Anda di halaman 1dari 10

PENDAHULUAN

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkap infeksi. Sel darah putih tersebut terutama limfosit yang memiliki CD4 sebagai sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel limfosit. Karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya selsel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam mengatasi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol) (KPA,2007). Sampai akhir Desember 2011, secara kumulatif kasus HIV/AIDS sejak tahun 1987 sampai dengan 2011 dilaporkan sudah mencapai 29.879 kasus AIDS dan 76.879 kasus HIV. Sedangkan jumlah kematian akibat AIDS yang tercatat sudah mencapai 5430 orang. Dari seluruh penderita AIDS tersebut, 20.333 penderita adalah laki-laki dengan penyebaran tertinggi melalui hubungan seks, (Depkes RI, 2011). Banyak ODHA tertular HIV/AIDS dikarenakan perilaku mereka beresiko tinggiertular HIV/AIDS. Perilaku resiko tinggi tertular AIDS adalah perilaku seseorang yang berbahaya adalah meliputi perpindahan air mani yang dilakukan melalui aktivas seksual-lewat vagina, oral atau anal-persetubuhan. Ataupun aktivitas yang yang melibatkan perpindahan transfusi darah, dapat melalui aktivitas seksual, transfusi darah atau berbagi jarum suntik dengan orang lain (Curtis Seligson & Peterson, 1992). Jumlah CD4 menunjukkan kesehatan sistem kekebalan tubuh. Nilai normal untuk jumlah CD4 biasanya antara 410 1590 sel/L. Jumlah CD4 di bawah nilai normal menunjukkan bahwa sistem kekebalan sudah rusak, semakin rendah jumlah CD4, semakin berat kerusakan pada sistem kekebalan tubuh. 2

Jumlah CD4 di bawah 200 menunjukkan kerusakan berat, dan sebaiknya terapi antiretretroviral (ARV) dimulai sebelum jumlah CD4 di bawah 200. ARV dapat memulihkan sistem kekebalan, dengan hasilnya jumlah CD4 naik kembali, dengan harapan bisa menjadi normal dalam beberapa tahan. Kondisi Indonesia yang beriklim tropis dengan tingkat kelembapan udara relatif tinggi membuat berbagai jenis kuman mudah berkembang biak dapat berpengaruh pada jumlah infeksi tersebut. METODE Penelitian yang dilakukan adalah deskriptif analitik. Penelitian deskriptif memberikan gambaran tentang keadaan atau gejala-gejala sosial tertentu. Seperti karateristik responden yakni umur, jenis kelamin,pekerjaan, pendidikan. Sedangkan analitiknya menyangkut pengujian hipotesa Data diambil dari catatan medik RSI Malang periode 6 Juli 13 Juli 2012. ODHA yang memenuhi kriteria inklusi. Subjek Kriteria Inklusi : Pasien dengan HIV-AIDS seropositif Dalam kondisi baik atau tidak mengalami penurunan kesadaran Bertempat tinggal dikota Malang Dinyatakan positif terinfeksi +12 tahun terakhir dan keluarga sudah memperoleh penjelasan Jenis kelamin laki-laki dan wanita. Usia pasien lebih dari atau sama dengan 21 tahun Bersedia menjadi responden. Pengambilan Data Pada proses pengambilan data pada penelitian ini dilakukan secara bertahap yaitu : 1. Melakukan pengambilan data pasien ODHA binaan di Rumah Sakit Islam Malang Malang tentang data ODHA untuk proses penapisan. 2. Melakukan Informed Consent terhadap ODHA dengan cara menjelaskan kegiatan yang akan

dilaksanakan dan meminta kebersediaan. 3. Melakukan Anamnessa terhadap ODHA dengan cara dengan cara deep interview (wawancara mendalam). 4. Pengambilan data medical record ODHA meliputi CD4 Kerangka Konsep Penelitian

3. Entry data pada tahap ini dilakukan memasukan data dengan cara

mentabulasikan ke tabel yang nanti siap untuk di uji analisis statistik.


HASIL DAN ANALISA DATA Pengumpulan data dilaksanakan selama 1 minggu yang terhitung mulai 6 Juli13 Juli 2012 di klinik VCT RSI Malang. Data yang berhasil dikumpulkan dari 8 responden. Pemilihan Klinik VCT RSI malang sebagai lokasi penelitian karena merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang memiliki jumlah ODHA yang banyak. Sampel yang terpilih sebanyak 8 orang dengan pengambilan sampel dilakukan dengan cara accidental sampling dimana pasien HIV dan AIDS yang setiap hari datang di Klinik VCT RSI malang yang mengambil obat ARV. Penelitian dilakukan dengan teknik wawancara langsung menggunakan kuesioner. Setelah dilakukan pengolahan data, hasil penelitian kemudian disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi univariat yang dapat diuraikan sebagai berikut.

Gambar 1. Kerangka kongsep penelitian Berdasarkan bagan gambar 3.1.2 Dengan memodifikasi konsep adaptasi dari Nursalam, 2003, S.C. Roy dan Psychoneuroimunologi dapat dijelaskan tentang mekanisme VCT/ konseling, pengaruhnya merubah respons sosial (emosional) pada pasien HIV-AIDS. Adanya dukungan keluarga yang diberikan kepada pasien HIVAIDS dapat mempengaruhi proses adaptasi tubuh terhadap stres. Terapi ARV memberikan respon imunitas Teknik Analisa Data Penelitian ini sebelum dilakukan analisa data dilakukan persiapan data terlebih dahulu, antara lain persiapan datanya adalah : 1. Editing : memeriksa kelengkapan data yang dilakukan adalah mengumpulkan seluruh data-data yang akan dianalisa antara lain data viral load, kadar CD4, skor Becks Depression Index, frekuensi konseling, ODHA binaan Rumah Sakit Islam Malang. 2. Coding : memberi kode pada jawaban kuesioner dengan memberikan angka 3

Gambar 2. Distribusi berdasarkan umur Antara umur 21 -39 tahun sebanyak 5 orang, dan 3 orang pada usia antaraa 40 59 tahun

Gambar 3. Distribusi berdasarkan jenis kelamin Pria lebih banyak 5 orang dan sisanya adalah wanita 3 orang.

Gambar 6. Distribusi berdasarkan penularan Berdasarkan cara penularan yang terbanyak adalah melalui seksual 62,5%, selebihnya penasun (pengguna jarum suntik) 25%, dan 12,5% adalah gabungan dari penasun dan seksual.

Gambar 4. Distribusi berdasarkan pekerjaan Berdasar pekerjaan yang terbanyak adalah sopir dan karyawan swasta, dan sisanya wiraswasta, pedagang, IRT (ibu rumah tangga), dan buruh cuci. Gambar 7. Distribusi berdasarkan lama terdiagnosa HIV Berdasarkan lama terdiagnosa HIV responden yang terbanyak dengan 50% di tahun 2010, 12,5% di tahun 2006, 2007, 2009, dan 2011

Gambar 5.Distribusi berdasarkan pendidikan Sebagian besar ODHA berpendidikan SMA sebanyak 62,5%, sebesar 12,5 % untuk yang berpendidikan SD, SMP dan S1. 4

Gambar 8. Distribusi berdasarkan berat badan Berdasarkan data ODHA yang pertama kali datang pemeriksaan mengalami penurunan berat badan dari berat badan normal penderita. Setelah mendapatkan terapi ARV dan setiap VCT diperiksa berat badannya, hasil yang didapatkan kenaikan berat badan.

Gambar 10. Distribusi berdasar CD4 prosentase Data ODHA di awal pemeriksaan terdapat penurunan CD4% dari setelah medapatkan terapi ARV pada pemeriksaan berikutnya menunjukan peningkatan CD4.

Gambar 9.Distribusi berdasarkan CD4 absolut Data ODHA di awal pemeriksaan terdapat penurunan CD4 dari normalnya (410 - 1590 sel/uL ), setelah medapatkan terapi ARV pada pemeriksaan berikutnya menunjukan peningkatan CD4.

Gambar 11. Distribusi berdasar terapi ARV dan antibiotik Regimen kombinasi yang ARV yang paling sering dipakai adalah AZT/3TC/NVP.

(AZT) dan Lamivudin (3TC)dengan nama lain duviral , NVP (nevirapine)

Untuk mengetahui hubungan frekuensi konseling dengan kadar CD4 digunakan kolerasi nonparametric dengan uji Spearmans rho dan juga ditampilkan grafik korelasi.
C o r r e la tio n s F r e k u eC ns Di4 a b s D o lu ep t re si S p e a r m a n F' sr er h ku o e nC s io r r e la t i o n C o e1f .f 0 i c 0ie0 n t . 7 1* 9 - . 9 9 * *4 S ig . ( 2 - t a il e d ) . .0 4 5 .0 0 0 N 8 8 8 C D 4 a b sCo ol ur tr e la t i o n C o e f. f7i c1*ie 9 n t 1 .0 0 0 -.7 7 *1 S ig . ( 2 - t a il e d ) . 0 4 5 . .0 2 5 N 8 8 8 D e p r e s i C o r r e la t i o n C o e -f .f9 i c9 ie n t * *4 -.7 7 * 1 1 .0 0 0 S ig . ( 2 - t a il e d ) . 0 0 0 .0 2 5 . N 8 8 8 * .C o r r e la t i o n is s i g n i f i c a n t a t t h e 0 . 0 5 l e v e l ( 2 - t a i l e d ) . * * .C o r r e l a t io n is s ig n i f ic a n t a t t h e 0 . 0 1 le v e l ( 2 - t a il e d ) .

Gambar 12. Distribusi berdasar status depresinya 4 orang mengalami depresi sedang, 2 orang depresi ringan , 2 orang depresi berat Karakteristik Nilai Rerata (mean) median

Usia (tahun) Berat badan awal (kg) Berat badan akhir (kg) CD4 absolut awal pemeriksaan CD4 absolut akhir pemeriksaan CD4% awal pemeriksaan CD4% akhir pemeriksaan Jumlah konseling Skor depresi

37 33 42,25 43,5 49,125 50 140,125 100 400 350 9,375 10 17 16 31,25 22,5 21,75 20,5

Gambar 14. Hasil hubungan antara Frekuensi Konseling dengan Kadar CD4 dan Skor Depresi Hasil yang diperoleh dari pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara frekuensi konseling, kadar CD4, yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi 0,045, signifikansi 0,000 (p<0,05). Nilai signifikan karena p<0,05, berhubungan positif karena variabel searah. PEMBAHASAN Hasil penelitian pada ODHA di Klinik VCT RSI Malang pada bagian sebelumnya memberikan acuan untuk membahas lebih lanjut mengenai hubungan frekuensi konseling, depresi ODHA, dan kadar CD4.Karakteristik umum merupakan identitas yang menggambarkan ciri seseorang. Karakteristik umum yang ada pada penelitian ini adalah umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, dan jenis pekerjaan. 1. Karakteristik berdasarkan Umur Umur sebagai salah satu karakteristik yang dipakai dalam studi epidemiologi merupakan variabel yang sangat penting karena beberapa penyakit ditemukan saling berhubungan dengan umur sehingga 6

Gambar 13. Karakteristik klinis ODHA Pada karakteristik ODHA diatas, nilai rerata ODHA adalah 37 tahun, kenaikan berat badan yang terlihat di awal pemeriksaan sebelum terapi ARV dengan berat badan diakhir pemeriksaan setelah terapi ARV. Untuk CD4 terlihat sekali perbedaan nya diawal pemeriksaan sebelum terpai ARV dengan akhir pemeriksaan setelah mendapat terapi ARV, nilai CD4 diakhir rerata sudah mulai mendekati nilai normal CD4. Untuk kerutinan konseling rerata 31 kali. Rerata pada depresi adalah 21,75 yang berarti pada level depresisedang.

memberikan gambaran mengenai tentang karakteristik penyebab penyakit tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Klinik VCT RSI Malang menunjukkan bahwa dari 8 responden yang diwawancarai, terdapat 5 orang (62,5%) yang berumur 21-39 tahun dan sebanyak 3 orang (37.5%)yang berumur 40-59 tahun.Walaupun kedua kelompok umur ini merupakan kelompok umur produktif, namun yang paling banyak adalah kelompok umur 21 - 39 tahun karena kelompok usia ini merupakan kelompok umur produktif dan aktif melakukan berbagai macam aktivitas dan kontak dengan orang lain, tak terkecuali dengan orang yang terinfeksi HIV. Selain itu, pada kelompok umur ini, produksi hormon seksual telah matang sehingga aktivitas seksual yang tidak terkendali menyebabkan perilaku seksual yang menyimpang sehingga dapat menjadi sumber penularan. 2. Karakteristik berdasarkan Jenis Kelamin Jenis kelamin merupakan salah satu variabel yang dapat memberikan perbedaan angka kejadian pada laki- laki dan perempuan. Perbedaan ini dapat terjadi akibat perbedaan anatomi, fisiologi, dan berbagai fungsi tubuh lainnya. Karena itu, apabila terdapat perbedaan akibat jenis kelamin perlu dipertimbangkan apakah perbedaan tersebut timbul akibat jenis kelamin atau akibat faktor biologis maupun genetik. Hasil penelitian diperoleh bahwa dari 8 responden terdapat 5 orang (62,5%) adalah jenis kelamin laki- laki dan 3 orang (37.5%) adalah perempuan. Pada penelitian ini, kelompok jenis kelamin laki- laki lebih tinggi salah satunya akibat laki- laki lebih cenderung berperilaku berisiko sehingga rentan terinfeksi HIV dibanding perempuan. Hal ini dapat diketahui bahwa sebagian besar responden adalah pengguna narkoba suntik dan perilaku seksual mereka yang sering bergantiganti pasangan. Responden perempuan sebanyak 3 orang dalam penelitian ini dua diantaranya merupakan istri yang terinfeksi dari suaminya dan yang 1 terinfeksi melalui seks bebas. 7

3. Karakteristik berdasarkan Jenis Pekerjaan Pekerjaan merupakan sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah atau menghasilkan uang. Pekerjaan seseorang mempengaruhi pendapatan seseorang. Pada gambar 4 menunjukkan bahwa sopir (25%) dan karyawan swasta (25%) merupakan pekerjaan yang paling banyak ditekuni oleh ODHA.Selain itu wiraswasta(12,5%), ibu rumah tangga(12,5%), buruh cuci (12,5%), pedagang (12,5%). Pekerjaan sopir dan karyawan swasta merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh kelompok usia produktif. Selain itu, rata- rata responden adalah tamatan SMA sehingga pekerjaan yang memungkinkan untuk ditekuni adalah sopir dan karyawan swasta. Konsekuensidari gaya hidup sopir (antar propinsi) dan karyawan mengarah pada gaya hidup dan perilaku seks bebas karena sebagai usahanya untuk memenuhi keinginan seksualnya yang tidak didapatkan dari pasangannya (istri), dan takut hamil berhubungan seksual dengan wanita (bukan istri), sehingga dilakukan dengan sesamanya. 4. Karakteristik berdasarkan Pendidikan Terakhir Pendidikan pada umumnya berguna dalam merubah pola pikir, pola bertingkah laku dan pola pengambilan keputusan. Pendidikan merupakan proses pengembangan kepribadian dan intelektual seseorang yang dilakukan secara sadar. Semakin tinggi pendidikan seseorang biasanya tingkat pengetahuannya relatif baik sehingga gaya hidup dan perlakunya cenderung lebih positif. Hasil penelitian pada gambar 5 memperlihatkan bahwa pendidikan terakhir yang ditamatkan paling banyak adalah SMA sebanyak 5 orang dan yang paling sedikit adalah SD (1 orang), SMP (1 orang), S1 (1 orang). Banyaknya ODHA dengan tingkat pendidikan SMA disebabkan karena rata- rata pendidikan tertinggi di Indonesia adalah SMA/ sederajat. 5. Karakteristik berdasarkan penularannya Dari gambar 6 penularan terbanyak melalui seksual (5 orang), sebab penularan karena hubungan sesama jenis( homoseksual,

lesbian), tertular dari pasangan(suami/ istri/pekerja seksual). Hal ini terjadi karena ODHA takut berhubungan dengan lawan jenis karena takut hamil. Selain itu juga karena faktor lingkungan dan informasi tentang hubungan dengan sesama jenis lebih menyenangkan. Penasun/pengguna jarum suntik (2 orang), penggunaan jarum suntik yang bergantian, jarum yang tidak steril. 1 orang yang tertular melalui seksual dan narkoba. Selama jadi penasun ODHA juga aktif seksualnya. 6. Karakteristik berdasarkan Lama Terdiagnosa HIV Diagnosis yang awal membuat pemberian ARV lebih efektif untuk menekan sindrom yang akan timbul. Gambar 7 memperlihatkan bahwa sebanyak 4 orang yang berkisar >5 tahun telah mengetahui dirinya terdiagnosa HIV dan 4 orang lainnya yang mengetahui status HIV >1 tahun. Seseorang yang baru saja mengetahui statusnya, menjadi lebih tertutup sehingga hubungan interpersonal menjadi terganggu dan menimbulkan stres berat dan kecemasan bagi orang tersebut. Dukungan untuk ODHA yang tertutup dari statusnya dapat mengurangi efek depresi dan stres yang dapat mempengaruhi sistem imun untuk melawan infeksi, meningkatkan peluang infeksi. 7. Karakteristik berdasarkan berat badan Pada gambar 8 didapatkan semua ODHA terdapat penurunan berat badan yang masing masing responden pada saat awal pemeriksaan untuk memulai terapi ARV.Setelah mendapat terapi ARV dan konseling rutin , maka ada peningkatan berat badan. Selama ODHA konseling , dokter, konselor atau manajer kasus memberikan KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) agar ODHA memperbaiki pola hidupnya, dan memkonsumsi makanan dan minuman sehat, mengurangi faktor resiko untuk sakit. Dengan menjaga pola hidup dan pola makannya maka sistem imun akan baik, sehingga ODHA bisa melanjutkan aktifitasnya. Penurunan berat badan yang sangat cepat sangat umum kita jumpai pada ODHA. Pada umumnya, ODHA kekurangan asupan 8

makanan secara kualitas dan kuantitas karena penurunan nafsu makan yang mengakibatkan berat badan dan massa otot terus menurun. ODHA biasanya mengalami gejala yang berpengaruh pada asupan nutrisi yang bisa mengakibatkan terjadinya malnutrisi. Diantaranya, anoreksia atau kehilangan nafsu makan, diare, demam,mual dan muntah yang sering, infeksi jamur dan anemia. Pada saat orang terinfeksi HIV/AIDS, maka sistem kekebalan tubuh turun. Pada saat itu, bila terjadi malnutrisi, maka sistem imun akan semakin menurun dan kemungkinan timbulnya penyakit semakin besar. Kebutuhan energi pada ODHA dihitung berdasarkan ada atau tidak adanya gejala seperti demam, penurunan berat badan dan wasting. Wasting adalah terjadinya penurunan massa otot tubuh, gangguan fungsi metabolisme dan gangguan fungsi sistem imun dan penurunan berat badan. Seseorang dikatakan mengalami wasting bila terjadi penurunan berat badan lebih dari 10 persen berat badan normal disertai dengan lebih dari 30 hari diare, demam, dan gangguan penyakit lainnya. 8. Karakteristik berdasarkan Jumlah CD4 absolut CD4 atau Cluster Differential Four merupakan marker untuk melihat sejauh mana progress dari infeksi HIV dalam tubuh seseorang. Nilai CD4 sering mengalami fluktuasi dengan adanya sindrom baru yang muncul dan psikologikal sehingga diperlukan beberapa kali tes. Nilai normal CD4 absolut 410 1590 sel/L Hasil penelitian gambar 9 memperlihatkan kadar CD4 awal (untuk memulai terapi ARV) bahwa semua sampel mengalami penurunan CD4 absolut dari nilai normal. Setelah mendapatkan terapi ARV kadar CD4 nya meningkat pada pemeriksaan terakhir. Menurut data 5 orang ODHA di awal pemeriksaan memiliki jumlah CD4 < 300 sel/L, dan 1 orang CD4 > 300 sel/L. Setelah mendapatkan terapi ARV , pada pemeriksaan terakhir kadar CD4 tampak kenaikan CD4 yang signifikan, 6 orang CD4 > 300 sel/L, dan 2 orang CD4 < 300 sel/L .

Setelah lama terinfeksi HIV, jumlah CD4 semakin menurun. Jumlah CD4 dapat jatuh menjadi angka yang sangat rendah pada orang dengan HIV, kadang kala menjadi nol. Ini menjadi tanda bahwa sistem kekebalan tubuh kita semakin rusak. Semakin rendah jumlah CD4, semakin mungkin kita akan menjadi sakit. Orang yang didiagnosa HIV 5 tahun lebih bila jumlah CD4>500 sel/L tidak mengalami penurunan imun, jumlah CD4 350-499 sel/L mengindikasikan mengalami penurunan imun ringan, CD4 200- 349 sel/L penurunan umum sedang, dan CD4 < 200 sel/L mengalami penurunan imun yang berat. Jumlah CD4 dapat berubah karena dipengaruhi oleh reaksi antiretroviral dalam tubuh yang dapat mencegah masuknya HIV ke dalam sel yang mempunyai reseptor CD4. 9. Karakteristik berdasarkan Jumlah CD4 % Pada gambar 10 nilai CD4 % ODHA diawal pemeriksaan semuanya rendah, karena biasanya pasien juga mengalami penyakit infeksi yang menyertai. Setelah mendapat terapi ARV dan beberapa antibiotik nilai CD4 % tinggi. Karena jumlah CD4 absolut berubahubah, maka yang dilihat adalah CD4%. Jika hasil tes melaporkan CD4 % = 13 %, ini berarti 13% limfosit adalah sel CD4. CD4% ini lebih stabil dibandingkan jumlah sel CD4 absolut. Angka normal berkisar antara 3060%. Setiap laboratorium mempunyai kisaran yang berbeda. Belum ada pedoman untuk keputusan pengobatan berdasarkan CD4%, kecuali untuk anak berusia di bawah lima tahun. 10. Karakteristik berdasarkan Jenis ARV dan antibiotik yang diterima Tujuan utama dari terapi ARV yaitu mengurangi jumlah virus dalam darah sebanyak mungkin dan meningkatkan jumlah CD4 sebanyak mungkin. Virus HIV tidak dapat dikurangi secara sempurna, sehingga ODHA harus mengkonsumsi obat ini selamanya, bahkan jika gejala mulai berkurang. Terapi ARV yang dikatakan berhasil apabila jumlah CD4 atau limfosit 9

total naik, berat badan naik, tenaga lebih kuat, pulih dari infeksi oportunistik. Berdasarkan jenis ARV yang diterima ODHA di Klinik VCT RSI Malang diperoleh bahwa semua responden 8 orang yang menerima duviral dan nevirapine sebagai ARV mereka. Obat duviral dan nevirapine merupakan golongan first line regimen yang merupakan kombinasi obat yang akan digunakan pada pasien yang tidak mempunyai riwayat ARV sebelumnya. Pada umumnya, obat- obat yang masuk dalam kelompok ini terdiri dari dua obat golongan NRTI (Nuclease Reserve Transcriptase Inhibitors) dan satu golongan NNRTI (Non Nuclease Reserve Transcriptase Inhibitors). Duviral merupakan ARV kombinasi dari Zidovudin (AZT) dan Lamivudin (3TC) yang merupakan golongan obat NRTI. Sedangkan nevirapine merupakan golongan obat NNRTI dan merupakan obat yang paling banyak digunakan dari golongan ini. Rekomendasi kuat kelompok regimen ARV yang dimulai oleh ODHA salah satu diantaranya adalah duviral (AZT dan 3TC) dan nevirapine (NVP) dan kedua adalah kombinasi duviral (AZT dan 3TC) dan lamivudin. Rekomendasi sesuai dengan hasil penelitian pada gambar 10. Hal ini dapat menunjukkan bahwa ODHA di Klinik VCT RSI Malang masih menggunakan ARV lini pertama dan belum mendapat efek samping yang berlebihan dari ARV yang dikonsumsi. Kemudian pemerian kotrimoxasol berkaitan dengan infeksi yang diderita ODHA. Kotrimoxasol adalah antibiotik untuk sejumlah infeksi bakteri. Salah satu penggunaan umumnya adalah pada pasien yang terinfeksi HIV dan dicurigai terinfeksi HIV anak. Istilah yang mungkin terkait dengan kotrimoxasol infeksi oportunistik, AIDS, Candida, infeksi tbc aktif, bronkopneumonia. 11. Karakteristik berdasarkan Gangguan Depresi Depresi merupakan salah satu faktor dari adanya penyakit kronis, seperti halnya HIV dan AIDS. Beberapa teori serta penelitian yang menemukan bahwa gangguan depresi banyak ditemukan dari ODHA yang diketahui

akibat pikiran akan diri terdiagnosa HIV serta efek samping dari pengobatan ARV. Pada hasil penelitian, diperoleh bahwa dari 8 responden terdapat 2 orang (25%) yang mengalami depresi ringan , 50 % mengalami depresi sedang, 25% depresi berat. ODHA yang memiliki dukungan informasi, emosi, dan praktis memiliki tingkat depresi yang lebih rendah, dan dukungan informasi terlihat sebagai faktor yang penting dalam menangani stress yang diasosiasikan dengan gejalagejala yang berhubungan dengan AIDS. ANALISA DATA Hasil pada gambar 14 yang diperoleh dari pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara frekuensi konseling, kadar CD4, yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi 0,045, signifikansi 0,000 (p<0,05). Nilai signifikan karena p<0,05, berhubungan positif karena variabel searah Ada hubungan negatif yang signifikan antara frekuensi konseling dengan depresi yang di tunjukan dengan koefisien kolerasi 0 dengan signifikansi 0,000 (p<0,05). Nilai signifikan karena p<0,05, berhubungan positif karena variabel tidak searah. Tidak ada hubungan yang signifikan antara CD4 dengan depresi yang di tunjukan dengan koefisien kolerasi 0,025 dengan signifikansi 0,000 (p<0,05). Tidak ada hubungan yang signifikan antara frekuensi konseling, CD4 dan depresi yang di tunjukan dengan signifikansi 0,000 (p<0,05). Nilai positif pada kondisi tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi frekuensi konseling yang dimiliki subjek maka semakin tinggi CD4 ada hubungan dan signifikan. Semakin tinggi frekuensi konseling maka semakin rendah depresi, nilainya ada hubungan tetapi negatif karena tidak searah. Antara CD4 dengan depresi tidak ada hubungan. Antara frekuensi konseling, CD4, dan depresi menunjukkan tidak ada hubungan. KESIMPULAN Dari penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa ada hubungan yang bermakna antara frekuensi konseling dengan kadar CD4. Dengan 10

rutinnya ODHA untuk konseling maka semakin mudah memonitor kondisi ODHA. Melalui pemeriksaan CD4 yang dilakuan secara rutin sesuai dengan jadwal. Selama konseling juga diberikan KIE agar ODHA selalu menjaga kondisi tubuhnya dengan memperbaiki pola hidup, gizi makanan, ketepatan minum ARV. Selain ODHA diberikan motivasi hidup dalam menjalani terapi ARV. SARAN Kelemahan penelitian ini pada sampel yang digunakan terlalu sedikit. Perlu diadakan perbaikan catatan medik, baik pencatatan CD4, berat badan, terapi ARV, agar dapat memudahkan dalam penelusuran dan evaluasi tim HIV/AIDS di RSI Malang bila diperlukan. Perlu penelitian lebih lanjut tentang HIV/AIDS di di RSI Malang dimasa yang akan datang khususnya di bidang gangguan kejiwaan dan kelainan saraf dengan rentang waktu yang lebih lama sampel yang banyak pula, agar mudah dalam pengujian statistiknya DAFTAR PUSTAKA
Abidin NZ.1992.Consultation - Liaison psychiatry: Posisi Peran serta Fungsinya di antara Profesionalisme Jiwa Wibisono S. 1991. Ilmu Kedokteran Psikosomatik dan Consultation Liaison Psychiatry. Jiwa 1991; XXIV No.4:65-77. Rundell JR, Wise MG. 1996. General Principles .Textbook of ConsultationLiaison Psychiatry. Washington, DC: The American Psychiatric Press Strain JJ. Liaison Psychiatry. 1996. Textbook of Consultation Liaison Psychiatry. Washington, DC: The American Psychiatric Press Worth JL, Halman MH. 1996. HIV Disease/AIDS. Textbook of ConsultationLiaison Psychiatry. Washington, DC: The American Psychiatric Strain JJ. Consultation-Liaison Psychiatry 2000. Kaplan & Sadocks Comprehensive Textbook of Psychiatry 7th Edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Fauci AS, Lane HC. 2001. Human Immunodeficiency Virus (HIV) Disease: AIDS and Relater Disorders. Harrisons

15th edition Principles of Internal Medicine. New York: Mc Graw-Hill Katz MH. 2002. Effect of HIV Treatment on Cognition, Behavior, and Emotion. Psychiatric Clinics of North America Atkinson JH, Grant I. 1994. Natural History of Neuropsychiatric Manifestations of HIV Disease. Psychiatric Clinics of North America Amir N. 1996. Aspek Neuropsikiatri Infeksi HIV dan AIDS. Chesney MA, Folkman S. 1994. Psychological Impact of HIV Disease and Implications for Interventions. Psychiatric Clinics of North America Ader R., 1991. The Influence of Conditioning on Immune Response. 2ne. ed. San Diego: Academic Press Inc Clancy, J. 1998. Basic Concept in Immunology: Students survival guide. New York: The McGraw-Hill Companies. Dirjen PPM-PLP, DEPKES R.I. 1998. Prosedur Tetap Konseling HIV-AIDS Khususnya Konseling Pra- dan Pascates. Jakarta Chitty, K.K. 1997. Professional Nursing. Concepts & Challenges. 2ed. Philadelphia: W.B. Saunder Conpany. McColl, M. Renwick, R. Friendland, J. 1996. Coping and Social Support as determinants of quality of life in HIV-AIDS. AIDS Care. 8 (1: 15-31). Muma, R. Ann-Lyons, B. Borucki, M.J & Pollard, R.B alih Bahasa Shinta Prawtiasari .1994.. HIV Manual untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: EGC Nursalam. 2001.. Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: SalembaMedika Putra ST. 1999. Konsep Psikoneuroimunologik dan Kontribusinya padda pengembangan IPTEKDOK. Makalah. Surabaya: GRAMIK FK UNAIR Nursalam. 2007. PNI (psikoneuroimunologi). Jakarta: SalembaMedika Nursalam. 2007. Asuhan keperawatan HIV AIDS. Salemba medika. Jakarta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Pedoman Nasional pengobatan Antiretroviral (ART). Jakarta http : // www.spiritia.or.id

11