Anda di halaman 1dari 18

Makalah Teknik Tenaga Listrik

PLTG

Disusun oleh : Femy Sanana Sanvia (0906488930) Mesah Yoga (090648xxxx) M. Rahmat Dwiyanto (090648xxxx) Nugroho Adi Saputro (090648xxxx)

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA

2011

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul PLTG sesuai dengan waktu yang penyusun rencanakan. Penulisan makalah ini bertujuan untuk mencoba memberikan informasi kepada khalayak mengenai apa yang dimaksud dengan PLTG serta prinsip kerja pada PLTG. Metode yang penulis gunakan dalam penulisan makalah ini adalah studi kepustakaan. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ir. Amien Rahardjo M.T. dan Bapak Aji Nur Widyanto S.T., M.T. sebagai dosen mata kuliah Teknik Tenaga Listrik yang telah memberikan dukungan moral dan materil berupa saran dalam proses pembuatan makalah ini. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Penyusun berharap makalah ini dapat memberikan manfaat untuk seluruh pihak.

Depok, Desember 2011 Penyusun

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................... i KATA PENGANTAR................................................................................... ii DAFTAR ISI..................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang.......................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah..................................................................... 1 1.2.1 Batasan Masalah.............................................................. 2 1.3 Tujuan Penulisan....................................................................... 2 1.4 Metode Penulisan...................................................................... 2 1.4.1 Definisi Konseptual......................................................... 2 1.5 Outline...................................................................................... 2 BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Definisi Karawitan........................................ 3 2.2 Sejarah Perkembangan Gamelan.............................................. 3 2.2.1 Sumber Data tentang Gamelan........................................ 4 2..3 Instrumen Gamelan Jawa ....................................................6 2.4 Perkembangan Gamelan Jawa di Indonesia......................... 16 2. 5 Perkembangan Gamelan di Mancanegara................................ 17 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan............................................................................... 18 3.2 Saran......................................................................................... 18 DAFTAR PUSTAKA iii

LAMPIRAN

ABSTRAK

iv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Mesin arus searah atau mesin DC merupakan mesin listrik yang dala pengoperasiannya menggunakan sumber dc sebagai input atau tegangan output dc tergantung pada fungsi mesin tersebut sebagai motor atau generator. Generator DC merupakan suatu divais yang mengkonversi energi mekanik menjadi energi listrik dan memiliki keluaran berupa tegangan DC. Sedangkan, Motor DC merupakan suatu divais yang mengkonversi energi listrik DC menjadi energi mekanik putaran. Sebuah motor DC dapat difungsikan sebagai generator, atau sebaliknya generator DC dapat pula difungsikan sebagai motor DC. Generator DC pada umumnya memiliki konstruksi seperti pada mesin listrik pada umumnya, yaitu memiliki komponen utama berupa rotor dan stator. Rotor merupakan bagian dari mesin yang bersifat dinamis (bergerak), sedangkan stator merupakan bagian dari mesin yang bersifat statis (diam). Prinsip kerja Generator DC menggunakan penerapan hukum Faraday, yaitu menghasilkan tegangan listrik dari proses induksi listrik. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang kami uraikan, maka didapat beberapa rumusan masalah antara lain: 1. Apakah definisi dari Generator DC? 2. Bagaimana konstruksi Generator DC secara umum dan apa saja komponen-komponen pembentuknya? 3. Bagaimana prinsip kerja pada Generator DC? 4. Apa saja jenis-jenis Generator DC? 1.2.1Batasan Masalah Batasan masalah yang dapat kami tentukan dalam makalah ini dimulai dari definisi dan prinsip kerja dari Generator DC.

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu: 1. mendeskripsikan dan mengetahui definisi Generator DC. 2. mendeskripsikan dan mengetahui bagaimana konstruksi pada Generator DC. 3. mengetahui prinsip kerja Generator DC. 4. Mengetahui macam-macam jenis Generator DC 1.4 Metode Penulisan Untuk memperoleh data mengenai Generator DC, penulis melakukan studi literatur (studi kepustakaan). Penulis mengumpulkan berbagai literatur dan mengkaji ulang literatur yang diperoleh. 1.4.1 Definisi Konseptual Generator arus searah (DC) adalah mesin yang mampu membangkitkan tegangan dan arus searah (DC) dimana inputnya adalah energi mekanis dari putaran penggerak mula (prime mover). 1.5 Outline BAB I Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, definisi konseptual, dan outline BAB II Kajian teori mengenai Generator DC BAB III Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

vi

BAB II KAJIAN TEORI


2.1 Definisi Umum PLTG Pusat listrik tenaga gas (PLTG) merupakan sebuah pembangkit energi listrik yang menggunakan peralatan/mesin turbin gas sebagai penggerak mula generator pembangkitnya. Turbin gas dirancang dan dibuat dengan prinsip kerja yang sederhana dimana energi panas yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar diubah menjadi energi mekanis dan selanjutnya diubah menjadi energi listrik atau energi lainnya sesuai dengan kebutuhannya.
Sedangkan, Unit PLTG diartikan sebagai kesatuan mesin- mesin dan perlengkapannya yang tersusun dalam tata hubungan kerja, membentuk sistem untuk mengubah energi yang terkandung di dalam bahan bakar minyak atau gas alam menjadi tenaga listrik, dengan mengunakan turbin gas sebagai penggerak utama. Unit PLTG dibagi atas tiga sistem yaitu sistem turbin gas, sistem listrik, dan sistem kontrol.

2.2 Konstruksi PLTG


Seperti yang telah disebutkan pada bagian definisi PLTG bahwa unit PLTG secara umum dibagi atas tiga sistem yaitu: a. Sistem Turbin Gas. Sistem turbin gas merupakan kesatuan perlengkapan yang berfungsi untuk mengubah energi termal menjadi energi mekanis, yang terdiri atas satu atau beberapa kompresor aksial (radial), perlengkapan termal untuk memanaskan fluida kerja, satu atau beberapa turbin dan peralatan bantu. b. Sistem Listrik. Sistem listrik merupakan kesatuan perlengkapan yang berfungsi untuk mengubah energi mekanis menjadi energi elektris termasuk dalam fungsi penyaluran dan pemakaian, yang terdiri dari perlengkapan pembangkit, perlengkapan hubung-bagi dan transformator. c. Sistem Kontrol. Sistem kontrol merupakan kesatuan perlengkapan yang terdiri dari subsistem yang berfungsi untuk mengatur, mengawasi, membatasi dan menjaga agar setiap proses serta kerja peralatan dapat berlangsung secara efisien dan aman.

vii

2.2.1 Sistem Turbin Gas

Gambar 2.1 Turbin gas

Pada sistem turbin gas tersusun atas komponen-komponen utama ,yaitu air inlet section, compressor section, combustion section, turbine section, dan exhaust section. Serta ada pula komponen pendukung pada turbin gas yaitu starting equipment, lube-oil system, cooling system, dan beberapa komponen pendukung lainnya.

viii

Gambar 2.2 Turbin gas dan komponen-komponennya

Berikut ini penjelasan tentang komponen utama pada turbin gas: 1. Air Inlet Section. Berfungsi untuk menyaring kotoran dan debu yang terbawa dalam udara sebelum masuk ke kompresor. Bagian ini terdiri dari: 1. Air Inlet Housing, merupakan tempat udara masuk dimana didalamnya terdapat peralatan pembersih udara. 2. Inertia Separator, berfungsi untuk membersihkan debu-debu atau partikel yang terbawa bersama udara masuk. 3. Pre-Filter, merupakan penyaringan udara awal yang dipasang pada inlet house. 4. Main Filter, merupakan penyaring utama yang terdapat pada bagian dalam inlet house, udara yang telah melewati penyaring ini masuk ke dalam kompresor aksial. 5. Inlet Bellmouth, berfungsi untuk membagi udara agar merata pada saat memasuki ruang kompresor. 6. Inlet Guide Vane, merupakan blade yang berfungsi sebagai pengatur jumlah udara yang masuk agar sesuai dengan kebutuhan atau beban turbin. Pada saat Start Up, IGV juga berfungsi untuk mengurangi surge. Pada saat stop dan selama start up, IGV tertutup (pada unit tertentu, posisi IGV 34-48%), kemudian secara bertahap membuka seiring dengan meningkatnya beban turbin. Pada beban turbin tertentu, IGV terbuka penuh (83-92%). Selama stop normal IGV perlahan-lahan ditutup bersamaan dengan turunnya beban, sedangkan pada stop emergency, IGV tertutup bersamaan dengan tertutupnya katup bahan bakar.

ix

2. Compressor Section. Komponen utama pada bagian ini adalah aksial flow compressor, yang berfungsi untuk mengkompresikan udara yang berasal dari inlet air section hingga bertekanan tinggi sehingga pada saat terjadi pembakaran dapat menghasilkan gas panas berkecepatan tinggi yang dapat menimbulkan daya output turbin yang besar. Kapasitas kompresor harus cukup besar karena pasokan udara lebih (excess air) untuk turbin gas dapat mencapai 350 %. Disamping untuk mendapatkan pembakaran yang sempurna, udara lebih ini digunakan untuk pendingin dan menurunkan suhu gas hasil pembakaran. Aksial flow compressor terdiri dari dua bagian yaitu: 1. Compressor Rotor Assembly. Merupakan bagian dari kompresor aksial yang berputar pada porosnya. Rotor ini memiliki 17 tingkat sudu yang mengompresikan aliran udara secara aksial dari 1 atm menjadi 17 kalinya sehingga diperoleh udara yang bertekanan tinggi. Bagian ini tersusun dari wheels, stubshaft, tie bolt dan sudu-sudu yang disusun kosentris di sekeliling sumbu rotor. 2. Compressor Stator. Merupakan bagian dari casing gas turbin yang terdiri dari: Inlet Casing, merupakan bagian dari casing yang mengarahkan udara masuk ke inlet bellmouth dan selanjutnya masuk ke inlet guide vane. Forward Compressor Casing, bagian casing yang didalamnya terdapat empat stage kompresor blade. Aft Casing, bagian casing yang didalamnya terdapat compressor blade tingkat 5-10. Discharge Casing, merupakan bagian casing yang berfungsi sebagai tempat keluarnya udara yang telah dikompresi.

Gambar 2.3 Kompresor Turbin Axial

Gambar 2.4 Kompresor radial dengan diffuser

3. Combustion Section. Disebut pula sebagai ruang bakar. Pada bagian ini terjadi proses pembakaran antara bahan bakar dengan fluida kerja yang berupa udara bertekanan tinggi dan bersuhu tinggi. Hasil pembakaran ini berupa energi panas yang diubah menjadi energi kinetik dengan mengarahkan udara panas tersebut ke transition pieces yang juga berfungsi sebagai nozzle. Fungsi dari keseluruhan sistem adalah untuk mensuplai energi panas ke siklus turbin. Sistem pembakaran ini terdiri dari komponen-komponen berikut yang jumlahnya bervariasi tergantung besar frame dan penggunaan turbin gas. Komponen-komponen pada combustion section adalah : 1. Combustion Chamber, berfungsi sebagai tempat terjadinya pencampuran antara udara yang telah dikompresi dengan bahan bakar yang masuk. 2. Combustion Liners, terdapat didalam combustion chamber yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya pembakaran. 3. Fuel Nozzle, berfungsi sebagai tempat masuknya bahan bakar ke dalam combustion liner. 4. Ignitors (Spark Plug), berfungsi untuk memercikkan bunga api ke dalam combustion chamber sehingga campuran bahan bakar dan udara dapat terbakar. 5. Transition Fieces, berfungsi untuk mengarahkan dan membentuk aliran gas panas agar sesuai dengan ukuran nozzle dan sudu-sudu turbin gas. 6. Cross Fire Tubes, berfungsi untuk meratakan nyala api pada semua combustion chamber. 7. Flame Detector, merupakan alat yang dipasang untuk mendeteksi proses pembakaran terjadi.

xi

Gambar 2.5 Ruang bakar turbin gas

Ruang bakar turbin gas ditempatkan disamping rangka utama turbin, dengan maksud saluran udara dari kompresor dan gas pembakaran menjadi pendek sehingga kerugian aliran kecil. Saluran gas panas ditempat di dalam saluran udara kompresor sehingga tidak membutuhkan isolasi panas yang khusus. Untuk menghindari gumpalan-gumpalan gas panas karena tidak bercampur dengan udara segar, saluran gas dibuat dibelokan 90o dua kali sehingga gas panas dan udara bercampur dengan baik, sebelum masuk turbin. Pengaturan kecepatan udara dari kompresor juga penting, kecepatan udara yang rendah akan mengakibatkan api akan merambat kearah kompresor dan sebaliknya api akan ke luar dari ruang bakar yang mengakibatkan ruang bakar menjadi dingin dan api dapat mati Ruang bakar harus menghemat ruang dan dipasang disekeliling sumbu tengah. Ruang bakar dengan pipa api di dalamnya masing-masing berdiri sendiri sehingga apabila salah satu ruang bakar mati yang lainnya tidak terpengaruh. Dibagian luar ruang bakar terdapat lubang udara primer dan sekunder, nosel bahan-bakar dan penyalanya dan juga terdapat lubang- lubang pendingin. Disini udara pendingin sangat penting untuk menjaga ruang bakar dari temperatur yang terlampau tinggi sehingga gas pembakaran yang mengalir ke turbin juga tidak terlalu tinggi.

Gambar 2.6 Ruang bakar turbin gas dan komponen-komponennya

4. Turbin Section. Turbin section merupakan tempat terjadinya konversi energi kinetik menjadi energi mekanik yang digunakan sebagai penggerak kompresor aksial dan perlengkapan lainnya. Dari kira-kira 60 % daya total yang dihasilkan digunakan untuk memutar kompresornya sendiri, dan sisanya digunakan untuk kerja yang dibutuhkan. Turbin Gas berfungsi untuk membangkitkan energi mekanis dari sumber energi panas yang dihasilkan pada proses pembakaran. Selanjutnya energi mekanis ini akan digunakan untuk memutar generator listrik baik melalui atau tidak melalui xii

perantara Load Gear, sehingga diperoleh energi listrik. Load Gear atau Main Gear adalah roda gigi penurun kecepatan putaran yang dipasang diantara poros Turbin Compressor dengan poros Generator. Komponen-komponen pada turbin section adalah sebagai berikut : 1. Turbin Rotor Case 2. First Stage Nozzle, yang berfungsi untuk mengarahkan gas panas ke first stage turbine wheel. 3. First Stage Turbine Wheel, berfungsi untuk mengkonversikan energi kinetik dari aliran udara yang berkecepatan tinggi menjadi energi mekanik berupa putaran rotor. 4. Second Stage Nozzle dan Diafragma, berfungsi untuk mengatur aliran gas panas ke second stage turbine wheel, sedangkan diafragma berfungsi untuk memisahkan kedua turbin wheel. 5. Second Stage Turbine, berfungsi untuk memanfaatkan energi kinetik yang masih cukup besar dari first stage turbine untuk menghasilkan kecepatan putar rotor yang lebih besar. 5. Exhaust Section. Exhaust section adalah bagian akhir turbin gas yang berfungsi sebagai saluran pembuangan gas panas sisa yang keluar dari turbin gas. Exhaust section terdiri dari beberapa bagian yaitu : (1) Exhaust Frame Assembly, dan (2)Exhaust Stack. Gas keluar dari turbin gas melalui exhaust diffuser pada exhaust frame assembly, lalu mengalir ke exhaust plenum dan kemudian didifusikan dan dibuang ke atmosfir melalui exhaust stack, sebelum dibuang ke atmosfir gas panas sisa tersebut diukur dengan exhaust thermocouple dimana hasil pengukuran ini digunakan juga untuk data pengontrolan temperatur dan proteksi temperatur trip. Pada exhaust area terdapat 18 buah termokopel yaitu, 12 buah untuk temperatur kontrol dan 6 buah untuk temperatur trip.

Gambar 2.7 Gas Turbine Engine

xiii

Adapun beberapa komponen penunjang dalam sistem turbin gas adalah sebagai berikut: 1. Starting Equipment. Berfungsi untuk melakukan start up sebelum turbin bekerja. Jenis-jenis starting equipment yang digunakan di unit-unit turbin gas pada umumnya adalah : 1. Diesel Engine, (PG 9001A/B) 2. Induction Motor, (PG-9001C/H dan KGT 4X01, 4X02 dan 4X03) 3. Gas Expansion Turbine (Starting Turbine) 2. Coupling dan Accessory Gear. Berfungsi untuk memindahkan daya dan putaran dari poros yang bergerak ke poros yang akan digerakkan. Ada tiga jenis coupling yang digunakan, yaitu: 1. Jaw Cluth, menghubungkan starting turbine dengan accessory gear dan HP turbin rotor. 2. Accessory Gear Coupling, menghubungkan accessory gear dengan HP turbin rotor. 3. Load Coupling, menghubungkan LP turbin rotor dengan kompressor beban. 3. Fuel System. Bahan bakar yang digunakan berasal dari fuel gas system dengan tekanan sekitar 15 kg/cm2. Fuel gas yang digunakan sebagai bahan bakar harus bebas dari cairan kondensat dan partikel-partikel padat. Untuk mendapatkan kondisi tersebut diatas maka sistem ini dilengkapi dengan knock out drum yang berfungsi untuk memisahkan cairan-cairan yang masih terdapat pada fuel gas. 4. Lube Oil System. Lube oil system berfungsi untuk melakukan pelumasan secara kontinu pada setiap komponen sistem turbin gas. Lube oil disirkulasikan pada bagian-bagian utama turbin gas dan trush bearing juga untuk accessory gear dan yang lainnya. Lube oil system terdiri dari: 1. Oil Tank (Lube Oil Reservoir) 2. Oil Quantity 3. Pompa 4. Filter System 5. Valving System 6. Piping System 7. Instrumen untuk oil Pada turbin gas terdapat tiga buah pompa yang digunakan untuk mensuplai lube oil guna keperluan lubrikasi, yaitu: Main Lube Oil Pump, merupakan pompa utama yang digerakkan oleh HP shaft pada gear box yang mengatur tekanan discharge lube oil. Auxilary Lube Oil Pump, merupakan pompa lube oil yang digerakkan oleh tenaga listrik, beroperasi apabila tekanan dari main pump turun. Emergency Lube Oil Pump, merupakan pompa yang beroperasi jika kedua pompa diatas tidak mampu menyediakan lube oil. 5. Cooling System. Sistem pendingin yang digunakan pada turbin gas adalah air dan udara. Udara dipakai untuk mendinginkan berbagai komponen pada section dan bearing. Komponen-komponen utama dari cooling system adalah: xiv

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Off base Water Cooling Unit Lube Oil Cooler Main Cooling Water Pump Temperatur Regulation Valve Auxilary Water Pump Low Cooling Water Pressure Swich

2.2.2 Jenis-Jenis Turbin Gas Turbin gas dapat dibedakan berdasarkan siklusnya, kontruksi poros dan lainnya. Menurut siklusnya turbin gas terdiri dari:

Turbin gas siklus tertutup (Close cycle) Turbin gas siklus terbuka (Open cycle)

Perbedaan dari kedua tipe ini adalah berdasarkan siklus fluida kerja. Pada turbin gas siklus terbuka, akhir ekspansi fluida kerjanya langsung dibuang ke udara atmosfir, sedangkan untuk siklus tertutup akhir ekspansi fluida kerjanya didinginkan untuk kembali ke dalam proses awal. Dalam industri, turbin gas umumnya diklasifikasikan dalam dua jenis yaitu :

1. Turbin Gas Poros Tunggal (Single Shaft) Turbin jenis ini digunakan untuk menggerakkan generator listrik yang menghasilkan energi listrik untuk keperluan proses di industri. 2. Turbin Gas Poros Ganda (Double Shaft) Turbin jenis ini merupakan turbin gas yang terdiri dari turbin bertekanan tinggi dan turbin bertekanan rendah, dimana turbin gas ini digunakan untuk menggerakkan beban yang berubah seperti kompresor pada unit proses.

2. 3. Prinsip Kerja PLTG

2.4. Efisiensi 2.5 Maintenance 2.6 Kelebihan dan Kekurangan

xv

2.7 Potensi PLTG di Indonesia Turbin gas kini memegang

peran

penting

di

dalam

pengembangan pusat-pusat pembangkit tenaga listrik yang baru. Peran itu tampaknya masih akan terus berlanjut memasuki abad ke-21 yang akan datang. Dominasi ini disebabkan karena efisiensi termal yang dimiliki turbin gas yang relatif tinggi bila dibandingkan dengan pembangkit berbahan bakar lainnya. Perkembangan yang cepat dari teknologi turbin gas dimulai dari awal 1990-an, dengan mempergunakan gas bumi sebagai bahan bakar akan meningkatkan efisiensi pusat listrik siklus kombinasi (combine cycle) mendekati 60 %. Diprediksi bahwa efisiensi ini masih akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Pada Gambar 4 dijelaskan tentang cara kerja pembangkit listrik berbahan bakar gas. Prinsip kerja PLTG adalah dengan mamanfaatkan tekanan aliran udara ungtuk menggerakkan turbin. Pertama-tama udara dinaikkan tekanannya dengan menggunakan kompresor dan kemudian dibakar di ruang pembakaran untuk meningkatkan energinya. Pembakaran dilakukan dengan menggunakan bahan bakar gas (bisa juga digunakan MFO atau HSDO, tapi dengan efisiensi yang lebih rendah). Udara yang sudah bertekanan tinggi kemudian dialirkan melalui turbin dan menggerakkan generator, sehingga dihasilkanlah listrik. Keuntungan lain menggunakan PLTG adalah gas yang dipakai bisa dibilang lebih mudah untuk disiapkan daripada uap, sehingga PLTG bisa mulai berproduksi dengan cepat dari keadaan dingin dalam hitungan menit, jauh lebih cepat daripada PLTU. Satu hal yang menarik pada PLTG adalah gas yang keluar dari turbin biasanya masih cukup panas. Cukup panas disini dalam artian bila di sebelah PLTG ada sebuah PLTU, maka gas hasil proses di PLTG masih dapat digunakan untuk memanaskan boiler kepunyaan PLTU. Inilah kemudian yang dikenal dengan sebutan siklus kombinasi, sebuah pembangkit yang terdiri dari PLTG dan PLTU. Keuntungan dari pembangkit listrik gabungan ini, PLTGU (gas uap), harga jual listriknya relatif lebih murah bila dibandingkan dengan harga jual listrik PLTU-batubara.

xvi

Apabila Indonesia mampu mengolah dengan baik penggunaan cadangan gas bumi nasionalnya sehingga diperoleh pemasokan gas bumi untuk pembangkit dengan harga yang lebih rendah, maka biaya listrik dari pengoperasian PLTGU akan bisa lebih murah lagi. Selain pembangkitan listrik yang murah, keuntungan lain dari pembangkit listrik berbahan bakar gas bumi adalah emisi CO 2 yang sangat rendah. PLTGU sering disebut sebagai bahan bakar yang bersih sehingga mengakibatkan pencemaran lingkungan yang minimal. Indonesia : dalam hal ini PT PLN (Persero), sekarang ini telah banyak mengoperasikan PLTGU. Dapat dikemukakan bahwa pada saat ini perusahaan Amerika GE (General Electric) berusaha untuk meningkatkan efisiensi PLTGU yang dapat melampaui 60 % dengan mempergunakan siklus kombinasi Kalina, yang mempergunakan suatu campuran dari air (H2O) dan amonia (NH3) sebagai fluida kerja. Teknologi kogenarsi, yang membangkitkan energi listrik dan panas dapat menghasilkan efisiensi yang lebih tinggi lagi bahkan hingga 90 %. Teknologi ini juga sudah dimanfaatkan di beberapa pabrik di Indonesia. Namun kendala utama perkembangan pembangkit ini di

Indonesia adalah pada proses penyediaan bahan bakar gas itu sendiri. Pemeriksaan BPK menemukan bahwa jumlah kebutuhan gas bumi untuk sejumlah pembangkit PLN di Jawa dan Sumatera sebanyak 1.459 juta kaki kubik per hari, sedangkan pasokan gas yang disediakan oleh para pemasok sebanyak 590 juta kaki kubik per hari. Dengan demikian terjadi kekurangan pasokan gas sebanyak 869 juta kaki kubik per hari Menurut data Departemen ESDM, gas bumi di Indonesia di perkirakan hanya mencukupi untuk 61 tahun kedepan. Kemudian cadangan batubara diperkirakan habis dalam waktu 147 tahun lagi, sedangkan cadangan minyak bumi hanya cukup untuk 18 tahun kedepan. Agar mampu mengembangkan PLTGU di Indoneia, permasalahan persaingan penggunaan gas bumi : untuk transportasi, pembangkit listrik-industri dan konsumsi publik (program pemerintah : PT. Pertamina yang menyarankan konversi minyak tanah ke bahan bakar gas untuk memasak dan lain-lain), hal ini harus dapat diatur

xvii

dengan jelas penyediaannya agar tidak menjadi dua hal yang saling kompetitif.

kendala utama perkembangan pembangkit ini di Indonesia adalah pada proses penyediaan bahan bakar gas itu sendiri. Pemeriksaan BPK menemukan bahwa jumlah kebutuhan gas bumi untuk sejumlah pembangkit PLN di Jawa dan Sumatera sebanyak 1.459 juta kaki kubik per hari, sedangkan pasokan gas yang disediakan oleh para pemasok sebanyak 590 juta kaki kubik per hari. Dengan demikian terjadi kekurangan pasokan gas sebanyak 869 juta kaki kubik per hari

xviii