Anda di halaman 1dari 149

1

SISTIM METABOLISME DAN ENDOKRINE CHAPTER ONE

MODUL 1
PENGKAJIAN SISTIM ENDOKRINE ( Assesment of The endokrine system) Oleh : SIMON SANI KLEDEN, Skep, NS

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

PENGKAJIAN SISTIM ENDOKRINE


Oleh : Simon Sani Kleden, Skep, NS
Tujuan Pembelajaran : Setelah mempelajari topik ini mahasiswa seharusnya mampu untuk : 1. Menggambarkan lokasi dari berbagai kelenjar endokrine dalam tubuh mekanisme pengontrolan produksi endokrine 2. Menggambarkan fungsi dari hormon yang dikeluarkan oleh : Kelenjar pituitary, thyroid, parathyroid,, cortex adrenal, medula adrenal dan endokrine pankreas. 3. Mengidentifikasikan dan proses penuaan. 4. Mengidentifikasikan data subyektif dan obyektif yang seharusnya dikumpulkan pada klien dengan masalah kesehatan yang aktual maupun potensial pada sisitim endokrine. 5. Menggambarkan tersebut. Pendahuluan Semakin komplesnya tubuh manusia, khususnya cel dan jaringan membutuhkan suatu sistim comunikasi internal yang baik sehingga fungsi dari masing masing uji diagnostik yang sering dilakukan pada klien dengan masalah dysfungsi sistim endokrine dan menjelaskan arti dari hasil pemeriksaan perubahan fisiologis yang terjadi dalam sistim endokrine dan pengeluaran hormon dan dari kelenjar

bagian tubuh dapat dipertahankan sebagai satu kesatuan unit yang bertanggungjawab terhadap fungsi tubuh secara keseluruhan. Dua systim yaitu sistim syaraf dan

endokrine mempunyai fungsi yang bersamaan dalam mengatur respon tubuh terhadap perubahan lingkungan. Sistim endokrine terdiri dari : Kelenjar pituitary anterior dan posterior, thyroid, parathyroid, cortex adrenal, medula adrenal, gonad, pineal body dan thymus. Disamping itu ada juga sel sel spesifik endokrine pada saluran pencernaan. Hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar endokrine mempunyai fungsi yang amat penting dalam

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

kehidupan organisme

yaitu : Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan,

diferensiasi, reproduksi, adaptasi, proses penuaan dan lain lain.

ANATOMI DAN FISIOLOGI


Lokasi dari kelenjar endokrin dan fungsi dari hormon yang dihasilkan

Pineal

Pituitary Thyroid dan Parathyroid Thymus

Adrenal Islets of Langerhans Ovari

Testis

Gambar 1.3 System Endokrine (Tuker SM et all dikutip : Barbara C long, 1993 : p = 1001)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

Thalamus Thalamik mass Comisura Anterior Inti Hipothalamus Optik Chiasma Pituitary Stalk Pituitary Gland Pineal Body Cerebelum

Gambar 1.4 Pembelahan sagital dari otak (Barbara C long, 1993 : p = 1001)

Nukleus praventrikuler Supraoptik Nukleus Optik Chiasma

Arteri hipofise superior

Cappilary Pituitari posterior

Pituitari anterior Vena Efferent

Arteri hipofise inferior

Gambar 1.4 Hubungan hipothalamik pituitari Barbara C long, 1993 : p = 1002)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

1.1 Hipothalamus
Adalah bagian dari diencephalon yang membentuk lantai dan merupakan bagian lateral dari ventikel ketiga. Secara anatomis hipothalamus mencakup optik kiasma, korpora mamilari, tuber sinerium, infundibulum dan hipofisis. Terdiri dari sel sel saraf yang berkelompok membentuk nuklei. Hipothalamus menempati bagian bawah dinding lateral dibawah ventikel ketiga. Bagian depan berbatasan dengan optik chiasma , bawah dengan pituitary salk, bagian belakang dengan sulcus dan thalamus lie sedangkan bagian samping dengan internal capsule, subthalamic lie. Walaupun merupakan are yang sangat kecil pada otak, namun hipothalamus selalu menerima input baik secara langsung dan tidak langsung dari beberapa bagian otak.
KELENJAR / HORMON Hipothalamus Releasing hormonhormon (banyak) Inhibisi Hormon-hormon (banyak) PENGATURAN FUNGSI Menstimulasi pituitary anterior melepaskan hormon-hormon. Menghambat/batasi pituitary anterior sekresi hormon.

1.2

Kelenjar pituitari. Berukuran 1 cm dan berat 500 mg, terletak didalan sela tursica dari fosa cranial.

Secara fungsional kelenjar pituitary dibagi menjadi 2 yaitu : Adenohypofise (Pituitary anterior) dan Neurohipofise (Pituitary posterior) Perbedaannya : Adeno = kelenjar, sedangkan neuro = saraf. Adenohyphofise strukturnya dari kelenjar endokrin, sedangkan neurohyphyse mempunyai struktur seperti jaringan saraf.

a.

Pituitari Anterior ( AdenoHypofise) Kelenjar pituitary anterior mengontrol seluruhnya fungsi dan struktur kelenjar al : Tyroid, kortex adrenal, follikel ovarium dan karpus luteum yang kadang-kadang disebut sebagai kelenjar utama (master gland) Thyroid Hormon stimulating hormon (TSH) bekerja pada (ACTH) bekerja pada kelenjar kortex thyroid adrenal yang yang menstimulus kelompok tyroid untuk menaikan sekresi hormon tyroid. adrenocortisotropic menstimulus kortex adrenal untuk menaikan ukuran dan mensekresi jumlah besar hormonnya, khususnya sejumlah besar kortisol (hydrokortisol)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

Follicle stimulating hormon (FSH) yang menstimulus folikel ovarium pimer untuk mulai tumbuh dan menghasilkan estrogen dan tubulus seminiferus membentuk sperma. Luteinizing hormon (LH), bekerja bersama-sama FSH dalam beberapa fungsi yaitu Menstimulasi folikel dan ovum untuk jari matur yang komlet
1) Menstimulasi sel-sel folikel untuk mensekresi estrogen dan menyebabkan

ovulasi (robeknya folikel matur dan keluarnya ovum yang sudah matang) Karena fungsi ini LH kadang disebut sebagai hormon ovulasi. 2) LH menstimulasi pembentukan golden body (tubuh mas) menjadi corpus luteum, dalam robeknya folikel. Proses ini disebut Luteinizasi Fungsi ini menyebabkan LH disebut hormon Luteinizing. Pada pria, kelenjar pituitary juga mensekresi LH yang secara formal disebuyt Interstial Cell Stimulating Hormon (ICSH), karena hormon ini menstimulasi sel-sel dalam testis untuk berkembang dan mensekresi testoteron yang merupakan hormon sex pria. Melanocyte stimulating hormon (MSH) Menyebabkan cepat terjadi peningkatan synthesis dan penghancuran pigmen melanin, granulasi pada sel-sel kulit khusus. Hormon hormon yang dihasilkan oleh pituitary anterior serta Fungsi dan mekanismenya dapat Dilihat Pada tabel dibawah Ini.

Hormon hormon yang dihasilkan oleh pituitary anterior


KELENJAR / HORMON Pituitary Anterior ( adenohipofise) Growth Hormon (GH) PENGATURAN Dikontrol oleh GHRH dan GHIH Sekresinya meningkat setelah makan, dan setelah tidur lelap ( 1-2 jam) Rangsanga lain yang menyebabkan peningkat GH : Latihan, stres, agent kimia : Arginin, clonidine, TRH pada acromegaly, adrenergic antagonis, beta adrenergik antagonis, hypoglikemi. Sekresinya menurun pada hyperglikemia Dikontrol oleh PRH dan PIH Sekresinya meningkat beberapa jam selama tiidur. FUNGSI Organ Target Seluruh tubuh - Meningkatkan pembelahan sel - Meningkatkan pertumbuhan sel, tulang dan jaringan lunak - Meningkatkan glukosa darah dengan menghasmbat pengambilan glukosa (Insulin antagonis) - Meningkatkan sintesis protein - Meningkatkan volume cairan extraceluler dan retensi elektrolit. - Meningkatkan lipolisis, kadar asam lemak bebas dan pembentukan keton - Bekerja pada semua jaringan tubuh untuk merangsang kerja somatomedin . Organ target : Payudara, gonads Menstimulasi perkembangan payudara selama kehamilan dan sekresi ASI sesudah kehamilan. Mengatur fungsi reproduksi

Prolactin (PRLH)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

Rangsangan lain yang menyebabkan peningkatan PRL : Menyusui, stresor, kimia : Estrogen, Clorpromazine : , Thyroid Stimulating Homone (TSH) Di kontol oleh ; TRH dan mekanisme negative feed back dari kadar T4 dalam plasma. Peningkatan T4 menurunkan TSH dan sebaliknya. Dikontrol oleh CRH dan mekaniosme feed back negative dari kadar kortisol dalam darah. Sekresinya meningkat pada jam 6 dan 8 malam mengikuti ritme circadian dan disebabkan oleh peningkatan CRH. Stresor fisiologis dan psikologis seperti hypoglikemi, infeksi, nyeri dan kecemasan meningkatan ACTH. Perubahan kadar cortisol mempengaruhi ACTH : Cotisol meningkat ACTH menurun dan sebaliknya. Sekresinya dikontrol oleh GnRH

pada wanita dan pria.

Organ target : Kelenjat tiroid Dibutuhkan untuk pertumbuhan dan fungsi kelenjar tiroid , mengotrol semua fungsi kelenjar tiroid.

Adrenocorticotropin hormon (ACTH)

Organ Target : Kortex adrenal Dibutuhkan untuk pertumbuhan dan mempertahankan ukuran dari kortex adrenal Mengotrol pengeluaran glukokorticoid (cortisol) dan androgen adrenal. Berfungsi minimla dalam melepaskan aldosteron

Gonadotropin ; 1) Folikel Stimulating hormone (FSH)

2) Luteinizing Hormone

P Menstimulasi perkembangan follikelfollikel ovarium dan sekresi estrogen. L. Mentimulasi tubulus seminiferus testis untuk tubuh dan hasilkan sperma . P Menstimulasi maturasi follikel ovarium dan ovum. Menstimulasi sekresi estogen, memicu ovolusi. Menstimulasi perkembangan korpiluteum (Luteini zation) L. Menstimulasi sel-sel interstisia testis untuk sekresi testoteron

b. Pituytari Posterior Yang melepaskan 2 hormon, yaitu : 1) Anti diuretic hormon (ADG)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

ADH mengreabsorbsi air dari urine dalam tubulus ginjal ke dalam darah. Air yang sisa dalam tubulus berkurang maka hanya sedikit urin yang keluar dari tubuh. Nama ADH sesuai dengan fungsinya, anti=lawan, duiretik=peningkatan volume urin. Dengan kata lain, ADH merupakan penurunan volume urin. Hyposekresi ADH dihasilkan pada diabetes inspidus yaitu suatu kondisi dimana terbentuk sejumlah besar urin. Pada keadaan ini dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit menyebabkan masalah serius, diobati dengan injeksi atau nasal sparay ADH. 2) Oksitosin Dihasilkan pada wanita sebelum dan sesudah ia mempunyai bayi. Oksitoksin menstimulasi konstraksi otot uterus wanita hamil dan diyakini berinisiatif dan pertahanan persalinan. Oxitosin berfungsi penting dalam kelahiran bayi, yang menyebabkan sel-sel glandula payudara melepas ASI kedalam duktus/saluran yang lalu diisap oleh bayi.
KELENJAR / HORMON Pituitary Posterior Antidiuretic Hormon (ADH, Vasopresine) PENGATURAN Stimulators Rangsangan utama ; meningkatnya serum osmolalitas melalui osmoresepptor hipothalamic. Hipotensi moderat melalui baroreseptor Stresor ; psiklogis, nyeri mual dan muntah Kimia ; nikotine, morphine, agent cholinergik Inhibitord Rangsangan utama ; menurunya serum osmolalitas melalui osmoresepptor hipothalamic. Peningkatan volume dan tekanan darah moderat melalui baroreseptor Stresor ; psiklogis, nyeri mual dan muntah FUNGSI ORGAN TARGET : Ginjal Pengatur utama osmolaritas dan volume cairan tubuh Meningkatkan permeabilitas ductus colectikus ginjal sehingga emnyebabkan peningkatan reabsorbsi air. Merangsang intake cairan melalui mekanisme haus.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

Oksitosin

Kimia ; Alkohol

Stimulators Menyusui melalui conduksi refleks neurologis dari serat afferent pada puting susu ke hypothalamus Contraksi Uterus Inhibitors Rangsang an alfa adrenergik

ORGAN TARGET ; PAYUDARA DAN UTERUS Menstimulasi perkembangan payudara selama kehamilan dan sekresi ASI sesudah kehamilan. Meningkatkan kontraksi uterus pada proses persalinan.

1.3 Kelenjar pineal Bentuknya kecil seperti peniti dekat ujung bawah ventrikel III dari otak. Kelenjar pineal memproduksi sejumlah hormon dalam jumlah kecil dan yang paling penting adalah melatonin. Melatonin merupakan hormon tropic inhibisi yang berefek pada ovarium. Kelenjar ini juga terlibat dalam pubertas dan siklus menstruasi pada wanita. Karena kelenjar perineal menerima dan berespon pada informasi informasi sensori dari saraf optic dan kadang-kadang disebut mengeluarkan atau menahan keluarnya melatonin. Kadar melatonin meningkat selama malam dam menurun pada siang hari. Siklus ini bervariasi sebagai pengatur waktu internal tubuh mata ketiga. Kelenjar pineal menggunakan informasi mengenai perubahan tingkat cahaya dan berespon untuk

1.4

Kelenjar thyroid

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

10

Tulang Hyoid

Thyroid cartilage Cricoid Cartilage

Otot Sternoclobomastoideus Trachea

Lobus Isthmus

Kelenjar Thyroid

Clavicula Trachea

Gambar 1.5 Leher dan Kelenjar Thyroid Barbara C long, 1993 : p = 1005)

Kelenjar thiroid terletak didepan leher tepat dibawah crikoid cartilago. Terdiri dari dua lobus yang dihubungkan langsung oleh itshmus yang merupakan bagian atas dari trachea. Beratnya kira- kira 20 mg. Kelenjar tyroid menyimpan sejumlah hormon tyroid dalam bentuk koloid. Pecahan koloid disimpan dalam folikel-folikel kelenjar dan bila hormon thyroid diperlukan, akan dilepas dan disekresi ke darah. Terdiri dari 2 tipe sel yang menghasilkan hormon yang berbeda yaitu :
1) Follicular sel bertanggungjawab terhadap produksi hormon thyroxine

( T4 )

dan triiodothyronine ( T3 ) . Satu molekul T4 berisiskan 4 atom iodine dan 1 molekul T3 yang diperkirakan berisikan 3 atom iodine. T4 perlu diproduksi dalam jumlah adekuat, diit harus berisikan iodine yodium dalam jumlah yang cukup. T3 dan T4 mempengaruhi setiap sel dalam tubuh, menyebabkan cepat dilepaskannya energi dari makanan
2)

Parafolliculer sel calsitonin. peningkatan C

(C cells) mensintesis dan mengeluarkan hormon sel Calcitonin calcium berfungsi dalam dalam mempertahankan Calcitonin

keseimbangan calcium. Sekresinya meningkat sebagai respon tehadap konsentrasi cairan interstisiil.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

11

meningkatkan sekresi calcium oleh ginjal dan dengan cara demikian menurunkan konsentrasi calcium dalam cairam ekstrasel. Hormon hormon yang dihasilkan oleh kelenjar thyroid
KELENJAR / HORMON Thyros ine dan Triiodithyr onine (T3) (T4) PENGATURAN Kadar T3 dan T4 FUNGSI Mengatur katabolisme protein, lemak dan karbohidrat dalam semua sel. Mengatur metabolik rate pada semua sel Mengatur produksi panas tubuh Bertindak sebagai insulin antagonis. Mempertahankan Dopamin, GHIH sekresi horomon pertumbuhan dan maturasi tulang Mempengaruhi perkekmbangan CNS Dibutuhkan untuk tonus dan kekuatan otot. Mempertahankan Mempertahankan gastrointestinal Mempengaruhi pola napas dan penggunaan oksigen Mempertahankan mobilisasi kalsium Mempengaruhi produksi sel darah merah Merangsang colesterol Calsito nin adalah kalsium Rangsangan tingginya serum Mengatur aktivitas sistim saraf pusat Menurunkan absorbsi calsium dan phospor pada saluran gastrointestinal. Menurunkan kadar serum phospat perpindahan lemak, mengeluarkan asam lemak bebas dan syntesis kontraksi sekresi pada jantung, saluran kekuatan kontraksi dan cardiac output akan

dikontrol oleh TSH Kehamilan, peningkatan demam steroid, T4.. T4 menurunkan kadar T3 dan

meningkatkan kadar T3 dan

utama produksi calsitoonin

1.5 Kelenjar parathyroid Merupakan suatu

Rangsangan calsium

lain : Gastrin, dalam makanan.

kelenjar yang kecil, biasanya ada 4 yang terdapat dibelakang

kelenjar tyroid. Kelenjar ini mensekresi hormon parathyroid ( PTH ) yang meningkatkan konsentrasi kalsium yang direabsorbsi dari tulang. Hormon ini menstimulus reabsorbsi tulang atau osteoclabts, dengan meningkatkan pemecahan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

12

tulang pada matriks keras, suatu proses pelepasan kalsium yang disimpan di matriks. Kalsium dilepaskan lalu bergerak dari tulang ke darah dan menyebabkan peningkatan konsentrasi kalsium darah. Paratiroid mengatur metabolisme calsium dan pospat tubuh. Organ tagetnya adalah tulang, ginjal dan duodenum. Terhadap tulang PTH mempertahankan resorpsi tulang sehingga kalsium serum meningkat. Di tubulus ginjal, PTH mengaktifkan vit D dengan Vit D yang aktif akan terjadi peningkatan absorpsi kalsium dan pospat dari intestinal meningkatkan reabsorbsi Ca dan Mg di tubulus ginjal, meningkatkan pengeluaran pospat, HCO3 dan Na.

(-)
Kadar Calsium

(+)

Kelenjar Parathyroid

PTH

Gastrointestinal

Ginjal

Tulang

Dengan Aktivasi Vitamin D

Aktivasi Vitamin D ekskresi C++ dan hidrogen Meningkatkan ekskresi phospor, natrium dan Bicarbonat

Mengkonversi osteogenis osteocytes Menjadi osteolitik osteocyte Menurunnya osteoblast jumlah

Meningkatkan absorbsi C++ dan Phospor

Pembentukan tulang Kerusakan tulang

Peningkatan serum Calcium

Pelepasan garan Calcium dari tulang

Hormon paratyroid ini penting untuk kehidupan dan kematian sebab sel sel kita sangat sensitif terhadap perubahan julmlah kalsium darah, sel sel tidak dapat berfungsi normal dengan kalsium yang tinggi atau rendah.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

13

Kalsium darah yang tinggi sel-sel otak dan jantung segera tidak berfungsi secara normal yang menyebabkan seseorang terganggu mentalnya serta jantung terhenti.

Bila Kadr kalsium rendah dalam darah, sel-sel darah jadi over raktif kadang kadang menyerang otot dengan impuls sehingga menyebabkan otot menjadi spasme .

1.6 KELENJAR THYMUS Berlokasi di mediastinum . Seperti kelenjar adrenal tymus punya korteks dan medula. Dua bagian ini berisikan lympocit yang luas ( sel darah putih / WBC ) seperti bagian dari sistem imun tubuh. Fungsi endokrin pada tymus tidak hanya penting tapi esential. Struktur kecil ini ( beratnya kurang lebih 1 gram ) berperan sebagai sistem pertahanan tubuh terhadap infeksi-infeksi ( mekanisme imunitas vital ). Hormon thymosin terisolasi dalam jaringan tymus dan bertanggung jawab untuk aktifitas-aktifitas endokrin. Thimosin adalah sekelompok dari beberapa hormon yang bersama-sama berperan penting dalam perkembangan dalam fungsi sistem immun tubuh. Supresi dari sistem immun kadang-kadang terjadi penyakit menetap dan pada pasien yang mendapatkan kemotherapmassive atau mediotherapi untuk pengobatan kanker. Thymosin terbentuk bermanfaat sebagai aktivitor pada sistem immun pada pasien-pasien demikian. 1.7 KELENJAR ADRENAL Dari permukaan kelenjar adrenal, nampak hanya satu organ, tetapi sebenarnya dipisahkan atas 2 kelenjar endokrin : Kortex adrenal dan medulla adrenal. Ini adalah 2 kelenjar dalam satu struktur. Kortex adrenal : Bagian luar dari kelenjar adrenal Medulla adrenal : bagian dalam dari kelenjar adrenal hormon-hormon kortex berbeda nama dan kerja dari kelenjar hormon-hormon medula adrenal. 1) Kortex adrenalin Terdiri dari 3 lapisan sel yang membedakan daerah -daerah kortex adrenalin mulai dari lapisan langsung di bawah kapsul kelenjar sampai di pusatnya yaitu :
Zona Glomerulosa

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

14

Memproduksi hormon mineralcorticoid (aldosteron) Zona Fasciculata Memproduksi hormon glukokortikoid (cortisol) Zona Reticularis Memproduksi hormon androgen Hormon Yang Dihasilkan Oleh Kortex Adrenal
KELENJAR / HORMON Mineralcortikoid (Aldosteron) PENGATURAN Dikontrol oleh CRH / ACTH Stresor dan fisiologis Hypoglikemia, hipoksia, nyeri infeksi dan trauma menyebabkan peningkatan cortisol. FUNGSI Mempertahankan kadar glukosa darah

dengan meningkatkan glukoneogenesis dan menurunkan penggunaan glukosa oleh sel. Meningkatkan katabolisme protein Meningkatkan lipolisis Antiinflamatory Memecahkan colagen Menurunkan partisipasi limphosit T dalam imunitas seluler dengan menurunkan kadar limphocyte dalam darah Menigkatkan kerusakan Menurunkan pelepasan antibody baru Menurunkan eusinofil, basofil dan monocyte Menurunkan pembentukan antibody baru Meningkatkan produksi asam lambung dan pepsin Meningkatkan retensi natrium dan air Mempertahankan stabilitas emosi Menurunkan jaringan pembentukan scar pada neutrofil dengan cara meningkatkan pengeluaran dan mengurangi

psikologis seperti ;

Glukokortikoid Cortisol

Dikontorl angiotensi

melalui

Meningkatkan pembentukan RBC Mempertahankan natrium dan air Meningkatkan reabsorbsi natrium di Meningkatkan pengeluaran kalium mempengaruhi tubulus distal dan hidrogen di tubulus distal Pada wanita karakteristik seks sekunder Pada laki laki bekerja seperti hormonm steroid gonad

mekanisme renin

Androgen

Dikontrol oleh

CRH / ACTH

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

15

2) Medula adrenal 10 % dari kelenjar adrenal adalah medula adrenal. Kelenjar ini mensekresi hormon epinephrin (adrenalin) dan nonepineprine (Noradrenalin). Dalam keadaan normal, kelenjar adrenal mengsekresi 85 % epinephrine dan 15 % norepinephrine. Kedua hormon ini mempunyai efek yang berbeda pada tubuh karena berbeda reseptor pada organ target. Reseptor diklasifikasikan sebagai alfa adrenergik ( adrenergik) dan beta ( adrenergik). reseptor dibagi menjadi 1 reseptor dan 2 reseptor . Lokasi utama daeri 1 reseptor adalah di jantung dan 2 reseptor dibagian lain dalam tubuh. Reseptor juga dibagi menjadi 1 yang terdapat pada organ target dan mensekresi hormon sedangkan cathecolamine. . 1.8 PANKREAS ( PANCREATIC ISKELS = PULAU-PULAU PANKREAS ) Pulau-pulau pankreas atau pulau pulau langerhans hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Kelenjar ini menyerupai sekumpulan sel-sel seperti pulau-pulau dilaut sepanjang sel - sel pankreas, yang mensekresi joundice pankreas untuk pencernaan. Terdapat 4 jenis sel yang menghasilkan hormon yang berbeda. Dari 4 jenis sel ini, ada 2 jenis sel yang terpenting yaitu : Sel Alpha dan beta. 1) Sel Alpha : mensekresi hormon glukogen Glikogen bekerja dalam proses glykogenolisis liver yaitu suatu proses yang mana menyimpan glukosa di sel-sel hati membentuk glikogen, diubah ke glukosa kembali. Glukosa ini kemudian meninggalkan sel-sel hati dan masuk kedalam darah. Glukagon akhirnya meningkatkan konsentrasi glukosa darah. 2) Sela Betha : mensekresi hormon insulin Hormon Insulin mempunyai fungasi terpenting yaitu menyebabkan glukosa dapat dipakai oleh sel . Kerja hormon Insulin dan glukoagon adalah antagonis . Dengan kata lain insulin menernukan kadar glukosa darah dan hormon lain. Mis. Glukokortikoid, GH, glukagon meningkatkan kadar glukosa darah. Insulin menurunkan glukosa darah dengan bergerak keluar darah melewati membran sel dan masuk ke sel-sel, sehingga laju metabolisme meningkat terutama metabolisme glukosa darah dan meningkatkan metabolise glukosa. Jika pulau pulau pankreas mensekresi sejumlah insulin normal, sejumlah glukosa masuk kedalam sel-sel dan sejumlah glukosa tinggi dalam darah. 2 reseptor terdpat pada presinaptik dan apabila dirangsang menghambat pengeluaran

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

16

Normal glukosa darah kira kira 80 120 mg glukosa dalam tiap 100 ml air. Jika insulin diproduksi terlalu banyak ( pada tumor pankreas ) banyak glukosa yang masuk ke sel-sel dan glukosa darah menurun. Jika insulin diprodusi sedikit , seperti pda tipe I ( insuli dependent ) diabetes melitus, glukosa yang masuk ke sel kurang maka darah naik kadang-kaang bisa tiga atau lebih dari normal. Banyak kasus tipe II ( insulin Independent ) diabetes melitus menghasilkan abnormalnya reseptor insulin, mencegah efek-efek normal insulin pada sel-sel target juga meningkatkan kadar glukosa darah. Tes skremming unutk semua tipe diabetes melitus jarang ditemukan peningkatan kadar glukosa darah pada kondisi ini. Tes tes saat ini dibuat lebih mudah, dengan teteskan darah subyek dengan peningkatan kadar glukosa darah diperkirakan menderita penyakit Diabetes Melitus (DM ). Tes gula dalam urine adalah prosedur lain yang biasa dilakukan. Pada DM kelebihan glukosa difilter keluar darah oleh ginjal dan dibuang di urine, kondisi ini disebut Glycosuria. Dua jenis sel yang lain yaitu 1) C cells Somatostatin 2) F cells Pancreatic polypetide Polypeptida somatostatin dan pancreatic terutama bekerja sebagai hormon lokal, mengatur kegiatan sel-sel pankreas lainnya. Somatostatin menghambat sel sel dengan mengeluarkan insulin dan glucagon. Sebaliknya polypeptida pancreas menhambat sekresi exocrine pankreas. 1.9 Kelenjar seks Wanita Kelenjar seks utama pada wanita adalah ovarium. Tiap-tiap ovarium berisikan 2 macam struktur kelenjar yang berbeda: volikel ovarium dan corpus luteum. Folikel ovarium mensekresi estrogen, hormon femonim. Korpus luteim mensekresikan progesteron tetapi juga sedikit estrogen. 1.10 Kelenjar Seks Pria Sel-sel ditestis memproduksi sel sex pria yang disebut sperma. Sel-sel lain ditestis ductus reproduksi pria dan kelenjar memperoduksi bahan-bahan cair (Liquid ) dari cairan repsoduksi pria yang disebut semen. Sel-sel imterstinal dalam testis mensekresi hormon seks pria yang disebut testoteron. Langsung jumlah

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

17

kedalam darah sel-sel testis ini adalah kelanjar andokrin pria, testosteron adalah hormonmaskulin. 1.11 Placenta Placenta berfungsi sebagai kelenjar endokrin sementara selama kehamilan, yang memproduksi chronik gonadotropin disebut demikian karena termasuk hormon-hormon tropik, disekresi oleh sel-sel dari chorion. Membran luas yang mengelilingi bayi selam perkembangan dalam uterus. Placenta ( chorionic Gonadotropin ) memproduksi estrogen dan progesteron. Selama hamil ginjal mensekresi sejumlah besar chorionic gonadotropin dalam urine. Keadaan ini sudah dinyatakan setengan abad yabg lalu dalam mengembangkan tes kehamilan yang sudah familiar. 1.12 Struktur Endokrin Lain Penelitian tetapi sistem endokrin menunjukan bahwa pada setiap orang dan sisitem punya jaringan endokrin. Jaringan dalam ginjal, lambung, usus ( intestine ) dan organ organ lain mensekresi hormon unutk mengatur macammacam fungsi penting manusia. Satu dari hormon ini adalah Atrial Natriuretic Hormon ( ANH ). Di sekresi oleh sel-sel pada dinding atrium jantung. ANH penting untuk mengatur homeostatis cairan dan lelektrolit. ANH antagaonis terhadap aldosteron, yang menstimulasi ginjal untuk menahan ion- ion sodium dan air, maka ANH menstimulus kekurangan ion sodium dan air.

PROSES ENDOKRINE SECARA UMUM (General endokrine processes)


Sistim endokrine berfugsi dalam tubuh melalui mekanisme produksi dan pelepasan hormon. Hormon adalah : Substansi kimia yang dikeluarkan kedalam cairan tubuh (Biasanya darah), oleh sekumpulan sel tertentu yang mengakibat perubahan fisiologis pada tempat lain. Hormon terbagi atas dua yaitu : Hormon protein dan Hormon Steroid. Perbedaan kedua hormon ini terletak pada cara mempengaruhi target sel-sel organ.Hormon dapat dikirim dari jarak yang jauh (pitutari ke Ovarium) dan bisa juga

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

18

pada jarak yang sangat pendek (dari satu sel ke sel yang lain dalam pankreas). Bila hormon mempengaruhi sel yang bukan merupakan sel sasaranya disebut ; Fungsi paracrine. Hormon hanya bisa bekerja pada jaringan / sel yang merupakan reseptornya. Sel atau jaringan yang berespon terhadap partikel hormon disebut : target cell atau target tissue. Hormon dan Fungsinya Hormon mengatur berbagai proses yang mengatur kehidupan. Sistem endokrin mempunyai lima fungsi utama : 1. 2. 3. 4. 5. Klasifikasi Dalam hal struktur lingkungannya hormon diklasifikasikan sebagai hormon yang larut dalam air atau yang larut dalam lemak. Hormon yang larut dalam air termasuk polipeptida (misalnya : insulin, glukagon, hormon andrenokortikotropik (ACTH), gastrin) dan katekolamin. (misalnya : dopamin, norepineprin, epinefrin). Hormon yang larut dalam lemak termasuk steroid (misalnya : estrogen, progesteron, testosteron, glukokortikoid, aldosteron) dan tironin (misalnya : tiroksin) Karakteristik Meskipun setiap hormon adalah unik dan mempunyai fungsi dan struktur tersendiri. Namun semua hormon mempunyai karakteristik berikut. Hormon disekresi dalam salah satu dari tiga pola yaitu : 1. Sekresi diurnal adalah pola yang naik dan turun dalam periode 24 jam. Contohnya : Kortisol Kadar kortisol meningkat pada pagi hari dan turun pada malam hari. 2. Pola sekresi hormonal pulsatif dan siklik naik dan turun sepanjang waktu tertentu seperti bulanan. Contohnya : Estrogen dapat menyebabkan siklus menstruasi. Membedakan sistem saraf pusat dan sistem reproduktif pada janin yang Menstimulasi urutan perkembangan. Mengkoordinasi sistem reproduksi. Memelihara lingkungan internal optimal. Melakukan respon korektif adaptif ketika terjadi situasi darurat. sedang berkembang.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

19

3.

Tipe sekresi hormonal variabel.

Hormon bekerja dalam sistem umpan balik. Loop umpan balik dapat positif atau negatif dan memungkinkan tubuh untuk dipertahankan dalam suatu lungkungan optimal. Hormon hanya mempengaruhi sel-sel yang mengandung reseptor yang sesuai, yang melakukan fungsi spesifik. Hormon mempunyai fungsi dependen dan dan independen. Hormon secara constan di reaktivated oleh hepar atau mekanisme lain dan diekskresi oleh ginjal. Secara kimiawi, hormon dapat dibagi tiga yaitu : 1. Hormon steroid : hormon ini semuanya memiliki struktur kimia berdasarkan pada inti steroid yang mirip dengan kolesterol dan sebagian besar tipe ini berasal dari kolesterol itu sendiri. Berbagai hormon steroid yang berbeda disekresi oleh : 2. Korteks adrenal (kortisol dan aldosteron). Ovarium (estrogen dan progesteron) Testis (testosteron) Plasenta (estrogen dan progesteron) Derivat asam amino tirosin. Ada dua kelompok yang merupakan derivet asam amino tirosin. Kedua hormon metabolik tiroid, (tiroksin dan triiodotironin, merupakan bantuk iodinasi dari derivat tirosin). Dua hormon utama yang berasal dari medra adrenal (epinefrin dan norepinefrin) kedua-duanya merupakan katekolamin yang juga turunan dari tirosin. 3. Protein atau peptida. Hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis anterior dapat merupakan molekul protein atau polipeptida besar : hormon hipofisis posterior, hormon antidiuretik, dan oksitiksin merupakan peptida yang hanya mengandung delapan asam amino. Yang temasuk peptida besar antara lain : insulin glukogen dan parathormon.

Mekanisme Kerja Hormon


Produksi dan penyimpanan hormon, bertanggunjawab terhadap rangsangan spesifik dan melepaskan hormon ke dalam darah

Kelenjar

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

20

Darah

Transport hormon ke sel / orgat target, kadar hormon dalam darah mempengaruhi mekanisme feed back

Berada di membran atau reseptor intraceluler , proses awal hormon bereaksi dengan reseptor seluler

Total Body

Berbagai hormon berfungsi untuk mengatur tingkat aktivitas jaringan sasarannya. Agar dapat menjalankan fungsi ini, hormon mengubah reaksi kimia dalam sel, mengubah permiable membran sel terhadap zat tertentu, dan mengaktifkan beberapa mekanisme sel spesifik lain. Banyak hormon melaksanakan fungsinya ini melalui dua mekanisme yang penting yaitu : (1) Pengaktifan sistim AMP siklik sel yang selanjutnya menimbulkan fungsi sel tertentu, atau (2) Pengaktifan gel sel yang menyebabkan pembentukan protein intrasel yang memulai fungsi sel tertentu. 1. Pengaktifan sistim AMP siklik sel yang selanjutnya menimbulkan fungsi sel tertentu. Banyak hormon menunjukan efeknya pada sel pertama kali dengan menyebabkan dibentuknya zat 3,5 adenosin monofosfat siklik (AMP Siklik) dalam sel. Setelah dibentuk, AMP siklik menyebabkan efek hormon pada dalam sel. AMP siklik ini bertindak sebagai mediator hormonal instrasel (Second messenger) . Sedangkan hormon itu sendiri bertindak sebagai First Messenger.

Hormon Perangsang

Reseptor

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

Sel / Organ Target


Membran sel ATP Adenil siklase Mg++

Efek biologis dan mekanisme feed back terhadap kelenjar

5 - AMP

Fosfodiesterase

21

3,5 AMP Siklik Respon Fisiologis - Aktivasi ensim - Ubah permeabilitas membrane sel - Kontraksi dan relaksasi otot - Sistesis protein - Menyebabkan Sekresi

Gambar 3 : Mekanisme AMP SIKLIK


Perhatikan Gambar diatas : Melukiskan fungsi AMP siklis lebih mendalam. Hormon perangsang bekerja pada membran sel sasaran, berikatan dengan reseptor spesifik untuk jenis hormon tertentu. Kekhususan reseptor menentukan hormon yang akan mempengaruhi sel sasaran. Setelah berkaitan dengan reseptor, gabungan hormon dan reseptor mengaktifan enzim adenil siklase dalam membran, dan sebagian adenil siklase yang berhubungan dengan sitoplasma segera menyebabkan perubahan ATP sitoplasma menjadi AMP siklik. AMP siklik kemudian memulai sejumlah fungsi sel sebelum ia sendiri di rusak fungsi seperti mengaktifkan enzim enzim dalam sel, mengubah premabilitas sel, memulai sintesis protein spesifik intrasel, menyebakan kontraksi dan relaksasi otot, memulai sekresi dan banyak efek lainnya. Jenis efek yang akan terjadi di dalam sel di tentukan oleh sifat sel sendiriri. Jadi, sel tyroid di rangsang oleh AMP siklik, untuk membentuk hormon tyroid, sedangkan sel korteks adrenal mebentuk hormon hormon korteks adrenal. Sebaliknya, AMP siklik mempengaruhi sel sel epeitel tubulus ginjal dengan meningkatkan premeabilitasnya terhadap air. Mekanisme AMP siklik diperlihatkan sebagai mediator hormonal intrasel sekurang kurangnya beberapa fungsi hormon hormon berikut ( dan banyak lainya ) : a. Adrenokortikortikotropin. b. Hormon perangsang tyroid. c. Hormon luteinisasi. d. Hormon perangsan folikel. e. Vasopresin. f. Hormon paratyroid. g. Glukagon.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

22

h. Katekolamin. i. j. Sekretin. Releasing faktor hipotalamus.

2.

Kerja Hormon Steoid pada gen sel untuk menyebabkan sistesis protein

Cara kedua hormon hormon khususnya hormon steroid yang di sekresi oleh korteks adrenal, ovarium, dan testis bekerja adalah menyebabkan sintesis protein pada sel sasaran ; bebrapa protein ini merupakan enzim enzim yang selanjutnya mengaktifkan fungsi fungsi lain sel. Rangkaian peristiwa dalam fungsi steroid adalah sebagai berikut :

1.

Hormon steroid sitoplasma sel, tempat ia berikatan dengan protein reseptor spesifik.

2. Gabungan protein reseptor hormon kemudian berdifusi masuk atau di transport masuk inti. 3. Gabungan 4. ini kemudian mengaktifkan gen spesifik untuk membentuk messenger RNA. messenger RNAdifusi masuk ke sitoplasma tempat ia meningkatkan proses translasi pada ribosom untuk membentuk protein baru. Sebagai contoh, aldosteron, salah satu hormon yang di sekresi oleh korteks adrenal, memsuki sitoplasma tubulus ginjal, mengandung protein reseptor spesifik untuk aldosteron. Kemudian tempat rangkain peristiwa di atas. Setelah sekitar 45 menit, protein mulai terlihat pada sel tubulus ginjal yang meningkat reabsorbsi natriumnya dari tubulus dan sekresi kalium ke dalam tubulus. Mekanisme fungsi hormon lainnya Hormon hormon dapat mempunyai efek langsung efek langsung pada senyawa sel, walaupun pada sebagian besar keadaan mekanisme tepat dari efek ini tidak di ketahui. Misalnya, insulin meningkatkan premeabilitas sel terhadap glukosa, dan hormon pertumbuhan meningkatkan transport asam amino ke dalam sel. Selain itu beberapa hormon, seperti aseltilkolin, langsung mempengaruhi membran sel dengan mengubah permeabilitasnya terhadap ion ion dan karena itu menimbulkan kontraksi otot atau menyebabkan efek efek lain.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

23

Pengontrolan kadar Hormon Kadar hormon harus dipertahankan dalam ambang atau batas normal karena perubahan dalam kadar hormon merupakan faktor kritis yang sangat mempengaruhi kesehatan. Salah satu faktor yang bertanggungjawab terhadap pengotrolan kadar hormon adalah : feedback contol. Perhatikan gambar 1.2 clossed-loop negative feed back dibawah ini

A Y

Gambar 1.2 Closed Loop negative feed back system. Prinsip dasar pengotrolan terhadap keseluruhan kelenjar endokrine (Harvaey A.m. et all dikutip : Barbara C long, 1993 : p = 998)

Kelenjar A distimulasi untuk memproduksi hormon X . Hormon X menstimulasi organ B sehingga menyebabkan perubahan (peningkatan atau penurunan) substansi Y. Perubahan pada substansi Y menghambat produksi dan sekresi dari hormon X
Contoh : Rangsangan Kelenjar A Hormon X Organ B Substansi Y

Kadar Calcium

(+)

Kelenjar parathyroid Calcium (-)

Parathyroid Hormon

Ginjal, tulang, GI

Kadar Calcium

osmolariti Plasma

(+)

Pituitary Posterior (-)

ADH

Ginjal

Reabsobsi air shg menurunkan osmoraitas serum

Serum glukosa

(+)

Sel beta Pankreas (-)

Insulin

Sel lemak, hati, sel otot

Pengambilan glukosa sehingga terjadi penurunan serum glukoda

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

24

Ada beberapa mekanisme feedback yang lebih kompleks dalam mengotrol kadar hormon. Salah satu contohnya adalah mekanisme feedback dari interaksi hypothalamus dan pitutary anterior dengan kelenjar thyroid, corteks adrenal dan gonads. Perhatikan Gambar berikut

Hipothalamus (-)
Releasing Hormon

(-)

Inhibiting Hormone (-)

(+) (-)
Pituitary Anterior

(-)
Tropic Hormone : (TSH, ACTH, FSH,LH)

Target endokrine gland (kelenjar thyroid, corteks adrenal dan gonads.)

Target gland hormone

Spesifik Target cell

Gambar 1.3 Mekanisme feedback compleks antara hypothalamus, pitutary anterior, kelenjar target endokrin dan sel target yang spesifik (Harvaey A.m. et all dikutip : Barbara C long, 1993 : p = 998)

Bila kadar hormon yang diproduksi oleh kelenjar thyroid, cortekx adrenal dan gonad adekuat maka pelepasan hormon tropic oleh kelenjar pituitari dan atau releasing hormon oleh hipothalamus akan dihambat melalui mekanisme negative feed back. Tidak semua hormon dapat dikontrol melalui mekanisme negative feed back ini. Contohnya : estrogen pada laki laki, testeteron pada perempuan, hormon plasenta dan hormon yang diproduksi oleh tumor ectopik. Faktor kedua yang mengatur mekanisme kerja hormon adalah : intrinsic rhytmicity. Ritme intrinsik ini dapat berlangsung beberapa menit, hari atau minggu. Contohnya : ACTH, cortisol, glukokortikoid dan hormon pertumbuhan mengikuti ritme circadian harian. Seperti hormon reproduktive pada wanita mempunyai pola yang bervariasi sampai lebih dari beberapa minggu.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

25

Rithme intrinsik ini dikontrol oleh beberapa faktor seperti : Lingkungan, Neurogenic , umur, pertumbuhan dan perkembangan. Faktor ekstrinsik seperti nyeri, trauma infeksi adalah faktor ketiga yang mempengaruhi kadar hormon tertentu. Faktor ekstrinsik ini dapat meningkatkan kadar hormon diatas normal. Kadar hormon dipengaruhi juga oleh ekskresi atau inactivation metabolik . Ginjal dan hati adalah organ yang paling berpangur terhadap inactivation hormonan dan eksresi. Banya penyakit pada organ ini yang menyebabkan peningkatan kadar hormon. Kesimpulan : Kadar hormon dikontrol oleh banyak mekanisme.

PENGKAJIAN UMUM SISTEM ENDOKRIN (General Assesment Of Endokrine System)


Data Subjektif
1. Data demografi. Usia dan jenis kelamin merupakan data dasar yang penting kelainan-kelainan somatik harus selalu dibandingkan dengan usia dan gendar , misalnya BB dan tempat tinggal juga juga perlu dikaji. 2. Riwayat kesehatan keluarga Mengkaji kemungkinan adanya anggota keluarga yang mengalami gangguan seperti yang dialami klien atau g2 t3 yang berhubungan secara langsung dengan g hormonal sseperti :

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

26

3.

Obesitas Gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Kelainan pada kelenjar tiorid Diabetes melitus Intertilitas. Riwayat kesehatan dan keperawatah klien

(P) mengkaji kondisi yang pernah dialami klien diluar gangguan yang dirasakan sekarang khususnya gangguan yang mungkin sudah bnerlangsung lama bila dihubungkan dengan usia dan kemungkinan penyebab.
-

Tanda-tanda seks sekunder yang berkembang, misalnya : BB yang sesuai dengan usia misalnya : selalu keras meskipun Gangguan psikologis seperti mudah marah, sesnsitif, sulit

amenore, bulu rambut tumbuh, buah dada berkembang dan lain-lain. banyak makan bergaul dan mampu berkonsentrasi. Hospitalisasi, perlu dikaji alasan hospitalisasi dan kapan kejadiannya. Bila PS diarawat beberapa hari, urutkan sesuai dengan waktu kerjanya. Juga perlu informasi tentang penggunaan obar-obatan soal sekarang dan dimasa lalu. 4. Riwayat diit. Perubahan status nutrisi atau gangguan pada saluran pencernaan dapat mencerminkan gangguan endokrin t3 atau kebiasaan makan yang salah dapat menjadi faktor penyebab yang perlu dikaji : 5. Adanya nausea, muntah dan nyeri abdomen Penurunan atau peningkatan BB drastis Selera makan menurun atau berlebihan Pola makan dan minum sehari. Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dapat mengganggu Status sosial ekonomi

fungsi endokrin seperti mata. Mendiskusikan bersama-sama bagaimana klien dan keluarga memperoleh makanan yang sehat dan bergizi. Upaya mendapatkan pengobatan bila klien dan keluarganya sakit dan upaya mempertahankan kesehatan klien dan keluarga tetap optimal.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

27

6.

Masalah kesehatan sekarang klien. Apa yang dirasakan klien. Apakah masalah atau gejala yang dirasakan terjadi secara tibaBagaimana gejala itu mempengaruhi aktivitas hidup sehari-hari. Bagaiman pola eliminasi Bagaiman fungsi seksual dan reproduksi. Apakah adaperubahan fisik tertentu yang sangat mengganggu

(P) : Menanyakan :

tiba atau perlahan dan sejak kapan dirasakan.

Selain alasan klien datang ke RS, juga perlu diidentifikasi hal-hal yang berhubungan dengan fungsi hormon secara umum seperti :
1.

Tingkat Aktivitas. (P). Mengkaji bagaimana kemampuan klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari, apakah dapat dilakukan sendiri tanpa bantuan,atau dengan bantuan atau sama sekali klien tidak berdaya untuk melakukannya. Kaji juga bagaiman asupan makanan klien apakah berlebihan atau kurang.

2.

Intake nutrisi dan Cairan Anormalitas sistim endokrine dapat menyebabkan gangguan dalam intake nutrisi dan cairan (meningkat atau menurun) yang mana bisa/tidak dihubungkan dengan pertambahan atau penurunan berat badan. Banya k masalah pada sistim endokrine adalah kronik dan membutuhkan diit pada waktu yang lama dan pada saat yang sama intake cairan dibatasi. Kualitas dan kuantitaf pengkajian dalam intake makanan sangat dibutuhkan untuk mentukkan penyebab kehilangan berat badan, adekuatnya intake untuk kebutuhan metabolisme yang normal, ketaatan terhadap diit tertentu. Daftar intake makanan dan minuman yang dikonsumsi pasien sethari hari sangan diperlukan dalam pengkajian. Riwayat mengkonsumsi alkohol dan snack juga harus dikaji. Eleman lain seperti penyedap makanan / kesenangan pada makanan tertentu, kebersihan mulut dan diit lunak untuk mencegah anoreksia dan mual juga dibutuhkan dalam pengkajian. Bagaimana toleransi pasien terhadap makanan dan minuman juga penting untuk dikaji.

3.

Pola eliminasi Sistim endokrine juga berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Riwayat pola elimonasi urine seperti ; frekuency, jumlah dan warna urine

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

28

harus diperhatikan dalam pengkajian.

Adanya nocturia atau dysuria juga harus

dicatat. Pada beberapa penyakit endokrine (tergantung penyebabnya) mungkin ada riwayat peningkatan output dan penurunan rasa haus atau penurunan output dan peningkatan berat badan. Diuretic atau therapi lainnya dan ketaatan pasien terhadap therapi yang dianjurkan juga perlu dikaji. Riwayat buang frekuency dan warna perlu dicatat. air besar seperti ; Constipasi atau perubahan dalam kebiasaan

buang air besar mungkin disebabkan oleh perubahan dalam keseimbangan cairan dan pengaturan diit. Therapi dapat juga menyebabkan perubahan dalam diit dan intake cairan sehingga dapat menyebabkan perubahan dalam pola eliminasi. 4. Tingkat Energi Karena sistim endokrine bertanggungjawab langsung sistim endokrine terhadap metabolisme (Pengumpulan dan penggunaan) nutrisi untuk energi , maka keadaan pathologi pada biasanya menurunkan tingkat energi seseorang. Banya pasien melaporkan tidak bisa melakukan sesuatu seperti apa yang mereka pikirkan. Hal ini penting untuk mengkaji tingkat energi dan sebagai petunjuk untuk membantu pasien dalam merencanakan aktivitas sehari hari . Beberapa pasien membutuhkan bantuan dalam menyesuaikan antivitas sehari hari secara bertahap dengan memberikan waktu istirahat. Banyak masalah sistim endokrine dapat dikontrol dengan baik sehingga perubahan permanen dalam kehidupan sehari - hari tidak dibutuhkan. Perubahan secara bertahap membantu pasien mendapatkan kembali tingkat energi yang normal.

5.

Perubahan Karakteristik Tubuh. Perubahan dalam distribusi rambut, porsi tubuh, suara, piigmentasi kulit dan raut wajah dapat menggambarkan masalah pada sistim endokrine. Gambaran perubahan yang dirasakan pasien tentang perubahan yang mereka rasakan amat berarti karena perubahan ini sangat sulit diobservasi dan bervariasi untuk tiap orang.

6.

Fungsi seksual dan reproduksi Sistim endokrine mempunyai kaitan yang sangat erat dengan fungsi reproduksi. Oleh karena itu riwayat reproduksi dan seksual harus dikaji. Data yang berhubungan dengan siklus haid (Kejadian, frekuancy haid, lama, jumlah perdarahan), adanya masalah dengan siklus (menorhagi), adanya impotensi dan beberapa permasalahan yang berhubungan infertilitas seharunya dikumpulkan. Juga perlu dikaji tentang kepuasan hubungan seksual pada dua keadaan. Yang pertama ; Kadang kadang

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

29

perubahan awal dalam fungsi reproduktif dapat dimanifestasikan sebagai perubahan dalam kepuasan seksual. Yang kedua : perubahan dalam sistim repriduksi bukan merupakan suatu masalah bagi pasien jika kepuasan seksual dapat dipertahankan. Contohnya infertilitas bukan merupakan masalah jika jika tidak ada keinginan untuk mempunyai anak. 7. Toleransi Terhadap Stress Sistim endokrine membantu tubuh untuk berespon terhadap stresor fisik atau psikologis. Pertanyaan yang diajuhkan pada pasien selalu dihubungkan dengan kemampuan atau ketidakmampuan pasien terhadap stresor. Seperti perasaan tidak toleransi terhadap panas dan dinginsering menangis, depresi, sering marah dan lain lain.
8.

Pola eliminasi dan keseimbangan cairan. Pola eliminasi khususnya urine dipengaruhi oleh fungsi endokrin secara langsung oleh ADH, aldosteron dan kortisol. (P). Menanyakan tentang pola berlemih dan jumlahvolume urin. Apakah klien mengatasinya. Tanyakan berapa banyak cairan yang dikonsumsi setiap hari. Kaji pola sebelum sakit untuk membandingkan pola yang ada sekarang.

9.

Pertumbuhan dan perkembangan (P). Perlu mengkaji gangguan ini apakah terjadi semenjak bagi yang dilahirkan dengan tubuh yang kerdil atau terjadi selama proses pertumbuhan atau bahkan terdapat diidentifikasi jelas kapan mulai tampak gejala tersebut. Kajisecara lengkap pertambahan ukuran tubuh dan fungsinya misalnya : bagaiman tingkat inteligensia, kemampuan berkomunikasi, inisiatif danrasa tanggung jawab. Lagi pula apakah perubahan fisik tersebut mempengaruhi kejiwaan klien.

10. Seks dan reproduksi Pada klien : kaji siklus menstruasinya mencakup lama, volume, frekwensi dan perubahan fisik termasuk sensasi nyeri atau kramp abdomen sebelum, selama, dan sesudah haid. Kaji pual pada usia berapa klien pertama kali menstruasi. Bila klien bersuami kaji akapah pernah hamil, abortus dan melahirkan. Pada klien : kaji apakah klien mampu ereksi dan orgasme dan bagaiman perasaan klien setelah melakukannya, adakah perasaan puas dan menyenangkan. ukuran alat genitalianya. Tanyakan juga perubahan bentuk dan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

30

B. Data Objektif tabel : pengkajian head to toe dibawah ini :


Yang Dikaji Pengkajian Secara umum Uraian Penampilan secara umum, proporsi tubuh (sesuai umur), tinggi dan berat badan, karakteristik tubuh, abrasi pada kulit, luka, shu, Kulit Muka/kulit kepala Rongga mulut Leher Abdomen Muskuloskeletal Sistim persyarafan RR dan tipe pernapasan. Pigmentasi, turgor, ada tidaknya oedema, kelembaban dan
3

kemerahan / kekeringan Distribusi rambut, adanya exopthalmos Kelembaban mukosa mebran Nadi dan tekanan darah, Strie Massa otot dan kekuatan Tremor, mudah tersinggung, kewaspadaan

1. -

Pemeriksaan fisik Kondisi kelenjar endokrin. Kondisi kelenjar atau organ

Melalui pemeriksaan fisik ada dua aspek utama yang dapat digambarkan yaitu :

sebagai dampak dari gangguan endokrin. Secara umum teknik pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan dalam memperoleh berbagai penyimapanan fungsi adalah : a. Inspeksi Disfungsi sistem endokrin akan menyebabkan perubahan fisik sebagai dampak terhadap pertumbuhan dan perkembanga, keseimbangan cairan dan elektroloit, seks dan reproduksi, metabolisme dan energi. Pertama-tama, amatilah penampilan umum klien apakah tampak kelemahan berat, sedang dan ringan dan sekaligus amati bentuk dan propersi tubuh. Pada pemeriksaan wajah, fokuskan pada abnormalitas struktur, bentuk dan ekspresi wajah seperti bentuk dahi, rahang dan bibir. Pada mata amati adanya edem periorbita dan exophalatmus serta apakah ekspresi wajah datar atau tumpul. Amati lidah klien terhaadap kelainan bentuk dan perubahan, ada tidaknya tremor pada saat diam atau bila digerakkan. Kondisi ini biasa ditemukan pada gangguan tiroid. Di daerah leher, amati bentuk leher, apakah leher tampak membesar, simetris atau . Untuk lebih meyakinkan pembesaran kelenjar tiroid perlu melakukan palpasi.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

31

Distensi

atau

bendungan

pada

vena

jugularis

dapat

mengidentifikasikan kelebihan cairan atau kegagalan jantung. Amati warna kulit pada leher, catat lokasinya. Bila dijumpai kelainan pada kulit leher, lanjutkan dengan memeriksa lokasi yang lain ditubuh sekaligus. Infeksi jamur, penyembuhan luka yang lama, bersisik dan petechie lebih sering dijumpai pada klien dengan hiperfungsi adrenokortikal. Amati bentuk dan ukuran dada. Pergerakan dan simetris tidaknya. Ketidaksiembangan hormonal khusunya hormon seks akan menyebabkan perubahan tanda seks sekunder oleh karena itu amati keadaan rambut atilla dan dada. Pada pemeriksaan genitalia, amati kondisi skrotum dan penis juga kritoris dan labia terhadap kelainan bentuk. b. Palpasi Kelenjar tiroid dan testes, dapat diperiksa melalui rabaan pada kondisi normal, kelenjar tiorid ini teraba. Lakukan palpasi kelenjar tiroid perlobus dan kaji ukuran, apakah ada rasa nyeri pada saat dipalpasi. Pada saat melakukan pemeriksaan pasien duduk atau berdiri sama saja. Untuk memperoleh hasil yangbaik pemeriksa berada dibelakang klien dengan posis kedua ibu jari (P) berada dibelakang leher dan jari-jari lain ada diatas kel tiorid. Palpasi testes dilakukan dengan posis tidur dan tangan (P) harus dalam keadaan hangat. (P) memegang lembut dengan ibu jari dan dua jari lain, bandingkan yang satu dengan yang lainnya terhadap ukuran atau besarnya, simetris tidaknya konsistensi dan ada tidaknya nadul. Normanya testes teraba lembut, peka terhadap sinar dan kenyal seperti karet. c. Auskultasi Mendengarkan bunyi tertentu dengan bantuan stetoskop dengan menggambarkan berbagai perubahan dalam tubuh. Auskultasi pada daerah leher diatas kelenjar tiroid dapat mengidentifikasi bruit. Bruit adalah bunyi yang dihasilkan olrh karena turbulensi pada pembuluh darah tiroidea. Auskultasi dapat dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan pada pembuluh darah dan jantung seperti tekanan darah, ritme dan rete jantung yang dapat menggambarkan gangguan keseimbangan cairan perangsangan katekilamin dan perubahan metabolisme tubuh.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

32

C. Pemeriksaan Diagnostik
1.

Pemeriksaan Diagnostik Pada Kelenjar Hipofise.

1) Foto tengkorak (kranium) : Dilakukan untuk melihat kondisi sella tursika.dapat terjadi tumor atau juga atropik. Tidak dibutuhkan persiapn fisik secara khusus, namun pendidikan kesehatan tentang tujuan dan prosedur sangatlah penting. 2) Foto tulang (osteo). : Dilakukan untuk melihat kondisi tulang. Pada klien dengan gigantisme akan dijumpai ukuran tulang yang bertambah besar dari ukuran maupun

panjangnya. Pada okromegali akan dijumpai tulangtulang perifer yang bertambah ukurannya ke

samping. Persiapan fisik secara khusus tidak ada, pendidikan kesehatan diperlukan. 3) CT scan otak : Dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya tumor pada hipofise atau hipotalamun melalui

komputerisasi. Tidak ada persiapan fisik secara khusus, namun diperlukan penjelasan agar klien dapat diam tidak bergerak selama prosedur. 4) Pemeriksaan darah dan urine a. Kadar growth Hormon : Nilai normal 10 g ml baik pada anak dan orang dewasa. Pada bayi dibulan-bulan pertama kelahiran nilai ini meningkat kadarnya. Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5 cc.persiapan khusus secara fisik tidak ada.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

33

b. Kadar

ACTH

Pengukuran

dilakukan

dengan

test

supresi

deksametason. Spesimen yang diperlukan adalah darah vena lebih kurang 5 cc dan urine 24 jam. Persiapan Pasien : 1. Tidak ada pembatasan makan dan minum. 2. Bila klien menggunakan obat-obatan seperti kortisol atau antagonisnya dihentikan lebih dahulu 24 jam sebelumnya. 3. Bila obat-obatan harus diberikan, lampirkanjenis onat dan dosisnya pada lembaran pengiriman spesimen. 4. Cegah stres fisik dan psikologis. Pelaksanaan Pemeriksaan : 1. Klien didberi deksametason 4 x 0,5 ml/hari selama-lamanya dua hari. 2. Besok paginya darah vena diambil sekitar 5 cc. 3. Urine ditampung selama 24 jam. 4. Kirim spesimen(darah atau urine) ke laboratorium. ACTH menurun kadarnya dalam darah. Kortisol darah kurang dari 5 ml/dl. 17-Hydroxi-Cortiko-Steroid (17 OHCS) dalam urine 24 jam kurang dari 2,5mg. Cara sederhana dapat juga dilakukan dengan pemberian deksametason 1 mg per oral tengah malam, baru darah vena diambil lebih kurang 5 cc pada pagi hari dan urine ditampung selama 5 jam. Spesimen dikirim ke laboratorium. Nilai normal bila kadar kortisol darah kurang atau sama dengan 3 mg/dldan eksresi 17 OHCS dalam urine24 jam kurang dari 2,5mg.
2.

Pemeriksaan Diagnostik Pada Kelenjar Tiroid


Up take Radioaktif (RAI) Tujuan pemeriksaan adalah untuk mengukur kelenjar tiroid dalam menangkap iodida. Persiapan. Klien puasa 6-8 jam. Jelaskan tujuan dan prosedur. Pelaksanaan. Klien diberi radioaktof Jodium (I131) per oral sebanyak 50 microcuri.

1)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

34

Dengan alat pengukur yang ditaruh diatas kelenjar tiroid diukur radioaktif yang tertahan. Juga dapat diukur clearenceI131 melalui ginjal dengan mengumpulkan urine selama 24 jam dan diukur kadar radioaktif jodiumnya. Banyaknya I131 yang ditahan oleh kelenjar tiroid dihitung dalam persentase sebagai berikut 1. Normal : 10-35 %. 2. Kurang dari : 10% disebut menurun, dapat terjadi pada hipotiriodisme. 3. Lebih dari : 35 % disebut meninggi, dapat terjadi pada tirotoxikosis atau pada defisiensi jodium yang sudah lama dan pada pengobatan lama hipertirodisme 2) T3 T4 Serum : Persiapan fisik secara khusus tidak ada. Spesimen yang dibutuhkan adalah darah vena sebanyak 50-100 cc. Nilai normal pada orang dewasa : Jodium bebas : 0,1-0,6 ml/dl T3 : 0,2-0,3 ml/dl T4 : 6-12 ml/dl Nilai normal pada bayi / anak : T3 : 180-240 mg/dl 3) Up take T3 Resin : Bertujuan untuk mengukur jumlah hormon tiroid (T3) atau tiroid binding globulin (TBG) tak jenuh. Bila TBG naik berarti hormon tiroid bebas meningkat. Peningkatan TBG terjadi pada hiertiroidisme dan menurun pada hiertiroidisme.

Dibuthkan spesimen darah vena sebanyak 5 cc. Klien puasa selama 6-8 jam. Nilai normal pada: Dewasa : 25-35 %up take oleh resin. Anak : pada umumnya tidak ada. 4) Protein Bound Iodine (PBI) : Bertujuan mengukur jodium yang terkait pada protein plasma. Nilai normal 4-8 mg% dalam 100ml darah.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

35

Spesimen yang dibutuhkan darah vena sebanyak 5-10 cc. Klien dipuasakan sebelum pemeriksaan 6-8 jam.

5)

Laju Metabolisme Basal (MBR) : Bertujuan untuk mengukursecaratidak langsung jumlah oksigen yang dibutuhkan tubuh di bawah kondisi basal selama beberapa waktu. Persiapan Klien puasa sekitar 12 jam Hindari kondisi yang menimbulkan kecelakaan dan stres. Klien harus tidur paling tidak 8 jam Tidak mengkonsumsi obat-obat analgesik dan sedatif Jelaskan pada klien tujuan pemeriksaan dan prosedurnya. Tidak boleh bangun dari tempat tidur sampai pemeriksaan dilakukan. Pelaksanaan Segera setelah bangun, dilakukan pengukuran tekanan darah dan nadi Dihitung dengan rumus : BMR (0,75 x pulse) + (0,75 x Tek Nadi) 72 Nilai normal BMR : -10 s/d 15%. Pertimbangan faktor umur, jenis kelamin dan ukuran tubuh dengan kebutuhan oksigen jaringan. Pada klien yang sangat cemas, dapat diberkan fenobarbital yang pengukurannya disebut Sommolent Metebolisme Rate. Nilai normalnya 813% lebih rendah dari MBR.

6)

Scanning Tyroid : Dapat digunakan teknik antara lain : Radio Iodine Scanning. Digunakan untuk menentukan apakah nodul tiroid tunggal atau majemuk dan apakah panas atau dingin (berfungsi atau tidak berfungsi). Nodul panasmenyebabkan hipersekresi jarang bersifat ganas. Sedangkannodul dingin (20%) adalah ganas. Up take iodine. Digunakan untuk menentukan pengambilan jodium dariplasma. Nilai normal 10 s/d 30% dalam 24 jam.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

36

3. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Paratiroid


1) Percobaan Sulkowitch Dilakukan untuk memeriksa perubahan jumlah

kalsium dalam urine, sehinggga dapat diketahui aktivitas kelenjar paratiroid. Percobaan dilakukan dengan menggunkan Reagens Sulkwitch. Bila pada percobaan diperkirakan tidak terdapat endapan maka kadar kalsium white plasma cloud)

antara

5mg/dl.

Endapan

sedikit

(fine

menunjukkan kadar kalsium darah normal (6 ml/dl). Bila endapan banyak, kadar kalsium tinggi. Persiapan Urine 24 jam ditampung. Makanan rendah kalsium 2 hari berturut-turut. Pelaksanaan Masukan urine 3 ml ke dalam tabung (2 tabung) Kedalam tabung pertama dimasukan reagens sulkowitch 3 ml, tabung kedua hanya sebagai kontrol. Pembacaan hasil secara kwantitatif : Negatif (-) Positif (+) ` Positif (+ +) Positif (+ + +) Positif (+ + + +) : Tidak terjadi kekeruhan : Terjadi kekeruhan yang halus : Kekeruhan sedang : Kekeruhan banyak timbul dalam waktu kurang 20 detik. : Kekeruhan hebat, terjadi seketika.

2) Percobaan Ellwort-Howard : Percobaan didasarkan pada diuresis pospor yang dipengaruhioleh parathormon. Cara Pemeriksaan Klien disuntik dengan parathormon melalui intravena kemudian urine ditampung dan diukur kadar pospornya. Pada hipoparatiroid, diuresis pospor bisa mencapai 5-6x nilai normal. Pada hipoparatiroid, diuresis pospornya tidak banyak berubah. 3) Percobaan Kalsium Intravena

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

37

Percobaan ini didasarkan pada anggapan bahwa bertambahnya kadar serum kalsium akan menekan pembentukan paratharman. Normal bila pospor serum meningkat dan pospor diuresis berkurang. Pada hiperparatiroid, pospor serum dan pospor diuresis tidak banyak berubah. Pada hiperparatiroid, pospor serum hampir tidak mengalami perubahan tetapi pospor diuresis meningkat. 4) Pemeriksaan radiologi Persiapan khusus tidak ada. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya klasifikasi tulang, penipisan dan osteoporosis. Pada hipotiroid, dapat dijumpai klasifikasi bilateral pada dasar tengkorak.densitas tulang bisa normal atau meningkat. Parahipertiroid, tulang menipis, berbentuk kistal dalam tulang serta tuberculae pada tulang. a. Pemeriksaan Elektrocardiogram (ECG) Persiapan khusus tidak ada. Persiapan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelainan gambaran EKG akibat perubahan kalsium serum terhadap otot jantung. Pada hiperparatiroid, akan dijumpai gelombang Q-T yang memanjang sedangkan pada hiperparatiroid interval Q-T mungkin normal.

b. Pemeriksaan Elektromiogram (EMG) Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan kontraksi otot akibat perubahan kadar kalsium serum. Persiapan khusus tidak ada.

4. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Pankreas


1) Pemeriksaan glukosa : Jenis pemeriksaannya adalah gula darah puasa.

Bertujuan untuk menilai kadar gula darah setelah puasa selama 810 jam. Nilai Normal : Dewasa : 70-110 md/dl Bayi : 50-80 mg/dl Anak-anak : 60-100 mg/dl Persiapan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

38

Klien dipuasakan sebelum pemeriksaan dilakukan Jelaskan tujuan pemeriksaan Pelaksanaan Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5 s/d 10 cc Gunakan anti koagulasi bilapemeriksaan tidak dapat dilakukan segera. Bila klien mendapat pengobatan insulin atau oral hipoglikemik untuk sementara tidak diberikan. Setelah pengambilan darah, klien diberi makan dan minum serta obat-obatan sesuai program. Gula darah setelah dua jam setelah makan. Sering disingkat dengan gula darah dua jam PP (post prandial). Bertujuan untuk menilai kadar gula darah dua jam setelah makan. Dapat dilakukan secara bersamaan dengan pemeriksaan gula darah puasa artinya setelah pengambilan gula darah puasa, kemudian klien disuruh makan menghabiskan posi yang biasa lalu setelah dua jam kemudian dilakukan pengukuran kadar gula darahnya. Atau bisa juga dilakukan secara terpisah tergantung pada kondisi klien. Prinsip persiapan dan pelaksanaan sama saja namun perlu diingat waktu yang tepat untuk pengambilan spesimen karena hal ini dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Bagi klien yang mendapat obat-obatan sementara dihentikan sampai pengambilan spesimen dilakukan.

5. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Adrenal


1) Pemeriksaan Hemokonsentrasi Darah Nilai normal pada : Dewasa wanita : 37-47 % Pria : 45-54 % Anak-anak : 31-43 % Bayi : 30-40 % Neonatal : 44-62 % Tidak ada persiapan secara khusus. Spesimen darah dapat diperoleh dari perifer seperti ujung jari atau melalui pungsi intravena. Bubuhi anti koagulan ke dalam darah untuk mencegah pembekuan. 2) Pemeriksaan Elektrolit Serum (Na, K, C1), dengan nilai normal :

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

39

Natrium : 310-335mg (13,6-14meq/liter) Kalium : 14-20 mg% (3,5-5,0 meq/liter) Chlorida : 350-375 mg% (100-106 meq/liter) Pada hipofungsi adrenal akan terjadi hipernatremi dan hipokalemi, dan sebaliknya terjadi pada hiperfungsi adrenal yaitu hiponatremi dan hiperkalimia. Tidak diperlukan persipan fisik secara khusus. 3) Pencobaan Vanil Mandelic acid (VMA) : Bertujuan untuk mengukur katekolamin dalam urine. Dibutuhkan urine 24 jam. Nilai normal 1-5 mg. Tidak ada persiapan khusus. 4) Stimulasi Test Dimaksudkan untuk mengevaluasi dan menendeteksi hipofungsi adrenal. Dapat dilakukan kortisol dengan pemberian ACTH. Stimulasi terhadap aldosteron dengan pemberian sodium.

SISTIM METABOLISME DAN ENDOKRINE CHAPTER TWO

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

40

PENATALAKSANAAN PADA INDIVIDU DENGAN MASALAH PADA KELENJAR PITUITARY, THYROID, PARATHYROID DAN KELENJAR ADRENAL ( Management Of persons With Problems of the pituitary, thyroid, parathyroid and adrenal Gland ) Oleh : SIMON SANI KLEDEN, Skep, NS

PENATALAKSANAAN PADA INDIVIDU DENGAN MASALAH PADA KELENJAR PITUITARY, THYROID, PARATHYROID DAN KELENJAR ADRENAL Oleh : Simon Sani Kleden, Skep, Ns Tujuan pembelajaran Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa seharusnya mampu : 1. Menggambarkan pathofisiologi dari hyper atau hyposekresi pituitary anterior dan posterior, thyroid, parathyroid dan kelenjar adrenal 2. Menggambarkan manifestasi klinik termasuk : Riwayat, pemeriksaan fisik dan uji diagnostik yang berhubungan dengan hyper atau hyposekresi pituitary anterior dan posterior, thyroid, parathyroid dan kelenjar adrenal 3. Mengembangkan rencana keperawatan termasuk : merumuskan diagnosa keperawatan yang mungkin timbul, kriteria hasil dan intervensi yang berhubungan dengan masalah hyper atau hyposekresi pituitary posterior, thyroid, parathyroid dan kelenjar adrenal. 4. Mengidentifikasikan jenis pembedahan pada kelenjar pituitary posterior, thyroid, parathyroid dan kelenjar adrenal anterior dan anterior dan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

41

5. Menegmbangkan

rencana

perawatan

pada

individu

yang

mengalami

pembedahan pada kelenjar pituitary anterior dan posterior, thyroid, parathyroid dan kelenjar adrenal 6. Mengidentifikasikan kebutuhan self care yang diperlukan oleh pasien dalam menjalani therapi pengganti hormon pituitary. 7. Mengembangkan rencana pendidikan kesehatan bagi pasien dan posterior, thyroid, parathyroid dan kelenjar adrenal Pendahuluan Gangguan pada sistim endokrine mengakibatkan berbagai perubahan fisiologi pada tubuh. Disfungsi pada sistim mendokrine merupakan masalah yang sangat serius dan bisa menjadi vatal karena fungsi vital tubuh diatur oleh hormon dari pituitary anterior dan posterior, thyroid, parathyroid dan kelenjar adrenal. Hasil akhir dari proses pathologic pada kelenjar endokrine adalah menekan atau meningkatkan kadar hormon dalam darah. Banyak tipe proses pathologik yang mengakibatkan kerusakan pada jaringan endokrine dan menurunkan kadar hormon dalam darah. Tipe tipe proses pathologic yang mengakibatkan penurunan kadar hormon dalam darah adalah : 1. Kerusakan kelenjar karena proses infiltrasi, infarction, infeksi, proses autoimun dan imunologic serta tumor. 2. Perkembangan embrional yang tidak normal yang menyebabkan masalah pada struktur atau tidak adekuatnya kapasitas untuk sintesis. 3. kerusakan kelenjar karena pembedahan (pengangkatan), therapi radiasi atau trauma. Tipe tipe proses pathologik yang menyebabkan peningkatan kadar hormon dalam darah adalah : 1. Hiperplasia atau hipertropi dari kelenjar endokrine. 2. Pertumbuhan tumor jinak atau ganas dengan kemmampuan untuk mengsekresi hormon 3. Rangsangan pada kelenjar oleh pelepasan faktro faktor tropic dari tempat tropic non endokrine. 4. Sekresi hormon oleh jaringan ektopik nonendokrine 5. Pemberian hormon hormon eksogen yang menjalani therapi hormonal dalam jangka waktu yang lama pada kelenjar pituitary anterior

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

42

6. Penurunan metabolisme hormon akibat lamanya aktivitas hormon. Untuk kelenjar endokrine yang dikontrol oleh hypothalamus dan kelenjar pituitary, yang termasuk didalamnya adalah ; kelenjar thyroid dan adrenalcortical dan kelenjar gonad serta statur pathologis yang mengakibatkan hiper atau hiposekresi diklasifikasi menjadi primary dan secondary. Prymary problems terjadi bila gangguan pada kelenjar thyroid, kelenjar corteks adrenal dan gonad. Sedangkan secondary problem terjadi bila gangguan akibat dari disfungsi hipothalamus atau atau pituitary anterior. Tumor jinak dan ganas dapat tumbuh pada sistim endokrine. Walaupun kadar hormon tidak terlalu terpengaruh oleh perkembangan tumor , tetapi perkembangan yang cepat dapat merusak jaringan normal yang mengakibatkan hyposekresi hormon atau tumor dapat menyebabkan hipersekresi jaringan yang mengakibatkan hypersekresi hormon.Umumnya pengobatan pada tumor dilakukan dengan pembedahan, radiasi atau therapi obat sering mengakibatkan penekanan kadar hormon dalam darah.

GANGGUAN PADA KELENJAR PITUITARY 1. KONSEP DASAR HYPERPITUTARISME 1.1 Etiologi / Epidemiologi Hyperpitutarisme pada bagian anterior Kelenjar pituitary bisa terjadi pada satu hormon, dua hormon atau lebih . Penyebab utama karena masalah pada kelenjar pituitari atau karena penyebab lainnya akibat dysfungsi hipothalamus. Adenomas pituitary merupakan kasus yang paling sering menyebabkan hiperpituitarisme. 6 18 % tumor intracranial adalah Adenoma pituitary anterior. Pada banyak pasien penyebab pasti tumor ini belum diketahui dan tidak ada riwayat dalam keluarga. Tumor ini sering menggantikan fungsi pituitary anterior sehingga terjadi oversekresi hormon. Tumor ini biasanya jinak tetapi dapat berkembang menjadi sangat agresive. Klasifikasi tumor ini didasarkan pada hormon yang disekresinya. Contohnya Prolactinoma, somatotroph tumor, cotrticotroph tumor atau gonadotropin adenoma. Tumor ini diklasifikasikan juga berdasarkan ukuran dan dalamnya invasi tumor pada sela tursica (perhatikan tabel dibawah ini).
KLASIFIKASI ADENOMA PITUITARI

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

43

Enclosed Invasine Microadenoma Macroadenoma

Tidak ada invasi kedalam lantai sela tursica Merusak sebagaian atau semua sella tursica Enclosed tumor dengan diameter < 10 mm Encolsed tumor dengan diameter lebih dari 10 mm

60 80 % dari semua tumor pada kelenjar pituitary adalah prolactinoma (Prolactine secreting tumors). Berikutnya adalah tumor tumor yang menyebabkan hipersekresi growth hormon dan yang ketiga adalah tumor tumor yang mengsekresi ACTH (Corticotroph tumors). Gonadotropin adenoma, TSH secreting hormon jarang ditemukan. Pitutary adenoma dapat terjadi sebagai bagian dari multiple endokrine neoplasma tipe I (MEN I) MEN I merupakan gangguan herediter yang terdapat pada pituitary primer, tumor pada sel sel pula langerhans pankreas dan pituitary adenoma. Pituitary adenoma pada MEN I biasanya mengsekresi GH tetapi kadang ditemukan mengsekresi prolactine atau ACTH. Hiperfungsi pituitary dapat terjadi akibat hiperplasia kelenjar pituitary. Penyebab hiperplasia pituitary ini belum diketahui, tetapi salah satu hipotesa mengatakan bahwa Hiperplasia pituitary terjadi akibat signal feedback yang menyebabkan hipersekresi. Kurangnya feedback dari organ target dapat menyebabkan hiperplasia dan hipersekresi. 1.2 Pathofisiologi Ganggguan fungsi fisiologis yang terjadi akibat tumor pituitary diakibatkan oleh penekanan massa tumor pada cranium dan efek dari kelebihan sekresi hormon. 1.2.1 Gangguan neurologis Gangguan neurologis terjadi akibat adanya pertumbuhan tumor didalam Dura, Sellae Diapragh atau langsung pada struktur. Ganggua neurologis yang paling umum ditemukan adalah pada saraf III, IV dan VI. Tumor dapat berinfiltrasi strutur tulang atau pada lobus frontal atau temporal dan pada tumor yang berukuran besar dapat menekan dan berinfiltrasi ke hipothalamus. Perdarahan yang terjadi didalam tumor dapat meningkatkan ukuran tumor secara tiba tiba dan menimbulkan tanda dan gejala neurologis. 1.2.2 Gangguan Endokrine a.Hipersekresi Prolactine

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

44

Hipersekresi prolactine biasanya disebabkan karena tumor pituitary tetapi dapat pula disebabkan karena agent pharmacologis seperti : Psychotropics, antihipertensi, estrogen, opiat atau juga karena penyakit pada CNS yang berhubungan langsung dengan sekresi dopamin. b.Hipersekresi GH Hypersekresi GH pada tahun - tahun awal disebut sebagai berukuran raksasa). Bila kelenjar pituitary anterior mensekresi terlalu banyak GH pada usia pertumbuhan normal, akan meninmbulakan gangguan yang disebut acromagaly. Karakteristik acromagaly yaitu melebarnya tulang-tulang di tangan, kaki, rahang, dan pipi. Wajah nampak acromegali (pembesaran tulang dan jaringan ). Ciri utamanya adalah dahi melebar dan hidung membesar . Pada kulit pori-pori melebar. c.Hipersekresi Gonadotropin Tumor gonadotropin sering dijumpai pada usia pertengahan dan lebih banyak ditemukan pada laki laki dari pada wanita. Hipersekresi FSH lebih sering terjadi, walapun tumor juga dapat mengsekresi LH. Kasus ini jarang ditemukan. 1.3 Manifestasi Klinik 1.3.1 Neurologic a. Microadenoma (enclosed) Abnormalitas pada Rontgent foto, MRI dan CT Scan Tidak ada tanda dan gejala neurologis Abnormalitas pada Rontgent foto, MRI dan CT Scan Gangguan penglihatan ; Hemianopia atau scotomos sampai Sakit kepala Somnolence Peningkatan tekanan intracrania (Hydrosephalus, papil kehidupan dikenal\ Gigantisme (seperti raksasa, anak tumbuh

b. Macroadenoma (enclosed atau invasive)

buta total

oedema)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

45

1.3.2 Endokrine

Pada tumor yang besar : Gangguan nafsu makan, tidur, Perubahan perilaku dan kejang

pengaturan suhu, emosional.

a. Hipersekresi Prolactine Pada Perempuan : Biasanya microadenoma Gangguan Infertiliti Galactorhoe Defisit steroid ovarian : Atropi mukosa vagina, dyspareunia, haid : Haid ireguler, periode anovulatory,

oligomenorrhoe atau amenorhoee

penurunan lubrikasi vagina dan penurunan Libido Pada laki laki Biasanya macroadenoma Menurunnya libido dan kemungkinan impotensi Jumlah sperma berkurang dan infertility Gynecomastia Peningkatan kadar serum prolactine : Lebih dari 23 > 10000 Penurunan kadar gonad steroid Macroadenoma Perubahan pada wajah (hidung, bibir membesar) Peningkatan ukuran kaki dan tangan Perubahan suara Peningkatan pada tulang belakang yang menyebabkan dan jantung

Pada Laki Laki dan Perempuan ng/ml. b. Hipersekresi GH

kiphosis Pembesaran lidah, kelenjar ludah, hati, ginjal, yang mengakibatkan peningkatan tekanan Perubahan dalam pergerakan : lethargi dan kelelahan

1.4 Management medis

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

46

Bila pertumbuhan tumor tidak dapat dicegah atau produksi hormon tidak dapat dihambat dan dikembalikan ke keadaan normal maka akan menyebabkan berbagai perubahan / permasalahan pada fungsi tubuh secara keseluruhan. Pengobatan dapat dilakukan dengan cara : pembedahan, radiasi, atau agent pharmakologic. 2. ASUHAN KEPERAWATAN HIPERPITUITARISME 2.1 Pengkajian a. Data Subyektive a) Riwayat gangguan sensori : Gangguan penglihatan b) Ketidaknyamanan : Nyeri kepala temporal / frontal, arthralgia, nyeri tulang belakang. c) Riwayat perubahan pada penampilan tubuh ; Perubahan ukuran tubuh, peningkatan keringat atau kulit menjadi sangat berminyak. d) Riwayat perubahan tingkat ebergi : Letahrgi, lemah dan menurunnya aktivitas. e) Perubahan psikososial : Mudah tersinggung, cemas. f) Riwayat perubahan haid pada perempuan, inpotensi pada laki laki, perubahan dalam libido. g) Riwayat pengobatan : Oral contrasepsi dan psikotropik. h) Tingkat pengetahuan tentang gangguan , pengobatan dan hasil dari pengobatan. b. Data Subyektive a) Fungsi dari saraf cranial : II, III, IV dan VI b) Perubahan retina yang mengindikasikan adanya papiledema atau Peningkatan tekanan darah c) Status mental : Perubahan status mental d) Postur dan penampilan tubuh e) Kemampuan melakukan aktivitas dan fungsi sendi. f) Tanda tanda vital g) Tinggi dan berat badan h) Adanya Organomegaly : Cardiomegali, hepatomegali dan tanda- tanda yang berhubungan dengan keadaan ini. 2.2 Analisa Data : Diagnosa keperawatan Untuk semua pasien dengan tumor pituitary (Prepengobatan)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

47

a. Kecemasan

berhubungan

dengan

tidak

pastinya

pengobatan

dan

penyebab masalah b. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan berhubungan dengan diagnosa dan pengobatan yang baru c. Nyeri berhubungan dengan Sakit kepala akibat intrakranial d. Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan karakteristik dan fungsi tubuh. e. Gangguan persepsi / sensori ; penglihatan berhubungan Penekanan pada optikchiasma, gangguan fungsi saraf II< III, IV dan VI Untuk semua pasien dengan Prolactine secreting tumors (Prepengobatan) a. yang baru b. Gangguan fungsi seksual berhubungan dengan gangguan siklus haid, penurunan libido atau impotensi Untuk semua pasien dengan GH secreting tumors (Prepengobatan) a. pengobatan yang baru b. c. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan Nyeri berhubungan dengan adanya tekanan pada nyeri akibat tekanan pada ujung saraf saraf yang di hubungkan perubahan pada sendi dan tulang belakang akibat perkembangan tulang yang abnormal Untuk semua pasien dengan tipe pembedahan a. b. c. d. Potensial kurang volume cairan berhubungan dengan Gaagguan pertukaran gas berhubungan dengan Potensial infeksi berhubungan dengan kehilangan Kurang pengetahuan tentang : prosedur, tujuan, dan gagguan fungsi ADH atau korteks adrenal akibat trauma pembedahan tidak adekuatnya napas dalam, terpasangnya drain pada hidung barrier terhadap mikroorganisme akibat insisi pada mukosa membran komplikasi pembedahan berhubungan dengan kurang informasi Untuk semua pasien dengan terapi radiasi Kurang pengetahuan tentang penyakit, pengobatan diagnosa dan dan gangguan fungsi seksual berhubungan dengan Kurang pengetahuan tentang penyakit, pengobatan dan gangguan fungsi seksual berhubungan dengan diagnosa dan pengobatan tekanan massa pada

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

48

a.

Potensial injury berhubungan dengan ketidakmampuan

mempertahankan hemostasis, cardiac output, dan fungsi pernapasan, serta keseimbangan cairan dan elektrolit akibat difesiensi ACTH dan TSH b. c. Kurang pengetahuan tentang : prosedur, tujuan, dan Gangguan fungsi seksual berhubungan dengan komplikasi radiasi berhubungan dengan kurang informasi gangguan siklus haid, penurunan libido atau impotensi Untuk semua pasien dengan terapi pengobatan a. 2.3 Perencanaan Untuk semua pasien ( pre pengobatan ) a. Kecemasan pasien terkontrol atau dapat di kurangi di tandai dengan : pasien bisa tidur dengan nyaman, dapat berinteraksi dengan orang lain, pasien mengatakan tidak cemas b. dapat c. d. e. Pengetahuan pasien akan meningkat yang di tandai dengan pasien menyebutkan atau menjelaskan tentang penyakit, tujuan Kurang pengetahuan tentang : prosedur, tujuan, dan komplikasi radiasi berhubungan dengan kurang informasi

pengobatan, serta komplikasi yang akan timbul Pasien akan memperoleh rasa nyaman yang di tandai dengan Harga diri pasien akan di tingkatkan yang di tandai dengan pasien Pasien dapat melakukan aktifitasnya secara independent baik di pasien tidak mengeluh nyeri, wajah tidak meringis dapat menerima diri apa adanya rumah atau di rumah sakit 2.4 Intervensi / Implementasi Tindakkan perawatan sebelum di lakukan terapi Pasien dengan produksi hormon akibat tumor pada kelenjar pituitary perlu di berikan perawatan yang intensif temasuk memperhatikan tanda tanda dan gejala seperti nyeri kepala yang persisten atau berulang ulang, gangguan pengelihatan atau perubahan karakteristik fungsi tubuh. Tindakkan perawat pada fase ini adalah memberikan pendidikkan kesehatan yang meliputi Tindakkan perawatan setelah terapi 1) Pencegahan infeksi : rawat luka steril, monitor tanda tanda infeksi secara dini, kolaborasi terapi antibiotik

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

49

2)

Mencegah kurangnya volume cairan : kurang volume cairan

merupakan masalah yang sering terjadi selama periode post operasi. Pasien beresiko terjadinya diabetes insipidus karena tidak adekuatnya ADH. Poliuri dan BJ urine 1000 1005 merupakan tanda dari diabetes insipidus. Diabetes insipidus biasanya terjadi temporer. Ukur intake dan output setiap 4 8 jam, timbang BB setiap hari, kaji adanya keluhan haus untuk mengidentifikasikan adanya diabetes insipidus. Jika terjadi defisit ADH pengobatan tergantung pada berat ringannya. 3) Mencegah komplikasi pernapasan. Karena pasien mengunakan nasal packing dan di anjurkan untuk tidak boleh batuk maka pasien mmengunakan mulut sehingga berisiko terjadinya ganngguan pola napas atau pertukaran gas. Pasien seharusnya di ajarkan tentang teknik pernapasan mulut dan dalam. Kaji tanda tanda vital dan bunyi napas setiap 4 8 jam untuk mengidentifikasikan pertukaran gas. Pertahankan adekuatnya intake cairan untuk membantu mencegah kekringan mukosa membran.

3. KONSEP DASAR HIPOPITUTARYSME 3.1 Pengertian Hipopituitarysme adalah Gangguan yang terjadi akibat kekurangan hormone yang diproduksi oleh kelenjar pituitary. Pada hipopituitarism manifestasi klinik yang paling sering dilihat adalah penurunan sekresi gonadotropin LH dan FSH pada laki-laki dapat menyebabkan testikular failure yaitu penurunan produksi testosteron dari sel leyding . Pada laki-laki dapat mengakibatkan terlambat pubertas dan kemandulan pada laki-laki dewasa. Pada perempuan penurunan atau tidak adanya gohadotropin dapat mengakibatkan ovulasi. Bentuk dan keberadaan corpus luteum dapat mengakibatkan kemandulan, tidak adanya PRL pada laki-laki tidak timbul gejala sedangkan pada wanita penurunan PRL merupakan salah satu penyebab dari gangguan laktasi pada periode postpartum penurunan sintesis dan sekresi growth hormon merupakan salah satu tanda yang sering dilihat dari patofisiologi hypopituitary pada penurunan growth hormone. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan sintesis. Pengeluaran atau penggunaan growth hormon pada jaringan untuk merespon sematomedin.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

50

Sematomedin adalah hormon yang diproduksi pada hati dengan stimulasi secara tidak langsung dari growth hormone. Penurunan growth hormone atau somatomedin pada anak dapat menyebabkan retardasi mental pada pertumbuhan. Insufisiensi hipofise menyebabkan hipofungsi organ sekunder. Hipofungsi hipofise jarang terjadi, namun dapat saja terjadi dalam setiap kelompok usia. Kondisi ini dapat mengenai semua sel hipofise (panhipopituitarisme) atau hanya sel-sel tertentu, terbatas pada satu subset sel-sel hipofise anterior (mis., hipogonadisme sekunder terhadap defisiensi sel-sel gonadotropik) atau sel-sel hipofise posterior (mis., diabetes insipidus). 3.2 PATOFISIOLOGI Penyebab hipofungsi hipofise dapat bersifat primer dan sekunder. Primer bila ganggguannya terdapat pada kelenjar hipofise itu sendiri, dan sekunder bila gangguan terdapat pada hipotalamus. Penyebab tersebut termasuk diantaranya:
Defek perkembangan kongenital, seperti pada dwarfisme pituitari atau

hipogonadisme.
Tumor yang merusak hipofise (mis., adenoma hipofise nonfungsional)

atau merusak hipotalamus (mis., kraniofaringioma atau glioma).


Iskemia, seperti pada nekrosis postpartum (sindrom Sheehan's).

Diagnosis insufisiensi hipofise dapat diduga secara klinik namun harus ditegakan melalui uji biokimia yang sesuai, yang akan menunjukkan defisiensi hormon. Panhipopitutarisme. Pada orang dewasa dikenal sebagai (penyakit Simmonds') yang ditandai dengan kelemahan umum, intoleransi terhadap dingin, napsu makan buruk, penurunan berat badan, dan hipotensi. Wanita yang terserang penyakit ini tidak akan mengalami menstruasi dan pada pria akan menderita impotensi clan kehilangan libido. Insufisiensi hipofise pada masa kanak-kanak akan mengakibatkan dwarfisme. Diabetes insipidus ditandai dengan kurangnya ADH sekunder terhadap lesi yang menghancurkan hipotalamus, stalk hipofise, atau hipofise posterior. Kondisi ini dapat disebabkan oleh tumor, infeksi otak atau meningen, hemoragi intrakranial, atau trauma yang mengenai tulang bagian dasar tengkorak. Klien dengan diabetes insipidus mengeluarkan urine hipotonik dalam jumlah yang besar (5 sampai 6 liter/hari).

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

51

Diabetes insipidus dikelompokan menjadi nefrogenik (adalah diabetes insipidus yang terjadi secara herediter dimana tubulus ginjal tidak berespons secara tepat terhadap ADH, sementara kadar hormon dalam serum normal), primer (diabetes insipidus yang disebabkan oleh gangguan pada hipofise), sekunder (diabetes insipidus yang disebabkan oleh tumor pada daerah hipofise-hipotalamus, dan tumor sekunder metatasis dari paru dan payudara, dan diabetes insipidus yang berkaitan dengan obat-obatan diakibatkan oleh pemberian litium karbonat (Eskalith, Lihthobid, Carbolith) dan Demeclocyline (Declomycin). Obat-Obatan ini dapat mempengaruhi respons tubulus ginjal terhadap air. Insufisiensi hipotalamus membutuhkan terapi penggantian hormon yang sesuai. Terapi penggantian dengan ADH menunjukkan basil yang efektif dalam mengobati diabetes insipidus.

4. ASUHAN KEPERAWATAN PADA HIPOFUNGSI PITUTARY


4.1 Pengkajian 1) Riwayat penyakit masa lalu. Adakah penyakit atau trauma pada kepala yang pernah diderita klien, serta riwayat radiasi pada kepala. 2) Sejak kapan keluhan dirasakan. Dampak defisiensi GH mulai tampak pada masa balita sedang defisiensi gonadotropin nyata pada masa praremaja. 3) Apakah keluhan terjadi sejak lahir. Tubuh kecil dan kerdil sejak lahir terdapat pada klien kretinisme.
4) Berat dan tinggi badan saat lahir.

5) Keluhan utama klien:


Pertumbuhan lambat Ukuran otot dan tulang kecil Tanda-tanda seks sekunder tidak berkembang; tidak ada rambut

pubis dan axilla, payudara tidak tumbuh, penis tidak tumbuh, tidak mendapat haid, dll.
Infertilitas * impotensia libido menurun * nyeri sanggama pada wanita

6) Pemeriksaan fisik
Amati bentuk, dan ukuran tubuh, ukur berat badan dan tinggi badan,

amati bentuk dan ukuran buah dada, pertumbuhan rambut axilla dan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

52

pubis dan pada klien pria amati pula pertumbuhan rambut di wajah (jenggot dan kumis). Palpasi kulit, pada wanita biasanya menjadi kering dan kasar. Tergantung pada penyebab hipopituitrisme, perlu juga dikaji data lain sebagai data penyerta seperti bila penyebabnya adalah tumor maka perlu dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi cerebrum dan fungsi nervus kranialis, dan adanya keluhan nyeri kepala. 7) Kaji pula dampak perubahan fisik terhadap kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. 8) Data penunjang dari hasil pemeriksaan diagnostik seperti:
Foto kranium untuk melihat pelebaran dan atau erosi sella tursika Pemeriksaan serum darah; LH dan FSH, GH, prolaktin, kortisol,

aldosteron, testosteron, androgen, test stimulasi yang mencakup uji toleransi insulin dan stimulasi tiroid realising hormon.
4.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang dapat dijumpai pada klien hipopituitarisme adalah: 1) Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan struktur dan fungsi tubuh akibat defisiensi gonadotropin dan defisiensi hormon pertumbuhan. 2) Disfungsi seksual. 3) Koping individu takefektif. 4) Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, pengobatan dan perawatan di rumah. 5) Harga diri rendah yang berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh. 6) Gangguan persepsi sensori (penglihatan) yang berhubungan dengan gangguan transmissi impuls sebagai akibat penekanan tumor pada nervus optikus. 7) Ansietas yang berhubungan dengan ancaman atau perubahan status kesehatan. 8) Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan menurunnya kekuatan otot. 9) Gangguan integritas kulit (kekeringan) sehubungan dengan menurunnya kadar hormonal 4.3 Rencana Tindakan Keperawatan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

53

Secara umum tujuan yang diharapkan dari perawatan klien dengan hipofungsi hipofise adalah: 1) Klien memiliki kembali citra tubuh yang positif dan harga diri yang tinggi. 2) Klien dapat berpartisipasi aktif dalam program pengobatan 3a Klien dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari 3) Klien bebas dari rasa cemas 4) Klien terhindar dari komplikasi 4.4 Tindakan Keperawatan Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obatan (hormonal) Deftsiensi Gonadotropin Pria post pubertas diberikan androgen (testosteron). Lebih efektif dengan pemberian intra muskular. Jelaskan maksud pemberian obat clan cara penggunaan. Obat clan dosis biasanya bertahap dengan diawali dosis minimal dan setiap bulannya dinaikkan sampai ditemukan dosis yang tepat. Observasi efek samping penggunaan testosteron seperti ginekomastia clan hipertropi prostat. Efek maksimal obat ini akan meningkatkan ukuran penis, peningkatan libido, massa otot clan tulang bertambah dan kekuatan otot meningkat clan juga pertumbuhan rambut dada, axilla clan pubis sehingga dapat mengembalikan citra diri dan harga diri. Untuk mencapai tingkat kesuburan yang maksimal harus ditambah atau dikombinasi dengan HCG. HCG diberikan tiga kali seminggu dalam waktu 4-6 bulan sampai kadar testosteron normal. Dosis awal HCG diberi 5000 unit, kemudian dilanjutkan dosis 3000 unit tiga kali perminggu untuk menjaga testosteron stabil. Setelah 4-6 bulan dengan terapi HCG, menotropin (kombinasi LH dan FSH) diberi intra muskuler tiga kali seminggu. Klien harus mendapat kombinasi HCG clan menotropin selama 5-6 bulan. Setelah 6 bulan terapi, bila jumlah sperma tetap sedikit maka pengobatan dihentikan. Bila jumlah sperma meningkat maka terapi diteruskan sampai konsepsi terjadi. Wanita yang telah mencapai pubertas, mendapat terapi estrogen dan progesteron. Jelaskan hal-hal yang perlu diwaspadai klien seperti hipertensi dan tromboplebitis. Anjurkan agar melakukan follow up secara teratur. Bila menginginkan kehamilan, klien diberi chlomiphene citrat (clonid) untuk merangsang ovulasi. Defisiensi hormon pertumbuhan (GH)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

54

1. Pemberian

hormon

pertumbuhan

sintetis

(eksogen).

Somatotropin

(Humatrop) harus diberikan sebelum epifise tulang menutup yaitu sebelum masa pubertas. 2. Ciptakan kondisi agar klien dapat dengan bebas mengungkapkan perasaan clan pikirannya tentang perubahan tubuh yang dialaminya. 3. Bangkitkan motivasi agar klien mau melaksanakan program pengobatan yang sudah ditentukan. Jangan memberi janji pada klien bahwa is akan sembuh tetapi yang lebih penting tekankanlah bahwa pengobatan yang teratur akan sangat menentukan keberhasilan pengobatan. 4. Anjurkan klien memeriksakan diri secara teratur ke tempat pelayanan terdekat. 5. Anjurkan pada keluarga untuk dapat membantu klien memenuhi kebutuhan sehari-harinya bila diperlukan serta dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dalam keluarga seperti menghindarkan persaingan yang tidak sehat antar anggota keluarga. Tindakan overprotektif terhadap klien akan sangat menghambat kemampuan klien dalam mengambangkan koping yang adaptif. 6. Bantu klien untuk mengembangkan sisi positif yang dimiliki serta bantu untuk beradaptasi. 7. Ajarkan klien cara melakukan perawatan kulit secara teratur setiap hari. Menggunakan lotion pelembab sangat dianjurkan, tidak menggaruk kulit karena kulit sangat mudah mengalami iritasi. 8. Berikan pendidikan kesehatan tentang penyakitnya, pengobatan dan kunci keberhasilan pengobatan. 9. Bagi pasangan yang menginginkan keturunan, bangkitkan motivasi mereka untuk dapat mengikuti program pengobatan secara teratur dan berkesinambungan karena untuk upaya ini memerlukan waktu yang lama sehingga butuh kesabaran. Bila dengan pengobatan tidak berhasil maka bantu pasangan untuk mencari jalan keluar seperti mengadopsi anak atau hal-hal lain yang mereka sepakati.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

55

GIGANTISME DAN AKROMEGALI I. KONSEP DASAR 1.1 Pengertian Gigantisme dan Akromegali adalah kelainan yang disebabkan karena sekresi hormone pertumbuhan atau growth hormon yang berlebihan. Gigantisme terjadi kalau produksi berlebihan hormone pertumbuhan terjadi sebelum dewasa atau sebelum proses penutupan struktur tulang yang berlebihan.
1.2 Etiologi

epifisis. Sedangkan

Akromegali terjadi setelah

penutupan episfisi sehingga tampak terjadinya pertumbuhan jaringan lunak dan

Penyebab Gigantisme dan akromegali dapat digolongkan sebagai berikut : 1. G/A primer atau hipofisis dimana penyebabnya adalah adenoma hipofisis 2. G/A Sekunder atau hipotalamik disebabkan oleh karena hipersekresi GHRH dari hipotalamus 1.3 Patofisilogi
Adenoma Hipofise (G/A : Primer ) Hipersekresi GHRH Hipothalamus

Hiperplasia Pituitari anterior Jurusan keperawatan Kupang Kelenjar Hipofise Anterior Kuliah Endokrine dan Simon Sani Kleden, SKep, Ns Menekan jaringan Sekitar

56

Sekresi GH Berlebihan

Gigantisme dan Akromegali

1.4 Manifestasi Klinik Pada umumnya tanda klinis diketahui pada usia dekade kedua dan ketiga. Kadang dapat didiagnosis pada umur 5-15 tahun. Gambaran klinis dapat disebabkan oleh karena tingginya kadar hormon pertumbuhan dan IGF-1 ataupun karena akibat pembesaran tumor hipotisis (mass effects pitultary adnome) Adapun gejala akibat kelebihan hormon pertumbuhan dan IGF 1 1. Akibat pada tulang (Skeletal) Gigantisme (pada kasus prepubartal onset) Frontal bossing Prognastisme, pertumbuhan gizi dan rapat moloklusi Kiposis, osteopenia Antropati Pertumbuhan tentang akstramitos berlebihan ( Bona shatt extamitos) Pelebaran dan perabolan, hidung, ludah,bibir dan telinga Pembesaran tangan dan kaki Kulit tebal, basah dan berminyak Lipatan kulit kasar, skin tag Acanthosis nigricans Hipertrikosis Suara parau (Lower pitch) Thiecs heol pads

2. Akibat pada jaringan lunak

3. Akibat pada proses metabolisme

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

57

Ganguan toleransi, glukosa/diabetes mellitus Hiparfostatemia Hiporupidomia Hiparkaslamia

Gejala akibat pembesaran tumor 1. Pembesaran keatas (superoir) Sakit kepala Gangguan pengelihatan, mual, dan skotoma s/d buta (desakan pada

kiama optik) 2. Pembesaran ke lateral Kelumpuan saraf III,IV,V dan VI Penyumbatan pembuluh darah lokal (sinus karvarnosus) CSF Tinored Perubahan kepribadian (trontal loba type personality Chager)

3. Pertumbuhan ke infarior (dasar sella) 4. Pertumbuhan ke antarior 5. Infark (Pituitary appolexia) Gejala lainnya yang mengkin timbul adalah akibat hiporsekresi hormon lainnya seperti hiporprolatinemia (dapat terjadi pada 30 % kasus) atau akibat terjadinya defisiensi hormon lainnya. 1.5 Diagnosis Diagnosa G/A dapat ditegakkan kalau dapat dibktikan adanya sekresi HP atau SM-C (IGF-1) berlebihan dan dapat dibuktikan adanya tumor hipotisis. Tumor hipotesis saat seorang dapat diketahui melalui pemeriksan CT-Scan dan dilanjutkan dengan pemeriksaan MRI. Untuk mendiagnosis adanya tumor hipotisis (baik mikro maupun makro adonomal kerap kali memberikan penekanan pada jaringan sekitar (terutama N II), sehingga menimbulkan gejala kebutaan akibat penekanan N.H tersebut. Sebagai penyaring, pemeriksaan SM-C (IGF-1) kemungkinan dianggap yangb paling baik. Hal tersebut disebabkan oleh karena pemeriksaan HP basal sangat bervariasi. Kalau pada orang normal, dapat menunjukkan angka diatas 20 Mg/l. Oleh karena itu dianjurkan melakukan tes suprasi HP dengan beban glukosa 100 g, dinilai abnormal kalau terdapat kegagalan penekanan sampai dibawah 2 Mg/l

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

58

1.6 Pengobatan Tujuan pengobatan adalah : 1. 2. 3. 4. Menormalkan kembali kadar GH atau IGH 1/SM-C Memperkecil tumor atau menstabilkan besarnya tumor menormalkan fungsi hipofise Mencegah komplikasi akibat kelebihan kadar GH/IGF atau SM-C

akibat pembesaran tumor

Dikenal 3 macam terapi yaitu : 1. Terapi pembedahan Tindakan pembedahan adalah cara pengobatan utama. Dikenal 2 macam pemebdahan tergantung dari besarnya tumor yaitu : Bedah makro dengan melakukan pembedahan pada batok kepala (TC atau traus kranial) dan bedah mikro (tesh atau trans athnold sphenoid physactomy. Ini dilakukan dengan cara pembedahan melalui sudut antara celah infra orbita dan pengobatan hidung antara kedua mata mencapai tumor hipotisis. Efek samping operasi dapat terjadi pada 6-20 % kasus namun pada umumnya dapat diatasi. Komplikasi pasca operasi dapat berupa kebocoran cairan celebro spinal (CSF Lack) fistula oro nasal, apistaksis, sinossitis dan infeksi luka operasi. Komplikasi lainnya adalah terjadinya gejala diabetes insipidus atau SIADH (Sindrom Inapplopriate anti diuretic hormona) dan hipopituitarisme Pemantuan pasca operasi . Hal-hal yang perlu diperhatikan : ITT (Insulin Tolerance Test) OGTT TRH Test Fungsi Kelenjar Tiroid Fungsi Gonad Indikasi radiasi adalah sebagai terapi pilihan secara tunggal, kalau tindakan operasi tidak memungkinkan. Tindakan radiasi dapat dilaksanakan dalam 2 cara yaitu : Radiasi secara konvensional

2. Tindakan Radiasi

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

59

(Conventional high voltage radiolation , 4,5, GY/4500 iod) menggunakan sinar energi proton (1 Mc V) dimulai dengan dosis kecil (kurang dari 200 vad setiap sasi) dalam kurun waktu 5 minggu bertujuan mencegah kerusakan jaringan yang sehat. Radiasi dengan energi tinggi partical berat (high energi heavi partides radiation, 150 5-1/1500 rad) dikatakan dapat memberikan hasil yang lebih baik tetapi membawa resiko lebih besar pada pengelihatan. 3. Terapi Medikomentosa Antagonis dopamin Pada orang normal, dopamin ataupun agonis dopamin dapat meningkatkan kadar HP tetapi pada akromegali, dopamin ataupun antagonis dopamin menurunkan kadar HP dalam darah Bromokriptin Dosis Dianjurkan memberikan dosis 2,5 Mg sesudah makan malam dan dinaikkan secara berkala 2,5 Mg setiap 2-4 hari. Pengalaman klinis menunjukkan bahwa, dosis 20-60 mg/harim mampu memberikan perbaikan klinis pada 90 % kasus. Efek samping yang dilaporkan adalah ; Vase spasmedigital, hipotensi artostatif, sesak napas ringan, nausea, konstipasi dll Indikasi pengobatan dengan bromokriptin : 1) 2) 3) 4) Pasien tua Menyertai tindakan radiasi (sambil menunggu efek radiasi Pasien yang gagal diobati dengan cara lainnya Sebagai terapi tambahan setalah tindakan pembedahan

yang memakan waktu lama)

Octreotida (long acting somatostatin analgue) - Menurunkan kadar HP menjadi dibawah 5 Mg/l pada kasus 50 % kasus - Menormalkan kadar IGF 1 / SM-C pada 50 % kasus - Penyusutan tumor terjadi pada 30-50 % kasus

Keberhasilannya pengobatan dengan octreotide :

Cara pemberian : Sub Kutan Dosis : dosis rata-rata adl 100-200 Mg diberikan setelah 8 jam, (50-250 Mg/612 jam sampai dengan maksimun 1500 mg/hari. Selain cara suntikan sub kutan, juga dikenal pemberian secara pompa (constant pump tharapy) Efek samping :

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

60

1) 2)

Ringan dan mempunyai sifat sementara yaitu nyeri lokal Kholelitiasis, yang kemungkinan disebabkan oleh karena

(didaerah suntikan) steatorea dan karam perut. berkurangnya kontralititas kandung empedu

2. ASUHAN KEPERAWATAN AKROMEGALI DAN GIGANTISME 2.1 PENGKAJIAN 1) Data Subjektif Riwayat dari perubahan sensory, terutama penglihatan dan juga perubahan sensory peripheral Ketidaknyaman temporal/headache trontal, artrolgia, backache Perubahan nampak tubuh, bentuk wajah yang kasar, penambahan jaringan keringat yang berlebihan dan kulit berminyak. Riwayat perubahan tingkat energi (lethargy fatigue) dan penurunan mobilisasi Mengenal psikososial, perubahan kelakukan seperti cemas, irritability berhubungan dengan gambaran diri. Riwayat perubahan manstruasi pada wanita dan untuk pria perubahan libido berhubungan dengan infartility. Riwayat obat, penggunaan obat kontrasepsi per oral, obat psykotropic. Tingkat pengetahuan berhubungan dengan pengobatan, potensial pemasukan obat 2) Data Obyektif (Data tentang neurologi dan endokrin) Fungsi nervus aranial, II,III,IV,dan VI Perubahan retinal indikai dari papiledema atau olevasi tekanan darah. Status montal, kesiapan, status emosi Fungsi nervus peripheral Campak tubuh/deskripsi Mobilisasi dan fungsi sendi TTV, tekanan darah, nadi, respirasi, suhu Berat badan dan tinggi Adanya organomengaly, terutama cardiac dan hepatic dan tandon yang berhubngan dengan perubahan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

61

2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN 1) Gangguan gambaran diri berhubungan dengan gangguan prikis 2)

Disfungsi sexual berhubungan dengan. PRL

3) Nyeri berhubungan dengan masa pada intracranial 4) Takut berhubungan dengan. diagnosa dan pengobatan 5) Tidak efektif koping individu berhubungan dengan. gangguan konsep diri 6) Intolerance aktifitas berhubungan dengan. efek HP ditandai nyeri sendi 7) angguan sensory persetual berhubungan dengan tumor atau penekanan

pada daerah disekitarnya


8) Kurang pengetahuan berhubungan dengan. diagnosa dan pengobatan.

2.3 PERENCANAAN / IMPLEMENTASI 1) Gangguan gambaran diri : Goal : Pasien akan menunjukkan perkembangan gangguan gambaran diri Intervensi : Nonsugical Management Klien dengan peningkatan HP mungkin ada perubahan skeletal tidak dapat diobati Menguatkan klien mengenal pengucapan dan takut yang berhubungan dengan gangguan psikis Perawat membantu klien untuk menandai kekuatannya, karakteristik postif, keunikan yang penting dari setiap individu Klien dengan peningkatan PRL, galactorihea, gynacomastia, dan kesulitan fungsi sarual dapat menyebabkan gangguan bentuk tubuh klien dan ciri-ciri seseorang Perawat meningkatkan pengobatan alleviote dari beberapa gejala terapi juga mendorong klien untuk berdiskusi tentang perasaannya yang berhungan dengan perubahan. Surgical Management Untuk kedua penyakit ini, pengobatan yang dilakukan adalah pembedahan hypophysactomy untuk mengangkat tumor Transpanadol kelenjar pituitary juga sering dilakukan Perawatan pre operasi

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

62

Perawat review klien dengan hypophysectomy akan kekurangan hormon, sakit kepala ringan dan perubahan fungsi sexual, perubahan tubuh/pembesaran visceral dan perubahan visual tidak biasa

Perawat menjelaskan nasl packing diberikan 2 -3 hari post operasi yang mana mengharuskan pernapasan mulut Perawat melihat klien sikat gigi, batuk, bersin, nosa blowing dan menekuk semua itu dihindari setelah operasi karena dapat menggangu penyembuhan insisi atau dapat menganggu muscle grart

Perawat menjelaskan diagnostik test pre opratif, neuroradiologi, test endokrim dan visual nasal dan membram mukus oral bebas kultur bacteri dan sensitivity

Perawatan Post Operasi Menilai tanda-tanda odema cerebral dan peningkatan tekanan intraranial Peningkatan tekanan darah Tekanan nadi Nadi menurun Perubahan pupil Gangguan Respirasi Menilai tanda-tanda dari defisiensi kelenjar (pituatary tidak lagi memproduksi hormon tropik. Adrenal Insuffciancy Hypothyroldism Diabetes Insipidus Monitor intake cairan intravena, menganjurkan minum saat haus dan adminstrasi vasopressin Perawat menginstruksikan klien untuk melaporkan arip post nasal, yang mana diindikasi kebocoran dari CSF Kepala tempat tidur di alerasi Jika klien mengatakan sakit kepala yang hebat, CSF cairan mungkin bocor kedalam sinusea Tidak dianjurkan batuk karena meningkatkan tekanan di area insisi dan biasanya CSF bocor Dan paling penting perawat mengingatkan klien untuk napas dalam untuk mencegah komplikasi pulmorary Klien menunjukkan mulut kering sebagai hasil pernapasan mulut

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

63

Menilai tanda-tanda manifestasis Jika kelenjar pituitary diangkat, klien memerlukan pergantian glucocorticoid dan tiroid hormon

2) Diagnosa 2 Disfungsi sexual Goal : Klien akan mencapai tingkat keinginan dari fungsi sexual : Intervensi Perawat mengidentifikasi masalah spesifik yang ditunjukkan dan mendorong klien untuk berdiskusi berbagai efek dari disfungsi sexual dalam hubungan dengan patner sexual pembedahan 2.4 EVALUASI 1. Klien memperbaiki gambaran diri 2. Partisipasi dalam aktifitas sexual yang diinginkan 3. Indentifikasi aktivitas yang dilakukan setelah transsphenoldal 4. Memberitahukan efek samping dari pemberian obat 5. Menggambarkan dan memenuhi cara pengantian hormon (jika dapat dipakai) 6. Indentifikasi gejala kambuhnya hiparpituitasism 2.5 PENDIDIKAN KESEHATAN Setelah transsphenodal hypophysectomy, perawat menganjurkan klien untuk menghindari aktifitas yang dapat menganggu penyembuhan : Mengajarkan klien harus menghindari menekuk badan dari pinggang sampai ujung sepatu Perawat menginstruksikan klien menekuk dari lutut sampai sekitar objek jatuh. Menganjurkan klien mencegah konstipasi seperti makan makanan tinggi sert, minum air yang banyak dan menggunakan pencahar. Terapi obat bromocripine mesylate efektif mengurangi Klien memerlukan hipophysecctomy untuk tingkat PRL pada klien dengan PRL Sekresi tumor hyparpituitarism mungkin diakibatkan datisiansi gonadotropin setelah

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

64

Menekuk dan mengedan sebaiknya dihindari pada 2 bulan pertama setelah pembedahan.

GANGGUAN KELENJAR THYROID 1. KONSEP DASAR HIPERTIROIDISME 1.1 PENGERTIAN Hipertiroidisme atau tirotoksikosis adalah syndrome klinis, fisiologi dan biokimia, sebagai akibat terpaparnya jaringan oleh kadar hormone thyroid yang berlebihan. Kelebihan hormon ini dapat berasal dari hiperfungsi kelenjar tyroid, reaksi autoimun,inflamasi akut atau destruksi kelenjar yang melepas hormon yang tersimpan. Hypertiroidisme merupakan kelaianan yang sering ditemukan dengan angka prevalensi 19/1000 pada wanita dan 1,6/1000 pada laki-laki. 1.2 ETIOLOGI
1) Penyakit

Graves (85 %) :

kemungkinan

autoimun secara alami,

imonoglobulin menyebabkan rangsangan pada kelenjar tyroid.


2) Toksik Multinodular gondok (10 %) : Banyak nodul tyroid mengakibatkan

hiperfungsin tyroid. 3) Tyroid adenoma: Fungsi autonom dari folikel dengan adenoma. 4) Hypertiroidisme pituitary: pituitary adenoma mengakibatkan peningkatan sekresi TSH. 5) Tyroiditis (radiasi): sekresi T3 dan T4 meningkat sebelum obstruksi dari kelenjar tiroid.Status hypertiroid biasanya sementara. 6) Carsinoma Tyroid:tidak diketahui,biasanya terjadi dengan folikel carsinoma yang beredar. 1.3 PATOFISIOLOGI Hiperplasia kelenjar tiroid disebabkan oleh meningkatnya produksi hormon tiroid, hormon tersebut merangsang mitokondria yang meningkatnya energi untuk aktifitas sel dan produksi panas. Hal ini menimbulkan terjadinya peningkatan metabolisme, peningkatan pemenuhan persediaan lemak dan meningkatnya

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

65

nafsu makan serta pemasukan makanan, akibatnya curah jantung meningkat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan yang meningkat dan vasadilatasi perifer yang akan meningkatkan produksi panas. Dalam sistim neurovasculer keadaan fiperaktif ini, akan menekan reflkes, dan kondisi kecamasan akan meningkatkan aktifitas saluran pencernaan. Hipartiroid dapat disebabkan karena peradangan, penyinaran tiroid atau adanya kerusakan jaringan tiroid oleh tumor. 1.4 Manifestasi Klinik Dalam keadaan ringan ditandai dengan sakit yang serius dan akan hilang dengan spontan dalam beberapa bulan / tahun. Bila tidak diobati pasien akan menjadi kurus, gelisa dan delirium, disorientasi dan akhirnya menjadi gagal jantung gejala yang paling sering timbul pada saat permulaan adalah : Gelisah, hiperaktif, lekas marah, kuatir, tak dapat duduk dengan tenang, denyut jantung cepat saat istirahat maupun beraktifitas, tidak tahan panas, banyak berkiringat dengan ciri kulit berwarna salun, hangat dan lembab, termor pada tangan serta eksoptalmus. Gejala lain yang timbul adalah meningkatnya nafsu makan, kehilangan berat badan secara dratis, otot lemah, amenorea, dan gangguan pola BAB, diare atau konstipasi. A. Gangguan pada CNS: Pada nervus:Tidak bisa istirahat,perhatian kurang, ingin gerak. Emosi labil:Menangis tanpa sebab,gangguan psikis berat dan mudah marah Hyperkenesis: tidak bisa duduk,ketuk-ketuk bunyikan jarinya,gerak cepat,posisi selalu berubah,tangan tremor,lidah dan kelopak mata menyentak-nyentak. B. Gangguan system cardiovasculer Tachicardy:lebih dari 90 kali/menit walaupun saat istirahat Meningkatnya sistolik dan menurunnya diastolik dengan peningkatan tekanan nadi palpitasi Bunyi jantung kuat dan kemungkinan murmur di apex Dyshritmia Gagal jantung jika ada penyakit hati Udem C. Gangguan pernapasan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

66

Dyspneu: bisa ada tanpa gagal jantung Vital kapasitas kurang Meningkatnya ventilasi oksigen D.Gangguan pada kulit dan rambut Kulit hangat dan lembab Telapak tangan eritema Rambut tipis,gugur dan kaku E.Gangguan otot dan tulang Kelelahan,kecapaian,sulit bangun atau duduk Meningkatnya eksresi calcium dan ion phosparus,kadang-kadang dihubungkan dengan demineralisasi tulang dan fraktur Terjadi hypercalsemia F. Gangguan pada mata Mata tampak bercahaya akibat tarikan pada kelopak mata atas Kelopak mata tertinggal Gerakan kelopak mata tersentak dan spasme G.Gangguan pada system climentary Meningkatnya nafsu makan Menurunnya BB Meningkatnya jumlah BAB dan bentuk feses kurang Disfungsi hepatic H.Gangguan metabolisme Suhu tubuh meningkat Tidak tahan panas Meningkatnya penurunan insulin,memperburuk DM Meningkatnya penurunan triglyserida I. Gangguan system hematodietic Menaikan RBC denga indikasi normal Menurunnya total WBC sebab menurunnya granulositosis J.Gangguan reproduksi Prepubertas: perkembangan sexual gagal Postpubertas: menaikan libido,gangguan menstruasi (perubahan interval antar haid) Komplikasi

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

67

1.

Krisis

tyroid:apabila

terlihat

tiga

gejala

yaitu

peningkatan

gejala

hypertiroidisme,febris dan menurunnya kesadaran 2. Alergi PTU:jika terjadi dapat diganti dengan neomercazol dengan dosis PTU 3. Komplikasi hematologis penggunaan OAT berupa depresi sumsum tulang dengan agranulositosis,dengan keluhan nyeri telan,febris dan leukositosis dengan granulosit rendah. Studi diagnostik dan penemuan
Studi diagnostik Serum T3 Serum T4 Serum T3 dan T4 bebas T3 RU Tes stimulasi TRH Tes supresion tyroid Studi RAIU ECG USG Tes stimulasi TSH Anti body tyroid Penemuan Meningkat meningkat Meningkat Meningkat Sedikit atau tidak ada respon TSh Menentukan penekanan RAIU atau level T4 Meningkat Menunjukkan tachycardi,atrial fibrilasi dan gangguan P dan T Untuk membatasi ukuran kelenjar tyroid dan

dosis 0.1kali

mengevaluasi massa Tidak ada perubahan Titer tyroglobulin anti body tinggi

Manajement Medik

- Propylthiouracil (PTU):100-150mg PO
Methimazole (Tapazole):5-15mgPO Strong iodine (Lugols)solution:6 tetes dari gelas cairan PO Lithium carbonat:900-1200 mgPO

- Potasium Iodine (SSKI):900-1800 mg tablet, 0,9-2,4 ml larutan, 20-60 ml sirup

- Propanolol (inderal ):30mgPO

2. ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTHYROIDISME 2.1 Pengkajian I. Data Subjektif

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

68

Neurologi : Ansomia, diplopia, sakit kepala, kelemahan otot, sangat lemah . Kardiovasculer : Palpitasi dan banyak keringat. Saluran pencernaan : Kehilangan berat badan, peningkatan nafsu makan, diare, mual, sakit perut, tidak ada nafsu makan, sakit perut hebat. Metabolik : Banyak keringat, peka terhadap panas, meningkatnya toleransi terhadap rasa dingin. Seksual / Reproduksi : Oligomenorea, amenore libido menurun, menurunnya kesuburan. II. Data Objektif Neurologi : Aritable, tremo, emosi labil, kelemahan otot atropi, refkles tendon dalam dan cepat bingung atau disorientasi, apatis, stuporl delirium dan koma. Mata : Mata besar dan menonjol keluar, edema periorbital, termo kelopa mata, lemah atau kelumpuhan otot ekstraokuler Kardiovasculer : Nadi cepat dan tak teratur, tekanan nadi kuat, edema, mur mur sistolik jantung banyak keringat, tahikardiat atrial febrilasi, nadi lemah hipotensi. Pernapasan : Dispnea, frekwensi pernapasan meningkat dan dalam, edema pulmonal. Saluran pencernaan : Berat badan menurun diare, bising usus hiperaktif, muntah terus menerus hepatomegali. Metabolik : Banyak keringat, kelenjar tiroid membesar, bruit arteri kalenjar tiroid. Kulit : Kulit lembut, hangat dan lembab, berkeringat kemerahan, hiperpigmentasi, rambut tipis. Seksual / Reproduksi : Ginekomastia. III. Data Laboratorium Peningkatan T3 dan T4, TSH menurun, meningkatnya T3 rensi up take 2.2 Diagnosa Keperawatan / Perencanaan 1. Perubahan proses berpikir berhubungan dengan peningkatan stimulasi sistim sarat simpatetik oleh kadar hormon tiroid yang tinggi. Hasil yang diharapkan : Pasien dapat berorentasi penuh, dapat merespon dengan tepat terhadap situasi dan orang, dapat menggunakan tekni untuk mengurangi stres. Intervensi : Kaji tingkat kesadaran, orentasi, efek dan persepsi tiap 4 8 jam, informasi perubahan perubahan yang negatif.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

69

yang tepat.

Diskusikan perasaan dan respon terhadap situasi serta beri dukungan Ciptakan ketenangan lingkungan ( Tidak bising, batasi pengunjung mencegah situasi emosional ). Rencanakan dan jelaskan asuhan dengan jelas dan tepat. Antisipasi kebutuhan untuk mencegah reaksi heperaktif. Informasikan kepada pasien tentang aktifitas apa saja yang dibatasi. Anjurkan penggunaannya. Orentasikan pasien terhadap lingkungan waktu dan orang ( Jam, kalender, gambar keluarga ). 2. Aktifitas intoleransi berhubungan dengan kurang suplai O2 akibat meningkatnya metabolisme. Hasil Yang diharapkan : Seluruh aktifitas dapat dilaksanakan sedikit / tampa bantuan. Intervensi : Kaji tanda vital tanda fital dan tingkat aktifitas Batasi tingkat aktifitas pasien sesuai toleransi Atur waktu istirahan yang cukup. Jangan lanjutkan aktifitas bila ada tanda tidak toleransi misalnya dispnea takikardi atau kelelahan. Bantau pasien untuk beraktifitas bila tidak dapat melakukan sendiri karena tremor atau kelemahan. Rencanakan aktifitas sehari hari dan pola tidurnya. 3. Gangguan pola tidur berhubungan agitasi akibat peningkatan metabolisme. Hasil yang diharapkan : Pasien mempunyai pola tidur yang normal dan pasien mengungkapkan rasa puas beristirahat. Intervensi : Kaji pola tidur dan aktifitas masa lalu dan saat ini Tanyakan bantuan yang dibutuhkan untuk pengantara tidur ( air hangat, gosok punggung dengar musik dll ). Diskusikan bantuan / pengantar tidur yang lain misalnya tekni relaksasi. Bantu pasien untuk menetapkan pola aktifitas fisik yang teratur, kurangi aktifitas yang merangsang sebelum tidur. tekni mengurangi stres dan informasikan kapan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

70

Usahakan lingkungan yang mendukung untuk tidur, kurangi cahaya lampu, tutup pintu ruangan, pelihara ketenangan dan jaga privasi. Hindari gangguan selama tidur Bila mungkin rencanakan pengobatan dan pemberian obat obat pada siang dan sore hari. Kaji aktifitas tidur . mual, sakit perut.

4. Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare, Hasil yang diharapkan : Pemasukan dan pengeluaran seimbang berat badan meningkat menjadi normal Intervensi : Pantau pemasukan diet untum menambah kalori Karbohidrat dan Vit. B Makan porsi kecil dan sering sesuai kebutuhan kalori pasien. Konsultasi makanan yang dibutuhkan pasien. Hindari minuman yang merangsang seperti kopi, teh, cola atau yang dapat meningkatkan peristatik usus. Masukan cairan 2 3 liter / sehari, hindari juce yang menyebabkan diare. Timbang berat badan setiap hari. CO berhubungan dengan disrithmia karena meningkatnya

Diagnosa keperawatan Lain Yang dapat ditegakkan adalah 5. Penurunan Intervensi : 1) Monitor ECG, kecepatan dan ritmenya mungkin ada disritmia RASIONAL : Tachycardi dapat menstimulasi miocardial dengan hormon tyroid,disrithmia dapat terjadi dan menggangu fungsi cardiak 2) Investigasi nyeri dada atau angina RASIONAL : .Untuk mendeteksi penurunan oksigen miokardial atau iskemi 3) Monitor nadi dan tekanan darah RASIONAL : Untuk mengevaluasi status cardiovaskuler dan keefektifan perawatan 4) Ukur dan catat intake dan output pasien RASIONAL : Untuk mendeteksi cairan dan kemungkinan terjadinya gagal jantung aktivitas simpatik

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

71

6. Gangguan persepsi sensori (visual) berhubungan dengan kerusakan fungsi saraf optik atau infiltratif optalmopati Intervensi: 1) Kaji orientasi terhadap waktu tempat dan orang RASIONAL : Kehilangan status mental dapat meningkatkan gangguan pengetahuan 2) Monitor tingkat kesadaran,obsevasi perubahan prilaku RASIONAL : Indikasi gangguan fungsi otak 3) Orientasikan pasien pada kenyatan RASIONAL : Untuk mengurangi kemungkinan disorientasi terhadap isolasi dan kurang pengetahuan 7. Hipertermi berhubungan dengan meningkatnya kecepatan metabolisme Intervensi: 1) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antipiretika RASIONAL : .Obat antipiretika dapat menurunkan suhu tubuh 2) Anjurkan pasien untuk minum yang banyak RASIONAL : .Proses evaporasi (penguapan ) yang berlebihan dapat mengakibatkan dehidrasi 8. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan berhubungan dengan kurang terpapar terhadap informasi Intervensi: sesuai dengan pendidikan kesehatan 2.3 IMPLEMENTASI 1. Pertahankan CO Monitor status CO tiap 4-8 jam Lapor setiap, perubahan pada dokter, misalnya: meningkatnya disrithmia dan tanda CHF 2. Pertahankan intake nutrisi yang adekuat Monitor intake dan output tiap 8 jam Timbang BB tiap hari Moniotor intake nutrisi, sering memberikan makanan tinggi protein dan kalori 3. Pertahankan suhu tubuh normal: Monitor suhu tiap 4 jam, catat setiap kenaikan Kompres dingin Pertahankan suhu ruangan dalam rentang yang cukup dingin tachicardi,

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

72

Anjurkan sering mandi siram dan gunakan baju bahan katun 4. Tingkatkan Pertahankan dan toleransi terhadap aktivitas Anjurkan jalan ringan jika CO stabil Beri aktivitas antar waktu istirahat Beri perawatan mata yang baik Monitor kornea terhadap kerusakan,kemampuan melihat Segera lapor setiap ada keluhan 5. Tingkatkan istirahat yang adekuat Beri ketenangan lingkungan yang nyaman Beri minum susu sebelum tidur Gosok punggung pasien sebelum tidur 6. Tingkatkan pengetahuan pasien Jelaskan tentang penyakit dan bagaimana tanda dan gejalanya Klasifikasi obat-obat yang diberikan Daftar rencana follow up 2.4 Evaluasi Fungsi kardiovaskuler normal, tidak ada distritmia, kulit pasien kembali hangat dan kering. Intake nutrisi adekuat, pasien dapat mendemonstrasikan ketaatan pada diet yang sudah ditentukan Tidak ada gangguan pada penglihatan Peningkatan kenyamanaan, pasien ,mengenal dan menggunakan beberapa teknik untuk mengontrol intoleransi panas serta dapat melakukan ADL Suhu tubuh normal, tidak ada panas dan perubahan metabolisme lainnya Pasien dapat tidur atau istirahat pada lingkungan yang nyaman Pasien dan keluarga mengetahui dan mengerti tentang hipertiroidisme dan pengobatannya

Pendidikan kesehatan 1. Beritahu pasien tentang tanda gejala hipertyroidisme 2. Pastikan pasien mengerti tentang obat,nama,dosis,reaksi,frekuensi pentingnya berobat tepat waktu dan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

73

3. Diskusikan dengan pasien untuk diet tinggi kalori, protein dan karbohidrat, sampai BB nya stabil 4. Diskusikan dengan pasien kelebihan bergerak 5. Diskusikan dengan pasien dan keluarga bahwa pasien mungkin mempunyai emosi yang tinggi dan mungkin butuh dukungan 6. Diskusikan dengan pasien tentang pentingnya evaluasi follow up HIPERTROFI KELENJAR THYROID 1. KONSEP DASAR 1.1 Pengertian Kelenjar tiroid mengalami pembesaran akibat pertambahan ukuran sel/ jaringan tanpa disertai peningkatan atau penurunan sekresi hormon-hormon kelenjar tiroid. Disebut juga sebagai goiter nontosik atau simple goiter atau Struma Endemik. Pada kondisi ini dimana pembesaran kelenjar tidak disertai penurunaan atau peningkatan sekresi hormon-hormonnya maka dampak yang ditimbulkannya hanya bersifat local yaitu sejauh mana pembesaran tersebut mempengaruhi organ disekitarnya seperti pengaruhnya pada trachea dan esophagus. 1.2 Pathofisiologi Berbagai factor diidentifikasi sebagai penyebab terjadinya hipertropi kelenjar tiroid termasuk didalamnya defisiensi jodium, goitrogenik glikosida agent (zat atau bahan ini dapat menekan sekresi hormon tiroid) seperti ubi kayu, jagung lobak, kangkung, kubis bila dikonsumsi secara berlebihan, obat-obatan anti tiroid, anomaly, peradangan dan tumor/neoplasma. Sedangkan secara fisiologis, menurut Benhart(1991) kelenjar tiroid dapat membesar akibart peningkatan aktivitas kelenjar tiroid sebagai upaya mengimbangi kebutuhan tubuh yang meningkat pada masa pertumbuhan dan masa kehamilan. Bahkan dikatakan pada kondisi stress sekalipun kebutuhan tubuh akan hormone ini cenderung meningkat. Laju metabolisme tubuh pada kondisi-kondisi diatas meningkat. Berdasarkan kejadiannya atau penyebarannya ada yang disebut Sttruma Endemis dan Sporadis. Secara sporadis dimana kasus-kasus strume ini dijumpai menyebar diberbagai tempat atau daerah. Bila dihubungkan dengan penyebab maka struma sporadis banyak disebabkan oleh factor goitrogenik, anomaly dan penggunaan obattentang pentingnya istirahat dan menghindari

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

74

obatan anti tiroid, peradangan dan neoplasma. Secara endemis, dimana kasuskasus struma ini dijumpai pada sekelompok orang di suatu daerah tertentu, dihubungkan dengan penyebab defisiensi jodium. Bahan dasar pembentukan hormone-hormon kelenjar tiroid adalah jodium yang diperoleh dari makanan dan minuman yang mengandung jodium. Ion Iodium (Iodida ) darah masuk ke dalam kelenjar tiroid secara transport aktif dengan ATP sebagai sumber energi. Selanjutnya sel-sel folikel kelenjar tiroid akan mensintesis Tiroglobulin (sejenis glikoprotein ) dan selanjutnya mengalami iodinisasi sehingga akan terbentuk di iodotironin (DIT) dan mono iodotironin (MIT ). Prose ini memerlukan enzim peroksida sebagai katalisator. Prose akhir adalah berupa reaksi penggabbungan. Penggabungan dua molekul DIT akan membentuk tetra iodotironin atau tiroxin (T4) dan molekul DIT bergabung dengan MIT menjadi tri iodotironin (T3) untuk selanjutnya masuk ke dalam plasma dan berikatan dengan protein binding iodine. Reaksi penggabungan ini dirangsang oleh hormone TSH dan dihambat oleh Tiourasil, Tiourea, sulfonamid dan metilkaptoimidazol. Melihat proses singkat terbentuknya hormone tiroid maka pemasukan iodium yang kurang, gangguan berbagai enzim dalam tubuh, hiposekresi TSH, bahan atau zat yang mengandung tiourea, tiourasil, sulfonamide dan metilkaptoimidazol,glukosil goitrogenik, gangguan pada kelenjar tiroid sendiri serta factor pengikat dalam plasma sangat menentukan adekuat tidaknya sekresi hormone tiroid. Bila kadar hormone-hormon tiroid kurang maka akan terjadi mekanisme umpan balik terhadap kelejar tiroid sehingga aktifitas kelenjar meningkat dan terjadi pembesaran(hipertropi). Dengan kompensasi ini kadar hormon seimbang kembali. Dampak struma terhadap tubuh terletak pada pembesaran kelnjar tiroid yang dapat mempengaruhi keduduka organ-organ disekitarnya. Dibagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trachea dan esophagus. Struma dapat mengarah kedalam sehingga mendorong trachea, esophagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan bernafas dan disfagia yang akan berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan elektrolit. Penekanan pada pita suara akan menyebabkan suara menjadi serak dan parau. Bila pembesaran keluar, maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat simetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernafas dan disfagia . Tntu dampaknya lebih kea rah estetika atau kecantikan . Perubahan bentuk leher dapat mempengaruhi rasa aman dan konsep diri klien.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

75

2. ASUHAN KEPERAWATAN 2.1 Pengkajian 1) Kaji riwayat penyakit:


Sudah sejak kapan keluhan dirasakan klien Apakah ada anggota keluarga yang berpenyakit sama.

2)

Tempat tinggal sekarang dan pada masa balita

3) Usia dan jenis kelamin 4) Kebiasaan makan; bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya faktor goitrogenik. 5) Penggunaan obat-obatan. Kaji jenis obat-obat yang sedang digunakan dalam tiga bulan terakhir Sudah berapa lama digunakan Tujuan pemberian obat 6) Keluhan klien. Sesak napas, apakah bertambah sesak bila beraktivitas. - Sulit menelan Leher bertambah besar - Suara serak/parau Merasa malu dengan bentuk leher yang besar dan tidak simetris. 7) Pemeriksaan fisik. Palpasi kelenjar tiroid, nodul tunggal atau ganda, konsistensi dan simetris tidaknya, apakah terasa nyeri pada saat dipalpasi. Inspeksi bentuk leher, simetris tidaknya. - Auskultasi bruit pada arteri tyroidea. Nilai kualitas suara Palpasi apakah terjadi deviasi trakhea 8) Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan kadar T3 clan T4 serum Pemeriksaan RAI - Test TSH serum. 9) Lakukan pengkajian lengkap dampak perubahan patologis di atas terhadap kemungkinan adanya gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi, cairan dan elektrolit serta gangguan rasa aman dan perubahan konsep diri seperti: Status pernapasan: frekuensi, pola clan teratur tidaknya, dan apakah klien menggunakan otot pernapasan tambahan seperti retraksi sternal dan cuping hidung. Warna kulit, apakah tampak pucat atau sianosis - Suhu kulit khususnya daerah akral

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

76

Keadaan umum/kesadaran, apakah klien tampak gelisah atau tidak berdaya Berat badan dan tinggi badan Kadar hemoglobin Kelembaban kulit dan teksturnya Porsi makan yang dihabiskan Turgor Jumlah dan jenis cairan peroral yang dikonsumpsi - Kondisi mukosa mulut Kualitas suara Bagaimana ekspresi wajah, cara berkomunikasi dan gaya interaksi khen dengan orang disekitarnya. Bagaimana klien memandang dirinya sebagai seorang pribadi 2.2 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan utama yang dijumpai pada klien dengan goiter nontoksik antara lain: 1. Pola napas yang tidak efektif yang berhubungan dengan penekanan kelenjar tiroid terhadap trakhea. 2. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan asupan yang kurang akibat disfagia. 3. Perubahan citra diri yang berhubungan dengan perubahan bentuk leher. 4. Gangguan rasa aman: ansietas yang berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit dan pengobatannya, atau persepsi yang salah tentang penyakit yang diderita.

2.3 Rencana Tindakan Keperawatan Diagnosa Keperawatan: Pola napas yang tidak efektif yang berhubungan dengan penekanan kelenjar tiroid terhadap trakhea. Tujuan:Selama dalam perawatan, pola napas klien efektif kembali (sambil menunggu tindakan pembedahan bila diperlukan) dengan kriteria sebagai berikut: Frekuensi pernapasan 16-20 x/menit dan pola teratur - Akral hangat Kulit tidak pucat atau cianosis.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

77

Keadaan klien tenang/ tidak gelisah

Intervensi Keperawatan 1. Batasi aktivitas, hindarkan aktivitas yang melelahkan. 2. Posisi tidur setengah duduk dengan kepala ekstensi bila diperlukan. 3. Kolaborasi pemberian obat-obatan seperti dexamethason (untuk mengurangi edema). 4. Bila dengan konservatif gejala tidak hilang, kolaborasi tindakan operatif.
5.

Bantu aktivitas klien di tempat tidur

6. Observasi keadaan klien secara teratur 7. Hindarkan klien dari kondisi-kondisi yang menuntut penggunaan oksigen lebih banyak seperti ketegangan, lingkungan yang panas atau yang terlalu dingin. Diagnosa Keperawatan: Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan asupan nutrien kurang akibat disfagia Tujuan: Berat badan bertambah, Hemoglobin: 12-14 gr% (wanita) clan 14-16 gr% (pria), Tekstur kulit baik Intervensi Keperawatan: 1. Berikan makanan lunak atau cair sesuai kondisi klien 2. Porsi makanan kecil tetapi sering 2. Beri makanan tambahan diantara jam makan 4. Timbang berat badan dua hari sekali 3. Kolaborasi pemberian ruborantia bila diperlukan 4. Ciptakan lingkungan yang menyenangkan menjelang jam makan

Diagnosa Keperawatan: Perubahan Citra diri yang berhubungan dengan perubahan bentuk leher Tujuan:Setelah menjalani perawatan, klien memiliki gambaran diri yang positif kembali dengan kriteria: Klien menyenangi kembali tubuhnya Klien dapat melakukan upaya-upaya untuk mengurangi dampak negatif pembesaran pada leher Klien dapat melakukan aktivitas fisik clan sosial sehari-hari Intervensi Keperawatan:

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

78

1.

Dorong klien mengungkapkan perasaan clan pikirannya tentang bentuk leher yang berubah

2. Diskusikan upaya-upaya yang dapat dilakukan klien untuk mengurangi perasaan malu seperti menggunakan baju yang berkerah tertutup. 3. Beri pujian bila klien dapat melakukan upaya-upaya positif untuk meningkatkan penampilan diri 4. Jelaskan penyebab terjadinya perubahan bentuk leher clan jalan keluar yang dapat dilakukan seperti tindakan operasi. 5. Jelaskan pula setiap resiko yang perlu diantisipasi dari setiap tindakan yang dapat dilakukan. Diagnosa Keperawatan: Ansietas yang berhubungan dengan kurang pengetahuan klien tentang penyakit dan pengobatannya atau persepsi yang salah tentang penyakit yang diderita. Tujuan: Setelah diberikan pendidikan kesehatan sebanyak 2 kali, ansietas klien akan hilang dengan kriteria sebagai berikut: Ekspresi wajah tampak rileks Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik. - Klien mengetahui penyakit dan upaya pengobatan Intervensi Keperawatan: 1. Kaji pengetahuan klien tentang penyakit dan pengobatannya. Identifikasi sumber informasi yang diterima klien 2. Identifikasi harapan-harapan klien terhadap pelayanan yang diberikan 3. Buat rancangan pembelajaran yang mencakup: Jenis penyakit dan penyebabnya Upaya penanggulangan seperti pemberian obat-obatan, tindakan operasi bila ada indikasi. Prognosa dan prevalensi penyakit Kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan keadaan yang lebih buruk dan kondisi yang mempercepat penyembuhan. 4. Laksanakan pembelajaran bersama dengan anggota keluarga, perhatikan kondisi klien dan lingkungannya.

HIPOTIROIDISME

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

79

1. KONSEP DASAR HIPOTIROIDISME 1.1 Pengertian Hipotiroidisme merupakan keadaan klinik yang disebabkan oleh kekurangan hormon tiroid. Penurunan sekresi hormon kelenjar tiroid sebagai akibat kegagalan mekanisme kompensasi kelenjar tiroid dalam memenuhi kebutuhan jaringan tubuh akan hormon-hormon tiroid. Berbagai kelainan struktur dan fungsional dapat mengakibatkan menurunnya produksi hormon tiroid. Keadaan hipotiroidisme menyerang lebih kurang' 2% pada wanita, dan 0,2% pada laki - laki. 1.2 KLASIFIKASI HIPOTIROIDISME Menurut umur mulai terkenanya (onset), hipotiroidisme dibagi menjadi: hipotiroidisme infantil (kretinisme), hipotiroidisme juvenil, dan hipotiroidisme dewasa (miksedema). 1) Hipotiroidisme Infantil (Kretinisme) Umur mulai terserang: bayi 1-2 minggu setelah lahir. Penyebab tersering adalah:
-

Ibu minum obat mengandung iodida waktu hamil - minum-obat antitiroid berlebihan saat hamil Agenesis tiroid Dishormogenesis tiroid Kurang iodium berat di daerah endemik kadang-kadang hipofungsi hipotalamik-hipofisis.

Gejala-gejala:
-

Ikterus neonatal berkepanjangan, letargi, sukar minum; kulit keying dan tebal, pot belly, hernia umbilikalis. Bila tidak lekas diobati akan terjadi gejala-gejala seperti obstipasi, suara tangis serak, lidah tebal, hipotermia, dan otot-otot lemah. Bila berkelanjutan sampai umur` l tahun, pertumbuhan menjadi terhambat, meliputi pertumbuhan gigi, kemampuan duduk, merangkak, dan bicara.

2) Hipotiroidisme Juvenil Mulai terjadinya biasanya pada masa anak-anak (childhood) sampai pubertas. Penyebab tersering adalah tiroiditis autoimun, dan pascatiroidektomi parsial. Gejalanya ringan, antara infantil dan dewasa; tidak ditemukan hambatan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

80

mental yang berat, dart gejala khas miksedema. Dapat terjadi gangguan pertumbuhan dan perkembangan seks. 3) Hipotiroidisme Dewasa (Miksedema) Miksedema diakibatkan oleh adanya penimbunan bahan mukopolisakarida. Penyebabnya adalah: tiroiditis autoimun, pascatiroidektomi parsial, pascaterap iodium radioaktif, dan obat antitiroid. Gejala-gejala: Terjadinya berangsur-angsur: Gejala ringan dapat,berupa: edema, dan bradikardia. Keadaanlebih lanjut menunjukkan, gejala-gejala seperti: toleransi terhadap dingin menurun, nafsu makan menurun, berat badan naik, menoragi, parau, lelah, pendengaran menurun, galaktore, karotenemia,-sulit berkonsentrasi. Pada keadaan berat terjadi: tuli, ptosis, miopati,' refleks menurun, psikosis, efus : sendi/pleura/perikardial, edema anasarka. 1.3 PATOFISIOLOGI Hipotiroidisme dapat terjadi akibat pengangkatan kelenjar tiroid dan pada pengobatan tirotoksikosis dengan RAI. Juga terjadi akibat infeksi kronis kelenjar tiroid dan atropi kelenjar tiroid yang bersifat idiopatik. Prevalensi penderita hipotiroidisme meningkat pada usia 30 sampai 60 tahun, empat kali lipat angka kejadiannya pada wanita dibandingkan pria. Hipotiroidisme kongenital dijumpai satu orang pada empat ribu kelahiran hidup. Jika produksi hormon tiroid tidak adekuat maka kelenjar tiroid akan berkompensasi untuk meningkatkan sekresinya sebagai respons terhadap rangsangan hormon TSH. Penurunan sekresi hormon kelenjar tiroid akan menurunkan laju metabolisme basal yang akan mempengaruhi semua sistem tubuh. Proses metabolik yang dipengaruhi antara lain: 1) Penurunan produksi asam lambung (Aclorhidria) 2) Penurunan motilitas usus 3) Penurunan detak jantung 4) Gangguan fungsi neurologik 5) Penurunan produksi panas Penurunan hormon tiroid juga akan mengganggu metabolisme lemak dimana akan terjadi peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida sehingga klien berpotensi mengalami atherosklerosis. Akumulasi proteoglicans hidrophilik di rongga intertisial seperti rongga pleura, cardiak dan abdominal sebagai tanda dari mixedema.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

81

Pembentukan eritrosit yang tidak optimal sebagai dampak dari menurunnya hormon tiroid memungkinkan klien mengalami anemi. Dampak hipotiroidisme terhadap berbagai sistem tubuh sebagai adalah berikut: 1) Sistem integumen seperti kulit dingin, pucat, kering, bersisik dan menebal; pertumbuhan kuku buruk, kuku menebal; rambut kering, kasar; rambut rontok dan pertumbuhannya buruk. 2) Sistem pulmonari seperti hipoventilasi, pleural efusi, dispnea 3) Sistem kardiovaskular seperti bradikardi, disritmia, pembesaran jantung, toleransi terhadap aktivitas menurun, hipotensi. 4) Metabolik seperti penurunan metabolisme basal, penurunan suhu tubuh, intoleransi terhadap dingin. 5) Sistem muskuloskeletal seperti nyeri otot, kontraksi dan relaksasi otot yang melambat. 6) Sistem neurologi seperti fungsi intelektual yang lambat, berbicara lambat dan terbata-bata, gangguan memori, perhatian kurang, letargi atau somnolen, bingung, hilang pendengaran, parastesia, penurunan refleks tendon. 7) Gastrointestinal seperti anoreksia, peningkatan berat badan, obstipasi, distensi abdomen. 8) Sistem reproduksi, pada wanita: perubahan menstruasi seperti amenore atau masa menstruasi yang memanjang, infertilitas, anovulasi dan penuirunan libido. Pada pria: penurunan libido dan impotensia 9) Psikologis/emosi; apatis, agitasi, depresi, paranoid, menarik diri, perilaku mania. 10) Manifestasi klinis lain berupa: edema periorbita, wajah seperti bulan (moon face), wajah kasar, suara serak, pembesaran leher, lidah tebal, sensitifitas terhadap opioid dan transkuilizer meningkat, ekspresi wajah kosong, lemah, haluaran urine menurun, anemi, mudah berdarah. 1.4 GEJALA POKOK HIPOTIROIDISME psikosis, somnolen. Reumatologik: nyeri sendi, artritis. Otolaringologik: serak, tinitus, tuli. Dermatologik: kulit kasar dankering, alopesia. Neurologik: kelemahan otot, kram, parestesia, disartria, Psikiatrik: depresi, ketidakmampuan berkonsentrasi, ataksia, sindrom Carpal-Tunnel, vertigo, myotonic jerk, korna.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

82

Kardiologik: bradikardia, payah jantung. Gastroenterologik: anoreksia, konstipasi. Hematologik: anemia. Ginekologik: menoragi, amenore. Nefrologik: puffy face, edema.

1.5 Pemeriksaan dan Tes yang Perlu untuk Diagnosis Hipotiroidisme

Refleks menurun Kolesterol dan trigliserida meningkat Nadi tidur nyenyak (NTN) di bawah 60 /menit T4 dan T3 bebas menurun Ambilan 1131 (uptake) menurun, Antlbodi timid Sidik Tiroid (Thyroid scanning) 6.-TSH meningkat

(paling peka)

1.6 PENGOBATAN HIPOTIROIDISME Begitu diagnosis hipotiroidisme atau hipotiroidisme subklinik ditegakkan, pengobatan harus diberikan. Pengobatan hendaknya disesuaikan dengan ripe dan beratnya keadaan hipotiroidisme. Pada tipe infantil danjuvenil hendaknya segera diobati untuk mencegah menetapnya retardasi mental. Preparat yang menjadi pilihan saat ini adalah L-tiroksib: Pada bayi yang berumur 012 bulan dosis pengganti penuh adalah 0,05 mglhari. Untuk anak-anak 2-4 tahun, biasanya diberikan sampai 0,1-0,15: mg/hari; 'dan umur antara 4-12 tahun bervanasi antara 0,10-0,30 mglbari. Oleh karena laju degradasi T4 pada anal -anak lebih besar dari pada orang detvasa, dosis pengganti pada anak-anak lebih bestir berdasarkan berat badan dibandingkan pada orang dewasa. Pemantauan yang baik sangat diperlukan, agar kadar T4 selalu berada pada batas atas dari rentang normal pada anak - anak. Pada orang dewasa, jika hipotiroidisme telahberlangsung,lama dan berat, dosis away harus diberikan rendah dan kemudian dinaikkan secara perlahan-lahan (titrasi). Dosis awal yang umum diberikan ada-lah 0,05 mg/hari Beberapa penderita sensitif terhadap pengobatan awal tiroksin, pada kasus tersebut hendaknya jadual titrasi dilakukan secara lebih perlahan.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

83

Dosis pengganti jangka panjang baik dengan titrasi maupun pemeliharaan dapat ditentukan berdasarkan klinik. Penentuan kadar TSH dapat juga dipakai untuk menentukan dosis titrasi baik menurunkan maupun menaikkan. Dosis dimana kadar TSH telah menjadi normal (biasanya 0,125-0,2 mg pada orang dewasa) biasanya sudah dapat diberikan dosis pemeliharaan. Pemantauan secara berkala pada pende-rita dewasa dianjurkan jika ditemukan gejala-gejala hipotiroidisme atau hipertiroidisme. Pemeriksaan kadar tiroksin secara rutin pada orang dewasa tidak diperlukan. Beberapa contoh sediaan tablet hormon tiroid adalah sebagai berikut.
1.

Mengandung ekstrak tiroid : Sediaan: tablet Thyranon, 100 mg (saat ini sudah tidak ada di Indonesia Dosis: 12;5-50 mg sampai 100 - 200 mg perhari. Mengandung L-Tyroxine (T4 sintetis) Sediaan: tablet Thyrax (yang ada di Indonesia, tablet 0,1 mg), tablet Syntroid, Levotroid dengan sediaan tablet mulai 0,025 mg sampai 0,3 mg. Dosis:' 100-200 ug/hari

2.

3.

Mengandung Sodium Liothyronine (T3 sintetis) Sediaan:tablet Cytomel 5 ug 25 ug 50 ug (tidak ada di Indonesia). Dosis- mulai dari 5 mg/hari dengan dosis pemeliharaan 50-75 ug/hari dengan dosis terbagi.

4.

Mengandung Liotrix (campuran T4 dan T3 sintetis) Sediaan tablet Euthiroid, Thyrolar dengan berbagai kombinasi T4 dan T3: Dosis pemeliharaan adalah 100-.200 ug T4 dan 25-30 ug ,

ASUHAN KEPERAWATAN HIPOTHYROIDISME 2.1 Pengkajian 1) Riwayat kesehatan klien dan keluarga. Sejak kapan klien menderita penyakit tersebut dan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama. 2) Kebiasaan hidup sehari-hari seperti Pola makan Pola tidur (klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur) Pola aktivitas

3) Tempat tinggal klien sekarang dan pads waktu balita. 4) Keluhan utama klien, mencakup gangguan pada berbagai sistem tubuh; Sistem pulmonari

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

84

Sistem pencernaan Sistem cardiovaskuler Sistem muskuloskletal Sistem neurologik Sistem reproduk Metabolik

5) Emosi/psikologis 6) Pemeriksaan fisik mencakup: Penampilan secara umum; amati wajah klien terhadap adanya edema sekitar mata, wajah bulan dan ekspresi wajah kosong serta roman wajah kasar. Lidah tampak menebal dan gerak-gerik klien sangat lamban. Postur tubuh kecil dan pendek. Kulit kasar, tebal dan bersisik, dingin dan pucat. Nadi lambat dan suhu tubuh menurun. Perbesaran jantung Disritmia dan hipotensi Parastesia dan reflek tendon menurun

7) Pengkajian psikososial; klien sangat sulit membina hubungan sosial dengan lingkungannya, mengurung diri/bahkan mania. Keluarga mengeluh klien sangat malas beraktivitas, dan ingin tidur sepanjang hari. Kajilah bagaimana konsep diri klien mencakup kelima komponen konsep diri. 8) Pemeriksaan penunjang mencakup; pemeriksaan kadar T3 dan T4 serum; pemeriksaan TSH (pada klien dengan hipotiroidisme primer akan terjadi peningkatan TSH serum, sedangkan pada yang sekunder kadar TSH dapat menurun atau normal). 2.2 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan utama yang dapat dijumpai pada klien dengan hipotiroidisme antara lain: 1) Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan penurunan volume sekuncup sebagai akibat dari bradikardi; arteriosklerosis arteri koronaria. 2) Pola napas yang tidak efektif yang berhubungan dengan penurunan tenaga/kelelahan; ekspansi paru yang menurun, obesitas dan inaktivitas. 3) Gangguan proses pikir yang berhubungan dengan edema jaringan serebral dan retensi air Diagnosa keperawatan tambahan antara lain:

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

85

4) Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan kebutuhan metabolisme; napsu makan yang menurun. 5) Hipotermi yang berhubungan dengan laju metabolisme yang menurun 6) Konstipasi yang berhubungan dengan penurunan motilitas usus 7) Gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan nutrisi yang buruk dan hipotermia 8) Disfungsi seksual yang berhubungan dengan depresi 9) Gangguan pola seksual yang berhubungan dengan efek penyakit, kelelahan dan obesitas. 10) Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kelelahan, penurunan kekuatan motorik, depresi, obesitas dan nyeri otot. 11) Perubahan citra diri yang berhubungan dengan perubahan penampilan fisik. 2.3 Rencana Tindakan Keperawatan Diagnosa Keperawatan: Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan penurunan volume sekuncup akibat bradikardi dan arteriosclerosis arteri koronaria Tujuan: Fungsi kardiovaskular tetap optimal yang ditandai dengan tekanan darah, irama jantung dalam batas normal. Intervensi Keperawatan: 1) Pantau tekanan darah, denyut dan irama jantung setiap 2 jam untuk mengidentifikasi kemungkinan terjadinya gangguan hemodinamik jantung seperti hipotensi, penurunan haluaran urine dan perubahan status mental. 2) Anjurkan klien untuk memberitahu perawat segera bila klien mengalami nyeri dada, karena pada klien dengan hipotiroidisme kronik dapat berkembang arteriosklerosis arteri koronaria. 3) Kolaborasi pemberian obat-obatan untuk mengurangi gejala-gejala. Obat yang sering digunakan adalah Levotyroxine sodium (Synthroid, T4, clan Eltroxin). Observasi dengan ketat adanya nyeri dada dan dispnoe. Pada dosis awal pemberian obat biasanya dokter memberikan dosis minimal yang ditingkatkan secara bertahap setiap 2-3 minggu sampai ditemukan dosis yang tepat untuk pemeliharaan. 4) Ajarkan kepada klien dan keluarga cara penggunaan obat serta tandatanda yang harus diwaspadai bila terjadi hipertiroidisme akibat penggunaan obat yang berlebihan.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

86

Diagnosa Keperawatan: Pola napas tidak efektif yang berhubungan dengan kelelahan, obesitas dan inaktivitas Tujuan: Klien dapat mempertahankan pola napas yang efektif Intervensi Keperawatan: 1) Amati dan catat irama serta kedalaman pernapasan 2) Auskultasi bunyi pernapasan dan catat dengan seksama 3) Bila klien mengalami kesulitan pernapasan yang berat, kolaborasikan dengan dokter kemungkinan penggunaan alat bantu untuk bernapas seperti ventilator. 4) Hindarkan penggunaan obat sedatif karena dapat menekan pusat pernapasan. Bila klien menggunakan obat transqualizer dosis biasanya diturunkan karena klien sangat peka. 5) Bantu klien beraktivitas 6) Penuhi kebutuhan sehari-hari klien sesuai kebutuhan. Diagnosa Keperawatan: Gangguan proses berpikir yang berhubungan dengan edema jaringan otak dan retensi air Tujuan: Proses berpikir klien kembali ketingkat yang optimal Intervensi Keperawatan: 1) Observasi dan catat tanda gangguan proses berpikir yang berat seperti: Letargi Gangguan memori Tidak ada perhatian Kesulitan berkomunikasi Mengantuk

2) Orientasikan klien kembali dengan lingkungannya baik terhadap orang, tempat dan waktu. Biasanya gejala-gejala berkurang dalam waktu 2-3 minggu pengobatan sehingga mengorientasikan kembali klien terhadap lingkungan nyata sangat diperlukan. 3) Beri dorongan pada keluarga agar dapat menerima perubahan perilaku klien dan mengadaptasinya. Jelaskan pula bahwa dengan pengobatan yang teratur gejalagejala akan berkurang Penyuluhan Kesehatan:

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

87

Penyuluhan kesehatan sangat penting bagi klien dan keluarga. Berikanlah kepada mereka hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan obat di rumah dan perawatan klien pada umumnya. Berikan penjelasan tentang: a) Cara penggunaan obat, dosis dan waktunya. Tidak meminum obat bersama dengan obat lain. b) Tanda dan gejala bila kelebihan obat atau sebaliknya c) Menggunakan selimut tambahan pada waktu tidur, penggunaan baju hangat dan pakaian yang tebal bila suhu udara dingin.

THYROIDECTOMY KONSEP DASAR Pengertian Thyroidectomy adalah proses pengangkatan kelenjar tyroid dengan cara pembadahan (ulrich,dkk,1989:670). Ada dua tipe Thyroidectomy yaitu : Total thyroidectomy : adalah pengangkatan semua kelenjar, biasanya terjadi pada orang yang jenis penyakitnya sangat parah. Pengganti terapi tiroid sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka. Subtotal thyroidectomy adalah pengangkatan sebagian kelenjar tiroid, dimana kurang lebih 65 kelenjar dipindahkan (doenges,1992:731), prosedur yang dilakukan adalah subtotal thyroidectomy deman hampir 90% kelenjar tiroid diangkat (ulrich,dkk,1986:670).

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

88

Indikasi dan Kontra indikasi Indikasi Kontra indikasi Komplikasi Perdarahan Resiko ini minimun, terapi harus hati-hati dalam mengamankan hemostasis dengan penggunanan drain yang bijaksana. Perdarahan selalu mungkin terjadi setelah tyroidectomy, bila ia timbul biasanya terjadi setelah kedaruratan bedah, tempat diperlukan secepat mungkin dikompres leher segera dan mengembalikan pasien kekamar operasi. 2. Masalah terbukanya vena besar dan menyebabkan embolisme udara. Denga tindakan anastesi mutakhir ventilasi tekanan positif intemiten dan teknik bedah yang cermat, bahaya ini cukup jarang terjadi. 3. Trauma pada nervus larygeus recurens. Ia menimbulkan paralisis sebagian atau total ( jika bilateral) larynx. Pada operasi seharusnya mencegah cedera pada saraf ini atau pada nervus larygeus. 4. Memaksa sekresi glandula ini dalam jumlah abnormal kedalam sirkulasi dengan tekanan karena persiapan pasien yanng inadekuat menghambat glandula thyroidea overaktif dalam pasien yang dioperasi karena tiroksikosis. 5. Sebsis yang meluas ke mediastinum. Komplikasi ini tidak boleh terlihat dalam klinik bedah saat ini antibiotik tidak diperlukan sebagai profileksis. Perhatian bagi homeostatis adekuat saat operasi dilakukan dalam kamar operasi berventilasi tepat dengan peralatan yang baik dan ligasii harus disertai dengan infeksi yang dapat diabaikan. Terapi X-ray Hipersensitivitas terhadap obat antithyroidea Cancer Hyperthyroidisme Aspek phycososial dari perawatan anak Surgical intervention ( Doenges,1992 :731 )

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

89

6.

Hipotiroidisme pascabedah. Perkembangan hipotiroidisme setelah reaksi bedah roidea jarang terlihat oleh karena itu sebelumnya harus dilakukan pemeriksaan klinik dan biokimiai yang tepat.

Prosedur Pembedahan I. Perawatan Preoperasi Pemberian obat merupakan salah satu cara persiapan preoperasi obat-obatan yang diberikan adalah : Carbimazole. Diberikan beberapa minggu sebelum operasi, tetapi 10 hari sebelum operasi harus dihentikan. Propanol (120-160 mg), dikombinasikan dengan carbimazole, dimana mengandung beta-blocting untuk mencegah aksi peripheral thyroxine. Diberikan selam 5 hari untuk meningkatkan sirkulasi tyroxine. Lugols iodine (0,3-0,9 ml tds). Diberikan selama 10 hari sebelum operasi untuk mengurangi vascularity dari kelenjar. Diazepam 5 mg untuk mengurangi nyeri dan memberikan kenyamanan pada pasien. Digitalis, diberikan jika terjadi fibrilasi atrial. Dapat juga diberikan dalam bentuk digoxin (0,25 mg) secukupnya untuk mengontrol fibrilasi. ( colmer,1986 : 284) misalnya : Memberikan lingkungan yang tenang dan theraupetic,

dan keributan.

Tempatkan pasien paa rungan yang jauh dari cahaya


pasien Mengatur diet penyembuhan )

Memberi ketenagan selam masage dan waktu istirahat selam bebrapa hari Dapat memilih tempat/ kamar yang cocok dengan (adalah satu yang disukai adalah rumah peristirahatan/ Mengatur intake nutrisi yang cukup dari makanan yang mengandung karbohidrat dan protein Menghindari teh atau kopi karena dapat menimbulkan efek stimulating.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

90

Memberikan pemberian vitamin, terutama thiamine klorida dan asam ascorbic. Melakukan pembelajaran sifat

dasar dari masalah endocrine untuk membantu pasien selama menjalani test diagnostic selama menjalani penulusan test selama tes radioisotop secara lengkap. atas, leher sampai pada tepi dagu
-

Menjelaskan

meksud

Memberitahukan kepada pasien dan pengunjung bahwa mereka membutuhkan perlindungan Megingatkan pasien

bahewa mereka harus tetap berada dalam ruang hingga dilakukan tes Melakukan persiapan pasien untuk pembedahan Mencukur dada bagian pasien

Menganjurkan

untuk beristirahat pada malam hari sebelum dilakukan pembedahan. II. Perawatan post operasi Perawatan harus tepat uantuk mencegah komplikasi memberi fleksi pad leher bernapas

menempatkan posisi kepala yang tepat untuk mengurangi ketegangan pada lokasi yang dijahit. Mempatkan pasien dengan posisi semi fowler dengan kepala elevasi, memberi sokongan dengan bantal, Memberi oksigen pada pasien yang sulit Memperkirakan kondisi yang timbul pada pasien karena anastesi

misalnya kerusakan saraf larygeal, perdarahan, tetanus. ( lippincott,1974 :800-801) ASUHAN KEPERAWATAN 2.1 Pengkajian Sebelum Operasi : a. Data subyektif :

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

91

b.

Kwalitas perubahan.

suara

dan

kemampuan

menelan

mengalami

Pengertian tentang penjelasan dokter mengenai prosedur tindakan operasi yang akan dilakukan. Pengertian tentang bagaimana mencegah ketegangan luka sayatan. Penertian tentang tidak boleh berbicara pada periode sesudah operasi untuk mencegah edema. Pengertian tentang cara berkomunikasi sesudah operasi ( Sediakan buku catatatan pasien ) Penertian tentang cara mengatasi rasa sakit dan penggunaan ukuran skala sakit. Data Objektif : Tanda vital Perubahan kwalitas suara dan kemampuan menelan

Sesudah operasi a. Data subjektif Gejala hipokalsemia spasme dan tetanus Luka sayatan sakit dan bengkak, perdarahan. Jalan napas merasa sesak susah menelan dan otot leher terasa tertarik. b. Data objektif Suara parau. Perubahan pada tekanan dan puncak suara. Hipokalsemia. Luka sayatan waran kemarahan, tanda tanda peradangan, bengkak, perdarahan. Jalan napas : Pernapasan stedor, retroksi otot lehen dan sianosis. : Mati rasa, perasaan geli, kekakuan otot,

2.2 Diagnosa Keperawatan / Intervensi Sebelum Operasi : 1. Potensial perubahan pengurangan cardiak output berhubungan dengan peningkatan metabolisme dan peningkatan kerja jantung.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

92

Hasil yang diharapkan : tubuh. Intervensi kegelisahan / stres. dan kerja jantung. Meningkatkan intake makanan dengan memberi makanan sesering mungkin walaupun sedikit sedikit. Terapi : untuk memenuhi kebutuhan kalori dan mencegah kekurangan glycogen. Membatasi makanan atau minuman yang mengandung kafein. Terapi : efek dari kafein menyebabkan peningkatan metabolisme. Sesudah Operasi. 1. Potensial tidak efektifnya pembersihan jalan napas berhubungan dengan perdarahan dan edema laring. Hasil yang diharapkan : Intervensi Monitor irama pernapasan kedalan dan kerja penapasan. Terapi pernapasan terlihat cepat menyebabkan susah napas karena terjadi obstruksi. Auskultasi bunyi napas apakah tidak terjadi ronchi. Terapi ronchi merupakan indikasi obstruksi jalan napas. Perkirakan adanya dyspnea, stridor, crowing dan syanosis. Terapi indikasi obstruksi trakhea / spasme laring, diperlukan Intervensi dan Evaluasi yang cepat. Mengatur posisi tidur 30 40 derjat. Terapi fasilitas pernapasan batas edema area pembedahan dan kemungkinan pengumpulan sekret kembali tenggorokan. Mengatur posisi latihan napas dalam bila adanya batuk. Pernapasan dan suara napas dalan batas normal. Tidak ada perdaran pada luka operasi. Terapi : ketegangan dari luar dapat meningkatkan metabolisme Memberikan ketenangan lingkungan dan mengurangi terjadinya Kerja jantung normal. Kerbutuhan cardiak output terpenuhi sesuai kebuthan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

93

Terapi mengatur membersihkan jalan napas dan fentilasi, walaupun batuk tampak timbulnya nyeri tetapi mengeluarkan sekret. Section mulut dan trakhea indikasi kareteristik sputum. Terapi melancarkan jalan napas. Menyakan kesulitan menelan dan mengeluarkan air liur dalam mulut operasi. Menyiapkan uap air untuk membantu pernapasan . Terapi membantu mengeluarkan sekret dan melegahkan tenggorokan. Bantu dengan membuat tracheatomy atau perdarahan. 2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan pita suara / saraf laring, odema jaringan dan nyeri. Hasil yang diharapkan : Menggunakan cara berkomunikasi alternatif selama 48 jam operasi Dapat berkomunikasi verbal tampa perubahan suara Kaji kemampuan berbicara anjurkan untuk istirahat berbicara. Terapi Parau dan luka pada tenggorokan menyebabkan pembekakan jaringan / tidak Terapi mengurangi tuntutan terhadap respon jangan terlalu mengeluarkan suara Antisipasi diperlukan mungkin frekwensi bertemu pasien. Terapi mengurangi keinginan atau kebutuhan pasien untuk berbicara Anjurkan pasien untuk membatasi bersuara bila ingin memanggil dengan menekan bel. Terapi mencegah ketegangan suara. Memelihara keadaan lingkungan. atau kerusakan area operasi yang menyebabkan kerusakan saraf laring. Menjaga komunikasi singkat dengan jawaban atas pertanyaan ya Terapi untuk membantu pernapasan bila ada obstraksi karena edema Terapi indikasi adanya edema / perdarahan pada jaringan tempat

Intervensi :

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

94

Terapi 3. Intervensi

lingkungan

yang

tenang

mempelancar

komunikasi

tampa

mengeluarkan suara yang keras. Nyeri akut berhubungan dengan adanya luka operasi Mengungkapkan perasaan nyaman dan tidak nyeri. Expresi wajah dan tubuh tampak rileks. Kaji keluhan verbal / non verbal dari nyeri dengan skala ( 1 10 ) kehebatan dan lamanya. Terapi memudahkan evaluasi nyeri dan menentukan intervensi dan pengobatan yang efektif. Mengatur posisi semi fowler, suprot kepala / leher dengan bantal. Memberikan cairan dingin lewat mulut dan memberikan makan lunak seperti es crim. Terapi menyejukan luka ditenggorokan dan mengurangi rasa sakit. Anjurkan pasien untuk melakukan teknik relaksasi. Terapi membantu mengurangi nyeri. Kolaborasi untuk pemerian analgesik sesuai dosis terapi. Terapi memblok nyeri yang timbul. Terapi cegah hyperekstensi leher dan melindungi keutuhan luka operasi. Hasil yang diharapkan.

KELAINAN KELENJAR PARATHYROID

1. KONSEP DASAR : Hyperparathyroidsm. 1.1 Pengertian

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

95

Hyperparathyroidsm adalah kondisi dimana terjadi peningkatan sekresi parathyroid atau PTH (Sharon M. L dan Idolia, 1993: 1338).

hormon

Hyperparathyroidsm adalah gangguan yang disebabkan oleh aktifitas berlebihan dari satu atau lebih kelenjar parathyroid sekunder (Mosby, s, 1986: 830). Fungsi normal dari PTH yaitu meningkatkan resorbsi tulang dengan cara menyeimbangkan ion calsium dan ion fosfat. 1.2 Klasifikasi Hyperparathyroidsm (Sharon M. L dan Idolia, 1993: 1338). 1. Hyperparathyroidsm primer. 2. Hyperparathyroidsm sekunder 3. Hyperparathyroidsm tertier. 1.3 Etiologi 1. Hyperparathyroidsm primer disebabkan oleh tumor atau hyperplasia dari kelenjar
2.

disebabkan oleh yang primer atau

hyperthyroid,

dapat

mengacaukan

metabolisme

calsium,

phosphat, tulang, sering disebabkan oleh adenoma single (kasus 84 %) Hyperparathyroidsm sekunder, paling nampak sebagai respon penggantian dari keadaan abnormal sebagai penyebab peningkatan hypocalcemia, terutama stimulus dari aktifitas paratiroid.
3.

Hyperparathyroidsm tertier, observasi pada klien yang mempunyai transplantasi ginjal dalam periode yang lama dan perawatan dialysis untuk gagal ginjal kronik.

Penyebab lainnya: - Kelenjar yang overaktif (hyperplasia). - Tumor banigna pada salah satu dari kelenjar paratiroid.

1.4 Patofisiologi Meningkatnya jumlah PTH secara langsung dapat merusak ginjal, dimana menyebabkan meningkatnya resorbsi tubular akan calsium dan meningkatkan ekskresi fosfat, hal ini akan menimbulkan hypercalsemia dan hypopospatemia. Metabolisme asidosis urinari alkalosis dan hypocalsemia merupakan akibat dari meningkatnya ekskresi bikarbonat dan menurunnya ekskresi asam. Didalam wilayah

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

96

ini, renal calculi sering terjadi. Didalam tulang kelebihan hormon parathyroid meningkatkan resorbsi tulang sehingga menurunkan aktifitas osteoblast dan meningkatnya aktifitas osteoklast. Hal ini mengakibatkan pelepasan calsium dan fosfor ke dalam sirkulasi dan pengapuran tulang. Ketika daya larut normal calsium didalam serum meningkat calsium disimpan dalam jaringan lunak. Hal ini biasa terjadi pada hypercalsemia yang lama (batas serum calsium 11,5 - 12 mg / dl atau lebih. Hipertensi dapat dilihat pada akut hypercalsemia, dimana mungkin terjadi vasokontriksi,. Sedangkan pada kronik hypercalsemia, hipertensi dapat menimbulkan kerusakan ginjal. Pada EKG ditunjukkan dengan penyusutan interval QT dan awal sistole sampai awal repolarisasi. 1.5 Manifestasi Klinik 1. Akibat hypercalsemia: Anoreksia, mual, muntah, konstipasi, nyeri usus, nyeri abdomen, poliuri, polidipsi. 2. Kalsifikasi metastatik: Batu ginjal, nefrokarsinosis. 3. Resorbsi tulang Nyeri punggung, nyeri tulang sendi, fraktur spinal patologis, fraktur tulang. Dapat terjadi fraktur karena melemahnya tulang belulang Terbentuknya batu ginjal akibat karena meningkatnya ekskresi calsium penurunan eksitabilitas saraf dan otot. 1.6 Komplikasi Dapat terbentuk batu calsium di ginjal sehingga terjadi peradangan ginjal. Dapat terjadi kelainan EKG, termasuk kontraksi Ventrikel Pengatur (PVC) dan Sinus Tacikardi, yang berkaitan dengan efek tinggi calsium serum pada depolarisasi otot jantung. 1.7 Studi Diagnosa dan Penemuan Total serum calsium Ion calsium Hormon parathyroid > 11 mg/dl: normalnya 8,6-10,5 mg/dl. meningkat > 65 pg meningkat

- Kelemahan dan kelelahan karena calsium serum yang tinggi menyebabkan

Kadar fosfat serum rendah (< 2,0 mg/dl: normalnya 2,5 4,5 mg/dl).

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

97

1.8 Penemuan radiografi Tes radiografi dilakukan untuk mengukur adanya renal calculi, lesi tulang seperti adanya fraktur. Studi lokalisasi biasanya dilakukan ketika suatu adenoma tidak ditemukan atau ketika kelenjar tidsak dapat di identifikasi pada pembedahan awal . Studi ini meliputi arteriografi dimana celupan radiopak yang infeksi ke dalam arteri tiroit.CT (computet tonograpi) dapat di gunakan pada adenoma lokal dalam media sternum dan dada jika lesi cukup besar. Tes diagnostik lain: Kateterisasi vena selektive dari venatiroit dengan contoh darah dapat menunjukan jumlah parathyroit hormon lebih tinggi . Ultrasonografi dapat digunakan pada lokasi adenoma yang lebih besar dalam wilayah lain pada leher. 1.9 Manajemen medik - Hydrasi untuk menurunkan serum kalsium kurang lebih 2-3 liter /hari. - Lasic untuk menaikan sekresi kalsium pada ginjal. - Medicasi yang menghalangi resorbsi tulang (contoh obatnya: mithramycin (mithracin), glallium hitrate ( ganite), phosphats, calcitonim. - Monitor entake dan output setiap 2- 4 jam selama terapi hydrasi 1.10 Manajemen pembedahan Parathyroidektomy untuk menghilangkan kelenjar penyebab hypersekresi. 2. ASUHAN KEPERAWATAN 2.1 Pengkajian Ginjal: poliuri, nefrolitiasi. Gastrointesina ; ulserasi , konstipasai. Skeletal: Demineralisasi, nyeri, fraktur patologi Psikososial: depresi, paranoit. Neuromoskuler: kelemahan.

2.2 Diagnosa Keperawatan dan Intervensi 1. Nyeri berhubungan dengan faktor fisik. Intervensi: - Monitor derajat dan lokasi nyeri pada pasien. - Hindari perubahan temperatur. Berikan obat pengurang nyeri kepada pasien sesuai jadwal kecuali jika dibutuhkan.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

98

- Anjurkan body- alignment yang baik untuk memberikan posisi anatomi yang normal. Balut iga ketika pasien jalan, batuk, dan bergerak untuk mengurangi nyeri dan mencegah injuri lebih lanjut terkhusus pada faktor patology.
2.

Konstipasi berhubungan dengan kerusakan muskulosokeletal dan intake inadekuat: Intervensi: - Ukur BB pasien setiap hari. - Catat intake dan output pasien. - Anjurkan pasien minum air 3000 ml/hari. - Berikan obat pelunak feces pada pasien sesuai ketentuan. - Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi diet tinggi serat. - Berikan enema atau laksatif pada pasien.

3. Aktifitas intoleransi berhubungan dengan kelemahan otot Intervensi: - Observasi pasien terhadap kestabilan ambulasi. - Bantu pasien ambulasi jika diperlukan. - Pegang pasien; suruh dia berjalan secara perlahan. - Bantu pasien mengidentifikasi bahaya lingkungan disekitar rumah dan berikan petunjuk penting untuk mencegah injuri. - Berikan terapi fisik untuk pasien. 4. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan gangguan gambaran diri Intervensi: - Bantu pasien mengidentifikasi faktor pencetus stres.
- Bantu individu/pasien mengidentifikasi coping dan tingkah laku adaptasi yang

digunakan pada waktu yang lalu.


- Beritahukan pasien tentang berkurangnya hormon pada dirinya (parathyroid).

Intervensi untuk pasien post operasi Perawatan rutin post operasi: Monitor komplikasi yang mungkin terjadi; obstruksi jalan napas, pendarahan, injury, yang dapat menimbulkan kekambuhan pada syaraf laryngeal dan hypocalsemia.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

99

Turunkan ketegangan pada garis sutura dengan cara: Posisi semi Fowler. Sanggah kepala dan leher dengan bantal dan karung berisi pasir. Instruksikan pasien supaya leher tidak ekstensi dan hiper ekstensi Ukur paten jalan napas dengan cara: Instruksikan pasien untuk batuk dan napas dalam Suction pada mulut dan trachea. Lembabkan oksigen tambahan.

- Hitung set tracheostomy, tuba endotrachea, dan laryngoscop di samping tempat tidur. - Tenangkan klien bahwa gejala ringan tetanus dapat terjadi dan mengurangi jumlah serum calsium untuk sementara waktu. - Pastikan bahwa calsium gluconat telah disediakan. - Pastikan sedini mungkin ambulasi sesuai berat dan kecepatan proses rekasifikasi. Focus Perawatan
Instruksikan klien mengenai:

Modifikasi diet rendah calsium, rendah vitamin D. Pentingnya intake cairan adequat. Pentingnya pengobatan untuk mengontrol hypercalsemia. Berikan penyelamatan untuk mengurangi resiko injury.

2.3 Evaluasi

Hydrasi adequat: konsumsi cairan 2 liter perhari. Kenyamanan dan penurunan jumlah aktivitas:

- Pasien mobilisasi seoptimal mungkin dengan sedikit atau tanpa nyeri. - Pasien mengikuti rencana untuk mengurangi nyeri. - Pasien menggunakan obat penghilang nyeri secara teratur. - Pasien berpartisipasi aktif dalam aktivitas. Koping individu efektif:

- Pasien dapat mengidentifikasi satu stimulus untuk menurunkan koping. - Pasien menggunakan satu teknik koping secara teratur.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

100

2.4 Pendidikan pasien 1. Demonstrasikan pada pasien bagaimana memonitor dan mengukur intake cairan adequat. 2. Demonstrasikan pada pasien bagaimana cara mengecek urine terhadap adanya batu dan hematuri. 3. Diskusikan dengan pasien pentingnya postur tubuh yang tepat dan kebutuhan yang diperlukan untuk meningkatkan toleransi aktivitas. 4. Bantu pasien dalam mengembangkan rencana alternatif untuk mengurangi nyeri. 5. Anjurkan kepada pasien mengenai pentingnya perubahan lingkungan rumah untuk mencrgah kecelakaan. 6. Diskusikan dengann pasien mengenai kebutuhan toleransi oleh keluarga dari pasien, iritabilitas, menurunnya sikap untuk mengambil keputusan dapat dicegah.

GANGGUAN PADA KELENJAR ADRENAL Kelenjar adrenal sangat penting bagi kehidupan. Tanpa hormon kortison dan aldesteron tubuh tidak mampu melakukan metabolisme. Medula adrenal tidak terlalu penting bagi kehidupan karena hasil respon saraf simpatik sangat rendah. 1. Hiperfungsi korteks adrenal : Hipersekresi kortisol 1.1 Etiologi / epideminologi Kelebihan kadar glukokortikoid akan menimbulkan gejala yang di sebut cushings syndrome. Penyebab Cushings syndrome di bagi dlam 3 ( tiga ) bagian besar yaitu : 4) Primary cushing syndrome Produksi kortisol yang berlebihan akibat adenoma atau karsinoma adrenal. Sering di sebut adrenal cushings syndrome 5) Secondary cushings syndrome Produksi cortisol yang berlebihan akibat dari hiperplasia adrenal karena produksi ACTH yang berlebihan. produksi ACTH yang berlebihan akibat dari : a. Peningkatan pelepasan ACTH dari kelenjar pituitary karena masalah pada pituitary atau hipotalamus : sering di sebut juga cushings disease pituitary cushings syndrome. atau

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

101

b. Peningkatan pelepasan ACTH dari tempat nonpituitary ectopik seperti bronchogenik carsinoma, pancreatik carsinoma dan bronchial carsinoma. 6) Iatrogenik Cushings Syndrome : Kadar kortisol yang berlebihan akibat dari therapi glokokortikoid yang kronik. Keadaan ini yang paling sering menyebabkan cushings sindrome 1.2 Pathofisiologi Hasil akhir dari cushing sindrome adalah produksi kortisol yang berlebihan. Proses pathofisiologi yang dihubungkan dengan kelebihan kortisol adalah akibat dari exagregasi pada semua aktivitas glukokortikoid dan juga akibat dari gangguan : 1. Metabolisme protein, lemak dan karbohidrat. 2. Peradangan dan respon imun 3. Metabolisme air dan mineral 4. Stabilitas emosi 5. Kadar RBC dan Platelet. Kelebihan kortisol juga mengganggu sekresi beberapa hormon pada pituitary anterior yaitu : prolactin, thyrotropin, LH dan GH. 1.3 Manifestasi Klinik 1) Gangguan Metabolisme protein, lemak dan karbohidrat. a. Gangguan metabolisme protein Kelebihan katabolisme protein mengakibatkan kehilangan massa otot, yang menyebabkan timbulnya gejala gejala sebagai berikut : Otot menjadi tipis (Kurus) terutama otot pada ekstremitas, kesulitan untuk berdiri kalau duduk pada tempat duduk yang rendah, kelelahan dan kelemahan. Menurunnya matriks protein pada tulang yang menyebabkan osteoporosis, frakture pathologic dan nyeri tulang. Kehilangan colagen pada kulit yang menyebabkan kulit menjadi tipis, mudah lecet, ehimosis pada tempat trauma. Luka sulit sembuh b. Gangguan metabolisme lemak Gangguan pada metabolisme lemak mengakibatkan terjadinya kegemukan akibat deposite lemak yang abnormal. Berat badan meningkat. Deposite lemak pada muka menyebabkan moon face.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

102

c. Gangguan Metabolisme karbohidrat Peningkatan glukoneogenesis dan gangguan penggunaan insulin mengakibatkan hyperglikemia dan menyebabkan diabetes melitus. 2) Gangguan respon imun dan Peradangan . Kelebihan kortisol menyebabkan penurunan limphosit khususnya limphosit T, penurunan cell Mediated Immune, peningkatan neutropil dan gangguan aktivitas antibody. Perubahan ini menyebabkan individu rentan terhadap infeksi virus dan jamur. Penekanan pada sistim imun menyebabkan infeksi oportunitis seperti : penumocitis carnii atau beberapa infeksi jamur lainnya. Tanda awal infeksi seperti demam, jarang dideteksi. Lamanya penembuhan luka akibat dari keadaan ini. 3) Gangguan metabolisme air dan mineral . Retensi air dan natrium yang menyebabkan peningkatan berat badan dan odema. Hipertensi. Terjadi akibat peningkatan volume atau karena peningkatan sensitivitas arteriola terhadap sirkulasi cathecolamin. Hypokalemia, hipokloremia dan metabolik ascidosis jika kelebihan kortisol menjadi berat. Peningkatan resorption calsium dari tulang dan renal calculi akibat hypercalcuria (mengakibatkan colik ginjal) 4) Gangguan stabilias emosional Perubahan emosi yang bervariasi dapat terjadi. Bisa dari yang paling ringan : mudah tersinggung dan cemas, depresi sedang dan kehilangan memory sampai depresi berat dan psikosis. Euphoria dan gangguan pola tidur sering terjadi. 5) Gangguan hematologic Kelebihan kortisol menyebabkan perubahan pada beberapa komponen darah : RBC, HT dan Hb normal atau meningkat Leukositosis, lymphopenia, eusenophenia Peningkatan yang bervariasi faktor pembekuan darah dan platelet yang menyebabkan tromembolik phenomena. 1.4 Management medik Therapi Uraian Komplikasi

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

103

Transphenoidal Adenoctomy

Transphenoidal Hypophysectomy Radiasi therapi dengan metoda convensional 2. Asuhan Keperawatan 2.1 Pengkajian : Data subyektif

Bedah Pilihan untuk tumor pituitary, mempertahankan fungsi pituitary, sangat sukses pada microadenoma sedangkan kurang sukses pada macroadenoma dan invasive. Pengambilan total kelenjar pituitary mungkin dilakukan pada tumor invasif atau makroadenoma. Pemberian Obat Obatan

Fungsi kelenjar kemabali normal setelah 1 tahun pembedahan dan pasien membutuhkan tambahan glokokortikoid pada saat tertentu Membutuhkan therapi pengganti hormon : glokortikoid, thyroid dan ADH selamanya

1) Riwayat perubahan porposi tubuh, berat badan, distribusi rambut, pigmentasi, Luka lama sembuh 2) Riayat ketidaknyamanan khusunya nyeri tulang belakang 3) Riwayat sering infeksi kulit dan pernapasan 7) Perubahan neurologis : perubahan perilaku, sulit berkonsentrasi. 8) Keluhan dalam hal makan : Intake nutrisi dalam 24 jam, keluhan peningkatan rasa haus. 9) Muskuloskeletal ; Nyeri otot, lemah, letih dan sulit melakukan aktivitas sehari hari. 10) Eliminasi ; perubahan urine out put 11) Seksual. Wanita : Perubahan menstruasi, karakteristik seksual sekunder , libido dan persaaan tentang seks. Laki Laki : perubahan dalam Libido, Karakteristik seksual sekunder, perasaan tentang seks. 12) Pengetahuan tentang, penyakit, diagnosa dan pengobatan Data Obyektif 1) Umum : Penampilan tubuh (Adanya moon face, otot lengan menjadi tipis, Hiperpigmentasi, Strie, echimosis) 2) Tidak bisa mengingat hal hal baru disampaikan, sulit konsentrasi 3) Cardiovaskuler : Tekanan darah meningkat, nadi meningkat, distensi vena jugularis, adanya oedema dan berat badan meningkat. 4) Nutrisi : Intake nutrisi dan cairan. dan kaki

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

104

5) Muskuloskleteal : massa otot, ketegangan otot, kemampuan untuk duduk dan berdiri.

13)

Eliminasi : Urine output, Glukosaria.

14) Seksual : karakteristik sex sekunder , distribusi rambut, jerawat. 2.2 Diagnosa keperawatan : Untuk semua pasien selama periode akut sebelum pengobatan definitive : 1. Aktivitas intolerance berhubungan dengan kelemahan otot, abnormalnya metabolisme karbohidrat, ketidakseimbangan elektrolit. Tujuan : Toleransi terhadap aktivitas ditingkatkan yang ditandai dengan : Pasien dapat melakukan aktivitas secara bertahap dari hari kehari. 2. Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan karakteristik dan fungsi tubuh. Tujuan : Gambaran diri pasien ditingkatkan yang ditandai dengan : pasien mengatakan menerima keadaan dirinya dan mengembangkan sisi positive dari dirinya. 3. Tidak efektifnya koping individu berhubungan dengan ketidakmampuan menghadapi stresor, emosi yang labil Tujuan ; Koping individu kemabli adekuat yang ditandai dengan : Pasien mampu mengatasi stress 4. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan Abnormalnya retensi natrium dan air. Tujuan : Volume cairan kemabli ke keadaan normal yang ditandai dengan : Tidak ada oedema dan hemodilusi. 5. Potensial infeksi berhubungan dengan Penurunan respon imun. Tujuan : Tidak terjadi infeksi yang ditandai dengan tidak adanya tanda- tanda awal infeksi . 6. Potensial injuri berhubungan dengan Kelemahan otot dan tulang. 7. Kurang pengetahuan tentang : penyakit, pengobatan, prosedur diagnostik dan complikasi berhubungan dengan kurang informasi.

8.

Nyeri berhubungan dengan demineralisasi tulang .

2.3 Perencanaan / Implementasi

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

105

Pasien dengan kelebihan sekresi kortisel membutuhkan perawatan yang intesif. Keadaan pasien tiba tiba saja bisa berkembang ke keadaan kritis. Selama periode akut, fokus perawatan ditujuhkan pada penatalaksanaan koping yang efektif, mengembalikan keseimbangan cairan, mencegah infeksi dan injuri. Fokus Utama perawatan : 1. Menurunkan stressor Berikan perawatan yang kontinyu Jelaskan semua prosedur secara perlahan dan hati hati. Bicara dengan pasien dan dengarkan keluhannya. Jangan menggunakan suara yang keras, berikan privacy dan cegah perubahan lingkungan Tingkatkan relaksasi. 2. Monitor kemampuan koping secara fisiologi. Pertahankan tekanan darah dan nadi dalam batas normal. Ukur tanda vital setiap 2 4 jam. 3. Kontrol kelebina volume cairan Batasi cairan sesuai toleransi. Buatkan daftar balance cairan Berikan diet rendah natrium sesuai kebutuhan. Berikan pengganti kalsium sesuai pesanan dan berikan diiet tinggi kalsium. Monitor berat badan, intake output setiap 4 sampai 8 jam. Monitor hasil laboratorium : Kadar natrium, Kalium, Kalsium, bicarbonat dan pH 4. Cegah infeksi dan injuri. Monitor temperatur tiap 4 jam. Kaji keadadaan, mulut, kulit setiap pergantian dinas untuk mendeteksi dini terhadap infeksi. Batasi pengunjung, terutama yang menderita penyakit infeksi. Berikan tindakan pencegahan pada setiap prosedur yang akan dilakukan Penanganan sekunder yang perlu diperhatikan adalah : Mempertahankan dan meningkatkan istirahat. Meningkatkan keseimbangan nutrisi. Meningkatkan kenyamanan.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

106

Meningkatkan harga diri pasien. Pendidikan kesehatan. 2.4 Implementasi Disesuaikan dengan tujuan perawatan

Catatan ; Hipofungsi Korteks adrenal yang menyebabkan hiposekresi kortisol merupakan kasus yang jarang terjadi. Biasanya hypofungsi kortisol ini akibat dari : 1) Gangguan sekresi ACTH dari pitutary akiba tumor. 2) Kerusakan kelenjar adrenal itu sendiri. Penyakit akbat hiposekresi kortisol ini disebut : Addisons Disease. Hipersekresi aldosteron Etiologi dan Epidemiologi : Kelebihan pengeluaran aldosteren menyebab aldoteronism Primer maupun sekunder.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

107

SISTIM METABOLISME DAN ENDOKRINE CHAPTER TWO

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

108

PENATALAKSANAAN PADA INDIVIDU DENGAN MASALAH DIABETES MELITUS DAN HIPOGLIKEMIA ( Management Of persons With Diabetes Melitus and Hypoglycemia ) Oleh : SIMON SANI KLEDEN, Skep, NS

DIABETES MELITUS
Tujuan pembelajaran : Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa seharusnya mampu : 1. Membedakan antara diabetes ketergantungan insulin (IDDM) dan diabetes tidak ketergantungan insulin (NIDDM), Gestasional diabetes Melitus (GDM), malnutrisi yang berhubungan dengan diabetes mellitus dan beberapa tipe diabetes lainnya. 2. Menggambarkan etiologi dan epidemiology dan IDDM dan NIDDM. 3. Menngambarkan cara pencegahan, Primer, sekunder dan tertier terhadap diabetes mellitus. 4. Menjelaskan pathofisiologi dasar terjadinya diabetes mellitus. 5. Menjelaskan manifestasi klinik pada diabetes mellitus. 6. Mengambarkan management medis pada diabetes mellitus. 7. Menjelaskan jenis dan tujuan dari latihan pada diabetes mellitus. 8. Menggambarkan tipe dan jenis dari insulin serta komplikasinya. 9. Menngambarkan cara kerja obat hipoglikemik oral. 10. Menjelaskan komplikasi pada diabetes mellitus. 11. Mengembangkan asuhan keperawatan pada pasien dengan diabetes mellitus. 12. Menggambarkan keuntungan dan resiko dari transplantasi pancreas. 13. Mendefinisikan tentang hipoglikemia. 14. Mengembangkan rencana asuhan keperawatan pada pasien dengan diabetes mellitus.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

109

DIABETES MELITUS
Pengertian. Diabetes tidak dapat didefinisikan secara mandiri. Diabetes adalah gangguan kronik yang kompleks yang ditandai dengan

Kurang sekresi insulin secara relatif atau komplit oleh sel-sel Beta dari pankreas atau gangguan reseptorreseptor insulin mengakibatkan suatu gangguan metabolisme karbohidrat yang kompleks, lemak, dan protein yang disebut DM. Data Group of The National Istutute of Health.
Diabetes tipe I ditandai dengan sekresi insulin oleh pankreas tidak ada dan sering terjadi pada orang muda. Secara normal, insulin bekerja untuk menurunkan kadar glukosa darah dengan membolehkan glukosa masuk kedalam sel untuk dimetabolisme. Caranya dengan mengikat dirinya secara kuat pada tempat reseptor pada membran sel. Efek utama metabolik insulin adiposa. adalah di otot dan jaringan Pada orang diabetes, kekurangan atau ketiadaan insulin menimbulkan

Gangguan, yang

seringkali keturunan , sudah dibagi dalam serangkaian kategori oleh National Diabetes

kelaparan pada jaringan ini dan ini menjelaskan mengapa pasien menjadi lelah dan berat badan menurun. Karena insulin tidak digunakan, terjadi penumpukan didalam darah pada orang

diabet dan meluap kedalam urine yang menyebabkan haus dan keluarnya urine dalam jumlah yang banyak. Lebih lanjut masalah ini akan menimbulkan komplikasi physiologic, kecuali kalau diberikan penggantian insulin. Sehingga orang yang menderita DM Tipe I perlu injeksi insulin secara teratur dalam hidupnya untuk mencegah ketosis. Suatu komplikasi Melitus). yang muncul,akibat gangguan metabolisme lemak. Untuk alasan ini, DM tipe I dikenal sebagai IDDM (Insulin Dependent Diabetes

Diabetes Type II akibat dari tidak sensitifnya reseptor insulin terhadap insulin yang sudah tersedia. Pada kelompok ini diit khusus diajurkan untuk menurunkan BB dan diberikan tablet untuk merangsang pancreas untuk mensekresi lebih banyak insulin. Karena tidak dibutuhkan insulin maka diabetes tipe II dikenal sebagai NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes melitus).

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

110

Orang-orang yang DM saat hamil atau gestational diabetes (GDM) biasanya dikenal sebagai type II. Mereka adalah wanita yang mengalai tidak tolenransi terhadap glukose selama hamil. Tipe IV dikenal sebagai DM jenis lain termasuk pasien-pasien yang kondisinya dihubungkan dengan penyakit pancreas, perubahan hormon, efek obat yang tidak cocok, atau genetik atau abnormalitis lainnya. Pertimbangan keperawatan terutama ditujukan pada pendidikan yang ekstensif dan memberikan dukungan emosional. Perawat bisa membantu pasien menerima diagnosis dan memahami gangguannya dan perlunya supervisi keperawatan yang kontinue dan pembatasan diit. Pasien juga diajarkan bagaimana : Mengatur obat-obatan sendiri Test Gula darah dan urine dan menginterpretasi hasilnya. Mengenali tanda-tanda hyperglikemia (kelebihan glukose dalam darah) yang menyebabkan koma. Mengenali tanda- tanda hypoglikemia ( kekurangan glukose dalam darah untuk insulin bertindak ) berdampak ke shock insulin. Tindakan pengamanan, seperti hindari infeksi, bawa persediaan glukose setiap saat untuk penggunaan saat emergency, bawa kartu identitas kesehatan dan gunakan teknik steril dalam melayani diri sendiri ( pengobatan dll ). Semua hal ini harus ditekankan pada pasien berulang- ulang.

SISTIM METABOLISME DAN ENDOKRINE


Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

111

CHAPTER ONE

MODUL 1
PENGKAJIAN SISTIM ENDOKRINE ( Assesment of The endokrine system) Oleh : SIMON SANI KLEDEN, Skep, NS

PENGKAJIAN SISTIM ENDOKRINE


Oleh : Simon Sani Kleden, Skep, NS
Tujuan Pembelajaran : Setelah mempelajari topik ini mahasiswa seharusnya mampu untuk : 6. Menggambarkan lokasi dari berbagai kelenjar endokrine dalam tubuh mekanisme pengontrolan produksi endokrine 7. Menggambarkan fungsi dari hormon yang dikeluarkan oleh : Kelenjar pituitary, thyroid, parathyroid,, cortex adrenal, medula adrenal dan endokrine pankreas. 8. Mengidentifikasikan dan proses penuaan. perubahan fisiologis yang terjadi dalam sistim endokrine dan pengeluaran hormon dan dari kelenjar

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

112

9. Mengidentifikasikan data subyektif dan obyektif yang seharusnya dikumpulkan pada klien dengan masalah kesehatan yang aktual maupun potensial pada sisitim endokrine. 10. Menggambarkan tersebut. Pendahuluan Semakin komplesnya tubuh manusia, khususnya cel dan jaringan membutuhkan suatu sistim comunikasi internal yang baik sehingga fungsi dari masing masing uji diagnostik yang sering dilakukan pada klien dengan masalah dysfungsi sistim endokrine dan menjelaskan arti dari hasil pemeriksaan

bagian tubuh dapat dipertahankan sebagai satu kesatuan unit yang bertanggungjawab terhadap fungsi tubuh secara keseluruhan. Dua systim yaitu sistim syaraf dan

endokrine mempunyai fungsi yang bersamaan dalam mengatur respon tubuh terhadap perubahan lingkungan. Sistim endokrine terdiri dari : Kelenjar pituitary anterior dan posterior, thyroid, parathyroid, cortex adrenal, medula adrenal, gonad, pineal body dan thymus. Disamping itu ada juga sel sel spesifik endokrine pada saluran pencernaan. Hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar endokrine mempunyai fungsi yang amat penting kehidupan organisme dalam

yaitu : Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan,

diferensiasi, reproduksi, adaptasi, proses penuaan dan lain lain.

ANATOMI DAN FISIOLOGI


Lokasi dari kelenjar endokrin dan fungsi dari hormon yang dihasilkan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

113

Pineal

Pituitary Thyroid dan Parathyroid Thymus

Adrenal Islets of Langerhans Ovari

Testis

Gambar 1.3 System Endokrine (Tuker SM et all dikutip : Barbara C long, 1993 : p = 1001)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

114

Thalamus Thalamik mass Comisura Anterior Inti Hipothalamus Optik Chiasma Pituitary Stalk Pituitary Gland Pineal Body Cerebelum

Gambar 1.4 Pembelahan sagital dari otak (Barbara C long, 1993 : p = 1001)

Nukleus praventrikuler Supraoptik Nukleus Optik Chiasma

Arteri hipofise superior

Cappilary Pituitari posterior

Pituitari anterior Vena Efferent

Arteri hipofise inferior

Gambar 1.4 Hubungan hipothalamik pituitari Barbara C long, 1993 : p = 1002)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

115

1.13

Hipothalamus
Adalah bagian dari diencephalon yang membentuk lantai dan merupakan

bagian lateral dari ventikel ketiga. Secara anatomis hipothalamus mencakup optik kiasma, korpora mamilari, tuber sinerium, infundibulum dan hipofisis. Terdiri dari sel sel saraf yang berkelompok membentuk nuklei. Hipothalamus menempati bagian bawah dinding lateral dibawah ventikel ketiga. Bagian depan berbatasan dengan optik chiasma , bawah dengan pituitary salk, bagian belakang dengan sulcus dan thalamus lie sedangkan bagian samping dengan internal capsule, subthalamic lie. Walaupun merupakan are yang sangat kecil pada otak, namun hipothalamus selalu menerima input baik secara langsung dan tidak langsung dari beberapa bagian otak.
KELENJAR / HORMON Hipothalamus Releasing hormonhormon (banyak) Inhibisi Hormon-hormon (banyak) PENGATURAN FUNGSI Menstimulasi pituitary anterior melepaskan hormon-hormon. Menghambat/batasi pituitary anterior sekresi hormon.

1.14

Kelenjar pituitari. Berukuran 1 cm dan berat 500 mg, terletak didalan sela tursica dari fosa cranial.

Secara fungsional kelenjar pituitary dibagi menjadi 2 yaitu : Adenohypofise (Pituitary anterior) dan Neurohipofise (Pituitary posterior) Perbedaannya : Adeno = kelenjar, sedangkan neuro = saraf. Adenohyphofise strukturnya dari kelenjar endokrin, sedangkan neurohyphyse mempunyai struktur seperti jaringan saraf. c. Pituitari Anterior ( AdenoHypofise) Kelenjar pituitary anterior mengontrol seluruhnya fungsi dan struktur kelenjar al : Tyroid, kortex adrenal, follikel ovarium dan karpus luteum yang kadang-kadang disebut sebagai kelenjar utama (master gland) Thyroid Hormon stimulating hormon (TSH) bekerja pada (ACTH) bekerja pada kelenjar kortex thyroid adrenal yang yang menstimulus kelompok tyroid untuk menaikan sekresi hormon tyroid. adrenocortisotropic menstimulus kortex adrenal untuk menaikan ukuran dan mensekresi jumlah besar hormonnya, khususnya sejumlah besar kortisol (hydrokortisol)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

116

Follicle stimulating hormon (FSH) yang menstimulus folikel ovarium pimer untuk mulai tumbuh dan menghasilkan estrogen dan tubulus seminiferus membentuk sperma. Luteinizing hormon (LH), bekerja bersama-sama FSH dalam beberapa fungsi yaitu Menstimulasi folikel dan ovum untuk jari matur yang komlet 3) Menstimulasi sel-sel folikel untuk mensekresi estrogen dan menyebabkan ovulasi (robeknya folikel matur dan keluarnya ovum yang sudah matang) Karena fungsi ini LH kadang disebut sebagai hormon ovulasi. 4) LH menstimulasi pembentukan golden body (tubuh mas) menjadi corpus luteum, dalam robeknya folikel. Proses ini disebut Luteinizasi Fungsi ini menyebabkan LH disebut hormon Luteinizing. Pada pria, kelenjar pituitary juga mensekresi LH yang secara formal disebuyt Interstial Cell Stimulating Hormon (ICSH), karena hormon ini menstimulasi sel-sel dalam testis untuk berkembang dan mensekresi testoteron yang merupakan hormon sex pria. Melanocyte stimulating hormon (MSH) Menyebabkan cepat terjadi peningkatan synthesis dan penghancuran pigmen melanin, granulasi pada sel-sel kulit khusus. Hormon hormon yang dihasilkan oleh pituitary anterior serta Fungsi dan mekanismenya dapat Dilihat Pada tabel dibawah Ini.

Hormon hormon yang dihasilkan oleh pituitary anterior


KELENJAR / HORMON Pituitary Anterior ( adenohipofise) Growth Hormon (GH) PENGATURAN Dikontrol oleh GHRH dan GHIH Sekresinya meningkat setelah makan, dan setelah tidur lelap ( 1-2 jam) Rangsanga lain yang menyebabkan peningkat GH : Latihan, stres, agent kimia : Arginin, clonidine, TRH pada acromegaly, adrenergic antagonis, beta adrenergik antagonis, hypoglikemi. Sekresinya menurun pada hyperglikemia Dikontrol oleh PRH dan PIH Sekresinya meningkat beberapa jam selama tiidur. FUNGSI Organ Target Seluruh tubuh - Meningkatkan pembelahan sel - Meningkatkan pertumbuhan sel, tulang dan jaringan lunak - Meningkatkan glukosa darah dengan menghasmbat pengambilan glukosa (Insulin antagonis) - Meningkatkan sintesis protein - Meningkatkan volume cairan extraceluler dan retensi elektrolit. - Meningkatkan lipolisis, kadar asam lemak bebas dan pembentukan keton - Bekerja pada semua jaringan tubuh untuk merangsang kerja somatomedin . Organ target : Payudara, gonads Menstimulasi perkembangan payudara selama kehamilan dan sekresi ASI sesudah kehamilan. Mengatur fungsi reproduksi

Prolactin (PRLH)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

117

Rangsangan lain yang menyebabkan peningkatan PRL : Menyusui, stresor, kimia : Estrogen, Clorpromazine : , Thyroid Stimulating Homone (TSH) Di kontol oleh ; TRH dan mekanisme negative feed back dari kadar T4 dalam plasma. Peningkatan T4 menurunkan TSH dan sebaliknya. Dikontrol oleh CRH dan mekaniosme feed back negative dari kadar kortisol dalam darah. Sekresinya meningkat pada jam 6 dan 8 malam mengikuti ritme circadian dan disebabkan oleh peningkatan CRH. Stresor fisiologis dan psikologis seperti hypoglikemi, infeksi, nyeri dan kecemasan meningkatan ACTH. Perubahan kadar cortisol mempengaruhi ACTH : Cotisol meningkat ACTH menurun dan sebaliknya. Sekresinya dikontrol oleh GnRH

pada wanita dan pria.

Organ target : Kelenjat tiroid Dibutuhkan untuk pertumbuhan dan fungsi kelenjar tiroid , mengotrol semua fungsi kelenjar tiroid.

Adrenocorticotropin hormon (ACTH)

Organ Target : Kortex adrenal Dibutuhkan untuk pertumbuhan dan mempertahankan ukuran dari kortex adrenal Mengotrol pengeluaran glukokorticoid (cortisol) dan androgen adrenal. Berfungsi minimla dalam melepaskan aldosteron

Gonadotropin ; 3) Folikel Stimulating hormone (FSH)

4) Luteinizing Hormone

P Menstimulasi perkembangan follikelfollikel ovarium dan sekresi estrogen. L. Mentimulasi tubulus seminiferus testis untuk tubuh dan hasilkan sperma . P Menstimulasi maturasi follikel ovarium dan ovum. Menstimulasi sekresi estogen, memicu ovolusi. Menstimulasi perkembangan korpiluteum (Luteini zation) L. Menstimulasi sel-sel interstisia testis untuk sekresi testoteron

d. Pituytari Posterior Yang melepaskan 2 hormon, yaitu : 3) Anti diuretic hormon (ADG)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

118

ADH mengreabsorbsi air dari urine dalam tubulus ginjal ke dalam darah. Air yang sisa dalam tubulus berkurang maka hanya sedikit urin yang keluar dari tubuh. Nama ADH sesuai dengan fungsinya, anti=lawan, duiretik=peningkatan volume urin. Dengan kata lain, ADH merupakan penurunan volume urin. Hyposekresi ADH dihasilkan pada diabetes inspidus yaitu suatu kondisi dimana terbentuk sejumlah besar urin. Pada keadaan ini dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit menyebabkan masalah serius, diobati dengan injeksi atau nasal sparay ADH. 4) Oksitosin Dihasilkan pada wanita sebelum dan sesudah ia mempunyai bayi. Oksitoksin menstimulasi konstraksi otot uterus wanita hamil dan diyakini berinisiatif dan pertahanan persalinan. Oxitosin berfungsi penting dalam kelahiran bayi, yang menyebabkan sel-sel glandula payudara melepas ASI kedalam duktus/saluran yang lalu diisap oleh bayi.
KELENJAR / HORMON Pituitary Posterior Antidiuretic Hormon (ADH, Vasopresine) PENGATURAN Stimulators Rangsangan utama ; meningkatnya serum osmolalitas melalui osmoresepptor hipothalamic. Hipotensi moderat melalui baroreseptor Stresor ; psiklogis, nyeri mual dan muntah Kimia ; nikotine, morphine, agent cholinergik Inhibitord Rangsangan utama ; menurunya serum osmolalitas melalui osmoresepptor hipothalamic. Peningkatan volume dan tekanan darah moderat melalui baroreseptor Stresor ; psiklogis, nyeri mual dan muntah FUNGSI ORGAN TARGET : Ginjal Pengatur utama osmolaritas dan volume cairan tubuh Meningkatkan permeabilitas ductus colectikus ginjal sehingga emnyebabkan peningkatan reabsorbsi air. Merangsang intake cairan melalui mekanisme haus.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

119

Oksitosin

Kimia ; Alkohol

Stimulators Menyusui melalui conduksi refleks neurologis dari serat afferent pada puting susu ke hypothalamus Contraksi Uterus Inhibitors Rangsang an alfa adrenergik

ORGAN TARGET ; PAYUDARA DAN UTERUS Menstimulasi perkembangan payudara selama kehamilan dan sekresi ASI sesudah kehamilan. Meningkatkan kontraksi uterus pada proses persalinan.

1.15

Kelenjar pineal

Bentuknya kecil seperti peniti dekat ujung bawah ventrikel III dari otak. Kelenjar pineal memproduksi sejumlah hormon dalam jumlah kecil dan yang paling penting adalah melatonin. Melatonin merupakan hormon tropic inhibisi yang berefek pada ovarium. Kelenjar ini juga terlibat dalam pubertas dan siklus menstruasi pada wanita. Karena kelenjar perineal menerima dan berespon pada informasi informasi sensori dari saraf optic dan kadang-kadang disebut mengeluarkan atau menahan keluarnya melatonin. Kadar melatonin meningkat selama malam dam menurun pada siang hari. Siklus ini bervariasi sebagai pengatur waktu internal tubuh mata ketiga. Kelenjar pineal menggunakan informasi mengenai perubahan tingkat cahaya dan berespon untuk

1.16 Kelenjar thyroid

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

120

Tulang Hyoid

Thyroid cartilage Cricoid Cartilage

Otot Sternoclobomastoideus Trachea

Lobus Isthmus

Kelenjar Thyroid

Clavicula Trachea

Gambar 1.5 Leher dan Kelenjar Thyroid Barbara C long, 1993 : p = 1005)

Kelenjar thiroid terletak didepan leher tepat dibawah crikoid cartilago. Terdiri dari dua lobus yang dihubungkan langsung oleh itshmus yang merupakan bagian atas dari trachea. Beratnya kira- kira 20 mg. Kelenjar tyroid menyimpan sejumlah hormon tyroid dalam bentuk koloid. Pecahan koloid disimpan dalam folikel-folikel kelenjar dan bila hormon thyroid diperlukan, akan dilepas dan disekresi ke darah. Terdiri dari 2 tipe sel yang menghasilkan hormon yang berbeda yaitu :
3) Follicular sel bertanggungjawab terhadap produksi hormon thyroxine

( T4 )

dan triiodothyronine ( T3 ) . Satu molekul T4 berisiskan 4 atom iodine dan 1 molekul T3 yang diperkirakan berisikan 3 atom iodine. T4 perlu diproduksi dalam jumlah adekuat, diit harus berisikan iodine yodium dalam jumlah yang cukup. T3 dan T4 mempengaruhi setiap sel dalam tubuh, menyebabkan cepat dilepaskannya energi dari makanan
4)

Parafolliculer sel calsitonin. peningkatan C

(C cells) mensintesis dan mengeluarkan hormon sel Calcitonin calcium berfungsi dalam dalam mempertahankan Calcitonin

keseimbangan calcium. Sekresinya meningkat sebagai respon tehadap konsentrasi cairan interstisiil.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

121

meningkatkan sekresi calcium oleh ginjal dan dengan cara demikian menurunkan konsentrasi calcium dalam cairam ekstrasel. Hormon hormon yang dihasilkan oleh kelenjar thyroid
KELENJAR / HORMON Thyros ine dan Triiodithyr onine (T3) (T4) PENGATURAN Kadar T3 dan T4 FUNGSI Mengatur katabolisme protein, lemak dan karbohidrat dalam semua sel. Mengatur metabolik rate pada semua sel Mengatur produksi panas tubuh Bertindak sebagai insulin antagonis. Mempertahankan Dopamin, GHIH sekresi horomon pertumbuhan dan maturasi tulang Mempengaruhi perkekmbangan CNS Dibutuhkan untuk tonus dan kekuatan otot. Mempertahankan Mempertahankan gastrointestinal Mempengaruhi pola napas dan penggunaan oksigen Mempertahankan mobilisasi kalsium Mempengaruhi produksi sel darah merah Merangsang colesterol Calsito nin adalah kalsium Rangsangan tingginya serum Mengatur aktivitas sistim saraf pusat Menurunkan absorbsi calsium dan phospor pada saluran gastrointestinal. Menurunkan kadar serum phospat perpindahan lemak, mengeluarkan asam lemak bebas dan syntesis kontraksi sekresi pada jantung, saluran kekuatan kontraksi dan cardiac output akan

dikontrol oleh TSH Kehamilan, peningkatan demam steroid, T4.. T4 menurunkan kadar T3 dan

meningkatkan kadar T3 dan

utama produksi calsitoonin

1.17 Kelenjar parathyroid

Rangsangan calsium

lain : Gastrin, dalam makanan.

Merupakan suatu

kelenjar yang kecil, biasanya ada 4 yang terdapat dibelakang

kelenjar tyroid. Kelenjar ini mensekresi hormon parathyroid ( PTH ) yang meningkatkan konsentrasi kalsium yang direabsorbsi dari tulang. Hormon ini menstimulus reabsorbsi tulang atau osteoclabts, dengan meningkatkan pemecahan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

122

tulang pada matriks keras, suatu proses pelepasan kalsium yang disimpan di matriks. Kalsium dilepaskan lalu bergerak dari tulang ke darah dan menyebabkan peningkatan konsentrasi kalsium darah. Paratiroid mengatur metabolisme calsium dan pospat tubuh. Organ tagetnya adalah tulang, ginjal dan duodenum. Terhadap tulang PTH mempertahankan resorpsi tulang sehingga kalsium serum meningkat. Di tubulus ginjal, PTH mengaktifkan vit D dengan Vit D yang aktif akan terjadi peningkatan absorpsi kalsium dan pospat dari intestinal meningkatkan reabsorbsi Ca dan Mg di tubulus ginjal, meningkatkan pengeluaran pospat, HCO3 dan Na.

(-)
Kadar Calsium

(+)

Kelenjar Parathyroid

PTH

Gastrointestinal

Ginjal

Tulang

Dengan Aktivasi Vitamin D

Aktivasi Vitamin D ekskresi C++ dan hidrogen Meningkatkan ekskresi phospor, natrium dan Bicarbonat

Mengkonversi osteogenis osteocytes Menjadi osteolitik osteocyte Menurunnya osteoblast jumlah

Meningkatkan absorbsi C++ dan Phospor

Pembentukan tulang Kerusakan tulang

Peningkatan serum Calcium

Pelepasan garan Calcium dari tulang

Hormon paratyroid ini penting untuk kehidupan dan kematian sebab sel sel kita sangat sensitif terhadap perubahan julmlah kalsium darah, sel sel tidak dapat berfungsi normal dengan kalsium yang tinggi atau rendah.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

123

Kalsium darah yang tinggi sel-sel otak dan jantung segera tidak berfungsi secara normal yang menyebabkan seseorang terganggu mentalnya serta jantung terhenti.

Bila Kadr kalsium rendah dalam darah, sel-sel darah jadi over raktif kadang kadang menyerang otot dengan impuls sehingga menyebabkan otot menjadi spasme .

1.18

KELENJAR THYMUS

Berlokasi di mediastinum . Seperti kelenjar adrenal tymus punya korteks dan medula. Dua bagian ini berisikan lympocit yang luas ( sel darah putih / WBC ) seperti bagian dari sistem imun tubuh. Fungsi endokrin pada tymus tidak hanya penting tapi esential. Struktur kecil ini ( beratnya kurang lebih 1 gram ) berperan sebagai sistem pertahanan tubuh terhadap infeksi-infeksi ( mekanisme imunitas vital ). Hormon thymosin terisolasi dalam jaringan tymus dan bertanggung jawab untuk aktifitas-aktifitas endokrin. Thimosin adalah sekelompok dari beberapa hormon yang bersama-sama berperan penting dalam perkembangan dalam fungsi sistem immun tubuh. Supresi dari sistem immun kadang-kadang terjadi penyakit menetap dan pada pasien yang mendapatkan kemotherapmassive atau mediotherapi untuk pengobatan kanker. Thymosin terbentuk bermanfaat sebagai aktivitor pada sistem immun pada pasien-pasien demikian. 1.19 KELENJAR ADRENAL

Dari permukaan kelenjar adrenal, nampak hanya satu organ, tetapi sebenarnya dipisahkan atas 2 kelenjar endokrin : Kortex adrenal dan medulla adrenal. Ini adalah 2 kelenjar dalam satu struktur. Kortex adrenal : Bagian luar dari kelenjar adrenal Medulla adrenal : bagian dalam dari kelenjar adrenal hormon-hormon kortex berbeda nama dan kerja dari kelenjar hormon-hormon medula adrenal. 3) Kortex adrenalin Terdiri dari 3 lapisan sel yang membedakan daerah -daerah kortex adrenalin mulai dari lapisan langsung di bawah kapsul kelenjar sampai di pusatnya yaitu : Zona Glomerulosa

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

124

Memproduksi hormon mineralcorticoid (aldosteron) Zona Fasciculata Memproduksi hormon glukokortikoid (cortisol) Zona Reticularis Memproduksi hormon androgen Hormon Yang Dihasilkan Oleh Kortex Adrenal
KELENJAR / HORMON Mineralcortikoid (Aldosteron) PENGATURAN Dikontrol oleh CRH / ACTH Stresor dan fisiologis Hypoglikemia, hipoksia, nyeri infeksi dan trauma menyebabkan peningkatan cortisol. FUNGSI Mempertahankan kadar glukosa darah

dengan meningkatkan glukoneogenesis dan menurunkan penggunaan glukosa oleh sel. Meningkatkan katabolisme protein Meningkatkan lipolisis Antiinflamatory Memecahkan colagen Menurunkan partisipasi limphosit T dalam imunitas seluler dengan menurunkan kadar limphocyte dalam darah Menigkatkan kerusakan Menurunkan pelepasan antibody baru Menurunkan eusinofil, basofil dan monocyte Menurunkan pembentukan antibody baru Meningkatkan produksi asam lambung dan pepsin Meningkatkan retensi natrium dan air Mempertahankan stabilitas emosi Menurunkan jaringan pembentukan scar pada neutrofil dengan cara meningkatkan pengeluaran dan mengurangi

psikologis seperti ;

Glukokortikoid Cortisol

Dikontorl angiotensi

melalui

Meningkatkan pembentukan RBC Mempertahankan natrium dan air Meningkatkan reabsorbsi natrium di Meningkatkan pengeluaran kalium mempengaruhi tubulus distal dan hidrogen di tubulus distal Pada wanita karakteristik seks sekunder Pada laki laki bekerja seperti hormonm steroid gonad

mekanisme renin

Androgen

Dikontrol oleh

CRH / ACTH

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

125

4) Medula adrenal 10 % dari kelenjar adrenal adalah medula adrenal. Kelenjar ini mensekresi hormon epinephrin (adrenalin) dan nonepineprine (Noradrenalin). Dalam keadaan normal, kelenjar adrenal mengsekresi 85 % epinephrine dan 15 % norepinephrine. Kedua hormon ini mempunyai efek yang berbeda pada tubuh karena berbeda reseptor pada organ target. Reseptor diklasifikasikan sebagai alfa adrenergik ( adrenergik) dan beta ( adrenergik). reseptor dibagi menjadi 1 reseptor dan 2 reseptor . Lokasi utama daeri 1 reseptor adalah di jantung dan 2 reseptor dibagian lain dalam tubuh. Reseptor juga dibagi menjadi 1 yang terdapat pada organ target dan mensekresi hormon sedangkan cathecolamine. . 1.20 PANKREAS ( PANCREATIC ISKELS = PULAU-PULAU PANKREAS ) 2 reseptor terdpat pada presinaptik dan apabila dirangsang menghambat pengeluaran

Pulau-pulau pankreas atau pulau pulau langerhans hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Kelenjar ini menyerupai sekumpulan sel-sel seperti pulau-pulau dilaut sepanjang sel - sel pankreas, yang mensekresi joundice pankreas untuk pencernaan. Terdapat 4 jenis sel yang menghasilkan hormon yang berbeda. Dari 4 jenis sel ini, ada 2 jenis sel yang terpenting yaitu : Sel Alpha dan beta. 3) Sel Alpha : mensekresi hormon glukogen Glikogen bekerja dalam proses glykogenolisis liver yaitu suatu proses yang mana menyimpan glukosa di sel-sel hati membentuk glikogen, diubah ke glukosa kembali. Glukosa ini kemudian meninggalkan sel-sel hati dan masuk kedalam darah. Glukagon akhirnya meningkatkan konsentrasi glukosa darah. 4) Sela Betha : mensekresi hormon insulin Hormon Insulin mempunyai fungasi terpenting yaitu menyebabkan glukosa dapat dipakai oleh sel . Kerja hormon Insulin dan glukoagon adalah antagonis . Dengan kata lain insulin menernukan kadar glukosa darah dan hormon lain. Mis. Glukokortikoid, GH, glukagon meningkatkan kadar glukosa darah. Insulin menurunkan glukosa darah dengan bergerak keluar darah melewati membran sel dan masuk ke sel-sel, sehingga laju metabolisme meningkat terutama metabolisme glukosa darah dan meningkatkan metabolise glukosa. Jika pulau pulau pankreas mensekresi sejumlah insulin normal, sejumlah glukosa masuk kedalam sel-sel dan sejumlah glukosa tinggi dalam darah.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

126

Normal glukosa darah kira kira 80 120 mg glukosa dalam tiap 100 ml air. Jika insulin diproduksi terlalu banyak ( pada tumor pankreas ) banyak glukosa yang masuk ke sel-sel dan glukosa darah menurun. Jika insulin diprodusi sedikit , seperti pda tipe I ( insuli dependent ) diabetes melitus, glukosa yang masuk ke sel kurang maka darah naik kadang-kaang bisa tiga atau lebih dari normal. Banyak kasus tipe II ( insulin Independent ) diabetes melitus menghasilkan abnormalnya reseptor insulin, mencegah efek-efek normal insulin pada sel-sel target juga meningkatkan kadar glukosa darah. Tes skremming unutk semua tipe diabetes melitus jarang ditemukan peningkatan kadar glukosa darah pada kondisi ini. Tes tes saat ini dibuat lebih mudah, dengan teteskan darah subyek dengan peningkatan kadar glukosa darah diperkirakan menderita penyakit Diabetes Melitus (DM ). Tes gula dalam urine adalah prosedur lain yang biasa dilakukan. Pada DM kelebihan glukosa difilter keluar darah oleh ginjal dan dibuang di urine, kondisi ini disebut Glycosuria. Dua jenis sel yang lain yaitu 3) C cells Somatostatin 4) F cells Pancreatic polypetide Polypeptida somatostatin dan pancreatic terutama bekerja sebagai hormon lokal, mengatur kegiatan sel-sel pankreas lainnya. Somatostatin menghambat sel sel dengan mengeluarkan insulin dan glucagon. Sebaliknya polypeptida pancreas menhambat sekresi exocrine pankreas. 1.21 Kelenjar seks Wanita jumlah

Kelenjar seks utama pada wanita adalah ovarium. Tiap-tiap ovarium berisikan 2 macam struktur kelenjar yang berbeda: volikel ovarium dan corpus luteum. Folikel ovarium mensekresi estrogen, hormon femonim. Korpus luteim mensekresikan progesteron tetapi juga sedikit estrogen. 1.22 Kelenjar Seks Pria Sel-sel ditestis memproduksi sel sex pria yang disebut sperma. Sel-sel lain ditestis ductus reproduksi pria dan kelenjar memperoduksi bahan-bahan cair (Liquid ) dari cairan repsoduksi pria yang disebut semen. Sel-sel imterstinal dalam testis mensekresi hormon seks pria yang disebut testoteron. Langsung

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

127

kedalam darah sel-sel testis ini adalah kelanjar andokrin pria, testosteron adalah hormonmaskulin. 1.23 Placenta Placenta berfungsi sebagai kelenjar endokrin sementara selama kehamilan, yang memproduksi chronik gonadotropin disebut demikian karena termasuk hormon-hormon tropik, disekresi oleh sel-sel dari chorion. Membran luas yang mengelilingi bayi selam perkembangan dalam uterus. Placenta ( chorionic Gonadotropin ) memproduksi estrogen dan progesteron. Selama hamil ginjal mensekresi sejumlah besar chorionic gonadotropin dalam urine. Keadaan ini sudah dinyatakan setengan abad yabg lalu dalam mengembangkan tes kehamilan yang sudah familiar. 1.24 Struktur Endokrin Lain Penelitian tetapi sistem endokrin menunjukan bahwa pada setiap orang dan sisitem punya jaringan endokrin. Jaringan dalam ginjal, lambung, usus ( intestine ) dan organ organ lain mensekresi hormon unutk mengatur macammacam fungsi penting manusia. Satu dari hormon ini adalah Atrial Natriuretic Hormon ( ANH ). Di sekresi oleh sel-sel pada dinding atrium jantung. ANH penting untuk mengatur homeostatis cairan dan lelektrolit. ANH antagaonis terhadap aldosteron, yang menstimulasi ginjal untuk menahan ion- ion sodium dan air, maka ANH menstimulus kekurangan ion sodium dan air.

PROSES ENDOKRINE SECARA UMUM (General endokrine processes)


Sistim endokrine berfugsi dalam tubuh melalui mekanisme produksi dan pelepasan hormon. Hormon adalah : Substansi kimia yang dikeluarkan kedalam cairan tubuh (Biasanya darah), oleh sekumpulan sel tertentu yang mengakibat perubahan fisiologis pada tempat lain. Hormon terbagi atas dua yaitu : Hormon protein dan Hormon Steroid. Perbedaan kedua hormon ini terletak pada cara mempengaruhi target sel-sel organ.Hormon dapat dikirim dari jarak yang jauh (pitutari ke Ovarium) dan bisa juga

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

128

pada jarak yang sangat pendek (dari satu sel ke sel yang lain dalam pankreas). Bila hormon mempengaruhi sel yang bukan merupakan sel sasaranya disebut ; Fungsi paracrine. Hormon hanya bisa bekerja pada jaringan / sel yang merupakan reseptornya. Sel atau jaringan yang berespon terhadap partikel hormon disebut : target cell atau target tissue. Hormon dan Fungsinya Hormon mengatur berbagai proses yang mengatur kehidupan. Sistem endokrin mempunyai lima fungsi utama : 6. 7. 8. 9. 10. Klasifikasi Dalam hal struktur lingkungannya hormon diklasifikasikan sebagai hormon yang larut dalam air atau yang larut dalam lemak. Hormon yang larut dalam air termasuk polipeptida (misalnya : insulin, glukagon, hormon andrenokortikotropik (ACTH), gastrin) dan katekolamin. (misalnya : dopamin, norepineprin, epinefrin). Hormon yang larut dalam lemak termasuk steroid (misalnya : estrogen, progesteron, testosteron, glukokortikoid, aldosteron) dan tironin (misalnya : tiroksin) Karakteristik Meskipun setiap hormon adalah unik dan mempunyai fungsi dan struktur tersendiri. Namun semua hormon mempunyai karakteristik berikut. Hormon disekresi dalam salah satu dari tiga pola yaitu : 4. Sekresi diurnal adalah pola yang naik dan turun dalam periode 24 jam. Contohnya : Kortisol Kadar kortisol meningkat pada pagi hari dan turun pada malam hari. 5. Pola sekresi hormonal pulsatif dan siklik naik dan turun sepanjang waktu tertentu seperti bulanan. Contohnya : Estrogen dapat menyebabkan siklus menstruasi. Membedakan sistem saraf pusat dan sistem reproduktif pada janin yang Menstimulasi urutan perkembangan. Mengkoordinasi sistem reproduksi. Memelihara lingkungan internal optimal. Melakukan respon korektif adaptif ketika terjadi situasi darurat. sedang berkembang.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

129

6.

Tipe sekresi hormonal variabel.

Hormon bekerja dalam sistem umpan balik. Loop umpan balik dapat positif atau negatif dan memungkinkan tubuh untuk dipertahankan dalam suatu lungkungan optimal. Hormon hanya mempengaruhi sel-sel yang mengandung reseptor yang sesuai, yang melakukan fungsi spesifik. Hormon mempunyai fungsi dependen dan dan independen. Hormon secara constan di reaktivated oleh hepar atau mekanisme lain dan diekskresi oleh ginjal. Secara kimiawi, hormon dapat dibagi tiga yaitu : 4. Hormon steroid : hormon ini semuanya memiliki struktur kimia berdasarkan pada inti steroid yang mirip dengan kolesterol dan sebagian besar tipe ini berasal dari kolesterol itu sendiri. Berbagai hormon steroid yang berbeda disekresi oleh : 5. Korteks adrenal (kortisol dan aldosteron). Ovarium (estrogen dan progesteron) Testis (testosteron) Plasenta (estrogen dan progesteron) Derivat asam amino tirosin. Ada dua kelompok yang merupakan derivet asam amino tirosin. Kedua hormon metabolik tiroid, (tiroksin dan triiodotironin, merupakan bantuk iodinasi dari derivat tirosin). Dua hormon utama yang berasal dari medra adrenal (epinefrin dan norepinefrin) kedua-duanya merupakan katekolamin yang juga turunan dari tirosin. 6. Protein atau peptida. Hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis anterior dapat merupakan molekul protein atau polipeptida besar : hormon hipofisis posterior, hormon antidiuretik, dan oksitiksin merupakan peptida yang hanya mengandung delapan asam amino. Yang temasuk peptida besar antara lain : insulin glukogen dan parathormon.

Mekanisme Kerja Hormon


Produksi dan penyimpanan hormon, bertanggunjawab terhadap rangsangan spesifik dan melepaskan hormon ke dalam darah

Kelenjar

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

130

Darah

Transport hormon ke sel / orgat target, kadar hormon dalam darah mempengaruhi mekanisme feed back

Berada di membran atau reseptor intraceluler , proses awal hormon bereaksi dengan reseptor seluler

Total Body

Berbagai hormon berfungsi untuk mengatur tingkat aktivitas jaringan sasarannya. Agar dapat menjalankan fungsi ini, hormon mengubah reaksi kimia dalam sel, mengubah permiable membran sel terhadap zat tertentu, dan mengaktifkan beberapa mekanisme sel spesifik lain. Banyak hormon melaksanakan fungsinya ini melalui dua mekanisme yang penting yaitu : (1) Pengaktifan sistim AMP siklik sel yang selanjutnya menimbulkan fungsi sel tertentu, atau (2) Pengaktifan gel sel yang menyebabkan pembentukan protein intrasel yang memulai fungsi sel tertentu. 1. Pengaktifan sistim AMP siklik sel yang selanjutnya menimbulkan fungsi sel tertentu. Banyak hormon menunjukan efeknya pada sel pertama kali dengan menyebabkan dibentuknya zat 3,5 adenosin monofosfat siklik (AMP Siklik) dalam sel. Setelah dibentuk, AMP siklik menyebabkan efek hormon pada dalam sel. AMP siklik ini bertindak sebagai mediator hormonal instrasel (Second messenger) . Sedangkan hormon itu sendiri bertindak sebagai First Messenger.

Hormon Perangsang

Reseptor

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

Sel / Organ Target


Membran sel ATP Adenil siklase Mg++

Efek biologis dan mekanisme feed back terhadap kelenjar

5 - AMP

Fosfodiesterase

131

3,5 AMP Siklik Respon Fisiologis - Aktivasi ensim - Ubah permeabilitas membrane sel - Kontraksi dan relaksasi otot - Sistesis protein - Menyebabkan Sekresi

Gambar 3 : Mekanisme AMP SIKLIK


Perhatikan Gambar diatas : Melukiskan fungsi AMP siklis lebih mendalam. Hormon perangsang bekerja pada membran sel sasaran, berikatan dengan reseptor spesifik untuk jenis hormon tertentu. Kekhususan reseptor menentukan hormon yang akan mempengaruhi sel sasaran. Setelah berkaitan dengan reseptor, gabungan hormon dan reseptor mengaktifan enzim adenil siklase dalam membran, dan sebagian adenil siklase yang berhubungan dengan sitoplasma segera menyebabkan perubahan ATP sitoplasma menjadi AMP siklik. AMP siklik kemudian memulai sejumlah fungsi sel sebelum ia sendiri di rusak fungsi seperti mengaktifkan enzim enzim dalam sel, mengubah premabilitas sel, memulai sintesis protein spesifik intrasel, menyebakan kontraksi dan relaksasi otot, memulai sekresi dan banyak efek lainnya. Jenis efek yang akan terjadi di dalam sel di tentukan oleh sifat sel sendiriri. Jadi, sel tyroid di rangsang oleh AMP siklik, untuk membentuk hormon tyroid, sedangkan sel korteks adrenal mebentuk hormon hormon korteks adrenal. Sebaliknya, AMP siklik mempengaruhi sel sel epeitel tubulus ginjal dengan meningkatkan premeabilitasnya terhadap air. Mekanisme AMP siklik diperlihatkan sebagai mediator hormonal intrasel sekurang kurangnya beberapa fungsi hormon hormon berikut ( dan banyak lainya ) : a. Adrenokortikortikotropin. b. Hormon perangsang tyroid. c. Hormon luteinisasi. d. Hormon perangsan folikel. e. Vasopresin. f. Hormon paratyroid. g. Glukagon.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

132

h. Katekolamin. i. j. 2. Sekretin. Releasing faktor hipotalamus.

Kerja Hormon Steoid pada gen sel untuk menyebabkan sistesis protein

Cara kedua hormon hormon khususnya hormon steroid yang di sekresi oleh korteks adrenal, ovarium, dan testis bekerja adalah menyebabkan sintesis protein pada sel sasaran ; bebrapa protein ini merupakan enzim enzim yang selanjutnya mengaktifkan fungsi fungsi lain sel. Rangkaian peristiwa dalam fungsi steroid adalah sebagai berikut :

5.

Hormon steroid sitoplasma sel, tempat ia berikatan dengan protein reseptor spesifik.

6. Gabungan protein reseptor hormon kemudian berdifusi masuk atau di transport masuk inti. 7. Gabungan 8. ini kemudian mengaktifkan gen spesifik untuk membentuk messenger RNA. messenger RNAdifusi masuk ke sitoplasma tempat ia meningkatkan proses translasi pada ribosom untuk membentuk protein baru. Sebagai contoh, aldosteron, salah satu hormon yang di sekresi oleh korteks adrenal, memsuki sitoplasma tubulus ginjal, mengandung protein reseptor spesifik untuk aldosteron. Kemudian tempat rangkain peristiwa di atas. Setelah sekitar 45 menit, protein mulai terlihat pada sel tubulus ginjal yang meningkat reabsorbsi natriumnya dari tubulus dan sekresi kalium ke dalam tubulus. Mekanisme fungsi hormon lainnya Hormon hormon dapat mempunyai efek langsung efek langsung pada senyawa sel, walaupun pada sebagian besar keadaan mekanisme tepat dari efek ini tidak di ketahui. Misalnya, insulin meningkatkan premeabilitas sel terhadap glukosa, dan hormon pertumbuhan meningkatkan transport asam amino ke dalam sel. Selain itu beberapa hormon, seperti aseltilkolin, langsung mempengaruhi membran sel dengan mengubah permeabilitasnya terhadap ion ion dan karena itu menimbulkan kontraksi otot atau menyebabkan efek efek lain. Pengontrolan kadar Hormon Kadar hormon harus dipertahankan dalam ambang atau batas normal karena perubahan dalam kadar hormon merupakan faktor kritis yang sangat

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

133

mempengaruhi kesehatan. Salah satu faktor yang bertanggungjawab terhadap pengotrolan kadar hormon adalah : feedback contol. Perhatikan gambar 1.2 clossed-loop negative feed back dibawah ini

A Y

Gambar 1.2 Closed Loop negative feed back system. Prinsip dasar pengotrolan terhadap keseluruhan kelenjar endokrine (Harvaey A.m. et all dikutip : Barbara C long, 1993 : p = 998)

Kelenjar A distimulasi untuk memproduksi hormon X . Hormon X menstimulasi organ B sehingga menyebabkan perubahan (peningkatan atau penurunan) substansi Y. Perubahan pada substansi Y menghambat produksi dan sekresi dari hormon X
Contoh : Rangsangan Kelenjar A Hormon X Organ B Substansi Y

Kadar Calcium

(+)

Kelenjar parathyroid Calcium (-)

Parathyroid Hormon

Ginjal, tulang, GI

Kadar Calcium

osmolariti Plasma

(+)

Pituitary Posterior (-)

ADH

Ginjal

Reabsobsi air shg menurunkan osmoraitas serum

Serum glukosa

(+)

Sel beta Pankreas (-)

Insulin

Sel lemak, hati, sel otot

Pengambilan glukosa sehingga terjadi penurunan serum glukoda

Ada beberapa mekanisme feedback yang lebih kompleks dalam mengotrol kadar hormon. Salah satu contohnya adalah mekanisme feedback dari interaksi hypothalamus

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

134

dan pitutary anterior dengan kelenjar thyroid, corteks adrenal dan gonads. Perhatikan Gambar berikut

Hipothalamus (-)
Releasing Hormon

(-)

Inhibiting Hormone (-)

(+) (-)
Pituitary Anterior

(-)
Tropic Hormone : (TSH, ACTH, FSH,LH)

Target endokrine gland (kelenjar thyroid, corteks adrenal dan gonads.)

Target gland hormone

Spesifik Target cell

Gambar 1.3 Mekanisme feedback compleks antara hypothalamus, pitutary anterior, kelenjar target endokrin dan sel target yang spesifik (Harvaey A.m. et all dikutip : Barbara C long, 1993 : p = 998)

Bila kadar hormon yang diproduksi oleh kelenjar thyroid, cortekx adrenal dan gonad adekuat maka pelepasan hormon tropic oleh kelenjar pituitari dan atau releasing hormon oleh hipothalamus akan dihambat melalui mekanisme negative feed back. Tidak semua hormon dapat dikontrol melalui mekanisme negative feed back ini. Contohnya : estrogen pada laki laki, testeteron pada perempuan, hormon plasenta dan hormon yang diproduksi oleh tumor ectopik. Faktor kedua yang mengatur mekanisme kerja hormon adalah : intrinsic rhytmicity. Ritme intrinsik ini dapat berlangsung beberapa menit, hari atau minggu. Contohnya : ACTH, cortisol, glukokortikoid dan hormon pertumbuhan mengikuti ritme circadian harian. Seperti hormon reproduktive pada wanita mempunyai pola yang bervariasi sampai lebih dari beberapa minggu. Rithme intrinsik ini dikontrol oleh beberapa faktor seperti : Lingkungan, Neurogenic , umur, pertumbuhan dan perkembangan.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

135

Faktor ekstrinsik seperti nyeri, trauma infeksi adalah faktor ketiga yang mempengaruhi kadar hormon tertentu. Faktor ekstrinsik ini dapat meningkatkan kadar hormon diatas normal. Kadar hormon dipengaruhi juga oleh ekskresi atau inactivation metabolik . Ginjal dan hati adalah organ yang paling berpangur terhadap inactivation hormonan dan eksresi. Banya penyakit pada organ ini yang menyebabkan peningkatan kadar hormon. Kesimpulan : Kadar hormon dikontrol oleh banyak mekanisme.

PENGKAJIAN UMUM SISTEM ENDOKRIN (General Assesment Of Endokrine System)


Data Subjektif
6. Data demografi. Usia dan jenis kelamin merupakan data dasar yang penting kelainan-kelainan somatik harus selalu dibandingkan dengan usia dan gendar , misalnya BB dan tempat tinggal juga juga perlu dikaji. 7. Riwayat kesehatan keluarga Mengkaji kemungkinan adanya anggota keluarga yang mengalami gangguan seperti yang dialami klien atau g2 t3 yang berhubungan secara langsung dengan g hormonal sseperti : Obesitas Gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

136

8.

Kelainan pada kelenjar tiorid Diabetes melitus Intertilitas. Riwayat kesehatan dan keperawatah klien

(P) mengkaji kondisi yang pernah dialami klien diluar gangguan yang dirasakan sekarang khususnya gangguan yang mungkin sudah bnerlangsung lama bila dihubungkan dengan usia dan kemungkinan penyebab.
-

Tanda-tanda seks sekunder yang berkembang, misalnya : BB yang sesuai dengan usia misalnya : selalu keras meskipun Gangguan psikologis seperti mudah marah, sesnsitif, sulit

amenore, bulu rambut tumbuh, buah dada berkembang dan lain-lain. banyak makan bergaul dan mampu berkonsentrasi. Hospitalisasi, perlu dikaji alasan hospitalisasi dan kapan kejadiannya. Bila PS diarawat beberapa hari, urutkan sesuai dengan waktu kerjanya. Juga perlu informasi tentang penggunaan obar-obatan soal sekarang dan dimasa lalu. 9. Riwayat diit. Perubahan status nutrisi atau gangguan pada saluran pencernaan dapat mencerminkan gangguan endokrin t3 atau kebiasaan makan yang salah dapat menjadi faktor penyebab yang perlu dikaji : 10. Adanya nausea, muntah dan nyeri abdomen Penurunan atau peningkatan BB drastis Selera makan menurun atau berlebihan Pola makan dan minum sehari. Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dapat mengganggu Status sosial ekonomi

fungsi endokrin seperti mata. Mendiskusikan bersama-sama bagaimana klien dan keluarga memperoleh makanan yang sehat dan bergizi. Upaya mendapatkan pengobatan bila klien dan keluarganya sakit dan upaya mempertahankan kesehatan klien dan keluarga tetap optimal. 11. Masalah kesehatan sekarang (P) : Menanyakan :

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

137

klien.

Apa yang dirasakan klien. Apakah masalah atau gejala yang dirasakan terjadi secara tibaBagaimana gejala itu mempengaruhi aktivitas hidup sehari-hari. Bagaiman pola eliminasi Bagaiman fungsi seksual dan reproduksi. Apakah adaperubahan fisik tertentu yang sangat mengganggu

tiba atau perlahan dan sejak kapan dirasakan.

Selain alasan klien datang ke RS, juga perlu diidentifikasi hal-hal yang berhubungan dengan fungsi hormon secara umum seperti : 1. Tingkat Aktivitas. (P). Mengkaji bagaimana kemampuan klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari, apakah dapat dilakukan sendiri tanpa bantuan,atau dengan bantuan atau sama sekali klien tidak berdaya untuk melakukannya. Kaji juga bagaiman asupan makanan klien apakah berlebihan atau kurang. 2. Intake nutrisi dan Cairan Anormalitas sistim endokrine dapat menyebabkan gangguan dalam intake nutrisi dan cairan (meningkat atau menurun) yang mana bisa/tidak dihubungkan dengan pertambahan atau penurunan berat badan. Banya k masalah pada sistim endokrine adalah kronik dan membutuhkan diit pada waktu yang lama dan pada saat yang sama intake cairan dibatasi. Kualitas dan kuantitaf pengkajian dalam intake makanan sangat dibutuhkan untuk mentukkan penyebab kehilangan berat badan, adekuatnya intake untuk kebutuhan metabolisme yang normal, ketaatan terhadap diit tertentu. Daftar intake makanan dan minuman yang dikonsumsi pasien sethari hari sangan diperlukan dalam pengkajian. Riwayat mengkonsumsi alkohol dan snack juga harus dikaji. Eleman lain seperti penyedap makanan / kesenangan pada makanan tertentu, kebersihan mulut dan diit lunak untuk mencegah anoreksia dan mual juga dibutuhkan dalam pengkajian. Bagaimana toleransi pasien terhadap makanan dan minuman juga penting untuk dikaji. 3. Pola eliminasi Sistim endokrine juga berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Riwayat pola elimonasi urine seperti ; frekuency, jumlah dan warna urine harus diperhatikan dalam pengkajian. Adanya nocturia atau dysuria juga harus dicatat. Pada beberapa penyakit endokrine (tergantung penyebabnya) mungkin ada

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

138

riwayat peningkatan output dan penurunan rasa haus atau penurunan output dan peningkatan berat badan. Diuretic atau therapi lainnya dan ketaatan pasien terhadap therapi yang dianjurkan juga perlu dikaji. Riwayat buang frekuency dan warna perlu dicatat. air besar seperti ; Constipasi atau perubahan dalam kebiasaan

buang air besar mungkin disebabkan oleh perubahan dalam keseimbangan cairan dan pengaturan diit. Therapi dapat juga menyebabkan perubahan dalam diit dan intake cairan sehingga dapat menyebabkan perubahan dalam pola eliminasi. 4. Tingkat Energi Karena sistim endokrine bertanggungjawab langsung sistim endokrine terhadap metabolisme (Pengumpulan dan penggunaan) nutrisi untuk energi , maka keadaan pathologi pada biasanya menurunkan tingkat energi seseorang. Banya pasien melaporkan tidak bisa melakukan sesuatu seperti apa yang mereka pikirkan. Hal ini penting untuk mengkaji tingkat energi dan sebagai petunjuk untuk membantu pasien dalam merencanakan aktivitas sehari hari . Beberapa pasien membutuhkan bantuan dalam menyesuaikan antivitas sehari hari secara bertahap dengan memberikan waktu istirahat. Banyak masalah sistim endokrine dapat dikontrol dengan baik sehingga perubahan permanen dalam kehidupan sehari - hari tidak dibutuhkan. Perubahan secara bertahap membantu pasien mendapatkan kembali tingkat energi yang normal.

5.

Perubahan Karakteristik Tubuh. Perubahan dalam distribusi rambut, porsi tubuh, suara, piigmentasi kulit dan raut wajah dapat menggambarkan masalah pada sistim endokrine. Gambaran perubahan yang dirasakan pasien tentang perubahan yang mereka rasakan amat berarti karena perubahan ini sangat sulit diobservasi dan bervariasi untuk tiap orang.

6.

Fungsi seksual dan reproduksi Sistim endokrine mempunyai kaitan yang sangat erat dengan fungsi reproduksi. Oleh karena itu riwayat reproduksi dan seksual harus dikaji. Data yang berhubungan dengan siklus haid (Kejadian, frekuancy haid, lama, jumlah perdarahan), adanya masalah dengan siklus (menorhagi), adanya impotensi dan beberapa permasalahan yang berhubungan infertilitas seharunya dikumpulkan. Juga perlu dikaji tentang kepuasan hubungan seksual pada dua keadaan. Yang pertama ; Kadang kadang perubahan awal dalam fungsi reproduktif dapat dimanifestasikan sebagai perubahan dalam kepuasan seksual. Yang kedua : perubahan dalam sistim repriduksi bukan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

139

merupakan suatu masalah bagi pasien jika kepuasan seksual dapat dipertahankan. Contohnya infertilitas bukan merupakan masalah jika jika tidak ada keinginan untuk mempunyai anak. 7. Toleransi Terhadap Stress Sistim endokrine membantu tubuh untuk berespon terhadap stresor fisik atau psikologis. Pertanyaan yang diajuhkan pada pasien selalu dihubungkan dengan kemampuan atau ketidakmampuan pasien terhadap stresor. Seperti perasaan tidak toleransi terhadap panas dan dinginsering menangis, depresi, sering marah dan lain lain. 8. cairan. Pola eliminasi khususnya urine dipengaruhi oleh fungsi endokrin secara langsung oleh ADH, aldosteron dan kortisol. (P). Menanyakan tentang pola berlemih dan jumlahvolume urin. Apakah klien mengatasinya. Tanyakan berapa banyak cairan yang dikonsumsi setiap hari. Kaji pola sebelum sakit untuk membandingkan pola yang ada sekarang. 9. Pertumbuhan dan perkembangan (P). Perlu mengkaji gangguan ini apakah terjadi semenjak bagi yang dilahirkan dengan tubuh yang kerdil atau terjadi selama proses pertumbuhan atau bahkan terdapat diidentifikasi jelas kapan mulai tampak gejala tersebut. Kajisecara lengkap pertambahan ukuran tubuh dan fungsinya misalnya : bagaiman tingkat inteligensia, kemampuan berkomunikasi, inisiatif danrasa tanggung jawab. Lagi pula apakah perubahan fisik tersebut mempengaruhi kejiwaan klien. 10. Seks dan reproduksi Pada klien : kaji siklus menstruasinya mencakup lama, volume, frekwensi dan perubahan fisik termasuk sensasi nyeri atau kramp abdomen sebelum, selama, dan sesudah haid. Kaji pual pada usia berapa klien pertama kali menstruasi. Bila klien bersuami kaji akapah pernah hamil, abortus dan melahirkan. Pada klien : kaji apakah klien mampu ereksi dan orgasme dan bagaiman perasaan klien setelah melakukannya, adakah perasaan puas dan menyenangkan. ukuran alat genitalianya. D. Data Objektif tabel : pengkajian head to toe dibawah ini : Tanyakan juga perubahan bentuk dan Pola eliminasi dan keseimbangan

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

140

Yang Dikaji Pengkajian Secara umum

Uraian Penampilan secara umum, proporsi tubuh (sesuai umur), tinggi dan berat badan, karakteristik tubuh, abrasi pada kulit, luka, shu, RR dan tipe pernapasan. Pigmentasi, turgor, ada tidaknya oedema, kelembaban dan
3

Kulit Muka/kulit kepala Rongga mulut Leher Abdomen Muskuloskeletal Sistim persyarafan

kemerahan / kekeringan Distribusi rambut, adanya exopthalmos Kelembaban mukosa mebran Nadi dan tekanan darah, Strie Massa otot dan kekuatan Tremor, mudah tersinggung, kewaspadaan

1. -

Pemeriksaan fisik Kondisi kelenjar endokrin. Kondisi kelenjar atau organ

Melalui pemeriksaan fisik ada dua aspek utama yang dapat digambarkan yaitu :

sebagai dampak dari gangguan endokrin. Secara umum teknik pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan dalam memperoleh berbagai penyimapanan fungsi adalah : a. Inspeksi Disfungsi sistem endokrin akan menyebabkan perubahan fisik sebagai dampak terhadap pertumbuhan dan perkembanga, keseimbangan cairan dan elektroloit, seks dan reproduksi, metabolisme dan energi. Pertama-tama, amatilah penampilan umum klien apakah tampak kelemahan berat, sedang dan ringan dan sekaligus amati bentuk dan propersi tubuh. Pada pemeriksaan wajah, fokuskan pada abnormalitas struktur, bentuk dan ekspresi wajah seperti bentuk dahi, rahang dan bibir. Pada mata amati adanya edem periorbita dan exophalatmus serta apakah ekspresi wajah datar atau tumpul. Amati lidah klien terhaadap kelainan bentuk dan perubahan, ada tidaknya tremor pada saat diam atau bila digerakkan. Kondisi ini biasa ditemukan pada gangguan tiroid. Di daerah leher, amati bentuk leher, apakah leher tampak membesar, simetris atau . Untuk lebih meyakinkan pembesaran kelenjar tiroid perlu melakukan palpasi. Distensi atau bendungan pada vena jugularis dapat mengidentifikasikan kelebihan cairan atau kegagalan jantung. Amati warna kulit pada leher, catat lokasinya. Bila dijumpai kelainan pada kulit leher,

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

141

lanjutkan dengan memeriksa lokasi yang lain ditubuh sekaligus. Infeksi jamur, penyembuhan luka yang lama, bersisik dan petechie lebih sering dijumpai pada klien dengan hiperfungsi adrenokortikal. Amati bentuk dan ukuran dada. Pergerakan dan simetris tidaknya. Ketidaksiembangan hormonal khusunya hormon seks akan menyebabkan perubahan tanda seks sekunder oleh karena itu amati keadaan rambut atilla dan dada. Pada pemeriksaan genitalia, amati kondisi skrotum dan penis juga kritoris dan labia terhadap kelainan bentuk. b. Palpasi Kelenjar tiroid dan testes, dapat diperiksa melalui rabaan pada kondisi normal, kelenjar tiorid ini teraba. Lakukan palpasi kelenjar tiroid perlobus dan kaji ukuran, apakah ada rasa nyeri pada saat dipalpasi. Pada saat melakukan pemeriksaan pasien duduk atau berdiri sama saja. Untuk memperoleh hasil yangbaik pemeriksa berada dibelakang klien dengan posis kedua ibu jari (P) berada dibelakang leher dan jari-jari lain ada diatas kel tiorid. Palpasi testes dilakukan dengan posis tidur dan tangan (P) harus dalam keadaan hangat. (P) memegang lembut dengan ibu jari dan dua jari lain, bandingkan yang satu dengan yang lainnya terhadap ukuran atau besarnya, simetris tidaknya konsistensi dan ada tidaknya nadul. Normanya testes teraba lembut, peka terhadap sinar dan kenyal seperti karet. c. Auskultasi Mendengarkan bunyi tertentu dengan bantuan stetoskop dengan menggambarkan berbagai perubahan dalam tubuh. Auskultasi pada daerah leher diatas kelenjar tiroid dapat mengidentifikasi bruit. Bruit adalah bunyi yang dihasilkan olrh karena turbulensi pada pembuluh darah tiroidea. Auskultasi dapat dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan pada pembuluh darah dan jantung seperti tekanan darah, ritme dan rete jantung yang dapat menggambarkan gangguan keseimbangan cairan perangsangan katekilamin dan perubahan metabolisme tubuh.

E. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan Diagnostik Pada Kelenjar Hipofise. Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns
1.

142

5) Foto tengkorak (kranium) : Dilakukan untuk melihat kondisi sella tursika.dapat terjadi tumor atau juga atropik. Tidak dibutuhkan persiapn fisik secara khusus, namun pendidikan kesehatan tentang tujuan dan prosedur sangatlah penting. 6) Foto tulang (osteo). : Dilakukan untuk melihat kondisi tulang. Pada klien dengan gigantisme akan dijumpai ukuran tulang yang bertambah besar dari ukuran maupun

panjangnya. Pada okromegali akan dijumpai tulangtulang perifer yang bertambah ukurannya ke

samping. Persiapan fisik secara khusus tidak ada, pendidikan kesehatan diperlukan. 7) CT scan otak : Dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya tumor pada hipofise atau hipotalamun melalui

komputerisasi. Tidak ada persiapan fisik secara khusus, namun diperlukan penjelasan agar klien dapat diam tidak bergerak selama prosedur. 8) Pemeriksaan darah dan urine c. Kadar growth Hormon : Nilai normal 10 g ml baik pada anak dan orang dewasa. Pada bayi dibulan-bulan pertama kelahiran nilai ini meningkat kadarnya. Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5 cc.persiapan khusus secara fisik tidak ada. d. Kadar ACTH : Pengukuran dilakukan dengan test supresi

deksametason. Spesimen yang diperlukan adalah darah vena lebih kurang 5 cc dan urine 24 jam. Persiapan Pasien :

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

143

5. Tidak ada pembatasan makan dan minum. 6. Bila klien menggunakan obat-obatan seperti kortisol atau antagonisnya dihentikan lebih dahulu 24 jam sebelumnya. 7. Bila obat-obatan harus diberikan, lampirkanjenis onat dan dosisnya pada lembaran pengiriman spesimen. 8. Cegah stres fisik dan psikologis. Pelaksanaan Pemeriksaan : 5. Klien didberi deksametason 4 x 0,5 ml/hari selama-lamanya dua hari. 6. Besok paginya darah vena diambil sekitar 5 cc. 7. Urine ditampung selama 24 jam. 8. Kirim spesimen(darah atau urine) ke laboratorium. ACTH menurun kadarnya dalam darah. Kortisol darah kurang dari 5 ml/dl. 17-Hydroxi-Cortiko-Steroid (17 OHCS) dalam urine 24 jam kurang dari 2,5mg. Cara sederhana dapat juga dilakukan dengan pemberian deksametason 1 mg per oral tengah malam, baru darah vena diambil lebih kurang 5 cc pada pagi hari dan urine ditampung selama 5 jam. Spesimen dikirim ke laboratorium. Nilai normal bila kadar kortisol darah kurang atau sama dengan 3 mg/dldan eksresi 17 OHCS dalam urine24 jam kurang dari 2,5mg.
2.

Pemeriksaan Diagnostik Pada Kelenjar Tiroid


Up take Radioaktif (RAI) Tujuan pemeriksaan adalah untuk mengukur kelenjar tiroid dalam menangkap iodida. Persiapan. Klien puasa 6-8 jam. Jelaskan tujuan dan prosedur. Pelaksanaan. Klien diberi radioaktof Jodium (I131) per oral sebanyak 50 microcuri. Dengan alat pengukur yang ditaruh diatas kelenjar tiroid diukur radioaktif yang tertahan. Juga dapat diukur clearenceI131 melalui ginjal dengan mengumpulkan urine selama 24 jam dan diukur kadar radioaktif jodiumnya. Banyaknya I131 yang ditahan oleh kelenjar tiroid dihitung dalam persentase sebagai berikut

1)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

144

1. Normal : 10-35 %. 2. Kurang dari : 10% disebut menurun, dapat terjadi pada hipotiriodisme. 3. Lebih dari : 35 % disebut meninggi, dapat terjadi pada tirotoxikosis atau pada defisiensi jodium yang sudah lama dan pada pengobatan lama hipertirodisme 2) T3 T4 Serum : Persiapan fisik secara khusus tidak ada. Spesimen yang dibutuhkan adalah darah vena sebanyak 50-100 cc. Nilai normal pada orang dewasa : Jodium bebas : 0,1-0,6 ml/dl T3 : 0,2-0,3 ml/dl T4 : 6-12 ml/dl Nilai normal pada bayi / anak : T3 : 180-240 mg/dl 3) Up take T3 Resin : Bertujuan untuk mengukur jumlah hormon tiroid (T3) atau tiroid binding globulin (TBG) tak jenuh. Bila TBG naik berarti hormon tiroid bebas meningkat. Peningkatan TBG terjadi pada hiertiroidisme dan menurun pada hiertiroidisme.

Dibuthkan spesimen darah vena sebanyak 5 cc. Klien puasa selama 6-8 jam. Nilai normal pada: Dewasa : 25-35 %up take oleh resin. Anak : pada umumnya tidak ada. 4) Protein Bound Iodine (PBI) : Bertujuan mengukur jodium yang terkait pada protein plasma. Nilai normal 4-8 mg% dalam 100ml darah. Spesimen yang dibutuhkan darah vena sebanyak 5-10 cc. Klien dipuasakan sebelum pemeriksaan 6-8 jam.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

145

5)

Laju Metabolisme Basal (MBR) : Bertujuan untuk mengukursecaratidak langsung jumlah oksigen yang dibutuhkan tubuh di bawah kondisi basal selama beberapa waktu. Persiapan Klien puasa sekitar 12 jam Hindari kondisi yang menimbulkan kecelakaan dan stres. Klien harus tidur paling tidak 8 jam Tidak mengkonsumsi obat-obat analgesik dan sedatif Jelaskan pada klien tujuan pemeriksaan dan prosedurnya. Tidak boleh bangun dari tempat tidur sampai pemeriksaan dilakukan. Pelaksanaan Segera setelah bangun, dilakukan pengukuran tekanan darah dan nadi Dihitung dengan rumus : BMR (0,75 x pulse) + (0,75 x Tek Nadi) 72 Nilai normal BMR : -10 s/d 15%. Pertimbangan faktor umur, jenis kelamin dan ukuran tubuh dengan kebutuhan oksigen jaringan. Pada klien yang sangat cemas, dapat diberkan fenobarbital yang pengukurannya disebut Sommolent Metebolisme Rate. Nilai normalnya 813% lebih rendah dari MBR.

6)

Scanning Tyroid : Dapat digunakan teknik antara lain : Radio Iodine Scanning. Digunakan untuk menentukan apakah nodul tiroid tunggal atau majemuk dan apakah panas atau dingin (berfungsi atau tidak berfungsi). Nodul panasmenyebabkan hipersekresi jarang bersifat ganas. Sedangkannodul dingin (20%) adalah ganas. Up take iodine. Digunakan untuk menentukan pengambilan jodium dariplasma. Nilai normal 10 s/d 30% dalam 24 jam.

3. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Paratiroid


1) Percobaan Sulkowitch Dilakukan untuk memeriksa perubahan jumlah

kalsium dalam urine, sehinggga dapat diketahui aktivitas kelenjar paratiroid.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

146

Percobaan dilakukan dengan menggunkan Reagens Sulkwitch. Bila pada percobaan diperkirakan tidak terdapat endapan maka kadar kalsium white plasma cloud)

antara

5mg/dl.

Endapan

sedikit

(fine

menunjukkan kadar kalsium darah normal (6 ml/dl). Bila endapan banyak, kadar kalsium tinggi. Persiapan Urine 24 jam ditampung. Makanan rendah kalsium 2 hari berturut-turut. Pelaksanaan Masukan urine 3 ml ke dalam tabung (2 tabung) Kedalam tabung pertama dimasukan reagens sulkowitch 3 ml, tabung kedua hanya sebagai kontrol. Pembacaan hasil secara kwantitatif : Negatif (-) Positif (+) ` Positif (+ +) Positif (+ + +) Positif (+ + + +) : Tidak terjadi kekeruhan : Terjadi kekeruhan yang halus : Kekeruhan sedang : Kekeruhan banyak timbul dalam waktu kurang 20 detik. : Kekeruhan hebat, terjadi seketika.

2) Percobaan Ellwort-Howard : Percobaan didasarkan pada diuresis pospor yang dipengaruhioleh parathormon. Cara Pemeriksaan Klien disuntik dengan parathormon melalui intravena kemudian urine ditampung dan diukur kadar pospornya. Pada hipoparatiroid, diuresis pospor bisa mencapai 5-6x nilai normal. Pada hipoparatiroid, diuresis pospornya tidak banyak berubah. 3) Percobaan Kalsium Intravena Percobaan ini didasarkan pada anggapan bahwa bertambahnya kadar serum kalsium akan menekan pembentukan paratharman. Normal bila pospor serum meningkat dan pospor diuresis berkurang. Pada hiperparatiroid, pospor serum dan pospor diuresis tidak banyak berubah. Pada hiperparatiroid, pospor serum hampir tidak mengalami perubahan tetapi pospor diuresis meningkat.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

147

4) Pemeriksaan radiologi Persiapan khusus tidak ada. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya klasifikasi tulang, penipisan dan osteoporosis. Pada hipotiroid, dapat dijumpai klasifikasi bilateral pada dasar tengkorak.densitas tulang bisa normal atau meningkat. Parahipertiroid, tulang menipis, berbentuk kistal dalam tulang serta tuberculae pada tulang. c. Pemeriksaan Elektrocardiogram (ECG) Persiapan khusus tidak ada. Persiapan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelainan gambaran EKG akibat perubahan kalsium serum terhadap otot jantung. Pada hiperparatiroid, akan dijumpai gelombang Q-T yang memanjang sedangkan pada hiperparatiroid interval Q-T mungkin normal.

d. Pemeriksaan Elektromiogram (EMG) Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan kontraksi otot akibat perubahan kadar kalsium serum. Persiapan khusus tidak ada.

4. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Pankreas


1) Pemeriksaan glukosa : Jenis pemeriksaannya adalah gula darah puasa.

Bertujuan untuk menilai kadar gula darah setelah puasa selama 810 jam. Nilai Normal : Dewasa : 70-110 md/dl Bayi : 50-80 mg/dl Anak-anak : 60-100 mg/dl Persiapan Klien dipuasakan sebelum pemeriksaan dilakukan Jelaskan tujuan pemeriksaan Pelaksanaan Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5 s/d 10 cc

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

148

Gunakan anti koagulasi bilapemeriksaan tidak dapat dilakukan segera. Bila klien mendapat pengobatan insulin atau oral hipoglikemik untuk sementara tidak diberikan. Setelah pengambilan darah, klien diberi makan dan minum serta obat-obatan sesuai program. Gula darah setelah dua jam setelah makan. Sering disingkat dengan gula darah dua jam PP (post prandial). Bertujuan untuk menilai kadar gula darah dua jam setelah makan. Dapat dilakukan secara bersamaan dengan pemeriksaan gula darah puasa artinya setelah pengambilan gula darah puasa, kemudian klien disuruh makan menghabiskan posi yang biasa lalu setelah dua jam kemudian dilakukan pengukuran kadar gula darahnya. Atau bisa juga dilakukan secara terpisah tergantung pada kondisi klien. Prinsip persiapan dan pelaksanaan sama saja namun perlu diingat waktu yang tepat untuk pengambilan spesimen karena hal ini dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Bagi klien yang mendapat obat-obatan sementara dihentikan sampai pengambilan spesimen dilakukan.

5. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Adrenal


1) Pemeriksaan Hemokonsentrasi Darah Nilai normal pada : Dewasa wanita : 37-47 % Pria : 45-54 % Anak-anak : 31-43 % Bayi : 30-40 % Neonatal : 44-62 % Tidak ada persiapan secara khusus. Spesimen darah dapat diperoleh dari perifer seperti ujung jari atau melalui pungsi intravena. Bubuhi anti koagulan ke dalam darah untuk mencegah pembekuan. 2) Pemeriksaan Elektrolit Serum (Na, K, C1), dengan nilai normal : Natrium : 310-335mg (13,6-14meq/liter) Kalium : 14-20 mg% (3,5-5,0 meq/liter) Chlorida : 350-375 mg% (100-106 meq/liter)

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns

149

Pada hipofungsi adrenal akan terjadi hipernatremi dan hipokalemi, dan sebaliknya terjadi pada hiperfungsi adrenal yaitu hiponatremi dan hiperkalimia. Tidak diperlukan persipan fisik secara khusus. 3) Pencobaan Vanil Mandelic acid (VMA) : Bertujuan untuk mengukur katekolamin dalam urine. Dibutuhkan urine 24 jam. Nilai normal 1-5 mg. Tidak ada persiapan khusus. 4) Stimulasi Test Dimaksudkan untuk mengevaluasi dan menendeteksi hipofungsi adrenal. Dapat dilakukan kortisol dengan pemberian ACTH. Stimulasi terhadap aldosteron dengan pemberian sodium.

Kuliah Endokrine Jurusan keperawatan Kupang Simon Sani Kleden, SKep, Ns