Ginjal o Stenosis arteri renalis o Pielonefritis o Glomerulonefritis o Tumor-tumor ginjal o Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan) o Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal) o Terapi penyinaran yang mengenai ginjal 2. Kelainan Hormonal o Hiperaldosteronisme o Sindroma Cushing o Feokromositoma 3. Obat-obatan o Pil KB o Kortikosteroid o Siklosporin o Eritropoietin o Kokain o Penyalahgunaan alkohol o Kayu manis (dalam jumlah sangat besar) 4. Penyebab Lainnya o Koartasio aorta o Preeklamsi pada kehamilan o Porfiria intermiten akut o Keracunan timbal akut.

Hipertensi dalam kehamilan


Hipertensi ditemukan pada ibu hamil baik pada penyakit sebelumnya (5-15% dari total ibu hamil) atau sebagai gangguan yang berhubungan dengan kehamilan, pre-eklamsia (Lyoyd, dalam Wylie). Hipertensi dijuluki sebagai the silent killer karena biasanya tidak menunjukkan gejala dan hanya terdiagnosis melalui skrinning atau ketika penyakit tersebut bermanifestasi pada komplikasi gangguan tertentu. Hipertensi sangat signifikan berkontribusi terhadap angka kesakitan dan kematian ibu dan janin sehingga perlu dilakukan skrinning awal dan pemeriksaan lanjutan selama kehamilan.[1]

Obat tradisional yang dapat digunakan


Gamat/Teripang/Mentimun Laut Teh Murbei daun cincau hijau seladri (tidak boleh lebih 1-10 gr per hari, karena dapat menyebabkan penurunan tekanan darah secara drastis) bawang putih (tidak boleh lebih dari 3-7 siung sehari) Rosela daun misai kucing minuman serai. teh serai yang kering atau serai basah(fresh) diminum 3 kali sehari. Dalam seminggu dapat nampak penurunan tekanan darah tinggi dengan menambahkan air rebusan daun mannga kweni

obat alami darah tinggi ekstrak teripang Buah dan sayuran untuk menurunkan tekanan darah tinggi antara lain apel, belimbing, kesemek, asparagus, belimbing wuluh, buncis, kapri manis, mentimun, selada (lettuce), seledri, dan wortel.

Jumlah penderita hipertensi


Besarnya angka kejadian hipertensi di dunia menurut Sutomo (2009) yang dilaporkan dari data Join National Commite On Prevention Detection Evaluation, And Treatment On High Blood Pressure 7, penderita hipertensi di seluruh dunia mendekati angka 1 miliar, hal ini bisa dikatakan 1 dari 4 orang dewasa menderita tekanan darah tinggi. Sekitar 600 juta penderita tersebar di beberapa negara berkembang.Hasil penelitian dari MONICA (Multinational Monitoring Of Trends Determinants In Cardiovascular Diseases,) Angka kejadian di Indonesia berkisar 2-18% diberbagai daerah. jadi di Indonesia saat ini kira-kira terdapat 20 juta orang penderita hipertensi. Dilihat dari jumlah penderita hipertensi yang terjadi di Indonesia jumlah ini tersebar dibeberapa provinsi termasuk di provinsi Jabar. Tingkat prevalensi di Jabar mencapai 9,5 persen, sementara rata-rata Nasional 7,2 persen.
http://id.wikipedia.org/wiki/Tekanan_darah_tinggi http://medicastore.com/penyakit/4/Tekanan_Darah_Tinggi_Hipertensi.html Tekanan Darah Sebelum membahas mengenai tekanan darah tinggi atau hipertensi, ada baiknya Anda mengenal terlebih dahulu tentang tekanan darah. Saat Anda melakukan pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis ke dokter, biasanya ada alat khusus yang digunakan oleh dokter untuk memeriksa tekanan darah. Alat untuk memeriksa tekanan darah disebut sphigmomanometer atau dikenal juga dengan tensimeter. Ada tensimeter digital dan ada juga tensimeter air raksa yang masih umum digunakan untuk pemeriksaan klinis. Memeriksa Tekanan Darah Saat memeriksa tekanan darah, ada dua angka yang biasanya disebut misalnya 120/80. Apa yang dimaksud angka-angka tersebut? Sistolik Angka pertama (120) yaitu tekanan darah sistolik, yaitu tekanan saat jantung berdenyut atau berdetak (sistol). Sering disebut tekanan atas. Diastolik Angka pertama (90) yaitu tekanan darah diastolik, yaitu tekanan saat jantung beristirahat di antara saat pemompaan. Sering disebut tekanan bawah.

Dokter akan melakukan pemeriksaan tekanan darah dengan menyuruh Anda duduk atau berbaring, karena itu posisi terbaik untuk mengukur tekanan darah. Lalu dokter biasanya akan mengikat

kantung udara pada lengan kanan kecuali pada lengan tersebut terdapat cedera. Setelah itu, dilakukan pengukuran tekanan darah. Perbedaan antara tekanan sistolik dan diastolik disebut tekanan denyut. Apa yang dimaksud dengan tekanan darah? Tekanan darah yaitu tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah dibuat dengan mengambil dua ukuran dan biasanya terdapat dua angka yang akan disebut oleh dokter. Misalnya dokter menyebut 140-90, maka artinya adalah 140/90 mmHg. Angka pertama (140) menunjukkan tekanan ke atas pembuluh arteri akibat denyutan jantung atau pada saat jantung berdenyut atau berdetak, dan disebut tekanan sistolik atau sering disebut tekanan atas. Angka kedua (90) menunjukkan tekanan saat jantung beristirahat di antara pemompaan, dan disebut tekanan diastolik atau sering juga disebut tekanan bawah. Setelah mengetahui tekanan darah, pasti Anda ingin mengetahui apakah tekanan darah Anda termasuk rendah, normal atau tinggi. Berikut ini penggolongan tekanan darah berdasarkan angka hasil pengukuran dengan tensimeter untuk tekanan sistolik dan diastolik: Sistolik (angka pertama) Di bawah 90 90 120 120 140 Diastolik (angka kedua) Di bawah 60 60 - 80 80 - 90

Tekanan Darah

Darah rendah atau hipotensi Normal Pre-hipertensi Darah tinggi atau hipertensi (stadium 1) Darah tinggi atau hipertensi (stadium 2 / berbahaya)

140 160

90 - 100

Di atas 160

Di atas 100

Mengapa Tekanan Darah Meningkat? Apa yang menyebabkan tekanan darah bisa meningkat? Sebagai ilustrasi, jika Anda sedang menyiram kebun dengan selang. Jika Anda menekan ujung selang, maka air yang keluar akan semakin kencang. Hal itu karena tekanan air meningkat ketika selang ditekan. Selain itu, jika Anda memperbesar keran air, maka aliran air yang melalui selang akan semakin kencang karena debit air yang meningkat.

Hal yang sama juga terjadi dengan darah Anda. Jika pembuluh darah Anda menyempit, maka tekanan darah di dalam pembuluh darah akan meningkat. Selain itu, jika jumlah darah yang mengalir bertambah, tekanan darah juga akan meningkat.

Penyebab Darah Tinggi Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan seseorang memiliki tekanan darah tinggi. Ada faktor penyebab tekanan darah tinggi yang tidak dapat Anda kendalikan. Ada juga yang dapat Anda kendalikan sehingga bisa mengatasi penyakit darah tinggi. Beberapa faktor tersebut antara lain:

Keturunan

Faktor ini tidak bisa Anda kendalikan. Jika seseorang memiliki orang-tua atau saudara yang memiliki tekanan darah tinggi, maka kemungkinan ia menderita tekanan darah tinggi lebih besar. Statistik menunjukkan bahwa masalah tekanan darah tinggi lebih tinggi pada kembar identik daripada yang kembar tidak identik. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada bukti gen yang diturunkan untuk masalah tekanan darah tinggi.

Usia

Faktor ini tidak bisa Anda kendalikan. Penelitian menunjukkan bahwa seraya usia seseorang bertambah, tekanan darah pun akan meningkat. Anda tidak dapat mengharapkan bahwa tekanan darah Anda saat muda akan sama ketika Anda bertambah tua. Namun Anda dapat mengendalikan agar jangan melewati batas atas yang normal.

Garam

Faktor ini bisa Anda kendalikan. Garam dapat meningkatkan tekanan darah dengan cepat pada beberapa orang, khususnya bagi penderita diabetes, penderita hipertensi ringan, orang dengan usia tua, dan mereka yang berkulit hitam.

Kolesterol

Faktor ini bisa Anda kendalikan. Kandungan lemak yang berlebih dalam darah Anda, dapat menyebabkan timbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Hal ini dapat membuat pembuluh darah menyempit dan akibatnya tekanan darah akan meningkat. Kendalikan kolesterol Anda sedini mungkin. Untuk tips mengendalikan kolesterol, silahkan lihat artikel berikut: kolesterol.

Obesitas / Kegemukan

Faktor ini bisa Anda kendalikan. Orang yang memiliki berat badan di atas 30 persen berat badan ideal, memiliki kemungkinan lebih besar menderita tekanan darah tinggi.

Stres

Faktor ini bisa Anda kendalikan. Stres dan kondisi emosi yang tidak stabil juga dapat memicu tekanan darah tinggi.

Rokok

Faktor ini bisa Anda kendalikan. Merokok juga dapat meningkatkan tekanan darah menjadi tinggi. Kebiasan merokok dapat meningkatkan risiko diabetes, serangan jantung dan stroke. Karena itu, kebiasaan merokok yang terus dilanjutkan ketika memiliki tekanan darah tinggi, merupakan kombinasi yang sangat berbahaya yang akan memicu penyakit-penyakit yang berkaitan dengan jantung dan darah.

Kafein

Faktor ini bisa Anda kendalikan. Kafein yang terdapat pada kopi, teh maupun minuman cola bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah.

Alkohol

Faktor ini bisa Anda kendalikan. Konsumsi alkohol secara berlebihan juga menyebabkan tekanan darah tinggi.

Kurang Olahraga

Faktor ini bisa Anda kendalikan. Kurang olahraga dan bergerak bisa menyebabkan tekanan darah dalam tubuh meningkat. Olahraga teratur mampu menurunkan tekanan darah tinggi Anda namun jangan melakukan olahraga yang berat jika Anda menderita tekanan darah tinggi.

Mencegah dan Mengatasi Darah Tinggi Untuk mencegah darah tinggi bagi Anda yang masih memiliki tekanan darah normal ataupun mengatasi darah tinggi bagi Anda yang sudah memiliki tekanan darah tinggi, maka saran praktis berikut ini dapat Anda lakukan:

Kurangi konsumsi garam dalam makanan Anda. Jika Anda sudah menderita tekanan darah tinggi sebaiknya Anda menghindari makanan yang mengandung garam. Konsumsi makanan yang mengandung kalium, magnesium dan kalsium. Kalium, magnesium dan kalsium mampu mengurangi tekanan darah tinggi. Kurangi minum minuman atau makanan beralkohol. Jika Anda menderita tekanan darah tinggi, sebaiknya hindari konsumsi alkohol secara berlebihan. Untuk pria yang menderita hipertensi, jumlah alkohol yang diijinkan maksimal 30 ml alkohol per hari sedangkan wanita 15 ml per hari. Olahraga secara teratur bisa menurunkan tekanan darah tinggi. Jika Anda menderita tekanan darah tinggi, pilihlah olahraga yang ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, lari santai, dan berenang. Lakukan selama 30 hingga 45 menit sehari sebanyak 3 kali seminggu. Makan sayur dan buah yang berserat tinggi seperti sayuran hijau, pisang, tomat, wortel, melon, dan jeruk.

Jalankan terapi anti stres agar mengurangi stres dan Anda mampu mengendalikan emosi Anda. Berhenti merokok juga berperan besar untuk mengurangi tekanan darah tinggi atau hipertensi. Kendalikan kadar kolesterol Anda. Kendalikan diabetes Anda. Hindari obat yang bisa meningkatkan tekanan darah. Konsultasikan ke dokter jika Anda menerima pengobatan untuk penyakit tertentu, untuk meminta obat yang tidak meningkatkan tekanan darah.

Darah Tinggi dapat Dikendalikan Tekanan darah tinggi atau hipertensi bukan suatu penyakit yang tidak dapat dihilangkan. Anda bisa mengendalikannya dan mencegah darah tinggi. http://kumpulan.info/sehat/artikel-kesehatan/48-artikel-kesehatan/174-mengatasi-tekanan-darahtinggi-atau-hipertensi.html

Yang Perlu Anda Ketahui Mengenai Hipertensi


22 Dec 2007Kategori: Kardiovaskuler Blm ada komentar

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah penyakit kronis yang paling banyak dijumpai. Seseorang dianggap mengidap hipertensi bila secara berulang hasil pemeriksaan tekanan darahnya melebihi 140/90 mm Hg. Ada dua jenis hipertensi:

Hipertensi primer/esensial di mana tidak ada hal spesifik yang menjadi penyebabnya. Sekitar 90-95% hipertensi adalah jenis ini. Hipertensi sekunder, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh kelainan atau penyakit lain, misalnya karena stress, sakit ginjal, preeklamsia, atau apnea (sesak napas saat tidur).

Berbagai studi menunjukkan bahwa hipertensi meningkatkan risiko kematian dan penyakit. Bila tidak dilakukan penanganan, sekitar 70% pasien hipertensi kronis akan meninggal karena jantung koroner atau gagal jantung, 15% terkena kerusakan jaringan otak, dan 10% mengalami gagal ginjal. Untungnya, peningkatan kesadaran dan kontrol atas hipertensi telah berhasil menekan risikonya hingga 50%.

Tanda atau gejala hipertensi


Hipertensi primer biasanya tidak menimbulkan gejala sampai setelah menahun. Penemuan hipertensi biasanya terjadi pada saat pemeriksaan rutin atau kunjungan ke dokter. Beberapa gejala hipertensi primer yang mungkin dirasakan:

Sakit kepala, biasanya di pagi hari sewaktu bangun tidur

Bingung Bising (bunyi nging) di telinga Jantung berdebar-debar Penglihatan kabur Mimisan Hematuria (darah dalam urin) Tidak ada perbedaan tekanan darah walaupun berubah posisi

Hipertensi sekunder menunjukkan gejala yang sama, dengan sedikit perbedaan yaitu tekanan darah biasanya turun bila pengukuran dilakukan pada posisi berdiri.

Bagaimana mengurangi risiko hipertensi?


Pada hipertensi sekunder, hipertensi harus diatasi dengan menghilangkan penyebabnya. Walaupun hipertensi primer tidak memiliki penyebab spesifik, ada sejumlah faktor risiko yang memicu kehadirannya. Berikut adalah hal yang mengurangi risiko Anda bila sudah terkena hipertensi primer: 1. Jalani pola atau gaya hidup yang lebih sehat:

berhenti merokok mengurangi berat badan (bila kegemukan) mengurangi konsumsi garam sehingga asupan sodium kurang dari 100 mmol/hari melakukan olah raga 30-45 menit per hari. bila Anda menderita diabetes, jaga kondisi agar kadar gula darah terkendali

2. Dengan bantuan obat-obatan, usahakan untuk mengendalikan tekanan darah tidak lebih dari 140/90 mmHg (atau 135/85 mmHg bila menderita diabetes). Ada tiga kategori umum obat antihipertensi, yaitu yang berfungsi mengurangi volume darah (diuretic), menekan resistensi pembuluh darah (vasodilator) dan mengurangi kerja jantung (cardioinhibitory). Penting untuk diingat bahwa obat-obat antihipertensi adalah obat keras yang tidak boleh sembarangan dikonsumsi tanpa bimbingan dokter.
http://majalahkesehatan.com/yang-perlu-anda-ketahui-mengenai-hipertensi/ http://www.scribd.com/doc/45660196/Penatalaksanaan-Hipertensi-Non-Farmakologis

Home Kumpulan Contoh Askep ASKEP HIPERTENSI

ASKEP HIPERTENSI

A. TEORI

Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mm Hg atau lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, ).

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHG dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHG (Luckman Sorensen,).

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg atau lebih. (Barbara Hearrison ) Dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang abnormal dengan sistolik lebih dari 140 mmHg dan diastolic lebih dari 90 mmHg. Etiologi

Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer Namun ada beberapa factor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi: 1. Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport Na. 2. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan tekanan darah meningkat. 3. Stress Lingkungan 4. Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua serta pelabaran pembuluh darah.

Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu: e. Hipertensi Esensial (Primer) Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, system rennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress. f. Hipertensi Sekunder Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vakuler renal. Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll. Patofisiologi Menurunnya tonus vaskuler meransang saraf simpatis yang diterukan ke sel jugularis. Dari sel jugalaris ini bias meningkatkan tekanan darah. Dan apabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.

Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkan retensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanan darah. Dengan Peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan pada organ organ seperti jantung. Manifestasi klinis Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah meningkatkan tekanan darah > 140/90 mmHg, sakit kepala, epistaksis, pusing/migrain, rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang kunang, lemah dan lelah, muka pucat suhu tubuh rendah. Komplikasi Organ organ tubuh sering terserang akibat hipertensi anatara lain mata berupa perdarahan retina bahkan gangguan penglihatan sampai kebutaan, gagal jantung, gagal ginjal, pecahnya pembuluh darah otak. Penatalaksanaan Penanggulangan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi dua jenis penatalaksanaan: 7. Penatalaksanaan Non Farmakologis.

Diet Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat menurunkan

tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam plasma dan kadar adosteron dalam plasma. Aktivitas.

Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan dengan batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging, bersepeda atau berenang. 8. Penatalaksanaan Farmakologis. Secara garis besar terdapat bebrapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu: 1. Mempunyai efektivitas yang tinggi. 2. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal. 3. Memungkinkan penggunaan obat secara oral. 4. Tidak menimbulakn intoleransi. 5. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien. 6. Memungkinkan penggunaan jangka panjang. Golongan obat - obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi seperti golongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium, golongan penghambat konversi rennin angitensin. Test diagnostic.
9. Hb/Ht: untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti : hipokoagulabilitas, anemia. 10. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal. 11. Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin. 12. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan ada DM. 13. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati 14. EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi. 15. IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal, perbaikan ginjal. 16. Poto dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup, pembesaran jantung. B. PATHWAYS Pathways dapat dilihat disini C. ANALISA DATA

NO TGL / JAM

DATA

PROBLEM

ETIOLOGI Etiologi berisi tentang penyakit yang diderita pasien

Berisi data subjektif Diisi pada dan data objektif yang saat didapat dari tanggal pengkajian pengkajian keperawatan

masalah yang sedang dialami pasien seperti gangguan pola nafas, gangguan keseimbangan suhu tubuh, gangguan pola aktiviatas,dll

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
o o

Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.

Gangguan rasa nyaman nyeri : sakit kepela berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi in adekuat, keyakinan budaya, pola hidup monoton.

Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping tidak efektif, harapan yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistic.

o o

Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya berhubungan dengan kurangn

E. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN DIAGNOSA KEPERAWATAN

NO

TUJUAN

PERENCANAAN

Curah jantung kembali normal. Dengan Kriteria Hasil : Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan 1 dengan vasokontriksi pembuluh darah.

Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / beban kerja jantung , mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat diterima, memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentang normal pasien.

0. Observasi tekanan darah (perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan / bidang masalah vaskuler). 1. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer (Denyutan karotis,jugularis, radialis dan femoralis mungkin teramati / palpasi. Dunyut pada tungkai mungkin menurun, mencerminkan efek dari vasokontriksi (peningkatan SVR) dan kongesti vena). 2. Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas. (S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium, perkembangan S3 menunjukan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi, adanya krakels, mengi dapat mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung kronik). 3. Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler. (adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mencerminkan dekompensasi / penurunan curah jantung). 4. Catat adanya demam umum / tertentu. (dapat mengindikasikan

gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskuler). 5. Berikan lingkungan yang nyaman, tenang, kurangi aktivitas / keributan ligkungan, batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal. (membantu untuk menurunkan rangsangan simpatis, meningkatkan relaksasi). 6. Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi dan distraksi. (dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress, membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan tekanan darah). 7. Kolaborasi dengan dokter dlam pembrian therafi anti hipertensi,deuritik. (menurunkan tekanan darah). 8. Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan parameter : frekwensi nadi 20 per menit diatas frekwensi istirahat, catat peningkatan TD, dipsnea, atau nyeridada, kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat, pusig atau pingsan. (Parameter menunjukan respon fisiologis pasien terhadap stress, aktivitas dan indicator derajat pengaruh

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan 2 umum, ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.

aktivitas kembali normal. Kriteria Hasil :

Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / diperlukan, melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.

kelebihan kerja / jantung). 9. Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan / kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian pada aktivitas dan perawatan diri. (Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual). 10. Dorong memajukan aktivitas / toleransi perawatan diri. (Konsumsi oksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung). 11. Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi, menyikat gigi / rambut dengan duduk dan sebagainya. (teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen). 12. Dorong pasien untuk partisifasi dalam memilih periode aktivitas. (Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan

aktivitas dan mencegah kelemahan).

Gangguan rasa nyaman nyeri : sakit kepela berhubungan 3 dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral.

Nyeri berkurang teratasi Kriteria Hasil :

atau

Melaporkan nyeri / ketidak nyamanan tulang / terkontrol, mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan, mengikuti regiment farmakologi yang diresepkan.

13. Pertahankan tirah baring selama fase akut. (Meminimalkan stimulasi / meningkatkan relaksasi). 14. Beri tindakan non farmakologi untuk menghilangkan sakit kepala, misalnya : kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher serta teknik relaksasi. (Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dengan menghambat / memblok respon simpatik, efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya). 15. Hilangkan / minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala : mengejan saat BAB, batuk panjang,dan membungkuk. (Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya

peningkatkan tekanan vakuler serebral). 16. Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan. (Meminimalkan penggunaan oksigen dan aktivitas yang berlebihan yang memperberat kondisi klien). 17. Beri cairan, makanan lunak. Biarkan klien itirahat selama 1 jam setelah makan. (menurunkan kerja miocard sehubungan dengan kerja pencernaan). 18. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik, anti ansietas, diazepam dll. (Analgetik menurunkan nyeri dan menurunkan rangsangan saraf simpatis). 19. Kaji pemahaman klien tentang hubungan langsung antara hipertensi dengan kegemukan. (Kegemukan adalah resiko tambahan pada darah tinggi, kerena disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan dengan masa tumbuh). 20. Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak,garam dan gula sesuai indikasi. (Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake 4 nutrisi in adekuat, keyakinan budaya, pola hidup monoton.

Kebuituhan terpenuhi. Kriteria hasil :

nutrisi

klien dapat mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dengan kegemukan, menunjukan perubahan pola makan, melakukan / memprogram olah raga yang tepat secara individu.

aterosklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi untuk hipertensi dan komplikasinya, misalnya, stroke, penyakit ginjal, gagal jantung, kelebihan masukan garam memperbanyak volume cairan intra vaskuler dan dapat merusak ginjal yang lebih memperburuk hipertensi). 21. Tetapkan keinginan klien menurunkan berat badan. (motivasi untuk penurunan berat badan adalah internal. Individu harus berkeinginan untuk menurunkan berat badan, bila tidak maka program sama sekali tidak berhasil). 22. Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet. (mengidentivikasi kekuatan / kelemahan dalam program diit terakhir. Membantu dalam menentukan kebutuhan inividu untuk menyesuaikan / penyuluhan). 23. Tetapkan rencana penurunan BB yang realistic dengan klien, Misalnya : penurunan berat badan 0,5 kg per minggu. (Penurunan masukan kalori seseorang sebanyak 500 kalori per hari secara teori dapat menurunkan berat

badan 0,5 kg / minggu. Penurunan berat badan yang lambat mengindikasikan kehilangan lemak melalui kerja otot dan umumnya dengan cara mengubah kebiasaan makan). 24. Dorong klien untuk mempertahankan masukan makanan harian termasukkapan dan dimana makan dilakukan dan lingkungan dan perasaan sekitar saat makanan dimakan. (memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang dimakan dan kondisi emosi saat makan, membantu untuk memfokuskan perhatian pada factor mana pasien telah / dapat mengontrol perubahan). 25. Intruksikan dan Bantu memilih makanan yang tepat , hindari makanan dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega, keju, telur, es krim, daging dll) dan kolesterol (daging berlemak, kuning telur, produk kalengan,jeroan). (Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam mencegah perkembangan aterogenesis). 26. Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai indikasi. (Memberikan konseling dan

bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual). 27. Kaji keefektipan strategi koping dengan mengobservasi perilaku, Misalnya : kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan. (Mekanisme adaptif perlu untuk megubah pola hidup seorang, mengatasi hipertensi kronik dan mengintegrasikan terafi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari-hari). 28. Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan konsentrasi, peka rangsangan, penurunan toleransi sakit kepala, ketidak mampuan untuk mengatasi / menyelesaikan masalah. (Manifestasi mekanisme koping maladaptive mungkin merupakan indicator marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu utama TD diastolic). 29. Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya. (pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam mengubah respon seseorang terhadap

Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme 5 koping tidak efektif, harapan yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistic.

Koping efektif

individu

menjadi

Kriteria hasil :

Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekkuensinya, menyatakan kesadaran kemampuan koping / kekuatan pribadi, mengidentifikasi potensial situasi stress dan mengambil langkah untuk menghindari dan mengubahnya.

stressor). 30. Libatkan klien dalam perencanaan perwatan dan beri dorongan partisifasi maksimum dalam rencana pengobatan. (keterlibatan memberikan klien perasaan kontrol diri yang berkelanjutan. Memperbaiki keterampilan koping, dan dapat menigkatkan kerjasama dalam regiment teraupetik. 31. Dorong klien untuk mengevaluasi prioritas / tujuan hidup. Tanyakan pertanyaan seperti : apakah yang anda lakukan merupakan apa yang anda inginkan ?. (Fokus perhtian klien pada realitas situasi yang relatif terhadap pandangan klien tentang apa yang diinginkan. Etika kerja keras, kebutuhan untuk kontrol dan focus keluar dapat mengarah pada kurang perhatian pada kebutuhan-kebutuhan personal). 32. Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup yang perlu. Bantu untuk menyesuaikan ketibang membatalkan tujuan diri / keluarga. (Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara realistic untuk

menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya). 35. Bantu klien dalam mengidentifikasi factorfaktor resiko kardivaskuler yang dapat diubah, misalnya : obesitas, diet tinggi lemak jenuh, dan kolesterol, pola hidup monoton, merokok, dan minum alcohol (lebih dari 60 cc / hari dengan teratur) pola hidup penuh stress. (Faktor-faktor resiko ini telah menunjukan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler serta ginjal). 36. Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat. (kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minimal klien / orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan dan prognosis. Bila klien tidak menerima realitas bahwa membutuhkan pengobatan kontinu, maka perubahan perilaku tidak akan dipertahankan). 37. Kaji tingkat pemahaman klien tentang pengertian, penyebab,

Pengetahuan klien tentang proses penyakit meningkat setelah dilakukan tindakan keperawatan Kurang pengetahuan mengenai kondisi 6 penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi Kriteria hasil :
o

Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regiment pengobatan. Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan. Mempertahankan TD dalam parameter normal.

tanda dan gejala, pencegahan, pengobatan, dan akibat lanjut. (mengidentivikasi tingkat pegetahuan tentang proses penyakit hipertensi dan mempermudahj dalam menentukan intervensi). 38. Jelaskan pada klien tentang proses penyakit hipertensi (pengertian,penyebab,t anda dan gejala,pencegahan, pengobatan, dan akibat lanjut) melalui penkes. (Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan klien tentang proses penyakit hipertensi).

Read more: ASKEP HIPERTENSI:CONTOH ASKEP http://contoh-askep.blogspot.com/2008/07/askep-hipertensi.html

Penanganan Hipertensi
Posted on March 28, 2012 by admin

Kali ini kita akan membahas mengenai pengobatan hipertensi secara non-farmakologis. Pengobatan non-farmakologis merupakan pengobatan tanpa obat-obatan yang diterapkan pada hipertensi. Dengan cara ini, penurunan tekanan darah diupayakan melalui pencegahan dengan menjalani pola hidup sehat dan bahan-bahan alami. Pengobatan non-farmakologis Langkah awal pengobatan hipertensi secara non-farmakologis adalah dengan menjalani gaya hidup sehat : 1. Penderita hipertensi yang kelebihan berat badan dianjurkan untuk menurunkan bobotnya sampai batas ideal dengan cara membatasi makan dan mengurangi makanan berlemak. 2. Mengurangi penggunaan garam sampai kurang dari 2,3 gram natrium atau 6 gram natrium klorida setiap harinya (disertai dengan asupan kalsium, magnesium, dan kalium yang cukup). Konsumsi alkohol dan kopi juga harus dikurangi. 3. Melakukan olahraga yang tidak terlalu berat secara teratur. Penderita hipertensi esensial tidak perlu membatasi aktivitasnya selama tekanan darahnya terkendali.

4. Berhenti merokok 5. Pandai menyiasati dan mengelola stres Selain kelima hal di atas, penderita hipertensi juga harus mengonsumsi makanan yang bergizi bagi tubuh. Untuk menjaga kesehatan, sebaiknya asupan makanan nabati ditingkatkan, khususnya makanan yang banyak mengandung kalium, karbohidrat kompleks, serta, kalsium, magnesium, vitamin C, dan asam lemak esensial. Selain itu, mengonsumsi sedikit asam lemak jenuh dan karbohidrat sederhana juga bermanfaat untuk menjaga tekanan darah tetap normal. Makanan yang baik bagi pengidap hipertensi adalah seledri, bawang putih, bawang bombai, bawang merah, biji-bijian, kacang-kacangan, minyak yang mengandung asam lemak esensial, ikan air dingin seperti salmon, tenggiri, sayuran berdaun hijau (yang kaya magnesium dan kalsium), padi-padian utuh, kacang polong yang kandungan seratnya tinggi, serta makanan kaya vitamin C (seperti brokoli, jeruk sitrus, jambu, dll). Seledri merupakan makanan yang sangat baik bagi pengidap hipertensi karena seledri mengandung 3-n-butyl phthalide yang dapat menurunkan tekanan darah dan kolesterol. Makanlah 4 tangkai seledri setiap hari, maka tensi pun akan turun. Bawang merah, bawang bombai, dan bawang putih juga makanan yang baik untuk menurunkan tekanan darah dan menurunkan kolesterol. Karena mengandung sulfur, bawang putih dapat menurunkan tensi tensi sistolik antara 8 mmHg 11 mmHg, dan tekanan diastolik sekitar 8 mmHg. Kalium merupakan mineral yang baik untuk menurunkan atau mengendalikan tensi. Kalium (atau potasium) membantu menjaga keseimbangan air, tekanan darah, keseimbangan asambasa, fungsi kontraksi otot, sel saraf, jantung, ginjal, dan kelenjar adrenal. Selain itu, peranan kalium juga sangat penting dalam mengubah gula darah menjadi gula otot (glikogen), yang disimpan dalam otot dan hati. Glikogen merupakan sumber tenaga yang digunakan otot untuk berkontraksi, sehingga kekurangan kalium dapat membuat tubuh lelah dan otot lemah. Dalam sehari Anda dapat mengonsumsi kalium sebanyak 2,5 5 gram. Kalium dapat menurunkan tekanan darah sistolik sekitar 12 mmHg dan diastolik sebanyak rata-rata 16 mmHg. Kalium terutama sangat baik bagi mereka yang berusia di atas 60 tahun, yang tidak merespons obat anti-hipertensi. Berhati-hatilah mengonsumsi kalium jika ada gangguan ginjal, sedang menggunakan obat digitalis, diuretik, atau ACE inhibitor. Selain kalium, magnesium juga merupakan mineral yang penting bagi penderita hipertensi. Jika kadar magnesium dalam sel darah rendah, kadar kalium pun rendah. Magnesium baik dikonsumsi sebagai suplemen dengan dosis 400 1.200 miligram per hari, dan dikonsumsi beberapa kali serta diberikan bersama kalium. Magnesium dapat menurunkan tekanan darah sekitar 9 mmHg. Asupan magnesium yang ideal adalah sekitar 6 miligram untuk setiap 2,2 pon berat badan Anda. Bagi penderita sakit ginjal dan penyakit jantung berta, sebaiknya tidak mengonsumsi kalium dan magnesium, kecuali di bawah pengawasan dokter. Pengelolaan hipertensi sekunder Pengobatan hipertensi sekunder ditujukan kepada sumber penyakit penyebabnya. Mengatasi penyakit ginjal kadang dapat mengembalikan tekanan darah ke normal atau setidaknya tekanan darah akan menurun. Penyempitan arteri bisa diatasi dengan memasukkan selang

dengan mengembangkan balon yang terdapat di ujung selang. Atau, bisa juga dilakukan pembedahan untuk membuat jalan pintas (operasi bypass).

Diagnosis Hipertensi
Posted on March 27, 2012 by admin

Untuk mengetahui keberadaan hipertensi, pengukuran tekanan darah harus dilakukan dalam keadaan duduk rileks atau berbaring selama 5 menit. Apabila hasil pengukuran menunjukkan angka 140/90 mmHg atau lebih, hal ini dapat diartikan sebagai keberadaan hipertensi, tetapi diagnosis tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan satu kali pengukuran saja. Jika pada pengukuran pertama hasilnya tinggi, maka tekanan darah diukur kembali sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk meyakinkan adanya hipertensi. Pada dasarnya dugaan kuat seseorang menderita hipertensi terjadi apabila terdapat hal-hal berikut : Riwayat hipertensi dalam keluarga Apabila kedua orangtua mengidap hipertensi, kemungkinan besar yang bersangkutan akan mengidap hipertensi (primer). Selain itu periksalah juga apakah dalam keluarga ada yang mengalami penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal, kencing manis, atau kolesterol tinggi. Umur penderita Hipertensi primer biasanya muncul pada mereka yang berumur antara 25 45 tahun, hanya sekitar 20% saja yang mengalami hipertensi pada usia di bawah 25 tahun atau di atas 45 tahun. Data faktor resiko Ada tidaknya faktor-faktor hipertensi, seperti : perokok, suka mengonsumsi alkohol, obesitas, stres, dan kebiasaan mengonsumsi makanan asin. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan laboraturium dan pemeriksaan penunjang lain tidak selalu dilakukan, kecuali jika Anda mencurigai keberadaan hipertensi sekunder. Pemeriksaan tersebut meliputi : * Pemeriksaan urin Dilakukan untuk mengetahui keberadaan protein dan sel-sel darah merah (eritrosit) yang menandai kerusakan ginjal. Kadar gula untuk mendeteksi kencing manis juga sebaiknya diperiksa. * Pemeriksaan darah Dilakukan untuk mengetahui fungsi ginjal, termasuk mengukur kadar ureum dan kreatinin. Kadar kalium dalam urin akan tinggi jika terdapat penyakit aldosteronisme primer, karena tumor korteks kelenjar adrenal yang dapat memicu hipertensi. Kadar kalsium yang tinggi berhubungan dengan hipertiroidisme. Melalui pemeriksaan ini, kadar gula darah dan kolesterol juga diukur.

Berikut adalah nilai normal beberapa pemeriksaan dalam mg/dl : a. Ureum : 15 50 b. Kreatinin : 0,6 sampai 1,3 c. Asam urat : 3,4 7 (pria) dan 2,4 5,7 (wanita) d. Glukosa sewaktu : kurang dari 150 e. Glukosa puasa : 70 100 f. Glukosa 2 jam setelah puasa : kurang dari 150 g. Kolesterol total : 140 200 h. Kolesterol HDL : di atas 45 i. Kolesterol LDL dan trigliserida : kurang dari 150 j. Kalium : 3,3 5,1 mEq/L k. Natrium : 135 155 mEq/L l. Kalsium : 8,8 10,2 mEq/L Pemeriksaan lain Ada berbagai jenis pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk mendukung diagnosis hipertensi. Pemeriksaan foto dada dan rekam jantung (EKG) dilakukan untuk mengetahui lamanya menderita hipertensi dan komplikasinya terhadap jantung (sehingga dapat menilai adanya kelainan jantung juga). Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) dilakukan untuk menilai apakah ada kelainan ginjal, anuerisma (pelebaran arteri) pada bagian perut, tumor di kelenjar adrenal. Magnetic Resonance Angiography (MRA) dilakukan untuk melihat kelancaran aliran darah. Pemeriksaan komplikasi Setelah diagnosis ditegakkan, dilakukan pemeriksaan terhadap organ utama, terutama pembuluh darah, jantung, otak, dan ginjal, karena komplikasi sering terjadi pada organ-organ tersebut. Komplikasi hipertensi terjadi karena peningkatan tekanan darah yang merusak organ-organ target. Untuk mengetahui ada tidaknya komplikasi maka sebaiknya Anda melakukan berbagai pemeriksaan di bawah ini, yaitu : 1. Pemeriksaan mata Untuk mengetahui kelainan organ atau pembuluh darah, biasanya dilakukan pemeriksaan pada pembuluh darah retina (selaput peka cahaya pada permukaan dalam bagian belakang mata), yang merupakan satu-satunya bagian tubuh yang secara langsung bisa menunjukkan adanya efek dari hipertensi terhadap arteriolar (pembuluh darah kecil). Ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan yang terjadi di dalam retina mirip dengan perubahan yang terjadi di dalam pembuluh darah lainnya di dalam tubuh, seperti ginjal. Untuk memeriksa retina, digunakan alat oftalmoskopi. Dengan menentukan derajat kerusakan retina (retinopati), maka bisa ditentukan beratnya hipertensi. 2. Pemeriksaan jantung Perubahan di dalam jantung, terutama pembesaran jantung, bisa diketahui dengan pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) dan foto rontgen dada. Pada stadium awal, perubahan tersebut bisa ditemukan melalui pemeriksaan ekokardiografi (pemeriksaan dengan gelombang ultrasonik untuk menggambarkan keadaan jantung). Bunyi jantung yang

abnormal (disebut bunyi jantung keempat), bisa didengar melalui stetoskop dan merupakan perubahan jantung paling awal yang terjadi akibat tekanan darah tinggi. 3. Pemeriksaan ginjal Petunjuk awal adanya kerusakan ginjal bisa diketahui terutama melalui pemeriksaan air kemih. Adanya sel-sel darah, gula dan albumin (sejenis protein) dalam air kemih bisa merupakan petunjuk adanya kerusakan ginjal. Dalam pemeriksaan digunakan stetoskop yang ditempelkan di atas perut untuk mendengarkan adanya bruit (suara yang terjadi karena darah mengalir melalui arteri yang menuju ginjal, yang mengalami penyempitan). Atau dilakukan analisis air kemih dan rontgen atau USG ginjal. Untuk mengetahui penyebab penyakit feokromositoma, maka di dalam air kemih bisa ditemukan adanya bahan-bahan hasil penguraian hormon epinefrin dan norepinefrin. Biasanya hormon tersebut juga menyebabkan gejala sakit kepala, kecemasan, palpitasi (jantung berdebar-debar), keringat yang berlebihan, tremor (gemetar), dan pucat. 4. Pemeriksaan rutin Untuk mengetahui penyebab lain bisa dilakukan pemeriksaan rutin tertentu, misalnya mengukur kadar kalium dalam darah bisa membantu menemukan adanya keadaan hiperaldosteronisme. Kadar potasium darah yang rendah mengindikasikan kemungkinan kelenjar adrenal yang terlalu aktif. Dan mengukur perbedaan tekanan darah pada kedua lengan dan tungkai bisa membantu menemukan adanya kelainan arteri besar (koartasio aorta). 5. Pemeriksaan otak Jika hipertensi sudah berat dan kronis dapat timbul komplikasi pada otak serta menyebabkan stroke dan pikun (dementia).

Gejala Hipertensi
Posted on March 26, 2012 by admin

Pada umumnya hipertensi tidak menimbulkan gejala yang jelas dan sering tidak disadari kehadirannya. Ada kalanya secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sebenarnya tidak selalu). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, wajah kemerahan, kelelahan. Semua gejala tersebut bisa terjadi pada siapa saja, baik pada penderita hipertensi maupun seseorang yang tekanan darahnya normal. Pada hipertensi berat atau yang telah menahun, bisa timbul gejala-gejala yang berasal dari kerusakan otak, mata, jantung, dan ginjal, seperti : * Sakit kepala * Kelelahan * Mual dan muntah * Sesak napas * Gelisah * Pandangan menjadi kabur

Pada hipertensi berat, penurunan kesadaran sampai koma dapat terjadi, karena adanya pembengkakan otak yang disebut ensefalopati hipertensi. Gejala pada hipertensi sekunder Gejala hipertensi sekunder berbeda dengan hipertensi primer. Berikut akan dijelaskan gejalagejala yang berkaitan dengan hipertensi sekunder : 1. Terkait dengan kelainan pada ginjal : * Terdapat riwayat penyakit ginjal dalam keluarga * Sering terserang infeksi saluran kemih * Sering haus dan buang air kecil * Pernah mengalami trauma atau benturan keras di pinggang 2. Terkait dengan penyakit feokromositoma, terdapat gejala-gejala di bawah ini, yang umumnya berulang, tidak teratur, dan tekanan darah selalu sangat tinggi. * Sakit kepala akut dan tiba-tiba * Jantung berdebar-debar * Keringat berlebihan * Wajah pucat 3. Hipertiroidisme (hormon tiroid tinggi) Kelainan ini meningkatkan tekanan sistolik, sehingga menimbulkan gejala-gejala seperti : * Mudah gugup * Banyak keringat * Selalu merasa kepanasan * Berdebar-debar * Tremor atau gemetaran * Cepat lelah * Berat badan turun * Bola mata menonjol * Terdapat pembesaran atau benjolan kelenjar tiroid 4. Hipotiroidisme (hormon tiroid rendah) Kelainan ini dapat meningkatkan tekanan darah sistolik maupun diastolik sehingga menimbulkan gejala : * Tidak tahan dingin * Cepat lelah * Melambatnya fungsi tubuh * Berat badan naik / kegemukan * Kulit kasar * Suara parau atau rendah * Sembab pada mata, kaki, dan tangan 5. Gejala akibat kelebihan hormon kortisol Hormon kortisol diproduksi oleh kelenjar adrenal yang dapat meningkatkan tekanan darah. Jika produksinya berlebihan, maka akan timbul gejala-gejala berikut ini : * Peningkatan penumpukan lemak di wajah, leher, atau badan * Kulit menipis, tanda guratan ungu, mudah memar, rambut tumbuh berlebihan * Emosi labil

* Kenaikan berat badan yang drastis * Tubuh melemah

Faktor Resiko Hipertensi


Posted on March 25, 2012 by admin

Faktor resiko hipertensi adalah keadaan seseorang yang lebih rentan terserang hipertensi dibandingkan orang lain. Faktor resiko bukanlah penyebab timbulnya penyakit, melainkan pemicu terjadinya penyakit. Beberapa keadaan yang merupakan faktor resiko hipertensi : * Faktor genetik Merupakan faktor bawaan yang menjadi pemicu timbulnya hipertensi, terutama hipertensi primer. Jika dalam keluarga seseorang ada yang hipertensi, ada 25% kemungkinan orang tersebut terserang hipertensi. Apabila kedua orangtua mengidap hipertensi, kemungkinan menderita hipertensi naik menjadi 60%. * Jenis kelamin Pada dewasa muda dan paruh baya, hipertensi banyak terjadi pada kaum pria. Namun pada usia di atas 55 tahun, hipertensi banyak menyerang wanita. * Pemakaian pil kontrasepsi (KB) Karena mengandung estrogen dan progesteron yang berlebihan. * Stres berat dan tidak terkendali * Gaya hidup yang tidak sehat Berupa banyak mengonsumsi makanan berlemak, makan secara berlebihan, banyak mengonsumsi garam / makanan asin, banyak minum alkohol, merokok, serta kurang banyak melakukan aktivitas fisik. Cara mengetahui adanya resiko mengidap hipertensi adalah dengan mencermati apakah ada anggota keluarga yang mengidap hipertensi. Jika ada maka Anda harus lebih berhati-hati, karena kemungkinan besar Anda juga akan terserang hipertensi. Perhatikan juga berat badan Anda, jika berlebihan atau kegemukan akan meningkatkan resiko. Begitu pula dengan kadar kolesterol total yang melebihi 200 mg/dl, LDL > 130 md/dl, trigliserida > 150 mg/dl, sedangkan kadar kolesterol HDL 9baik) rendah di bawah 40 mg/dl; jika Anda mengalami kondisi ini, maka resiko Anda terserang hipertensi sangat tinggi.

Penyebab Hipertensi
Posted on March 24, 2012 by admin

Hipertensi disebabkan oleh beberapa hal di bawah ini : 1. Apakah Anda sedang mengonsumsi obat?

Beberapa jenis obat dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah, karena itu perlu diperhatikan penggunaannya. Bila obat tersebut dihentikan, tekanan darah umumnya dapat kembali normal. Obat-obat yang umum dipakai dan dapat meningkatkan tekanan darah : pil KB, estrogen, obat batuk pilek yang mengandung dekongestan, pil diet, obat anti radang non-steroid (NSAID) seperti ibuprofen. 2. Apakah Anda mengonsumsi alkohol atau garam secara berlebihan? Semakin banyak mengonsumsi alkohol atau garam (termasuk makanan asin), maka semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya peningkatan tekanan darah. 3. Apakah Anda mengalami stres? Stres tidak diragukan lagi merupakan salah satu faktor utama penyebab penyakit janutng dan kasridovaskular, seperti hipertensi. Faktor stres sekarang ini berperan dominan menyebabkan hipertensi, seiring dengan kenaikan tingkat stres pada cara hidup manusia dewasa ini. Situasi stres dijumpai di berbagai tempat, dapat hadir dalam bentuk masalah di tempat kerja, krisis keuangan, masalah keluarga, dan sebagainya. Semua hal tersebut dapat menyebabkan perkembangan tekanan darah tinggi. Jika stres memang menerpa Anda, jalan terbaik adalah mengelola dan mengatasi kondisi tersebut. Beberapa penyebab hipertensi sekunder lainnya : 1. Penyakit ginjal, yang dapat hadir dalam bentuk : * Stenosis arteri renal * Pielonefritis * Glomerulonefritis * Tumor ginjal * Penyakit ginjal polikista (biasanya penyakit turunan) * Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal) * Terapi penyinaran yang mengenai ginjal 2. Kelainan hormonal, seperti : * Hiperaldosteronisme * Sindrom Cushing * Feokromositoma 3. Obat-obatan, antara lain : * Pil KB * Kortikosteroid * Siklosporin * Eritropoietin * Kokain * Penyalahgunaan alkohol * Kayu manis (dalam jumlah sangat besar) 4. Lain-lain * Koarktasi aorta (penyempitan arteri besar)

* Preeklamsi (kejang) pada kehamilan * Porfiria intermiten akut * Keracunan timbal akut

Tindakan Praktis untuk Mencegah Hipertensi (Bagian 1)


Posted on March 29, 2012 by admin

Mencegah Hipertensi
Olahraga Aktivitas fisik dan olahraga yang cukup dan teratur merupakan salah satu cara yang efektif dan terbukti dapat membantu menurunkan hipertensi. Aktivitas fisik yang teratur dan cukup dapat menguatkan otot jantung sehingga jantung dapat memompa lebih banyak darah dengan usaha yang minimal. Efeknya, kerja jantung menjadi lebih ringan sehingga hambatan pada dinding arteri berkurang. Dengan demikian, tekanan darah pun mengalami penurunan. Olahraga secara teratur bersifat protektif dan baik bagi kesehatan. Oleh karena itu, penderita hipertensi dianjurkan untuk berolahraga secara teratur dengan intensitas dan frekuensi sedang. Berolahraga secara teratur akan menyehatkan tubuh, menurunkan berat badan, dan menurunkan kadar trigliserida. Olahraga yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan pasien berguna untuk meningkatkan HDL, juga bermanfaat bagi penderita diabetes dan hipertensi. Olahraga atau aktivitas fisik yang dianjurkan bagi penderita hipertensi adalah derajat sedang dan dilakukan sekitar 30 60 menit setiap hari. Aktivitas fisik dapat berupa aktivitas harian yang kita lakukan dan olahraga yang bersifat aerobik yang dapat meningkatkan kemampuan jantung, otot-otot tubuh, dan paru-paru. Yang termasuk dalam olahraga aerobik adalah : * Berjalan kaki, berjalan kakilah minimal 3 kilometer selama sekitar 30 menit sehari * Joging, dapat dilakukan sama seperti jalan kaki, dengan jarak sekitar 3 kilometer selama 20 menit sehari * Berenang, lakukan selama 20 hingga 30 menit * Bersepeda, sekitar 30 menit dengan jarak 8 kilometer * Lain-lain lahraga dengan menggunakan alat juga dapat dilakukan, misalnya bersepeda statis atau berlari diatas treadmill. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berolahraga : * Mulailah beraktivitas ketika Anda merasa nyaman, lalu tingkatkan waktu dan kecepatan sedikit demi sedikit setiap minggu. * Lakukan setiap hari atau seminggu tiga kali, selama 30 menit sehari; dapat dibagi menjadi beberapa periode, misalnya 3 kali dalam 10 menit. * Untuk mencegah cedera, lakukan dengan intensitas dan frekeunsi sedang, serta secara perlahan-lahan. * Jangan memaksakan diri. Bila Anda merasa sesak, nyeri, atau sangat lelah, perlambat atau hentikan aktivitas sejenak. * Lakukan semampu Anda. Ingat, lebih baik melakukan sedikit daripada tidak. Mengelola Stres

Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah selama beberapa waktu. Jika stres telah berlalu, tekanan darah biasanya akan kembali normal. Pada otot jantung dan beberapa dinding pembuluh darah terdapat suatu reseptor yang berfungsi memantau perubahan tekanan darah arteri dan vena. Apabila terjadi perubahan tekanan, reseptor ini akan mengirim sinyal ke otak untuk menormalkan kembali tekanan darah, melalui pelepasan hormon dan enzim yang bekerja pada jantung, pembuluh darah, dan ginjal, sehingga dicapailah tekanan yang normal. Ketika Anda stres, hormon epinefrin atau adrenalin akan dilepaskan. Adrenalin akan meningkatkan tekanan darah melalui kontraksi arteri (vasokonstriksi) dan meningkatkan denyut jantung. Jika stres berlanjut, tekanan darah akan tetap tinggi sehingga orang tersebut mengalami hipertensi. Pengaruh stres pada peningkatan tekanan darah untuk setiap orang berbeda. Sifatnya sangat individual; sebagian orang dapat mengatasi situasi yang sulit dan menegangkan sehingga tidak menimbulkan stres yang berkepanjangan. namun ada jug aorang-orang yang tidak dapat mengatasi situasi rumit sehingga menjadi stres. Hal tersebut terjadi akibat bawaan alamiah seseorang yang menanggapi pencetus stres (stresor) secara berbeda. Sesutau keadaan yang dianggap sebagai pemicu untuk menjadi lebih baik dan maju (stres positif) oleh seseorang, dapat ditanggapi sebagai sebuah ancaman (stres negatif) oleh orang lain. Yang satu bisa menganggapnya sebagai sebuah pemacu semangat, sedangkan orang lain memandangnya sebagai sebuah beban sehingga menjadi sangat tertekan. Karena itu, sangat peting untuk melatih dan membiasakan diri mengelola semua jenis keadaan. Ada beberapa cara kerja stres sehingga menyebabkan tubuh Anda sakit, tergantung pada organ yang terserang. Pada jantung, jika detak jantung dan tekanan darah meningkat, maka resiko terkena serangan jantung meningkat, sehingga otot-otot jantung serta arteri jantung pun bisa mengalami kerusakan. Stres juga bisa mengakibatkan terjadinya pembekuan darah. Fibrin banyak dilepaskan ketika seseorang stres, dan hal ini dapat menyebabkan arteri di otak, jantung, dan organ lainnya tersumbat. Kekebalan tubuh pun dapat diserang oleh stres. Stres merangsang tubuh melepaskan lebih banyak hormon kortisol, yang dapat menekan fungsi sistem kekebalan tubuh sehingga membuat tubuh rentan terserang penyakit infeksi dan kanker. Selain itu, stres bisa menyebabkan sakit maag, karena stres menyebabkan asam lambung dikeluarkan secara berlebihan, sehingga menimbulkan maag. Dalam banyak kasus, stres dapat menjadi faktor utama penyebab hipertensi. Itu sebabnya berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi stres, mulai dari teknik relaksasi seperti meditasi, latihan pernapasan dalam, rileksasi otot progresif, dan sebagainya. Kegiatan tersebut sangat sederhana tetapi mampu memberikan respons rilek yang dibutuhkan oleh tubuh yang tengah stres; seperti duduk dengan santai, menonton televisi, membaca buku, menyanyikan lagu yang lembut, berbaring santai, berjalan-jalan ke mal atau taman, dan lain sebagainya. Respon relaksasi bekerja lebih dominan pada sistem saraf parasimpatik, sehingga mengendorkan saraf yang tegang. Saraf parasimpatik berfungsi mengendalikan fungsi pencernaan, pernapasan, dan denyut jantung untuk membuat tubuh rileks. Di lain pihak, kerja saraf simpatik juga dapat dihambat, sehingga menurunkan keadaan tegang dan berjaga-jaga. Ketika respon relaksasi dirasakan oleh tubuh, ia akan memperlambat detak jantung sehingga denyutnya dalam memompa darah ke seluruh tubuh menjadi lebih efektif. Selain itu, tekanan

darah pun menurun, darah yang mengalir ke alat pencernaan bertambah, kecepatan pernapasan berkurang, aliran deras keringat berkurang, dan kadar gula darah kembali normal. Perlu diperhatikan bahwa cara bernaps sangat memengaruhi tekanan darah seseorang. Apabila cara bernapas seseorang cepat dan dangkal sehingga hanya mengisi udara di dalam dada, maka tekanan darahnya akan meningkat. Sebaliknya, jika seseorang cara bernapasnya normal atau perlahan dan dalam, maka tekanan darahnya normal. Jadi penting sekali untuk mempraktikkan cara bernapas yang baik, yaitu dengan perlahan dan dalam. Cara bernapas yang mendatangkan kesehatan pada tubuh adalah bernapas dengan diafragma (otot tipis yang memisahkan rongga dada dari rongga perut). Berikut adalah teknik bernapas menggunakan diafragma : * Carilah tempat yang nyaman untuk duduk atau berbaring dengan tenang. * Atur posisi dengan baik, jangan sampai Anda terimpit sesuatu. * Letakkan salah satu tangan di atas perut dekat pusar, dan tangan satunya di atas dada. * Setelah itu ambil napas melalui hidung dan embuskan melalui mulut. Cermati proses pernapasan ini dengan seksama. * Perhatikan tangan mana yang naik atau turun setiap kali Anda bernapas. * Perlahan-lahan embuskan udara dalam paru-paru. * Tarik napas sambil berhitung dengan pelan sampai empat, kembangkan perut sehingga naik sekitar 2,5 cm. Pastikan dada dan pundak Anda tidak ikut bergerak. * Saat menarik napas, bayangkan udara hangat yang mengalir masuk ke dalam paru-paru, lalu mengalir ke seluruh tubuh. * Tahan napas sekitar satu detik, lalu perlahan-lahan embuskan napas sampai hitungan keempat, dengan perut bergerak ke dalam atau mengempis. * Saat membuang napas, bayangkan udara keluar bersama semua ketegangan dan stres yang Anda rasakan. * Ulangi proses di atas sampai Anda merasa santai atau rileks. Lakukan latihan pernapasan di atas sebanyak mungkin, terutama ketika stres tengah melanda. Pada dasarnya stres dewasa ini juga dapat diatasi dengan multivitamin dan mineral. Konsumsilah ekstra B-kompleks dan ginseng sebanyak 250 miligram, 2 3 kali sehari. Bagi pria, konsumsilah DHEA sebanyak 50 miligram, 1 2 kali sehari. Bagi wanita, konsumsilah hormon progesteron sebanyak 5 10 miligram, 1 2 kali sehari. Pilihan lain, konsumsilah fosfatidil serin, yaitu asam amino yang dapat menurunkan kadar kortisol pemicu stres, dengan dosis 100 miligram, 1 3 kali sehari. Tidak Merokok Merokok juga merupakan salah satu penyebab terjadinya hipertensi. Dalam rokok terkandung berbagai zat yang dapat merusak lapisan dinding arteri, yang pada akhirnya akan membentuk plak atau kerak di arteri. Kerak atau plak ini menyebabkan penyempitan lumen atau diameter arteri, sehingga diperlukan tekanan yang lebih besar untuk memompa darah hingga tiba di organ-organ yang membutuhkan. Hal inilah yang kemudian disebut sebagai hipertensi. Zat nikotin yang terdapat dalam rokok dapat meningkatkan pelepasan epinefrin, yang dapat mengakibatkan terjadinya penyempitan dinding arteri karena kontraksi yang kuat. Zat lain dalam rokok adalah karbonmonoksida (CO), yang menyebabkan berkurangnya kadar oksigen

dalam darah. Akibatnya, jantung akan bekerja lebih berat untuk memberikan cukup oksigen ke sel-sel tubuh. Seorang perokok sebenarnya membuka diri terhadap resiko penyakit jantung, stroke, kanker, serta penyakit lainnya. Dibutuhkan waktu yang lama, yaitu sekitar setahun setelah berhenti merokok, untuk mengurangi resiko secara optimal. Selain itu rokok berperan membentuk aterosklerosis dengan cara : * Meningkatkan kecenderungan penggumpalan sel-sel darah pada dinding arteri dan meningkatkan resiko pembentukan thrombus atau plak. * Merokok menurunkan jumlah kolesterol HDL serta menurunkan kemampuan HDL menyingkirkan kelebihan kolesterol LDL. * Merokok meningkatkan oksidasi lemak yang berperan membentuk aterosklerosis. Merokok mengurangi kemampuan seseorang dalam menanggulangi stres karena zat kimia dalam rokok, terutama karbonmonoksida, akan mengikat oksigen dalam darah sehingga kadar oksigen dalam darah berkurang. Akibatnya, metabolisme tidak berjalan dengan baik sehingga energi pun berkurang. Otak yang bekerja keras dalam menghadapi stres juga tidak dapat berfungsi dengan optimal karena akan mengalami kekurangan oksigen dan energi. Merokok juga memiliki berbagai efek buruk lainnya, seperti menyebabkan kanker, terutama kanker paru-paru, dan merupakan faktor utama penyebab resiko terkena penyakit jantung dan stroke. Membatasi Konsumsi Alkohol Mengonsumsi alkohol dalam jumlah besar dapat mengganggu dan merusak fungsi beberapa organ. Salah satu di antaranya adalah hati. Fungsi hati akan terganggu sehingga memengaruhi kinerja atau fungsi jantung. Gangguan fungsi jantung inilah yang pada akhirnya menyebabkan hipertensi. Alkohol atau etanol jika diminum dalam jumlah besar dapat meningkatkan tekanan darah. Hal itu dapat terjadi karena alkohol merangsang dilepaskannya epinefrin atau adrnalin, yang membuat arteri menciut dan menyebabkan penimbunan air dan natrium. Alkohol jika diminum dalam jumlah terbatas, yaitu antara 15 45 mililiter sehari justru dapat menurunkan kemungkinan terjadinya penggumpalan darah serta meningkatkan kadra kolesterol HDL dalam darah. Dalam tubuh, alkohol akan dipersepsi sebagai racun sehingga tubuh, dalam hal ini hati, akan memusatkan perhatiannya untuk menyingkirkan racun (alkohol) tersebut. Akibatnya, bahan lain yang masuk ke dalam tubuh seperti karbohidrat dan lemak yang bersirkulasi dalam darah harus menunggu giliran sampai proses pembuangan alkohol pada kadar yang normal selesai dilakukan. Selain itu, orang yang mengonsumsi alkohol secara berlebihan beresiko terkena penyakit kardioserebrovaskular seperti jantung dan stroke. Membatasi Konsumsi Kafein Kafein merupakan suatu zat yang dapat meningkatkan tekanan darah dan terdapat dalam kopi, teh, cokelat, dan soft drink. Efek kafein pada setiap individu tidak sama; kafein bisa meningkatkan tekanan darah pada sebagian orang, tetapi sebagian orang lainnya tidak memperlihatkan efek tersebut. Cara kafein meningkatkan tekanan darah adalah dengan memblok kerja hormon adenosin, atau merangsang kelenjar adrenal melepaskan lebih banyak

adrenalin dan kortisol, sehingga arteri berkontraksi. Untuk mengurangi efeknya, batasilah konsumsi kafein dengan hanya meminum dua cangkir kopi, atau tiga cangkir teh, atau dua kaleng soft drink sehari. Mengatasi Kegemukan Obesitas atau kegemukan adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Setiap orang memerlukan sejumlah lemak untuk menyimpan energi, sebagian lagi untuk menyekat panas, menyerap guncangan, dan untuk fungsi lainnya, tetapi harus dalam jumlah wajar dan tidak berlebihan. Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25% 30% pada wanita dan 18% 23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 35% dianggap mengalami obesitas. Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badan normal juga dianggap mengalami obesitas. Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok : * Obesitas ringan : kelebihan berat badan antara 20% 40% * Obesitas sedang : kelebihan berat badan antara 41% 100% * Obesitas berat : kelebihan berat badan sampai lebih dari 100% Perhatian tidak hanya ditujukan kepada jumlah lemak yang ditimbun, tetapi juga pada lokasi penimbunan lemak tubuh. Pola penyebaran lemak tubuh pada pria dan wanita cenderung berbeda. Wanita cenderung menimbun lemaknya di pinggul dan pantat, sehingga memberikan gambaran bak buah pir. Sedangkan pada pria biasanya lemak menimbun di sekitar perut, sehingga memberikan gambaran bak buah apel. Akan tetapi hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang mutlak; kadang beberapa pria tampak bagaikan buah pir dan beberapa wanita tampak seperti buah apel, terutama setelah masa menopause. Seseorang yang lemaknya banyak tertimbun di perut mungkin akan lebih mudah mengalami berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas. Untuk membedakan kedua gambaran tersebut, telah ditemukan suatu cara untuk menentukan apakah seseorang berbentuk bak buah apel atau bak buah pir, yaitu dengan menghitung rasio pinggang dengan pinggul. Pinggang diukur pada titik tersempit, sedangkan pinggul diukur pada titik terlebar; lalu ukuran pinggang dibagi dengan ukuran pinggul. Seorang wanita dengan ukuran pinggang 87,5 cm dan ukuran pinggul 115 cm, memiliki rasio pinggangpinggul 0,76. Wanita dengan rasio pinggang-pinggul lebih dari 0,8 atau pria dengan rasio pinggang-pinggul lebih dari 1, dikatakan berbentuk apel. Adapun penyebab obesitas secara ilmiah adalah akibat konsumsi kalori yang melebihi kebutuhan tubuh. Namun, penyebab terjadinya ketidakseimbangan antara asupan dan pembakaran kalori ini masih belum jelas. Efek samping kegemukan :

1. Gangguan pernapasan Penimbunan lemak yang berlebihan di bawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru, sehingga menimbulkan gangguan pernapasan dan sesak napas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas ringan. Gangguan pernapasan bisa terjadi ketika tidur dan menyebabkan terhentinya pernapasan selama beberapa waktu (apnea tidur). 2. Keluhan pada tulang Obesitas juga bisa menyebabkan berbagai masalah tulang (ortopedik), seperti nyeri punggung bawah dan memperparah osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut, dan pergelangan kaki). 3. Kelainan kulit Seseorang yang obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan keringat yang dikeluarkan lebih banyak. 4. Pembengkakan / edema Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki seseorang yang kegemukan. 5. Komplikasi Obesitas bukan hanya tidak enak dipandang mata, melainkan juga merupakan masalah kesehatan yang mengerikan. Obesitas membahayakan kesehatan penderitanya. Selain itu, obesitas meningkatkan resiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti diabetes tipe 2 (timbul ketika dewasa), tekanan darah tinggi (hipertensi), stroke, serangan jantung (infark miokardium), gagal jantung, kanker (kanker jenis tertentu seperti kanker prostat dan kanker usus besar), batu kandung empedu dan batu kandung kemih, gout dan artritis gout, osteoartritis, apnea tidur, serta sindroma Pickwickian (obesitas disertai wajah kemerahan, kekurangan udara, dan rasa kantuk yang terus menerus). Diagnosis 1. Mengukur lemak tubuh Tidak mudah untuk mengukur lemak tubuh seseorang. Cara-cara berikut memerlukan peralatan khusus dan dilakukan oleh tenaga terlatih. * Underwater weight, pengukuran berat badan yang dilakukan di dalam air dan kemudian lemak tubuh dihitung berdasarkan jumlah air yang tersisa. * BOD POD merupakan ruang berbentuk telur yang telah dikomputerisasi. Setelah seseorang memasuki BOD POD, jumlah udara yang tersisa digunakan untuk mengukur lemak tubuh. * DEXA (dual energy X-ray absorptiometry), menyerupai pindaian tulang. Sinar X digunakan untuk menentukan jumlah dan lokasi dari lemak tubuh. Namun ada dua cara lain yang lebih sederhana dan tidak rumit : * Jangka kulit, ketebalan lipatan kulit di beberapa bagian tubuh diukur dengan jangka (suatu alat terbuat dari logam yang menyerupai forseps). * Bioelectric impedance analysis (analisa tahanan biolelektrik), penderita berdiri di atas skala khusus dan sejumlah arus listrik yang tidak berbahaya dialirkan ke seluruh tubuh lalu dianalisis.

Pemeriksaan di atas bisa memberikan hasil yang tidka tepat jika tidak dilakukan oleh tenaga ahli. 2. Indeks Massa Tubuh atau Body Mass Index (BMI) BMI merupakan suatu pengukuran yang membandingkan berta badan dengan tinggi badan. BMI merupakan rumus matematika yang membagi berat badan (dalam kilogram) dengan tinggi badan (dalam meter) pangkat dua. Seseorang dikatakan mengalami obesitas jika memiliki nilai BMI 30 atau lebih. Pengobatan obesitas Pembatasan asupan kalori dan peningkatan aktivitas fisik merupakan komponen yang terpenting dalam pengaturan berat badan. Kedua komponen ini juga penting dalam mempertahankan berat badan setelah terjadi penurunan berat badan. Selain itu, perubahan pola aktivitas fisik dan pola makan yang sehat pun harus diterapkan. Langkah awal mengobati obesitas adalah dengan menghitung nilai BMI-nya sehingga lemak tubuh penderita serta resiko kesehatannya dapat diperkirakan. Resiko kesehatan yang berhubungan dengan obesitas akan meningkat seiring dengan peningkatan nilai BMI. Hal tersebut dapat digambarkan seperti berikut : * Resiko rendah : BMI < 27 * Resiko sedang : BMI 27 30 * Resiko tinggi : BMI 30 35 * Resiko sangat tinggi : BMI 35 40 * Resiko sangat sangat tinggi : BMI 40 atau lebih Kemudian yang perlu diperhatikan adalah menetapkan latihan fisik dan membatasi kalori pada penderita. Namun, jenis dan berat latihan, serta jumlah pembatasan kalori pada setiap penderita berbeda-beda. * Penderita dengan resiko kesehatan rendah sebaiknya menjalani diet sedang (1.200 1.500 kalori/hari untuk wanita dan 1.400 2.000 kalori/hari untuk pria) disertai dengan olahraga. * Penderita dengan resiko kesehatan menengah sebaiknya menjalani diet rendah kalori (800 1.200 kalori/hari untuk wanita dan 1.000 1.400 kalori/hari untuk pria) disertai dengan olahraga. * Penderita dengan resiko kesehatan tinggi atau sangat tinggi sebaiknya mengonsumsi tumbuhan herbal disertai diet rendah kalori dan olahraga.

Hipertensi pada Wanita Hamil


Posted on April 1, 2012 by admin

Hipertensi juga dapat menyerang wanita hamil. Hipertensi ini disebut hipertensi gravidarum. Hipertensi gravidarum umumnya terjadi setelah umur kehamilan mencapai 20 minggu, yang ditandai dengan tensi sistolik yang mencapai 140 mmHg, atau terjadi kenaikan sistolik sebesar 30 mmHg di atas tekanan biasa; sedangkan tekanan diastolik mencapai 90 mmHg, atau terjadi kenaikan sebesar 15 mmHg di atas tekanan biasa.

Hipertensi dalam kehamilan ada beberapa bentuk, jika hipertensi disertai kejang disebut eklampsi; sedangkan jika tidak disertai kejang disebut preeklampsi. Hipertensi kehamilan cukup berbahaya, karena dapat menimbulkan kematian baik bagi ibu maupun bayi yang masih dalam kandungan. Namun, perlu dicatat bahwa hipertensi dalam kehamilan harus dibedakan dengan hipertensi dengan kehamilan. Hipertensi dalam kehamilan adalah hipertensi yang terjadi saat kehamilan berlangsung dan biasanya pada bulan terakhir kehamilan; sedangkan hipertensi dengan kehamilan adalah wanita hamil yang menderita hipertensi. Sebagian besar kasus hipertensi dalam kehamilan dapat sembuh setelah persalinan, hanya sebagian kecil saja yang menetap. Hipertensi dengan Kehamilan Gejala hipertensi dengan kehamilan : * Tekanan sistolik di atas 200 mmHg * Terjadi pembesaran jantung * Bukan kehamilan pertama * Riwayat kehamilan yang sulit * Tidak ada proteinuri * Tidak terjadi pembengkakan * Terdapat perdarahan retina mata Hipertensi dalam Kehamilan American Committee and Maternal Welfare mengelompokkan hipertensi dalam kehamilan, sebagai berikut : * Hipertensi yang hanya terjadi dalam kehamilan, disebut pre-eklampsi dan eklampsi. Ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan terjadinya pembengkakan (oedem), proteinuri (terdapat protein dalam air seni) ketika kehamilan memasuki usia 20 minggu ke atas. * Hipertensi kronis, yaitu hipertensi yang sudah ada sebelum hamil, atau hipertensi pada kehamilan sebelum minggu ke 20 dan menetap setelah persalinan. * Hipertensi transient, yaitu hipertensi yang timbul saat hamil atau dalam 24 jam pertama sejak nifas dan terjadi pada wanita yang awalnya memiliki tekanan darah normal. Hipertensi jenis ini biasanya hilang setelah 10 hari melahirkan. Sebetulnya penyebab hipertensi dalam kehamilan belum dapat diketahui dengan pasti, tetapi ada beberapa hal yang dapat meningkatkan resiko terjadinya hipertensi jenis ini : * Sebelum kehamilan sudah ada hipertensi kronis * Merupakan kehamilan pertama * Adanya riwayat pre-eklampsi dalam keluarga * Kehamilan anak kembar * Terdapat riwayat penyakit diabetes * Terdapat kelainan ginjal sebelum kehamilan * Kehamilan dengan usia resiko tinggi, seperti pada remaja (usia sekitar 17 tahun), usia akhir 30 tahun sampai 40 tahun. Wanita yang menderita hipertensi dalam kehamilan tingkat awal biasanya tidak menunjukkan gejala apa pun. Namun, pada tahap lanjut akan timbul gejala-gejala sebagai berikut : * Sakit kepala hebat

* Nyeri di ulu hati * Gangguan penglihatan, dari kabur sampai buta * Kejang-kejang * Kehilangan kesadaran * Pada pemeriksaan, didapati terjadinya peningkatan tekanan darah, pembengkakan (oedem) pada mata dan jari tangan yang menetap, penambahan berat badan yang berlebihan (misalnya 1 kilogram dalam satu minggu) di luar kehamilan normal, dan proteinuri selama 2 hari berturut-turut atau lebih (kadar protein dalam urine mencapai 0,3 gram/liter selama 24 jam, atau lebih dari 1 gram/liter urin). Hipertensi dalam kehamilan yang tidak disertai dengan kejang atau pre-eklampsi ada yang ringan dan ada yang berat. Pre-eklampsi dikatakan berat jika terjadi hal-hal berikut : * Tekanan sistolik mencapai 160 mmHg atau lebih dan diastolik 110 mmHg atau lebih yang diukur dua kali dengan jarak pengukuran sekurangnya 6 jam, dalam keadaan berbaring. * Kandungan protein dalam urin (proteinuri) mencapai 5 gram atau lebih * Air seni berkurang, yaitu hanya 400 ml atau kurang dalam sehari * Penderita mengalami gangguan otak * Penderita mengalami gangguan penglihatan * Paru-pau bengkak * Muka pucat kebiru-biruan Adapun akibat dari hipertensi dalam kehamilan adalah sebagai berikut : * Dapat menyebabkan kematian ibu maupun bayi * Bayi lahir sebelum waktunya (prematur) * Dapat terjadi gagal jantung, kejang, penurunan fungsi ginjal, gangguan penglihatan, dan perdarahan * Bayi dapat mengalami gangguan pertumbuhan, plasenta lepas sebelum waktunya, dan mengalami kekurangan oksigen selama persalinan

Hipertensi pada Orang Tua (Lansia)


Posted on April 2, 2012 by admin

Seiring pertambahan usia, tekanan darah sistolik biasanya menurun, tetapi tekanan darah diastolik umumnya meningkat. Jika tekanan sistolik pada orang tua mencapai lebih dari 140 mmHg dan diastolik 90 mmHg, maka diperlukan perhatian serius untuk menanganinya karena kondisi ini dapat meningkatkan resiko terserang penyakit kardiovaskuler di masa mendatang. Dalam beberapa kasus, tekanan sistolik dapat meningkat, tetapi diastoliknya tidak. Kondisi ini disebut hipertensi sistolik terisolasi (Isolated Systolic Hypertension). Pemantauan tekanan darah pada orang tua (yang berusia di atas 65 tahun) sebaiknya dilakukan setahun sekali. Untuk mencegah hipertensi, sebaiknya berat badan dijaga agar tidak terlalu gemuk dan tetap aktif melakukan latihan fisik seperti berjalan kaki. Selain itu, asupan sodium sebaiknya dibatasi kurang dari 2,4 gram.

Hipertensi dan Stres


Posted on April 3, 2012 by admin

Stres atau gaya hidup yang tegang cenderung mengakibatkan timbulnya penyakit hipertensi. Stres mudah terjadi pada mereka yang memiliki sifat suka berkompetisi, terlalu bersemangat, tidak sabaran, terburu-buru, serta sering gusar dan gelisah. Stres dapat meningkatkan tekanan darah sesaat ketika timbul rasa takut, gugup, atau sedang berada dalam tekanan tertentu. Dan ketika ancaman atau tekanan pergi, biasanya kita mulai rileks dan tekanan darah pun turun. Mungkin efek penurunan stres tidak serta merta dapat menurunkan tekanan darah, tetapi stres perlu dikelola karena dampak jangka panjangnya dapat merusak tubuh. Kita perlu melakukan berbagai tindakan yang efektif untuk meredakan stres. Berikut adalah beberapa tindakan praktis untuk meredakan stres : 1. Menerima keadaan. Pasien harus dapat menguasai diri dan menerima dengan lapang dada hipertensi yang dialaminya. Harus tetap hidup dengan santai dan tidak terus menerus merasa khawatir dan takut. Jalani hidup sebagaimana layaknya. 2. Tetapkan nilai dan tujuan hidup. Periksa kembali tujuan dan nilai-nilai hidup Anda; apakah ada yang perlu dikoreksi dan jika ya, tetapkan prioritas yang baru. Saatnya bagi Anda untuk menemukan jati diri yang sesungguhnya, bukan hanya sibuk mencari uang saja sampai merasa tegang dan menjalani pola kehidupan yang tidak menentu. Ubahlah gaya hidup menjadi lebih santai agar dapat menghindari stres serta jadwal-jadwal yang padat. Menetapkan kembali tujuan hidup dapat memberikan perspektif baru tentang arti hidup sehingga dapat menurunkan tekanan darah tinggi. 3. Melakukan aktivitas yang baik untuk kesehatan. Aktivitas di luar rumah yang baik untuk dilakukan adalah berjalan kaki, bersepeda, bermainmain, memancing, berkebun, membersihkan rumah atau taman, berenang, serta berolahraga aerobik. Sedangkan aktivitas dalam rumah yang baik adalah melakukan kegiatan yang menjadi hobi Anda, seperti memotret, melukis, melakukan kerajinan tangan, menulis, membaca, menonton, atau sekedar duduk saja. 4. Meluangkan waktu untuk liburan. Merencanakan liburan untuk melepaskan ketegangan merupakan hal yang baik bagi penderita hipertensi, dan sebaiknya dilakukan secara rutin agar mereka dapat melepaskan diri dari ketegangan dan rutinitas pekerjaan yang mencemaskan. 5. Pastikan Anda cukup tidur. Kurang tidur sudah tentu membuat kita cenderung stres, sementara stres membuat kita tidak dapat tidur dengan baik dan nyenyak. Oleh karena itu, pastikan Anda cukup tidur setiap harinya. 6. Pastikan iman Anda tetap teguh. Salah satu pencetus stres adalah karena orang yang merasa ditinggalkan Tuhan dan atau karena mereka meragukan kemampuan Tuhan untuk melindungi dan memelihara hidup mereka. Namun, sebenarnya Tuhan tidak seperti itu, Dia peduli setipa detail dan segi kehidupan kita, Jadi percayakan hidup Anda ke dalam tanganNya. Umumnya jika seseorang memiliki iman yang teguh, ia akan dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang, dan menghindari stres yang berlebihan. Yakin dan percayalah pada

pemeliharaan, kasih, dan kuasaNya, maka stres yang merusak kehidupan dan kesehatan akan menjauh dari kehidupan kita. Semua hal-hal di atas, ada satu hal yang perlu Anda perhatikan, yaitu berkaitan dengan pekerjaan. Pekerjaan merupakan salah satu sumber utama terjadinya stres. Oleh karena itu, lakukan hal-hal berikut ini : * Hindari tekanan yang terlalu kuat atau pengerahan energi secara berlebihan. * Bekerjalah sesuai batas waktu jam kerja. Bila ada lembur atau jam kerja yang panjang, harap dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum dilakukan. * Berusaha menyelesaikan tugas lebih awal dari tenggat waktu yang telah ditetapkan. * Pergunakan waktu istirahat untuk makan siang dan sisihkan sedikit waktu untuk beristirahat atau bersantai sejenak. * Jika sebagian besar pekerjaan dilakukan sambil duduk di belakang meja, maka luangkan sedikit waktu untuk beraktivitas fisik atau bergerak; dan berlaku pula sebaliknya. * Pastikan Anda memiliki waktu luang untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kesehatan.
Hipertensi dan Stres Definisi Kanker

Pertanyaan Seputar Hipertensi


Posted on April 24, 2012 by admin

Syarat pengukuran tekanan darah yang baik: * Tidak dilakukan pada pagi hari, karena hasilnya akan lebih tinggi * Lakukan pengukuran sebelum makan atau 30 menit setelah makan, merokok, mengkonsumsi alkohol atau kafein * Jika sedang berolahraga, lakukan pengukuran setelah 30 menit * Sebelum melakukan pengukuran, beristirahatlah sejenak (sekitar 5 menit) untuk menenangkan diri. Tekanan mana yang lebih berbahaya; sistolik atau diastolik? Seperti telah dijelaskan sebelumnya, tekanan sistolik adalah tekanan dalam arteri yang terjadi saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh, sedangkan diastolik adalah sisa tekanan ketika jantung beristirahat. Sistolik yang tinggi akan memengaruhi organ-organ lain yang menerima darah dan hal ini dapat mengganggu fungsi organ vital tersebut. Jadi, dalam hal ini tekanan sistolik yang tinggi lebih berbahaya dibandingkan dengan diastolik. Mengapa hipertensi dapat terjadi? Mekanisme terjadinya hipertensi diakibatkan oleh banyak faktor, seperti: kerja otot jantung, keadaan arteri, fungsi ginjal, sistem saraf, hormonal, enzim, serta gaya hidup dan pola makan. Semua itu dapat saling memengaruhi sehingga akhirnya menimbulkan hipertensi. Apakah hipertensi bisa menular? Hipertensi bukan penyakit menular. Kalau dalam satu rumah ada beberapa orang yang terserang hipertensi, itu bukan karena menular tetapi karena faktor keturunan.

Apakah hipertensi dapat diketahui secara dini? Upaya mengetahui hipertensi secara dini dapat dilakukan melalui pengamatan terhadap keluarga (apakah ada yang mengidap hipertensi), lingkungan dan gaya hidup yang terburuburu, serta senang mengkonsumsi makanan asin dan berlemak. Jika ada, sebaiknya Anda mengenali gejala hipertensi atau rajin memeriksa tekanan darah minimal dua kali setahun. Keadaan awal hipertensi yang perlu diwaspadai adalah sakit kepala yang menyerang bagian belakang kepala, timbul kekakuan atau rasa berat di tengkuk pada pagi hari, mimisan, pusing, jantung berdebar, sering buang air kecil malam hari, dan telinga berdengung. Tanda dan gejala lain hipertensi (primer) adalah sulit tidur (insomnia), mata berkunang-kunang, mudah lelah, mudah marah, dan sesak napas. Apakah garam dapat menyebabkan hipertensi? Garam mengandung natrium yang berfungsi menahan atau mengikat air. Jika jumlah air dalam tubuh banyak, maka air yang ditahan pun banyak. Air yang banyak tersebut dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah. Secara umum kebutuhan garam atau asupan garam sehari tidak lebih dari 3 gram. Jika konsumsi garam dalam sehari melebihi 3 gram, tubuh akan membuang kelebihan tersebut. Namun jika tubuh gagal melakukannya, kemungkinan besar akan terjadi hipertensi. Bagaimana cara mengurangi asupan garam? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi asupan garam, di antaranya : * Ketika memasak, jangan gunakan terlalu banyak garam. JUmlah garam yang dianjurkan sehari adalah sekitar 500 mg atau 1/4 sendok teh saja. Jangan biasakan menambahkan garam sebagai penyedap makanan. * Carilah penyedap masakan tanpa garam, seperti rempah-rempah atau daun-daunan yang banyak tersedia di toko swalayan. Kumpulkan dan gunakan resep-resep masakan lezat yang kandungan garamnya sedikit. * Waspadai makanan siap saji (fast food) karena biasanya kandungan garamnya tinggi. Contohnya antara lain adalah makanan kaleng, sosis, makanan beku, dan sebagainya. * Biasakan membaca label kandungan produk setiap membeli makanan kemasan. * Hindari konsumsi makanan ringan, karena biasanya kaya garam atau natrium. Apakah makanan dapat menyebabkan hipertensi? Banyak orang mengira makanan dapat menyebabkan hipertensi. Pada umumnya makanan yang dikonsumsi dalam jumlah wajar dan tidak terlalu asin, tidak menyebabkan hipertensi. Jadi jangan menghentikan asupan makanan Anda, karena hal tersebut justru dapat menyebabkan timbulnya sakit maag atau kurang gizi. Makanan dan minuman seperti apa yang baik bagi penderita hipertensi? Pada dasarnya tidak ada makanan atau minuman yang dilarang bagi penderita hipertensi, asalkan dikonsumsi dengan wajar, yaitu dalam ukuran kecil sampai sedang. Kopi, teh, serta minuman dan makanan lain yang meningkatkan semangat ini dapat dikonsumsi dalam jumlah sedikit, karena khasiat stimulannya bisa menghilangkan rasa letih. Pastikan Anda merasa nyaman dengan jumlah makanan atau minuman yang berefek meningkatkan semangat ini, dan jangan dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. Jika jantung Anda berdebar-debar dan tekanan darah meningkat, hal tersebut dapat menjadi pertanda bahwa Anda telah mengkonsumsi makanan/minuman penambah semangat dalam jumlah berlebihan.

Apakah faktor umur menentukan hipertensi? Sebenarnya hipertensi dapat menyerang siapa saja dengan umur berapa pun. Namun memang pada umumnya hipertenis menyerang mereka yang berusia dewasa ke atas, faktor-faktor resiko mulai bermunculan, seperti kegemukan, hiperkolesterol tinggi, kencing manis, stres, dan sebagainya. Hipertensi merupakan penyakit yang berkembang secara perlahan-lahan dalam waktu yang lama, sehingga terkesan hanya menyerang mereka yang lanjut usia. Apakah hipertensi juga menyerang orang muda? Hipertensi memang banyak menyerang mereka yang berusia di atas 50 tahun, tetapi akhirakhir ini orang muda pun banyak yang terserang. Kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat. Apakah orang gemuk lebih rentan mengidap hipertensi? Hipertensi dapat menyerang mereka yang memiliki berat badan normal, kurus, atau gemuk. Tetapi hipertensi umumnya dialami oleh orang gemuk. Hal ini disebabkan karena pasokan oksigen serta jumlah zat makan yang diangkut darah lebih banyak pada orang gemuk dibandingkan mereka yang bertubuh kurus atau normal. Suplai darah yang besar pada orang gemuk ini otomatis membuat jantung bekerja lebih berat, dan dibutuhkan tekanan yang lebih besar. Kebutuhan darah dalam jumlah besar direspons jantung dengan tekanan yang tinggi, sehingga mengakibatkan terjadinya hipertensi. Apakah sakit kepala menandakan serangan hipertensi? Sakit kepala merupakan akibat dari banyak hal. Berbagai kelainan yang dapat menyebabkan sakit kepala antara lain adalah kelainan pembuluh darah, saraf, gigi, mata, hidung, telinga, otak dan jaringan kepala. Peningkatan tekanan darah memang sering menimbulkan sakit kepala, tetapi tidak semua sakit kepala merupakan pertanda seseorang menderita hipertensi. Gejala sekitar kepala pada hipertensi biasanya menyerang bagian belakang kepala disertai rasa kaku atau berat pada tengkuk. Sakit ini umumnya muncul pada pagi hari setelah bangun tidur dan timbul kembali secara spontan beberapa jam kemudian. Sakit kepala jenis ini biasanya terjadi pada hipertensi stadium lanjut. Jadi kesimpulannya adalah sakit kepala tidak selalu menandakan serangan hipertensi. Seseorang dinyatakan menderita hipertensi jika ketika dilakukan pengukuran tekanan darah, tensinya memang tinggi; bukan hanya karena timbulnya gejala sakit kepala. Apakah lekas marah menandakan hipertensi? Sejauh ini tidak ada informasi ilmiah mengenai kaitan pemarah dan hipertensi. Sebetulnya ini hanyalah mitos, belum terbukti kebenarannya. Memang lekas marah merupakan salah satu gejala hipertensi, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh stres, sedangkan hipertensi karena hal lainnya tidak menimbulkan atau memperlihatkan gejala marah. Penderita hipertensi seperti apa yang perlu dirawat di rumah sakit? Seseorang yang menderita hipertensi dan tensi sistoliknya sudah mencapai angka 160 mmHg atau lebih sementara tekanan diastoliknya 100 mmHg harus mendapatkan perawatan serius di rumah sakit. Penderita akan memperlihatkan gejala-gejala berikut ini: * Sakit kepala berat * Muntah terus menerus * Gangguan penglihatan

* Kejang-kejang * Gangguan kesadaran sampai koma * Sesak napas * Sakit dada * Sakit perut berkepanjangan * Bunyi atau denyut jantung tidak teratur * Kaki bengkak * Air seni berkurang atau tidak ada sama sekali * Sakit pinggang akut Bagaimana dengan aktivitas seks bagi penderita hipertensi? Sebagian besar penderita hipertensi, baik pria maupun wanita, bisa melakukan aktivitas seks seperti layaknya orang normal. Namun, obat antihipertensi yang dapat menurunkan tekanan darah bisa mengakibatkan gangguan ereksi (impotensi), ejakulasi dini, dan kegagalan orgasme. Apakah penderita hipertensi boleh menggunakan kontrasepsi? Pasien hipertensi disarankan untuk menghindari penggunaan kontrasepsi oral karena dapat meningkatkan tekanan darah. Jika memungkinkan lakukan sterilisasi yang tentunya baik dan tidak memengaruhi produksi hormon atau kehidupan seks penderita. Apakah pasien hipertensi boleh mengemudi? Pada dasarnya tidak ada larangan untuk mengemudikan kendaraan, hanya perlu waspada karena beberapa obat hipertensi seperti reserpin dan clonidin dalam dosis tinggi dapat menurunkan tekanan darah dengan cepat dan drastis. Hal ini tentu agak berbahaya karena menurunkan refleks tubuh dan meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan. Kapan pengobatan hipertensi dapat dihentikan? Pada banyak kasus, hipertensi tidak bisa sembuh, sehingga penderita harus mengkonsumsi obat-obatan seumur hidupnya; hanya beberapa orang saja yang berhasil sembuh. Pengobatan hipertensi dapat dihentikan apabila tekanan darah sudah normal. Konsumsi obat dapat dihentikan selama setahun, tetapi pola hidup sehat harus tetap dijalankan. Tekanan darah sebaiknya dikontrol dengan teratur. Bagi penderita hipertensi derajat 3 atau 4, sebaiknya pengontrolan dilakukan selama sampai 4 minggu sekali, dan 1 2 bulan sekali pada penderita hipertensi derajat 1 atau 2. Apabila tekanan darah sudah normal, lakukan pengontrolan setiap 6 bulan sekali. Bagaimana hubungan hipertensi dengan penyakit jantung dan peredaran darah? Kedua hal tersebut sebenarnya saling terkait. Banyak penderita hipertensi yang mengalami penyakit jantung angina (nyeri bagian depan dada kiri), dan sebaliknya, banyak penderita angina mengalami hipertensi. Oleh karena itu, menurunkan tekanan darah akan mengurangi frekuensi serangan angina. Obat anti-hipertensi beta-blocker dan antagonis kalsium biasanya sangat efektif menurunkan tekanan darah dan mengatasi angina. Namun, efek sampingnya harus Anda perhatikan. Beta-blocker yang dapat menurunkan sirkulasi di perifer (tangan dan kaki) bisa mengakibatkan rasa dingin pada daerah tersebut. Bagi mereka yang telah mengalami serangan jantung, maka otot metoprolol, propanolol, dan timolol dapat diberikan untuk mengurangi gangguan ritme jantung selama dua sampai tiga tahun. Bagaimana hipertensi dapat menyebabkan kerusakan organ? Jika tekanan darah ketika mengalirkan darah ke seluruh organ tubuh menjadi semakin tinggi,

maka dapat menyebabkan kerusakan atau pecahnya arteri atau terjadinya sumbatan pada arteri. Pecahnya arteri atau sumbatan dapat mengganggu suplai darah ke organ yang dilaluinya, sehingga akhirnya merusak organ yang disuplainya. Apakah komplikasi hipertensi dapat disembuhkan? Sekalipun tekanan darah dapat dikendalikan atau diturunkan, kerusakan organ yang terjadi biasanya sudah menetap atau meninggalkan luka permanen. Ini tentu saja dapat menurunkan kualitas hidup karena fungsi organ tidak maksimal lagi. Bagaimana cara menghindari komplikasi akibat hipertensi? Untuk menghindari terjadinya komplikasi, maka hal-hal berikut perlu diperhatikan: * Mengenali gejala dan tanda hipertensi sejak dini, dan segera periksakan diri untuk memastikan kejadian hipertensi. * Saat hipertensi telah diketahui serta telah mendapatkan pengobatan, maka langkah selanjutnya adalah tetap menjalani gaya hidup sehat, yaitu banyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan, tidak merokok, membatasi konsumsi kopi dan alkohol, mengurangi konsumsi makanan asin dan berlemak, giat berolahraga, cukup tidur, dan mengelola stres dengan baik. * Minumlah obat dengan baik dan benar sesuai anjuran dokter. Apakah hipertensi dapat menyebabkan kematian? Jawabannya adalah bisa. Hipertensi jika tidak diobati dan dikontrol dapat mengakibatkan kematian, karena gangguan yang ditimbulkannya terhadap organ lain, seperti: penyakit jantung, gagal ginjal, stroke, retinopati pada mata, atau komplikasi lainnya. Oleh karena itu, sebaiknya segera deteksi diri Anda agar pengobatan dan pengontrolan dapat segera dilakukan untuk mencegah hipertensi dan agar komplikasi yang diakibatkannya bertambah parah. http://www.purtierplacenta.com/pertanyaan-seputar-hipertensi/ http://www.purtierplacenta.com/hipertensi-dan-stres/ http://www.purtierplacenta.com/hipertensi-pada-orang-tua-lansia/ http://www.purtierplacenta.com/tindakan-praktis-untuk-mencegah-hipertensi-bagian-3/]
http://www.purtierplacenta.com/penyebab-hipertensi/ http://www.purtierplacenta.com/faktor-resiko-hipertensi/ http://www.purtierplacenta.com/gejala-hipertensi/ http://www.purtierplacenta.com/diagnosis-hipertensi/ http://www.purtierplacenta.com/penanganan-hipertensi/ http://www.purtierplacenta.com/tindakan-praktis-untuk-mencegah-hipertensi-bagian-1/ http://www.purtierplacenta.com/tindakan-praktis-untuk-mencegah-hipertensi-bagian-2/

Hipertensi: Faktor risiko dan

Penatalaksanaannya Written by Irfan Arief Thursday, 24 January 2008 Dr. Adnil Basha, SpJP. Penyakit darah tinggi yang lebih dikenal sebagai hipertensi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan stroke sehingga memerlukan penanganan yang cepat dan tepat. Dari berbagai penelitian epidemiologis yang dilakukan di Indonesia menunjukkan 1,8 28,6% penduduk yang berusia di atas 20 tahun adalah penderita hipertensi. Definisi Hipertensi Suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas). Penulisan tekanan darah (contoh : 130/85 mmHg) didasarkan pada dua fase dalam setiap denyut jantung. 1. Sistolik (nilai yang lebih tinggi: 130) menunjukkan fase darah yang sedang dipompa oleh jantung. 2. Diastolik (nilai yang lebih rendah: 85) menunjukkan fase darah yang kembali ke jantung. Menurut WHO batas tekanan darah yang masih dianggap normal adalah kurang dari 130/85 mmHg. Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibedakan menjadi dua bagian: 1. Hipertensi essensial/primer. Jenis hipertensi yang penyebabnya masih belum dapat diketahui. Sekitar 90% penderita hipertensi menderita jenis hipertensi ini.Oleh karena itu, penelitian dan pengobatan lebih banyak ditujukan bagi penderita hipertensi essensial ini. 2. Hipertensi sekunder. Jenis hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui, antara lain kelainan pada pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid, atau penyakit kelenjar adrenal.

Faktor Risiko dan Gejala Klinis Hipertensi Faktor risiko terjadinya hipertensi, adalah antara lain: 1. Obesitas (kegemukan). Merupakan ciri khas penderita hipertensi. Walaupun belum diketahui secara pasti hubungan antara hipertensi dan obesitas, namun terbukti bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi daripada penderita hipertensi dengan berat badan normal. 2. Stress. Diduga melalui aktivasi saraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita beraktifitas). Peningkatan aktivitas saraf simpatis mengakibatkan meningkatnya tekanan darah secara intermitten (tidak menentu). 3. Faktor keturunan (genetik). Apabila riwayat hipertensi didapati pada kedua orang tua, maka dugaan hipertensi essensial akan sangat besar. Demikian pula dengan

kembar monozigot (satu sel telur) apabila salah satunya adalah penderita hipertensi. 4. Jenis Kelamin (gender). Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi daripada wanita. Hipertensi berdasarkan gender ini dapat pula dipngaruhi oleh faktor psikologis. Pada wanita seringkali dipicu oleh perilaku tidak sehat (merokok, kelebihan berat badan), depresi, dan rendahnya status pekerjaan. Sedangkan pada pria lebih berhubungan dengan pekerjaan, seperti perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan dan pengangguran. 5. Usia. Dengan semakin bertambahnya usia, kemungkinan seseorang menderita hipertensi juga semakin besar 6. Asupan garam. Melalui peningkatan volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan darah yang akan diikuti oleh peningkatan ekskresi kelebihan garam sehingga kembali pada keadaan hemodinamik (sistem perdarahan) yang normal. Pada hipertensi essensial mekanisme inilah yang terganggu. 7. Gaya hidup yang kurang sehat. Walaupun tidak terlalu jelas hubungannya dengan hipertensi namun kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol dan kurang olah raga dapat pula mempengaruhi peningkatan tekanan darah. Adapun gejala klinis yang dialami oleh para penderita hipertensi biasanya berupa:

Pusing Mudah marah Telinga berdengung Sukar tidur Sesak nafas Rasa berat di tengkuk Mudah lelah Mata berkunang-kunang Mimisan (jarang dilaporkan)

Penatalaksanaan Faktor Risiko Penanganan/Pengobatan Hipertensi

Pengobatan Non-farmakologis. Terkadang dapat mengontrol tekanan darah sehingga pengobatan farmakologis tidak diperlukan, atau minimal ditunda. Pengobatan Farmakologis. Pengobatan dengan menggunakan obat-obatan kimiawi.

Penatalaksanaan faktor risiko dilakukan dengan cara pengobatan secara non-farmakologis, antara lain: 1. Mengatasi Obesitas. Dengan melakukan diet rendah kolesterol, namun kaya dengan serat dan protein. Dianjurkan pula minum suplemen potassium dan kalsium. Minyak ikan yang kaya dengan asam lemak omega-3 juga dianjurkan. Diskusikan dengan dokter ahli/ahli gizi sebelum melakukan diet. 2. Mengurangi Asupan garam ke dalam tubuh. Harus memperhatikan kebiasaan

makan penderita hipertensi. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan, jadi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan tidak dipakai sebagai pengobatan tunggal. 3. Menghindari stress. Ciptakan suasana yang menenangkan bagi pasien penderita hipertensi. Perkenalkan berbagai metode relaksasi seperti yoga atau meditasi, yang dapat mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah. 4. Memperbaiki gaya hidup yang kurang sehat. Anjurkan kepada pasien penderita Hipertensi untuk melakukan olah raga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali seminggu. Selain itu menghentikan kebiasaan merokok dan mengurangi minum minuman beralkohol sebaiknya juga dilakukan.
http://www.pjnhk.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=788&Itemid=31 http://www.scribd.com/doc/46147651/7/Patofisiologi-Hipertensi

Komplikasi hipertensi bukanlah pembahasan yang singkat. Sebelum berbicara tentang komplikasi hipertensi, perlu diketahui bahwa tekanan yang berlebihan pada dinding pembuluh darah Anda yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah, serta organ dalam tubuh Anda. Semakin tinggi tekanan darah Anda dan semakin lama waktu berjalan tidak terkendali, semakin besar kerusakan yang ditimbulkan. Akibat komplikasi darah tinggi yang berkelanjutan sangatlah fatal karena ini akan berhubungan dengan kematian.

Komplikasi hipertensi karena tekanan darah tidak terkontrol


Komplikasi hipertensi sangat erat kaitannya dengan riwayat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan: 1. Serangan jantung atau stroke. Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan pengerasan dan penebalan arteri (aterosklerosis), yang dapat menyebabkan serangan jantung (penyakit jantung), stroke atau komplikasi lain. Serangan jantung dan stroke merupakan komplikasi hipertensi yang sangat umum ditemukan. 2. Aneurisma atau Aneurysm. Peningkatan tekanan darah dapat menyebabkan pembuluh darah melemah, membentuk suatu aneurisma. Jika aneurisma pecah, dapat mengancam jiwa. Komplikasi darah tinggi/hipertensi akibat aneurisma memerlukan perhatian gawat darurat yang khusus. 3. Gagal jantung. Untuk memompa darah terhadap tekanan tinggi dalam pembuluh, otot jantung perlu berkontraksi lebih sehingga otot akan menjadi kental. Otot kental memiliki kesulitan memompa darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh, hal ini dapat menyebabkan komplikasi hipertensi yang berupa gagal jantung. 4. lemah dan menyempitnya pembuluh darah pada ginjal. Hal ini dapat mencegah dari organorgan lain berfungsi normal. Untuk menentukan komplikasi hipertensi menyempitnya pembuluh darah memerlukan beberapa pemeriksaan penunjang yang dilakukan oleh dokter yang ahli dalam bidang Cardiovascular.

5. sindrom metabolik. Sindrom ini adalah sekelompok gangguan metabolisme tubuh termasuk lingkar pinggang meningkat, trigliserida tinggi, rendah high density lipoprotein (HDL), tekanan darah tinggi, dan tingkat insulin yang tinggi. Jika Anda memiliki tekanan darah tinggi, Anda lebih mungkin memiliki komponen lain dari sindrom metabolik. Komponen-komponen yang Anda miliki, semakin memperbesar risiko diabetes, penyakit jantung atau stroke. 6. Masalah dengan memori atau pemahaman. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol juga dapat mempengaruhi kemampuan Anda untuk berpikir, mengingat dan belajar. Masalah dengan konsep memori atau pemahaman yang lebih umum pada orang yang memiliki tekanan darah tinggi/hipertensi. 7. Angina. Ini dikenal sebagai jenis khusus dari nyeri dada. Bila Anda memiliki angina, Anda akan merasa nyeri di dada, lengan, bahu, atau punggung. Anda mungkin merasa sakit lebih saat jantung Anda bekerja lebih cepat, seperti ketika Anda berolahraga tetapi rasa sakit mungkin hilang waktu kita istirahat.
http://www.kesehatan123.com/1208/komplikasi-hipertensi/

Penyebab hipertensi mempunyai fakta unik, yaitu 90% nya merupakan kategori hipertensi primer atau hipertensi essensial yang sangat sulit di deteksi (fakta unik lainnya, di Amerika hanya 5% orang yang ditemukan menderita hipertensi primer itupun karena melakukan check-up untuk melamar pekerjaan). Hipertensi primer merupakan penyebab tekanan darah tinggi yang belum diketahui. Terdapat berbagai faktor risiko yang dapat berkontribusi penyebab darah tinggi. Faktor-faktor penyebab hipertensi ada yang tidak dapat diubah, namun adapula penyebab hipertensi yang dapat diubah.

Penyebab hipertensi yang tidak dapat diubah


Penyebab hipertensi yang tidak dapat diubah : Usia: Semakin tua seseorang, semakin besar kemungkinan ia akan mengalami tekanan darah tinggi, terutama meningkatkan pembacaan sistolik. Hal ini terutama disebabkan oleh arteriosklerosis, atau "pengerasan pembuluh darah." Ras: Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Amerika Afrika mengalami penyebab tekanan darah tinggi lebih tinggi daripada Kaukasia. Status sosial ekonomi: tekanan darah tinggi ditemukan lebih umum di antara kelompok sosial ekonomi yang kurang berpendidikan dan lebih rendah. Riwayat keluarga (keturunan): Kecenderungan untuk memiliki tekanan darah tinggi muncul untuk berjalan dalam keluarga yang pernah menderita. Gender: Umumnya pria memiliki kemungkinan lebih besar meningkatnya tekanan darah tinggi daripada wanita. kemungkinan ini bervariasi menurut umur dan di antara berbagai kelompok etnis.

Faktor-faktor penyebab hipertensi yang dapat diubah


Obesitas: Seiring dengan peningkatan berat badan, tekanan darah meningkat. Obesitas didefinisikan sebagai memiliki indeks massa tubuh (BMI) lebih besar dari 30 kg/m. Orang yang obesitas dua sampai enam kali lebih mungkin untuk mengalami tekanan darah tinggi daripada orang-orang yang berat badannya dalam kisaran yang sehat. Sensitivitas garam: Beberapa orang memiliki sensitivitas tinggi terhadap natrium (garam), dan meningkatkan tekanan darah mereka jika mereka menggunakan garam. Mengurangi asupan natrium cenderung penyebab darah tinggi/ hipertensi. Alkohol: Minum lebih dari 1-2 minuman alkohol per hari cenderung meningkatkan tekanan darah pada mereka yang sensitif terhadap alkohol. Pil KB (penggunaan kontrasepsi oral): Beberapa wanita yang minum pil KB mengalami tekanan darah tinggi. Kurangnya latihan (aktivitas fisik): gaya hidup memberikan kontribusi terhadap perkembangan obesitas dan tekanan darah tinggi. Obat-obatan: Obat-obatan tertentu, seperti amfetamin (stimulan), pil diet/obat pelangsing, dan beberapa obat yang digunakan untuk gejala flu dan alergi seperti pseudoefedrin, cenderung menaikkan tekanan darah sehingga dikatakan sebagai faktor penyebab hipertensi.
http://www.kesehatan123.com/1203/penyebab-hipertensi/

Gejala Hipertensi Yang Tidak Menimbulkan Gejala Klinis


by yusri on May 26, 2011 Gejala hipertensi pada umumnya tidak menunjukkan gejala klinis,sudah tahukan Anda? Ya, tekanan darah tinggi biasanya tidak menyebabkan gejala . Orang yang memiliki tekanan darah tinggi/hipertensi biasanya tidak mengetahuinya sampai tekanan darah mereka diukur karena mereka hampir tidak menunjukkan gejala tekanan darah tinggi. Kadang-kadang orang dengan tekanan darah tinggi secara nyata akan mengalami suatu kondisi ketika gejala darah tinggi akan menimbulkan sakit kepala, pusing, penglihatan kabur, mual, muntah, sakit dada dan sesak napas. Gejala hipertensi ini akan dirasakan oleh mereka yang berada dalam kategori hipertensi sekunder.

Gejala hipertensi kronis/ gejala darah tinggi kronis


Orang sering tidak mencari perawatan medis sampai mereka mendapatkan gejala hipertensi yang timbul dari kerusakan organ yang disebabkan sebagai gejala tekanan darah tinggi kronis (berlangsung dalam jangka waktu panjang). Berikut jenis kerusakan organ yang sering terlihat pada tekanan darah tinggi kronis :

Serangan jantung Gagal jantung Stroke atau serangan iskemik transient (TIA) Kegagalan ginjal/ gagal ginjal Kehilangan penglihatan yang progresif Peripheral penyakit arteri menyebabkan rasa sakit kaki ketika berjalan (klaudikasio) Aneurisma

Diakui bahwa gejala hipertensi akan semakin berkembang selama bertahun-tahun, pada awalnya tidak menyebabkan gejala hingga timbul gejala darah tinggi yang berakibat fatal berujung kerusakan progresif ke jantung, ginjal, organ lain, dan pembuluh darah.

Pemeriksaan gejala hipertensi


Ketika membahas masalah tekanan darah, praktisi kesehatan dapat mengajukan pertanyaan tentang sejarah medis masa lalu, sejarah keluarga, dan penggunaan obat. Menggali riwayat kehidupan akan sangat membantu menegakkan diagnosis apakah gejala yang timbul merupakan gejala hipertensi atau tidak. Pemeriksaan fisik mungkin termasuk mendengarkan denyut jantung dan paru-paru, merasakan denyut nadi di pergelangan tangan dan pergelangan kaki, dan sebagainya. Selain itu, untuk memastikan gejala hipertensi yang terjadi hampir selalu setiap pasien dilakukan beberapa tes. Tes darah dapat dipertimbangkan untuk menilai faktor risiko untuk penyakit jantung dan stroke serta mencari komplikasi hipertensi. USG pada ginjal, CT scan perut, atau keduanya dapat dilakukan untuk menilai kerusakan atau pembesaran ginjal dan kelenjar adrenal. Pemeriksaan gejala hipertensi lain yang akan familiar pada orang yang diperiksa karena gejala tekanan darah tinggi adalah elektrokardiogram (EKG) dan echocardiogram.

Penyakit jantung hipertensif


Sampai saat ini prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar antara 5-10% sedangkan tercatat pada tahun 1978 proporsi penyakit jantung hipertensif sekitar 14,3% dan meningkat menjadi sekitar 39% pada tahun 1985 sebagai penyebab penyakit jantung di Indonesia. Sebanyak 8590% hipertensi tidak diketahui penyababnya (hipertensi primer/hipertensi idiopatik/hipertensi esensial) dan hanya sebagian kecil yang dapat ditetapkan penyebabnya (hipertensi sekunder). Penyakit jantung hipertensif merujuk kepada suatu keadaan yang disebabkan oleh peningkatan tekanan darah (hipertensi). Hipertensi yang berkepanjangan dan tidak terkendali dapat mengubah struktur miokard, pembuluh darah dan sistem konduksi jantung. Perubahanperubahan ini dapat mengakibatkan hipertrofi ventrikel kiri, penyakit arteri koroner, gangguan sistem konduksi, disfungsi sistolik dan diastolik miokard yang nantinya bermanifestasi klinis sebagai angina (nyeri dada), infark miokard, aritmia jantung (terutama fibrilasi atrium) dan gagal jantung kongestif. Beberapa istilah yang berkaitan dengan penyakit jantung hipertensif yaitu: Disfungsi sistolik, yaitu disfungsi/gangguan kontraksi sistolik atau pengosongan ventrikel, sehingga menurunkan fraksi ejeksi (jumlah darah yang dipompakan setiap

denyutan kurang dari 45%) dan output jantung yang tidak adekuat. Pengosongan yang tidak maksimal akan meningkatkan tekanan end diastolic (volume diastolik akhir) di ventrikel dan darah dapat memenuhi atrium bahkan menyebabkan edema paru perifer. Disfungsi diastolik, yaitu disfungsi/gangguan relaksasi diastolik atau pengisian ventrikel, biasanya dikaitkan dengan kekakuan dinding ventrikel/cardiac remodelling. Akibatnya pengisian diastolik menjadi tidak optimal dan volume sekuncup yang tidak adekuat. Dapat mengakibatkan disfungsi sistolik. Tekanan afterload, yaitu tekanan yang dihasilkan oleh ventrikel pada saat memompakan darah. Tekanan preload, yaitu tekanan yang dihasilkan oleh ventrikel pada saat pengisian.

Gagal jantung terkompensasi, yaitu gagal jantung yang terkompensasi dengan peningkatan stimulus simpatis jantung, peningkatan volume diastolik akhir serta hipertrofik ventrikel. Tidak ditemukan edema paru. Pasien dapat dibantu dengan pemberian obat-obatan seperti diuretik, ACE inhibitor dll. Gagal jantung dekompensasi, disebut juga gagal jantung kongestif, merupakan gagal jantung di mana terjadi gangguan fungsi pemompaan dan retensi air dan garam yang abnormal. Gagal jantung dekompensasi mengakibatkan penurunan output dan suplai darah ke seluruh tubuh yang tidak adekuat serta peningkatan volume darah di sistem sirkulasi yang mengakibatkan edema. Patofisiologi Hipertrofi ventrikel kiri Hipertrofi ventrikel kiri (left ventricular hypertrophy/LVH) terjadi pada 15-20% penderita hipertensi dan risikonya meningkat dua kali lipat pada pasien obesitas. Hipertrofi ventrikel kiri merupakan pertambahan massa pada ventrikel (bilik) kiri jantung, hal ini merupakan respon sel miosit terhadap stimulus yang menyertai peningkatan tekanan darah. Hipertrofi miosit terjadi sebagai mekanisme kompensasi peningkatan tekanan afterload. Stimulus mekanis dan neurohormonal yang menyertai hipertensi akan mengaktivasi pertumbuhan sel miokard, ekspresi gen dan berujung kepada hipertrofi ventrikel kiri. Selain itu aktivasi sistem renin-angiotensin akan menyebabkan pertumbuhan intestitium dan komponen sel matriks. Berbagai bentuk hipertrofi ventrikel kiri telah diidentifikasi, di antaranya hipertrofi ventrikel kiri konsentrik dan hipertrofi ventrikel kiri ekstenstrik. Pada hipertrofi ventrikel kiri konsentrik terjadi peningkatan massa dan ketebalan serta volume dan tekanan diastolik. Pasien dengan hipertrofi ventrikel kiri konsentrik umumnya memiliki prognosis yang lebih buruk. Adapun pada hipertrofi ventrikel kiri eksentrik terjadi peningkatan hanya pada lokasi tertentu, misalnya daerah septal. Walaupun hipertrofi ventrikel kiri bertujuan untuk melindungi terhadap stres yang ditimbulkan oleh hipertensi, namun pada akhirnya dapat menyebabkan disfungsi miokard sistolik dan diastolik. Abnormalitas atrium kiri

Abnormalitas atrium kiri, meliputi perubahan struktural dan fungsional, sangat sering terjadi pada pasien hipertensi. Peningkatan tekanan darah/hipertensi akan meningkatkan volume diastolik akhir (end diastolic volume/EDV) di ventrikel kiri sehingga atrium kiri pun akan mengalami perubahan fungsi dan peningkatan ukuran. Peningkatan ukuran atrium kiri tanpa disertai gangguan katup atau disfungsi sistolik biasanya menunjukkan hipertensi yang sudah berlangsung lama/kronis dan mungkin berhubungan dengan derajat keparahan disfungsi diastolik ventrikel kiri. Pasien juga dapat mengalami fibrilasi atrium dan gagal jantung. Gangguan katup Hipertensi berat dan kronik dapat menyebabkan dilatasi pada pangkal aorta sehingga menyebabkan insufisiensi katup. Hipertensi yang akut mungkin menyebabkan insufisiensi aorta, yang akan kembali normal jika tekanan darah dikendalikan. Selain menyebabkan regurgitasi (aliran balik) aorta, hipertensi juga akan mempercepat proses sklerosis aorta dan regurgitasi katup mitral. Gagal jantung Gagal jantung merupakan komplikasi yang sering terjadi pada hipertensi kronis. Pasien dengan hipertensi dapat menunjukkan gejala-gejala gagal jantung namun dapat juga bersifat asimtomatis (tanpa gejala). Prevalensi (gagal jantung)disfungsi diastolik asimtomatis pada pasien hipertensi tanpa disertai hipertrofi ventrikel kiri adalah sebanyak 33%. Peningkatan tekanan afterload kronik dan hipertrofi ventrikel kiri dapat mempengaruhi fase relaksasi dan pengisian diastolik ventrikel. Disfungsi diastolik sering terjadi pada penderita hipertensi, dan terkadang disertai hipertrofi ventrikel kiri. Hal ini disebabkan oleh peningkatan tekanan afterload, penyakit arteri koroner, penuaan, disfungsi sistolik dan fibrosis. Disfungsi sistolik asimtomatis biasanya mengikuti disfungsi diastolik. Setelah beberapa lama, hipertrofi ventrikel kiri gagal mengkompensasi peningkatan tekanan darah sehingga lumen ventrikel kiri berdilatasi untuk mempertahankan cardiac output. Lama-kelamaan fungsi sistolik ventrikel kiri akan menurun. Penurunan ini mengaktifkan sistem neurohormonal dan renin-angiontensin, sehingga meretensi garam dan air dan meningkatkan vasokonstriksi perifer, yang akhirnya malah memperburuk keadaan dan menyebabkan disfungsi sistolik. Apoptosis (kematian sel terprogram yang dirangsang oleh hipertrofi miosit dan ketidakseimbangan stimulus dan inhibitornya) diduga memainkan peranan penting dalam peralihan fase terkompensasi menjadi fase dekompensasi. Peningkatan mendadak tekanan darah dapat menyebabkan edema paru tanpa adanya perubahan fraksi ejeksi ventrikel kiri. Secara umum dilatasi ventrikel kiri (asimtomatik atau simtomatik) dapat memperburuk keadaan dan meningkatkan risiko kematian. Disfungsi ventrikel kiri serta dilatasi septal dapat menyebabkan penebalan ventrikel kanan dan disfungsi diastolik. Iskemia miokard Pada pasien hipertensi dapat timbul iskemia miokard yang bermanifestasi sebagai nyeri dada/angina pektoris. Hal ini dikarenakan hipertensi menyebabkan peningkatan tekanan di ventrikel kiri dan transmural, peningkatan beban kerja yang mengakibatkan hipertrofi ventrikel kiri. Suplai oksigen yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan otot jantung yang

membesar akan menyebabkan nyeri dada. Hal ini diperparah jika terdapat penyulit seperti aterosklerosis. Aritmia jantung Aritmia jantung yang sering ditemukan pada pasien hipertensi adalah fibrilasi atrium, kontraksi prematur ventrikel dan takikardia ventrikel. Berbagai faktor berperan dalam mekanisme arituma seperti miokard yang sudah tidak homogen, perfusi buruk, fibrosis miokard dan fluktuasi pada saat afterload. Sekitar 50% pasien dengan fibrilasi atrium memiliki penyakit hipertensi. Walaupun penyebab pastinya belum diketahui, namun penyakit arteri koroner dan hipertrofi ventrikel kiri diduga berperan dalam menyebabkan abormalitas struktural di atrium kiri. Fibrilasi atrium dapat menyebabkan disfungsi sistolik dan diastolik serta meningkatkan risiko komplikasi tromboembolik seperti stroke. Kontraksi prematur ventrikel, aritmia ventrikel dan kematian jantung mendadak ditemukan lebih sering pada pasien dengan hipertrofi ventrikel kiri. Penyebab aritmia seperti ini diduga akibat proses penyakit arteri koroner dan fibrosis miokard yang berjalan bersamaan.[1] Keluhan dan gejala Pada tahap awal, seperti hipertensi pada umumnya kebanyakan pasien tidak ada keluhan. Bila simtomatik, maka biasanya disebabkan oleh:
1. Peninggian tekanan darah itu sendiri, seperti berdebar-debar, rasa melayang (dizzy) dan impoten 2. Cepat capek, sesak napas, sakit dada, bengkak kedua kaki atau perut. Gangguan vaskular lainnya adalah epistaksis, hematuria, pandangan kabur karena perdarahan retina, transient cerebral ischemic 3. Penyakit dasar seperti pada hipertensi sekunder: polidipsia, poliuria, kelemahan otot pada aldosteronisme primer, peningkatan berat badan cepat dengan emosi yang labil pada sindrom Cushing. Feokromositoma dapat muncul dengan keluhan episode sakit kepala, palpitasi, banyak keringat, dan rasa melayang saat berdiri (postural dizzy).[2]

Referensi

[1] Riaz K, Ahmed A. Hypertensive Heart Disease. [Online]. 2010 Apr 29 [cited 2010 May 11]; Available from: URL: http://emedicine.medscape.com/article/162449-overview

[2] Panggabean M. Penyakit Jantung Hipertensi. Dalam: Sudoyo A, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2. 5th ed. Jakarta: Interna Publishing; 2009.
http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/penyakit-jantung-hipertensif/

Kelompok umur Hipertensi bermakna Hipertensi berat Neonatus 7 hari Td S > 96 Td S > 106 8 30 hari Td S > 104 Td S > 110 Bayi < 2 tahun

Td S > 112 Td D > 74 Td S > 118 Td D > 84 Anak 3-5 tahun Td S > 116 Td D > 76 Td S > 124 Td D > 84 Anak 6-9 tahun Td S > 126 Td D > 78 Td S > 84 Td D > 130 Anak 10 12 Td S > 126 Td D > 82 Td S > 134 Td D > 90 Remaja 13-15 tahun Td S > 136 Td D > 86 Td S > 144 Td D > 92 Remaja 16-18 tahun Td S > 142 Td D > 92 Td S > 150 Td D > 98
http://satyadeng.wordpress.com/2010/08/07/klasifikasi-hipertensi-menurut-kelompok-umur/

Hipertensi : Gejala, Penyebab, Pengobatan dan Komplikasinya


PENGERTIAN Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah melebihi nilai normal. Nilai normal tekanan darah adalah kurang dari 120/80 mmHg. Disebut hipertensi bila tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih. Tekanan darah antara 120/80 sampai dengan 140/90 disebut prehipertensi. Di dalam tubuh kita darah mengalir dari jantung ke seluruh tubuh melalui arteri (pembuluh darah nadi). Saat darah mengalir di dalam arteri, aliran darah tersebut memberikan tekanan tertentu pada dinding arteri. Besarnya tekanan tersebut disebut sebagai tekanan darah. Jadi, hipertensi adalah suatu kondisi dimana darah mengalir di dalam arteri pada tekanan melebihi nilai normal. NILAI NORMAL TEKANAN DARAH DAN KLASIFIKASI HIPERTENSI Tekanan darah sebetulnya terdiri dari 2 jenis pengukuran yaitu tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik. Penulisan keduanya dipisahkan oleh tanda garis miring /, menjadi (Tekanan darah sistolik / tekanan darah diastolik). Sebagai contoh, bila tekanan darah seseorang 120/80 mmHg, maka angka pertama (120) adalah tekanan darah sistolik sedangkan angka kedua (80) adalah tekanan darah diastolik. Ketika kita melakukan pengukuran tekanan darah, dokter/perawat biasanya menyebutkan tekanan darah kita : 120 per 80 atau seratus dua puluh delapan puluh (tanpa per). Kadangkadang pasien sendiri sering menyebut dengan istilah tekanan darah atas 120 sedangkan tekanan darah bawahnya 80. Satuan tekanan darah adalah mmHg. Tekanan darah normal adalah bila tekanan darah kurang dari 120/80. Sedangkan tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah bila tekanan darah 140/90 atau lebih. Bila tekanan darah berada di antara 120/80 sampai dengan 140/90, maka disebut prehipertensi. Prehipertensi adalah suatu kondisi apabila tidak dilakukan penanganan dapat menjadi hipertensi. Adapun klasifikasi tekanan darah menurut JNC VII adalah sebagai berikut : Klasifikasi Tekanan Darah Normal Prehipertensi Hipertensi derajat 1 Hipertensi derajat 2 Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik

< 120 120-139 140 159 160

Dan < 80 Atau 80 89 Atau 90 99 Atau 100

PENYEBAB

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dikelompokkan menjadi dua yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi Primer (Hipertensi Esensial, Hipertensi Idiopatik) Hipertensi primer adalah peningkatan tekanan darah tanpa diketahui penyebabnya secara jelas. Hipertensi kelompok ini dikaitkan dengan faktor risiko tertentu seperti usia, genetik, konsumsi tinggi garam dan sebagainya. Sebagian besar hipertensi termasuk ke dalam hipertensi primer. Hipertensi Sekunder Hipertensi sekunder adalah peningkatan tekanan darah yang disebabkan oleh adanya penyakit lain. Pada kelompok ini, hipertensi merupakan akibat dari suatu penyakit. Adapun penyakit yang dapat menyebab hipertensi sekunder adalah :

Penyakit ginjal Tumor kelenjar adrenal Efek samping obat : pil kontrasepsi (KB), obat flu/pilek, obat NSAID/analgetik/pain killer, amfetamin, dan lain-lain. Coarctation of the aorta

Faktor Risiko Terjadinya Hipertensi Selain itu terdapat faktor risiko tertentu yang dapat meningkatkan terjadinya hipertensi pada seseorang. Faktor risiko tersebut adalah : 1. Usia. Risiko terjadinya tekanan darah tinggi meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Pada laki-laki, hipertensi biasanya timbul pada usia pertengahan (30 45 tahun). Sedangkan pada wanita, hipertensi lebih sering timbul setelah menopause. 2. Ras. 3. Faktor keturunan. Adanya anggota keluarga yang menderita hipertensi meningkatkan risiko terjadinya hipertensi pada keluarga yang lain. Hal tersebut disebabkan karena adanya faktor genetik pada hipertensi. 4. Kegemukan (obesitas/overweight) 5. Kurangnya aktifitas fisik, baik pekerjaan yang kurang aktivitas fisik maupun olah raga yang kurang. 6. Merokok 7. Terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang tinggi kadar garamnya. 8. Mengkonsumsi alkohol 9. Stres 10. Adanya penyakit tertentu seperti : diabetes, kolesterol, penyakit ginjal, dan lain-lain. GEJALA Pada awal perjalanan penyakit, sebagian besar hipertensi tidak memiliki keluhan dan tanda yang khas. Hipertensi biasanya diketahui saat kita melakukan pengukuran tekanan darah ke dokter, tanpa ada gejala yang khas. Hipertensi bisa memberikan keluhan sakit kepala, nyeri dada, dan tengkuk kaku. Namun sebagian besar orang tidak mengalami keluhan tersebut. Apabila terjadi komplikasi, bisa timbul gejala tertentu yang berkaitan dengan komplikasinya.

Sebagai contoh, apabila terjadi stroke maka bisa timbul sakit kepala hebat, kelumpuhan hingga pasien tidak sadar. Apabila terjadi komplikasi jantung, pasien bisa mengeluh sakit dada. PENGOBATAN Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan komplikasi berat seperti gagal jantung, stroke atau perdarahan otak, dan lain-lain. Oleh karena itu hipertensi memerlukan penanganan yang holistik meliputi perubahan pola hidup dan pemberian obat antihipertensi. Prinsip penanganan hipertensi diantaranya target penurunan tekanan darah yang optimal adalah kurang dari 140/90 mmHg, dan khusus pada pasien dengan diabetes atau gangguan fungsi ginjal target tekanan darah adalah kurang dari 130/80 mmHg. Tahap awal terapi adalah perubahan pola hidup. Apabila dengan perubahan pola hidup target tekanan darah optimal tidak tercapai maka diperlukan pemberian obat penurun tekanan darah (obat antihipertensi). Modifikasi pola hidup sangat penting dalam penangan hipertensi. Pada tahap awal penyakit, modifikasi pola hidup dapat menurunkan tekanan darah. Selain itu modifikasi pola hidup juga meningkatkan efektivitas obat hipertensi, sehingga tekanan darah dapat terkontrol lebih baik. Adapun Modifikasi pola hidup yang dapat dilakukan di antaranya : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Berhenti merokok Mengurangi berat badan bila overweight/obese/kegemukan Olah raga teratur. Olah raga aerobik, minimal 30 menit sehari, 3 kali seminggu. Pola makan yang sehat, meningkatkan konsumsi buah dan sayuran serta mengurangi konsumsi lemak Mengurangi makanan yang tinggi kandungan sodiumnya Berhenti minum alkohol Mengurangi minum kopi Relaksasi

Ada banyak obat yang berfungsi menurunkan tekanan darah. Pemilihan obat antihipertensi disesuaikan dengan kondisi klinis setiap individu. Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan obat antihipertensi diantaranya adakah komplikasi seperti sakit jantung, pernah terkena stroke, diabetes, kolesterol, atau gangguan fungsi ginjal. Pada tahap awal dokter biasanya memberikan satu macam obat antihipertensi. Apabila tekanan darah tidak terkontrol dengan satu macam obat, atau tekanan darah terlalu tinggi, atau terdapat komplikasi tertentu, dokter mungkin akan memberikan terapi kombinasi (memberikan 2 macam atau lebih obat tekanan darah tinggi). Berikut ini jenis obat hipertensi berdasarkan mekanisme kerjanya : 1. Diuretik (diuretics). Obat ini bekerja dengan cara mengeluarkan natrium dan cairan yang berlebihan di dalam tubuh melalu ginjal. Obat golongan ini dikelompokkan lagi menjadi thiazide diuretics, loop diuretics, dan potassium-sparing diuretics. 2. Penghambat reseptor beta (beta-blockers). Obat ini bekerja dengan menghambat efek adrenalin.

3. Penghambat reseptor alfa (alpha-blockers). Obat ini bekerja mempertahankan pembuluh darah untuk tetap terbuka. 4. ACE inhibitors. Obat ini mencegah kontriksi pembuluh darah dengan cara menghambat pembentukan angiotensin II. 5. ARBs (angiotensin II reseptor blockers). Obat ini bekerja dengan cara menghambat efek angiotensin II pada sel. 6. Penghambat ion kalsium (Calcium channel blockers). Obat ini menghambat kontriksi pembuluh darah dengan cara menghambat ion kalsium masuk ke dalam sel. 7. Obat kombinasi. Obat ini biasanya mengandung 2 jenis obat pada setiap tabletnya. Obat kombinasi biasanya berupa kombinasi ACE inhibitor dengan diuretik atau kombinasi penghambat reseptor beta dengan diuretik. Tabel Obat Antihipertensi Jenis/Kelas Obat Dosis Yg Biasa Diberikan (mg/hari) Thiazide chlorothiazide 125500 diuretics chlorthalidone 12,5-25 hydrochlorothiazide 12,5-50 polythiazide 2-4 indapamide 1,25-2,5 metolazone 0,5-1 Loop diuretics bumetanide 0,5-2 Furosemide 20-80 torsemide 2,5-10 Potassiumamiloride 5-10 sparing diuretics triamterene 50-100 Beta blockers atenolol 25-100 betaxolol 5-20 bisoprolol 2,5-10 metoprolol 50-100 metoprolol 50-100 extended release nadolol 40-120 propranolol 40-160 propranolol long- 20-40 acting timolol 20-40 Angiotensin Benazepril 10-40 Converting Captopril 25-100 Enzyme Enalapril 5-40 Inhibitors (ACE Lisinopril 10-40 Inhibitors) Quinapril 10-80 Ramipril 2,5-20 Angiotensin candesartan 8-32 reseptor blockers eprosartan 400-800 Nama Generik Frekunsi pemberian/hari 1-2 1 1 1 1 1 2 2 2 1-2 1-2 1 1 1 1-2 1 1 2 1 1 2 1-2 1 1 1 1 1 1-2

Irbesartan losartan olmesartan telmisartan valsartan Calcium amlodipine Channel felodipine Blockers nicardipine sustained releas nifedipine longacting Alpha-Blockers doxazosin prazosin terazosin clonidine methyldopa Direct hydralazine vasodilators

150-300 25-100 20-40 20-80 80-320 2,5-10 2,5-20 60-120 30-60 1-16 2-20 1-20 0,1-0,8 250-1000 25-100

1 1-2 1 1 1-2 1 1 2 1 1 2-3 1-2 2 2 2

KOMPLIKASI Tekanan darah tinggi atau hipertensi dapat berakibat pada kerusakan pembuluh darah disebabkan tekanan yang berlebihan mengalir di dalam pembuluh darah. Semakin besar tekanan darah kita dan semakin lama tekanan darah tidak terkontrol maka kerusakan akan semakin besar. Banyak komplikasi yang dapat terjadi karena tekanan darah tidak terkontrol. Adapun komplikasi hipertensi di antaranya :

Serangan jantung atau stroke. Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan penebalan dan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis). Akibatnya dapat terjadi serangan jantung dan stroke. Serangan jantung dan stroke juga dapat terjadi disebabkan plak aterosklerosis yang pecah, menjadi embolus, dan menyumbat pembuluh darah. Hipertensi juga dapat menyebabkan pembuluh darah di otak pecah sehingga terjadi stroke perdarahan (stroke hemoragik). Gagal jantung. Pada orang dengan tekanan darah tinggi, otot-otot jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Akibatnya otot-otot jantung akan bertambah tebal. Hipertensi dan penebalan otot jantung yang berlangsung lama dapat menurunkan fungsi jantung, jantung tidak kuat memompa darah, dan terjadi gagal jantung. Aneurisma. Hipertensi juga mengakibatkan dinding pemubuluh darah melemah dan terbentuk semacam kantong yang disebut aneurisma. Aneurisma yang terjadi di otak atau jantung sangat berbahaya apabila aneurisma pecah. Gangguan ginjal atau gagal ginjal. Hal ini disebabkan penyempitan pembuluh darah di ginjal.

Retinopati hipertensi. Retinopati hipertensi adalah kerusakan pada retina mata yang disebabkan hipertensi. Retinopati disebabkan penyempitan pembulah darah dan perdarahan di retina. Retinopati dapat mengakibatkan kebutaan. Sindroma metabolik. Penderita hipertensi mempunyai kemungkinan besar untuk menderita gangguan metabolik lain yaitu kolesterol total tinggi, trigliserida tinggi, dan diabetes. Gangguan daya ingat dan fungsi kognitif. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat mempengaruhi kemampuan kita dalam berpikir, mengingat, dan mempelajari hal-hal baru.

Referensi 1. Harisons Internal Medicine. 2. The Seventh Report of the Joint National Committe on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure
http://www.arisclinic.com/2011/04/hipertensi-gejala-penyebab-pengobatan-dan-komplikasinya/

Klasifikasi Hipertensi
Technorati Tags: klasifikasi,hipertensi,jnc7,who,perhimpunan,indonesia

Untuk menilai apakah seseorang itu menderita penyakit hipertensi atau tidak haruslah ada suatu standar nilai ukur dari tensi atau tekanan darah. berbagai macam klasifikasi hipertensi yang digunakan di masing-masing negara seperti klasifikasi menurut Joint National Committee 7 (JNC 7) yang digunakan di negara Amerika Serikat, Klasifikasi menurut Chinese Hypertension Society yang digunakan di Cina, Klasifikasi menurut European Society of Hypertension (ESH) yang digunakan negara-negara di Eropa, Klasifikasi menurut International Society on Hypertension in Blacks (ISHIB) yang khusus digunakan untuk warga keturunan Afrika yang tinggal di Amerika. Badan kesehatan dunia, WHO juga membuat klasifikasi hipertensi. Di Indonesia sendiri berdasarkan konsensus yang dihasilkan pada Pertemuan Ilmiah Nasional Pertama Perhimpunan Hipertensi Indonesia pada tanggal 13-14 Januari 2007 belum dapat membuat klasifikasi hipertensi sendiri untuk orang Indonesia. Hal ini dikarenakan data penelitian hipertensi di Indonesia berskala nasional sangat jarang. Karena itu para pakar hipertensi di Indonesia sepakat untuk menggunakan klasifikasi WHO dan JNC 7 sebagai klasifikasi hipertensi yang digunakan di Indonesia. Klasifikasi Hipertensi menurut WHO Kategori Optimal Normal Tingkat 1 (hipertensi ringan) Sub grup : perbatasan Sistol (mmHg) < 120 < 130 140-159 140-149 Diastol (mmHg) < 80 < 85 90-99 90-94

Tingkat 2 (hipertensi sedang) Tingkat 3 (hipertensi berat) Hipertensi sistol terisolasi Sub grup : perbatasan

160-179 180 140 140-149

100-109 110 < 90 < 90

Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7

Kategori Normal Pre hipertensi Hipertensi tahap 1 Hipertensi tahap 2

Sistol (mmHg) <120 120-139 140-159 160

Dan/atau Dan Atau Atau Atau

Diastole (mmHg) <80 80-89 90-99 100

Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsensus Perhimpunan Hipertensi Indonesia Kategori Normal Pre hipertensi Hipertensi tahap 1 Hipertensi tahap 2 Hipertensi sistol terisolasi Sistol (mmHg) <120 120-139 140-159 160 140 Dan/atau Dan Atau Atau Atau Dan Diastole (mmHg) <80 80-89 90-99 100 < 90

Mengingat pengukuran tekanan darah mudah dilakukan dan karakteristik penduduk Indonesia berbeda dengan penduduk lainnya maka sudah seharusnya Indonesia memiliki klasifikasi hipertensi sendiri. Captopril 25 mg

CARA KERJA OBAT :

Captopril merupakan pengharnbat kompetitif terhadap enzim pengubah angiotensin (pengharnbat ACE) mencegah perubahan dari angiotensin-l menjadi angiotensin-ll Captopril dan metabolitnya diekskresi terutama melalui urin. Waktu paruh Eliminasi Captopril meningkat dengan menurunnya fungsi ginjal dimana kecepatan eliminasi berhubungan dengan bersihan kreatinin.

INDIKASI : Pengobatan hipertensi ringan sampai sedang. Pada hipertensi berat digunakan bila terapi standar tidak efektif atau tidak dapat digunakan. Pengobatan gagal jantung kongestif, digunakan bersama dengan diuretik dan bila mungkin dengan digitalis.

KONTRAINDIKASI : Penderita yang hipersensitif terhadap Captopril atau pengharnbat ACE lainnya (misalnya pasien yang mengalami angioedema selama pengobatan dengan oena-hambat ACE lainnya). Wanita hamil atau yang berpotensi hamil. Wanita menyusui. Gagal ginjal. Stenosis aorta.

EFEK SAMPING : Proteinuria, peningkatan ureum darah dan kreatinin. Idiosinkrasi, ruam, terutama pruritus. Neutropenia, anemia, trombositopenia. Hipotensi.

PERINGATAN DAN PERHATIAN : Neutropenia / agranulositosis, trombositopenia dan anemia dapat terjadi pada pengguna Captopril. Termasuk pada penderita fungsi ginjal normal walaupun larang. Neutropenia ini muncul dalam 1 - 3 bulan pengobatan, pengobatan dihentikan sebelum penderita terkena infeksi. Pada penderita dengan risiko tinggi harus dilakukan hitung jenis leukosit sebelum pengobatan setiap 2 minggu selama 3 bulan pertama pengobatan dan secara periodik. Hati-hati pada penderita dengan penyakit vaskular kolagen yang mendapat terapi imunosupresan, pengobatan dengan Allopurinol atau Procainamide karena dapat menyebabkan terjadinya infeksi berat. Terhadap pasien tersebut perlu dilakukan hitung jenis leukosit sebelum terapi setiap 2 minggu pada 3 bulan pertama terapi dan selanjutnya secara berkala. Pemberian pada anak-anak masih belum diketahui keamanan dan efektivitasnya sehmgga obat ini hanya diberikan bila tidak ada obat lain yang efektif untuk mengendalikan tekanan darah. Pemakaian harus hati-hati karena sensitivitasnya terhadap efek hipotensi. Hati-hati diberikan pada penderita dengan gangguan ginjal. Pengobatan agar dihentikan bila terjadi gejala-gejala angioedema, seperti bengkak mulut, mata, bibir, lidah, laring, juga sukar menelan, sukar bernafas dan serak. Konsultasikan ke dokter bila menggunakan suplemen potassium diuretik hemat potassium dan garam-garam potassium. Spaffila pada pemakaian obat harus dihentikan dengan segera. Pada kehamilan trimester II dan III dapat memmbuikan gangguan antara lain hipotensi, hipoplasiatengkorak neonatus anuria, gagal ginjal reversibel atau irreversibel dan kematian. Juga dapat terjadi oligohidramnion, deformasi kraniofasial, hipoplasia paru,

kelahiran prematur, perkembangan janin intrauteri terhambat, paten duktus arteriosus Bayi dengan riwayat selama dalam kandungan, ibunya mendapat pengobatan pengharnbat ACE, harus diobservasi intensif tentang kemungkinan terjadinya hipotensi, oligouria dan hiperkalemia. Dapat terjadi sindrom nefrotik serta glomerulopati membran pada penderita dengan hipertensi berat. Karena proteinuria umumnya terjadi dalam waktu 8 bulan pengobatan, maka penderita sebaiknya melakukan pemeriksaan protein urin sebelum dan setiap bulan selama 8 bulan pertama pengobatan.

INTERAKSI OBAT : Obat-obat imunosupresan dapat menyebabkan diskrasia darah pada penqguna Captopril dengan gagal ginjal. Suplemen potassium atau diuretik hemat potassium dapat menyebabkan terjadinya peningkatan potassium yang berarti pada serum. Probenecid dapat mengurangi bersihan ginjal dari Captopril. Obat anti inflamasi non-steroid, dapat mengurangi efektivitas anti hipertensi Obat diuretik meningkatkan efek anti hipertensi. Captopril dilaporkan bekerja sinergis dengan vasodilator perifer seperti minoxidil.

DOSIS :

- Hipertensi ringan sampai sedang.

Dosis awal 12,5 mg 2 kali sehari. Dosis pemeliharaan 25 mg 2 kali sehari yang dapat ditingkatkan selang 2-4 minggu, hingga diperoleh respon yang memuaskan Dosis maksimum 50 mg 2 kali sehari. Diuretik Thiazide dapat ditambahkan jika belum diperoleh respon yang memuaskan Dosis diuretik dapat ditingkatkan selang 1 - 2 minggu hingga diperoleh respon optimum atau dosis maksimum dicapai.

- Hipertensi berat.

Dosis awal 12,5 mg 2 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan bertahap meniadi maksimum 50 mg 3 kali sehari. Captopril harus digunakan bersama obat anti hipertensi lain dengan dilakukan penyesuaian dosis. Dosis Captopril jangan melebihi 150 mg sehari - Gagal jantung. Captopril digunakan bila terapi dengan diuretik tidak memadai untuk mengontrol gejala-

gejala. Dosis awal 6,25 mg atau 12,5 mg dapat meminimumkan efek hipotensi sementara. Dosis pemeliharaan 25 mg 2-3 kali sehari, dapat ditingkatkan bertahap dengan selang paling sedikit 2 minggu. Dosis maksimum 150 mg sehari.

- Usia lanjut : Dianjurkan penggunaan dosis awal yang rendah, mengingat kemungkinan menurunnya fungsi ginjal atau organ lain pada penderita usia lanjut

- Anak-anak : Dosis awal 0,3 mg/kg berat badan sampai maksimum 6 mg/kg berat badan perhan dalam 2-3 dosis, tergantung respon. http://www.farmasiku.com/index.php?target=products&product_id=33466

EFEK USIA PADA TEKANAN DARAH Systolic and diastolic blood pressure will vary according to the patient's age. Sistolik dan diastolik tekanan darah akan bervariasi sesuai dengan usia pasien. AGE UMUR Neonate Neonatus TEKANAN DARAH (MM HG) Sistolik: 50-52 Diastolic: 25-30 Berarti: 35-40 Sistolik: 78-114 Diastolic: 46-78 Sistolik: 90-132 Diastolic: 56-86 Sistolik: 104-108 Diastolic: 60-92 Sistolik: 90-130

3 years 3 tahun 10 years 10 tahun 16 years 16 tahun Adult Dewasa

Diastolic: 60-85 Older adult Older dewasa Sistolik: 140-160 Diastolic: 70-90

kKomplikasi Penyakit hipertensi bila tidak dikontrol secara teratur akan berlanjut kearah penyakit yang mematikan seperti : 1. 2. 3. 4. Penyakit jantung Cedera serebrovaskular pada otak Gagal ginjal Kerusakan optik retina

PATOFISIOLOGI Mekanisme yang mengontrol konnstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai factor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhirespon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua factor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. Untuk pertimbangan gerontology. Perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung ( volume sekuncup ), mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer ( Brunner & Suddarth, 2002 ).

Anda mungkin juga menyukai