Anda di halaman 1dari 40

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Kesehatan merupakan hak dasar yang dimiliki manusia dan menentukan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia, disamping itu juga merupakan karya Tuhan yang perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya serta dilindungi dari ancaman yang merugikan. Derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor : lingkungan, perilaku kesehatan dan keturunan, perilaku sehat adalah perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, serta berperan aktif dalam gerakan masyarakat (Depkes, 2002). Kesehatan reproduksi dikalangan wanita harus memperoleh perhatian yang sarius salah satunya adalah keputihan yaitu masalah yang berhubungan dengan organ seksual wanita. Keputihan biasanya disebabkan oleh jamur atau virus bakteri dan tentu saja masalah ini amat mengganggu penderita. Karena biasanya wanita akan mengeluarkan aroma yang tidak sedap dari organ intinya selain juga merasa gatal yang sering mengganggu. (Sarwono, 2007). Sering kali wanita merasa mampu mengenali sendiri bahwa sedang menderita keputihan tanpa merasa perlu memeriksakan diri kedokter. Akan tetapi apabila wanita merasa terganggu dirinya, berganti celana beberapa kali sehari, lebih-lebih bila keputihan itu disertai rasa gatal dan nyeri, vagina kemerahan dan lendir berubah warna maka yang dihadapi itu adalah suatu keadaan patologis yang perlu pemeriksaan 4 penanganan yang seksama. 1

2 Tetapi apabila lendir berwarna bening, tidak gatal dan tidak berbau, terjadi hanya pada masa subur yaitu kurang lebih 12-14 hari setelah menstruasi, setelah berhubungan seksual ini merupakan keputihan yang fisiologis. dan untuk mengatasi keputihan tentu saran pertama adalah dengan menjaga kesehatan dan kebersihan di daerah vagina. (Derek Llewellyn, 2005) Keputihan juga bisa terjadi tanda awal dari penyakit yang lebih berat. dari vaginal candidiasis, gonorrhea, chlanydc, kemandulan hingga kanker. Keputihan yang tidak segera diobati akan menimbulkan komplikasi penyakit radang panggul yang berlarut-larut dan dapat menyebabkan kemandulan (infertilitas) karena kerusakan dan tersumbatnya saluran telur. Data penelitian tentang penelitian kesehatan reproduksi wanita menunjukkan 75% wanita didunia pasti menderita keputihan paling tidak sekali seumur hidup dan 45% diantaranya bisa mengalami sebanyak dua kali atau lebih (Pribakti B, 2010) Keputihan adalah gejala awal dari kanker mulut rahim, dimana sedikitnya 231.000 wanita diseluruh dunia meninggal akibat kanker leher rahim, dan dari jumlah itu 50% jumlah akan meninggak (Pdf. tpociid). Penyebab lain dari keputihan adalah penggunaan pakaian ketat dan atau celana terbuat dari bahan sintersis. Apalagi jika dibiarkan dalam keadaan basah, misalnya pakaian yang dipakai setelah berolah raga akan mengundang pertumbuhan jamur, begitu juga dengan penggunaan spray dan deodoran genitalia harus diwaspadai karena rentan mengubah keamanan vagina. Setelah itu kelelahan dan stress juga bisa memicu keputihan.

3 Berdasarkan latar belakang diatas, masih banyak ibu-ibu yang tidak mengetahui tentang keputihan dan bagaimana cara menanganinya. Hal itulah yang membuat penulis merasa tertatik untuk melakukan penelitian tentang Tingkat Pengetahuan Ibu Mengenai Keputihan di Praktek Dr. Herbert Sihite, SpOG

1.2.

Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan permasalahan dalam

penelitian ini adalah Bagaimana Tingkat pengetahuan Ibu Mengenai Keputihan di Praktek Dr. Herbert Sihite, SpOG Juli 2011

1.3.

Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang keputihan di Praktek Dr. Herbert Sihite, SpOG. 1.3.2. Tujuan Khusus
1.

Untuk mengetahui pengetahuan ibu mengenai keputihan di

Praktek Dr. Herbert Sihite, SpOG berdasarkan umur.


2.

Untuk mengetahui pengetahuan ibu mengenai keputihan di

Praktek Dr. Herbert Sihite, SpOG berdasarkan pendidikan.


3.

Untuk mengetahui pengetahuan ibu mengenai keputihan di

Praktek Dr. Herbert Sihite, SpOG berdasarkan sumber informasi.


4.

Untuk mengetahui pengetahuan ibu mengenai keputihan di

Praktek Dr. Herbert Sihite, SpOG berdasarkan lingkungan.

4 1.4. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Meningkatkan pengetahuan dan menerapkan ilmu yang telah didapatkan di perkuliahan selama proses belajar-mengajar. 2. Bagi Ibu Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan pengetahuan ibu, khususnya tentang keputihan. 3. Bagi Pembaca Menambah ilmu penghetahuan dan wawasan bagi pembaca khususnya tentang keputihan.

5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Pengetahuan 2.1.1. Defenisi Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan masih diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoatmodjo, 2007) 2.1.2. Proses Adopsi Perilaku Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang menghadapi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :
1. Awareness (Kesadaran), yakni orang tersebut menghadapi dalam

arti mengetahui Simulus (objek) terlebih dahulu.


2. Interest, yakni orang menulai tertarik kepada stimulus.

3. Evaluation (menimbang nimbang baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya).


4. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru. 5. Adoption,

Subjek

telah

berperilaku

baru

sesuai

dengan

pengetahuan, kesadaran dan sikap terhadap stimulus.

6 Namun demikian, dari penelitian selanjutnya proses menyimpulan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap tahap diatas. (Notoatmodjo, 2007) 2.1.3. Tingkat Pengetahuan di Dalam Domain Kognitif Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai yaitu :
1. Tahu (Know)

6 tingkatan,

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) suatu yang spesifik dari selisih bahan yang dipelajari atau ransangan yang telah diterima.
2. Memahami (Comprehention)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat

mengintopretasikan materi tersebut secara benar.


3. Aplikasi (Application)

Aplikasi diarikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situai atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi ini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukumhukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

7
4. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkatian dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaianpenilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada. 2.1.4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan 2.1.4.1. Umur Menurut Notoatmodjo (2003), umur adalah variabel yang selalu diperhatikan dalam penyelidikan-penyelidikan

epidemologi angka-angka kesakitan maupun kematian didalam hamper semua menunjukkan hubungan dengan umur. Umur adalah lamanya seseorang hidup dihitung dari lahirnya sampai dengan ulang tahunnya terakhir. (Zaluchu, 2006)

8 2.1.4.2. Pendidikan Pendidikan adalah upaya agar masyarakat berperilaku atau menghadapi pelilaku kesehatan dengan cara persuasi, bujukan, bawaan, ajakan, memberikan informasi,

memberikan kesardaran dan sebagainya, melalui kegiatan yang disebut pendidikan atau promosi kesetaha.

(Notoatmodjo, 2007). Pendidikan berperan penting dalam menentukan kualitas hidup manusia. Dengan pendidikan manusia akan

dianggap memperoleh pengetahuan, aplikasinya, semakin tinggi pendidikan maka hidup manusia akan semakin berkualitas dari yang tidak tahu menjadi tahu dan tidak mampu menjadi mampu (Notoatmodjo, 2003). 2.1.4.3. Sumber Informasi Sumber informasi adalah sarana yang menyampaikan pesan-pesan atau informasi bagi masyarakat. Berdasarkan fungsinya sebagai penyalur pesan-pesan kesehatan, media ini dibagi menjadi tiga, yaitu : Media Cetak seperti Koran, Media Elektronik seperti TV, Radio dan Tenaga Kesehatan. (Notoatmodjo, 2007) 2.1.4.4 Lingkungan Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar manusia. Pengaruh ini yang mempengahui kehidupan dan perkembangan manusia. (Nasrul Efendi).

9 2.2. Keputihan 2.2.1. Defenisi Keputihan Keputihan merupakan keluarnya getah yang berlehihan dari vulva (biasanya lendir) dapat dijumpai pada waktu ovulasi, waktu menjelang dan sesudah haid, ransangan seksual (Manuaba, 2007). Keputihan adalah gejala penyakit yang ditandai oleh keluarnya cairan dari organ reproduksi dan bukan berupa darah (Pribakti B, 2010). Keputihan dapat disertai atau sejak diutarakan, tetapi jika dilakukan pembilasan, sekret vagina akan terlihat daya jamur. Tanda lain yang tampak pada keputihan adalah lendir putih yang berlebihan, dapat berupa gumpalan seperti keju dan tidak berbau. (Tripod.com) Keputihan adalah keluarnya secret atau cairan dari vagina yang berlebihan, selain kental berwana, disertai keluhan gatal dan berbau juga yang disebabkan kuman, bakteri, jamur atau infeksi campuran dan ini merupakan suatu keadaan yang abnormal (Patologis). Keputihan yang normal biasanya tidak berwarna tidak gatal dan tidak berbau. (Dr. Handrawa, 2010) 2.2.2. Faktor Penyebab Keputihan dapat diakibatkan oleh : 1. Bakteri Biasanya diakibatkan oleh bakteri Savdnerelk dan keputihan disebut bakterial vaginasis dengan ciri-ciri cairan encer dengan warna putih keabu-abuan. Keputihan akibat bakteri ini biasanya punah pada saat kehamilan, gonta-ganti pasangan, pengguna KB spiral atau IUD.

10 2. Jamur Umumnya disebabkan oleh jamur candida, terutama candida albicans yang menginfeksi secara supertisial atau teralokasi. Keputihan dapat disertai gejala atau tanpa ada gelaja yang dirasakan. Tetapi jika dilakukan penbiakan secret vagina akan terlihat adanya jamur cancida spp. 3. Virus Keputihan yang diakibatkan oleh virus biasanya bawaan dari penyakit HIV, AIDS, condylome, herpes dan lain-lain yang biasanya memicu munculnya kanker rahim. 4. Parasit Keputihan akibat parasit diakibatkan oleh parasit Trichomonas vaginalis yang menular dari kontak seks dengan cairan yang berwarna kuning hijau kental dengan bau tidak sedap dan berasa. (Elmanan M, 2011) 2.2.3. Mencegah Keputihan Untuk mencegah terjadinya keputihan maka kaum hawa harus selalu menjaga kebersihan alat kelamin luar. Upaya ini sangat penting dalam upaya mencegah keputihan dan juga mencegah PMS. Seperti diketahui kulit daerah kelamin dan sekitarnya harus diusahakan agar tetap bersih dan kering. keadaan ini dapat dicapai dengan mengeringkan kulit dengan handuk atau tisu baik berkeringat atau setelah buang air. Dan sebaiknya jangan terlalu sering melakukan Douche (mencuci/membilas) vagina yang normal dan dapat mematikan bakteri alamiah dalam vagina. (Dr. Pribakti B, 2010)

11 2.2.4. Etiologi Keputihan Keputihan Fisiologis pada perempuan normalnya hanya ditemukan pada daerah portio vagina. sekret patologi biasanya terdapat pada dinding lateral dan anteria vagina. Keputihan fisiologis ditentukan pada :
1. Bayi baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari yaitu akibat

pengaruh hormon estrogen ibu terdapat rahim dari vagina janin, saat janin masih didalam kandungan.
2. Perempuan dewasa apabila ia diransang waktu senggama.

3. dan pada wanita yang mengalami haid yang pertama kali. Keputihan patologis disebabkan karena : 1. Alergi keadaan, sehingga terjadi iritasi
2. Jamur : candida albicons, virus : virus hepes dan human papiloma

virus (HPU). cairan antiseptik untuk mandi, pembesih vagina, celana dalam yang terlalu ketat dan tidak menyerap keringatm kertas tissue toilet yang berwarna. 3. Benda asing disaluran vagina 4. Radiasi 5. Stress (Dr. Handrawan N, 2010) 2.2.5. Patogenesis Keputihan Banyak variasi warna konsistensi dan jumlah dari sekret vagina. Beberapa perempuan mempunyai sekret vagina yang banyak sekali. Dalam keadaan normal cairan yang keluar dari vagina tidak berbau, sel-sel vagina yang terlepas dan

12 mucus serviks yang bervariasi karena kontrasepsi jenis oral, siklus menstruasi, umur serta kehamilan. Dan didalam alat genetikal wanita terdapat mekanisme pertahanan tubuh berupa bakteri yang menjaga kadar keasaman PH vagina, dimana normal kearaman pada vagina berkisar 3,8 4,2. Dan pada level ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain. (Pribakti B, 2010) 2.2.6. Penatalaksanaan Dari Keputihan 1. Jagalah kebersihan dengan selalu mebasuh daerah

kemaluan dengan air bersih. Jangan terlalu sering menggunakan produk pembersih vagina. 2. Biasakan membasuh dari arah depan kebelakang sesudah

buang air kecil atau besar. Ini mencegah vagina tercemar dari organisme yang berasal dari dari anus.
3.

Hindari pemakaian celana dalam yang ketat terlalur sering,

terutama yang terkuat dari bahan nilon. Memakai pakaian dalam yang tidak menghambat sirkulasi udara. Hindari pakaian dari bahan spandex atau sinteks. Pilih yang terkuat dari bahan katun dan bahan lain yang membuat kulit bernafas bebas. 4. Hindari terlalu sering menggunakan tissue toilet (khususnya

yang wangi) setiap buang air kecir atau besar. 5. Jagalah kesetahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan

yang sehat dan bervariasi. (El manan M, 2011)

13 2.3. Kerangka Konsep Kerangka konsep merupakan model yang menggambarkan kemampuan peneliti dalam penelitian yang terwujud. Pengetahuan ibu mengenai keputihan Fisiologis dan patologis di Praktek Dr. Herbert, SpOG, adalah sebagai berikut : Umur Pendidikan Sumber Informasi Lingkungan

Tingkat Pengetahuan ibu mengenai keputihan

Keterangan : : Variabel Independent / Mempengaruhii : Variabel Dependent / Dipengaruhi

14 BAB III METODE PEBNELITIAN

3.1

Jenis dan Rancangan Penelitian


3.1.1

Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini bersifat deskriptif adalah suatu metode penelitian yang disebutkan dengan mendiskripsikan atau menggambarkan suatu fenomena yang terjadi didalam masyarakat. Metode penelitian deskriptif digunakan pada situasi sekarang. 3.1.2 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian merupakan inti utama dari sebuah penelitian. Racnangan penelitian ini dilakukan secara cross sectional yaitu suatu penelitian yang dilakukan secara pendekatan, observasi, wawancara dan kuesioner yang dibagikan kepada responden dalam waktu bersamaan. (Zaluchu, 2006).

3.2

Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian Lokasi yang menjadi tempat penelitian ini adalah di Praktek Dr. Herbert Sihite,

SpOG. 3.2.2 Waktu Penelitian Waktu penelitian ini dimulai dari juli 2011.

14

15 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Populasi adalah Ibu-ibu yang datang ke Praktek Dr. Herbert Sihite, SpOG Juli 2011. 3.3.2 Sampel Sampel yang digunakan adalah menggunakan teknik convesional sampling yaitu metode yang menggunakan subjektifitas peneliti. Dimana peneliti menilai bahwa subjektifitas memenuhi kriteria, dimanan kriteria yang dimaksud adalah bahwa peneliti menemukan jawaban dari semua responden hampir sama dan peneliti sudah merasa jenuh dan peneliti merasa sampel penelitian sudah terpenuhi, maka pengambilan sampel dihentikan.

3.4

Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data diambil sendiri oleh peneliti dalam bentuk survey dengan

menggunakan instrument (kuesioner) kepada responden. Peneliti memberikan penjelasan kepada responden tentang cara pengisian kuesioner tentang cara pengisian kuesioner, jika ibu-ibu sudah mengerti maka penulis dapat memberikan kuesioner kepada mereka. Setelah itu peneliti mengumpulkan kembali kuesioner tersebut berupa pengetahuan ibu mengenai keputihan Fisiologis dan Patologis di Praktek Dr. Herbert Sihite, SpOG.

3.5

Defenisi Operasional

16
1.

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh ibu-ibu

tentang keputihan yang dinilai oleh peneliti dari jawaban lewat kuesioner. 2. Pendidikan adalah jenjang pendidikan terakhir yang telah

diselesaikan ibu. 3. Umur adalah lamanya seseorang dihitung dari tahun lahir sampai

dengan ulang tahun terakhir 4. Sumber informasi adalah keterangan atau berita yang diperoleh ibu

baik tenaga kesehatan, media elektronik dan media cetak 5. Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar manusia,

pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan manusia.

3.6

Aspek Pengukuran
3.6.1

Aspek Pengukuran Pengetahuan.

Dilakukan terhadap pengetahuan ibu berdasarkan jawaban dari semua pertanyaan pengetahuan yang diberi kepada responden sebelum menentukan kategori baik, cukup dan kurang yang akan dijadikan pemantauan pengukuran pengetahuan (Arikunto, 2005). Pengukuran tingkat pengetahuan responden dapat diukur dengan kriteria sebagai berikut : a. b. c. Bila jawaban benar diberi skor 2 Bila jawaban mendekati benar diberi skor 1 Bila jawaban salah diberi skor 0

17 Jumlah soal sebanyak 20 pertanyaan dan masing-masing pertanyaan diberi penilaian sebagai berikut :
a. Bila jawaban benar mendapat skor 2

(skor maksinal x jumlah soal, 2 x 20 = 40)


b. Bila Jawaban mendekati benar mendapat skor 1

(skor x jumlah soal, 1 x 20 = 20) c. Bila jawaban salah mendapat skor 0 (skor minimal x jumlah soal, 0 x 20 = 0) Menurut Arikunto 2005, menyatakan atau berpendapat bahwa penilaian aspek pengukuran dihitung berdasarkan : Skoring =
Skor tertinggi Skor terendah 3 4 0 0 = 3

= 13,3 Maka pengukuran pengetahuan responden diukur dengan menggunakan criteria sebagai berikut : a. b. c. Baik : Apabila memperoleh skor : 28 40 Cukup : Apabila memperoleh skor : 14 27 Kurang : Apabila memperoleh skor : 0 13

3.6.2 Aspek Pengetahuan Pendidikan Alat pengukur yang digunakan pada tingkat pendidikan adalah dengan menggunakan skala ordinal dimana memiliki tingkat kategori yang lebih tinggi maka pendidikan kategori sebagai berikut : a. SD b. SMP

18 c. SMA d. Perguruan Tinggi

3.6.3. Aspek Pengukuran Berdasarkan Umur Aspek pengukuran yang digunakan pada umur adalah ordinal yaitu skala kualitatif yang satu dengan yang lain berbeda tetapi memiliki tingkatan. Pengukuran umur responden dapat diukur dengan menggunakan criteria : 1. < 20 Tahun 2. 20 35 Tahun 3. > 35 Tahun 3.6.4. Aspek Pengukuran Berdasarkan Sumber Informasi Aspek pengukuran yang digunakan pada sumber informasi adalah skala nominal yaitu skala yang berbentuk kualitatif. Sumber informasi yang diperoleh responden dapat diukur dengan menggunakan criteria :
1. Tenaga Kesehatan (Dokter, Bidan, Perawat, Posyandu)

2. 3.

Media Cetak (Majalah, Surat Kabar, Brosur) Media Elektronik (TV, Radio, Komputer)

4. Lingkungan ( Keluarga, Teman, masyarakat, LSM, Toga, Toma)

3.7

Pengolahan dan Analisis Data 3.7.1 Teknik Pengolahan Data Data yang dikumpulkan melalui kuesioner yang diberikan kepada responden

akan dikelompokkan sesuai dengan langkah-langkah sebagi berikut:


1. Editing

: Melakukan pengecekan kelengkapan data yang dikumpulkan. Bila terjadi kesalahan atau kekurangan

19 dalam pengumpulan data akan diperbaiki sebelum peneliti meninggalkan lokasi penelitiannya dan

melakukan pendataan ulang.


2. Coding

Proses untuk member kode pada jawaban-jawaban responden, pengkodean ini berguna untuk

memudahkan pengolahan data, sehingga harus tetap terlebih dahulu diteliti oleh peneliti
3. Tabulating :

Proses untuk menghitung setiap variable berdasarkan kategori yang telah ditetapkan sebelumnya sesuai dengan tujuan penelitian

3.7.2 Analisa Data Analisa data dilakukan secara deskriptif dengan melihat presentase data yang telah dikumpul & disajikan dalam bentuk tabel distribusi. Analisa Data dilanjutkan dengan membahas hasil penelitian sesuai dengan teori & kepustakaan yang ada.

20

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1.

Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian yang dilakukan tentang tingkat pengetahuan ibu mengenai keputihan di Praktek Dr. Herbert Sihite, SpOG pada bulan Juli 2011 dengan jumlah responden 30 orang, maka hasil pengumpulan data dan pengolahan data, diperoleh hasil pada tabel berikut 4.1.1. Distribusi Karatekristik Responden Berdasarkan

Pendidikan Dari hasil penelitian terhadap tingkat pengetahuan ibu mengenai keputihan, maka dapat diperoleh distribusi karakteristik berdasarkan pendidikan terlihat pada tabel berikut ini.

TABEL 4.1. DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN PENDIDIKAN No 1 2 3 4 Responden SD SMP SMA Perguruan Tinggi Jumlah Frekuensi 16 14 30 Presentase 53,3 46,7 100

21 Dari tabel 4.1. dapat dilihat distribusi responden berdasarkan pendidikan ditemukan paling banyak pada pendidikan , SMA sebanyak 16 orang (53,3%), dan paling sedikit ditemukan pada responden yang berpendidikan Perguruan Tinggi sebanyak 14 orang (46,7%). 4.1.2. Umur Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap tingkat pengetahuan ibu mengenai keputihan, maka dapat diperoleh distribusi karakteristik berdasarkan umur pada tabel berikut ini : TABEL 4.2. DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN UMUR No 1 2 3 Umur < 20 tahun 20 35 tahun >35 tahun Jumlah Frekuensi 26 4 30 Persentase 86,7 13,3 100 Distribusi Karakteristik 20 Responden Beradasarkan

Dari tabel 4.2. dapat dilihat bahwa distribusi responden berdasarkan umur paling banyak ditemukan pada umur 20 35 tahun sebanyak 26 orang (86,7%), paling sedikit berumur > 35 tahun sebanyak 4 orang (13,3 %).

22

4.1.3.

Distribusi

Karakteristik

Responden

Berdasarkan

Sumber Informasi Dari penelitian yang dilakukan terhadap tingkat pengetahuan ibu mengenai keputihan, maka dapat diperoleh distribusi karakteristik berdasarkan sumber informasi terlihat pada tabel berikut ini : TABEL 4.3 DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN SUMBER INFORMASI No Sumber Informasi Frekuensi Persentase 1 Tenaga Kesehatan 14 46,6 2 Media Cetak 5 16,7 3 Media Elektronik 2 6,7 4 Lingkungan 9 30 Jumlah 30 100 Dari tabel 4.3. dapat dilihat bahwa distribusi responden berdasarkan sumber informasi, dimana responden paling banyak memperoleh informasi dari tenaga kesehatan sebanyak 14 orang (46,6%), dan paling sedikit dari media elektronik sebanyak 2 orang (6,7%).

23 4.1.4. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan

Pekerjaan Dari penelitian yang dilakukan terhadap tingkat pengetahuan ibu mengenai keputihan, maka dapat diperoleh distribusi karakteristik berdasarkan pekerjaan terlihat pada tabel berikut : TABEL 4.4. DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN PEKERJAAN No 1 2 3 4 Pekerjaan PNS Wirahusaha Pegawai Swasta Buruh Jumlah Frekuensi 7 10 13 30 Persentase 23,3 33,3 43,4 100

Dari tabel 4.4. dapat dilihat bahwa distribusi responden berdasarkan pekerjaan dimana paling banyak ditemukan pada pegawai swasta sebanyak 13 orang (43,4%) dan paling sedikit pada PNS sebanyak 7 orang (23,3%).

4.1.5.

Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan

Pengetahuan

24 Dari penelitian yang dilakukan terhadap tingkat pengetahuan ibu mengenai keputihan, maka dapat diperoleh distribusi karakteristik berdasarkan pekerjaan terlihat pada tabel berikut ini : TABEL 4.5 DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN PENGETAHUAN No 1 2 3 Pengetahuan Baik Cukup Kurang Jumlah Frekuensi 25 5 30 Persentase 83,3 16,7 100

Dari tabel 4.5. dapat dilihat bahwa distribusi pengetahuan responden tentang keputihan, dimana responden berpengetahuan baik yaitu berjumlah 25 orang (83,3%), responden berpengetahuan cukup sebanyak 5 orang (16,7%) dan berpengetahuan kurang tidak ditemukan

4.2.

Distribusi Hasil Tabulasi Silang Dari penelitian yang dilakukan tentang tingkat pengetahuan ibu mengenai

keputihan, maka distribusi hasil tabulasi silang pengetahuan responden berdasarkan karateristik pendidikan, umur, sumber informasi pekerjaan dapat dilihat pada tabel berikut ini .

4.2.1.

Distribusi

Pengetahuan

Responden

Berdasarkan

Pendidikan

25 Hasil penelitian pengetahuan responden tentang keputihan, dapat dilihat pada tabel berikut : TABEL 4.6. DISTRIBUSI PENGETAHUAN RESPONDEN BERDASARKAN PENDIDIKAN No Pendidikan Baik F % 13 81,2 12 85,8 Pengetahuan Cukup F % 3 18,7 2 5 14,2 Total Kurang F % F 16 14 % 10 100

1 2 3 4

SD SMP SMA Perguruan Tinggi

Pada tabel 4.6 diperoleh bahwa responden berdasarkan latar belakang pendidikan yang berpengetahuan baik lebih banyak ditemukan pada perguruan tinggi sebanyak 12 orang (85,8%) dan tidak ditemukan yang berpengetahuan kurang.

4.2.2.

Distribusi Pengetahuan Responden Berdasarkan Umur.

Hasil penelitian tingkat pengetahuan responden tentang keputihan berdasarkan umur, dapat dilihat pada tabel berikut :

26

TABEL 4.7. DISTRIBUSI PENGETAHUAN RESPONDEN DAN BERDASARKAN UMUR No Umur Baik F % 22 84,7 3 75 Pengetahuan Cukup F % 4 15,3 1 25 Total Kurang F % F 26 4 % 100 100

1 2 3

< 20 tahun 20 35 tahun >35 tahun

Dari tabel 4.7 diperoleh bahwa distribusi responden berdasarkan umur yang berpengetahuan baik lebih banyak ditemukan pada umur 20-35 tahun sebanyak 22 orang (84,7%) dan berpengetahuan cukup paling sedikit 4 orang (15,3%) tidak ditemukan berpengetahuan kurang.

4.2.3.

Distribusi

Pengetahuan

Responden

Berdasarkan

Sumber Informasi Hasil penelitian pengetahuan responden tentang keputihan berdasarkan sumber informasi dapat dilihat pada tabel berikut :

TABEL 4.8

27 DISTRIBUSI PENGETAHUAN RESPONDEN BERDASARKAN SUMBER INFORMASI No Sumber Informasi Tenaga Kesehatan Media Cetak Media Elektronik Lingkungan Baik F % 12 85,8 4 80 2 100 7 77,8 Pengetahuan Cukup F % 2 14,2 1 20 2 22,2 Total Kurang F % F 14 5 2 9 % 100 100 100 100

1 2 3 4

Pada tabel 4.8 diperoleh bahwa pengetahuan responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak memperoleh informasi dari media elektronik sebanyak 2 orang (100%) dan paling sedikit memperoleh informasi dari media cetak sebanyak 1 orang (20%) dan tidak ditemukan berpengetahuan kurang.

4.2.4.

Distribusi

Pengetahuan

Responden

Berdasarkan

Pekerjaan Hasil penelitian tingkat pengetahuan responden tentang keputihan berdasarkan pekerjaan, dapat dilihat pada tabel berikut : TABEL 4.9. DISTRIBUSI PENGETAHUAN RESPONDEN BERDASARKAN PEKERJAAN No Pekerjaan Baik F % Pengetahuan Cukup F % Total Kurang F % F %

28

1 2 3 4

PNS Wiraswasta Pegawai Swasta Buruh

7 9 9 -

100 90 69,2 -

1 4 -

10 30,8 -

7 10 13 -

100 100 100 -

Pada tabel 4.9 diperoleh bahwa pengetahuan responden berdasarkan pekerjaan yang memiliki pengetahuan baik paling banyak ditemukan pada responden yang pekerjaan sebagai PNS sebanyak 7 orang (100%) dan paling sedikit pada responden yang pekerjaan sebagai wiraswasta sebanyak 1 orang (10%) dan tidak ditemukan yang berpengetahuan kurang.

BAB V PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian tentang tingkat pengetahuan ibu mengenai keputihan di praktek Dr. Herbet Sihite, SpOG yang dilakukan pada Juli 2011, kemudian peneliti akan membahas hasil penelitian sebagai berikut :

5.1

Pengetahuan Pendidikan

Responden

Mengenal

Keputihan

Berdasarkan

Bedasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti, bahwa responden yang berpengetahuan baik mayoritas adalah perguruan tinggi sebanyak 12 responden

29 (85,8%) responden yang berpengetahuan cukup adalah SMA sebanyak 3 responden (18,8%) dan tidak ditemukan berpengetahuan kurang. Menurut Notoatmodjo (2003), pedidikan sangat berperan penting dalam menentukan kualitas hidup manusia. Dengan pendidikan manusia akan dianggap memperoleh pengetahuan, aplikasinya semakin tinggi pendidikan maka hidup manusia akan semakin berkualitas, dari yang tidak tahu menjadi tahu dan menjadi mampu. Dan dari hasil penelitian diatas tidak ditemukan adanya kesejangan antara hasil dan teori. 5.2 Pengetahuan Responden Mengenai Keputihan Berdasarkan Umur. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti bahwa tingkat pengetahuan responden yang berpengetahuan baik mayoritas adalah ibu-ibu yang berumur 20 30 tahun sebanyak 22 responden (84,7%) dan responden yang berpengetahuan cukup minoritas pada umur > 35 tahun sebanyak 1 responden 29 (25%) Menurut Zaluchu (2006), umur adalah lamanya seseorang hidup dihitung dari lahirnya sampai dengan ulang tahunnya. Umur sengat erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan seseorang karena semakin bertambah umur manusia semakin banyak pula pengetahuan yang akan di dapatnya. Dan dari hasil penelitian ini dijumpai adanya kesejangan antara hasil penelitian dengan teori. Dimana dari hasil penelitian yang diperoleh oleh peneliti ditemukan pada umur 20 35 tahun responden lebih banyak pengetahuan baik dari pada umur > 35 tahun.

30 Menurut asumsi penulis bahwa tidak selamanya umur seseorang mempengaruhi terhadap pengetahuan yang dimilikinya, karena pengetahuan tidak dapat di ukur dengan umur, tetapi dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti : Sumber informasi, Lingkungan serta pengalaman ibu. 5.3 Pengetahuan Responden Mengenai Keputihan Berdasarkan Sumber Informasi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti bahwa responden yang berpengetahuan baik mayoritas adalah ibu-ibu yang memperoleh informasi tentang keputihan dari media elektronik sebanyak 2 orang (100%) dan berpengetahuan cukup minoritas dari media cetak sebanyak 1 orang (20%) dam tidak ditemukan berpengetahuan kurang. Sumber informasi adalah sarana untuk menyampaikan pesan-pesan atau informasi bagi masyarakat, berdasarkan fungsinya sebagai penyalur pesan-pesan seperti : Koran, Majalah, Media Elektronik seperti radio, TV, petugas kesehatan dan lingkungan (Notoatmodjo, 2007) Hasil penelitian dapat dilihat bahwa sebagian besar ibu-ibu memperoleh informasi tentang keputihan dari media elektronik dan menurut asumsi penulis bahwa semua media yang menyampaikan informasi adalah baik. Hanya saja hal ini tergantung pada individu yang mendapat informasi tersebut, apakah menerima atau menolaknya. 5.4 Pengetahuan Pekerjaan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti bahwa responden yang berpengetahuan baik mayoritas adalah ibu-ibu yang memiliki pekerjaan PNS Responden Mengenai Keputihan Berdasarkan

31 sebanyak 7 orang (100%) dan responden yang berpengetahuan cukup minoritas ditemukan pada ibu-ibu yang memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta sebanyak 1 orang (10%). Pekerjaan adalah profesi/kegiatan yang rutin dilakukan responden sehari-hari yang mendapatkan uang atau materi (Nafkah). Dan dari penelitian yang di dapat oleh peneliti, tidak ditemukan adanya kesejangan antara teori dengan hal penelitian. Hal tersebut dapat dilihat jelas bahwa pengetahuan baik ditemukan pada ibu yang bekerja sebagai PNS. Dan menurut asumsi penulis bahwa jenis pekerjaan dapat mempengaruhi pengetahuan ibu, kaena satu hal yang dapat mempengatuhi pengetahuan seseorang adalah lingkungan, jadi lingkungan kerja seseorang akan mempengaruhi pengetahuan seseorang. Misalnya lingkungan kerja pegawai negeri pasti berbeda dengan wiraswasta. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1

Kesimpulan
1.

Tingkat Pengetahuan ibu mengenai keputihan berdasarkan

pendidikan paling banyak adalah perguruan tinggi sebanyak 12 responden (85,8%) dan paling sedikit SMA sebanyak 3 responden (18,8%).
2.

Tingkat Pengetahuan ibu mengenai keputihan berdasarkan umur

paling banyak ibu memiliki pengetahuan yang baik pada ibu berumur

32 20-35 tahun sebanyak 22 responden (84,7%) dan tidak ditemukan

perpengetahuan kurang.
3.

Tingkat Pengetahuan ibu mengenai keputihan berdasarkan sumber

informasi paling banyak ibu memiliki pengetahuan baik memperoleh informasi dari media elektronik sebanyak 2 responden (100%) dan paling sedikit dari media cetak sebanyak 1 responden (20%).
4.

Tingkat Pengetahuan ibu mengenai keputihan berdasarkan

pekerjaan paling banyak ibu memiliki pengetahuan baik yang memiliki pekerjaan sebagai PNS sebanyak 7 responden (100%) dan

berpengetahuan cukup pada ibu pegawai swasta sebanyak 4 responden (30,8%).

6.2

Saran

32 Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, penulis menyarankan sebagai

berikut :
1. Diharapkan kepada petugas kesehatan agat tetap meningkatkan kegiatan

dalam memberikan penyuluhan / informasi kepada para ibu di dalam menjaga kebersihan organ intim agar tidak terjadi keputihan yang dapat mengganggu kenyamanan.

33 2. Diharapkan kepada pembaca agar member saran dan kritikan yang bersifat membangun demi perbaikan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. Manajemen Penelitian, Jakarta : Rineka Cipta, 2005 EL Manan. Miss V. Yogyakarta : Buku Biru, 2011 Llewellyn, Derek. Setiap Wanita. Jakarta : PT. Delopratase, 2005 Notoatmodjo. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta, 2005 ______. Promosi Kesehatan Dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta, 2005

34 ______. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta, 2007 ______. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta, 2005 Prawirohardjo, Sarwonon. Ilmu Kandungan. Jakarta :Yayasan Bina Pustaka, 2005 Pribakti, B. Tips and Trik Merawat Organ Intim. Jakarta : CV. Sagung Seto, 2010 Zaluchu, Fotarisman. Metodologi Penelitian Kesehatan. Bandung : Citra Pustaka Medika, 2006 Http://pdf.tp.oc.id/pdf=jumlah+penderita+kanker+serviks+akibat+keputihan http://Fawaludin.files.wordpress.com/2011/01/babi.com

KUESIONER PENELITIAN Pengetahuan Ibu Mengenai Keputihan Fisiologi Dan Patologi di Praktek Dr. Hebert Sihite, SpOG

Pada kesempatan ini saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada ibu-ibu mengenai tingkat keputihan. Jawaban yang ibu berikan tidak akan berdampak negatif kepada ibu-ibu. Sebelum & Sesudahnya saya ucapkan terima kasih I. Identitas/Biodata

35 Nama Umur : :

Agama : Alamat :

II.

Petunjuak Pengisian Sumber Informasi Media Elektronik Media Cetak Tenaga Kesehatan Lingkungan

Pilih salah satu jawaban yang menurut anda benar dengan memberikan tanda (x) 1. Apakah yang dimaksud dengan keputihan ?
a.

Cairan yang keluar dari liang kemaluan yang berwarna merah Cairan yang keluar dari anus Cairan yang keluar dari liang kemaluan (vagina) yang berlebihan

b. c.

2.

Apakah anda pernah mendengar tentang keputihan ? a. Sering

36 b. c. Pernah Tidak pernah

3.

Gejala-gejala keputihan adalah ? a. b. c. Keluar cairan berwarna merah Keluar cairan berwarna merah kecoklat-coklatan Keluar cairan berwarna putih kekuning-kuningan

4. Apakah anda pernah mengalami keputihan ? a. b. c. Sering Tidak pernah Kadang-kadang

5.

Pemakaian celana dalam yang lembab dapat menyebabkan ? a. b. c. Keputihan Pendarahan Sonune

6.

Keputihan yang dikatakan normal adalah ? a. b. c. Cairan berwarna kuning kehijauan Cairan berwarna putih kekuningan Cairan yang berbusa

37

7.

Keputihan yang dikatakan tidak normal adalah ? a. b. c. Cairan berwarna putih kekuningan Cairan berlebihan disertai dengan sakit-sakit Cairan yang keluar pada saat menjelang atau sesudah haid

8.

Keputihan dapat menyebabkan ? a. b. c. Paritas Kehamilan Kembar Kemandulan

9.

Salah satu masalah kesehatan reproduksi wanita yang paling sering dikeluhkan adalah ? a. b. c. Bisulan Gatal-gatal Keputihan

10. Keputihan yang terjadi sebelum atau sesudah haid disebut ? a. b. c. Normal Tidak Normal Kelainan

38

11. Apakah keputihan wajar terjadi pada wanita ? a. b. c. Wajar Tidak Wajar Tidak Tahu

12. Apakah PMS dapat menimbulkan keputihan ? a. b. c. Bisa Tidak bisa Tidak tahu

13. a. b.
c.

Salah satu penanganan keputihan adalah ? Menggunakan celana dalam yang lembab Menggunakan celana dalam yang kering Menggunakan celana dalam yang ketat

14. Candida albican disebabkan oleh ? a. b. c. Virus Bakteri Jamur

39 15. Keputihan dapat terjadi pada ? a. b. c. Wanita Laki-Laki Semua orang

16. Cara yang tepat membersihkan vagina adalah ? a. b.


c.

Dari depan ke belakang Dari belakang ke depan Dua-duanya

17. Keputihan yang tidak memerlukan pengobatan disebut ? a. b. c. Keputihan yang fisiologis (normal) keputihan yang Patologis (abnormal) dua-duanya

18. Menurut anda apakah keputihan bisa terjadi pada wanita yang belum haid ? a. b. c. Bisa Tidak bisa Tidak tahu

19. Apakah anda pernah menanyakan tentang keputihan kepada dokter ? a. b. c. Pernah Tidak pernah Kadang-kadang

40 20. Apabila anda merasakan keputihan dengan berulang-ulang tindakan apa yang akan ada lakukan ? a. b. c. Menanyakan kepada teman/rekan Didiamkan saja memeriksakan diri ke dokter