Anda di halaman 1dari 56

MALARIA PADA ANAK

Dr.H.Tatang A.Hidajat,Sp.A
SMF Anak RSU Mataram
A. PENDAHULUAN :

• Indonesia (SKRT) 2001 : 15 juta kasus, 38.000 kematian setiap tahun.


• 35% penduduk tinggal di daerah resiko tertular malaria.
• Dari 293 Kabupaten / Kota, 167 Kab/Kota merupakan daerah endemis.
• Tahun 1997 s/d 2004 terjadi peningkatan kasus.
• Daerah dengan kasus malaria tinggi : Prop. Papua, NTT, Maluku,
Maluku Utara, dan Sulawesi Tenggara.
• Cukup tinggi : Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Sumatera Selatan,
Bengkulu, dan Riau.
• Tahun 1997-2005 : KLB malaria di 38 propinsi, meliputi 47
Kabupaten/Kota dengan jumlah kasus 32.987 dan 599 kematian.
• Case Fatality Rate (CFR) malaria berat :10-50%.
B. DEFINISI :
• Penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit
plasmodium yang hidup dan berkembang biak
dalam sel darah manusia. Secara alami ditularkan
melalui gigitan nyamuk Anopheles betina.
Spesies plasmodium pada manusia :
1. P. Falciparum : penyebab malaria tropica
2. P. Vivax : penyebab malaria tertiana
3. P. Ovale : penyebab malaria ovale
4. P. Malariae : penyebab malaria malariae
C. MASA INKUBASI :
Waktu sejak sporozoit masuk sampai timbulnya
gejala
klinis, yang ditandai demam.
• P. Falciparum : 9 – 14 (12) hari
• P. Vivax : 12 - 17 (15) hari
• P. Ovale : 16 - 18 (17) hari
• P. Malariae : 18 - 40 (28) hari
LINGKARAN HIDUP :
2. Dalam tubuh manusia :
Parasit berkembang secara asexual ( schizogoni ).
Sporozoit yang dimasukan kedalam tubuh manusia oleh
nyamuk, masuk kedalam peredaran darah dan setelah ½
jam bersarang dihati dan membentuk siklus pre-eritrosit :
trofozoit  schizont  merozoit. Siklus ini berlangsung
beberapa hari dan tidak menimbulkan gejala. Merozoit
sebagian masuk kembali kedalam hati meneruskan siklus
ekso-eritrosit, sebagian masuk kedalam aliran darah
(eritrosit) untuk memulai siklus eritrosit : merozoit 
trofozoit muda (bentuk cincin)  trofozoit tua  schizont 
schizont pecah  merozoit memasuki eritrosit baru.
Sebagian merozoit memulai dengan gametogoni
membentuk mikro dan makrogametosit. Siklus tersebut
disebut masa tunas intrinsik.
2. Dalam tubuh nyamuk :

Berkembang secara seksual (sporogoni). Dalam lambung


nyamuk makro dan mikrogametosit berkembang menjadi
makro dan mikro-gamet yang akan membentuk zygote,
disebut ookinet. Ookinet menembus dinding lambung
nyamuk membentuk ookista yang membentuk banyak
sporozoit.
Sporozoit dilepaskan dan masuk kedalam kelenjar liur
nyamuk. Siklus tersebut disebut masa tunas ektrinsik.
Cara infeksi dapat melalui gigitan nyamuk atau melalui
transfusi darah.
GEJALA PATOLOGIK / KLINIK :
2. Masa tunas intrinsik berahir dengan timbulnya serangan
demam pertama. Serangan demam yang khas terdiri atas
3 stadium : a. stadium ferigoris (menggigil) ; b. stadium
acme (puncak demam) ; c. stadium sudoris (berkeringat
banyak, suhu turun). Serangan demam berbeda-beda
sesuai dengan jenis malaria.
Kekambuhan dapat bersifat : a. Rekrudensi (short term
relapse) : timbul karena marasit malaria dalam eritrosit
menjadi banyak. Timbul beberapa minggu setelah penyakit
sembuh . b. Rekuren (long term relapse) karena parasit
ekso-eritrosit masuk kedalam darah dan menjadi banyak.
Biasanya timbul 6 bulan setelah penyakit sembuh.
2. Hipertrofi dan hiperplasi sistim retikuloendotelial
menyebabkan limpa membesar. Sel makrofag
bertambah dan dalam darah terdapat monositosis.
3. Anemia dapat terjadi oleh karena: a. Eritrosit
ysng diserang hancur pada sporulasi. b. Derajat
fagositosis RES meningkat, akibatnya banyak
eritrosit hancur.
D. DIAGNOSIS :

• Dengan pemeriksaan laboratorium (Mikroskopik,


Tes diagnostik cepat) : Menemukan parasit
malaria pada sediaan darah tepi. Sediaan dibuat
sebaiknya pada waktu demam.
• Tanpa pemeriksaan laboratorium.
I. Anamnesis :

Pada anamnesis sangat penting diperhatikan :

a. Keluhan utama : demam menggigil dan dapat disertai sakit


kepala, mual, muntah, diare, dan nyeri otot atau pegal-
pegal.

b. Riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 minggu yang lalu ke


daerah endemik malaria.
c. Riwayat tinggal di daerah endemik malaria.
d. Riwayat sakit malaria.
e. Riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir.
f. Riwayat mendapat transfusi darah.
g. Gejala klinis pada anak dapat tidak khas.
Untuk penderita tersangka malaria berat, dapat disertai satu atau
lebih :
a. Gangguan kesadaran dalam berbagai derajat.
b. Kelemahan umum.
c. Kejang-kejang
d. Panas sangat tinggi
e. Mata atau tubuh kuning
f. Pendarahan hidung, gusi, atau saluran pencernaan
g. Nafas cepat dan atau sesak nafas
h. Muntah terus menerus
i. Tidak dapat makan minum
j. Warna air seni seperti teh tua sampai kehitaman
k. Jumlah air seni kurang (Oliguria) sampai tidak ada (Anuria)
l. Telapak tangan sangat pucat
II. PEMERIKSAAN FISIK :
• Demam (perabaan atau pengukuran dengan termometer)
• Pucat pada conjungtiva palpebrae atau telapak tangan.
• Pembesaran limpa (Splenomegali).
• Pembesaran hepar (Hepatomegali).

Pada malaria berat dapat ditemukan satu atau lebih tanda klinis
berikut :
• Temperatur aksila ≥40°C.
• Tekanan darah sistolik <70 mmHg pada dewasa dan pada
anak- anak <50 mmHg.
• Nadi cepat dan lemah / kecil.
• Frekuensi nafas >35 x per menit pada orang dewasa atau >40
x per menit pada balita, anak di bawah 1 tahun >50 x per
menit.
6. Manifestasi perdarahan (petekie,purpura,hematoma).
7. Tanda dehidrasi (mata cekung,turgor dan elastisitas kulit
berkurang,
bibir kering, produksi air seni berkurang)
8. Tanda-tanda anemia berat (konjungtiva pucat, telapak tangan
pucat,
lidah pucat, dll)
9. Terlihat mata kuning / Ikterik.
10. Adanya ronki pada kedua paru.
11. Pembesaran limpa dan atau hepar.
12. Gagal ginjal ditandai dengan Oliguria sampai dengan Anuria.
13. Gejala Neurologi (kaku kuduk, reflek patologik).

Catatan : Penderita malaria berat harus segera dirujuk untuk


mendapat kepastian diagnosis secara mikroskopik dan penanganan
III. PEMERIKSAAN LABORATORIUM :
1. Pemeriksaan mikroskopik :
- Pemeriksaan darah tebal dan tipis.
- Bila pemeriksaan pertama negatip,diperiksa ulang setiap 6
jam selama 3 hr berturut-turut.
- Bila hasil pemeriksaan 3 hr berturut-turut tidak ditemukan
parasit maka diagnosis malaria disingkirkan.
2. Tes diagnostik lain :
a. HRP 2 (Histidin Rich Protein) yang diproduksi oleh
trofozoit, skizon,dan gametosit muda P.Falciparum.
b. Enzym parasit lactate dehydrogenase (p-LDH) yang
diproduksi oleh parasit bentuk aseksual atau seksual
( gametocyt).
MANIFESTASI MALARIA BERAT PADA ANAK :
• Koma (malaria serebral )
• Distres pernafasan.
• Hipoglikemia (sebelum terapi kina)
• Anemia berat.
• Kejang umum yang berulang.
• Asidosis metabolik.
• Kolaps sirkulasi,syok hipovolemia,hipotensi (tek.sistolik <50
mmHg)
• Gangguan kesadaran selain koma.
• Kelemahan yang sangat.
• Hiperparasitemia.
• Ikterus.
• Hiperpireksia (Suhu > 41°).
13.Hemoglobinuria (blackwater fever).
14.Perdarahan spontan.
15.Gagal ginjal.

Komplikasi terbanyak pada anak :


-Hipoglikemia (sebelum pengobatan kina).
-Anemia berat.
Keterangan :
- Anemia berat (Hb<5gr%,Ht<15%)sering pada anak umur1-2th
- Gula darah <40mg% lebih sering pada anak <3th.

Catatan : Penderita mal.falciparum ringan (malaria tanpa kompli


kasi)dapat menjadi berat (dengan komplikasi)kalau tidak diobati
secara dini dan adekuat.
PEMERIKSAAN PENUNJANG UNTUK MALARIA BERAT :

2. Hemoglobin dan hematokrit.


3. Hitung jumlah lekosit,trombosit.
4. Kimia darah lain (gula darah,serum bilirubin, SGOT
& SGPT,alkali fospatase, albumin/globulin,ureum,
kreatinin,natrium dan kalium, analisa gas darah).
4. EKG
5. Foto toraks
6. Analisa cairan serebrospinal
7. Biakan darah
8. Urinalisis.
DIAGNOSA BANDING :
2. Malaria ringan (malaria tanpa komplikasi)
a. Demam tifoid
b. Demam Dengue
c. ISPA
d. Leptospirosis ringan/ anikterik
e. Infeksi virus akut lainnya
2. Malaria berat (malaria dengan komplikasi)
a. Radang otak e. Leptospirosis berat
b. Stroke f. Glomerulonefritis akut
c. Tifoid encefalopati g. Sepsis
d. Hepatitis h. Demam berdarah dengue atau
DSS
PENGOBATAN :

Penata laksanaan kasus malaria meliputi :

1. Pemberian obat anti malaria


2. Pengobatan pendukung
3. Pengobatan komplikasi
PENGOBATAN MALARIA TANPA KOMPLIKASI:
2. Pengobatan malaria falsiparum tanpa komplikasi
Lini pertama :tablet artesunat+tablet amodiakuin +t.primakuin

Jumlah tablet perhari menurut kelompok umur


Hari Jenis obat 0-2 bl 2 – 11 1– 4 5–9 10-14 ≥15
bl th th th th
Artesunat ¼ ½ 1 2 3 4

1. Amodiakuin ¼ ½ 1 2 3 4

Primakuin *) *) ¾ 1½ 2 2-3
Artesunat
¼ ½ 1 2 3 4
2.
Amodiakuin ¼ ½ 1 2 3 4
Artesunat ¼ ½ 1 2 3 4
3.
Amodikuin ¼ ½ 1 2 3 4
Komposisi obat :
Artesunat :50 mg/tablet,Amodiakuin:200 mg/tablet≈153
amodiakuin base/tablet.Primakuin 1 tablet berisi 25mg
garam/tablet setara dengan 15 mg basa.

Dosis menurut berat badan :


Artesunat : 4 mg/kg BB /hari
Amodiakuin : 10 mg basa/kg BB/hari
Primakuin : 0,75 mg/kg BB/hari

Bila terjadi gagal pengobatan lini pertama maka diberikan


pengobatan lini kedua sbb :
Pengobatan lini kedua untuk malaria falsiparum

Jumlah tablet perhari menurut


kelompok umur
Hari Jenis obat
0- 10- ≥15t
1-4th 5-9th
11bl 14th h

Kina *) 3x½ 3x1 3x1½ 3x2

Tetrasiklin/
1. - - - - 4x1
Doksisiklin

Primakuin - ¾ 1½ 2 2-3

Kina *) 3x½ 3x1 3x1½ 3x2


2-7
Tetrasiklin/
- - - - 4x1
Doksisiklin
Keterangan :

3. *) Kina : 1 tablet kina sulfat mengandung 200 mg kina garam.


4. Pemberian kina pada anak usia < 1 th harus berdasarkan berat
badan.Dosis kina : 30 mg/kgBB/hari (dibagi 3 dosis).
5. Doksisisiklin tidak diberikan pada anak usia<8 th.
6. Dosis Doksisiklin untuk anak usia 8-14 th :2 mg/kgBB/hari.
7. Bila tidak ada Doksisiklin dapat diberikan Tetrasiklin.
8. Dosis Tetrasiklin:25-50 mg/kgBB/4 dosis/hari atau 4x1(250 mg)
selama 7 hari.Tetrasiklin tidak boleh diberikan pada anak
usia<12 bln dan ibu hamil.
9. Primakuin tidak boleh diberikan pada ibu hamil dan anak
usia<1 th.
10.Dosis Primakuin : 0,75 mg/kgBB,dosis tunggal.
Penggunaan pengobatan lini kedua berdasarkan kriteria sbb:
2. Penderita sudah menyelesaikan pengobatan lini pertama
(3 hari).
3. Pada waktu periksa ulang hari 4 atau hari 5 sampai 28
penderita belum sembuh atau kambuh.
Penderita dikatakan tidak sembuh bila :
- Penderita tetap demam atau gejala klinik tidak membaik
yang disertai parasitemia aseksual.
- Penderita tidak demam atau tanpa gejala klinis
lainnya,tetapi ditemukan parasitemia aseksual.
Bila dalam pengobatan lini pertama kemudian dijumpai
tanda2 klinis darurat sbb : tidak dapat
makan/minum,tidak sadar,kejang,muntah
berulang,sangat lemah(tidak dapatduduk/berdiri) maka
penderita harus dikelola sebagai malaria berat atau
dirujuk dan tidak diberikan obat lini kedua.
Pengobatan malaria vivaks/malaria ovale.

Jumlah tablet menurut kelompok umur


(dosis tunggal)
Hari Jenis obat
2- 1- 5- 10- ≥15t
0-1bl
11bl 4th 9th 14th h

Klorokuin ¼ ½ 1 2 3 3-4
H1
Primakuin - - ¼ ½ ¾ 1
Klorokuin ¼ ½ 1 2 3 3-4
H2
Primakuin - - ¼ ½ ¾ 1
Klorokuin 1
/8 ¼ ½ 1 1½ 2
H3
Primakuin - - ¼ ½ ¾ 1
H4-14 Klorokuin - - ¼ ½ ¾ 1
Perhitungan dosis berdasarkan berat badan untuk Pv / Po :
-Klorokuin : hari I & II = 10 mg/kgbb,hari ke III = 5 mg/kgbb.
-Primakuin : 0,25 mg/kgbb/hari,selama 14 hari.
Kriteria penggunaan pengobatan kasus malaria vivaks resisten
klorokuin :
* Penderita sudah menyelesaikan pengobatan klorokuin 3 hari.Pada
waktu periksa ulang hari ke 4 atau hari ke 7 sampai 14 penderita
belum sembuh
* Penderita dikatakan tidak sembuh (resisten thd klorokuin) bila
dalam kurun waktu 14 hari :
- Penderita tetap demam atau gejala klinis tidak membaik
disertai
parasitemia aseksual.
- Penderita tidak demam atau tanpa gejala klinis lainnya,tapi
ditemukan parasitemia aseksual.
Pengobatan malaria vivaks/ovale resisten klorokuin .

Jumlah tablet perhari menurut


kelompok umur
Hari Jenis obat
0- 2- 1- 5- 10- ≥
1bl 11bl 4th 9th 14th 15th

3
H1-7 Kina *) *) 3x½ 3x1 3x2
x1½

H1-
Primakuin - - ¼ ½ ¾ 1
14

Dosis berdasarkan berat badan : Kina 30 mg/Kgbb/hari


(dibagi 3 dosis).Primakuin 0,25 mg/kgbb.
Pengobatan malaria vivaks / malaria ovale yang
kambuh (relaps)

Lama Jumlah tablet perminggu menurut kelompok


pemberian umur
Jenis obat
dalam 10- ≥15t
minggu 0-1bl 2-11bl 1-4th 5-9th
14th h

8-12*) Klorokuin ¼ ½ 1 2 3 3-4

Primakuin**
8-12*) - - ¾ 1½ 2¼ 3
)

*Pemberian klorokuin dan primakuin 1 kali setiap


minggu,lama pengobatan selama 8 minggu.
**Dosis primakuin 0,75 mg/kgBB.
Kriteria penggunaan pengobatan kasus malaria
vivaks/ovale resisten klorokuin.

1. Penderita sudah menyelesaikan pengobatan


klorokuin dan primakuin.
2. Pada waktu periksa ulang hari 14 sampai 28
penderita kambuh.

Penderita dikatakan kambuh bila dalam kurun waktu 14 – 28 hari


:
- Penderita tetap demam atau gejala klinis tidak membaik yang
disertai parasitemia aseksual.
- Penderita tidak demam atau tanpa gejala klinis lainnya,tetapi
ditemukan parasitemia aseksual.
Pengobatan malaria klinis

Pengobatan malaria klinis dilakukan didaerah


yang belum memungkinkan untuk pemeriksaan
laboratorium baik dengan mikroskopik maupun
dengan RDT.

Pengobatan malaria klinis terdiri dari 2 regimen


pengobatan yaitu : Pengobatan lini pertama yang
menggunakan klorokuin dengan primakuin dan
pengobatan lini kedua yang menggunakan kina
dan primakuin tablet.
Pengobatan lini pertama malaria klinis :

Jumlah tablet perhari menurut kelompok umur


Hari Jenis obat
0-1 bl 2-11bl 1-4th 5-9th 10-14th ≥ 15th

Klorokuin ¼ ½ 1 2 3 3-4*)
H1
Primakuin - - ¾ 1½ 2 2-3**)

H2 Klorokuin ¼ ½ 1 2 3 3-4*)

H3 Primakuin 1/8 ¼ ½ 1 1½ 2
Keterangan :

*) Bila perkiraan berat badan <50 kg,diberikan 3


tablet klorokuin
bila >50 kg diberikan 4 tablet klorokuin.

**)Bila perkiraan berat badan <50 kg,diberikan 2


tablet primakuin
bila >50 kg diberikan 3 tablet primakuin.
Pengobatan lini pertama malaria klinis berdasarkan
berat badan ***)

H1 H2 H3

Klorokuin
10 mg/kg bb 10 mg/kg bb 5 mg/kg bb
basa

0,75 mg/kg
Primakuin - -
bb

Keterangan :
***)Pemberian dosis obat untuk bayi harus berdasarkan
B.B
Primakuin tidak boleh diberikan pada bayi.
Pemantauan :
2. Apabila pada hari ke 4 setelah pengobatan lini
per- tama penderita tetap demam,tetapi tidak
memburuk (tidak berkembang menjadi malaria
berat ),didaerah yang sulit mendapatkan
pemeriksaan laboratorium maka pengobatan
malaria klinis diulangi dengan kina selama 7 hari
dan primakuin 1 hari (pengobatan lini kedua).
3. Bila ada 1 atau lebih tanda-tanda bahaya selama
pengobatan,penderita segera dirujuk untuk
mendapat kepastian diagnosis dan penanganan
selanjutnya (bila tempat rujukan sulit
dicapai,penderita diberikan 1 dosis kina parenteral
10 mg/kgbb im ).
3. Tanda-tanda bahaya tersebut adalah :

a. tidak dapat makan/minum.


b. tidak sadar.
c. kejang.
d. muntah berulang.
e. sangat lemah (tidak dapat duduk/berdiri).
Pengobatan lini kedua malaria
klinis
Julah Tablet Per Hari Menurut Kelompok Umur
Jenis
Hari
obat 10- ≥15
0-1 bl 2-11bl 1-4 th 5-9 th
14th th
3x
H 1-7 Kina *) *) 3x½ 3x1 3x2

Primakui
H1 - - ¾ 1½ 2 2-3
n

Keterangan :
*) Dosis untuk bayi (0-11) harus berdasarkan berat badannya.
- Satu tablet kina sulfat mengandung 200 mg kina garam.
- Dosis berdasarkan berat badan : - kina 30mg/kgbb/hari (dibagi 3 dosis).
- Primakuin 0,75 mg/kgbb, dosis tunggal.
Pemantauan : apabila pada hari ke 4 setelah pengobatan lini kedua,
penderita tetap demam,segera dirujuk untuk mendapatkan kepastian
diagnosis.
PENGOBATAN MALARIA BERAT

Penatalaksanaan kasus malaria berat


meliputi :

1. Tindakan umum.
2. Pengobatan simptomatik.
3. Pemberian obat anti
malaria.
4. Pengobatan komplikasi.
PEMBERIAN OBAT ANTI MALARIA :
Obat anti malaria pilihan untuk malaria berat adalah :
• Lini pertama : derivat artemisin parenteral.
• Lini kedua : kina parenteral.

Lini pertama : Artesunat injeksi atau artemeter injeksi.


Artesunat injeksi untuk penggunaan di Rumah Sakit atau
Puskesmas perawatan. Artemeter injeksi untuk penggunaan
dilapangan atau Puskesmas yang tidak menyediakan artesunat
injeksi.

Dosis dan cara pemberian Artesunat injeksi.


Sediaan : 1 ampul berisi 60 mg serbuk kering asam
artesunik,dilarutkan dalam 0,6 natrium bikarbonat 5% diencerkan
dalam 3 -5 cc D5%.
Loading dose : 2,4 mg/kg bb IV diikuti 1,2 mg/kg bb IV pada jam
ke 12 jam dan 24, selanjutnya 1,2 mg/kg bb IV setiap hari sampai
hari ke 7.
Bila penderita sudah dapat minum obat, ganti dengan artesunat
oral.

Dosis dan cara pemberian Artemeter injeksi :


Sediaan : 1 ampul berisi 80 mg Artemeter.
Artemeter injeksi diberikan secara intramuskuler, selama 5 hari.
Dosis dewasa : dosis inisial 160 mg (2 ampul)im pada hari ke
1,diikuti 80 mg (1 ampul)im pada hari ke 2 s/d ke 5.
Dosis untuk anak tergantung berat badan yaitu :
Hari pertama : 3,2 mg/kgbb/hari.
Hari II – V : 1,6 mg/kgbb/hari
Lini kedua : kina per-infus :
Kina perinfus masih merupakan obat pilihan untuk
malaria berat. Kemasan garam kina HCl 25 % injeksi, 1
ampul berisi 500 mg / 2 ml.
Pemberian antimalaria prarujukan ;
Apabila tidak memungkinkan pemberian kina per-infus
maka dapat diberikan Kinin antipirin 10 mg/kgbb intra
muskular (dosis tunggal).
Cara pemberian kina perinfus :
Dosis anak-anak : Kina HCL 25 % (perinfus) dosis 10
mg/kgbb (bila umur < 2 bulan : 6-8 mg/kgbb) diencerkan
dengan Dektrosa 5% atau NaCL 0,9 % sebanyak 5-10
cc/kgbb diberikan selama 4 jam,diulang setiap 8 jam
sampai penderita sadar dan dapat minum obat.
CATATAN :

- Kina tidak boleh diberikan secara bolus intra vena


karena toksik bagi jantung dan dapat menimbulkan
kematian.
- Maksimum pemberian kina IV 3 hari. Apabila setelah
3
hari penderita masih belum sadar dan pemasangan
NGT
memungkinkan maka diberikan tablet kina melalui
NGT
sampai hari ke 7 sejak diberikan kina yang pertama.
- Apabila tidak ada perbaikan klinis setelah pemberian 48 jam
kina parenteral maka dosis rumatan kina diturunkan ½ nya dan
lakukan pemeriksaan parasitologi serta evaluasi klinik terhadap
kemungkinan diagnosis lain.

- Bila sudah sadar/dapat minum obat pemberian kina IV diganti dg


kina tablet peroral dengan dosis 10 mg/kgbb/kali,pemberian 3 x
sehari (dengan total dosis 7 hari dihitung sejak pemberian kina
perinfus yang pertama).

- Pada hari pertama pemberian kina oral, diberikan juga 1 dosis


primakuin (0,75 mg/ kgbb). Anak umur < 1 th dan ibu hamil tidak
boleh diberikan primakuin.
- Apabila kina tidak dapat diberikan perinfus, maka dapat
diberikan intra muskuler dengan masing-masing ½
dosis
pada paha depan(jangan diberikan pada bokong).
Sebaiknya untuk pemakaian kina intra muskuler, kina
di-
encerkan dengan garam faali(NaCl 0,9% untuk
mendapat
kan konsentrasi 60 - 100 mg/ml.
- Dosis maksimum dewasa : 2.000 mg/hari.
- Untuk mencegah terjadinya hipotensi postural hindari
posisi badan tegak.
- Mengingat adanya keterbatasan sarana maupun tenaga ahli
di Puskesmas/RS,maka untuk beberapa kasus malaria berat
yang memerlukan perawatan/pengobatan dengan fasilitas
tertentu (misal : hemo/peritoneal dialisis,transfusi tukar dll)
yang tidak tersedia pada fasilitas pelayanan pengobatan
tersebut sebaiknya dirujuk ke RS tingkat yang lebih tinggi
(yang mempunyai fasilitas lebih lengkap).

- Hendaknya hal ini tidak dijadikan alasan yang berlebihan


untuk selalu merujuk pasien malaria berat.
Setelah pemberian Artemeter inj/drip bila pasien telah sadar
dapat diberikan pengobatan oral dengan ACT.
PROGNOSIS DAN RUJUKAN
1. Prognosis malaria berat tergantung kecepatan dan ketepatan
diagnosis serta pengobatan.
3. Pada malaria berat yang tidak ditanggulangi, maka mortalitas
yang dilaporkan pada anak – anak 15 %.
4. Prognosis malaria berat dengan kegagalan satu fungsi organ
lebih baik dari pada kegagalan 2 fungsi organ.

Semua penderita malaria berat sebaiknya ditangani di RS Kabupaten.


Bila fasilitas maupun tenaga di RS Kabupaten kurang memadai,misal untuk
penderitayang memerlukan fasilitas dialisis yang tidak tersedia di RS
Kabupaten maka sebainya dirujuk ke RS Provinsi.
CARA MERUJUK

4. Setiap merujuk penderita harus disertakan surat


rujukan yang berisitentang diagnosis,riwayat
penyakit,pemeriksaan dan tindakan/ pengobatan
yang sudah diberikan .
5. Apabila dibuat sediaan darah malaria, harus dibawa
ketempat rujukan.
PENGOBATAN PENCEGAHAN ( KEMOPROPILAKSIS ) :
Kemopropilaksis bertujuan untuk mengurangi resiko terinfeksi
Malaria dan apabila terinfeksi gejala klinisnya tidak berat.
Obat yg dipakai terutama bekerja pada siklus
eritrositer.Obatmalaria
yang dipakai untuk pencegahan penyakit malaria di Indonesia
adalah :

• Klorokuin : untuk Plasmodium vivax.


Pencegahan dilakukan dengan minum klorokuin 5
mg/kgBB/minggu diminum satu minggu sebelum masuk
kedaerah endemis sampai 4 minggu setelah kembali.
Walaupun pada dosis pencegahan obat ini aman digunakan
untuk jangka waktu2 – 3 tahun namun dianjurkan tidak
menggunakan klorokuin tidak lebih dari3 – 6 bulan. Efek samping
yang mungkin
Dosis Pengobatan Pencegahan Dengan
Klorokuin

Jumlah tablet klorokuin (dosis


Golongan umur tunggal )
(tahun)
(frekwensi 1 x seminggu )

<1 ¼

1–4 ½

5–9 1

10 – 14 1½

> 15 2
2. Doksisiklin :

- Digunakan untuk Plasmodium falciparum


- Doksisiklin dapat digunakan untuk daerah
P.Falciparum resisten klorokuin.
- Dosis Doksisiklin 1,5 mg/kg BB/hari selama
tidak lebih 4 – 6 minggu, dan tidak dapat
< 8 th
dan ibu hamil.
400 gigitan
nyamuk Anopheles

200 menginfeksi
manusia

100 malaria klinis

2 – 6 % malaria berat