Anda di halaman 1dari 5

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio

1. Subjektif :

Pasien datang dengan keluhan utama nyeri pinggang menjalar ke ari-ari sejak 2 jam yang lalu. Namun, keluarnya darah campur lendir (bloodslem) dari kemaluan belum ada. Pecahnya ketuban yang ditandai dengan keluarnya air-air dari kemaluan juga belum ada. Selain itu, pasien juga mengeluhkan pusing dan perasaan berat pada tengkuknya sejak 2 jam yang lalu. Namun, pasien menyangkal adanya penglihatan kabur dan sesak nafas. Ini adalah kehamilan ke-3 pasien. Pasien mengaku tanggal 15 September 2011 sebagai HPHT-nya, sehingga taksiran partus pasien ini tanggal 22 Juni 2012 . Anak pertama lahir 5 tahun yang lalu dengan berat 2400 gram, kehamilan 6 bulan, spontan, dan ditolong bidan. Sedangkan anak kedua meninggal setelah persalinan ditolong dukun. Anak kedua lahir saat usia kehamilan masih 6 bulan. Tanda-tanda kehidupan janin masih dirasakan pasien berupa gerakan janin dalam perut pasien. Pada kehamilan ini, pasien mengaku kontrol kehamilan teratur ke bidan, dan pasien mengaku pernah memiliki tekanan darah 150/80 mmHg saat melakukan kontrol, dan pasien diberikan obat oleh bidan namun pasien tidak tahu itu obat apa. Pasien menyangkal adanya riwayat hipertensi pada pasien dan keluarganya. Pasien juga menyangkal adanya riwayat hipertensi pada kehamilan sebelumnya.
2. Objektif :

Pemeriksaan Fisik Dari pemeriksaan vital sign, didapatkan kesadaran CMC pada pasien. Tekanan darah pasien ini adalah 190/100 mmHg. Denyut jantung janin 150 x/menit. Pada mata, tidak ditemukan tanda-tanda oedema. Selain itu, pada pemeriksaan thorax tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan leopold, didapatkan interpretasi sebagai berikut: Leopold I : FUT teraba 3 jari di bawah proc.xiphoideus dan teraba massa lunak. Leopold II : Teraba tahanan terbesar di sebelah kanan. Leopold III : Teraba massa bulat, keras, dan melenting. Leopold IV : Belum masuk PAP. Pemeriksaan dalam tidak dilakukan. Pada ekstremitas, didapatkan oedema pada kedua kaki pasien, namun oedema yang 1

muncul tidak terlalu jelas.

Laboratorium:

Hb Leukosit Trombosit

: 11,1 gr/dl : 13.200/mm3 : 194.000/mm3

Hematokrit : 33% Hitung Jenis : 0/1/0/76/18/5

Urinalisa Eritrosit Leukosit Silinder Kristal Epitel Warna pH : 7,0 Protein Reduksi Bilirubin Sedimen: : 1-2/LPB : 3-4/LPB : negatif : negatif : 1-2/LPB Urobilin : normal : negatif : negatif : negatif : kuning jernih

Berat jenis : 1,010

3. Assesment (penalaran klinis) :

Kehamilan dapat menyebabkan hipertensi pada wanita yang sebelumnya dalam keadaan normal atau memperburuk hipertensi pada wanita yang sebelumnya telah menderita hipertensi. Edema menyeluruh, proteinuria, ataupun keduanya sering menyertai hipertensi yang diinduksi atau diperberat oleh kehamilan.

Ada beberapa klasifikasi dan definisi hipertensi selama kehamilan: 1. Hipertensi dalam Kehamilan a. Tekanan darah 140/90 mmHg untuk pertama kalinya selama kehamilan. b. Tidak terdapat proteinuria. c. Tekanan darah kembali normal dalam waktu 12 minggu pasca persalinan (jika peningkatan tekanan darah bertahan, ibu didiagnosis hipertensi kronis). 2. Pre-eklampsia Ringan a. Tekanan darah 140/90 mmHg setelah kehamilan usia 20 minggu. b. Proteinuria 1+ pada pengukuran dengan dipstick urin atau kadar protein total 300 mg/24 jam 3. Pre eklampsia Berat a. Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau diastolik 110 mmHg. b. Proteinuria 2+ pada pengukuran dengan dipstick urin atau kadar protein total 2 gr/24 jam c. Kadar kreatinin darah melebihi 1,2 mg/dl kecuali telah diketahui meningkat sebelumnya. d. Sakit kepala yang terus bertahan atau gangguan serebral atau visual lain. e. Nyeri epigastrik yang terus menerus. f. Enzim hati meningkat (SGOT, SGPT, LDH). g. Hitung trombosit 100.000/mm3. 4. Eklampsia a. Kejang konvulsi yang bukan disebabkan oleh infeksi atau trauma. 5. Pre-eklampsia super impos a. Proteinuria awitan baru 300 mg/24 jam pada ibu penderita darah tinggi tetapi tidak terdapat proteinuria pada usia kehamilan sebelum 20 minggu. b. Peningkatan proteinuria atau tekanan darah atau hitung trombosit 100.000/mm 3 secara tiba-tiba pada ibu penderita hipertensi dan proteinuria pada usia kehamilan sebelum 20 minggu. 6. Hipertensi Kronis a. Hipertensi sebelum kehamilan atau yang didiagnosis sebelum usia kehamilan 20 minggu. b. Hipertensi pertama kali didiagnosis setelah usia kehamilan 20 minggu dan terus bertahan setelah 12 minggu pasca persalinan.

Ada beberapa teori yang menjelaskan timbulnya hipertensi dalam kehamilan. Ada 3

hipotesis yang menjelaskan peran senyawa yang dihasilkan jaringan uteroplasenta yang masuk ke sirkulasi ibu dan merusak epitel. Selain itu, ada juga teori yang menjelaskan terjadinya defisiensi plasentasi yang menyebabkan tidak sempurnanya perubahan fisiologis pada arteri spiralis, yang nantinya akan menimbulkan hipertensi dan pre-eklampsia. Pada pasien ini, ditemukan beberapa tanda untuk menegakkan diagnosa pre-eklampsia berat. Namun, hasil urinalisa yang menunjukkan proteinuria (-). Tetapi, dari manifestasi klinis, didapatkan oedema pada kedua kaki pasien, walau oedemanya tidak terlalu jelas. Pre-eklampsia sangat sering menimbulkan persalinan preterm. Namun, pasien ini bisa menjalani kehamilan dengan baik hingga usia kehamilan aterm, walaupun dalam pengakuan pasien, pasien kadang memiliki tekanan darah 150/80 mmHg saat kontrol kehamilan ke bidan.
4. Plan :

Diagnosis :

G3P2A0H1 gravid 39-40 minggu + anak hidup tunggal intrauterine letak kepala + pre-eklampsia berat DD/: Hipertensi dalam Kehamilan

Pengobatan : Penatalaksanaan awal pasien ini adalah tatalaksana untuk pasien dengan preeklampsia berat, seperti pemberian MgSO4. Walaupun kita ragu dengan diagnosa preeklampsia berat, pemberian MgSO4 untuk profilaksis kejang tidak apa-apa selama kondisi pasien di-monitoring dengan baik untuk mencegah keracunan MgSO4. Selama perawatan, dilakukan juga observasi persalinan serta memantau tekanan darah dan DJJ pasien. Terapi yang akan diberikan adalah: 1. Profilaksis kejang a. Dosis awal MgSO4: 4 gr diencerkan dalam 10 mL larutan cairan Ringer Lactat selama 10 menit dengan tetesan IV lambat. b. Dosis maintenance MgSO4: 1-2 gr/jam dengan tetesan IV lambat yang dimulai segera setelah dosis awal dan dilanjutkan selama 24 jam setelah persalinan atau setelah konvulsi terakhir. c. Hati-hati terhadap keracunan MgSO4 yang ditandai dengan refleks patella yang menurun. Oleh karena itu, sebelum pemberian MgSO4, sebaiknya diperiksa dulu refleks patella dan frekuensi nafas di atas 12x/menit. Selain itu, diuresis diperiksa tidak kurang 30 mL/jam karena Mg diekskresikan melalui urin. 4

2. Terapi antihipertensi a. Ca-channel blocker (Nifedipine): 10-20 mg setiap 6-8 jam. b. Antagonis campuran alfa dan beta (Labetalol atau Atenolol): 3-4x 50 mg/hari. 3. Terminasi kehamilan Karena pasien datang dengan kehamilan yang sudah aterm, kehamilan pasien sebaiknya diterminasi dengan cara induksi. Namun, karena pasien sudah menunjukkan tanda-tanda akan inpartu, untuk sementara diobservasi terlebih dahulu. Pendidikan : Kepada pasien dan keluarganya dijelaskan penyebab timbulnya penyakit yang dideritanya dan menjelaskan tindakan yang seharusnya diambil jika anggota keluarga yang lain memiliki riwayat hipertensi atau mengalami hipertensi dalam kehamilan. Konsultasi : Pada saat ini belum dibutuhkan konsultasi. Kontrol : Kegiatan Kontrol post-partum Nasihat Periode Satu minggu setelah pulang dari rumah sakit Setiap kali kunjungan Hasil yang Diharapkan Tekanan darah sudah kembali normal Kualitas hidup pasien dan anak membaik