Anda di halaman 1dari 6

Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Agribisnis Kelinci

BUDIDAYA KELINCI MENGGUNAKAN PAKAN LIMBAH INDUSTRI PERTANIAN DAN BAHAN PAKAN INKONVENSIONAL
C.M. SRI LESTARI, H.I. WAHYUNI dan L. SUSANDARI
Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Jl. H. Wuruk No 4A, Semarang

ABSTRAK Budidaya kelinci dapat dilakukan pada lahan terbatas dengan modal awal yang rendah karena harga kelinci jauh lebih murah dibandingkan ternak kambing, domba maupun sapi. Produktivitas kelinci cukup tinggi, seekor induk kelinci dengan berat 3-4 kg dapat menghasilkan 80 kg karkas per tahun. Dilihat komposisi kimianya, daging kelinci mempunyai kualitas yang baik dibandingkan produk daging dari ternak lain, karena mengandung protein yang sama dengan daging ayam, rendah kadar lemak dan kolesterolnya. Keunikan proses pencernaannya menyebabkan kelinci mampu memanfaatkan secara optimal dan efisien komponen non-serat pada hijauan, sehingga limbah sayuran dapat dimanfaatkan sebagai pengganti hijauan. Pemberian pakan sebaiknya sebaiknya tidak hanya hijauan tetapi perlu ditambah konsentrat, agar produktivitas ternak kelinci optimal. Bahan-bahan pakan yang berasal dari limbah agro industri dapat digunakan sebagai konsentrat. Disajikan pula hasil-hasil penelitian tentang pemanfaatan limbah sayuran berupa limbah daun wortel; pemanfaatan limbah agro industri seperti bekatul, ampas tahu, ampas pati aren, dan kulit ari kedelai; serta daun eceng gondok, dan azolla sebagai pakan bagi ternak kelinci. Berdasarkan hasil-hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa budidaya kelinci patut digalakkan kembali. Potensi kelinci yang mampu memanfaatkan berbagai jenis pakan baik hijauan yang terdapat di sekitar peternakan, limbah pertanian, limbah industri pertanian, maupun berbagai jenis pakan inkonvensional lainnya, memungkinkan kelinci untuk dibudidayakan di hampir semua wilayah menggunakan sumber pakan lokal. Pemanfaatan sumberdaya pakan lokal dalam budidaya kelinci akan memudahkan peternak memperoleh pakan yang ketersediaannya terjamin, dan harganya murah, sehingga biaya produksi menjadi rendah akhirnya akan memperbesar pendapatan peternak kelinci. Kata Kunci: Budidaya, Kelinci, Pakan, Limbah, Pertanian

PENDAHULUAN Kelinci merupakan salah satu komoditas peternakan yang potensial sebagai penyedia daging, karena pertumbuhan dan reproduksinya yang cepat. Satu siklus reproduksi seekor kelinci dapat memberikan 8 10 ekor anak dan pada umur 8 minggu, bobot badannya dapat mencapai 2 kg atau lebih. Secara teoritis, seekor induk kelinci dengan berat 3-4 kg dapat menghasilkan 80 kg karkas per tahun (FARREL dan RAHARJO, 1984). Dilihat dari komposisi kimianya, daging kelinci mempunyai kualitas yang baik. Kadar protein daging kelinci cukup tinggi yaitu 20% dan setara dengan daging ayam (SHAVER yang disitasi oleh FARREL dan RAHARJO, 1984), bahkan proteinnya bisa mencapai 25% (ENSMINGER et al., 1990), sedangkan kadar lemak, kolesterol dan energinya rendah dibandingkan daging dari ternak lain (DIWYANTO et al., 1985). OUHAYOUN (1998)

menyatakan bahwa daging kelinci mempunyai kadar kolesterol yang rendah yaitu 50 mg/100 g dan lemak kelinci relatif kaya asam lemak esensial. Melalui manipulasi pakan, daging kelinci dapat ditingkatkan kualitasnya. Peningkatan 50% kadar lisin dari ransum kontrol, mampu menurunkan kadar kolesterol daging sebesar 8% (LESTARI et al., 2000), sedangkan penambahan sebesar 20% lisin dari ransum kontrol dapat meningkatkan kadar kalsium daging sampai sekitar 27% (WAHYUNI et al., 2005). Rendahnya kadar lemak dan kolesterol, serta kandungan lemak jenuh yang merupakan lemak esensial dalam daging kelinci memberi peluang untuk dapat dikonsumsi oleh penggemar daging tanpa takut akan penyakitpenyakit yang berhubungan dengan lemak atau cholesterol tinggi. Selain itu daging kelinci dapat dikonsumsi untuk asupan kalsium karena dapat menghasilkan daging dengan kadar kalsium lebih ditingkatkan. Hal ini sebenarnya

55

Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Agribisnis Kelinci

sudah sangat sejalan dengan promosi yang sudah dilakukan sejak sekitar 20 tahun yang lalu. Kelinci dipromosikan sebagai salah satu ternak alternatif untuk pemenuhan gizi (khususnya protein hewani) terutama bagi ibu hamil dan menyusui, serta anak-anak yang kekurangan gizi. Mengingat keistimewaan daging kelinci, maka promosi budidaya kelinci perlu digalakkan kembali tidak saja di tingkat peternak kecil namun juga pada skala industri. Potensi kelinci sebagai penyedia daging, sampai sekarang belum terimbangi dengan penyerapan produknya. Hal ini disebabkan daging kelinci kurang memasyarakat. Pemasarannya masih sangat lamban karena masyarakat belum terbiasa mengkonsumsi daging kelinci. Konsumsi daging kelinci masih terbatas pada daerah yang memiliki iklim sejuk dan biasanya merupakan daerah pariwisata. Selain itu sajian olahan daging kelinci yang dilakukan masih tradisional yaitu sebagai sate kelinci dan dijual keliling oleh pedagang kaki lima. Ternak kelinci menjadi pilihan untuk dibudidayakan secara luas, karena harga kelinci jauh lebih murah dibandingkan dengan ternak lain seperti kambing, domba maupun sapi. Selain itu pakannya tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, maupun dengan ternak industri lain, karena kelinci mempunyai efisiensi penggunaan pakan hijauan dalam jumlah yang tinggi. Menurut SITORUS et al. (1982) di negara berkembang, kelinci dapat dipelihara menggunakan hijauan yang dikombinasikan dengan limbah pertanian dan limbah hasil industri pertanian. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kelinci bisa dipelihara dengan jenis pakan inkonvensional, tanpa mengganggu produktivitasnya. Kombinasi antara modal kecil, jenis pakan yang mudah dan, perkembangbiakannya cepat sehingga cepat pula menghasilkan produk, menjadikan budidaya kelinci masih sangat relevan dan cocok sebagai alternatif usaha bagi petani dengan lahan terbatas dan tidak mampu memelihara ternak besar (LESTARI et al., 2004). Kemampuan kelinci menggunakan berbagai jenis pakan, memudahkan kelinci untuk dipelihara di berbagai tempat dengan memanfaatkan potensi sumber daya pakan lokal. Diharapkan dengan budidaya kelinci, petani peternak mampu meningkatkan

pendapatan selain juga akan meningkatkan asupan gizi keluarga/masyarakat. PAKAN KELINCI Pakan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pemeliharaan ternak, selain faktor pemilihan bibit dan tata laksana pemeliharaan yang baik, sehingga keberhasilan usaha peternakan banyak ditentukan oleh pakan yang diberikan. Pemberian pakan dalam usaha peternakan perlu memperhatikan pemilihan bahan pakan sebagai penyusun ransum yang sesuai dengan kondisi faali dan seturut kemampuan fisiologis pencernaan dari ternak target. Ternak kelinci sebagai ternak monogastrik mempunyai keunikan dalam hal kapasitas, sifat dan faali dari saluran pencernaannya. Keunikan ini adalah kemampuan kelinci untuk melakukan coprophagy. Menurut SCHMIDT-NIELSEN (1994), melalui coprophagy ternak kelinci mampu mengukur sendiri pemenuhan zat gizi sesuai dengan kebutuhannya. Dijelaskan oleh CHEEKE (1987) bahwa aktifitas coprophagy mengakibatkan pakan lebih dari satu kali melewati saluran pencernaan, sehingga proses ekstraksi dan pencernaan komponen non-serat dari hijauan menjadi lebih efisien, khususnya dalam mencerna protein hijauan (NRC, 1977). Mengingat sifat ini, maka pemilihan bahan pakan haruslah yang mampu menjaga proses fermentasi yang baik dan sehat di dalam cecum. Hal ini didukung oleh pernyataan FARREL dan RAHARJO (1984) bahwa pemberian hijauan yang tinggi pada ternak kelinci akan meningkatkan effisiensi ransum. Dilaporkan oleh SUDARYANTO et al. (1985) dan DIWYANTO et al. (1985) bahwa kelinci mampu tumbuh dan berkembang dengan memanfaatkan berbagai jenis hijauan secara efisien sebagai makanan pokoknya. Namun pakan hijauan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup, sehingga produksinya tidak akan maksimun, oleh karena itu dibutuhkan konsentrat untuk mensuport petumbuhannya. Menurut ENSMINGER et al. (1990), pakan kelinci dapat berupa hijauan, namun produktivitas kelinci yang tinggi hanya dapat diperoleh apabila kelinci dipelihara secara intensif dengan pemberian pakan yang

56

Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Agribisnis Kelinci

kualitas maupun kuantitasnya mencukupi kebutuhan untuk berproduksi. Dikemukakan oleh ARRINGTON dan KELLEY (1976), kebutuhan jumlah/kuantitas pakan untuk kelinci ditentukan oleh banyaknya bahan kering pakan yang diberikan. Kebutuhan bahan kering untuk kelinci yang sedang tumbuh yaitu sekitar 3-3,5% dari bobot hidup (ARRINGTON dan KELLEY, 1976), sedangkan untuk kelinci calon bibit 6,7% dari bobot hidup (TEMPLETON, 1968). Kebutuhan akan kualitas/zat gizi pakan berbeda menurut bangsa, umur, ukuran tubuh dan status fisiologis (ARRINGTON dan KELLEY, 1976; ENSMINGER et al., 1990). Kebutuhan zat pakan kelinci untuk berbagai status fisiologis dapat dilihat pada Tabel 1. PEMANFAATAN LIMBAH SAYURAN UNTUK PAKAN KELINCI Menurut SARTIKA et al. (1988), keuntungan beternak kelinci salah satunya adalah ternak kelinci bisa memanfaatkan limbah pertanian maupun hijauan yang terdapat di sekitar rumah peternak. Kelinci mempunyai kesukaan terhadap berbagai jenis hijauan sehingga dalam budidaya kelinci dapat menggunakan sumber daya pakan lokal. Di beberapa daerah dataran tinggi yang beriklim sejuk, dimana sayuran merupakan penghasil pertanian yang utama, kelinci bisa dipelihara dengan pakan limbah sayuran seperti kangkung, sawi, kol, daun wortel,

lobak, caisim (SARWONO, 2004) serta berbagai jenis sayuran yang lain. Pakan limbah sayuran ini bisa diberikan secara tunggal, maupun dikombinasikan dengan konsentrat. Disarankan oleh SARWONO (2004), pemberian limbah sayuran sebagai pakan kelinci agar dilayukan terlebih dahulu untuk mengurangi kadar air maupun getah yang terdapat dalam sayuran tersebut. Penelitian tentang penggunaan kangkung yang disubstitusi dengan daun wortel 25, 50, 75 dan 100% untuk kelinci telah dilakukan oleh WULANDARI (1995). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi pemberian daun wortel maka konsumsi pakan semakin meningkat seiring dengan peningkatan pemberian daun wortel tersebut (70,08; 74,19; 78,35 dan 85,18 g/ekor/hari). Hal ini berarti bahwa daun wortel merupakan bahan pakan yang cukup disukai oleh kelinci. Hasil penelitian SARTIKA et al. (1988) menunjukkan bahwa pertambahan bobot badan kelinci yang diberi pakan hijauan daun wortel lebih tinggi (16,47 g/ekor/hari) dibandingkan dengan kelinci yang diberi pakan rumput lapang (12,89 g/ekor/hari). Menurut SOEDARSONO et al. (1985) kelinci yang diberi pakan limbah sayuran dari pasar berupa limbah kangkung, limbah daun wortel dan limbah kobis dibandingkan dengan pemberian rumput lapang, ternyata performan kelinci yang mendapat pakan limbah sayuran lebih baik dibandingkan dengan kelinci yang mendapat pakan rumput lapang.

Tabel 1. Kebutuhan zat pakan kelinci pada berbagai status fisiologis Zat pakan Hidup pokok DE (Kkal) TDN (%) SK (%) Lemak (%) PK (%) Ca (%) P (%) Sumber: BANERJEE (1982) 2100 55 14 2 12 Kebutuhan untuk Pertumbuhan 2500 65 10-12 2 16 0.40 0.22 Bunting 2500 58 10-12 2 15 0.45 0.75 Menyusui 2500 70 10-12 2 17 0,75 0,50

57

Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Agribisnis Kelinci

PEMANFAATAN LIMBAH INDUSTRI PERTANIAN UNTUK PAKAN KELINCI Produktivitas kelinci akan optimal, apabila kualitas maupun kuantitas pakannya diperhatikan. Pakan kelinci sebaiknya tidak hanya berupa hijauan saja tetapi perlu ditambah konsentrat untuk menunjang produktivitasnya. Hambatan penggunaan konsentrat jadi adalah harganya yang mahal, sehingga petani peternak tidak mampu membelinya, oleh karena itu perlu dicari bahan pakan konsentrat yang murah harganya, namun tersedia secara kontinyu. Seiring dengan peningkatan kebutuhan pangan untuk manusia, maka limbah hasil industri pertanian pun semakin banyak dan dapat menjadi alternatif penyediaan bahan pakan konsentrat yang cukup potensial bagi ternak, termasuk kelinci (LESTARI, 2004). Beberapa jenis bahan pakan yang berasal dari limbah pertanian diantaranya dedak dan ampas pati aren, sedangkan limbah industri pertanian yaitu ampas tahu dan kulit biji kedelai yang merupakan limbah industri tempe. Penelitian menggunakan ampas tahu untuk campuran pakan konsentrat telah dilakukan oleh LESTARI et al. (2004) pada kelinci periode pertumbuhan. Pada penelitian tersebut ampas tahu diberikan sebagai konsentrat tunggal dan ampas tahu dikombinasikan dengan bekatul, dibandingkan dengan pemberian bekatul bersama konsentrat komersial Ketiga macam konsentrat tersebut diberikan bersama rumput lapang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PBBH yang diperoleh sebesar 31,93, 30,53 dan 33,95 g/ekor/hari, dengan konversi pakan 5,17; 5,16 dan 4,47. Perhitungan feed cost per gain menunjukkan bahwa pemberian pakan kelinci berupa ampas tahu sebagai konsentrat tunggal menghasilkan feed cost per gain paling rendah dibandingkan pemberian konsentrat yang lain, artinya biaya pakan yang digunakan untuk meningkatkan satu kg bobot badan ternak paling murah. Penggunaan kulit biji kedelai (limbah industri tempe) sebanyak 5-15% dalam konsentrat yang diberikan dalam bentuk pellet, menunjukkan bahwa penggunaan 15% kulit ari kedelai tidak berakibat negatif bagi kelinci dan PBBH yang diperoleh sama dengan pakan yang tanpa kulit biji kedelai (LESTARI, 2004). Dilihat dari sisi ekonomi, semakin banyak kulit

biji kedelai yang diberikan ternyata harga ransum semakin murah yaitu Rp 2646,25/ kg ransum (tanpa kulit biji kedelai) vs Rp 2336,25/kg ransum (pemakaian 15% kulit biji kedelai). Ampas pati aren (Arenga pinnata Merr) sebagai campuran konsentrat untuk kelinci New Zealand White telah digunakan sampai sebesar 30% dari ransum (PITAYANINGSIH, 1995). Pemberian ampas pati aren 10 dan 20%, menghasilkan performans yang tidak berbeda dengan ransum tanpa ampas pati aren, namun pemberian sebesar 30%, ternyata menurunkan produktivitas kelinci. JENIS DAN PEMANFAATAN BAHAN PAKAN INKONVENSIONAL Selain dapat memanfaatkan berbagai jenis hijauan, limbah pertanian dan industri pertanian, kelinci ternyata dapat pula memanfaatkan berbagai jenis pakan yang tidak biasa digunakan sebagai bahan pakan ternak, seperti enceng gondok, buah semu jambu mete, dan azolla. Penelitian penggunaan berbagai aras enceng gondok (Eichhornia crassipes) sebesar 10, 20 dan 30% pada ransum basal konsentrat untuk pakan kelinci New Zealand White periode pertumbuhan dilakukan oleh Hamidy (1996). Pakan disajikan dalam bentuk pellet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi ransum semakin meningkat sampai pada pemberian enceng gondok sebesar 20%, sedangkan pada pemberian enceng gondok 30%, konsumsi pakannya menurun. Pertambahan bobot hidup yang diperoleh dari penelitian ini seiring dengan konsumsi pakan. Kelinci yang diberi pakan dengan aras enceng gondok 20%, memperoleh PBBH paling tinggi (13 g) dibandingkan dengan kelinci yang mendapat pakan enceng gondok 10% (11,84 g) dan 30% (9,12 g). Tanaman azolla tersebar luas di daerah persawahan padi, tumbuh pada permukaan air, cepat dapat menutup permukaan air, namun tidak mengganggu pertumbuhan padi. Azolla tumbuh cepat, produksinya tinggi dan tersedia sepanjang tahun sehingga potensial sebagai bahan pakan kelinci, yang dapat diberikan segar maupun dalam bentuk kering. Berdasarkan hasil penelitian SASKIARDI

58

Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Agribisnis Kelinci

(1986), azolla dapat digunakan sebagai pengganti kacang hijau dalam ransum kelinci Lokal sampai sebanyak 10%, tanpa mempengaruhi bobot badan, maupun persentase karkasnya. Pertambahan bobot hidup harian yang diperoleh dari penggantian kacang hijau dengan azolla sebanyak 2,5; 5; 7,5 dan 10% berturut-turut 11,64; 9,29; 8,71 dan 6,85 g dengan persentase karkas sebesar 49,69; 52,28; 54,07 dan 50,69%. Penelitian lain menggunakan Azolla microphylla yang dibuat konsentrat protein daun (KPD) sebagai sumber lisin alami untuk kelinci telah dilakukan oleh LESTARI et al. (1997). Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa Azolla mycrophylla potensial sebagai bahan pakan kelinci sumber protein. Penambahan KPD dalam ransum meningkatkan bobot potong (1103,87 g tanpa KPD menjadi 1330,63 g), bobot dan persentase karkas kelinci dari 491,72 g (44,95%) menjadi 594,65g (48,33%). KESIMPULAN Peternakan kelinci masih potensial untuk dikembangkan sebagai alternatif peningkatan pendapatan petani peternak dengan lahan terbatas maupun untuk pemenuhan gizi masyarakat secara cepat. Potensi kelinci yang mampu memanfaatkan berbagai jenis pakan baik dari hijauan yang terdapat di sekitar peternakan, limbah pertanian, limbah industri pertanian, maupun berbagai jenis pakan inkonvensional lainnya, memungkinkan kelinci untuk dibudidayakan di hampir semua wilayah, menggunakan sumber daya pakan lokal. Pemanfaatan sumberdaya pakan lokal dalam budidaya kelinci akan memudahkan peternak memperoleh pakan yang ketersediaannya terjamin, dan harganya murah, sehingga beaya produksi menjadi rendah dan akan memperbesar pendapatan peternak kelinci.
DAFTAR PUSTAKA ARRINGTON, L.R. dan K.C. KELLEY. 1976. Domestic Rabbit Biology and Production. The University Press of Florida, Gainesville. BANERJEE, C. 1982. A Textbook of Animal Husbandry. 5th Ed, Oxford and IBH publishing Co., New Delhi.

CHEEKE, P.R. 1987. Rabbit Feeding and Nutrition. Academic Press, Inc. Orlando. DIWYANTO K., R. SUNARLIN dan P. SITORUS. 1985. Pengaruh Persilangan terhadap Karkas dan Preferensi Daging Kelinci Panggang. J. Ilmu dan Peternakan 1(10): 427-430 ENSMINGER, M.E., J.E. OLDFIELD dan W. HEINEMANN. 1990. Feed Nutrition. 2nd Ed, The Ensminger Publishing Co., Clovis. FARREL, D. J. dan Y.C. RAHARJO. 1984. Potensi ternak Kelinci sebagai Penghasil Daging. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. HAMIDY, L.N. 1996. Pengaruh Berbagai Tingkat Penggunaan Buah Semu Jambu Mete dalam Ransum terhadap Konsumsi dan Konversi Pakan pada Kelinci. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang (Skripsi Sarjana Peternakan). LESTARI, C.M.S., A. MUKTIANI, H.I. WAHYUNI dan J.A. PRAWOTO. 1997. Evaluasi Azolla mycrophylla sebagai sumber lisin dan pengaruhnya terhadap penampilan karkas kelinci. Majalah Penelitian, Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro. Tahun IX (34): 1-9. LESTARI, C.M.S., L. SUSANDARI dan NURWANTORO. 2001. Persentase Karkas, Kadar Lemak Karkas dan Kadar Kolesterol Daging Kelinci yang Diberi Pakan Konsentrat dengan Penambahan Lisin. Buletin Peternakan, Edisi Tambahan. hlm. 95-101. LESTARI, C.M.S. 2004. Penampilan produksi kelinci lokal menggunakann pakan pellet dengan berbagai aras kulit biji kedelai. Pros. Seminar Nasional Teknologi dan Peternakan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. LESTARI, C.M.S., E. PURBOWATI dan T. SANTOSA. 2004. Budidaya Kelinci Menggunakan Pakan Limbah Industri Pertanian sebagai Salah Satu Alternatif Pemberdayaan Petani Miskin. Pros. Seminar Nasional Pemberdayaan Petani Miskin Melalui Inovasi Teknologi Tepat Guna. Kersajama antara BPTP, UNRAM, BPM dan Bappeda NTB. N.R.C. 1977. Nutrien Requirement of Rabbit. National Academic of Science, Washington. OUHAYOUN, J. 1998. Influence of the diet on rabbit meat quality. Dalam: DE BLASS, C. dan J. WISEMAN (Ed). The Nutrition of the Rabbit. CABI Publishing New York. hlm. 177-195.

59

Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Agribisnis Kelinci

PITAYANINGSIH, B.T. 1995. Pengaruh Pemberian Berbagai Aras Ampas Pati Aren terhadap Kecernaan Bahan Kering, Bahan Organik dan Protein Kasar Kelinci New Zealand White. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang (Skripsi Sarjana Peternakan). SARTIKA, T., D. GULTOM dan D. ARITONANG. 1988. Pemanfaatan daun wortel (Daucus carota) dan campurannya dengan rumput lapang sebagai pakan kelinci. Seminar Nasional Peternakan dan Forum Peternak Unggas dan Aneka Ternak II. Balitbangnak, Deptan. SARTIKA, T. 1995. Komoditi Kelinci Peluang Agribisnis Peternakan. Seminar Nasional Agribisnis Peternakan dan Perikanan pada Pelita VI. Media. Edisi Khusus: 397-398. SARWONO, B. 2004. Kelinci Potong dan Hias. Cetakan ke-4. Penerbit Agro Media Pustaka, Jakarta. SASKIARDI, D. 1986. Pengaruh Pemanfaatan Tumbuhan Azolla sebagai Bahan Pengganti Kacang Hijau dalam Ransum Kelinci Lokal Jantan terhadap Bobot Karkas. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang (Skripsi Sarjana Peternakan). SCHMIDT-NIELSEN, KNUT. 1994. Animal Physiology: Adaptation and Environment. 4th Ed. Cambridge University Press., New York.

SITORUS, P., S. SOEDIMAN, Y.C. RAHARJO, I.G. PUTU, SANTOSA, B. SUDARYANTO dan A. NURHADI. 1982. Laporan Budidaya Peternakan Kelinci di Jawa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Departemen Pertanian, Bogor. SUDARYANTO, B., M. RANGKUTI, N. SUGANA, E.B. LACONI dan Y.C. RAHARJO. 1985. Pengaruh penggunaan tepung daun singkong terhadap potongan komersial kelinci persilangan. J. Ilmu dan Peternakan 1 (9): 395. SOEDARSONO, B. SUKAMTO, D. MUNIR dan S. JOHARI. 1985. Pengaruh pemberian sisa sayuran terhadap penampilan fisik kelinci jantan lokal. Pros. Seminar Peternakan dan Forum Peternak Unggas dan Aneka Ternak. Puslitbangnak, Deptan. TEMPLETON, G.S. 1968. Domestic Rabbit Production. 4th Ed. The Interstate Printers and Publisher Inc. Danville. WAHYUNI, H.I., C.M. SRI LESTARI, L. SUSANDARI dan T.Z. NASIKHAH. 2005. Pemberian Berbagai Aras Lisin Dalam Ransum Terhadap Profil Daging Kelinci. Disajikan pada Seminar Nasional Assosiasi Ahli Ilmu Nutrisi Indonesia (AINI) V, Malang, 10 Agustus 2005. (Inpress) WULANDARI, K. 1995. Pengaruh Pemberian Daun Wortel (Daucus carota) terhadap Konsumsi Pakan, Koefisien Cerna Bahan Kering, dan Koefisien cerna Bahan Organik pada Kelinci. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang (Skripsi Sarjana Peternakan).

60