Anda di halaman 1dari 36

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep ISPA 1. Definisi ISPA


Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah proses infeksi akut berlangsung selama 14 hari, yang disebabkan oleh mikroorganisme dan menyerang salah satu bagian, dan atau lebih dari saluran nafas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah), termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga dan pleura (Depkes, 2009). Istilah ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran pernapasan Akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa inggris, Acute Respiratory Infection (ARI). Istlah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dengan pengertian sebagai berikut (Rasmaliah, 2004) : a. Infeksi adalah masuknya kuman atau Mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. b. Saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung hingga Alveoli beserta organ Adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ saluran pernafasan lainnya. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory track).

10

c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA, proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari. Dari beberapa pengertian diatas, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa ISPA adalah proses infeksi akut yang berlangsung selama 14 hari yang diakibatkan oleh masuknya mikroorganisme ke dalam saluran pernafasan yang dapat menyerang satu bagian dan atau lebih dari saluran pernafasan mulai dari saluran nafas bagian atas sampai saluran nafas bagian bawah.

2. Klasifikasi ISPA
Menurut Ngastiyah (2005), klasifikasi ISPA terbagi atas : a. ISPA Ringan : Tandanya : Batuk, pilek, dan kadang disertai demam. b. ISPA sedang (Pneumonia) : Ditandai batuk pilek disertai nafas cepat (lebih dari normal). Tidak normal jika jumlah nafas : 1) Untuk anak usia 2 bulan s/d 1 tahun >50 x/menit 2) Untuk anak usia 1 s/d 5 tahun >40 x/menit c. ISPA Berat (Pneumonia Berat) : Ditandai dengan : Adanya tarikan dinding dada ke dalam.

3. Penyebab ISPA
Infeksi saluran pernafasan akut merupakan kelompok penyakit yang kompleks yang disebabkan oleh berbagai etiologi. Kebanyakan infeksi

11

saluran pernafasan akut disebabkan oleh virus. Penyebab ISPA terdiri dari 300 lebih jenis bakteri, virus dan jamur. Bakteri penyebab ISPA misalnya : Streptokokus, Hemolitikus, Stafilokokus, Pnemokokus, Henofilus Influenza, Bordetella Pertusis, dan Korinebakterium Difteria (Ngastiyah, 2005). Secara umum faktor resiko penyebab ISPA pada anak adalah faktor lingkungan, faktor individu anak, dan faktor perilaku. a. Faktor Lingkungan 1) Rumah 2) Kepadatan hunian (crowded) 3) Status sosial ekonomi 4) Kebiasaan merokok 5) Polusi Udara b. Faktor individu Anak 1) Umur anak 2) Berat Badan Lahir 3) Status Gizi c. Faktor perilaku Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di keluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun anggota keluarga lainnya. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga, satu dengan yang lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa

12

anggota tergantung keluarga mempunyai masalah kesehatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya (Ngastiyah, 2005). Peran aktif keluarga/masyarakat dalam menangani ISPA sangat penting karena penyakit ISPA merupakan penyakit yang ada sehari-hari di dalam masyarakat atau keluarga. Hal ini perlu mendapat perhatian serius oleh kita semua karena penyakit ini banyak menyerang balita, sehingga ibu balita dan anggota keluarga yang sebagian besar dekat dengan balita mengetahui dan terampil menangani penyakit ISPA ini ketika anaknya sakit (Depkes, 2002). Keluarga perlu mengetahui tanda keluhan dini pneumonia dan kapan mencari pertolongan dan rujukan pada sistem pelayanan kesehatan agar penyakit anak balitanya tidak menjadi berat. Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan dengan jelas bahwa peran keluarga dalam praktek penanganan dini ISPA tingkat keluarga yang kurang/buruk akan berpengaruh pada perjalanan penyakit dari yang ringan menjadi bertambah berat (Ngastiyah, 2005).

4. Patofisiologi ISPA
ISPA didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas yang disebabkan oleh bakteri Staphylococus, Haemophylus, Influenzae atau virus dan bakteri yang lain (Ngastiyah, 2005). Dari saluran pernafasan bagian atas kemudian sebagian kuman tersebut masuk ke dalam saluran pernafasan bagian bawah dan

menyebabkan terjadinya infeksi kuman di tempat tersebut, sebagian lagi

13

masuk ke pembuluh darah dan menginfeksi saluran pernafasan dengan gambaran sebagai berikut : (Ngastiyah, 2005). a. Infeksi saluran nafas bagian bawah menyebabkan tiga hal, yaitu dilatasi pembuluh darah alveoli, peningkatan suhu, dan edema antara kapiler dan alveoli. b. Ekspansi kuman melalui pembuluh darah kemudian masuk ke dalam saluran pencernaan dan menginfeksinya mengakibatkan terjadinya peningkatan flora normal dalam usus, peristaltik meningkat akibat usus mengalami malabsorbsi dan kemudian terjadilah diare yang beresiko terhadap gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Masuknya bakteri atau virus ke saluran pernafasan dapat

mengakibatkan peradangan bronkus dan alveoli. Inflamasi bronkus ditandai adanya penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual. Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka komplikasi yang terjadi adalah kolaps alveoli, fibrosis, emfisema dan atelektasis. Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan nafas, sesak nafas dan nafas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan sebagai pelumas yang berfungsi untuk melembabkan rongga pleura. Emfisema (tertimbunnya cairan atau pus dalam rongga paru) adalah tindak lanjut dari pembedahan. Atelektasis mengakibatkan peningkatan frekuensi nafas, hipoksemia, asidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan

14

yang akan mengakibatkan terjadinya gagal nafas. (Rajawana, 2010, Program Pemberantasan ISPA, 2-4 http://www.rajawana.com/jurnalartikel/32-health/429-ispa-pdf diperoleh tanggal 16 Maret 2011).

Inhalasi mikroba dengan jalan : Melalui udara

Aspirasi organisme dari nasofaring Hematogen

Reaksi inflamasi (nyeri dada, panas, demam, anorexia)

Membran paru meradang dan berlubang (pleuritic pain)

RBC, WBC, dan cairan keluar masuk alveoli

sekresi, edema, bronchospasme (dyspnea, sianosis, batuk)

parsial oklusi

daerah paru menjadi padat (konsolidasi)

15

Luas permukaan membran respirasi penurunan rasio ventilasi perfusi

Kapasitas difusi menurun

Hipoksemia

Gambar 2.1 Patofisiologi ISPA


Sumber : (Anonim, 2009, Pneumonia, 1 http://www.infeksi.com, diperoleh pada tanggal 16 Maret 2011).

5. Tanda dan Gejala ISPA


Menurut derajat keparahannya ISPA dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu (Suyono, 2001) :

a. ISPA ringan bukan pneumonia


Gejala ISPA ringan, seorang anak dikatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan gejala sebagai berikut : 1) Batuk 2) Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung 3) Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C atau jika dahi anak diraba dengan punggung tangan terasa panas. Jika anak menderita ISPA ringan maka perawatan cukup dilakukan dirumah tidak perlu dibawa ke dokter atau puskesmas. Di rumah dapat diberi obat penurun panas yang dijual bebas di toko-toko atau apotik tetapi jika dalam 2 hari gejala belum hilang, anak harus segera dibawa ke dokter atau puskesmas terdekat.

16

b. ISPA sedang, pneumonia


Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala ISPA ringan dengan disertai gejala sebagai berikut : 1) Pernafasan lebih dari 50x/menit pada anak umur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40x/menit pada anak satu tahun atau lebih 2) 3) 4) 5) 6) Suhu lebih dari 390C Tenggorokan berwarna merah Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga Pernafasan berbunyi seperti mendengkur Dari gejala ISPA sedang ini, orang tua perlu hati-hati karena jika anak menderita ISPA ringan sedangkan anak badan panas lebih dari 390C, gizinya kurang, umumnya empat bulan atau kurang maka anak tersebut menderita ISPA sedang dan harus mendapat pertolongan petugas kesehatan. 1) 2) Bibir atau kulit membiru Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernafas 3) 4) 5) Anak tidak sadar atau kesadarannya menurun Pernafasan berbunyi mengorok dan anak tampak gelisah Sela iga tertarik kedalam pada waktu bernafas

17

Pasien ISPA berat harus dirawat di rumah sakit atau puskesmas karena perlu mendapat pertolongan dengan peralatan khusus seperti oksigen dan infus.

6. Penatalaksanaan ISPA a. Perawatan ISPA di rumah


Berdasarkan petunjuk dari buku pedoman penatalaksanaan ISPA yang diterbitkan oleh Depkes RI tahun 2006, maka untuk

penatalaksanaannya dapat dilakukan oleh ibu adalah sebagai berikut : 1) Pemberian kompres Pemberian kompres dilakukan bila anak panas atau demam yaitu dimana suhu tubuh lebih tinggi dan suhu normal (36,5 37,50 C), yaitu 37,50 C atau lebih, pada perabaan tubuh anak teraba panas. Upaya penurunan suhu dapat dilakukan baik secara farmakologi atau non farmakologi. Secara farmakologi dapat diberikan antipiretik sedangkan secara non farmakologi dapat dilakukan berbagai metode untuk menurunkan demam seperti metode tepid sponge, kompres dingin, selimut pendingin (selimut hipotermia), penggunaan air conditioner, atau kipas angin. Tepid sponge merupakan tindakan penurunan suhu tubuh yang efektif bagi anak yang mengalami demam tinggi. Berperannya metode tepid sponge dalam menurunkan suhu tubuh berkaitan dengan adanya proses kehilangan panas dari kulit ke lingkungan melalui mekanisme konduksi dan evaporasi. Mekanisme kehilangan panas melalui evaporasi adalah kehilangan

18

panas melalui penguapan yang terjadi secara terus menerus dari fraktus rspiratorius, mukosa mulut dan kulit. Selain dari pemberian kompres beberapa hal yang dapat dilakukan adalah memakaikan anak dengan baju atau selimut yang tipis seperti katun, karena penggunaan pakaian dan selimut yang tebal akan menghambat penurunan panas, mengganti pakaian yang basah karena keringat dengan pakaian kering. 2) Memberikan minuman yang lebih banyak pada anak Anak dengan infeksi pernafasan dapat kehilangan cairan lebih banyak dari biasanya terutama jika anak demam atau muntah dan lain-lain. Anjurkan orang tua untuk memberikan cairan tambahan menmbah pemberian susu buatan, air putih, susu buah, dan lain-lain. Kehlangan cairan akan meningkat selama sakit ISPA terutama jika anak demam dan apabila keadaan ini berlangsung terus menerus dapat mengakibatkan sesak nafas dan demam. Pemberian hidrasi yang adekuat merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan karena demam berkaitan dengan kehilangan cairan dan elektrolit. 3) Istirahat dan tidur Penderita ISPA biasanya mudah letih, lemah dan depresi dalam melakukan aktivitas sebaiknya jangan memberikan aktivitas yang berlebih karena dapat mengurangi kebutuhan energi yang dibutuhkan oleh tubuh, yang pada saat menderita ISPA anak

19

membutuhkan energi untuk mempertahankan kondisi tubuh dalam keadaan yang stabil. 4) Membersihkan jalan nafas Apabila anak terserang ISPA biasanya disertai dengan adanya batuk pilek, sekret yang mengering dan bertumpuk dihidung dapat menghalangi jalan nafas saat anak bernafas. Orang tua sebaiknya membersihkan hidung dan sekret sampai bersih dengan menggunakan kassa bersih atau kain yang lembut dan dibasahi dengan air bersih, untuk mencegah terjadinya iritasi pada kulit. 5) Pemenuhan kebutuhan gizi pada penderita a) Pemberian makan anak selama sakit Penderita ISPA memerlukan gizi atau makanan dengan menu seimbang antara sumber tenaga (karbohidrat), sumber pembangun (protein), dan pengatur (vitamin dan mineral) dengan cukup jumlah dan mutunya atau tinggi kalori tinggi protein (TKTP) yang diberikan secara teratur. b) Pemberian makan setelah sembuh Pada umumnya anak yang sedang sakit hanya bisa makan sedikit, oleh karena itu setelah sembuh usahakan pemberian makanan ekstra setiap satu hari selama satu minggu, atau sampai berat badan anak mencapai normal. Hal ini akan mempercepat anak mencapai tingkat kesehatan semula serta mencegah

20

malnutrisi, malnutrisi akan memperberat infeksi saluran pernafasan dikemudian hari. c) Pemberian makan pada anak muntah Anak yang muntah terus dapat mengalami malnutrisi, ibu harus memberikan makanan pada saat muntahnya reda setiap selesai jangkitan muntah. Usahakan pemberian makanan sedikit demi sedikit tapi sesering mungkin selama anak sakit dan sesudah sembuh. Dengan meneruskan pemberian makanan anak

mencegah kekurangan gizi. Hal ini penting untuk anak dengan ISPA yang akan mengalami penurunan berat badan cukup besar. Hilangnya nafsu makan umumnya terjadi selama infeksi saluran pernafasan. 6) Cara pengobatan Sesuai dengan kebijakan program Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (P2-ISPA) (Depkes RI, 2006). Pada saat ISPA ringan hanya diberikan obat parasetamol jika anak panas atau demam. Jika batuk berikan obat batuk seperti OBH atau obat tradisional yang dianjurkan oleh petugas kesehatan. Misalnya campuran air jeruk nipis dan kecap manis atau madu. Pada pemberian obat ini, jaga agar segala obat yang diberikan oleh dokter atau diberikan oleh puskesmas dimunum dalam jumlah yang tepat pada saat yang tepat. Pemberian obat dengan parasetamol ketentuan :

21

Umur Balita 2 bulan 6 bulan 6 bulan 3 tahun 3 tahun- 5 tahun


Sumber : Depkes RI, 2006.

Takaran Parasetamol yang diberikan 1/8 (seperdelapan tablet) (seperempat tablet) (setengah) tablet

Langkah-langkah pemberian obat dalah sebagai berikut : a) Tentukan dosis yang tepat sesuai dengan umur anak Kortimoksasol 2 kali sehari selama 5 hari tablet dewasa, 180 mg Trimetropin + 400 mg sulfametaksasol. Umur 2 bulan 3 bulan 6 bulan 3 tahun 3 tahun 5 tahun
Sumber : Depkes RI, 2006

Takaran yang diberikan (seperempat) (setengah) 1 (satu)

b) Campurkan tablet antibiotika yang telah digerus dengan makanan untuk mempermudah anak menelannya. Misalnya bubur. Bila anak hanya minum ASI, mintalah ibu mencampurkan puyer dengan ASI secukupnya pada mangkuk yang bersih. c) Persilahkan orang tua untuk mencoba memberikan antibiotik tersebut pada anaknya. Anak biasanya lebih mudah disuapi oleh ibunya. Hal ini merupakan cara untuk memastikan bahwa ibunya sudah bisa memberikan antibiotika sebelum meninggalkan

puskesmas. Jika anak memuntahkan obat yang diminum sebelum setengah jam, ulangi pemberian obat tersebut. d) Mengajarkan rumah kepada orang tua cara memberikan antibiotika di

22

e) Terangkan sejelas-jelasnya berapa banyak antibiotika setiap kali pemberian. Berapa kali sehari, dan kapan (jam berapa) harus diberikan. Buatkan catatan aturan pemakaian itu untuk orang tua. Bila orang tua tidak dapat membaca, buat petunjuk yang sederhana. f) Berilah antibiotika yang cukup untuk 5 hari, jelaskan kepada orang tua bahwa ia harus memberikan antibiotika itu selama lima hari, selesaikan pemberian sampai lima hari penuh, walaupun anak sudah tampak sehat sebelum lima hari. g) Pastikan bahwa orang tua sudah benar-benar mengerti apa yang kita jelaskan. 7) Tindakan mencari pertolongan ke pelayanan kesehatan Tindakan mencari pertolongan kesehatan dengan segera ini, berkaitan dengan keadaan balita dengan adanya tanda-tanda

memburuk atau bahaya yaitu tidak bisa minum, kejang-kejang, kesadaran menurun atau sukar dibangunkan, stridor, gizi buruk, sesak nafas, ada tarikan dinding dada kedalam dan demam. Tanda-tanda ini disebabkan oleh banyak kemungkinan, dibawah ini akan dijelaskan masing-masing tanda tersebut (Depkes RI, 2006) : a) Tidak bisa minum Anak yang tidak dapat minum, artinya apabila anak memang tidak dapat minum sama sekali, termasuk anak yang terlalu lemah untuk minum, waktu diberi cairan tidak mampu untuk menghisap

23

atau menelan atau muntah sehingga tidak ada cairan yang bisa masuk. b) Kejang kejang, kesadaran menurun Anak yang menderita pneimonia, jika mengalami kejang kejang atau kesadaran menurun dapat disebabkan oleh

kekurangan oksigen dan meningitis. c) Stridor Stridor adalah inspirasi yang berasal dari saluran pernafasan Ekstratorak, kadang kadang terdengar pula pada waktu ekspirasi. d) Gizi buruk Anak dengan gizi buruk mempunyai resiko tinggi untuk sakit dan meninggal karena pneumonia. Hambatan pertumbuhan atau penurunan berat badan selama sakit ISPA harus dicatat dan ibu dianjurkan untuk menambah pemberian makanan selama

pemulihan sampai mencapai berat badan yang normal. e) Sesak nafas Menghitung frekuensi sesak nafas dilakukan dengan

pengukuran waktu (jam) yang berbunyi setelah satu menit (60 detik). Frekuensi nafas menurut golongan umur : Bila anak umur < 2bulan 2 bulan - < 12 bulan 1 tahun 5 tahun
Sumber : Depkes RI, 2006.

Anak bernafas cepat jika frekuensi nafasnya 60x/ menit atau lebih 50x/ menit atau lebih 40x/ menit atau lebih

24

f)

Ada tarikan dinding dada kedalam Anak menunjukan gejala tarikan dinding dada kedalam jika dinding pada bagian bawah tertarik masuk waktu anak menarik nafas. Tarikan dinding dada ke dalam terjadi apabila waktu bernafas.

g) Anak tampak sangat mengantuk Anak yang tampak sangat mengantuk, lebih banyak tidur pada waktu yang seharusnya dia terjaga. Tatapan anak tampak hampa/kosong dan mungkin tridak melihat. h) Teraba demam atau sangat dingin Demam sangat umum terjadi pada anak dengan infeksi saluran pernafasan. Ukur suhu tubuh, jika lebih dari 380C, berarti anak demam. Jika kurang dari 35,50C berarti dibawah suhu (hypotermi), jika tidak ada termometer, raba badan anak apakah panas atau sangat dingin, kadang kadang tangan dan kaki dingin karena selimutnya kurang menutup. Bila kaki atau betis teraba dingin menunjukan anak hypotermi (sangat dingin).

b. Pencegahan ISPA
Keadaan gizi dan keadaan lingkungan emrupakan hal yang penting bagi pencegahan ISPA. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah ISPA adalah : 1) Mengusahakan agar anak mempunyai gizi yang baik

25

2)

Bayi harus disusui sampai usia dua tahun karena ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi

3) 4)

Beri bayi makanan padat sesuai dengan umurnya Pada bayi dan anak, makanan harus mengandung gizi cukup yaitu mengandung cukup protein (zat putih telur), karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral

5)

Makanan yang bergizi tidak berarti makanan yang mahal. Protein misalnya dapat diperoleh dari tempe dan tahu, karbohidrat dari nasi atau jagung, lemak dari kelapa atau minyak sedangkan vitamin dan mineral dari sayuran dan buah-buahan

6)

Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk mengetahui apakah beratnya sesuai dengan umurnya dan perlu diperiksa apakah ada penyakit yang menghambat pertumbuhan.

c. Mengusahakan kekebalan anak dengan imunisasi


Agar anak memperoleh kekebalan dalam tubuhnya anak perlu mendapatkan imunisasi yaitu DPT (Depkes RI, 2002). Imunisasi DPT salah satunya dimaksudkan untuk mencegah penyakit pertusis yang salah satu gejalanya adalah infeksi saluran nafas.

d. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan


Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit ISPA, sebaiknya perilaku yang tidak mencerminkan berbagai penyakit. Perilaku ini dapat dilakukan melalui upaya

26

memperhatikan rumah sehat, desa sehat dan lingkungan sehat (Suyono, 2001).

e. Pengobatan segera
Apabila anak sudah positif terserang ISPA, sebaiknya orang tua tidak memberikan makanan yang dapat merangsang rasa sakit pada tenggorokan, misalnya minuman dingin, makan yang mengandung vetsin atau rasa gurih, bahan pewarna, pengawet dan makanan yang terlalu manis. Anak yang terserang ISPA, harus segera dibawa ke dokter. ISPA merupakan penyakit penyebab kematian tertinggi pada Balita. Kriteria penderita ISPA dalam penatalaksanaannya adalah Balita dengan gejala batuk, pilek, kesukaran bernafas serta sudah ada tarikan dinding dada kedalam. ISPA tersebut banyak terjadi pada Balita dikarenakan Balita masih rentan terhadap penyakit dan daya tahan tubuhnya masih kurang (Prabu, 2008, faktor resiko ispa pada balita, 4, http://putraprabu.wordspress.com, diperoleh tanggal 15 Februari 2011).

B. Konsep Balita
Balita adalah anak dengan usia dibawah 5 tahun dengan karakteristik pertumbuhan yakni pertumbuhan cepat pada usia 0-1 tahun dimana umur 5 bulan BB naik 2x BB lahir dan 3x BB lahir pada umur 1 tahun dan menjadi 4x pada umur 2 tahun. Pertumbuhan mulai lambat pada masa pra sekolah kenaikan BB kurang lebih 2 kg/ tahun, kemudian pertumbuhan konstan mulai berakhir. (Soetjiningsih, 2002).

27

Balita diharapkan tumbuh dan berkembang dalam keadaan sehat jasmani, sosial dan bukan hanya bebas dari penyakit dan kelemahan. Masalah kesehatan balita merupakan masalah nasional, menginggat angka kesakitan dan angka kematian pada balita masih cukup tinggi. Angka kesakitan mencerminkan keadaan yang sesungguhnya karena penyebab utamanya berhubungan dengan faktor lingkungan antara lain; asap dapur, penyakit infeksi dan pelayanan kesehatan. Salah satu faktor penyebab kematian maupun yang berperan dalam proses tumbuh kembang balita yaitu ISPA, penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Untuk itu kegiatan yang dilakukan terhadap balita antara pemeriksaan perkembangan dan pertumbuhan fisiknya, pemeriksaan perkembangan

kecerdasan, pemeriksaan penyakit infeksi, imunisasi, perbaikan gizi dan pendidikan kesehatan pada orang tua. Periode usia ini disebut juga sebagai usia prasekolah, yaitu sebagai berikut : 1. Perkembangan fisik a. Di awal balita, pertambahan berat badan Balita merupakan singkatan bawah lima tahun, satu periode usia manusia dengan rentang usia dua hingga lima tahun, ada juga yang menyebut dengan periode usia prasekolah. Pada fase ini anak berkembang dengan sangat pesat. b. Pada periode ini, balita memiliki ciri khas perkembangan menurun disebabkan banyaknya energi untuk bergerak.

28

2. Perkembangan Psikologis a. Dari sisi psikomotor, balita mulai terampil dalam pergerakanya

(lokomotion), seperti berlari, memanjat, melompat, berguling, berjinjit, menggenggam, melempar yang berguna untuk mengelola keseimbangan tubuh dan mempertahankan rentang atensi. b. Pada akhir periode balita kemampuan motorik halus anak juga mulai terlatih seperti meronce, menulis, menggambar, menggunakan gerakan pincer yaitu memegang benda dengan hanya menggunakan jari telunjuk dan ibu jari seperti memegang alat tulis atau mencubit serta memegang sendok dan menyuapkan makanan kemulutnya, mengikat tali sepatu. Dari sisi kognitif, pemahaman tehadap obyek telah lebih ajeg. Kemampuan bahasa balita tumbuh dengan pesat. Pada periode awal balita yaitu usia dua tahun kosa kata rata-rata balita adalah 50 kata, pada usia lima tahun telah menjadi diatas 1000 kosa kata. Pada usia tiga tahun balita mulai berbicara dengan kalimat sederhana berisi tiga kata dan mulai mempelajari tata bahasa dari bahasa ibunya. Upaya pencegahan terjadinya ISPA dapat dilakukan dengan cara meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat dilingkungan rumah, sedangkan faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut berkaitan erat dengan pengetahuan dan sikap terhadap penyakit ISPA itu sendiri. Oleh karena itu, pencegahan ISPA oleh ibu-ibu yang mempunyai anak Balita ISPA sangat penting untuk menurunkan angka kematian pada Balita, upaya tersebut salah satunya melalui penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan (Depkes RI, 2003).

29

C. Konsep Penyuluhan Kesehatan 1. Definisi Penyuluhan Kesehatan a. Penyuluhan kesehatan adalah suatu kegiatan atau usaha untuk
menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu (Notoatmodjo, 2005).

b. Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan


dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu, dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungan dengan kesehatan (Fitriani, 2011). Dari kedua pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penyuluhan kesehatan adalah upaya untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada perseorangan atau masyarakat untuk mengubah perilaku kesehatan melalui proses pendidikan.

2. Tujuan Penyuluhan Kesehatan


Menurut Notoatmodjo (2005), tujuan penyuluhan kesehatan adalah sebagai berikut :

a. Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam melihat dan


meningkatkan kesehatan.

b. Terbentuknya perilaku sehat yang sesuai dengan konsep hidup sehat


baik fisik, mental dan sosial sehingga menurunkan angka kesakitan dan kematian.

30

3. Proses Penyuluhan Kesehatan


Prinsip pokok penyuluhan adalah belajar (Notoatmodjo 2003). Didalam kegiatan belajar terdapat tiga persoalan pokok yakni persoalan masukan (input), proses dan persoalan keluaran (output). Persoalan masukan dalam penyuluhan kesehatan adalah menyangkut sasaran belajar (sasaran didik) yaitu individu, kelompok atau masyarakat yang sedang belajar itu sendiri dengan berbagai latar belakangnya. Persoalan proses adalah mekanisme dan interaksi terjadinya perubahan kemampuan (perilaku) pada diri subjek tersebut. Didalam proses ini terjadi pengaruh timbal balik, pengajar dan materi atau bahan yang dipelajari. Sedangkan keluaran adalah merupakan hasil belajar itu sendiri, yaitu berupa kemampuan atau perubahan perilaku dari subjek belajar. Proses kegiatan belajar tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Input (subjek belajar)

Proses belajar

Output (hasil belajar)

Bagan 2.1 Proses Belajar


Sumber : Soekidjo Notoatmodjo (2003)

4. Metode Penyuluhan Kesehatan


Penyuluhan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarkat, kelompok atau individu. Dengan adanya pesan tersebut maka diharapkan masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan

31

yang lebih baik. Pengetahuan tersebut akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku (Notoatmodjo, 2003). Di bawah ini akan diuraikan beberapa metode penyuluhan yaitu (Fitriani, 2011) :

a. Metode penyuluhan individual (perorangan), bentuknya antara lain


bimbingan dan interview (wawancara).

b. Metode penyuluhan kelompok


1) Kelompok Besar Yang dimaksud kelompok disini adalah apabila peserta penyuluhan itu lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok besar ini antara lain : ceramah dan seminar. 2) Kelompok Kecil Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya kita sebut sebagai kelompok kecil. Metode-metode yang cocok untuk kelompok kecil antara lain : a) Diskusi kelompok b) Curah pendapat (brain storming) c) Bola salju (snow balling) d) Kelompok-kelompok kecil (bruzz group) e) Memainkan peran (role play) f) Permainan simulasi (simulation game)

32

c. Metode penyuluhan massa / publik


Metode penyuluhan (pendekatan) masa untuk mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat yang sifatnya masa / publik. Maka cara yang paling tepat adalah pendekatan masa, pada umumnya bentuk pendekatan ini tidak langsung, biasanya menggunakan atau melalui media masa. Beberapa contoh metode ini, antara lain : 1) Ceramah umum (public speaking) 2) Pidato-pidato atau diskusi tentang kesehatan melalui media

elektronik, baik TV maupun radio. 3) Tulisan-tulisan di majalah atau Koran, baik dalam bentuk artikel maupun Tanya jawab atau konsultasi tentang kesehatan. 4) Billboard, yang dipasang dipinggir jalan, spanduk, poster, dan sebagainya. Contohnya : Ayo ke Posyandu

5. Media / Alat Peraga Penyuluhan Kesehatan


Alat peraga ini disusun berdasarkan prinsip bahwa pengetahuan yang ada pada setiap manusia diterima atau dianggap melalui panca indera. Semakin banyak indera yang digunakan untuk menerima sesuatu maka semakin banyak dan semakin jelas pula pengertian atau pengetahuan yang diperoleh. Dengan kata lain, alat peraga ini dimaksudkan untuk

mengerahkan indera sebanyak mungkin kepada suatu objek, sehingga mempermudah resepsi. Macam-macam alat bantu peraga penyuluhan (Maulana, 2009) :

33

a. Pembagian alat peraga secara umum :


1) alat bantu lihat (Visual aids) : alat yang diproyeksikan dan alat yang tidak diproyeksikan. 2) alat bantu dengar (Audio aids) : piringan hitam, radio, tape, dan CD. 3) Alat bantu dengar dan lihat : TV, film dan video.

b. Pembagian alat peraga berdasarkan fungsinya :


1) Media cetak : Buklet, Leaflet, Flyer (selebaran), Flip chart (lembar balik), Rubrik atau tulisan tulisan pada surat kabar atau majalah yang membahas tentang kesehatan, poster, foto yang mengungkap informasi kesehatan. 2) Media elektronik : televisi, radio, video, slide, film strip. 3) Media papan (billboard) 4) Media liburan

c. Pembagian alat peraga berdasarkan pembuatan dan penggunaannya :


1) Alat peraga yang complicated (rumit), seperti film, film strip slide dan sebagainya yang memerlukan listrik dan proyektor. 2) Alat peraga yang sederhana, yang mudah dibuat sendiri contohnya, leaflet, poster, spanduk, flannel graph, flif chart, boneka wayang dan sebagainya.

6. Tahapan Pelaksanaan Pembelajaran Penyuluhan Kesehatan a. Penyampaian tujuan pembelajaran b. Penyampaian materi belajar c. Penggunaan metode belajar

34

d. Penggunaan alat bantu belajar e. Pelaksanaan evaluasi belajar 7. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan penyuluhan (Fitriani, 2011) : a. Faktor penyuluh
1) Persiapan 2) Penguasaan materi 3) Penamplan 4) Penguasaan bahasa 5) Intonasi 6) Cara penyampaian

b. Faktor sasaran
1) Tingkat pendidikan 2) Tingkat sosial ekonomi 3) Kepercayaan dan adat 4) Kondisi lingkungan

c. Faktor proses penyuluhan


1) Pilihan waktu 2) Tempat 3) Jumlah sasaran 4) Alat peraga 5) Metode

35

8. Implementasi Penyuluhan Kesehatan


Perawat perlu fleksibel dalam mengimplementasikan berbagai rencana perbaikan. pengajaran, Petunjuk karena yang perencanaan dapat mungkin membutuhkan ketika

membantu

perawat

mengimplementasikan rencana pengajaran (Notoatmodjo, 2003) adalah :

a. Waktu yang optimal untuk masing-masing sesi bergantung pada klien


yang belajar.

b. Kecepatan dari setiap sesi juga mempengaruhi belajar. c. Keadaan lingkungan dapat menurunkan atau membantu belajar. d. Alat bantu mengajar dapat membantu perkembangan belajar dan
membantu memfokuskan perhatian klien.

e. Jika menemukan sendiri isi atau substansi, klien akan belajar lebih
efektif.

f. Melakukan pengulangan. g. Materi yang tidak diketahui ke yang diketahui dan hubungan dilihat
secara logis.

h. Menggunakan bahasa orang awam dapat meningkatkan komunikasi.


Penyuluhan kesehatan bisa meningkatkan pengetahuan seseorang terhadap suatu penyakit. Bila seorang ibu mempunyai pengetahuan yang baik tentang penyakit ISPA maka ibu dapat memilih alternatif yang terbaik bagi anaknya dan cenderung memperhatikan hal-hal penting tentang perawatan anaknya. Ibu akan memenuhi kebutuhan gizi dan memodifikasi lingkungan yang sehat sehingga dapat mendukung terhadap upaya penanganan anak yang sedang sakit.

36

Sebaiknya jika ibu tidak mempunyai pengetahuan maka cenderung ibu kurang memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan usaha penanganan anak yang sedang sakit (Notoatmodjo, 2003).

D. Konsep Dasar Pengetahuan 1. Definisi


Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakuakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan adalah suatu usaha yang mendasari seseorang berfikir secara ilmiah sedangkan tingkatannya tergantung pada ilmu pengetahuan atau dasar pendidikan orang tersebut (Nursalam 2003). Menurut Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo (2003), pengetahuan dan sikap seseorang terhadap kesehatan merupakan salah satu faktor predisposisi yang mempengaruhi prilaku seseorang. Jadi jika seorang ibu tidak pernah mendapat informasi tentang ISPA maka akan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku ibu terhadap apa yang harus dilakukan terhadap anaknya jika menderita ISPA. Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, maka pengetahuan

adalah sesuatu yang didapatkan melalui pengamatan indrawi dengan cara melihat, mendengar, dan merasakan terhadap objek yang ingin diketahuinya,

37

dan pengetahuan merupakan hasil dan kegiatan seseorang baik berupa penginderaan ataupun pengenalan informasi pada waktu sebelumnya sehingga menjadi ingatan di waktu sekarang dan masa yang akan datang.

2. Indikator pengetahuan terhadap kesehatan


Menurut Notoatmodjo (2003), indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan, dapat dikelompokan menjadi : a. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit b. Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat c. Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan

3. Faktor yang mempengaruhi Tingkat Pengetahuan


Menurut Notoatmodjo (2003), perubahan tingkat pengetahuan seseorang dapat terjadi karena adanya faktor komunikasi yang merupakan proses pengoperasian rangsangan/stimulus dalam bentuk lambing atau simbol bahasa atau gerak. Selanjutnya Notoatmodjo (2003) membagi faktor komunikasi tersebut ke dalam empat bentuk yaitu: a. Komunikasi interpersonal, adalah komunikasi di dalam diri sendiri, terjadi apabila seseorang memikirkan masalah yang sedang atau telah dihadapinya. Komunikasi ini berkaitan erat dengan pengalaman yang dialami oleh diri sendiri. Komunikasi interpersonal terjadi apabila seseorang melakukan pertimbangan-pertimbangan sebelum mengambil tindakan atau keputusan.

38

b. Komunikasi tatap muka, adalah komunikasi yang paling efektif karena antara komunikan dan komunikator dapat langsung tatap muka, sehingga informasi yang disampaikan komunikan langsung dapat direspon pada saat itu juga. Komunikasi antar pribadi adalah bahasa, baik lisan (melalui mulut) maupun tulisan. Komunikasi tatap muka dapat terjadi dalam bentuk pemberian informasi dari orang lain yang mempunyai pengalaman atau yang telah mengetahui tentang sesuatu hal sebelumnya, baik melalui bimbingan dan penyuluhan, wawancara, ceramah, seminar, ataupun tukar pengalaman antar pribadi. c. Komunikasi media massa, adalah komunikasi dengan menggunakan saluran media massa seperti : media cetak, media elektronik, papan nama, spanduk dan yang lainnya. Melalui media massa, komunikasi yang bertujuan untuk memberikan informasi tentang suatu hal sebagai stimulus bagi penerima agar mendapatkan respon. d. Komunikasi organisasi, adalah komunikasi yang terjadi di antara organisasi, institusi, atau lembaga. Komunikasi organisasi juga dapat terjadi di antara unit organisasi itu sendiri, seperti antar bagian, antar seksi, atau antar sub bagian, antar departemen, dan sebagainya. Bentuk komunikasi yang sering digunakan dalam program kesehatan guna terutama untuk promosi kesehatan untuk upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat adalah komunikasi tatap muka dan komunikasi media massa.

39

4. Tingkatan pengetahuan dalam domain kognitif


Dalam Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : a. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang pernah dipelajari sebelumnya termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dan seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, sebagainya. b. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan

menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap suatu objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap suatu materi yang dipelajarinya. c. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi nyata. Aplikasi disini dapat

40

diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lainnya. d. Analisis (Analysis) Analisis diartikan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu organisasi dan ada ikatan satu dengan yang lainnya. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dan penggunaan kala kerja, seperti

menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokan dan sebagainya. e. Sintesis (Sinthesis) Sintesis merupakan kemampuan untuk meletakan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumus-rumus yang telah ada. f. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu mated atau objek. Penilaian-penilaian itu didasari pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

41

5. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang


Menurut Notoatmodjo (2003), faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang antara lain: a. Pendidikan Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula

pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Dalam penelitian ini pendidikan dikategorikan menjadi pendidikan tinggi (PT/Akademi) dan pendidikan rendah (SD/SLTP/SLTA). b. Massa Media / Informasi Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti

42

televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan kepercayaan orang. Dalam penelitian ini informasi dikategorikan menjadi informasi yang berasal dari media cetak/elektronik dan petugas kesehatan. c. Sosial ekonomi Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang. Dalam penelitian ini sosial ekonomi dikategorikan menjadi sosial ekonomi tinggi (pendapatan 1.100.000) dan sosial ekonomi rendah (pendapatan 1.100.000). d. Lingkungan Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu. Lingkungan dikategorikan menjadi perumahan biasa dan kawasan industri. e. Usia Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin

43

membaik. Pada usia madya, individu akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca. Kemampuan intelektual, pemecahan masalah, dan

kemampuan verbal dilaporkan hamper tidak ada penurunan pada usia ini. Usia diambil dari rata-rata responden, sehingga kategori usia terdiri dari usia < 25 tahun dan usia > 25 tahun. f. Pengalaman Pengalaman diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang. g. Keyakinan Keyakinan diperoleh secara turun temurun dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. Keyakinan ini bias mempengaruhi

pengetahuan seseorang, baik yang positif maupun yang negatif. h. Jenis kelamin Dalam Womens Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa jenis kelamin adalah suatu konsep kultural yang berupa membuat perbedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang di masyarakat.

44

i.

Pekerjaan Pengetahuan seseorang yang bekerja biasanya lebih baik dari pada yang tidak bekerja karena seseorang yang bekerja diluar rumah (sektor formal) memiliki akses yang lebih baik terhadap berbagai informasi termasuk informasi mengenai kesehatan (Depkes RI (2001). Dalam penelitian ini faktor yang akan diteliti hanya usia, pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, sosial ekonomi, lingkungan dan informasi.

6. Proses penerapan ilmu pengetahuan


Menurut Notoatmodjo (2003) dalam Sari (2009) bahwa suatu pesan yang diterima oleh individu akan melalui lima tahap antara lain: a. Awareness (kesadaran) Kesadaran adalah keadaan dimana seseorang sadar bahwa ada suatu pesan yang disampaikan. b. Interest (merasa tertarik) Seseorang mulai tertarik akan isi pesan yang disampaikan c. Evaluation (Menimbang-nimbang) Tahap dari penerima pesan mulai mengadakan penilaian keuntungan dkerugian dari isi pesan yang disampaikan. d. Trial (mencoba) Tahap dari penerima pesan mencoba mempraktekan dan melaksanakan isi pesan dalam kehidupan sehari-hari.