Anda di halaman 1dari 32

A.

Identitas Nama Umur Jenis kelamin TTL Alamat Status Agama Pekerjaan Suku Bangsa Tanggal masuk igd Ruang B. Anamnesis pukul 22.00 Keluhan Utama Keluhan Tambahan Mual sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit Muntah kurang lebih 4 kali per hari, volume muntah sekitar 2 gelas aqua, berisi makanan yang pasien makan, berbau asam Nyeri ulu hati seperti ditusuk, nyeri tidak menjalar : muntah sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit : Nn. Z : 36 tahun 10 bulan 1 hari : perempuan : 4/4/1976 : Jl. Panca warga 1 RT/RW 11/3 no. 11 jati negara : belum menikah : islam : Tukang cuci : Betawi : Indonesia : 6-2-2013 : 707 : Allonamnesis dengan kakak kandung pasien pada tanggal 6 Februari 2013

Mencret frekuensi kurang lebih 5 kali per hari, sebanyak 3 gelas aqua setiap mencret, konsistensi cair berampas

Demam sejak 1 minggu , demam naik turun dan dirasakan terutama pada malam hari Urin sedikit warna dan kejernihan tidak diperhatikan, rasa panas dan nyeri saat berkemih disangkal.

Perut semakin membesar sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke IGD RSUD Budhi Asih dengan keluhan mual dan muntah sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Muntah kurang lebih 4 kali per hari, volume muntah sekitar 2 gelas aqua, berisi makanan yang pasien makan, berbau asam, lendir disangkal, darah disangkal. Pasien juga merasakan demam sejak 1 minggu , demam naik turun dan dirasakan terutama pada malam hari. Pasien merasakan badan lemas sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Badan lemas dirasakan terus menerus disertai rasa kaku di seluruh tubuh. Awalnya 4 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluhkan belum BAB selama 3 hari. Setelah itu pasien berobat ke klinik lalu diberikan obat pelancar BAB melalui anus lalu pasien mengalami mencret. Pasien mencret dengan frekuensi kurang lebih 5 kali per hari, sebanyak 3 gelas aqua setiap mencret, konsistensi cair berampas, lendir dan darah disangkal oleh pasien. Nyeri perut dirasakan pasien di ulu hati, seperti ditusuk, nyeri tidak menjalar. Perut pasien semakin membesar sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien BAK 1 kali sebelum masuk rumah sakit, urin sedikit, warna dan kejernihan tidak diperhatikan, rasa panas dan nyeri saat berkemih disangkal. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien belum pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya. Pasien mengakui mempunyai riwayat asma, serangan asma sering timbul jika pasien mengalami kelelahan dan stress psikis. Riwayat darah tinggi dan kencing manis disangkal. Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga pasien tidak ada yang menderita sakit yang serupa. Ibu pasien menderita asma. Riwayat darah tinggi dan kencing manis disangkal. Riwayat Kebiasaan Pasien sering telat makan dan mulai kurang nafsu makan semenjak ibu pasien meninggal. Riwayat Pengobatan Pasien sering mengkonsumsi obat warung (Asmasolon, Neo napasin,dll) jika serangan asma, dan sering mengkonsumsi obat sakit kepala (Panadol, Bodrex, Paramex,dll). Pasien belum pernah kontrol asma ke dokter. Riwayat Alergi Alergi terhadap udara dingin dan debu. Alergi obat disangkal. Anamnesis Sistem

Kulit
( - ) Bisul ( - ) Luka ( - ) Nyeri ( - ) Rambut ( - ) Kuning / Ikterus ( - ) Petechiae ( - ) Keringat malam ( - ) Sianosis

Kepala
( - ) Trauma ( - ) Sinkop ( - ) Sakit kepala ( - ) Nyeri pada sinus

Mata
( - ) Nyeri ( - ) Sekret ( - ) Radang ( - ) Gangguan penglihatan

( - ) Kuning / Ikterus

( - ) Ketajaman penglihatan

Telinga
( - ) Nyeri ( - ) Sekret ( - ) Tinitus ( - ) Gangguan pendengaran ( - ) Kehilangan pendengaran

Hidung
( - ) Trauma ( - ) Nyeri ( - ) Sekret ( - ) Epistaksis ( - ) Gejala penyumbatan ( - ) Gangguan penciuman ( - ) Pilek

Mulut
( + ) Bibir kering ( - ) Gusi sariawan ( - ) Selaput ( - ) Lidah kotor ( - ) Gangguan pengecap ( - ) Stomatitis

Tenggorokan
( - ) Nyeri tenggorokan ( - ) Perubahan suara

Leher
( - ) Benjolan Dada (Jantung/Paru) ( - ) Nyeri dada ( - ) Berdebar ( - ) Sesak nafas ( - ) Batuk darah ( - ) Nyeri leher

( - ) Ortopnoe Abdomen (Lambung/Usus) ( - ) Rasa kembung ( + ) Mual ( + ) Muntah ( - ) Muntah darah ( - ) Sukar menelan ( - ) Nyeri ulu hati ( - ) Perut membesar Saluran Kemih / Alat kelamin ( - ) Disuria ( - ) Stranguria ( - ) Poliuria ( - ) Polakisuria ( - ) Hematuria ( - ) Kencing batu ( - ) Ngompol (tidak disadari)

( - ) Batuk

( - ) Wasir ( + ) Mencret ( - ) Tinja darah ( - ) Tinja berwarna dempul ( - ) Tinja berwarna hitam ( - ) Benjolan ( - ) Konstipasi

( - ) Kencing nanah ( - ) Kolik (+) Oliguria ( - ) Anuria (+) Retensi urin ( - ) Kencing menetes ( - ) Penyakit Prostat

Saraf dan Otot


( - ) Anestesi ( + ) Parestesi ( - ) Sukar mengingat ( - ) Ataksia

( + ) Otot lemah ( - ) Kejang ( - ) Afasia ( - ) Amnesia ( - ) Lain-lain

( - ) Hipo / hiperesthesi ( - ) Pingsan ( - ) Kedutan ( - ) Pusing (vertigo) ( - ) Gangguan bicara (Disartri)

Ekstremitas
( - ) Bengkak ( - ) Nyeri C. Pemeriksaan Fisik Dilakukan pada tanggal 6 Februari pukul 22.00 1. Tanda Vital Tekanan darah Nadi Suhu Pernapasan 2. Keadaan Umum Kesadaran Kesan Sakit Status Gizi Warna Kulit Postur Tubuh Berat Badan Tinggi Badan BMI : 100/70 mmHg : 80x/menit, reguler, isi cukup, equal kanan dan kiri : 37,2oC per axilla : 24x/menit, irama teratur : Tampak lemah : Apatis : Tampak sakit sedang : Gizi kurang : Sawo matang : Asthenicus : 45 kg : 160 cm : 45/(1.6)2 = 17.58 (berat badan kurang) ( - ) Deformitas ( - ) Sianosis

Status Generalisata Kepala Bentuk Rambut Mata Palpebra Konjungtiva Sklera Refleks cahaya Telinga Bentuk Membran timpani Penyumbatan Perdarahan Hidung Bentuk Septum : Normal : Deviasi (-) Vestibulum konka : Lapang : Merah muda, hipertofi (-) Mulut Bibir Langit-langit : Kering, merah muda : tidak ada tonjolan : Normotia : Intak : -/: -/Tuli Lubang Serumen Cairan : -/: Lapang : -/: -/: Tampak cekung : Anemis -/: Ikterik -/- , : Langsung +/+ , tidak langsung +/+ : Normocephali : Hitam, distribusi merata, tidak mudah rontok

Bau pernapasan : tidak ada Gigi geligi Trismus Lidah Uvula Tonsil Faring Leher KGB Tiroid Trakea JVP Thoraks ` Bentuk Deformitas Pulmo Pemeriksaan Inspeksi Kanan Kiri Depan Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis Belakang Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis : datar, simetris :: tidak teraba : tidak teraba : tidak deviasi : 5+2 cmH2O : M-III kiri dan kanan bawah carries OH baik : tidak ada : normoglossia, licin, coated tongue (-), atrofi papil (-) : letak di tengah, hiperemis (-), arkus faring hiperemis (-) : T1 T1, hiperemis (-), kripta (-), detritus (-) : tidak hiperemis, granula (-)

Palpasi

Kanan

- Tidak ada benjolan - Fremitus +

- Tidak ada benjolan - Fremitus + - Tidak ada benjolan - Fremitus + Sonor di seluruh lapang paru Sonor diseluruh lapang paru - Suara nafas vesikuler -Wheezing ( - ), Ronki ( - ) - Vesikuler + -Wheezing ( - ), Ronki ( - )

Kiri

- Tidak ada benjolan - Fremitus +

Perkusi

Kanan Kiri

Sonor di seluruh lapang paru Sonor diseluruh lapang paru - Suara nafas vesikuler -Wheezing ( - ), Ronki ( - )

Auskultasi

Kanan

Kiri

- Vesikuler + -Wheezing ( - ), Ronki ( - )

Cor Inspeksi Palpasi Perkusi Batas kanan Batas kiri Batas atas : Tidak tampak pulsasi iktus cordis : Teraba iktus cordis pada sela iga V linea midklavikula kiri : : ICS 3-4 garis sternalis kanan : ICS 5, 1 cm lateral garis midklavikularis kiri : ICS II linea midsternal kiri : Bunyi jantung I-II murni reguler, Gallop (-), Murmur (-), HR=88x/menit

Auskultasi Abdomen

Inspeksi Palpasi Dinding perut

: Buncit, warna kulit sawo matang : : Supel, rigid ( - ), nyeri tekan sulit dinilai, nyeri lepas sulit dinilai, teraba massa bulat di perut bawah, batas tegas, turgor kurang

Hati Limpa Ginjal Perkusi Auskultasi

: Tidak teraba : Tidak teraba : Ballottement -/-, nyeri ketok CVA -/: Redup di regio hipokondrium : Bising usus ( + ) 7x/ menit

Ekstremitas Lengan Otot Tonus Massa Sendi Gerakan Kekuatan Oedem : Lain-lain : : : : : : : normotonus eutrofi normal tidak ada sulit dinilai tidak ada normotonus eutrofi normal tidak ada sulit dinilai tidak ada Kanan Kiri

Palmar eritema (-), ptechie (-), clubbing finger (-), CRT 1detik

Tungkai dan Kaki Ulkus Varises Kulit Warna Effloresensi Jaringan Parut Pertumbuhan rambut Suhu Raba Keringat Lapisan Lemak Oedem : :

Kanan tidak ada tidak ada

Kiri tidak ada tidak ada

: Sawo matang : Tidak ada : Tidak ada : Merata : Hangat : Ada : Kurang : tidak ada

Pigmentasi Petekie Ikterus Lembab/Kering Pembuluh darah Turgor Lain-lain

: Merata : Tidak Ada : Tidak ada : Kering : Tidak melebar : Baik : Tidak ada

Rotgen Thorax (6 Februari 2013) Jenis foto Deskripsi : Foto thorax PA : CTR < 50% Corakan bronkovaskuler normal Sudut costophrenicus tajam

EKG (6 Februari 2013) Irama : sinus

HR 80 bpm ST depresi di sandapan V4,5,6 Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan

6/2/2013

7/2/2013

8/2/2013

9/11/2013

11/2/2013

Nilai normal
3.6 11 11.5 15.5 35 47 150 - 440 0 20

Hematologi Lengkap
Leukosit Hemoglobin Hematokrit Trombosit LED Natrium (Na) Kalium (K) Klorida (Cl) Kalsium ion Gula darah sewaktu 11.7 14,1 10,9 10.8 31 30 348 320 25 108 115 2.2 1.4 81 56 0.83 105 124 2.2 72 11.6 10.6 31 367

Elektrolit Darah
128 2.4 79 136 4.2 93 135 155 3.6 5.5 98 -109 1.17 2.29 < 110

87 117 213 262 18 0.41

Faal Hati SGOT SGPT Faal Ginjal


Ureum Kreatinin

111 282

< 27 < 34 13 43 < 1.1

Kimia Hati
Bilirubin total Bilirubin direk Bilrubin indirek 0.56 0.33 0.23 <1 < 0.3 < 0.6

RINGKASAN Pasien perempuan 36 tahun datang ke IGD RSUD Budhi Asih dengan keluhan mual dan muntah sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Muntah kurang lebih 4 kali per hari, volume muntah sekitar 2 gelas aqua, berisi makanan yang pasien makan, berbau asam. Pasien juga merasakan demam sejak 1 minggu , demam naik turun dan dirasakan terutama pada malam hari. Pasien

merasakan badan lemas disertai rasa kaku di seluruh tubuh. Pasien mencret dengan frekuensi kurang lebih 5 kali per hari, sebanyak 3 gelas aqua setiap mencret, konsistensi cair berampas. Nyeri perut dirasakan pasien di ulu hati, seperti ditusuk. Pasien BAK 1 kali sebelum masuk rumah sakit, urin sedikit. Pasien mempunyai riwayat konsumsi obat asma dari warung, intake pasien sulit. Pemeriksaan fisik didapatkan, keadaan umum pasien tampak lemah, kesadaran apatis, kesan gizi tampak gizi kurang, didapatkan palpebra cekung, CRT menurun, kulit kering, turgor kulit menurun, mukosa bibir kering, bising usus 7x per menit. Pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan leukosit, hiponatremia, hipokalemia, hipokloremia, hipokalsemia, peningkatan SGOT dan SGPT. Pemeriksaan EKG didapatkan ST depresi pada sandapan V4,5,6 DAFTAR MASALAH 1. Gastro Enteritis Akut Dasar penetapan masalah: Anamnesis: mual, muntah 4 kali per hari sejak 1 minggu, volume muntah sekitar 2 gelas aqua, berisi makanan yang pasien makan, berbau asam, mencret 5 kali per hari, sebanyak 3 gelas aqua setiap mencret, konsistensi cair berampas, nyeri perut dirasakan pasien di ulu hati, seperti ditusuk P. Fisik: bising usus 7x/menit Diagnosis banding Pemeriksaan anjuran: Elektrolit serum Endoskopi Rencana terapi: Ppi = omeprazole 2x1 H2 blocker = ranitidine 2x1 Domperidon 3x1 : ulkus peptikum

Diet tinggi serat

2. Dehidrasi berat dengan gangguan keseimbangan elektrolit Mencret, muntah, lemas sejak 1 minggu dan kaku di seluruh badan dirasakan terus menerus, demam, BAK 1 kali selama 1 hari SMRS(oliguria) Faktor predisposisi : intake sulit, riwayat konsumsi obat asma Pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak lemah, penurunan kesadaran, disertai palpebra tampak cekung, mukosa bibir kering, kesan gizi tampak gizi kurang, didapatkan palpebra cekung, CRT menurun, kulit kering, turgor kulit menurun, mukosa bibir kering, kelemahan otot. Pemeriksaan laboratorium: kadar natrium, kalium, kalsium, klorida rendah Rencana pemeriksaan: Elektrolit darah Astrup Rencana terapi: IVFD NaCl 3% /24 jam IVFD Asering + Kcl 40mEq/6jam Ca glukonas 2x1 KSR 2x1 B complex 3x1 Diet tinggi kalium: pisang dan apel Diet tinggi natrium: garam Diet tinggi kalsium: susu, ikan teri Diet tinggi kalori 3. Gangguan Faal Hati Dasar penetapan masalah: Anamnesis riwayat demam satu minggu naik turun, naik terutama malam hari, mual, muntah, nyeri ulu hati.

Pemeriksaan fisik, tidak didapatkan gejala dan tanda yang merujuk kepada gangguan faal hati.

Pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan SGOT dan SGPT Diagnosis banding: Suspek Demam Tifoid dan Suspek Hepatitis Virus Pemeriksaan anjuran:

Darah Rutin Uji widal HbsAg IgG dan IgM anti HAV IgG dan IgM anti HCV Albumin dan globulin Urin lengkap : bilirubin dan urobilinogen USG abdomen Rencana terapi: IVFD aminofusin hepar /24 jam Curcuma 3x2

Diet protein nabati

4. Retentio Urine Dasar masalah: Perut semakin membesar sejak 1 hari SMRS BAK 1 kali sebelum masuk rumah sakit, urin sedikit Abdomen buncit, teraba massa di abdomen regio hipogastrika, tepi tegas, perkusi redup Rencana terapi: pemasangan DC

Follow up harian 6/2/2013 S : sejak 1 hari badan lemas, mual, perut membesar sejak 1 hari, BAK sedikit

: kesadaran apatis, abdomen teraba massa bulat di perut bawah, berbatas tegas, perkusi redup

7/2/2013 S O : Ps sulit membuka mata, badan terasa lemas, badan terasa nyeri : T = 120/80 N = 88x/menit 8/2/2013 S : Ps masih sulit membuka mata, badan terasa lemas dan nyeri Ps belum BAB 3 hari semenjak di RS O : T = 120/80 N = 80x/menit S = 36oC P = 20x/menit S = 36.4oC P = 20x/menit

Terdapat perbaikan kadar natrium (115124), kalium (1.42.2), clorida (5672) Pemeriksaan bilirubin total, direk, indirek tidak menunjukkan hasil yang bermakna 9/2/2013 S : Ps sudah dapat membuka mata, lemas sudah berkurang sesak nafas dialami sejak tadi malam muncul tiba-tiba disertai bunyi ngik terutama muncul saat udara dingin belum BAB sejak 4 hari setelah masuk RS O : T = 110/80 N = 80x/menit S = 36.1oC P= 28x/menit

Pulmo suara nafas vesikuler +/+, ronki -/-, wheezing +/+ Terdapat penurunan leukosit (14.111.6), Hb (10.410.6), Ht meningkat (3031) Perbaikan kadar natrium (124128), kalium (2.22.4), clorida (7279) Penurunan SGOT (213111), peningkatan SGPT (262282) 11/2/2013 S O : ps belum BAB sejak 6 hari setelah masuk RS : T = 110/80 N = 76x/menit S = 36.5oC P = 20x/menit

Kadar natrium (128136) dan kalium (2.44.2) sudah terkoreksi

Peningkatan clorida (7993) Ps BLPL

Definisi Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh. Hal ini terjadi karena pengeluaran air lebih banyak daripada pemasukan (misalnya minum). Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit tubuh.

Dehidrasi terbagi dalam tiga jenis berdasarkan penurunan berat badan, yaitu: Dehidrasi ringan (hilang cairan 2-5% BB): gambaran klinisnya turgor kurang, suara serak (vox cholerica), pasien belum jatuh dalam presyok. Dehidrasi sedang (hilang cairan 5-8%): turgor buruk, suara serak, pasien jatuh dalam presyok atau syok, nadi cepat, napas cepat dan dalam. Dehidrasi berat (hilang cairan 8-10% BB): tanda dehidrasi sedang ditambah kesadaran menurun (apatis sampai koma), otot-otot kaku, sianosis. Tanda dari kehilangan cairan dilihat dari presentasi berat badan: Tanda Membran mukosa Sensorium Perubahan ortostatik Nadi Tekanan darah Rata-rata aliran urin Rata-rata nadi Penurunan ringan Normal / meningkat Penurunan Meningkat >100 bpm 5% Kering Normal Normal 10 % Sangat kering Lemas Ada > 15 bpm meningkat > 10 mmHg turun Penurunan nyata Peningkatan nyata >120 bpm Tekanan darah Normal Peningkatan ringan dengan variasi pernapasan Penurunan 15 % Terpanggang Sangat lemas

Bpm (beats per minute) Dehidrasi menurut Godberger E (1980) Cara 1 Jika ada rasa haus dan tidak ada tanda-tanda klinis dehidrasi lainnya, maka kehilangan air diperkirakan 2% dari berat badan pada waktu itu. Misalnya berat badan 50 kg maka defisit air sekitar 1 liter atau 1000 ml. Jika seseorang berpergian 3-4 hari tanpa air dan ada rasa haus, mulut kering, oligouria, maka defisit air diperkirakan sekitar 6% atau 3000 ml pada orang dengan berat badan 50 kg. Bila ada tanda-tanda diatas ditambah dengan kelemahan fisis yang nyata, perubahan mental seperti bingung atau delirium maka defisit air sekitar 7-14% atau sekitar 3,5-7 liter pada orang dengan berat badan 50 kg.

Cara 2 Jika pasien dapat ditimbang tiap hari, maka kehilangan berat badan 4 kg pada fase akut sama dengan defisit air 4 liter.

Cara 3 Dengan kenyataan bahwa konsentrasi natrium dalam plasma berbanding terbalik dengan volume air ekstraseluler dengan pengertian bahwa kehilangan air tidak disertai dengan perubahan konsentrasi natrium dalam plasma, maka dapat dihitung dengan rumus:

Na2 x BW2 = Na1 x BW1

Di mana: Na1 BW1 : kadar natrium plasma normal, 142 meq/L : volume air badan yang normal, biasanya 60% dari berat badan pria dan 50% dari berat

badan wanita Na2 : kadar natrium plasma sekarang 8w2: volume air berat badan sekarang.

Contoh: seorang pria dengan berat badan 80 kg dan kadar natrium plasma sekarang 162 meq/L Na2 x 8w2 162 x (x) (x) = Na1 x 8w1 = 142 x 42 = 37 L

Jadi defisit air 42 37 = 5 L.

Dehidrasi menurut Daldiyono:

Muntah Suara serak Kesadaran apatis Kesadaran somnolen, sopor sampai koma Tensi sistolik kurang atau sama dengan 90 mmHg

1 2 1 2 2

Nadi lebih atau sama dengan 120x/menit Napas kussmaul (lebih dari 30x/menit) Turgor kulit kurang Facies cholerica Ekstremitas dingin Jari tangan keriput Sianosis Umur 50 tahun atau lebih Umur 60 tahun atau lebih

1 1 1 2 1 1 2 -1 (negative) -2 (negative)

Daldiyono (1973) mengemukakan salah satu cara menghitung kebutuhan cairan untuk rehidrasi inisial pada gastroenteritis akut / diare koliform berdasarkan sistem score (nilai) gejala klinis dapat dilihat pada tabel. Semua skor ditulis lalu dijumlah. Jumlah cairan yang akan diberikan dalam 2 jam, dapat di hitung:

Skor 15

x 10% BB (kg) x 1liter Rehidrasi menurut Morgan-Watten

Dengan mengukur berat jenis plasma:

Berat jenis plasma 1,025 x 40 x 4 ml = 800 ml 0,001

Contoh:

Seorang pria dengan berat badan 40 kg dan berat jenis plasma pada waktu itu 1,030, maka kebutuhan cairan untuk rehidrasi inisial: 1,030 1,025 x 40 x 4 ml = 800 ml 0,001 Derajat dehidrasi berdasarkan berat jenis plasma Pada dehidrasi berat jenis plasma meningkat: a. dehidrasi berat: BJ plasma 1,032 1,040 b. dehidrasi sedang: BJ plasma 1,028 -1,032 c. dehidrasi ringan: BJ plasma 1,025 1,028

Derajat dehidrasi berdasarkan pengukuran central venous pressure (CVP) Bila CVP = 4-11 cmH2O: normal Syok atau dehidrasi maka CVP < 4cmH2O

Dehidrasi WHO

1. Dehidrasi Ringan

Tidak ada keluhan atau gejala yang mencolok. Tandanya anak terlihat agak lesu, haus, dan agak rewel.

2. Dehidrasi Sedang

Tandanya ditemukan 2 gejala atau lebih gejala berikut:


Gelisah, cengeng Kehausan Mata cekung Kulit keriput, misalnya kita cubit kulit dinding perut, kulit tidak segera kembali ke posisi semula.

3. Dehidrasi berat

Tandanya ditemukan 2 atau lebih gejala berikut:


Berak cair terus-menerus Muntah terus-menerus Kesadaran menurun, lemas luar biasa dan terus mengantuk Tidak bisa minum, tidak mau makan Mata cekung, bibir kering dan biru Cubitan kulit baru kembali setelah lebih dari 2 detik Tidak kencing 6 jam atau lebih / frekuensi buang air kecil berkurang / kurang dari 6 popok / hari.

Kadang-kadang dengan kejang dan panas tinggi

Tubuh manusia sebagian besar terbentuk dari cairan, dengan presentase hampir 75% dari total berat badan. Cairan ini terdistribusi sedemikian rupa sehingga mengisi hampir di setiap rongga yang ada pada tubuh manusia. Dehidrasi terjadi jika cairan yang dikeluarkan oleh tubuh melebihi cairan yang masuk.

Namun karena mekanisme yang terdapat pada tubuh manusia sudah sangat unik dan dinamis maka tidak setiap kehilangan cairan akan menyebabkan tubuh dehidrasi. Dalam kondisi normal, kehilangan cairan dapat terjadi saat kita :
o o o o

Bernafas Kondisi cuaca sekitar Berkeringat Buang air kecil dan buang air besar.

Sehingga setiap hari kita harus minum cukup air guna mengganti cairan yang hilang saat aktifitas normal tersebut. Untungnya, tubuh mempunyai mekanisme unik bila kekurangan cairan. Rasa haus akan serta merta muncul bila keseimbangan cairan dalam tubuh mulai terganggu. Tubuh akan menghasilkan hormon ADH guna mengurangi produksi kencing oleh ginjal. Tujuan akhir dari mekanisme ini adalah mengurangi sebanyak mungkin kehilangan cairan saat keseimbangan cairan tubuh terganggu.

Penyebab dehidrasi Dehidrasi terjadi bila kehilangan cairan sangat besar sementara pemasukan cairan sangat kurang. Beberapa kondisi yang sering menyebabkan dehidrasi antara lain :

Diare. Diare merupakan keadaan yang paling sering menyebabkan kehilangan cairan dalam jumlah besar. Di seluruh dunia, 4 juta anak anak mati setiap tahun karena dehidrasi akibat diare.

Muntah. Muntah sering menyebabkan dehidrasi karena sangat sulit untuk menggantikan cairan yang keluar dengan cara minum.

Berkeringat. Tubuh kehilangan banyak cairan saat berkeringat. Kondisi lingkungan yang panas akan menyebabkan tubuh berusaha mengatur suhu tubuh dengan mengeluarkan keringat. Bila keadaan ini berlangsung lama sementara pemasukan cairan kurang maka tubuh dapat jatuh ke dalam kondisi dehidrasi.

Diabetes. Peningkatan kadar gula darah pada penderita diabetes atau kencing manis akan menyebabkan banyak gula dan air yang dikeluarkan melalui kencing sehingga penderita diabetes akan mengeluh sering ke belakang untuk kencing.

Luka bakar. Penderita luka bakar dapat mengalami dehidrasi akibat keluarnya cairan berlebihan pada pada kulit yang rusak oleh luka bakar.

Kesulitan minum. Orang yang mengalami kesulitan minum oleh karena suatu sebab rentan untuk jatuh ke kondisi dehidrasi.

Gejala dan tanda dehidrasi Respon awal tubuh terhadap dehidrasi antara lain : Rasa haus untuk meningkatkan pemasukan cairan yang diikuti dengan penurunan produksi kencing untuk mengurangi seminimal mungkin cairan yang keluar. Air seni akan tampak lebih pekat dan berwarna gelap. Jika kondisi awal ini tidak tertanggulangi maka tubuh akan masuk ke kondisi selanjutnya yaitu : Mulut kering. Berkurangnya air mata. Berkurangnya keringat. Kekakuan otot.

Mual dan muntah. Kepala terasa ringan terutama saat berdiri. Selanjutnya tubuh dapat jatuh ke kondisi dehidrasi berat yang gejalanya berupa gelisah dan lemah lalu koma dan kegagalan multi organ. Bila ini terjadi maka akan sangat sulit untuk menyembuhkan dan dapat berakibat fatal.

Terapi dehidrasi

Untuk memberikan rehidrasi pada pasien perlu dinilai dulu derajat dehidrasi. Dehidrasi terdiri dari ringan, sedang, berat. Ringan bila pasien mengalami kekurangan cairan 2-5% dari berat badan. Sedang bila pasien mengalami kekurangan cairan 5-8% dari berat badan. Berat bila pasien

mengalami kekurangan cairan 8-10% dari berat badan

Prinsip menentukan jumlah cairan yang akan diberikan yaitu sesuai dengan jumlah caran yang keluar dari tubuh. Macam-macam pemberian cairan: 1. BJ plasma dengan rumus:

Kebutuhan cairan = BJ plasma -1,025 x berat badan x 4 ml 0,001

2. Metode Pierce berdasarkan klinis: Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan = 5% x berat badan (kg) Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan = 8% x berat badan (kg) Dehidrasi berat, kebutuhan cairan = 10% x berat badan (kg)

3. Metode Daldiyono berdasarkan skor klinis, antara lain:

Kebutuhan cairan = Skor x 10% x kgBB x 1liter 15

Bila skor kurang dari 3 dan tidak ada syok, maka hanya diberikan cairan peroral (sebanyak mungkin sedikit demi sedikit). Bila skor lebih atau sama dengan 3 disertai syok diberikan cairan per intravena. Cairan rehidrasi dapat diberikan melalui oral, enteral melalui selang nasogastrik atau intravena.

Bila dehidrasi sedang-berat sebaiknya pasien diberikan cairan melalui infus pembuluh darah. Sedangkan dehidrasi ringansedang pada pasien masiih dapat diberikan cairan per oral atau selan nasogastrik, kecuali bila ada kontraindikasi atau oral / saluran cerna tak dapat dipakai. Pemberian per oral diberikan larutan oralit yang hipotonik dengan komposisi 29 g glukosa, 3,5 g Nacl, 2,5 g Natrium Bikarbonat dan 1,5 g KCl setiap liter.

Prinsip utama pengobatan dehidrasi adalah penggantian cairan. Penggantian cairan ini dapat berupa banyak minum, bila minum gagal maka dilakukan pemasukan cairan melalui infus. Tapi yang utama disini adalah penggantian cairan sedapat mungkin dari minuman. Keputusan menggunakan cairan infus sangat tergantung dari kondisi pasien berdasarkan pemeriksaan dokter. Keberhasilan penanganan dehidrasi dapat dilihat dari produksi kencing.

Indikasi pemasangan infus melalui jalur pembuluh darah vena (Peripheral Venous Cannulation): 1. Pemberian cairan intravena (intravenous fluids) 2. Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah terbatas 3. Pemberian kantong darah dan produk darah. 4. Pemberian obat yang terus-menerus (kontinyu). 5. Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur inf\us intravena untuk persiapan jika terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat) 6. Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya risiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa), sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba), sehingga tidak dapat dipasang jalur infus.

Kontraindikasi dan peringatan pada pemasangan infus melalui jalur pembuluh darah vena: 1. Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus. 2. Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah).

3. Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki).

Jenis cairan infus 1) Cairan hipotonik: osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.

2) Cairan Isotonik: osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).

3)

Cairan hipertonik: osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin.

Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya:

a. Kristaloid: bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat, dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis. Sesuai dengan penggunaannya dapat dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu untuk pemeliharaan, pengganti dan tujuan khusus.

b.

Koloid: ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran kapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah, maka sifatnya hipertonik, dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. Contohnya adalah albumin dan steroid. Disebut juga sebagai plasma ekspander, karena memiliki kemampuan besar dalam mempertahankan volume intra-vaskuler. Contoh cairan ini antara lain: Dekstran, Haemacel, Albumin, Plasma, Darah. Cairan koloid ini digunakan untuk menggantikan kehilangan cairan intra-vaskuler.

Keunggulan: 1.Lebih mudah tersedia dan murah 2. Komposisi serupa dengan plasma (Ringer asetat/ringer laktat) 3. Bisa disimpan di suhu kamar 4. Bebas dari reaksi anafilaktik 5. Komplikasi minimal

Kekurangan: 1. Edema bisa mengurangi ekspansibilitas dinding dada 2. Oksigenasi jaringan terganggu karena bertambahnya jarak kapiler dan sel 3. Memerlukan volume 4 kali lebih banyak 1. Anafilaksis 2. Koagulopati 3. Albumin bisa memperberat depresi miokard pada pasien syok (mungkin dengan mengikat kalsium, mengurangi kadar ion Ca++

DAFTAR PUSTAKA

1. Daldiyono. Diare. Dalam: Sulaiman HA-Dsdaldiyono-Akbar HN-Rani AA eds.Gastoenterologi Hepatologi. Jakarta. CV Infomedika. 1990.p 21-33. 2. WS Aru.Ilmu Penyakit Dalam. 4th ed.Jakarta:Pusat penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI CO.; 2006 3. http://www.medicastore.com/diare/diagnosa_diare.htm 4. http://ilmukedokteran.net/pdf/Daftar-Masalah-Individu/dehidrasi.pdf Dehidrasi