Anda di halaman 1dari 20

Definisi Hipertensi dapat diartikan tekanan darah arterial tinggi, berbagai kriteria sebagai batasannya berkisar dari sistol

140 mmHg dan diastol 90 mmHg hingga setinggi sistol 200 mmHg dan diastol 110 mmHg (Dorland, 2000). Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan darah sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg. Pada Populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Brunner & Suddarth, 1996)

Etiologi Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer

Namun ada beberapa factor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi: 1. Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport Na. 2. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan tekanan darah meningkat. 3. Stress Lingkungan 4. Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua serta pelabaran pembuluh darah. Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu: 1. Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Biasanya dimulai sebagai proses labil (intermiten) pada individu pada akhir umur 30-an dan awal umur 50-an dan secara bertahap menetap. Pada suatu saat dapat juga menjadi mendadak dan berat, perjalanannya dipercepat atau maligna yang menyebabkan kondisi pasien memburuk dengan cepat. Terdapat sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetik yang paling mempengaruhi, lingkungan, hiperaktifitas susunan saraf simpatis, sistem renin-angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca intraseluler, dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko, seperti obesitas, perokok, alkohol, serta polisitemia.

2. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab spesifikasinya diketahui, seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme, dan sindroma Chusing, feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kamilan dan lain-lain. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala hipertensi pada lansia secara umum adalah : 1. Sakit kepala 2. Perdarahan hidung 3. Vertigo 4. Mual muntah 5. Perubahan penglihatan 6. Kesemutan pada kaki dan tangan 7. Sesak nafas 8. Kejang atau koma 9. Nyeri dada 1. Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : 2. Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
1. Gejala yang lazim

Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : mengeluh sakit kepala, pusing, lemas, kelelahan, sesak nafas, gelisah, mual muntah, epistaksis, kesadaran menurun.

Pemeriksaan Diagnostik 1. Hemoglobin/ hematokrit

Bukan diagnostik tetapi mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor-faktor resiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia.

BUN/ Kreatinin

Memberikan informasi tentang perfusi atau fungsi ginjal 2 Glukosa

Hiperglikemia (diabetes melitus adalah pencetus hipertensi) dapar diakibatkan oleh peningkatan kadar ketekolamin (meningkatkan hipertensi) 3 Kalium Serum

Hipokalemia dapat mengindikasikan aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik 4 Kalsium Serum

Peningkatan kadar kalsium serum dapat meningkatkan hipertensi 5 Kolesterol dan Trigliserida serum

Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk/ adanya pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskular) 6 Pemeriksaan tiroid

Hipertiroidisme menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi 7 Kadar aldosteron urin/ serum

Untuk mengkaji aldosteronisme primer (penyebab) 8 Urinalis

Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan/ atau adanya diabetes 9 VMA urin (Metabolit Kaltekolamin)

Kenaikan dapat mengindikasikan adanya feokromositoma (penyebab); VMA Urin 24 jam dapat dilakukan untuk pengkajian feokromositoma bila hipertensi hilang timbul. 10 Asam urat Hiperurisemia telah menjadi implikasi sebagai faktor resiko terjadinya hipertensi. 11 Steroid urin Kenaikan bisa mengindikasikan hiperadrenalisme, feokromositoma atau disfungsi pituitari, sindrom Chusings, kadar renin dapat juga meningkat. 12 IVP Dapat mengindentifikasi penyebab hipertensi seperti penyakit perenkim ginjal, batu ginjal/ ureter 13 Foto dada Dapat menunjukkan obstruksi klasifikasi pada urea katub; deposit pada dan atau takik aorta; perbesaran jantung. 14 CT Scan Mengkaji tumor cerebral, CSV, ensefalopati, atau feokromositoma 15 EKG Dapat menunjukkan perbesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi. Catatan:Luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.

Penatalaksanaan Tujuan dari pentalaksanaan hipertensi adalah mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas penyerta dengan mencapai dan mempertahankan tekanan dibawah 140/90mmHg. Efektivitas penatalaksanaan ditentukan oleh derajat hipertensi, komplikasi, biaya perawatan, dan kualitas hidup sehubungan dengan terapi.

Beberapa penelitian menunjukkan behwa pendekatan nonfarmakologis, termasuk penurunan berat badan, pembatasan alkohol, natrium dan tembakau; latihan dan relaksasi merupakan intervensi wajib yang harus dilakukan pada setiap terapi hipertensi. Apabila penderita hipertensi ringan berada dalam risiko tinggi (pria prokok) atau bila tekanan diaknostiknya menetap, diatas 85 atau 95 mmHg dan diastoliknnya diatas 130 sampai 139 mmHg, maka perlu dimulai terapi obat-obatan. Dua kelompok obat tersedia dalam terapi pilihan pertama; diuretika dan penyekat beta. Apabila paisen dengan hipertensi ringan sudah terkontrol selama setahun, terapi dapat diturunkan. Agar pasien mematuhi terapi regimen yang diresepkan, maka harus dicegah pemberian jadual terapi obat-obatan yang rumit. 1. 1. Terapi Non Farmakologik 2. Kurangi konsumsi garam Mengurangi konsumsi garam dengan tidak menambahkan ke dalam makanan yang dihidangkan di meja atau yang sedang dimasak. Hanya sekitar 1 gram per hari yang ditambahkan ke dalam makanan yang ditambahkan ke dalam makanan yang dihidangkan. Terdapat bukti bahwa tekanan darah yang lebih rendah pada orangorang yang bekerja sebagai eksekutif atau manager senior berkaitan dengan konsumsi garam mereka yang lebih rendah. 1. Pengganti garam Ada beberapa pegganti garam yang sekarang tersedia di toko-toko. Pengganti ini mengandung sedikit sodium klorida atau lebih banyak potasium klorida. Meskipun idealnya tidak ada seorangpun yang membutuhkan tambahan kristal atau bahan kimiawi tertetu dalam makanannya, namun jika benar-benar tidak menyukai makanan yang mengandung sedikit garam, anda dapat menggunakan pengganti garam tersebut, sehingga ginjal bisa tetap berfungsi secara normal. Perlu menggunakan pengganti garam secara hati-hati jika sedang menggunakan obat-obat yang berfungsi mempertahankan potasium (potassium-sparing drug) seperti pil amiloride, atau jika ginjal tidak berfungsi dengan baik, karena bisa memiliki tingkat potasium yang tinggi dalam tubuh. 1. Pengendalian berat badan Untuk setiap kilogram berat badan anda yang hilang maka tekanan darah akan turun sekitar satu mmHg. Jadi, jika tekanan darah hanya sedikit meningkat, dapat kembali normal jika mengurangi sedikit berat badan. Namun, hal ini tidak mudah dilakukan

kecuali mendapatkan anjuran yang tepat dan memiliki motivasi yang kuat, selain mengurangi penggunaan garam dalam makanan. 1. Pengandalian minum mengandung alkohol Alkohol mempunyai pengaruh terhadap tekanan darah, dan secara keseluruhan semakin banyak alkohol yang diminum akan semakin meningkatkan tekanan darah. Peminum berat atau alkoholik sangat berisiko meningkatkan tekanan darah dan juga memiliki kecenderungan kuat untuk mengalami stroke. Minum lebih dari empat kali per hari akan mengakibatkan risiko hipertensi dan stroke, juga berdampak merusak pada organ hati, sistem saraf dan kualitas hidup. 1. Melakukan olah raga Penelitian menunjukkan bahwa melakukan olahraga secara rutin dangat berhubungan dengan penurunan tekanan darah. Mekanismenya tidak seluruhnya jelas, tetapi kemungkinan berkaitan dengan perubahan pola makan yang sering dilakukan pada saat mulai berolahraga secara teratur. 1. Suplemen potasium Meskipun terdapat bukti bahwa dengan meningkatkan jumlah potasium dalam pola makan dapat menurunkan tekanan darah, tidak perlu mengkonsumsi suplemen yang berbentuk garam atau tablet potasium. Sebaliknya, harus meningkatkan jumlah potasium dalam pola makan dengan makan lebih banyak buah-buahan dan sayuran segar, dan pada saat yang sama mengurangi garam dari makanan yang diproses. 1. Konseling stres Hal ini berkaitan dengan stres kronik yang dapat ningkatkan tekanan darah. Namun, banyak orang menderita hipertensi mengalami stres berat oleh berbagai alasan, seperti masalah probadi, kecemasan dalam pekerjaan, atau perkembangan keadaan cemas yang tidak jelas penyebabnya. Jika hal ini terjadi, konseling stres dan dalam kasus-kasus yang berat, pengobatan psikiatrik dapat membentu mengurangi stres, sihingga tekanan darah menurun pada saat yang sama. Banyak terapi yang digunakan seperti relaksasi, yoga, biofeedback, atau teknik serupa lainnya. 1. 2. Terapi Farmakologik Semua obat-obatan yang menurunkan tekanan darah rata-rata sama efeknya. Obatobatan tersebut menurunkan tekanan darah sostolik sekitar 10-15 mmHg dan tekanan diastolik 6-8 mmHg. Tiap orang bereaksi terhadap obat-obatantersebut secara berbeda. Penggunaan obat harus diimbangi dengan pola diit yang sesuai

dengan hipertensi yang dialami. Banyak obat-obatan yang berbeda dalam tiap golongan obat dan hanya sedikit saja perbedaan diantaranya. Jenis obat untuk hipertensi antara lain sebagai berikut: 1. Thiazid Diuretik Obat-obatan dengan golongan ini bekerja dengan membuka pembuluh darah yang dapat menurunkan tekanan darah. Bekerja membantu ginjal membuang garam dan air dalam bentuk urin, sehingga menurunkan volume sirkulasi dan mengalihkan sebagian tekanan keluar sistem. Kerja obat ini juga cenderung membuat pembuluh darah ukuran ateriol menjadi rileks. Gunakan dosis serendah mungkin. Dosis yang lebih tinggi tidak bekerja lebih baik dalam menurunkan tekanan darah. Contoh: 1. Bendrofluazid 2. Chlorothiazide 3. Chlorthalidone 4. Cyclopenthiazide 5. Hydrochlorotiazide 6. Indapamide 7. Mefruside 8. Metolazone 9. Polythiazide 10. Xipamide 1. Beta-Bloker Obat-obatan ini bekerja dengan menghambat kerja nor adrenalin, yang bersama dengan zat kimiawi lainnya yang disebut adrenalin, mempersiapkan tubuh untuk menghadapi situasi yang gawat, yang disebut respon lari atau lawan. Zat-zat kimiawi yang sangat kuat ini membuka sebagian pembuluh darah dan mempersempit sebagian lainnya, mengatur aliran darah ke organ-organ vital seperti jantung. Zat ini juga mempercepat kerja jantung agar memompa darah dengan lebih kuat, sehingga meningkatkan tekanan darah. Beta-Bloker menghentikan hal ini dan mempercepat kerja jantung, mengurangi kontraksinya, dan menurunkan tekanan darah. Namun, obat ini juga mempersempit saluran udara dalam paru-paru sehingga bagi penderita asma tidak dapat menggunakannya. Karena obat ini mengurangi kekuatan krontraksi jantung, maka tidak dapat digunakan jika jantung tidak dapat memompa dengan baik, seperti pada pasien gagal jantung. Jangka panjang penggunaan obat ini dapat mengurangi kemampuan untuk berolah raga dan tingkat

energi karena menyebabkan kerja jantung melemah dan melamban. Selanjutnya, obat ini juga menyebabkan tangan dan kaki terasa dingin karena megurangi aliran darah dari jantung. Seperti Propanolol, juga masuk kedalam otak dan menyebabkan mimpi yang seperti hidup dan gangguan tidur. Hal ini tidak dijumpai pada obatobatan yang modern dalam golongan ini karena digunakan dalam dosis yang rendah. Contoh: 1. Celiprolol hydrochloride 2. Esmolol hydrochloride 3. Labetalol hydrochloride 4. Metaprolol tartrate 5. Nadolol 6. Oxprenolol hydrochloride 7. Pindolol 8. Sotalol hydrochloride 9. Timolol maleate 1. Penghambat saluran kalsium Penghambat saluran kalsium (juga dikenal sebagai antagonis kalsium) bekerja dengan menghambat kerja kalsium dalam otot halus pada dinding arteriol. Hal ini berdasarkan pemikiran bahwa penyempitan otot halus, yang sebagian disebabkan oleh otot kalsium, mempersempit pembuluh darah yang kemudian menyebabkan terjadinya hipertensi. Denga nmenghambat kerja kalsium dapat membuka pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah. Penghambat saluran kalsium lainnya (verapamil) dapat menyebabkan sembelit. Contoh: 1. Amlodipine besylate 2. Ditiazem hydrochloride 3. Felodipine 4. Isradipine 5. Lecidipine 6. Lercanidipine hydrochloride 7. Nicardipine hydrochloride 8. Nifedipine 9. Nisoldipine 10. Verapamil hydrochloride

1. Penghambat ACE Penghambat ACE (Angiotensin-converting enzymes) bekerja dengan mencegah aktifasi hormon angiotensin II dari kedua perintisnya, yakni renin dan angiotensin I. Karena angiotensin II mempersempit pembuluh darah, penghambat ACE secara efektif membukanya kembali sehingga menurunkan tekanan darah. Obat-obatan ini tidak hanya menurunkan tekanan darah, tetapi melindungi ginjal pada mereka yang menderita diabetes dan hipertensi. Belakangan ini ditunjukkan bahwa obat-obatan ini juga memperlambat awal terjadinya kerusakan retina, yang dapat melumpuhkan penglihatan pada penderita diabetes. Juga diresepkan untuk sebagain orang yang telah pulih dari serangan jantung. Penghambat ACE sebenarnya aman, tetapi jika telah menggunakan pil diuretik, perlu diawasi dokter saat pertama kali menggunakannya, kakrena dosis yang npertama dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yan gtiba-tiba. Dianjurkan untuk menghentikan penggunaan diuretik selama satu hari sebelum mulai menggunakan penghambat ACE. Obat-obatan ini juga sangat efektif dalam pengobatan gagal jantung kongestif, denga tekanan darah yang meningkat atau tidak. Contoh: 1. Captopril 2. Cilazapril 3. Enalapril meleate 4. Fosinopril 5. Lisinopril 6. Moixipril hydrochloride 7. Perindopril 8. Quinapril 9. Ramipril 10. trandolapril 1. Alpha-Bloker Obat-obatan ini bekerja dengan menghambat kerja adrenalin pada otot-otot yang menyusun dinding-dinding pembuluh darah. Adrenalin menyebabkan pembuluh darah menyempit dan meningkatkan tekanan darah. Dengan menghambat reseptor ini dapat membuat pembuluh darah rileks dan menurunkan tekanan darah. Sebagai akibatnya, alpha-bloker dapat juga menyebabkan rasa pusing khususnya ketika berdiri tiba-tiba.

Awalnya alpha-bloker harus diberikan tiga kali sehari dan menimbulkan efek samping pusing dan mulut terasa kering. Belakangan ini dua alpha-bloker yang digunakan sekali sehari telah diperkenalkan, yakni dexazosin dan terazosin. Keduanya sangat aman, tetapi masih menimbulkan rasa pusing bagi sebagian orang. Penghambat reseptor alpha bekerja untuk bagian tubuh selain untuk tekanan darah. Obat ini dapat menyebabkan kandung kemih menjadi rileks, berguna bagi pria berusia lanjut yang mengalami pembengkakan prostat dan sulit buang air kecil. Sebaliknya obat ini kadang-kadang dapat menimbulkan stres yang berkepanjangan pada wanita. Contoh: 1. Doxazosin 2. Indoramin 3. Phenoxybenzamine hydrochloride 4. Phentolamine mesylate 5. Prazosin 6. Terazosi 1. Obat yang bekerja terpusat Obat-obatan ini bekerja pada bagian otak yang mengendalikan tekanan darah. Obatobatan ini sangat jarang digunakan saat ini. Meskipun secara keseluruhan aman, obat ini cenderung menimbulkan kelelahan, kelesuan, dan bahkan depresi, khususnya jika digunakan dalam dosis tinggi. Obat-obatan yang lebih baru saat ini, yang bekerja dengan cara yang berbeda, memiliki efek samping yang lebih sedikit dan sama amannya, sehingga methyldopa saat ini biasanya hanya digunakan jika obat-obatan lain tidak dapat menurunkan tekanan darah secara efektif. Obat ini masih diresepkan pada wanita hamil, yang diketahui secara keseluruhan aman. Contoh: 1. 2. 3. 1. Clonidine hydrochloride Methyldopa moxonidine Antagonis Reseptor Angiotensin

Obat-obatan ini bekerja dengan cara yang hampir sama seperti penghambat ACE, tetapi lebih dengan menghambat reseptor angiotensin II. Untuk alasan ini, obatobatan ini memiliki pengaruh yang lebih spesifik terhadapa tekanan darah dan tidak menyebabkan efek samping yang mengganggu seperti batuk. Contoh: 1. Candesartan cilexetil 2. Irbesartan 3. Losartan potassium 4. Valsartan 1. Terapi kombinasi Kombinasi obat-obat tertentu lebih efektif dari yang lain. Meskipun ada banyak pengecualian, secara umum beta-bloker dan penghambat ACE paling banyak diberikan bersama dengan thiazide diuretik atau penghambat saluran kalsium. Untuk membantu pasien yang membutuhkan terapi kombinasi, ada beberapa obat penurun tekanan darah yang mengan dung dua jenis obat yang berbeda yang bekerja sekaligus. (contohnya, Tenoret 50, Zestoretic, dan cozaar-comp).

Asuhan Keperawatan Pengkajian 1. Identitas Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku dan kebangsaan, pendidikan, pekerjaan, alamat, nomor regester, tanggal Masuk Rumah Sakit, diagnosa medis

1. Keluhan Utama Pasien dengan penyakit hipertensi,biasanya mempunyai keluhan utama: 1. Datang dengan keluhan sakit kepala 2. Disertai mual dan muntah 3. Dan mengalami gangguan pada pernapasan. 4. Riwayat Penyakit Sebelumnya Pasien mempunyai riwayat penyakit hipertensi,pasien menjalani terapi pengobatan jalan, dengan mengkonsumsi obat-obatan yang mengandung Beta-Bloker seperti captopril, obat tersebut dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui

proses memperlambat kerja jantung dan memperlebar (vasodilatasi) pembuluh darah. 1. Riwayat Penyakit Keluarga Dari genogram keluarga biasanya terdapat salah satu anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi, disamping itu gaya hidup juga salah satu pencetus terjadinya hipertensi, misalnya : merokok dan tidak pernah melakukan aktifitas olahraga.

Pemeriksaan Fisik 1. Pernafasan (Breath) Gejala: Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea,ortopnea,dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.

Tanda: Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyinafas tambahan (krakties/mengi), sianosis. 1. Aktivitas/ Istirahat Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton. Tanda :Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea. 1. Sirkulasi Gejala :Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi. Tanda :Kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis,radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis,kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisiankapiler mungkin lambat/ bertunda. 1. Eliminasi (Bladder) Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayatpenyakit ginjal pada masa yang lalu). 1. Integritas Ego

Gejala :Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan. Tanda :Letupan suasana hat, gelisah, penyempitan continue perhatian,tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola bicara. 1. Makanan/cairan Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir akhir ini(meningkat/turun) Riwayat penggunaan diuretic Tanda: Berat badan normal atau obesitas,, adanya edema, glikosuria. 1. Neurosensori Gejala: Keluhan pening pening/pusing, berdenyut, sakit kepala,subojksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontan setelah beberapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur,epistakis). Tanda: Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara,efek, proses piker, penurunan keuatan genggaman tangan. 1. Nyeri/ ketidaknyaman Gejala: Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung),sakit kepala. 1. Keamanan Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.

Pemeriksaan Diagnostik 1. Hemoglobin/ hematokrit Bukan diagnostik tetapi mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor-faktor resiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia.

1. BUN/ Kreatinin Memberikan informasi tentang perfusi atau fungsi ginjal

1. Glukosa Hiperglikemia (diabetes melitus adalah pencetus hipertensi) dapar diakibatkan oleh peningkatan kadar ketekolamin (meningkatkan hipertensi) 1. Kalium Serum Hipokalemia dapat mengindikasikan aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik 1. Kalsium Serum Peningkatan kadar kalsium serum dapat meningkatkan hipertensi 1. Kolesterol dan Trigliserida serum Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk/ adanya pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskular) 1. Pemeriksaan tiroid Hipertiroidisme menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi 1. Kadar aldosteron urin/ serum Untuk mengkaji aldosteronisme primer (penyebab) 1. Urinalis Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan/ atau adanya diabetes 1. VMA urin (Metabolit Kaltekolamin) Kenaikan dapat mengindikasikan adanya feokromositoma (penyebab); VMA Urin 24 jam dapat dilakukan untuk pengkajian feokromositoma bila hipertensi hilang timbul. 1. Asam urat Hiperurisemia telah menjadi implikasi sebagai faktor resiko terjadinya hipertensi. 1. Steroid urin Kenaikan bisa mengindikasikan hiperadrenalisme, feokromositoma atau disfungsi pituitari, sindrom Chusings, kadar renin dapat juga meningkat. 1. IVP Dapat mengindentifikasi penyebab hipertensi seperti penyakit perenkim ginjal, batu ginjal/ ureter

1. Foto dada Dapat menunjukkan obstruksi klasifikasi pada urea katub; deposit pada dan atau takik aorta; perbesaran jantung. 1. CT Scan Mengkaji tumor cerebral, CSV, ensefalopati, atau feokromositoma 1. EKG Dapat menunjukkan perbesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi. Catatan:Luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.

Diagnosa 1. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokonstriksi, iskemia miokardia dan peningkatan afterload 2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. 3. Nyeri (akut), sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular cerebral 4. Koping individu inefektif berhubungan dengan sedikit atau tidak pernah olah raga, sistem pendukungn tidak adekuat, metode koping tidak efektif.

Intervensi dan Rasional 1. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokonstriksi, iskemia miokardia dan peningkatan afterload A. Tujuan Tidak ada penurunan curah jantung

1. Kriteria hasil A. Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung yang stabil dalam rentang normal pasien B. Mempertahankan tekanan darah dalam rentang individu yang dapat diterima C. Intervensi i. Pantau TD. Ukur pada kedua tangan untuk evaluasi awal, gunakan manset yang tepat

Rasional: Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan masalah vaskuler. 1. Berikan lingkungan yang tenang, nyaman, kurangi aktifitas/ keributan lingkungan. Batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal. Rasional: Membantu untuk menurunkan rangsang simpatis: meningkatkan ralaksasi. 1. Anjurkan teknik relaksasi, panduan imanjinasi, aktivitas pengalihan. Rasional: Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stres, membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan tekanan darah. 1. Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian obat sesuai dengan indikasi, contoh: Diuretik Loop, mis., furosemid (Lazix); asam etakrinik (edekrin); bumetamid (burnex) Rasional: Obat ini mengahasilkan diuresis kuat dengan menghambat reabsorbsi natrium dan klorida dan merupakan antihipertensif efektif, khususnya pada pasien yang resisten terhadap tiazid atau mengalami kerusakan ginjal. 1. Kolaborasi dengan tim medis tentang pembatasan pemberian cairan dan diit natrium sesuai indikasi. Rasional: Pembatasan ini menangani retensi cairan dengan respon hipertensif, dengan demikian menurunkan beban kerja jantung. 1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. A. Tujuan

Klien dapat beraktifitas dengan normal seperti biasa 1. Kriteria hasil A. Berpartisipasi dalam aktifitas yang diinginkan atau diperlukan B. Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktifitas yang dapat diukur C. Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologis D. Intervensi i. Observasi frekuensi nadi lebih dari 20 x/ menit, pantua adanya dispneu/ nyeri dada, keletihan dan kelemahan yang berlebihan, diaporesis, pusing atau pingsan. Rasional: Merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktifitas. 1. Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energi, misalnya menggunakan kursi saat mandi, duduk saat menyisir rambut atau menyikat gigi, melakukan aktifitas dengan perlahan Rasional: Teknik menghemat energi mengurangi penggunaan energi, juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. 1. Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/ perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi. Berikan bantuan sesuai dengan kebutuhan. Rasional: Kemajuan aktifitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktifitas. 1. Nyeri (akut), sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular cerebral A. Tujuan Tidak terjadi nyeri, sirkulasi darah lancar 1. Kriteria hasil 2. Melaporkan nyeri/ ketidaknyamanan/ terkontrol A. Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan

B. Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan 1. Intervensi A. Mempertahankan tirah baring Rasional: Meminimalakan stimulasi/ meningkatkan relaksasi 1. Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan rasa sakit kepala, misalnya: kompres dingin pada dahi, pijat di punggung dan leher, tenang, teknik relaksasi (panduan imajinasi, distraksi)dan aktivitas waktu senggang Rasional: Tindakan yang menurunkan tekanan vaskular serebral dan yang memperlambat/ memblok respons simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya. 1. Bantu pasien dalam ambulasi sesuai dengan kebutuhan Rasional: Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala. Pasien juga dapat mengalami episode hipotensi postural 1. Kolaborasi dalam pemberian terapi farmakologi (analgesik) Rasional : Menurunkan/ mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang sitem saraf simpatis 1. Koping individu inefektif berhubungan dengan sedikit atau tidak pernah olah raga, sistem pendukungan tidak adekuat, metode koping tidak efektif. A. Tujuan Koping individu lebih efektif, pola hidup sehat dapat dilakukan oleh pasien. 1. Kriteria hasil 2. Menyatakan kesadaran kemampuan koping/ kekuatan pribadi A. Mengidentifikasi potensial situasi stress dan mengambil langkah untuk menghindari/ mengubahnya B. Mendemonstrasikan penggunaan ketrampilan/ metode koping efektif C. Intervensi

i. Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi dalam rencana pengobatan. Rasional: Keterlibatan memberikan pasien perasaan kontrol diri yang berkelanjutan, memperbaiki ketrampilan koping dan dapat meningkatkan kerja sama dalam regimen terapeutik. 1. Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup yang perlu Rasional: Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara realistik untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya

DAFTAR PUSTAKA Arjatmo, (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI Brunner & Suddart, (1996). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC Capernito, (2000). Diagnosa Keperawatan, edisi 8. Jakarta: EGC Doengoes, (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC Prince, Loraine M. Wilson, (1995). Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit, edisi 4.Jakarta: EGC Corwin, J. Elizabeth, (2001). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Nervus I (Olfactorius) : Ibu S dapat membedakan bau dari minyak kayu putih dan minyak Nervus II (Opticus) : Ibu S sudah tidak dapat melihat jauh tulisan, orang dan benda-benda yang

wangi/parfum. kecil, tapi Ibu S tidak menggunakan bantuan kacamata.

Nervus III, IV, V (Oculomotoris, Trochlearis, Abdusen) Nervus V (Trigeminus) : Sensasi sensorik kulit wajah klien baik, dapat merasakan goresan kapas Nervus VII (Facialis) : Ibu S dapat, menggerakan alis dan mengerutkan dahi Nervus VIII (Vestibulococlear) : Fungsi keseimbangan baik Nervus IX, X (Glasopharingeus, Vagus) : Reflek menelan baik Nervus XI (Accesorius) : Ibu S dapat menggerakkan kedua bahunya dan menggerakkan kepalanya

pada pipi kanan.

Nervus XII : Ibu S dapat berbicara dengan jelas dan lidah berfungsi baik

Resiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan dengan defisit lapang pandang, motorik atau persepsi. Kriteria hasil: - Mengidentifikasi faktor yang meningkatkan resiko terhadap cedera. - Memperagakan tindakan keamanan untuk mencegah cedera. - Meminta bantuan bila diperlukan. Intervensi: 1) Lakukan tindakan untuk mengurangi bahaya lingkungan. R/ Membantu menurunkan cedera. 2) Bila penurunan sensitifitas taktil menjadi masalah ajarkan klien untuk melakukan: - Kaji suhu air mandi dan bantalan pemanas sebelum digunakan. - Kaji ekstremitas setiap hari terhadap cedera yang tak terdeteksi. - Pertahankan kaki tetap hangat dan kering serta kulit dilemaskan dengan lotion emoltion. R/ Kerusakan sensori pasca CVA dapat mempengaruhi persepsi klien terhadap suhu. 3) Lakukan tindakan untuk mengurangi resiko yang berkenaan dengan pengunaan alat bantu. R/ Penggunaan lat bantu yang tidak tepat atau tidak pas dapat meyebabkan regangan atau jatuh. 4) Anjurkan klien dan keluarga untuk memaksimalkan keamanan di rumah. R/ Klein dengan masalah mobilitas, memerlukan pemasangan alat bantu ini dan