Anda di halaman 1dari 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Cengkeh 2.1.1 Sejarah Daerah asal tanaman cengkeh, secara pasti belum diketahui. Dilihat dari sejarah perkembangan dan penyebarannya, ada yang menganggap cengkeh berasal dari Pulau Makian di Maluku Utara, ada pula yang berpendapat Filipina dan teori terakhir menyebut Iran sebagai daerah asal cengkeh, namun sampai akhir abad ke-18 Indonesia merupakan satu-satunya negara penghasil cengkeh di dunia. Sejak tahun 200 Masehi, setelah cengkeh diperdagangkan di Eropa, orang-orang Arab dan Portugis tertarik dan mencari sumber rempah-rempah itu di daerah Timur Jauh dan akhirnya menemukan kepulauan Maluku. Selama beberapa abad, perdagangan rempahrempah, termasuk cengkeh, dipegang oleh bangsa Portugis. Pasaran cengkeh di Eropa menjadi ramai dan Lisabon menjadi pasar cengkeh yang penting pada tahun 1513. Dengan perantaraan pedagang-pedagang Tiongkok pada abad kedua, cengkeh telah sampai ke negara-negara perbatasan Romawi dan pada permulaan abad ke-17 monopoli perdagangan cengkeh (dan rempah-rempah lainnya) telah jatuh ke tangan Belanda setelah berturut-turut dipegang oleh pedagang-pedagang Tiongkok, Portugis dan Arab. Pada tahun 1769 seorang kapten Perancis berhasil menyelundupkan beberapa pohon cengkeh yang berasal dari Gebe dan Seram ke kepulauan Reunion. Dari sana cengkeh tersebut disebarkan ke Zanzibar, Pemba dan Madagaskar sehingga sejak abad ke-19 merupakan negara penghasil cengkeh terbesar di dunia. Pada waktu Inggris berkuasa di Indonesia sekitar tahun 1800, 15.000 pohon cengkeh telah dipindahkan dari Maluku ke Penang dan antara tahun 1850-1870 cengkeh dari Maluku telah mulai disebarkan ke daerah lain di Indonesia seperti Sumatera, Sulawesi dan Pulau Jawa

dengan daerah pertanaman seperti Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Aceh, Minahasa, Bogor, Banten, Purwakarta dan Purwokerto. 2.1.2 Sistematika Tanaman Cengkeh Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi: Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae

Sub kelas : Monochlamydae Bangsa Suku Famili Spesies : Caryophylalles : Caryophillaceae : Myrtaceae : Syzygium aromaticum

Gambar 2.1 : Tanaman Cengkeh (Syzygium aromaticum) (sumber : http://mungkacity.blogspot.com/2011/04/budidaya-tanaman-cengkeh.html)

2.1.3

Morfologi Tanaman Cengkeh Cengkeh merupakan tanaman tropis berakar tunggang,

bercabang panjang dan kuat. Tanaman ini tingginya dapat mencapai 20-30 meter dan dapat berumur lebih dari 100 tahun. Tajuk tanaman cengkeh umumnya berbentuk kerucut, piramida atau piramida ganda dengan batang utama menjulang ke atas. Cabang-cabangnya sangat banyak dan rapat, pertumbuhan agak mendatar dan ukurannya relatif kecil jika dibandingkan dengan batang utama. Daunnya kaku dengan kedua ujungnya yang runcing serta berwarna hijau atau hijau kemerahan. Daun-daun ini biasanya keluar per periode. Ujung ranting

dalam satu periode akan mengeluarkan satu set daun yang terdiri atas lima pasang. Masing-masing pasang terdiri atas dua daun yang terletak saling berhadapan. Cengkeh memiliki 4 jenis akar yaitu akar tunggang, akar lateral, akar serabut dan akar rambut. Tanaman cengkeh mulai berbunga setelah berumur 4-6 tahun tergantung pada jenis tanaman, pemeliharaan tanaman dan kesuburan tanah. Bunga cengkeh bertangkai pendek, panjangnya 12-19 mm, berwarna hijau pada waktu muda, kemudian setelah cukup tua berwarna kemerahan dan akhirnya merah. Famili Myrtaceae meliputi kira-kira 3000 spesies, berupa tanaman berpohon tinggi maupun semak yang terdapat di daerahdaerah tropis dan subtropis. Diantara semua spesies dalam famili Myrtaceae, cengkeh merupakan salah satu yang mengandung minyak atsiri. Tanaman cengkeh mempunyai sifat khas karena semua bagian pohon mengandung minyak, mulai dari akar, batang, daun sampai bunga. Kandungan minyak cengkeh pada bagian-bagian tanaman tersebut bervariasi jumlahnya namun kadar minyak yang paling tinggi terdapat pada bagian bunga. 2.1.4 Komposisi Kimia Bunga Cengkeh Bunga cengkeh mengandung minyak atsiri dan fixed oil yang diperoleh dengan cara distilasi dan ekstraksi dengan menggunakan pelarut. Minyak atsiri dan fixed oil mengandung eugenol dan kariofilen yang merupakan komponen kimia yang memberikan rasa getir dan bau pedas dari cengkeh. Bunga cengkeh mengandung komponen metil-amil keton dan kristal kalsium oksalat.

Tabel 2.1 : Komposisi Kimia Bunga Cengkeh

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Komponen Bunga Cengkeh Air Abu Minyak atsiri Fixed oil dan resin Protein Serat kasar Tanin

Nilai (%) 5,0-8,3 5,3-7,6 14,0-21,0 5,0-10,0 5,0-7,0 6,0-9,0 10,0-18,0

2.1.5

Standar Mutu Bunga Cengkeh Di Indonesia belum ada suatu standar mutu yang pasti untuk bunga. Di Pemba dan Madagaskar telah ditetapkan standar mutu bunga cengkeh untuk ekspor yaitu kadar air tidak lebih dari 16%, kotoran 5% dan bunga pecah 10%. Di Belanda, syarat mutu bunga cengkeh antara lain kadar abu maksimum 8%, kadar pasir maksimum 1% dan kadar minyak atsiri minimum 12%.

2.2 Minyak Bunga Cengkeh 2.2.1 Komposisi dan Sifat Fisik Minyak Bunga Cengkeh
Tabel 2.2 : Komposisi dan Sifat Fisik Minyak Bunga Cengkeh

No.

Komponen

Berat Molekul 164,20 204,24 456,69 152,14 32

Titik Didih (oC) 253 282 125 223,5 151-152 64,564,7

Bobot Jenis 1,0651 1,0870 0,9659 0,8170

Indeks Bias 1,5412 1,5207 1,4988 1,1840 1,4063

1. 2. 3. 4. 5.

Eugenol Eugenol asetat Kariofilen Metil salisilat Metil-n-amil keton Metil alkohol

6.

32,04

0,7914

1,3306

7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

Furfural Metil benzoat Metil-n-amil karbinol Furfural alkohol Metil furfural Metil-n-heptil karbinol Vanilin

96,08 136,14 116,20 98,10 110,11 144,25 152,14

160,17 199,60 160,40 170-171 184-186 193-194 264

1,1616 1,0880 0,8187 1,1615 1,1365 0,8471 1,0560

1,5266 1,5181 1,4310 1,4860 1,0720 1,4290 -

2.2.2 Isolasi Minyak Bunga Cengkeh Menurut Gunawan dan Mulyani (2004), minyak atsiri umumnya diisolasi dengan empat metode. 1. Metode Distilasi Diantara metode-metode isolasi yang paling lazim dilakukan adalah metode distilasi. Beberapa metode distilasi yang populer dilakukan di berbagai perusahaan industri distilasi minyak atsiri, antara lain sebagai berikut : a. Metode distilasi kering (langsung dari bahannya tanpa

menggunakan air). Metode ini paling sesuai untuk bahan tanaman yang kering dan untuk minyak-minyak yang tahan pemanasan (tidak mengalami perubahan bau dan warna saat dipanaskan), misalnya oleoresin dan copaiba. b. Distilasi air, meliputi distilasi air dan uap air dan distilasi uap air langsung. Metode ini dapat digunakan untuk bahan kering maupun bahan segar dan terutama digunakan untuk minyakminyak yang kebanyakan dapat rusak akibat panas kering. Seluruh bahan dihaluskan kemudian dimasukkan ke dalam bejana yang bentuknya mirip dandang. Dalam metode ini ada beberapa versi perlakuan. 1) Bahan tanaman langsung direbus dalam air.

2) Bahan tanaman langsung masuk air tetapi tidak rebus. Dari bawah dialirkan uap air panas. 3) Bahan tanaman ditaruh di bejana bagian atas sementara uap air dihasilkan oleh air mendidih dari bawah dandang. 4) Bahan tanaman ditaruh di dalam bejana tanpa air dan disemburkan uap air dari luar bejana. 2. Metode Penyarian Metode penyarian digunakan untuk minyak-minyak atsiri yang tidak tahan pemanasan seperti cendana. Kebanyakan dipilih metode ini karena kadar minyaknya di dalam tanaman sangat rendah/kecil. Bila dipisahkan dengan metode lain, minyaknya akan hilang selama proses pemisahan. Pengambilan minyak atsiri menggunakan cara ini diyakini sangat efektif karena sifat minyak atsiri yang larut sempurna di dalam bahan pelarut organik nonpolar. 3. Metode Pengepresan atau Pemerasan Metode pemerasan/pengepresan dilakukan terutama untuk minyak-minyak atsiri yang tidak stabil dan tidak tahan pemanasan seperti minyak jeruk (citrus), juga terhadap minyak-minyak atsiri yang bau dan warnanya berubah akibat pengaruh pelarut penyarian. Metode ini hanya cocok untuk minyak atsiri yang rendemennya relatif besar. 4. Metode Enfleurage Metode enfleurage adalah metode penarikan bau minyak atsiri yang dilekatkan pada media lilin. Metode ini digunakan karena diketahui ada beberapa jenis bunga yang setelah dipetik, enzimnya masih menunjukkan kegiatan dalam menghasilkan minyak atsiri sampai beberapa hari/minggu, misalnya bunga melati, sehingga perlu perlakuan yang tidak merusak aktivitas enzim tersebut secara langsung.

10

Menurut Rochim Armando (2009), minyak atsiri umumnya diisolasi dengan tiga metode yaitu metode distilasi dengan air, distilasi dengan uap dan distilasi dengan air-uap 1. Distilasi dengan air Metode distilasi dengan air (water distillation) merupakan metode paling sederhana jika dibandingkan dengan dua metode distilasi yang lain. Pada metode ini, bahan yang akan didistilasi dimasukkan ke dalam ketel distilasi yang telah diisi air. Dengan begitu, bahan bercampur langsung dengan air. Selain metodenya sangat sederhana, bahan ketel pun relatif mudah didapatkan. Uap yang dihasilkan dari perebusan air dan bahan dialirkan melalui pipa menuju ketel kondensor yang mengandung air dingin sehingga terjadi pengembunan (kondensasi). Selanjutnya, air dan minyak ditampung dalam tangki pemisah. Pemisahan air dan minyak dilakukan berdasarkan perbedaan bobot jenis. 2. Distilasi dengan air dan uap Distilasi dengan air dan uap (water and steam distillation) disebut juga sebagai metode kukus. Pada metode pengukusan ini, bahan diletakkan di atas piringan atau plat besi berlubang seperti ayakan yang terletak beberapa sentimeter di atas permukaan air. Pada prinsipnya, metode distilasi ini menggunakan uap bertekanan rendah. Perbandingan antara cara pertama dan kedua hanya terletak pada pemisahan bahan dan air. Namun, penempatan keduanya masih dalam satu ketel distilasi. Selanjutnya, uap air dan minyak akan mengembun dan ditampung dalam tangki pemisah. Pemisahan air dan minyak atsiri dilakukan berdasarkan bobot jenis. 3. Distilasi dengan uap Distilasi dengan uap (steam distillation) pada sistem ini, air sebagai sumber uap panas terdapat dalam boiler yang letaknya terpisah dari ketel distilasi. Uap yang dihasilkan mempunyai tekanan lebih tinggi dari tekanan udara luar. Proses distilasi dengan uap ini

11

baik jika digunakan untuk distilasi bahan baku minyak atsiri berupa kayu, kulit batang, maupun biji-bijian yang relatif keras. 2.2.3 Isolasi Eugenol dari Minyak Bunga Cengkeh Isolasi eugenol dapat dilakukan melalui beberapa jenis proses pemurnian (isolasi), diantaranya yaitu proses ekstraksi, distilasi fraksionasi (rektifikasi), kromatografi kolom, ekstraksi superkritik dan distilasi molekuler. Selama ini, telah dilakukan pengambilan eugenol hanya dengan proses ekstraksi menggunakan NaOH dan

menghasilkan kadar eugenol sebesar 82,6% (Sri Suhenry, 2001). Selain itu, juga telah dilakukan pengambilan dengan cara ekstraksi minyak daun cengkeh menggunakan NaOH berlebih dan

dilanjutkan proses pengasaman dengan larutan HCl pekat. Kadar eugenol yang diperoleh hanya sekitar 86% (Sediawan, 2003). Dari proses ekstraksi ini, kelemahan terjadi pada proses recovery pelarut. Eugenol dapat diisolasi dengan cara minyak daun cengkeh hasil distilasi ulang ditambah dengan larutan NaOH. Jumlah mol NaOH yang digunakan harus proporsional dengan kandungan eugenol dalam minyak daun cengkeh. Reaksi ini hanya melibatkan eugenol yang bereaksi dengan NaOH membentuk Na-eugenolat yang larut dalam air. Setelah reaksi berlangsung akan diperoleh dua lapisan. Lapisan atas merupakan senyawa atau komponen dalam minyak daun cengkeh selain eugenol. Lapisan bawah yang mengandung eugenol dipisahkan dari lapisan atas. Eugenol dapat diperoleh dengan mengasamkan larutan eugenolat dengan menambahkan HCl hingga pH 3. Pada akhir reaksi terbentuk dua lapisan yang mana lapisan atas mengandung eugenol (Sastrohamidjojo, 2004).

12

2.2.4 Analisis Sifat Fisiko-Kimia Minyak Bunga Cengkeh 1. Analisis Sifat Fisik Pemeriksaan sifat fisik minyak atsiri dapat berupa pemeriksaan pendahuluan, bobot jenis, putaran optik, indeks bias dan kelarutan dalam etanol. a. Pemeriksaan Pendahuluan Pemeriksaan dilakukan terhadap warna, kejernihan dan bau. Pemeriksaan ini bersifat subjektif sehingga tidak dapat

menggambarkan mutu minyak atsiri secara tepat. b. Bobot jenis Alat yang sering digunakan disebut piknometer. Bobot jenis minyak umumnya berkisar diantara 0,696-1,119 dan kebanyakan bobot jenis minyak tersebut tidak melebihi nilai1,000. Penentuan bobot jenis adalah salah satu cara analisis yang dapat menggambarkan kemurnian minyak. Umumnya, nilai bobot jenis minyak atsiri dinyatakan pada suhu 15o/15oC. Untuk minyak yang membeku pada suhu tersebut, nilai bobot jenis dinyatakan pada suhu yang lebih tinggi dan dibandingkan dengan bobot jenis air pada suhu 15oC, misalnya nilai bobot jenis minyak mawar dinyatakan pada suhu 30o/15oC. c. Putaran Optik Alat yang digunakan untuk mengukur putaran optik disebut polarimeter. Setiap jenis minyak atsiri mempunyai kemampuan memutar bidang polarisasi cahaya ke arah kanan (dextro rotatory) dengan tanda (+) atau ke kiri (levo-rotatory) dengan tanda (-). Besarnya perputaran bidang polarisasi ini ditentukan oleh jenis minyak, suhu, panjang kolom yang berisi minyak dan panjang gelombang cahaya yang dipakai. Nilai putaran optik minyak atsiri biasanya dilakukan pada suhu kamar dan tidak dilakukan koreksi pada berbagai tingkat suhu kecuali terhadap minyak sitrus yang mengandung terpene aktif dalam jumlah

13

besar. Minyak atsiri yang akan dianalisis harus bebas dari endapan dan suspensi. Jika minyak atsiri tersebut mengandung air, harus dikeringkan dengan Na2SO4 anhidrat dan kemudian disaring terlebih dahulu. d. Penetapan Indeks Bias Refraktometer adalah alat yang tepat dan cepat untuk menetapkan nilai indeks bias. Pengukuran nilai indeks bias biasanya dilakukan pada suhu 20oC yang mana nilai indeks bias tersebut akan berubah dengan perubahan suhu. Dalam menentukan indeks bias, minyak harus dijauhkan dari panas dan cuaca lembab karena udara dapat berkondensasi pada permukaan prisma yang dingin. Akibatnya akan timbul kabut pemisah antara prisma gelap dan terang sehingga garis pembagi tidak terlihat jelas. Jika minyak larut dalam air, garis pembatas akan kelihatan lebih tajam, tetapi nilai indeks biasnya akan menjadi rendah. Jika nilai indeks bias tersebut diukur pada suhu di atas 20oC, maka nilainya harus ditambah dengan faktor koreksi, sedangkan jika di bawah 20oC, harus dikurangi dengan nilai koreksi. e. Kelarutan dalam Etanol Minyak atsiri dapat larut dalam etanol pada perbandingan dan konsentrasi tertentu. Dengan demikian dapat diketahui jumlah dan konsentrasi etanol yang dibutuhkan untuk melarutkan secara sempurna sejumlah minyak atsiri. Umumnya minyak atsiri yang mengandung persenyawaan oxygenated terpene lebih mudah larut daripada yang mengandung terpene. Nilai kelarutan minyak akan berkurang karena pengaruh umur minyak. Hal ini disebabkan terjadinya polimerisasi minyak selama penyimpanan. Senyawa polimer yang terbentuk akan menurunkan daya larutnya dalam etanol. Proses polimerisasi mudah terjadi terutama dalam minyak yang mengandung sejumlah besar terpene yang disebabkan oleh pengaruh cahaya, sinar dan air dalam minyak.

14

Etanol yang biasanya digunakan untuk menentukan kelarutan minyak atsiri adalah etanol dengan konsentrasi 50%, 60%, 65%, 70%, 75%, 80%, 90% dan 95%. Nilai konsentrasi tersebut didasarkan atas volume pada suhu 15,56o/15,56oC. Untuk memperoleh etanol yang lebih encer biasanya dibuat dari etanol 96% dengan volume tertentu. Kemudian ditimbang dan dicampur dengan air distilasi pada perbandingan tertentu sehingga didapatkan konsentrasi etanol yang dinginkan. Konsentrasi etanol dapat juga diketahui dengan menguji nilai bobot jenisnya pada suhu 15,56o/15,56oC.
Tabel 2.3 : Pembuatan Etanol Encer

Bobot jenis pada Etanol 15,56o/15,56oC 50 0,9342 60 0,9133 65 0,9019 70 0,8899 75 0,8771 80 0,8636 90 0,8336 100 0,8151 2. Analisis Sifat Kimia

95% etanol dalam volume (gr) 460 564 619 676 734 796 927 1000

Air distilasi (gr) 540 436 381 324 266 204 73 0

Pemeriksaan sifat kimia minyak atsiri, beberapa diantaranya dapat berupa pemeriksaan bilangan asam dan ester. a. Penetapan bilangan asam Sebagian besar minyak atsiri mengandung sejumlah kecil asam organik bebas yang terbentuk secara alamiah atau yang dihasilkan dari proses oksidasi dan hidrolisis ester. Bilangan asam suatu minyak didefinisikan sebagai jumlah milligram potassium hidroksida yang dibutuhkan untuk menetralkan asam bebas dalam 1 gram minyak. Dalam penentuan bilangan asam, biasanya dipergunakan larutan alkali lemah untuk menghindari penyabunan persenyawaan ester yang terdapat dalam minyak atsiri. Senyawa fenol akan bereaksi dengan alkali hidroksida sehingga dapat dipergunakan untuk menentukan adanya senyawa asam fenolat dalam minyak atsiri.

15

Bilangan asam suatu minyak bertambah bila umur minyak atsiri bertambah, terutama akibat oksidasi aldehid dan hidrolisis ester. Minyak yang telah dikeringkan dan dilindungi dari pengaruh udara dan cahaya mempunyai jumlah asam organik bebas yang relatif lebih kecil. b. Penetapan bilangan ester Penentuan jumlah ester sangat penting dalam menentukan nilai minyak atsiri. Jumlah ester dapat dinyatakan dengan bilangan ester, yaitu jumlah milligram potassium hidroksida yang dibutuhkan untuk menyabunkan ester yang terdapat dalam 1 gram minyak. 2.2.5 Standar Mutu Minyak Bunga Cengkeh
Tabel 2.4 : Komposisi dan Sifat Fisik Minyak Bunga Cengkeh berdasarkan SNI 06-4267-1996

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Jenis Uji Bobot jenis (BJ) Putaran optik ( D) Indeks bias (nD) 20o Eugenol Minyak Pelikan Minyak Lemak Kelarutan dalam etanol 70%

Satuan % -

Persyaratan 1,04-1,07 Sampai-1o35 1,529-1,537 80-95 Negatif Negatif 1:2 jernih, seterusnya jernih

2.2.6 Faktor faktor yang Mempengaruhi Mutu Minyak Cengkeh Mutu minyak cengkeh sangat ditentukan oleh sifat dan senyawa kimia yang terkandung di dalamnya. Sifat fisik seperti bobot jenis, indeks bias, putaran optik, dan kelarutan di dalam etanol 70% dapat dijadikan kriteria untuk menentukan kemurnian minyak. Apabila bobot jenis, indeks bias dan putaran optik menunjukkan angka yang tertinggi, kemungkinan minyak cengkeh tersebut mengandung bahan-bahan lain seperti minyak mineral dan lemak.

16

Apabila sifat itu menunjukkan angka yang rendah maka kemungkinan minyak tersebut mempunyai kadar eugenol yang rendah. 2.2.7 Kegunaan Minyak Cengkeh Beberapa jenis minyak atsiri dapat digunakan sebagai bahan antiseptik internal atau eksternal, bahan analgesik, heamolitik, sedative dan stimulan untuk obat sakit perut. Minyak atsiri mempunyai sifat membius, merangsang atau memuakkan. Selain itu beberapa jenis minyak atsiri lainnya dapat digunakan sebagai obat cacing. Minyak atsiri dapat menetralisir bau yang tidak enak dari bahan, misalnya seperti bau busuk pada kulit sintetik. Saat ini sudah dapat dibuat beberapa minyak atsiri dari bahan mentah yang dahulu dikesampingkan atau dilupakan karena baunya yang kurang disukai. Sebagai contoh ialah penambahan senyawa-senyawa aromatik ke dalam produk tertentu, seperti karet sintetik dan latek, ternyata lebih menguntungkan produsen (Guenther, 1987). Di bidang kesehatan minyak atsiri digunakan sebagai aroma terapi. Aroma yang muncul dari minyak atsiri dapat menimbulkan efek menenangkan yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai terapi psikis. Dalam hal perawatan kecantikan, minyak atsiri digunakan sebagai campuran bahan kosmetik. Kehadiran minyak atsiri dapat memberikan aroma khas pada produk. Beberapa produk kosmetik yang membutuhkan peran atsiri untuk memperkuat efeknya yaitu parfum, sabun, pasta gigi, sampo, lotion, dan deodorant. Pada makanan, minyak atsiri yang ditambahkan berfungsi sebagai penambah aroma dan penambah rasa. Dalam pembuatan makanan olahan, tak jarang bahan yang digunakan hanya sedikit menggunakan bahan utama. Oleh sebab itu, kehadiran minyak atsiri dapat memperkuat aroma dan rasa sehingga produk makanan serasa memiliki cita rasa yang tak kalah dengan produk aslinya (Rochim Armando, 2009).

17