Anda di halaman 1dari 7

1.

1 Sifat Kelengkapan dari Bilangan Real


Pada subbab ini kita akan membahas sifat ketiga dari R, yaitu sifat kelengkapan. Seperti
yang telah dikatakan pada pendahuluan bab ini, sifat kelengkapan berkaitan dengan konsep
supremum atau batas atas terkecil. Untuk itu, kita akan bahas terlebih dahulu apa yang
dimaksud dengan batas atas dari suatu himpunan bilangan real, dan kebalikannya, yaitu
batas bawahnya.



Definisi 1.19. Misalkan X adalah himpunan bagian tak kosong dari R.
a. Himpunan X dikatakan terbatas atas jika terdapat R e a sedemikian sehingga a x > ,
untuk setiap x X e . Bilangan real a yang demikian disebut sebagai batas atas dari X .
b. Himpunan X dikatakan terbatas bawah jika terdapat R e b sedemikian sehingga b x s ,
untuk setiap x X e . Bilangan real b yang demikian disebut sebagai batas bawah dari
X .
c. Himpunan X dikatakan terbatas jika X terbatas atas dan terbatas bawah. Himpunan
X dikatakan tidak terbatas jika X tidak terbatas atas atau tidak terbatas bawah.

Sebagai contoh, perhatikan himpunan { } 0 : > e x x R . Setiap elemen pada himpunan
{ } 0 : s e b b R merupakan batas bawah dari { } 0 : > e x x R . Setiap kita mengambil elemen
{ } 0 : > e e x x x R maka selalu kita dapatkan bahwa 1 x x < + , sedangkan
{ } 0 : 1 > e e + x x x R . Yang demikian mengandung arti bahwa tidak ada R e a sedemikian
sehingga a x > , untuk setiap { } 0 : > e e x x x R . Jadi himpunan { } 0 : > e x x R terbatas
bawah tetapi tidak terbatas atas, atau juga dapat dikatakan bahwa himpunan tersebut tidak
terbatas.

Contoh lain, pandang himpunan { } 1 : < e x x R . Himpunan{ } 1 : > e a a R merupakan koleksi
semua batas atas dari { } 1 : < e x x R . Tidak ada R e b sedemikian sehingga b x s , untuk
semua { } 1 : < e e x x x R , karena setiap kita mengambil { } 1 : < e e x x x R maka selalu
dapat kita peroleh bahwa 1 x x < , sedangkan { } 1 : 1 < e e x x x R . Akibatnya, himpunan
{ } 1 : < e x x R tidak mempunyai batas bawah. Jadi himpunan { } 1 : < e x x R terbatas atas
tetapi tidak terbatas bawah, atau juga dapat dikatakan bahwa himpunan tersebut tidak
terbatas.

Berdasarkan paparan sebelumnya, himpunan { } 1 0 : < < e x x R memiliki batas atas dan
batas bawah, atau dengan kata lain himpunan tersebut merupakan himpunan terbatas. Dari
batas-batas bawahnya, kita dapat memilih batas bawah yang terbesar, yaitu elemen 0.
Sedangkan dari batas-batas atasnya, kita dapat memilih batas atas yang terkecil, yaitu
elemen 1. Berikut ini adalah definisi secara formal dari batas atas terkecil, disebut
supremum, dan batas bawah terbesar, disebut infimum, dari suatu himpunan bilangan real.

Definisi 1.20. Misalkan X adalah himpunan bagian tak kosong dari R.
a. Misalkan X terbatas atas. Elemen R e a dikatakan supremum dari X jika memenuhi
syarat-syarat :
(1) a adalah batas atas dari X
(2) a v s , untuk setiap v , batas atas dari X .
b. Misalkan X terbatas bawah. Elemen R e b dikatakan infimum dari X jika memenuhi
syarat-syarat :
(1) b adalah batas bawah dari X
(2) b w > , untuk setiap w , batas bawah dari X .

Selanjutnya, mungkin timbul pertanyaan, apakah perbedaan antara supremum (infimum)
dengan maksimum (minimum)? Contoh sebelumnya tentang himpunan { } 1 0 : < < e x x R ,
bisa menjadi ilustrasi untuk menjelaskan hal ini. Himpunan { } 1 0 : < < e x x R tidaklah
mempunyai minimum dan maksimum, karena tidak ada { } 1 0 : , < < e e x x M m R
sedemikian sehingga m x s dan M x > , untuk setiap { } 1 0 : < < e e x x x R . Sedangkan
untuk supremum dan infimum, himpunan { } 1 0 : < < e x x R memilikinya, yaitu 1 dan 0,
masing-masing secara berurutan. Elemen minimum dan maksimum haruslah elemen dari
himpunan yang bersangkutan, tetapi elemen infimum dan supremum tidaklah harus
demikian. Jadi elemen infimum dan supremum bisa termasuk atau tidak termasuk ke dalam
himpunan yang bersangkutan. Himpunan { } 1 0 : s s e x x R memiliki infimum dan
supremum, yaitu elemen 1 dan 0, yang termasuk ke dalam himpunan { } 1 0 : s s e x x R .

Selanjutnya, kita akan memberikan formulasi lain dari definisi supremum dan infimum pada
definisi 1.20. Kita mulai dengan definisi supremum. Elemen a adalah batas atas dari X
ekuivalen dengan a x > , untuk setiap x X e . Pernyataan a v s , untuk setiap v , batas atas
dari X , mengandung arti bahwa jika z a < maka z adalah bukan batas atas dari X . Jika
z adalah bukan batas atas dari X maka terdapat
z
x X e sedemikian sehingga
z
x z > .
Jadi kita mempunyai fakta bahwa jika < z a maka terdapat
z
x X e sedemikian sehingga
z
x z > . Selanjutnya, jika diberikan 0 c > maka a a c < . Dengan menggunakan fakta
sebelumnya, maka terdapat x X
c
e sedemikian sehingga x a
c
c > . Jadi kita memperoleh
fakta baru, yang ekuivalen dengan fakta sebelumnya, yaitu untuk setiap c > 0 terdapat
x X
c
e sedemikian sehingga x a
c
c > . Dengan demikian kita memperoleh fakta-fakta
yang ekuivalen dengan definisi 1.20.

Teorema 1.21. Elemen R e a , batas atas dari X , himpunan bagian tak kosong dari R,
adalah supremum dari X jika dan hanya jika apabila z a < maka terdapat
z
x X e
sedemikian sehingga
z
x z > .

Teorema 1.22. Elemen R e a , batas atas dari X , himpunan bagian tak kosong dari R,
adalah supremum dari X jika dan hanya jika untuk setiap 0 c > terdapat x X
c
e
sedemikian sehingga x a
c
c > .

Fakta-fakta serupa yang berkaitan dengan elemen infimum adalah sebagai berikut.

Teorema 1.23. Elemen R e b , batas bawah dari X , himpunan bagian tak kosong dari R,
adalah infimum dari X jika dan hanya jika apabila z b > maka terdapat
z
x X e sedemikian
sehingga
z
x z < .

Teorema 1.24. Elemen R e b , batas bawah dari X , himpunan bagian tak kosong dari R,
adalah infimum dari X jika dan hanya jika untuk setiap 0 c > terdapat x X
c
e sedemikian
sehingga x b
c
c < + .
Bukti Teorema 1.23 dan Teorema 1.24 ditinggalkan sebagai latihan bagi para pembaca.

Selanjutnya, mungkin kita mempertanyakan apakah elemen supremum atau infimum
tunggal atau tidak. Mari kita kaji masalah ini. Misalkan R e v u, adalah supremum dari
himpunan yang terbatas atas U . Untuk menunjukkan bahwa supremum dari U adalah
tunggal, berarti kita harus menunjukkan bahwa u v = . Untuk menunjukkannya, perhatikan
bahwa u w s dan v w s , untuk setiap w , batas atas dari U . Karena u dan v juga batas
atas dari U , kita memiliki u v s dan v u s . Yang demikian berarti u v = atau supremum dari
U adalah tunggal. Dengan mudah, dapat pula kita tunjukkan bahwa infimum dari suatu
himpunan yang terbatas bawah juga tunggal.

Berdasarkan semua penjelasan pada subbab ini, kita mempunyai suatu aksioma yang
sangat esensial. Aksioma inilah yang dimaksud dengan sifat Kelengkapan dari R, atau
biasa juga disebut sifat supremum dari .

Aksioma 1.25 (Sifat Kelengkapan dari R). Setiap himpunan bagian dari R yang terbatas
atas memiliki supremum di R.

Aksioma tersebut mengatakan bahwa R, digambarkan sebagai himpunan titik-titik pada
suatu garis, tidaklah berlubang. Sedangkan himpunan bilangan-bilangan rasional Q,
sebagai himpunan bagian dari R yang juga memenuhi sifat aljabar (lapangan) dan terurut,
memiliki lubang. Inilah yang membedakan R dengan Q. Karena tidak berlubang inilah,
R, selain merupakan lapangan terurut, juga mempunyai sifat lengkap. Oleh karena itu, R
disebut sebagai lapangan terurut yang lengkap. Penentuan supremum dari himpunan
{ } 2 , 0 : :
2
< > e = t t t T Q bisa dijadikan ilustrasi untuk menjelaskan terminologi lubang
pada himpunan Q. Supremum dari Q e T yaitu 2 , yang merupakan akar dari persamaan
2
2 x = , bukanlah bilangan rasional. Bilangan 2 ini merupakan salah satu lubang pada
Q. Maksudnya, supremum dari Q e T adalah 2 yang bukan merupakan elemen dari Q.
Sehingga dapat dikatakan bahwa aksioma kelengkapan tidak berlaku pada Q. Tetapi jika
kita bekerja pada R, yang demikian tidak akan terjadi.

Sekarang, misalkan V adalah himpunan yang terbatas bawah, artinya terdapat R e l
sedemikian sehingga l x s , untuk setiap x V e . Darinya, kita memperoleh bahwa l x > ,
untuk setiap x V e . Dengan demikian, himpunan
{ } : x x V e terbatas atas. Menurut
Aksioma 1.25., himpunan
{ } : x x V e memiliki supremum. Misalkan s adalah supremum
dari
{ } : x x V e . Yang demikian berarti s x > , untuk setiap x V e , dan s r s , untuk setiap
r , batas atas dari
{ } : x x V e . Darinya, kita memiliki s x s , untuk setiap x V e , dan
s r > , untuk setiap r , batas atas dari { } : x x V e . Dapat ditunjukkan bahwa r batas
atas dari
{ } : x x V e jika dan hanya jika r adalah batas bawah dari V . Jadi kita memiliki
s x s , untuk setiap x V e , dan s t > , untuk setiap t , batas bawah dari V , atau dengan
kata lain, s adalah infimum dari himpunan V . Berdasarkan penjelasan tersebut, kita
memiliki hal yang serupa dengan Aksioma 1.25, yaitu bahwa setiap himpunan bagian dari
R yang terbatas bawah memiliki infimum di R.

Contoh 1.26. Tentukan supremum dari himpunan { } 1 : < e = x x S R .
Penyelesaian. Kita klaim terlebih dahulu bahwa sup S , supremum dari S , adalah 1. Klaim
kita benar jika dapat ditunjukkan bahwa :
1. Batas atas dari S adalah 1, atau 1 x s , untuk setiap x S e .
2. 1 v > , untuk setiap v , batas atas dari S .

Jelas bahwa 1 adalah batas atas dari S . Selanjutnya, misalkan 1 v < . Perhatikan elemen
1/ 2 / 2 v + . Dapat ditunjukkan bahwa 1/ 2 / 2 1 v v < + < . Artinya, setiap elemen 1 v <
bukanlah batas atas dari S . Jelas bahwa v batas atas dari S jika dan hanya jika 1 v > . Hal
ini sekaligus menunjukkan bahwa 1 merupakan batas atas terkecil dari S . Dengan
demikian, 1 merupakan supremum dari S .

Selanjutnya, kita akan menggunakan Teorema 1.21 untuk menunjukkan 1 adalah supremum
dari S . Jika 1 v < , berdasarkan pembahasan tadi, dengan memilih 1/ 2 / 2
v
s v = + , kita
peroleh bahwa
v
s S e dan
v
v s < . Jadi 1 merupakan supremum dari S .

Kita akan coba cara lain untuk menunjukkan bahwa 1 merupakan supremum dari S , seperti
yang tertulis pada Teorema 1.22. Diberikan 0 c > . Di sini kita akan memilih apakah ada
s S
c
e sedemikian sehingga1 s
c
c < (pemilihan s
c
yang demikian tidaklah unik). Jika kita
memilih 1 / 2 s
c
c = maka kita memperoleh apa yang kita harapkan, karena jelas bahwa
1 / 2 1 s
c
c = < , atau dengan kata lain s S
c
e dan 1 1 / 2 s
c
c c < = . Yang demikian selalu
mungkin untuk sembarang 0 c > yang diberikan. Jadi memang 1 adalah supremum dari S .


Contoh 1.27. Tentukan infimum dari { } 0 : > e = x x I R .
Penyelesaian. Kita klaim terlebih dahulu bahwa inf I , infimum dari I , adalah 0. Klaim kita
benar jika dapat ditunjukkan bahwa :
1. Batas bawah dari I adalah 0, atau 0 x s , untuk setiap x I e .
2. 0 ws , untuk setiap w , batas bawah dari I .

Jelas 0 merupakan batas bawah dari I . Berikutnya, misalkan 0 w> . Perhatikan bahwa
0 / 2 w w < < . Di sini / 2 w I e . Artinya, jika 0 w> maka w bukan batas bawah dari I . Jelas
bahwa 0 ws jika dan hanya jika w adalah batas bawah dari I . Hal ini sekaligus
menunjukkan bahwa 0 adalah batas bawah terbesar dari I .

Berikutnya, kita akan menggunakan Teorema 1.23 untuk menunjukkan 0 adalah infimum
dari I . Misalkan 0 w> . Berdasarkan pembahasan sebelumnya, dengan memilih / 2
w
i w = ,
kita peroleh bahwa
w
i I e dan
w
i w < . Akibatnya, 0 adalah infimum dari I .

Cara lain, adalah dengan menunjukkan seperti apa yang tercantum pada Teorema 1.24.
Diberikan 0 c > . Kita akan memilih apakah ada i I
c
e sedemikian sehingga 0 i
c
c c < + = .
Jika / 2 i
c
c = maka i I
c
e dan i
c
c < . Hal ini selalu mungkin untuk sembarang 0 c > yang
diberikan. Dengan demikian, 0 adalah infimum dari I .


Contoh 1.28. Tunjukkan bahwa jika himpunan R _ S terbatas atas dan 0 a > maka
supremum dari
{ } : : aS as s S = e , supaS a = supS .
Penyelesaian. Ada beberapa cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kita mulai
dengan cara yang pertama, yaitu bahwa kita harus menunjukkan bahwa a supS adalah
batas atas dari aS atau a sup S as > , untuk setiap s S e , dan a sup S v s , untuk setiap v ,
batas atas dari aS . Karena S adalah himpunan yang terbatas atas, S mempunyai
supremum, menurut sifat Kelengkapan dari R. Karenanya, sup S s > , untuk setiap s S e .
Karena 0 a > , a sup S as > , untuk setiap s S e . Artinya, a sup S adalah batas atas dari aS .
Akibatnya, aS memiliki supremum. Selanjutnya, misalkan w adalah sembarang batas atas
dari aS atau w as > , untuk setiap s S e . Karena 0 a > , kita peroleh bahwa / w a s > , untuk
setiap s S e . Di sini / w a adalah batas atas dari S . Akibatnya, / w a >sup S atau w a > sup
S . Kita peroleh bahwa a sup S w s , untuk setiap w , batas atas dari aS . Jadi supaS a =
sup S .

Cara kedua untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan menunjukkan bahwa a
sup S adalah batas atas dari aS dan untuk setiap v a < sup S terdapat
v
s aS e sedemikian
sehingga
v
v s < . Telah ditunjukkan bahwa a sup S adalah batas atas dari aS . Sekarang,
misalkan v a < sup S . Karena 0 a > , / v a <sup S . Akibatnya, terdapat
/ v a
s S e sedemikian
sehingga
/
/
v a
v a s < . Karenanya, kita memperoleh
/ v a
v as < . Di sini jelas bahwa
/ v a
as aS e .
Dengan memilih
/ v v a
s as = , kita mempunyai
v
s aS e dan
v
v s < . Jadi S a aS sup sup = .


Lebih jauh, kita akan melihat bagaimana sifat kelengkapan dari R ini digunakan untuk
menunjukkan bahwa himpunan semua bilangan asli N tidak mempunyai batas atas. Artinya
tidak terdapat R e x sedemikian sehingga n x s , untuk setiap N e n , atau dengan kata lain
jika diberikan R e x terdapat N e
x
n sedemikian sehingga
x
n x > .

Anda mungkin juga menyukai